top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pelita Kecil di Barat Jerman

    HEIDELBERG, kota kecil di negara bagian Baden Wurttemberg, Jerman ini bukan hanya cantik karena bukit-bukit kecil beraneka warna, beragam jenis pepohonan dan Sungai Neckar yang bermuara di Sungai Rhein yang elok dengan benteng peninggalan masa lalu. Kota ini juga mempunyai sejarah panjang: konflik gereja sampai pergolakan pemikiran yang terpusat di Universitas Heidelberg.

  • Kudeta Berdarah di Makkah

    PAGI yang lengang sontak berubah menjadi kegaduhan. Pada 20 November 1979, sekelompok fundamentalis Islam yang dipimpin Juhaiman al-Utaibi, seorang pengkhotbah dan mantan kopral Garda Nasional (tentara elite Arab Saudi), menduduki Masjidil Haram. Juhaiman menyatakan Imam Mahdi telah tiba dalam diri kakak iparnya Abdullah Hamid Muhammad Al-Qahtani, dan menyerukan umat Islam untuk mematuhinya.

  • Tragedi yang Terulang

    MENDADAK ada pemberitahuan tanda bahaya. Lalu, pesawat tergoncang keras dan jatuh. Goncangan dan empasan begitu keras. Teriakan dan rintihan terdengar dari berbagai sudut. Abi Karsa, wartawan Banjarmasin Post, buru-buru membuka sabuk pengaman dan mengajak istrinya keluar. Dia mencoba memecah kaca jendela tapi gagal. Istrinya melihat lobang di belakang. Ternyata ekor pesawat putus dan memberi celah yang lebar.

  • Medali Emas SEA Games 32 Tahun Lalu

    TIMNAS Indonesia berhasil meraih medali emas SEA Games 2023 di Kamboja setelah mengalahkan Thailand. Medali emas SEA Games terakhir direbut timnas Indonesia 32 tahun lalu di Filipina. Menariknya, emas itu diraih di Manila dan timnas Indonesia dipimpin IGK Manila sebagai manajer dengan pelatih Anatoli Fyodorich Polosin asal Rusia. Dalam biografinya,  IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara karya Hardy R. Hermawan dan Edy Budiyarso, disebutkan persiapan timnas digenjot selama empat bulan sebelum SEA Games, 24 November-3 Desember 1991. Hasilnya, 18 pemain terbaik dipilih dari 57 pemain yang diseleksi. Sebagai suntikan semangat, di awal kepemimpinannya sebagai manajer menggantikan Acub Zainal, Manila menawarkan program asupan nutrisi lebih baik. Selain itu, para pemain juga digaji Rp350 ribu per bulan dan THR Lebaran Rp500 ribu per pemain. Sementara itu pelatih Polosin masih pada tahap pengenalan dengan gaya para pemain, sehingga belum menggeber pola latihan yang sesungguhnya. Sempat muncul kendala kiper utama Edy Harto nyaris tak bisa bergabung lantaran klubnya, Krama Yudha Tiga Berlian (KTB), enggan melepaskannya demi Piala Winners Asia. “Waktu itu sebenarnya ada komunikasi yang kurang baik antara pengurus PSSI dengan Pak Sjarnoebi Said, pemilik KTB. Setelah (komunikasi) diperbaiki, Edy bisa masuk tim,” kata Manila. Baca juga:  Ada Apa dengan Ricky Yakob Timnas lantas menjalani dua uji coba, yakni tur ke Hong Kong dan Piala Presiden di Seoul. Hasilnya? Jeblok. Musababnya pada laga di Seoul, Manila mencoret nama Ricky Yakob. Keputusan Manila ditentang Ketum Umum PSSI Kardono. Kardono heran kenapa pilar penting itu dicoret Manila. Keputusan Manila jelas menambah beban di pundak Kardono, yang di pengujung masa jabatan keduanya itu diberi misi khusus oleh Presiden Soeharto. Dalam Selamat Jalan Pak Harto: Dokumen Kepergian Pemimpin Bangsa , Soegiono M.P. menyebut Kardono mestinya sudah melepas jabatannya pascatimnas Indonesia meraih emas SEA Games 1987. Namun, Soeharto belum berkenan Kardono meninggalkan PSSI. “Prestasi itu (emas SEA Games 1987, red .) cukup menjadi alasan Soeharto memperpanjang masa jabatan Kardono. Ternyata keinginan Soeharto untuk mempertahankan Kardono satu periode lagi, empat tahun ke depan, juga disepakati Kongres PSSI,” sebut Soegiono. Namun, Manila tetap pada keputusannya bahkan mengancam mundur jika Kardono memaksanya untuk memasukkan Ricky Yakob ke tim. “Saya tidak melamar posisi manajer tim. Tapi saya bekerja sungguh-sungguh. Nama saya dan bapak dipertaruhkan. Saya tidak main-main,” kata Manila pada Kardono. Shadow Football dan Latihan Militer Ricky Yakob bukan satu-satunya bintang yang terpental dari seleksi Manila dan Polosin. Gelandang/sayap Mustaqim terdepak dari tim karena cedera. Fachri Husaini dan Jaya Hartono juga angkat koper sepulang dari uji coba di Hong Kong dan Seoul. Keduanya protes terhadap pola latihan Polosin yang menggenjot fisik pemain dengan beragam latihan ekstrem dan pola latihan shadow football . Fachri dan Jaya merajuk lantaran latihannya lebih mirip latihan militer ketimbang latihan sepakbola. Protes itu membuat Manila geram. “Kalau kalian ragu, silakan tinggalkan tim,” katanya. Dari sisa tiga bulan masa persiapan SEA Games, dua bulan di antaranya digunakan Polosin untuk menggenjot latihan shadow football . Porsi latihan ditambah dari biasanya dua kali sehari menjadi tiga kali sehari. Pola latihan itu diterapkan selalu tanpa bola. “Bola imajiner ditunjuk pelatih. Ke mana tangan menunjuk, ke sana pemain harus bergerak. Metode ini juga diterapkan di pantai dan kolam renang,” tulis Hardy dan Edy. Baca juga:  Ketika Robby Darwis Dikerjai Malaysia Jelang SEA Games Metode itu dilanjutkan dengan latihan bermain tanpa arahan Polosin. Asistennya, Urin, ditugasi mencatat hitungan sentuhan bola per pemain. Polosin menekankan pentingnya sentuhan bola dan memonitor pemain mana saja yang malas mengejar bola. Gaya latihan itu kembali bikin sejumlah pemain terpental dari tim. Kini giliran Mecky Tata, Singgih Pitono, Eryono Kasiba, dan Ansyari Lubis. Keempatnya dicoret lantaran tak tahan dikuras fisik lewat pelatihan ala militer pada sebulan terakhir. IGK Manila turun menemani sesi latihan timnas jelang SEA Games 1991. (Repro IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara ). Latihan ala militer itu dilakukan Manila dengan mengirim tim ke Pusdik POM Cimahi untuk dilatih lebih keras. Latihan fisik ditambah lari jarak jauh naik turun bukit dan gunung. Latihan berat itu membuat banyak pemain keteteran. “Sudirman sampai mulas-mulas dengan latihan tersebut. Terpaksa ketika berlari, Sudirman buang hajat di rerumputan bukit. Sudirman akhirnya mengaku dirinya mencret selama digojlok Polosin,” tulis Hardy dan Edy. Dari latihan ekstra berat sebulan penuh itu terpilihlah 18 anggota skuad SEA Games yang diragukan banyak pihak lantaran tak diperkuat sejumlah pemain bintang. Di mistar gawang ada Edy Harto dan Erick Ibrahim. Beknya Robby Darwis, Ferril Hattu (kapten), Sudirman, Aji Santoso, Salahuddi Abdul Rachman, Herry Setyawan. Lini tengah diisi Toyo Hartono, Maman Suryaman, Heriansyah, Kashartadi, dan Yusuf Ekodono. Barisan depannya Widodo Cahyono Putro, Peri Sandria, Hanafing, Rochi Putiray, dan Bambang Nurdiansyah. Bambang jadi yang tertua di tim, berusia 32 tahun. Ia dimasukkan terakhir atas permintaan Manila sehingga tak digojlok sebagaimana para juniornya. Manila punya misi lain mengikutsertakannya. Baca juga:  IGK Manila Sigap Menangkal Babi-Babi Suap Jelang keberangkatan, muncul keluhan sejumlah pemain soal rupiah. Diwakili kapten tim Ferril Hattu, mereka menyatakan kerisauan soal iming-iming bonus. Tim dijanjikan bonus Rp3 juta, padahal di SEA Games 1989 mereka diguyur bonus Rp1,5 juta per pemain setiap kali menang. Manila pun menyikapinya dengan kepala dingin. Kendati terkesan “mata duitan”, Manila sadar “neraka” seperti apa yang sudah mereka alami demi bisa lolos seleksi sejak April hingga November 1991. Oleh karena itu, Manila lalu mendatangi jajaran pengurus PSSI Kardono dan pemilik klub Arseto Sigit Harjojudanto. “Saya juga ikut dimintai uang, harus patungan,” ujar Sekjen PSSI Nugraha Besoes, dikutip Hardy dan Edy. Setelah “modal” dianggap cukup, Manila menjanjikan bonus yang lebih baik. Jelang laga pembuka Grup B kontra Malaysia, 26 November 1991, Manila mengiming-imingi bonus US$100 per pemain (kurs 1991, US$1 = Rp1.900). Hasil Tak Mengkhianati Kerja Keras Kerja keras tim dan iming-iming bonus menggiurkan membuat para pemain seperti “kesetanan”. Dari empat laga di Grup B, Indonesia tak pernah kalah. Malaysia, Vietnam, dan tuan rumah Filipina dibuat tak berdaya. Di semifinal dan final, Indonesia baru mendapat ujian sesungguhnya. Di semifinal, 2 Desember 1991, Singapura sudah menunggu. Singapura sarat pemain berpengalaman dengan skill di atas rata-rata pemain Indonesia. Namun Indonesia unggul fisik dan disiplin. Alhasil dari dua babak, kedua tim bermain sama kuat tanpa gol. Pun dengan dua babak perpanjangan waktu, hingga pemenang mesti ditentukan lewat adu penalti. Dewi fortuna memihak Tim Garuda, menang 4-2 di babak tos-tosan. Publik Singapura menangis. The Strait Times , 3 Desember 1991, sampai menurunkan berita dengan judul di halaman muka: Penalty shoot-out agony for Lions . Di final yang dimainkan di Rizal Memorial Stadium, 4 November 1991, Indonesia menghadapi Thailand. Ferril Hattu cs. Kembali menahan lawan tanpa gol di dua babak dan perpanjangan waktu. Publik tanah air yang menyaksikannya lewat TVRI , berharap kembali dihampiri dewi fortuna.​ Baca juga: Galatama Tempat Profesional Berlaga Drama adu penalti itu amat mendebarkan. Saat kedudukan sudah 3-3, Polosin menunjuk Sudirman untuk jadi penentu. “Sudirman baru 21 tahun. Tapi ia punya mental dan karakter yang tegas. Teman-temannya menjuluki dia jenderal, seperti nama Jenderal Besar Sudirman di masa revolusi,” sambung Hardy dan Edy. Sementara itu Manila punya cara lain untuk menyuntik spirit para pemain. Manila memperlihatkan batu aji yang dikalunginya lalu memerintahkan semua pemain menyentuh batu yang disebutnya bertuah itu. Para pemain manut . Manila lalu komat-kamit dan membakar semangat dengan seruan “Indonesia Juara”. “Padahal (komat-kamit) itu cuma acting ,” kata Manila mengenang. Yang pasti, hasilnya sepakan Sudirman merobek jala gawang Thailand. Skor akhir 4-3. Indonesia pun menyempurnakan posisi juara umum SEA Games dengan tambahan satu emas di cabang paling bergengsi. Saat para pemain dan ofisial bereuforia, Manila menangis saking bahagianya. Sepulangnya ke Jakarta, tim dijamu Presiden Soeharto di kediamannya, Jalan Cendana. Para pemain diganjar bonus US$2.000 per kepala. Manila pun lantas melepas jabatannya dan kembali bertugas di CPM.*

  • Berakhir di Perawan Tujuh

    KAWASAN Makam Sunan Ampel di Surabaya penuh sesak. Para peziarah berduyun-duyun memasuki area makam. Maklum, masih suasana Idulfitri. Di kompleks ini terdapat makam Sunan Ampel, yang menjadi satu dengan Masjid Ampel yang punya nilai sejarah.

  • Telantar di Makkah

    PADA 1940, sejumlah tokoh berkumpul di Jalan Kramat Raya 49, Jakarta. Mereka membahas cara menolong para mukim, baik pelajar maupun jemaah haji, yang telantar di Makkah akibat meletus Perang Dunia II. Dibentuklah Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) cabang Jakarta untuk menggalang dana. MIAI adalah organisasi yang mempersatukan perhimpunan dan partai-partai Islam dengan sekretariat di Surabaya.

  • Haji dan Politik Akomodasi

    SEORANG siswa kelas tiga sekolah dasar, Tyar Fitriyanyah Ahyar, pada 20 Oktober 1984 menulis surat untuk Presiden Soeharto. “Kata guru saya juga papa saya, orang muslim harus pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Kok Pak Presiden belum menunaikan haji?” tulisnya dalam surat yang dimuat dalam Anak Indonesia dan Pak Harto, sebuah buku kumpulan surat anak-anak Indonesia untuk Presiden Soeharto yang disunting G. Dwipayana dan S. Sinansari.

  • Tenggelamnya Arafat

    PADA sebuah bangunan tiga lantai di Jalan Johar No. 8 Jakarta, sebuah cita-cita pernah disandarkan. Pada 1964, PT Arafat, perusahaan pelayaran pengangkut jemaah haji Indonesia, berdiri dengan saham dimiliki jemaah haji dan karyawan perusahaan. Jika proyek ini berhasil, Arafat akan menjadi perusahaan umat terbesar di dunia. Namun ia akhirnya dilikuidasi karena dibelit banyak persoalan. Sejak itu pula pemberangkatan haji lewat laut ditiadakan.

  • 711 vs 719

    SUATU hari, Kepala Staf Tentara Teritorium VII/Indonesia Timur Letkol Jacob Frederik Warouw memanggil Mayor Andi Selle selaku komandan Batalyon Infanteri 719 dan Kapten Tumbelaka, komandan Batalyon Infanteri 711 yang menggantikan Mayor Abdullah. Warouw meminta keterangan kedua komandan batalyon yang bertugas di wilayah kekuasaannya itu agar mendapat informasi lengkap soal insiden bersenjata yang melibatkan kedua batalyon. Sebuah serangan terjadi pada 16 Desember 1952 di Desa Kabere dan Kota Enrekang. Sebanyak 14 anggota Batalyon 719 diserang kelompok bersenjata. Akibatnya seorang perwira, Letnan Andi Rivai, terbunuh. Satu lainnya hilang dan tiga terluka. Koran De Preangerbode , 31 Desember 1952, menyebut peristiwa penyerangan terhadap Batalyon 719 itu terjadi di daerah yang dilalui kelompok bersenjata. Daerah itu berada di bawah kendali Batalyon 711 dan Batalyon 719. Laporan penyerangan itu akhirnya sampai ke Parepare, tempat Batalyon 719 bermarkas. Anggota Batalyon 711 dituduh sebagai biang kerok penyerangan itu. Baca juga:  Celana Dalam Kahar Muzakkar Esoknya, 17 Desember 1952, anggota Batalyon 719 bergerak. Terjadi dua kali baku-tembak antara anggota batalyon tersebut dengan anggota Batalyon 711. Baku-tembak pertama terjadi di sebuah pos militer, 6 km di luar kota Parepare. Karena insiden itu, empat anggota Batalyon 711 terbunuh dan dua orang luka-luka. Insiden selanjutnya adalah pembakaran kiriman bensin ke Rappang. Akibatnya, seorang anggota 711 hangus terbakar. Selain itu, Batalyon 711 juga kehilangan sejumlah senjata. Bentrokan antara 711 dengan 719 itu membuat orang-orang sipil ketakutan dan mengungsi dari Parepare. Hal itu mendorong Komando TT VII/Wirabuana melakukan penyelidikan. Sebuah tim penyelidik dibawah komando Kapten CPM Her Tasning segera bekerja menyelidiki insiden di Enrekang-Parepare tersebut. Baca juga:  Misteri Kematian Kahar Muzakkar Batalyon 719 adalah batalyon bekas Corps Tjadangan Nasional (CTN) yang sempat masuk hutan sebelum diresmikan sebagai batalyon TNI. Mereka bekas pejuang yang kecewa karena banyak bekas pejuang tak diterima masuk TNI. Komandan 719 adalah Mayor Andi Selle Matolla. Ia cukup terpandang di daerah Pinrang dan sekitarnya. Pada era 1950-an, Andi Selle menjadi warlord di sekitar Mandar dan Pinrang. Ia terus dicurigai punya kedekatan dengan gerombolan pemberontak terkait bisnis senjata. “Laporan Staf Angkatan Darat tahun 1961, yang saat itu jelas-jelas dianggap sebagai liabilitas, menggambarkannya sebagai seorang oportunis dan petualang ambisius, siap memperkaya dirinya dengan cara apa pun yang mungkin dan selalu mencari peluang untuk mendapat untung dari kedua belah pihak, apakah pemerintah atau gerilyawan,” tulis Roxana Waterson, profesor di National University of Singapore, dalam Paths and Rivers: Sa’dan Toraja Society in Transformation .  Sementara itu, Batalyon 711 adalah bekas Batalyon Abdullah dari Jawa Timur. Batalyon ini pernah terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan Andi Azis di Makassar dan Republik Maluku Selatan (RMS) di sekitar Seram pada 1950. Batalyon ini tak pernah dikembalikan ke Jawa Timur lagi, dan dijadikan batalyon dalam Wirabuana. Baca juga:  Beberapa Kesaksian Tentang Kahar Muzakkar Kala itu, batalyon 711 hendak bergerak melawan gerombolan Hamid Ali dan Usman Balo. Menurut Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII , ada hubungan dagang (senjata) antara oknum 719 dengan kelompok Usman-Hamid. “Sebuah kompi batalyon 711 yang mengikuti pemberontak itu ke Pinrang diberitahu anak buah Andi Selle bahwa di daerah itu tidak terdapat pemberontak,” tulis Barbara Sillars Harvey. Adanya hubungan antara okum Batalyon 719 dengan kelompok pemberontak kerap menghalangi operasi penumpasan yang dilakukan anggota Batalyon 711. Bahkan, pernah ada anggota 711 yang diculik oleh kelompok 719. “Situasi ini diketahui benar oleh pimpinan Bataljon 711, gerakan yang bertujuan ke arah penghancuran pasukan Usman bersama Hamid telah dipersiapkan, tetapi terhalang oleh hubungan yang masih dipelihara dengan Batalyon 719,” catat Radik Djarwadi dalam Pradjurit Mengabdi: Gumpalan Perang Kemerdekaan Bataljon Y , yang menjelaskan Batalyon 711 kehilangan Pembantu Letnan Burhan asal Makassar akibat clash itu. Baca juga:  Pasukan Momok Kahar Muzakkar Mendapati ada ketidakberesan di wilayah kekuasaannya, Panglima TT VIII Letkol Joop Warouw langsung memanggil Mayor Andi Selle dan Kapten Tumbelaka selaku komandan masing-masing batalyon. Insiden antara Batalyon 711 dengan 719 pun mereda karena perintah komandan masing-masing. Setelah itu, Mayor Andi Selle dan pasukannya perlahan dipindahkan dari sekitar Parepare ke Polewali, Mandar, kini Sulawesi Barat. Sementara, Batalyon 711 berganti nama menjadi Batalyon Infanteri 705 pada 22 april 1955 dan kemudian pada 1957 dikembalikan ke Jawa Timur sebagai batalyon Y setelah 6 tahun di Sulawesi Selatan yang bergolak.*

  • Jatuh Bangun Kelola Haji

    WAHID Hasyim masih ingat perkataan Sumanang, anggota Senat Republik Indonesia Serikat yang juga seorang wartawan di Yogyakarta pada 1947: satu hal yang ingin dilakukannya setelah Indonesia merdeka 100% adalah menjalankan ibadah haji ke Makkah. Namun, Sumanang melihat kondisi jemaah haji Indonesia sangat menyedihkan. Padahal berkumpulnya jemaah haji dari seluruh dunia di Makkah baginya ibarat Kongres Islam Sedunia. “Kualitas mereka, baik lahir maupun batinnya, tidaklah dapat dipuji untuk menjadi wakil Indonesia di dalam Kongres Islam Sedunia.”

  • Sejarah Kampung Timur di Balikpapan

    Kampung Timur di Balikpapan kini merupakan daerah ramai. Makin banyak rumah dibangun di sekitar kolam kangkung di kampung itu. Daerah itu bukanlah daerah pinggiran lagi seperti di tahun 1950-an. Nama Kampung Timur sendiri terkait erat dengan kerusuhan berdarah yang disebabkan bentrok antaretnis di Balikpapan. Kejadiannya berlangsung tak lama setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949. Usai KMB, semestinya keamanan jauh lebih kondusif. Sebab, tidak ada lagi permusuhan antara anggota tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) dengan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bahkan, KNIL dan TNI berusaha memperbaiki keadaan, antara lain lewat Misi Militer Belanda (MMB). Baca juga:  Demi Pengakuan Kedaulatan Namun, di Kampung Timur di pinggiran Balikpapan, suasananya berbeda. Keamanan yang mestinya menjadi keniscayaan, justru sirna. Kerusuhan antaretsnis pecah sebagai kelanjutan dari insiden yang terjadi di pusat kota Balikpapan. Kerusuhan itu dipicu sebuah insiden yang terjadi di perusahaan minyak –yang beroperasi sejak lama di Balikpapan– Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Suatu hari, seorang buruh BPM –mempekerjakan banyak buruh dari Jawa, Manado, Timor, dan daerah lain di Indonesia– asal Indonesia Timor ditemukan tewas akibat tikaman di halaman BPM. Pelakunya orang tak dikenal. Baca juga:  Pencarian Minyak di Kutai Kartanegara Orang-orang Timor pun marah. Setelah itu, bentrokan antara orang Timor dengan orang etnis lain pecah di segala penjuru kota. Pada 13 Januari 1950, De locomotief edisi 23 Januari 1950 memberitakan, sekitar pukul 16.00 sekelompok orang Timor bersenjata menyerang orang-orang yang sedang mengantri. Serangan tanggal 13 Januari itu lalu berkembang menjadi bentrok antaretnis selama tiga hari di Balikpapan. Konflik kemudian meluas ke berbagai penjuru kampung yang terhitung daerah pinggiran. Kerusuhan itu juga membuat orang Timor ketakutan. Mereka lalu melarikan diri sampai ke daerah pinggiran. Suyatini, penduduk kampung Timur berusia 64 tahun, masih ingat cerita tentang kerusuhan itu yang didengarnya saat masih cilik. Menurutnya, salah satu keluarga Timor ada yang melarikan diri ke daerah pinggiran yang dulunya terdapat rawa-rawa dekat kampung Suyatini. Keluarga itu kemudian nahas lantaran terlihat oleh warga kampung. Baca juga:  Hendrick Arnold Koroh, Pejuang dari Timor “Dikejar-kejar sama orang kampung, sembunyi. Di situ ada pohon besar itu kan,” ujar Suyatini mengisahkan keluarga Timor itu dikejar warga karena tidak diketahui asalnya, kepada Historia . Keluarga pengungsi itu akhirnya ditangkap dan diikat. Warga lalu membuat sebuah lubang. “(Keluarga itu, red .) Diikat, dibuatkan lubang, ditanam hidup-hidup,” aku Suyatini. Keluarga itu akhirnya tewas di tangan warga. Tindakan main hakim para warga itu digerakkan oleh ketakutan karena mereka juga terancam oleh orang Timor bersenjata yang sedang mengamuk di dalam kota Balikpapan.   Pertempuran tiga hari itu, diberitakan De Locomotief edisi 23 Januari 1950, menewaskan 24 orang dan membuat 114 orang lainnya menjadi cacat atau luka-luka. Ada yang menduga jumlah korban tewas dan terluka itu mencapai 500 orang. Selain itu, 330 rumah hancur. Aparat KNIL dan TNI pun melucuti semua polisi yang berasal dari Timor, yang kebanyakan membawa senjata api otomatis sepanjang kerusuhan sejak 13 Januari 1950. Seluruh orang Timor kemudian diisolasi agar tidak menjadi sasaran kemarahan warga Balikpapan yang lain. Baca juga:  Ketika Eks KNIL Menyerang Markas APRIS Setelah berhasil diamankan TNI dan KNIL, orang-orang Timor itu kemudian dipulangkan ke daerah asal mereka. Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 26 Januari 1950 menyebutkan,  orang-orang Timur itu diangkut menggunakan beberapa kapal. Kapal Patra mengangkut 662 pengungsi, kapal Riouwtiba menangkut 256 pengungsi. Ketika mereka singgah di Makassar, para pengungsi itu diinapkan di Benteng Fort Rotterdam, tak jauh dari pelabuhan. Di Makassar, Menteri Sosial Negara Indonesia Timur Izaac Heru Doko menyesalkan kejadian yang terjadi di Balikpapan itu. Heru Doko kebetulan berasal dari daerah Keresidenan Timor. Kendati keadaan kota Balikpapan kemudian berangsur pulih dari kerusuhan antaretnis tersebut, kota pesisir itu kekurangan polisi setelah para polisi asal Timor dipulangkan ke daerah asal mereka. Untuk menutupi kekurangan itu, 100 orang dari Balikpapan direkrut untuk bertugas polisi sementara. Selain itu, satu peleton Polisi Istimewa alias Brigade Mobil (Brimob) didatangkan dari Jakarta ke Balikpapan. Kawasan tempat terbunuhnya dan penguburan orang-orang Timor itu kemudian dinamai Kampung Timur.

  • Percobaan Pembunuhan Presiden Soeharto di KTT ASEAN

    Peran Presiden Joko Widodo terhadap kesuksesan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-42 ASEAN di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur yang baru saja dihelat, menuai pujian berbagai pihak. Antara lain dari kumunikolog asal Universitas Airlangga Dr. Suko Widodo.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page