top of page

Hasil pencarian

9856 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ragam Mata Uang Asing di Nusantara

    Pada masa kurun niaga, para pedagang datang ke Nusantara membawa mata uang masing-masing untuk membeli rempah-rempah.

  • Mumi-mumi Tertua yang Terjadi Secara Alami

    Memumikan jenazah tersebar di dunia kuno. Praktik ini untuk menghormati orang mati dan mengekspresikan keyakinan agama tentang adanya akhirat.   Tujuan mumifikasi untuk mengawetkan jenazah dengan mengeringkannya atau membubuhkan balsem pada sekujur tubuhnya. Bahan yang digunakan adalah bahan pengawet alami, seperti resin untuk mengeringkan daging dan organ. Mumifikasi paling terkenal dilakukan bangsa Mesir Kuno. Namun, peradaban di Lembah Sungai Nil itu bukanlah yang pertama kali memulai tradisi ini.  Mumifikasi bisa juga terjadi secara alami   karena paparan suhu dingin ekstrem, kondisi sangat kering, atau faktor lingkungan lain yang menghambat pembusukan. Mumi Spirit Cave Mumi tertua yang diketahui ditemukan di Amerika Utara. Ia tersembunyi di dalam gua Spirit Cave, terletak 21 km ke timur Fallon, Nevada, Amerika Serikat. Mumi Spirit Caveditemukan pada 1940 di kuburan dangkal. Ia contoh mumifikasi alami. Jasadnya terawetkan oleh udara kering dan udara yang dijernihkan di dalam gua.  Dijelaskan Ancient Origins , mumi itu seorang lelaki berusia sekira 40 tahun ketika meninggal. Ia mengenakan sepatu mokasin. Tubuhnya dibungkus selimut kulit kelinci dan ditutupi tikar alang-alang. Awalnya, mumi itu diyakini berusia antara 1.500 dan 2.000 tahun. Penanggalan karbon pada 1990-an menunjukkan mumi itu dimakamkan sekira 10.600 tahun yang lalu. History  melansir bahwa melalui analisis DNA yang dilakukan peneliti gabungan University of Cambridge dan University of Copenhagen dapat diketahui mumi Spirit Cave merupakan leluhur suku asli Amerika modern di Nevada, yakni Suku Fallon Paiute-Shoshone. Sisa kerangkanya dikembalikan ke suku asalnya pada 2016. Ia dikuburkan kembali dalam upacara pada 2018. Mumi Spirit Cave. (Wikipedia). Mumi Chinchorro Mumi tertua berikutnya berasal dari budaya Chinchorro di Amerika Selatan, di daerah Peru selatan dan Chili utara. Chinchorro merupakan budaya paling awal yang tercatat dengan sengaja membuat mumi. Mumifikasi di Peru Kuno adalah cara untuk menghormati, mengingat, dan tetap terhubung dengan orang mati. Seperti dijelaskan Livescience , prosesnyacukup rumit. Mereka mengangkat kulit dan organ orang mati, mengikis daging dari tulang, lalu memperkuat kerangka dengan alang-alang dan tanah liat. Mereka kemudian menempelkan kembali kulitnya, mengecat jenazah dengan warnah hitam atau merah, serta memasang wig dan masker tanah liat di kepalanya. Arthur C. Aufderheide dalam “Seven Chinchorro mummies and the prehistory of Northern Chile” yang terbit dalam American Journal of Physical Anthropology , menyebutkan bahwa mumifikasi Chinchorro  bertahan lebih dari 4.000 tahun. Kerumitannya berkurang seiring waktu dan secara bertahap menghilang setelah 2.000 SM. “Mumifikasi buatan yang dikembangkan 3.000 tahun lebih awal dari teknik mumifikasi di Mesir. Tradisi ini berlangsung 4.000 tahun,” tulis Nuria Sanz dalam The Chinchorro Culture: a Comparative Perspective. The Archaeology of the Eearliest Human Mummifiction. Salah satu dari tujuh orang yang terawetkan secara alami adalah mumi tertua yang dilaporkan hingga saat ini. Usianya sekira 9.000 tahun atau kira-kira 6.979 SM.  Mumi Gebelein, Mesir Hingga akhir periode pradinastik, orang Mesir menguburkan jenazah dengan menempatkannyadi kuburan dangkal, bersentuhan langsung dengan pasir, dan tertutup gundukan tanah. Pasir kering berfungsi sebagai pengawet. Ada s ejumlah k uburan dari periode awal ini yang jenazah nya masih dalam kondisi prima. Dua di antaranya , seorang pria dan wanita , disimpan di British Museum. Mumi Gebelein Man dan Gebelein Woman itu pertama kali ditemukan di Gebelein, Mesir, sekitar 100 tahun lalu. Penanggalan radiokarbon mengungkapkan kedua orang tersebut hidup antara 3.351 dan 3.017 SM, tak lama sebelum Mesir bersatu dan periode dinasti awal dimulai. Sebagaimana ditulis Smithsonianmag mumi Gebelein dimakamkan di kuburan dangkal. Tak ada perawatan khusus untuk mengawetkan tubuh mereka. Salinitas (keasinan) dan kekeringan di kawasan itu membuat jenazah mereka menjadi mumi secara alami. Tubuh mumi seorang pria Mesir pradinastik di British Museum. (Wikipedia) Ötzi Manusia Es Pada 1991, pejalan kaki menemukan sisa-sisa mumi beku Ötzi dengan pakaian dan peralatan di Pegunungan Alpen Ötztal, dekat perbatasan Italia-Austria. Jurnalis Austria, Karl Wendl, memberikan nama Ötzi, yang mengacu pada situs penemuannya. Ia diyakini hidup antara 3.350 dan 3.100 SM. “Sebelum Stonehenge atau piramida Giza dibangun,” tulis Livescience . Ötzi meninggal karena kehilangan darah akibat luka panah. Tubuhnya berada di selokan yang terlindung di kawasan gletser yang dingin. Salju menutupi tubuhnya yang terlindungi dari aliran gletser. Menurut laman resmi South Tyrol Museum of Archaeology , Ötzi hidup selama Zaman Tembaga, periode Neolitik akhir. Ia masih menggunakan perkakas batu, tetapi memiliki kapak tembaga yang inovatif dan sangat berharga. Pakaian dan peralatan Ötzi telah diperbaiki dengan susah payah. Muminya dipamerkan di Museum Arkeologi Tyrol Selatan di Bolzano, Italia, sejak 1998. Ia disimpan dalam sel dingin yang dirancang khusus. Pengunjung dapat melihatnya lewat jendela kecil. Ötzi di meja otopsi. (Wikipedia). Mumi Mesir yang Sakral Mumifikasi diketahui telah dipraktikkan pada tahap akhir periode prasejarah, khususnya pada peradaban Mesir Kuno. Sementara penggunaan resin dan pembungkus linen untuk jenazah diketahui mulai dilakukan sejak Hierakonpolis, yakni sekira 3.500 SM. Orang Mesir percaya bahwa tubuh manusia bagian dari jiwa. Karenanya penting menjaga tubuh tetap utuh untuk kehidupan setela h kematian. Sebagaimana disebutkan dalam Ancient Origins bahwa tubuh adalah penghubung ke esensi manusia yang pernah menghuninya. Seperti ditulis dalam, bagi masyarakat Mesir Kuno, pembalseman dianggap sebagai seni sakral. Pengetahuan tentang prosesnya hanya dimiliki oleh sedikit orang. Kebanyakan rahasia seni mungkin diteruskan secara lisan dari satu tempat pembalseman ke tempat pembalseman lainnya. Karenanya bukti tertulis proses mumifikasi sangat langka. Hingga saat ini hanya dua teks tentang mumifikasi yang berhasil diidentifikasi. Mumi Bersegel dari Dinasti Han Mumi Xin Zhui atau Lady of Dai ditemukan di Perbukitan Mawangdui, dekat kota Changsha, Cina. Menurut Dong Hoon Shin, dkk . dalam “Mummification in Korea and China: Mawangdui, Song, Ming and Joseon Dynasty Mummies” yang terbit d alam jurnal Hindawi BioMed Research International , Xin Zhui adalah istri Li Chang atau Marquis of Dai yang memerintah wilayah itu hampir 2.200 tahun yang lalu selama masa Dinasti Han. Ia wafat pada 168 SM. Berbeda dengan mumi Mesir Kuno yang diawetkan dengan mengeringkan tubuh dari semua cairan dan mengeringkan jaringan mereka dengan garam sebelum dibungkus dan dikuburkan. Di Cina, segel rapat pada peti mati bagian dalam bertanggung jawab atas mumifikasi. Itu baik dengan tanah liat kaolin atau campuran tanah kapur. Adat istiadat penguburan juga berperan penting dalam mumifikasi. Misalnya, pengepakan kain yang ketat di dalam peti mati. Seperti tubuh Xin Zhui yang kemungkinan besar terendam dalam beberapa jenis cairan asam yang menghambat pertumbuhan bakteri dan proses pembusukan. “Jejak merkuri ditemukan pada kulitnya, yang memiliki efek serupa,” sebut . Tubuhnya kemudian dibungkus erat dengan 20 lapis sutra. Ia lalu ditempatkan dalam serangkaian empat peti mati, yang semuanya bersarang satu sama lain. Masing-masing peti diisi dengan arang dan disegel rapat dengan tanah liat. “Arkeolog percaya bahwa ini mencegah air dan udara yang akan menyebabkan pembusukan,” lanjut laman itu. Alhasil, mayatnya masih terawat baik. Kulitnya lembut dan kenyal, rambut dan organnya utuh, kulit, persendian, dan ototnya masih lentur. Bahkan ada darah di pembuluh darahnya, kendati wajahnya sangat bengkak. Livescience menyebut bahwa mumifikasi adalah seni yang hilang. Kebanyakan masyarakat menganggapnya aneh , kuno , atau sisa dari waktu lampau. Tapi gema dari proses tersebut tetap dapat dilihat di rumah duka modern, di mana pembalseman orang mati berperan dalam menghormati orang yang dicintai.

  • Minggu Berdarah di Kota Selma

    PERINGATAN “Minggu Berdarah” di Kota Selma tahun ini tak seperti biasanya. Selain karena masih pagebluk COVID-19, peringatannya pada Minggu (7/3/2021) tak lagi dihadiri empat penyintas peristiwa 56 tahun lampau: Pendeta Joseph Lowery, Pendeta Cordy Tindell Vivian, serta dua aktivis HAM Bruce Boynton dan John Lewis. Keempatnya sudah tiada sejak 2020. Kendati peringatannya tak sesemarak tahun lalu, momen itu tetap diadakan secara virtual dengan penayangan reka ulangnya. Presiden Amerika Serikat Joe Biden   hadir via video conference pada 7 Maret 2021 waktu setempat (8 Maret WIB). “Hal yang diwariskan dari aksi jalan kaki di Selma adalah, tidak ada yang bisa menghentikan setiap manusia bebas untuk mengerahkan kekuatan paling suci sebagai warga negara – mereka yang berani melakukan segalanya untuk mengambil kekuatan itu. Tanpa pengorbanan mereka yang melintasi Jembatan Edmund Pettus 56 tahun lalu, warga kulit hitam takkan bisa memberikan hak suaranya,” tutur Presiden Biden, dikutip The Atlanta Journal-Constitution , Senin (8/3/2021). Joseph Robinette Biden Jr. pada peringatan "Bloody Sunday" pada 2013. (Instagram @vp44). Dalam kesempatan itu, Biden mengungkapkan duka citanya yang mendalam atas wafatnya keempat pelaku sejarah di atas. Terutama Lewis, yang sempat ditemuinya menjelang hari kematiannya, 17 Juli 2020. “Dalam rangka mengenang John Lewis, juga mengenang banyak sosok pemberani dalam momen itu: saat ini pun kita harus berdiri tegak karena hak suara kita adalah hak yang harus dipertahankan. Suara kita adalah hak asasi kita. Tahun lalu mendiang Lewis meminta saya untuk fokus memulihkan dan menyatukan negeri ini. Dia bilang bahwa kita semua diciptakan sama; kita semua berhak untuk diperlakukan setara,” imbuhnya. John Lewis dan ketiga mendiang aktivis di atas merupakan tokoh penting dalam hari pertama “Minggu Berdarah” di Selma pada 7 Maret 1965. Hari yang bikin geger seantero negeri itusampai membuat Dr. Martin Luther King Jr.hingga bahkan Presiden Lyndon B. Johnson turut bereaksi. Aksi Jalan Kaki Selma-Montgomery Jembatan Edmund Pettus Bridge di atas Sungai Alabama di kota Selma yang jadi penghubung Rute 80 menuju Montgomery, ibukota Negara Bagian Alabama, masih berdiri gagah. Ia jadi saksi bisu ketika massa berkisar 600 orang diserang hampir seribu aparat Kepolisian Negara Bagian Alabama yang dibantu masyarakat sipil kulit putih pada Minggu pagi, 7 Maret 1965. Mengutip Robert A. Pratt dalam Selma’s Bloody Sunday: Protest, Voting Rights, and the Struggle for Racial Equality , aksi jalan kaki massal dari Selma menuju Montgomery itu diinisasi para aktivis HAM dari SNCC (Student Nonviolent Coordinating Committee), SCLC (Southern Christian Leadership Conference), DCVL (Dallas County Voters League) seperti Lewis, James Bevel, Hosea Williams, serta ibu dan anak: Amelia dan Bruce Boynton. Mereka menuntut dua hal, yakni investigasi adil terhadap pembunuhan aktivis Jimmie Lee Jackson oleh oknum kepolisian Alabama, dan hak memberi suara bagi warga kulit hitam. “Setelah pemakaman Jimmie Lee Jackson di Marion, dihelat sejumlah pertemuan di sebuah kapel di Selma. Pada Senin pagi, 1 Maret, King bahkan ikut memimpin aksi jalan kaki ke gedung pengadilan Selma dan bicara pada para pengikutnya: ‘Kita akan membawa protes (terhadap) undang-undang hak suara di jalanan Selma’,” tulis Pratt. Dua hari berselang, King kembali datang ke Selma untuk mengadakan rapat lagi dengan para aktivis SNCC, SLCC, dan DCVL yang selama ini punya beberapa perbedaan pandangan arah perjuangan. Diputuskan, King yang akan memimpin langsung aksi massal jalan kaki dari Selma ke Montgomery melalui Rute 80 sebagai puncak aksi protesnya. Gerakan itu tercium Gubernur Negara Bagian Alabama George Wallace. Ia melarang segala aksi dari warga kulit hitam yang berpotensi gangguan lalu lintas. “Gubernur Wallace menyatakan aksi itu akan jadi ancaman bagi keamanan dan ketertiban umum. Pada 6 Maret ia menyatakan: ‘Tidak boleh ada aksi jalan kaki antara Selma dan Montgomery.’Wallace juga memerintahkan Kepala Patroli Kepolisian AlabamaKolonel Al Lingo untuk: ‘lakukan tindakan apapun yang diperlukan untuk mencegah aksi itu!’” ungkap David J. Garrow dalam Protest at Selma: Martin Luther King, Jr., and the Voting Rights Act of 1965. Presiden Lyndon Baines Johnson (kanan) saat bertemu Dr. Martin Luther King Jr. (Lyndon B. Johnson Presidential Library). Sementara di Gedung Putih, Presiden Johnson memanggil King untuk membicarakan aksi itu. Johnson ingin King percaya bahwa dirinya masih berjuang untuk mencabut persyaratan untuk hak suarapemilih, di mana salah satunya adalah penghapusan uji buta huruf. Meski begitu, King tetap tak mendapat kepastian setelah pembicaraan satu setengah jam dengan Presiden Johnson. Pada Sabtu malam, 6 Maret, King memutuskan untuk batal memimpin aksi jalan kaki dari Selma ke Montgomery pada Minggu pagi, 7 Maret. Pratt mengungkap sejumlah versi soal alasannya. Salah satunya, King ternyata sudah punya komitmen untuk berkhotbah di Gereja Baptis Ebenezer dikota Atlanta setiap hari Minggu pertama di bulan Maret. Versi kedua, terkait keselamatan diri King, di mana ia didesak para aktivis SCLC untuk membatalkan memimpin aksi hari Minggu pagi karena adanya ancaman pembunuhan. “John Lewis punya versi sendiri soal absennya King. Bahwa King sejatinya masih ingin memimpin aksi itu, tetapi King ingin menundanya sampai Senin (8 Maret) karena masih harus datang ke Gereja Ebenezer. Lewis, Bevel, Williams, dan Andrew Young lalu berdiskusi di Kapel Brown untuk menentukan siapa yang akan memimpin aksi menggantikan King,” sambung Pratt. John Robert Lewis (kiri) saat aksi jalan kaki Selma-Montgomery dan dihadang pasukan polisi. (NMAAHC/ humanitiestexas.org ). Pada Sabtu malam, 6 Maret itu akhirnya dilakukan lempar koin bak pertandingan olahraga untuk menentukan pengganti King. Dari keempat calon, Williams yang menang dan akan memimpin aksi. Dia bakal ditemani Lewis sebagai wakilnya. Lantas pada Minggu, 7 Maret pukul empat pagi, empat serangkai itu mengumpulkan massa yang berjumlah hampir 600 orang dari berbagai kota, termasuk lusinan wartawan, serta tim dokter dan perawat Medical Committee of Human Rights yang datang dari New York. “Mereka memulai aksinya dengan berjalan kaki dalam dua kolom, dua jajar yang membentang sepanjang beberapa blok. Lewis mengenang: ‘Saya tak ingat berapa kali saya ikut aksi protes sepanjang hidup saya, tetapi ada sesuatu yang berbeda tentang aksi ini. Aksinya lebih disiplin, lebih damai, hampir seperti rombongan pemakaman. Massa juga merasa momen ini istimewa. Padahal tidak ada nama besar atau selebritas yang ikut, hanya sekadar warga biasa yang turun ke jalan-jalan kota Selma’,” tambah Pratt. M assa yang berjalan kaki dengan rapi dan damai itu tiba-tiba berhenti beberapa langkah sebelum menginjakkan kaki di Jembatan Edmund Pettus saat sudah memasuki siang. D i ujung jembatan ternyata sudah tampak lautan aparat berhelm biru. Tak satu pun dari aparat itu memajang wajah ramah. John Lewis yang turut jadi korban penganiayaan polisi. ( encyclopediaofalabama.org /Library of Congress). Sekitar 15 aparat sudah bersiap dengan kudanya dan ratusan yang lain dari Kepolisian Dallas County dan warga kulit putih yang dipersenjatai, juga sudah bersiap dengan tongkat polisi masing-masing. Dari kumpulan pagar hidup aparat itu, Komandan Kepolisian AlabamaMayor John Cloud mengeluarkanperingatan kepada massa. “Aksi ini melanggar hukum. Aksi berjalan kaki Anda bukanlah aksi yang kondusif terhadap ketertiban umum. Anda semua diperintahkan untuk membubarkan diri dan kembali ke gereja atau rumah Anda,” seru Cloud, dikutip Garrow. Hosea Williams, sang pemimpin aksi, mencoba untuk bernegosiasi dengan Cloud . Namun upayanya ditolak Cloud y an g menegaskan bahwa jika dalam dua menit massa tak membubarkan diri, kepolisian terpaksa melancarkan tindakan “yang diperlukan”. Kebrutalan polisi saat menyerang ratusan aktivis HAM kulit hitam pada "Bloody Sunday". (NMAAHC/NVRMI). Massa yang bergemingakhirnya memaksa Cloud memerintahkan anak buahnya bergerak: “Pasukan, maju!” Aparat pun sontak menyerang massa secara sporadis. Pentungan tongkat polisi yang mengayun serentak maupun terjangan anggota polisi berkuda langsung menerjang tanpa pandang bulu. Perempuan, seperti yang dialami Amelia Boynton dan Joanne Bland, turut jadi korban. “Hal terakhir yang saya lihat dari ingatan saya dari jembatan itu adalah, kuda polisi berlari menerjang seorang perempuan dan menginjaknya. Suara yang ditimbulkan kepalanya kala menghentak permukaan jalan sangat mengerikan. Anda bisa kabur dari polisi yang berjalan kaki tapi tidak dengan polisi yang berkuda,” kenang Bland, dikutip Pratt. Jurnalis New York Times Roy Reed , yang meliput peristiwa itu , mengenang nya. “Polisi berseragam dan berhelm biru serta putih menerjang dengan menghentakkan tongkat sekuat tenaga dan menembakkan gas air mata. Sekitar 10-20 aktivis di baris pertama yang tersapu serangan itu berteriak sambil melindungi kepala mereka. Polisi terus mendesak massa , tak peduli jeritan massa Negro diiringi sorakan dan tawa warga kulit putih yang menonton serangan itu , ” ujarnya . Kebrutalan polisi di Selma yang jadi kegegeran nasional. ( Selma’s Bloody Sunday / Protest at Selma ). Massa akhirnya mundur dan berhamburan kembali ke Selma. Dari sekitar 600 orang anggota massa aksi, 17 di antaranya kritis dan 50 lainnya luka-luka ringan setelah “pembantaian” itu. Lewis salah satu di antara korbannya.Ia mengalami retak pada tengkoraknya dan meninggalkan bekas luka yang tak pernah hilang di kepalanya hingga ia wafat pada Juli 2020. Kala berita serangan itu tersebar oleh media pada Senin pagi, 8 Maret, sejumlah politikus di Gedung Capitol (parlemen) berang. Sementara, Presiden Johnson mencoba mengonfirmasi kronologi kejadian yang dikenal sebagai “Bloody Sunday” (Minggu Berdarah) itu via sambungan telefon ke Jaksa Agung Nicholas Katzenbachserta Senator Negara Bagian Alabama Lister Hill. Sementara, King mengetahui kejadian itu dari pengacara SCLC Henry Arrington. King yang juga marah akhirnya bertolak ke Selma dan kembali mengorganisir dan memimpin aksi serupa pada Selasa, 9 Maret. King tetap memimpin aksi kendati Wakil Jaksa Agung John Doar dan mantan Gubernur Florida LeRoy Collins yang di utus Presiden Johnson datang ke Selma untuk meminta King menunda aksi. Dr. Martin Luther King Jr. memimpin aksi di Selma beberapa hari setelah "Bloody Sunday". (Library of Congress). King lalu mencoba kompromi. Collins yang menjadi “mediator”sudah mendapat kepastian dari aparat Alabamabahwa keselamatan King dan massa akan terjaminasalmerekamenggelar aksi dari Selma melalui rute lain. Maka pada 9 Maret, King memimpin massa melalui rute yang sudah disepakati dengan Collins: melewati Jembatan Edmund Pettus, lalu berceramah kepada massa, untuk kemudian balik kanan. Momen itu dikenal sebagai “Turnaround Tuesday” (Selasa Balik Kanan). Hingga 25 Maret 1965, aksi-aksi serupa terus terjadi. King masih memimpin massa di Selma. Hank Sanders masih ingat betul momen hari terakhir itu di mana King tak lelah menuntut hak asasi warga kulit hitam, terutama tentang hak memberi suara dalam pemilihan. “Saat Dr. King mengatakan: ‘Berapa lama lagi?’ dan kami semua menyahut serentak: ‘Tidak lama lagi!’ Saat itu saya berpikir memang tidak akan lama lagi. Tetapi hingga kini, lebih dari 50 tahun kemudian, kami masih harus memperjuangkan dan melindungi apa yang ditinggalkan dalam Undang-Undang Hak Suara dan kemudian mencoba menegakkannya,” tandas Sanders, sebagaimana disitat National Public Radio , Jumat (5/3/2021).

  • Investasi Asing dalam Pengangkatan Muatan Kapal Tenggelam

    Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan pada Selasa (2/3/2021) bahwa investor asing dapat menanamkan modal dalam kegiatan pengangkatan benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT). Kegiatan ini menjadi salah satu dari 14 bidang usaha yang dibuka bagi investasi. Selain pengangkatan BMKT yang sesungguhnya peninggalan arkeologi bawah air, bidang usaha di ranah kebudayaan dan sejarah yang masuk daftar terbuka bagi investasi adalah penyelenggaraan museum pemerintah dan jasa pengoperasian wisata peninggalan sejarah dan purbakala, seperti candi, keraton, prasasti, petilasan, dan bangunan kuno. Ketiga kegiatan itu awalnya masuk dalam daftar 20 bidang usaha yang dilarang bagi investasi berdasarkan Perpres No. 44 Tahun 2016. Namun, Perpres No. 10 Tahun 2021 merevisinya sehingga hanya enam bidang usaha saja yang terlarang. Baca juga:  Utamakan Nilai Ekonomi, Ancaman Bagi Situs Bersejarah Arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, Agni Sesaria Mochtar,menyayangkan jika keputusan itu akan direalisasikan. “Terlepas dari investor asing atau dalam negeri, yang salah menurut saya di sini adalah tinggalan budaya yang dianggap sebagai bisnis komersial,” kata Agni kepada Historia.id . Berdasarkan pengalaman, proses pengangkatan yang bertujuan komersial biasanya hanya berorientasi mengambil tinggalan arkeologi dari dasar laut sebanyak-banyaknya dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. “Otomatis konteksnya sudah hilang. Banyak sekali informasi, pengetahuan, dan nilai-nilai yang hilang karena rusaknya konteks itu,” ujar Agni. Ratusan Titik Kapal Karam Indonesia menjadi pusat pertemuan global pada 1480–1650, yang oleh Anthony Reid, sejarawan Australia National University, disebut sebagai age of commerce. Dengan lautnya yang luas dan posisinya yang strategis, banyak kapal bermuatan barang berharga melintasi kepulauan Nusantara. Maka, t ak heran kalau di perairan Indonesia banyak peninggalan arkeologi bawah air. Agni Sesaria Mochtar mencatat jumlahnya dalam makalah berjudul “ In-Situ Preservation sebagai Strategi Pengelolaan Peninggalan Arkeologi Bawah Air Indonesia” dalam Kalpataru: Majalah Arkeologi  Vol. 25 No. 1 (2016). Menurutnya, Litbang Oseanologi mencatat kurang lebih 463 titik kapal karam. Sementara Arsip Organisasi Arkeologi di Belanda mencatat sekira 245 kapal VOC karam . Arina Hukmu Adila dalam tesisnya di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang berjudul “Pengaturan Pengelolaan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam di Indonesia Berbasis Cultural Resource Management”, mendata pada 2008 ditemukan 463 titik kapal karam yang tersebar di perairan Indonesia. Dalam dokumen Road Map Pengelolaan BMKT disebutkan potensi ekonomi dari 463 titik BMKT diperkirakan mencapai Rp127,6triliun. Agni menjabarkan, titik-titik itu tersebar di perairan Selat Malaka, Selat Bangka, perairan Riau, Selat Gaspar, perairan Belitung, perairan Enggano, perairan Kepulauan Seribu-Selat Sunda, Pelabuhan Ratu, perairan Cilacap-JawaTengah, Laut Jawa yang meliputi perairan Karimun Jawa dan Pantai Jepara, Selat Madura-Pulau Kangean, Selat Karimata, Nusa Tenggara Barat-Timur, perairan Arafura, perairan Papua, perairan Morotai-Teluk Kao, perairan Halmahera Tidore-Bacan, perairan Ambon Buru, perairan Teluk Tomini dan perairan Sulawesi termasuk Selat Makassar. Baca juga:  Melindungi Kenangan Kapal Perang Situs arkeologi bawah air tak hanya kapal karam. Bangkai pesawat dari masa Perang Dunia II juga tersebar di perairan Indonesia Timur, seperti Halmahera Utara dan Maluku Utara. Kapal karam biasanya memuat komoditas dagang. Berbagai barang muatan seperti keramik, logam mulia, perhiasan emas, hingga koin mata uang kuno menjadi incaran pemburu harta karun. Ratusan kapal karam di perairan Indonesia menjadi sasaran pencurian. Kasus fenomenal adalah pencurian muatan kapal VOC De Geldermalsen yang karam di perairan Bintan Timur tahun 1986 oleh Michael Hatcher, pemburu harta karun asal Australia. Hasil jarahannya dilelang di balai lelang Christie senilai $17 juta dolar. Kasus lain adalah pengangkatan kapal tenggelam di perairan Cirebon pada April 2004 sampai Agustus 2005 yang dilakukan PT. Paradigma Putra Sejahtera bekerja sama dengan Michael Hatcher. Sekira 271.381benda berharga berhasil dilelang pada 5 Mei 2010. Contoh temuan arkeologi bawah air dari kapal karam. ( Adnan Buyuk /Shutterstock). Demi Pendapatan Negara Pada 1989, pemerintah membentuk Panitia Nasional (PANNAS) BMKT. Panitia ini diketuai Menteri Kelautan dan Perikanan dengan anggota pejabat eselon satu dari kementerian atau lembaga terkait, termasuk dari Kemendikbud (dulu Kemenbudpar) dan Dirjen Kekayaan Negara.Tujuan panitia ini untuk mengontrol kegiatan pengangkatan yang dilaksanakan di perairan Indonesia. Baca juga:  Kisah Kapal Pesiar Olympic, Titanic, dan Britannic Jose A. Lukito dalam “Peran Ditjen Kekayaan Negara Dalam Penanganan BMKT” di laman Dirjen Kekayaan Negara , menjelaskan bahwa PANNAS melakukan pengelolaan BMKT mulai dari izin survei, izin pengangkatan, pemilihan koleksi negara, penjualan selain koleksi negara, sampai sertifikasi dan pemindahtanganan BMKT baik ke pembeli dalam negeri maupun ke luar wilayah Indonesia jika dimiliki oleh pihak asing. “Karena dulu orientasinya masih komersial, orang-orang kebudayaan sering kalah suara. Istilah BMKT pun masih jadi perdebatan sampai sekarang antara Kemendikbud dan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan),” kata Agni. Selama ini kegiatan pengangkatan muatan kapal karam dilakukan bersama antara pemerintah dan perusahaan. Keppres No. 25 Tahun 1992 mengatur bahwa benda berharga asal muatan kapal yang tenggelam harus dijual di muka umum dengan perantaraan Kantor Lelang Negara atau Balai Lelang Internasional setelah memperoleh persetujuan PANNAS.Hasil penjualannyadibagi dua antara pemerintah dan perusahaan. Baca juga:  Tiga Kali Kapal Ini Celaka di Indonesia Menurut Ashadi Mufsi Batubara, Ketua Jurusan Arkeologi Universitas Jambi, dalam tulisannya “Perlindungan Cagar Budaya Bawah Air dalam Kajian Analisis Hukum” dalam Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur  Vol. 8 No. 1 (2014),saat itu jelas bahwa benda cagar budaya bawah air masih dijadikan lahan pencarian keuntungan. “Masih dianggap sebagai harta karun menggiurkan bukan sebagai benda warisan budaya yang bernilai sejarah dan ilmu pengetahuan,” tulis Ashadi. Menteri Keuangan kemudian mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 184/PMK.06/2009 (PMK 184) yang mengatur tata cara penetapan status penggunaan dan penjualan benda berharga asal muatan kapal tenggelam. Benda berharga dari kapal karam diseleksi oleh Depbudpar untuk menentukan benda koleksi negara (BMN). Yang tak masuk BMN dapat dijual untuk meningkatkan penerimaan negara. “Jadi hanya BMKT berstatus nonkoleksi negara dan BMKT berstatus selain BMN yang dapat diberikan persetujuan penjualan oleh Menteri Keuangan berdasarkan permohonan dari Menteri Kelautan dan Perikanan,” tulis Jose.  Baca juga:  Kapal Angkatan Laut Australia Celaka di Selat Sunda Penjualan BMKT nonkoleksi negara dilakukan lewat lelang melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Apabila tiga kali lelang melalui KPKNL tak terjual, Menteri Kelautan dan Perikanan bisa melakukan penjualan lelang melalui balai lelang swasta atau internasional, penjualan nonlelang, atau penjualan dengan cara lain. Menurut Asyhadi, PMK 184 berpatokan pada UU No. 5 Tahun 1992 yang masih sedikit memperhatikan cagar budaya bawah air. Dalam UU itu, warga negara asing diperbolehkan memiliki atau menguasai benda cagar budaya. Syaratnya benda itu dikuasai secara turun-temurun, jumlahnya sudah banyak, dan sebagiannya telah dikuasai negara. UU itu juga melarang setiap orang membawa benda cagar budaya ke luar wilayah Indonesiatanpa izin pemerintah. “Dapat juga dilihat bahwa antara UUCagar Budaya, Keppres No. 25, dan Peraturan Menteri Keuangan justru terkesan tumpang tindih,” tulis Asyhadi. UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya kemudian dicabut dengan keluarnya UU Cagar Budaya tahun 2010. Dalam UU ini, benda muatan kapal karam dilindungi sebagai tinggalan budaya yang terlarang untuk dimiliki negara asing dan atau dibawa ke luar Indonesia. Pasal 14 ayat 1 menyebut bahwa warga negara dan/atau badan hukum asing tidak dapat memiliki dan/atau menguasai cagar budaya kecuali yang tinggal menetap di wilayah Indonesia. Lalu Pasal 68 ayat 1 menegaskan bahwa cagar budaya hanya bisa dibawa ke luar wilayah Indonesia untuk kepentingan penelitian, promosi, dan/atau pameran. Perlu Tenaga Ahli Berlisensi Terbitnya UU Cagar Budaya Tahun 2010 ditindaklanjuti dengan langkah moratorium. Sejak 11 November 2011 sampai 2014, PANNAS BMKT memberlakukan moratorium pemberian rekomendasi izin survei dan izin pengangkatan BMKT. Pada 2014 , kebijakan moratorium perizinan survei dan pengangkatan BMKT sempat dihentikan selama enam bulan. K embali diperpanjang sampai 21 Desember 2016.  Dalam proses revisi Perpres No. 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal (Perpres Daftar Negatif Investasi/DNI), Menteri Kelautan dan Perikanan mengusulkan agar bidang usaha pengangkatan BMKT yang semula terbuka dengan syarat khusus menjadi tertutup bagi investasi. Alasannya barang-barang dari kapal tenggelam merupakan warisan peradaban dan kebudayaan Indonesia yang harus dijaga dan dirawat untuk keperluan ilmu pengetahuan. Baca juga:  Enam Tragedi Kapal Selam Rusia Presiden JokoWidodo sempat mengeluarkan Perpres No.44 Tahun 2016 Tentang Daftar Negatif Investasi yang melarang investasi pengangkatan BMKT. Namun,Perpres No. 10 Tahun 2021 merevisinya sehingga investasi pengangkatan BMKT kembali terbuka termasuk bagi asing. “Aturan serupa pernah sempat dimoratorium dengan Permen KKP tahun 2016. Dari 2016 belum pernah dibatalkan moratoriumnya, baru sekarang ini ada wacana untuk mengizinkan lagi pengangkatan benda-benda arkeologi dari kapal tenggelam,” kata Agni.  Kepala BKPM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tak akan mempermudah perizinan investasi pengangkatan BMKT. Namun, pada praktiknya perlu ada kajian ahli terkait status benda tersebut, terutama apakah berstatus benda cagar budaya atau bukan.  Baca juga:  Kapal Perang Jerman Karam di Sukabumi? Agni menilai saat ini koordinasi antara dua kementerian, KKP dan Kemendikbud, sudah jauh lebih baik. KKP pun sudah berorientasi pada pelestarian.  Pada 2018, sudah ditetapkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengelolaan BMKT. Standar ini ditujukan bagi seluruh komponen termasuk pemerintah.  SKKNI memiliki ruang lingkup meliputi perencanaan kegiatan, survei, pengangkatan, dan pemanfaatan baik di lokasi maupun di darat. “Mestinya orang-orang yang boleh menangani benda-benda arkeologi bawah air hanya yang mempunyai lisensi sesuai SKKNI tersebut, atau memang pakar di bidangnya. Termasuk di antaranya arkeolog, konservator, sampai kurator,” kata Agni.

  • Senandung Masa Lalu dari Kaset Pita

    Hari Musik Nasional jatuh tiap 9 Maret. Pemilihan berdasar pada kelahiran Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia yang berjudul Indonesia Raya . Walaupun baru ditetapkan pada 2013, musik di Nusantara sendiri sudah mengalun sejak lampau dengan berbagai medium pemutarnya. Salah satunya kaset. Foto berbagai jenis musik yang direkam dalam kaset. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kaset kali pertama dibuat oleh perusahaan Philips di Eropa pada 1963. Di Amerika Serikat, kaset disebut compact cassette. Memasuki dekade 1970-an, kaset semakin populer di industri musik dunia hingga akhirnya menyapa Indonesia. Baca juga:  Cerita dari Gulungan Pita Sebelumnya, para musisi dalam negeri masih menggunakan piringan hitam sebagai media rekam untuk memperdengarkan musik mereka kepada para penikmat musik. Hingga dekade 1970-an, barulah piringan hitam mulai berganti menjadi kaset. Tampak ratusan kaset tersusun rapi di salah satu kios di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat. (Fernando Randy/ Historia.id ). Menurut Muhammad Mulyadi, sejarawan Universitas Padjajaran, dalam Industri Musik Nasional (Pop, Jazz, Rock 1960-1990) , perusahaan rekaman dalam negeri pertama kali menggunakan kaset pada 1973. Murah, praktis, dan bisa dibawa kemana saja menjadi alasan mengapa akhirnya kaset mulai meroket di kalangan musisi.  Baca juga:  Dari Gramofon hingga Music Streaming Bahkan, di puncak popularitasnya pada 1980 hingga 1990-an, industri kaset turut serta mendongkrak pemasukan negara. Miliaran rupiah masuk ke kas negera melalui stiker Pajak Pertambahan Nilai dari setiap keping kaset yang dijual. Berbagai jenis kaset yang tersisa saat ini. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu pedagang kaset yang tersisa di kawasan Jalan Surabaya, Jakarta Pusat. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tapi roda nasib berputar. Kaset yang tadinya populer, berangsur ditinggalkan. Era merekam dengan metode pita berganti dengan digital. Dekade 2000-an menandai akhir kaset setelah muncul era compact disc hingga platform musik digital. Baca juga:  Asal-Usul Pemutar Musik Tapi sebenarnya kaset tidak sepenuhnya hilang dari peredaran. Masih banyak pedagang kaset di Jakarta seperti di Blok M, Jalan Surabaya, dan Jatinegara. Kebanyakan yang dijual adalah kaset lawas. Salah satu pedagangnya bernama Ridwan (47). “Saya amat menyukai musik sejak kecil,” kata Ridwan. Menurutnya, pembeli kaset bukan hanya kolektor berusia lanjut, melainkan juga anak-anak muda. “Mungkin karena mereka tidak mengalami masa kaset jadi penasaran dan akhirnya beli,” tambahnya. Ridwan salah satu penjual kaset di kawasan Blok M. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ridwan saat menunjukan salah satu kaset favoritnya. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ridwan membersihkan salah satu kaset miliknya menggunakan alat pemutar kaset dan tisu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ketika Historia.id menyambangi tokonya di Blok M, tampak beberapa pembeli yang usianya beragam. Pemandangan serupa juga tampak di toko kaset milik Untung yang juga terletak di Blok M. Beberapa anak muda terlihat asyik mengobrol dengan pria asal Bogor tersebut sebelum membeli sebuah kaset Jazz. Baca juga:  Mengalun Bersama Sejarah Jazz “Menurut saya keunikan kaset itu banyak. Dari cover albumnya yang bagus, kualitas suara karena itu pita, dan mungkin sensasinya saat kita memperbaiki pita itu saat kusut atau kotor,” katanya. Untung, salah satu penjual kaset terlama di kawasan Blok M. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pita yang saat ini mulai ditinggalkan oleh para musisi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu kaset yang diputar dikawasan Blok M. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pada akhirnya memang hanya semangat untuk mengkoleksilah yang membuat benda seperti kaset masih tetap ada hingga saat ini. Selain itu tentu keyakinan bahwa musik tidak akan pernah berhenti. Seperti keyakinan yang dikatakan oleh Untung. “Kenapa saya masih berdagang kaset hingga era saat ini, karena saya yakin kaset tidak pernah sepi peminat dan musik tidak akan pernah mati,” tutupnya. Berbagai album yang ada di kios milik Ridwan di Blok M. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu album milik para musisi senior Eros, Chrisye, dan Yockie yang masih direkam dalam pita kaset. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Terjebak di Plataran (2)

    Eks Sersan J.A. Roubos masih ingat kejadian itu. Suatu pagi dia dan anak buahnya dari Peleton 2 Kompi ke-3 Batalyon I Resimen Infanteri ke-15 melakukan raid (penyerbuan mendadak) ke suatu basis gerilyawan Republik. Akibat aksi itu, kubu TNI menjadi kocar-kacir dan panik. Tanpa ampun pasukan Roubos terus memburu mereka dengan mengikuti jejak mundur para gerilyawan tersebut: merambah sawah-sawah yang padinya sudah setinggi kira-kira 50-70 cm. “Dalam gerakan pembersihan itu, Roubos mengaku berhasil menewaskan seorang Jepang dengan bayonet-nya. Ini jelas agak ganjil, karena di tubuh MA tak ada seorang pun eks tentara Jepang” kata sejarawan Moehkardi. Mantan dosen sejarah AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) itu mendengar langsung pengakuan tersebut dari rekaman wawancara Roubos dengan Kolonel C.A. Heshusius. Pada April 1977, Kepala Sectie Krijgsgeschiedenis Koninklijke Landmacht (Seksi Sejarah Perang Tentara Kerajaan Belanda) tersebut mengirimkan rekaman itu kepada Moehkardi. Menurut sumber Belanda tersebut, raid ke Tlatar (Plataran) merupakan salah satu bukti keberhasilan operasi pembersihan militer Belanda di Indonesia. Bahkan karena keberhasilan itu pula, pada 1950 Sersan Roubos diganjar oleh pemerintah Belanda dengan penghargaan bintang De Bronzen Leeuw. De Bronzen Leeuw merupakan bintang yang dianugerahkan oleh Kerajaan Belanda atas seseorang yang telah memperlihatkan keberaniannya dan kekuatan kepemimpinannya dalam suatu pertempuran yang menguntungkan pihak militer Belanda. Berdasarkan wawancara Heshusius yang dikutip oleh Moehkardi dalam bukunya Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945—1949 itu, disebutkan sebenarnya pasukan Belanda yang terlibat dalam raid di Plataran jumlahnya tidak memadai yakni 75 orang (setengah kompi).  Jumlah itu masih dibagi menjadi 3 peleton tidak lengkap yang berisi masing-masing 25 prajurit. “Tiap peleton diperkuat dengan 3 Bren dan masing-masing memegang Sten, Karabein dan granat,” ungkap Moehkardi. Dalam serangan itu, Peleton II pimpinan Roubos menjadi ujung tombak dengan melakukan gerakan dari arah selatan. Sementara Peleton I berada di sayap kanan dan bergerak dari arah timur sedangkan Peleton III menyokong gerakan Peleton II dari belakang. Peleton III inilah yang kemudian melakukan gerakan meningkar lewat Karangbatu di utara terus ke timur dan menghabisi anak-anak MA. Saat bergerak ke Plataran itulah tetiba suara Bren menyalak dari kubu TNI dan sempat membuat gerakan pasukan Belanda terhenti. Namun anehnya, itu terjadi hanya sejenak. Rupanya suara senjata berat tersebut berasal dari Letnan Dua Utoyo Notodirjo.   Utoyo yang melihat situasi sangat kacau berinsiatif mengambil Bren dari seorang kadet MA yang terluka lantas memberikan perlindungan kepada kawan-kawannya yang tengah melakukan gerakan mundur tak teratur. Namun malang saat menembakan senjata Bren itulah  sebutir peluru menembus helm baja Utoyo hingga menyebabkan dia tewas seketika. Nasib serupa juga dialami V.C. Husein. Tidak sempat mundur dari Plataran, Husein justru bertemu dengan Roubos dan anak buahnya di tengah sawah. Maka terjadilah pertarungan jarak dekat dengan menggunakan bayonet yang berakhir dengan terbunuhnya Husein. Husein yang memiliki ciri fisik dan sikap seperti seorang serdadu Jepang rupanya dikira serdadu Jepang beneran oleh Roubos. Bisa jadi karena itulah, serdadu-serdadu Belanda (termasuk Roubos) yang mengepungnya memperlakukan jasad Husein begitu brutal: kepalanya dipenggal dan tak pernah ditemukan kembali. “Faktor dendam karena pernah dikalahkan Jepang pada 1942 menyebabkan serdadu-serdadu Belanda itu berlaku sadis terhadap Husein,” ungkap Moehkardi dalam suatu wawancara dengan saya pada 2017. Selain Utoyo dan Husein, ikut gugur juga beberapa alumni dan kadet MA lainnya yakni Letnan Dua Sukoco A, V.C. Soemartal, V.C. Sarsanto, V.C. Soeharsoyo, V.C. Soebijakto ditambah seorang prajurit TP (Tentara Pelajar) bernama Marwoto. Sementara V.C. Sutopo dan V.C. Sunarto B mengalami luka yang cukup parah. Insiden Plataran menjadi pelajaran terbaik bagi para alumni dan kadet MA bahwa suatu kesatuan pasukan tanpa adanya komando yang jelas hanya akan membinasakan pasukan tersebut. Dan memang saat terjadi peristiwa itu, semua kekuatan TNI yang berkumpul di sana memang sama sekali tak terkoordinasi karena niat mereka hanya singgah dan lewat saja. “Jadi begitu mereka panik, anak-anak MA langsung digiring ke killing ground (kawasan pembantaian),” ungkap Moehkardi. Sebaliknya bagi pihak militer Belanda sendiri, Insiden Plataran adalah “keuntungan yang tak disengaja”. Apa sebab? Karena seperti dikatakan oleh Daud Sinjal dalam Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya , pertempuran itu sebenarnya sama sekali tak pernah direncanakan. “Karena sasaran gerakan pembersihan Belanda semula adalah Kringinan yang disangka masih menjadi markas gerilya MA,”ungkap Daud. Hingga kini masyarakat Plataran selalu mengenang insiden tersebut. Mereka menghormati alumni dan kadet MA yang gugur sebagai para pahlawan yang pemberani terutama V.C. Husein. Secara turun temurun dikisahkan oleh orang-orang Plataran bagaimana saat menjelang detik-detik kematiannya yang tragis Husein mengamuk bak seekor banteng ketaton (terluka). Begitu berkesannya masyarakat Plataran terhadap sosok lelaki Sunda kelahiran Sukabumi tersebut hingga namanya diabadikan sebagai nama mata air di kampung itu.

  • Loyalis Sukarno Bernama Idham Chalid

    Menjelang dekade 1960-an, Indonesia dihadapkan dengan situasi politik yang tidak stabil. Berbagai perubahan tidak terduga terjadi di tubuh pemerintahan Sukarno. Presiden, melalui dekrit tahun 1959, mulai mengubah gaya kepemimpinannya. Dari semula mengadopsi sistem parlementer, menjadi suatu pola yang disebut Bung Karno sebagai Demokrasi Terpimpin. Perubahan itu tidak selamanya mendapat dukungan rakyat. Sejumlah tokoh bahkan menyuarakan secara gamblang ketidaksetujuannya akan penerapan Demokrasi Terpimpin di Indonesia. Seperti terjadi di tubuh Nadhlatul Ulama, yang sebagian besar tokohnya tidak suka dengan sistem baru pilihan Sukarno tersebut. Namun meski mayoritas tidak suka, di NU masih ada yang mendukung keputusan sang presiden. Idham Chalid salah satunya. “Kalau kedekatan dengan Bung Karno itu bisa dilihat dari berapa kali beliau dipercaya jadi Wakil Perdana Menteri. Bahkan dari cerita-cerita beliau, beliau adalah salah satu orang yang menggagas ide pengangkatan Bung Karno jadi presiden seumur hidup. Beliau yang memberikan usulan,” kata Grandy Ramadhan, cucu Idham Chalid, kepada Historia . Meski Grandy menyebut dukungan Idham kepada Sukarno merupakan bentuk kedekatan namun menurut sejarawan Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah Nadhlatul Ulama 1952-1967 , situasi politiklah yang memaksa Idham melakukan itu. Jika dia tidak mendukung Demokrasi Terpimpin justru akan membahayakan NU dan karir politiknya. Dia bisa saja tidak meniru retorika Sukarno, tetapi andai itu dilakukan posisi NU terancam dan disudutkan. Jika NU disudutkan maka tidak ada ormas Islam besar lagi yang masuk sistem politik. Hanya dengan NU umat Islam Indonesia bisa terwakili. Pada Agustus 1959, sebulan setelah Sukarno mengumumkan dekrit, Idham diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Tugas badan ini adalah memberikan pertimbangan kepada presiden dan pemerintah, yang kala itu keberadaannya lebih berpengaruh dibandingkan parlemen. Menurut Ahmad Muhajir dalam Idham Chalid: Guru Politik Orang NU , pengangkatan Idham menjadi anggota DPAS merupakan bukti kedekatannya dengan Sukarno. Dia bahkan menjadi pembela blak-blakan dari manifesto ideologis nasionalistik populis Sukarno. “Komunisme, seperti halnya anjing, adalah najis. Tapi Sukarnoisme tidaklah najis, karena dia bukan komunisme. Paling banter Sukarnoisme itu adalah seperti anjing laut dan sebagaimana Anda tahu anjing laut menurut Islam tidaklah najis,” kata Idham seperti dikutip H. Maulwi Saelan dalam Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66 . Menurut Muhajir, dalam segi kepemimpinan Idham memiliki sejumlah kesamaan dengan Sukarno. Keduanya, imbuh Muhajir, sama-sama memiliki kharisma yang mampu menggerakan massa. Jika Sukarno bisa membuat orang tergerak dengan kata-kata yang cerdas dan tajam, Idham mampu membuat siapa saja yang berhubungan dengannya merasa nyaman. Dia bahkan mendapat julukan ahli yahannu , istilah sehari-hari di kalangan pesantren yang berarti “mengatakan hal-hal yang menyenangkan orang, menyampaikan apa yang ingin mereka dengar”. Selain itu keduanya dikenal sebagai orator ulung. Sukarno dengan gaya berbicara yang tegas, berapi-api, mampu memainkan emosi para pendengarnya. Sementara Idham lebih kalem. Gaya pidatonya mendatangkan simpati. Dia tahu cara menghadapi emosi massa. Fealy mencatat bahwa kepribadian dan gaya kepemimpinan Idham begitu dekat. Dia ahli dalam berkomunikasi, punya banyak lelucon, dan sangat pandai membaca suasana hati para pendengarnya. Pidato-pidato Idham merupakan perpaduan dari khotbah keagamaan, dongeng, dan propaganda politik yang selalu disampaikan dengan penuh kerendahan hati. “Kalau mau dianalogikan dengan jurus pesilat: Sukarno menyerang dengan jurus yang keras dan gesit, Idham menyambut serangan dengan jurus lembut, namun mematikan,” ungkap Muhajir. Idham menjadi salah satu tokoh yang paling loyal terhadap Sukarno. Kesetiannya itu, kata Muhajir, ditunjukan saat peristiwa Gerakan 30 September. Ketika banyak pihak di NU mempertanyakan posisi Sukarno, Idham masih menaruh kepercayaan kepadanya. Dia mencoba meredam kecurigaan tokoh-tokoh NU. Namun ketika perubahan sudah tidak bisa lagi dibendung, Idham terpaksa meninggalkan Sukarno dan memilih mempertahankan kedudukan NU di dalam trasisi kekuasaan yang baru. Semasa pemerintahan Sukarno, Idham menempati beberapa jabatan penting, di antaranya: Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroamidjojo (1956), Wakil Menteri Kabinet Djuanda (1957), anggota DPAS (1959), Wakil Ketua MPRS (1963-1966), Wakil Perdana Menteri Kedua Kabinet Dwikora (1966). Pada masa itu juga Idham memperoleh beberapa penghargaan dari presiden terkait dengan perjuangannya, yaitu Bintang Gerilya (1956) atas perjuangannya sewaktu bergerilya di Kalimantan, Bintang Maha Putra (1960), dan sejumlah penghargaan lainnya.

  • Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey

    KOTA Gotham di suatu malam. Harleen Quinzel alias Harley Quinn (diperankan Margot Robbie) keluar dari sebuah diskotek dengan setengah mabuk. Semalaman ia berpesta dengan tingkah polah konyol sehingga mengusik banyak tamu. Tapi toh semua orang tahu dia takkan tersentuh karena Harley adalah pacar supervillain yang disegani, Joker. Siapapun tak berani menegur, apalagi membalasnya. Namun, banyak orang, termasuk bos mafia pemilik diskotek Roman Sionis alias Black Mask (Ewan McGregor), tak tahu Harley dan Joker sudah putus. Lama-kelamaan, Harley tak tahan menyimpan rahasianya lantaran dianggap bukan cewek mandiri dan terus-menerus bergantung pada perlindungan Joker. Ia pun meng- update status hubungannya dengan Joker. Boom! Ia menyatakan putus dengan Joker dengan meledakkan sebuah pabrik cairan kimia. Pabrik cairan kimia dipilihnya karena dulu Harley dan Joker “jadian” setelah Harley tercebur ke tangki cairan kimia. Momen itu menandai perubahan Harley dari seorang psikiater menjadi penjahat nan seksi dan konyol. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker Ledakan di sebuah pabrik kimia oleh Harley itu jadi adegan pembuka film Birds of Prey and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn garapan sineas Cathy Yan. Film superhero kedelapan waralaba DC Extended Universe ini merupakan spin-off dari film sebelumnya, Suicide Squad (2016). Alur cerita lantas beringsut ke adegan konsekuensi Harley atas aksinya tersebut. Semua figur penjahat yang sebelumnya segan padanya karena dia pacarnya Joker, kini berbondong-bondong memburunya untuk membalas beragam ulah Harley yang mereka terima. Harley Quinn diburu banyak penjahat saat sudah putus dari Joker (Warner Bros. Pictures) Harley pontang-panting memberi perlawanan lewat sejumlah aksi konyol. Saat dia mulai kepayahan, Sionis mencoba menolongnya sembari mengajukan satu syarat. Sionis bersedia memerintahkan semua penjahat berhenti memburu Harley asalkan Harley bersedia menjalani misi untuknya: mengambil berlian milik keluarga mafia Bertinelli yang sedang berada di tangan gadis penjambret Cassandra Cain (Ella Jay Basco). Harley yang tak punya pilihan pun bersedia. Ditemani Dinah Lance alias Black Canary (Jurnee Smollett), biduan cum sopir pribadi Sionis, Harley menjalankan misinya. Namun, misi itu ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, Harley juga mulai dikejar-kejar detektif Renee Montoya (Rosie Perez). Sebagaimana Harley, Renee juga sedang berjuang melepaskan diskriminasi gender di Kepolisian Kota Gotham. Perjuangan Renee dimulai dari penyelidikan terhadap Sionis yang kemudian berujung pada perburuannya terhadap Harley yang sedang dimanfaatkan Sionis. Pun ketika Harley dan Black Canary sudah menciduk Cassandra, usaha mereka untuk menuntaskan misi diusik The Huntress (Mary Elizabeth Winstead), cewek jagoan yang acap main hakim sendiri. Baca juga: Captain Marvel , Antara Nostalgia dan Isu Feminisme The Huntress punya dendam pribadi terhadap para pembunuh keluarganya dan perburuannya juga berujung pada aksi perkelahian kocak dengan Harley. Pasalnya, The Huntress selain memburu dendam juga mencari berlian milik mendiang keluarganya. The Huntress belakangan diketahui Harley bernama asli Helena Bertinelli. Seiring alur berjalan, Harley, Black Canary, Renee Montoya, dan The Huntress menyadari bahwa mereka sedang jadi target permainan “Black Mask” Sionis. Keempatnya kemudian bersatu melindungi Cassandra dari Black Mask dan algojonya yang terkenal sadis, Victor Zsasz (Chris Messina). Mau tahu kelanjutan cerita action yang dibumbui aksi-aksi konyol dan kocaknya? Baiknya Anda tonton sendiri Birds of Prey di aplikasi daring Mola TV . Emansipasi Perempuan Kendati Birds of Prey menyematkan genre superhero , toh ia tak laik ditonton anak-anak. Seperti halnya Suicide Squad , film yang rilis perdana secara khusus pada 25 Januari 2020 dan secara umum dua pekan berselang ini sarat adegan sadis, vulgar, dan bertabur kata-kata kasar. Bagi penonton dewasa, Birds of Prey jadi suguhan menarik dan berbeda dari film-film pahlawan super kebanyakan. Pasalnya, Birds of Prey jadi film pertama yang menjadikan karakter Harley Quinn sebagai tokoh utama, di mana sebelumnya sekadar figuran pendamping Joker. Selain itu, sang sineas juga menyisipkan banyak isu emansipasi perempuan di dalamnya. Secara sinematografi, Birds of Prey digarap secara komikal dan dikemas dengan efek visual CGI (computer-generated imagery) yang cukup halus. Efek suaranya yang diracik komposer Daniel Pemberton juga sangat dinamis saat mengiringi adegan-adegan sadis, konyol, maupun menegangkan. Film kian kaya dengan sisipan sederet soundtrack dari genre rap hingga house music yang dibuat untuk menyesuaikan dengan style karakter Harley. Baca juga: Feminisme dalam Enola Holmes Isu emansipasi dibawakan lima tokoh jagoan perempuan dalam Birds of Prey  ( dccomics.com ) Hanya saja, saat dirilis perdana, Birds of Prey gagal menarik perhatian publik dalam dua bulan penayangannya. Padahal dari beraneka testimoni kritikus film, Birds of Prey termasuk film ber-genre superhero yang direkomendasikan. Sang sineas menduga, para penikmat film memang belum siap sepenuhnya menerima tokoh jagoan perempuan. “Saya tahu rumah produksi punya ekspektasi yang sangat tinggi, sebagaimana juga kami tim produksi. Sebenarnya di ruang publik juga ada ekspektasi tentang film dengan tokoh utama perempuan, dan yang paling membuat saya kecewa adalah, ide dari film ini mungkin sudah jadi bukti bahwa kita semua belum siap. Semua orang seperti terlalu cepat menghakimi pada hanya satu sudut pandang,” ujar Yan kepada The Hollywood Reporter , 3 April 2020. Asal-usul Harley Quinn Selain menonjolkan isu-isu emansipasi perempuan, film ini juga jadi yang pertama menampilkan kumpulan superhero “Birds of Prey” di layar lebar. Sebelumnya, kumpulan “Birds of Prey” yang mulanya eksis di serial komik pada 1 Juni 1996, sekadar muncul di live-action di layar kaca lewat drama seri Birds of Prey di stasiun televisi The WB (2002-2003). Jika di versi drama seri tokoh yang lebih ditonjolkan adalah The Huntress dan Batgirl, di versi layar lebar, Harley diplot Yan sebagai tokoh utamanya. Yan juga menyisipkan riwayat Dr. Harleen Frances Quinzel alias Harley Quinn yang sejak kecil sering dibuang ke rumah-rumah asuh hingga menjadi psikiater yang jatuh cinta kepada pasiennya di Rumahsakit Jiwa Arkham, Joker. Belum pernah ada film yang membuka masa lalu Harley, tokoh yang diciptakan penulis komik Paul Dini dibantu ilustrator Bruce Timm pada 1992. Tokoh Harley sendiri dimunculkan Dini dan Timm bukan di komik, melainkan di season 1, episode ke-22 serial kartun Batman: The Animated Series bertajuk “Joker’s Favor” yang ditayangkan perdana oleh Fox Kids , 11 September 1992. Di versi komik, karakter Harley baru eksis di komik The Batman Adventures nomor 12 yang terbit pada September 1993. Baca juga: Para Pemeran di Balik Topeng Batman Margot Robbie menjadi orang pertama yang memerankan Harley di versi layar lebar dan itu membuat karakter fiktif tersebut kian kondang. Sejatinya tokoh Harley sudah populer sejak kemunculannya di versi kartun. Penggambaran karakternya sebagai sosok villain tiada dua. “Otak, otot, dan rupawan –Bruce Wayne bukan karakter DC Comics satu-satunya yang punya kombinasi ketiganya. Seorang psikolog bergelar doktor, punya fisik luwes dan kuat, serta bercitra ‘ femme fatale ’, Harley Quinn tak diragukan lagi jadi simbol karakter perempuan yang kuat di DC Universe. Dalam waktu singkat, ia memicu efek drastis pada pop culture selama 20 tahun dari kemunculan pertamanya. Padahal eksistensinya di waralaba Batman (animasi, red. ) mulanya tak pernah dimaksudkan untuk berkelanjutan dan hanya sekali muncul,” tulis Emilee Owens dalam “It Is to Laugh: The History of Harley Quinn” yang termaktub di buku The Ascendance of Harley Quinn: Essays on DC’s Enigmatic Villain. Harley Quinn dalam seri kartun 1992 (kiri) dan versi komik tahun 1993 (DC Comics) Penciptaan karakter Harley Quinn dikisahkan Paul Dini bahwa ilhamnya didapatnya secara tak sengaja saat jatuh sakit pada suatu hari di tahun 1992. Seperti diceritakannya kepada Digital Spy , 12 September 2017, di tahun itu sejatinya Dini sudah tidak jadi komikus tetap DC Comics. Namun dia tetap diminta bantuan sebagai penulis lepas untuk naskah serial kartun Batman: The Animated Series. “Pada suatu hari saya sedang sakit dan saat beristirahat di rumah, saya menonton (opera sabun) Days of Our Lives di televisi. Saya melihat teman lama saya sewaktu kuliah, Arleen Sorkin, di tayangan itu. Dia memainkan karakter badut perempuan dalam sebuah adegan fantasi. Saya berkata dalam hati: ‘mungkin akan lucu jika saya menggunakan karakter dia untuk karakter tukang pukul perempuan yang memang sudah lama saya ingin buat,’” kenang Dini. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Karakter tukang pukul perempuan itu akhirnya diadaptasi Dini untuk dikreasikan demi menambah tokoh sidekick yang ingin ia tampilkan bersama Joker di serial kartun di atas. Untuk menamakan karakter itu, Dini mengambil inspirasi dari karakter badut lawas khas Italia yang populer sejak abad ke-16, Arlecchino alias Harlequin. Nama Harlequin lantas ia utak-utik menjadi Harleen Quinzel alias Harley Quinn. “Saya menamainya Harley Quinn karena saya pikir nama depan Harley akan jadi nama yang lucu dan menarik untuk sosok seorang gadis, dan banyak nama karakter dalam (waralaba) Batman yang punya nama dari racikan dan permainan kata-kata. Seperti E Nygma, misalnya. Jadi Harleen Quinzel saya rasa pas untuk karakter baru ciptaan saya itu,” lanjutnya. Sosok badut klasik Arlecchino alias Harlequin ( Masques et bouffons ) Bruce Timm yang jadi ilustratornya lalu lalu menyempurnakan pendeskripsian sosok Harley Quinn dengan mengenakannya kostum badut ketat berwarna merah kombinasi hitam dan putih. Namun ketika muncul di serial kartun tersebut, Harley Quinn belum dilengkapi dengan riwayat oleh Dini. Pun di versi komik The Batman Adventures nomor 12 setahun berselang. Setelah melihat sambutan publik yang positif terhadap karakter Harley Quinn, Dini mengimbuhi latar belakang Harley Quinn di komik The Batman Adventures: Mad Love yang terbit pada 14 Desember 1994.  “Dia diperkenalkan sebagai Dr. Harleen Quinzel, psikiater baru di RSJ Arkham yang berencana menulis sebuah buku tentang para kriminal gila yang ditahan di sana. Dia menantang dirinya sendiri untuk menangani Joker, yang justru Harley jadi korban manipulasi Joker hingga jatuh cinta. Saat Joker melarikan diri, Harley ikut dengannya dan jadi pendamping Joker yang paling disayang,” sambung Owens. Baca juga: Wajah Joker dalam Lima Aktor Harley Quinn terus mengalami perubahan penampilan. Di komik Suicide Squad yang rilis pada November 2011, Harley tak lagi tampil dengan kostum badut merah-hitam-putih. Sosoknya berubah menjadi lebih seksi dengan rambut hitam dan merah, mengenakan tank-top dan celana ketat berwarna senada, serta berkulit putih susu sebagaimana warna kulit Joker. “Perubahan drastis pada kostumnya sempat bikin syok dan memicu kemarahan fans. Kostumnya jadi kontroversial karena sangat menonjolkan seksualitas. Walau karakternya tetap populer, butuh waktu lama bagi fans untuk bisa menerima perubahan desain baru itu,” ungkap Owens lagi. Kostum seksi Harley Quinn di versi komik 2011 (kiri) & film Suicide Squad yang diperankan Margot Robbie (DC Comics/Warner Bros. Pictures) Kostum itu juga jadi inspirasi bagi perubahan penampilan Harley lewat film Suicide Squad yang diperankan Margot Robbie. Tim produksi film mengadaptasi kostum versi 2011 itu dengan beberapa perubahan: rambutnya berubah jadi pirang, tank-top merah-hitam berubah jadi t-shirt putih bertuliskan “Daddy’s Little Monster” dan jaket sepinggang bertuliskan “Property of Joker”, serta celana ketat yang diubah dari merah-hitam menjadi merah-biru dengan stoking jaring hitam. “Saat melihat imej Harley Quinn dari film Suicide Squad , saya berpikir: ‘Wah. Dia terlihat sangat manis! Mulanya saya sempat khawatir. Tapi tidak, toh penampilannya tidak terlalu buruk,” ujar Timm dikutip Owens. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Kaum feminis tetap kecewa pada penggambaran Harley yang tetap menonjolkan seksualitasnya. Kendati begitu, sejak diperankan Margot Robbie, karakter Harley makin kondang. Bahkan sejak 2015 kala Suicide Squad baru dirilis trailer -nya, mainan action figure Harley laris di pasaran. “Dari deretan action figures seri ‘DC Super Hero Girls’ seperti Wonder Woman, Batgirl, atau Poison Ivy, mainan Harley Quinn paling laris di kalangan remaja. Diane Nelson, presiden DC Entertainment, dalam pernyataannya pada 2015 mengatakan: ‘DC Super Hero Girls merepresentasikan pemberdayaan dalam strategi jangka panjang kami terkait keragaman karakter perempuan. Saya senang dengan karakter Harley, kami bisa menawarkan role model yang lebih relate dengan para remaja perempuan’,” tandas Owens. Data Film: Judul: Birds of Prey and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn| Sutradara: Cathy Yan | Produser: Bryan Unkeless, Sue Kroll, Margot Robbie | Pemain: Margot Robbie, Mary Elizabeth Winstead, Jurnee Smollett, Rosie Perez, Ewan McGregor, Ella Jay Basco, Chris Messina | Produksi: DC Films, LuckyChap Entertainment, Kroll & Co. Entertainment, Clubhouse Pictures | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Superhero | Durasi: 109 menit | Rilis: 7 Februari 2020, Mola TV Baca juga: Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah

  • Miras dari Air Kali Ciliwung

    PERPRES 10/2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal memancing perdebatan sengit. Pokok masalahnya bukan pada keseluruhan Perpres, melainkan pada lampiran Perpres. Lampiran menyebut pembukaan investasi minuman keras di beberapa wilayah dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat. Tapi lampiran itu akhirnya dicabut. Minuman keras (miras) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah negeri ini. Tiap daerah mempunyai miras khasnya. Polemik tentang miras juga bukan hal baru. Pada masa kolonial, seorang pejabat kolonial bernama J. Kats mengeluarkan buku tentang manfaat dan mudarat miras alkohol. “Mengeluarkan kitab ini ialah dengan dua maksud, pertama: akan memberi pemandangan yang ringkas tentang masalah minuman keras, terutama sekali dapat dipakai untuk Hindia Belanda... dan kedua: akan memberi keterangan bagi guru-guru bumiputera yang hendak memperkatakan perkara ini apa waktu dia mengajar,” tulis J. Kats dalam Bahaja Minoeman Keras serta Daja Oepaja Mendjaoehinja  terbitan 1920. Meski banyak penentangan terhadap miras, produksi miras jalan terus. Di Batavia, pabrik miras berdiri di sekitar aliran Kali Ciliwung. Yusna Sasanti Dadtun dalam tesisnya di Universitas Gadjah Mada berjudul “Air Api di Mulut Ciliwung: Sistem Produksi dan Perdagangan Minuman Keras di Batavia 1873–1898”, menyebut alasan pendirian pabrik itu di tepian Ciliwung. “Karena kayu gelondongan yang digunakan sebagai bahan bakar pabrik dialirkan melalui Sungai Ciliwung dan para pemilik pabrik minuman keras mengambil kayu gelondongan tersebut dari sungai,” tulis Yusna. Memasuki masa kemerdekaan, pabrik minuman keras di Kali Ciliwung berkurang drastis. Sisanya direlokasi. Tapi beberapa pabrik minuman keras masih mengandalkan Kali Ciliwung sebagai sarana produksinya. Misalnya pabrik bir Budjana Yasa. Sebelum kemerdekaan, pabrik ini milik orang Jerman, lalu jatuh ke orang Belanda, kemudian dinasionalisasi jadi perusahaan negara pada 1950-an. Nama produknya Angker Bir. Budjana Djaja membuat bir menggunakan air Kali Ciliwung. “Yang serba bau dan warnanya kotor kekuning-kuningan itu. Terangnya air untuk bir itu disedot dari salah satu sudut kali Banjir Kanal Timur,” ungkap Djaja,  10 Oktober 1964. Tak banyak orang tahu tentang ini sehingga Djaja memastikannya langsung ke pabriknya. Pembuatannya memang menyedot air Kali Ciliwung. “Namun berkat alat-alat teknik yang serba modern, maka air kotor serba bau dari Kali Ciliwung itu dapat disterilkan dan dirobah menjadi air bersih,” terang Djaja menenangkan pembaca dan penikmat bir. Bahan baku bir tak hanya air. Ada juga mauch (sejenis kembang palawija Eropa), hop, gandum, beras, ragi, dan gula. Tiga pertama masih perlu impor, sedangkan tiga terakhir sudah terdapat di dalam negeri. Dua bahan terakhir, beras dan gula, tak digunakan dalam bir impor. Mauch dan hop memberikan rasa pahit kepada bir lokal. Baunya harum dan berkhasiat untuk memberi rangsangan pada urat syaraf tubuh. Pembuatan bir di pabrik Budjana dimulai dari penyortiran gandum. Lamanya 4–8 hari. Lalu gandum dimasukan ke oven. Pabrik itu bisa menghabiskan 1 ton gandum untuk 100 liter bir. Selanjutnya peragian gandum. Bersamaan dengan pemasakan bahan bir seperti air, mauch, dan hop. Bahan-bahan itu lalu dicampur dalam satu ketel sehingga berubah menjadi alkohol dan CO2. Setelah itu, pendinginan bahan-bahan bir dalam suhu minus 0 derajat celcius. Kemudian masuk tahap penyaringan. Tiga kali saringannya supaya bersih. Terakhir, bir dituang ke dalam botol yang sudah disterilkan. Bir ditutup dengan penutup impor. Semua proses tadi telah menggunakan mesin-mesin modern. “Tenaga manusia hanya mengawasi,” tulis Djaja. Dengan begitu, kualitas bir pun tetap terjaga dan kuantitasnya stabil. Bir buatan Budjana Yasa dijual di hotel-hotel, pusat belanja kelas atas, dan tempat wisata lainnya sesuai aturan daerah. Harganya di bawah bir impor. Tapi tetap mahal buat kebanyakan orang. “Biasanya orang yang tiap hari minum bir adalah orang-orang yang padat kantongnya,” terang Djaja . Selama masa ini, permintaan bir di Jakarta terus meningkat. Selain itu, muncul pula desakan untuk inovasi rasa bir. Riset pun dilakukan dengan menggunakan jagung sebagai pengganti beras. “Hasilnya sangat memuaskan karena jagung tidak mengurangi kualitas bir,” ungkap Djaja . Selain Angker, pabrik bir di Jakarta juga memproduksi bir hitam Tjap Srimpi yang mengandung karamel. Popularitas bir ini cukup luas dan sering muncul di iklan-iklan media massa. Pada masa Ali Sadikin menjabat gubernur DKI Jakarta, pabrik bir Budjana Yasa diambil alih oleh pemerintah daerah. Investasi pemerintah daerah di perusahaan bir ini masih bertahan hingga sekarang.*

  • Alkohol dan Kejeniusan Masyarakat Nusantara

    Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021, yang memasukan investasi industri minuman keras sebagai salah satu bidang usaha, menuai kotroversi. Banyak pihak menolak dengan berbagai alasan, dari agama hingga moral. Akibatnya, aturan mengenai industri minuman keras ini kemudian dicabut Presiden Jokowi pada Selasa, 2 Maret 2021. Seiring dengan kontroversi yang muncul sebelum aturan itu dicabut, diskusi mengenai minuman keras bergulir. Alkohol disebut sebagai bagian dari produk kebudayaan lokal Indonesia yang kini masih bias ditemui di beberapa daerah. Di Sumatera Utara terdapat tuak, di Jawa ada ciu, congyang. Sementara, di daerah Indonesia Timur ada sopi dan moke di Nusa Tenggara Timur serta Cap Tikus di Sulawesi Utara. Ikhwal alkohol bahkan telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Prasasti-prasati menyebut minuman beralkohol dengan beragam nama serta kegunaan sejak abad ke-10. Filsuf Tommy F. Awuy dalam Dialog Sejarah “Minum Kemarin, Mabuk Sekarang: Alkohol dan Kejeniusan Lokal” di saluran Youtube dan FacebookHistoria, Kamis, 4 Maret 2021 menyebut bahwa alkohol memang merupakan bagian dari produk kreativitas suatu masyarakat. Kreativitas yang dimaksud Tommy adalah tentang bagaimana manusia merespon kekayaan alam yang tersedia. Respon inilah yang membuat leluhur Nusantara membuat alkohol dengan berbagai kegunaan memanfaatkan pepohonan, buah-buahan, hingga dedaunan yang ada di sekitar mereka. “Dari arak, misalnya, muncul dari lontar, muncul dari aren, dan berbagai hal. Itu respon positif manusia terhadap alam ini,” sebut Tommy. Menurut Tommy, potensi mengolah kekayaan alam menjadi produk baru ini sekaligus menunjukkan rasa hormat manusia terhadap alam itu sendiri. Kaitan manusia, alam, dan alkohol kemudian juga memunculkan aspek spiritualitas. “Itulah respon leluhur kita, dengan kejeniusan mereka menghadirkan produk yang kita lihat sebagai alkohol. Tapi sekarang dilihat itu identik dengan mabuk-mabuk. Ya bukan masalah itu. Jadi kita harus luruskan ini supaya jangan terjadi pembunuhan karakter terhadap alkohol itu sendiri,” jelas Tommy. Sementara, dosen filsafat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia sekaligus aktivis perempuan Saras Dewi menyebut bahwa di Nusantara, alkohol memiliki setidaknya dua aspek penting: sosial dan spiritual. Saras mencontohkan di Bali, misalnya, arak tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan masyarakatnya. Arak biasa dipakai untuk menjaga persaudaraan melalui beragam kegiatan. “Misalnya tengah megibung , atau bersantap bersama, itu pasti disuguhi entah arak atau tuak ya, tergantung,” kata Saras. Dalam perspektif spiritual, Saras menyebut bahwa alkohol menunjukkan daya imanjinasi leluhur luar biasa. Menurutnya, akar tentang spiritualitas alkohol ini telah ada dalam kitab suci Regweda. Dalam Regweda, disebutkan tetang bagaimana dewa mengkonsumsi minuman yang disuling atau diekstrak sehingga menimbulkan rasa keabadian atau immortality . Dalam kepercayaan Hindu-Bali, alkohol juga tak melulu untuk alam manusia, melainkan juga untuk mereka yang berada di demensi lain. Saras yang juga berasal dari Bali mencontohkah bahwa keluarganya biasa menyuguhkan satu gelas kecil arak sebagai persembahan untuk almarhum kakeknya. Arak juga dipakai dalam sembahyang untuk mengajak berkomunikasi dengan “Yang Agung” . “Itu pintu masuknya. Salah satunya dengan arak ya, arak brem lebih tepatnya. Diberikan atau semacam dikucurkan ke tanah,” terang Saras. Di Karangasem, sambung Saras, arak beras juga menjadi bagian dari ritual-ritual sakral. Beras yang berkaitan erat dengan kehadiran Dewi Sri itu, setelah diolah menjadi arak, dipakai untuk mendekatkan diri kepada hal-hal transendental. “Salah satu bagian dari ritualnya adalah bagaimana fermentasi (beras) yang kemudian dinikmati bersama itu seperti mempersatukan tubuh kita manusia biasa dengan tubuh yang sakral, tubuh yang transendental,” jelasnya. Saras menyebut, keberadaan alkohol dalam kebudayaan Nusantara ini menunjukan betapa kaya daya imanjinasi leluhur. Dalam masyarakat yang masih kental dengan animisme dan dinamisme, alkohol merupakan penemuan jenius, bukan semata-mata satu minuman yang digunakan untuk mabuk lalu hilang kesadaran tanpa makna. “Alkohol itu teknologi yang sangat jenius para leluhur kita. Karena, bayangkan, dia mencoba melampaui kesementaraan tubuh dia kan sebenarnya. Dia ingin merasakan sesuatu yang di luar daripada keseharian. Tetapi suatu peristiwa yang dia merasakan kehadiran yang lain, yang agung bahkan,” ungkapnya. Di Bali, minum arak melewati beberapa tahap. Dimulai dari yang ringan, sedang, hingga kemudian mabuk sampai tak sadar yang dalam bahasa Bali disebut punyah. “Jadi kuncinya, seni untuk meminum alkohol adalah bagaimana ada di dua dunia itu, antara sadar dan ketaksadaran itu kan sebenarnya,” katanya. Tommy F. Awuy kembali mengingatkan bahwa alkohol lokal merupakan warisan yang patut dijaga karena merupakan produk yang lahir dari alam yang telah memberikan kehidupan. Dari alkohol lokal, energi alam yang dibutuhkan untuk membangkitkan kreativitas juga muncul. “Alam itu kita lihat sebagai energi karena daunpun bisa menghidupkan kita, akarpun bisa menghidupkan kita, biji-bijianpun bisa menghidupkan kita,” terangnya. Ia berharap, alkohol tidak melulu dinarasikan sebagai barang yang membuat destruksi atau selalu dikait-eratkan dengan perilaku-perilaku kriminal. Sebab, alkohol memiliki nilai-nilai kejeniusan luluhur di dalamnya. “Leluhur respect terhadap alam. Kita harusnya juga kan respect kepada leluhur yang sudah memproduksikan alkohol yang bagi mereka itu adalah buah kreativitas dari respek terhadap biji-bijian, buah-buahan, padi-padian, tadi sampai muncul Dewi Sri itu. Semua itu tidak lepas dari alam yang memiliki energi. Taksu bahasa Balinya,” kata Tommy. Senada dengan Tommy, Saras juga mengajak masyarakat untuk merawat pengetahun leluhur tentang alkohol lokal yang memiliki beragam perspektif. “Menurut saya sekarang adalah waktu untuk penting menulis dan juga menjaga, merawat, melestarikan seluruh pengetahuan nenek moyang, khususnya terkait dengan arak, tuak, brem, sopi, moke yang dari Indonesia timur, yang merupakan jejak leluhur kita, warisan leluhur kita yang begitu berharaga. Harus dijaga,” ujar Saras.

  • Jalan Hidup Idham Chalid

    Dari sambungan telepon, suara itu terdengar sangat antusias. Terasa semangatnya begitu meluap-lupa ketika membicarakan sosok Idham Chlaid yang tak lain adalah kakeknya tercinta. Kenangan semasa kecil dengan Abah, sapaan keluarga untuk Idham Chalid, rasanya tidak mungkin bisa ia lupakan. Di mata Grandy Ramadhan, Idham adalah orang yang sangat rendah hati dan sederhana pola hidupnya. Bahkan pada saat Idham Chalid memegang jabatan yang cukup tinggi di pemerintahan, gaya hidup sang kakek tetap sederhana. Ia ingat betul setiap kali keluarga berpergian ke suatu tempat, sang kakek selalu memilih tempat menginap yang sederhana, tapi tetap nyaman, alih-alih harus tinggal di tempat yang mewah dan mahal. “Beliau sangat anti hidup bermewah-mewahan, bahkan untuk barang-barang yang beliau pakai pribadi tetap lebih mengutamakan fungsi dibandingkan kemewahan   barangnya. Itu yang beliau tanamkan ke anak-anak dan cucu-cucunya. Saya banyak diajari oleh beliau,” ujar Grandy kepada Historia . Idham Chalid lahir di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1921. Ia anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H. Muhammad Chalid merupakan penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah. Sejak kecil Idham mendapat pendidikan agama yang baik dari keluarganya. Ia juga terdaftar sebagai murid di Madrasah Al-Rasyidiyah di Amuntai. Setamat dari madrasah tersebut, Idham melanjutkan sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Setelah aktif di berbagai gerakan perjuangan, pada usia 30 tahun Idham dipercaya sebagai Sekertaris Jenderal Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU). Pada 1956, empat tahun setelah menjabat Sekjen, Idham diberi kepercayaan menjadi Ketua Umum PBNU. Ia menjadi Ketua Umum PBNU termuda (usia 34 tahun) dan terlama (selama 28 tahun). Membangun Politik di NU Pada 1950-an perpecahan di tubuh Masyumi kian meluas. Sejumlah tokoh NU di dalam partai yang dibentuk untuk menyalurkan aspirasi politik umat Islam Indonesia tersebut semakin jelas menunjukkan kekecewaannya terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil partai. Menurut Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967 , sejak ketegangan di kongres 1949, hubungan antara Masyumi dan NU tidak pernah membaik. Akibatnya pada 1952, NU memutusukan berpisah dari Masyumi. Kondisi itu berimbas juga kepada Idham. Ia yang sejak 1950 duduk sebagai wakil Masyumi di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) harus memilih di mana dirinya akan berlabuh. Dikisahkan Ahmad Muhajir dalam Idham Chalid: Guru Politik Orang NU , setelah melalui berbagai pertimbangan, Idham memutuskan untuk lebih terlibat di NU ketimbang Masyumi. Salah satu alasan dari keputusan itu adalah kedekatan Idham dengan Wahab Chasbullah, Rais ‘Aam PBNU yang sangat besar pengaruhnya dalam proses perpisahan NU dari Masyumi. “Wahab inilah yang memiliki peranan penting dalam karir Idham di NU. Dengan kelihaian Wahab, namun penuh kehati-hatian, serta faktor insting politik yang tajam membuat Idham mengalami kemajuan pesat di bawah bimbingannya, dengan belajar banyak mengenai teknik berogranisasi, berdebat dan berpidato, sambil juga membangun jaringan dukungan sendiri dalam partai,” kata Muhajir. Setelah melepas kedudukan di parlemen, Idham aktif di gerakan Pemuda Ansor. Pada 1952, ia kemudian menjabat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi yang berafiliasi kepada NU di bidang pendidikan. Di tahun yang sama, ia diangkat menjadi Sekjen PBNU. Baru dua tahun menjabat, Idham terpilih sebagai wakil ketua PBNU. Kedudukannya kian penting manakala ia dipercaya memegang jabatan Ketua Lajnah Pamilihan Umum Nadhlatul Ulama (Lapunu), sebuah dewan yang khusus menangani Pemilu bagi partai NU. Tugas sebagai ketua Lapunu tidaklah mudah, mengingat Pemilu 1955 menjadi ujian pertama bagi NU. Hajat demokrasi pertama rakyat Indonesia itu harus bisa menjadi ajang pembuktian NU setelah mereka keluar dari Masyumi. Ketua Lapunu dituntut membuat strategi terbaik untuk memenangkan suara dalam Pemilu tersebut. Dan Idham berhasil membuktikannya. Dalam Pemlilu 1955, NU meraih keberhasilan yang mengejutkan. Mereka berhasil mengumpulkan 45 kursi, dengan total suara yang dikumpulkan sebesar 18,4 persen. Menurut Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren , keberhasilan itu tidak lepas dari penggunaan metode kampanye yang efektif dari kubu NU, juga kemampuan NU menggalang solidaritas di lingkungan kaum santri. Berkat hasil positif dalam Pemilu 1955, NU mendapat jatah lima kursi menteri di Kabinet Ali Sastroamijoyo II, termasuk jabatan Wakil Perdana Menteri yang diserahkan pada Idham. “Dengan usianya yang baru 35 tahun, dan tanpa pengalaman sebagai menteri, pengangkatannya mencerminkan bahwa NU tidak hanya menaruh harapan besar terhadap perkembangan karir Idham, tetapi juga tidak mempunyai calon lain yang layak,” terang Muhajir. Pada Muktamar NU ke-21 di Medan pada Desember 1956, Idham terpilih sebagai ketua umum PBNU. Di bawah kepemimpinannya, NU terus melanjutkan pergerakannya di gelanggang politik dalam negeri. Dalam posisinya tersebut, ia juga sempat kembali menduduki kursi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Djuanda. Sementara kedudukannya sebagai ketua umum PBNU berakhir pada 1984. Ia digantikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai organisasi masyarakat yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi dengan partai mana pun. Dalam perubahan politik yang terjadi begitu cepat di dalam negeri, utamanya sejak manuver politik Sukarno menjelang dekade 1960-an, Idham tetap mengambil jalan hidup di dunia politik. Ia menjadi wakil ketua MPRS (1963-1966), Menteri Kesejahteraan Rakyat (1966-1967; 1967-1968; dan 1968-1973), Ketua DPR/MPR (1971-1977), Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (1973). Di tubuh NU sendiri kedudukan sebagai ketua umum berakhir pada 1984. Setelah tidak lagi di dunia politik, Idham memimpin Perguruan Darul Ma’arif di Cipete Selatan, Jakarta Selatan; Lembaga Pendidikan Darul Qur’an; dan Rumah Yatim di Cisarua. Ia mengehembuskan nafas terakhirnya pada 11 Juli 2010, setelah berjuang menghadapi sakit sejak 1999. Sosok Kiai Idham kemudian diabadikan oleh Bank Indonesia dalam uang pecahan 5.000 rupiah.

  • Bentrok Militer Amerika dan Australia Semasa Perang Dunia

    KOTA Brisbane hampir dipastikan terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2032. Hal itu disampaikan Presiden IOC Thomas Bach dalam jumpa pers di markas IOC di Swiss, Rabu, 24 Februari 2021. “Setelah diskusi yang mendalam, kami secara aklamasi menyetujui rekomendasi tersebut. Berdasarkan keputusan ini, komisi mulai melakukan diskusi yang rinci dengan Komite Brisbane 2031 dan juga Komite Olimpiade Australia mengenai potensi mereka menjadi tuan rumah Olimpiade 2032,” ujar Bach sebagaimana dikutip detik . com , 25 Februari 2021. Apabila terpilih, Brisbane bakal menyingkirkan kandidat-kandidat lain seperti Budapest (Hungaria), Doha (Qater), Istanbul (Turki), dan Jakarta (Indonesia). Selain itu, Brisbane juga berhasil mengikuti jejak dua kota Australia yang pernah menjadi tuan rumah olimpiade (Melbourne, 1956; Sydney, 2000). Brisbane bakal kedatangan banyak orang luar. Keramaian orang luar pernah terjadi di Brisbane 80 tahun silam. Namun, keramaian saat itu bukan mengharumkan nama Brisbane tapi justru mencorengnya, dikenal sebagai Pertempuran Brisbane. Pertempuran Brisbane bermula dari pengungsian tentara Amerika Serikat. Setelah Filipina diduduki Jepang dalam Perang Dunia II, Jenderal Douglas MacArthur memboyong pasukannya ke Australia. Brisbane dijadikan markas olehnya pada Juli 1942 setelah sebelumnya bermarkas di Melbourne. “Dia adalah penggerak utama di balik invasi Amerika pada masa perang di Australia setelah terpilih sebagai tempat yang paling cocok untuk melancarkan serangan balik terhadap Jepang,” tulis Robert Macklin dalam The Battle of Brisbane . Kedatangan MacArthur disambut penduduk kota dengan meriah. Mereka menganggap pasukan MacArthur sebagai penyelamat. “Seorang perempuan menggambarkan reaksinya saat melihat orang Amerika: Mereka adalah dewa dan mereka datang untuk menyelamatkan kita dari Jepang,” tulis John Tilston dalam Meanjin to Brisvegas: Snapshots of Brisbane’s Journey from Colonial Backwater to New World City . Sambutan hangat penduduk membuat pasukan Amerika senang. Selain mendapat tempat untuk mengkoordinasi perlawanan terhadap Jepang, mereka mendapat kawan baru dan banyak kemudahan lain. “Sebagian besar orang Australia menyambut orang Amerika sebagai penyelamat dan, setidaknya pada hari-hari awal, orang Amerika menanggapinya dengan hangat,” tulis Robert Macklin. Dipilihnya Brisbane sebagai markas MacArthur membuat jumlah pasukan Amerika terus bertambah di kota yang saat itu berpenduduk 300-an ribu jiwa itu. Perakitan pesawat-pesawat militer Amerika kemudian dilakukan di kota itu. Sebagai multiplier effect  darinya, ekonomi Brisbane menjadi berputar lebih cepat. “Ada sekitar 70.000 tentara Amerika di kota itu pada awal 1942. Meskipun masa sulit secara ekonomi, beberapa orang mendapat banyak uang jika mereka memberikan layanan apapun kepada orang Amerika. Sopir taksi, misalnya, mendapat uang darinya. Orang Amerika tidak tahu nilai mata uang lokal dan memberi tips dengan murah hati,” sambung Tilston. Para serdadu Amerika memiliki kemampuan finansial lebih baik dibanding para serdadu Australia. Gaji mereka hampir dua kali lipat dari gaji serdadu Ausrtalia. Selain seragam mereka lebih baik bahan maupun desainnya dibanding seragam militer Australia, para serdadu Amerika difasilitasi lebih banyak oleh negerinya. Kantin Amerika menjual banyak pilihan barang yang bagi para serdadu Australia saat itu merupakan barang terjatah atau langka dan tak terjangkau. Kelebihan-kelebihan para serdadu Amerika itu membuat gadis-gadis Australia tertarik. Para gadis umumnya membandingkan mereka dengan pasukan Australia. “Jalanan yang padat dipenuhi dengan seragam, dari pakaian opera putih dan biru para doughboy (julukan serdadu infantri Amerika, red .) di R&R atau mereka yang menelepon ke Brisbane dalam perjalanan ke utara, atau kain khaki kasar dan berpotongan buruk, usang dari beberapa tentara Australia yang tidak bertempur di New Guinea. Pakaian terbaik dari semua itu adalah para perwira Amerika dengan pakaian hijau zaitun yang sesuai, sejauh ini mengungguli penduduk sipil Brisbane, tidak ada yang mampu membeli pakaian berpotongan rapi, pas atau bahan yang begitu tampan. Perempuan lain mengatakan bahwa ‘baunya sangat wangi.’ Lotion  Aftershave tidak dikenal di Brisbane saat itu. Mereka juga punya sopan santun dibanding pasukan Australia. Mereka tidak takut untuk mengungkapkan kelembutan, bahkan sebagian wanita menganggap mereka agak maju dalam melakukannya,” tulis Tilston. Keunggulan finansial membuat lebih banyak gadis Australia memilih menerima ajakan kencan serdadu Amerika ketimbang serdadu senegeri mereka. Akibatnya para serdadu Australia kerap hanya bisa menelan ludah melihat para serdadu Amerika bebas minum bir di bar atau kafe sepuas mereka bersama para gadis lokal. Sementara, serdadu Australia kerap ditolak pegawai bar atau kafe dengan alasan bar sudah tutup atau bir sudah habis. Untuk memasuki kantin-kantin Amerika tempat di mana bir berlimpah, mereka pun tak bisa karena adanya larangan. Jalan-jalan kota, klub dansa, bioskop, kafe, bar dan tempat-tempat umum lain akhirnya lebih banyak dipenuhi serdadu Amerika yang mengencani gadis setempat. Pada gilirannya, bukan hanya gadis setempat (dijuluki “cuddle bunnies”) yang mengencani para serdadu Amerika namun juga perempuan sudah menikah (“lizzies lounge”). Banyak dari mereka yang kemudian menikah. Kondisi timpang antara dua pasukan Sekutu itu sampai membuat bingung sejarawan Inggris Christopher Thorne. “Saya terus terang terpesona pada kemabukan yang pernah saya lihat di antara orang Australia. Di Brisbane, warga Australia berseragam berputar-putar di jalan sepanjang hari dan sepanjang malam. Mereka bukan pemabuk yang bahagia. Mereka hanya basah kuyup, dengan seragam longgar mereka tergantung seperti karung. Seragam mereka cukup untuk membuat mereka merasa rendah diri, dibandingkan dengan orang Amerika. Dan tentu saja pasukan Amerika mendapatkan semua gadis cantik dan mereka punya lebih banyak uang, dan kantin Amerika lebih bersih dan lebih lengkap, dan orang Amerika punya derap dan mengemudi dan sangat ingin mendapatkan perkelahian. Orang Australia yang pulang setelah dianiaya di Mesir dan Singapura hanya bisa merenung dan minum,” tulisnya, dikutip Macklin. Kesenjangan itu akhirnya membuat para serdadu Australia iri. Keirian mereka diperparah oleh arogansi yang kerap diperlihatkan serdadu Amerika. “Perlakuan lusuh ini membuat para Digger (julukan pasukan Australia) marah pada rakyat mereka sendiri seperti pada orang Amerika. Suasana hati itu berubah dan beberapa tentara Australia mulai meminta uang dari orang Amerika di jalan. Mengemis dengan ancaman kekerasan menjadi salah satu ciri paling menjijikkan dalam kehidupan Brisbane,” tulis Robert Macklin dalam The Battle of Brisbane . Gesekan-gesekan pun kerap terjadi antara kedua pasukan mulai pertengahan Oktober 1942. Korban tewas atau luka-luka jatuh dari kedua belah pihak. Baku tembak antara kedua pasukan di Inkerman, misalnya, menewaskan satu persnoel masing-masing. Dalam kondisi tak kondusif itu, pada pukul 18.50 tanggal 26 November 1942 Prajurit James R. Stein dari Kompi Sinyal 404 AD Australia keluar dari pub sebuah hotel tempatnya minum dalam kondisi mabuk. Dia menuju Kantin PX milik Amerika, sekira 50 meter dari tempatnya awal. Dia lalu bergabung dengan tiga personil militer Australia yang sedang minum-minum dan mengobrol. Saat sedang asyik mengobrol itulah tiba-tiba Stein didatangi Prajurit Anthony O’Sullivan dari Kompi 814 PM Amerika. Stein diminta menunjukkan pass masuknya. Namun karena Stein tidak menemukannya meski sudah mencari dalam waktu lama, Sullivan menjadi kesal dan meminta Stein agar beranjak. Sikap Sullivan membuat ketiga tentara Australia kawan ngobrol Stein meminta Sullivan agar kalem dan membiarkan Stein. Saling umpat pun terjadi. Namun karena Sullivan mengangkat pentugannya, para serdadu Australia pun menyerang Sullivan. Keributan terjadi. Hal itu menarik perhatian tentara Australia lain dan warga yang ada di sekitar. Mereka lalu mendukung untuk menghajar para prajurit Amerika. Para serdadu Amerika kewalahan. Meski kemudian datang bantuan dari anggota PM Amerika, kalah jumlah membuat mereka akhirnya mundur sambil membawa Sullivan yang terluka. Para prajurit Australia dan massa terus mengejar mereka. Kantin PX lalu hancur diamuk massa. Kantor Klub Palang Merah Amerika yang tak jauh dari sana juga ikut dikepung dan dirusak. Para petugas jaga Kantin PX dibantu aparat kepolisian Queensland terus berupaya menghalau massa. Namun, massa gabungan prajurit Australia dan warga kota terlanjur marah. Perkelahian pun tak terhindarkan. Dalam sekejap, perkelahian menyebar ke bagian lain kota. Pukul 20 waktu setempat perkelahian telah melibatkan 2000 hingga 5000 orang. Beberapa personil PM Australia langsung melepaskan pita di lengan mereka dan bergabung ke dalam perkelahian. Sementara, sebuah truk berisi tiga prajurit Australia yang dikemudikan Kopral Duncan Caporn tiba dengan mengangkut beberapa kotak amunisi, granat, dan empat senapan sub-machine Owen. Batalyon 738 PM Amerika langsung mempersenjatai personilnya dengan senapan. Dua di antaranya, Prajurit Norbert Grant dari Kompi C dan Prajurit Mercier, langsung maju ke halaman depan. Tindakan tersebut menarik perhatian beberapa anggota massa Australia yang langsung mendekatinya dan mencoba merebut senjatanya. Perkelahian terjadi. Ketika Gunner Edward S. Webster (personil Resimen Anti-Tank ke-2Australia) hendak merebut senapannya, Grant lebih dulu menusuknya. Sementara itu, leher Grant telah dicekik oleh tentara rekan Webster. Tiga kali pelatuk senapan Grant tertarik dalam pergumulan itu sehingga tiga peluru dimuntahkan dari senapan yang diperebutkan itu. Salah satu peluru langsung menembus dada Webster dan membunuhnya seketika. Dua peluru lain mengenai pipi Prajurit Kenneth Henkel dan dada Prajurit Ian Tieman. Grant yang bingung langsung lari kembali ke dalam PX. Dalam perjalanan, dia sempat memukul kepala orang Australia dengan senapannya hingga patah gagang. Di bagian lain, Prajurit Amerika Joseph Hoffman tengkoraknya retak dalam perkelahian itu. Kendati keributan telah selesai pada pukul 22, malam berikutnya antara 500 hingga 600 personil militer Australia kembali mengepung personil militer Amerika di gedung Palang Merah. Tak jauh dari sana, di persimpangan antara Jalan Ratu dan Jalan Edwards, massa Australia memukuli para serdadu Amerika. Penulis Australia yang bersuamikan orang Amerika, Margaret Scott, bahkan tak luput dari serangan ketika sedang melintas. “Penulis itu, Margaret Scott, percaya bahwa sejumlah orang Amerika telah ditendangi sampai mati dan satu orang ditembak, tetapi tidak ada catatan resmi mengenai kematian tersebut. Namun, lusinan –dan kemungkinan puluhan– orang Amerika terluka,” tulis Raymod Evans dan Jacqui Donegan dalam “The Battle of Brisbane” yang dimuat di politicsandculture.org . Kerusuhan itu akhirnya padam setelah masing-masing pihak menerjunkan PM dalam jumlah besar untuk menertibkan. Masing-masing kesatuan yang terlibat lalu dipindahkan. Grant dimejahijaukan Februari tahun berikutnya, namun dia dibebaskan karena alasan membela diri. Lima orang Australia dihukum, yang terberat dipenjara enam bulan. “Sejak 1942, Brisbane adalah salah satu pos pementasan terakhir di garis depan. Suatu malam, dengan cara yang tak terduga dan tak terkira, kota itu menjadi garis depan itu sendiri. Orang Australia memiliki keluhan dan mereka memiliki alasan kuat untuk dirugikan. Orang-orang Amerika memiliki segalanya –gadis, kantin, dan yang lainnya– dan orang-orang kita benar-benar dikucilkan di kota mereka sendiri,” kata Mayor Bill Thomas, yang bertugas menginvestigasi penyebab gangguan anti-Amerika pada 1943, dikutip Macklin.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page