Hasil pencarian
Cari di situs ini
10067 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sayuti Melik dalam Gerakan Bawah Tanah Singapura
SAYUTI Melik, yang kelak dikenal sebagai pengetik naskah Proklamasi, pernah ditangkap pemerintah kolonial Belanda karena dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI pada 1926. Setelah ditahan sebentar di Banyumas, dia diasingkan ke Boven Digul, Papua pada 1927. Dia baru dibebaskan pada 1930. Setelah itu, dia bekerja di kapal pengangkut sapi dan babi. “Sekembalinya dari Digul, Mas Yuti jadi tukan transport sapi dan babi. Dari Bali dibawanya sapi dan babi ke Singapura. Begitu mondar-mandir. Tapi kemudian tinggal di Singapura beberapa lamanya dia,” tulis Minggu Pagi, 11 Maret 1951. Sementara itu, Soebagijo I.N. dalam S.K. Trimurti, Wanita Pengabdi Bangsa menyebut Sayuti Melik memang berpetualang ke Malaya dan Singapura pasca pembebasannya. Di Singapura, ia menyamar sebagai kuli pelabuhan atau kuli angkut barang.
- Sayuti Melik Merasa Bebas di Dalam Penjara
SAYUTI Melik bukan hanya pengetik naskah Proklamasi. Sejak 1923, ia sudah menulis di berbagai surat kabar dari Islam Bergerak, Penggugah, hingga Sinar Hindia. Tulisan-tulisannya seringkali mengkritik pemerintah kolonial dan membuatnya selalu diawasi oleh pemerintah. Ketika usianya baru 16 tahun pada 1924, Sayuti Melik dipenjara di Ambarawa atas tuduhan menghasut rakyat. Kemudian pada 1926, ia ditangkap karena dituduh terlibat pemberontakan 1926. Ia dipenjara di Banyumas dan pada 1927 dibuang ke Boven Digul. Ia baru keluar dari Digul pada 1933. Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia, Volume 3, menyebut pasangan suami istri Sayuti Melik dan S.K. Trimurti seringkali bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka yang kritis terhadap pemerintah.
- Infiltrasi Nekat Yos Sudarso ke Irian Barat
SIARAN Radio Australia Selasa petang itu menyiarkan berita yang mengejutkan: malam tadi (Senin, 15 Januari 1962) sebuah kapal cepat torpedo milik ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) berhasil dihancurkan oleh kapal perang Marinir Belanda. Melansir dari DPA (Kantor Berita Belanda) disebutkan dalam pertempuran laut itu, Marinir Belanda berhasil menawan sekira 50 prajurit Indonesia. “…kapal-kapal perang Belanda mulai menembak pada suatu formasi kapal-kapal Indonesia yang sedang bergerak di perairan territorial Belanda, di arah selatan pantai Irian,” demikian laporan Radio Australia pada 16 Januari 1962. Sudomo menyatakan bahwa insiden itu terjadi saat KRI Harimau, KRI Matjan Tutul dan KRI Matjan Kumbang milik ALRI tengah melakukan upaya infiltrasi ke daratan Irian. “Kami membawa para sukarelawan dan unsur-unsur dari Angkatan Darat untuk diselusupkan ke Irian,” ujar pimpinan operasi infiltrasi itu dalam Laksamana Sudomo: Mengatasi Gelombang Kehidupan karya Julius Pour. Banyak kalangan kemudian menyebut operasi itu sebagai upaya nekat. Hal itu seperti dilontarkan oleh Laksamana Pertama (Purn.) Eddy Tumengkol kepada Historia beberapa waktu lalu. “Lha semua kapal cepat itu kan bergerak tanpa torpedo dan dukungan udara,” ujar sesepuh penerbang Angkatan Laut itu. Soal ketidaklengkapan kapal-kapal cepat buatan Jerman Barat tersebut diamini sendiri oleh Sudomo. Saat dibeli, tabung torpedo kapal-kapal cepat itu memang dalam keadaan kosong. Itu terjadi karena sebagai negara yang kalah dalam Perang Dunia II, Jerman Barat terkena kebijakan internasional dalam hal pembatasan memproduksi peralatan perang. Awalnya, ALRI akan menyiasati soal tersebut dengan membeli torpedo ke Inggris. “Sayangnya, setelah konflik Irian Barat semakin panas, pemerintah Inggris justru memberlakukan larangan pengiriman senjata strategis, termasuk torpedo, terhadap Indonesia,” ungkap Sudomo. Jadilah kapal-kapal cepat itu hanya diperkuat senjata-senjata penangkis serangan udara yang sejatinya sudah sangat tua. Senjata-senjata itu terdiri dari dua meriam 40 mm Bofors dan dua 12,7 mm. Sidhoparomo, masih ingat bagaimana awal terjadinya malapetaka pada malam itu. Saat memasuki Laut Arafuru, situasi gelap gulita. Bintang-bintang dan bulan sama sekali tak nampak. “Kami semua memandang tajam ke arah radar,” ujar Komandan KRI Matjan Kumbang tersebut. Tanpa disadari, sejak pukul 20.25, pergerakan mereka sudah dipantau oleh pesawat Neptune yang diawaki seorang pilot Angkatan Laut Belanda keturunan Jawa. Namanya Letnan H. Moekardanoe. Setelah memastikan posisi ketiga kapal cepat itu, Moekardanoe lantas mengirimkan tanda bahaya dini kepada tiga kapal perang Belanda (Hr. Ms. Eversten, Hr.Ms. Kortenaer dan Hr. Ms. Utrecht) yang juga sedang berpatroli di sekitar tempat tersebut. Sekira satu jam kemudian, Neptune mulai menyerang. Bersamaan dengan serangan tersebut, muncul satu fregat dari arah lambung kanan dan sebuah kapal perusak serta sebuah fregat dari arah lambung kiri kapal-kapal cepat itu. Pertempuran tak seimbang pun tak terelakan. Salah satu saksi sekaligus pelaku pertempuran itu adalah Junias Rapamy. Di malam itu, secara tiba-tiba Junias menyaksikan nyala kembang api menerangi haluan KRI Macan Tutul. Para prajurit dan kelasi berteriak-teriak panik. Rupanya kembang api itu disebabkan oleh tembakan pesawat Belanda jenis Neptune yang terbang di atas mereka setinggi kira-kira 3000 kaki dari permukaan laut. Sejurus kemudian pesawat itu hilang dari pandangan. ”Saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya…” kenang sukarelawan Irian pro Indonesia itu. Belum selesai Junias berpikir, beberapa menit kemudian tiba-tiba deru suara pesawat itu kembali meraung diatas KRI Matjan Tutul. Pesawat itu lagi-lagi melontarkan bom ke arah rombongan kapal cepat itu. Air laut menyembur tinggi di kanan-kiri Matjan Tutul. Warna merah api dan asap hitam panjang terlihat dalam air laut. Pesawat terbang itu kemudian menghilang lagi. Namun suara tembakan dan bom bertubi-tubi menghujani posisi KRI Macan Tutul. Kali ini dari kapal-kapal perang Belanda yang telah berada di sekitar mereka. Sambil memegang senjata, Junias mengambil posisi tiarap di bawah meriam kanan dekat pintu kamar mesin. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan desing peluru yang ditembakkan kapal musuh ke arah mereka. Blummm! Tembakan pertama musuh menghantam meriam depan KRI Matjan Tutul. Meriam itu tumbang, disusul oleh lontaran dasyat peluru meriam kedua musuh mengenai tiang radar hingga tumbang ke laut. Peluru meriam musuh ketiga mengenai dapur (tengah) kapal menjadi pecah mengeluarkan api dan asap hitam menutupi kapal dari depan sampai ke belakang. Peluruh musuh yang keempat mengenai mesin diesel (listrik) dan mematikan semua aliran listrik. Peluru musuh kelima menghancurkan anjungan dan alat komunikasi (PHB). Situasi di atas KRI Matjan Tutul kian kacau: jeritan dan teriakan saling bersahutan. Kemudian tiba-tiba tembakan-tembakan itu terhenti. ”Mungkin mereka sedang mengamati situasi yang terjadi setelah tembakan terjadi…” kenang Junias seperti diungkapkan dalam Sekelumit Kisah Junias Rapamy, Awak KRI matjan Tutul yang Selamat dalam Pertempuran Laut Aru karya Taufik Abriansyah. Melihat situasi yang sangat genting itu, dan untuk mengurangi kerugian korban, Komodor Laut Yos Sudarso yang berada di KRI Matjan Tutul mengambil alih komando. Dia langsung memerintahkan KRI Harimau dan KRI Matjan Kumbang yang berada dalam formasi untuk segera menghilang dan mundur ke Posko 001 di Ujir Dobo. (Bersambung)
- Komando Terakhir Komodor Yos Sudarso
SEBELUM berangkat mengantarkan para prajurit ke Papua, Komodor Josaphat Soedarso (selanjutnya disebut Yos Sudarso) pamitan dengan keluarganya. Yos sempat meminta Riyono, anak sulungnya untuk mencium dirinya. Demikianlah Yos Sudarso meninggalkan rumah untuk kemudian menjalankan tugas negara sebagai deputi operasi Kepala Staf Angkatan Laut. Jabatan ini setara orang nomor dua di jajaran Angkatan Laut. “Kenangan bagi Ibu Jos Soedarso yang terakhir hanya berupa pesan singkat, ‘Jaga baik-baik anak-anak’,” ungkap Moh Oemar dalam Laksda TNI-AL Anumerta Josaphat Soedarso . Yos seyogianya tidak direncanakan ikut dalam operasi pendaratan ke Kaimana, Papua. Misinya saat itu hanya mempersiapkan pasukan pendarat berangkat dari Pangkalan Udara Leftuan, Kepulauan Kei. Namun, Yos memutuskan turut serta dalam operasi pendaratan itu ketika merencanakan teknis infiltrasi bersama Kolonel Moersjid, asisten operasi Angkatan Darat. Kedua perwira ini sepakat melenceng dari perintah operasi untuk menyusup bersama pasukan garis depan sekalgus wujud dukung moril. Tiga kapal pendarat berjenis kapal motor torpedo dipersiapkan. Masing-masing komandannya ialah Mayor Laut Samuel Moeda (KRI Harimau), Kapten Laut Wiratno (KRI Matjan Tutul), dan Letnan Laut Sidhoparomo (KRI Matjan Kumbang). Selain mereka, Mayor Rudjito dari Angkatan Darat bertugas sebagai komandan operasi pendaratan. Pukul 09.00 pagi, 15 Januari 1962, di atas kapal komando KRI Multatuli, berlangsunglah pengarahan menjelang keberangkatan. Pengarahan dipimpin oleh Kolonel Laut Soedomo yang bertugas sebagai perwira pelaksana operasi. Pada akhir pengarahan, Yos Soedarso memilih sendiri kapal yang akan ditumpanginya dengan melempar “undi”. “Kapal mana yang komandannya termuda?” ujar Yos Soedarso. “Kapten Wiratno, Komodor,” jawab Wiratno, komandan Matjan Tutul. “Bapak ikut kapalmu, Kapten,” kata Yos Soedarso sambil memalingkan pandangannya kepada Wiratno. Padahal, Soedomo telah menawarkan agar Yos Sudarso menaiki KRI Harimau. Namun, Yos sudah kadung menetapkan pilihannya. Moersjid yang tadinya ditempatkan di KRI Matjan Tutul lantas mengajukan protes. Menurutnya kurang lazim menempatkan dua pimpinan angkatan selama operasi di wilayah perbatasan dalam satu kapal. Soedomo akhirnya memindahkan Moersjid ke KRI Harimau bersamanya. Pada jam-jam terakhir sebelum iring-iringan kapal bertolak, Yos Sudarso menghampiri Mayor Samuel Moeda yang sudah dikenalnya akrab. Selain sebagai komandan KRI Harimau, Sam merupakan komandan paling senior dari ketiga kapal motor torpedo. Perwira ALRI dengan pangkat terakhir Laksamana (Purn.) ini mengenang gurauannya dengan Yos Sudarso. “Sam, saya akan ke darat, kalau tidak kembali, Sam yang salah!,” kelakar Yos Sudarso. “Bagaimana saya bisa jaga Bapak kalau di kapal lain,” balas Samuel Moeda seraya tertawa. Percakapan itu terjalin beberapa saat sebelum keduanya memasuki pesawat masing-masing untuk sampai ke pangkalan kapal. Sesampai di pangkalan, Yos memasuki KRI Matjan Tutul. Sementara itu, dalam perjalanan menuju KRI Harimau, topi Samuel Hoeda terjatuh sendiri tanpa ada angin. “Kejadian itu membuat Mayor Samuel tidak tenang dan menafsirkan sebagai firasat, bahwa pada dirinya akan terjadinya sesuatu yang tidak baik,” tulis tim Pusat Sejarah ABRI yang mewawancarai Samuel Moeda pada 15 November 1990 dalam Trikomando Rakyat: Pembebasan Irian Barat . Pukul 17.00, kapal-kapal motor torpedo mulai bertolak dari Pulau Ujir menuju Kaimana. Di tengah lautan Arafuru, iring-iringan kapal tersebut terpergok oleh pesawat Neptune Belanda yang kemudian menghadang iringan. Atas instruksi Yos Sudarso, KRI Matjan Tutul terus melaju dan memberikan perlawanan. Sementara dua kapal lainnya, punya kesempatan putar haluan untuk mundur. Menjelang malam, KRI Matjan Tutul menghadapi gempuran dari dua pesawat Neptune dan dua kapal penghancur ( destroyer ) Belanda. KRI Matjan Tutul terkepung dalam pertempuran satu lawan empat itu. Sekira pukul 22.30, KRI Matjan Tutul mendapat tembakan berat dari sepasang destroyer Belanda, yakni Evertseen dan Kortenaer. Dalam kondisi terdesak, Yos Sudarso segera meraih Radio Telefoni (RTF) dan meneriakan komando terakhir-nya: “ Kobarkan semangat pertempuran! RI Matjan Tutul tenggelam dalam pertempuran di laut secaragentlemen and brave." Sejarah mencatat, KRI Matjan Tutul akhirnya tenggelam bersama Yos Sudarso, Kapten Wiratno dan 22 prajurit lainnya yang terkubur di lautan lepas. Peristiwa itu hingga sekarang diperingati sebagai Hari Dharma Samudra pada setiap 15 Januari.*
- Menoleh Gedung OLVEH
SEBUAH bangunan berlantai tiga, bercat putih, berdiri anggun. Wajahnya yang dulu lusuh dan tak terawat kini cerah dan menggoda banyak orang untuk menghampiri. Ia seperti jiwa yang bangun dari mati suri yang panjang.
- Riwayat Tentara Rakyat
SEJAK kelompok bersenjata dari Jakarta datang awal 1946, Karawang yang tenteram berubah jadi rusuh. Perkelahian dan bentrok terjadi di mana-mana. Menurut Telan (91), mantan anggota Lasykar Hizbullah, biasanya mereka bertikai gara-gara masalah kecil. Misalnya, satu kelompok lasykar tak mau bayar makanan di sebuah restoran lalu pemilik restoran lapor ke kelompok bersenjata lainnya.
- Jalan Murba Menuju Pertempuran
KENDATI memainkan peran penting di seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia dan penghancuran Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Peristiwa Madiun, orang-orang Murba tak jua mau terlibat dalam pemerintahan. Mereka konsisten menolak Persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB).
- Murba Berseteru dengan PKI
PERSETERUAN lama nyaris dilupakan ketika muncul upaya menjalin kerjasama di antara partai kiri pada awal 1950. Mula-mula inisiatif datang dari Ibnu Parna dari Angkatan Communis Muda (Acoma). Kendati ada anggota Murba menyambutnya, Dewan Partai Partai Murba menyebut itu pernyataan pribadi, sementara partai masih memberi perhatian pada persatuan internal.
- Dalih Pembubaran Murba
MENDAPAT perintah untuk menangkap Sukarni, Djokomoelyo, jaksa di Direktorat Resert Pusat Kejaksaan Agung, bergerak cepat. Dia mencari alamat Sukarni. Dalam file tokoh-tokoh politik di bagian politik DRP, ada banyak alamatnya. Bersama dua petugas lainnya, Djoko coba menelepon. Jawaban yang diterima sama, dengan tujuan berbeda-beda: Sukarni keluar kota.
- SOBRI Bukan SOBSI
DALAM pidato di depan kongres peleburan tiga partai pada 7 November 1948, Tan Malaka menggambarkan Syamsu Harya Udaya, kala itu ketua Partai Buruh Merdeka (PBM), sebagai sosok yang tegar; “berdiri seperti batu karang, yang tidak bisa diombang-ambingkan ombak perasaan.”
- Mahasiswa Murba Berburu Tikus
SEJAK tahun 1959 Partai Murba mempunyai organisasi mahasiswa bernama Gerakan Mahasiswa Murba (GMM). Menurut sejarawan Harry A. Poeze, ia kemungkinan semula bernama Gerakan Mahasiswa Pembela Proklamasi. Ketuanya Pranata, dan sebagai wakil ketua Santoso.





















