Hasil pencarian
9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Lucu di Tengah Liburan Bung Karno Bareng Pelukis
Tak lama setelah Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dibentuk pada 1943, pelukis Sudjojono dipanggil Bung Karno, satu dari Empat Serangkai yang menjadi pemimpin PUTERA. Sudjojono diminta Bung Karno membantunya di lembaga era pendudukan Jepang itu. “Mas Djon ditarik bekerja di PUTERA oleh Bung Karno, yang telah mengenalnya melalui karikatur-karikaturnya di harian Pikiran Rakyat,” kata Mia Bustam, istri Sudjojono, dalam memoar berjudul Sudjojono dan Aku . Di lembaga yang bertugas untuk menghimpun segenap potensi bangsa Indonesia guna mendukung kepentingan Perang Asia Timur Raya itu, Sudjojono ditempatkan di Bagian Kesenian. “Bagian Seni PUTERA diketuai oleh mantan anggota PERSAGI, Sudjojono, bersama Agus Djaja, Otto Djaja, Suromo, dan Kartono Yudhokusumo,” tulis M. Dwi Marianto dalam Surealisme Yogyakarta . Tugas Sudjojono, sebagaimana diminta Bung Karno, menarik para pelukis yang tidak tergabung ke dalam Keimin Bunka Shidoso (Badan Kebudayaan) masuk ke Bagian Kesenian di PUTERA. Salah satu pelukis yang ditariknya bergabung ke PUTERA adalah Affandi. Hubungan para pemimpin PUTERA dan anggota sangat cair. Terlebih Bung Karno, sangat karib dengan para anggota yang seniman. "Sejak tahun ’35-an Bung Karno sudah menjalin hubungan dengan seniman, khususnya dengan pelukis," tulis Iman Toto K. Rahardjo dalam Bung Karno, Bapakku, Guruku, Sahabatku, Pemimpinku: Kenangan 100 Tahun Bung Karno . Seingat Mia, Bung Karno kerap mengundang para pelukis ke rumahnya di Pegangsaan. Di masa pendudukan Jepang, ketika Bung Karno mendapatkan rumah peristirahatan di daerah Tugu, Puncak, Bogor, para pelukis kerap diundang berlibur ke sana. Vila bekas milik Profesor Reddingius itu dinamakannya Pesanggrahan Kiara Payung. Di tangan Bung Karno, vila itu diperindah dengan taman yang dirancang menurut selera seninya. “Alangkah indah taman bunga itu ditatanya. Selera Bung Karno memang sangat artistik. Di taman Bung Karno semua tumbuhan perdu dibiarkan tumbuh alamiah. Hanya jika perlu saja di sana-sini dipangkas, sekadar untuk pantas-pantas. Semuanya dicampur menjadi satu, tumbuh bersama. Anyelir, margrit, pensee, verbena, gerbera, aster . Semuanya dicampur, tapi juga tidak terkesan ngawur. Tinggi rendah tanaman masing-masing diperhatikan, demikian juga perpaduan warna-warninya dibuat serasi. Di taman ini mataku benar-benar berpesta,” kata Mia mengenang keindahan taman hasil rancangan Bung Karno itu. Ke vila itulah Bung Karno mengundang para pelukis berlibur di tahun 1944. Selain Sudjojono dan dirinya, seingat Mia, yang diundang Bung Karno antara lain Tjiroto, Ernest Dezentje, dan beberapa pelukis yang Mia lupa namanya. Selepas makan malam, di dekat perapian mereka dijamu Bung Karno musik kecapi yang penampilnya selalu ditanggap Bung Karno setiap kali beristirahat di sana. Setelah kroket yang dibuat Fatmawati dan Mia sebagai hidangan teman ngobrol disajikan, Dezentje pun mulai bercerita. “ Zus Fat meringkuk di dipan, mendengarkan Dezentje bercerita macam-macam. Ia memang pandai mendongeng,” kata Mia. Dezentje merupakan pelukis pengusung “Mooie Indie”. Ia, sebagaimana ditulis Aoh Kartahadimadja dalam Beberapa Paham Angkatan ’45 , pernah meraih medali emas dalam pameran di New York. “Ernest Dezentje lahir di Jatinegara, Jakarta pada 17 Agustus 1885 dari sebuah keluarga kaya. Ayahnya merupakan Belanda keturunan Prancis, ibunya seorang Indonesia keturunan Belanda. Dia baru mulai melukis di usia 30-an tahun,” tulis Agus Dermawan T dalam A Collector’s Journey: Modern Painting in Indonesia . Cerita Dezentje sukses membuat Fatmawati larut ke dalamnya. Bahkan, Fatmawati sampai meringkuk ke dalam selimut ketika mendengarkan cerita seramnya. Esok paginya, usai menikmati kopi pagi para tamu diajak Bung Karno ke Telaga Warna. Hanya Fatmawati dan Mia yang tidak diajak karena keduanya sedang hamil. Momen itu kemudian digunakan Fatmawati untuk menyiapkan sarapan. Ditemani Mia, Fatmawati membuat nasi goreng. Namun belum lagi proses memasak itu selesai, suara Bung Karno mengatakan “tamu-tamumu sudah lapar” terdengar dari dapur. Fatmawati pun menjawab agar menunggu sebentar. “Nasi gorengnya kurang asin,” kata Fatmawati yang langsung menaburkan garam ke dalam penggorengan. “Apa tidak perlu dihaluskan dulu, Zus ?” kata Mia yang bingung kepada Fatmawati. “Apa tidak bisa hancur sendiri?” kata Fatmawati balik bertanya. Begitu selesai, nasi goreng pun dihidangkan. Para tamu menikmatinya tanpa suara. Selain lapar di tengah hawa yang dingin itu, mereka lelah usai berjalan ke telaga. Namun tak berapa lama kemudian, suara Bung Karno memecah santap pagi yang tenang itu. “Waduh! Apa ini kok garam masih utuh?” kata Bung Karno.
- Akhiri Ganyang Malaysia Lewat Belakang
Waktu menjabat Konsul Jenderal RI di Singapura, Soegih Arto pernah mengantarkan seorang perempuan ke Jakarta. Nyonya Felice Leon Soh, perempuan paruh baya warga Singapura itu mengaku ingin bertemu Presiden Sukarno. Atas bantuan Menteri Luar Negeri Soebandrio, pertemuan itupun dapat terjalin. Nyonya Felice Leon Soh mengenakan baju Malaya berwarna merah menyolok. Pembicaraan dengan Bung Karno berlangsung selama setengah jam. “Bagi Nyonya Felice pertemuan dengan Bung Karno merupakan pengalaman yang tidak akan dapat dilupakan selama hayat dikandung badan,” kenang Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto. Si nyonya rupanya terkagum-kagum dengan pesona Sukarno. " What a great man and he is so charming ," kata Leon Soh kepada Soegih Arto. Kesan senada sayangnya tidak berlaku bagi Bung Karno. Ketika Soegih Arto hendak pamit, Bung Karno bercanda dalam bahasa Jawa, “ Mbok nek gawa wong ki sing enom tur ayu (kalau membawa seseorang, bawalah yang muda dan cantik).” Kendati demikian, Sukarno puas juga dengan pertemuan itu. Dia memerintahkan Soegih Arto untuk selalu berhubungan dengan Nyonya Felice Leon Soh. Felice Leon Soh adalah wanita pebisnis warga negara Singapura sekaligus politisi yang berasal dari Singapore Partij. Kelak, pada 1964, ketika konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia memanas, Nyonya Felice Leon Soh inilah yang berperan menjadi perantara untuk misi Soegih Arto. Misi rahasia tersebut merupakan perintah Sukarno untuk menghentikan konfrontasi lewat jalur belakang. Sukarno secara senyap mengutus Soegih Arto berunding dengan Kementerian Luar Negeri Kerajaan Inggris. Menembus Pihak Inggris Dengan bekal sangu sebesar US$350, Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris, Prancis. Di Paris, Ny. Leon Soh telah menanti. Kepadanyalah segala keperluan Soegih Arto akan diurus, termasuk soal saluran diplomatik. Setibanya di London, tutur Soegih Arto, yang ada hanya seorang Kuasa Usaha. Orang ini pernah bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Indonesia. Soegih Arto meminta kepadanya dibuatkan teks bahasa Inggris yang akan digunakan sebagai bahan perundingan. Pertemuan itu telah diatur sedemikian rupa oleh Ny. Leon Soh sehingga Soegih Arto tidak perlu buang waktu lebih banyak. Soegih Arto kemudian dipertemukan dengan seseorang bernama Mr. Silver (entah nama sebenarnya atau nama samaran) di salah satu restoran pilihan Ny. Leon Soh. Kejutan terjadi ketika Mr. Silver menertawakan niatan Soegih Arto. Dia mengatakan bahwa Indonesia sudah kelabakan sampai harus meminta-minta Inggris menyelesaikan konfrontasi. Kendati demikian, Mr. Silver berjanji untuk menyampaikan masalah itu kepada atasannya dan akan memberikan jawaban secepatnya. Sekira 2-3 hari Soegi Arto menanti. Jawaban dari pihak Inggris maupun Mr. Silver tidak kunjung datang. Lantaran kesal, Soegih Arto kembali ke Indonesia. Ini berarti bahwa Inggris telah menolak gagasan Sukarno. Menanggapi misi Soegih Arto tersebut, menurut peneliti politik UGM Hidayat Mukmin, kemungkinan pihak Inggris punya banyak pertimbangan. Bisa jadi Inggris menilai pemerintah Indonesia tidak sungguh-sungguh dengan gagasan penyelesaian konfrontasi. Lobi ini ditafsirkan pula sebagai tanda kapitulasi Indonesia menyerah kalah mengganyang Malaysia. “Atau Inggris justru ingin memberikan ‘pelajaran’ kepada Indonesia,” tulis Hidayat Mukmin dalam disertasinya yang dibukukan TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia . Melacak Jejak Sejarah Versi lebih gamblang mengenai misi Soegih Arto diteliti oleh sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti dalam disertasinya. Menurut Linda, dalam dokumen Kementerian Luar Negeri Inggris ( Foreign Office ) terdapat beberapa keterangan tentang seorang utusan Sukarno yang datang untuk melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan mengakhiri konfrontasi. Dalam penelitian Linda terlihat Ny. Leon Soh berperan lebih jauh sebagai penghubung antara Indonesia dan Inggris. Pada 14 Oktober 1964, Leon Soh menghubungi Sir N. Pritchard dari Kementerian Luar Negeri Inggris. Leon Soh menjelaskan bahwa Indonesia masih berminat menyelesaikan konfrontasi melalui perundingan. Leon Soh kemudian meneruskan pesan Sukarno yang disampaikan kepada Soegih Arto. Sekiranya Inggris membantu Indonesia menyelesaikan konfliknya dengan Indonesia, Sukarno berjanji akan mengembalikan semua aset Inggris yang dinasionalisasi, termasuk ganti rugi. Leon Soh mengemukakan dua alternatif untuk mengakhiri konfrontasi. Pertama, mengadakan pemungutan suara di Sabah dan Serawak, setelah itu Sukarno akan menerima putusan referendum tersebut. Alternatif selanjutnya adalah dengan mengadakan pertemuan puncak antara pimpinan Indonesia, Malaysia, dan Inggris, setelahnya kantor konsulat akan dibuka di masing-masing negara. Sejajar dengan itu, Indonesia akan menarik mundur tentaranya dan mengakhiri konfrontasi. Bagaimana reaksi pihak Inggris? Dalam catatan arsip Inggris yang dikutip Linda, Pritchard menegaskan bahwa posisinya hanya mendengarkan. Selanjutnya, dia akan melaporkan kepada pemerintahnya dan bila diperlukan akan meminta pertimbangan Malaysia. Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris memberitahukan adanya pertemuan antara Leon Soh dan Pritchard kepada Wakil Komisaris Tinggi Malaysia di London. Namun, perdebatan alot justru terjadi di Kementerian Luar Negeri Inggris. Felice Leon Soh. Sumber: Singapore Press Holdings. “Kementrian Luar Negeri Inggris ternyata tidak begitu terkesan dengan penampilan Leon Soh, bahkan menilainya sebagai tipikal oportunis,” ungkap Linda dalam disertasinya “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Sementara itu tawaran Sukarno mengembalikan aset Inggris dinilai sebagai sebuah tawaran yang naif. Mengenai rencana pertemuan puncak, pihak Inggris menanggapinya sebagai alat untuk membuktikan tuduhan Sukarno bahwa Malaysia adalah boneka Inggris. Apalagi Kementerian Luar Negeri Inggris menerima masukan dari Andrew Gilchrist, duta besar Inggris di Jakarta yang tidak begitu yakin akan ketulusan Sukarno. Pada intinya, pihak Inggris meragukan niat baik pemerintah Indonesia. Perbincangan inilah yang menyebabkan Soegih Arto menanti jawaban yang tidak kunjung datang. Dalam otobiografinya, Soegih Arto mengakui misinya menuai kegagalan. Malahan dirinya merasa dipermalukan dengan sikap orang Inggris itu. “Usaha saya gagal seperti itu juga kegagalan yang saya alami dalam usaha membeli Irian Barat,” kata Soegih Arto. Pernyataan Soegih Arto, kata Linda, memang diperkuat dengan dokumen-dokumen milik Inggris yang menyatakan adanya utusan Sukarno yang bernama Soegih Arto dan Leon Soh. Menurut Hidayat Mukmin, kesediaan Sukarno untuk berunding dengan Inggris tidak perlu ditafisrkan sebagai kelemahan. Sebagai ahli politik kawakan, Sukarno sejatinya telah melepaskan balon percobaan. Dengan mengutus Soegih Arto ke London, Sukarno dapat mengetahui siapa sebenarnya yang menjadi penentu dalam Federasi Malaysia. Selain itu, Sukarno ingin menjajaki sejauh mana Inggris bersedia berkompromi. “Apabila rakyat memang menginginkan rujuk dengan menyelesaikan konfrontasi secara cepat, Sukarno pun telah siap sedia,” ungkap Hidayat. Di balik seruan garang “ganyang Malaysia”, Sukarno sejatinya ingin menyelesaikan konfrontasi secara terhormat tanpa kehilangan muka. Namun, karena pihak Inggris belum menanggapinya dengan serius, Sukarno mengerahkan saluran-saluran diplomatik non formal yang lain. Sementara itu, tentara yang dipimpin Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani pun mempersiapkan operasi khusus intelijen untuk kepentingan yang sama. Salah satunya adalah misi rahasia Jenderal S. Parman. (Bersambung)
- Mata Uang Emas di Nusantara
Transaksi jual beli menggunakan koin emas di Depok, Jawa Barat, berbuntut panjang. Polisi menahan Zaim Saidi, pendiri pasar Muamalah. Menurut polisi, Zaim terkena dua pasal pidana: Pasal 9 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Transaksi jual beli memakai uang emas telah lama jarang terjadi di Indonesia. Kalaupun ada, aktivitasnya terbatas pada kelompok kecil masyarakat. Tapi secara historis, transaksi jual beli dengan uang emas pernah marak semasa kerajaan Hindu-Buddha dan kesultanan Islam pada abad 8-17 M. Penggunaan emas sebagai alat pembayaran paling jamak berlangsung di wilayah Sumatra. Sebab, di sini banyak tambang emas. “Sumber Arab paling kuno yang berkaitan dengan Asia Tenggara, Akhbar al-Sin wa-l-Hind (851 M) mencatat bahwa tambang-tambang emas ditemukan di wilayah tersebut,” ungkap Claude Guillot dkk. dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu. Baca juga: Merentang Sejarah Uang Saking banyaknya tambang emas, Sumatra disebut Suvarnadipa atau Suvarnabhumi. Tome Pires, pelaut Portugis yang hidup pada abad ke-15, menguatkan sebutan itu. “Dalam pengembaraannya di Sumatra, Tome Pires, sepertinya melihat emas di mana-mana di pulau ini,” lanjut Guillot. Pires menjelaskan dalam bukunya, Suma Oriental , emas tersua di barat Sumatra, Kerajaan Pirada, Aru, Arcat, Rokan, Purim, Siak, Jambi, Minangkabau, Palembang, Panah Malaio, Sekampung, dan Tulang Bawang. Di semua wilayah itu, emas berfungsi sebagai perhiasan keluarga kerajaan dan alat pembayaran. Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi depan. Ketiganya bermotif bunga Cendana seperti motif mata uang perak di Jawa. (Repro Barus Seribu Tahun yang Lalu) Uang emas berbentuk lingkaran dengan ukuran dan motif ukiran yang beragam. Tergantung dari mana dan kapan uang emas itu berasal. Misalnya di Barus, uang emasnya terdiri atas empat ukuran berbeda: kecil, sedang, besar, dan besar sekali. Selain itu, ada pengaruh Jawa yang kuat dalam mata uang emas Barus. “Mata uang emas dari Barus memakai jenis bunga cendana yang ada pada mata uang perak di Jawa,” catat Guillot. Baca juga: Emas Kegemaran Bangsawan Jawa Pengaruh ini kemungkinan berpangkal dari hubungan dagang Barus (masa Lobu Tua) dan Jawa antara pertengahan abad ke-9 dan akhir abad ke-11. Sementara itu di Samudra Pasai, uang emasnya menggunakan huruf Arab. Tak ada keterangan angka tahun keluar, tetapi tampak nama sultan yang tengah berkuasa ketika uang emas itu dikeluarkan. “Bentuknya kecil dengan garis tengah kira-kira 10 mm,” tulis Ninie Soesanti Yulianto dan Irmawati M. Johan dalam Mata Uang Kuna di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sejarah Ekonomi Abad 9–17 Masehi. Nama mata uangnya drama . Meski berbeda ragam ukiran dan ukuran, mata uang emas di Sumatra berasal dari dua tambang emas besar: Lebong dan Minangkabau. Dua daerah ini sohor sebagai penyuplai emas ke berbagai wilayah Sumatra dan luar Sumatra, termasuk ke Jawa. Kualitas emas di sini lebih baik daripada emas di wilayah lain. Baca juga: Uang Aceh Tak Pernah Lemah Ekspor emas ke Jawa ini untuk memenuhi kebutuhan emas yang tinggi di Jawa. Uang emas memang banyak beredar di Sumatra, tetapi Jawa lebih dulu menggunakan uang emas untuk alat pembayaran dagang dan denda pada masa Mataram Kuno abad ke-8 M. “Semua pelanggaran hukum dikenai denda dalam bentuk mata uang emas yang besarnya disesuaikan dengan berat ringannya tindak pidana yang dilakukan,” ungkap Irmawati Marwoto dalam Peranan Mata Uang di Beberapa Wilayah Indonesia pada Sekitar Abad ke-13–17 M. Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi belakang. Nomor 1 dan 2 bermotif aksara tulisan dewanagari, sedangkan nomor 3 agak kabur.. (Repro Barus Seribu Tahun yang Lalu) Yang unik, para pekerja tambang emas di Sumatra dipelopori oleh orang-orang India. “Orang dari India Selatan –kita sudah mengetahui bahwa masyarakat yang berasal dari India Selatan tinggal di Lobu Tua– telah lama menguasai teknik-teknik pertambangan di wilayah mereka sendiri,” catat Guillot. Baca juga: Uang Kuno bukan Sembarang Uan Untuk memperoleh emas, para pekerja tambang harus bekerja keras. “Kerja menambang emas sangat melelahkan, sangat berbahaya, dan banyak dilanda penyakit,” terang Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680. Setelah memperoleh emas, tukang cor mencetaknya dengan cetakan dari terakota. Ini untuk uang emas yang beredar di Barus. Sedangkan untuk wilayah lain, emas dikirim tanpa dicetak. Dengan demikian, orang India menjadi mata rantai tak terpisahkan dalam suplai bahan uang emas di wilayah Sumatra dan Jawa. Meski penggunaan uang emas marak di Sumatra dan Jawa, penggunaannya di pasar untuk kebutuhan sehari-hari sangat sedikit. “Koin emas dan perak terlalu tinggi untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di pasar,” tulis Erwien Kusuma dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Penggunaan uang emas lazimnya untuk pembayaran barang dan denda dalam jumlah besar, pajak tanah, hadiah, dan ritual dalam kuil. Tak jarang pula uang emas menjadi jimat berkekuatan magis. Seiring tumbuhnya perdagangan rempah dan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara pada abad ke-17, penggunaan uang emas semakin terbatas pada beberapa kesultanan dan transaksi. Orang lebih banyak menggunakan uang picis atau uang koin Tiongkok. Baca juga: Pulau Emas di Barat Nusantara
- Ketika Pelukis Sudjojono Angkat Senjata
DARI tempat pengungsiannya di Desa Bogem, Prambanan, Yogyakarta, Sudjojono berkunjung ke kota Yogyakarta sekira tanggal 16 atau 17 Desember 1948. Kepergian “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia” ke ibukota republik itu adalah untuk membicarakan persiapan pameran tunggalnya. “Sebanyak 45 buah lukisan akan dipamerkan seluruhnya. Sebagian dari zaman PERSAGI, sebagian dari zaman Jepang, sebagian dari Biro Perjuangan, dan sebuah dua yang dibuatnya di Bogem,” ujar Mia Bustam, istri Sudjojono, dalam memoar berjudul Aku dan Sudjojono . Namun, pameran tersebut batal dilaksanakan karena pada 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Kedua dan menduduki Yogyakarta. Lukisan-lukisan Sudjojono yang bakal dipamerkan sendiri musnah ketika disembunyikan. “Lukisan itu disimpan, kemudian ditemukan dan dihancurkan oleh tentara-tentara Belanda, ditembak-tembak,” kata Dosen FSRD ITB Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah di Historia bertajuk “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya, 21 Juli 2020. Sudjojono baru berhasil berkumpul kembali dengan keluarganya pada 20 Desember. Mereka lalu mengungsi ke Desa Kragan di utara Bogem malam itu juga. Di sana mereka ditampung Dirjo Pawiro yang menjabat sebagai Kamitua desa. Di rumah itu pula kemudian bermarkas sepasukan Tentara Pelajar (TP). Di utara Kragan, terdapat markas Militaire Academie (MA) atau Akademi Militer Yogyakarta (AMY). Pada suatu malam, para kadet MA bergabung dengan para prajurit TP merencanakan penyergapan markas Belanda di Bogem. Mengetahui rencana itu, Sudjojono ikut bergabung. “Mas Djon ikut bersama mereka, membawa sepucuk karaben pasukan MA yang tersisa. Ia pamit padaku, muncul dengan berikat kepala. Aku tertawa geli melihatnya. Ia lebih mirip penari ngremo, yang tampil membuka lakon di panggung ludruk, ketimbang seorang gerilyaawan yang siap bertempur,” kenang Mia. Sudjojono bukan satu-satunya seniman yang ikut angkat senjata. Dalam Perang Kemerdekaan, banyak seniman yang ikut angkat senjata. Meski tak semua bertempur, mereka berjuang dengan beragam cara, seperti menjadi telik sandi, pendukung kerja teknis, atau penghibur. Selain Sudjojono, seniman-seniman di Yogya yang ikut angkat senjata antara lain pelukis Haryadi dan pelukis Supono. “Supono harus mondar-mandir dari desa ke kota atau sebaliknya. Dalam mondar-mandir dari desa ke kota atau sebaliknya itu, dia melukis bersama Moh. Affandi sebuah jembatan yang sering mereka lalui telah hancur karena diledakkan sendiri oleh pasukan gerilya,” tulis Tashadi dalam Partisipasi Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan Daerah Istimewa Yogyakarta . Setelah berpesan kepada bapaknya, Sindudharmo, agar menjaga anak-istrinya, Sudjojono pun berangkat. Di tengah perjalanan, Sudjojono baru mengetahui bahwa Pak Sindu ternyata ikut serta dalam penyergapan itu dengan berbekal golok dan granat gombyok –granat buatan sendiri berupa bahan peledak yang dimasukkan ke dalam bumbung dan diujungnya diikatkan seutas tali. Sudjojono jelas tak bisa melarangnya apalagi marah. Sudjojono tahu bapaknya memendam kesumat terhadap Belanda sejak masih menjadi kuli kontrak di sebuah perkebunan di Sumatera Utara. Perlawanan dilakukan para gerilyawan dengan cara hit and run . Saat malam, mereka menyerang dan ketika siang mereka menghilang. “Serangan terbatas secara sporadis dilakukan oleh gerilyawan di sekitar kota Yogya, penghadangan konvoi Belanda di jalan raya dan penyergapan pos Belanda yang terpencil,” tulis buku berjudul Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta: Latar Belakang dan Pengaruhnya . Akibatnya, Belanda kerepotan dan mengamuk. Desa-desa di sekitar wilayah penyerangan biasanya langsung “dibersihkan”. Sasaran yang dipilih pasukan Belanda seringkali asal. Penduduk acap menjadi korban. Terlebih bila yang melakukan serangan adalah pesawat “cocor merah” Mustang. Pos PMI di Sleman Timur bahkan tak luput jadi sasaran serangan itu. “Selama Januari dan Pebruari 1949 musuh aktif melancarkan penyerbuan dan pembersihan di bagian-bagian selatan, mulai dari Yogya dan Maguwo –Prambanan sampai ke onderdistrik-onderdistrik Bantul yang terselatan,” tulis AH Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Perang Gerilya Semesta II . Suatu kali, Gufron Dwipayana –kelak menjadi brigadir jenderal dan memimpin Perusahaan Produksi Film Negara– dari TP kembali ke desa dengan sedih. Sebelas kawannya gugur dimangsa pesawat Belanda, katanya. “Di tengah sawah itu terjadi. Aku sendiri selamat, tapi tak bisa apa-apa, karena aku membenamkan diri di lumpur,” kata Dwipayana, dikutip Mia yang ikut menangani dapur umum di Kragan. Kendati begitu, para pejuang Indonesia tidak pernah menyerah. Meski serangan dari kedua belah pihak sempat mereda pada Februari-Maret, pertempuran kembali sengit pada April. Belanda kembali “kalap”, terlebih setelah kota Yogya diserang dalam Serangan Umum. Pada 11 April 1949. Sleman Timur, termasuk Kragan di dalamnya, dibombardir dari segala penjuru. Sudjojono segera pulang untuk menyelamatkan sketsa-sketsanya dan dokumen-dokumen penting miliknya. Setelah selesai menyelamatkan barang-barang berharganya, dia kembali kabur bersama Gulam Mohamad, desertiran pasukan Sekutu-Inggris, dan Pak Sindu. Mereka pulang pada petang hari. Mia bersama ketiga anaknya mengantar sampai ke perbatasan desa. Mereka lalu kembali pergi. Sudjojono membawa sketsa-sketsanya, Pak Sindu membawa dokumennya, dan Gulam membawa buntalan yang isinya hanya dia yang tahu. Mereka berlarian di bawah hujan tembakan lawan. Di jalan yang agak menanjak dan terbuka, Gulam masuk ke parit di tepi kanan jalan sementara Sudjojono dan Pak Sindu terus berlari. Dalam pelarian itu, tiba-tiba Sudjojono mendengar bapaknya berkata tertembak dan kemudian menutup matanya dan roboh. Tubuh Pak Sindu langsung dibalikkannya. Meski tak banyak mengeluarkan darah, dada Pak Sindu mengeluarkan suara aneh. Sudjojono langsung mencium sang bapak sambil berbisik lirih, “Pak, Bapak masih mendengar aku?” Pertanyaannya hanya berjawab anggukan lemah. Melihat kondisi kritis bapaknya, Sudjojono segera mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibawa Pak Sindu dan menciumnya. “Pak, Bapak terpaksa kutinggal di sini. Sket-sket dan dokumen ini harus aku selamatkan. Kalau Bapak haus, di kanan jalan ada parit. Airnya bening. Bapak bisa minum,” kata Sudjojono sebagaimana dikisahkan Mia. Lagi-lagi kalimat Sudjojono hanya berbalas anggukan lemah. Kondisi Pak Sindu kian kritis. “Pak, umpama Bapak mati, bukan mati konyol. Bapak mati berjuang melawan Belanda. Menyelamatkan dokumen juga perjuangan, Pak. Sudah, Pak. Selamat, Pak. Aku terpaksa dan harus cepat-cepat pergi,” Sudjojono melanjutkan percakapan. Setelah mencium kembali sang bapak, Sudjojono langsung berlari sambil sesekali tiarap menghindari peluru Belanda. Semak-semak di tepi jalan kerap dia jadikan sebagai tempat perlindungan dalam pelarian itu. Ketika sudah aman, Sudjojono kembali ke tempat ayahnya tertembak. Namun, dia tak mendapatkan yang dicarinya. Seseorang yang ada di sana lalu mendekati Sudjojono. “Pak Djon mencari Pak Sindu? Sudah dibawa ke Jolanan. Orang menemukan Pak Sindu telungkup di pinggir parit,” kata orang itu. Menjelang senja, Sudjojono tiba di rumah. Dengan sedih dia memberitahu istrinya. “Bapak telah gugur, Jeng. Kena tembak,” katanya pada sang istri Mia. “Aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ingatanku kembali pada beberapa hari lalu, ketika bapak kuantar dengan pandang mataku di batas desa. Bapak sangat mengasihi aku. Kuikuti dengan mata langkah-langkah bapak yang agak terbungkuk-bungkuk. Di tikungan jalan, Bapak dan Minah berhenti, sebentar menoleh sambil melambaikan tangan. Aku sama sekali tidak menangkap firasat, ketika itulah saat pertemuan kami terakhir dengan bapak,” kenang Mia.*
- Soe Hok Gie, Politik, Gunung dan Puisi
SELEMBAR “surat kaleng” sampai di rumah Soe Hok Gie senja itu. Isinya: permintaan agar aktivis mahasiswa UI tersebut berhenti melakukan kritik kepada pemerintah. Jika tak menuruti perintah tersebut, sang pengirim surat menjamin Hok Gie akan mati sia-sia. Mungkin itu akan terjadi di jalanan atau saat dirinya sedang lengah, ancamnya. “Cina yang tak tahu diri, lebih baik kau pulang saja ke negerimu saja!” demikian salah satu bunyi ancaman tersebut. Kepada sang kakak Soe Hok Djin alias Arief Budiman, Hok Gie menyatakan tak takut sedikitpun terhadap ancaman itu. Yang menjadi masalah justru dia tak jarang mengalami kebuntuan. Kendati hampir tiap waktu dia melancarkan kritik keras kepada pemerintah Orde Baru atau menelanjangi kecurangan-kecurangan yang ada di lingkungannya (UI), namun semua yang dilakukannya itu tak pernah digubris secara serius. “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir , apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya melakukan kritik kepada banyak orang yang menurut saya tidak benar. Makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik saya tak pernah mengubah keadaan…Apakah ini bukan sejenis onani yang konyol? Kadang-kadang saya sungguh merasa kesepian,” ungkap Hok Gie seperti ditulis Arief Budiman dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demosntran. Biasanya jika kebuntuan melanda, Hok Gie memilih untuk “kabur” ke gunung. Menurut sahabatnya Rudy Badil, wilayah terdekat yang kerap didatanginya adalah Mandalawangi, suatu lembah yang terletak antara Gunung Pangrango dengan Gunung Gede. Di sana pemandangannya memang sangat indah. “Dia tidak sendiri. Biasanya ngajak gue atau kawan-kawan lainnya sesama anggota MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam UI),” ujar lelaki tua yang mangkat pada 11 Juli 2019 itu. Soe Hok Gie dan gunung memang sulit dipisahkan. Sejak mendirikan MAPALA bersama kawan-kawannya di Fakultas Sastra UI pada 12 Desember 1964, Hok Gie terbilang sering mengorganisasi kegiatan pendakian ke berbagai gunung tinggi di Pulau Jawa. Selain Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Gunung Salak, Hok Gie pun tercatat pernah singgah di puncak Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Slamet dan Gunung Semeru. Puncak Gunung Semeru malah menjadi tempat terakhir Hok Gie menghembuskan napasnya. “Ya kalau di tahun 1960-an, pernah menaiki puncak gunung-gunung itu sudah bisa dikatakan prestasi yang hebat,” ungkap almarhum Rudy Badil dalam suatu wawancara dengan saya empat tahun yang lalu. Secara pribadi, Hok Gie sendiri memandang kegiatan naik gunung merupakan kegiatan yang “ideologis”. Hal itu dikatakannya saat dia menulis sebuah artikel berseri di surat kabar Kompas pada 14-18 September 1967 berjudul “Menaklukan Gunung Slamet”. Diceritakan Hok Gie, setiap meminta sumbangan kepada para donatur pendakian tersebut, mereka selalu menjelaskan apa yang menjadi tujuan sebenarnya dari kegiatan mereka mendaki gunung: “Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat…Karena itulah kami naik gunung.” Dalam artikel itu diceritakan soal perkenalan Hok Gie dan kawan-kawannya dengan seorang pemuda desa di kaki Gunung Slamet. Dalam obrolan akrab mereka, sang pemuda menanyakan tentang Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan situasi politik di Jakarta. Maka terjadilah diskusi yang menarik di antara anak-anak muda itu. Hok Gie memberikan penjelasan apa adanya. Dia menyatakan tanpa ragu bahwa Sukarno telah banyak menyengsarakan rakyat. Tetapi kata Hok Gie, itu tidak berarti bahwa para penentang Sukarno seperti sebagian aktivis KAMI, secara otomatis adalah pahlawan pembela rakyat. “Banyak di antara mereka juga adalah bajingan-bajingan dan oportunis,” ujar Soe Hok Gie. Saat mencapai puncak Gunung Slamet, Hok Gie dan kawan-kawan menemukan pemandangan yang sangat memukau: kawah yang mengepulkan asap belerang kuning kehijau-hijauan dan pasir-pasir vulkanik yang menghampar. Di pasir itu pula mereka menemukan batu-batu yang berjajar rapi dan membentuk nama-nama organisasi serta pribadi yang pernah mencapai tempat tersebut. Mereka pun melihat di antara tulisan-tulisan itu ada suatu deretan batu yang membentuk kalimat “Aku Pendukung Sukarno”. Merasa geram, beberapa kawan Hok Gie bermaksud untuk menghapusnya. Namun upaya itu dicegah oleh Hok Gie sendiri. “Saya katakan bahwa kita harus menghormati the right of dissent . Dan setiap orang berhak untuk setuju ataupun tidak setuju dengan Sukarno,” ujar Hok Gie. Gunung pun menjadi tempat perenungan pribadi bagi Soe Hok Gie. Tak jarang perenungan-perenungan itu diejawantahkannya dalam berbait-bait puisi. Salah satu puisi hasil perenungannya yang begitu romantik berjudul Mandalawangi-Pangrango yang dia tulis pada 19 Juli 1966, ketika demonstrasi-demonstrasi mahasiswa menentang Presiden Sukarno sedang marak-maraknya di Indonesia. Senja ini... Ketika matahari turun Ke dalam jurang-jurangmu Aku datang kembali Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu Dan dalam dinginmu Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan Dan aku terima kau dalam keberadaanmu Seperti kau terima daku Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada Hutanmu adalah misteri segala Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta Malam itu ketika dingin dan kebisuan Menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua “hidup adalah soal keberanian, Menghadapi yang tanda tanya Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar Terimalah, dan hadapilah” Dan antara ransel-ransel kosong Dan api unggun yang membara Aku terima itu semua Melampaui batas-batas hutanmu Aku cinta padamu Pangrango Karena aku cinta pada keberanian hidup Hari-hari terakhir menjelang kematiannya di atas Puncak Semeru, Hok Gie pun terbilang sangat aktif membicarakan sejarah kaum tertindas kepada kawan-kawannya. Rudy Badil masih ingat bagaimana pada suatu malam secara tiba-tiba, Hok Gie melengkingkan suara fales-nya saat mereka duduk berkerumun di depan api ungun. Dia melantunkan lagu We Shall Not Be Moved -nya The Seekers. “ Lu tau gak , lagu ini dinyanyikan oleh para demonstran penentang Perang Vietnam di Columbia University pada 1968,” tuturnya setelah usai menyanyikan lagu tersebut. Bisa jadi kegembiraan Hok Gie menjelang kematiannya merupakan ekspresi terbuka dari kejenuhannya selama dia menjadi dosen di Fakultas Sastra UI. Selepas lulus dari Jurusan Sejarah FSUI, rutinitas mengajar dan rapat antar dosen adalah kesehariannya dan itu membuatnya merasa “seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang”. “Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras…Diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil,” katanya dalam satu catatan hariannya yang dinukil oleh Luki Bekti dalam buku Soe Hok Gie…Sekali Lagi. Hok Gie pada akhirnya mendapatkan semua itu. Di Puncak Semeru, setelah dia memungut sehelai daun pinus kering untuk dibawanya pulang ke Jakarta, maut pun mengajaknya pergi. Seolah menggenapi kata-katanya dalam suatu surat panjang kepada seorang sahabatnya: “Orang-orang seperti kita ini, tidak pantas mati di tempat tidur.”*
- Operasi Agen CIA Pertama di Indonesia
GEORGE McT. Kahin berada di Yogyakarta ketika Belanda melancarkan agresi militer untuk menduduki kembali Indonesia. Dia sedang melakukan penelitian untuk disertasinya di Johns Hopkins University, Amerika Serikat. Kahin melihat lambang Amerika Serikat pada beberapa pesawat terbang, mobil lapis baja, dan truk-truk pasukan Belanda ketika menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948. “Seorang mayor Belanda ketika ditanya segera menjawab bahwa dia memakai seragam perang yang bertuliskan U.S. Marines karena merasa bangga pernah dilatih di kamp U.S. Marines di Quantico, Virginia,” kata Kahin dalam bukunya, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia .
- Nasib Tragis Anak Emas Jenderal Nasution
Nama Abdul Haris Nasution lekat dengan predikat percobaan setengah kudeta. Saat masih berpangkat kolonel, dia menjadi dalang pengerahan moncong meriam ke Istana Merdeka guna mendesak pembubaran parlemen. Akibatnya, kedudukan Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dicopot atas perintah langsung Presiden Sukarno. Setelah peristiwa 17 Oktober 1952 itu, Nas – akrab disebut – dinonaktifkan dari dinas kemiliteran. Nas kemudian membentuk organisasi Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Aktivitas Nas pun berganti dari seorang petinggi TNI menjadi orang sipil. Nas turut turun ke tengah masyarakat berkampanye mengikut sertakan IPKI dalam Pemilu 1955. Ketika menggalang dukungan sejawatnya dari militer, tidak semua pihak mau menerima Nas. Banyak perwira yang anti padanya. Atau setidaknya, mereka enggan berhubungan dengan Nas yang telah dipecat oleh pemerintah. Nas sendiri tidak mengatahui siapa yang menjadi kawan atau lawannya. “Lebih jelas lagi, apakah kawan masih kawan, karena perjuangan antar partailah yang membuat demarkasi baru antara kawan dan lawan. Sungguh menyedihkan!” tutur Nas dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 3: Masa Pancaroba Pertama . Nas merasa terasing ditengah lingkungan yang sangat dia kenal. Tapi perasaan itu sirna ketika Nas berkunjung ke Medan untuk kampanye. Seorang perwira menengah bernama Mayor Boyke Nainggolan menarik simpati Nas. Komandan Batalion 131 kota Medan itu mengundang Nas untuk berceramah tentang perjuangan di depan batalyonnya. Saat Nas memberikan ceramah, Batalyon 131 mengenakan seragam tempur karena sedang latihan. Seperti teringat memori silam ketika menjadi Panglima Siliwangi, Nas merasa terhormat. “Dan komandan batalion (Boyke Nainggolan) memberikan perhatian, agar para prajurit menghayati uraian saya tentang perjuangan. Begitulah kampanye yang sibuk tapi banyak mengandung pelajaran bagi saya,” kenang Nas. Perwira Kesayangan Ketika Nas diangkat kembali untuk memimpin Angkatan Darat, hubungannya dengan Boyke Nainggolan semakin erat. Boyke boleh dikatakan menjadi perwira kepercayaan Nasution di Medan. Sebagai atasan dan bawahan, keduanya kerap bertukar informasi . Seperti dituturkan Nas dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua, Boyke pernah melaporkan adanya oknum perwira Teritorium I/Bukit Barisan yang korup dan terlibat penyelundupan di Teluk Nibung tahun 1956. Mereka antara lain, Mayor Junus Samosir dan Mayor Ramli dari bagian intendans (perbekalan). Boyke Nainggolan bahkan sampai melakukan penahanan terhadap kedua perwira itu. Nasution pun turun tangan dengan memutasi Mayor Samosir ke Tapanuli. Indikasi Boyke sebagai perwira kesayangan Nasution kiranya tersua dalam Memoar Ventje H.N. Sumual. Masih pada tahun 1956, berlangsung seleksi perwira-perwira menengah yang akan ditugaskan mengikuti pendidikan staf dan komando di Command and Staff College Fort Leavenworth di Kansas, Amerika Serikat. Dari 50 perwira yang tersaring hanya 1 orang yang akan terpilih untuk berangkat. Menurut Ventje Sumual, reputasi Boyke sebagai perwira cerdas dan brilian memang telah diakui oleh pimpinan Angkatan Darat. Maka perwira Batak inilah yang digadang-gadang memenangkan seleksi. Ternyata, Boyke Nainggolan hanya menempati peringkat kedua sedangkan peringkat pertama diraih oleh Ventje Sumual. “Setelah melihat hasil ujian di mana Boyke Nainggolan tidak terpilih, MBAD menganggap itu adalah sesuatu yang sangat disayangkan, sayang kalau perwira secerdas Boyke tidak dikembangkan optimal,” kata Ventje. Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) kemudian mengajukan permohonan ke Fort Leavenworth agar menambah jatah untuk Indonesia. Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Jakarta turut dibujuk agar memperjuangan tawaran ini kepada pemerintahnya. Akhirnya diputuskan Ventje Sumual dan Boyke Nainggolan yang diutus belajar ke AS. Namun ditengah jalan, Ventje Sumual diangkat menjadi Panglima Teritorium VII/Wirabuana yang membawahkan wilayah operasi Indonesia Timur. Untuk menggantikan Sumual dipilihlah Achmad Tirtosudiro yang semula menempati pada peringkat tiga. Jadilah Boyke dan Achmad Tirtosudiro yang berangkat ke Amerika. Kebijakan ini tentu terjadi atas sepengetahuan dan restu Nasution selaku pimpinan tertinggi di MBAD. Menangkap Boyke Nainggolan Setelah menyelesaikan tugas pendidikan di Amerika, Boyke diangkat menjadi wakil kepala staf Teritorium I/Bukit Barisan. Belum lama menjabat, Nainggolan sudah bikin gebrakan. Terprovokasi sejumlah seniornya, Boyke memutuskan untuk memihak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada 15 Maret 1958, Mayor Boyke mengerahkan pasukannya dari Batalion 131 untuk menguasai kota Medan. Gerakan bersenjata bersandi “Sabang-Merauke” itu menjadi operasi militer pertama yang mendukung PRRI. Berita ini sontak saja bikin Nasution yang berada di Jakarta jadi kaget dan berang. Karena dianggap telah melakukan pemberontakan, Nasution memerintahkan penangkapan terhadap Mayor Boyke Nainggolan. “Kami perlu bertindak, karena jika Mayor Boyke Nainggolan dapat bertahan beberapa hari, maka diperkirakan bahwa Resimen 3 Tapanuli akan memihak ke PRRI, mungkin juga Aceh menyusul, sehingga separuh Sumatra menjadi PRRI,” ujar Nas dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4 . Pembangkangan Boyke Nainggolan membuat hubungannya dengan Nasution rusak seketika. Entah apa yang melatari Boyke sehingga membelot kepada PRRI. Ada yang menyatakan sikap Boyke adalah wujud solider belaka terhadap rekan-rekannya yang menuntut otonomi daerah. Pendapat ini diungkapkan Payung Bangun dalam biografi Kolonel Maludin Simbolon: Lika-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa . Sebelum mempersiapkan Operasi Sabang Merauke, kata Payung Bangun, Mayor Henry Siregar – kawan Boyke – menganjurkan kepada Kolonel Maludin Simbolon, panglima Teritorium I/Bukit Barisan untuk mengirimkan pesan melalui surat kepada Boyke. Isi surat tersebut menyangkut perjuangan daerah dan melawan pengaruh komunisme yang semakin menguat. Namun keterangan yang bertolak belakang dikemukakan oleh Sayidiman Suryohadiprodjo. Dalam otobiografinya, Mengabdi Negara Sebagai Prajurit TNI , Sayidiman mempertanyakan loyalitas Boyke terhadap rekan-rekannya yang memberontak. Apakah keterlibatan Boyke dalam PRRI murni ( genuine ) atau sebagai kompensasi atas ketidakaktifannya selama Perang Kemerdekaan Kedua? Menurut Sayidiman, pada Perang Kemerdekaan Kedua, Boyke berada di Belanda untuk bersekolah. Ketika operasi penumpasan PRRI, Sayidiman memimpin Batalion 309 Siliwangi menghadapi pasukan Boyke Nainggolan di Tapanuli. Sebelum melakukan penyerangan, Sayidiman mengaku meminta Boyke untuk menyerah lewat sepucuk surat namun tidak ditanggapi. “Boyke ini sebelum turut PRRI termasuk perwira kesayangan Pak Nasution. Nanti setelah PRRI selesai tampak betul betapa orang ini mengalami banyak tekanan batin,” kata Sayidiman. Sinyalemen Sayidiman itu terbukti kala PRRI berhasil ditumpas oleh pemerintah Sukarno. Entah karena apa, Boyke memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari sebuah menara. “Hidupnya memang tragis. Padahal dia berpotensi menjadi seorang pimpinan tentara di masa depan," ungkap Sayidiman saat diwawancara Historia lima tahun lalu.
- Jejak Sutradara Kotot Sukardi
PADA 1954, Misbach Yusa Biran muda menemui kepala Bagian Film Cerita Perusahaan Film Negara (PFN). Harapnya, ia bisa bergabung dengan PFN meski tak punya ijazah SMA. Oleh orang tersebut, Misbach dipertimbangkan karena pernah mengikuti ujian di Taman Siswa dan diminta mengambil ijasah ke sekolahnya. Namun sayang, Misbach tak jadi mengambil ijazah. Ia tak jadi masuk PFN lewat orang dalam. Akan tetapi niat baik kepala Bagian Film Cerita itu selalu dikenangnya. Namanya Kotot Sukardi, sutradara terkemuka dekade 1950-an yang terkenal karena filmnya: Si Pintjang (1951). “Pak Kotot tahu bahwa ijazah swasta tidak berlaku di kantor pemerintah, tapi beliau merenung lama dan mengatakan mau mencoba memperjuangkan. Jadilah saya harus minta ijazah Taman Siswa ke sekolah,” tulis Misbcah dalam Kenang-Kenangan Orang Bandel . Meski tak jadi mengambil ijasah, belakangan Misbach banyak belajar dari Kotot. Mereka bekerja sama dalam pembuatan film Holiday In Bali (1962) di Ubud, Bali. Misbach bahkan tidur dalam satu kamar yang sama dengan Kotot dan sering mengobrol tentang banyak hal. Menurut Misbcah, Kotot dulunya merupakan guru Taman Siswa Bali. Nyoman S. Pendit dalam Bali Berjuang menyebut Kototlah yang merintis dan kemudian memimpin Taman Siswa yang didirikan di Tejakula, Buleleng itu. Pada masa pendudukan Jepang, Kotot bekerja untuk Keimin Bunka Sidhoso (Badan Kebudayaan). Kotot juga memimpin Badan Permusyawaratan Tjerita POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa). Salah satu sandiwara gubahan Kotot yang paling terkenal ialah Turut Sama Amat. Sandiwara propaganda mendukung militer Jepang ini dipentaskan serentak pada 18-22 Juni 1945 di berbagai kota di Jawa. Selain Turut Sama Amat, Kotot juga menggubah beberapa sandiwara. Antara lain Pecah Sebagai Ratna dan Bende Mataram yang cukup terkenal, ditulis bersama Soekarsih dan Inu Kertapati. Pada saat menjadi penulis sandiwara, Kotot juga dikenal sebagai pemimpin Suluh Pemuda Indonesa (SPI). Pada masa Revolusi Fisik, Kotot berada di Yogyakarta. Dalam Sudjojono dan Aku, Mia Bustam mengenang Kotot sebagai seorang bujangan yang tinggal di paseban sisi timur alun-alun. Kotot dikenal sebagai “Bapak para gelandangan dan pencopet”. “Ia mengumpulkan anak-anak gelandangan dan pencopet cilik di situ, diberi makan dan minum serta pendidikan rohani dan jasmani. Pendek kata dilatih memasuki hidup bermasyarakat yang berbudi dan berpekerti. Kotot kemudian lebih dikenal bukan sebagai pendidik anak terlantar, tetapi lebih sebagai seorang tokoh dalam dunia perfilman nasional Indonesia,” tulis Mia. Geladangan yang dimasud Mia Bustam itu barangkali adalah Barisan P. Barisan P merupakan barisan yang meliputi pengemis, pencopet, hingga pekerja seks yang dilatih untuk menjadi mata-mata untuk mengorek informasi dari tentara-tentara Belanda. Oleh Kotot, Barisan P juga dilatih sandiwara dan bahkan diajak bermain film di kemudian hari. Film itu adalah Si Pintjang (1951). Film yang membuat nama Kotot semakin terkenal ini menceritakan tentang anak-anak korban perang. Film ini turut dalam Festival Film Interasional Karlovy Vary di Cekoslowakia. “ Si Pintjang satu-satunya film Indonesia yang dipertunjukan dalam Festival Film Internasional di Praha, mendapat hadiah kehormatan istimewa pada penutupan festival itu, berupa diploma untuk Kotot Sukardi dan PFN,” tulis Majalah Minggu Pagi , 10 Agustus 1952. Si Pintjang dibuat ketika Kotot telah bekerja di PFN. Film ini mendapat tanggapan baik dari para sineas kala itu. Antara lain dari Usmar Ismail. "’Si Pintjang’ film Kotot Sukardi yang pertama sebagai sutradara mempunyai arti penting karena pemakaian anak sebagai pemain dengan secara efektif,” tulis Usmar dalam Usmar Ismail Mengupas Film. Meski demikian, menurut Usmar, Kotot belum dapat melepaskan pengaruh sandiwara masa pendudukan Jepang yang propagandistis sehingga merusak tendensi sosial yang ingin ditonjolkan Kotot dalam Si Pintjang . Sementara, Salim Said dalam Pantulan Layar Putih: Film Indonesia dalam Kritik dan Komentar menyebut Kotot tidak lagi bicara muluk-muluk tentang buah kemerdekaan. Menurutnya, dalam Si Pintjang , Kotot hanya ingin menyuarakan nasib anak-anak terlantar akibat perang. “Setelah para bekas pejuang sendiri sudah mulai mengkhianati cita-cita mereka, yang diminta Kotot Sukardi cumalah agar anak-anak terlantar, akibat revolusi, juga mendapat perhatian. Api harapan yang tadinya amat menyala-nyala, makin redup saja oleh kenyataan yang makin menyimpang dari dambaan awal,” tulis Salim. Selain Si Pintjang , menurut data indonesianfilmcenter.com , Kotot telah menyutradari beberapa film: Djajaprana (1955), Tiga-Nol (1958), Ni Gowok (1958), Lajang-Lajangku Putus (1958), Kantjil Mencuri Timun (1958), dan Melati Dibalik Terali (1961). Kotot juga menulis naskah untuk beberapa film yang disutradarai rekan-rekannya sendiri, seperti Si Mientje (1952), Si Melati (1954), Sajem (1961), dan Dibalik Dinding Sekolah (1961). Kotot juga diketahui membuat film dokumenter sejarah Ki Hadjar Dewantara dan melakukan perjalanan ke Maluku pada 1953 untuk membuat film dokumenter tentang pembangunan di pulau itu. Merujuk obituari Kotot yang diterbitkan suratkabar Bintang Timur , 23 November 1963, Kotot merupakan Wakil Ketua Lembaga Film Indonesia yang berada di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kotot juga merupakan anggota Pleno PP Lekra, wakil Lekra dalam Panitia Sensor Film, serta anggota Pleno Sarbufis (Sarekat Buruh Film dan Sandiwara). Kotot meninggal pada Sabtu, 21 November 1963 di Jakarta pada usia 47 tahun. Pemakamannnya dihadiri oleh tokoh-tokoh Lekra seperti Joebaar Ajoeb, Njoto, Bakri Siregar, dan Agam Wispi serta para tokoh perfilman seperti Bachtiar Siagian, Basuki Effendi, hingga Tan Sing Hwat. Pasca 1965, anasir-anasir kiri diberantas rezim militer. Lekra menjadi salah satu lembaga yang juga kena bulan-bulanan. Tokoh-tokohnya ditangkap, dipenjara bahkan dihilangkan. Bagian film juga tak luput dari kekejaman ini. Film-film karya sutradara Lekra seperti Bachtiar Siagian, Basuki Effendi, Tan Sing Hwat dan Kotot Sukardi absen dari sejarah perfilman Indonesia. Menurut Khrisna Sen dalam Indonesian Cinema: Framing the New Order , hanya ada satu film utuh karya Kotot Sukardi yakni Si Pintjang yang disimpan Sinematek Indonesia. Setelah absen dalam narasi Orde Baru, nama Kotot baru muncul kembali pada 2015. Kotot dianugerahi Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.*
- Menteri Luar Negeri Belanda Keseleo Lidah
Joseph Luns barangkali menjadi sosok yang paling dimusuhi publik Indonesia selama masa sengketa Irian Barat. Menteri Luar Negeri Belanda itu terkenal gigih mempertahankan Irian Barat di bawah kuasa kerajannya. Sejak menjabat tahun 1956, Luns dengan berbagai kebijakannya acapkali membuat panas hubungan Belanda dan Indonesia terkait Irian Barat. Luns merupakan sosok penting di balik pengiriman kapal induk Belanda Karel Doorman ke perairan Irian Barat pada pertengahan 1960. Langkah itu dinilai sebagai aksi unjuk kekuatan Belanda. Untuk memuluskan ambisinya, Luns bermanuver dengan membawa persoalan Irian Barat ke Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1961. Salah satu prakarsa Luns adalah kebijakan mendekolonisasi Irian Barat. Dalam pernyataannya, Luns menjanjikan komitmen Belanda sebesar 30 juta dolar pertahun untuk menyokong rakyat Irian Barat hingga mandiri. Langkah itu tentu ditentang pemerintah Indonesia yang menganggapnya sebagai penjajahan dalam wujud lain. Presiden Sukarno ikut mengecam kebijakan Belanda. Dia bahkan sampai menyebut Luns sebagai seorang bajingan. Murka Sukarno tersebut dicatat oleh Howard Jones, duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia dalam suatu laporan. “Luns, Luns, Luns. Dia bajingan!” umpat Sukarno sebagaimana dikutip Jones dalam Foreign Relations of the United States, 1961-1963, Volume XXIII . Sekali waktu Luns pernah pula bikin perkara dengan Mr. Soedjarwo Tjondronegoro, duta besar Indonesia untuk PBB. Seperti dikisahkan oleh Sudiro – kawan sejawat Soedjarwo – dalam catatan memoarnya Pelangi Kehidupan, mereka bersitegang dalam salah satu Sidang Umum PBB. Apalagi yang diperdebatkan keduanya kalau bukan masalah Irian Barat. Luns ternyata punya kapasitas daya ingat yang cetek. Pada waktu menyebut nama Soedjarwo, Luns berkali-kali keseleo lidah. Misalnya, saat Luns bertanya, “ Is dat niet zo , (bukankah begitu) Mr. Soewardjo ?” untuk menegaskan pernyatannnya. Terang bahwa sang menteri tanpa sengaja telah mengucapkan nama Soedjarwo secara terbalik. Kealpaan Luns itu kemudian disambut Soedjarwo untuk “memukul balik”. Pukulan sekecil apapun tentu dapat sangat berpengaruh dalam medan laga diplomasi. Soedjarwo lantas menjawab, “ Yes, Mr. Snul ,” dengan nada agak sinis. Suatu ucapan yang cukup mengenai sasaran. Rupanya Luns menyadari kesalahannya melafalkan nama lawan debatnya. Luns akhirnya minta maaf karena telah lebih dahulu keliru membalik nama Mr. Soedjarwo menjadi Mr. Soewardjo. Bila mengusut arti bahasanya, jawaban Soedjarwo cukup menohok. Setiap orang Belanda tentu tahu makna kata “snul " yang artinya menggerutu. “Apalagi kalau ‘u’ nya diganti dengan ‘o’ – oleh orang Belanda dianggap sebagai julukan kotor,” ujar Sudiro. Kata s nol berarti pelacur dalam bahasa Belanda. Seperti kita ketahui bersama, sengketa Irian Barat dimenangkan oleh Indonesia lewat Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962. Mr. Soedjarwo kemudian ditunjuk menjadi kepala perwakilan Indonesia dalam pemerintahan sementara PBB (UNTEA) di Irian Barat. Sementara itu, Luns tetap menjabat menteri luar negeri Belanda hingga 1971. Setelah itu, Luns menutup kiprahnya sebagai Sekretaris Jenderal NATO sampai 1984
- Jejak Sufi, Pembawa Ajaran Islam ke Nusantara
Berdasarkan teori terpopuler, pedagang Gujarat adalah pembawa Islam ke Nusantara. Namun, ada teori lain yang menggunakan pendekatan sufisme, yakni bahwa kaum sufi juga ikut meramaikan Islamisasi di Nusantara. “Bagaimana Islam masuk Nusantara? Agama urusan batin, tak mudah orang pindah dari agama lama menjadi baru. Misal, kita sedang kumpul, lalu ada orang datang membawa agama baru, apa kita bisa langsung pindah,” kata Bastian Zulyeno, ahli kajian Persia Universitas Indonesia, dalam dialog sejarah “Riwayat Masuknya Islam ke Nusantara” live di kanal Youtube dan Facebook Historia.id , Selasa, 2 Februari 2021. Bastian menilai, diterimanya agama baru di tengah masyarakat yang sudah memiliki kepercayaan, yang dalam kasus masyarakat Nusantara adalah Hindu dan Buddha, tentunya dibutuhkan proses intelektual. “Di Islam, kita mengenal hidayah, mau jungkir balik kalau tak dapat hidayah ya susah,” katanya. Bastian pun menemukan bahwa ulama sufi memiliki peran dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Buktinya, ada banyak nisan-nisan kuno yang menunjukkan ciri sufisme, dari ornamen, inskripsi, maupun bentuknya. Ciri-ciri itu bisa terlihat pada makam-makam Islam kuno di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Banyak yang berpendapat bahwa Barus adalah lokasi masuknya Islam pertama kali ke Nusantara. “Kuburan itu membuat para peneliti dengan penuh perhatian mencatatnya sebagai bagian dari peta jalan untuk menemukan dokumen sejarah,” kata Bastian. Makam Para Sufi di Barus Situs permakaman di Barus yang kini berada di Kecamatan Barus dan Barus Utara memiliki beberapa makam Islam kuno. Di dalamnya terdapat nisan-nisan yang menunjukkan identitas pemiliknya. Inskripsi berbahasa Arab dan Persia tertera padanya. Beberapa kompleks permakaman Islam di Kecamatan Barus dan Barus Utara, di antaranya: Kompleks Makam Ibrahim (Tuanku Batu Badan), Kompleks Makam Maqdum, Kompleks Makam Mahligai, Kompleks Makam Ambar, Makam Kinali, Makam yang terkikis sungai, dan Makam Papan Tinggi. Kompleks Makam Ibrahim atau Tuanku Batu Badan berada di Bukit Hasang, Barus. Letaknya di kavling tanah yang tinggi di belakang rumah warga. Dari jalan Kabupaten Barus-Aceh keberadaan kuburan ini sulit ditemukan jika tak ada petunjuk arah. Menurut Daniel Perret, arkeolog dari École française d’Extrême-Orient (EFEO), karena di Bukit Hasang banyak ditemukan nisan kuno, artinya kawasan ini dulunya dipakai untuk tinggal dan menetap. Bukit Hasang baru mulai digunakan pada abad ke-12 hingga abad ke-16. “Pada abad ke-12 baru dipakai, luasnya masih 3 ha, kemudian pada awal abad ke-16 menjadi 60 ha,” kata Perret dalam diskusi di Institut Français d’Indonésie (IFI), Jakarta. Kompleks makam ini terdiri dari tiga halaman bertingkat. Makam Ibrahim atau Tuanku Batu Badan berada di teras ketiga bersama dengan sembilan kuburan lainnya. Makam Ibrahim memiliki panjang sekitar 4 meter dengan lebar jirat 2,4 meter. Sosok yang dimakamkan di kompleks ini diyakini sebagai salah satu dari 44 Awliya , yaitu manusia yang dianug e rahi oleh Tuhan dengan kekhususan tertentu. Mereka ini punya peran dalam penyebaran Islam di Barus. Sementara itu, Kompleks Permakaman Makhdum terletak di atas bukit kecil, sekira 300 m dari pinggir jalan Kabupaten Barus-Aceh. Jumlah nisan di sini ada 33 buah. Sebagian besar memiliki prasasti kaligrafi Islam. Biasanya berisi kalimat syahadat. Ludvik Kalus, epigraf Prancis, dalam “Sumber-Sumber Epigrafi Islam di Barus”, termuat dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu, menjelaskan istilah Maqdum atau Makhdum yang dipakai untuk menyebut kompleks makam ini mungkin berasal dari kata Arab, mahdūm. Artinya “dilayani dengan setia”. Bisa juga berarti “syekh orang suci” atau “penuntun rohani” di dunia Iran-India. Salah satu nisan di Kompleks Makam Mahligai, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. (Septianda Perdana/Shutterstock). Selanjutnya Kompleks Makam Mahligai yang terletak di Kecamatan Barus. Dalam jurnal yang ditulis Bastian bersama Ghilman Assilmi, arkeolog Universitas Indonesia, berjudul “Representation and Identity of Persian Islamic Culture in Ancient Graves of Barus, North Sumatra”, termuat dalam International Review of Humanities Studies Vol. 3 No. 2 Juli 2018,disebutkan kalau tokoh yang dimakamkan di sini diyakini sebagai salah satu dari 44 Awliya . Mereka adalah Syekh Rukunuddin, Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamshah Biktiba’i, Syekh Syamsuddin, dan Syekh Abdul Khatib Siddiq. Selain makam Awliya , di sekitarnya juga terdapat beberapa batu nisan dengan bentuk yang sama. Namun ornamennya lebih sederhana. Makam itu dianggap sebagai pusara para pengikut Awliya . Adapun Kompleks Permakaman Ambar terletak sekitar 1,5 km di utara Kompleks Makam Ibrahim. Berjarak 500 meter dari pinggir jalan kabupaten. Hanya ada satu nisan yang memuat nama almarhum. Namun, saat ini kondisi nisan sudah tak lagi memungkinkan untuk dibaca keterangannya. Berdasarkan pembacaan yang dilakukan oleh Ludvik Kalus, nama dalam nisan itu didahului gelar al-syekh. Terdapat pujian baginya yang berbunyi: “Semoga Allah menyucikan jiwanya yang mulia!” “Hampir sama dengan pujian dalam tulisan berbahasa Arab pada nisan selatan makam Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Tapi tipologinya nisan ini bisa dibandingkan dengan nisan utara di Papan Tinggi,” jelas Kalus. Nisan makam Syekh Mahmud di Kompleks Makam Papan Tinggi yang paling mencolok. Letaknya di atas sebuah bukit setinggi 215 m di atas permukaan laut. Untuk mencapainya orang harus mendaki kira-kira 800 langkah. Ada delapan makam. Tujuh makam berkelompok dengan bentuk nisan sederhana. Satu kuburan dipisahkan dari tujuh lainnya. Letaknya di puncak bukit. Ini merupakan kuburan utama milik salah satu dari 44 Awliya . Menurut cerita masyarakat setempat, nisan yang dibuat dari granit itu milik Syekh Mahmud al-Hadramaut. Bastian memperkirakan, makam ini berasal dari 1300-an M. Jarak antara kedua batu nisan yang menandai makam sang syekh kira-kira 15 m. Pada tubuh dan kepala nisan terdapat inskripsi. Beberapa bagian sulit dibaca karena sudah aus. Pada batu nisan Syekh Mahmud yang ada di sisi selatan inskripsinya ditulis dalam bahasa Arab. “Syekh Mahmud, semoga Allah menyucikan jiwanya!” tulis sebagian inskripsi itu. Sementara batu nisan yang ada di sisi utara ditulisi dengan bahasa Persia. Tertulis di sana, hingga 829H/1425-6 M, makan ini tersembunyi di dunia gaib. Penggalan inskripsinya berbunyi: “Makam ini makam Syekh Mahmud. Dan setiap hari, keajaiban timbul bagi yang minta pertolongan.” “Syekh Mahmud semestinya adalah seorang syekh ahli sufi yang lokasi makamnya tak diketahui. Terungkapnya tempat ini terjadi pada 829 H/1425-6 M di dalam mimpi Tūğīn b. Maḏari,” jelas Kalus. Begitupula kata Bastian, kalimat bahwa makam ini pernah tersembunyi di dunia gaib menunjukkan unsur sufi yang kental. “Seseorang bermimpi bahwa di sini adalah kuburan Syekh Mahmud. Ini unsur sufinya sangat kental,” katanya. Penyebaran Paling Berhasil Irmawati Marwoto, arkeolog Universitas Indonesia, meyakini bahwa pedaganglah yang mengawali masuknya Islam ke Nusantara. “ Sebelumnya mungkin Islam sudah datang. Kita harus membedakan kedatangan dan penyebaran,” kata Irma. Setelah para pedagang datang ke Nusantara, mereka lalu menetap. Di Banten misalnya, kata Irma, di kawasan itu terdapat Situs Pakojan. “Di sini pedagang muslim menetap. Di berbagai kerajaan itu dipisah-pisah, kalau Persia, Arab biasanya di Pakojan. Kalau dari Tiongkok biasanya di Pecinan,” kata Irma . Setelah menetap, pedagang-pedagang muslim itu lalu membangun masjid. “Jadi ada proses cukup lama bagaimana Islam masuk ke seluruh wilayah Indonesia,” kata Irma. Menurut Irma, kalau ada yang mengatakan Islam sudah hadir di Nusantara abad ke-7, itu tidak dibuktikan secara arkeologis, tetapi tercatat dalam naskah Tiongkok. “Di berita Tiongkok ada permukiman orang Arab di pesisir Sumatra,” kata Irma. “Tapi bukan pembuktian arkeologi.” Kendati begitu, Bastian menilai penyebaran Islam paling berhasil dilakukan oleh kaum sufi. “Kaum sufi ini datang, mendirikan perguruan, ada murid dan pengikut yang banyak,” kata Bastian. Tak diragukan pulaada ulama-ulama dari Nusantara yang belajar di Makkah atau Madinah (Hijaz) di Arabia. Mereka pun turut serta dalam proses Islamisasi. Apa yang ditunjukkan oleh beberapa nisan kuno di Barus, menurut Bastian, telah menegaskan kembali teori masuknya Islam, yakni oleh para sufi dari Asia Tengah ke Nusantara. “ Nisan sebagai salah satu media dakwah. Kenapa nisan harus dibuat indah? Di kaum sufi mereka menyebut bahwa nisan adalah tanda orang hidup, untuk pesan kepada orang hidup, mengambil pelajaran darinya,” kata Bastian.
- Ketika Jakarta Tiba
PADA suatu waktu, Baskara T. Wardaya, SJ., sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, bertemu dengan Benny Widyono di Columbia University, New York, Amerika Serikat. Saat makan malam, Benny yang berasal dari Magelang cerita pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan ditugaskan di Chile. Di sana, dia melihat banyak grafiti, di antaranya tulisan “ Jakarta is coming ”. Duta besar Republik Indonesia protes ke pemerintah Chile, menyampaikan bahwa Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia, dan corat-coret grafiti itu sepertinya berbahaya. “Sejak itu, dia courious (penasaran). Ternyata yang dimaksud grafiti itu adalah peristiwa 1965, itu menjelang Salvador Allende diturunkan,” kata Baskara dalam diskusi buku The Jakarta Method karya Vincent Bevins yang diselenggarakan Jaringan Moderat Indonesia pada 26 Januari 2021.
- Bandul Stigma yang Berbahaya
KELUARNYA Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (Perpres Ekstremisme) menimbulkan kasak-kusuk publik di media sosial. Pasalnya Perpres Ekstremis itu dikhawatirkan bisa mencederai kehidupan berdemokrasi di tanah air. “Iktikadnya mungkin baik untuk menangani tindak terorisme atau belakangan ini sering terjadi juga tindakan-tindakan intoleransi. Namun ada hal-hal yang mengkhawatirkan dalam praktik berdemokrasi, seperti kebebasan berpendapat atau berorganisasi. Karena di dalam perpres itu orang bisa saling mencurigai lalu saling lapor. Lantas menimbulkan stigmatisasi terhadap mereka yang dianggap punya ideologi berbahaya,” ujar sejarawan Bonnie Triyana dalam diskusi live bertajuk “Politik Stigma dalam Sejarah Indonesia” di Instagram , Facebook, dan Youtube Historia.id , Jumat (29/1/2021) malam. Stigma, cap, label, atau stempel berulang-ulang terjadi seiring zaman. Bahkan acapkali masih bertahan sampai sekarang mesti kejadiannya sudah lewat jauh. Seperti stigmatisasi terhadap orang-orang kiri pasca-Peristiwa 1965. Selain para kader maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dibunuh atau dipenjara tanpa proses hukum, mereka yang dicap kiri mengalami pengucilan akibat stigma itu. Pola itu cenderung bisa berulang dewasa ini. “Ada stigma, label yang diberikan kepada orang-orang. Kalau dulu dicap ekstrem kiri, kalau sekarang bandulnya melayang ke orang-orang yang dianggap ekstrem kanan. Situs sejarahnya pun ada. Untuk ekstrem kiri pengingatnya (museum) Lubang Buaya. Untuk ekstrem kanan pengingatnya di Museum Satria Mandala, karena di sana ada peninggalan sejarahnya tentang DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Ini semacam kutukan yang berlangsung polanya,” imbuhnya. Di zaman pergolakan 1950-an hingga 1960-an, belum ada kepastian hukum terkait hal itu. Penculikan, pembunuhan yang tersebar di berbagai tempat terjadi hanya lewat tuduhan tanpa bukti dengan motif beraneka macam. Lantas, dalam konteks saat ini, kekhawatiran terletak pada ancaman terorisme dan intoleransi yang meningkat. “Responnya kan ada satu aturan untuk mempersempit gerak ekstremisme agama yang selama ini membuat orang jadi intoleran. Tapi pada akhirnya ini seperti pola melabel lagi seperti dulu. Sebenarnya pokok permasalahannya bukan kepada idologi atau pemikiran politik tapi soal tindakan si orang-orang pengikutnya yang mestinya bisa ditindak secara hukum,” tambah Bonnie. Stigma dalam Aneka Zaman Stigma sudah hidup berabad-abad silam beriringan dengan peradaban manusia berada. Menurut Soe Tjen Marching, akademisi yang juga dosen di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, mulanya stigma diberikan kepada golongan kriminal atau budak. Stigma lantas berkembang seiring perjalanan zaman dan dimanfaatkan untuk menimpakan suatu kesalahan kepada orang lain. “Makanya stigma dianggap jelek karena mereka (para kriminal dan budak) dianggap sebagai orang jelek. Itu stigmanya seumur hidup karena biasanya mereka diberi cap dengan besi panas. Lalu contohnya lagi dalam sejarah dunia ada kisah Kaisar Nero di tahun 64 Masehi kala terjadi kebakaran di Roma. Dia menimpakan kesalahannya kepada orang-orang Kristen karena mereka sebagai minoritas, distigmakan sebagai kafir atau atheis,” ujar Soe Tjen. Dalam perkembangannya, lanjut Soe Tjen, stigma lantas digunakan untuk menggalang dukungan demi menjatuhkan lawan politik. Perang Salib I (1096-1099) yang mulanya persaingan merebut tanah antara Kekaisaran Byzantium dengan Dinasti Seljuk, contohnya. “Kaisar Byzantium (Alexius I Comnenus) dan Paus Urban II kan khawatir akan penyebaran muslim. Takutnya daerah Kristen tambah sempit. Tapi kan enggak mungkin mengakui rebutan tanah. Jadi dipakai stigma bahwa orang-orang (muslim) itu kafir. Dengan begitu mereka dapat dukungan (kerajaan-kerajaan Eropa). Ya mereka itu (orang-orang muslim) ekstremis begitu ya, kalau bahasa sekarang,” tambahnya. Ilustrasi kebakaran kota Roma pada tahun 64 M, karya pelukis Hubert Robert tahun 1785 ( muma-lehavre.fr ) Hampir di setiap peristiwa sejarah kerap diawali stigma. Di Nusantara itu dapat dilihat kala terjadi peperangan antara Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah dengan Majapahit yang dipimpin Prabu Brawijaya V yang tak lain ayah Raden Patah. “Dalam versi lain kisahnya dikatakan Raden Patah menyerang Majapahit setelah menuduh ayahnya dengan stigma kafir, mengingat ayahnya Hindu, sementara Raden Patah Islam. Jadi itulah bahayanya tuduhan ekstremis. Juga di zaman Belanda, Cultuurstelsel kan sistem kebudayaan bercocok tanam. Namanya indah sebenarnya. Jadi Cultuurstelsel ini pemerintah Belanda mengajari pribumi untuk lebih berbudaya dan cara bertanam, bukan tanam paksa bagi mereka. Di situlah definisi-definisi ini bisa menstigma. Menstigma para pejuang yang melawan kolonialisme sebagai ekstremis. Cultuurstelsel menguatkan stigma pemberontak penjajahan adalah ekstremis, makanya tanam paksa diberi topeng dengan penamaan Cultuurstelsel ,” tutur Soe Tjen. Dalam politik internasional modern, tambah Soe Tjen, kata ‘stigma’ dipopulerkan sosiolog dan psikolog Amerika Serikat Erving Goffman lewat bukunya Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity yang diterbitkan tahun 1963. Goffman menguraikan bahwa stigma adalah cara untuk melindungi identitas suatu kelompok ketika mereka bertindak di luar batas kewajaran. Selain itu, cara untuk mendiskreditkan kelompok atau individu yang tidak sejalan dengan mereka. Alhasil seperti yang terjadi di Indonesia, para eks-tapol atau yang bersimpati pada mereka distigmakan sebagai ekstrem kiri yang atheis hingga cap pembunuh ulama. Di masa sekarang, terutama sejak peristiwa 9 September 2001 (Tragedi “9/11”), semua orang muslim yang berjenggot dan bercelana cingkrang distigmakan sebagai teroris. “Kebetulan pada waktu kejadian ‘9/11’, saya masih kuliah di Australia. Teman saya orang Sikh yang pakai turban sampai dipersekusi. Di pinggiran kota dia diteriaki sama anak-anak: ‘ You moslem, go home! ’ Padahal dia Sikh dan bukan muslim, hanya karena dia pakai turban walau sebetulnya turban Sikh dan sorban muslim kan berbeda. Itu menjadi stigma yang salah alamat. Tapi karena mereka enggak mengerti, jadi melampiaskan emosi, menuduhnya ngawur,” ujar perempuan yang baru menerbitkan novel Dari Dalam Kubur itu. Dialog Live Historia bertajuk "Politik Stigma dalam Sejarah Indonesia" (Layar Tangkap Youtube Historia.id ) Yang berbahaya adalah ketika stigma dilontarkan tokoh-tokoh pemerintahan dan dihubung-hubungkan dengan perkara lain ibarat “cocoklogi”. Soe Tjen mencontohkan ketika pada 2016 Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyangkut-pautkan komunis dengan isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). “Dikatakan bahwa munculnya gerakan LGBT di kalangan muda sudah seperti perang proxy yang menimbulkan ancaman lebih besar dari pada perang nuklir. Lalu dia menghubungkan dengan gerakan komunis juga. Jadi dicocok-cocokkan. Itulah stigma, bisa ditempel-tempelkan begitu,” lanjutnya. Stigma jauh lebih berbahaya bila dipegang pihak penguasa untuk memengaruhi pola pikir masyarakat demi menjatuhkan lawan politik. Itu bisa memercikkan konflik horizontal. Mirisnya, efeknya bisa membuat suatu tindak kejahatan dianggap menjadi tindakan kepahlawanan yang mulia. “Karena adanya stigma, kejahatan bisa dianggap ‘ new normal ’ karena stigma bisa membuat korbannya tidak lagi netral. Korban tidak lagi dipandang sebagai manusia tapi sudah diperlakukan seperti hewan. Itulah bahayanya aturan ekstremisme itu yang bisa menormalkan kejahatan,” paparnya. Satu contohnya adalah tokoh Anwar Congo yang kisahnya diumbar via film dokumenter Jagal/The Act of Killing (2012). Ia menceritakan tanpa rasa bersalah menyembelih banyak orang, baik para anggota PKI maupun orang yang dituduh PKI. Yang ia lakukan diyakini adalah tindakan mulia atau kepahlawanan. “Itu stigmanya sudah direncanakan sejak lama dan dibantu negara-negara Barat secara bertahap dan masif. Soeharto tahu cara yang sangat efektif untuk membangun stigma itu dengan membangun pola pikir masyarakat. Kalau sudah dibentuk, maka mereka akan melakukan kejahatan yang dianggap sebuah kenormalan baru itu dengan sukarela,” terangnya lagi. Lantas, bagaimana agar Perpres Ekstremisme Nomor 7 tahun 2021 yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu tak menimbulkan stigma-stigma macam di atas? Terlebih, di era digital, hoaks begitu mudah merangsek ke otak masyarakat dan membentuk stigma-stigma negatif terhadap suatu kelompok tertentu tanpa bukti. “Penting untuk edukasi, political will , di mana stigma harus kita perangi dengan permulaan kita harus menyadari dulu stigma itu apa. Dengan semua edukasi, atau peraturan baru, atau dengan pergantian kekuasaan yang nantinya bisa terjadi pergantian sistem, semua harus menyeluruh karena kecenderungan manusia untuk membuat stigma itu sangat besar. Kenapa hoaks itu sangat mudah disebar? Karena manusia ini gampang membuat stigma, tapi mengeceknya betul atau tidak, butuh waktu,” tandas Soe Tjen. *Tulisan ini diralat pada 23 Februari 2021





















