top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Petualangan Nawawi

    Pendudukan Jepang memungkinkan seorang bumiputra mengambil langkah lebih leluasa untuk kehidupannya di masa itu dan masa depan. Hal yang tak bisa dilakukan setiap orang di masa kolonial Belanda itulah yang dialami pelajar di Bengkulu bernama Nawawi Manaf. Dia aktif dalam kegiatan paramiliter yang banyak diadakan penguasa pendudukan seiring kemunduran dalam Perang Asia Timur Raya alias Perang Pasifik.  Menurut Mestika Zed dalam Giyugun: Cikal Bakal Tentara Nasional di Sumatra , nama Nawawi termasuk dalam daftar yang direkrut menjadi calon perwira tentara sukarela ( gyugun ) dari Keresidenan Bengkulu. Para calon perwira dari Sumatra bagian selatan itu dilatih di Pagaralam. Dari 300 siswa calon perwira itu, 55 orang berhasil menjadi letnan dua atau letnan muda. Para lulusan itu kemudian kembali ke keresidenan masing-masing. Baca juga:  Kesaksian Seorang Heiho di Balikpapan Waktu Jepang kalah, para bekas siswa Pagaralam itu bergabung dengan Republik Indonesia (RI). Nawawi termasuk yang menjadi tentara RI ketika melawan tentara Belanda di sekitar Bengkulu. Selama revolusi kemerdekaan (1945-1949) itu, Nawawi berpangkat kapten. Di era 1950-an, pangkat Nawawi naik menjadi mayor. Jabatannya adalah komandan Komando MIliter Kota Besar (KMKB) Palembang. Dia dianggap dekat dengan Panglima Tentara & Teritorium III Sriwijaya Letnan Kolonel Barlian. Mereka sama-sama pernah sekolah di Bengkulu. Jelang 29 April 1958, Nawawi sangat sibuk di luar kantornya. Kata MadjalahAngkatan Darat Nomor 12 tanggal 1 Januari 1959, Mayor Nawawi mengurus soal dagang, front anti komunis dan mengurus bantuan untuk Dewan Banteng di Sumatra Barat. Sewaktu eks Kolonel Zulkifli Lubis berada di Palembang sekitar Januari 1958, Mayor Nawawi pula yang memberi pondokan kepada Lubis. Dewan Banteng yang dimaksud adalah organisasi daerah yang dibentuk panglima militer Sumatra Tengah Letkol A. Huseun –dan didukung politisi-politisi lokal daerah setempat– untuk membangun dan mensejahterakan daerahnya sekaligus mengoreksi pemerintah pusat yang dianggap tak adil dalam pembangunan. Dewan Banteng menginspirasi beberapa daerah lain di Sumatra membentuk dewan serupa. Satu di antaranya ialah Sumatra Selatan dengan Dewan Garuda. Baca juga:  Daerah Bergolak, Panglima Bergerak “Perkembangan di Sumatra Selatan berawal dari Kongres Adat yang diselenggarakan di Palembang pada bulan Oktober 1956,” tulis RZ Leirissa dalam PRRI-Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis . Kongres Adat se-Sumatra Selatan itu pun mengajukan tuntutan kepada pemerintah pusat yang hampir sama dengan tuntutan Dewan Banteng. Antara lain pemberian otonomi luas kepada daerah di samping pembagian keuangan yang adil antara pusat-daerah. “Situasi konflik meningkat setelah kejadian-kejadian di Padang maupun di Medan. Menyusul tindakan Simbolon di Medan pada 22 Desember, pada 24 Desember, Letnan Kolonel Barlian Panglima TT-II (Sriwijaya), juga menyatakan memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat. Akibatnya, pada 27 Desember, Gubernur Winarno pun mengajukan permohonan berhenti pada Menteri Dalam Negeri,” sambung Leirissa.   Baca juga:  Posisi Barlian dalam PRRI Kisruh di Sumatra Selatan itu akhirnya melahirkan kembali kongres adat pada 15-17 Januari 1957. Hasilnya adalah keluarnya Piagam Perjuangan Sumatra Selatan dan Dewan Garuda yang mirip dengan yang dihasilkan Dewan Banteng. Namun, gerak-laju Dewan Garuda tak seperti Dewan Banteng yang satu suara. Anggota-anggota Dewan Garuda terdiri dari dua faksi yang berbeda pandangan. Faksi pertama, terdiri dari Letkol Barlian beberapa pejabat TT-II seperti Mayor Ryacudu, tetap berhubungan baik dengan MBAD dan pusat; faksi kedua, terdiri dari Mayor Nawawi dan eks Kolonel Nuh serta para kepala adat, karib dengan Dewan Banteng dan cenderung anti-pusat.    “Tampaknya sudah sejak awal ada kertakan dalam tubuh Dewan Garuda. Secara politis, wilayah ini sesungguhnya dikuasai PNI. Selain itu, potensi masyarakat yang dominan adlaah para pegawai negeri. Di pihak lain, ada kepala-kepala adat yang juga menjadi kepala-kepala marga. Demikian kuatnya organisasi primordial itu, kaum kepala adat inilah yang mensponsori langkah-langkah ke arah perubahan seperti yang tampak dalam Kongres Adat Sumatra Selatan tersebut,” tulis Leirissa. Lantaran adanya ketidaksatusuaraan itu, Mayor Nawawi pun bergerak sendiri meninggalkan Letkol Barlian panglimanya. Nawawi “memalingkan wajahnya” ke Letkol. A. Huseun di Dewan Banteng.   Baca juga:  Sukarno dan Trauma PRRI Pada hari-hari itu, Mayor Nawawi bersiap untuk bergerak bersama Dewan Banteng di Sumatra Tengah, yang meliputi Sumatra Barat, Jambi, dan Riau sekarang. Di daerah Dewan Banteng itu, Letnan Kolonel Ahmad Husein sudah bersiap. Dewan Banteng dan sekutunya lalu melahirkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). “Saya waktu itu diperintahkan oleh Nawawi berangkat bersama dia. Saya mengambil pakaian dan ketika ketika saya datang di rumah Nawawi saya lihat kesibukan anak-anak buahnya mengangkat senjata dari gudang ke mobil,” aku Letnan Dua Rasjidin, anak buah Nawawi, seperti dimuat Madjalah Angkatan Darat tadi. Mereka yang berangkat ke daerah gerakan pada 29 April 1958 adalah Mayor Nawawi, Letnan Rasjidin dan lima pengawal pribadi Nawawi. Hutan di sekitar Bengkulu termasuk rute mereka. Dalam perjalanan dari Derati ke Ujungkarang, rombongan Mayor Nawawi merekrut para pemuda untuk dijadikan pasukan. Menurut Madjalah Angkatan Darat , Mayor Nawawi memberi uang Rp.300 bagi siapa saja yang mau menjadi pasukannya. Sementara, Rasjidin mengaku ingin minta pulang. Tapi itu urung dilakukannya sebab Nawawi mengancam jika kembali ke Palembang, anak buah Nawawi akan menggoroknya. “Tanggal 15 Mei 1958 saya diperintahkan Nawawi berangkat ke Sumatra Tengah bersama dua orang kawan lagi guna mengantar surat kepada Perdana Menteri PRRI Sjafrudin Prawiranegara. Kami mempergunakan jeep melalui hutan belukar menuju Sungai Penuh,” aku Rasjidin. Surat itu berisikan permintaan Mayor Nawawi kepada petinggi PRRI untuk memberinya senjata untuk 1 batalyon. Tapi bantuan senjata dari PRRI pusat, yang merupakan bantuan dari CIA Amerika, itu tak pernah datang. Baca juga:  CIA Kecewa pada PRRI Nawawi sendiri kemudian terlibat skandal. Kisah miring tentangnya disebar Madjalah Angkatan Darat , yang menyebut Mayor Nawawi ketika berada di Sungai Penuh, Jambi, terlibat affair dengan seorang gadis bernama Halimah. Gadis terpelajar itu sering diajak Nawawi main badminton. Konon ada tindak asusila yang dilakukan sang mayor. Anak buah Nawawi juga diberitakan sering makan tanpa bayar hingga utang mereka menumpuk di warung. Sahabat Nawawi, Zakaria Kamidan, disebut-sebut suka menzinahi perempuan yang bahkan sedang bersuami. Alhasil reputasi pasukan pemberontak dari Sumatra bagian selatan ini pun rusak di Sungai Penuh. Pasukan Nawawi kemudian bergerak ke Bangko dan Merangin. Ketika berada di daerah Jambi itu, sebagian pasukan Nawawi memisahkan diri. Mereka kemudian berdamai dengan tentara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), yang kemudian menampung mereka dalam batalyon B. Pengikut Nawawi pun tinggal 3 peleton pemuda non-tentara dari Rejanglebong. Mayor Nawawi lalu bergerilya di hutan-hutan dan baru sekitar 1961 berhenti melawan pemerintah.

  • Drama Sebabak Lelaki Stambul

    “WAJAHNYA seperti serigala, sorot matanya tajam,” kata pengamat militer Salim Said yang sempat mewawancarai Westerling untuk majalah Ekspress pada Juni 1970. Setelah berhari-hari mencari kontak Westerling, akhirnya Salim berhasil mendapatkan nomor telepon rumah mantan kapten pasukan komando Belanda yang kontroversial itu.

  • Sengkarut Dongeng Putri Salju

    GADIS anggun si Putri Salju terbaring di peti kaca. Kecantikannya tak memudar meski dalam keadaan kaku gegara menggigit sebutir apel beracunnya Ratu Jahat. Tujuh kurcaci di sekelilingnya tenggelam dalam isak tangis sampai akhirnya datang seorang pangeran yang mampu membangunkan si Putri Salju berbekal ciuman. Begitulah kisah yang melekat dalam memori para penggemar dongeng Putri Salju di kolong langit sejak lama, yang berasal dari film animasi Disney Snow White and the Seven Dwarfs (1937). Namun memori itu bisa berubah 180 derajat karena Disney punya pendekatan yang terbilang radikal lewat produksi film musikal barunya, Snow White. Film besutan sineas Marc Webb itu direncanakan rilis pada Maret 2024. Imej akan sosok Putri Salju yang polos sejatinya sudah pernah “dimodifikasi” menjadi sosok yang maskulin dan terampil bertarung. Tepatnya dalam dua produksi keluaran Universal Pictures, Snow White and the Huntsman (2012) dan sekuelnya, The Huntsman: Winter’s War (2016) . Tapikeduanya tak mendapat sambutan positif di khalayak maupun para kritikus. Baca juga: Bersahabat dan Bertualang dengan Landak Super Kini untuk versi Disney 2024 garapan Webb itu, Putri Saljunya yang diperankan aktris blasteran Kolombia-Polandia, Rachel Zegler, imejnya cenderung feminis. Dalam beberapa pernyataannya perihal komparasi dengan versi animasi 1937, Zegler tak hanya bangga memerankan Putri Salju pertama yang berkulit cokelat tapi juga mengolok-olok karakter versi 1937 dan itu yang memicu kegegeran di publik dan penggemar Snow White klasik. “Kartun aslinya tayang di 1937, dan terbukti sangat…terdapat fokus yang besar pada kisah cintanya dengan seorang cowok yang sebenarnya stalker . Aneh! Aneh! Jadi kami tak melakukannya kali ini,” kata Zegler dikutip The Independent , 15 Agustus 2023. Animasi Snow White and the Seven Dwarfs  produksi 1937 (Disney/IMDb) Zegler juga sesumbar bahwa Putri Salju versi baru ini akan lebih independen alias sama sekali tak butuh lelaki untuk membuatnya bahagia. Putri Salju juga ingin pemimpin karena karakter kepemimpinan tak pernah ditonjolkan dalam berbagai adaptasi Putri Salju yang lain. “Kami betul-betul menulis sosok Putri Salju yang…dia tidak akan diselamatkan oleh pangeran dan dia tidak akan bermimpi tentang cinta sejati; dia akan bermimpi jadi pemimpin yang dia sadar bahwa dia mampu sebagaimana nasihat ayahnya dan dia akan jadi sosok yang tak kenal takut, berani, adil, dan jujur,” imbuhnya. Baca juga: Tiga Wajah Willy Wonka Namun soal ingin mewujudkan emansipasi sebagai sosok pemimpin, mungkin ia alpa bahwa dalam versi 1937 pun karakter Ratu Jahat sudah jadi pemimpin sebuah kerajaan dengan kekuasaan absolut. Sementara perkara mimpi akan cinta sejati yang dianggapnya sudah usang juga kemudian direspon netizen dan menuding sang aktris sebagai sosok pseudo feminist. “Jatuh cinta, menikah, jadi ibu rumah tangga, menjadi sosok lembut bukanlah anti-feminis. Tak satupun dari hal itu membuat nilai Anda berkurang sebagai perempuan,” ungkap netizen di akun TikTok @CosyWithAngie yang posting- annya itu punya 10 juta view. Bahkan, David Hand yang ayahnya merupakan asisten sutradara film versi 1937, ikut angkat suara. Kepada The Telegraph , 18 Agustus 2023 ia mengatakan, “ remake ini penghinaan dan mungkin ayah saya dan bahkan Walt Disney bisa bangkit dari kuburnya.” Pihak Disney sendiri masih bungkam. Yang belakangan terjadi, sebagaimana dikutip Dexerto , Selasa (5/9/2023), Disney malah menarik film animasi versi 1937 itu dari berbagai platform OTT (over-the-top) seperti Disney Plus , Netflix , dan HBO Max . Alasannya versi 1937 itu akan lebih dulu direstorasi 4K sebelum dirilis kembali di layanan-layanan streaming itu pada Oktober 2023. Rachel Anne Zegler yang akan memerankan Putri Salju dalam film Snow White  yang rilis 2024 (Splash News) Mula Putri Salju Dari beragam rupa versi animasi maupun film layar lebar, dongeng tentang Putri Salju senantiasa berhulu dari satu sumber yang diadaptasi. Kisahnya berasal dari salah satu kumpulan dongeng Kinder-un Hausmärchen (terj. Children’s and Household Tales) atau lebih dikenal dengan Grimm’s Fairy Tales edisi pertama tahun 1812 karya sastrawan Jerman bersaudara, Jacob dan Wilhelm Grimm. Kumpulan dongeng edisi pertama itu berisi 86 cerita fantasi. Selain kisah Putri Salju juga ada kisah kondang lainnya seperti Hansel dan Gretel, serta Rapunzel. Menariknya dalam cerita Putri Salju yang di edisi aslinya bernama Sneewittchen (terj. Snow White), ending kisahnya sama sekali berbeda dengan yang diadaptasi Disney pada versi 1937. Menilik plot orisinil Grimm Bersaudara, si Putri Salju yang mengalami koma usai memakan apel beracun Ratu Jahat tidaklah siuman karena dicium sang pangeran. Kisah demikian, di mana seorang gadis jelita yang akhirnya sadarkan diri usai dicium seorang pangeran, adalah kisah asli Putri Tidur alias La belle au bois dormant (terj. Sleeping Beauty) yang terdapat dalam sebuah roman Prancis pada 1340, Perceforest . “Sang pangeran diperbolehkan oleh tujuh kurcaci untuk membawa Putri Salju di peti kacanya ke istana ayahnya. Tapi saat Putri Salju dipindahkan, salah satu pelayannya pangeran tersandung dan jatuh. Hal itu menyebabkan potongan apel beracun yang tersangkut di kerongkongan Putri Salju keluar, secara ajaib membangunkannya,” ungkap pakar sastra Jerman, Prof. Jack Zipes dalam The Original Folk and Fairy Tales of the Brother’s Grimm. Baca juga: Petualangan Gereget Pria Berusia 100 Tahun Terlepas dari itu, edisi pertama yang dirilis Grimm Bersaudara –meski bertajuk untuk anak-anak– sejatinya lebih suram dari yang tergambar saat ini. Di antaranya terdapat plot yang menggambarkan seksualitas dalam cerita Rapunzel, atau perubahan tokoh antagonis dari ibu kandung menjadi Ratu Jahat si ibu tiri dalam kisah Putri Salju. Pada akhirnya kedua versi merevisi edisinya pada 1854 agar lebih ramah anak. “Dalam edisi pertamanya tokoh jahat yang cemburu saat bertanya kepada kaca ajaib: siapa yang paling cantik di dunia, adalah ibu kandung Putri Salju. Di versi berikutnya diubah tokoh jahatnya adalah ibu tiri (Ratu Jahat, red. ) untuk menyesuaikan ceritanya kepada anak-anak,” tulis Maria Tatar dalam The Hard Facts of the Grimms’ Fairy Tales. Grimm Bersaudara (kiri) dan karyanya  Kinder-un Hausmärchen (Hermann Biow/Toronto Public Library) Kendati begitu, Grimm Bersaudara juga tidak 100 persen orisinil melahirkan tokoh-tokoh maupun beberapa bagian plot cerita dalam kumpulan dongengnya, melainkan mengadaptasi. Maka cerita-ceritanya mirip dengan dongeng-dongeng terdahulu baik di Jerman sendiri, beberapa negera di Eropa, atau bahkan sampai ke negeri Melayu. Cerita dongeng lain yang juga mirip dengan kisah Putri Salju antara lain kisah Richilde dalam kumpulan dongeng Volksmärchen der Deutschen (1782) karya Johann Karl August Musäus di Jerman. Atau kisah Marquise Giovanna Gianna Zazzera dalam kumpulan dongeng Il Pentamerone (1643) karya penyair Italia Giambattista Basile, hingga kisah Bidasari dalam manuskrip hikayat Melayu dari tahun 1807, Syair Bidasari . “Tidak diketahui dari daerah mana tepatnya Syair Bidasari berasal tapi kisah ini begitu populer di abad ke-18 dan 19 di Asia Tenggara mulai dari Minangkabau (kini Sumatera Barat, Indonesia) hingga Kepulauan Mindanao (Filipina),” ungkap Julian Millie dalam Bidasari: Jewel of Malay Muslim Culture. Baca juga: Sri Asih , Adisatria Pertama Indonesia dalam Komik dan Film Kumpulan puisi dalam hikayat itu mengisahkan kehidupan Bidasari, seorang anak raja dari negeri Nousa Antara yang terbuang dan dirawat pasutri rakyat jelata. Ia tumbuh jadi gadis cantik setelah jiwanya dibagi ke dalam seekor ikan. Tetapi Ratu Lila Sari, istri Raja Djouhan Mengindra dari Kesultanan Indrapura cemburu dengan kecantikannya. Ratu Lila Sari pun menyekap Bidasari dan insyaf bahwa ia dulunya anak raja yang jiwanya dibagi ke dalam tubuh seekor ikan. Ilustrasi Schneewittchen alias Putri Salju dan Tujuh Kurcaci karya Otto-Kubel ( childstories.org ) Ikannya pun diburu dan ditangkap sang ratu. Ketika ikannya mati dan bangkainya dikalungi, tetiba Bidasari mengalami koma. Raja Djouhan yang akhirnya mengetahui cerita itu, merampas kalung ikan di leher Ratu Lila Sari dan seketika itu juga siuman. Sang raja yang terpesona kecantikannya, akhirnya memilih menikahi Bidasari dan sang ratu memilih melarikan diri. Sekilas tentu terdengar mirip tapi terlepas dari itu semua, dongeng-dongeng Grimm Bersaudara , tak hanya melekat di memori banyak orang tapi juga diakui dunia. Pada 2015 Kinder-un Hausmärchen masuk dalam daftar Memory of the World (MoW) atau Memori Dunia yang diakui UNESCO atau Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan. “Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara masih beresonansi dengan kita di hari ini karena mereka mengindikasikan betapa kita sebenarnya bisa mengubah diri sendiri dan kondisi-kondisi di sekeliling kita demi kehidupan yang lebih baik. Sebagai filolog, kolektor, penerjemah, peneliti, editor, dan mediator, Grimm Bersaudara berkarya dengan harapan dongeng-dongeng mereka bisa bermanfaat dalam banyak cara dan tentu saja, harapan ini masih bisa terasa ketika kita membaca dan mendengarkan dongeng-dongeng mereka,” tulis Zipes dalam kolomnya, “How the Grimm Brothers Saved the Fairy Tale” di kolom majalah Humanities edisi Maret/April 2015. Baca juga: Kritik Adat dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck

  • Tak Ada Rumah Memanggil Pulang

    SEBUAH perahu tak bermesin terombang-ambing di perairan Aceh akhir Februari 2013. Menyangka perahu itu kosong, Jamaludin, seorang nelayan, menghampiri. Sontak dia kaget ketika menjumpai ratusan orang Rohingya, tua-muda, lelaki-perempuan, berada di dalam perahu. Bersama teman-temannya, dia menarik perahu itu ke Kuala Idi.

  • Gonta-ganti Partai, Soebandrio Mentok jadi Menteri

    Calon presiden Anies Baswedan resmi mendeklarasikan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai calon wakil presiden yang akan mendampinginya dalam pemilu 2024 mendatang. Keputusan ini mengejutkan partai-partai penyokong dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan. Terlebih bagi Partai Demokrat, yang menggadang-gadang ketua umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai wakil presiden pendamping Anies. Pecah kongsi dalam tubuh koalisi pun terjadi. Partai Demokrat menyatakan keluar dari koalisi. Anies disebut-sebut telah mengkhianati piagam. “Rentetan peristiwa yang terjadi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat perubahan; pengkhianatan terhadap Piagam Koalisi yang telah disepakati oleh ketiga Parpol; juga pengkhianatan terhadap apa yang telah disampaikan sendiri oleh Capres Anies Baswedan, yang telah diberikan mandat untuk memimpin Koalisi Perubahan,” kata Sekjen Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya dalam siaran persnya (31/8). Jika politik itu dinamis dan yang abadi hanyalah kepentingan, maka istilah khianat bisa jadi bias. Menilik rekam jejaknya, kiprah politik Anies terbilang cukup dinamis meski mendaku dirinya sebagai politisi non-partisan. Anies mulai menggeluti politik setelah dirinya bergabung dalam Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat pada 2013. Pencapaian tertingginya adalah ketika menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2014-2016) dalam Kabinet Kerja pada periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo. Baca juga:  Sudjojono Dipecat PKI Pada pemilihan presiden 2014, Anies berperan sebagai juru bicara tim kampanye pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Setelah dicopot dari jabatan menteri, Anies sukses melaju dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta, diusung oleh PKS dan Partai Gerindra. Kini, Anies maju sebagai calon presiden yang diusung Partai Nasional Demokrat, bersaing dengan Prabowo Subianto (Gerindra) dan Ganjar Pranowo (PDIP). Di masa lalu, banyak juga politisi Indonesia yang gonta-ganti kendaraan partai untuk mencapai kedudukan tertinggi. Salah satunya Soebandrio, menteri luar negeri periode 1957-1966. Karier diplomatiknya bermula ketika ditunjuk sebagai duta besar Indonesia yang pertama untuk Kerajaan Inggris pada periode 1949—1954. Setelah Inggris, Soebandrio menjadi duta besar Indonesia yang pertama untuk Uni Soviet (1954-1956). Sementara itu, karier politiknya diawali sebagai kader Partai Sosialis Indonesia (PSI). Soebandrio telah menjadi anggota PSI sejak masa revolusi kemerdekaan. Namun, afiliasi politiknya kemudian berubah. Sepulangnya dari luar negeri usai menyelesaikan tugas duta besar, Soebandrio melihat PSI tak cukup bagus untuk menjadi pijakan karier politiknya. Dia lantas melirik kepada PNI, partai nasionalis yang memenangkan pemilihan umum 1955. “Bandrio melihat, sebagai anggota PSI – partai yang dicurigai memberi angin kepada beberapa pemberontakan di daerah– ia tidak mungkin leluasa berkembang. Dan ia pun melompat ke PNI,” seperti disebut dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983—1984 . Baca juga:  Beda Cara PSI dan Masjumi Menurut Rosihan Anwar, Soebandrio telah menjadi pengikut Sutan Sjahrir pada tahun 1945. Waktu itu, partainya masih bernama Partai Sosialis. Sedangkan Soebandrio bergiat di luar negeri sebagai Kepala Perwakilan Indonesia di London. Untuk memenuhi ambisi politiknya, Soebandrio kemudian berbalik dan menjelma sebagai lawan politik Sjahrir. “Soebandrio merapatkan dirinya kepada Sukarno. Ia masuk PNI. Sukarno menganugerahi Soebandrio dengan beberapa jabatan, seperti menteri luar negeri dan kepala intelijen,” ungkap Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya. Gerakan “kutu loncat” Soebandrio juga diamati oleh kelompok militer, seperti Soehario Padmodiwirio. Pada periode 1959—1965, Soehario atau lebih dikenal dengan nama Hario Kecik menjabat sebagai Panglima Kodam IX Mulawarman di Kalimantan Timur.  Semasa zaman pendudukan Jepang, Soehario dan Soebandrio sama-sama mahasiswa kedokteran di Jakarta.  “Soebandrio dimusuhi oleh PSI sejak masuk PNI dan mulai mendapat kedudukan dalam pemerintah,” kata Soehario dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia . Baca juga:  Jenderal Hario "Tundukkan" Subandrio Di luar posisi menteri, Soebandrio mengepalai Badan Pusat Intelijen (BPI). Presiden Sukarno sekaligus menunjuknya sebagai Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I. Dalam kedudukannya sebagai Waperdam I, Soebandrio menyandang pangkat tituler marsekal Angkatan Udara. Sepanjang paruh pertama 1960, Soebandrio termasuk pejabat tinggi negara yang paling berpengaruh. Nama Soebandrio menonjol dalam perundingan penyelesaian sengketa Irian Barat tahun 1962. Dia memimpin delegasi Indonesia yang menerima penyerahan Irian Barat kepada Indonesia dalam Perjanjian New York. Duta Besar Amerika Marshall Green yang bertugas di Indonesia pada 1965, mengenang Soebandrio sebagai orang paling berkuasa dalam politik Indonesia, setelah Sukarno. Soebandrio merupakan pelaku politik yang cerdik, pandai, dan penuh liku, serta mempunya banyak pengalaman di arena luar negeri. Kekuatannya terletak pada hubungannya dengan Sukarno, membuat dirinya berguna bagi Sukarno, serta melihat dirinya sebagai pengganti Sukarno. “Ia pun merayu PKI, yang memperkuat hubungannya dengan Sukarno, tetapi yang membuatnya makin tidak disenangi oleh Angkatan Darat,” catat Green dalam memoarnya Dari Sukarno ke Soeharto: G30S-PKI dari Kacamata Seorang Duta Besar . Baca juga:  Kala Dubes Amerika Nyaris Digebuk Jenderal Moersjid Banyak yang menilai Soebandrio –terutama dari kalangan militer– merapat ke PKI karena basis massanya yang besar. Panglima Kostrad periode 1967—1969 Kemal Idris mengatakan, Soebandrio bermaksud menjadi tokoh politik yang besar. Sedangkan satu-satunya cara yang bisa menjadikan dia tokoh politik hanya melalui PKI. “Tapi, apakah dia seratus persen PKI? Buat saya sebenarnya dia hanya ikut-ikutan saja,” kata Kemal dalam otobiografinya Bertarung dalam Revolusi. Karier politik yang dibangun Soebandrio rontok setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Soebandrio termasuk salah satu dari 15 menteri yang ditangkap menyusul terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966. Dia dianggap terlibat dan bertanggung jawab dalam gerakan pemberontakan yang menurut pemerintah Orde Baru didalangi oleh PKI itu. Baca juga:  Memburu Soebandrio Pengadilan Mahkamah Militer Tinggi menjatuhi Soebandrio vonis hukuman mati. Hukuman itu kemudian diubah menjadi seumur hidup. Setelah 30 tahun mendekam dalam penjara, Soebandrio dibebaskan pada 1995. Setelah bebas, Soebandrio sempat menuliskan memoarnya pada 2001, ketika rezim Orde Baru sudah tumbang. Dalam memoarnya berjudul Kesaksianku tentang G30S , Soebandrio mengakui dirinya memang pernah aktif di PSI. Tapi, Soebandrio menolak tudingan yang menyebutkan dirinya PKI. Simpatisan pun bukan. “Saya memang pernah aktif dalam organisasi politik tapi di PSI (Partai Sosialis Indonesia). Kalau di PKI, saya sama sekali bukan anggota atau simpatisan, walaupun pada saat saya masih di puncak kekuasaan dengan merangkap tiga jabatan sangat penting, orang-orang PKI banyak mendekati saya,” katanya. Baca juga:  Rencana Pembunuhan Sukarno, Yani, dan Soebandrio Namun, karena isinya sarat kontroversi, memoar Soebandrio ditarik dari peredaran. Selain itu, terdapat beberapa kekeliruan data kronik di dalamnya. Mengingat Soebandrio menuliskannya ketika sudah usia lanjut, tentu banyak ingatan yang sudah pudar. Soebandrio wafat pada 3 Juli 2004, dalam usia 89 tahun.

  • Menggapai Bintang di Langit

    WILLIAM Soeryadjaya tertimpa musibah. Ingin merebut perusahaannya, PT Sanggabuana, mitranya malah melaporkan William ke polisi dengan tuduhan penggelapan pajak. Tak hanya ditendang dari perusahaan, William juga ditahan di penjara Banceuy, tempat Sukarno pernah menjalani masa tahanan.

  • Gubernur Jenderal VOC yang Terpilih Secara Tidak Sengaja

    KETIKA Cornelis Speelman tiba-tiba meninggal dunia pada 1684, Dewan Hindia dihadapkan pada pilihan untuk memilih penggantinya. Pilihan menjadi lebih sulit karena Direktur Jenderal Balthazar Bort yang ditunjuk menggantikan Speelman, menyusul sang gubernur jenderal VOC ke dalam kubur. Sejumlah nama pun muncul sebagai kandidat, namun tak ada nama Joannes Camphuys dalam daftar tersebut.

  • Corputty Menyerah Tapi Malah Ditembak

    Pada awal 1950 Kopral Corputty termasuk serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang mudik ke Ambon. Kala itu, perang Indonesia-Belanda berakhir karena pada 27 Desember 1947 Kerajaan Belanda terpaksa mengakui kedaulatan RI. Reputasi Corputty sebagai tentara cukup mentereng di Ambon. Corputty, menurut Tessel Pollmann & Juan Seleky dalam Verhaal van de Molukkers , berasal dari satuan baret merah KNIL. Pasukan payung itu terlibat dalam Operasi Gagak yang merebut Bandara Maguwo sebelum pasukan baret hijau memasuki kota Yogyakarta. Mereka (baik baret merah dan baret hijau) tidak kenal ampun kepada siapa pun yang mendukung Sukarno, bahkan mereka berani menembaknya. Kedatangan Corputty  dan kawan-kawannya lengkap dengan bedil-bedil mereka di Ambon itu tak disia-siakan Dr Christiaan Robert Steven Soumokil, politisi sipil mantan jaksa agung dan menteri kehakiman Negara Indonesia Timur (NIT) yang hendak mendirikan negara baru di Kepulauan Lease yang meliputi Pulau Ambon. Soumokil tiba di Ambon pada April 1950 dan mendirikan Republik Maluku Selatan (RMS). Serdadu senior seperti Sersan Thomas Nussy, Pembantu Letnan Dominggus Sopacua, hingga Kopral Corputty kemudian dilibatkan di dalam Angkatan Perang (AP) RMS. Pada 1950, AP RMS sangat sulit dikalahkan oleh tentara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) dari Pulau Jawa. Dieter Bartels dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku Jilid 2 menyebut APRI mengerahkan 17 batalyon atau sekitar 11.000 personel untuk melawan AP RMS yang jumlahnya sekitar 1.500 serdadu saja. AP RMS menderita sekitar 500 orang terbunuh, sedangkan APRI yang terbunuh jumlahnya 10 kali lipat. Keadaan itu sempat membuat Letnan Kolonel Slemat Rijadi frustasi sekitar Oktober 1950, bahkan ia sendiri gugur pada 4 November 1950 di dekat benteng Nieuw Victoria, Ambon. Meski sempat kesulitan, APRI akhirnya menduduki Ambon. Tentara RMS seperti Corputty pun terpaksa menyeberang dan bergerilya ke Pulau Seram, utara Pulau Ambon. Di AP RMS, Corputty yang cukup disegani sebagai bekas kopral KNIL bukan lagi seorang kopral, melainkan seorang letnan kolonel. Tak diketahui apakah ada atau tidak kaitan antara kenaikan pangkat luar biasa itu dengan fakta bahwa RMS tidak didukung oleh satu pun orang-orang Ambon yang ketika di KNIL sudah menjadi letnan kolonel alias Overste. RMS punya taktik bertempur lebih baik dari APRI. Namun, secara strategi RMS tidaklah baik. Alhasil, posisinya terjepit selama belasan tahun di Seram. Belum lagi, AP RMS tidak solid karena penuh dengan keributan para pemimpinnya. “Tentara ini sebagian besar terdiri dari kader. Yang satu tidak mau berada di bawah yang lain. Baretten tidak menghiraukan pimpinan tentara dan hanya mematuhi komandan-komandan mereka sendiri, yaitu Sersan Nussy dan Kopral Corputty serta Pattipeilohy,” tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Vol. 1. Sebaliknya, pemerintah pusat di Jakarta memilih menyelesaikan RMS dengan pendekatan lunak. Orang-orang Ambon yang mendukung Republik Indonesia dilibatkan betul. “Dalam mencari jalan menyelesaikan masalah RMS di gunung-gunung di Seram, Gubernur Maluku menginstruksikan Kepala Bagian Politik dan stafnya untuk melancarkan sistem pendekatan bapak (Gubernur) dan anak (mereka yang ada di hutan),” catat IO Nanulaita dalam Mr. Johannes Latuharhary: Hasil Karya dan Pengabdiannya . Kala itu gubernur Maluku masih dijabat Johannes Latuharhary. Ia dijadikan gubernur oleh Presiden Sukarno sejak awal kemerdekaan. Metode “Bapak-anak” yang digunakan pemerintah pusat cukup efektif. Overste Corputty tergerak hatinya untuk menyerah kepada pemerintah RI. Koran De Tijd tanggal 3 Juli 1952 menyebut Kantor Penerangan Staf Umum Angkatan Darat di Jakarta mengumumkan, Corputty bersama anak buahnya menyerah pada 21 Mei 1952. Overse Corputty, menurut Report on Indonesia Volume 3 , menyerah bersama 167 pengikutnya dengan membawa 46 Owen Gun, 79 Lee Enfiels, 11 Bren Gun, dan 6 Sten Gun. Namun, penyerahan itu tak berjalan lancar. “Tetapi karena terjadi insiden penembakan ‘overste’ tersebut maka lenyaplah kepercayaan mereka yang masih ada di hutan pada pemerintah. Terhentilah sistem pendekatan itu,” catat Nanulaita.

  • T.D. Pardede

    Raja tekstil dari Medan, orang terkaya di Tapanuli. Pendukung finansial terpercaya Sukarno.

  • Wayang Orang Kota Metropolitan

    JAKARTA di tahun 1964. Seorang remaja lelaki asal Solo, Jawa Tengah, begitu terpukau menyaksikan pertunjukan wayang orang Panca Murti. Sosok Bima yang gagah dan Panakawan yang lucu nan bersahaja membenam di benaknya. Sejak itu, setiap akhir pekan atau libur sekolah, dia hanya menginginkan satu hal: nonton wayang orang.

  • Penobatan Gubernur Jenderal VOC Korup

    SEBUAH lukisan besar menampilkan sosok penguasa VOC pada abad ke-18 menghiasi salah satu ruangan di lantai dua Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. Petrus Albertus van der Parra, sosok penguasa di lukisan itu, menjabat gubernur jenderal VOC dari tahun 1761 hingga 1775. Ia dikenal sebagai pemilik properti paling mewah di wilayah Batavia dan sekitarnya.

  • Kiprah Kobra dari Diserang Belanda sampai "Melawan" Negara

    Menurut rencana, pada Minggu, 19 Desember 1948, akan diadakan latihan perang-perangan di ibukota Yogyakarta. Letnan Kolonel Sukanda Bratamanggala yang akan memimpin latihan perang-perangan itu. Sebab, Kolonel Abdul Haris Nasution selaku komandan Markas Besar Komando Djawa (MBKD) sedang berada di Jawa Timur untuk merampungkan perkara Sungkono. “Untuk melakukan evaluasi latihan, dibentuk satu tim penilai di samping ada peninjau dari KTN,” aku Sukanda Bratamanggala, seperti dicatat Dharmasena Nomor 150, Tahun 1987. Namun, latihan perang-perangan itu akhirnya tak bisa dilakukan karena para kombatan RI di Yogyakarta harus berperang sungguhan melawan tentara Belanda yang secara tiba-tiba menyerang. Hari itu adalah hari pertama dari Agresi MIliter Belanda kedua, yang oleh Belanda disebut Aksi Polisionil kedua. Baca juga:  Yogyakarta Usai Serangan Umum “Selepas subuh jam 05.00 piket MBKD yang terdiri dari Mayor Gani dan Mayor Widya mengetuk pintu kediaman saya. Mereka melapor bahwa Maguwo (kini Lanud Adisutjipto, red .) telah diduduki Belanda,” kenang Sukanda. Sukanda bersama perwira lain lalu menuju kantor MBKD. Ketika tiba, pesawat-pesawat tempur Belanda mengitari udara Yogyakarta. Pesawat-pesawat itu tak hanya meraung-raung mengintai kota Yogyakarta, tapi berkali-kali menjatuhkan bom. Bahkan di sekitar kantor MBKD. “Aneh, bom pertama jatuh tepat pada kursi yang biasa diduduki oleh Pak Nas,” aku Sukanda. “Di halaman MBKD diketemukan sejumlah boneka tentara Belanda yang diterjunkan dari udara dengan payung, sebagai samaran. Melihat situasi kritis seperti itu, segera saya perintahkan untuk memindahkan semua dokumen MBKD ke rumah saya di Jalan Sumbing 20. Boneka-boneka serdadu Belanda juga saya suruh bawa serta.” Sukanda lalu melapor ke Istana Negara Gedung Agung. Dia tiba di sana ketika Presiden Sukarno dan Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Suryadarma tengah minum kopi. Mereka bersiap menuju India. Tak lama kemudian, Panglima Besar Jenderal Sudirman datang juga. Baca juga:  Ketika Panglima Besar Soedirman Turun Gunung Rapat untuk merespon keadaan pun digelar. Bermacam argumen muncul. Ada rencana presiden dan pejabat teras lain akan dibawa ke Samigaluh, namun tidak terlaksana. Hanya tentara yang kemudian bergerilya. Presiden berserta Suryadarma kemudian menjadi tawanan. Sukanda sendiri kemudian bergerilya. Gerilya Sukanda berakhir di akhir 1949. Dia kemudian ditugaskan ke Kalimantan untuk mengurusi konsolidasi tentara di sana. Di era 1950-an, Sukanda –yang punya nama lengkap Raden Kendo Sukanda Bratamanggala, namun  biasa disapa Pak Kendo atau Kobra, singkatan dari Kolonel Bratamanggala–menjadi salah satu perwira anti-komunis. Pangkatnya naik menjadi kolonel. Kolonel Sukanda sempat menjadi Inspektur Jenderal Pendidikan dan Latihan. “ Sebagai Inspektur Jenderal Latihan dan Pendidikan, Sukanda Bratamanggala memang mempunyai hubungan yang sangat luas dengan para perwira AD. Jabatannya itu membawahi Inspektorat Infanteri, Inspektorat Artileri, Inspektorat Kavaleri, dan Resimen Pendidikan Komando Angkatan Darat (yang kemudian menjadi Resimen Para Komando AD-RPKAD), ” tulis RZ Leirissa dalam PRRI-Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis . Baca juga:  Kemal Idris, Jenderal Gusar Pengirim Pasukan Liar Namun, pangkat Sukanda mentok di kolonel. Penyebabnya apa lagi kalau bukan karena perlawanannya kepada pemerintah pusat. “Eks Kolonel Sukanda Bratamanggala ditangkap karena terlibat dalam dan Gerakan Front Pemuda Sunda atau Legiun Sunda. Setelah pada tahun 1959 dibebaskan ia kembali membentuk Corps Dinas Rahasia (CDR), yang merupakan organisasi gelap, tetapi dihancurkan sebelum beraksi,” catat buku Siliwangi Dari Masa Ke Masa . Kobra menjadi tokoh yang sangat disegani dalam kelompok anti-komunis di sekitar Bandung. Namun, jaringan dan kiprahnya tak hanya berkutat di Bandung tapi juga di pusat. “ Pada Oktober 1956, beberapa hari setelah Bung Karno kembali dari perlawatan ke negara-negara komunis, diadakan pertemuan tertutup di kediaman resmi Kolonel Sukanda Bratamanggala di Jalan Riau 74 (sekarang Jalan Martadinata). Dalam pertemuan itu sejumlah perwira membicarakan masalah perkembangan politik, terutama mengenai bahaya komunisme, korupsi, dan pimpinan Angkatan Darat. Kelompok ini menjadi inti dari apa yang dinamakan Kelompok Perdamaian Nasional atau Kopernas,” sambung Leirissa. Baca juga:  Sukarno dan Trauma PRRI Sebuah peristiwa lalu terjadi di Pusat Kavaleri (Puskav) Bandung sekitar 8 Juli 1960. Sekelompok tentara yang bersimpati pada gerakan Kobra hendak bergerak, namun Puskav kemudian dikepung pasukan angkatan darat lain. Keponakan Kobra, yang bernama Toto Pradjamanggala, akhirnya ditangkap dan dipenjara. Kobra sendiri kemudian terseret dan dijatuhi hukuman 17 tahun penjara. Toto dan Kobra baru dibebaskan setelah pemerintahan Sukarno melemah. “Sukanda dinyatakan oleh mahkamah bersalah, antara lain ‘mengadakan permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan yang direncanakan Sam Karundeng seperti penyerbuan Jakarta, menculik tokoh-tokoh pemerintah sipil dan militer dan terdakwa (Sukanda) diserahi follow-up-nya telah mengadakan hubungan dengan PRRI (Simbolon) dan DI (Abas Abdurachman, Kartosuwirjo, Sanusi Partawidjaja).’ Seorang peninjau mengatakan kepada saya setidak-tidaknya Sukanda tidak dijatuhi hukuman mati. Kelak kalau sudah ada perubahan rezim, Sukanda tentu dibebaskan, demikian ditambahkannya,” catat Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965 .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page