Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- “Saya Terperdaya oleh Henk Sneevliet”
FLAT itu terletak di Comeniusstraat, sebelah utara Amsterdam tak jauh dari stasiun kereta Amsterdam Lelylaan. Sudah lebih dari 30 tahun Elisabeth Fisher–Spanjer menempati flat berlantai dua itu. Dia kini berusia 98 tahun. Tinggal sendirian sepeninggal Frank Fisher, suami keduanya, dan dua anaknya yang terlebih dulu wafat meninggalkannya.
- Dari Dalam Rumah Sang Revolusioner
ELLEN Santen menceritakan kembali sebuah kisah tentang seorang lelaki tak dikenal yang datang pada suatu malam, saat dia baru saja dilahirkan. Lelaki itu membuat Barend Santen, kakeknya, terheran-heran.
- Otak Brass The Rollies
Sedari zaman masih membawakan lagu orang, The Rollies sudah menampilkan diri sebagai band yang punya barisan punggawa alat tiup logam ( brass section ) di dalam band mereka. Terompet, trombone, dan saksofon semua ada. Ketika membawakan “Gone Are the Songs of Yesterday” milik band asal London, Love Affair, lagu itu menjadi kuat karena suara-suara alat tiup logam tadi. Begitu pun dalam lagu “The Love of a Woman” ciptaan Bee Gees yang dinyanyikan Samantha Sang. Dua lagu tersebut dimainkan The Rollies sekitar 1969. Pada era tersebut versi The Rollies tentu lebih dikenal di Indonesia lantaran Samantha Sang dan Love Affair kurang dikenal di Indonesia. Kedua lagu itu direkam di Singapura, zaman The Rollies masih “mengamen” di beberapa klub di Singapura. Setelah era 1970-an, The Rollies mengeluarkan album-album dengan lagu-lagu buatan sendiri. Lagu-lagunya seperti “Cinta Yang Tulus”, “Dansa Yuk Dansa”, “Kerinduan”, dan “Salam Terakhir” amat populer. Nuansa alat tiupnya masih berasa pada album-album itu. The Rollies sebetulnya bukan hanya kelompok musik kebanggaan kota Bandung. Melainkan kebanggaan negeri ini. Apa yang menarik dari The Rollies? Bisa jadi karena The Rollies senantiasa mengedepankan sesuatu yang baru dalam kurun waktu perjalanan musiknya. Pergeseran demi pergeseran warna musik memang acapkali ditapaki The Rollies,” tulis buku Musisiku . Adalah Benny Likumahua (1946-2020) yang membuat The Rollies menjadi brass band sohor di Indonesia. Sebagai orang Ambon, Benny punya bakat musik dan tertarik dengan musik sejak kecil. Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage - Volume 1 , menyebut ketika bocah, Benny belajar main bongo sebelum akhirnya belajar bas. Suatu kali, dia menonton film The Benny Goodman Story , setelahnya dia belajar memainkan klarinet, saksofon, dan trombon. Sebelum bergabung dengan The Rollies pada 1968, Benny sudah biasa memainkan alat tiup logam. Alat tiup logam biasanya hadir dalam musik-musik militer dan sebelum era 1960-an alat musik ini banyak mengiringi musik-musik pop. Antara 1966 hingga 1968, Benny bermain untuk Cressendo sebelum dia diajak masuk The Rollies. Seperti disebut Kompas tanggal 14 Juni 2020, Benny mengajari kawan-kawan band itu bermain terompet, trombone, dan saksofon. Berkat laki-laki Ambon kelahiran Kediri, 18 Juni 1946 ini, Bangun Sugito Tukiman alias Gito Rollies bisa tampil memainkan terompet. Sebelumnya, dia hanya bernyanyi. Begitu juga para personel lain di band The Rollies. Jadi mereka tidak hanya bermain gitar, bass, dan drum saja. The Rollies tak sekadar jadi band pop ala Inggris. Warna soul dan jazz ada dalam lagu-lagu mereka. Benny yang menguasai alat musik bas, drum, flute (seruling), trombone, dan saksofon itu, kata buku Musisiku, telah mempengaruhi wawasan musik The Rollies. Ketika anak-anak The Rollies —yang sudah terkenal dan dapat banyak panggung itu— kena narkoba, Benny –kemudian dikenal sebagai Benny Rollies– bukan hanya tidak teler tapi juga tetap berdisiplin dalam bermusik. Setelah berkontribusi besar untuk The Rollies, Benny angkat kaki dari band yang didirikan Deddy Sutansyah dkk itu. Dia lalu lebih banyak bermain musik jazz dengan para musisi jazz sohor Indonesia macam Jack Lesmana atau Bill Saragih. Bersama Bill Saragih, Benny pernah freelance bermain di klub-klub malam di Bangkok. Pernah pula Benny bermain dalam sebuah trio bernama The Ausigerindo. Nama itu kependekan dari Australia, German (Jerman) dan Indonesia. Band tersebut pernah tampil di Laos, menghibur tentara Amerika Serikat yang bertugas di Vietnam. Bersama Didi Chia, Oelle Pattiselanno, Jack Pattiselanno, dan Perry Pattiselanno, Benny memperkuat Jazz Raiders. Belakangan, Benny diajak anaknya, Barry Likumahuwa, membantunya dalam album religi Barry LikumahuwaAn Urban Christmas . “Berkolaborasi dengan Benny Likumhuwa, salah satu musisi senior Indonesia yang juga ayahnya, Barry mengusung Genre Jazz dalam album Christmas perdananya ini. Kepiawaian Benny dalam memainkan alat tiup, ditambah kehandalan Barry dalam membetot Bass berpadu menjadi sajian harmonis yang lincah dan ‘nakal’. Sajian keluarga Likumahuwa ini adalah kado Natal yang sungguh indah, karya yang dicitakan sejak lama,” tulis Majalah Reformata edisi 159, 31 Januari 2013.
- The Fight for the Truth of the Balibo Five
THE sky was slightly overcast that morning. Shirley Shackleton, aged 80 at that time, lost in thought beside a grave in the Tanah Kusir Cemetery, South Jakarta. Her eyes seemed puffy from crying.
- Nini Towong, Permainan Memanggil Arwah Selain Jelangkung
“APAKAH Anda ingin melihat pemanggilan arwah Ni Tuwong? Saya bisa menunjukkannya kepada Anda di sebuah kampung sore ini,” kata Arafa kepada Nina Consuelo Epton. “Ni Tuwong? Apakah maksud Anda boneka ajaib? Saya pikir itu sudah ketinggalan zaman, tetapi tentu saja saya ingin sekali menontonnya,” jawab Epton. Percakapan itu ditulis Epton dalam salah satu bagian bukunya yang berjudul Magic and Mystics of Java . Buku catatan perjalanannya tersebut berisi berbagai cerita selama melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah di Indonesia, salah satunya Jakarta. Wartawan perempuan asal Inggris itu mengunjungi Indonesia pada 1950-an.Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah menyaksikan secara langsung prosesi pemanggilan arwah menggunakan medium boneka yang dikenal dengan nama Ni Tuwong. “Setelah makan siang, saya dan Arafa pergi ke sebuah kampung di pinggir kota, jaraknya sekitar empat belas mil di sebelah barat Jakarta. Hari itu adalah hari Kamis –atau dalam kalender Jawa, disebut malam Jumat, dan upacara Ni Tuwong, seperti biasa, dilaksanakan di sebuah pemakaman,” tulis Epton. Baca juga: Makhluk Halus dalam Catatan Perjalanan Orang Belanda Di tengah perjalanan, Epton melihat sejumlah perempuan berjalan menuju pemakaman untuk ikut ambil bagian dalam permainan Ni Tuwong. Di area pemakaman, tampak sekelompok wanita tua yang membungkuk di atas batu nisan sedang berbicara serius dengan nada rendah. Mereka tengah mengatur beberapa benda di kaki mereka dengan terburu-buru. Sementara itu, sekelompok wanita yang lebih muda, dengan mata berbinar-binar penuh semangat, duduk bersila di tanah, menunggu para tetua menyelesaikan urusan mereka. Gumpalan asap dupa mengepul dari mangkuk-mangkuk kuningan kecil yang diletakkan di sekeliling batu nisan, yang telah diisi dengan kelopak bunga mawar dan daun pandan yang digunakan sebagai persembahan untuk para dewa dan arwah leluhur. Setelah menyelesaikan urusannya, para wanita tua itu berkerumun di samping objek yang menjadi pusat perhatian mereka. Dua di antaranya menundukkan kepala mereka yang telah putih dan mulai merapalkan mantra-mantra. Di tengah, disandarkan pada batu nisan, terlihat sebuah boneka yang nantinya akan digerakkan oleh roh yang disebut Ni Tuwong. “Boneka ini tampak aneh seperti patung Guy Fawkes, dengan kepala batok kelapa yang di atasnya terdapat mata putih besar yang digambar dengan kapur, sedangkan sapu bambu digunakan sebagai lengan, dan rangka bambu berfungsi sebagai badan. Boneka itu tampak dibungkus dengan sarung yang khusus ‘dicuri’ untuk acara tersebut,” ungkap Epton. Baca juga: Penulis Belanda Berkisah Tentang Nyi Blorong Pembakaran dupa dan perapalan mantra-mantra telah dilakukan sejak beberapa jam sebelumnya. Setelah dirasa cukup, para wanita tua yang memimpin upacara memutuskan bahwa boneka tersebut sudah cukup lama berada di pemakaman sehingga roh Ni Tuwong telah masuk ke dalamnya. Selanjutnya boneka itu dibawa kembali ke kampung dengan diiringi oleh sejumlah wanita yang terlihat memegang cermin serta mangkuk-mangkuk berisi dupa sembari merapalkan mantra. Setibanya di lokasi yang telah ditentukan, boneka itu diletakkan di batang pohon kelapa, sementara sejumlah gadis menata kembali mangkuk-mangkuk dupa di sekeliling pohon. Semua obrolan terhenti ketika salah satu perempuan tua memegang cermin di depan boneka roh tersebut. Wanita tua itu bergumam pada boneka dengan penuh kasih sayang dan tak lama kemudian kepala boneka bergerak dengan sangat jelas. “Ia berpaling perlahan dari cermin dan menatap gadis-gadis muda yang berkumpul di depannya. Lengan sapu mulai bergerak-gerak tanpa ada siapa pun di balik pohon itu yang dapat ditunjuk sebagai penyebab gerakan tersebut,” tulis Epton. Wanita tua itu menurunkan cermin dan bergumam kepada gadis-gadis di belakangnya. Mereka saling menyenggol dan mulai berbisik hingga akhirnya salah satu di antara mereka mengajukan pertanyaan kepada boneka itu. Perlahan-lahan Ni Tuwong menoleh dari satu sisi ke sisi lainnya. “Dia bilang tidak –kamu tidak akan menikah tahun ini,” tafsir sang nenek. Baca juga: Asal Usul Valak, Setan dari Masa Kegelapan Semua mata tertuju pada boneka yang tampak mengerikan itu, yang menggelengkan kepalanya ke atas dan ke bawah. “Bagus, ibunya akan sembuh dari penyakitnya,” komentar seorang gadis yang ikut menonton peristiwa itu. Pertanyaan-pertanyaan datang silih berganti dan boneka itu memutar kepalanya serta menggerakkan tangannya semakin cepat. Tiba-tiba Arafa membungkuk dan mengajukan sebuah pertanyaan. “Ni Tuwong,” katanya, “Ni Tuwong, apakah ada teman baru (orang asing, red. ) yang menyaksikan prosesi ini?” Keheningan terasa begitu kuat saat boneka itu memiringkan kepalanya ke satu sisi. Epton semakin takjub ketika beberapa saat kemudian boneka itu membungkuk ke depan dan mengarahkan salah satu lengannya ke arah dirinya. Ni Tuwong yang mencondongkan tubuhnya ke depan secara tiba-tiba kemudian terjatuh dengan menghadap ke bawah dan tangan terentang. “Dia telah meninggalkan kita –semuanya sudah berakhir,” kata salah seorang gadis. Kerumunan orang mulai berdiri dan menjauh meninggalkan lokasi ritual tersebut. Boneka yang kembali diam tak bergerak itu dibiarkan tergeletak di kaki pohon seperti mainan yang terlupakan. Bagi sebagian orang di masa kini, Ni Tuwong atau dikenal juga dengan Nini Towong mungkin dianggap sebagai sebuah permainan yang asing. Namun, di masa lalu permainan ini cukup marak dilakukan oleh penduduk di berbagai wilayah, khususnya di Jawa. Baca juga: Janda Terkaya dan Makhluk Tak Kasat Mata Menurut Margaret Chan dalam “The The Sinophone Roots of Javanese Nini Towong”, yang termuat di Asian Ethnology, Vol. 76, No. 1, 2017, Nini Towong merupakan sebuah boneka yang digerakkan oleh roh leluhur. Boneka ini umumnya dibuat dan dihias layaknya seorang wanita, hal itu berkaitan dengan nama boneka tersebut yang terdiri dari kata Nini dan Towong. “Nini” berarti nenek, tetapi juga merupakan panggilan sayang untuk menyebut anak perempuan. Sementara “Towong” merujuk pada pucatnya wajah boneka, yang terbuat dari tempurung kelapa, biasanya diwarnai putih dengan kapur dan digambar dengan warna hitam pekat. Meski begitu ada pula yang memandang bahwa kata “Towong” berasal dari kata wong , yang dalam bahasa Jawa berarti orang.Dengan demikian, Nini Towong dapat diartikan sebagai boneka yang dapat bergerak seperti manusia. Di sejumlah tempat, Nini Towong ditampilkan sebagai ritual pemanggil hujan atau sebagai permainan ramal-meramal.Boneka ini diminta meramalkan hasil panen yang akan datang, menyebutkan nama jodoh di masa depan, maupun menunjukkan di mana tanaman obat atau barang yang hilang dapat ditemukan. Baca juga: Jodoh Dono Ditunjukkan Jailangkung Indolog W.H. Rassers menyebut bahwa “ dolanan Nini Towong” merupakan permainan khusus anak perempuan dan dengan demikian anak laki-laki tidak diperbolehkan ikut serta. “Nini Towong ‘dibuat’ hanya pada salah satu hari ketika ada bulan (antara tanggal 10 dan 15), dan sebaiknya pada malem Jumungah atau lebih baik lagi pada malemAnggara-Kasih (= Selasa-Kliwon ). Hanya wanita tua, khususnya prawan tuwa yang boleh atau bisa ‘ anggawe Nini Towong’,” tulis Rassers dalam Panji, The Culture Hero: A Structural Study of Religion in Java. Proses pembuatan boneka Nini Towong dilakukan pada pagi hari dan diupayakan selesai sebelum matahari terbenam.Saat matahari mulai tenggelam boneka itu dibawa ke tempat suci, seperti tempat yang dikeramatkan, sumur yang telah mengering, pohon tua, dan pemakaman, untuk ritual pemanggilan arwah. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Nini Towong di antaranya sebuah siwur atau gayur yang sudah usang yang melambangkan kepala, jala ( wuwu atau ichir ) atau terkadang kukusan atau penanak nasi untuk melambangkan tubuh, dan beberapa batang padi atau sapu yang digunakan sebagai tangan. Kepala boneka itu dihias dengan kapur, bubuk beras, dan jelagaagar terlihat seperti manusia. Tubuh boneka juga didandani dan dihias seperti biasa dilakukan untuk pengantin wanita. Setelah itu boneka diletakkan di atas anyaman bambu dengan diikat kuat sehingga dapat diangkat dan dibawa. Baca juga: Jadi Tentara karena Jailangkung Rassers menyebut bahan-bahan untuk membuat boneka Nini Towong biasanya didapatkan dengan cara mencuri. “Karena para gadis berpikir bahwa hanya dengan cara demikian ‘ dolanan Nini Towong’ mereka dapat berhasil. Dan mereka sangat senang ketika mereka tertangkap basah melakukan pencurian dan dimarahi oleh korbannya: maka semuanya akan berjalan dengan baik,” sebutnya. Mengenai asal-asul permainan ini, Rassers mencatat bahwa Nini Towong merupakan nama seorang tokoh pelayan wanita yang namanya disebut sepintas dalam dua lakon wayang kulit Pandupapa dan Sudamala . Dalam lakon yang terakhir, ia menikah dengan Semar sehingga indolog Belanda itu mengusulkan Nini Towong sebagai nenek moyang perempuan orang Jawa. Namun, ada pula yang menganggap bahwa permainan ini merupakan “sebuah ritual keagamaan yang diperkirakan berasal dari masa ketika paganisme masih berkuasa di Jawa”. Sementara itu, Margaret Chan beranggapan bahwa Nini Towong merupakan sebuah evolusi budaya dari boneka ramalan yang dimasuki arwah Zigu, selir Tiongkok yang dijadikan dewi toilet, yang telah masuk ke Indonesia lebih awal dari permainan jelangkung yang diperkenalkan oleh para imigran Tionghoa pada abad ke-19 ke pusat-pusat kota di Indonesia. “Kemiripan yang mencolok antara boneka ramalan yang dimasuki arwah Zigu dan permainan Nini Towong terlihat dari mediumnya serta waktu untuk melaksanakan permainan tersebut, di mana waktu favorit untuk memainkan keduanya sama-sama pada malam bulan purnama,” tulis Chan.*
- Orang Jawa Hilang dalam Perang Dunia II
Empat puluh dua menit sudah lewat dari permulaan 29 November 1942 ketika kapal AL Australia HMAS Armidale mulai meninggalkan pelabuhan Darwin, Australia Utara. Bersama HMAS Castlemaine , HMASArmidale berlayar menuju Kepulauan Timor di kegelapan itu. “Pada 24 November, Markas Besar Angkatan Darat Sekutu menyetujui evakuasi dan bantuan kepada Kompi Independen 2/2 Australia yang beroperasi sebagai kekuatan gerilya di Timor yang diduduki Jepang, dan menderita malaria dan disentri kronis. Operasi tersebut juga mencakup penarikan pengungsi sipil Portugis dan 176 tentara Hindia Belanda dari Teluk Betano di pantai selatan Timor. Kapal HMA Armidale , Castlemaine (juga korvet) dan Kuru ditugaskan untuk operasi pasokan dan evakuasi,” tulis Lindsey Shaw dalam “The Sinking of HMAS Armidale”, termuat di www.sea.museum . Pelayaran itu berjalan aman di hari pertama. Namun sekitar pukul 09.15 pagi 30 November, kedua kapal korvet itu mendapat serangan udara dari sebuah pesawat tempur Jepang sekitar 120 mil dari Pulau Timor. Akhirnya diputuskan bahwa misi pendaratan harus dilakukan di Timor. Namun, HMASArmidale tak bisa diselamatkan lagi pada 1 Desember 1942. Pasukan di dalam kapal itu pun tercerai-berai. Waktu itu, HMAS Armidale mengangkut tiga personel Angkatan Darat Australia, dua perwira militer Belanda, dan 61 tentara Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands-Indische Leger/KNIL). Mereka hendak didaratkan ke Betano, Timor. Mereka bagian dari misi awal Z Force. Akibat serangan itu, setidaknya 65 personel militer Belanda dianggap hilang. Termasuk 61 serdadu KNIL tadi. Sebanyak 44 serdadu KNIL itu adalah orang-orang Jawa. Sisanya serdadu asal Ambon, Manado, dan juga Timor. Ribuan serdadu KNIL dari Jawa tiba di Australia setelah Maret 1942. Saat itu Jawa sudah diduduki Jepang. Sebelum pendudukan Jepang itupun sudah banyak pegawai sipil Hindia Belanda dengan disertai serdadu KNIL yang mengungsi ke Australia, sekutu Belanda dalam Perang Dunia II. Dari 44 serdadu Jawa itu, terdapat Sersan Soewondo, Sersan Soepardi, Kopral Soebardi, Kopral Asrah, Kopral Ranamedja, Spandrig (Prajurit Infanteri Kelas Satu) Wongsodinomo, dan Spandrig Mohamad Sajoeti. Misi akhir bersama HMAS Armidale itu bukan misi pertama bagi Mohamad Sajoeti, Wongsodinomo, dan Ranamedja. Ketiganya adalah bekas anak buah Letnan Dua KNIL Julius Tahija. “Di antara yang gugur adalah anak buah saya yang selamat dari Saumlaki,” aku Julius Tahija dalam Melintas Cakrawala . Misi ke Saumlaki adalah misi penyusupan terhadap daerah pendudukan Jepang. Ketika berangkat dari Australia ke Saumlaki, Tahija punya 13 anak buah dari berbagai suku bangsa. Di Saumlaki, anak buahnya bertambah lagi dengan masuknya 26 polisi di sana. Pasukan itu sempat baku tembak dengan tentara Jepang tapi kalah segalanya hingga akhirnya memutuskan kembali ke Australia menggunakan kapal tradisional orang Bugis. Setibanya di Australia, mereka dianggap sebagai pahlawan perang oleh pihak Sekutu. Dari 13 anak buah Tahija, hanya enam orang saja yang berhasil kembali ke Australia. Tiga di antaranya yakni Moh. Sajoeti, Wongsodinomo, dan Ranamedja. Ranamedja, menurut arsip pribadinya, adalah anggota KNIL kelahiran Banyumas tahun 1909. Sementara, Wongsodinomo dan Mohamad Sajoeti kelahiran Yogyakarta tahun 1907. Koran The Argus terbitan Melbourne edisi Rabu, 28 Oktober 1942 menyebut Ranamedja, Wongsodinomo, Mohamad Sajoeti, Powikromo, dan Pamjas adalah lima prajurit KNIL Jawa yang mendapatkan Bronzen Kruis (Salib Perak) dari Kerajaan Belanda. Begitupun para anggota misi yang gugur. Di antara yang hidup itu kemudian ditarik ke dalam misi berbahaya bernama Z Force.
- Tewasnya Bir Ali
SENIN (14/6/1965) malam jelang pergantian hari ke tanggal 15 Juni, empat anggota reserse ditemani anggota CPM mendatangi sebuah rumah di Kampung Kawi-kawi Sawah, Jakarta. Berbekal informasi yang dimiliki, mereka hendak menyergap seorang narapidana yang amat meresahkan dan sudah dijadikan target.
- The Eid al-Adha Assassination Attempt on Sukarno
THE Eid al-Adha prayer in the courtyard of the Merdeka Palace in Jakarta on May 14, 1962, was almost finished when an armed man suddenly stood up and shouted takbir. Seconds later, bullets were fired. Three explosive shots were released toward the front row of the prayer congregation. Police Commissioner Mangil Martowidjojo, commander of President Sukarno's Presidential Guard Detachment (DKP), and his deputy Sudiyo, quickly protected Sukarno.
- Berebut Lahan di Kota Pahlawan
TAK terima oleh ulah pemilik tanah partikelir, Prawirodihardjo dan Sadikin alias Pak Siti mengajak penduduk setempat untuk melawan. Caranya: tak membayar sewa tanah, mengabaikan kerja wajib, melakukan pendudukan lahan, dan tak menyetorkan sebagian hasil panen mereka. Mereka beralasan gerakan protes ini bertujuan mengembalikan hak-hak mereka yang direnggut si kaya dengan dukungan pemerintah. Mereka juga mengklaim telah menempati lahan itu turun-temurun.
- Pakai Legging Jadi Matching
SUSI begitu ceria siang itu. Mengenakan pakaian ketat polos, dengan aksesoris di leher dan pergelangan tangan, dia terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Bak lady rocker, dia kemudian bernyanyi sembari bergoyang mengikuti irama. Sesekali goyangannya berubah erotis. Tingkah polahnya genit. Tak peduli banyak pasang mata memandanginya.
- Bintang Terang dari Radio
DUA penyanyi perempuan dan satu grup vokal masuk ke panggung. Cahaya lampu warna-warni menyorot mereka. Dengan busana rancangan desainer terkemuka, mereka melangkah diiringi musik. Satu adegan yang dibuat seelegan mungkin.





















