Hasil pencarian
Cari di situs ini
10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Berenang Hingga ke Cikini
SEMENTARA menunggu anak-istrinya berganti pakaian, Aditya Perdana duduk santai di bawah payung-tenda di tepi kolam renang. Terik mentari sore sehabis hujan itu seakan menghalanginya untuk beranjak.
- Berbisnis di Rantau
TIGA bersaudara keturunan Arab dari Padang, Sumatra Barat, tiba di Batavia pada 1920-an. Semuanya pengusaha. Harta mereka berlimpah, hasil dari warisan orangtua dan keuntungan bisnis. Namun, misi utama mereka di Batavia bukan untuk berbisnis, melainkan memperkenalkan tradisi musik dan sandiwara khas mereka kepada warga Batavia.
- Bangkit Lewat Sekolah
SEBUAH bangunan empat lantai berdiri kokoh di Jalan KH Mas Mansyur No. 17 Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bercat kuning gading. Berkaca gelap. Ia diapit toko tekstil dan toko buku. Sebuah nama terpampang di dindingnya: Jamiat Kheir. Di tempat inilah orang-orang Hadrami memelopori gerakan pembaruan pendidikan Islam di Batavia.
- Ada Apa dengan Koteka
SEORANG pengunjung Museum Nasional, Jakarta Pusat, tersenyum geli ketika mengamati salah satu koleksi etnografi Papua. Berbentuk selongsong panjang, berwarna coklat, terbuat dari buah labu kering bernama latin Lagenaria siceraria. Keterangan di etalase terpampang: “penish sheath” atau pembungkus penis.
- Dari Diskriminasi ke Apresiasi
ALI Shahabudin, 65 tahun, sudah tiga jam berbicara. Namun, dia belum menunjukkan tanda kelelahan. Mulut dan hidung lancipnya mengeluarkan asap rokok. Asbak di atas meja tak cukup lagi menampung puntung dan abu rokok. Sementara kopinya tandas, tinggal ampas. “Saya masih punya banyak cerita tentang peranakan Arab,” ujarnya kepada Historia.
- Macan Ketawa Dukung Negara Jawa Timur
POSISI Belanda cukup kuat pada awal 1949. Banyak daerah didudukinya setelah Agresi Militer Belanda Kedua (19 Desember 1948) dilancarkan di Jawa. Negara-negara federal, yang dibentuk untuk mendukung kepentingan Belanda, makin banyak berdiri di Jawa. Di tiap negara federal, Belanda bahkan berusaha membangun batalyon federal yang di antaranya berisi eks pejuang pendukung Republik Indonesia (RI) juga. Di antara pasukan-pasukan pendukung Belanda itu adalah Korps Tjakra Madoera, yang berpusat di Bondowoso, penghasil kopi dan tanaman komoditas lain di zaman Hindia Belanda. Cukup lama pasukan berlambang “Macan Ketawa” itu berada di daerah Tapal Kuda –meliputi Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo– di Jawa Timur. Pasukan itu disebar-sebar hingga ke pelosok. De Vrije Pers tanggal 8 April 1949 menyebut, kompi dan peleton Tjakra tersebar di 30 pos di daerah Tapal Kuda. Satu pos dengan pos lain sangat berjauhan.
- Ziarah Sejarah di Kota Leiden
LEIDEN yang terletak di Provinsi Belanda Selatan memiliki ikatan historis sangat kuat dengan Indonesia. Populasinya hanya berkisar 122.000 jiwa, masih lebih sedikit dibandingkan Kota Pangkal Pinang. Lokasi Leiden hanya berjarak 20 kilometer dari Den Haag (15 menit dengan kereta) serta 40 kilometer dari Amsterdam (30 menit dengan kereta).
- Sekali Bandit Tetap Bandit
BERHASIL menggaet Rohimah, kembang desa Sugutamu (kini masuk wilayah Kecamatan Sukmajaya, Depok), Sengkud menyiapkan pesta. Anak buahnya merampok berkarung-karung beras dari gudang kongsi dagang milik orang Belanda. Mereka juga menggarong dua kerbau dari rumah Pak Sakam.
- Revolusi Memakan Anaknya Sendiri
SUATU hari, segerombolan pemuda beringas di bawah pimpinan Kutil, seorang jago, mendatangi rumah Bupati Tegal R.M. Soenarjo. Karena tak mendapati sang bupati, mereka mengamuk dan mengobrak-abrik isi rumah. Mereka juga memaksa penghuninya mengganti pakaian dengan karung goni.
- Perbarui Kurikulum Itu Tak Mudah
SUATU opini dalam kanal Historia.ID berjudul Perlukah Materi Sejarah Diperbarui? karya Alvie Sheva Zahira menarik perhatian saya. Sebagai orang yang pernah kuliah di program studi pendidikan sejarah hingga sarjana, hati saya tergerak untuk berkomentar terhadap opini tersebut. Ada beberapa poin yang saya setujui dari opini tersebut, namun ada pula poin yang tidak saya setujui.
- Orang Jawa Mengamuk di Malaka
AWAL Juli 2024, saya berkesempatan mengunjungi Kampung Jawa di Malaka. Kawasan ini berada di pinggir Sungai Malaka, tak jauh dari Gereja Merah dan Kompleks Perbentengan Eropa. Suasananya tak ubahnya kampung-kampung di Indonesia. Sepi dan lengang.
- Kisah Naga Terbang dan Gagak Hitam
KABAR proklamasi sampai ke telinga Timur Pane, pemimpin geng copet Medan. Dia meresponsnya dengan mendirikan badan perjuangan bernama Naga Terbang yang beranggotakan para jago dan kalangan dunia hitam.





















