Hasil pencarian
Cari di situs ini
10073 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Belanda Tuan Tanah Cisarua
JURU gambar merupakan profesi penting dalam dokumentasi wajah sebelum ada fotografi. Itulah kenapa Adrianus Johannes Bik (1790-1872) dan Jannus Theodorus Bik (1796-1875) rela meninggalkan Belanda negerinya dan merantau ke Hindia Belanda. Adrianus yang pernah menjadi baljuw (pemangku hukum) di Batavia dan Jannus yang jago melukis kemudian menjadi juru gambar. Dalam Kuasa Ramalan, Peter Carey menulis Bik bersaudara adalah seniman paling terdidik di Hindia Belanda kala itu. Setelah Pangeran Diponegoro ditahan, wajah sang pangeran dilukis oleh Adrianus Bik.
- Moonlight Sonata dan Kisah Cinta Tak Sampai Ludwig van Beethoven
LUDWIG van Beethoven dianggap sebagai salah satu komponis terbesar di dunia. Perannya dominan dalam sejarah perkembangan musik dunia, khususnya pada periode transisi antara era klasik dan romantik. Melalui karya-karyanya, komponis yang lahir pada Desember 1770 itu mampu menjangkau semangat baru humanisme dan nasionalisme dalam dunia musik, di mana hal ini telah umum dilakukan oleh para pengarang di dunia sastra. Beethoven juga dikenal sebagai inovator andal. Ia memperluas cakupan sonata, simfoni, konser, dan kuartet. Dalam Simfoni Kesembilan yang digubahnya, Beethoven memadukan musik vokal dan instrumental dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
- Potret Pribumi Ainu di Balik Golden Kamuy
KE MANA pun Saichi Sugimoto (diperankan Kento Yamazaki) mengarahkan pandangannya ketika mengembara di hutan barat Pulau Hokkaido, selalu mendapati hamparan salju tebal. Salju jadi pengantar memori pahitnya dari Pertempuran Bukit 203 Meter (18 September-5 Desember 1904) dalam Pengepungan Port Arthur yang jadi episode paling berdarah dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905).
- Lebih Dekat Mengenal Batik dari Kota Batik (Bagian II–Habis)
KENDATI batik menjadi warisan budaya Nusantara yang tidak hanya berasal dari Pulau Jawa, Kota Pekalongan di Jawa Tengahlah yang didapuk sebagai “Kota Batik”. Imej tersebut tergambar begitu semarak di sejumlah destinasi umum di kota tersebut. Dari Taman Jetayu dekat titik nol Pekalongan hingga alun-alun, terlihat banyak penjaja makanan dan minuman yang mengenakan batik, baik kemeja maupun kerudung.
- Djohan Sjahroezah Bergerak di Bawah Tanah
SUATU siang di masa pendudukan Jepang, Djohan Sjahroezah berkunjung ke rumah Mohammad Hatta. Saat itu, Hatta sedang mencatat daftar uang bantuan yang dikeluarkannya untuk Sutan Sjahrir pada sebuah notes kecil. Djohan kaget. “Bung, kan berbahaya mencatat hal itu! Kalau Jepang tahu, kan Bung jadi korban,” ujar Djohan mengingatkan, sebagaimana ditulis A.R. Baswedan dalam Pribadi Manusia Hatta, seri 8.
- Kapten KNIL Jadi Tuan Tanah Citeureup
MENUMPANG kapal Friton, Jan Herman Kievits meninggalkan Rotterdam, Belanda, menuju Batavia (kini Jakarta) yang menjadi pusat Hindia Belanda pada 16 Desember 1862. Putra guru Hendrik Adrian Kievits (1811-1890) yang lahir di Beesd pada 8 Januari 1842 ini baru lulus akademi militer dengan pangkat letnan dua infanteri. Dia tiba di Pelabuhan Batavia pada 15 April 1863. Menurut Stamboek atas nama dirinya, dia ditempatkan di Batalyon Infanteri ke-14 pada Mei 1863. Dari sana, dia kemudian mengalami penugasan berpindah-pindah di batalyon lain, mulai dari Surabaya hingga Jatinegara. Selain memimpin pasukan, dia pernah menjadi instruktur di Sekolah Militer di Jatinegara. Setelah menyandang pangkat kapten pada 1875 dan akhirnya mayor tituler, dia ditempatkan di staf umum tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL).
- Frank Lenz, Pesepeda Amerika yang Hilang Ketika Berkeliling Dunia (Bagian I)
SELAMA enam hari berturut-turut hujan mengguyur kota Pittsburgh, Amerika Serikat. Setelah beberapa hari dibayangi cuaca buruk, hari Minggu pagi, 15 Mei 1892, matahari akhirnya menyembul dari balik awan tebal. Ratusan orang telah berkumpul di kantor pos pusat yang berlokasi di pusat kota Pittsburgh. Mereka datang berbondong-bondong untuk mengiringi kepergian Frank Lenz yang akan mengelilingi dunia dengan sepeda.
- Rotterdam Pulangkan 68 Artefak Jarahan ke Indonesia
LAGI, sebanyak 68 benda bersejarah asal Indonesia yang dirampas di masa kolonial akan direpatriasi dari Belanda. Kali ini puluhan benda itu berasal dari koleksi Gemeente (pemerintah kota) Rotterdam, membuat kota pelabuhan itu jadi kota pertama di Belanda yang mengembalikan rampasan dari negeri jajahan.
- Nawi Si Tukang Cukur Berbahaya
SETELAH sembilan tahun tanpa hasil, perburuan pelarian pria bernama Nawi tercium pada 1927. Aparat reserse pun segera menuju lokasi tempat keberadaan sang buron kasus pembunuhan terhadap Syech Oembarak bin Said Alwi, orang Arab yang jadi tuan tanah Kampung Melayu Kecil, Meester Cornelis (kini Jatinegara).
- Tuan Tanah Bikin Rel Kereta di Selatan Jakarta
AUGUSTIJN Michiels (1769-1833) atau sering disebut Mayor Jantje dikenal sebagai tuan tanah kaya raya. Sebelum dikenal sebagai tuan tanah dia adalah komandan pasukan Papanger. Dia memilih pensiun dini untuk mengurus tanah luasnya di selatan Batavia (kini Jakarta). Tanahnya tersebar di Cileungsi, Klapanunggal, Citeureup, Nanggewer, Nambo dan lain-lain. Tak hanya tanah, Mayor Jantje juga punya banyak anak. Di antaranya Agraphina Michiels, Augustina Michiels, dan Augustin Michiels. Anak-anaknya tentu kebagian warisan tanah-tanahnya. Augustina Michiels (1821-1876) juga mendapat warisan tanah. Dia kemudian dinikahi oleh seorang pengusaha bernama Jan Willem Arnold (1813-1885) sekitar tahun 1838 dan menjadi keluarga kaya raya. Pasangan itu memiliki tanah di Cileungsi, Cibarusa, Cipamingkis, Tanah Baru, dan Klapanunggal. Sebagian merupakan warisan dari Mayor Jantje.
- Frank Lenz, Pesepeda Amerika yang Hilang Ketika Berkeliling Dunia (Bagian II-Habis)
SETELAH mengarungi lautan selama beberapa pekan, Frank Lenz, pemuda Pittsburg yang tengah berkeliling dunia dengan sepeda dan membawa kamera, tiba di Yokohama, Jepang, pada pertengahan November 1892. Lenz, yang telah mencari informasi tentang sejarah dan budaya Jepang sebelum memulai perjalanan, sangat ingin menjelajahi Negeri Sakura.
- Cerita dari Stadion Kridosono (Bagian I)
ANEKA rupa coretan graffiti memenuhi sebagian besar temboknya. Ada plus-minusnya tentu, mengingat bangunannya pun sudah tak terawat dan di beberapa bagiannya berlumut. Begitulah tampak luar Stadion Kridosono, gelanggang sepakbola tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).





















