Hasil pencarian
Cari di situs ini
10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bulungan Menembus Angan
BULUNGAN, nama beken Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, masih ramai. Di dalam Gedung Olahraga, sorakan bersahutan, menyemangati tim bola basket yang tengah berlaga. Di depannya, di sebuah kantin, muda-mudi bercengkerama dan bercanda ria. Beberapa bernyanyi bersama, bermain gitar, tetapi ada juga yang melamun.
- Antara Senen dan Klender
JULUKANNYA “menteri copet”. Di kawasan Senen, Jakarta, kalau cabriolet kap terbukanya lewat, orang-orang mengangguk hormat. Itulah Bang Pi’i. Dia punya pasukan bernama Sebenggol; isinya semua pencopet.
- Bukan Sekadar Gaya Hidup
JARUM jam mendekati pukul 19.00. Satu per satu meja yang telah disusun sedemikian rupa dengan hiasan bunga mulai terisi oleh para tamu undangan. Sejumlah tuan dan nyonya Eropa memenuhi ruangan besar di gedung Koninklijke Natuurkundige Vereeniging (KNV) atau Asosiasi Ilmu Pengetahuan Alam Kerajaan di Koningsplein Zuid (kini, Jalan Merdeka Selatan), Batavia, pada Juni 1913.
- Eksploitasi Hutan Ugal-ugalan Sejak Orde Baru
KEKAYAAN hutan tropis dari Merauke sampai Sabang menjadikan Indonesia sebagai salah satu paru-paru dunia. Setidaknya begitu yang melekat di ingatan dari buku-buku pelajaran Biologi dan Geografi di sekolah-sekolah.
- Kisah Putra-Putri Bung Karno dalam Peristiwa Cikini
CIKINI, 30 November 1957. Sedari siang kesibukan terjadi di Perguruan Cikini. Para guru dan siswa tengah bersiap menyambut kedatangan Presiden Sukarno ke sekolahnya. Hari itu adaah hari istimewa bagi Perguruan Cikini. Sekolah yang dibangun pada masa Jepang tersebut akan merayakan hari jadi ke-15. Perayaan tersebut dibuat begitu meriah. Pihak sekolah menggelar bazar dan malam amal. Alunan musik, pameran, serta beragam wahana permainan pun dihadirkan. Mereka turut mengundang para orang tua siswa, termasuk Presiden Sukarno. Sebagai ayah dari Megawati dan Guntur yang merupakan murid di Perguruan Cikini, Sukarno berkepentingan untuk hadir dalam perayaan tersebut.
- Kisah Sedih dari Peristiwa Cikini
POTONGAN peristiwa malam itu teramat jelas di ingatannya. Kata demi kata ia rangkai untuk menggambarkan bagaimana pilunya situasi 63 tahun lalu, saat sebuah granat meledak tepat dua meter di depannya. Ledakan yang sebenarnya diarahkan kepada presiden pertama RI itu ternyata malah berujung pada kisah sedih baginya dan ratusan orang yang hadir dalam perayaan hari jadi ke-15 Perguruan Cikini pada 1957. Budiono Kartohadiprojo (74 tahun), usianya baru 11 tahun saat peristiwa berdarah itu terjadi. Kala itu ia bersama kakaknya sedang bermain di area wahana permainan. Namun sayang kupon permainan milik Budiono telah habis sehingga ia tidak bisa bermain lagi, sementara kakaknya masih sibuk menikmati permainannya. Saat itulah ia mendengar pengumuman bahwa Presiden Sukarno hendak pulang.
- Riwayat Buah Emas di Tanah Hindia
KELAPA sawit punya julukan yang mentereng: buah emas. Disebut demikian lantaran tanaman keras dengan nama latin Elaeis guineensis ini bernilai ekonomi tinggi. Minyak yang diperoleh dari pengolahan biji sawit merupakan bahan baku minyak nabati yang lazim digunakan untuk mengolah berbagai bahan makanan. Untuk soal kelapa sawit ini, Indonesia boleh berbangga karena sekarang tercatat sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia.
- Manis Pahit Kelapa Sawit
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) melanda Sumatra dan Kalimantan sejak awal September 2019. Jerebunya bergerak ke Singapura dan Malaysia. Puluhan ribu orang terkena infeksi saluran pernapasan atas. Banyak sangkaan tertuju ke pengusaha perkebunan kelapa sawit sebagai biang onar karhutla. Tapi pengusaha kelapa sawit membantahnya.
- Jejak Kelapa Sawit di Kebun Raya Bogor
TANAMAN kelapa sawit (Elaeis guineensis) menjadi salah satu komoditas penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Bersama dengan Malaysia, Indonesia masuk dalam daftar negara penghasil sawit terbesar di dunia. Walau begitu, kelapa sawit bukanlah tanaman asli Indonesia. Tanaman ini mulai hadir pada zaman kolonial Belanda. Kelapa sawit belum muncul dalam katalog ke-2 Kebun Raya Bogor tahun 1844, yang disusun oleh J.K. Hasskarl. Elaeis guineensis mulai disebutkan pada halaman 73 dalam katalog J.E. Teysmann dan S. Binnedijk yang terbit tahun 1866. Menurut Dr. F.W.T. Hunger dalam De oliepalm (Elaeis guineensis), kelapa sawit mulai dikenal di Hindia Belanda tahun 1848. Pada Februari 1848, Kebun Raya Bogor menerima dua tanaman kelapa sawit dari Bourbon, Mauritius melalui perantara Mr. D.T. Pryce di Batavia, dan pada Maret di tahun yang sama, dua spesimen dari spesies yang sama dikirim oleh Hortus di Amsterdam, Belanda.
- Chipko, Gerakan Memeluk Pohon di India
SEJAK berabad-abad, penduduk desa di India, terutama di wilayah perbukitan dan pegunungan, menggantungkan hidup pada hutan. Hutan menyediakan makanan, bahan bakar, pakan ternak, serta menjaga kelangsungan sumberdaya tanah dan air. Kekeselarasan dengan alam sangatlah penting. Hutan adalah segala-galanya.
- Ibu Para Pohon
SETELAH bersusah payah melangkah sambil dipapah seorang pengawal presiden, perempuan berusia lebih dari 90 tahun itu akhirnya sampai ke tempat Presiden India Ram Nath Kovind berdiri. Sebuah penghargaan diterimanya dari sang presiden. Naluri keibuannya muncul dengan mengusap kepala sang presiden sebagai bentuk restu tatkala sang presiden memintanya menghadap kamera. Gemuruh tepuk tangan langsung memenuhi seisi ruangan pada 16 Maret 2019 itu. Senyum tipis langsung tersungging di bibir Saalumarada Thimmakka, perempuan tadi. Senyum itu menjadi tanda perjuangannya selama puluhan tahun menjaga lingkungan akhirnya berbuah manis. Thimmakka lahir di Gubbi, Tamakuru, Karnataka, India pada 1 Januari 1926 (sumber lain menyatakan tahun 1927, ada pula 1912) dari pasangan Smt Vijayamma dan Sri Chikkarangayya. Kemiskinan membuat Thimmakka kecil tak pernah mencicipi bangku sekolah. Sedari usia 10 tahun, Thimmakka sudah membantu keluarganya dengan bekerja menggembalakan ternak milik beberapa tetangganya. Beranjak dewasa dia juga menjadi buruh kasar.
- Wabah Penyakit Gondok
ADA yang berbeda di Desa Ngepos, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, tahun 1972. Hampir seluruh warganya menderita penyakit gondok. Di leher mereka terdapat benjolan; bahkan ada yang sebesar kepalan tangan orang dewasa. Orang-orang menyebutnya penyakit gondok, gangguan akibat kekurangan yodium.





















