top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Masalah Lampau Jakarta

    MENJELANG pilkada, spanduk, baliho, dan poster-poster calon gubernur (cagub) memenuhi Jakarta. Selain wajah para cagub, termaktub pula program dan janji mereka untuk perbaikan kota berusia 485 tahun ini. Tiap hari, beragam masalah seperti penyuapan, kriminalitas, dan konflik sosial menyesaki Jakarta. “Beberapa masalah yang ada di Jakarta sekarang bahkan dapat ditarik ke rentang masa lampau kota ini,” kata Bondan Kanumoyoso, sejarawan Universitas Indonesia, dalam diskusi dan peluncuran buku Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII karya Hendrik E. Niemeijer, 30 Juni 2012. Sebermula hanya sejengkal wilayah berlumpur dan berawa di pinggir pantai, Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) lalu mengubah Jakarta menjadi kota sejak 1619. Mulai dari mengganti nama, Jaccatra jadi Batavia, VOC juga membangun tembok kota, benteng, kastil, kantor, dan permukiman. Penduduk mereka datangkan dari banyak wilayah seperti Banten, Maluku, Bali, Bugis, Makassar, bahkan India.

  • Masa Lampau Anak-anak

    JALANAN macet. Hotel-hotel penuh. Beberapa objek wisata dipadati pengunjung. Bersama orangtua, di sanalah anak-anak masa kini menghabiskan masa liburan sekolah. Aktivitas yang karuan berbeda dari anak-anak di masa lampau. Tak banyak catatan sejarah perihal kehidupan anak-anak di masa lampau, termasuk gambaran fisiknya. Kisah mereka termaktub dalam beberapa prasasti, arca, dan relief candi di Jawa, serta tersua dalam beberapa naskah kuno Nusantara. Berbekal peninggalan itu, sejumlah arkeolog Universitas Indonesia berusaha merekonstruksi gambaran anak-anak di masa lampau.

  • Sukarno dan Seni

    SUKARNO sangat mencintai seni. Itu fakta sejarah. Dalam kalimat pembuka otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, dia mengakui bahwa untuk menggambarkan dirinya, cara termudah ialah dengan menyebutnya ‘mahapencinta’. Selain mencintai negerinya, Sukarno mencintai rakyatnya, mencintai perempuan, mencintai seni, dan seterusnya. “Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni.” Sukarno bukan anak kemarin sore dalam urusan seni. “Secara genetik, Sukarno ini berdekatan dengan seni bukan secara kebetulan,” ujar kritikus seni Merwan Yusuf dalam diskusi “Bung Karno dan Seni”. Darah Bali ibunya, dalam pandangan Merwan, mengalirkan darah seni pada Sukarno. “Orang Bali itu dan agamanya sudah sebuah seni,” ujarnya.

  • Soebandrio, the Diplomat Who Fought for West Irian

    IN the courtroom of the Extraordinary Military Court (Mahmilub) at the Bappenas Building, Central Jakarta, on October 17, 1966, during the 14th session of the trial, Dr. Soebandrio stood up from his seat. As the defendant, he was about to read his defense before the presiding judge, Lieutenant Colonel CKH Ali Said. The face of the man who had previously held various positions in President Sukarno's administration was clouded with gloom, which then burst into tears. He couldn't hold his tears because in the previous trial on October 13, 1966, he received the death penalty from prosecutor Lieutenant Colonel CKH Durmawel Achmad. Soebandrio was the former foreign minister, head of the Central Intelligence Agency (BPI), deputy prime minister I (Waperdam I), deputy commander-in-chief (Wapangsar) of the Supreme Command for the Retooling of the Revolutionary Apparatus (Kotrar), and Deputy Commander of the Supreme Command for Economic Operations (Kotoe).

  • Riwayat Kelam Kampanye Hitam

    MOBIL berhenti di dekat Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjelang sore (16/6/2014). Seorang lelaki turun dari mobil dan menuju ke kumpulan santri di halaman ponpes. Dia menitipkan sebuah paket untuk K.H. Imam Haramain, pengasuh ponpes. Lelaki itu pergi tanpa memberi tahu identitasnya.

  • Rezim Kopi di Priangan

    PARA petinggi Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Jawa tak pernah menyangka bibit tanaman baru dari India Selatan yang mereka tanam di kebun masing-masing pada pengujung abad ke-17 bakal memberikan dampak luar biasa. Kopi menjadi sumber utama penghasilan Kerajaan Belanda.

  • Kemenangan dari Masa Lalu

    SEPULANG dari sebuah bazar buku di Chester, Eric Lomax bergegas menuju stasiun agar tak ketinggalan kereta api lain. Kereta api jurusan Mancester-Edinburg yang biasa dia tumpangi delay.

  • Luka Lama Kembali Menganga

    Presiden Argentina Cristina Fernandez de Kirchner segera menyusul ketika Perdana Menteri Inggris David Cameron hendak ke luar ruangan. Dia menyodorkan sepaket dokumen kepada Cameron. Isinya: klaim Argentina atas Kepulauan Falkland/Malvinas. Karuan Cameron emosi. Peristiwa itu terjadi Rabu lalu, 20 Juni 2012, saat keduanya menghadiri Forum G-20 di Mexico City. Pada 8 Juni 1982, dengan klaim yang sama, Argentina menyerang Inggris. Tapi bukan pemimpin lawan pemimpin, tapi pesawat-pesawat tempur Argentina melawan kapal suplai Inggris di kepulauan itu. Serangan itu merupakan rentetan konflik militer kedua negara sejak April. Setelah mendaratkan pasukan pada 2 April 1982, militer Argentina merebut kepulauan itu dua hari kemudian. Perlawanan sejumlah kecil garnisun Royal Marine Inggris yang menjaga kepulauan tersebut berhasil dipatahkan.

  • Geliat Negara Mengatur Desa

    PADA 18 Desember 2013, DPR RI meneken Rancangan Undang-Undang tentang Desa. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Desa pada 15 Januari 2014. Otonomi desa yang selama ini idam-idamkan pun terwujud.

  • Mengorupsi Kitab Suci

    KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah menyelidiki dugaan korupsi pengadaan Alquran di Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama. Diakui Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam yang dulu dipimpinnya juga melakukan pengadaan Alquran, tapi dia tidak mengurusinya. Pengadaan Alquran tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan dua juta mushaf setiap tahun untuk dibagikan ke Kantor Urusan Agama di seluruh Indonesia. “Nilai pengadaan saat itu ditaksir Rp5,6 miliar yang dikucurkan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama,” kata Nasaruddin Umar, seperti dikutip republika.co.id (21/6).

  • Cerita Nani Widjaja dan Golden Girls

    SUDAH lebih dari enam dekade Nani Widjaja wara-wiri menghiasi dunia hiburan nasional. Sedikitnya ada 114 film yang pernah ia bintangi sepanjang kariernya sebagai aktris layar lebar sejak 1960 dan belakangan malang melintang di layar kaca. Maka tak heran saat Nani –yang lahir di Cirebon pada 10 November 1944– menghadap Sang Pencipta, bukan hanya keluarga yang kehilangan, tetapi juga kerabat, sahabat, dan fans.

  • Anak Jawa Masuk Legiun Asing Prancis

    AWAL 1920-an Semarang adalah kota merah. Kota dengan banyak buruh ini dihuni banyak orang dari berbagai daerah di Jawa. Di masa itulah George Thomas Buxton, yang asal Inggris, tinggal di kota tersebut. Di Semarang, ia hidup dengan seorang perempuan Jawa bernama Soetjie.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page