Hasil pencarian
Cari di situs ini
10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mandela dan Palestina
SUDAH sejak 29 Desember 2023 Afrika Selatan mengajukan kasus terhadap Israel ke International Court of Justice (ICJ) di Den Haag, Belanda. Hari ini, Kamis (11/1/2024) waktu setempat (Jumat, 12 Januari WIB), hari pertama dari dua hari sesi dengar pendapatnya dimulai. Afrika Selatan “menyeret” Israel ke mahkamah internasional itu dengan dukungan dari puluhan negara. Malaysia jadi negara pertama yang secara resmi memberikan dukungan, disusul Türkiye, Bolivia, Venezuela, Maladewa, Pakistan, Venezuela, Kolombia, Brasil, serta segenap negara anggota OIC atau Organisasi Kerjasama Islam. Sementara, Indonesia yang selama ini juga mendukung Palestina tidak ikut secara resmi mendukung pengkasusan Israel itu. Mengutip Kumparan , Kamis (11/1/2024), Kementerian Luar Negeri RI (kemlu) mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia tetap memberi dukungan secara moril dan politis tapi tidak dengan ikut menggugat atau mendukung secara hukum. Alasannya, karena Indonesia bukan “Negara Pihak” atau anggota PBB yang terikat perjanjian CPPCG atau Konvensi Genosida 1948 yang menjadi dasar pegangan ICJ. Kendati demikan, Menlu RI Retno Marsudi tetap dijadwalkan ikut hadir di muka sidang mahkamah internasional itu di sesi pendapat lisan pada 19 Februari 2024. Baca juga: Bom Fosfor Putih yang Digunakan Israel di Gaza Dalam kasus “Afrika Selatan vs. Israel” itu, pihak Afrika Selatan diwakili tim hukum John Dugard, Adila Hassim, Tembeka Ngcukaitobi, dan Vaughan Lowe, di bawah pimpinan Menteri Kehakiman Afrika Selatan Ronald Lamola. Sedangkan lawannya dari Israel diwakili advokat “cabutan” dari Inggris, Malcolm Shaw. Kedua pihak sama-sama menunjuk dua hakim, Aharon Barak dan Dikgang Moseneke sebagai hakim ad hoc- nya. Sementara majelis hakimnya terdiri dari 15 hakim masing-masing dari Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, Australia, Brasil, Jerman, India, Jamaika, Jepang, Lebanon, Maroko, Slovenia, Somalia, dan Uganda. Hari pertama sesi dengar pendapat di ICJ Den Haag (Tangkapan Layar webtv.un.org ) Afrika Selatan sendiri mengajukan kasusnya sejak akhir Desember lalu atas dasar Konvensi Genosida. Dasar pemikirannya, Israel yang berlindung di balik klaim “membela diri” telah melanggar konvensi itu dengan tindakan-tindakan militer sejak 7 Oktober 2023 yang di luar batas terhadap warga sipil Palestina, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat. Menukil kantor berita Türkiye, Anadolu Ajansı , Kamis (11/1/2024), hingga menjelang 100 hari serangan brutalnya, Israel telah membantai 23.469 jiwa dan melukai 59.604 orang lainnya di Gaza. Kendati begitu, sejak dikasuskan, pihak Israel tetap tak terima dan mengecam tindakan Afrika Selatan. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bahkan menuding Afrika Selatan sebagai pihak yang munafik. “Kemunafikan Afrika Selatan lantang terdengar sampai ke langit ketujuh. Kami memerangi kebohongan. Hari ini kita melihat dunia sudah terbalik. Israel dituduh genosida saat memerangi genosida,” cetus Netanyahu, dikutip Reuters , Kamis (11/1/2024). Baca juga: Kala Penduduk Gaza Terusir, Peristiwa Nakba Terulang Lagi? Tudingan Israel tak membuat Afsel berubah pendirian. Pada sesi pertama dengar pendapat hari ini, tim hukum Afrika Selatan dengan lantang mengungkapkan Israel telah melanggar Pasal 2 dalam Konvensi Genosida, di antaranya dengan tindakan hukuman kolektif, serangan udara, menciptakan kelaparan, dan pengusiran paksa. “Skala kehancuran di Gaza, penargetan permukiman dan warga sipil, peperangan yang mengarah pada perang terhadap anak-anak, semua menjadi jelas bahwa niat genosida telah dipahami dan dipraktikkan. Hal itu dimaksudkan untuk menghancurkan kehidupan warga Palestina,” ungkap Ngcukaitobi dalam sesi itu, dilansir Associated Press , Jumat (12/1/2024). Sementara, Lamola menyatakan bahwa kekerasan, genosida, dan kehancuran di Palestina bukan dimulai sejak 7 Oktober 2023, melainkan sudah sejak 76 tahun lampau pasca-berdirinya negara zionis Israel. Akibatnya Palestina tetap dalam pendudukan dan tak memiliki kedaulatan dalam hampir semua aspek kehidupan meski sudah mendeklarasikan kemerdekaan pada 1988. “Dalam rangka mengulurkan tangan kepada rakyat Palestina, kami memahami bahwa kami adalah bagian dari kemanusiaan. Ucapan itu berasal dari bapak bangsa Presiden Nelson Mandela; inilah semangat di mana Afrika Selatan menyetujui Konvensi Genosida 1948. Inilah semangat di mana pendekatan kami dalam persidangan ini sebagai ‘Negara Pihak’ dalam konvensi. Ini komitmen kami kepada semua, kepada rakyat Palestina dan juga Israel,” tukas Lamola. Tim hukum Afrika Selatan yang menuntut Israel atas kasus genosida (Tangkapan Layar webtv.un.org ) Seruan Mandela untuk Kedaulatan Palestina Afrika Selatan sejak rezim apartheid atau pra-Mandela sudah mendukung lahirnya negara zionis Israel pada 1948. Sebagai negara kesembilan yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Israel, Afrika Selatan pun menjalin hubungan diplomatik. Kendati demikian, Israel ikut menentang apartheid di Afrika Selatan. Hal itu direspons eks-PM Afrika Selatan cum “Bapak Apartheid”, Hendrik Verwoerd. Dia mencibir kemunafikan Israel yang menerapkan pula apartheid terhadap wilayah Arab Palestina. “Israel tidak konsisten dengan attitude apartheid -nya yang baru. Mereka mengambil wilayah dari orang Arab setelah orang-orang Arab tinggal di sana selama ribuan tahun. Israel, seperti halnya Afrika Selatan, adalah negara apartheid ,” ujar Verwoerd, dikutip sejarawan Israel, Ilan Pappé dalam Israel and South Africa: The Many Faces of Apartheid. Baca juga: Pendukung Zionis yang Mengutuki Kebrutalan Israel Meski kemudian Afrika Selatan membela Israel pada Perang Enam Hari (5-10 Juni 1967), segalanya berubah seiring Mandela dibebaskan dari penjara pada Februari 1990 di pengujung rezim apartheid . Simpatinya terhadap Palestina diperlihatkan saat ia mengenakan keffiyeh Palestina yang dilingkarkan di lehernya saat menjadi tamu National Union of Algerian Youths di Alger, Aljazair pada 18 Mei 1990. Kala berkunjung ke Kairo, Mesir dua hari berselang, untuk kali pertama Mandela bersua pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina PLO, Yasser Arafat. Keduanya saling mengunci pelukan hangat teriring senyum lebar. “Saya meyakini bahwa ada banyak kesamaan antara perjuangan kami dan PLO. Kami hidup di bawah bentuk kolonialisme yang unik di Afrika Selatan, begitupun (orang Palestina) di Israel,” ungkap Mandela, dikutip Roni Mikel-Arieli dalam Remembering the Holocaust in a Racial State: Holocaust Memory in South Africa from Apartheid to Democracy (1948-1994). Pertemuan Nelson Mandela (kiri) dengan Muhammad Yassir Abdul Rahman Abdul Rauf Arafat al-Qudwa di Kairo pada 1990 ( nelsonmandelafoundation.org ) Setelah terpilih sebagai presiden usai memenangi pemilu demokratis pertama di tahun 1994, Mandela mulai menyuarakan penyelesaian damai bagi konflik Palestina-Israel. Toh ia tetap mengakui eksistensi Israel dan jadi salah satu pendukung two-state solution atau solusi dua negara. “Sebagai sebuah pergerakan perjuangan, kami mengakui legitimasi nasionalisme Palestina sebagaimana kami mengakui legitimasi zionisme sebagai nasionalisme Yahudi. Kami menegaskan hak negara Israel untuk eksis di wilayah perbatasannya tetapi berlaku hal yang sama, (kami) mendukung hak kedaulatan Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri,” tutur Mandela dikutip The New York Times edisi 12 Juni 1994. Baca juga: Che Guevara dan Perlawanan di Gaza Dalam kesempatan berbeda, Mandela lebih memperjelas sikapnya. “Dukungan untuk Yasser Arafat dalam perjuangannya bukan berarti ANC meragukan hak eksistensi Israel sebagai negara. Walau bukan berarti Israel berhak mengambil wilayah yang mereka duduki dari dunia Arab, seperti Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, dan Tepi Barat. Kami tidak menyetujui itu. Wilayah-wilayah ini harus dikembalikan kepada bangsa Arab (Palestina).” Mandela kembali menegaskan dukugannya pada kebebasan, kemerdekaan, dan kedaulatan Palestina pada 4 Desember 1997 dalam rangka Hari Solidaritas Internasional. Ia menyerukan penyelesaian perkara dan ketidakadilan yang dialami masyarakat Palestina terhadap pendudukan Israel. “Kita semua perlu melakukan tindakan lebih dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri. Kami sangat memahami bahwa bahwa kebebasan kami tidaklah lengkap tanpa kebebasan rakyat Palestina,” tegas Mandela, dikutip Jamil Effarah dalam Think Palestine: To Unlock U.S.-Israelis & Arab Conflicts. “Konflik Palestina-Israel bukan hanya isu tentang pendudukan militer, dan Israel bukanlah negara yang lahir secara normal dan baru menduduki negeri lain pada 1967. Palestina tidak berjuang untuk sebuah ‘negara’ (karena sudah mendeklarasikan kemerdekaan pada 1988 , red. ) tapi untuk kebebasan dan kesetaraan, seperti halnya perjuangan kami demi kebebasan di Afrika Selatan,” tambah Mandela. Masyarakat Palestina berkumpul di Alun-Alun Nelson Mandela di Ramallah ( palmissionuk.org ) Sikap itu menjadikan sosok Mandela jadi salah satu figur internasional yang dicintai masyarakat Palestina. Pada 2016 atau tiga tahun pasca-wafatnya Mandela, persahabatan Afrika Selatan-Palestina dipererat dengan hadiah patung Mandela setinggi enam meter dari Pemerintah Kota Johannesburg kepada Otoritas Palestina. Patungnya ditempatkan di sebuah area yang dinamai “Alun-Alun Mandela” di kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina. Di Alun-Alun Mandela itu pula pada Rabu (10/1/2024), atau menjelang hari pertama pertama sesi dengar pendapat di sidang “Afrika Selatan vs Israel” atas kasus genosida di ICJ, Den Haag, ribuan masyarakat Palestina berkumpul. Mereka mengusung bendera Palestina, bendera Afrika Selatan, dan spanduk-spanduk bertuliskan “Ceasefire Now”, “Stop the Genocide”, dan “Thank You South Africa”. “Hari ini kami mengucapkan terima kasih. Terima kasih kepada Afrika Selatan karena mengajukan kasus atas pendudukan (Israel) di ICJ. Kami percaya banyak negara lain ikut merasakan penderitaan kami tapi Afrika Selatan memutuskan untuk mewujudkannya di atas kertas untuk mengajukan kasusnya,” tukas Walikota Ramallah, Issa Kassis, dilansir Africa News , Rabu (10/1/2024). Baca juga: Mimpi Raja Faisal Memerdekakan Palestina
- Ray "The Doors" Prajurit Rock n’Roll
BARAT memaksa seseorang untuk mandiri, berjuang sendiri untuk apa yang diinginkan. Sebagai orang Barat, Britt Leach dan Raymond Daniel Manczarek Jr. alias Ray jelas punya cita-cita. Britt Leach suka pada sastra Rusia. Dia ingin bisa membaca novel karya Fyodor Dostoyevsky dalam bahasa aslinya. Jadi, dia ingin belajar bahasa Rusia demi membaca kisah-kisah yang penuh kemuraman hidup. Sementara, Ray ingin belajar film. Tapi keduanya punya jalan sama: masuk tentara Angkatan Darat Amerika. Keduanya mulai berada di Angkatan Darat sejak 1961, ketika Perang Dingin (antara Blok Barat vs. Blok Timur) berkecamuk. Kedua pemuda terpelajar yang bukan anak pembesar itu ditempatkan di Korps Sinyal. Seperti salah satu bintang film porno Amerika tempo dulu, John Holmes, Ray dan Britt dapat pangkat prajurit kelas satu. Namun, Ray dan Britt insyaf bahwa mereka salah jalan. “Ray dan saya menemukan diri kami berada di Okinawa, yang berada di Kepulauan Ryukyu, yang merupakan bagian dari Jepang, di sebuah pos militer bernama Stasiun Torii, yang menghadap ke Laut Cina Timur. Dengan bidang antena yang besar. Ray tidak berada di Korps Sinyal dengan kamera bagus dan sebagainya, dan saya belum belajar bahasa Rusia,” aku Britt Leach di kemudian hari, dimuat dalam situs web-nya. Mereka berada di Okinawa sekitar tahun 1962. Di sana, hampir tiap malam mereka meneguk Johnny Walker Black. Tak hanya salah jalan, keduanya juga ditempatkan di bagian intelijen keamanan tentara, Army Intelligence Service. Itu membuat mereka diharuskan menandatangani kontrak kerahasiaan untuk tidak membocorkan rahasia negara. Penempatan itu membuat Britt tak punya pilihan. Sebab, dia punya anak dan istri di Amerika. Namun Ray masih bujang dan belum lama putus cinta. Maka dia tak mau menandatanginya. Ray masih punya keinginan untuk pergi ke kampung leluhurnya di Polandia. Namun kala itu Polandia bagian dari Blok Timur dan jika Ray menandatangani kontrak itu, maka dia tak mungkin diizinkan ke sana. Ray ditempatkan ke peleton biasa di Stasiun Torii. Dia pernah membiarkan rambutnya memanjang dan berkumis. Namun satu teguran dari seorang perwira membuatnya terlihat tapi seperti tentara pada umumnya lagi alias cepak. Ray kemudian dikirim ke Laos, bekas jajahan Perancis di Asia Tenggara. “Tentara ingin membantu Ray mengubah pikirannya mengenai masalah izin keamanannya dan berpikir bahwa hutan di Laos akan membantu dalam hal itu, akan memusatkan pikirannya dengan baik,” terang Britt Leach. Kendati begitu, Ray tetap berkeras tak mau tandatangan kerahasiaan. Britt menganggap itu sebagai sesuatu yang rock n’ roll. Ketika berada di Laos, Ray tetap berhubungan dengan Britt di Okinawa. Ray agak bahagia, tanah Laos membuatnya bisa bercocok tanam. Dia mengembangbiakkan tanaman yang disebut Britt Leach sebagai herbal. Herbal yang satu ini bisa dihisap. Kemungkinan marijuana alias ganja. Ray akhirnya diberhentikan dari Angkatan Darat. Dia kemudian kuliah lagi hingga mendapat gelar master di bidang perfilman. Di masa ini, Ray bertemu Dorothy Aiko Fujikawa yang kemudian jadi istrinya. Ray juga bertemu dengan tiga pemuda gondrong yang kemudian bersamanya dalam band rock The Doors. Di sana, Ray tak hanya kembali bermain piano—seperti waktu kuliah bersama Beta Pi Mu Combo— tapi bermain keyboard dengan suara yang cukup dikenal dalam dunia rock n’roll. Sementara ketenarannya terus melambung, Ray terus berkawan dengan Britt, yang akhirnya juga keluar dari tentara juga. Keduanya kemudian bertemu. “Dia bagian lain dari hidupku. Aku menghabiskan waktu dia beberapa tahun awal dengannya,” kata Ray dalam Light My Fire: My Life with The Doors . Keduanya lantas berkiprah di dunia entertainment . Bukan Ray yang kemudian dikenal sebagai orang film, tapi justru Britt. Britt kemudian hidup di dunia film dengan menjadi aktor watak. Sedangkan Ray lebih dikenal sebagai Ray Manzarek, musisi legendaris dari The Doors —yang naik daun setelah lagu “Light My Fire” meledak.*
- Perebutan yang Menghancurkan
KAMI tertahan di tengah ratusan kawah sedalam belasan meter. Tebing-tebing berdenyit. Celah-celah rekahan bisa runtuh kapan saja; menimbun siapa pun yang berada di dasar dengan berton-ton batuan. Banyak yang telah mengalaminya. Seorang pria bersepatu bot mengadang kami masuk lebih dalam. Ia menanyakan apakah kami sudah dapat izin dari kepala desa. Pendamping kami, seorang warga lokal, bersikukuh kalau urusan birokrasi itu tak perlu kami lakukan. Sementara mereka beradu mulut, kami mendengar suara dentum dan gemuruh samar-samar di kejauhan. Lengan kuning ekskavator dan selang-selang besar mengintip dari balik kawah. Mulut ekskavator mondar-mandir mengeruk tanah, sementara selang-selang menghujam air bertekanan tinggi ke arah tebing. “Kalau belum izin ke desa, setidaknya coba lapor dahulu ke Pak RT,” kata pria bersepatu bot. Kami bertanya di mana Pak Ketua RT bisa ditemui. “Di sana,” ia menunjuk ke sebuah kawah di kejauhan. “Lagi nambang juga.” Lokasi tersebut adalah konsesi milik PT Timah, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang harusnya sudah masuk tahap penutupan lubang tambang dan penanaman vegetasi. Namun, lubang-lubang tersebut, yang disebut kulong , justru disusupi oleh warga Desa Telak Kabupaten Bangka Barat yang ingin mendapatkan remah-remah kekayaan peninggalan perusahaan. Baca juga: Mendulang Sejarah Tambang Nusantara Kulong merupakan lanskap penciri tambang timah. Penggalian kulong pertama kali dilakukan oleh orang-orang Tionghoa, yang didatangkan oleh Kesultanan Palembang pada abad ke-18, dengan teknologi kulit. Mereka menguliti lapisan atas tanah dengan roda air ( chia-caw ) dan pompa air ( chin-cia ). Saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 12 ribu kulong di Bangka Belitung, baik yang dikeruk berabad silam maupun baru dibuka belakangan. Banyak di antaranya dimanfaatkan sebagai tambang rakyat. Tambang-tambang timah di kulong itu disebut sebagai Tambang Inkonvensional (TI), penghalusan untuk menyebut tambang ilegal yang dikelola oleh masyarakat. Semula TI merujuk pada mitra kerja PT Timah, yang hanya bisa diakses oleh pengusaha. TI yang dioperasikan oleh warga Desa Telak mengandalkan meriam air untuk mengikis tebing kaya timah. Itulah mengapa selang berjuntaian di mana-mana, meluapkan air deras karena dorongan mesin diesel. Cara ini mereka adopsi dari teknologi lama masa kolonial. Praktik penambangan timah dengan meriam air yang mampu mengikis tebing secara instan tahun 1933. (Ir. J. van den Broek/ KITLV Album A614 Shelfmark 52944 ). Tanah Bangka yang Dikikis Ini bermula ketika produksi timah menyurut pada 1850. Pemerintah kolonial pun mencari teknologi lebih modern ketimbang yang dibawa oleh para pekerja Tionghoa. Beruntung, di seberang dunia, dua penambang emas Nevada baru saja menemukan teknologi baru. Sebutannya tambang hidraulis, cikal-bakal meriam air. Konsepnya sederhana: tembak air ke arah tebing sampai seluruh bebatuan hancur menjadi pasir dan kerikil, lalu saring timah dari sela-sela pasir dan kerikil tersebut. Penggunaan meriam air mampu mengekstrak timah dalam jumlah banyak dan waktu singkat. Terbukti, produksi timah kembali meningkat. Tapi, meriam air sangat menghancurkan. Rangkaian perbukitan rata dalam hitungan bulan. Limbah sedimen yang dihasilkannya menyumbat aliran sungai. Lahan-lahan pertanian berubah menjadi rawa. “Dasar sungai terangkat beberapa kaki, bahkan beberapa meter, meningkatkan frekuensi banjir dan menimbun lahan pertanian di hilir dengan limbah steril,” tulis sejarawan Corey Ross dalam The Tin Frontier: Mining, Empire, and Environment in Southeast Asia, 1870s-1930s . Teknologi pertambangan ini mengancam penghidupan Orang Darat atau Orang Gunung. Orang Gunung hidup semi-nomaden dan tinggal di lokasi yang dekat dengan sumber mata air. Mereka menerapkan sistem ladang berpindah dengan memanfaatkan hutan, untuk menanam padi dan lada. Mereka juga melakukan berbagai aktivitas produktif seperti memancing di sungai. Lalu, memasuki abad ke-18, mereka ikut dalam pertambangan timah berskala industrial, berdampingan dengan Kongsi Tionghoa. Namun, bersamaan dengan penggunaan meriam air, Orang Gunung dipaksa menetap di kampung-kampung yang jauh dari lokasi tambang. Keputusan pemerintah kolonial ini setidaknya memiliki tiga alasan. Baca juga: Depati Amir, Pahlawan Nasional dari Pulau Timah Pertama, respons pemerintah terhadap pemberontakan Depati Amir, pahlawan nasional Bangka, yang bekerja sama dengan kongsi Tionghoa. Pemerintah ingin memutus kontak mereka dengan orang Tionghoa. Kedua, pandangan pemerintah bahwa pribumi tidak cocok untuk berkecimpung dalam sistem ekonomi kapitalis. Karenanya, pemerintah mencoba “menyelamatkan” kemurnian pola hidup mereka. Ketiga, ambisi pemerintah untuk menjinakkan pola hidup semi-nomaden Orang Gunung. Dengan hidup menetap, mereka tidak lagi mempraktikkan ladang berpindah yang melibatkan penebangan pohon sehingga ketersediaan kayu untuk kepentingan industri tambang dapat terjamin. Dalam sebuah perputaran nasib, Orang Gunung justru dilimpahi kerja penebangan pohon dan pembuatan arang untuk industri timah oleh pemerintah. Seiring dengan terkikisnya rangkaian perbukitan oleh meriam air, akses Orang Gunung terhadap tanah ulayat mereka perlahan raib. Menurut Mary Somers Heidhues dalam Bangka Tin and Mentok Pepper , klimaksnya terjadi pada 1923. Belanda menyatakan masyarakat asli Bangka tidak punya hak kepemilikan tanah kampung, rumah, dan lahan pertanian. Yang boleh mereka miliki adalah tumbuhan yang mereka tanam. Akibat pemukiman paksa, Orang Gunung menganut identitas baru secara kolektif, yaitu sebagai orang Bangka. Keturunan mereka, bersama para pendatang dari luar pulau, kelak datang berbondong-bondong ke kulong-kulong tua bersamaan dengan dilepaskannya monopoli timah oleh negara pada 1998. Mereka memakai meriam air, artefak kolonial yang 150 tahun sebelumnya mencabut akses mereka dari kekayaan timah. Emmerbaggermolen 5 yang digunakan untuk menambang kulong tua di Belitung. (Ir. J. van den Broek/ KITLV Album A614 Shelfmark 52939 ). Mengeruk dan Mengeruhkan Laut Apa yang terjadi di darat, juga terjadi di laut. Di lepas pantai utara Pulau Bangka, barisan menara berdinding kayu membubung tinggi. Bersanding rapat satu sama lain, layaknya gedung perkantoran di pusat kota. Sebuah metropolis di tengah teluk. Menara-menara itu disebut tower , rakit raksasa yang bisa mengekstrak 10–20 kilogram pasir hitam dalam sehari atau setara tiga sampai enam juta rupiah. Bagian paling menakjubkan dari tower justru tidak terlihat dari permukaan, yaitu pipa penyedot yang menjulur puluhan meter dan menancap ke sedimen di dasar laut, menyeruput pasir berwarna hitam pekat: bijih timah. Para pekerja dibayar per hari oleh juragan, pemilik tower , dengan sistem bagi hasil timah atau upah. Sementara itu, para perempuan menunggu donasi satu atau dua jumput pasir hitam dari para pekerja sebagai imbalan mengantarkan bekal makanan. Warga di Dusun Bakit Pecinan Kabupaten Bangka Barat bertumpu pada tower dan timah, baik secara langsung maupun tidak. Hal ini diutarakan oleh Amrullah (58), kepala dusun, yang kami temui di sebuah warung tempat para pekerja tambang singgah sebelum melaut dengan taksi sampan. “Sulit memisahkan masyarakat dengan timah. Dengan bebas orang mengambil timah, terasa sekali di sini,” katanya. Baca juga: Peranakan Tionghoa di Bangka-Belitung Sama seperti hikayat meriam air, tower pun terinspirasi dari rekayasa insinyur Belanda pada awal abad ke-20 dalam misi memproduksi timah dalam jumlah berlimpah. Idenya tercetus karena daerah yang dapat ditambang oleh meriam air kian menyusut, sementara permintaan timah dunia semakin meningkat. Dirakitlah emmerbagger atau emmerbaggermolen , kapal keruk. Haluannya dilengkapi bilah sepanjang belasan sampai puluhan meter untuk memutar konveyor yang dipersenjatai puluhan ember pengorek tanah. Kekuatan satu kapal sepadan dengan tenaga 2.000 kuli. Namun, Corey Ross menekankan bahwa kapal keruk hanya memindahkan dampak ekologi dari perbukitan ke dataran rendah. Kapal keruk merusak lingkungan dengan cara menimbun tanah subur dengan sedimen mati yang mereka keruk dari kedalaman. Lanskap yang dihasilkan oleh aktivitas kapal keruk, menurutnya, adalah gundukan dan bukit pasir yang “rusak secara permanen”. “Maka, pengerukan merupakan bentuk lain dari ‘penghancuran massal’,” tulis Ross. Di Bangka maupun Belitung, praktik “penghancuran massal” masih berlangsung sampai sekarang dengan teknologi yang sama, bahkan lebih mutakhir. Per 2022, 50 unit kapal isap –pembaruan model kapal keruk yang mulai dipakai sejak 2006– dioperasikan di seluruh penjuru perairan dangkal provinsi oleh PT Timah. Baca juga: Awal Mula Tambang Batubara Kapal keruk pun punya andil mengubah perilaku masyarakat Bangka yang tinggal di pesisir, terutama pasca Indonesia merdeka. Mereka didominasi etnis Melayu, tetapi terdapat juga Bugis, Makassar, dan Buton. Dulu sempat ada kelompok yang disebut sebagai Orang Laut, tapi jumlahnya tak pernah lebih dari ratusan orang. Saat ini yang tersisa hanya segelintir. Mereka hidup di antara penduduk pesisir baru yang kebanyakan berasal dari luar Bangka. Dalam “Aktor, Akses dan Politik Lingkungan di Pertambangan Timah Bangka”, dimuat Jurnal Masyarakat Indonesia Vol. 36, No. 2 (2010), Erwiza Erman mengutarakan, para penduduk pantai yang sebelumnya berprofesi sebagai nelayan diam-diam mengambil kerja sampingan sebagai pengumpul timah dari sisa-sisa penambangan ( tailing ) kapal keruk. “Bahkan kadang kala mereka bekerja sama dengan para petugas kapal keruk dan nelayan untuk menyelundupkan timah ke luar Bangka,” sambung Erman. Namun, aktivitas itu terhenti ketika kapal keruk berevolusi menjadi kapal isap yang tak menghasilkan tailing . Para nelayan tak bisa lagi mendapatkan sisa-sisa timah, sementara ikan enggan datang ke perairan. Kini, orang Bangka pesisir mereplikasi kapal isap menjadi model-model bajakan yang murah meriah. Tower adalah salah satu yang paling terkenal. Seorang penambang muda menunjukkan bijih timah yang didapatkan dalam satu hari. (Dok. Finlan Aldan) Pelampiasan Massal Teknologi kulit , meriam air, dan tower layaknya mayat yang dihidupkan kembali oleh orang Bangka ketika mereka beralih profesi secara masif dari petani dan nelayan menjadi pekerja tambang, khususnya TI. Erwiza Erman menegaskan, membludaknya TI merupakan bagian dari “perjuangan untuk mendapatkan akses bisnis pertimahan” yang sebelumnya hanya memenuhi kantong penguasa. Monopoli timah tidak berhenti di masa kolonial. Ia berlanjut setelah Indonesia merdeka. Pada 1968, pemerintah membentuk Perusahaan Negara (PN) Tambang Timah, yang kini menjadi PT Timah Tbk. Perusahaan ini merupakan hasil dari nasionalisasi tiga perusahaan tambang timah Belanda, yakni Banka Tinwinning Bedrijf (BTW), Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB), dan NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (SITEM). Kala itu timah dikategorikan sebagai komoditas strategis yang diawasi dan diatur sepenuhnya oleh negara. Sama seperti Belanda, tak ada akses bagi rakyat untuk menambang timah, meskipun di tanahnya sendiri. Baca juga: 19 November 1846: Mula Tambang Batu Bara Namun, diam-diam penduduk Bangka bergumul dengan bisnis timah lewat pasar-pasar gelap. Jumlahnya tidak sedikit. Hampir 90 persen penduduk. Mereka terpaksa mengambil jalur berbahaya ini karena desakan ekonomi pasca-perang. Padahal, pemerintah melarang warga menyimpan timah. Yang tertangkap bisa dipenjara. “Membawa timah satu sendok teh pun, bisa langsung dibawa sama petugas ,” tulis Darwance dkk. dalam artikel “Strategi Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam Pengaturan Pertimahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung: Dari Zaman VOC hingga Indonesia Merdeka”, Prosiding SNAPER-EBIS 2017 , berdasarkan wawancara dengan salah seorang warga Kabupaten Bangka Selatan. Kejatuhan Orde Baru menandai akhir dari monopoli perusahaan negara. Produksi timah dibuka untuk swasta. Namun, praktik ilegal juga tumbuh subur. Tambang-tambang lama yang telah tutup dilabrak oleh penduduk dan kembali digali. Bekas kebun, belantara bakau, bahkan halaman tetangga dikeruk jika timah ada di dalamnya. Pada 2002, diestimasikan terdapat 130.000 penambang TI di seluruh provinsi. Sebagai perbandingan, jumlah penduduk Bangka Belitung tahun itu adalah 913.884 jiwa. Berarti, hampir satu dari setiap lima orang Bangka Belitung merupakan penambang TI. Di sisi lain, seiring dengan masuknya tambang ilegal di darat dan laut, profesi petani dan nelayan berangsur hilang. Baca juga: Timah dan Tuan Besar Para nelayan tercerabut dari laut karena ikan enggan datang ke perairan yang keruh oleh kapal keruk dan kapal isap. Sementara itu, para petani padi dan lada kehilangan tanaman mereka akibat sungai yang tercemar tailing , limbah sisa timah, yang umumnya terbawa dari aktivitas penambangan di hulu. Protes dan penentangan beberapa kali terjadi. Namun, lambat laun mereka ikut serta dalam aktivitas penambangan karena tergoda harga timah yang fantastis, juga karena perangkat penghidupan mereka sudah kepalang rusak. Akhirnya, tambang yang dibuka oleh rakyat terbukti membunuh diri mereka sendiri. Di kulong , penambang tewas tertimbun tebing longsor. Tidak sedikit pula yang diterkam buaya muara, predator yang memenuhi perairan Bangka Belitung. Meskipun tahu ancaman fatal yang mereka hadapi, masyarakat tetap melanggengkan sistem pertambangan yang kapasitas penghancurannya telah terbukti abad demi abad. Bagi orang-orang Bangka, kegigihan ini layaknya sebuah pelampiasan massal setelah 150 tahun tidak mendapatkan jatah kekayaan timah.* Tulisan ini ditulis bersama Bayu Nanda. Finlan Aldan adalah jurnalis lepas. Aktif menulis serta mengeksplorasi persentuhan (dan konflik) antara alam dan manusia dalam bentuk jurnalisme naratif, visualisasi data, hingga cerita foto. Bayu Nanda, bergabung di media spesialis satwa liar Garda Animalia sejak kuliah, membuatnya tertarik menyelami isu satwa dan lingkungan secara mendalam.
- Timah dan Tuan Besar
ROZI, 54 tahun, ingat betul apa yang menimpanya. Saat mandi di sungai pada pukul 12 siang, 8 November 2020, seekor buaya muncul dan menyerangnya. “Pertama kali ditabrak sama dia . Gigit di sini , diputar dua kali dalam air. Dilepas tangan, digigit kaki, ditarik ke bawah ponton sana,” ujarnya. Dalam pertarungan antara hidup dan mati itu, Rozi selamat. Namun betis kirinya robek dan harus dioperasi. Jalannya pincang. Ia tak lagi bekerja sebagai penambang timah inkonvensional. Apa yang dialami Rozi cuma secuplik kasus konflik antara manusia dan buaya yang terjadi di Bangka Belitung. Melalui proses pengumpulan data , kami menemukan 154 konflik antara 2016 sampai Agustus 2023 dengan rincian 40 serangan fatal, 66 serangan non-fatal, dan 48 penangkapan buaya. Nama Rozi tidak termasuk di dalamnya. Kemungkinan konflik manusia-buaya sebenarnya jauh lebih banyak dari yang tertulis dalam data. Aktivitas manusia yang semakin intens di habitat buaya memperbesar potensi konflik. Sungai dan muara disusupi penambang timah inkonvensional. Mesin-mesin bekerja pagi hingga sore hari. Di Bangka Belitung, tambang timah seolah menjadi satu-satunya warisan dan cita-cita. Ia dilimpahkan secara turun-temurun dari orang tua ke anak-anak mereka. Tak terkecuali Amat (52) yang kami temui sedang menambang bersama anaknya, Jek, di kulong (lubang bekas penambangan timah) Desa Sekar Biru, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat. Jek bercerita bahwa dia memiliki keahlian mengutak-atik komputer. Tapi yang kami temui kala itu adalah seorang remaja yang melompat ke dalam kulong, menghidupkan mesin diesel, dan menunjukkan seember kecil timah milik penambang lain. Inilah Bangka dan Belitung. Masyarakat telanjur bergantung pada timah dan menjadikannya seolah satu-satunya sumber penghidupan. Dukun buaya bersama seekor buaya raksasa di depan rumah seorang administrator di Distrik Lenggang, Belitung. (Jarig Cornelis Mollema, Gedenkboek Billiton 1852-1927). Tuan Besar yang Suci Kami menemui sejarawan dan budayawan Akhmad Elvian di sebuah kafe di Kota Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di kafe dengan kursi rotan dan beberapa anyaman artistik itu, Elvian bercerita tentang buaya dalam tradisi tutur masyarakat setempat. Dahulu, konflik hanya terjadi pada buaya yang terusir oleh puaka (raja buaya baru dalam teritorinya). Buaya yang terusir lalu mencari habitat baru dan saat itulah biasanya terjadi serangan pada manusia. Namun, buaya yang berdosa itu mengakui kesalahannya. Dukun sungai menyelenggarakan ritual taber sungai sebagai sidang yang disaksikan oleh keluarga korban serangan buaya. Buaya yang berdosa menyerahkan diri dan bersedia dihukum mati. “Dukun buaya akan melakukan taber sungai (memurnikan sungai) dengan peralatan, dengan mantra dan doa. Buaya yang nakal tadi akan digiring dukun ke pinggir. Ditepuknya , muntah darah, buaya itu langsung mati,” tutur Elvian kepada kami, Agustus lalu. Baca juga: Awal Mula Tambang Batubara Konflik buaya dan manusia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Bangka dan Belitung. Jarig Cornelis Mollema dalam Gedenkboek Billiton 1852–1927 bahkan menyebut, “tidak ada satu tahun pun berlalu tanpa ada orang yang menjadi korban.” Namun, lanjut Mollema, “Masyarakat menganggap buaya sebagai hewan suci yang hanya boleh dituntut (dihukum) jika melanggar janji untuk tidak mengganggu manusia.” Mollema juga mengurai asal-usul dukun buaya. Legenda menceritakan, ada setetes air jatuh ke dalam sumur dari tubuh seseorang yang sedang mandi. Dari air itu terciptalah seekor kadal raksasa. Ia menyerang orang tersebut, tetapi kalah dalam perkelahian. Kadal itu meminta ampun dan menjelaskan bagaimana ia diciptakan. Ia mengklaim diri sebagai keturunan manusia. Ia diampuni, tapi dengan hukuman dipotong lidahnya dan dinamai sebagai “buaya”. Selanjutnya, ia diharuskan melakukan tapa di Makkah. Buaya menepati janjinya dan menjadikan laut yang memisahkan Belitung dan Makkah sebagai “rumahnya dan keturunannya”. Kerajaan buaya yang perkasa ini kemudian diperintah oleh Raja Soleiman. Suatu ketika, Raja Soleiman mengirimkan pemburu untuk mencari kambing sebagai hidangan kerajaan. Tapi pemburu itu justru menangkap seorang penduduk Belitung yang sedang mandi di laut karena pakaiannya yang berbulu dan menyerupai kambing. Baca juga: Legenda Buaya di Kalangan Masyarakat Sulawesi Selatan Karena tahu dirinya berasal dari tetes air seorang manusia yang mandi, Soleiman menghukum si pemburu yang teledor. Sementara si manusia dipersilakan menghabiskan waktunya di kerajaan buaya dan mendapatkan ilmu. Dengan ilmu tersebut, ia bisa selalu memperingatkan sang raja jika ada seekor buaya mencelakakan manusia. Cukup memukul permukaan air dengan daun lontar dan setelah itu raja akan mengirimkan buaya yang bersalah kepadanya untuk diadili. “Setiap kali ada buaya berbuat dosa, masyarakat memanggil dukun buaya yang merupakan keturunan sahabat raja buaya dan lelaki ini punya rahasia untuk menangkap si pembunuh,” catat Mollema. Franz Epp, dokter Jerman yang menjadi perwira korps medis pada abad ke-19, juga mencatatkan pengalamannya selama 10 tahun bertugas di Hindia Belanda. Mary Somers Heidhues, peneliti dan akademisi Jerman, merangkum tiga volume buku Epp dalam “Dissecting the Indies: The 19th Century German Doctor Franz Epp” yang dimuat Archipel , Volume 49, 1995. Pada Juli 1836, Epp memimpin sebuah rumah sakit kecil di Baturusa, Merawang, tidak jauh dari Pangkalpinang; “saat itu merupakan rawa yang dipenuhi buaya.” Selama bertugas di Bangka, dia menilai pembangunan ekonomi dan pertumbuhan penduduk membahayakan hutan dan satwa liar. Tingkat deforestasi sangat mengkhawatirkan akibat meluasnya penambangan timah. Tanpa pepohonan, hewan-hewan menghilang. Di antara hewan-hewan itu, Epp memberi perhatian pada buaya. Baca juga: Serdadu Jepang Dimangsa Buaya di Burma Penduduk asli menganggap buaya itu suci, membunuhnya hanya untuk membela diri, dan menghormatinya. “Karena di Bangka pejabat tertingginya adalah Residen , maka orang Bangka menempatkan buaya sejajar dengannya dan menyebutnya Tuan Besar.” Kontras dengan apa yang terjadi saat ini. Buaya yang muncul ke permukaan sering dianggap sebagai ancaman. Ketika serangan terjadi, tak jarang masyarakat akan memburu seluruh buaya. Dari 154 kasus, sebanyak 31 persen konflik buaya dan manusia berkaitan dengan keberadaan tambang timah. Dan jika menyinggung timah, maka sejarah akan melempar kita ke tiga abad silam. Bagai sihir, hidup dan merajanya pertambangan timah di Bangka Belitung mengubah cara manusia memperlakukan alam. Penggunaan chin-cia dan chia-caw oleh pekerja Tionghoa dalam penambangan timah tahun 1920. ( KITLV 34679 ) Mendulang Timah Sulit untuk menentukan kapan mula timah digali di Bangka. Ada yang meyakini penambangan sudah dilakukan masyarakat jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Namun, dari sekian banyak versi, catatan seorang penulis tak dikenal yang kemudian dikutip dan dimuat dalam Tijdschrift voor Ned. Indie VIII , bagian 4, tahun 1846, lebih sering jadi rujukan. Catatan penulis tak dikenal itu menyebut angka 1709 sebagai tahun pertama penemuan timah di Bangka. Catatan itu pula yang tertera di dinding Museum Timah Pangkalpinang: “... waktu di mana pertama kali ditemukan timah di Bangka tidaklah jelas. Namun, pertambangan timah yang pertama kali dilakukan di wilayah Merawang, tepatnya di Kampung Calin daerah Depak.” Pada masa itu Pulau Bangka berada di bawah naungan Kesultanan Palembang. Ini terjadi pada 1667 berkat perkawinan politik antara Sultan Abdurrahman (1659–1706) dan seorang putri dari penguasa Bangka. Sultan Abdurrahman lalu menetapkan perluasan penerapan peraturan yang disusun pendahulunya, yakni Undang-undang Simbur Cahaya, menjadi undang-undang wilayah yang disebut Undang-undang Sindang Mardika. Baca juga: Mendulang Sejarah Tambang Nusantara Undang-undang tersebut mengatur banyak aspek kehidupan, termasuk lingkungan. Misalnya, larangan merusak hutan secara sembarangan. Hutan sudah dibagi berdasarkan fungsi masing-masing. Ada hutan yang bisa dimanfaatkan, ada yang harus dijaga. Untuk hutan yang tidak diperbolehkan untuk ditambang, para dukun sebagai punggawa adat kemudian meniadakan kandungan timahnya. Ampak ,istilahnya. Jika pun masih ada timah, kandungannya diyakini kopong atau ringan sehingga tidak bernilai untuk dijual. Seluruh kearifan lokal tersebut bertujuan untuk menjaga alam dari kerusakan. Tapi semua perlahan berubah sejak orang-orang mulai mengeksploitasi kekayaan tersembunyi di dalam tanah Bangka dan Belitung. Penambangan timah dilakukan lebih intensif pada masa Sultan Muhammad Bahauddin (1776–1803). Menurut Nawiyanto dan Eko Crys Endrayadi dalam Kesultanan Palembang Darussalam: Sejarah dan Warisan Budayanya , untuk keperluan intensifikasi penambangan, sultan merekrut pekerja-pekerja tambang dari Siam dan menyediakan rumah-rumah bagi mereka. Pengawasan terhadap para penambang dilakukan dengan menempatkan demang di wilayah penambangan. Baca juga: Peranakan Tionghoa di Bangka-Belitung Timah merupakan komoditas yang sangat bernilai. Melalui kontrak yang ditandatangani pada 1776, Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC) memonopoli perdagangan timah yang dipasok dari Kesultanan Palembang. Tak suka dengan monopoli, sultan tak benar-benar memenuhi permintaan VOC. Sebagian besar lainnya diselundupkan, terutama ke Kanton. Ibrahim dalam “Bangka Tin, and the Collapse of the State Power”(2016) di Journal of Laws and Social Sciences menuliskan, pada masa kepemimpinan Muhammad Mansur (1703–1714) terjadilah gelombang pertama kedatangan buruh Tionghoa. Pendatang Tionghoa bekerja dengan metode yang disebut teknologi kulit. Metode ini dilakukan dengan cara menguliti lapisan atas tanah dibantu dengan roda air ( chia-caw ) dan pompa air ( chin-cia ). Sesuai namanya, praktik dari teknologi yang menguliti lapisan atas tanah ini mulai membabat hutan dan semakin mengikis lereng gunung dalam mengalirkan air untuk menggerakkan kincir. Dengan satu langkah sederhana tapi mematikan, pekerja Tionghoa mampu membuat timah menjadi komoditas ekspor nomor tiga terbesar di Hindia Timur. Namun, proses pengikisan lapisan tanah atas ini membutuhkan waktu yang terlampau lama –tujuh hingga delapan bulan– dan kandungan timah tak dapat diprediksi . Chin-cia juga tak berguna saat kemarau karena sungai kering dan tak mampu menjaga tambang bebas dari genangan air saat hujan lebat. Baca juga: 19 November 1846: Mula Tambang Batu Bara Pekerja Tionghoa lalu menemukan suatu alat berbentuk tombak runcing segitiga yang dapat menguji kandungan timah dalam tanah. Chiam namanya . Dengan terukurnya kandungan timah, mereka tak lagi tanggung dengan cuma “menguliti permukaan”, tetapi mereka membuat lubang raksasa untuk mengekstrak timah terdalam. Lubang super besar itulah yang kemudian disebut kulong. Kerusakan yang ditimbulkan begitu mengerikan sebagaimana dilaporkan J.A. Schuurman, ahli geografi dari Jerman, pada 1898. Dikutip Mary Somer Heidhuis dalam Bangka Tin and Mentok Pepper , Schuurman melaporkan:“Tidak ada pulau Nusantara yang telah mengalami perubahan topografi yang luar biasa akibat eksploitasi penambang timah yang telah mengupas tanah secara meluas, menggundulkan hutan yang berlangsung ratusan tahun, semuanya dikerjakan oleh buruh Cina yang diimpor dari negerinya.” Lanskap kulong di Desa Telak, Kabupaten Bangka Barat. Tinggi tebing-tebing tersebut mencapai belasan meter. (Dok. Finlan Aldan) Habitat Baru Buaya Seiring waktu, kulong terbenam air. Galian raksasa sebagai jejak kisah tambang timah menciptakan relung kehidupan bagi siapa pun yang membutuhkan air. Termasuk buaya muara ( Crocodylus porosus ), jenis buaya terbesar dan terpanjang di dunia. Dikenal juga dengan nama buaya air asin, nyatanya buaya ini dapat bertahan hidup dengan baik di air tawar. Karena itu, tak sulit menemukannya di laut, muara, sungai, danau dan rawa air tawar. Direktur Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amir Hamidy menyebut aktivitas pertambangan timah mengubah topografi tidak hanya dalam konteks merusak habitat. Dengan terbentuknya kulong, manusia telah menciptakan habitat baru bagi buaya. “Secara tidak langsung kita pun menciptakan habitat-habitat mereka. Jadi, efek lingkungan itu jangan dinilai dari kita merusak habitat mereka, tapi kita menciptakan habitat-habitat dan ini genangan itu. Manusia tidak sadar,” ungkapnya. Baca juga: Surga Burung Langka Terancam Tambang Emas Kulong juga dijadikan masyarakat sebagai sumber air terdekat kala kemarau mengisap habis persediaan air. Maka, ibu rumah tangga yang datang ke kulong untuk sekadar memenuhi kebutuhan rumah juga bisa menjadi korban serangan buaya. Selama masyarakat masih getol menambang di sepanjang aliran sungai, muara, laut, pinggir jalan, halaman belakang rumah, bekas lahan perusahaan, bahkan kuburan, maka buaya muara di Bangka Belitung tak punya banyak pilihan: beruntung karena diselamatkan dan masuk kandang rehabilitasi atau kehilangan nyawa dengan cara yang entah bagaimana. Crocodile Attack Database atau CrocBITE, basis data online yang mencatat serangan buaya terhadap manusia di dunia, menempatkan Bangka-Belitung di urutan empat besar serangan buaya muara terbanyak di Indonesia dengan 86 serangan. Sebanyak 35 orang dilaporkan meninggal dunia. Ini berdasarkan pendataan dari tahun 2014 hingga Agustus 2023. Indonesia, dikutip BBC.com , merupakan negara dengan serangan buaya air asin terbanyak di dunia. Dalam satu dekade terakhir telah terjadi sekitar 1.000 serangan yang menewaskan lebih dari 450 orang. Hampir 90 serangan terjadi di Bangka dan Belitung, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Crocodile Specialist Group ( CSG ), salah satu kelompok spesialis spesies di bawah naungan Species Survival Commission (SSC) dari IUCN, menyebut serangan biasanya terjadi karena tindakan provokasi dari manusia atau hal lain seperti upaya mempertahankan diri dan teritorial buaya. Baca juga: Cenderawasih, Si Burung Surga dalam Bahaya Buaya muara adalah satwa yang dilindungi di Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengancam keberadaan satwa dilindungi, tentu saja, termasuk melukai dan membunuh. Maka, pembunuhan buaya oleh masyarakat adalah pelanggaran hukum. Di Bangka Belitung, buaya yang berhasil selamat dari konflik dievakuasi ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Foundation. Di sana, lebih dari 34 ekor buaya muara tinggal. Meski kandang rehabilitasi dinilai sudah penuh, konflik yang masih terjadi di luar sana; memaksa kandang terus menerima anggota baru. “Jadi, saya menyebutnya kearifan lokal berubah menjadi kebiadaban lokal. Masyarakat kita yang arif menjadi biadab dalam konteks lingkungan. Jadi orang tidak melihat itu lahan siapa, kadang-kadang digarap, ditambangnya,” ucap Elvian. Empat hari setelah kami meninggalkan Pulau Bangka, video berdurasi 31 detik itu dikirim Pak Amat ke ponsel kami. Dalam video, seekor buaya muncul dari dalam kulong raksasa setinggi lebih dari enam meter. Leher buaya diikat tali, ditarik oleh lima laki-laki dewasa agar keluar dari kubangan. Reptil purba itu meronta, meski akhirnya menyerah juga. Mesin di dekatnya tak menghiraukan; tetap bekerja seolah tak terjadi apa-apa.* Tulisan ini ditulis bersama Finlan Aldan. Bayu Nanda, bergabung di media spesialis satwa liar Garda Animalia sejak kuliah, membuatnya tertarik menyelami isu satwa dan lingkungan secara mendalam. Finlan Aldan adalah jurnalis lepas. Aktif menulis serta mengeksplorasi persentuhan (dan konflik) antara alam dan manusia dalam bentuk jurnalisme naratif, visualisasi data, hingga cerita foto.
- Mitologi Gempa di Masa Lalu
Di masa lalu, gempa dimaknai sebagai pertanda alam. Peristiwa apa saja yang terjadi dalam mitologi zaman kuno yang ditandai dengan gempa?
- Ocean Exploration in Nusantara
THE seas of Nusantara and their diversity amazed a handful of Europeans, especially the Dutch. They saw the Nusantara's seas both as a commercial route and a mysterious world awaiting further exploration.
- Westerling Nyaris Tewas di Tangan Hendrik Sihite
DARI Hotel de Boer, Letnan Raymond Westerling bekerja mengoperasikan jaringan intelijen tentara Belanda di Medan. Dalam waktu singkat, setelah tiba di Medan pada September 1945, Westerling mendapat pasokan informasi tentang orang-orang setempat yang dicurigai. Mereka masuk kategori pemberontak atau teroris. Satu nama yang menjadi incaran Westerling adalah Sihita. “Saya ingat, suatu saat kami sedang menyerang seorang pembunuh berbahaya bernama Sihita, yang keberadaannya di sekitar kami telah dilaporkan oleh beberapa teman kami,” kenang Westerling dalam memoarnya Challenge to Terror . Untuk meringkusnya, Westerling hanya disertai tiga orang pengawal. Dua anggota milisi dari kelompok anti-teroris, dan seorang lagi mata-mata. Tapi, misi itu tidak berlangsung mulus. Ketika Westerling bersama pengawalnya menyergap maju, mereka malah dihajar dengan lemparan granat. Serangan balik itu, seperti dicatat Westerling dalam memoarnya, hampir saja menewaskan dirinya. Serpihan ledakan granat pertama mengenai bagian belakang telinga Westerling. Dia pun jatuh pingsan seketika. Baca juga: Menculik Pacar Westerling Westerling berhutang budi kepada para pengawalnya. Mereka bertarung menghadapi para laskar hingga akhirnya bisa membawa Westerling ke tempat yang aman. Westerling sendiri dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah diperiksa dokter, ada pecahan serpihan granat yang menempel pada tulang tengkorak Westerling. Kendati luput dari maut, peristiwa itu meninggalkan bekas tonjolan di belakang telinga kanan Westerling. Di kemudian hari, selama penugasannya di Medan, Westerling dikenal atas tindakan beringasnya. Dia memburu orang-orang yang berjuang di pihak Republik atau yang menentang pendudukan Sekutu dan Belanda. Bak algojo sadis, Westerling membunuh buron tangkapannya lalu mempertontonkan ke muka umum sebagai bentuk teror. Namun, perkara Sihita tak pernah dituntaskannya. Westerling gagal menjagal Sihita, orang yang hampir merenggut nyawanya. Siapa sebenarnya Sihita? Sihita bukanlah nama. Penyebutan yang kaprah ialah Sihite, salah satu marga suku Batak Toba yang berasal dari Bakkara. Orang bermarga Sihite yang melukai Westerling aslinya bernama Hendrik Sihite. Baca juga: Kisah Tarigan, Laskar Buronan Westerling di Medan Menurut Officiële bescheiden betreffende de Nederlands-Indonesische betrekkingen 1945-1950 , Volume 37, ( Dokumen Resmi Mengenai Hubungan Belanda-Indonesia 1945-1950 ), Hendrik Sihite adalah seorang pejabat polisi tidak resmi yang memimpin Pasukan Kelima. Sementara itu, sejarawan Tengku Haji M. Lah Husny dalam Revolusi Sosial 1946 di Sumatera Timur/Tapanuli menyebut Pasukan Kelima dibentuk oleh Hendrik Sihite yang juga adalah Wakil Ketua Umum Pesindo Sumatra Timur. Dengan demikian, Pasukan Kelima yang dibentuk Sihite adalah unit pasukan khusus dari Pesindo Sumatra Timur. Informasi mengenai Hendrik Sihite banyak diperoleh dari keterangan Takao Fusayama, perwira penghubung (LO) tentara pendudukan Jepang. Takao mengenal Sihite sehubungan dengan kedudukan Jepang dalam menjaga status quo di Medan. Sebagai perwira penghubung, Takao bertugas menjaga hubungan dengan berbagai pihak, mulai dari pihak Sekutu, pemerintah Indonesia, hingga kelompok laskar. Menurut Takao, Pesindo merupakan kelompok laskar terkuat di Sumatra Timur pada masa awal Indonesia merdeka. Sementara itu, Pasukan Kelima cukup berkuasa di Medan. Itulah sebabnya dia ditugaskan menemui Sihite agar mencegah kelompoknya bergesekan dengan orang Jepang. Baca juga: Lagak Laskar Sumatra Timur “Kekuasaan Sihite yang pada waktu bersamaan memegang komando Pesindo dan Pasukan Kelima tidak ubahnya sebagai matahari yang lagi terbit dan dianggap lebih berkuasa daripada Gubernur Hasan ataupun Komandan Divisi TKR, Kol. Achmad Tahir. Para pemuda dari Kelompok Intel dalam Pasukan Kelima berada dalam keadaan yang penuh semangat,” catat Takao Fusayama dalam memoarnya A Japanese Memoir of Sumatra, 1945-1946: Love and Hatred in the Liberation War . Namun, di balik kekuatan pasukannya yang diperhitungkan, sosok Sihite menyandang reputasi buruk. Sihite diisukan sebagai agen Belanda yang menyamar sebagai pemimpin pejuang kemerdekaan. Di kantor Liaison Jepang, Takao mendengar desas-desus kedekatan rahasia Sihite dengan Kolonel Knottenberg, pimpinan NICA yang sohor karena keahliannya dalam bidang manuver. “Tidak diketahui sejauh mana kebenaran rumor itu. Sejumlah tanda keragu-raguan bagaimanapun timbul di sekelilingnya,” demikian Takao Fusayama.*
- Raffles' Passion to be a Naturalist
THE ship Ann docked at Port Morant, Jamaica, from its voyage to the Caribbean Islands. The ship's captain, Benjamin Raffles (1729-1812), used to ply London-Central Africa-Caribbean to profit from the slave trade and bring in crops. Anne Lyde Linderman, his heavily pregnant wife, was also with him.
- Persahabatan Dua Insan Bumiputra Beda Pandangan Politik Usai Peristiwa Olo
Sjahril sudah hidup enak setelah “pensiun” dari tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Dapurnya bisa tetap “ngebul” lantran dia tetap bekerja di tempat lain. Namun, sebuah peristiwa mengusik batinnya. Dia pun kembali mengenakan seragam KNIL-nya yang telah lama ditanggalkan. Peristiwa itu terjadi di Olo. Olo adalah sebuah daerah di sisi barat bagian selatan kota Padang, Sumatra Barat. Setelah tentara Jepang kalah, banyak orang Belanda memilih tinggal di daerah itu. Mereka berseberangan pandangan politik dengan pemuda-pemuda pro-Republik Indonesia. Maka setelah 1945 hubungan orang Belanda dengan pemuda setempat tidaklah baik. Pada 25 November 1945, sepreti dicatat Pramoedya Ananta Toer dkk dalam Kronik Revolusi Indonesia 1945 , karena orang-orang Belanda itu dianggap menghina kemerdekaan Indonesia, rumah-rumah mereka itu dibakar oleh pemuda-pemuda Indonesia. Peristiwa ini membuat Sjahril terenyuh. Sjahril berada di Padang pada zaman pendudukan Jepang. Dia bisa bekerja di Padang berkat bantuan orang-orang Indonesia yang bekerja di perusahaan keretaapi. Dia pun jadi aman dari gangguan tentara Jepang. Namun, Peristiwa Olo membawanya berseberangan dengan orang-orang yang menolongnya di zaman Jepang. Dalam pandangannya, kebencian kepada orang Belanda tentu bisa menular kepada kebencian terhadap orang-orang yang bekerja pada Belanda. Sjahril adalah bekas sersan KNIL, jadi bisa saja dia menjadi sasaran kebencian karena masa lalunya. “Itulah yang mendorongnya kembali ke KNIL dan bertugas di Sibolga sebagai bintara (sersan) di Bataljon Inlichtingen en Veiligheidsgroep (BIVG),” catat Soewardi Idris dkk. dalam Pengalaman Tak Terlupakan Pejuang Kemerdekaan Sumbar-Riau . BIVG adalah satuan intel dan keamanam batalyon yang kerap memeriksa tawanan dan rakyat sipil di daerah pendudukan. Kala itu Belanda dengan mudah menerima siapa saja orang Indonesia yang mau bekerja untuk mereka. Bredasche Courant edisi 13 Januari 1947 menyebut, di Padang terdapat para bekas romusha (pekerja paksa) asal Jawa yang dijadikan serdadu KNIL. Mereka dikumpulkan oleh Letnan AL de Boer. Kolonel Scholten, salah satu komandan tentara Belanda di Sumatra, kemudian memberi izin untuk merekrut mereka semua di dalam sebuah kompi KNIL, yang awalnya dipersenjatai pentungan itu. Sjahril, yang berpangkat sersan mayor KNIL, dalam posisi seperti bekas romusha yang buta politik itu. Suatu kali, Sjahril bertemu seorang tawanan perang bernama Isma Azir. Dia perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pernah dilatih sebagai perwira dalam pelatihan Opsir Divisi IX. Isma ditangkap Belanda pertengahan 1949, ketika bersama Nalis kawannya hendak pergi ke Aceh. Sjahril menjemputnya di pelabuhan karena Isma baru saja turun kapal dari arah Padang. Setelah bertemu, Isma tentu saja diperiksainya. Sjahril memeriksa Isma dengan seksama. Sjahrir tentu menjaga jarak dengan tawanannya itu. Dalam pemeriksaan itu, Isma menceritakan bahwa perjuangan pemuda Indonesia begitu menggebu-gebu. Sjahril pun dibuat menaruh hormat pada lawannya itu. Keramahan Sjahril terlihat oleh Isma ketika Sjahril dipanggilnya sebagai letnan. Sel untuk menahan para pejuang Indonesia di Sibolga rupanya telah penuh. Kondisi tersebut mendorong Sjahril menawarkan rumahnya sebagai tempat Isma. Namun Isma menolak. “Saya mengenal daerah ini. Saya bisa melarikan diri dan mayor bisa mengalami kesulitan,” kata Isma kepada Sjahril, yang menyingkat sebutan Sersan Mayor dengan Mayor. Sjahril tetap berusaha menolong Isma sebagai manusia. Sjahril berusaha mencarikannya tempat yang lebih baik daripada sel tahanan yang sempit itu. Sjahril berusaha membuat Isma lebih baik sebelum dipindahkan ke kota Medan, tempat tawanan lebih lanjut pihak Belanda. Isma kemudian bebas dan sempat meneruskan karier militernya sebentar. Kecelakaan dalam terjun payung di Cimahi pada 1951 membuatnya terluka parah parah. Isma kemudian dirawat di rumah sakit Cimahi. Ketika dalam perawatan itu, Isma mendapat sebuah karangan bunga. Rupanya karangan bunga itu dari bekas sersan mayor KNIL Sjahril yang pada 1951 itu telah pensiun dari dinas kemiliteran. Sjahril tahu Isma dirawat di Cimahi karena istrinya adalah perawat di rumah sakit militer tersebut.
- Dua Kejadian Lembaga Survei Salah Memprediksi Pemenang Pilpres AS
PEMILIHAN presiden tak lengkap tanpa survei opini publik terkait elektabilitas kandidat presiden. Semakin mendekati hari pemungutan suara, berbagai lembaga survei berlomba-lomba mengumumkan hasil jajak pendapatnya. Hasil survei elektabilitas capres menjadi acuan untuk memperkirakan pemenang pilpres. Oleh karena itu, semakin baik reputasi sebuah lembaga survei, semakin dipercaya pula hasil jajak pendapatnya. Meski begitu, hasil jajak pendapat lembaga survei kredibel pun bukan tanpa kesalahan. Peristiwa ini pernah terjadi dua kali di Amerika Serikat. Peristiwa pertama terjadi tahun 1936. Majalah populer Literary Digest rutin menggelar survei opini publik berskala nasional yang hasilnya dijadikan acuan untuk memprediksi pemenang pilpres AS. Sejak tahun 1920, majalah ini kerap mengadakan survei mengenai isu-isu kebijakan publik. Menurut konsultan politik Dennis W. Johnson, setiap empat tahun sekali, jajak pendapat Digest memprediksi pemenang pilpres dengan tepat dan akurat. Majalah ini dengan bangga memuji diri sendiri atas “keakuratannya yang luar biasa”. Dalam Democracy for Hire: A History of American Political Consulting , Johnson menyebut keakuratan hasil jajak pendapat Digest membuat majalah itu memeroleh reputasi dan kredibilitas yang tinggi dari publik, dan dengan sendirinya meningkatkan jumlah pembaca. Baca juga: Awal Mula Lembaga Survei dan Jajak Pendapat Politik Digest berhasil memprediksi hasil pemilu tahun 1920, 1924, 1928, dan 1932, dengan teknik mengirim kuesioner dalam jumlah besar ke rumah tangga yang terdaftar dalam direktori kepemilikan telepon maupun mobil. Karena metode survei melalui pos ini lebih murah dibandingkan dengan mengirim pewawancara, maka Digest mendapatkan sampel yang sangat besar. Pada pemilu tahun 1936, majalah ini mengirimkan sekitar sepuluh juta sampel surat suara melalui pos. Lebih dari dua juta surat suara dikirimkan kembali untuk direkap oleh Digest . Hasilnya, Digest memprediksi Alf Landon, capres yang diusung Partai Republik, akan memenangkan pilpres AS dengan mudah dan mengalahkan petahana dari Partai Demokrat Franklin D. Roosevelt. Hasil survei yang diumumkan Digest berbanding terbalik dengan prediksi tiga lembaga survei, Crossley, Gallup, dan Roper, yang meramalkan kemenangan Roosevelt. “Jajak pendapat ini sangat kontras dengan prediksi Literary Digest bahwa Roosevelt hanya akan menerima 40,9 persen suara,” tulis Albert H. Cantril dalam “Public Opinion Polling”, termuat di The Reader's Companion to American History 2014 . Baca juga: Kennedy vs Nixon dan Awal Debat Calon Presiden di Televisi Berbeda dengan Digest , Crossley, Gallup, dan Roper lebih mengandalkan jumlah responden yang lebih kecil tetapi dipilih secara sistematis agar mewakili berbagai kelompok masyarakat serta diwawancarai secara pribadi oleh pewawancara terlatih. Menurut Nick Moon, praktisi terkemuka jajak pendapat di Inggris, dalam Opinion Polls: History, Theory and Practice ,berdasarkan hal itu pula ketiga lembaga survei tersebut mengklaim metode yang mereka gunakan dalam pengambilan sampel untuk survei lebih ilmiah dibandingkan dengan Digest . Kepercayaan diri itu membuat George H. Gallup, pendiri American Institute of Public Opinion(AIPO), secara terang-terangan mengatakan hasil jajak pendapat Digest keliru karena menggunakan metode yang sudah ketinggalan zaman. “Gallup bahkan membuat marah Digest dengan memprediksi secara terbuka, sekitar enam minggu sebelum jajak pendapat dilakukan, bahwa jajak pendapat Digest akan menunjukkan sekitar 56 persen untuk Landon, dan hanya 44 persen untuk Roosevelt,” tulis Nick Moon. Baca juga: Soeharto Nomor Tiga, Lembaga Survei Ditutup Editor Digest , Wilfred J. Funk, sangat marah dan memperingatkan Gallup di media cetak bahwa Digest akan terus “menggunakan metode kuno yang telah menghasilkan ramalan yang akurat seratus persen”. Sayangnya, apa yang diramalkan Gallup terbukti benar. Tak hanya hasil jajak pendapat Digest yang mengumumkan kemenangan Landon atas Roosevelt seperti diperkirakan Gallup, yakni 57 persen untuk Landon dan 43 persen untuk Roosevelt, tetapi juga fakta berdasarkan hasil pemungutan suara, Roosevelt kembali terpilih menjadi presiden AS. Mengapa jajak pendapat Digest meleset? Donald A. Barclay menjelaskandalam Fake News, Propaganda, and Plain Old Lies: How to Find Trustworthy Information in the Digital Age , berdasarkan survei lanjutan pascapemilu pada 1937, ternyata sebagian besar orang yang menerima sampel surat suara dari Digest merupakan pendukung Roosevelt. Namun, sebagian besar dari mereka yang bersedia mengembalikan surat suara adalah pendukung Landon. “Survei ini keliru karena fakta bahwa mereka yang menjawab adalah orang-orang yang dipilih sendiri dan bukannya sampel yang benar-benar acak dan mewakili populasi. Para pendukung Landon mungkin lebih antusias dalam menanggapi jajak pendapat Literary Digest , tetapi pada jajak pendapat pemilu yang sebenarnya, jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan para pendukung Roosevelt,” tulis Barclay. Baca juga: Soeharto Nomor Tiga, Mendagri Murka pada Lembaga Survei Insiden memalukan tahun 1936 tak hanya menggerus kepercayaan publik terhadap hasil survei Digest . Majalah ini pun ditinggalkan pembaca hingga berganti kepemilikan dan dinyatakan bangkrut. Sementara Crossley, Gallup, dan Roper semakin mengokohkan reputasi mereka dalam dunia jajak pendapat politik di AS. Namun, dua belas tahun kemudian insiden serupa kembali terulang dan menimpa ketiga lembaga survei populer itu. Pada pilpres AS 1948, Crossley, Gallup, dan Roper memprediksi Thomas E. Dewey dari Partai Demokrat akan menjadi pemenang dan mengalahkan petahana Harry S. Truman. Bahkan, surat kabar Chicago Daily Tribune percaya diri mencetak edisi malam pemilu dengan menampilkan berita utama di halaman depan berjudul “Dewey Menang”. Kemenangan Truman dalam pilpres 1948 tak hanya merusak reputasi Chicago Daily Tribune , tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap lembaga survei. Digest yang menjadi bulan-bulanan Gallup di tahun 1936 membalaskan dendamnya. “Wilfred Funk, yang pernah menjabat sebagai editor Digest , yang diejek karena jajak pendapat Literary Digest -nya pada 1936, dimintai reaksinya. Ia berkata: ‘saya tidak ingin terlihat jahat, tapi saya tidak bisa menahan tawa karena hal ini’,” tulis Johnson. Baca juga: Lembaga Survei Terkenal Salah Memprediksi Pilpres AS Menurut Mervin D. Field, pendiri California Poll yang kemudian disebut The Field Poll,salah satu faktor utama kesalahan lembaga survei itu karena mereka terlalu cepat menghentikan kegiatan survei jauh sebelum waktu pemungutan suara. “Para pembuat survei menunjukkan bahwa mereka telah gagal dalam melakukan jajak pendapat cukup sering dan cukup lama untuk menangkap perubahan besar dalam preferensi publik selama tahap-tahap akhir kampanye 1948,” tulis Fielddalam “Political Opinion Polling in the United States of America”, yang termuat di Political Opinion Polling: An International Review. Belajar dari kejadian memalukan tahun 1948, Gallup melakukan pembenahan dalam risetnya. Ia menggunakan teknik survei baru selama tahun 1950 untuk meningkatkan prediksinya. Ia yakin dengan jajak pendapat hingga hari sebelum hari pemungutan suara (dan mengirimkan hasilnya melalui telegram), menyelidiki pilihan pemilih yang ragu-ragu, serta menentukan siapa yang akan memilih dan siapa yang akan tinggal di rumah, hasil surveinya akan jauh lebih akurat. Di sisi lain, insiden survei tahun 1948 mendorong publik lebih kritis dalam menyikapi jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga survei.*
- Ingar-Bingar Boxing Day
PADA pekan liburan Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini, sebanyak 20 tim di Liga Inggris justru masih disibukkan dengan agenda menentukan dalam momen Boxing Day. Kebiasaan ini sudah mentradisi sejak 1899 kendati FA (induk sepakbola Inggris) baru meregulasinya pada 1965. Pekan Boxing Day lazimnya digulirkan sehari pasca-Hari Natal hingga menjelang pergantian tahun. Di musim ini, 10 laga disebar dalam empat hari. Di antaranya partai Newcastle United vs. Nottingham Forest dan Sheffield United vs. Luton Town pada 26 Desember 2023. Lalu, laga Burnley vs. Liverpool dan Manchester United vs. Aston Villa pada 27 Desember; dan Chelsea vs. Crystal Palace serta Everton vs. Manchester City pada 28 Desember. Di balik ingar-bingarnya, momen Boxing Day acap jadi pekan krusial, utamanya bagi tim-tim yang berburu gelar Liga Inggris. Maka banyak kejutan lahir dari sepanjang sejarahnya, sebagaimana yang terjadi pada Boxing Day enam dekade lampau. Di Boxing Day musim 1963/1964 itu, ke-10 pertandingan matchday ke-24 dihelat dalam satu hari, yakni pada 26 Desember 1963. Hebatnya, dalam 10 pertandingan itu terjadi rekor hujan gol (66 gol), termasuk enam pemain yang menorehkan hat-trick . Salah satu pemain yang menorehkan hat-trick adalah Graham Leggat ketika timnya, Fulham, menang atas Ipswich Town dengan skor fantastis, 10-1. Leggat menyumbang hat-trick dalam durasi tiga menit, tercepat sepanjang sejarah Liga Inggris. Rekor ini baru bisa dipecahkan Sadio Mané pada 2015. Baca juga: Habis Natal Terbitlah Boxing Day Derita Manchester United di Tengah Hujan Gol Tidak hanya laga Fulham kontra Ipswich yang dilanda banjir gol. Beberapa partai lain juga disemarakkan hujan gol. Selain dalam laga kemenangan Chelsea atas Blackpool (5-1), hujan gol juga terjadi di laga Liverpool vs. Stoke City (6-1), Blackburn Rovers vs. West Ham (8-2), dan laga imbang 4-4 antara West Bromwich Albion kontra Tottenham. “Pertandingan itu sungguh luar biasa, West Ham dibantai (8-2) di kandang sendiri dari Blackburn Rovers. Gilanya lagi pada pertandingan berikutnya dua hari kemudian giliran kami yang bermain di (kandang) Blackburn,” kenang legenda Harry Redknapp yang saat itu berada di tim muda West Ham, kepada Daily Star , Selasa (26/12/2023). Tidak hanya Redknapp yang terhenyak kala itu tapi juga skuad asuhan Sir Matt Busby. Manchester United yang bertandang ke Turf Moor harus pasrah digebuk Burnley 6-1. Baca juga: Berkabung untuk Setan Merah Burnley saat itu bukanlah tim semenjana seperti saat ini. Menjelang Boxing Day 1963, Burnley jadi salah satu tim penantang gelar. Sementara, Manchester United (MU) dengan reputasi topnya masih terdampak Tragedi Munich pada 6 Februari 1958 yang menewaskan delapan punggawa utamanya. Hingga 1963 pun, performa MU masih labil. Busby susah-payah membangun tim “Setan Merah” (julukan Manchester United) nyaris dari nol. Terlebih beberapa penyintasnya seperti Johnny Berry dan Jackie Blanchflower tak lagi aktif bermain. Pasca-tragedi itu, skuad MU menyisakan Bill Foulkes, Kenny Morgans, Albert Scanlon, Dennis Viollet, Ray Wood, Bobby Charlton, dan kiper Harry Gregg . “Pada kampanye (musim) 1962/1963 saja mereka nyaris tak selamat dari degradasi ke divisi kedua dan United memanfaatkan musim panas untuk mengisi lagi baterai mereka. Sebenarnya di awal musim mereka hanya kalah dua kali dari 13 laga, termasuk kemenangan 7-2 atas Ipswich pada awal September,” tulis Iain McCartney dalam George Best Fifty Defining Fixtures. Baca juga: Bill Shankly dalam Kenangan Akan tetapi kekalahan 0-4 dari Everton di Goodison Park pada 21 Desember, lanjut McCartney, memaksa Busby melakukan beberapa perubahan radikal soal posisi dan komposisi pemain menjelang laga tandang ke markas Burnley di momen Boxing Day . Salah satunya di lini depan, karena penyerang Dennis Law masih terkena sanksi kartu merah pasca-insiden di kandang Aston Villa. “(Busby) memainkan (Albert) Quixhall menggantikan (Ian) Moir, Charlton dari posisi gelandang diberikan posisi nomor sembilan (penyerang, red. ), dan Shay Brennan dimainkan di posisi outside-left yang asing baginya. Perubahan-perubahan posisi dan personel itu yang membuat perbedaan pada performa United yang membuat mereka kalah 6-1, selain juga karena kartu merah Pat Crerand. Kekalahan terbesar sejak Oktober tahun sebelumnya saat mereka kalah 6-2 dari Tottenham,” imbuhnya. Sementara di skuad tuan rumah, Andy Lochhead jadi pahlawan buat Burnley. Tak tanggung-tanggung, ia menorehkan empat gol ke gawang MU yang dikawal David Gaskell. “Mencetak gol dan mengalahkan Manchester United selalu menjadi sebuah pencapaian. Tetapi sampai bisa menyarangkan empat gol adalah sesuatu yang sangat spesial. Saya beruntung bisa bermain di 1960-an, era di mana saya melihat pertandingan terbaik sepanjang karier saya,” kenang Lochhead, dikutip Dave Thomas dalam Who Says Football Doesn’t Do Fairytales? How Burnley Defied the Odds to Join the Elite. Baca juga: Serba-serbi Derbi Si Merah dan Setan Merah Kendati begitu, dua hari berselang di matchday ke-25, MU berhasil bangkit. Saat giliran menjamu Burnley di Old Trafford pada pada 28 December, skuad Busby menebusnya dengan kemenangan 5-1. Salah satu faktornya adalah kegemilangan George Best yang sebelumnya jarang mendapat kesempatan bermain. “Setelah United dihajar 6-1 di Turf Moor, Best yang sedang liburan ke Belfast mendapat telegram untuk segera pulang ke Manchester. Ia pun mendapatkan kesempatan bermain untuk kedua kalinya dan menjadi jantung permainan kala United membalaskan dendam, 5-1,” ungkap Ivan Ponting dalam George Best. Anomali pasca- Boxing Day namun tak hanya terjadi pada MU namun juga beberapa tim lain yang keok pada pada momen Boxing Day. West Ham, misalnya, menang 3-1 atas Blackburn, dan Ipswich yang revans 4-2 atas Fulham. “Selalu terjadi hasil yang aneh saat Natal. Itu sesuatu yang tak bisa Anda abaikan begitu saja. Anda bisa menang telak dan kalah menyakitkan,” tukas pemain Fulham, Alan Mullery, dikutip Nick Szczepanik dalam Pulp Football: An Amazing Anthology of True Football Stories You Simply Couldn’t Make Up. Baca juga: Sinterklas Terjun hingga Tumbang di Stadion
- Orang Nias Berontak Kepada Belanda
Nias dikenal sebagai salah satu surfing spot terbaik di dunia. Para surferi dari dalam dan luar negeri memimpikan bisa berselancar di pulau di barat Sumatra Utara itu atau bila yang sudah pernah, ingin mengulanginya lagi. Namun, itu baru beberapa dekade belakangan. Di masa-masa sebelumnya, Nias identik dengan lompat batu ( hombo batu ). Atraksi lompat batu Nias yang terkenal berada di sebuah desa di atas bukit bernama Bowomataluo di Nias Selatan. Melompati tugu batu yang sekitar 1,7 meter itu tentu bukan hal mudah, apalagi postur orang Nias umumnya tidak tinggi. Zaman dulu, hanya laki-laki yang sudah jadi prajurit saja yang boleh menikah. Satu kepala musuh untuk satu kali perkawinan. Namun kini tradisi tersebut menghilang. “Ujian lain —kali ini lebih berdarah— yang harus dihadapi prajurit adalah lompat batu, tradisi yang masih dilaksanakan sampai saat ini di Nias Selatan. Sepertinya, tujuan lompat batu adalah melatih prajurit untuk melompati pagar desa musuh,” catat Vanni Puccioni dalam Tanah Para Pendekar: Petualangan Elio Modigliani di Nias Selatan Tahun 1886 . Perang antardesa biasa terjadi di Nias. Namun perang dengan otoritas Belanda, yang jelas tidak biasa, juga pernah terjadi di Nias kendati tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) sudah mendarat dan membuat pos di Nias sejak 1840. Perlawanan terhadap otoritas Belanda terjadi di Nias pada awal abad XX. Penyebabnya terkait dengan urusan administrasi pemerintahan. Rencananya, seperti diberitakan De Locomotief tanggal 18 Juli 1908, berdasarkan Keputusan Pemerintah Nomor 14 tahun 1908 wilayah Nias akan dipimpin oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Gunungsitoli. Wilayah timur juga langsung di bawah Asisten Residen. Untuk Nias Barat dan Nias Selatan, diawasi kontrolir. Sedangkan wilayah utara dipimpin seorang penguasa sipil sementara. Rencana tersebut rupanya tidak mendapat dukungan bulat dari seluruh pemimpin etnis di pulau itu. Sebuah gangguan keamanan, tulis De Courant tanggal 11 Agustus 1908, terjadi di Nias pada Jumat, 7 Agustus 1908. Kendati gangguan tersebut bukan gangguan besar menurut Kontrolir EEWG Schröder selaku pejabat sipil kolonial tertinggi di Nias, pemerintah kolonial bertindak cepat untuk mengatasinya. Pada 23 Juni 1908, seperti diberitakan De Locomotief tanggal 29 Juni 1908, satu brigade Marsose di bawah pimpinan Letnan Infanteri Baptist diberangkatkan dengan kapal uap MV Condor milik pemerintah dari Padang menuju Gunungsitoli. Di Nias sendiri telah ada 8 brigade –tiap brigade berisikan 20 personel– Marsose di bawah Kapten Kruisheer selaku komandan militer tertinggi di pulau itu. Marsose yang merupakan pasukan anti-gerilya KNIL, terbentuk dan terasah kehandalannya di akhir Perang Aceh. Setidaknya terdapat 160 orang marsose di Nias. Dengan mengerahkan mereka, masalah gangguan dari orang-orang Nias dari pegunungan yang dianggap pemerintah kolonial masih liar, bisa diatasi. Pada Agustus 1908, gangguan keamanan itu “sirna”. Namun masalah yang terjadi di Nias itu membuat residen Tapanuli, yang membawahi Pulau Nias, harus mengunjungi Nias yang dianggap gawat oleh pemerintah. Koran De Locomotief tanggal 22 September 1908 memberitakan bahwa ketika residen Tapanuli di sana, semua kepala masyarakat dikumpulkan di Teluk Dalam. Di sana, pemerintah kolonial mengeluarkan perintah tentang pembangunan jalan, pendaftaran dan penyerahan senjata api, larangan pengayauan (pemenggalan kepala), berperang antar-kampung, dan membawa senjata perang. Kala itu Bawefarono didenda 500 gulden karena sikap tidak pantas selama perjalanan Schröder. Sekitar November 1908, seorang perwira Belanda diserang dan terluka parah dalam sebuah perampokan di Hiligeho, Nias Selatan. Perwira yang terluka parah itu, menurut De Locomotief edisi13 November 1908, adalah Letnan Van Holst Pellekaan. Perampokan itu tentu menyulut pemerintah kolonial untuk mengerahkan aparat keamanannya. Menurut koran De Avondpost tanggal 12 November 1908, para penyerang berhasil dipukul mundur oleh pihak berwenang dan puluhan orang terluka dalam serangan itu. Selain perwira tadi, tiga pekerja paksa juga mendapat luka ringan. Perlawanan tak padam begitu saja di Nias tahun 1908. Masalah itu tak seringan yang dipikir Schröder. Hingga Schröder dimutasi dari Nias pada 1909, perlawanan masih ada di Nias. Pada 27 Februari 1909, perlawanan terjadi lagi di Kampung Hililowalangangangi, Nias Selatan. Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 8 Maret 1909 memberitakan, Prajurit KNIL Kasiman dan Prajurit KNIL Satam tertembak orang kampung dan terbunuh dalam peristiwa tersebut. Sementara, Prajurit Sanidin terluka. Pada 1910 perlawanan juga masih terjadi. Koran De Locomotief edisi 15 Juli 1910 memberitakan bahwa kepala Sitoebahili di daerah Moro Bawah di Nias Barat ditangkap. Ini adalah buntut dari serangan lebih dari 100 orang terhadap sebuah patroli 10 prajurit KNIL. Dalam serangan itu, Kopral Dittrich bersama seorang kopral pribumi dan tujuh prajurit infanteri KNIL terbunuh. “Perlawanan terjadi di sekitar Sungai Gamo dan Sungai Idano Tae di Nias Selatan. Orang-orang Nias di tahun ini tak bisa didekati pemerintah kolonal. Jika ada patroli militer KNIL Belanda mendekati kampung mereka, maka mereka melarikan diri. Beberapa kepala suku ditangkap,” tulis Algemeen Handelsblad , 20 Februari 1911. Pada 15 November 1910, Gotsjoe selaku kepala suku Hili Ana tiba di Gamo Atas atas permintaan komandan patroli. Dia diminta secara sukarela pergi ke Lahusa. Namun, ternyata dia kabur bersama orang-orang Nias lain. Ratusan orang Nias itu kemudian mempersenjatai diri dengan tombak dan tameng. Sebuah brigade KNIL bersenjata api pun dikirim untuk menghadapi mereka. Getsjoe rupanya didukung Don Salawa (kepala kampung) dari Kaïnpong Ëwo di Idano Tae. Pasukan Belanda kemudian diperintahkan menangkap sang kepala desa. Namun, sang kepala kampung bersama 30 pengikutnya dalam posisi siap tempur. Mereka melempari pasukan KNIL Belanda dengan tombak. Akibatnya, Kopral Salamoen dan Kopral Jensen mendapat luka ringan. Kala itu Getsjoe mungkin bersembunyi di rumah kepala kampung itu. Perlawanan orang Nias terjadi lagi pada 25 November. Kala itu, patroli KNIL berjalan ke Wazoe-Wazoe, sebuah kampung yang dibentengi tembok batu dan pegar bambu. Saat anggota brigade masuk, seorang perempuan tua berteriak bahwa hanya perempuan yang ada di sana. Rupanya patroli KNIL itu sedang dijebak. Tak lama kemudian, patroli itu dilempari tombak dan batu. Perang antara Belanda dengan orang-orang Nias antara 1908-1913 itu dikenal sebagai Perang Moro’0. Buku Republik Indonesia: Propinsi Sumatera Utara menyebut, banyak tentara KNIL terbunuh. Sementara, sebanyak 14 kepala adat tewas selama perlawanan. Akibat perang itu, 20 pemimpin Nias dibuang ke Sumatra dan Jawa. Para panglima perang Nias mendapat hukuman 5 hingga 20 tahun penjara serta dibuang dari Nias.





















