Hasil pencarian
Cari di situs ini
10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Penemuan Kota yang Hilang
PARA arkeolog di wilayah Umm Al Quwain, Uni Emirat Arab, menemukan apa yang diyakini sebagai kota kuno Tu'am yang hilang. Dulu kota ini terkenal dengan perdagangan mutiaranya. Ketika mencapai puncak kejayaan pada abad ke-6, Tu'am menjadi begitu terkenal sehingga manuskrip-manuskrip Arab kuno menyebutkannya. Di bawah arahan Syekh Majid bin Saud Al Mualla, Departemen Pariwisata dan Arkeologi Umm Al Quwain melakukan penggalian bekerja sama dengan para ahli regional dan global. Lokasi penelitian di Pulau Al Sinniyah, situs arkeologi terpenting di kawasan Teluk Persia, yang merupakan bagian dari gugusan pulau-pulau kecil di sisi barat Semenanjung Khor Al Bidiyah. Setelah penggalian selama tiga bulan, para arkeolog menemukan sisa-sisa rumah petak kuno, sebuah bangunan besar dengan unit hunian yang masing-masing berukuran 30 meter persegi. Dibangun berdempetan di gang-gang sempit, keberadaan rumah-rumah ini menunjukkan sebuah permukiman yang canggih dan padat penduduk. Baca juga: Penemuan Kota Emas yang Hilang Profesor Tim Power dari Universitas Uni Emirat Arab, yang memimpin penggalian, mengatakan tim arkeologi pari.id memang belum menemukan bukti tak terbantahkan seperti prasasti yang memuat nama kota tersebut. Namun, tak adanya permukiman besar lainnya dari periode ini di pesisir pantai memperkuat argumen bahwa ini adalah Tu'am. “Pekerjaan arkeologi kami telah menemukan pemukiman terbesar yang pernah ditemukan di pantai Teluk Emirat,” kata Tim Power, dikutip The National . “Dan ini adalah periode yang tepat untuk kota yang digambarkan dalam sumber-sumber geografis awal Islam. Ini jelas merupakan tempat yang sangat penting. Tidak ada yang pernah menemukannya.” Hilang oleh Wabah Tu’am diyakini pernah menjadi ibukota suatu wilayah di pantai Teluk yang sekarang disebut Emirates, dan merupakan pusat penangkapan mutiara yang terkenal karena kualitas permatanya. Kota ini diperkirakan mulai dihuni pada abad ke-4 dan mencapai puncak kejayaan pada abad ke-5 dan ke-6. Kota ini menarik para biksu Nestorian yang mendirikan biara Kristen antara akhir abad ke-6 dan awal abad ke-7. Tu’am diperkirakan menjadi permukiman Kristen selama sekira 200 tahun sebelum penyebaran Islam. Kota ini disebut To'me dalam bahasa Aram dan Tu'am dalam bahasa Arab yang berarti “kembar”. Seiring berjalan waktu, nama ini ditransliterasikan ke dalam bahasa Yunani dan Inggris sebagai Thomas . Diperkirakan kota ini dinamai St. Thomas, yang diutus ke Timur untuk menyebarkan agama Kristen. Baca juga: Wabah Sejak Zaman Rasulullah “Dalam tradisi Barat, kita mengenalnya sebagai Thomas yang meragukan,” kata Prof Power. “Tapi dalam tradisi Suriah bagian timur, dia adalah bapak pendiri agama Kristen bagian timur.” Kota ini kemudian ditinggalkan penghuninya akibat ketegangan regional dan wabah penyakit pes yang menghancurkan dan menyebar ke seluruh Mediterania pada abad ke-6. Dugaan ini diperkuat oleh temuan kerangka-kerangka dari kuburan massal di sekitar situs yang tak menunjukkan adanya trauma atau kematian akibat kekerasan. Sejak itu kota ini perlahan memudar dan hilang dari ingatan. Namun, kini para arkeolog yakin sudah menemukan kota yang hilang tersebut. Penemuan sisa-sisa rumah petak kuno menunjukkan perkembangan sebuah kota yang kini diperkirakan luasnya sekitar 10 hektar. Baca juga: Ulama Tetap Berkarya di Tengah Wabah Mula-mula dibangun gubuk-gubuk batu kecil yang dikelilingi cangkang tiram yang dibuang. Kemudian, karena keberhasilan perdagangan mutiara, kota ini diperluas dengan rumah-rumah lebih besar dengan halaman mewah untuk pedagang kaya di lokasi yang lebih jauh. Bangunan rumah petak menggarisbawahi para pekerja berbondong-bondong datang ke permukiman tersebut. “Kami mulai melihat stratifikasi sosial seperti ini,” kata Dr Michele Degli Esposti, kepala Misi Arkeologi Italia di Umm Al Quwain dan peneliti di Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia. Sumber sejarah menduga lokasi kota tersebut berada di Al Ain dan Al Buraimi. Tapi kini lokasi tersebut sedang dikaji ulang setelah adanya temuan ini. Tonggak Peradaban Selain sisa-sisa bangunan, tim arkeologi juga menemukan guci tanah liat berukuran besar yang dipakai untuk membuat roti, menyamak kulit, atau menyimpan barang. Sejumlah besar botol anggur kurma yang diduga berasal dari Irak dan tulang-tulang ikan juga ditemukan. Penduduk Tu’am tidak hanya memancing di laguna. “Mereka pergi ke perairan yang lebih dalam untuk mendapatkan spesies yang lebih besar,” kata Prof Power. “Kami punya cukup banyak tuna.” Temuan-temuan ini memperkuat dugaan bahwa penduduk kota Tu’am terhubung dengan jaringan perdagangan lebih luas yang melintasi Irak, Persia, dan India. Baca juga: Kota Kuno Ini Tak Lagi Legenda Penemuan arkeologi ini menjadi tonggak penting dalam mengungkap sejarah peradaban di Uni Emirat Arab. Sebelumnya, tim arkeolog Umm Al Quwain yang berkolaborasi dengan para ahli lokal dan internasional, menemukan desa mutiara tertua di Teluk Arab tahun lalu. “Mutiara telah menjadi bagian penting dari penghidupan dan warisan kami selama lebih dari 7.000 tahun, dan beberapa bukti mutiara paling awal yang diketahui berasal dari kuburan neolitikum di Umm Al Quwain,” kata Sheikh Majid, dikutip The National . Baca juga: Kedai Cepat Saji Tertua di Dunia Desa mutiara itu ditemukan dekat situs biara Kristen kuno yang digali tahun 2022 –biara kedua di Uni Emirat Arab setelah penemuan satu biara awal 1990-an, di Pulau Sir Bani Yas di Abu Dhabi. Mulanya, tim arkeologi mengira itu adalah sebuah desa untuk melayani para biksu. Kini, mereka yakin tempat ditemukannya kota mutiara dan biara selama beberapa tahun terakhir kemungkinan besar adalah lokasi kota yang hilang tersebut. Tim arkeologi berencana melanjutkan pekerjaan di Pulau Al Sinniyah dengan tujuan mengungkap lebih detail tentang tata kota, penduduknya, dan cara hidup mereka. ( dirangkum dari berbagai sumber )*
- Asal-usul Meriam Ki Amuk, Kembaran Meriam Si Jagur
MERIAM Si Jagur menjadi salah satu ikon dari Kota Tua Jakarta. Meriam itu dibuat oleh seorang master pengecor senjata Portugis bernama Manuel Tavares Bocarro di Makau dengan melebur 16 meriam kecil. Mulanya meriam tersebut dipersembahkan dan ditempatkan di benteng St. Jago de Barra di Makau hingga kemudian dibawa ke Malaka. Setelah VOC menguasai Malaka, meriam Si Jagur dibawa ke Batavia pada 1641 dan ditempatkan di Kasteel Batavia untuk menjaga pelabuhan dan kota. Dalam Jaarboek van Batavia en omstreken 1927 yang disusun oleh J. J. de Vries disebutkan bahwa meriam yang juga disebut dengan nama Kiai Setomi ini dianggap sebagai meriam keramat oleh masyarakat setempat karena memiliki kekuatan ajaib. “Para wanita khususnya sering datang ke sini untuk melakukan persembahan dan berpendapat bahwa kesuburan akan diberikan kepada mereka jika mereka duduk di atas Meriam,” tulis de Vries. Sejumlah penduduk juga meyakini jika mereka membuat permohonan saat mengunjungi meriam Si Jagur, maka permohonannya berpeluang besar terkabul. Tak hanya itu, meriam ini juga dianggap memiliki kemampuan untuk membongkar kejahatan yang dilakukan seseorang. Konon kabarnya, para penjahat tak berani menyangkal kesalahan mereka ketika mereka diancam dengan pengambilan sumpah pada benda yang dianggap sakral ini. Baca juga: Jempol Dijepit Telunjuk dan Jari Tengah Meriam Si Jagur disebut memiliki kembaran yang berada di Banten. Sebagian masyarakat di masa lalu percaya bahwa kekuasaan Belanda di Jawa akan berakhir bila kedua meriam tersebut dipertemukan. Menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus dalam “Inkripsi Islam pada Beberapa Meriam Nusantara Abad ke-16”, yang termuat di Inkripsi Islam Tertua di Indonesia , sejarah meriam yang dijuluki Ki Amuk itu telah ditelusuri oleh sejumlah peneliti sejak zaman kolonial Belanda, salah satunya adalah K.C. Crucq yang menyebut bahwa jejak pertama meriam dengan nama itu terdapat di satu peta kota Banten yang dibuat sebelum pertengahan abad ke-17. Pada peta tersebut tercatat “meriam besar ‘t Desperant ”, yang oleh Crucq dianggap sebagai terjemahan dari Ki Amuk. Sebuah gambar bintang berujung delapan terlihat pada mulut meriam Ki Amuk. Gambar yang dikenal dengan nama “Mentari Majapahit” itu juga dapat ditemukan di atas nisan-nisan Troloyo abad ke-14 dan ke-15. Crucq berpandangan hal ini menjadi penunjuk asal-usul dan masa meriam itu, yakni Jawa Tengah pada pertengahan pertama abad ke-16. “Menurut Valentijn, Sultan Demak menghadiahkan satu meriam bernama Ki Jimat kepada Hasanudin Banten sewaktu pernikahannya. Maka Meriam Ki Jimat sama dengan Ki Amuk dan diperkirakan tanggalnya adalah 1450 Saka, yakni 1528/9 AD, yang kiranya sesuai dengan tahun pernikahan Hasanudin serta dengan sebuah candrasengkala yang dibaca Crucq dalam formula ‘akibatu ‘l-khairi yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Jawa sebagai wekas ing sukha ,” tulis Guillot dan Kalus. Baca juga: Demak Mengislamkan Banten Sementara itu, sewaktu perang Demak melawan Panarukan (Pasuruan), sejumlah meriam –termasuk yang berukuran besar bernama leões yang memiliki ukuran serupa dengan Ki Amuk– dicor untuk menjadi senjata dalam pertempuran itu oleh orang-orang Turki dan Aceh yang dipimpin oleh Koja Zainal, seorang kepala atau empu (dari kata mestre dalam bahasa Portugis) yang dikenal sebagai pembelot Portugis. Mengacu pada hal ini, Crucq berkesimpulan bahwa meriam yang ada di Banten kemungkinan dicor oleh pembelot Portugis itu untuk kepentingan Sultan Demak. Kesimpulan tersebut juga didasarkan pada wujud meriam yang memiliki kemiripan dengan meriam-meriam Portugis. Setelahnya, Sultan Demak memberikan meriam itu sebagai mas kawin kepada Hasanudin, yang membawanya ke Banten, di mana meriam tersebut menjadi meriam sultan yang sangat dihormati dan dikenal dengan nama Ki Jimat. “Apabila kita merangkum argumentasi cerdas Crucq, maka penanggalannya didasarkan atas tiga unsur: satu sengkalan, satu gambar ‘Mentari Majapahit’, dan tradisi Jawa yang dikemukakan oleh Valentijn yang menceritakan bahwa meriam tersebut dihadiahkan oleh raja Demak, Sultan Trenggana, kepada raja Islam pertama di Banten, Hasanudin, waktu ia menikahi putrinya,” tulis Guillot dan Kalus. Baca juga: Raja Demak Terakhir Dimakamkan di Banten Menurut Guillot dan Kalus, meski ketiga alasan itu cukup meyakinkan untuk menjelaskan sejarah meriam Ki Amuk, tetapi argumentasi yang diberikan masih tergolong lemah. Gagasan Crucq mengenai perubahan nama meriam dari Ki Jimat menjadi Ki Amuk mungkin saja benar. Namun, gagasannya bahwa nama ‘t Desperant adalah terjemahan Belanda dari Ki Amuk, tidak dapat diterima begitu saja. Pasalnya, jika nama ini telah dikenal pada masa itu, maka meriam tersebut kemungkinan besar akan disebutkan dalam naskah Sejarah Banten . Namun, pada kenyataannya tidak ditemukan nama itu dalam naskah tersebut. Sementara itu, terkait dengan “Mentari Majapahit”, memang betul pola itu tertera untuk pertama kali pada makam-makam Troloyo pada abad ke-14 hingga 15, tetapi sejarahnya panjang karena ditemukan lagi di pintu makam Puspanegara yang menjadi bupati Gresik pada kedua dasawarsa pertama abad ke-18. “Kelemahan argumentasi tersebut menyebabkan kami sangat meragukan kedua gagasan Crucq, yaitu masa yang terlalu dini –awal abad ke-16– dan peleburan meriam itu di Jawa,” tulis Guillot dan Kalus. “Inkripsi-inkripsi, ukiran hiasan, dan gelang-gelang pengangkat memerlukan penguasaan teknik yang tinggi, yang tidak terbukti oleh satu pun contoh di Nusantara pada waktu itu,” tambah mereka. Soal pola berbentuk bintang di mulut meriam yang mengingatkan pada “Mentari Majapahit” juga sulit untuk membuktikan bahwa meriam tersebut dibuat di Jawa.*
- Akhir Hidup Sukarno
Seperti apa kisah akhir hidup Sukarno?
- Penangkapan Sukarno hingga Pendaratan Pasukan Mataram
1 Agustus 1933 Sukarno Ditangkap Rumah Mohammad Husni Thamrin mendadak dipenuhi polisi Belanda. Kala itu, Thamrin sedang menerima kunjungan Sukarno, ketua Partindo (Partai Indonesia). “Tuan Sukarno, atas nama Sri Ratu saya tangkap tuan,” ujar seorang komisaris polisi, seperti dikutip dalam otobiografi Sukarno yang disusun Cindy Adams. Sukarno ditangkap saat itu juga. Dari sana, ia langsung dinaikkan ke kereta api menuju Bandung, dijebloskan ke penjara Sukamiskin. Untuk kali yang kedua, Sukarno kembali merasakan dinginnya penjara. Sukarno kemudian menjalani masa pembuangannya ke Ende, Flores, lalu dipindahkan ke Bengkulu. Saat penangkapan itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengeluarkan dekrit khusus yang isinya menyulitkan untuk mengadakan segala macam rapat di Hindia Belanda. Baca juga: Ketika Sang Orator Bung Karno Keluar dari Penjara Landraad Bogor. (KITLV). 3 Agustus 1937 Sidang Kasus Cibarusa Landraad (Pengadilan) Bogor membuka persidangan untuk mengadili pelaku perampokan yang marak terjadi di Cibarusa. Sidang pertama, Sakib bin Samoen diajukan ke muka dengan dakwaan melakukan perampokan. Saksi pun dihadirkan. Akhirnya, hakim mengetuk palu, Sakib mendapat hukuman 3 tahun. Sidang kedua, pada hari itu juga, menghadirkan terdakwa bernama Salabapasani. Ia didakwa merampas padi disertai ancaman. Dari saksi yang dihadirkan, catat harian Pemandangan 4 Agustus 1937, Salabapasani melakukan pemerasan di sawah ketika ada panen padi. Ia merampas begitu saja tanaman padi, dan mengancam pemilik padi akan membunuhnya jika menghalanginya. Hakim pun mengganjar 3 tahun hukuman bagi Salabapasani. Baca juga: Cara Pemerintah Kolonial Redam Bandit Sosial Hiroshima musnah setelah dibom atom. (Wikimedia Commons). 6 Agustus 1945 Hiroshima Lenyap Tengah malam pada hari keenam Agustus, pesawat Enola Gay lepas landas dari Pulau Tinian di Kepulauan Mariana Utara. Pesawat itu membawa bom atom Little Boy dengan panjang 3 meter, lebar 71 cm, dan berat 4000 kg. Awak B-29 Enola Gay terdiri dari: Paul Tibbets (pilot), Robert A. Lewis (kopilot), Ted van Kirk (navigator), William S. Parsons (yang mengaktifkan bom sebelum dijatuhkan), Thomas W. Frebee (juru bidik/pelepas bom), Bob Caron (defender belakang pesawat bagian ekor untuk menjaga kemungkinan serangan Jepang). Pada pukul 08.15 waktu Jepang, B-29 telah sampai di atas langit Hiroshima. Dari ketinggian hampir 10 ribu meter mereka menghitung. Little Boy dijatuhkan. Hiroshima hilang dalam sekejap. Manuver penyelamatan dari ledakan bom pun dilakukan. Sekembalinya ke pangkalan udara di Pulau Tinian pukul 3 sore, mereka disambut oleh Jenderal Carl Spaatz. Paul Tibbets mendapat medali Distinguished Service Cross, dan awak lainnya mendapat Air Medals. Baca juga: Paul Tibbets, Pilot Pembawa Bom Atom Barisan Propaganda zaman pendudukan Jepang. (Wikimedia Commons). 13 Agustus 1942 Pentas Amal Miss Tjitjih Miss Tjitjih mengadakan pertunjukan di Sawah Besar dengan lakon “Kembang Widjaja Koesoema”. Hasil dari pertunjukan malam itu akan didonasikan kepada Rumah Piatu Muslimin dan Komite Arab Penolong Fakir Miskin. Miss Tjitjih merupakan salah satu dari beberapa perkumpulan sandiwara yang ada di Jakarta. Pada masa awal Jepang masuk, mereka umumnya menggelar pertunjukan untuk keperluan sosial, hiburan semata, merayakan hari istimewa atas anjuran pemerintah hingga propaganda. Menurut Fandy Hutari dalam Sandiwara dan Perang: Propaganda di Panggung Sandiwara Modern Zaman Jepang, jika pertunjukan untuk hiburan dan kepentingan sosial seringnya atas inisiatif perkumpulan sandiwara itu sendiri. Namun, jika bentuknya propaganda, biasanya atas anjuran pemerintah Jepang melalui organisasi yang menangani sandiwara. Baca juga: Miss Riboet Memadukan Seni dan Olahraga Pertempuran pasukan Mataram dan VOC di Batavia. (Tembi). 24 Agustus 1628 Pendaratan Pasukan Mataram di Batavia Pasukan laut dari Kerajaan Mataram Islam sudah berada di pantai dekat kastil Batavia. Armada laut ini terdiri dari 60 kapal bermuatan sapi potong dan beras. Mulanya, Jan Pieterzoen Coen girang atas kiriman armada ini, sebab ia berpikir ini adalah pasokan pangan dari Mataram. Namun, kegirangannya berubah setelah melihat ada sekira 900 pasukan di balik kapal-kapal tersebut. Mereka kemudian membuang sauh agak jauh dari pantai, sebab menunggu kedatangan pasukan darat. Armada laut ini kemudian dapat dihalau oleh pasukan VOC. Akibatnya, pasokan beras dan sapi potong yang sedianya untuk pasukan darat Mataram, musnah. Baca juga: Hukuman Sultan Agung bagi Panglima yang Gagal
- The History of the Color Black in Fashion
BLACK and mourning have always been inseparable. The custom of wearing black in mourning, according to Françoise Piponnier and Perrine Mane in Dress in the Middle Ages, originated in medieval Spain and was later emulated by French and English nobles. One of them was Phillip the Good, Duke of Burgundy, who insisted on wearing black from the murder of his father, John the Fearless, in 1419 until the end of his reign in 1467. Not only that, but his carriage, entourage, and residence were also ornate in black.
- Lebih Dekat Menengok Katedral Sepakbola di Dortmund
STADION Signal Iduna Park turut jadi satu dari 10 venue yang menghelat laga-laga Piala Eropa (Euro) 2024 sepanjang 14 Juni-14 Juli 2024. Kendati resminya punya kapasitas terbesar, stadion megah dan unik di kota Dortmund itu hanya gelar karpet untuk enam partai. Stadion ini mendapat jatah empat pertandingan untuk babak penyisihan: Italia vs. Albania (Grup B) pada 15 Juni, partai Türkiye vs. Georgia (Grup F) pada 18 Juni, pertandingan Türkiye vs. Portugal (Grup F) pada 22 Juni, serta laga Prancis vs Polandia (Grup D) pada 25 Juni. Lalu, di babak knock out , yakni babak 16 besar (juara Grup A vs runner-up Grup C), dan laga semifinal 2. Stadion yang dijuluki “Katedral Sepakbola Jerman” itu saat dibangun pada 1971 punya nama Westfalenstadion, merujuk kota Dortmund yang berada di wilayah Negara-bagian Nordrhein-Westfalen. Namun sesuai kesepakatan dengan sponsor kemudian, untuk periode 2005-2031 stadionnya menyandang nama Signal Iduna Park. Atas alasan sponsorship itu pula jika stadionnya menggelar laga internasional, identitasnya diubah sementara jadi BVB Stadion Dortmund. Baca juga: Arena Sejarah Piala Eropa Laga Italia vs Albania dan Georgia vs Türkiye di BVB Stadion Dortmund (X @EURO2024) Signal Iduna Park, yang jadi kandang klub mapan Borussia Dortmund, merupakan stadion berkapasitas terbesar di Jerman. Mengutip laman resmi Bundesliga, Selasa (18/6/2024), di level liga domestik, stadion itu rata-rata menampung 81.365 penonton. Jumlahnya lebih banyak ketimbang Allianz Arena/Munich Football Arena yang jadi venue pembukaan Piala Eropa 2024 dengan rata-rata 75 ribu penonton, atau Olympiastadion Berlin yang jadi venue final Piala Eropa 2024 dengan rata-rata 74 ribu penonton. Signal Iduna Park punya kapasitas terbesar jika memainkan laga-laga domestik, yakni lebih dari 81 ribu penonton, karena jadi stadion satu-satunya di Eropa yang memiliki tribun berdiri. Tribun unik ini letaknya di sisi selatan, yang punya tradisi unik “Die Gelbe Wand” alias Tembok Kuning, merujuk basis fans fanatik Borussia Dortmund di Sudtribüne atau Tribun Selatan dengan kapasitas 24.545 penonton. Jumlah itulah yang berkurang karena tribun unik ini terpaksa berganti jadi tribun bertempat duduk untuk memenuhi standar UEFA dan FIFA. Alhasil kapasitasnya berkurang dari 81 ribu menjadi 66 ribu penonton saja. Baca juga: Lima Stadion Unik Piala Dunia Sisi luar dan dalam Signal Iduna Park (Randy Wirayudha/Historia) Sejarah 50 Tahun dan Tradisi Die Gelbe Wand Tribun-tribun di segala penjuru stadion malam itu, 14 Agustus 2016, disesaki 81.360 suporter. Saat itu Signal Iduna Park menghelat laga final DFL-Supercup antara antara tuan rumah Borussia Dortmund kontra Bayern Munich. Di tingkat dua tribun utara tempat saya turut menyaksikan laga, bukan pengecualian meski mayoritas tribun itu ditempati suporter tim tamu. Meski demikian, vibe yang bikin bergidik dari tribun seberang, Südtribüne, begitu terasa di sini. Atmosfer yang tak kalah menggelegar dari Stadion Anfield di Liverpool maupun Gelora Bung Karno di Jakarta turut tercipta di Sudtribüne yang jadi basis ultrasnya Dortmund. Atmosfer itu tercipta dari yel-yel, sorakan penyemangat, dan aksi-aksi koreografi atraktif nan menggema dari hampir 25 ribu fans dengan warna khas kuning untuk menciptakan Die Gelbe Wand (Tembok Kuning). Baca juga: Senandung Pelipur Lara dan Pemantik Asa di Anfield Tradisi Gelbe Wand alias Tembok Kuning di Südtribüne yang jadi basis fans fanatik Borussia Dortmund (Randy Wirayudha/Historia) Menurut salah satu petinggi klub, Carsten Cramer, saat ditemui sehari setelah laga itu, tradisi Tembok Kuning sudah eksis sejak Borussia Dortmund mulai menempati stadion itu sebagai kandang resminya pada 1974. Saking dianggap sakral, khusus di Sudtribüne pihak manajemen klub tak pernah memajang papan-papan iklan sponsor. “ Gelbe Wand adalah aset bagi klub kami. Kami ingin terus berusaha meraih hati fans, bukan sekadar meraih uang dari mereka karena datang ke stadion, mereka sudah memberikan waktu, cinta, dan gairah mereka untuk klub,” ujar Cramer. Sebelum 1974, Dortmund menempati stadion yang lebih kecil, Stadion Rote Erde. Stadion yang masih berdiri itu lokasinya bersebelahan dengan Signal Iduna Park. Menyusul kesuksesan Dortmund sebagai klub Jerman pertama yang punya titel Eropa pasca-menjuarai Piala Winners’ musim 1965-1966, klub membutuhkan stadion yang lebih besar. Baca juga: Kuil Sepakbola "Kota Abadi" Roma Petinggi klub, Carsten Cramer (kiri) (Randy Wirayudha/Historia) Kebetulan, pada 1966 Jerman Barat resmi terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia 1974. Pemerintah Kota Dortmund pun mesti bersiap menyediakan venue lantaran ditunjuk pemerintah federal Jerman Barat untuk menggantikan kota Köln yang mundur dari keikutsertaannya jadi salah satu tuan rumah pertandingan. “Sebetulnya sudah sejak 1961 Dortmund menggagas ekspansi stadion Rote Erde, antara merenovasi atau membangun stadion baru. Namun yang menjadi kendala terbesarnya adalah keterbatasan dana. Tentu anggaran publik bisa digunakan seiring Jerman Barat terpilih jadi host Piala Dunia 1974 tapi pemerintah kota mustahil bisa menghabiskan anggaran lebih dari 6 juta DM (deutshemarks, red. ), yang artinya hanya bisa membangun stadion kecil atau stadion berongkos sangat murah,” tulis Uli Hesse dalam Building the Yellow Wall: The Incredible Rise and Cult Appeal of Borussia Dortmund. Satu dari sekian solusi yang muncul adalah dari gagasan Erich Rüttel, salah seorang pejabat dewan kota, pada Mei 1970. Ia mengusulkan pembangunan stadion yang lebih ringkas tanpa arena atletik dan pembangunannya menggunakan elemen-elemen prefabrikasi. Prefabrikasi adalah pembuatan bagian-bagian konstruksi yang dilakukan oleh pihak pabrik untuk langsung dipasang, dirakit, dan digabungkan bagian-bagian intinya. Baca juga: Stadion Metropolitano dan Warisan Masa Lalu Stadion Rote Erde yang jadi kandang lama Borussia Dortmund (Randy Wirayudha/Historia) Usul itu kemudian disetujui. Desainnya cukup simpel, berbentuk persegi, tidak mengikuti stadion-stadion lain yang berbentuk oval karena akan lebih menghabiskan anggaran. Rancangan dan pembangunannya di sebelah Stadion Rote Erde dibantu firma aristektur Planungsgruppe Drahtler. Pembangunannya dimulai pada 18 Oktober 1971 dengan bantuan dana pemerintah federal. Menukil laman resmi klub , konstruksi di atas lahan 50.000 meter persegi itu membutuhkan 1.500 ton baja tulang dan 6.500 meter persegi beton yang diproses langsung di situs konstruksi. Untuk menopang atapnya, dibutuhkan 750 baja tambahan. Stadionnya resmi dibuka pada 2 April 1974, yang juga jadi momen klub pindah kandang. Penamaan stadionnya juga berasal dari usul Rüttel, “Westfalenstadion”, dengan pertimbangan sebagai stadion di kota terbesar di wilayah Westfalia. Baca juga: Luzhniki Ikon Kejayaan Negeri Tirai Besi Pembangunan Westfalenstadion hingga laga pembukanya usia rampung pada 2 April 1974 ( bvb.de ) “Stadionnya dibangun antara (tahun) 1971 dan 1974 untuk Piala Dunia 1974 dengan kapasitas awal 54.000 penonton. Pemerintah dan dewan kota memutuskan membangun stadion palet yang menggunakan desain konstruksi prefabrikasi. Biaya pembangunannya hanya mencapai 31,7 juta DM dengan anggaran pemerintah kota, pemerintah negara bagian, dan pemerintah federal,” ungkap Werner Balhauff dalam BVB Borussia Dortmund: Fussball mit Tradition und Herzblut. Dortmun d atau BVB tentu mendapat kehormatan untuk menjajal pertama markas barunya itu, pada 2 April 1974, dengan menjamu Schalke 04. Selain Parkstadion di Gelsenkirchen, Westfalenstadion jadi stadion terbaru yang digunakan di Piala Dunia edisi ke-10 itu. Di Piala Dunia 1974, Westfalenstadion mendapat jatah menggelar empat laga. Masing-masing tiga laga babak penyisihan: Zaire (kini Kongo) vs. Skotlandia (Grup 2), Belanda vs. Swedia (Grup 3), Bulgaria vs. Belanda (Grup 3); dan satu partai penyisihan babak kedua Belanda vs Brasil (Grup A). Baca juga: Stadion Terbesar Dunia Stadion Buruh Laga Piala Dunia 1974 antara Belanda vs Swedia di Westfalenstadion ( bundesliga.com ) Sebelum kembali ikut jadi host di Piala Dunia, yakni Piala Dunia 2006, Westfalenstadion sempat tiga kali direnovasi. Pertama, pada 1992, berupa pendirian tribun di sektor utara, di tingkat bawah tribun timur, dan tingkat bawah tribun utama barat dikonversi menjadi tribun bertempat duduk sehingga menyisakan tribun berdiri di tribun selatan yang berdampak pada berkurangnya kapasitas dari 54.000 menjadi 42.800 penonton. Semua demi menyesuaikan regulasi UEFA. Kedua , pada 1995 pasca-BVB memenangkan Bundesliga. Tribun utama timur dan barat ditambah jadi tingkat dua sehingga kapasitasnya kembali menjadi 54.000 penonton. Ketiga, pada 2000 seiring Jerman mengajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2006, stadionnya ditambahi empat tribun baru di empat sudutnya agar empat tribun sebelumnya yang terpisah menjadi tersambung. Firma arsitektur Architekten Schröder Schulte-Ladbeck juga memodifikasi penopang interior atapnya menjadi penopang atap eksterior berupa pipa baja kuning yang mencolok seperti yang ada sekarang di empat sudutnya. Alhasil, Westfalenstadion yang sejak 2005 berganti nama jadi Signal Iduna Park memiliki kapasitas 81.365 penonton. Lebih dari 24 ribu di antaranya berdiri di Südtribüne. Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Stadion Patriot Candrabhaga Tribun berdiri di Signal Iduna Park (Randy Wirayudha/Historia) Di Piala Dunia 2006, Signal Iduna Park yang menyandang nama FIFA World Cup Stadion Dortmund karena alasan sponsor, menghelat enam laga. Selain partai penyisihan Trinidad dan Tobago vs. Swedia (Grup B), ada laga Jerman vs. Polandia (Grup A), Togo vs. Swiss (Grup G), Jepang vs. Brasil (Grup F), serta Brasil vs. Ghana (babak 16 besar), dan Jerman vs. Italia (semifinal). Menjelang Euro 2024, yakni pada 2 April 2024, pihak klub menyempatkan diri mengadakan peringatan 50 tahun Westfalenstadion/Signal Iduna Park. Dalam peringatan itu, Dortmund menjamu VfB Stuttgart dengan mengenakan jersey khusus yang meniru desain jersey ketika Dortmund memainkan laga perdananya di stadion itu pada 2 April 50 tahun silam. “Laga kandang kami melawan VfB Stuttgart sepenuhnya didedikasikan untuk memperingati 50 tahun stadion kami. Kuil ini telah menjadi rumah kami selama setengah abad dan stadion ini adalah tempat di mana ribuan momen tak terlupakan yang ingin kami rayakan bersama pada hari yang istimewa,” tukas pernyataan klub di laman resminya , 3 April 2024. Baca juga: Stadion Rizal Memorial Dulu dan Kini Borussia Dortmund memperingati 50 tahun Westfalenstadion/Signal Iduna Park ( bundesliga.com )
- Capturing the Past of Tuyul
WHEN conducting research in Mojokuto, his pseudonym for Pare, East Java in 1952-1954, anthropologist Clifford Geertz came across a systematic description of the spirits of Java. A young carpenter who talked to him said there were three main types of spirits: memedi, lelembut, and tuyul. The carpenter then pointed to two three-year-old children who were standing listening to their conversation.
- Toeti Heraty dan Filsafat
SORE 13 Juni 2024 silam, Pameran Arsip Toety Heraty bertajuk “Aku Dalam Budaya” dibuka di Galeri Cemara 6, Menteng, Jakarta. Hadir dalam pebukaan tersebut Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dan juga para pegiat dan penikmat kebudayaan berbagai usia. Arsip-arsip tulisan dari Toety Heraty Noerhadi Roosseno dipamerkan dalam pameran arsip yang bertepatan dengan tiga tahun kepergian Toety Heraty, yang tutup usia pada 13 Juni 2021. Seperti judul pamerannya, buku Aku Dalam Budaya menjadi sesuatu yang sangat ditonjolkan dalam pameran. Semasa hidup, Toety memang dekat dengan kebudayaan. Putri dari insinyur kenamaan Roosseno Soerjohadikoesoemo yang pernah menjadi menteri perhubungan ini mengalami sekolah di zaman perang. Dia masih SD ketika Perang Dunia berkecamuk. Dia belum lama masuk SMP ketika revolusi kemerdekaan pecah. Perang mulai reda ketika dia duduk di SMA. Pertama kuliah, Toety mendalami kedokteran di Universitas Indonesia. Selama kuliah itu, dirinya sempat menjadi asisten botani dan fisiologi, dan pernah pula bekerja di Apotek Tunggal di bawah Rukmini Abidin. Alhasil, dalam sebulan dirinya bisa mendapat pemasukan Rp500, angka yang terlalu tinggi untuk seorang mahasiswi. Kendati dokter adalah pekerjaan impian banyak orang, kedokteran ternyata bukan bidangnya. Bukan itu yang dicari Toety. “Lalu tahun 1955 aku pindah studi psikologi di Amsterdam hingga sarjana muda,” aku Toety Heraty dalam Pencarian Hampir Selesai: Otobiografi Toety Heraty . Di tahun ketiganya, Toety yang sudah menikah dengan ahli biologi lulusan Universitas Utrecht Eddi Noeradi pada 1959 dikaruniai sepasang putri kembar. Pada tahun yang sama, hubungan Indonesia-Belanda memburuk sehingga Toety harus pergi dari Amsterdam. Sejak 1958 Toety tinggal di Bandung karena suaminya bekerja di Institut Teknologi Bandung. Toety sempat menjadi asisten dari Drs Wulur, namun kemudian cuti karena ingin merampungkan studi psikologinya di Jakarta sebagai sarjana penuh (Drs). Dia pun rela bolak-balik Bandung-Jakarta. “Tahun 1961 aku membaca buku Simone de Beauvoir yang aku peroleh dari Siti Nuraini Jatim, mantan istri Asrul Sani, di rumah sakit tiga bulan setelah melahirkan anakku yang ke-4 dan menulis skripsi untuk gelar sarjana psikologi tentang The second sex,” aku Toety. Toety berhasil lulus pada 1962. Pada tahun yang sama, dia menjadi dosen psikologi di Universitas Padjadjaran. Setelah mengajar empat tahun di Bandung, Toety kembali ke Jakarta. Setelah hubungan Indonesia dengan Belanda membaik, pada 1971 Toety berusaha mendalami filsafat di Negeri Belanda. Pertengahan 1974 “pendalamannya” rampung. Hampir bersamaan, Universitas Indonesia membuka Jurusan Filsafat di Fakultas Ilmu Sastra. Toety kemudian ikut serta di dalamnya dan menjalani masa studi doktor filsafatnya hingga rampung di sana pada 1979. Aku Dalam Budaya adalah disertasi Toety Heraty yang membuatnya menjadi doktor filsafat perempuan pertama di Indonesia. “Adapun filsafat itu titik tolaknya adalah ketakjuban manusia yang sedang bertanya,” tulis Toety dalam Aku Dalam Budaya: Telaah Toeri & Metodologi Filsafat Budaya . “Soal filsafat menuntut jawaban yang setiap saat dapat ditinjau kembali, takkan terhenti pada otoritas dogma atau tradisi dan menuntut kemampuan manusia menyelami dan menghayatinya.” Filsafat, kata Romo Mudji Sutrisno, menjadi terminal penting bagi Toety Heraty dalam menjelajahi pikiran seni dan budaya. “Ibu Toeti Heraty selalu berkarya dari, karena, dan dalam jiwa yang bebas. Baginya melalui kemerdekaan jiwa inilah ia bebas meniti, melukis, menyeni, merupa, menyair sebagai Aku yang bebas tanpa terpengaruh oleh orang lain,” catat Mudji Sutrisno dalam Mengenang Sang Baronese Kebudayaan .*
- Pelaksanaan Haji di Nusantara
Seperti apa pelaksanaan haji di Nusantara?
- Ongkos Haji Zaman Dulu
GUNA meningkatkan pelayanan haji, tahun ini pemerintah Arab Saudi mengeluarkan terobosan baru: meresmikan layanan taksi udara listrik tanpa pengemudi perintis. Peresmiannya telah dilakukan dalam sebuah acara resmi yang dihadiri Menteri Transportasi dan Layanan Logistik Saudi Saleh bin Nasser Al-Jasser dan beberapa pejabat terkait. “Taksi terbang listrik ini akan mengangkut jamaah haji melintasi tempat-tempat suci, memfasilitasi pemindahan darurat dan pasokan medis dengan cepat, serta mengirimkan barang,” demikian sindonews . com , 12 Juni 2024, memberitakan. Dengan adanya layanan taksi udara tersebut, jamaah haji akan terlayani dengan lebih cepat dan lebih baik. Jamaah haji Indonesia sebagai yang terbanyak tentu akan merasakan manfaatnya. Sebagai informasi, Indonesia tahun ini memberangkatkan 213.320 jamaah. Jumlah itu kurang dari jumlah kuota yang dimiliki Indonesia karena ada 45 jamaah yang batal berangkat di detik-detik akhir. “Jumlah 213.320 adalah kuota terbanyak dalam sejarah haji Indonesia. Sampai penutupan keberangkatan, sebanyak 213.275 telah diberangkatkan ke Tanah Suci. Ada 45 jamaah yang visanya sudah terbit, namun akhirnya batal berangkat karena beragam alasan. Sementara proses pemvisaan sudah ditutup sehingga sudah tidak dimungkinkan lagi dilakukan penggantian. Jadi, haji 2024 itu terbanyak dalam kuota, tertinggi dalam serapan kuota,” kata Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie, dimuat laman kemenag.go.id , 11 Juni 2024. Haji merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan dalam Islam alias termasuk rukun Islam. Namun sebagaimana zakat, haji hanya wajib bagi orang-orang yang mampu. Sebab, haji merupakan ibadah yang mahal. Kendati mahal, jumlah orang Indonesia yang berhaji tetap fantastis setiap tahun. Bahkan, banyak orang Indonesia yang sudah berulangkali naik haji. Fenomena tersebut terjadi bukan baru-baru ini saja. Sejak abad ke-18, makin banyak orang dari Indonesia ke Arab Saudi dengan niatan untuk naik haji. Kala itu berangkat haji tak seformal sekarang dan belum ada ketentuan berapa uang yang harus mereka miliki untuk naik haji. Mereka boleh pergi ke Arab dengan naik kapal dagang. Pada dekade terakhir abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda mulai mengatur pemberangkatan haji. biaya minimal keberangkatan haji pun ditentukan mulai saat itu. “Pada 1895, sebagaimana telah disinggung di depan, Konsulat Belanda di Jedah mulai menghitung biaya yang dikeluarkan oleh seorang jamaah haji untuk semua keperluan selama perjalanan dan bea di Hijaz sebanyak 282,99 gulden bagi jamaah haji yang membeli tiket pergi pulang dan minimal 322,99 gulden bagi mereka yang membeli tiket sekali jalan,” catat Shaleh Putuhena dalam Historiografi Haji Indonesia . Ongkos haji dari waktu ke waktu tentu naik. Sejak lama pemerintah Hindia Belanda punya kepentingan soal haji. Dalam Genealogi Inteligensia: Pengetahuan & Kekuasaan Inteligensia Muslim Indonesia Abad XX , Yudi Latief menyebut pemerintah kolonial pada 1825, 1831 dan 1859 merilis beragam aturan untuk mengatur, mengawasi, dan membatasi keberangkatan haji. Aturan pembiayaan merupakan salah satu cara untuk membatasi. Aparat pemerintah, termasuk asisten wedana, bekerja dalam mengawasi hal tersebut. “Calon haji harus memiliki uang 500 gulden; uang sebesar itu adalah miliknya sendiri; dia sudah (harus menyediakan pemeliharaan yang layak untuk keluarganya yang ditinggalkan selama dia pergi,” kata Pangeran Achmad Djajadiningrat, mantan bupati Serang dan Jakarta, dalam Herinneringen van Pangeran aria Achmad Djajadiningrat . Tanpa uang 500 gulden, tak ada pas haji dari pemerintah. Namun, biaya itu berubah-ubah seiring waktu. Pada 1923, seperti dicatat Shaleh Putuhena, biaya yang harus disiapkan calon haji sekitar 698,7 gulden. Angka itu naik menjadi 856,50 gulden pada tahun 1938-1939. Sebagai perbandingan, menurut Soeprono dalam Selangkah Tapak di Tiga Jaman Mahasiswa Pejuang Kedokteran, harga emas tahun 1930-1940 berkisar antara 1,5 hingga 2 gulden per gram. Era sebelum 1930 harganya lebih rendah lagi. Jika harga satu gram emas sekitar 1,5 gulden saja, uang 500 gulden bisa membeli sekitar 333,3 gram emas. Jika dikalkulasi dengan kondisi hari di mana harga satu gram emas Rp1.341,345, maka biaya haji 500 gulden itu setara sekitar Rp447.115.000,-. Ongkos haji tahun ini berkisar Rp54.000.000,-. Jadi ongkos naik haji zaman Hindia Belanda jauh lebih mahal. Pada 1927, seorang pemuda 19 tahun bernama Abdul Malik, yang kemudian dikenal dengan Hamka, pergi berhaji menggunakan kapal uap. Kapalnya berangkat dari Belawan, Medan sekitar bulan Februari. Seperti diakuinya dalam Kenang-Kenangan Hamka , uang Hamka untuk haji pas-pasan. “Uang dari Medan hanya 500 gulden. Dua ratus enampuluh lima telah dibelikan tiket pulang pergi,” kata Hamka dalam Kenang-kenangan Hamka . Koran Perobahan tanggal 1 Desember 1922 menyebut ongkos naik kapal dari Batavia (Jakarta) ke Jeddah untuk orang di atas usia 12 tahun adalah 175 gulden. Dengan tiket tersebut, pulangnya boleh naik kapal Siermond milik Rotterdamsche Llyod atau SemprongBlau milik Ocean. Uang Hamka habis untuk membeli kelambu gantung, handuk, pakaian ihram, dan membayar uang jamu sebesar 74 gulden. Ketika di Tanah Suci, Hamka harus pula menyiapkan uang untuk biaya karantina, sewa unta, sewa penginapan, dan uang makan selama sekitar 5 atau 6 bulan di Mekkah. Setelah habis untuk banyak pengeluaran di Tanah Suci, uang Hamka hanya tinggal 12 gulden. Itu sebabnya, dia sampai berjalan kaki berhari-hari untuk mencapai Jeddah sebelum pulang ke tanah air. Jadi, sebelum era pesawat terbang, naik haji dari Indonesia sangat memakan waktu sehingga biayanya sangat besar. Setelah era pesawat terbang, seperti sekarang, berhaji memakan waktu hanya sekitar satu bulan untuk haji reguler dan biayanya jauh lebih murah.
- Tendangan dari Sakartvelo
SEJAK gelaran perdananya pada 1960, tak pernah sekalipun Piala Eropa bergulir tanpa peserta debutan. Di Piala Eropa ke-17 tahun 2024 ini, tim Georgia tercatat tampil pertamakali setelah empat kali gagal lolos sejak negaranya merdeka pasca-keruntuhan Uni Soviet. Jika di era 1990-an sampai awal 2000-an ada Kakhaber Kaladze yang jadi bintang di AC Milan dan timnas Georgia, kini ada Khvicha ‘Khvara’ Kvaratskhelia yang bersinar di Napoli dan jadi salah satu motor penting timnas Georgia era kini. Kvara turut andil meloloskan Georgia ke Piala Eropa 2024 di Jerman lewat jalur play-off Liga C UEFA League of Nations dengan menyingkirkan Yunani. Tim asal “Tanah Karvelia” di selatan Pegunungan Kaukasus itu juga berpotensi jadi tim kejutan alias tidak sekadar jadi tim pelengkap belaka kendati rangkingnya terendah dari 23 kontestan lainnya. Di babak penyisihan, Georgia terundi di Grup F bersama Türkiye, Portugal, dan Republik Ceko. Georgia memulai petualangan pertamanya di laga pembuka Grup F kontra Türkiye pada 18 Juni 2024 di Signal Iduna Park alias BVB Stadion Dortmund. Peluang tim yang diasuh Willy Sagnol itu untuk lolos ke perdelapan final juga bukan mustahil. Pasalnya mulai Piala Eropa ke-17 ini UEFA membuka format lolos dari grup dengan jatah empat tim terbaik peringkat tiga di masing-masing grup. “Ini grup yang keras karena Portugal tim kuat Eropa. Türkiye tampil bagus beberapa tahun terakhir dengan para pemain mudanya yang berbakat. Sementara Ceko punya pemain-pemain hebat sepanjang sejarah. Sedangkan kami, Georgia, memang tidak diunggulkan tapi kami pantang gentar dan akan memberikan segalanya yang kami punya saat menghadapi Portugal, Ceko, atau Türkiye,” tegas Sagnol, dilansir laman resmi UEFA, Sabtu (8/6/2024). Baca juga: Keberuntungan Italia di Piala Eropa Tangis haru Willy David Frédéric Sagnol (kiri) yang meloloskan Georgia ke Euro 2024 ( uefa.com ) Merentang Masa Sepakbola Georgia Sakartvelo, begitu lidah orang Georgia menyebut nama asli negeri mereka yang artinya “Tanah Bangsa Kartvelia”. Bangsa Kartvelia mendiami wilayah selatan Kaukasus sejak berabad-abad lampau. Pun ketika bangsa itu terpecah jadi tiga kerajaan yang lantas dianeksasi Rusia dan dijadikan sebagai provinsi pada 1801, sebutan itu tetap eksis dengan identitas Sakartvelo guberniya. Sakartvelo alias Georgia sempat memerdekakan diri dari Kekaisaran Rusia pada 26 Mei 1918 dan menjadi Republik Demokratik Sakartvelo. Namun umurnya pendek. Sebab, pada 1921 Sakartvelo diinvasi Uni Soviet dan sejak itu nama negerinya berubah lebih bernada Slavic, “Gruziya”. Kendati begitu, negeri tempat kelahiran pemimpin Soviet Joseph Stalin alias Iosif Vissarionovich Dzugashvili –lahir di Gori, Georgia– itu lebih dulu mengenal sepakbola modern ketimbang wilayah-wilayah Soviet lain. Baca juga: Luzhniki Ikon Kejayaan Negeri Tirai Besi Mengutip Stuart dan Philip Laycock dalam How Britain Brought Football to the World , permainan si kulit bundar sudah eksis di Sakartvelo medio 1864 atau setahun setelah Inggris membakukan permainan tersebut seiring berdirinya The Football Associaton (FA). Kala itu sepakbola diimpor langsung oleh para pelaut Inggris yang berlabuh di Poti, kota pelabuhan di timur Laut Hitam. “Pada zaman-zaman terdahulu Poti jadi tempat mendarat para prajurit Yunani (kuno) tapi bukan lagi dengan membawa helm dan perisai besi, para pelaut Inggris datang membawa permainan sepakbola. Penduduk lokal menyukai permainan yang dimainkan para pelaut Inggris itu dan gairahnya cepat menyebar sampai ke ibukota, Tbilisi. Pasukan Inggris juga tercatat memainkannya bersama masyarakat lokal dalam sebuah periode pasca-Perang Dunia I selama intervensi militer Inggris di Kaukasus,” tulis Laycock. Walaupun kota pelabuhan Poti diakui sebagai titik nol sepakbola Georgia, tapi bukan di kota itu perkumpulan sepakbola yang kemudian klub resmi pertamanya berdiri, melainkan di Tbilisi. Di kota terbesar itulah berdiri FC Shevardeni berdiri pada 1906 dan FC Comet setahun berselang. Adapun di Poti, klub pertamanya yang berdiri adalah FC Kolkheti pada 1913. FC Dinamo Tbilisi (jersey putih) saat melakoni laga persahabatan kontra Dinamo Baku pada 1926 (Wikipedia) FC Shevardeni Tbilisi namun bukan didirikan oleh orang Sakartvelo, tapi digagas pendidik dan tokoh olahraga Ceko bernama Jaroslav Svatoš. Pada akhir abad ke-19 sepakbola juga dikenalkan oleh ekspatriat Inggris di Moskow, Svatoš, yang membawa serombongan pelatih atletik dan senam dari perkumpulan olahraga Sokol ke Tbilisi. Sepakbola jadi salah satu cabangnya dengan Svatoš memprakarsai FC Shevardeni untuk sektor sepakbolanya. Di Moskow sendiri, ungkap Erik R. Scott dalam artikel “Soccer Artistry and the Secret Police: Georgian Football in the Multiethnic Soviet Empire” yang termaktub dalam buku The Whole World Was Watching: Sport in the Cold War , sepakbola dikenalkan ekspatriat Inggris pemilik pabrik di akhir abad ke-19. Tetapi di lapangan, identitas nasional Georgia mempunyai makna baru yang tidak selalu sesuai dengan ideologi resmi Soviet. Kesuksesan terbesar sepakbola Georgia pada akhirnya menjadi klaim bukti kemenangan identitas nasionalnya ketimbang kemenangan Soviet. Penguatan identitasnya dibentuk melalui lahirnya federasi sepakbolanya, Sakartvelos Pekhburtis Pederatsia (SPP) pada 1936. Wadah bersama itu menaungi klub-klub yang sudah berdiri, termasuk Dinamo Tbilisi yang sudah eksis sejak 1926. Baca juga: Di Balik Sepakbola di Lapangan Merah Meski begitu, baik SPP maupun klub-klubnya tetap berada di bawah ketiak federasi sepakbola Uni Soviet. Dinamo Tbilisi dengan bintangnya, Boris Paichadze, sudah mulai berpartisipasi di Soviet Top League sejak 1937 yang mewakili Georgia berkat dukungan tidak langsung Lavrentiy Beria. Beria juga punya darah Georgia dan beberapa pengurus Dinamo juga pejabat kepolisian rahasia Soviet di Tbilisi. “Tiga kali ia (Paichadze) mengantarkan Dinamo jadi runner-up liga, tiga kali menjadi urutan ketiga, dan tiga kali ia terpaksa gigit jari di final Soviet Cup. Dalam memoarnya, Paichadze mengaku marah karena di kala itu yang boleh juara adalah tim-tim dari Moskow atau Kyiv dan tim dari Georgia hanya boleh puas jadi juara dua,” tulis Jonathan Wilson dalam Behind the Curtain: Football in Eastern Europe . Meski begitu, pemain-pemain asal Georgia nyaris tak pernah absen dari skuad timnas Uni Soviet pasca-Perang Dunia II. Scott mencatat, para pemain Georgia punya gaya main “cantik” yang khas sebagai identitas dan kulturnya. “Sepakbola Georgia punya teknik-teknik yang mempesona dan secara gerakan tarian Georgia, Kurtuli yang khas secara teknis jadi aspek dari repertoar budaya nasional yang sama. Keintiman sepakbola dan tarian budaya itu uniknya juga berjalan dua arah. Tak jarang ada sebuah koreografi tarian tradisional yang menyertakan gerakan mengoper bola di antara para penarinya,” sambung Scott. Ki-ka: Boris Solomonis Paichadze, Aleksandre Gabrielovich Chivadze, Vladimir Gavrilovich Gutsaev & David Kipiani ( nplg.gov.ge/nationaalarchief.nl ) Oleh karenanya, hingga 1980-an para pemain Georgia menghiasi skuad Soviet. Mulai dari Avtandil Gogoberidze, Vladimir Gutsaev, hingga David Kipiani. “Saat Uni Soviet debut di Piala Dunia 1058, seperlima skuadnya berasal dari Dinamo Tbilisi, sebuah tren yang terus berlanjut hingga periode Soviet. Pertamakali tim Soviet punya kapten yang tak terafiliasi dengan klub asal Moskow adalah pada 1972 ketika bek Dinamo Tbilisi Murtaz Khurtsilava memegang ban kapten. Kali kedua pada 1980 saat posisi (kapten) diteruskan ke rekan setimnya dari Tbilisi, Aleksandre Chivadze,” tambah Scott. Uni Soviet akhirnya runtuh pada Desember 1991 tapi setahun sebelumnya, SPP sudah menarik diri dari federasi Soviet dan bertransformasi menjadi Georgian Football Federation (GFF) yang berdiri sendiri. GFF kemudian melamar jadi anggota UEFA dan FIFA yang resmi diterima keduanya pada 1992 sekaligus menjadi era baru bagi persepakbolaan di Tanah Kartvelia. “Georgia memang jadi salah satu republik pertama (merdeka 9 April 1991, red. ) yang menarik diri dari federasi Soviet pada 1990 tetapi sepakbola Georgia gagal mengulangi kesuksesan sebelumnya di era Soviet karena faktor pendanaan saat keikutsertaan di kompetisi internasional makin meningkat,” ungkap Scott dalam ulasan yang berbeda dalam buku Familiar Strangers: The Georgian Diaspora and the Evolution of the Soviet Empire. Baca juga: Fasisme Kontra Komunisme di Final Piala Eropa Seiring GFF berdiri sendiri pada 1990, timnas Georgia pun dibentuk. Timnas Georgia melakoni laga perdananya lewat laga persahabatan kontra Lithuania pada 27 Mei 1990 yang berakhir draw , 2-2. Namun hingga 2024, Georgia acap gagal di kualifikasi Piala Eropa maupun Piala Dunia. Faktor yang menghambat sepakbola Georgia adalah konflik yang tak kunjung usai di Abkhazia dan Ossetia Selatan yang beririsan langsung dengan Georgia pasca-keruntuhan Uni Soviet. “Situasinya sangat buruk. Tidak ada listrik, hampir tidak ada apapun di toko-toko. Kami sangat kesulitan kala itu. Di era Soviet, stadion-stadion penuh penonton tapi pada 1990-an hampir mustahil mengembangkan sepakbola di sini dan kami menghadapi tantangan yang berat pula untuk membangun kultur suporter lagi,” kenang kepala PR Dinamo Tbilisi, Levan Gvinianidze, dikutip majalah When Saturday Comes edisi Desember 2011. Situasinya kian pelik saat terjadi Perang Rusia-Georgia (1-16 Agustus 2008). Bintang AC Milan asal Georgia, Kakha Kaladze, sampai memohon kepada Silvio Berlusconi, bos AC Milan cum Perdana Menteri Italia (2008-2011), agar turut menghimpun dukungan negara-negara Uni Eropa dan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) demi mengakhiri perang. “Dunia tidak tahu bahwa berkat intervensi Silvio Berlusconilah yang mengakhiri perang di Georgia dan saya berterimakasih untuk itu. Berlusconi selalu jadi teman baik Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin. Saya tahu Bersluconi menghabiskan lima jam menelefon Putin untuk mencari solusi. Ia membuktikan dirinya sebagai sosok yang sensitif dan kapabel dalam diplomasi, seorang duta perdamaian yang berharga,” tutur Kaladze kepada RTÉ , 1 September 2008. Kakhaber 'Kakha' Kaladze (kiri) & Khvicha 'Kvara' Kvaratskhelia ( acmilan.com/UEFA )
- Kolam dan Tradisi Mandi
GREAT BATH, bekas kolam mandi di Kota Mahenjo-daro yang kini berada di Sindh, Pakistan, diyakini merupakan yang tertua. Kolam berukuran 12 x 7 x 2,5 meter itu berasal dari tahun 5000 SM. “Para sarjana setuju bahwa kolam ini digunakan untuk fungsi keagamaan khusus di mana air digunakan untuk memurnikan dan memperbarui kesejahteraan penggunanya,” tulis laman swimmingpool.com . Konsep ritual pemurnian itu terus bertahan dan menyebar. Bangsa-bangsa Asia lain, termasuk kerajaan-kerajaan di Nusantara, mulai membangun kolam-kolam mandi dengan tujuan untuk kesucian hingga kesehatan. Baca juga: Sejarah Kolam Renang Pertama di Indonesia Terinspirasi tradisi mandi bangsa-bangsa Timur, Yunani membangun kolam mandi dan rumah mandi ( bath house ). Kolam bukan hanya jadi tempat ritual atau mandi, tetapi juga tempat bersosialisasi dan melatih kebugaran (olahraga). Fungsi ini kemudian melahirkan olahraga renang. Sampai-sampai filsuf Plato menganjurkan para orangtua mengajari anak-anak mereka berenang, salah satu kegiatan yang menurutnya sama bermanfaatnya dengan belajar matematika atau filsafat. Apa yang dilakukan bangsa Yunani menginspirasi bangsa Romawi. Mereka membangun kolam renang pertama pada abad ke-1 SM. Mereka juga memperkenalkan pembuatan jacuzzi pada tahun 8 SM dengan desain apik yang dilengkapi taman, air terjun buatan, dan perpustakaan. Pada abad ke-4, Romawi membangun kolam renang luks seluas lebih dari delapan hektar yang dilengkapi air hangat. Militer Romawi menjadi pengguna tetap kolam. Mereka menggunakannya untuk melatih kekuatan fisik. Olahraga renang berkembang pesat pada masa itu, yang melahirkan beberapa gaya dalam olahraga renang. Baca juga: Berenang Hingga ke Cikini Kejatuhan Romawi membawa kolam dan olahraga renang memasuki masa suram. Bangsa Eropa masih menganggap negatif kolam dan segala bentuk aktivitas air, terutama mandi. Pandangan gereja, yang menganggap mandi merupakan kesenangan duniawi yang harus dijauhi, melatarbelakangi anggapan itu. “Sentimen anti-Islam memainkan peran penting,” tulis Kees van Dijk dalam “Soap is the onset of civilization”, dimuat Cleanliness and Culture: Indonesian Histories suntingan C. van Dijk dan J. Gelman Taylor. Perlahan pandangan itu luntur. Catatan para penjelajah Eropa membuka cakrawala pemikiran orang-orang Barat. Lambat laun mereka mengadopsi tradisi mandi ala Timur.*





















