Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menghabisi Telik Sandi
SERANGAN Belanda dalam agresi militer kedua terhadap kota Yogyakarta membuat para tahanan kabur dari penjara Wirogunan. Salah satunya Mayor A.K. Joesoef, mantan komandan Batalion 63 Divisi III Yogyakarta sekaligus kepala Tentara Penjagaan Kota. Dia seharusnya ditahan selama empat tahun karena menculik Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Dia kemudian memutuskan pulang ke daerah asalnya, Purworejo.
- Kisah dari Masa Berdarah
DI Pemakaman Menteng Pulo, Jakarta Selatan, nisan-nisan putih berbentuk salib berbaris rapi. Sebagian berukuran kecil. Yang tertera bukan hanya nama-nama berbau Belanda namun juga nama-nama khas Minahasa, Maluku, dan Tionghoa.
- Spesialis Pencabut Nyawa
PERTEMPURAN tak seimbang di Wajo, Sulawesi Selatan, berakhir dengan kekalahan Tentara Republik Indonesia (TRI, kini TNI). Sejumlah prajurit tewas. Sebagian lagi terluka, termasuk Kapten Andi Abubakar Lambogo, komandan Batalyon I Resimen III Divisi Hasanuddin. Namun, alih-alih menghormati hukum perang dengan mengobati pemimpin pasukan musuh, pasukan Korps Speciale Troepen (KST) memenggal kepala Kapten Andi dan membawanya ke Pasar Enrengkang.
- Aksi Brutal Baret Hijau
SUATU pagi, April 1949. Samyi tengah bekerja sebagai buruh tani di Sampora ketika rentetan tembakan terdengar dari arah Lencang. Kedua tempat itu masuk wilayah Desa Cibubuan, Kecamatan Conggeang, Sumedang tapi jaraknya cukup jauh sekitar 3–4 km.
- Setelah Peluit Terakhir Berbunyi
NOVEMBER 1947. Isu itu bertiup kencang di penjara Bondowoso. Dari sipir-sipir yang diam-diam memilih sikap pro-Republik, para tawanan mendengar bahwa dalam waktu dekat mereka akan dipindahkan ke Surabaya. Konon, kepindahan itu terkait dengan daya tampung penjara yang dinilai sudah berlebihan.
- Candradimuka Dokter Jawa
DI Hindia Belanda, layanan kesehatan untuk masyarakat umum telah ada sejak awal abad ke-19. Itu pun awalnya hanya disediakan oleh pihak militer. Ketika Belanda menguasai kembali wilayah Hindia Belanda pada 1816 bagian medis militer menyediakan juga layanan kesehatan untuk sipil.
- Cerita Rumah Maeda
SEPERTI biasa, menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus, rumah di Jalan Imam Bonjol, Jakarta itu selalu ramai oleh pengunjung. Bukan koleksi benda antik yang membuat museum ini menarik untuk dikunjungi, namun kisah yang pernah terjadi di dalamnya yang membuatnya jadi punya daya tarik tersendiri.
- Maeda Merana di Masa Tua
PADA 15 September 1945, Kepala Staf Angkatan Darat Mayjen Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Urusan Umum Mayjen Otoshi Nishimura, dan Laksamana Muda Tadashi Maeda menandatangani penyerahan Jepang kepada Sekutu di kapal HMS Cumberland di bawah pimpinan Laksamana Madya Sir Wilfred R. Patterson, yang merapat di Tanjung Priok, Jakarta.
- Maeda Mendukung Secara Pribadi
SELAMA ini sejarawan Indonesia menganggap Angkatan Laut (Kaigun) lebih mendukung kemerdekaan Indonesia daripada Angkatan Darat (Rikugun). Hal ini berdasarkan dukungan Laksamana Muda Tadashi Maeda. Padahal, ia mendukung kemerdekaan Indonesia secara pribadi.
- Racun di Kopi Minang
WAYAN Mirna Salihin menemui ajal setelah menenggak kopi Vietnam di kafe Olivier, Jakarta Pusat, awal 2016. Dari otopsi jasadnya ditemukan racun jenis sianida. Pengadilan memutuskan temannya, Jessica Kumala Wongso, sebagai pelaku pembunuhan berencana Mirna, dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.
- Tiga Kitab Ali Moertopo
ALl Moertopo salah satu jenderal terpenting dalam kelompok inti di sekitar Presiden Soeharto. Dia berperan penting dalam perumusan, pembentukan, dan pemantapan kerangka format politik Orde Baru. Pemikiran-pemikirannya terangkum dalam tiga buku, yaitu Dasar-dasar Pemikiran tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun; dua karya lainnya lebih merupakan rangkuman dari pencapaian itu.
- Ali Moertopo Pernah Jadi Agen Belanda
LETNAN Jenderal TNI Ali Moertopo merupakan salah satu jenderal penting Orde Baru di awal dekade 1970-an. Kala itu, ia menjabat Staf Pribadi Presiden Soeharto dan wakil kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin, kini Badan Intelijen Negara).





















