top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Multatuli, Pembongkar Kejahatan atau Seorang yang Nyinyir?

    MULTATULI telah memberikan landasan bagi sosialisme di Belanda sebagaimana yang ditempuh oleh Peter Jeles Troeltsra, pendiri Partai Buruh Sosialis-Demokrat Belanda, demikian menurut penulis biografi Multatuli Dik van der Meulen dalam simposium mengenai Multatuli, Sabtu, 7 November kemarin di Amsterdam. “Dia juga telah menjadi dasar bagi pelaksanaan politik etis di Hindia Belanda, yang membuka kesempatan pendidikan bagi warga bumiputera,” kata Dik dalam simposium bertajuk “Klokkenluider of querulant? Multatuli en andere klokkenluiders” (“Pembongkar kejahatan atau pengumpat? Multatuli dan para pembongkar kejahatan lainnya”)  itu. Simposium yang diselenggarakan Multatuli Genootschap (Perhimpunan Multatuli) Belanda itu berangkat dari pertanyaan apakah penulis roman Max Havelaar ituseorang pembuka kontak pandora kejahatan Belanda di Hindia atau hanya seorang pengumpat ( querulant ). Bahkan mengemuka pula tuduhan kepadanya sebagai seorang penghianat. Menurut Philip Vermoortel, guru besar dari Universitas Brussel, Belgia, Multatuli sama sekali bukanlah seorang pembongkar kejahatan. “Dia hanyalah seseorang yang ingin semua hal berjalan dengan baik dan orang bekerja sebagaimana mestinya,” kata Vermoortel mengomentari apa yang dilakukan Multatuli ketika berada di Hindia Belanda. Setelah menempuh berbagai penugasan di Manado dan Natal, Sumatera Utara, Eduard Douwes Dekker mulai bertugas sebagai asisten residen di Rangkasbitung, Lebak, Januari 1856.  Tiga bulan bertugas di Lebak, dia mendapat laporan tentang penyelewengan yang dilakukan oleh bupati Lebak RAA Karta Natanagara. Laporan Dekker kepada Residen Banten Brest van Kempen tak ditanggapi malah menyebabkan pemecatannya sebagai asisten residen Lebak. Ketika kembali ke Eropa, pada 1859 Dekker mengurung dirinya dalam sebuah kamar hotel di Brussel, Belgia, menuliskan riwayat pengalamannya semasa bertugas di Hindia Belanda. Di bawah nama samaran Multatuli, dia mengungkapkan bagaimana pemerintah kolonial menjalankan sistem penidasan bagi rakyat Jawa. Novel Max Havelaar atau Persekutuan Lelang Dagang Kopi di Hindia Belanda terbit perdana pada 1860, dianggap sebagai pembuka aib penjajahan Belanda di Indonesia, sekaligus tonggak kesusasteraan modern di Belanda. Pengungkapan itu menimbulkan beragam kontroversi sekaligus tuduhan kepadanya sebagai orang frustrasi yang  hanya mencari jabatan dan mencari kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri. Hal senada dikatakan oleh Theodor Holman, wartawan senior harian NRC Handelsblad . Menurutnya, Multatuli terkesan berlebihan dalam memandang persoalan yang dihadapinya ketika bertugas sebagai asisten residen.  Berbeda dari beberapa pembicara lainya, Ronald van Raak, anggota parlemen Belanda dari Partai Sosialis (SP), justru menghargai jasa Multatuli di dalam membongkar praktik-praktik menyimpang yang terjadi di Hindia Belanda.  Menurutnya, Multatuli adalah raja diraja dari semua pembongkar kejahatan ( de koning van de klokkenluiders ). “Apa yang telah dia lakukan telah membawa dampak yang berharga: sebuah undang-undang kerajaan yang telah disahkan untuk melindungi para pembongkar kejahatan. Tidaklah sia-sia baginya mempersembahkan karyanya, Max Havelaar , kepada Raja Willem III dengan harapan agar raja bisa menyelesaikan masalah penyelewengan yang terjadi di Hindia Belanda,” ujar Ronald. Pada kenyataannya memang tak ada yang dilakukan oleh Raja Willem III untuk menyelesaikan persoalan di negeri jajahannya. Dampak politis dari penerbitan roman Max Havelaar baru terasa menjelang akhir abad ke-19, di kala kaum liberal seperti Van Deventer, mempertanyakan apa yang telah dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda atas warga jajahannya. Muncul pula kesan kalau roman Max Havelaar lebih menyerupai sebuah gugatan atas ketidakadilan yang terjadi di Hindia Belanda ketimbang novel biasa. “Ini bukan sekadar roman biasa, melainkan sebuah gugatan,” kata Winnie Sordrager, ketua Perhimpunan Multatuli yang juga pernah menjabat menteri kehakiman Belanda periode 1994-1998. Winnie adalah cicit kemenakan dari Eduard Douwes Dekker. Simposium yang diselenggarakan di aula De Balie, di kawasan Leidseplein Amsterdam itu dihadiri ratusan undangan yang datang dari beragam macam latar belakang, mulai wartawan, politikus, sejarawan, penulis serta beberapa intelektual dari negeri Eropa lainnya.

  • Cinta Hatta Bersyarat Indonesia Merdeka

    KETIKA menjadi mahasiswa di Belanda, Mohammad Hatta selalu serius belajar. Sekalipun banyak mahasiswi mengaguminya, dia tak menunjukkan ketertarikan. Penasaran, kawan-kawannya menyuruh seorang mahasiswa Polandia yang cantik untuk menggodanya tapi tak berhasil. Halida Hatta, putri bungsu Bung Hatta, ini karena ayahnya ingin menyelesaikan studi dengan baik sebagai modal dasar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Bung Hatta sadar apa yang sedang dia prioritaskan,” ujar Halida. Dan selama Indonesia belum merdeka, Bung Hatta berjanji tak akan menikah.

  • Tiga Gempa Terbesar di Timur Rusia

    WILAYAH timur jauh Rusia diguncang gempa dahsyat. Gempa tektonik dengan Magnitudo 8,8 menghantam pesisir timur Semenanjung Kamchatka pada Selasa (27/9/2025) malam waktu setempat (Rabu, 30 Juli 2025 pagi WIB). Bencana dengan episentrum di 136 kilometer sisi timur lepas pantai Semenanjung Kamchatka itu turut memicu tsunami hingga membuat sejumlah negara bersiaga. Kendati Kremlin menyatakan hingga kini tidak ada korban jiwa selain empat orang luka-luka, tak lama setelah guncangan dahsyat gempa, gelombang tsunami setinggi 5 meter menghantam kota Severo-Kurilsk di Kepulauan Kuril. Tsunami menyapu sejumlah bangunan di bibir pantai. Hingga tulisan ini dimuat, setidaknya Jepang dan Amerika Serikat juga turut terdampak. Di Jepang, gelombang tsunami setinggi 1,1 meter dilaporkan mencapai pantai Nemuro di Pulau Hokkaido, Kuji, hingga pelabuhan Ishinomaki di Prefektur Miyagi. Sedangkan di wilayah Amerika, selain di Atol Midway, gelombang tsunami setinggi lebih dari 1 meter mencapai Hilo, Kahului, dan Hale’iwa di Kepulauan Hawaii.

  • Akhir Petualangan Boetje Wantanea Pelarian Permesta

    KETIKA Deputi II KSAD Mayjen TNI Ahmad Yani berkeliling ke sejumlah negara Eropa untuk melakukan pembelian senjata pada awal dekade 1960-an, Hasjim Ning diajak. Pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia” yang dekat dengan Presiden Sukarno dan merupakan keponakan Bung Hatta itu diajak Yani karena kedekatannya dan juga kemampuan finansialnya menalangi proyek-proyek negara. “Khusus mengenai tugasku ialah untuk mengimpor kendaraan untuk keperluan militer, seperti jip dan truk, secara komersial dengan pembayaran lima tahun atas jaminan Bank Indonesia,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Ketika mengikuti “Misi Yani” itulah Hasjim mengalami hal yang tak diduganya. Di Hotel Prince de Gale, tempatnya menginap ketika di Paris, Hasjim didatangi Boetje Wantanea, pengusaha asal Minahasa yang meniagakan kopra untuk mendanai Permesta. “Boetje terkenal sebagai orang yang memecahkan bank roulette di casino Monte Carlo,” tulis A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5 . Boetje melarikan diri ke Eropa setelah PRRI/Permesta dipukul TNI. Dia berkeliling ke berbagai tempat untuk berjudi dan main perempuan. Hidupnya berubah drastis justru setelah Boetje berhasil memenangkan judi di casino Monte Carlo. “Uang yang diperolehnya di situ dititipkannya pada gula-gulanya yaitu seorang wanita Spanyol yang kemudian kabur. Akibatnya kemenangan di meja main judi sebanyak kurang lebih US$800.000 hilang lenyap dan Boetje pernah mengalami hidup sengsara sampai dia tidur di bawah jembatan,” demikian Rosihan Anwar menuliskan cerita yang didapatnya dari pengusaha AM Dasaad itu dalam bukunya  Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965. Boetje yang sudah menjadi gelandangan itulah yang mendatangi Hasjim di Paris. Entah dari mana dia mendapatkan info, Boetje tahu Hasjim datang ke Paris untuk mengikuti “Misi Yani”. Bak seorang gangster, dia lalu berupaya memeras Hasjim dengan mengeluarkan ancaman. Namun karena Hasjim tak takut, Boetje pun pergi. Dua hari berselang, Boetje kembali mendatangi Hasjim. “Begini, Bung Hasjim,” kata Boetje memulai pembicaraan. “Teman-teman telah membuat pertimbangan masak-masak. Bung Hasjim adalah teman lama kami. Nama Bung Hasjim dapat kami hapus dari daftar hitam apabila Bung Hasjim bersedia menyediakan uang tunai 20.000 US dolar.” Hasjim langsung emosi. “Boetje, aku tahu persis siapa Saudara. Seorang penjudi dan petualang yang lari ke sini karena tidak membayari hak-hak petani di Sulawesi. Kalau Saudara seorang pemberani, Saudara tak usah di sini. Ikutlah bertempur bersama Permesta. Kenapa di sini melakukan ancaman-ancaman yang Saudara sendiri tak berani lakukan?” kata Hasjim merespon. Boetje langsung ciut nyali. Setelah Hasjim mengajaknya makan di restoran hotel dan memberinya uang karena kasihan, Boetje pun pergi dan tak pernah terlihat lagi batang hidungnya. Namun ketika Hasjim menemani Presiden Sukarno yang berkunjung ke Roma, Agustus 1961, Boetje kembali mengunjungi Hasjim di Hotel Exelsior tempatnya menginap. Boetje mengiba minta dipertemukan dengan Sukarno. Karuan hal itu membuat Hasjim panas dan menanyakan Boetje  apakah dia akan mengancam presiden sebagaimana yang dia lakukan padanya setahun silam. “Oh, tidak. Aku mau minta ampun pada beliau,” jawab Boetje. “Datang saja ke Indonesia!” kata Hasjim acuh. Jawaban Hasjim membuat Boetje langsung masuk pada inti maksud kedatangannya. Dia menawarkan dokumen rahasia tentang kekuatan militer Belanda di Irian, yang saat itu sedang diperbutkan Indonesia dan Belanda, pada pemerintah Indonesia. Pernyataan itu direspon Hasjim semata sebagai cara pemeras yang kehabisan uang untuk mendapatkan uang.   Kali ini Boetje tak menyerah. “Bung Hasjim tahu bukan, saudaraku menikah dengan seorang perwira Belanda? Dari dia aku memperoleh dokumen itu,” katanya. Karena tak percaya Boetje namun penasaran, Hasjim lalu menelepon Wa-KSAD Jenderal TNI Gatot Subroto yang ikut dalam rombongan presiden namun di Italia beda kamar dengan Hasjim. “Bawa monyet itu ke sini!” kata Gatot yang mengenal Boetje saat menjadi panglima di Makassar. Di kamar Gatot yang saat itu sedang ada pengusaha Dasaad, Jusuf Muda Dalam, dan Dubes RI di Vatikan Laksamana Nazir, tuan rumah menerima Boetje yang diantar Hasjim. Dia langsung mengecek dokumen yang dibawa Boetje sambil melontarkan beberapa pertanyaan menyelidik. Gatot akhirnya menanyakan kesediaan Boetje untuk meninggalkan dokumen tersebut untuk dibahas lebih lanjut, sementara yang ditanya menyatakan kesediaannya. Begitu Boetje pergi setelah dijanjikan akan dipanggil kembali, para hadirin di kamar Gatot langsung membahas dokumen tersebut yang memuat antara lain jumlah kekuatan alat tempur Belanda di Papua dan yang disiagakan di Antilen-Belanda. Dengan kekuatan Belanda yang lebih unggul dibanding kekuatan Indonesia bila mengacu pada dokumen tersebut, Gatot menyampaikan pandangan bahwa penyelesaian sisa-sisa PRRI/Permesta harus dituntaskan sesegera mungkin sebelum clash  dengan Belanda dimulai. Tanpa penyelesaian itu, TNI akan kerepotan karena harus memecah kekuatannya untuk menangani sekaligus PRRI di Sumatera, Permesta di Sulawesi, DI/TII di Jawa Barat, dan Belanda di Papua. “Setelah bertukar pikiran yang cukup lama juga, akhirnya Gatot Subroto menggagaskan agar masalah PRRI/Permesta diselesaikan dengan melakukan amnesti dan abolisi,” kenang Hasjim. Gagasan Gatot itu pun langsung mendulang dukungan penuh dari para yang hadir. Hasjim lalu ditunjuk untuk menyampaikan keputusan tersebut kepada presiden. Malamnya, semua yang hadir di kamar Gatot diterima Presiden Sukarno. Hasjim langsung membuka pembicaraan dengan memberitahu presiden bahwa di kamar Gatot ada seorang pelarian Permesta yang ingin menemui presiden untuk minta ampun. Setelah itu, mereka menunjukkan dokumen yang diberikan Boetje dan menginformasikan solusi yang telah diambil siang itu di kamar Gatot. Meski secara prinsip presiden menyetujuinya, ia belum memberi lampu hijau karena akan mendiskusikan dulu dengan para menteri yang ikut dalam rombongan dan sejumlah duta besar Indonesia di sana esok paginya.  Pemerintah akhirnya mengambil langkah yang digagas Gatot. Boetje pun selamat. “Dengan pertolongan Gatot Subroto dia dapat menghadap Sukarno. Terus Boetje meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya dan diciumnya tangan Sukarno. Ia diizinkan kembali ke Indonesia tanpa dilakukan penuntutan terhadap dirinya,” tulis Rosihan dalam catatannya bertanggal 24 Agustus 1961.*

  • Idham Chalid, Politisi Air yang Tak Lagi Mengalir

    KIAI Nahdlatul Ulama (NU) ada dua macam: kiai-pesantren dan kiai-politisi. Kiai-pesantren hanya menjadikan NU sebagai wadah perjuangan sosio-religius dan lebih betah di pesantren ketimbang di parlemen. Kiai-politisi sebaliknya: menjadikan NU sebagai kekuatan politik. Idham Chalid masuk kategori kedua.

  • Menjejaki Sejarah Kuliner Nusantara

    Hubungan Indonesia dan Malaysia beberapa kali sempat menghangat lantaran klaim Malaysia terhadap beberapa produk budaya Indonesia. Salah satu produk budaya yang sempat diakui khas Malaysia adalah rendang. Seperti yang terjadi dalam World Expo Milan 2015. Saat itu Malaysia menyuguhkan rendang dan sate di pavilunnya. Beberapa kalangan di Indonesia sempat meradang atas klaim itu. Tetapi pantaskah kita marah? “Klaim-klaim kuliner itu sebenarnya menggelikan, bukan menggelisahkan. Karena makanan adalah produk budaya yang mudah diadopsi, dimodifikasi, dan diduplikasi oleh siapa pun,” ujar Fadly Rahman dalam peluncuran buku terbarunya Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia , di Kedai Tjikini, Jakarta, Sabtu (17/12/2016). Fadly adalah sejarawan Universitas Padjadjaran yang fokus pada studi sejarah kuliner Indonesia. Menurutnya, sikap reaktif terhadap klaim kuliner seperti itu menunjukkan masih minimnya tingkat literasi masyarakat kita terhadap budayanya sendiri. Ditambah lagi studi terhadap budaya kuliner, terutama terkait sejarahnya, juga setali tiga uang. Fenomena “wisata kuliner” dan industri makanan di Indonesia berkembang begitu menggairahkan beberapa tahun terakhir. Tetapi, sangat disayangkan belum ada yang secara menyeluruh dan mendalam meneliti masalah sejarah makanan di Indonesia dalam perspektif global. Hal ini juga menjadi kekhawatiran Andreas Maryoto, wartawan senior, yang turut hadir dalam peluncuran buku tersebut. “Saya yang relatif lebih dulu menulis soal-soal kuliner ini merasa kesepian. Seakan-akan, kok, tidak ada yang mau menulis soal kuliner Indonesia?” ujar Andreas, wartawan senior Kompas dan penulis buku Jejak Pangan: Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan . Diakui Andreas sebab utama minimnya penulisan sejarah-budaya kuliner Indonesia adalah langkanya sumber. “Tapi, sebenarnya langka itu bukan berarti tidak ada sumber. Sumber sejarah kita, teks serat misalnya, memang implisit sifatnya. Tetapi, sebenarnya serat itu lebih kaya nuansa. Karena selain peristiwa ia juga merekam suasana. Itu yang tidak ditemukan dalam sumber Barat,” imbuhnya. Fadly sejak lama menyadari itu. “Kita butuh stok informasi yang bisa menunjukkan kaitan historis dan budaya soal makanan. Karena sebenarnya ada yang namanya sharing cuisine , berbagi cita rasa, lewat interaksi budaya,” tambahnya. Itulah salah satu misi Fadly menerbitkan Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia. Hal-hal penting yang dibahas dalam buku ini di antaranya akar pembentukan makanan di Indonesia sejak masa kuno hingga masa Presiden Sukarno, pengaruh global yang memperkaya khazanah kuliner Nusantara, perkembangan ilmu makanan dan gastronomi, hingga penyusunan buku masakan Indonesia. Karena bobot isinya, Andreas mengapresiasi terbitnya buku ini sebagai karya penting untuk menguak sejarah kuliner Indonesia. “Saya kira buku ini pantas disebut babon dalam studi sejarah kuliner. Bisa menjadi pengantar bagi penulis-penulis muda,” ujarnya. Fadly sendiri berharap karyanya ini dapat memperkaya pengetahuan sejarah dan budaya kuliner Indonesia. “Serta dapat menyadarkan berbagai pihak, termasuk elemen pemerintah selaku pengambil kebijakan, agar lebih memantapkan strateginya dalam memberdayakan potensi pangan nasional demi memajukan citra kuliner dalam lingkup global,” ungkap Fadly.

  • Tahun Baru, Ibukota Baru

    SUASANA Jakarta sejak Oktober hingga akhir 1945 sedang gawat. Tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Beanda) dan tentara Inggris (Sekutu) menebar teror kepada penduduk sipil dan elite Republik. Pada 23 Desember 1945 misalnya, tentara Inggris mengepung daerah Kwitang, Gang Kernolong dan Kalipasir. Mereka menyisir wilayah itu untuk mencari senjata api. “Sebagian rombongan tentara itu melakukan pemeriksaan secara menyakitkan hati. Mereka menurunkan, merobek dan membakar bendera Merah Putih. Termasuk juga mereka menaiki atap Masjid Kwitang dan menurunkan bendera Merah Putih. Masjid Kwitang pun turut digeledah,” tulis harian Kedaulatan Rakyat , 24 Desember 1945. Tak hanya menggeledeh, tentara Inggris juga menembak mati enam orang yang sedang mencuci pakaian di sungai dan melakukan percobaan pemerkosaan terhadap perempuan tetapi gagal. Penggeledahan ini dimulai pukul 8 pagi dan berakhir sekira pukul 10. Keesokan harinya, tentara Inggris melakukan penggeledahan di daerah Tanah Abang dan Kebon Dalam. Dua elite Republik, Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin juga tak luput dari teror. Pada satu siang minggu terakhir Desember 1945, Bung Kecil membawa mobilnya melintas di daerah Menteng. Tiba-tiba, mobilnya ditembaki orang sebanyak empat kali. Sjahrir turun dan dikepung empat orang Belanda. Salah seorang di antara mereka mengeluarkan pistol hendak menembak Sjahrir dari jarak dua meter. Beruntung, pistolnya macet. Bersamaan dengan itu, muncul patroli tentara Inggris dan meringkus keempat orang Belanda tersebut. Pada 28 Desember 1945, pukul 15.00, sopir melaju menuju rumah Presiden Sukarno untuk menjemput Amir Sjarifuddin. Ketika lewat di muka Sekolah Guru Tinggi di Pegangsaan Timur, mobilnya berpapasan dengan truk penuh serdadu NICA. "Tak disangka, para serdadu itu menembak beberapa kali ke arah mobil. Kaca mobil belakang pecah dan beberapa peluru menempel di pintu kendaraan. Si sopir melajukan kencang mobil menuju rumah Sukarno, beruntung, Amir saat itu tak ada di dalamnya. Kejadian itu langsung dilaporkan kepada pihak tentara Inggris untuk menanganinya," tulis Kedaulatan Rakjat , 5 Januari 1946. Setelah tahun baru 1946, suasana Jakarta semakin kacau. Rakyat sipil banyak yang menjadi korban. Pada pagi 2 Januari 1946, Pasar Mede Jatinegara yang terletak di Jalan Kemuning nampak ramai. Pedagang dan pembeli riuh tawar-menawar barang. Keramaian ini sekejap berubah menjadi jeritan mengerikan. Truk berisi serdadu NICA melakukan tembakan ke arah pasar. Keonaran ini merembet ke Gang Ambon. Mereka membakar seratus rumah dan tiga orang meninggal. Kemudian di daerah Kemuning, 30 rumah juga dibakar, dan di Jalan Lokomotif, rumah-rumah penduduk berubah menjadi abu. Melihat suasana yang demikian, pada 3 Januari 1946, sidang kabinet yang dipimpin Sutan Sjahrir memutuskan untuk memindahkan kedudukan pemerintahan ke Yogyakarta. “Pemindahaan pemerintahan ini tidak menjadi sebab untuk merubah pendirian pemerintah Indonesia baik di dalam atau luar negeri. Pemindahan ini memiliki dua alasan yaitu pertama, keadaan yang tidak aman di Jakarta dan kedua, untuk menyempurnakan organisasi dalam negeri,” tulis Kedaulatan Rakjat, 5 Januari 1946. Pada tengah malam 4 Januari 1946, pemerintahan Republik Indonesia berpindah ke Yogyakarta. “Untuk meneruskan perjuangan, Yogya lebih baik daripada Jakarta di mana Belanda dengan pengayoman Sekutu, partner sehidup semati mereka dalam Perang Dunia II, lebih kuat,” tulis Mohammad Roem, "Apa yang akan terjadi dengan Republik jika tidak ada Hamengku Buwono IX," termuat dalam Tahta Untuk Rakyat .

  • Babi Guling Bali

    BABI guling atau be guling Bali tercatat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak 2011. Makanan khas Pulau Dewata ini dibuat dari babi muda. Perutnya yang sudah bersih dijejali base genep, yaitu bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, kunyit, cabai rawit, gula aren, garam, terasi, daun salam, dan sedikit asam. Perut babi dijahit agar bumbu tidak tumpah. Setelah itu, babi dipanggang sambil diputar-putar sampai matang: kulitnya kuning kemerahan dan kayu penusuknya longgar. Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680: Tanah di Bawah Angin, menyebutkan bahwa babi sudah sejak lama menjadi salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat Nusantara.

  • Timur Pane Si Bandit Pejuang

    Perjalan Hidup Timur Pane

  • Kamar Panas untuk Diponegoro

    PANGERAN Diponegoro bisa jadi merupakan musuh terbesar pemerintah kolonial Belanda di abad ke-19. Perang Jawa yang dilancarkannya bikin Belanda ketar-ketir. Perlawanan sang pangeran Jawa ini menyedot biaya besar dari kas perekonomian Belanda. Tidak aneh pihak Belanda mengupayakan apapun untuk mengakhiri perlawanan Diponegoro, termasuk lewat jebakan tipu muslihat. Tak banyak diketahui, sebelum diasingkan ke Sulawesi, Diponegoro sempat ditahan di Batavia. Diponegoro menempati kamar penahanan yang sempit di Stadhuis, Balai Kota Batavia yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta. Dia berada di sana antara 8 April sampai 3 Mei 1830 sambil menanti keputusan lanjutan atas nasib dirinya.

  • Marinir Belanda di Jawa Timur

    NAMA Satria Arta Kumbara menjadi pemberitaan belakangan ini. Desertir Korps Marinir TNI AL yang telah kehilangan kewarganegaraannya sejak menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia itu dikabarkan memohon-mohon untuk bisa pulang ke Indonesia. Satria sempat menjadi tentara bayaran di Rusia dan terlibat dalam konflik Rusia-Ukraina. Lain kisah Satria, lain pula kisah Willem Albert Johan Roelofsen. Nama yang disebut belakangan merupakan komandan Marinir Belanda di Indonesia pada saat Perang Kemerdekaan. Kala itu, Marinir Belanda berisi hanya bule-bule Belanda. Berbeda dari KNIL, di Marinir Belanda sulit menemukan orang-orang yang berasal dari suku-suku di Indonesia. Para anggota Marinir Belanda itu adalah relawan yang di antaranya sempat dilatih oleh Marinir Amerika Serikat di Amerika. Mulanya mereka dipersiapkan untuk melawan Jepang dalam Perang Pasifik, namun Perang Dunia II keburu berakhir.

  • Bintang Perang Surabaya

    Sabtu, 30 Oktober 2011, saya diundang Soemarsono, tokoh pemuda dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, untuk hadir dalam perayaan hari lahirnya yang ke-90 tahun. Pada usia yang sudah senja itu Soemarsono masih terlihat bugar, selalu tersenyum menerima tamu. Tamunya datang dari beragam kalangan, sebagian besar kawan-kawan semasa perjuangannya. Dalam kesempatan itu saya berjumpa dengan Utomo Darmadi, adik kandung Supriyadi, pemimpin pemberontakan di Blitar yang kemudian hilang tak tentu rimbanya.

bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
bg-gray.jpg
Semasa menjadi panglima di Kalimantan Barat, Musannif Ryacudu membuktikan loyalitasnya kepada Presiden Sukarno dengan membiayai sendiri operasi Ganyang Malaysia. Kariernya redup setelah peristiwa G30S 1965.
bottom of page