Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Haji Kiblik vs Haji NICA
PROKLAMASI kemerdekaan disambut hangat para mukim di Makkah. Mereka mengembalikan –bahkan ada yang membuang– paspor kepada perwakilan Belanda di Jeddah dan menolak tawaran bantuan keuangan. Dikeluarkan pula fatwa bahwa setiap orang Indonesia yang mengunjungi perwakilan Belanda di Makkah sebagai kafir.
- Arena Sejarah Kun Khmer "Kembaran" Muay Thai
KAMBOJA tak melewatkan kesempatannya sebagai tuan rumah SEA Games 2023 untuk mempopulerkan cabang olahraga (cabor) tradisionalnya. Selain bokator, Kamboja turut mempertandingkan cabor Kun Khmer atau kadang disebut Pradal Serey. Kun khmer dipertandingkan di Morodok Techno National Stadium, Phnom Penh, 6-11 Mei 2023. Namun, hanya lima kontingen negara yang mengikutinya. Selain tuan rumah Kamboja, cabor ini diikuti Laos, Vietnam, Malaysia, dan Myanmar. Namun rupanya, kun khmer diboikot IFMA selaku federasi muay thai internasional, dan kontingen Thailand. Boikot itu sebagai bentuk protes karena mereka menganggap kun khmer setali tiga uang dengan muay thai. Mereka enggan bertanding di bawah nama “kun khmer”. “Kami menghormati kun khmer. Tetapi kami tidak bisa mengirim atlet untuk berkompetisi karena hal itu melanggar aturan IFMA dan Thailand tidak punya asosiasi kun khmer. Kami sudah bicara dengan perwakilan Komite Olimpiade Thailand dan mereka secara prinsip menyetujuinya,” tutur presiden AMTAT (asosiasi muay thai amatir Thailand) Sakchye Tapsuwan, disitat Bangkok Post , 10 Februari 2023. Baca juga: Bokator dan Legenda Beladiri dari Peradaban Angkor Selain dengan muay thai, kun khmer juga mirip dengan bokator, baik atribut maupun beberapa teknik serangan sikut dan lututnya. Bedanya bokator tak sepenuhnya beladiri tangan kosong. Ia juga mempertandingkan nomor-nomor seni dan kombat atau pertarungan. Sementara, kun khmer murni beladiri tangan kosong dan hanya mempertandingkan nomor-nomor kombat per kelas seperti halnya kickboxing atau muay thai. Nyaris tiada perbedaan antara muay thai dan kun khmer. Kun khmer adalah muay thai-nya Kamboja atau sebaliknya lantaran kedua negara bertetangga ini saling mengklaim warisan dan asal-usulnya. “Pradal serey adalah olahraga keras. Seperti muay thai, beladirinya mengombinasikan tendangan keras dan pukulan, serta serangan lutut dan sikut. Tetapi pradal serey juga mengutamakan pengendalian diri,” tulis Janet O’Shea, penari dan praktisi beladiri UCLA, dalam Risk, Failure, Play: What Dance Reveals about Martial Arts Training. Atlet-atlet Kamboja yang mendominasi cabor kun khmer di SEA Games 2023 ( cambodia2023.com ) Antara keduanya hanya dibedakan oleh beberapa teknik. Dalam serangan kaki, di kun khmer teknik populernya adalah clinch fight atau pertarungan saat berangkulan dan tendangan dengan memutar pinggang ketimbang hanya sekadar melayangkan kaki di muay thai. “ Clinch fight digunakan untuk menguras tenaga lawan dengan posisi dominan guna serangan jarak pendek dengan dikut atau lutut. Sedangkan teknik tendangan yang paling populer adalah tendangan memutar dengan mengandalkan rotasi pinggang ketimbang sekadar mengangkat kaki,” ungkap Robert A. Webster dalam Siam Storm, The Series. Baca juga: SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi Warisan Peradaban Angkor Seperti juga bokator, belum ada catatan sejarah yang bisa memastikan siapa dan kapan kun khmer mulai eksis di Tanah Khmer. Beberapa sumber menyebut kun khmer sudah mulai ada di era Kerajaan Funan (68-550 Masehi). “Beberapa peneliti meyakini bahwa semua gaya kickboxing di segenap Indocina berakar sejak Kerajaan Funan yang terpengaruh budaya India, sebelum eksistensi Kekaisaran Khmer (802-1431 M, red). Oleh karenanya kun khmer, muay thai, muay lao, lethwei, dan tomoi memiliki kuda-kuda dan teknik yang sama,” sambung Webster. Tetapi yang pasti kun khmer, seperti juga bokator, digunakan sebagai beladiri militer. Kun khmer dikembangkan dan disempurnakan para prajurit Kekaisaran Khmer untuk memperluas Peradaban Angkor sejak abad ke-9 yang mendominasi kawasan Indocina (kini Kamboja, Laos, Vietnam, dan Thailand). Baca juga: Pencak Silat Warisan Mataram Menembus Zaman Bukti sahihnya tersebar di banyak relief dan mural pada bangunan dan candi peninggalan Peradaban Angkor. Sementara, bukti-bukti tertulis era Khmer kuno banyak yang hancur saat Kerajaan Ayutthaya (Thailand) mengepung dan merebut ibukota Angkor (kini Yasodharapura) pada 1431. “Muasal kun khmer lebih jamak berbasis cerita dari mulut ke mulut para leluhur yang diperkuat relief-relief candi dan bangunan kuno di Bayon, Banteay Chhmar dan candi-candi Angkor lain yang sudah eksis sebelum berkembangnya negeri-negeri tetangga,” ungkap Trevor Ranges dan Kris LeBoutillier dalam National Geographic Traveler Cambodia. Relief beladiri prajurit Khmer di kompleks Candi Banteay Srei (967 M) dengan teknik tendangan dan clinching yang digunakan pradal serey/kun khmer saat ini (Wikipedia) Beladiri itu tetap bertahan meski Peradaban Angkor sudah hancur. Akhirnyadi era kolonial Prancis (1873-1945), kun khmer dimodernisasi orang-orang Barat. Pasalnya kun khmer atau pradal serey tradisional dianggap terlalu brutal karena pertarungannya lebih sering berakhir ketika lawan tumbang dalam keadaan tak bernyawa. “Di masa kolonial, pradal serey dijadikan olahraga yang lebih modern. Saat orang Prancis datang, mereka menambahkan atribut dari Barat, di antaranya sarung tinju, ronde yang diberi waktu, dan ring tinju demi membuat beladiri itu lebih beradab dan mengurangi angka kematian atau cedera berat,” tulis Shiv Shaker Tiwary dan Rajeev Kumar dalam Encyclopaedia of Southeast Asia and Its Tribes, Volume 1. Baca juga: Melacak Jejak Pencak Silat Namun, kun khmer dan banyak seni maupun olahraga tradisional terkena pemberangusan rezim Khmer Merah (1975-1979). Banyak guru dan praktisinya dieksekusi bersamaan dengan para pejabat republik dan para akademisi. Meski situasi di Kamboja sudah mulai pulih pada 1980-an dengan kembali berdirinya Kerajaan Kamboja, geliat kun khmer baru mulai bangkit lagi pada awal 2000-an seiring kembalinya para pengajar dan praktisi kun khmer yang mengungsi. Salah satunya Huot Hok, pelatih berusia 72 tahun yang sudah mendalami kun khmer sejak 1940-an. Pertarungan pradal serey/kun khmer pada 1920-an sebelum dimodernisasi Prancis (Musée de l ' Homme) Awalnya, kata Huot Hok yang masih melatih di Battambang, kun khmer bangkit sedikit demi sedikit di wilayah pedesaan atau pinggiran kota. Bahkan, bertarung di arena kun khmer seringkali jadi andalan untuk mencari nafkah. “Orang-orang di kota besar hidupnya lebih bersenang-senang. Sementara anak muda dari area pinggiran punya motivasi dan kekuatan yang lebih karena mereka tak punya uang untuk alkohol apalagi perempuan. Keadaannya juga hampir seperti masa lalu; mereka berlatih dan menjadi petarung sebagai cara menafkahi keluarga dan diri mereka sendiri,” ujar Huot Hok, dikutip Cambodia Daily , 23 Agustus 2003. Baca juga: Vovinam, Silat Kebanggaan Vietnam Bangkitnya kembali kun khmer atau pradal serey di awal 2000-an dimanfaatkan figur-figur olahraga Kamboja untuk mengklaim beladiri itu asli budaya mereka dalam sengketa dengan muay thai asal Thailand. “Setelah beberapa dekade masa perang, kickboxing (pradal serey) terlupakan dan para atlet baru kami lemah. Sekarang kami berusaha mengembalikan reputasi kami. Para petarung kami sangat bagus dan tidaklah bijak jika Thailand mengatakan Kamboja meniru olahraga ini ketika kami masih sibuk dengan perang,” kata Um Yurann, deputi direktur federasi tinju Kamboja kepada Shanghai Star , 6 Juli 2001. Sampai kini, sengketa itu masih belum menemukan titik cerah. Maka ketika muay thai pertamakali dipertandingkan dalam SEA Games 2005 di Manila (Filipina), Kamboja memboikot. Kini saat Kamboja menjadi tuan rumah SEA Games 2023 dan memperkenalkan kun khmer, Thailand balas memboikot. Pradal serey/kun khmer yang dianggap serupa dengan muay thai (Refgear/Wikipedia)
- Resolusi Membatasi Haji
GUNA mempelajari Islam, Christian Snouck Hurgronje masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dia tinggal di Makkah dari Februari sampai Agustus 1885, selanjutnya ke Jeddah dan kembali ke Belanda pada 1886. Kemampuannya yang mumpuni perihal Islam membuat Snouck diangkat menjadi penasihat (adviseur) untuk masalah-masalah pribumi dan Arab. Dia tiba di Hindia Belanda pada 1889.
- Bokator dan Legenda Beladiri dari Peradaban Angkor
SEBAGAIMANA yang sudah-sudah, Kamboja sebagai tuan rumah SEA Games XXXII (5-17 Mei 2023) punya privilese mempertandingan cabang olahraga (cabor) khasnya. Salah satu cabor tradisional Tanah Khmer yang kali ini diikutsertakan adalah beladiri Kun Bokator. Kendati masih terdengar asing, bokator justru jadi tambang medali buat kontingen Indonesia. Dari cabor ini pula Indonesia meraih medali pertamanya sehari sebelum upacara pembukaan. Mengutip laman resmi Kemenpora, Kamis (4/5/2023), medali itu diraih oleh Alfadila Ramadhan. Ia memetik perak di nomor sprintform tunggal putra. Menyusul kemudian raihan medali perunggu atas nama Gema Nur Arifin di nomor bambooshield tunggal putra. Meski masih baru bagi para atlet tanah air, bokator justru jadi tambang medali buat kontingen Indonesia. Selama lima hari pertandingan (4-8 Mei 2023) di Changvar Convention Centre, Phnom Penh, Kamboja, tim bokator Indonesia total mengoleksi 20 medali: tiga emas, lima perak, dan 12 perunggu. Baca juga: Vovinam, Silat Kebanggaan Vietnam Tim bukator Indonesia yang berjaya di SEA Games 2023 ( kemenpora.go.id/NOC Indonesia) Sekilas, bokator atau kadang juga disebut labokatao seperti kickboxing dan muay thai asal Thailand, atau pradel serey/kun khmer dan yutakhun khom yang juga asal Kamboja. Kelima beladiri itu sama-sama mengandalkan lengan, sikut, lutut, dan betis untuk bertahan maupun menyerang. Atribut yang digunakan dalam bokator pun nyaris setali tiga uang dengan yang dipakai para petarung muay thai. Ada krama atau kain khas prajurit kuno Angkor yang dipakai di pinggang, lalu sangvar day atau lilitan sutera dijadikan ikat kepala dan lengan. Namun bedanya, muay thai cenderung beladiri tangan kosong, sementara bokator dalam beberapa gaya dan jurusnya menggunakan senjata. Selain dambong veng (toya panjang), ada dambong clei (tongkat pendek), tongkat bambu, hingga trabiet yang merupakan semacam alat pertanian ani-ani khas Khmer. Tentu saja, bokator punya akar sejarah berbeda dari beladiri-beladiri serumpun Indocina yang lain. Baca juga: SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi Seni beladiri bokator yang atributnya mirip dengan muay thai ( cambodia2023.com/federationkhmersakyant.com ) Legenda Pendekar Melawan Singa Seperti halnya beladiri kuno lain semisal silat di Nusantara atau gongfu/kungfu di Tiongkok, belum ada kepastian yang mencatat siapa yang memulai atau menciptakan bokator. Jika menilik atribut yang digunakan para petarungnya, bisa dibilang bokator sudah eksis sejak Peradaban Angkor atau era kejayaan Kekaisaran Khmer pada awal abad ke-9 hingga abad ke-15. “Bokator seni beladiri lokal yang dikembangkan dan digunakan para prajurit Angkor. Beladiri ini juga jadi pendahulu kickboxing Asia Tenggara. (Raja) Jayawarman VII yang memerintah Kekaisaran Khmer di akhir abad ke-12 disebutkan merupakan praktisinya. Secara luas juga dipercaya bahwa beladiri ini jadi kunci kesuksesan para raja Angkor yang mendominasi Asia Tenggara selama enam abad sejak 800 Masehi,” ungkap Chris Crudelli dalam The Way of the Warrior: Martial Arts and Fighitng Styles from Around the World. Baca juga: Melacak Jejak Pencak Silat Meski begitu, beladiri tersebut saat itu belum disebut “bokator”. Mengutip ulasan Joseph Curtin yang dimuat di Phnom Penh Post , 4 September 2015, “Back in the Ring and Fighting to be Remembered”, istilah “bokator” baru dimunculkan cendekiawan Buddha Sangha bernama Chuon Nath pada 1938. “Baik bokator maupun yutakhun khom tak disebutkan dalam (catatan) Angkor Wat, melainkan hanya terdapat dalam relief di tembok-tembok. Akan tetapi bokator disebutkan Chuon Nath yang menciptakan (kamus) bahasa Khmer,” ujar Presiden Federasi Bokator Kamboja cum sekjen Komite Olimpiade Kamboja, Vath Chamrouen, kepada Curtin. Patung dan relief di candi-candi Kamboja yang menggambarkan beladiri bokator ( clevelandart.org/Wikipedia ) Biksu Chuon merupakan reformis dalam bahasa tradisional dan melestarikannya lewat kamus bahasa Khmer modern pertama. Dalam kamus itu, lemanya dituliskan dalam ejaan bok-ah-tau , diambil dari kata labokatao dan punya makna “memukul singa.” Akar kata labokatao berkait dengan sebuah legenda yang terjadi dua ribu tahun lewat. Legenda itu menceritakan seekor singa yang mengacak-acak dan membuat kacau sebuah desa. Dari sekian penduduk, hanya seorang pendekar yang bernyali menghadapi singa itu. Sang pendekar berhasil mengalahkan sekaligus membunuh singa itu dengan tangan kosong lewat satu serangan lutut. Baca juga: Pencak Silat Warisan Mataram Menembus Zaman Seiring perjalanan waktu, beladiri yang digunakan pendekar itu dikembangkan dan disempurnakan menjadi beraneka teknik dan jurus oleh para prajurit Angkor. “Nama seni beladiri ‘labokator’ artinya melawan singa. Hingga kini ada sekitar 10 ribu teknik dalam bokator. Tentu saja akan sangat sulit mempelajari semuanya,” kata salah satu guru besar bokator, Sean Kim San, dikutip Curtin. Biksu Chuon Nath yang menghimpun kamus Khmer modern pertama (Repro: Bouddhisme au Cambodge: aperçu religieux Phnom-Penh 1962 ) Akan tetapi, di era rezim Khmer Merah yang dipimpin Pol Pot (1975-1979), bokator nyaris punah. Apa yang terjadi di Cina pada masa Revolusi Kebudayaan Mao Zedong (1966-1976) terjadi pula di Tanah Khmer. Segala bentuk seni, termasuk beladiri, diberangus dan dilarang Pol Pot. Alhasil para praktisi bokator terpaksa mengungsi ke luar Kamboja. Sean satu di antaranya. Praktisi beladiri yang juga mendalami hapkido itu harus mengungsi ke Amerika Serikat. Baru pada 2001 ia “pulang kampung”. Baca juga: Wing Chun Lahir dari Masa Pergolakan Tak dinyana, bokator sudah asing di telinga para penduduk Kamboja sendiri. Baru pada 2004, Sean mulai berusaha menghidupkan kembali bokator di negerinya. Ia mengumpulkan para murid baru dan mendidik para pengajar baru sebelum memprakarsai kejuaraan nasional bokator pertama pada 2006. “Kami seperti sudah tidur selama 1.000 tahun tapi pada 2004 menjadi kelahiran kembali bokator. Sebelumnya sama sekali tidak ada (bokator). Akibat Khmer Merah, segalanya mereka hancurkan,” kata Sean, disitat Taipei Times , 14 Oktober 2007. San Kim Sean, grandmaster yang menghidupkan kembali bokator ( sankimsean.com ) Sesudah bokator mulai bangkit, pemerintah Kamboja berupaya membuat bokator mendunia. Salah satunya dengan melobi UNESCO untuk mengakui bokator sebagai salah satu warisan dunia asal Kamboja sejak 2017. “Pada 2017, Kamboja meminta UNESCO untuk mendaftarkan seni beladiri bokator sebagai warisan budaya tak benda. Meski pastinya akan ada debat panas antara pihak Khmer dan Thailand setelah UNESCO menyingkap keputusan terhadap status bokator sebagai beladiri yang mirip dengan muay thai. Faktanya, banyak pihak di Kamboja yang memandang bahwa muay thai asal muasalnya dari bokator,” tukas Chanborey Cheunboran dalam Cambodia’s China Strategy: Security Dilemmas of Embracing Dragon. Baca juga: Dari Merpati Putih untuk Gajah Putih
- Agen dan Calo Haji
SEKELOMPOK warga Cilegon melayangkan sebuah surat kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Isinya soal kongkalikong Johanes Gregorius Marinus (J.G.M.) Herklots, bos agen perjalanan haji The Java Agency, dengan Wedana Cilegon Entol Goena Djaja. Untuk menjaring jemaah haji sebanyak-banyaknya, perusahaan haji itu menggunakan jasa pejabat lokal dan keluarga mereka. Hadiahnya: tiket gratis ke Makkah.
- Enamel dan Modernitas
SEORANG lelaki berpeci, berbaju koko dengan paduan kain sarung bermotif batik, tengah asyik menikmati sebatang rokok sembari berjongkok. Asap mengepul. Belum juga habis, tangannya yang menggenggam sebungkus tembakau dan sehelai kertas papir siap membuat lintingan rokok lagi. Di bawah ilustrasi gambar tersebut, tertera sebaris teks: “Warning Ingat-ingat!! Tjoema Tembaco Shag Tjap Boelan Bintang Njang Toelen.”
- Pemuda Indonesia Melawan Nazi
10 Mei 1940, Nazi Jerman melancarkan serbuan ke Belanda. Anak-anak muda Indonesia ini turut memerangi Nazi yang menduduki Belanda.
- Penantian Partenopei dan Memori Maradona
CUKUP dengan satu poin, SSC Napoli akhirnya menuntaskan dahaga gelar Serie A selama 33 tahun pada Kamis, 4 Mei 2023 kemarin. Hasil imbang 1-1 saat bertandang ke markas Udinese pada giornata ke-33 yang diraihnya otomatis menyegel gelar scudetto bagi tim besutan Luciano Spalletti tersebut. Serie A musim 2022-2023 sendiri masih menyisakan lima partai lagi. Tapi koleksi 80 poin Il Partenopei (julukan Napoli) di puncak klasemen takkan lagi bisa dikejar SS Lazio yang berada di urutan kedua dengan selisih 16 poin. Titel ini jadi scudetto ketiga Napoli sepanjang sejarah klub. Sebelumnya, Napoli meraih dua gelar serupa pada musim 1986-1987 dan 1989-1990. Keduanya ketika masih diperkuat bintang legendaris Diego Maradona. Fans tim tamu menggila di Dacia Arena, kandang Udinese. Begitupun pelatih Spalletti dan para pemain Napoli di ruang ganti tamu. “Melihat Partenopei tersenyum dan bergembira adalah emosi terhebat buat saya. Mereka semua laik kebahagiaan ini. Saya merasa bisa sedikit rileks karena bisa mengantarkan kebahagiaan itu. Para fans melihat banyak pelatih datang dan pergi. Mereka melihat Diego Maradona bermain dan mungkin semangatnya masih terasa dalam kesuksesan ini,” kata Spalletti kepada DAZN , dikutip Football-Italia , Jumat (5/5/2023). Baca juga: Serigala Roma Menggebrak Eropa Selebrasi skuad Napoli di ruang ganti Dacia Arena (kiri) dan fans di Stadio Diego Armando Maradona (Twitter @sscnapoli/@SerieA) Kenangan 33 tahun lampau bersama Maradona memang sudah berlalu. Namun, nama Maradona masih terpatri dalam hati dan ingatan segenap Neapolitan (julukan warga kota Napoli). Salah satu bukti terbesarnya, Presiden klub, Aurelio De Laurentiis, mengganti nama Stadion San Paolo menjadi Stadio Diego Armando Maradona sembilan hari pasca-wafatnya Maradona, 4 Desember 2020. Di Stadio Diego Armando Maradona itu pula 50 ribu fans Napoli yang tak ikut bertamu ke Dacia Arena, berkumpul menyaksikan laga Udinese kontra Napoli lewat layar besar di stadion. Begitu peluit terakhir berbunyi, De Laurentiis yang menyelamatkan Napoli dari jurang kebangkrutan pada 2004 itu berbicara di hadapan fans setia Napoli. “Kalian selalu bilang bahwa kita ingin menang. Dan kita telah menang! Kita memenangkannya bersama. Dan pada Minggu (7/5/2023) saat menjamu Fiorentina, kita semua akan mengadakan pesta besar,” tutur De Laurentiis, disitat Football-Italia , Jumat (5/5/2023). Baca juga: Diego Maradona dalam Kenangan Presiden SSC Napoli, Aurelio De Laurentiis yang turut berbangga klubnya meraih gelar Scudetto ketiga (Twitter @sscnapoli/@SerieA) Magis Maradona Menghiasi Sejarah Partenopei Kendati sama-sama dibidani orang Inggris atau terinspirasi dari Inggris, sepakbola modern di Italia yang mulai hadir pada akhir abad ke-19 lebih dulu berkembang di bagian utara. Pendirian Torino Football and Cricket Club oleh Edoardo Bosio, saudagar Italia yang sering berdagang tekstil di Inggris, di kota Torino pada 1887 menjadi penandanya. “Di selatan Italia dan Roma, sepakbola modern terlambat berkembang jika dibandingkan dengan di utara Italia. Di kota Napoli, William Poths dari perusahaan pelayaran Cunard Lines yang bersama tokoh lokal, Ernesto Bruschini, mendirikan Naples Foot-Ball & Cricket Club (FCC) pada 1905,” ungkap Stuart dan Philip Laycock dalam buku How Britain Brought Football to the World. Kendati telat, sepakbola begitu cepat digandrungi masyarakat di Napoli seperti halnya di beberapa kota lain. Beberapa klub lain pun bermunculan di kota itu. Setelah Football Club Partenopeo yang juga lahir medio 1905, ada Unione Sportiva (US) Internazionale Napoli yang berdiri enam tahun berselang. Baca juga: Di Balik Derby della Madonnina US Internazionale Napoli merupakan pecahan dari klub perintis, Naples FCC. Perpecahannya disebabkan sengketa di internal klub. Namun, kedua tim itu “rujuk” 11 tahun kemudian atas nama kesehatan finansial. “Kedua tim itu, Naples FCC dan US Internazionale Napoli menjadi rival hingga 1922, di mana keduanya akhirnya merger karena alasan keuangan. Banyak nama yang lantas datang dan pergi. Prestasi tim pun naik-turun dari Serie A ke Serie B sampai performa mereka menemukan stabilitasnya pada 1964 ketika sudah menyandang nama Società Sportiva Calcio (SSC) Napoli,” tulis Luke Dempsey dalam Club Soccer 101: The Essential Guide to the Stars, Stats, and Stories of 101 of the Greatest Teams in the World . Skuad SSC Napoli di musim 1926 ( ricardocassero.it ) Kendati begitu, Napoli terus jadi sekadar klub medioker. Klub itu hanya pernah jadi juara Serie B musim 1945-1946 dan 1949-1950. Prestasi terbesarnya hanya trofi Coppa Italia semata, yang diraih pada musim 1961-1962 dan 1975-1976. Itu semua berubah pada 1984, ketika Maradona menginjakkan kakinya di Napoli. Terlepas dari isu campur tangan mafia Camorra, Maradona didatangkan presiden klub Corraido Ferlaino dari FC Barcelona dengan mahar 6,9 juta poundsterling pada bursa transfer musim panas medio Juni 1984. Baca juga: Titel Juara Barcelona yang Tak Diakui Maradona memang butuh lingkungan baru. Sejak 1982-1984, ia gagal bersinar di Barcelona gegara diterpa cedera, penyakit hepatitis, dan godaan kehidupan malam. Manajemen Barcelona ikhlas melepasnya ke Napoli usai memicu perkelahian di hadapan Raja Juan Carlos pada final Copa del Rey 1984. “Ketika saya melihat semua kejadiannya dari mulai Maradona berkelahi hingga kekacauan yang mengikuti, saya menyadari kami tak bisa lagi bersamanya,” tutur seorang petinggi Barcelona yang tak disebutkan namanya, dikutip jurnalis investigasi Inggris, Jimmy Burns, dalam Maradona: The Hand of God. Momen Diego Armando Maradona menyapa publik Napoli di Stadio San Paolo (Twitter @AS_Historia) Meski begitu, proses perpindahan Maradona dilakukan kedua petinggi klub secara rahasia. Pertemuan dilakukan beberapa kali antara Mei-Juni 1984 oleh direktur umum Antonio Juliano yang mewakili Ferlaino; Jorge Cyterszpiler, agen Maradona; dan Presiden Barcelona Joan Gaspart. “Negosiasi terkait transfer Maradona terjadi dalam beberapa kali pertemuan rahasia yang melibatkan Juliano dan Cyterszpiler di Barcelona dan di Pulau Ischia dekat Napoli pada Mei dan Juni 1984. Menjelang penutupan jendela transfer Ferlaino buru-buru terbang sendiri ke Barcelona karena tahu Juventus juga mengincarnya. Sesampainya di Hotel Reina Sofía, meski dibuat menunggu lama, kesepakatan pun tercapai antara Ferlaino dan Gaspart,” lanjut Burns. Baca juga: Diego Maradona dalam Pangkuan Mafia Maradona pun resmi jadi milik Napoli dan pada 5 Juli 1984 dan langsung diperkenalkan ke hadapan publik di Stadio San Paolo. Raut wajah Maradona begitu cerah saat menyapa sekira 85 ribu fans yang menyesaki stadion dan terus menggemakan chant “Diego, Diego, Diego!” Ia berterimakasih Napoli bersedia memungutnya dari Barcelona. Ia pun siap untuk memberi mukjizat kepada warga kota termiskin di Italia itu. Janji Maradona bukan “janji surga”. Kendati ia tak bisa lepas dari jeratan dan pergaulan kelompok mafia Camorra, magis Maradona mengantarkan tinta emas sejarah klub dengan mempersembahkan scudetto pertama buat Napoli pada musim keduanya, 1986-1987. Dua tahun kemudian, musim 1989-1990, titel kedua dipersembahkannya sekaligus mendobrak dominasi klub-klub utara Italia macam AC Milan, Inter Milan, dan Juventus. “Perayaannya begitu dahsyat. Pesta digelar di jalan-jalan kota. Karnaval digelar selama seminggu penuh. Para Neapolitan juga membuat teatrikal pemakaman untuk mengejek Juventus dan Milan. Mei 1987, di mana klub Italia lainnya keok, sebuah kekaisaran baru telah lahir,” tulis David Goldblatt dalam The Ball is Round: A Global History of Football. Perayaan Diego Maradona dan fans Napoli usai meraih Scudetto pertama di musim 1986-1987 ( SportWeek edisi ke-6, Mei 1987/Twitter @thesetpieces) Total Maradona mengisi lemari prestasi klub dengan lima gelar. Selain dua gelar juara Serie A, Maradona juga berjasa besar bagi Napoli kala merebut Coppa Italia 1986-1987, UEFA Cup (kini Europa League) 1988-1989, dan Supercoppa Italiana 1990. Keberhasilan Maradona mengangkat derajat klub ikut menaikkan prestis kota yang didiskriminasi oleh kota-kota utara itu. Maradona pun dianggap dewa. Hal itu membuat fans klub terpecah ketika menghadapi laga semifinal Piala Dunia 1990 yang mempertemukan Argentina dan Italia di stadion yang jadi kandang Maradona, San Paolo. “Orang-orang Neapolitan benar-benar terpecah antara mendukung Azzurri dan ikon mereka, dengan banyak spanduk untuk Maradona dan untuk sekali dalam kompetisi itu keheningan penuh hormat selama lagu kebangsaan Argentina,” tulis jurnalis Susy Campanale dalam artikelnya di football-italia.net , “Italy vs Argentina 1990: When Maradona Exposed Italy’s Cultural Divide”. Apa yang diberikan Maradona menjadi warisan yang bertahan selama 33 tahun. Capaian itu baru bisa diulangi lagi oleh Napoli tahun ini. “Hari ini ekspektasi selama 33 tahun berbuah manis. Saat saya datang (2004), saya bilang akan butuh 10 tahun untuk tampil di Eropa, kita mampu mencapainya lebih awal. Saya juga bilang butuh 10 tahun lagi untuk menang Scudetto , dan kita meraihnya lagi beberapa tahun lebih awal. Ke depan kita harus memenanginya lagi dan lagi dan lagi. Proyek bersama Spalletti ini takkan berhenti dan ini menjadi titik awal bagi saya yang akan dilanjutkan bersma Spalletti,” tukas De Laurentiis. Baca juga: Sisi Terang dan Gelap Diego Maradona
- Soeharto Capek Jadi Presiden
Selama 20 tahun mendampingi Presiden Soeharto sebagai menteri, terselip satu pertemuan paling berkesan bagi Emil Salim. Titimangsa 1993, Soeharto memanggil Emil secara pribadi ke kediamannya di Jalan Cendana 8, Menteng, Jakarta Pusat. Pada awal pertemuan, Soeharto banyak bicara soal filosofi Jawa kepada Emil yang orang Minang itu.
- Seputar Persoalan Eksil
SAYA memanggilnya Oom Nug. Nama lengkapnya Nunu Nugroho. Tapi saya ragu itu nama lengkap sesungguhnya. Bukan masalah untuk saya. Yang lebih menarik buat saya adalah kisah hidupnya: lahir sebagai anak dari kalangan priayi, ikut perang kemerdekaan di Yogyakarta, menggabungkan diri dengan gerakan kiri, bekerja sebagai wartawan Harian Rakjat milik Partai Komunis Indonesia (PKI), dan berakhir sebagai eksil di Belanda. Oom Nug punya kemampuan menertawai diri sendiri, bahkan untuk kisah-kisah yang bagi kebanyakan orang terbilang heroik. Gambaran perang kemerdekaan yang penuh dengan kisah kepahlawanan dan patriotisme mendadak jadi cerita yang sangat manusiawi di tangannya. Suatu kali dia menceritakan kepada saya bagaimana reaksi tentara Indonesia ketika disergap pesawat tempur cocor merah milik Angkatan Udara Belanda. “Bubar semua, pada lari ketakutan,” ujarnya terkekeh. Padahal saat itu dia dan kompatriotnya ditugasi menjaga sebuah perbukitan di pinggiran Yogyakarta.
- Kiprah Darwis Djamin dan ALRI Tegal
Pendudukan Jepang membawa “berkah” tersendiri bagi kota Tegal. Di kota itu didirikan Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT). Sekolah tersebut melatih calon perwira kapal kayu untuk militer Jepang. Namun, Tegal bukan satu-satunya kota yang punya SPT di zaman Jepang. Jakarta dan Semarang juga mempunyainya. Setelah Indonesia merdeka, Tegal menjadi kota pelabuhan yang sangat penting bagi Republik Indonesia. Banyak pelaut dari SPT Jakarta dan Semarang datang ke Tegal. Di antara mereka bahkan menjadi bagian dari Pangkalan IV Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) yang bermarkas di Tegal. Kala itu Pangkalan IV dipimpin Darwis Djamin, yang menjadi panglima sejak zaman Laksamana III Mas Pardi menjadi Kepala Staf Umum Angkatan Laut RI. Darwis Djamin termasuk perwira yang setia kepada Mas Pardi. Baca juga: Tan Malaka dan Angkatan Laut di Surabaya “Di bawah Darwis Djamin, Panglima ALRI Pangkalan IV, roda ekonomi mandiri di kawasan pangkalannya bahkan meluas ke sekitar Tegal. Ini berkat swasembada pembangunan niaga dan industri maritime,” jelas Kapten HO Bunsaman di Majalah Mutiara nomor 317, 28 Maret-10 April 1984. Darwis Djamin sendiri, menurut Dharmasena edisi November 1987 nomor 6, datang dari Demak ke Tegal. Dia mulanya seorang pengusaha. Darwis merupakan jebolan sekolah guru HIK dan pernah jadi guru di Europe Ambachtsschool (sekolah tukang) Padang. Sewaktu pendudukan Jepang, dia menyamarkan identitasnya sebagai pengelola toko hasil bumi bernama Asia Raya. Darwis Djamin, sebagaimana disebut Bunsaman, sebagai bekas intel zaman Jepang. Arsip Kementerian Pertahanan RI nomor 389 membuktikan pernyataan tersebut. Darwis Djamin, kata arsip tersebut, dulunya “adalah anggota dari dinas rahasia Jepang dengan nama Nami Kikan (Osamu Butai 1602) di bawah Utjiyama. Dinas rahasia ini terutama mengenai laut.” Baca juga: Kisah Taruna Indonesia dalam Angkatan Laut Belanda Darwis Djamin mengumpulkan bekas anak-anak pelayaran dan mendirikan Handels Scheepvaart Maatschappij (Perusahaan Pelayaran Niaga) yang bergerak di bidang ekspor-impor. Kapal yang dipakainya untuk berdagang adalah milik butai (satuan) yang menaungi kegitan intelijennya. Dari intelijen Jepang, Darwis Djamin belajar soal intelejen Angkatan Laut. Selain Darwis, pemuda lain yang direkrut Butai adalah Amir Hoesein. Di bawah komando Darwis, Pangkalan IV Tegal menjadi “sarang penyelundup” yang berjasa besar bagi Republik Indonesia. Lewat Tegal itulah para pejuang bisa mendapat tambahan senjata dari luar. Darwis yang sebagai pengusaha memiliki banyak relasi, tidak kesulitan menjalankan aktivitas penyelundupan itu. Dalam hal pembiayaan, di Jakarta dia bermitra dengan Lip Seng & Co. yang ada di Glodok. Kiprah Darwis akhirnya mendapat dukungan dari pengusaha “Kiblik” lain, semisal Agus Dassaad. Pengusaha yang dekat dengan Bung Karno itu menjadi “bohir” penting dalam penyelundupan senjata di Pangkalan IV itu. Suatu kali, Dasaad dan Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang kelak berjuluk “Raja Mobil Indonesia”, berhasil menyelundupkan senjata dalam jumlah besar ke Tegal lewat “kongsian” dengan seorang perwira Inggris. Baca juga: Duet Pengusaha Indonesia Selundupkan Senjata “Suatu senja Dasaad mengundangku datang ke rumahnya. Di sana aku dapati seorang mayor Inggris. Ia datang bersama istrinya. Ia punya senjata. Dan ia tahu Republik memerlukannya. Dan ia akan menyerahkan senjata itu kalau diberi uang,” kata Hasjim dalam otobiografi yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning. Dengan peran sebagai “sarang penyelundupan”, Pangkalan IV menjadi pangkalan vital bukan saja untuk ALRI tapi juga perjuangan republik. Sumber daya modal yang berhasil dikumpulkan ALRI IV Tegal itu membuat mereka mampu membuat empat kapal kayu yang diberi tulisan Cina sehingga mampu mengibuli patroli laut Belanda. Saat itu Belanda sedang memblokade RI di lautan. ALRI IV juga sampai bisa mengadakan Latihan Opsir di Kalibakung, selatan Tegal. Selain itu, Pangkalan Tegal mengambil peran penting dalam kelahiran Korps Marinir. Di pangkalan inilah berdiri kesatuan tempur bernama Corps Manirier yang disebut Corps Armada IV (CA-IV). CA IV merupakan cikal-bakal Korps Marinir. Hadirnya pasukan dengan kemampuan tempur di tubuh ALRI itu tak lepas dari kedatangan bekas KNIL dan Angkatan Laut Belanda (Wakidjo dan Tukiran) ke Tegal. Namun, Darwis Djamin tidak lama menjadi panglima di ALRI IV. Menurut Hasjim Ning, dia ditangkap karena Peristiwa 3 Juli 1946. Dia dekat dengan kelompok Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) Tan Malaka. Posisinya selaku panglima di Tegal lalu digantikan Mayor Sunar Suroputro. ALRI IV kemudian tak bisa dipertahankan setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Setelah perang antara RI-Belanda mereka, Darwis Djamin terjun ke dunia pelayaran. Dia salah satu pendiri maskapai Djakarta Lloyd. Sementara, Sunar yang menggantikannya di Tegal juga mendirikan Pepuska yang berkembang menjadi Pelni.
- Seteru Saudara Sepupu
ZULKIFLI Lubis dengan A.H. Nasution menjalin hubungan yang aneh. Secara pribadi, keduanya saudara sepupu. Keduanya sama-sama muslim yang taat, sederhana, konstitusionalis, serta antikorupsi dan antikomunis. Namun alih-alih saling mendukung, hubungan mereka malah lebih sering berlawanan. Pergolakan politik pada 1950-an sering kali bermuara pada konflik Lubis-Nasution.





















