Hasil pencarian
Cari di situs ini
10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ranah Rantau Rumah Makan Padang
JARUM jam menunjukkan angka 12. Akmal Darwis memasuki Rumah Makan Inyai di simpang Olo Ladang, Kota Padang. Sejurus kemudian, tukang air (pramusaji) menyajikan segelas air putih panas di meja. “Saya membeli suasana,” ujar Akmal, 62 tahun, wartawan senior di Padang, yang menjadi pelanggan setia Inyai sejak akhir 1970-an.
- Olahraga Pelancar Usaha
PADA penghujung April lalu, golf menjadi sorotan publik ibukota. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok melontarkan pernyataan kontroversial. Ahok mengungkap sejumlah pejabat dalam jajaran pemerintahannya tergabung dalam “geng golf ”. Dia menyebut walikota Jakarta Utara yang mengundurkan diri, Rustam Effendy, termasuk salah satu anggotanya.
- Mengikis Penyakit Sifilis
KOTA pelabuhan Tegal, sekira 1825, geger akibat berjangkitnya penyakit sifilis. Pemerintah kota pun berinisiatif membendung penyebarannya. Para penderita sifilis dikumpulkan di suatu tempat agar tak berkeliaran di jalanan.
- Meniti Jalan Nasionalisasi
LAMPU di rumah Jalan Pegangsaan Timur No 56 masih menyala. Malam itu, 2 Desember 1957, ditingkahi kepulan asap rokok, para pemimpin kelompok fungsional beradu argumen tentang rencana aksi nasionalisasi semua kepentingan Belanda di Indonesia. Instruksi bersama sudah disiapkan; tinggal ditandatangani semua yang hadir.
- Memupuk Asa di Desa Putera
KECERIAAN memenuhi suasana Panti Asuhan Desa Putera, biasa disingkat Padestra, di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mata yang masih kuyu selepas tidur siang tak menghalangi mereka beraktivitas. Ada yang bercerita sambil berjalan bersama teman. Ada pula yang bermain sepakbola di aula.
- Gelora dari Purwakarta
SENJA hampir tenggelam. Kompi Satoean Pemberontak 88 (SP 88) pimpinan Saridil bergerak cepat. Mereka melepaskan sekrup-sekrup rel kereta api di dekat Pasirembe, Purwakarta. Sejurus kemudian mereka menyingkir ke arah perbukitan. Sekitar pukul 18.00, dari arah Bandung, datanglah kereta api ekspres Bandung-Jakarta yang dikawal militer Belanda. Ketika melintasi jalur tersebut, kereta langsung anjlok dan terguling.
- Dalih Pengambilalihan Massal
SORE hari, Desember 1957, Soehadi Reksowardoyo mengantar enam orang veteran eks Brigade XVIII ke pabrik kertas NV Papier Fabriek Padalarang. Mereka datang diam-diam untuk “mengintip pabrik” dan “mengumpulkan data teknologi perkertasan” sebagai bekal membangun pabrik kertas di Blabak milik Bank Industri Negara (BIN). Pasalnya, pihak pabrik menolak permintaan BIN untuk melakukan kunjungan resmi.
- Bukan Kutukan Si Pait Lidah
SUNGGUH sakti mulut Si Pait Lidah. Kutukan yang keluar darinya bisa mengubah apapun menjadi batu. Sudah banyak orang jadi korban. Lihat saja arca-arca batu yang tersebar di kawasan Lahat dan Pagar Alam (pemekaran dari Lahat tahun 2001), Sumatra Selatan. Setidaknya itulah yang dipercayai masyarakat pendukung Budaya Besemah atau lebih dikenal dengan Pasemah.
- Ancaman Frambusia yang Tersisa
MASIH terngiang ucapan Soeharto kala mundur sebagai presiden Mei 1998: “Ora dadi presiden yo rak pateken.” Tidak jadi presiden ya tak akan kena penyakit patek (frambusia), yang maksudnya tidak apa-apa, tidak akan rugi.
- Cerita di Balik “Sowan” ke Wisma Yaso
HALAMAN luas mengelilingi bangunan dengan sirap atap itu di sisi timur, selatan, dan baratnya. Keasrian halamannya menjadi oase tersendiri di tengah sibuknya jalan protokol di depannya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
- Tionghoa Nasionalis di Gelanggang Bulutangkis
NYARIS putus sekolah, karena keluarganya miskin, Ivana Lie terbantu karena prestasinya di bidang bukutangkis. “Dari situ akhirnya muncul motivasi. Kalau saya jadi juara, saya bisa membantu orangtua saya,” ujarnya. Sedari kecil dia kerap memenangi kejuaraan. Hingga suatu waktu, dia terpilih mewakili Indonesia dalam sebuah kejuaraan bulutangkis yunior di India. Namun, dia gagal berangkat lantaran tak punya paspor.





















