top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10056 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Akhir Perjuangan Demang Lehman

    Setia berjuang mendampingi Pangeran Hidayatullah dan berhasil mengacak pos pertahanan musuh. Hidupnya berujung tragis di tangan Belanda.

  • Sekamar dengan Letkol Untung Sjamsuri

    Meski tak diakui jasanya, Mayor Untung Sjamsuri termasuk pahlawan dalam Operasi Mandala Trikora pembebasan Irian Barat. Ia ikut terjun payung di Papua untuk melawan tentara Belanda. Mayor Untung, disebut dalam buku Irian Barat dari Masa ke Masa Volume 1 , memimpin penerjunan kelompok Gagak di Kaimana. Pasukannya terdiri dari pasukan para (penerjun) dari Batalyon Infanteri 454 Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Ken Conboy dalam Kopassus Inside Indonesia's Special Forces  menyebut Mayor Untung hanya memimpin satu kompi dari Batalyon 454. Setelah terjun di Kaimana, Untung dan pasukannya bertemu pasukan penerjun dari Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI di bawah Heru Sisnodo. Penerjunan-penerjunan pasukan para itu dianggap sukses dalam penguasaan Papua. Meski Belanda angkat kaki dari sana karena perundingan New York, orang macam Untung dan Benny Moerdani tetap dianggap pahlawan. Sebab, di sebagian wilayah Papua terdapat pasukan Belanda yang diakui ketangguhannya. Baca juga:  Mayor Untung di Palagan Irian Barat Seusai operasi militer berat itu, Untung dan Benny menerima penghargaan Bintang Sakti. Untung naik pangkat jadi letnan kolonel serta sempat menjadi komandan Batalyon 454 sebelum memimpin Batalyon Detasemen Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno. Rupanya, ketika hubungan Indonesia dan Belanda terkait Papua sedang memanas, tak hanya pasukan tempur dalam jumlah besar yang dipersiapkan. Sebuah tim kesenian juga dibentuk dan dikirim ke Papua. Di bawah pimpinan Arif Suratno, bekas tentara pelajar, banyak seniman populer direkrut. Salah satunya penyanyi Christoporus Soebiantoro alias Kris Biantoro(1938–2013). Selain KrisBiantoro, ada pula Said Kelana, ayah dari anggota band The Kids, juga penyanyi seriosa Norma Sanger (1934–1990). Kris Biantoroterlibat dalam operasi Trikora itu sekitar enam bulan. Baca juga:  Rekaman Sidang Letkol Untung di Mahmilub “Kami pergi dari markas militer yang satu ke markas militer yang lain. Di satu tempat di Manokwari kami bertemu dengan Herlina,” kata Kris Biantoro dalam otobiografinya, Manisnya Ditolak . Herlina yang dimaksud adalah Herlina Kasim Si Pending Emas, sukarelawati Trikora yang terkenal. Kala itu, Herlina terlihat pucat meski tetap bersemangat. Selain ke Manokwari, KrisBiantorojuga ke Kaimana. “Di Kaimana, saya bertemu dengan Mayor Untung. Saya tinggal satu kamar dengan perwira militer yang nantinya bakal memberontak ini,” kata Kris Biantoro. Kris Biantorotidak banyak bercerita tentang Untung. Untung sendiri dikenal sebagai perwira pendiam. Dalam sebuah foto yang disimpan Kris Biantoro, Norma Sanger dan Benito Allan berdiri mengapit Mayor Untung. Baca juga: Kesaksian Anggota Tjakrabirawa Menjemput AH Nasution Baik Kris Biantoromaupun Untung sama-sama orang Jawa Tengah. Kris Biantoro lahir di Magelang pada 1938, sementara Untung lahir di Kedung Bajul, Kebumen tahun 1926. Nasib mereka berbeda. Kris Biantoro sekolah di SMA Kolase de Britto Yogyakarta yang terkenal dengan siswa-siswanya yang cerdas. Sementara Untung hanya merasakan sekolah dagang saja setelah lulus SD. Keduanya juga tumbuh besar di zaman berbeda. Untung dibesarkan oleh pamannya yang buruh di Solo, tidaklah mengherankan jika ia kemudian tertarik dengan ide kiri. Akhir hidup Letnan Kolonel Untung tentu sudah diketahui banyak orang. Ia memimpin pasukan dalam peristiwa G30S 1965 lalu diadili dan dihukum mati. Jasa Untung dalam menumpas PRRI di Sumatra Barat pada 1958–1959 dan merebut Irian Barat menjadi tidak ada artinya lagi.*

  • Item Keluarga Gitaris

    Dulu di kota Surabaya tersebutlah seorang pemain gitar yang cukup punya nama. Orang mengenalnya sebagai Lodewijk Item alias Lodi Item. Dari nama belakangnya, ia diperkirakan punya darah Minahasa. Ini bukan hal aneh, sebab sedari dulu banyak orang Minahasa atau Manado tinggal di Surabaya. Lodi Item bermain musik dengan musisi-musisi lain yang juga punya nama. Lodi yang jago main jazz, menurut Deded Er Moerad dalam Jazz Indonesia  dan Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage Volume 1 , pernah bermain bersama Dullah, Jerry Swesei, Max Lipi, Hassan Umar, dan Bob Tutupoli dalam band Aneka Nada. Band itu memainkan boogie-woogie  atau irama Latin dan menjadi pengiring musik dansa. Lodi mendapat seorang anak laki-laki pada 20 Juni 1950. Sebagai pemain gitar, ia memberi nama tengah anaknya itu dengan nama seorang jago gitar dunia bernama Django Reinhard. Jadilah nama anak itu Jopie Reinhard Item. Dalam kasus Jopie dan Lodi masih berlaku bahwa nama adalah doa. Sebelum umur 20 tahun, anak Lodi ini sudah jadi gitaris profesional. Sebab, dari umur belasan tahun dengan permainan gitarnya ia telah membantu rekaman beberapa musisi, termasuk Titiek Puspa. Baca juga:  Gordon Tobing dan Gitarnya Berkembangnya media dan industri musik, ditambah skill bermain gitar Jopie yang tinggi, membuat Jopie lebih sohor daripada ayahnya. Nama Jopie sebagai gitaris banyak beredar di majalah musik, dan Lodi juga ikut membacanya. Meski “doanya” telah terkabul, Lodi rupanya masih mengeluh kepada media dalam hal menulis nama anaknya.  “Saya heran kenapa Jopie sekarang namanya sering ditulis Jopie Item saja. Padahal nama sebenarnya Jopie Reinhard Item!” keluh Lodi seperti dikutip majalah Top , No. 058, Agustus 1976, ketika rumahnya didatangi wartawan hiburan. “Sebetulnya nama Reinhard itu tidak boleh ditinggalkan karena ada sejarahnya.” Lodi bercerita, sedari kecil Jopie sudah dekat dengan gitar. Bahkan, ia bisa tertidur dengan memeluk gitar. Jopie juga anak rumahan sejak kecil. Ketika Lodi bercerita, Jopie tak jauh dari situ dan cengar-cengir mendengar cerita ayahnya. Lodi tentu perhatian dengan kemampuan musik anaknya. Jopie yang tidak paham not balik kerap diingatkan untuk belajar sebelum terlambat. Ternyata, Jopie bukan satu-satunya anak Lodi yang bisa main gitar. Baca juga:  Leo Fender Revolusioner Dunia Musik Dolof, saudara Jopie, punya kemampuan sebagai pemain gitar akustik yang memainkan musik-musik klasik. Selain itu, Jopie juga punya adik yang lebih dikenal sebagai teknisi studio. Jopie dianggap gitaris penting Indonesia di era 1970-an. Ia terkenal dan menjadi bahan pergunjingan. Tak hanya permainan gitarnya, tapi juga urusan pribadinya. Jopie pernah digosipkan dengan beberapa penyanyi, seperti Tina Djuhara, Lily Djunaedi, dan Grace Simon. Namun, tak satu pun dari mereka yang berjodoh dengan Jopie. Pada pertengahan 1975, Jopie sudah jadian dengan seorang gadis dari Bandung. Jopie pertama kali melihatnya ketika ikut Nada Improvisasi pimpinan Jack Lesmana bermain di Aula ITB. Gadis itu nonton dua malam berturut-turut. Jopie pun penasaran pada gadis itu. “Dan kebetulan ada teman gua, anak Bandung yang juga pemain musik. Lewat temen itulah gua berkenalan dengan cewek itu. Sialan di saat berkenalan tersebut gua baru tahu bahwa cewek yang gua maksud itu adalah adik istrinya,” kata Jopie dalam majalah Top , No. 045, Februari 1976. Gadis itu bernama Evi Aquanthie Azis. Baca juga:  Eddie van Halen dan Teknik Tapping Jopie dan Evi pun menikah di catatan sipil pada 28 Januari 1976, lalu resepsi pada 1 Februari 1976 di Gedung Wanita Bandung. Pernikahan yang panjang itu menghasilkan empat anak: Angelina Alavareza Item, Stevie Morley Item, Paula Allodya Item, dan Rainaldi Ramadhan Item alias Yai. Rupanya generasi ketiga keluarga Item, anak Jopie dan cucu Lodi, hidupnya tak jauh dari musik. Sebelum umur 20-an tahun, Stevie sudah jadi pemain gitar untuk Iwa K, lalu kerap muncul dalam konser-konser Dewa 19 di awal era 2000-an ketika Elfonda Mekel (Once) memperkuat band itu. Stevie yang doyan musik metal mendirikan Deadsquad pada 2004. Namun, ia juga terus meramaikan musik pop. Setelah jadi auditional player Dewa 19, Stevie mendukung Andra Ramadhan dalam Andra and the BackBone bersama Dedy Lisan pada vokal. Band metalnya ternyata tidak mati. Belakangan, Stevie malah fokus dengan Deadsquad. Anak bungsu Jopie yang dikenal Yai, pernah ikut bermain gitar dalam pertunjukan kakaknya, Audy Item ketika masih menjadi penyanyi solo. Audy Item terkenal di era 2000-an dengan salah satu hitsnya: Menangis Semalam . Kini, Yai Item memperkuat band cadas Seringai. Sementara itu, dari anak pertamanya, Angelina Alavareza Item, Jopie punya menantu bernama Muhammad Emil, dulu pemetik bass Naif.*

  • Tur Alam Akhirat

    SUATU hari, dua bayi laki-laki lahir di Jakarta. Bayi pertama, diberi nama Karma, menempati ruangan VIP di sebuah rumah sakit kelas A. Ayahnya pengusaha kelas kakap. Harta melimpah, rumahnya gedong bertaman luas. Karma dibawa pulang dari rumah sakit dengan Mercedes keluaran teranyar.

  • Winged Bull Versus Garuda

    A De Havilland Beaver aircraft had just landed at Kemayoran Airport, Jakarta. The fuselage was painted in white, red, and green, proudly showcasing the airline name, "Pioneer Aviation Corporation". Two passengers got off the plane.

  • Cagar Budaya Menuju Industri Kreatif

    Tiada ada yang menyangka bekas gudang percetakan dan perumahan karyawan Perum Peruri bisa disulap menjadi ruang publik yang digemari anak muda. Itulah M Bloc yang terletak di bilangan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dari lahan terbengkalai, kawasan cagar budaya ini bersalin rupa menjadi ruang kreatif, galeri museum mini, hingga pertunjukan musik. Sentuhan revitalisasi sejak 2019 tidak mengubah bentuk orisinal bangunan tersebut.  Menurut Direktur Perlindungan Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek Judi Wahjudin, cagar budaya dewasa ini bukan lagi terbatas pada domain kebudayaan. Ia sudah beririsan dengan berbagai pemangku kepentingan, baik vertikal maupun horizontal. Selain untuk edukasi, sambungnya, pemanfaatan cagar budaya untuk kesejahteraan masyarakat adalah keniscayaan. “Tidak sedikit cagar budaya yang menjadi lokus dan inspirasi UMKM berbasis kearifan lokal,” katanya dalam seminar nasional “Sinergitas Penetapan dan Pelestarian Cagar Budaya” yang diselenggarakan Kemendikbudristek di Jakarta Selatan  pada 10 Februari 2023. Judi menyebut M Block menjadi salah satu percontohan cagar budaya yang menjadi ruang publik inklusif.   Baca juga:  M Bloc dari Gudang Kosong Jadi Tempat Nongkrong Selain M Bloc, kawasan Kota Lama Semarang juga termasuk dalam kajian seminar tersebut. Sejak direvitalisasi menjadi ruang publik, kawasan yang terdiri dari Kauman, Pecinan, alun-alun, dan Kampung Melayu itu telah menjadi tempat pagelaran budaya ataupun festival masyarakat. Ia pun telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional sejak tahun 2020. Seminar Nasional “Sinergitas Penetapan dan Pelestarian Cagar Budaya” yang diselenggarakan Kemendikbudristek di Jakarta Selatan (10/2). (Martin Sitompul/Historia.ID). Namun, di daerah banyak ditemui berbagai persoalan dalam penetapan cagar budaya. Menurut data registrasi nasional cagar budaya, dari 100.633 objek yang terdaftar, baru 3.910 objek yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Itu artinya, terdapat kesenjangan selisih yang besar antara jumlah pendaftaran dan penetapan. Ditambah lagi jumlah Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang belum memadai di sejumlah daerah. Tercatat, masih ada delapan provinsi yang belum membentuk TACB, terutama provinsi baru di Indonesia kawasan timur.     “Padahal, wilayah timur ini sangat kaya aset-aset kebudayaannya, baik benda maupun tak benda,” imbuh Judi. Baca juga:  Utamakan Nilai Ekonomi, Ancaman Bagi Situs Bersejarah Sementara itu, Riono Suprapto, sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, mengatakan kementeriannya andil dalam revitalisasi dan pemeliharaan cagar budaya. Akan tetapi, setelah diserahkan ke pemerintah daerah banyak yang terbengkalai. Selain itu, banyak cagar budaya yang terhimpit oleh pembangunan kota atau terdegradasi dalam kawasan kumuh. Ini mencerminkan masih rendahnya kepedulian terhadap nilai cagar budaya. Menurutnya, penting untuk membenahi perawatan cagar budaya dengan kualitas material yang terbaik, menambahkan estetika, hingga melibatkan masyarakat sekitar dalam industri kreatif.  “Sedapat mungkin mempertahankan keaslian cagar budaya. Ini wajib, tapi tidak mudah,” ucapnya.   Itulah sebabnya, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam kesempatan yang sama mengharapkan terjalinnya kesamaan persepsi dan kesatuan komitmen berbagai pihak dalam pelestarian cagar budaya. “Cagar budaya merupakan salah satu entitas budaya yang tidak hanya sebagai identitas, namun juga ketahanan budaya dan diplomasi,” tandas Hilmar.  Baca juga:  Ronggeng Deli, Hiburan Orang Melayu yang Mati Suri

  • Keluarga Poespojoedo dalam Peristiwa Tiga Daerah

    Sejak zaman Hindia Belanda, Wijoego Poespojoedo sudah jadi orang penting di Pemalang, Jawa Tengah. Ia bagian dari pangreh praja kolonial. Sama dengan pegawai negeri sipil (PNS) zaman sekarang. Nyaris banyak keluarga PNS di zaman itu merasa negara induk mereka adalah Kerajaan Belanda. Seperti orang sekarang merasa negaranya Republik Indonesia. Wijoego tergolong pegawai kolonial yang cukup peduli dengan masa depan masyarakat pribumi yang lebih baik. Wijoego, disebut Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie , 31 Desember 1934, adalah kepala onderdistrik (kecamatan) Taman, Pemalang pada 1934.  De Locomotief , 22 Mei 1937 menyebut Wijoego terlibat dalam rencana pembangunan SMP kolonial Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Pemalang. Ia menjadi wakil ketua dalam kepanitiaan yang dipimpin pensiunan mantri guru bernama Raden Poerwosoedirdjo. Di dalamnya Raden Sahroewardie sebagai sekretaris pertama dan M. Nadardarno sebagai sekretaris kedua. Kepedulian Wijoego terhadap kehidupan masyarakat di antaranya dengan menolak pajak jika masyarakat belum mendapatkan manfaat. De Locomotief , 3 Agustus 1937 memberitakan, Wijoego tidak setuju dengan pemberlakuan pajak baru ini, selama kabupaten tidak menyediakan penerangan jalan yang layak. Baca juga:  Anton Lucas dan Cerita Kutil dalam Peristiwa Tiga Daerah Hindia Belanda bubar pada 1942 dan digantikan Jepang yang berkuasa hingga 1945. Putra Wijoego bernama Wiloejo Poespojoedo (1919–1968) menjadi letnan ( shodancho ) tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta), dan bertugas di Keresidenan Pekalongan. Setelah Indonesia merdeka, kebencian kepada bekas PNS kolonial yang merupakan penguasa tradisional merata di kawasan Keresidenan Pekalongan. Mereka dianggap bagian dari sumber penderitaan karena kolonialisme yang cukup lama. Golongan pamong praja dianggap pernah bekerja untuk Belanda dan Jepang yang menyengsarakan rakyat. Pergolakan antipriayi yang dikenal sebagai Peristiwa Tiga Daerah ini terjadi sejak Oktober hingga Desember 1945. Wijoego termasuk bekas pejabat daerah yang ditahan kelompok antipriayi. Seperti juga dialami R.A. Kardinah, adik R.A. Kartini. “Kardinah mendirikan sebuah rumah sakit, sekolah untuk anak perempuan, dan rumah yatim piatu anak-anak perempuan di Tegal,” tulis Anton E. Lucas dalam P eristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi . Baca juga:  RA Kardinah di Bawah Bayangan Kartini Ketika Wijoega ditahan, Wiloejo menjadi perwira staf di Resimen Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Lucas mencatat, umumnya perwira TKR punya hubungan dengan keluarga-keluarga pangrehpraja. Menurut Sarimin Reksodihardjo dalam Kenang-kenangan Dari Masa Jang Silam , Wiloejo kala itu berpangkat kapten TKR. Ia ikut membantu membebaskan para pangrehpraja yang ditawan kelompok Tiga Daerah. Perwira TKR biasanya mantan perwira Peta. Mereka lulusan sekolah elite kolonial yang biasa dinikmati anak priayi rendahan. Sementara mereka yang pendidikannya rendah ala rakyat jelata hanya mampu jadi sersan bahkan prajurit rendahan. Wijoego selamat dalam Peristiwa Tiga Daerah. Ia meneruskan kariernya di pemerintahan. De Locomotief , 17 Mei 1949, menyebut Wijoego menjadi wedana di Purwakartapada 1949. Baca juga:  Kisah "Robin Hood" dari Pantura dalam Peristiwa Tiga Daerah Setelah Peristiwa Tiga Daerah, Wiloejo terus berkarier di TNI. Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mencatat, Wiloejo menjadi perwira intelijen Resimen 17 Divisi III pada 1947, kemudian menjadi Asisten Wakil Kepala Staf Angkatan Perang di Yogyakarta pada 1949. Setelah itu, ia bertugas di Balikpapan sebagai Komadan Brigade E merangkap komandan Sub Tentara dan Teritorium III untuk Kalimantan Timurdari 1950 hingga 1951. Wiloejo sempat menjadi guru di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) dari 1954–1956, kemudian menjabat direktur SSKADpada 1958. Setelah tahun 1960, ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) mewakili tentara, lalu Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Terakhir, ia dengan pangkat mayor jenderal menjabat gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) pada 1965–1968. Wiloejo tutup usia pada 9 Januari 1968 ketika O rde B aru baru saja dilahirkan Angkatan Darat. Pangkat terakhirnya di TNI adalah l etnan j enderal. Namanya diabadikan sebagai nama jalan dan taman di Balikpapan tempatnya dulu berdinas. *

  • Jejak Leluhur Manusia

    GUGUSAN punggung pegunungan cadas (karst) di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, berderet seperti sebuah permainan puzzle. Letaknya beraturan, membentuk ceruk, lembah, dan tebing yang curam. Di sana terdapat ratusan gua yang penuh dengan lukisan cap tangan, lukisan manusia, tinggalan tembikar, alat-alat batu, kerang-kerang laut, hingga tulang-tulang hewan.

  • Rindu Jawa dari Negeri Pagoda

    BANDARA udara Suvarnabhumi begitu rapi dan tertib. Antrian panjang di kantor imigrasi selesai dalam beberapa menit. Pemandangan serupa terlihat di Bangkok Mass Transit System (BTS) atau dikenal dengan nama Skytrain, sebuah sistem transportasi massal yang terhubung ke bandara. Penumpang tak berebut naik. Suasananya bersih dan nyaman.

  • Mursalin Daeng Mamangung dalam Panggung Sejarah

    Kedatuan Luwu yang berpusat di Palopo merupakan daerah yang disegani kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar di masa lalu. Meski jauh dari Jakarta, Datu Luwu Andi Djemma merupakan raja yang mendukung Republik Indonesia di awal kemerdekaan. Andi Djemma setidaknya dibantu oleh M. Yusuf Arief, kepala polisi yang punya banyak pengikut. Setelah NICA Belanda membuat kantor di Palopo dan tentara KNIL berlaku kejam, pada tahun baru 1946, Yusuf Arief menyusun serangan umum para pejuang yang bergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI). “Tanggal 22 Januari 1946 keadaan kota Palopo sunyi senyap. Penyingkiran besar-besaran dari wanita-wanita dan anak-anak menuju ke luar kota, terbanyak ke pulau Libukang (sebuah pulau di depan pelabuhan Palopo),” catat Lahadjdji Patang dalam Sulawesi dan Pahlawan2nya Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia . Sebelum serangan besar terjadi, Yusuf Arief berusaha memperkuat barisannya. Tujuannya agar para pemimpin PRI di Luwu dan pasukannya tidak ragu-ragu dalam menyerang tentara Belanda di waktu yang ditentukan. “M. Yusuf Arief memerintahkan kepada Mursalin Daeng Mamangung untuk menyamar menyerupai Bung Tomo dengan berselimut kain   putih di bawah pohon beringin yang besar di samping Istana Palopo, supaya berpidato untuk membakar semangat,” terang Lahadjdji. Baca juga:  "Bung Tomo": Pemuda Bandung Lembek Seperti Peuyeum Pertempuran terjadi. Tentara Belanda bertindak semakin keras di Sulawesi Selatan setelah 1946. Meski gagal merebut seluruh Luwu dari Belanda,  Mursalin dan banyak pejuang terus melawan tentara Belanda.  Sebelum  terjadi pertempuran itu, Mursalin sudah melanglang buana ke banyak tempat. Buku Profil Ketua-Ketua DPR RI Sejak Tahun 1945 S/D Agustus 1999  menyebut Mursalin sempat bekerja di Bengkalis, Riau, dan sempat pula menjadi guru Sekolah Pelayaran Rendah (SPR) di Singaraja, Bali. Ia menjadi guru di SPR setelah ia tamat belajar di SPR dan Sekolah Pelayaran Tinggi di Makassar. Ayah aktor Sophan Sophiaan, Manai Sophiaan punya kenangan dengan Mursalin. “Dengan mengendarai truck serobotan, saya dikawal oleh Mursalin Daeng Mamangung pergi ke Bone untuk menemui Lanto Daeng Pasewang dan A.N. Hadjarati untuk membuat rencana-rencana berhubung dengan perkembangan situasi baru,” kisah Manai Sophiaan dalam Apa yang Masih Teringat . Mursalin lalu menyeberang ke Jawa dan bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) di Jawa Timur . Ia sempat memimpin satuan gerilya di daerah Kepanjen, Malang dan Blitar, Jawa Timur. Baca juga:  Tan Malaka dan Angkatan Laut di Surabaya Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia, Mursalin terus menjadi perwira ALRI. Ia pernah menjadi komandan kapal RI Enggano, RI Djangan, dan RI Flores,kemudian sempat menjadi perwira di RI Dewa Rutji. Pada 1959, ia pernah sebentar menjadi perwira staf pribadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) lalu komandan dari Komando Daerah Maritim Djakarta (KDMD). Setelah Laksamana Subijakto tidak menjadi KSAL lagi, Mayor Mursalin menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dari 1960 hingga 1965. Dari mayor, dalam hitungan empat tahun, ia telah melalui pangkat letnan kolonel, kolonel, lalu di tahun 1964 menjadi komodor setara laksamana pertama. Sejak 15 November 1965, Mursalim menjadi wakil ketua DPR-GR. Ia sebagai wakil dari Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) hingga6 Juni 1966. Ia sempat dua minggu, dari 2 Mei hingga 17 Mei 1966, menjadi pejabat ketua DPR-GR. Orde Baru pernah menempatkannya sebagai Menteri Tenaga Kerja sejak 1968 hingga 1973. Nama pria kelahiran Makassar, 20 November 1922 ini kurang terdengar lagi setelah Soeharto berkuasa. Rosihan Anwar dalam Semua Berawal dengan Keteladanan yang sempat menghadiri acara pernikahan emas (50 tahun) Mursalim dan Eangdjariah pada 3 September 2000, menyebut Mursalin pernah menjabat duta besar di Rumania. “Secara politis ia pengikut Sukarno dan dekat PNI. Dengan saya ia bersama-sama dalam pimpinan Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI),” kata Rosihan. Baca juga:  Yang Seteguh Batu Karang: Kisah Grace Walandaow Hartono Ketika Letnan Jenderal KKO Hartono, mantan Komandan Jenderal KKO (Marinir) yang didutabesarkan di Korea Utara, ditemukan meninggal dunia pada Januari 1971, Laksamana Muda Mursalin termasuk orang yang mendatangi tempat kejadian dan bertemu beberapa anggota keluarganya. “Menurut Mursalin, tak mungkin Hartono bunuh diri, mengingat karakternya yang keras dan tegas. Apalagi, peluru yang menewaskannya datang dari arah belakang atas kepala tembus ke leher. Suatu cara bunuh diri yang terlalu aneh dan musykil,” tulis Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 . Kala itu, Mursalin juga menjadi saksi perubahan dari era Sukarno ke Orde Baru yang didominasi Angkatan Darat. Banyak perwira tinggi ALRI mencela sikap “terlalu berpolitiknya para perwira Angkatan Darat” dalam menumbangkan Sukarno. Laksamana Madya TNI (Purn.) Mursalin Daeng Mamangung meninggal di Jakarta pada 18 November 2006 dalam usia 83 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.*

  • Tanjung Barulak Bergejolak Menolak Pajak

    PENGANIAYAAN yang dilakukan Mario Dandy Satrio terhadap Cristalino David Ozora berbuntut panjang. Mario yang kini mendekam dalam penjara, justru menitikkan getah kepada korps perpajakan. Mario adalah putra dari Rafael Alun Trisambodo, mantan kepala bagian umum Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Kehidupan hedon yang dipertontonkan Mario di media sosial memantul pada isi rekening sang ayah yang dinilai tak wajar. Alhasil, Rafael menjadi sasaran penyelidikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

  • Toko Jepang Menerjang

    TSUTSUMIBAYASHI Kazue telah berganti-ganti pekerjaan. Dari guru tidak tetap sampai sipir penjara. Perkenalannya dengan Kakushun, seorang pedagang Taiwan yang memiliki cabang di luar negeri, mendorongnya menjadi pedagang. Pada 1902, ia mandiri dengan membuka toko kelontong di Taipei.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page