Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Letkol Soeharto Makan Soto
Soeharto makan soto dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Tudingan itu dilontarkan mantan anak buahnya sendiri, eks Kolonel Latief. Waktu itu, Latief masih menjabat sebagai komandan Kompi 100 yang berada dibawah Brigade X pimpinan Letkol Soeharto. Setelah TNI berhasil menduduki Yogyakarta, Latief meloloskan diri dari kepungan tentara Belanda yang melancarkan serangan balik. Dia pun melaporkan kejadian itu ke markas komando yang terletak di daerah Kuncen atau Desa Sudagaran, 500 meter dari perbatasan kota.
- Tergoda Chevy
SUATU hari, di tahun 1974, Ermin S. Nasution ditugaskan kantornya, Otis Coorporation, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, ke Amerika Serikat. Di sana ia sempat berkunjung ke sebuah bengkel di California yang biasa merestorasi mobil kuno menjadi berpenampilan apik kembali. Ermin terinspirasi. Niatan untuk memiliki mobil kuno terbesit di hatinya.
- Multatuli dalam Bingkai Kritik Pascakolonial
Perspektif pascakolonial sekarang bermunculan dalam kajian kesusastraan Belanda. Belakangan terbit De postkoloniale spiegel. De Indische letteren herlezen (cermin pasca kolonial: membaca kembali sastra Indisch), di bawah redaksi Rick Honings, Coen van ’t Veer dan Jacqueline Bel (2021), De nieuwe koloniale leeslijst , (Daftar baru bacaan kolonial), 2021 redaksi Rasit Elibol dan Het andere postkoloniale oog (Mata pascakolonial lain), 2020 redaksi Michiel van Kempen. Tapi juga ada kritik. Alfred Birney berpendapat bahwa banyak penulis dalam De postkoloniale spiegel terlalu meniti jejak-jejak Edward Said –bukunya Orientalism (1978) dianggap sebagai peletak dasar pendekatan pascakolonial. Sedangkan Tom Phijffer, dalam artikelnya yang terbit di majalah Parelduiker nomer 2/2022, antara lain berpendapat bahwa orang-orang terlalu kritis terhadap Rob Nieuwenhuys, tokoh paling berpengaruh dalam kajian sastra Hindia Belanda. Dalam nomor terdahulu, Jacqueline Bel bereaksi terhadap pendapat Phijffer. Dalam buku De postkkoloniale spiegel , Bel menulis tentang Multatuli. Tidak sampai setahun sebelum wabah Covid-19 berkecamuk, di Lebak berlangsung acara tahunan Festival Seni Multatuli. Dalam acara festival ini tertera lomba film dokumenter dan lomba menulis esai. Lomba terakhir ini menghasilkan kumpulan 15 esai pemenang ditulis oleh ilmuwan, mahasiswa dan cendekiawan lain dari pelbagai universitas dan instansi. Begitu diterbitkan, kumpulan esai ini disebar ke pelbagai perpustakaan di seantero Indonesia. Baca juga: Yang Lestari Setelah Multatuli Pergi Lomba menulis esai yang mengambil tema “Membaca ulang Max Havelaar ” itu diikuti oleh paling sedikit 131 orang. “Di antaranya terdapat tulisan mengenai citra kalangan bumiputra dalam Max Havelaar , masalah gender, perbandingan Max Havelaar dengan karya sastra Indonesia dan renungan tentang film Max Havelaar garapan sutradara Belanda Fons Rademakers,” demikian tulis Arjan Onderdenwijngaard dalam buku Multatuli leeft in Lebak (Multatuli hidup di Lebak). Di antara esai yang masuk juga terdapat tinjauan pascakolonial tentang Multatuli yang di Indonesia juga dianggap sebagai penulis terpenting dari sejarah kolonialisme Belanda. Tom Phijffer yang tak menyukai pendekatan pascakolonial, menganggapnya cuma gejala mode yang bahkan berbahaya. Menurutnya pendekatan pascakolonial melakukan penulisan kembali sejarah berdasarkan wawasan masa kini, dan dengan begitu mengabaikan pengalaman sejarah. Dia mencermati perkembangan pascakolonial dengan memusatkan perhatian pada Multatuli. Sikap anti pascakolonialisme yang begitu mendadak sontak membuat saya tergelitik dan juga ingin tahu, saya mencari-cari logika dalam pemikirannya. Dari penafsiran pascakolonial yang mana penolakan Phijffer itu berasal? Menurut saya “penulisan kembali sejarah” dan “mengabaikan pengalaman sejarah” bukan merupakan cakupan pendekatan pascakolonial. Istilah-istilah ini lebih mengingatkan saya pada pembelokan sejarah seperti yang dilakukan oleh pelbagai rezim otoriter. Di bawah rezim seperti ini penulisan sejarah selalu “disesuaikan” dengan kepentingan politik mereka, sehingga peristiwa bersejarah secara drastis dicabut dari konteksnya, episode-episode atau aktor-aktor tertentu dihapus atau fakta-fakta tertentu diputarbalik. Menurut saya intisari pendekatan pascakolonial adalah meninjau sejarah dari pelbagai sudut pandang, khususnya sudut pandang mereka yang sampai sekarang tidak pernah didengar dalam sejarah kolonialisme. Karenanya, pendekatan ini menyangkut soal pelibatan dalam narasi sejarah suara kalangan lain yang selalu tersingkirkan. Kalangan lain itu pertama-tama meliputi kelompok luas orang yang pernah mengalami penjajahan. Dalam istilah pendekatan pascakolonial disebut soal menantang wacana dominan barat yang imperialistis dan yang ditandai oleh pemikiran supremasi kulit putih rasistis untuk diganti menjadi wacana baru yang lebih sesuai dengan kenyataan yang majemuk dan kompleks. Pendekatan seperti itu menurut saya tidak bisa disamakan dengan penulisan kembali sejarah atau pengabaian pengetahuan sejarah. Baca juga: 200 Tahun Multatuli, Penyadar Rakyat Indonesia Menurut Phijffer mereka yang menerapkan pendekatan pascakolonial tidak peduli pada konteks sejarah yang mereka teliti. Dia menulis begini: “Penelitian sejarah harus taat pada kenyataan dan peristiwa harus dilihat dan dipahami dalam konteksnya, tidak menyederhanakannya”. Dan dengan menunjuk pada kalimat dalam memoar sejarawan mendiang Cees Fasseur, bahwa “sejarawan seharusnya tidak menilai masa lampau menggunakan ukuran masa kini sebagai benar atau salah”. Anggapan semacam ini cukup mengejutkan saya. Sebab, menurut saya, seorang peneliti pascakolonial tidak akan dapat menguraikan gagasannya tanpa menempatkannya ke dalam konteks sejarah kolonial itu sendiri. Tapi yang bagi Phijffer merupakan racun tampaknya adalah cara penyebarluasan posisi “ideologis” pasca-kolonialisme. Ternyata dia mendapati bahwa dalam kritik pasca-kolonial (Belanda) sudut pandang paling dasar terlalu banyak dikaitkan dengan kaidah benar atau salah zaman sekarang: benar atau salah dalam debat tentang rasisme, benar atau salah dalam soal gender , benar atau salah dalam debat tentang masa lampau kolonial. Dalam hal penempatan, pendekatan pascakolonial sudah jelas-jelas: melihat permasalahan menggunakan lensa yang anti-kolonial dan anti-rasistis, dan selalu ingin memerangi penindasan dan ketimpangan yang dibawa oleh kolonialisme. Kemajemukan yang ingin dicapai menjadi bukan hanya sekedar menyandingkan pelbagai sudut pandang, tetapi juga membawa pelbagai sudut pandang yang cocok dalam lensa pasca-kolonial.[1] Pada saat yang sama tidaklah adil untuk, bersamaan dengan pendekatan pascakolonial, melakukan tudingan terhadap mereka yang tidak setuju dengan analisa ini, sesuatu yang sayangnya secara umum (saya tidak hanya berbicara tentang sumber-sumber yang dirujuk oleh Phijffer) terlalu sering terjadi sehingga meniadakan kesempatan untuk melakukan tukar pikiran yang bermanfaat. Hasrat untuk menghakimi juga bisa memperkeruh suasana yang seharusnya lebih mendorong saling pengertian tentang pendekatan pascakolonial. Kembali ke Multatuli. Walau Phijffer memusatkan perhatian pada tokoh ini, dia tidak secara khusus dan semata-mata hanya bereaksi terhadap uraian tentang Multatuli seperti dikemukakan oleh Jacqueline Bel dalam buku De postkoloniale spiegel (cermin pascakolonial), walaupun dia sering merujuk buku yang berisi kumpulan tulisan ini. Bel menyampaikan uraian yang baik dan berimbang tentang Multatuli dalam konteks zamannya, menyampaikan beberapa catatan yang bersifat pascakolonial untuk kemudian berkesimpulan bahwa Max Havelaar “tetap tegar, sebagai lontaran kritik terhadap sistem kolonial, tetapi juga sebagai roman yang menggemakan seruan keadilan dan kritik terhadap rasisme, bahkan pada zaman sekarang tatkala proyek kolonialisme itu sudah berlalu 75 tahun silam”.[2] Penolakan Phijffer antara lain terarah pada catatan Bel tentang sejarah Saïdjah dan Adinda, yang menurut Bel bernada orientalistis, artinya cerita ini meromantiskan dan mengidealkan “sisi lain dunia”.[3] Baca juga: Multatuli di Antara Dua Kutub Sekarang tentang bagaimana Multatuli dan Max Havelaar dihayati di Indonesia. Secara umum orang tahu bahwa Max Havelaar bermakna besar bagi perlawanan anti-kolonialisme Indonesia: buku ini ternyata merupakan cipratan api dan yang pertama-tama kena adalah penguasa kolonial, untuk selanjutnya menyulut gerakan anti-kolonial melalui kesempatan pendidikan kepada kalangan elite warga terjajah seperti ditawarkan oleh beleid kolonial baru yang disebut politik etis. Multatuli menjadi sumber inspirasi penting bagi para tokoh gerakan kemerdekaan yang kemudian muncul. Berkat tokoh-tokoh terkenal seperti Kartini dan Tirto Adhi Soerjo, Multatuli banyak mendapat pujian dan dianggap sebagai tokoh yang sangat progresif untuk zamannya. Menyusul masa relatif tenang setelah proklamasi kemerdekaan, perhatian terhadap Multatuli mulai dirangsang dengan terbitnya, pada 1972, terjemahan Max Havelaar oleh H.B. Jassin. Kemudian muncul berbagai macam peristiwa budaya seputar Multatuli, tinjauan di media dan terbit pula pelbagai karya sastra, antara lain tulisan Pramoedya Ananta Toer dan puisi-puisi W.S. Rendra, yang menginspirasi para penulis dan akademisi sastra kontemporer Indonesia untuk melakukan kilas balik kritis terhadap sejarah kolonial dan pascakolonial. Sejak itu Multatuli terus mendapat perhatian publik Indonesia, juga setelah peralihan abad 20 ke abad 21, dan kembali mencapai puncaknya lima tahun belakangan. Kembali bangkitnya perhatian pada Multatuli ini dimulai dengan inisiatif luar biasa seorang guru SMP di kampung Ciseel, desa Sobang, kabupaten Lebak. Guru itu, Ubaidilah Muchtar, membentuk taman bacaan untuk murid-muridnya, bernama Taman Baca Multatuli. Peristiwa penting dalam perkembangan ini terjadi lima tahun kemudian dengan dibukanya, pada tahun 2018, Museum Multatuli di Rangkasbitung, ibukota Lebak. Siapakah kepala museum? Siapa lagi kalau bukan Ubaidillah Muchtar, semula guru SMA penggagas Taman Baca Multatuli. Lebih kuat dari 40 tahun sebelumnya, tatkala Soeharto masih berkuasa, berkat inisiatif ini muncul gelombang membaca dan diskusi, tidak hanya di sekelompok kecil sejarawan atau pemerhati sastra, tetapi di kalangan khalayak pembaca Indonesia. Menurut Arjan Onderdenwijngaard, museum Multatuli tampil sebagai “museum anti-kolonial pertama” di Indonesia, yang ramai dikunjungi anak-anak sekolah, pejabat tinggi, wisatawan luar negeri, bahkan satuan-satuan tentara, sedangkan pada pendopo disediakan ruangan bagi aktivitas lokal seperti ceramah dan seminar.[4] Baca juga: 10 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Museum Multatuli Kritik pascakolonial adalah keperluan mendesak karena kritik ini mempermasalahkan hubungan kolonialisme dan pemikirannya yang didasarkan pada rasisme dan ketimpangan. Bonnie Triyana, pemimpin redaksi majalah online Historia.id , pengambil inisiatif Museum Multatuli, menekankan bahwa dengan dua aktivitas itu dia ingin memberi sumbangan bagi upaya mendobrak gambaran hitam putih dalam sejarah kolonial resmi Indonesia. Dalam narasi yang disederhanakan menjadi hanya pihak baik dan buruk ini yang dipentingkan cuma kepahlawanan para pejuang kemerdekaan dalam menghadapi Belanda yang selalu digambarkan kejam.[5] Dalam narasi sejarah seperti ini tidak ada lagi ruang bagi peran orang-orang Eropa tertentu dalam perjuangan anti kolonial dan penindasan kaum bangsawan lokal juga menjadi tidak kentara. Pendekatan pascakolonial juga mencurahkan perhatian pada hubungan-hubungan yang tetap timpang di negara-negara bekas jajahan. Dalam bukunya Cultuur en imperialisme , cendekiawan Palestina Edward Said menulis tentang apa yang disebutnya cacat yang disandang oleh (apa yang disebut) tradisi: yang “tidak hanya berurusan dengan manipulator bumi putra, yang berbuat apa pun untuk menyembunyikan kesalahan, korupsi dan tirani masa kini, tetapi juga harus berurusan dengan konteks imperial agresif yang melahirkan mereka dan yang bagi mereka juga penting”. Dan: “Walaupun sebagian besar wilayah jajahan sudah berhasil memperoleh kemerdekaan kembali, masih banyak pendapat imperialistis yang tetap bercokol, padahal mereka itu lahir dari penguasaan kolonial”. Dengan demikian Said menggarisbawahi kemampuan bertahan hidup yang kuat praktek-praktek pengisapan dan penindasan terhadap rakyat negara-negara yang pernah mengalami penjajahan.[6] Praktik-praktik seperti ini menunjuk pada begitu mendalamnya pemikiran kolonial (imperial). Baca juga: Membuka Mata dan Hati Setelah Multatuli Pergi Di Lebak juga tetap berlangsung ketimpangan kekuasaan, dengan akibat kemiskinan yang tidak juga berakhir. Di sini pemerasan rakyat oleh politik setempat dan keluarga kaya, antara lain keturunan bangsawan lama, masih merupakan kebiasaan sehari-hari; pada saat yang sama, karena keluarga ini saling bersaing mereka tetap bisa menghimpun harta kekayaan pada pelbagai proyek infrastruktur atau lainnya.[7] Di sinilah manfaat besar kajian pascakolonial untuk masa kini: jikalau kita menghendaki perubahan menuju perbaikan, maka harus bisa diungkap asal-usul dan wujud pemikiran kolonial yang begitu mengakar, tidak hanya di Belanda melainkan juga di Indonesia zaman sekarang. Dibandingkan dengan benua-benua lain, dan juga dengan negara-negara lain seperti India, wilayah Asia Tenggara relatif tenang dalam soal kritik pascakolonial. Jarang terdengarnya suara-suara pascakolonial dari Asia Tenggara ini dijelaskan oleh Chua Beng Huat, pakar sosiologi Singapura, sebagian dari kenyataan bahwa dekolonisasi resmi di wilayah ini diikuti oleh konflik berdarah sebagai akibat geopolitik perang dingin. Berkurangnya intelektual kritis berorientasi kiri juga merupakan akibatnya, demikian pula bangkitnya penguasa otoriter, melalui pemilu atau tidak, dengan mengandalkan kalangan teknokrat yang sampai batas-batas tertentu bergantung pada kekuasaan militer. Menurut Hilmar Farid, Indonesia, dengan perkecualian segelintir penulis pascakolonial, cocok dalam analisa seperti ini.[8] Tapi untungnya sekarang muncul perubahan. Dengan susah payah tapi berani mulai tampil sejarawan, penulis dan seniman muda –sebagian besar di luar lembaga resmi– merayap keluar dari kungkungan penindasan intelektual penguasa yang menyesakkan. Seruan Phijffers kepada ilmuwan Indonesia supaya meneliti sejarah kolonialisme dari perspektif sendiri saya sambut hangat. Sebaiknya dia sendiri juga mencari tahu apa yang sudah terjadi di bidang ini, dan dari sini, sejauh dikehendaki oleh para peneliti, menghasilkan sumbangan yang penuh arti. Naskah ini dimuat pertama kali di majalah De Parelduiker No. 4 tahun 2022. Alih bahasa oleh Joss Wibisono. Sumber: “Het enige verhaal” (satu-satunya cerita) oleh Sinan Çankaya adalah esai yang memperjelas masalah kompleksitas kemajemukan, De Groene Amsterdammer , 11 Agustus 2022. Jacqueline Bel, “Klewangwettende gezangen en knevelarij, Multatuli”, De postkoloniale spiegel , halaman 48. Idem, hlm. 39. Multatuli leeft in Lebak , hlm. 157-159, 175 dan 198-199. Artien Utrecht, “Witte maskers” dalam De Groene Amsterdammer , 13 Agustus 2020. Edward W. Said, Cultuur en imperialisme (Atlas Contact, 1994), halaman 45. Said menunjuk pada kekuatan tradisi dalam melakukan mobilisasi, contoh-contoh yang disebutnya antara lain négritude dan Islam. Menurut pendapat saya, hubungan-hubungan feodal dan patronasi serta (hiper)nasionalisme juga masuk dalam struktur dan kondisi seperti ini. Multatuli leeft in Lebak , hl. 212-216. Chua Beng Huat dan Hilmar Farid dalam konferensi internasional, "Post Colonial Perspectives from the Global South, Session Southeast Asian Perspectives", Goethe Institut, 24-25 Januari 2019. Hilmar Farid adalah sejarawan dan sejak 2015 menjabat Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
- Perempuan di Masa Orde Baru
SEJAK masa Orde Baru, figur Kartini hanya digambarkan sebagai perempuan Jawa dari keluarga ningrat, kalem, keibuan dan lembut bertutur kata. Setiap kali hari kelahirannya diperingati, kaum perempuan meniru gaya busana Kartini: kebaya di badan plus sanggul di kepala. Sampai hari ini, hanya dengan cara itulah kebanyakan perempuan mengenang Kartini. Gagasan-gagasan emansipasinya justru tak pernah dikenal luas. Pada zaman Orde Baru pula gerakan perempuan didepolitisasi dan didomestifikasi.
- Lucky Loeki
SURABAYA, suatu siang semasa pendudukan Jepang. Sekelompok gadis mengidam-idamkan mangga di pohon tetangga. Tapi tak satu pun dari mereka berani meminta kepada pemiliknya. Mereka memilih jalan pintas: mencuri. Dan tugas itu mereka lemparkan kepada Loekitaningsih, yang dikenal pemberani dan setiakawan. Ketika ia beraksi, pemilik rumah memergokinya. Teman-temannya kabur. Tinggallah ia sendiri, memikul tanggung jawab kolektif seorang diri.
- Dapur Ngebul Senapan Ngepul
BUNG Tomo menaruh perhatian besar terhadap urusan logistik selama Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Dalam pidatonya, ia menyerukan agar suplai logistik untuk para pejuang jangan sampai terputus. Namun, badan yang mengurusi logistik para pejuang belumlah terbentuk. Dapur umum yang muncul spontan dan bantuan rakyat jadi andalan para pejuang.
- Kuliner Eropa yang Diadopsi di Nusantara
Lamanya bangsa Belanda menjajah negeri ini memberi pengaruh besar dalam kuliner Nusantara. Tak heran beberapa makanan yang sering kita santap kini, diadopsi dari unsur budaya kuliner Belanda.
- Lika-liku Blueprint PSSI
PIALA Asia U-20 2023 di Uzbekistan dan Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia sudah di depan mata. Selain punya ekspektasi menjadi tuan rumah yang baik, sepertinya mustahil berharap banyak tim nasional Indonesia U-20 memetik prestasi. Pasalnya, skuad muda Indonesia bukan lahir dari sebuah proses panjang berdasarkan cetak-biru ( blueprint) yang dijalankan secara menyeluruh. Menurut pengamat sepakbola Kesit Budi Handoyo, masyarakat Indonesia hanya bisa mengharapkan skuad asuhan Shin Tae-yong yang memberikan hasil optimal. Piala Asia U-20 pada 1-18 Maret 2023 akan lebih dulu jadi ujian pertama guna melihat kesiapannya sebelum Piala Dunia U-20 pada 20 Mei-11 Juni 2023. “Ya skuad sekarang campuranlah ya. Banyak pemain yang sudah gabung klub-klub Liga 1. Ini kan modal ke Piala Asia dulu. Kita enggak usah muluk-muluk berprestasi. Yang penting tampil bagus dan tidak malu-maluin saja. Karena di Piala Dunia, lawan-lawan yang dihadapi adalah negara-negara yang lolos lewat kualifikasi yang lebih teruji, sementara kita tuan rumah yang otomatis lolos,” kata Kesit dalam Live Dialog Sejarah Historia bertajuk “Utak-utik Blueprint PSSI” , Jumat (24/2/2023) petang. Baca juga: Medali yang Dirindukan Tim Garuda Skuad U-20 saat ini bukanlah tim yang lahir dari proses panjang yang dibidani oleh sebuah blueprint pembinaan sepakbola jangka panjang. Realita itu mungkin mendorong Erick Thohir, ketua umum PSSI yang baru, akan menyusun sebuah blueprint menuju Olimpiade 2036 dan Piala Dunia 2040. “Kami mendapat arahan bagaimana sepakbola harus punya blueprint , apakah jangka pendek, menengah, dan panjang. Artinya apa? Tentu kita harus punya blueprint menuju 2040. Apakah itu di program, apakah itu infrastruktur, apakah itu juga mendorong percepatan timnas kita atau pembinaan secara menyeluruh. Kalau blueprint tidak ada ujung, ya hanya blueprint . Kalau blueprint ini ada tujuan, siapapun ketua PSSI-nya, kita punya tujuan yang sama, mengibarkan merah putih di kompetisi tertinggi,” kata Erick usai bertemu Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara pada 20 Februari 2023. Audiensi Erick Thohir (kiri) selaku ketua umum PSSI terpilih dengan Presiden RI Joko Widodo (Twitter @PSSI) Patut ditunggu seperti apa lebih konsep blueprint yang akan dibuat PSSI yang dinakhodai Erick Thohir, mengingat akan lebih dulu diadakan sebuah sarasehan sepakbola dengan segenap stakeholder pada medio Maret 2023. Menurut Kesit, jika memang ingin disiapkan untuk Olimpiade 2036 dan Piala Dunia 2040, maka fondasinya mulai dari pembinaan usia 6-7 tahun sudah harus disiapkan dari sekarang. “Pencarian bibit pemain, pembinaan, dan kompetisinya ini kan belum ada sekarang. Karena fondasi yang ada saat ini, khusus untuk timnas, sama sekali belum kuat. Kita belum memiliki pola pembinaan usia muda yang kontinyu, pelatih-pelatih hebat untuk menangani usia muda, kompetisi usia muda yang berjenjang. Kalau sekarang kan terputus, tidak ada jenjang. Karena ujung-ujungnya bagaimana pembinaan usia muda. Sebagus apapun program, kalau pembinaan usia mudanya tidak jalan, nonsense . Kita mau bicara apa? Karena bibit-bibitnya kan dari sini,” sambung Kesit. Blueprint Tak Berjalan, Proyek Instan Bertindak Harus diakui, sejak 1991 ketika timnas Indonesia meraih emas SEA Games di Filipina, tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan. Jangankan untuk mempertahankan kebanggaan sebagai “Macan Asia” di era 1960-an dan 1970-an, untuk level Asia Tenggara saja kini publik sepakbola Indonesia acap dibikin geregetan. “Kita dulu punya Ramang, Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, dan lain-lain memang karena bakat. Tapi kalau dari segi perkembangan sepakbola sekarang ini, bakat tidak cukup. Yang dibutuhkan pembinaan. Itulah gunanya PSSI dan klub melakukan pembinan yang jelas, terutama pembinaan usia muda,” ujar wartawan sepakbola senior Budiarto Shambazy dalam kesempatan berbeda. Blueprint atau semacamnya sebetulnya bukan tidak pernah ada dalam persepakbolaan tanah air. Pada 1979, PSSI membuat terobosan dengan menelurkan Pola Pembinaan Sepakbola Nasional (PPSN) –sebuah konsep komprehensif tentang apa yang harus dilakukan PSSI– dan diresmikan dua tahun kemudian. Baca juga: Saatnya Belajar dari Sepakbola Jepang Mengutip buletin Pedoman Pembinaan Sepakbola Nasional terbitan PSSI pada 1995, PPSN mengatur penyeragaman cara bermain hingga pembentukan karakter. Pembinaan usia mudanya dibagi menjadi enam tahap: Pembibitan (12-16 tahun), Pematangan (16-19 tahun), Pematangan (16-23 tahun), Penggalangan Prestasi (19-30 tahun), dan Prestasi Puncak. Selain tetap menggulirkan kompetisi amatir Perserikatan berikut liga remaja taruna (remtar) di bawahnya, PPSN juga melahirkan kompetisi semi-profesional Liga Sepakbola Utama (Galatama). “Tahun 1980-an ada kompetisi remtar, setiap minggu pasti main. Semisal Liga Persija, anggotanya kan banyak. Mereka bertanding di internal untuk suplai di tim utama Persija. Salah satunya itu. Jadi dulu pemain-pemain muda bisa begitu bersemangat karena punya cita-cita untuk bisa masuk ke tim utama Perserikatan masing-masing, lalu berjenjang menjadi pemain nasional. Jadi betul-betul mengikuti kompetisi. Sekarang sudah enggak terlihat lagi,” sambung Kesit. Pengamat sepakbola Kesit Budi Handoyo (Tangkapan layar Youtube Historia) Kendati sudah punya PPSN, PSSI di sisi lain menggulirkan banyak proyek mercusuar alias program-program jangka pendek. Mulai dari mengirim tim PSSI Binatama ke Brasil pada 1979, PSSI Garuda I juga ke Brasil pada 1984, PSSI Garuda II ke Cekoslovakia pada 1987, hingga PSSI “Basiska” ke Jerman Barat pada 1989. “Kombinasi” itu lalu diperkuat dengan proyek tambahan berupa penggemblengan ala militer di Pusdik POM Cimahi. Hasilnya, juara Piala Kemerdekaan 1987 dan medali emas SEA Games 1987 serta 1991. “Karena ada kebutuhan. Jadi sebenarnya pemain-pemain ini sudah ada dan siap. Yang kurang adalah mental dan karakter. Bagaimana caranya? Ya sudah masukin ke barak militer, kira-kira seperti itu. Diharapkan dari segi mentalmereka ketika fight sudah enggak takut lagi. Problem kita saat itu kalau suda di lapangan ketemu tim-tim seperti Thailand, sudah drop duluan,” imbuhnya. Baca juga: Nostalgia Emas SEA Games di Manila Namun alih-alih melanjutkan PPSN, pada 1991 PSSI di bawah Azwar Anas memunculkan konsep baru bernama Pola Pembinaan Persepakbolaan Indonesia (P3I). P3I disusun setelah PSSI menggelar sejumlah seminar yang dihadiri banyak pelatih dan konsultasi dengan sepakbolawan Jerman Franz Beckenbauer. “Menurut Beckenbauer, penyebab tidak majunya sepakbola Indonesia adalah kualitas pelatih yang tidak beres, wasit-wasit perlu ditingkatkan kualitasnya, sistem pelatihan kelompok umur secara bertingkat tidak berkesinambungan, dan sistem kompetisi bermasalah,” tulis Abrar Yusa dalam Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang. Tim PSSI Primavera (Instagram @yeyen_tumena) Hasil darinya yakni, pembentukan Direktorat Pembinaan Usia Muda. Selain itu, pembangunan empat sentra pembinaan: di Medan, Makassar, Bandung, dan Surabaya. Tapi ketika konsep itu sudah dirumuskan dengan baik, justru tak berjalan. Malah, lagi-lagi, “direcoki” proyek instan PSSI Baretti dan Primavera ke Italia. Hanya beberapa pemain hebat macam Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, dan Yeyen Tumena yang dihasilkan, tetapi prestasi timnas tetap belum bisa hadir. “Sebenarnya antara PPSN dengan P3I hampir sama karena yang ingin ditekankan bagaimana membentuk karakter pemain dan bagaimana Indonesia punya ciri permainan dengan kelemahan dan kelebihan pemain kita. Kalau itu sudah tercipta, mau dimainkan dengan gaya apapun, oke. Tapi karena tidak ditunjang dengan kompetisi berjenjang yang bagus, akhirnya tidak tercipta tujuan dari PPSN. P3I kemudian memang tidak jalan. Blueprint -nya sebatas dokumen yang tidak diaplikasikan secara menyeluruh,” tutur Kesit lagi. Baca juga: Ketika Timnas Primavera Puasa di Italia Syahdan setelah sekian lama P3I ditinggalkan, baru pada 2012 PSSI punya terobosan dengan mengeluarkan Kurikulum Sepakbola Indonesia: Untuk Usia Dini, Usia Muda & Senior. Disusun direktur Pembinaan Usia Dini PSSI Timo Scheunemann, kurikulum itu konsepnya disusun berdasarkan hasil dari riset ke daerah-daerah terpencil di Indonesia dipadu dengan pola pembinaan sepakbola di Jerman dan “meminjam” 45 dari ratusan halaman kurikulum USSF (induk sepakbola Amerika Serikat). Aspek terpenting yang disusun Timo adalah pola-pola latihan dan pembinaan, baik teknik, fisik, maupun mental pemain dari usia 5 tahun. Scouting juga menjadi faktor krusial yang mesti dilakoni setiap klub kendati pembinaan bagi setiap klub masih dianggap membebani. Kurikulum itu juga menggarisbawahi pentingnya akademi-akademi terpusat untuk pelatih hingga wasit. Namun karena tak mendapat dukungan penuh, Timo meletakkan jabatannya dan kurikulumnya tinggal nama. “Kenyataannya saya tidak diberi wewenang dan kemudian juga tidak diberi dukungan dalam hal dana dan sebagainya, sehingga saya tidak bisa melakukan apa yang sudah saya rencanakan. Dan itu sayang sekali, bukan karena saya merasa, oh saya hebat, saya pasti bisa berbuat untuk Indonesia yang luar biasa yang orang lain tidak bisa. Sama sekali pemikiran saya tidak seperti itu,” aku Timo via platform daring Zoom pada kesempatan berbeda. Tim SAD musim 2013 (Twitter @depindoofficial) Alhasil PSSI kemudian sekadar mempertahankan proyek mercusuar. Pada 2007, PSSI mengirim tim usia 17 dan 19 untuk mengikuti liga kasta keempat dan kelima di Uruguay dalam kerangka Sociedad Anónima Deportiva (SAD) Indonesia. Para alumnusnya yang sempat mengenakan jersey timnas antara lain Alfin Tuasalamony, Abdul Rahman Lestaluhu, Rizky Pellu, Manahati Lestusen, Ryuji Utomo, dan Hansamu Yama Pranata. Lima tahun berselang, Direktur Teknik PSSI Danurwindo merilis blueprint anyar: Kurikulum Pembinaan Sepakbola Indonesia –kadang disebut “Kurikulum Filanesia”. Juga memuat tentang pembinaan usia dini dari umur enam tahun, konsep Filanesia lebih konkrit dengan perhatian terhadap sejumlah Sekolah Sepakbola (SSB) dan tim-tim akademi U-19 Liga 1 yang akan diadu di Elite Pro Academy (EPA). “Filosofi bermain Elite Pro Academy akan selalu berbasis pada Filosofi Sepakbola Indonesia (Filanesia). Filanesia adalah cara bermain yang dipilih oleh Elite Pro Academy untuk meningkatkan kualitas permainan sepakbola ke level yang lebih tinggi,” tulis Buku Panduan Elite Pro Academy: Kerjasama PSSI-Klub Liga 1. Namun lagi-lagi, Filanesia pun seperti tak dilakoni serius. Selain EPA sempat terhenti pada 2020, PSSI lebih gemar menyelinginya dengan proyek-proyek naturalisasi. Hasilnya lagi dan lagi tidak sesuai harapan. Menurut Kesit, mestinya pengurus PSSI sudah paham bahwa pembinaan adalah ujung tombak para pemain nasional di masa depan. “Kalau bicara PPSN, P3I, programnya Timo, Filanesia, itu hampir sama. Intinya sama. Dari banyak faktor yang membuat semua itu enggak berjalan, yang paling utama adalah keinginan yang kuat menjalankannya. Kemauan itu harus kuat. Memang tidak populer, tapi itu harus jalan. Kalau kita mau sedikit berkorban, kita bangun, kuatkan fondasinya, kita petik hasilnya 15-20 tahun mendatang tapi harus kontinyu,” tukas Kesit. Baca juga: Kenapa Sepakbola Indonesia Kalah Melulu?
- Bertaruh Jiwa Demi Nyawa
JALAN Menteng Raya 31 sudah ramai kendaraan sore itu. Truus Iswarni Sardjono, 83 tahun, menunggu kendaraan umum di depan Gedung Joang 45. Setiap hari ia biasa pergi-pulang menggunakan kendaraan umum. Ia tak mau merepotkan orang lain. Perjuangan berat untuk mencapai tempat tujuan di Jakarta yang semrawut baginya belum seberapa dibandingkan perjuangannya puluhan tahun silam di Surabaya.
- Setelah Perbudakan Dihapuskan
SUATU siang nan terik, setelah perjalanan panjang, ia sampai di rumah seorang asisten X dari salah satu perusahaan perkebunan besar. Si pemilik rumah tidak ada. Jadi ia menunggu di beranda. Belum sempat duduk, ia mendengar rintihan seorang perempuan yang sepertinya berasal dari bawah rumah.
- Yang Merdeka dan yang Melawan
INILAH potret keluarga terpandang di Batavia. Pieter Cnoll, saudagar senior (operkoopman) Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), berpose bersama istri dan kedua putrinya. Mereka ditemani dua ekor anjing peliharaan dan dua budak berkulit eksotis.
- Cerita Kelam Budak dalam Kertas Tua
Arsiparis Jajang Nurjaman pelan-pelan membuka bundelan kertas tua yang sudah melapuk. Sampul depannya bertuliskan Notarieel Archief Batavia en Buitencomptoiren (Arsip Notaris Batavia dan Sekitarnya) No. 26 sebagai jenama khazanah arsip. Pada lembaran bagian akhir tersualah arsip bertitimangsa 12 November 1680. Dengan teliti, Jajang menerjemahkan isi arsip berbahasa Belanda kuno itu.





















