Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Habis Gedong Tataan Terbukalah Gadingrejo
SETELAH pemerintah Hindia Belanda menerapkan Politik Etis, program Kolonisatie atau transmigrasi kolonial –yang para transmigran atau pendatangnya disebut kolonist– pun dijalankan. Mula-mula, pemerintah membuat semacam koloni untuk daerah permukiman pendatang. Gedong Tataan di Pesawaran, Lampung terpilih sebagai yang pertama. Koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 14 Mei 1907 mencatat, mula-mula ada dua daerah yang dibuka: Paal 17 dan Paal 27 dari arah Telukbetung. Yang dimaksud Paal 17 adalah daerah bernama Gedong Tataan. Kemudian, Paal 27 yang berada di sekitar Pasar Gadingrejo sekarang menyusul berikutnya. Permukiman kedua dibuka jauh di sisi barat Gedong Tataan. Soebaijasch Handelsblad tanggal 17 Mei 1907 menyebutkan, Gadingrejo inilah yang pada 1907 disebut sebagai permukiman kedua yang sedang direncanakan. Letakya di sisi Sungai Gadingrejo. Pada Januari dan Februari 1907, jumlah keluarga bertambah 260 sehingga terdapat 335 keluarga. Dari 335 keluarga itu, totalnya terdapat 1171 jiwa dengan rincian 291 laki-laki yang sudah menikah, 291 perempuan yang sudah menikah pula, ditambah 96 laki-laki belum menikah, 90 perempuan belum menikah, dan 205 anak-anak. Setelah bulan-bulan itu, jumlah penduduknya akan bertambah lagi. Mereka yang belum datang ini akan berangkat ke daerah permukiman baru itu bersama-sama. Daerah yang akan mereka datangi adalah daerah yang baru dibuka, namun bukan berarti tidak ada warga yang mendahului mereka dalam radius 100 km dari titik daerah baru itu. Orang Lampung asli sudah hidup di Pekon Margakaya atau Desa Margakaya. Ada yang menyebut, kampung ini sudah ada sejak 1738 alias lebih dari satu setengah abad sebelum para transmigran ini. Selain warga Lampung asli, ada pula beberapa transmigran yang datang lebih dulu pada 1907. Soebaijasch Handelsblad tanggal 17 Mei 1907 memberitakan bahwa pada awal Juli 1906 sudah ada sekelompok transmigran yang sudah menetap di sana. Para transmigran itu mendapatkan subsudi beras dari pemerintah kolonial kerena mereka belum punya pemasukan, sebab lahan sawah dan kebun belum mereka tergarap. Pemerintah kolonial menyediakan pondokan sementara untuk mereka tinggali semari membangun rumah dan lahan-lahan yang di antaranya sawah. Ketika itu, 140 rumah dibangun, di mana satu rumah bisa menampung tiga keluarga. Sarana irigasi untuk 23 hektare sawah juga disiapkan. Seorang kepala desa atau lurah juga akan dipekerjakan di daerah Gadingrejo itu. Sama seperti di Desa Bagelen, Gedong Tataan. Pemerintah kolonial membiarkan hubungan antara orang Jawa di Lampung dengan keluarga mereka di Pulau Jawa terus terjalin. Bahkan, para transmigran dianjurkan untuk saling surat-menyurat dengan keluarga mereka di Pulau Jawa. Untuk itu, tukang pos disediakan antara permukiman transmigran dengan Telukbetung yang menjadi pusat Lampung kala itu. Terkait perhubungan, akses transportasi jelas menjadi perhatian pemerintah. Jalan poros pun diusahakan pemerintah kolonial sehubungan dengan program transmigrasi itu. Maka begitu diresmikan, Gadingrejo terus berkembang menjadi daerah pertanian dan permukiman. Sebuah pasar kemudian berdiri di sana. Pada 1910, permukiman baru banyak diusahakan berdiri di sekitar Gadingrejo. Salah satunya, diberitakan Apeldoornsche Courant edisi 22 Januari 1910), adalah Purworejo, namanya sama dengan nama sebuah kabupaten di Jawa. Setidaknya ada puluhan desa muncul setelah transmigrasi kolonial di Lampung bagian selatan. Banyak darinya memiliki nama Jawa. Di wilayah yang lebih barat dari Gadingrejo, banyak desa transmigran berdiri. Salah satunya adalah Pringsewu. Desa ini pada era 1930-an telah membesar. Pada akhir dekade 1930-an, nama Pringsewu lebih banyak dibicarakan, di mana sebelumnya Gadingrejo yang lebih sering. Pringsewu lama-kelamaan menjadi pusat, bahkan kemudian menjadi nama kabupaten yang membawahi Gadingrejo.*
- Biarkanlah Simbol-simbol Kolonial Berganti
PADA kepala berita harian De Telegraaf edisi 17 Januari 2018 yang lalu terpampang judul, “Hentikan pemalsuan”. Museum Mauritshuis, di Den Haag, akan memberi penjelasan latar belakang patung dada Johan Maurits, Gubernur Brasilia dari 1636 sampai 1644, yang menggalakkan ekonomi perkebunan gula dengan keras, dan dia dianggap sebagai penanggung jawab atas peningkatan perdagangan budak ke Brasilia. Di samping itu, kepala sekolah di Amsterdam timur juga akan mengganti nama Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC di Jakarta dan penyebab pembunuhan massal di Banda tahun 1621, sebagai nama sekolah itu.
- Tanneke Burki dari Balet ke Senam Seks
HOTEL Indonesia Jakarta sangat ramai pada 6 Juni 1982. Sektiar 400 orang datang ke sana untuk mengikuti gerakan-gerakan senam yang diperagakan oleh pesenam ternama, Constance Imelda Burki yang dikenal dengan Tanneke Burki. Gerakan senam itu bagian dari senam seks. Pada masa itu, senam seks sulit dipahami oleh kebanyakan masyarakat dan bisa jadi bahan perdebatan. Tetapi, bagi Tanneke, senam seks bertujuan untuk kesehatan. “Sama seperti senam hamil,” kata Tanneke dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983–1984. Senam seks dapat dilakukan dengan berbagai posisi agar otot perut, pinggang, pantat, paha, dan sekitar vagina mampu digerakkan secara harmonis. Tanneke, menurut Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi, dulunya pernah membuka sanggar-sanggar senam seks. Selain kelas-kelas untuk jenis-jenis senam yang lain atau tari-tarian, ia juga membuka kelas tari Bali dan Sunda. Ia membuka studio seni tari balet di Jl. R.E. Martadinata, Bandung, Jawa Barat.
- Lembaran Getir Tragedi Heysel
Sudah 35 tahun berlalu, tetapi duka akibat tewasnya 39 orang dalam Tragedi Heysel masih terasa. Di Liverpool, peringatan untuk menghormati 39 jiwa yang “ditelan” oleh tragedi terkelam dalam sepakbola Eropa jelang final European Cup (kini Liga Champions) antara Liverpool vs Juventus, 29 Mei 1985, itu tetap dihelat secara sederhana di tengah suasana pandemi virus corona . Peringatan dihelat dengan meletakkan karangan bunga pada plakat peringatan di tribun Sir Kenny Dalglish, Stadion Anfield. Manajemen klub juga mengibarkan setengah tiang bendera-bendera Liverpool, Juventus, Italia, dan Inggris. “Hari ini kita memberikan penghormatan kepada para korban di Heysel. Sebagai sebuah klub, kami mengingat dan menghormati mereka, serta semua keluarga yang terdampak tragedi ini. Mereka takkan pernah kita lupakan,” ungkap Direktur Komunikasi Liverpool FC Susan Black di laman resmi klub, liverpoolfc.com , Jumat (29/5/2020). Situs-situs peringatan Tragedi Heysel di kota Turin. (juventus.com). Di kota Turin, Italia, klub dan fans Juventus menghelat peringatan sederhana serupa. Beberapa karangan bunga diletakkan di dua tugu peringatan: Grugliasco dan Madonne delle Grazie di Cherasco. Sementara, di pucuk menara Mole Antonelliana dinyalakan lampu bertuliskan “+39 RISPETTO”. Di kota tempat kejadian, Brussels, Belgia, peringatan dilakukan dengan peletakan karangan bunga di plakat peringatan di Stade du Heysel (kini Stade Roi Baudouin). Seremoninya dihadiri Ketua Dewan Olahraga Kota Brussels Benoit Hellings, Duta Besar Italia untuk Belgia Elena Basile, dan Duta Besar Inggris untuk Belgia Martin Shearman. Bencana di Laga Final Eropa Momen pahit itu masih terekam jelas di kepala jurnalis media Inggris Derby Telegraph Paul Fry. Kala itu dia menonton laga final European Cup di Sektor X atau tribun belakang gawang Stadion Heysel. Fry, yang juga bekerja sebagai penerjemah di sebuah bank di kota lain di Belgia, berada di Brussels sebetulnya bukan untuk menonton final, tetapi ‘ngapel’ ke tempat pacarnya. Ia ikut menonton laga final hanya untuk mengisi waktu luang bersama pacarnya dan ikut-ikutan fans lain dari negeri asalnya. “Sebuah kenangan yang mustahil terhapus dari ingatan: barisan mayat yang diselimuti bendera. Sekira 50 ribu tiket waktu itu terjual habis tetapi banyak penonton lain yang bisa masuk tanpa tiket, menerobos dinding stadion yang rapuh. Ketika hari berganti, 39 fans sepakbola itu tergolek tak bernyawa. Semua tewas dalam jarak beberapa yard dari tempat saya berdiri di tribun belakang gawang,” kenang Fry sebagaimana dilansir derbytelegraph.co.uk , Jumat (29/5/2020). Kondisi Stade du Heysel pada 1980-an dan denah sektor penonton di Final Liga Champions 1984/1985. (Stadium Guide/Wikipedia Commons). Jumlah penonton laga saat itu melebihi kapasitas 50 ribu kursi. Salah satu penyebabnya, kondisi bangunan stadion memprihatinkan karena belum pernah direnovasi sejak dibangun pada 1930. Beberapa bagian dinding luarnya yang terbuat dari cinder block (semacam batako) dengan mudah dijebol para fans tanpa tiket agar bisa masuk. Namun, kerusuhan berupakeributan antarsuporter sudah terjadi pada petang sebelum laga dimulai. Dalam “The Cursed Cup: Italian Responses to the 1985 Heysel Disaster” yang dimuat dalam buku Soccer and Disaster, Fabio Chisari mengungkapkan, sudah terjadi penusukan terhadap seorang fans Liverpool oleh sekelompok tifosi Juve. Lalu, ada kejadian 20 suporter Liverpool merampok sebuah toko perhiasan. Di beberapa sektor kota pun sudah terjadi saling lempar botol, batu, serta perkelahian. “Untuk di stadion, masuknya suporter sebenarnya sudah diatur. Jalur suporter dibedakan karena kubu mereka dipisahkan. Fans Liverpool di belakang gawang, tepatnya di Sektor X dan Y. Sementara Sektor N dan O di belakang gawang lainnya khusus fans Juventus. Adapun Sektor M dekat fans Juve dan Sektor Z dekat fans Liverpool, diperuntukkan penonton netral,” tulis Chisari. Kerusuhan suporter pecah sejam jelang laga final. (liverpoolecho.co.uk). Kedua kubu suporter sudah diperbolehkan masuk dua jam sebelum laga dimulai pukul 8.15 malam. Sementara, dua sektor utama di bagian sisi sampinglapangan masih dikosongkanhingga setengah jam sebelum kick-off . Tetapi rupanya ada ratusan fans Juventus ikut menyusup ke Sektor Z. Hasil investigasi kemudian menyatakan, ada “orang dalam” panitia pertandingan yang menjual tiket-tiket di sektor netral kepada fans Juve. Makadi Sektor Z yang bersebelahan dengan dua sektor khusus fans Liverpool, terdapat fans Juve bersamadengan ratusan penonton netral. Saling ejek pun jadi “pembuka” konfrontasi. Tepat pukul 7 malam, botol dan mercon dari kubu fans Liverpool sudah mulai dilemparkanke Sektor Z. “Penonton Italia membalas dengan lemparan batu dan pada pukul 7.15 malam tensi kian memanas karena terdorong alkohol, di mana saat itu pihak keamanan stadion tak melarang minuman keras dibawa masuk ke stadion. Karena di Sektor Z hanya terdapat delapan polisi yang berjaga, mereka tak bisa mengendalikan situasi,” tambahnya. “Fans Liverpool kemudian mulai menyerang dan mendobrak pagar pembatas. Ratusan fans Italia terpukul mundur dan terdesak hingga tembok tribun setinggi tujuh kaki. Pada pukul 7.30 malam, tembok di Sektor Z tak kuat menahan beban desakan suporter hingga roboh. Puluhan orang berjatuhan karena terjerumus ke celah antar Sektor Z dengan tribun tengah,” sambung Chisari. Kondisi TKP Tragedi Heysel keesokan harinya. (rbfa.be). Para suporter Juventus yang kocar-kacir lalu merobohkan pagar depan untuk jalan keluarke trek atletik dan lapangan. Di dalam lapangan mereka terpaksa berkelahi dengan barisan polisi yang menahan agar takmasuk lapangan. Total 39 orang meninggal dan 600 luka-lukakarena terjatuh ke celah antartribun, terinjak-injak, tertimpa tembok yang roboh, serangan fans Liverpool, ataudipukuli dengan brutal oleh polisi. Dari 39 korban tewas, 32 di antaranya suporter Juve, dua penonton asal Prancis, empat Belgia, dan satu penonton asal Irlandia Utara. Mirisnya, pertandingan tetap digelar sesuai jadwal. Setelah para penonton yang meluber ke lapangan diusir keluar, ofisial UEFA, Perdana Menteri Belgia Wilfied Martens, Walikota Brussels Hervé Brouhon, dan kepala Kepolisian Brussels memutuskan final jalan terus. Alasannya untuk mencegah kekerasan meledak lebih parah. “Lalu kedua kapten tim diminta menenangkan masing-masing suporternya. Kapten Liverpool Phil Neal dengan pengeras suara mengumumkan: ‘Dengar! Kami muak dengan apa yang terjadi. Bersikaplah dengan baik agar kami bisa bermain di lapangan’,” ungkap Steve Wilson dalam Heysel and Other Stories . “Kapten Juventus (Gaetano Scirea) semenit kemudian juga masuk ke lapangan dan bicara dengan pengeras suara untuk meminta hal yang sama kepada fans Juventus. Jam 8 lewat 15 menit, pertandingan digulirkan dan tampak wajah-wajah pemain ceria sebagaimana biasa, seolah tak terjadi apa-apa,” lanjutnya. Final tetap digulirkan terlepas insiden maut dan dimenangi Juventus lewat gol penalti Michel Platini. ( rbfa.be ). Laga itu dimenangkan Juventus (1-0) berkat gol Michel Platini di menit ke-58 yang tercipta dari titik putih. Sehari setelah pertandingan, investigasi dimulai. Hasilnya, tim pemantau Komisi Disiplin UEFA memutuskan fans Liverpool bersalah. Sebanyak 34 orang yang dianggap sebagai biang keladi dan provokator ditahan. Liverpool disanksi larangan bertanding di kompetisi Eropa selama enam tahun. “Saya mati rasa ketika menyadari betapa dekatnya saya pada kematian atau terluka akibat kejadian itu. Kengerian itu saya rasakan hingga berhari-hari kemudian. Tetapi kemudian datang semacam perasaan bersyukur: ‘belum waktunya saya meninggal, jadi lanjutkanlah hidupmu’,” tandas Fry. Tragedi Heysel menjadi titik balik. Kejadian itu mengusik Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher. Sang “Wanita Besi” mendorong FA, induk sepakbola Inggris, bertindak tegas. FA memerintahkan klub-klub Inggris untuk mundur dari semua kompetisi Eropa. “Kita harus membersihkan permainan (sepakbola) ini dari hooliganisme di negeri kita sendiri dan setelah itu mungkin kita baru bisa membolehkan sepakbola kita bermain di luar negeri lagi,” kata Thatcher dikutip Jim White dalam A Matter of Life and Death. Selain kepada Liverpool, UEFA juga memberi sanksi kepada klub-klub Inggris yang punya fans brutal, seperti Manchester United, Norwich City, dan Tottenham Hotspur. UEFA baru mencabut sanksi itu pada 1990.*
- Kisah Asmara Tan Malaka, Antara Petualangan dan Revolusi
SALAH satu tokoh sejarah di Indonesia yang memutuskan untuk tidak menikah adalah Tan Malaka. Kenapa dia memilih untuk hidup melajang dan tak membangun keluarga sebagaimana banyak pemimpin republik lainnya?
- Ketika Tan Malaka Jadi Orang Tionghoa
SEBAGAI orang buangan politik yang paling dicari-cari oleh pemerintah kolonial dan imperialis di Asia, Tan Malaka selalu mengganti-ganti identitas demi keselamatannya. Pengalaman ditangkap dan ditahan di beberapa negeri, mulai Hongkong sampai Filipina, membuatnya harus semakin mahir menyembunyikan diri di balik identitas palsu. Bak film spionase, bukan hanya nama yang diganti, tapi juga penampilan dan bahasa. Salah satu periode penting dalam hidup Tan Malaka, di mana dia tampil sepenuhnya sebagai orang Tionghoa terjadi ketika dia menetap di Singapura mulai 1937 sampai 1942. Sebelum tinggal di Singapura, yang saat itu masih di bawah wilayah Malaya kekuasaan Inggris, Tan sempat singgah beberapa bulan saja di Rangoon, Burma. Karena kesulitan mendapat pekerjaan, dia memutuskan untuk hijrah ke Singapura di pengujung 1937.
- Bergelut dengan Kelud
GUNUNG Kelud yang berada di Kediri dan Blitar, Jawa Timur, meletus pada Kamis malam, 13 Februari 2014. Lava pijar menyembur. Abu letusan tersebar hingga ke Jawa Tengah. Pemerintah menyeru penduduk sekitar Kelud agar mengungsi ke zona aman. Bukti awal letusan Kelud tersua dalam Pararaton, kitab sastra yang bertutur tentang kerajaan di Jawa. Kelud meletus pada 1311, 1334, 1376, 1385, 1395, 1411, 1450, 1451, 1462, dan 1481. Ada korban jatuh, tapi jumlahnya tak pasti. Kitab itu hanya mencatat letusan sejauh bisa “menopang kepentingan dan kuasa keluarga kerajaan,” tulis Neumann van Padang, “History of Volcanology in the East Indies”, termuat dalam Scripta Geology 71 tahun 1983. Keterangan tentang letusan Kelud muncul lebih terang pada abad ke-19. Kelud beberapa kali meletus tanpa gejala pendahuluan. Lahar dan awan panas lekas muncul. Penduduk terlambat mengungsi. Desa-desa hancur.
- Mengenal Sisworo Gautama Putra, Sutradara Pengabdi Setan
SUTRADARA Joko Anwar butuh waktu sepuluh tahun meyakinkan Rapi Films agar mengizinkannya me-remakePengabdi Setan (1980) karya Sisworo Gautama Putra. Film horor favoritnya semasa kecil itu yang mendorongnya ingin menjadi pembuat film. Kesabaran Joko terbayar: dalam 15 hari film Pengabdi Setan tembus 2,3 juta lebih penonton; jumlah ini akan terus naik. Pengabdi Setan (1980) menempati peringkat teratas dari 13 film Indonesia paling menyeramkan versi Rolling Stones tahun 2015: “Pengabdi Setan memiliki atmosfer seram yang tak pernah surut di sepanjang film. Gaya pengambilan gambarnya juga tergolong baik untuk ukuran film horor pada masanya, bahkan jika bicara skala Asia.” Dari 13 film Indonesia paling menyeramkan itu hampir setengahnya karya Sisworo, seperti Sundel Bolong (1981), Telaga Angker (1984), Malam Jumat Kliwon (1986), Malam Satu Suro (1988), dan Santet (1988). Sisworo yang dikenal pula dengan nama Naryono Prayitno atau S. Gatra tersohor sebagai sutradara film horor. Dalam Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978, tecatat bahwa Sisworo lahir di Asahan, Sumatra Utara, pada 26 Mei 1938. Pendidikannya Sekolah Lanjutan Atas kemudian kursus penyutradaraan pada Kotot Sukardi yang diselenggarakan oleh Anom Pictures pada 1961.
- Pameran Mengudar Bacaan Liar
Wage Rudolf Soepratman. Ini nama tenar. Semua orang Indonesia tahu dia pencipta lagu Indonesia Raya sekaligus Pahlawan Nasional. Tapi bagaimana kalau tenyata dia juga seorang pengarang? Kepengarangan Soepratman jarang sekali mengemuka. Sebab karangannya tak tersimpan di banyak perpustakaan umum dan belum diunggah ke internet sebagai buku elektronik. Sebagian halaman karya W.R. Soepratmankini dapat dibaca khalayak dalam pameran “Colonial Bastard: The Forbidden Fictions” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20—24 Agustus 2019. Misalnya karangan berjudul Perawan Desa. “Berkisah tentang ketidakberesan dalam kehidupan masyarakat kolonial dan menyinggung kebijakan pemerintah kolonial,” kata Sulaiman Harahap, periset pameran. Gagasan dalam karya Soepratman mendapat kecaman dari pemerintah kolonial. “Karyanya kemudian disita dan dibakar tak lama setelah terbit pada 1929. Yang tersisa sedikit sekali,” lanjut Sulaiman. Karena itu, karyanya terputus dari khalayak. Ini juga menjelaskan mengapa karyanya tak tersimpan di banyak perpustakaan umum. Sulaiman memperoleh Perawan Desa dari seorang kolektor pustaka lawas bernama Harianto Sanusi. “Dia masih menyimpan banyak sekali buku, majalah, dan bacaan lawas di rumahnya, di Rawamangun, Jakarta Timur,” kata Sulaiman. Perawan Desa, karangan W.R. Soepratman. Berkisah tentang kemalangan perempuan di desa. (Foto: Hendaru Tri Hanggoro/Historia) Beberapa koleksi bacaan lawas Harianto termasuk bacaan liar dalam pandangan pemerintah kolonial. Menurut Sulaiman, bacaan liar mempunyai karakter berbeda dari standar bacaan pemerintah kolonial untuk rakyat Hindia Belanda. “Bacaan liar menggunakan bahasa Melayu pasar, bahasa sehari-hari, sehingga orang kebanyakan mudah mengerti. Tema dan ceritanya pun dekat dengan keseharian rakyat. Ada juga kandungan cabulnya. Tapi banyak pula kritik terhadap kolonialisme dan feodalisme,” kata Sulaiman. Jenis bacaan semacam ini yang banyak ditampilkan dalam pameran. Nota Rinkes Selain Soepratman, dalam pameran tampil pula nama Tirto Adhi Soerjo, Marco Kartodikromo, dan Semaoen. Beberapa penganggit bacaan liar merangkap kerja sebagai wartawan. Mereka lazim menulis dengan gaya tulisan singkat, padat, jelas, dan komunikatif. Berbekal kemampuan itu, dalam bacaan, mereka menghantam kolonialisme Belanda dan feodalisme bangsawan anak negeri. Pemerintah kolonial mengkhawatirkan peredaran bacaan liar di kalangan rakyat koloni. Mereka menganggap bacaan itu merusak ketertiban, mengacau keamanan, dan meracuni pikiran rakyat koloni. Ujungnya kemungkinan besar muncul pemberontakan rakyat. Maka pemerintah kolonial mengeluarkan standar bacaan untuk rakyat Hindia. Standar bacaan dari pemerintah kolonial tersua dalam Nota Dr. D.A. Rinkes, Sekretaris Komisi Bacaan Rakyat, pada 1911. Rumusannya sebagai berikut. Pertama, bacaan tidak mengandung unsur antipemerintah kolonial. Kedua, bacaan tidak menyinggung perasaan dan etika golongan masyarakat tertentu. Ketiga, bacaan tidak menyinggung suatu perasaan agama tertentu. Nota Rinkes juga memaklumatkan syarat penggunaan bahasa Melayu tinggi dengan beralas pada aturan pemerintah tentang bahasa. Bila bacaan beredar tidak mengindahkan standar pemerintah, bacaan itu akan tergolong bacaan liar. Pemerintah kolonial berwenang melarang dan menyitanya. Penerbit dan penganggitnya pun akan terkena hukuman. Berangkat dari peristiwa ini, Sulaiman meriset sejumlah bacaan liar. “Awalnya saya patok tahun 1917 atau 1918. Bertepatan dengan Revolusi Bolshevik di Rusia. Revolusi ini bergaung juga di Hindia untuk mengobarkan perlawanan. Tetapi setelah saya baca nota Rinkes, saya tarik waktunya sejak 1911 sampai sekitar akhir 1920-an,” kata Sulaiman. Sulaiman mengaku hanya punya waktu satu setengah bulan untuk meriset bacaan liar. Sebagian besar bacaan diambil dari koleksi Perpustakaan Nasional. Sisanya dari kolektor lawas seperti Harianto Sanusi, William Bradley Horton alias Dewo Broto Hartono, dan Bandung Mawardi. Hasilnya terkumpul 42 bacaan liar. “Tidak semuanya saya tampilkan di pameran. Karena beberapa bacaan ada yang ganda. Sebelum diterbitkan dalam bentuk buku, bacaan itu berupa cerita bersambung di surat kabar. Dan tidak semua bacaan liar berbentuk sastra, tapi juga artikel yang menyentil pemerintah kolonial,” kata Sulaiman. Tingkat kesulitan pencarian bacaan liar berbeda-beda. Sulaiman menempatkan Sair Rempah-Rempah anggitan Marco Kartodikromo sebagai bacaan paling susah ditemukan. Dia mendapat salinan edisi awal karya itu dari Dewo Broto Hartono. “Itu pun kopian dari Perpustakaan Leiden, Belanda,” kata Sulaiman. Marco Kartodikromo adalah murid Tirto Adhi Soerjo dalam kepengarangan. Dia pernah bekerja di Medan Prijaji di bawah kepemimpinan TAS (1907—1912). Masa ini Tirto telah menulis dua bacaan liar tentang nyai dan gundik di Hindia Belanda. Judulnya Bli Bini Orang dan Tjerita Njai Ratna . Terbit di Medan Prijaji pada 1909. Di situ Tirto menyatakan keberpihakannya kepada para nyai dan perempuan. Di situ pula Marco mempelajari gaya dan cara Tirto menyulih pikiran dalam bentuk tulisan. Kemudian Tirto kehilangan daya akibat persekongkolan kaum feodal dan pejabat kolonial. Marco pun muncul. Dia mendermakan hidupnya untuk mengangkat derajat dan martabat rakyat terjajah. Caranya dengan menyebar gagasan dan kritik terhadap sistem kolonial dan struktur feodal. Sikapnya mengantarkan dirinya masuk penjara kolonial pada 2 April 1917. Tetapi hukuman kolonial tak membuat Marco jera. Dia justru menggunakan pengalamannya di penjara untuk menganggit lebih banyak karya. Sair Rempah-Rempah salah satunya. Terdiri atas lima jilid, syair ini berisi cita-cita Marco tentang masyarakat egaliter dan terlepas dari jerat kolonialisme. Semaoen Serang Poligami Untuk bacaan liar lainnya, Sulaiman tak kesulitan mencari. Beberapa bahkan telah ada edisi ejaan baru semisal Hikajat Kadiroen anggitan Semaoen, Ketua Partai Komunis Indonesia. “Tapi saya tetap harus menemukan edisi awalnya,” kata Sulaiman. Hikajat Kadiroen terbit pada 1919. Pengarangnya memaparkan kualitas mental anak jelata bernama Kadiroen. Dia merangkak dari bawah untuk mencapai posisi tinggi dalam hierarki pegawai negeri. Kadiroen berarti terkenal baik. Tapi dia hidup di lingkungan korup, busuk, dan merasakan banyak ketidakberesan di sekitarnya. Kadiroen mempunyai atasan bernama Raden Pandji Koentjoro Noto Prodjo Ningrat. Atasan ini digambarkan suka menindas ke bawah dan menjilat ke atas. Penggambaran karakter semacam ini ingin mengatakan bahwa tidak selamanya orang berkuasa selaras dengan kehormatan. Akhirnya Kadiroen meninggalkan pekerjaan dan desanya untuk mengembara. Mirip dengan cerita Panji Jawa. Dalam pengembaraan, Kadiroen menemukan kenikmatan berkhidmat untuk perkumpulan politik. Dia meresapi pelajaran berharga tentang kehidupan sosial. Bacaan ini juga menyerang praktik poligami elite anak negeri. Terkisah seorang lurah bernama Kromo Nenggolo ingin memiliki istri lagi. Pilihannya tersemat ke Ardinah, seorang perempuan desa miskin. Kepada Ardinah, Kromo mengaku belum punyai istri. Ayah Ardinah telah berterima dengan kehendak Kromo. Dia sudah sakit-sakitan, tua, dan bau tanah. Sebelum mati, dia ingin melihat anaknya punya seorang penanggung hidup. Kromo dan Kardinah menikah. Tetapi harapan ayah Ardinah meleset. Kromo memperlakukan Ardinah selayak mainan. Ardinah pun mengetahui belang Kromo, seorang tukang kawin dan sering bertindak semena-mena pada istri-istrinya. Dia protes. “Saya punya golongan perempuan sering dapat celaka batin… Selamanya orang laki semua belum bisa baik dan adil, maka lebih baik kalau igama kita melarang perkawinan lebih dari satu perempuan,” kata Ardinah. Itulah beberapa contoh bacaan liar masa kolonial dalam pameran. Ia dianggap liar dari pandangan pemerintah kolonial. Tapi bagi kaum pergerakan dan rakyat semasa, bacaan itu jadi pendidik dan pembangkit perlawanan terhadap kolonialisme dan struktur feodal.
- Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian II-Habis)
USIA Jacksen F. Tiago sudah menginjak 26 tahun ketika pertamakali tiba di Indonesia pada Desember 1994. Berkeluarga juga sudah dan dia pernah sekali menjalani operasi lutut. Ia datang sebagai satu dari tujuh legiun asing asal Brasil yang dibawa Angel Ionita, agen sepakbola dari International Sport Associaton. “Awal kedatangannya ke Indonesia adalah karena dia ditipu oleh agen pemainnya. Sebetulnya Jacksen dijanjikan bermain di Liga Malaysia tapi baru dijelaskan oleh agen tersebut bahwa Jacksen rupanya akan bermain di Indonesia,” tulis Dhion Prasetya dalam Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo. Sebagaimana kebanyakan orang asing, pengetahuan Jacksen tentang Indonesia nyaris nol. Terlebih serba-serbi persepakbolaan negeri yang berjarak lebih dari 15 ribu kilometer dari “Tanah Samba” itu. Ia hanya tahu Bali sebagai destinasi wisata yang kondang di mata dunia.
- Tujuh Kebiasaan Pangeran Diponegoro yang Belum Diketahui Banyak Orang
PANGERAN Diponegoro salah satu tokoh besar dalam sejarah Indonesia yang mengobarkan Perang Jawa (1825-1830). Perang selama lima tahun itu telah menguras sumberdaya Belanda dengan membayar mahal: 8.000 tentaranya dan 7.000 serdadu pribumi tewas, serta biaya sebesar 25 juta gulden atau setara 2,2 miliar dollar Amerika Serikat. Ini menunjukan ketangguhan Diponegoro. Namun, di balik itu Diponegoro juga manusia biasa yang memiliki kebiasaan seperti kebanyakan orang. Sejarawan Inggris Peter Carey, yang meneliti Diponegoro lebih dari 30 tahun, mengungkapkan kebiasaan-kebiasaan Diponegoro dalam karyanya, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), versi singkat dari Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama Jawa, 1785-1855 (tiga jilid setebal 1.456 halaman). Berikut ini tujuh kebiasaan Diponegoro yang mungkin belum diketahui banyak orang. Anggur Putih Diponegoro gemar minum anggur bersama orang-orang Eropa. Merek favoritnya, Constantia, anggur dari Tanjung Harapan, yang menjadi pilihan para raja dan kaisar serta pengarang. Tetapi, Diponegoro tak menjadikan minum anggur sebagai kebiasaan berlebihan. Sepertinya, dia punya tafsir sendiri soal larangan minum anggur dalam Islam. Dia berpendapat, meminum anggur putih yang diberikan orang Eropa tidak bertentangan dengan Al-Qur'an, karena orang Eropa meminum anggur putih yang manis itu sebagai “obat penawar” bila mabuk anggur merah. Sirih dan Rokok Mengunyah sirih salah satu dari sedikit kebiasaan Diponegoro. Sehari-hari dia biasa terlihat terus-menerus memamah sirih, sehingga dia dapat menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah seracikan kapur, daun sirih, dan pinang. Diponegoro juga mengisap rokok Jawa, sigaret tebal yang dilinting sendiri dengan tangan, sejenis cerutu yang terbuat dari tembakau lokal yang dibungkus daun jagung. Hobi Emas dan Batu Akik Seperti kebanyakan kerabatnya di Keraton Yogyakarta, Diponegoro juga mengoleksi emas dan berlian. Di antara harta yang dimilikinya selama pengasingan adalah cincin dan sarung keris berlapis emas. Benda berharga lain miliknya adalah batu akik hitam yang disimpan dalam pembungkus emas. Batu mulia ini dikirimkan kepada ibunya yang sudah berumur 80 tahun ketika berkorespondensi dengannya di Makassar pada Maret 1849. Burung dan Berkebun Dua kesenangan utama Diponegoro yaitu berkebun dan memelihara burung. Di tempat semadinya di Selarejo dan Selarong dia membangun kebunnya dengan menanam bunga, sayuran, buah-buahan, dan pepohonan. Dia bangga, “tidak ada apa pun di dunia yang tidak tumbuh subur di Tanah Jawa.” Dalam otobiografinya, Babad Dipanegara , dia menyebut berbaga jenis binatang yang menemaninya selama masa semadinya yang sunyi: ikan di Selarejo; kura-kura, burung tekukur, buaya, dan harimau selama semadi rimbanya di sepanjang Perang Jawa; dan burung-burung perkutut dan kakatua kesayangannya ketika diasingkan di Manado dan Makassar. Dalam pandangan Jawa, kedekatan dengan alam dan binatang semacam itu merupakan pantulan kepekaan dan keutuhan rohani seorang manusia. Inilah gambaran keadaan yang tepat disebut sebagai kesatria pengembara (satrio lelono) dalam kesusastraan wayang Jawa. Roti Putih Dalam soal makanan, Diponegoro memiliki selera yang selektif. Selama seminggu, yang dia habiskan di kediaman Residen Semarang (29 Maret-5April 1830) di tengah perjalanan menuju Batavia, dia menyukai roti putih yang dipanggang di dapur Karesidenan Bojong. Dia pun mulai terbiasa dengan menu kentang Belanda yang dimakan dengan sambal dan keripik singkong (untuk mencegah mabuk laut) sebagai makanan sehari-hari selama perjalanan laut ke pembuangan di Batavia (5-8 April 1830), Manado (3 Mei-12 Juni 1830) dan Makassar (20 Juni-11 Juli 1833). Pembantu setianya panakawan Roto, menyebut kentang Belanda sebagai kentang sabrang. Tebar Pesona pada Kaum Hawa Kendati sering mengidentifikasi dirinya sebagai Arjuna, Diponegoro tentu tak setampan tokoh pewayangan itu. Namun, Diponegoro cukup enak dipandang mata. Dia seperti punya daya tarik pribadi yang kuat yang membuatnya menawan di mata kaum perempuan. Dia sendiri mengakui salah satu dari sifat-sifat yang mengganggu (sipat ngaral) di masa mudanya adalah sering mudah tergoda perempuan. Selama Perang Jawa, dia menganggap salah satu penyebab kekalahan terbesarnya di Gowok pada 15 Oktober 1826 karena sebelum pertempuran dia tidur dengan perempuan Tionghoa (nyonyah Cina), yang bukan istri resmi, bukan pula selir, tapi tawanan perang yang dijadikan tukang pijat. Ketika di pengasingan, menurut Residen Manado, Pietermaat, percakapan yang paling digemari Diponegoro tentang perempuan-perempuan yang melihatnya sebagai seorang great lover . Ketika di Manado, Diponegoro pernah ingin menikahi perempuan setempat, putri dari tokoh Muslim setempat, Letnan Hasan Nur Latif, namun lamaran itu ditolak karena akan membawa putrinya pada “nasib buruk.” Selama hidupnya, Diponegoro memiliki tujuh istri dan beberapa selir. Satu-satunya istri yang menemaninya di pengasingan adalah Raden Ayu Retnoningsih. Mengirimi Musuh Pakaian Perempuan Diponegoro mengakui sangat sedikit kaum kerabatnya di Keraton yang berani bercanda dengannya. Padahal dia punya sisi yang ceria juga. Para pengawalnya yang pelawak selalu melibatkannya dalam berkelakar secara bebas. Dia juga dapat menularkan kegembiraan besar kepada orang-orang di sekelilingnya. Namun, humornya sering mengandung ironi yang kasar: selama Perang Jawa, dia punya kebiasaan mengirimkan pakaian perempuan kepada komandan tentaranya yang dianggap bertindak pengecut disertai catatan bahwa pakaian ini lebih baik daripada baju seragam tempur.*
- Mulanya Manusia Laba-Laba
SEPEKAN belakangan para fans Marvel, khususnya penggila Spider-Man, galau. Pasalnya, Sony dan Disney “bercerai”. Akibatnya, jagoan super si “Manusia Laba-Laba” ber-alter ego Peter Parker itu takkan lagi nongol di Marvel Cinematic Universe (MCU). Sony sebagai si empunya hak tayang karakter Spider-Man, disebutkan mengakhiri kerjasama dengan Disney yang menaungi MCU pimpinan Kevin Feige. Sony menolak kesepakatan baru pengucuran dana 50:50 dengan Disney untuk mengongkosi film-film MCU yang menghadirkan Spider-Man lagi. Alhasil, film Spider-Man: Far From Home yang terbit 2 Juli 2019 lalu menjadi film terakhir yang berkelindan dengan seri-seri Avengers milik MCU. Sejak 2015, salah satu mahakarya mendiang Stan Lee ini turut meramaikan semesta Marvel: Captain America: Civil War (2016), Spider-Man: Homecoming (2017), Avengers: Infinity War (2018), Avengers: Endgame (2019), dan Spider-Man: Far From Home (2019). Besar kemungkinan seandainya kemudian Sony memproduksi sendiri aksi Spider-Man di versi live - action , bakal diperankan aktor selain Tom Holland. Ia dianggap sebagian besar fans Spider-Man sebagai sosok paling cocok memerankan sang “ webslinger ”, di antara aktor-aktor pendahulunya macam Tobey Maguire atau Andrew Garfield. Beberapa kelompok fans menyuarakan protes tidak hanya di media sosial. Nate Philips, fans asal New York, bahkan sampai mencetuskan petisi “Keep Spider-Man with Disney and the MCU” di situs change.org. Hingga tulisan ini dibuat, petisi itu sudah memetik lebih dari 128 ribu tandatangan fans lain. Tapi, bagaimana di Indonesia? “Kami di Komunitas Marvel Indonesia (KMI) beragam. Ada yang enggak setuju, ada yang setuju. Saya pribadi tak terlalu mempersoalkan. Kita tidak fanatik sampai harus buat petisi,” sebut founder KMI Dedi Fadim kepada Historia . KMI jadi wadah tersendiri bagi fans Spider-Man maupun para superhero Marvel lain sejak berdirinya. Bagi Dedi, fans yang begitu fanatik menanggapi perpisahan Spider-Man dan Avengers seolah tak melihat sisi positif di mana Spider-Man mestinya jadi jagoan yang mandiri dan tak melulu dikaitkan dengan mendiang Iron Man/Tony Stark. “Saya pribadi ingin Spider-Man jadi superhero mandiri sama seperti aslinya di komik. Kalau terus dikaitkan dengan Iron Man, film solo-nya enggak akan berkembang. MCU sendiri takkan masalah tanpa Spider-Man karena film-film MCU sebelumnya sudah menarik buat fans. So, it’s not a big deal ,” lanjutnya. Stan Lee menciptakan Spider-Man, jagoan super yang mandiri, pada 1962. Semua petualangannya dilakukan Spider-Man/Peter Parker seorang diri. Bahwa di layar perak bergabung dengan para jagoan lain di tim Avengers merupakan hal menarik, bukan berarti Spider-Man mati kutu tanpa mereka. “Malah bagus kalau Spider-Man bisa memulai petualangannya sendiri. Spider-Man bukan penerus kejayaan Tony Stark. Tidak akan mungkin jadi the next Tony Stark. Karena kalau dia di- plot begitu, maka dipastikan film berikutnya takkan sukses karena selalu dikaitkan sama Iron Man. Spider-Man is Spider-Man. Bukan muridnya Stark atak penerusnya. Dia hanya menjadi next superhero yang membantu menggantikan Iron Man menjaga kedamaian dunia,” tandas Dedi. Dari Mana Datangnya Inspirasi Stan Lee? Sudah jamak diketahui bahwa Spider-Man/Peter Parker merupakan salah satu “anak rohani” Stan Lee si “Godfather” Semesta Marvel. Komikus senior Marvel Tom DeFalco dalam Spider-Man: The Ultimate Guide menguraikan, Stan Lee memang menciptakan Spider-Man pada 1962 menyusul kesuksesan karya lainnya, Fantastic Four. Karakter jagoan bersenjata jaring laba-laba itu melakoni debutnya di komik Amazing Fantasy edisi ke-15, Agustus 1962. Kendati begitu, Stan Lee mengakui Spider-Man ia ciptakan terinspirasi dari karakter pahlawan tanpa kekuatan super, Spider, dari majalah The Spider: Master of Men . “Satu hal yang memengaruhi saya (menciptakan Spider-Man, red. ) adalah dari bacaan kegemaran saya saat bocah. Saya membaca majalah The Spider yang tentunya, gambarannya sama sekali tidak seperti Spider-Man namun saya selalu merasa nama karakternya dramatis,” kata Stan Lee dalam otobiografi yang ditulis bersama George Mair, Excelsior!: The Amazing Life of Stan Lee . Karakter The Spider itu sendiri diciptakan oleh penulis sekaligus co-founder Popular Publications (PP ) Henry ‘Harry’ Steger III pada Oktober 1933. Menurut penulis cum komikus senior lain, Tim DeForest, dalam Storytelling in the Pulps, Comics, and Radio , Steger menciptakan The Spider sebagai pesaing karakter jagoan The Shadow ciptaan Walter Brown Gibson. The Shadow lebih dulu muncul, yakni di Majalah Detective Story Hour 31 Juli 1930 keluaran Sreet & Smith Publications’. Kedua penerbit saat itu merupakan pesaing besar majalah bergambar, ibarat Marvel dan DC Comics di masa setelahnya. “The Spider pertamakali terbit pada Oktober 1933, bersamaan dengan peluncuran G-8 , majalah keluaran Popular Publications lainnya. Mulanya The Spider bagaikan kloningan The Shadow. Ia pria kaya (ber-alter ego) Richard Wentworth yang menyamarkan dirinya sebagai sosok bongkok namun bertaring dan berambut panjang,” sebut DeForest. Personanya terbilang menakutkan lantaran memang dibuat untuk menakuti para penjahat. Ia juga digambarkan seperti sosok pahlawan yang main hakim sendiri. Tak heran ia turut diburu polisi. Namun ia tak seperti Spider-Man, di mana Richard Wentworth/The Spider tak punya kekuatan super dalam melawan musuh-musuhnya. Ia sekadar bersenjatakan pistol M1911 dengan peredam suara dan “Web-Lee”, pistol pelontar jaring listrik. Setelah ia membunuh penjahat, lazimnya ia akan memberi cap darah bergambar laba-laba di dahi si penjahat agar semua orang tahu bahwa dialah yang menghabisi nyawa si penjahat. “Dia beraksi di luar garis hukum. Diburu polisi dan ditakuti publik. Tiada yang bisa menghentikannya. Jika ia tertembak di dada, dia hanya akan menjejalkan tangan ke lukanya untuk menghentikan pendarahan dan dia terus beraksi. Dia lihai meloloskan diri dari beragam perangkap penjahat maupun polisi. Jargon khasnya adalah: ‘ I am my brother’s keeper and I will give my life if necessary to keep my brother safe’ ,” lanjut DeForest. Selain dalam bentuk majalah, karakter The Spider dialihwahanakan ke berbagai media. Selain novel dan komik, sosoknya juga muncul di layar perak lewat film The Spider’s Web (1938), dan serial The Spider Returns (1941) yang digarap Columbia Pictures.





















