top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tak Sekadar Aspirasi Umat

    MUNCULNYA Republik Maluku Selatan (RMS) pada April 1950 menarik perhatian Johannes Leimena. Di depan umat Kristen di Maluku, dia menyerukan bahwa yang terpenting bagi warga Maluku adalah tetap memeluk Kristen dan menjadi warga negara Indonesia.

  • Primbon Wadah Laku Mistik

    GERHANA matahari total melintasi sejumlah provinsi di tanah air pada 9 Maret 2016. Beberapa orang antusias menyambutnya. Peristiwa ini juga dijadikan ajang promosi pariwisata. Bagi ilmu pengetahuan modern, gerhana matahari merupakan fenomena alam yang biasa. Tidak demikian menurut primbon Jawa.

  • Preman Pasar dan Seniman Algojo

    ABU Berto kesohor sebagai jagoan pasar di depan Istana Kedatuan Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan. Sekitar 1940-an, bersama kawan-kawannya, Berto membentuk perkumpulan bernama Anak Pasar.

  • Kisah Dua Kampung Halaman

    KETIKA melakukan perjalanan ke Tiongkok bersama Yin Hua Meishu Xiehui (Lembaga Seniman Indonesia Tionghoa) tahun 1956, Wen Peor sempat berkunjung ke kampung halamannya di Meixian, sebuah distrik di Kota Meizhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok. Bahkan menghasilkan lukisan cat minyak “Terang Bulan di Kampung Halaman” yang dibeli oleh Presiden Sukarno. Siapa sangka dia akan kembali karena situasi pelik di Indonesia.

  • Kembalinya Si Burung Camar

    IBARAT burung camar, pelukis Wen Peor mencari kebebasan sekaligus mencoba mengatasi situasi sulit dengan cara yang anggun. Ketika situasi di Indonesia tak menentu pasca-Peristiwa 1965, dia memutuskan pergi, menetap, dan berkarya di tanah leluhurnya.

  • Kelompok Tanpa Nama

    AYANDE Sloan berusia 14 tahun ketika Jepang mendarat di Tarakan, Januari 1942. Karena berparas bule, gadis muda itu tak bisa keluar rumah. Dalam tempo-tempo tertentu, saat serdadu Jepang merazia rumah-rumah penduduk untuk mencari orang bule, Ayande digulung dalam kasur oleh ibunya.

  • Dari Poster hingga Cukil Kayu

    “GARIS-garis cukilan kayu Wen Peor adalah garis-garis pemberontakan seorang seniman…,” catat JJ Kusni, penyair yang pernah gabung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), dalam arsip surel berjudul “Surat Sutera Putih: Menyertai Kepergian Pelukis Wen Peor”.

  • Bandit dari Lereng Gunung

    DI Surakarta, kabar proklamasi kemerdekaan mendorong bandit-bandit ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Beberapa di antara mereka baru keluar dari penjara. “Banyak dari para tahanan yang seharusnya belum waktunya bebas dikeluarkan dengan alasan diikutkan untuk berjuang,” tulis Julianto Ibrahim dalam Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta.

  • Gejolak Muda Iwa Kusuma Sumantri

    BANDUNG, 1915. Iwa Kusuma Sumantri memulai pendidikan di Sekolah Pribumi Pamong Praja Hindia Belanda (OSVIA). Dia yang merupakan putra guru Sekolah Kelas Dua bernama R. Wiramanti diharapkan sang ayah memperoleh  masa depan yang cerah. Seseorang yang memegang ijazah OSVIA akan dengan mudah memperoleh pekerjaan di pemerintahan. Pada waktu itu jabatan pegawai negeri juga merupakan pekerjaan terhormat di masyarakat. Mereka yang bekerja di pemerintahan akan hidup dengan layak.  Akan tetapi harapan ayahanda itu rupanya tidak sesuai dengan keinginan hati Iwa. “Sesungguhnya, apabila pada saat itu saya mampu menolak perintah orang tua, maka dapatlah saya katakan bahwa sekolah ini sama sekali tidak sesuai dengan hati maupun cita-cita saya sendiri,” kata Iwa. Meski begitu, Iwa tetap mengikuti ucapan sang ayah untuk bersekolah di OSVIA. Diceritakan Iwa dalam otobiografinya Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah , dia melakukan hal itu karena tidak ingin mengecewakan harapan orang tuanya. Setidaknya, imbuh Iwa, dia harus menunjukkan kepatuhan sebagai bukti jasa terhadap apa yang telah diberikan kedua orang tua dalam hidupnya. Dengan perasaan antipati, Iwa memulai kehidupan sebagai pelajar OSVIA. Pemuda asal Ciamis itu tinggal di asrama mahasiswa di Bandung. Sekolah yang dia masuki adalah sekolah bagi kalangan elit. Tidak semua orang bisa memasukinya. Bukannya merasa beruntung, Iwa malah tertekan dengan kondisi di sana. Keadaan OSVIA tidak menyenangkan bagi Iwa. “Cara-cara kehidupan mahasiswa tidak dapat saya terima begitu saja. Pelaksanaan perpeloncoan terhadap calon-calon mahasiswa baru tidak sesuai dengan makna perpeloncoan itu sendiri. Dalam praktiknya perpeloncoan lebih dititikberatkan pada tindakan-tindakan yang berlandaskan sentimen atau balas dendam saja,” kata Iwa. Tidak hanya itu, Iwa juga mengkritisi cara bergaul anak-anak di sekolahnya. Murid OSVIA kerap terlibat dalam persaingan dengan sekolah Belanda lain di Bandung. Mereka saling berlagak ingin terlihat lebih unggul, baik dalam penampilan maupun pelajaran. Tidak jarang hal tersebut membawa perselisihan di antara para pelajar. Iwa merasa hal itu sama sekali tidak ada gunanya dan hanya mendatangkan kerugian. Karena sudah benar-benar tidak tahan dengan lingkungan belajar di OSVIA, pada 1916 Iwa memutuskan melarikan diri dari asramanya. Bersama seorang kawan, yang memiliki pandangan dan pendirian serupa, Iwa pergi menuju rumah kakaknya di Kandanghaur, Indramayu. Dari sana, Iwa dan kawannya melanjutkan perjalanan menuju rumah kakaknya yang lain di Cirebon.  “Kami sama-sama menyadari bahwa OSVIA tidak sesuai dengan jiwa kami. Lebih dari itu, kami tidak sudi untuk menjadi alat Belanda nanti, sesudah kami tamat,” ujar Iwa. “Kami muak terhadap sikap Belanda yang sombong dan berkuasa itu, dan kami lebih muak terhadap sikap orang-orang Indonesia yang sok Belanda, lebih dari orang Belanda totok itu sendiri.” Iwa tahu jika perbuatannya itu bisa merugikan dirinya. Dia juga telah mengecewakan kedua orang tuanya yang telah berjuang memasukkannya ke sekolah pamong praja tersebut. Tetapi Iwa sudah tidak peduli lagi. Saat itu di benaknya hanya ada keinginan untuk menjauhi Bandung, dengan OSVIA yang tidak dia senangi di dalamnya. Iwa tidak ingin meneruskan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Setelah kurang lebih seminggu tinggal di Cirebon, keberadaan Iwa diketahui orang tuanya. Dia lalu disusul oleh Partadireja, guru bahasa Sundanya di OSVIA. Partadireja membujuk Iwa kembali ke Bandung. Karena bujukan manis sang guru, Iwa akhirnya setuju untuk kembali bersekolah. Kepada pihak OSVIA, kedua orang tua Iwa meminta kebijaksanaan agar mereka memaklumi kondisi Iwa yang masih sangat muda. Permohonan itu dikabulkan: Iwa tidak diberi sanksi. “Namun tetap saya tidak dapat hidup tentram serta belajar sebagaimana mestinya di OSVIA ini. Pergolakan jiwa semakin hebat dalam pribadi saya. Bagi saya, seolah-olah OSVIA merupakan penjara yang mengungkung saya, saya ingin bebas,” kata Iwa. Perasaan tidak senangnya semakin hari semakin kuat bergojak di dalam diri Iwa. Dia pun kembali memikirkan cara untuk bisa keluar dari OSVIA. Akhirnya Iwa menemukan cara baru untuk mewujudkan impiannya tersebut. Alih-alih memberontak seperti sebelumnya, dia memilih mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada sang ayah bahwa dia tidak ingin berada di OSVIA. Sekolah pamong praja itu bertentangan dengan cita-citanya dan selama berada di sana dia sama sekali tidak merasa senang. Mendengar ucapan tersebut, kedua orang tua Iwa sangat terkejut. Mereka merasa telah menempatkan putranya di tempat terbaik yang akan mendukung masa depannya kelak. Namun setelah Iwa mengutarakan cita-cita dan keinginannya, sang ayah menerima sikap Iwa tersebut. Mereka membebaskan putranya memilih sekolah yang dikehendaki. Sekira akhir 1916, dengan persetujuan kedua orang tua, Iwa pindah ke Batavia. Dia memutuskan bersekolah di sekolah hukum, Recht School . Telah lama ilmu hukum dan sejarah menarik minat Iwa. Dia akhirnya mencurahkan seluruh kemampuannya di sekolah baru tersebut.*

  • Cerita Cinta Iwa Kusuma Sumantri

    MENDAPAT restu dari keluarga, pada 1921 Iwa Kusuma Sumantri dan Emma Puradireja “kawin gantung”, sah sebagai suami-istri tapi belum boleh hidup bersama sebelum pernikahan resmi. Namun Iwa harus melanjutkan studi ke Fakultas Hukum di Universitas Leiden, Belanda. Emma, yang juga tokoh pergerakan, mengerti keinginan dan cita-cita suaminya. Di Belanda, Iwa aktif di Perhimpunan Indonesia (PI). Ketika “front rakyat”, garis politik Komunis Internasional, menarik perhatian PI, Iwa bersama Semaun mengunjungi Moskow. Kepergian Iwa berdampak pada kehidupan pribadinya. Menduga Iwa komunis, keluarga Emma minta Iwa melepaskan ikatan perkawinan. Iwa kecewa. “Saya masih mencintainya, tetapi saya harus meluluskan permintaan tersebut,” kata Iwa dalam otobiografinya, Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah . Namun Iwa sendiri mengakui tak bisa berlagak sebagai suami setia. Dia menikmati pergaulan dengan nona-nona Belanda. Salah satunya, Mien (Wilhelmina) van Z, membuatnya jatuh hati. “Kekecewaan saya atas Emma merupakan luka di dalam hati saya. Hati saya belum memiliki kepastian apakah saya mampu berkeluarga setelah tragedi yang saya alami,” ujarnya. Pada akhir 1925, lulus dari Leiden, Iwa masuk Eastern University, semacam universitas persahabatan untuk orang-orang Timur, di Moskow. Dia sempat berpacaran dengan seorang gadis cantik Rusia asal Polandia tapi harus berakhir karena gadis itu meninggal. Dia kemudian menemukan penggantinya, gadis cantik asal Ukraina bernama Anna Ivanova, yang ditemuinya di sebuah club . Iwa Kusuma Sumantri dan anaknya, Sumira Dingli, berziarah di makam istrinya, Anna Ivanova di Rusia. (Repro Iwa Kusuma Sumantri: Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah ). Anna sangat berjasa bagi Iwa: mengenalkan kehidupan masyarakat Rusia, mengajarinya bahasa dan kesusastraan Rusia, bahkan dengan gajinya yang tak seberapa sebagai pembantu dokter dia membantu ekonomi Iwa. Pada Januari 1926, Iwa menikahi Anna. Adik Anna, Varia, kelak menikah dengan Semaun. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang dinamai Sumira Dingli –nama kedua diambil dari nama Iwa di Rusia. Setelah satu setengah tahun hidup di Rusia, dan merampungkan buku The Peasants’ Movement in Indonesia , Iwa kembali ke Indonesia pada akhir 1927. Istri dan anaknya tak bisa ikut karena kebijakan pemerintah Rusia yang melarang warganya ke luar negeri. “Dengan uang yang penghabisan, Anna mengirimkan saya kembali kepada bangsa saya,” kata Iwa. “Saya seolah-olah kehilangan sebagian dari semangat saya.” Di Indonesia, Iwa menjadi pengacara di Bandung, Jakarta, dan Medan serta aktif di sejumlah organisasi. Di Medan, Iwa tinggal di rumah pamannya, Abdul Manap. Sepupunya, seorang janda muda bernama Daru Kuraisin, juga tinggal di sana. Atas saran pamannya, Iwa menikahi Kuraisin pada Maret 1928. Kuraisin-lah yang menemani Iwa hingga ajal menjemput. “Istri saya mengikuti saya dengan rela dan setia. Seorang wanita muda yang berkorban pada suaminya yang dikarenakan penjajahan yang kejam. Saya merasa berterima kasih kepadanya karena kesetiaan dan ketabahannya selama dia menjadi teman hidup saya,” kata Iwa. Namun, Iwa tak bisa melupakan Anna dan anaknya di Rusia. Ketika menjadi rektor Universitas Padjajaran, Iwa sempat menghubungi Anna dari Peking. Anna melarangnya ke Moskow karena sedang musim dingin dan dia sedang sakit parah. Tiga tahun kemudian, ketika menjadi menteri perguruan tinggi ilmu pengetahuan, Iwa akhirnya sampai di Rusia tanpa bisa menatap wajah Anna. “Saat inilah kesempatan saya untuk bertemu dengan anak saya Mira dan keluarganya. Bersama mereka saya pergi ke kuburan Anna,” kata Iwa. “Anna telah melakukan tugasnya sebagai seorang ibu yang berbudi luhur.”*

  • Terbentuknya Perusahaan Negara

    AWAL 1957, untuk kali kedua Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja meminta Kolonel Soeprayogi membantunya mengatasi masalah kekacauan ekonomi. Soeprayogi tak memberi jawaban. Selain karena sedang bekerja dalam Panitia Finek (Finansial dan Ekonomi) Markas Besar Angkatan Darat, dia juga menerima kabar akan diangkat sebagai sekretaris jenderal Kementerian Perdagangan jika Sultan Hamengkubuwono IX menjadi menteri perdagangan.

  • Riwayat Rendang Merantau ke Belanda

    PADA suatu hari di musim panas, saya menemukan makanan kemasan menarik bertulisan ‘Indisch Rendang Padang’ pada sebuah supermarket di Amsterdam. Tapi ini bukan rendang sembarang rendang. Rendang ini memang dijual lengkap dengan nasi, namun pada gambar di kemasannya tidak ada daun singkong, pasangan rendang di warung Padang. Yang ada malah brokoli sebagai sejoli. Bagaimana bisa rendang di Belanda bisa berbeda dengan yang disajikan di Ranah Minang maupun di berbagai restoran padang di Indonesia? Pertanyaan terpenting: Sejak kapan rendang ‘merantau’ ke Belanda dan bagaimana ia menyebar?

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page