top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sukarno and His Sampaguita

    UPON arrival at the airfield, Philippine President Diosdado Macapagal welcomed him and took him to the mansion of José P. Laurel, former president of the Philippines (1943-1945), where he, President Sukarno, would stay. In the mansion, Laurel lived with his wife, children, and grandchildren. To celebrate Sukarno's visit, they brought in the Bayanihan Cultural Ensemble, a choral group, who welcomed Sukarno with the Indonesian lenso dance. Two girls from the ensemble approached Sukarno and asked him to join the dance.

  • Soeharto, Yasser Arafat, dan Dukungan untuk Palestina

    KABAR mengenai kedatangan Yasser Arafat ke Jakarta pada 25 Juli 1984 menarik perhatian publik Indonesia. Dalam kunjungan selama dua hari, pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) tersebut tak hanya bertemu Presiden Soeharto.Ia juga akan melakukan pertemuan dengan para duta besar negara-negara Arab untuk Indonesia.

  • The History of Herbal Medicine in Nusantara

    THE lush white house looks exquisite, with neatly-arranged plants filling its 1,000 meter square land. Most of the plants there are labeled with their respective names and properties. A pharmacy stands right in front of the entrance, while an acupuncture practice room can be found inside the house. The place, known as Taman Sringanis or Sringanis Garden, was founded by writer Putu Oka Sukanta and his wife Endah Lasmadiwati. It is located in Kampung Cimanengah 29, Cipaku, South Bogor, and is open to anyone who is interested in herbal medicine.

  • Pesan Toleransi dari Muarajambi

    Junus Satrio Atmodjo baru berusia 28 tahun ketika menjadi arkeolog yang merintis penelitian ke situs percandian Muarajambi pada 1985. Waktu itu, situs Muarajambi masih tertutup hutan belukar. Setelah menyeberangi Sungai Batanghari, Junus harus menebangi ribuan pohon untuk memasuki kawasan percandian.   Di Muarajambi, Junus bertemu dengan empat bocah: Ahock, Brata, Borju, dan Aina. Mereka tinggal di sekitaran Muarajambi. Konon katanya, lelulur anak-anak tersebut diasingkan ke Muarajambi karena menderita kusta. Orang setempat menyebutnya penyakit jahat.   Anak-anak “nakal” ini suka membuntuti Junus ke manapun pergi. Mereka memanggil Junus dengan panggilan akrab: Pak Oteng. Ahock si paling jahil pernah mengketapel kantor tempat Pak Oteng bekerja. Sementara itu, Aina si gadis tomboy yang punya keahlian memanjat pohon, suka membagikan buah duku hasil panjatannya kepada Pak Oteng. Baca juga:  Temuan Baru di Situs Muarajambi Namun, di samping keusilannya, mereka suka bertanya apa saja kepada Pak Oteng tentang candi Muarajambi. Anak-anak ini suka menggelar tikar untuk mendengarkan cerita penelitian Pak Oteng. Situs Muarajambi yang tadinya seperti bangunan misteri bagi anak-anak ini, telah menjadi harta karun pengetahuan setelah mengenal Pak Oteng. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Ahock, Borju, Brata, dan Aina terus memupuk pengetahuan serta kecintaan mereka terhadap Muarajambi. Ketika dewasa, mereka merawat dan mengembangkan situs Muarajambi dengan jalan masing-masing. Ahock menjadi pegiat sejarah dan budaya. Borju menjadi guru. Brata menjadi pengusaha kopi. Dan Aina, menjadi pengemudi becak motor yang setia mengantarkan wisatawan pengunjung situs Muarajambi. Inilah sekilas fragmen yang dihadirkan dalam film dokumenter Unearthing Muarajambi Temples besutan sutradara Nia Dinata. Baca juga:  Menjemput Berkah dari Situs Percandian Muarajambi Jejak arkeologis dan sejarah situs percandian Muarajambi jelas mengambil tempat utama dalam film dokumenter ini. Di masa kejayaannya yang terentang dari abad ke-7 hingga ke-13, situs percandian Muarajambi menjadi mahavihara atau pusat studi agama Buddha. Dari Muarajambi, agama Buddha bertumbuh pesat di Sumatra hingga menyebar ke seluruh Nusantara. Terdiri dari sembilan candi, kompleks percandian Muarajambi merupakan situs percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara. Diperkirakan masih banyak lagi bangunan candi yang terbenam dalam tanah di situs Muarajambi. Meski demikian, peradaban masa lalu Muarajambi tak melulu jadi tema yang ditampilkan Nia Dinata. Ia juga mengangkat berbagai isu. Pluralisme, agama, bahkan lingkungan. Meski hanya sebagai sisipan, hal tersebut punya bobot tersendiri sebagai bahan kontemplasi. Potret keberagaman yang menyentuh ditampilkan ketika Brata mengajak anak-anak didiknya berkunjung ke Muarajambi. Di salah satu lapangan candi, mereka menyaksikan sekumpulan anak-anak sekolah minggu yang beragama Kristen sedang beribadah dan bernyanyi. Tidak ada gangguan apalagi penggerudukan, seperti yang jamak terjadi di daerah lain di negeri ini. Dari pengalaman itu, Borju mengajarkan kepada para muridnya arti saling menghormati dan menghargai antar-umat beragama. Itu pula yang dipelajari penganut Buddha di Muarajambi berabad-abad silam: kedamaian dan harmoni.    Baca juga:  Menggali Peradaban Muarajambi Warga sekitar Muarajambi mayoritas penganut Muslim. Namun, mereka bersikap ramah dan terbuka terhadap para peziarah Buddhis yang datang ke Muarajambi. Hidup yang saling berdampingan di tengah perbedaan tadi menjadi pesan toleransi dalam dokumenter ini.   Sementara itu, Aina menuturkan, semasa bocah dirinya biasa meminum air Sungai Batanghari. Airnya masih bening dan ikan-ikan tampak berenang di permukaan air. Dia dan kawan-kawan sepantarannya bahkan suka menyelam mencari uang koin yang dilemparkan pengunjung situs Muarajambi. Tapi, kondisi sungai tersebut saat ini tak lagi seasri dulu. Tongkang-tongkang batubara mencemari air Sungai Batanghari. Belum lagi kepungan kebun-kebun sawit yang kian mendesak ke Muarajambi. “Kalau sekarang ndak ado (air bersih) lagi. Kotor. Limbah lah banyak,” begitu kata Aina dengan dialek Jambinya. Baca juga:  Jejak Peradaban di Sepanjang Sungai Batanghari Kisah ditutup dengan perjalanan Ahock dan Brata ke negeri India. Mereka berkunjung ke Nalanda yang menjadi pusat studi agama Buddha tertua di dunia. Struktur dan lansekapnya hampir sama dengan Muarajambi. Ternyata ada keterkaitan antara Candi Muara Jambi dengan Universitas Nalanda di India. Dalam mencari pertautan dengan Muarajambi, ada banyak kejutan dalam perjalanan mereka ke India hingga Tibet. Sebagai sebuah dokumenter, Nia Dinata cukup apik dalam meramu kepingan-kepingan narasi dari para karakter. Hanya saja beberapa cuplikan dialog dalam bahasa Jambi yang tidak diterjemahkan kiranya menjadi catatan. Hal ini agak menyulitkan penonton untuk menyerapnya, khususnya mereka yang berasal dari luar Sumatra. Kendati demikian, dengan semua yang ditampilkan, film dokumenter ini membuka tabir yang belum diketahui banyak orang tentang situs Muarajambi. Data Film Judul: Unearthing Muarajambi Temples (Muarajambi Bertutur) | Sutradara: Nia Dinata | Produser: Nia Dinata dan Sandie Elisabeth Monteiro | Produksi: Kemendikbudristek dan Kalyana Shira Foundation  | Genre: Dokumenter | Durasi: 93 menit | Rilis: 2022 (Indonesia TV) .

  • Menapak Tilas Ken Angrok

    ALIH-ALIH tokoh sejarah yang hidup pada abad ke-12-13 M, Ken Angrok (sering ditulis Ken Arok) kerap dianggap sebagai tokoh rekaan Pararaton, yang ditulis 250 tahun pasca kehidupannya. Keraguan semacam itu pernah diyakini, salah satunya oleh C.C. Berg, filolog Belanda yang kemudian menuliskannya dalam jurnal berjudul “Het Javaanse Gebruik van het Sanskrit word rajasa”. Mau bagaimana lagi. Tokoh pendiri Dinasti Rajasa itu belum terbukti pernah mengeluarkan satu pun prasasti. Namanya juga tak dijumpai dalam sumber tertulis di luar Pararaton. Yang ada hanya nama resminya sebagai raja (abhiseka), Sri Rangga Rajasa Amurwabhumi. Padahal dinasti ini telah berjaya di Jawa selama 250 tahun, sejak era Singhasari hingga Majapahit. Di dalam Pararaton, tak kurang dari 40 nama lokasi, sejak Ken Angrok lahir hingga di-dharma-kan, disebut. Tak cuma desa, tapi hutan, bukit, dan tegalan. Beberapa di antaranya masih ada hingga sekarang. Bahkan didukung pula dengan data artefak (benda arkeologis yang dibuat, diubah, dan dimodifikasi oleh tangan manusia) dan ekofak (benda alam). Wilayah timur Gunung Kawi terus disebut Pararaton sebagai areal petualangannya. Bersama beberapa kawan dari Komunitas Jelajah Jejak Malang (JJM), Risa Herdahita Putri dari Historia menelusuri sejumlah wilayah di Malang Raya untuk melacak jejak Ken Angrok. Selama seminggu penulis jebolan arkeologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu masuk keluar kampung di sekitar wilayah Malang dan menuliskan penelurusannya itu ke dalam beberapa tulisan berikut ini. Selamat membaca. Melacak Jejak Ken Angrok Dendam Membara Mpu Purwa Persembahan Terakhir bagi Rajasa Api Terakhir di Bhumi Kadiri The Last Battle in Bhumi Kadiri

  • Orba Benci Musik Cengeng

    PADA era akhir pemerintahan Presiden Sukarno, musik rock yang mulai berkembang di bumi belahan barat menjadi haram di Indonesia. Itu semua karena garis politk Sukarno yang anti-Barat. Koes Bersaudara pernah masuk bui gegara membawakan “I Saw Her Standing There” milik The Beatles dalam sebuah pesta di pertengahan 1965.

  • Kala Penduduk Gaza Terusir, Peristiwa Nakba Terulang Lagi?

    WAJAH perempuan sepuh itu sudah penuh keriput. Dari sela kerudung putihnya tampak rambutnya sudah memutih seluruhnya. Tubuhnya pun sudah membungkuk hingga tangannya harus digandeng dua kerabatnya saat terpaksa berjalan kaki dengan tergopoh-gopoh mengungsi dari kota Gaza, Palestina. Anam, begitu perempuan renta itu teridentifikasi dalam video berdurasi 24 detik yang di- posting Belal Khaled, fotografer dan videografer lepas untuk Time , The Wall Street Journal , dan Al Jazeera di akun Instagramnya, @belalkh , Jumat (10/11/2023). Tampak di belakang Anam dan dua kerabatnya, sejumlah warga kota Gaza yang lain berbondong-bondong melakukan eksodus baik dengan hanya berjalan kaki atau menggunakan gerobak yang ditarik keledai. “Anam berusia 90 tahun. Hidupnya sudah melewati (peristiwa) Nakba pada 1948 dan hari ini ia kehilangan tempat tinggal lagi dari kota (Gaza) ke selatan Jalur Gaza,” tulis Khaled dalam keterangan video itu. Di hari itu, Anam bersama belasan ribu warga kota Gaza mengungsi untuk menghindari kebrutalan tentara Israel yang sudah merangsek ke utara Jalur Gaza dan jantung kota. Serangan pasukan Zionis makin intensif setelah merasa di atas angin karena dibekingi Prancis, Jerman, Inggris, dan utamanya Amerika Serikat. Seruan resolusi dari Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 31 Oktober 2023 untuk mendesak gencatan senjata pun diabaikan negeri Zionis itu. Tel Aviv bahkan makin di atas angin lantaran parlemen Amerika menyetujui paket bantuan senilai 13,3 miliar dolar untuk Israel pada 2 November silam. Baca juga: Darah dan Air Mata Palestina Anam (90) yang kembali harus merasakan getir terusir dari tempat tinggalnya (Instagram @belalkh) Sementara, banyak negara lain bungkam saat Israel secara terbuka terus melancarkan genosida dengan pengeboman nyaris tiada henti selama lebih dari sebulan terakhir ke permukiman, kamp-kamp pengungsian, sekolah-sekolah PBB, rumah ibadah hingga rumahsakit. Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara juga termasuk jadi sasaran. Hingga Jumat, (10/11/2023), sudah lebih dari 11 ribu warga sipil Gaza tewas. “Korbannya termasuk 4.506 anak-anak, 3.027 perempuan, dan 678 lansia, sementara 27.490 lainnya terluka. Serangan Israel juga turut menewaskan 198 tenaga medis dan 53 ambulans hancur. Israel menargetkan 135 fasilitas kesehatan dan sudah membuat 21 rumahsakit dan 47 pusat kesehatan lainnya hancur total,” tutur Ashraf al-Qudra, juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina, dikutip Anadolu Ajansı , Jumat (10/11/2023). Sejak pertengahan Oktober 2023, sudah mulai muncul gelombang pengungsian warga di utara Gaza dan jantung kota Gaza ke wilayah selatan. Namun seiring makin intensifnya serangan darat dan udara Israel pasca-jeda empat jam waktu yang diberikan Israel untuk ribuan warga Gaza meninggalkan tempat tinggalnya, lebih dari setengah juta warga Gaza menjadi tunawisma yang senasib dengan Anam. “Pemboman terus-menerus, 6.000 bom dijatuhkan setiap pekan di Jalur Gaza, sebuah wilayah kecil di mana penduduknya terjebak dan kehancurannya masif. Memang ada jeda empat jam agar penduduk bisa bernafas dan mengingat seperti apa suara kehidupan tanpa pemboman sebelum pemboman dimulai lagi. Itu sangat sinis dan keji,” ungkap pelapor khusus PBB, Francesca Albanese, dilansir The New Arab , Jumat (10/11/2023). Fakta itu makin menguak kemungkinan Israel ingin melakukan pembersihan etnis, yang makin diperkuat dengan bocornya sebuah dokumen ke publik pada 28 Oktober lewat. Adalah media Israel sendiri, Mekomit , yang menyingkap sebuah dokumen dari Kementerian Intelijen Israel yang isinya rencana untuk menyingkirkan dua juta penduduk Gaza ke Semanjung Sinai, Mesir. Meski begitu, Menteri Luar Negeri Amerika, Anthony Blinken, tak sepakat jika Jalur Gaza diklaim Israel. “Gaza tidak boleh…untuk seterusnya (pemerintahannya) dijalankan Hamas; itu sama saja akan mengulang (serangan) 7 Oktober. Juga untuk lebih jelasnya Israel tidak boleh menduduki Gaza. Sekarang realitasnya mungkin dibutuhkan suatu periode transisi di akhir konflik. Kami tidak melihat adanya pendudukan kembali dan yang saya dengar dari para pemimpin Israel adalah mereka tidak berniat menduduki Gaza kembali,” tegas Blinken, disitat The Guardian , Rabu (8/11/2023). Baca juga: Alkisah Gereja Tertua di Gaza yang Diserang Israel Sekolah PBB yang sudah penuh sesak dengan pengungsi Gaza (X @UNRWA) Derita Peristiwa Nakba Nakba artinya “bencana” dalam bahasa Arab, merujuk pada pengusiran dan eksodus orang-orang Palestina selama Perang Arab-Israel 1948, begitu yang diterangkan PBB dalam laman resminya . Namun kenyataannya lebih dari itu. Kelompok pergerakan Zionis yang menyingkirkan ratusan ribu warga Palestina turut meninggalkan getir intimidasi, persekusi, hingga pembantaian di balik itu. Parahnya, ada “tangan” PBB yang turut andil. Semua berawal dari Inggris yang menyerahkan pemerintahan wilayah Palestina kepada PBB. Pada sidang majelis umumnya pada November 1947, PBB menghendaki tanah Palestina dibagi menjadi dua negara: untuk bangsa Palestina dan para imigran Yahudi. Pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Langkah tersebut didukung dan diakui Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ketika Liga Arab menolaknya, pecahlah Perang Arab-Israel (15 Mei 1948-10 Maret 1949). Seiring itu pula tanggal 15 Mei dikenal sebagai permulaan Hari Nakba. Baca juga: Che Guevara dan Perlawanan di Gaza Dampaknya, ratusan ribu penduduk Palestina terusir dari tanah tempat tinggal yang sudah mereka diami selama puluhan tahun. Menurut Benny Morris dalam Israel’s Border Wars, 1949-1956: Arab Infiltration, Israel Retaliation, and the Countdown to the Suez War , di hari pertama saja, 15 Mei, sebanyak 250-300 ribu orang Arab-Palestina harus terusir ke Mesir, Lebanon, Suriah, dan Yordania. “Sekretaris Jenderal (sekjen) Liga Arab mengirim kabel kepada Sekjen PBB pada 15 Mei 1948 menjustifikasi intervensi negara-negara Arab yang menyebutkan bahwa, ‘seperempat juta populasi Arab (Palestina) telah terusir dari tempat tinggal mereka dan terpaksa pindah ke negara-negara Arab tetangga’,” tulis Morris. Ratusan ribu penduduk yang terusir itu berasal dari sekitar 400 perkampungan Arab-Palestina di Tiberias, Haifa, dan Beersheba yang dihancurkan milisi Israel untuk memaksa penduduknya hengkang. Ribuan di antara mereka yang mencoba melawan atau sekadar bertahan, berujung jadi korban pembersihan etnis seperti yang terjadi di sejumlah desa. Eksodus populasi Arab Palestina pada Peristiwa Nakba 1947-1948 (Repro: The Birth of the Palestinian Refugee Problem /hanini.org) Desa Deir Yassin salah satu yang paling awal dan paling parah yang dijadikan sasaran ofensif Zionis. Sekira 120 milisi Zionis membantai lebih dari 100 penduduknya. Atau peristiwa rudapaksa milisi-milisi Zionis cikal-bakal IDF (Israel Defense Forces/Tentara Israel) di sejumlah desa di Akra, Jaffa, dan Qula. “Saya sendiri terkejut saat melihat arsip IDF. Tidak hanya pembantaian tapi juga ada banyak kasus pemerkosaan. Kurun April-Mei 1948 unit-unit Haganah (cikal-bakal IDF) memberi perintah operasional secara eksplisit untuk menghancurkan desa-desa dengan cara mereka sendiri. Tentang pemerkosaan, di Akra empat serdadu memerkosa seorang gadis dan membunuh ayahya. Di Jaffa juga oleh serdadu Brigade Kiryati, di Hunin dua gadis diperkosa lalu dibunuh. Juga di Tantura dan Haifa,” aku jurnalis Ha’aretz , Ari Shavit, dikutip Susan Slyomovics dalam artikelnya, “The Rape of Qula, a Destroyed Palestinian Village” yang termaktub dalam buku Nakba: Palestine, 1948, and the Claims of Memory. Setidaknya ada selusin kasus di mana korban yang jadi tawanan diperkosa lalu dibunuh, lanjut Shavit. Apa yang tertera dalam arsip itu diyakini sang jurnalis hanya puncak gunung es karena kasus itu selalu jadi pola milisi-milisi Zionis setiap kali menyerang sebuah desa namun tak tercatat dalam arsip. Baca juga: Nasib Tragis Desa Palestina yang Dibantai Zionis Sekira 30 ribu populasi Palestina memang bisa bertahan di Yerusalem. Tapi tercatat, sekira lima ribu orang kehilangan nyawa saat Israel melakukan pembersihan etnis di sejumlah wilayah yang dicaplok. Pada 1950 usai perang, Israel mencaplok hampir 80 persen wilayah yang sebelumnya didiami populasi Arab-Palestina, menyisakan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sementara sekira 150 ribu penduduknya tetap bertahan di wilayah Israel dan terpaksa menjadi warga Israel. Montase pengungsi populasi Arab Palestina pada Peristiwa Nakba ( hanini.org ) Mereka yang terpaksa menjadi tunawisma dengan mengungsi di negara-negara tetangga mencapai sekitar 700 ribu jiwa. Sebagaimana yang dialami Mohamed Hadid, ayah dari kakak-adik supermodel Bella dan Gigi Hadid. “1947/48 dan hari ini tiada yang berubah. Usia saya 9 tahun saat menjadi pengungsi ke perbatasan Suriah. Ayah saya sempat memberi perlindungan bagi beberapa tetangga Kristen kami, keluarga Khoury dan keluarga Sabagh melakukan hal yang sama di kota Safad. Sekarang semua orang tahu cerita bagaimana mereka yang enggan pergi akan dibantai. Ayah saya tak pernah berkata hal buruk tentang Yahudi. Ayah dan ibu saya tak ingin menularkan kebencian di hati kami,” ungkapnya di akun Instagram -nya, @mohamehadid , 21 Oktober 2023. Sejak saat itu, Israel merekayasa historiografinya. Utamanya Soal Peristiwa Nakba yang hingga kini menjadi trauma kolektif bagi masyarakat Palestina. “Palestina pada 1948 adalah kasus tipikal sebuah sejarah yang penuh kekosongan antara sejarah yang direkayasa oleh historiografi Israel dan absennya historiografi sejarah Arab atau Palestina. Historiografi Israel mengadopsi penyangkalan Nakba dan menolak untuk mendengar suara dan kesaksian para korban. Sebaliknya historiografi Arab dan Palestina tak pernah berhasil membentuk satu narasi yang solid dan lengkap untuk mengonfrontasikan beban perang 1948 yang pada akhirnya melahirkan masalah pengungsi Palestina yang menjadi jantung dari konflik Israel-Arab sampai saat ini,” tukas Abdel Jawad, sejarawan Universitas Birzeit, dikutip Slyomovics. Baca juga: Duka Desa Tantura di Palestina

  • Palestine's Dream of Independence

    THE military operation launched by Israel in Gaza has made Palestinian students in Indonesia anxious. They immediately sought information about the fate of their families, relatives and friends. Moreover, not only in Gaza, violence occurred in Hebron, a city in the Israel-occupied West Bank.

  • Merambah Indahnya Kain Tenun Nusantara

    Aneka kain tenun dari berbagai daerah di Indonesia tampak memikat mata. Ada kain ulos dari Sumatra Utara, songket Palembang dengan kerlap-kerlipnya yang mempesona. Dari Jawa Tengah tampak kain lurik. Salah satu yang mencuri perhatian ialah tenun Sambas dari Kalimantan Barat. Kainnya berwarna dasar hijau berhiaskan corak Melayu-Kalimantan dengan sulaman benang emas. Perlu waktu dua bulan untuk menghasilkan satu kain tenun ini.   “Kalau dari Sambas, pinggirannya itu pakai benang putih dengan tumpalnya yang di tengah itu pucuk rebung. Sedangkan motifnya, ada yang bentuk mawar, ada yang serong, ada yang berturus, dan ada yang bertabur. Zaman dahulu itu kan belum dikasih benang emas, tapi sekarang kami modifikasi,” jelas Nurleila, perajin tenun songket Sambas dalam acara “LANGGAM 15: Lima Belas Tahun Cita Tenun Indonesia untuk Negeri” di The Dharmawangsa, Jakarta, 7 November 2023. Baca juga:  Kemeriahan Mambo Fesyen Show Menurut Nurleila, produksi kain tenun sambas sempat mengalami mati suri pada dekade 1990-an. Persoalannya bermacam-macam. Mulai dari kesulitan bahan baku, kurangnya dukungan bagi perajin, hingga sepinya peminat. Para perajinnya sampai harus merantau ke Brunei Darussalam untuk memproduksi kain tenun Sambas. Namun, tenun Sambas mulai menggeliat lagi setelah sejumlah perajinnya tergabung dalam komunitas binaan Cita Tenun Indonesia (CTI).   Kain Tenun Sambas dari Kalimantan Barat. Foto: Riyono Rusli/Historia.id. CTI adalah organisasi nirlaba yang didirikan oleh para perempuan Indonesia pecinta tenun pada 28 Agustus 2008. CTI bertujuan melestarikan tenun Nusantara sebagai warisan budaya tinggi. Program CTI mencakup pelestarian, pelatihan, dan pengembangan perajin tenun untuk memaksimalkan produksi lewat kerjasama dengan berbagai pihak. Pada tingkat lanjut, perajin kain tenun menjadi sebuah profesi yang diakui dengan adanya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Tenun Indonesia. Sampai saat ini, CTI telah membina 28 sentra binaan di kabupaten-kota dari 14 provinsi di Indonesia.  “(CTI) bermula dari para kolektor dari berbagai daerah. Pada saat itu, kami bermaksud untuk menjadikan perajin tenun itu tetap eksis, lebih sejahtera. Itu yang menjadi tujuan awal,” kata Sekretaris Jenderal CTI Intan Fauzi.   Baca juga:  Asal Usul Pakaian Pewarnaan menjadi salah satu unsur penting pada kain tenun. Dalam khazanah kain tenun Nusantara, proses pewarnaan menggunakan pewarna alam sudah berlangsung sejak lama. Karena bahan-bahan pewarna alami di tiap daerah berbeda satu sama lain, maka jenis kain tenun di Indonesia punya ciri khas yang beragam. “Pewarnaan alam itu merupakan suatu daya tarik yang luar biasa, karena kita bisa mengembangkan sesuatu yang turun-temurun dari nenek moyang kita sebagai aset. Dan kita juga bisa mengembangkan sesuai dengan perkembangan penemuan teknologi sederhana,” kata Cut Kamaril Wardani, pengurus Bidang Penelitian dan Pengembangan CTI.   Kain Tenun Sambas dalam balutan busana. Foto: Riyono Rusli/Historia.id. Lebih lanjut, Kamaril yang juga akademisi Kriya Seni ITB ini mengatakan industri tenun tangan tradisional cukup banyak di daerah. Begitu pula dengan para perajin yang bergiat memproduksi kain tenun. Namun, sejauh ini belum ada data atau pengarsipan yang memadai tentang perajin tenun tradisional. Padahal, tenun tradisional patut dilestarikan sebagai wujud kekayaan dan aset budaya bangsa.        Baca juga:  Gaya Busana Pemimpin Asia Tenggara “Indonesia belum punya data tentang tenun tradisional. Perajinnya ribuan, bahkan mungkin jutaan, tapi belum dapat ditunjukkan datanya. Kalau kita bisa mensertifikasi, kita bisa mendapatkan data, dan memasukkannya ke dalam e-data, seperti e-ktp,” terang Kamaril.   "LANGGAM 15" dipungkasi dengan peragaan busana hasil karya 15 perancang busana ternama. Menampilkan berbagai desain dan motif kain tenun dari berbagai daerah Indonesia. Beberapa di antaranya: Tenun Songket Halaban dari Sumatra Barat, Tenun Ikat Garut dari Jawa Barat, Tenun Lukat dari Jawa Tengah, Tenun Lunggi dari Sambas, Tenun Rangrang dari Bali, Tenun Songket Lombok dari Nusa Tenggara Barat, Tenun Sobi dari Sulawesi Tenggara, Tenun Sumba dan Tenun Songke Labuan Bajo dari Nusa Tenggara Timur.

  • Kiprah Soedigdo yang "Tak Diakui" Lantaran Kiri

    Kamis, 23 September 1948, Kolonel Gatot Subroto memerintahkan Mayor Slamet Rijadi, komandan Brigade V, untuk mencegat Mayor Soedigdo dan pasukannya di Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa Tengah. Pasukan Soedigdo dianggap telah berganti haluan politik sehingga bisa membahayakan. “Ketika bulan September 1948 meletus Peristiwa Madiun, Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto memperoleh informasi batalyon Soedigdo telah dipengaruhi komunis,” tulis Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang .   Batalyon yang dipimpin Soedigdo dicurigai hendak menyeberang ke Madiun. Kebetulan batalyon Seodigdo beroperasi di Wonogiri yang merupakan daerah paling timur Jawa Tengah, jadi tak terlalu jauh ke Madiun.   “Slamet Rijadi berusaha secepatnya untuk bisa sampai di Tirtomoyo, kota kecil antara Wonogiri dan Madiun, guna mencegat perjalanan Soedigdo,” tulis Pour dalam buku yang lain, Ignatius Slamet Rijadi Dari Mengusir Kempeitai Sampai Menumpas RMS . Operasi Slamet Rijadi berhasil –kecuali ada seorang komandan peleton batalyon itu yang tidak ikut berhasil lolos dari cegatan pasukan Slamet Rijadi, yakni Koesman. Pasukan Soedigdo lalu diarahkan ke Paras, Boyolali, di lereng Gunung Merbabu. Soedigdo adalah komandan batalyon 13 yang beroperasi di sekitar Solo, Jawa Tengah. Sebelum 1948, dirinya sudah menjadi mayor di Tentara Nasional Indonesia (TNI). Soedigdo sempat ditahan di Penjara Wirogunan. Namun setelah tentara Belanda menyerbu ibukota Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Soedigdo kabur dari penjara bersama Mayor Pramudji dan beberapa orang lainya. Sembari kabur, mereka merampas senjata api petugas penjara. Dari Yogyakarta, rombongan Soedigdo kabur menuju Imogiri. Dalam perjalanan ke Imogiri itu, rombongan Soedigdo bertambah kuat. “Mereka juga mendapat pengikut-pengikut baru, pemuda-pemuda sepemikiran dengan mereka bahwa kini tiba saatnya menghadapi tentara Belanda lagi. Maka ketika mereka tiba pada sore hari di Imogiri, mereka masing-masing mempunyai satu regu pasukan yang bersenjata lengkap. Tak ada satu orang pun mengira bahwa pagi harinya mereka masih berada tahanan pemerintah,” catat Suparna Sastradiraja dalam pengantarnya di Novel MMC di Lereng Merapi-Merbabu . Soedigdo bertemu lagi dengan pasukannya di sekitar Wonogiri. Termasuk Koesman yang ganti nama menjadi Untung. Pasukan Soedigdo kemudian terlibat pertempuran dengan pasukan Batalyon 5-6 Resimen Infanteri dari Koninklijk Landmacht (Angkatan Darat Belanda) di Baturetno. Pasukan Soedigdo melakukan penyerangan ke pos Belanda di sekitar Jembatan Pakem dan Jembatan Janglot. Menurut catatan G Setiawan dalam “Gugurnja Kopral Slamet, Kopral Walidi Pradj. Iskandar (Putera Jepang)” di Madjalah Angkatan Darat 8-9 Agustus-September 1957, pertempuran itu terjadi beberapa bulan setelah kota Wonogiri diduduki tentara Belanda. Kota Wonogiri sendiri diduduki Belanda sekitar 29 Desember 1948. Peleton Untung pun juga terlibat pertempuran. Sebelum penyerangan, peleton Untung berada di Kecamatan Batuwarna. Dari Batuwarna mereka mengambil posisi di perbukitan menunggu tentara Belanda yang hendak mereka cegat. Pasukan Untung dan pasukan KL saling baku tembak di sana. Menang-tidaknya pasukan Digdo di Pertempuran Baturetno membuktikan bahwa ada pertempuran melawan Belanda di Baturetno meski dilakukan oleh Untung dan Digdo yang kemudian dicap kiri. Soedigdo, disebut-sebut oleh Raden Ace Wiriadinata dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) —yang belakangan menjadi marsekal dan pernah memimpin pasukan payung– pernah berada di sekitar Surakarta sekitar 1949. Wiriadinata hanya memandang Soedigdo sebagai orang yang berbahaya saja di sektiar Solo. Tidak ada kerjasama signifikan di antara mereka dalam melawan tentara Belanda. Setelah perang antara Indonesia-Belanda berakhir pada akhir 1949, Soedigdo dan Untung melanjutkan kariernya di TNI. Mereka berdua satu batalyon di Kleco. Mayor Soedigdo sebagai komandannya. Soedigdo pernah pula ditempatkan di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) yang mendidik calon kolonel dan jenderal Angkatan Darat. “Batalyon Digdo yang bermarkas di Kleco memperoleh pendidikan politik dari tokoh PKI Alimin, di antaranya Untung dan Suradi, yang kemudian pada tahun 1965 mempimpin G.30.S/PKI. Karena itu, tidak sulit bagi saya untuk menerka siapa yang berada di belakang G.30.S/ PKI, setelah saya mendengar siaran lewat radio bahwa yang memimpin gerakan itu adalah Untung,” kata Soeharto, yang kenal dekat Untung, dalam Soeharto: Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya . Pada 1965, Letnan Kolonel Untung tertangkap dan dihukum mati akibat memimpin Gerakan 30 September. Sementara, Kolonel Soedigdo yang tidak terlibat dalam gerakan Letnan Kolonel Untung, ikut kena getahnya. Ia ditangkap dan ditahan. Di masa penahanannya, Kolonel Soedigdo pernah bersama Jenderal Mayor Soemarsono –Gubernur Militer Madiun semasa Madiun Affair 1948. “Saya dimasukan ke Blok E di RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, Jakarta. Pada waktu itu, dimasukkan juga ke blok yang saa dengan Kolonel Soedigdo,” aku Soemarsono dalam Negara Madiun . Setelahnya, tak ada lagi kabar tentang Kolonel Soedigdo. Dia hanya dikenang sebagai perwira yang terlibat Peristiwa Madiun 1948.

  • Jejak Para Pelukis Perempuan

    PULUHAN lukisan berbagai warna dan ukuran menghiasi Ruang Serbaguna di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Sepasang lukisan “kembar” yang menggambarkan seorang perempuan tengah duduk di alam terbuka diletakkan di dekat pintu masuk, seakan menyambut pengunjung yang datang ke pameran. Perempuan dalam lukisan tersebut adalah pelukis Kustiyah (1935–2012) dan pembuat lukisannya adalah Sudarso (1914–2006). Karya-karya Kustiyah turut ditampilkan dalam pameran berjudul “Seakan-akan Tidak Ada Matahari” itu. Wanita kelahiran Probolinggo, 2 September 1935, itu lulus dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta pada 1956. Ia kemudian menikah dengan Edhi Sunarso, pematung kesayangan Presiden Sukarno, yang karya-karyanya menghiasi kota Jakarta. Menurut Dhiyah Istina dalam “Penjenamaan Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso”, tesis di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2023, Kustiyah ikut serta dalam sejumlah pameran sejak tahun 1950-an. “Terdapat arsip yang menunjukkan bahwa Kustiyah menjadi salah satu pelopor pameran yang diduga sebagai pameran perempuan pertama yang diselenggarakan di Indonesia pada 1956 di Yogyakarta,” tulis Dhiyah. Baca juga:  Lika-liku Memamerkan Karya Seni Lukisan "kembar" Kustiyah karya Sudarso. (Amanda Rachmadita/ Historia.ID ). Aktivitas Kustiyah di ASRI dan sejumlah sanggar lukis di Yogyakarta, seperti Sanggar Pelukis Rakyat dan Sanggar Pelukis Indonesia, membuka jalan untuk mengenal para pelukis senior. Anton Rais Makoginta menyebut selama aktif dalam sanggar di Yogyakarta, Kustiyah mendapat bimbingan dari Hendra Gunawan dan Affandi. “Lukisan-lukisan Kustiyah menggambarkan lingkungan alam dan lingkungan sekitar dengan sapuan-sapuan warna yang cenderung kasar namun berkomposisi harmonis,” tulis Anton dalam Arby Samah: Pemulia Alam dan Ibu . Melalui pendekatan artistik yang khas, Kustiyah melukiskan lingkungan hidup di sekitarnya, mengubah pemandangan alam yang familier dan bersahaja menjadi ungkapan rupa yang bergejolak dan penuh energi. Baca juga:  Emiria Sunassa, Perupa Perempuan Genius Pelukis perempuan lain yang karyanya ditampilkan dalam pameran adalah Siti Ruliyati (1930–2023). Wanita kelahiran Jombang itu salah satu dari sedikit mahasiswa perempuan di ASRI. Ia juga tergabung dalam Sanggar Pelukis Rakyat dan Sanggar Pelukis Indonesia. Grace Samboh dan Ratna Mufida dalam Edhi Sunarso–Penggubah Monumen Bangsa menyebut Pelukis Rakyat tergolong sanggar yang aktif pada masanya. Sanggar yang didirikan pada 1947 itu dikenal melalui slogan “Seni untuk Rakyat”. Tak hanya Kustiyah dan Ruliyati, sanggar ini juga beranggotakan Affandi, Trubus Soedarsono, Rustamadji, Edhi Sunarso, Soedarso, dan sejumlah seniman yang menjadi maestro seni rupa Indonesia. Pameran lukisan berjudul “Seakan-akan Tidak Ada Matahari”. (Amanda Rachmadita/ Historia.ID ).  Ruliyati dikenal memiliki estetika rupa yang serba kontras. Meski sapuan pensilnya kuat, tegang, kaku, dan keras, komposisi dalam karya-karya Ruliyati begitu lembut dan feminin. Ia telah aktif melukis sejak tahun 1950-an. Gambar-gambarnya dimuat di majalah Budaya Jaya , Indonesia , dan Zenith . Selain karya Kustiyah dan Ruliyati, lukisan karya Kartika Affandi juga menghiasi pameran. Pada lukisan Kampung di Jepang (1970) dan Rumah Petani Austria (1991), terlihat bahwa wanita kelahiran Bandung, 27 November 1934, itu memiliki ketertarikan yang sama seperti ayahnya, yakni suka melukis on the spot tentang masyarakat. Baca juga:  Menolak Pandangan Lelaki Lewat Lukisan Kartika juga kerap merefleksikan perasaan maupun kecemasannya dalam rangkaian potret diri. Meski begitu bukan berarti Kartika sepenuhnya mengikuti sang ayah dalam melukis. Menurut sastrawan Ajip Rosidi dalam Apa Siapa Orang Sunda perbedaan itu terlihat dari warna-warna yang digunakan oleh Kartika. “Hal ini tampak dalam pilihan warnanya yang lebih cerah daripada warna-warna yang biasa dipakai Affandi. Kartika banyak menggunakan warna yang lebih muda,” tulis Ajip. Pameran lukisan berjudul “Seakan-akan Tidak Ada Matahari”. (Amanda Rachmadita/ Historia.ID ). Beberapa lukisan karya Sriyani Hudyonoto (1930–2006) juga dapat dinikmati pengunjung dalam pameran. Di antaranya lukisan Kambing (1973) dan Durian (1967). Menurut ahli sejarah seni, Helena Spanjaard dalam “Javanese Tradition, A Prettified Cage”, yang termuat di Framing Indonesian Realities: Essays in Symbolic Anthropology in Honour of Reimar Schefold , wanita kelahiran Yogyakarta itu memulai karier seninya sebagai anggota Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) yang didirikan pada 1938. “Ia berguru pada Sudjojono, salah satu pelopor seni lukis modern Indonesia, dan pada 1953, menjadi asisten art director untuk sutradara film terkenal Usmar Ismail,” tulis Spanjaard. Sriyani aktif mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri sejak tahun 1950-an. Baca juga:  Perempuan dalam Dunia Seni Rupa Indonesia Pengunjung memotret lukisan Kambing (1973) karya Sriyani Hudyonoto . (Amanda Rachmadita/ Historia.ID ). Selain pada Sudjojono, mengutip Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage–Volume 3 , Sriyani juga pernah belajar melukis pada Ries Mulder di Departemen Seni Rupa ITB pada 1951, dan berguru pada Theo Bitter di Belanda. Sriyani tak membatasi diri pada seni lukis. Ia sempat belajar memahat pada pematung Sumadi di Mangkunegaran, Solo, pada 1947. Pameran “Seakan-akan Tidak Ada Matahari” merupakan pameran kembali dari “Carnegie International ke-58: Is it morning for you yet?” di Pittsburgh, Amerika Serikat yang memamerkan koleksi Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso, Galeri Nasional Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Museum Universitas Pelita Harapan, Museum Affandi, dan OHD Museum. Judul pameran yang digagas kelompok peneliti Hypen ini berasal dari kutipan kritik penulis Nugroho dalam Harian Rakyat terhadap karya-karya dalam pameran Sanggar Pelukis Rakyat di Jakarta pada 1957. Pameran yang berlangsung sejak 20 Oktober hingga 19 November 2023 itu menampilkan 54 lukisan. Beberapa di antaranya karya para pelukis perempuan Indonesia. Pameran dibuka untuk umum dan tanpa biaya, pengunjung dapat mengunjungi Ruang Serbaguna, Galeri Nasional Indonesia pada hari Selasa-Minggu, mulai pukul 11.00 hingga 19.00 WIB.*

  • Alkisah Gereja Tertua di Gaza

    PASTUR Hanna Maher tak henti-hentinya memanjatkan doa. Istri dan ketiga anaknya masih terjebak di Jalur Gaza, Palestina. Makin hari ia makin cemas karena serangan Israel kian membabi-buta, termasuk menargetkan gereja. “Saya merasa seperti ibu dan saudarinya Musa setelah mereka meninggalkan Musa di semak belukar. Yang saya bisa lakukan hanya menyaksikan dari jauh,” ujar Pastur Maher lirih, dikutip Christianity Today , Jumat (3/11/2023). Pastur Maher pergi ke Mesir untuk sementara meninggalkan istri dan ketiga anaknya pada 28 September silam untuk mencari kemitraan denominasi atau kelompok keagamaan. Nahasnya, hampir dua pekan berselang Gaza membara dan semua akses keluar-masuk ditutup rapat. Terakhir kali Pastur Maher mengontak, Janet istrinya dan ketiga anaknya masih berlindung di Gereja Santo Porphyrius. Tak hanya kekurangan suplai makanan, nyawa mereka acap terancam serangan-serangan Israel. Baca juga: Yang Terpendam dalam Lagu "Atouna el Toufoule" Sudah sebulan ini Israel menyerang Jalur Gaza dengan tidak pandang bulu. Ribuan warga sipil Palestina menjadi korban, sejumlah sekolah dan bangunan ibadah turut terdampak. Sebanyak 203 sekolah, 52 masjid, dan tiga gereja rusak akibat serangan udara Israel. Satu dari tiga yang jadi korban adalah gereja ortodoks Yunani Santo Porphyrius. Gereja yang disebut-sebut sebagai gereja tertua di Gaza ini ditargetkan Israel pada 19 Oktober silam. Gereja lain yang juga terdampak adalah Gereja Baptis Gaza dan Gereja Keluarga Kudus Gaza yang halamannya terkena serangan udara pada 1 November 2023. “Saya tak bisa konsentrasi. Saya tak punya energi dan saya tidak bisa tidur sejak serangan ke gereja itu. Saya hanya bisa menyaksikan berita dan berdoa untuk keluarga saya. Istri saya bertanya, ‘ke mana mereka bisa pergi? Ke gereja Katolik?’ Gerejanya penuh (pengungsi). ‘Kembali ke apartemen?’ Tidak akan ada makanan. ‘Mengungsi ke selatan?’ Rasanya itu mustahil,” tukas Pastur Maher. Kerusakan yang dialami GerejaSanto Porphyrius (X @pmofa/jerusalem-patriarchate.info) Saat jet-jet tempur Israel menyerang, ada sekira 500 penduduk Muslim maupun Kristiani yang sedang berlindung di Kompleks Gereja Santo Porphyrius. Serangan udara itu menghancurkan bagian eksterior dan beberapa lorong gereja hingga menewaskan 18 jiwa dan puluhan lainnya luka-luka. Pihak Israel “ ngotot” mereka hanya menyerang sebuah bangunan dekat gereja yang diduga markas komando milisi Hamas. Namun sejumlah petinggi organisasi Nasrani membantahnya dengan mengecam tindakan Israel sebagai kejahatan perang. “Menargetkan gereja dan institusi-institusinya, serta tempat perlindungan untuk para penduduk sipil tak berdosa, terutama anak-anak dan perempuan yang kehilangan tempat tinggal karena serangan udara Israel, merupakan sebuah kejahatan perang yang tak bisa diabaikan,” ungkap pernyataan resmi Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem, dilansir Al Jazeera , 20 Oktober 2023. Baca juga: Gaza dalam Lintasan Sejarah Peninggalan Penyebar Kristen Ortodoks Gereja Santo Porphyrius, ungkap Rania Filfil Almbaid dalam “Gaza: The Missing Tourism Assets” yang termaktub dalam buku The Politics and Power of Tourism in Palestine, hingga ini tercatat sebagai gereja tertua ketiga di dunia yang masih aktif digunakan untuk ibadah umat Kristen Ortodoks Yunani. Kompleks gereja yang bernaung di bawah Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem itu memiliki luas 22,9 x 8,9 meter dan berlokasi di Alun-Alun Zaytun, kota tua Gaza. “Gereja Santo Porphyrius berbentuk persegi panjang, di ujungnya terdapat kubah setengah lingkaran. Akses jalan masuk di sisi selatannya berada 1,8 meter di bawah tanah dan tiga meter di sisi selatan. Gerejanya terdiri dari satu lorong besar yang bercabang menjadi dua dan berbentuk setengah lingkaran. Arsitektur dan konstruksinya sangat mirip dengan bekas Katedral Santo Johannes Baptis (kini Masjid Agung Gaza),” tulis Almbaid. Baca juga: Para Pembangun Yerusalem Sesuai namanya, gereja itu didedikasikan untuk Porphyrius (347-420 Masehi). Ia tokoh yang menyebarkan agama dan menjadi uskup di Gaza sepanjang 395-420 M. “Porphyrius datang ke Gaza dari Salonica, kota tua yang dikelilingi delapan gerbang. Saat itu usianya sudah 45 tahun dan ia mendapat tugas besar. Terlepas dari ia berasal dari keluarga Kristani yang beberapa di antaranya menjadi martir (dalam Persekusi Diocletianic 303 M), ia datang ke tempat yang mayoritas populasinya masih menyembah berhala,” ungkap Janine di Giovanni dalam The Vanishing: Faith, Loss, and the Twilight of Christianity in the Land of the Prophets. Lukisan sosok Santo Porphyrius di Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem ( jerusalem-patriarchate.info ) Dalam menyebarkan agama, Porphyrius tidak sekadar merangkul penduduk Gaza untuk memeluk Kristen tapi juga menghancurkan banyak kuil berhala, serta membangun sejumlah gereja. Untuk membangun gereja, dananya ia dapatkan dari Ratu Eudoxia di Konstantinopel. “Pada Mei 402, dimulailah pembakaran dan penghancuran kuil-kuil dan berhala di Gaza. Porphyrius mengawalinya dengan penghancuran Kuil Marneion yang dibangun Kaisar Hadrian untuk menghormati dewa pertanian, Zeus Marnas. Lalu gereja dibangun di atasnya dinamai dengan mengabadikan Ratu Eudoxia yang dibangun pada tahun 407. Paganisme pun berakhir dan Kekristenan berjaya,” lanjutnya. Uskup Porphyrius wafat pada 26 Februari 420 M. Jasadnya dimakamkan di Gaza. Baca juga: Hagia Sophia dan Keteladanan Sahabat Rasulullah Lima tahun berselang, para pengikutnya membangun gereja kecil yang kemudian menjadi Gereja Santo Porphyrius. Akan tetapi pada tahun 640 gerejanya dihancurkan pasukan Persia. Lalu sepanjang kedatangan Islam, banyak umat Kristen yang memilih pindah dari Gaza. Gereja Porphyrius baru dibangun kembali pada abad ke-12 oleh pasukan Perang Salib. “Kesamaan arsitektur dan pembangunannya mirip dengan gereja Latin lain di Gaza mengindikasikan gereja itu sempat hancur dan dibangun kembali (oleh pasukan Perang Salib) pada sekitar tahun 1150 atau 1160. Pada abad ke-12 itu memang gerejanya didedikasikan untuk Santo Porphyrius tapi di sisi lain sejak saat itu gerejanya juga didedikasikan untuk Bunda Maria,” tulis Denys Pringle dalam The Churches of the Crusader Kingdom of Jerusalem: A Corpus, Volume 1. Gereja Santo Porphyrius sebelum diserang Israel ( jerusalem-patriarchate.info/archons.org ) Pada 1856, gereja itu direnovasi lagi. Selain bentuk arsitektur dari era Perang Salib tetap diplihara, kompleks gerejanya sedikit diperluas. Tetapi sejak Perang Enam Hari pecah pada 1967, Gereja Santo Porphyrius tak luput dari sasaran serangan Israel. “Beberapa kali bangunan gereja rusak oleh pemboman Israel dan sebagaimana diungkapkan anggota komunitas Ortodoks Yunani, banyak di antara artefaknya dijarah tentra Israel pada 1967 dan dipindahkan ke beberapa museum di Yerusalem,” ungkap Sarah Irving dalam Palestine. Pun dalam konflik-konflik yang tak berujung antara Palestina-Israel sejak saat itu, Gereja Santo Porphyrius nyaris tak pernah luput dari serangan Israel. Padahal gereja itu acap jadi tempat berlindung para penduduk yang tak hanya memeluk Kristen Ortodoks tapi juga penduduk Muslim. “Pada serangan Israel ke Gaza di musim panas 2014, gerejanya juga jadi tempat berlindung penduduk dan keluarga yang tempat tinggalnya dihancurkan. Seiring perang yang terjadi pada bulan suci Ramadhan, ibadah Laylat Alqadr (Salat Tarawih) yang jadi malam amalan Nabi Muhammad (SAW) pun didirikan di halaman gereja,” tandas Almbaid. Baca juga: Gereja Kutuk Tentara Belanda

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page