Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Aristokrat yang Progresif
SUATU hari, pukul 06.00, pesawat-pesawat Belanda berputar-putar di atas Gedung Kepresidenan Yogyakarta (kini Gedung Agung). Demi menghindari bahaya dari agresi militer Belanda I itu, Presiden Sukarno mengungsi ke kediaman Saluku Purbodiningrat, rekannya ketika kuliah di Technische Hoogeschool (THS, sekarang Institut Teknologi Bandung).
- Menghirup Sirup dan Air Belanda
MINUMAN sirup kerap jadi pilihan menu berbuka puasa di bulan Ramadan. Tak hanya disajikan dengan es yang menyegarkan, minuman manis beraneka rasa dan warna ini juga dikombinasikan dengan bahan makanan lain, seperti buah-buahan hingga jeli agar semakin menarik dan menggugah selera. Sirup tak hanya disukai orang-orang di masa kini, minuman manis ini juga kesukaan banyak orang di masa lampau. Justus van Maurik, wisatawan Belanda yang dikenal sebagai pengusaha cerutu, saat berwisata ke Jawa pada 1800-an telah mendapati minuman sirup. Sejarawan Universitas Indonesia Achmad Sunjayadi mencatat, Maurik melihat di warung yang berada di kawasan permukiman orang-orang Tionghoa dijajakan berbagai makanan dan minuman, namun yang menarik perhatiannya adalah bermacam-macam minuman sirup rasa buah-buahan dalam botol. “Maurik berpendapat orang Tionghoa adalah peniru terbaik minuman-minuman Eropa,” tulis Achmad Sunjayadi dalam “Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Hindia Belanda”, termuat dalam Titik Balik Historiografi di Indonesia . Baca juga: Sejarah Air Minum Kemasan Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin menyebut kebiasaan mencampur air dengan limun, kayu manis, buah pala, serta bahan-bahan penyedap lainnya memang telah populer di kalangan masyarakat Asia Tenggara, tak terkecuali Nusantara, pada masa itu. Terkait kebiasaan minum sirup di kalangan masyarakat Nusantara, dalam Indisch Lexicon yang diterbitkan Brill, Maurik berpandangan bahwa sirup seakan menjadi minuman alternatif bagi orang-orang Melayu dan Jawa yang tidak meminum minuman keras. Biasanya mereka minum limun atau sirup buah sembari menikmati kue kering, lupis, atau buah-buahan. Sementara di kalangan orang-orang Eropa, khususnya Belanda, limun dan seltzelwater merupakan beberapa di antara minuman favorit mereka. Mengutip buku De Haan, Threes Susilawati dalam Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe menulis, sebagian orang Belanda biasa meminum seltzelwater , yakni air impor yang pada masa itu banyak didatangkan dari luar negeri dan dikenal dengan nama “ayer Belanda”. “Harganya mahal sekali: satu ringgit ( rijksdaalder atau dua ratus lima puluh sen) per guci (kruik) kecil,” tulis Threes. “Sudah barang tentu hanya orang-orang kaya raya saja yang kuat membayarnya.” Baca juga: Segarnya Sejarah Es “Ayer Belanda” atau “air Belanda” masih dikenal oleh penduduk di Batavia hingga Perang Dunia II, namun lambat laun minuman ini lebih dikenal denga nama “air soda” dan mulai diproduksi di dalam negeri. Salah satu pabrik yang memproduksinya adalah Lourdes yang juga memproduksi limun dan sirup di Batavia. Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia menyebut Tjhin Loeng Dji sebagai salah satu pendiri pabrik minuman Lourdes. Sebelum mendirikan pabrik minuman, pria kelahiran Mei Hsien, Kwangtung tahun 1877 itu berangkat ke Jepang pada 1907 untuk masuk Sekolah Kedokteran Chiba University dan lulus sebagai dokter tahun 1913. Pada tahun yang sama, Tjhin Loeng Dji bersama istrinya, seorang perawat Jepang, pergi ke Batavia dan menjalankan praktik dokter. Pamornya sebagai dokter cukup tersohor, resepnya pun dikenal sebagai obat masuk angin cap pedang dan antidiare. Bersama dengan kawan-kawannya, ia kemudian mendirikan pabrik limun merek Lourdes. Baca juga: Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi Mengutip surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad , 18 November 1930, pabrik minuman Lourdes memulai bisnisnya pada 22 November 1920 di Drossaerweg (kini kawasan Asem Reges) yang berada di area Sawah Besar. Besarnya minat masyarakat membuat pabrik-pabrik pembuatan limun dan air soda bermunculan di berbagai wilayah. Bahkan mendorong munculnya “air Belanda” palsu di pasaran. Guna mencegah hal tersebut, sejumlah pihak mengusulkan agar dilakukan pemeriksaan berkala dan pengawasan yang ketat di pabrik-pabrik yang memproduksi “air Belanda”. Selain itu, beberapa pihak juga mengusulkan agar penelitian terkait limun dan “air Belanda” rutin dilakukan dan dipublikasikan secara berkala di surat kabar, seperti halnya susu. Hal itu untuk meminimalkan risiko kesehatan akibat mengonsumsi minuman tersebut. Baca juga: Cola Islami Melawan Hegemoni Sementara itu, kemunculan pabrik es di Hindia Belanda memungkinkan minuman dingin tak hanya dinikmati kalangan atas dan orang-orang berduit. Minat terhadap minuman ringan pun semakin bertambah hingga pada abad ke-20 muncul minuman berkarbonasi impor seperti Coca-Cola. Mengutip Merek Dagang Bertahan Lama: Bagaimana Mereka Bisa Bertahan? terbitan Pusat Data Analisis Tempo, Coca-Cola masuk ke Hindia Belanda pada 1927. Minuman itu dibawa oleh orang Belanda yang bermukim di Batavia. Pada 1932, perusahaan pembotolan Coca-Cola berdiri pertama kali di kawasan Pasar Baru, Batavia. Diketahui perusahaan itu milik orang Belanda. Tak jauh berbeda dengan orang-orang di masa lalu, sirup maupun minuman ringan masih banyak digemari oleh orang-orang di masa kini. Tak hanya dijual dengan berbagai macam rasa, minuman ringan tersebut juga dijual dengan beragam ukuran yang dapat dipilih sesuai kebutuhan.*
- Why the Dutch Army Burned Down Prambonwetan
A SHORT message came to my inbox that day from Marjolein van Pagee, a Dutch historical journalist, who informed me that the filming of the short documentary Patrouille Teeken: Reis naar Prambon Wetan (Teeken Patrol: The Journey to Prambon Wetan) has wrapped. "You can watch it on youtube.com now," Marjolein texted.
- Israel dan Soal Setengah-Setengah
PARA siswa yang sedang mengikuti pelajaran di kelas tiba-tiba saja panik dan tiarap berlindung dari serangan teroris yang masuk mendadak sembari menembaki mereka membabi buta. Setelah menghamburkan peluru senapan otomatis ke segala penjuru kelas, para teroris itu langsung lenyap meninggalkan kelas yang berantakan. Seorang pengajar yang beberapa menit sebelumnya masih aktif mengajar, tergeletak bersimbah darah. Belum lagi sirna rasa kaget, tiba-tiba pengajar yang tewas itu berdiri dan meminta siswanya untuk kembali merapikan kelas dan duduk di kursi masing-masing. “Saya meminta kalian mengidentifikasi pelaku penyerangan tadi,” katanya. Sontak para siswa yang masih kalut itu terkesiap menjawab semampunya. Kisah serangan teroris ke sebuah kelas itu diceritakan oleh dua mantan agen Mossad Victor Ostrovsky dan Claire Hoy dalam bukunya Mossad: Tipu Daya yang Dibeberkan oleh Mantan Agen Dinas Rahasia Israel. Victor dan Claire mengungkapkan bagaimana para calon agen Mossad direkrut dan dididik sebelum mereka menjalankan berbagai operasi intelijennya di seluruh dunia. Buku itu saya baca puluhan tahun lalu, namun kisah di dalamnya masih melekat erat dalam ingatan. Membentuk semacam imajinasi tentang operasi intelijen yang penuh konspirasi untuk mengendalikan berbagai macam hal demi kepentingan Israel. Tak heran jika desas-desus mengenai konspirasi ini selalu jadi rujukan terakhir atas berbagai peristiwa yang terjadi di dunia. “Konspirasi Wahyudi,” kata orang membikin olok-olok atas cerita keterlibatan agen-agen Mossad. Tapi memang sepak terjang agen dinas rahasia Israel ini selalu menjadi kisah yang fantastis, entah memang dibuat-buat atau memang demikian kenyataannya. Paling tidak melalui film Munich karya sutradara Steven Spielberg kita bisa menyaksikan bagaimana agen-agen Mossad dikerahkan untuk membalas dendam atas kematian sebelas atlet Israel dalam Olimpiade di Munich, Jerman 1972. Mereka mempelajari, menelusuri, dan memburu para pelaku sampai tunai dendam terbalaskan. Dengan menampilkan sepotong fragmen pembalasan, maka agen-agen Mossad dalam film itu tampil sebagai pihak yang dibenarkan untuk melakukan kekerasan atas nama pembalasan. Konteks dari rangkaian cerita kekerasan dalam film itu tak pernah tampil seutuhnya: penjajahan Israel atas tanah Palestina beserta kekerasan militer Israel terhadap warga sipil Palestina. Sebagai penggalan kisah atas realitas historis, film memang tak punya banyak pilihan untuk menampilkan cerita secara kronologis A-Z. Tapi bagaimana dengan kehidupan nyata sebuah bangsa ketika dihadapkan kepada pilihan satu di antara dua yang melibatkan Israel di dalamnya sebagaimana dilema Piala Dunia U-20 di Indonesia? Dalam persoalan ini, masing-masing pilihan punya kebenaran dan rasionalisasinya sendiri-sendiri. Selama tiga dekade lebih sepakbola kita tak pernah mencapai puncak kejayaan baik di wilayah regional apalagi internasional sekelas Piala Dunia. Maka ketika Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20, segenap orang bergembira menyambut keputusan itu sebagai tiket emas menuju Piala Dunia tanpa harus melalui babak kualifikasi. Semacam jalur potong kompas, serba pragmatis. Salah? Tentu saja tidak, tergantung tujuannya. Apabila tujuannya memenuhi hasrat diri tampil pada ajang dunia karena rentetan kegagalan bertanding secara murni melalui babak kualifikasi, maka boleh-boleh saja. Apalagi melihatnya sebagai kesempatan untuk menjadi penyelenggara acara dengan motif ekonomi di balik kegiatan tersebut. Betapapun dengan risiko gawang timnas U-20 kebobolan berkali-kali oleh lawan yang memang masuk ke putaran Piala Dunia U-20 melalui babak kualifikasi yang kompetitif. Dalam posisi seperti ini keterlibatan Israel seperti bukan jadi soal besar lagi. Lain lagi soalnya kalau merujuk kepada amanat konstitusi Republik Indonesia dan sejarah penyelenggaraan ajang olahraga di Indonesia, seperti yang pernah terjadi pada Asian Games 1962. Sikap Indonesia saat itu kukuh menolak kehadiran Israel dan Taiwan berbuntut panjang pada sanksi Komite Olimpiade Internasional (IOC). Risiko itu dihadapi dengan kepala tegak sebagai bagian dari komitmen Indonesia di bawah Sukarno untuk turut dalam membebaskan bangsa-bangsa yang masih di bawah kolonialisme. Maka saat sanksi dijatuhkan kepada Indonesia, alih-alih manut, Bung Karno malah menggagas Games of the New Emerging Forces (Ganefo). Walaupun diselenggarakan di tengah hujatan negeri-negeri Barat dan tuduhan IOC bahwa Indonesia mencampuradukkan olahraga dengan politik, penyelenggaraan Ganefo, 10–22 November 1963 berlangsung sukses. Ajang pertandingan olahraga rada nekat ini pun melambungkan nama Indonesia dan Sukarno. Bagaimana tidak, ada sebuah negeri yang baru saja merdeka dua dekade berani mendobrak tradisi lama sekaligus menciptakan tradisi baru dalam ajang olahraga dunia. Kalau kita perhatikan, sikap itu datang dari keteguhan memegang prinsip dan komitmen tinggi pembebasan negeri-negeri jajahan yang saat itu masih belum semua merdeka. Fakta itulah yang juga mengundang decak kagum sejarawan tenar asal Belgia David van Reybrouck sehingga ia menulis buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Baru. Dalam buku itu ia melihat peran penting Indonesia dalam membantu perjuangan bangsa-bangsa jajahan lainnya untuk merdeka sebagaimana ditunjukkan dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 1955 yang melahirkan spirit pembebasan bangsa-bangsa terjajah. Kalau sudah begini saya jadi berandai-andai: kalau saja Bung Karno sekarang masih ada, mungkin keputusan FIFA mencoret Indonesia sebagai penyelenggara Piala Dunia U-20 akan dilawannya dengan membuat ajang tandingan: Ganefoot (Games of the New Emerging Football Teams). Tapi kayaknya spirit nekat ala Bung Karno perlu juga kita tiru sekarang. Supaya tak setengah-setengah dalam bersikap. Benar juga apa kata Multatuli, “Sikap setengah hati tidak akan menghasilkan apa-apa. Setengah baik berarti tidak baik. Setengah benar berarti tidak benar.”*
- Ziarah ke Kota Merah
BANGUNAN itu seperti terlontar dari masa lalu, berdiri di antara permukiman baru, yang didirikan berpuluh tahun kemudian. Ia kini teronggok, renta, dan hanya menunggu waktu robuh lantas tersisa sebagai puing. Rumput liar tumbuh di pekarangan. Buah busuk dan beragam bebijian terserak di lantai dalam, sisa makan malam kelelawar. Sinar matahari masuk ke dalam ruangan melalui atap yang belubang dan langsung jatuh menerpa lantai yang kotor berdebu.
- Dari Kalibakung ke Sarangan lalu Mabes TNI AL
SUDOMO (1926–2012) salah satu peserta pelatihan Special Operation di Sarangan, Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Ia sebangku dengan Josaphat Sudarso, yang disebut pelaut asal pedalaman, karena ia lahir di Salatiga, wilayah perbukitan di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Mulanya pelatihan Special Operation diselenggarakan oleh Bagian V (KP-V), badan intelijen Kementerian Pertahanan. Setelah Bagian V dibubarkan, pelatihan dilanjutkan di bawah Angkatan Laut. Peserta pelatihan 31 orang bekas siswa Latihan Opsir Kalibakung dan tiga orang dari Kementerian Pertahanan. Julius Pour dalam biografi Laksamana Sudomo Mengatasi Gelombang Kehidupan menyebut setelah menyelesaikan pelatihan, Sudomo ditempatkan di Markas Besar Angkatan Laut di Gondokusuman. Kawan-kawannya disebar ke tempat lain. Ada yang kemudian bergerilya di pergunungan melawan tentara Belanda, ada pula yang masih berjuang di bidang kelautan. Seperti Sudomo memimpin training station di Aceh. Baca juga: Bekas Kampung Jerman di Sarangan Setelah Yogyakarta diserbu tentara Belanda, para perwira Markas Besar Angkatan Laut di Yogyakarta bergerak ke Imogori, selatan Yogyakarta. Jos Sudarso termasuk perwira yang ikut bergerilya di daerah yang dikenal sebagai tempat makam raja-raja Jawa itu. Ada pula perwira yang masih berada di Sarangan pada akhir 1948, yakni Letnan Fritz Suak. Perwira berdarah Minahasa ini, menurut catatan Urip Subyanto dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan II , memimpin pasukan tempur yang disegani tentara Belanda di sana. Belakangan perwira kelahiran Bandung, 2 April 1923 ini pernah menjadi komandan KRI Irian , yang di zaman Sudomo jadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), dihilangkan oleh negara dari daftar inventaris negara. Konon karena negara tidak sanggup mengongkosi. Sebelum Belanda datang, ada siswa Special Operation yang terluka ketika operasi pembersihan kelompok kiri dalam Peristiwa Madiun 1948, yakni Letnan Kusumobroto yang tertembak di tangan dan dada serta Letnan Sumarsono yang separuh badannya terluka. Baca juga: Latihan Melawan Belanda di Sarangan Kebanyakan lulusan Special Operation kemudian meneruskan kariernya di Angkatan Laut. Awal dekade 1960-an terjadi kenaikan pangkat besar-besaran di Angkatan Laut. Ada yang masih kapten pada 1959, setelah 1960 tidak hanya menjadi mayor tapi juga kolonel atau komodor. Di antaranya mereka yang berasal dari perwira pelatihan Special Operation. Kala itu, KSAL dijabat Laksamana Raden Eddy Martadinata, bekas kepala pendidikan Special Operation. Salah satu muridnya Jos Sudarso menjadi deputi operasi KSAL dengan pangkat komodor. Dengan keberaniannya, Jos Sudarso pergi ke Irian Barat menggunakan kapal yang persenjataannya lemah. Ia gugur dalam Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Setelah Laksamana Madya R.E. Martadinata meninggal dunia pada 6 Oktober 1966 dalam kecelakaan helikopter, posisi KSAL diisi oleh Laksamana Madya Muljadi (1924–1972). Seperti Jos Sudarso, Muljadi juga siswa Special Operation. Ia menjadi KSAL hanya sampai 1969, setelahnya ia menjabat duta besar untuk Uni Soviet. KSAL lalu dijabat oleh Laksamana Sudomo juga murid Latihan Opsir Kalibakung dan Special Operation. Baca juga: Latihan Opsir Kalibakung SSudomo menjadi KSAL dari 1969 hingga 1973. Ia lalu menjadi wakil panglima Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Setelahnya ia pernah menjadi Menteri Tenaga Kerja dan ketua Dewan Pertimbangan Agung. Pengganti Sudomo sebagai KSAL adalah Laksamana Richardus Subono (1927–1992), yang juga sama-sama peserta Latihan Opsir Kalibakung dan Special Operation. Ia didikan Special Operation terakhir yang menjadi KSAL, meski hanya menjabat setahun. Sementara itu, alumni Special Operation lain yang mencapai bintang di antaranya Laksamana Pertama Urip Subyanto dan Laksamana Pertama Fritz Suak.*
- Latihan Melawan Belanda di Sarangan
BEKAS siswa Latihan Opsir Kalibakung dipanggil dan dikumpulkan di Yogyakarta. Mereka diseleksi untuk mengikuti pelatihan Special Operation. Dari 55 siswa, yang terjaring hanya 31 orang, ditambah tiga orang siswa dari Kementerian Pertahanan. Pelatihan ini mulanya digagas Bagian V (KP-V), badan intelijen Kementerian Pertahanan, namun menjadi penting bagi Angkatan Laut. Para siswa terpilih itu dibawa ke Sarang Garuda Kompleks di Sarangan, daerah sejuk di Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Letnan Kolonel Raden Bagus Nacis Djajadiningrat yang mempersiapkan tempat pendidikan tersebut. Sebelum Jepang datang, putra Pangeran Ahmad Djajadiningrat ini adalah taruna Akademi Angkatan Laut Belanda di Surabaya. Ia belum pernah sempat bertugas di Angkatan Laut Belanda karena tentara Jepang keburu menguasai Hindia Belanda. Arsip Kementerian Pertahanan No. 275 menyebut para pelatih Special Operation antara lain Mochtar, Iskak, Bambang Sutedjo, Martadinata, Djajadiningrat, dan lainnya. Arah pendidikan sangat jelas. Mereka dibentuk untuk menghadapi blokade laut Belanda. Baca juga: Bekas Kampung Jerman di Sarangan Tujuan Special Operation, sebut Julius Pour, “membentuk para perwira untuk bisa mengendalikan speed boat yang akan dipergunakan untuk menembus blokade Belanda.” Menurut Zamzulis Ismail dan Burhanuddin Sanna dalam Siapa Laksamana R.E. Martadinata , selain pelatihan tentang operasi di laut, para siswa Special Operation juga dibekali ilmu-ilmu intelijen. Setelah Bagian V bubar, pelatihan diteruskan di bawah Angkatan Laut. Terlepas dari perang kepentingan di bagian V, Special Operation tetaplah penting bagi Republik Indonesia dalam melawan blokade laut Belanda. “Nama Special Operation dipilih agar kemampuan para siswa nantinya sesudah tamat pendidikan, mempunyai keahlian yang serba guna. Dapat diandalkan untuk menjalankan sabotase di daerah musuh, secara berkelompok atau perorangan,” kata Urip Subyanto dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan II . Baca juga: Rachman Masjhur Mencari Siswa Peserta Special Operation berjumlah 34 orang: 31 bekas siswa Latihan Opsir Kalibakung, ditambah Sardono, Supeno, dan Suharto Ranusubroto dari Kementerian Pertahanan. Mereka dibagi dalam bagian dek 19 siswa dan bagian mesin 15 siswa. Mereka tinggal di sebuah rumah peristirahatan bernama Huize Nelly dan Merry di Sarangan. Selain belajar tentang dek dan mesin, mereka dapat pelajaran tambahan penting termasuk tentang intelijen. Mulai dari topografie dan boldriehoek oleh Ir. Weinkopf, ilmu hukum (Mr. Haroen), torpedo (Bambang Sutedjo), olahraga (Iskak), judo (Oemar, keturunan Jepang), hingga bahasa Inggris (Nyonya Wallow), bahasa Jerman (Nyonya Bode), dan etiket (Nyonya Haroen). “Olahraga air merupakan pelajaran favorit dan menonjol. Semua siswa menjadi pandai berenang. Mengelilingi danau Sarangan dianggap berenang santai,” kenang Urip. Sekali lagi Mayor R.E. Martadinata ditunjuk menjadi kepala pendidikan Special Operation, seperti sebelumnya dalam Latihan Opsir Kalibakung. Baca juga: Operasi Khusus Subyakto Pelatihan Special Operation, yang dipersiapkan pada November 1947, aman tanpa gangguan Belanda. Perubahan politik di Kementerian Pertahanan bahkan tidak mengganggu pelatihan Special Operation. Ketika Bagian V bubar pada awal 1948, Special Operation masih dianggap penting, jalan terus di bawah ALRI. Bahkan Kepala Staf Angkatan Laut yang baru Kolonel Subyakto menjadi pemimpin tertinggi Special Operation. Pelatihan Special Operation di Sarangan berhasil menamatkan siswanya pada Oktober 1948. Mereka tersebar di banyak daerah. Ada yang di Yogyakarta, ikut ke Aceh membangun pangkalan laut, dan ada pula yang bergerilya di sekitar Sarangan, seperti Letnan Frits Suak.*
- Pekih Ibrahim dan Sorban Diponegoro
PERINTAH tersebut datang dengan mendadak. Soewarno, guru asal Malang, Jawa Timur, harus segera berangkat ke Gianyar, Bali, untuk menggantikan tugas Raden Soekemi, seorang rekannya. Soekemi terpaksa diganti karena melanggar hukum adat: jatuh cinta dan terpaksa kawin lari dengan seorang gadis Bali dari kasta Brahmana, Ida Ayu Nyoman Rai Soekarmini. Pasangan yang sedang dimabuk cinta ini diusir dari Bali dan selamanya tidak boleh kembali ke sana.
- Majnun di Melbourne
MELBOURNE di bulan Mei adalah sejuk yang datang di awal musim gugur. Dedaunan meranggas. Orang-orang mulai membalut tubuhnya dengan pakaian tebal, menangkis udara dingin yang terbawa angin Kutub Selatan. Pada kota yang mengabadikan nama pendirinya itu, Lord Melbourne, sepi adalah kawan sehari-hari. Apalagi di daerah pinggiran kota (suburbs), hanya gemerisik bunyi daun diterpa angin yang menyemarakkan malam.
- Main Dingdong, Dong
TAK jauh dari perempatan Senen, Jakarta Pusat, sebuah gedung bioskop tua berlantai dua berdiri kokoh. Namun cat dinding dan poster-poster filmnya sudah kusam. Di gerbang masuk, beberapa orang duduk santai sembari mengobrol. Masuk ke dalam, debu-debu beterbangan dari ubin merah yang kotor. Cat pada pilar-pilar yang menopang gedung itu mengelupas, sebagian menghitam. Di salah satu sudut ruangan, teronggok mesin-mesin mainan yang rusak. Jumlahnya 15 mesin. Tertutup debu dan sarang laba-laba. Kumuh.
- Puasa Masyarakat Nusantara
Puasa atau tirakat bagi kehidupan masyarakat Jawa Kuno merupakan bagian dari ajaran hidup.
- Puasa
MUNGKIN kebetulan saja saya lahir di Banten, daerah yang boleh dibilang orang-orangnya taat beragama. Tanda-tanda itu bisa dengan mudah terlihat sesaat kita masuk ke wilayahnya, mulai di Kota Tangerang, begitu juga di Serang dan beberapa kota lain, terpancang 99 plang asmaulhusna, nama-nama indah serta gelar mulia Allah Swt. Selain fanatik, orang-orang dari kampung saya juga dikenal sebagai jagoan. Istilahnya jawara, jago silat, beberapa di antaranya konon kebal bacok dan urat takutnya sudah putus. Kalau bulan puasa tiba, seingat saya di masa remaja di kampung, semua warung makan menutup diri menggunakan tirai. Sebagian orang yang makan di sana adalah pekerja kasar dan tukang becak. Kalau sedang makan, hanya kaki sebatas betis ke bawah yang kelihatan. Memang tak ada razia seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir lalu. Tapi pernah pula saya melihat seorang kernet angkot apes kena gampar orang saat sedang asyik-asyiknya merokok. Dalam adegan itu saya tak tahu persis apakah si kernet yang tak menghormati orang berpuasa, ataukah orang –yang sepertinya jawara itu– batal puasanya karena tak sanggup menahan nafsu amarah? Belakangan ritual tahunan ibadah puasa ini semakin runyam di ruang publik, lebih-lebih saat jadi isu politik. Ambil contoh surat edaran Menteri Sekretaris Kabinet yang melarang pejabat pemerintahan mengadakan buka puasa bersama. Alasannya karena transisi pandemi Covid-19 menuju endemi masih berisiko menularkan virus corona. Surat edaran itu memicu geger di media sosial. Masing-masing punya penafsirannya sendiri. Ada yang menuduh kalau pemerintah Jokowi mengekang kegiatan beragama sambil membandingkan acara konser yang baru-baru ini dihadiri oleh presiden tanpa menghiraukan isu pandemi. Setelah ramai, buru-buru Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengklarifikasi surat edaran itu dengan menyatakan larangan hanya untuk pejabat pemerintahan, sedangkan masyarakat dipersilakan. Alasannya karena pemerintah kini sedang berikhtiar mengedepankan pola hidup sederhana, apalagi belakangan ini tabiat pamer dari segelintir amtenar jadi sorotan masyarakat. Mungkin ini semacam ajakan untuk menjalankan laku hidup asketik demi menjiwai bagaimana rasanya si miskin ketika lapar. Soal ini mengingatkan saya pada wartawan senior almarhum Joesoef Isak. Suatu kali, semasa hidupnya editor karya-karya Pramoedya Ananta Toer di penerbit Hasta Mitra itu, menyimak seorang kerabatnya yang mengajarkan betapa pentingnya berpuasa, sehingga kita bisa merasakan lapar sebagaimana orang-orang yang tak berpunya. Mendengar itu, sontak Joesoef bicara supaya jangan mengajarinya rasa lapar, karena sebagai orang yang pernah jadi tahanan politik rezim Orde Baru selama sepuluh tahun (1967–1977) tanpa pernah diadili, ia tahu persis bagaimana rasanya lapar. “Setiap hari aku dan tahanan lain hanya makan empat puluh butir jagung. Sedangkan kalian makan besar waktu buka puasa dan sahur,” katanya. Makan empat puluh butir jagung sekali sehari tentu bukan kategori puasa. Barangkali itu termasuk dalam hitungan penindasan yang sebenar-benarnya. Namun dalam penindasan itu makna puasa yang sesungguhnya bisa ditemukan: ketika seseorang tak punya pilihan lain kecuali menjalani penderitaan sebagai keharusan yang tak bisa dielakkan dalam hidupnya. Tak terbayangkan bagaimana rasanya menjalani itu selama sepuluh tahun. Dalam ajaran Islam, puasa yang disebut sebagai ibadah sirriyah atau bersifat pribadi antara diri sendiri dengan Tuhan itu, sejatinya mengajarkan empati pada orang lain. Merasakan apa yang orang lain rasakan. Puasa juga sudah dikenal dalam masyarakat pra-Islam di Nusantara. Dalam tradisi Jawa, ada puasa mutih, yakni berpuasa tak menyantap makanan lain kecuali nasi dan air putih yang tak memiliki rasa. Juga ada puasa matigeni atau patigeni, sama sekali tak makan dan minum, serta menjauhkan diri dari keramaian. Berdasarkan Kakawin Ramayana dari era kerajaan Medang abad 10, istilah puasa atau pasa sudah digunakan merujuk kepada aktivitas pengekangan diri melawan kedurjanaan (hawa nafsu, angkara murka) yang timbul dari dalam diri. Persis dengan apa yang disampaikan sufi Jalaluddin Rumi agar manusia tak membiarkan jiwanya mengemis pada tubuh. Kalau melihat semua ajaran itu rasa-rasanya puasa membuat manusia bisa lebih sabar, lebih baik, dan lebih manusiawi. Karena dalam puasa ada ajakan untuk berempati, dorongan untuk menghormati sesama manusia atas dasar kerelaan dan keikhlasan berbagi. Itu idealnya. Tapi baru hari pertama puasa di bulan Ramadan tahun ini dimulai, publik geger gara-gara sebuah video viral memperlihatkan seorang yang sedang menjalankan puasa merasa keberatan karena ada warung bakso masih buka dan melayani tamu-tamunya. Seperti juga kontroversi surat edaran Menseskab soal buka puasa bersama, informasi itu beredar di media sosial dan memantik perdebatan publik. Lagi-lagi yang diributkan soal bagaimana seharusnya toleransi dijalankan. Yang puasa ingin dihormati, sementara yang tak berpuasa juga meminta hal yang serupa. Mungkin ini akibatnya jika ritual ibadah yang sangat personal dibawa ke ruang publik dalam relasi kuasa. Puasa yang sarat akan nilai pengekangan diri sendiri, terperosok menjadi kehendak untuk mengekang orang lain. Lagi-lagi saya teringat insiden bang jago menggampar kernet angkot yang sedang merokok di bulan puasa. Ditambah lagi ingatan atas berita segerombolan Satpol PP yang menyita sepanci sayur dari warung makan karena kedapatan berjualan di saat bulan puasa. Galak banget dah… ampun.*





















