Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Usaha Menemukan Muarajambi
SUATU hari ketika sedang mengobservasi sebuah situs arkeologi di Sumatra Utara, Junus Satrio Atmodjo, arkeolog mantan kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi era 1990-1997 mengamati adanya anomali pada sebidang tanah.
- Tentara Merah di Selingkung Gunung
HUJAN masih deras bakda Magrib ketika kau melepas mantel di depan sebuah rumah beratap limasan di Dusun Jetis, Jlarem, Kabupaten Boyolali. Di halaman rumput yang cukup luas itu, kau akan melihat sepasang mata bola mengintip dari jendela. Bisa jadi itu adalah Sastro Martono, lelaki berkacamata yang rambutnya telah memutih.
- Bambang Soepeno, Penyusun Sapta Marga TNI Ditahan Orde Baru
Suatu hari, Brigadir Jenderal TNI Soemitro, Pangkopkamtib (Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), bertemu dengan Mayor Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah yang menjabat Pangkostrad (Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) menggantikan Letnan Jenderal TNI Soeharto. Umar menyampaikan keluhannya.
- Singa Atlas Mengaum di Pentas Sepakbola
GESTURNYA santai, ekspresi wajahnya pun datar. Seolah tiada beban dalam pikiran Achraf Hakimi jelang momen penentuan sebuah laga di 16 besar Piala Dunia 2022. Salah satu punggawa timnas Maroko itu hanya sekilas menatap si kulit bundar di titik 12 dan gawang lawan di hadapannya. Lantas, Hakimi mengeksekusi “Panenka” yang mengelabui kiper lawan. Gol! Rekan-rekan setim dan ofisial tim Maroko pun tumpah ruah dan larut dalam euforia. Namun bukan Hakimi yang jadi sasaran rangkulan erat hingga diusung ke udara, melainkan kiper tim Maroko Yassine Bounou alias Bono. Bono jadi pahlawan penentu kemenangan bersejarah tim Singa Atlas (julukan timnas Maroko). Momen itu terjadi pada Selasa (6/12/2022) malam saat Maroko meladeni Spanyol. Education City Stadium di kota Al-Rayyan, Qatar, jadi saksi Maroko memaksa jawara Piala Dunia 2010 itu angkat koper lebih awal lewat kemenangan 3-0 di babak adu penalti. Baca juga: Lima Stadion Unik Piala Dunia Bono jadi pahlawan yang paling dielu-elukan. Kiper berusia 31 tahun –yang merintis kariernya di Spanyol bersama akademi Atlético Madrid hingga kemudian hijrah ke Sevilla dan bahkan menjadi kiper terbaik La Liga musim 2021-2022– itu dua kali berturut-turut mementahkan eksekusi pemain Spanyol, Carlos Soler dan Sergio Busquets. Kecemerlangan Maroko tentu bukan sekadar hoki di babak adu penalti. Sepanjang dua babak normal dan dua perpanjangan waktu, Hakim Ziyech dkk. kerja ekstra keras mempertahankan “Tembok Merah” mereka dari beragam gempuran Spanyol sekaligus beberapa kali melancarkan counter-attack berbahaya untuk membuat Spanyol tak bisa all-out dalam menyerang. Bono alias Yassine Bounou yang jadi pahlawan Maroko ( fifa.com ) Pelatih Maroko Walid Regragui dianggap sukses meracik tim dari para diaspora Maroko di Eropa. Baik pemain yang lahir maupun besar dan meniti karier di Eropa. Meski di Piala Dunia tetap dilabeli tim underdog , dari 26 pemain di skuad Maroko hanya tiga yang bermain di klub domestik. Sisanya, semua bermain di klub mancanegara macam Bono dan Youssef En-Nesyri di Sevilla, Hakim Ziyech (Chelsea), Noussair Mazraoui (Bayern Munich), dan Achraf Hakimi (Paris Saint-Germain). “Tapi kami menunjukkan pada dunia bahwa setiap orang Maroko tetaplah orang Maroko. Ketika dia datang bersama tim nasional, dia rela mati, dia ingin bertarung. Saya sendiri lahir di Prancis tapi tiada yang bisa mengambil hati saya yang setia pada negeri ini. Para pemain saya mengerahkan 100 persen kemampuan. Beberapa dari mereka lahir di Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Prancis, dan setiap negara yang punya kultur sepakbola sendiri. Anda harus bisa meramunya dan lolos ke perempatfinal,” ujar Regragui, disitat Sports Mole , Selasa (6/12/2022). Baca juga: Lima Penjegal Raksasa Piala Dunia Seperti dikatakan Regragui, Maroko pun melangkah sampai ke perempafinal. Sebelumnya di fase Grup F, Maroko sudah bikin kejutan dengan jadi pemuncaknya lewat dua kali menang dan sekali imbang. Belgia yang menempati peringkat dua FIFA dan datang dengan skuad generasi emasnya, jadi salah satu korbannya. Lolosnya Maroko ke perempatfinal juga menjadi sejarah. Capaian terbaik Maroko sebelumnya terjadi di Piala Dunia 1986, yakni mencapai perdelapan final. Kini, 36 tahun berselang, sejarah itu di- upgrade oleh Achraf Hakimi cs. Untuk pertamakalinya Maroko memijak perempatfinal dan boleh jadi, kejutan mereka belum akan usai. Patut ditunggu bagaimana Maroko meladeni Portugal –yang lolos ke perempatfinal dengan melindas Swiss, 6-1– pada 10 Desember nanti di Al Thumama Stadium. Skuad generasi emas Maroko yang memulangkan Spanyol di babak 16 besar ( fifa.com ) Permainan yang Diimpor Penjajah Hingga memasuki awal abad ke-20, Maroko dicengkeram dua kolonialis besar Eropa yang mendirikan protektoratnya: Spanyol dan Prancis. Kolonialis yang disebut terakhir kemudian membawa permainan si kulit bundar dari daratan Eropa menyeberangi Laut Mediterania. Dalam Soccer Empire: The World Cup and the Future of France, sejarawan Duke University Laurent Dubois mencatat, kolonialis Prancis menularkan sepakbola ke Maroko melalui Aljazair dan Tunisia yang juga jadi tanah yang dijajah Prancis. Tentu mulanya sepakbola itu sekadar dimainkan orang-orang berkulit pucat yang tak hanya militer Prancis tapi para imigran Eropa Selatan lainnya. “Sepakbola dengan pesat menyebar di Tunisia, Maroko, dan Aljazair yang merupakan wilayah-wilayah jajahan Prancis di Afrika Utara. Sebuah klub didirikan sekelompok pendatang Eropa di Aljazair pada 1897, dan kemudian diikuti para pendatang lain di Maroko dan Tunisia. Para pendatang Eropa itu bukan hanya orang Prancis tapi juga para imigran Italia, Spanyol, dan Malta,” ungkap Dubois. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Seperti halnya di jajahan Prancis lain di Afrika Barat dan Afrika Tengah, sepakbola dijadikan salah satu alat kolonial Prancis untuk membuat penduduk lokal lebih “beradab”. Sepakbola sekaligus dijadikan untuk meredam bibit-bibit pemberontakan agar energi kaum bumiputera dihabiskan di lapangan. “Seorang jenderal Prancis pada 1936 bahkan menyatakan, ‘olahraga harus menjadi jembatan yang mempersatukan orang Prancis dan masyarakat muslim. Di sisi lain olahraga bisa mengeliminasi segala perseteruan antar-agama dan ras’,” sambungnya. Wydad AC, salah satu klub tertua Maroko yang masih eksis sampai saat ini ( wac.ma ) Di Maroko, sepakbola dibawa masuk serdadu Prancis pada awal abad ke-20. Menurut Moncef Lyazghi dan Abderrahim Rharib dalam “Football and Politics in Morocco” yang termaktub dalam buku Sport in the African World , permainan sepak bola dimainkan pertamakali di tanah Maroko oleh militer Prancis yang menduduki kota Oujda di timur laut Maroko pada 1907 atau lima tahun sebelum Prancis mendirikan protektoratnya. “Stadion sepakbola pertama bahkan sudah dibangun di tahun yang sama untuk para prajurit Prancis di kamp Jack Rose, di mana pertandingannya dimainkan hanya di antara sesama tim militer Prancis. Kemudian pada 1911 lahir tim sipil pertama di Maroko, Sporting Club of Oujda. Mulanya tim ini dibentuk para orang sipil Prancis. Kemudian minat pada olahraga ini meluas dan hasilnya dibangunlan stadion besar yang memakai nama Marshall Lyautey pada 3 Mei 1921,” tulis Lyazghi dan Rharib. Baca juga: Larbi Benbarek, Bintang Sepakbola Prancis Asal Maroko Awalnya, pemerintah kolonial Prancis membatasi perkembangan sepakbola. Salah satunya, setiap klub yang didirikan kalangan bumiputera wajib memiliki sedikitnya tiga pemain Prancis. Sebagai gantinya, Prancis membantu masyarakat setempat di berbagai kota untuk membangun stadion-stadion yang boleh dimainkan klub-klub bumiputera. Kasablanka menjadi kota di mana sepakbola Maroko berpusat. Di sanalah para pemain lokal mulai unjuk gigi. Salah satunya adalah Larbi Benbarek, yang kemudian berkarier di klub Prancis dan menjadi bintang timnas Prancis kurun 1938-1954. Timnas Maroko pada 1959 dalam laga kontra Malta (Facebook Malta and International Football Collection) Pasca-Perang Dunia I, sepakbola makin pesat berkembang dan menyebar di Maroko. Sejak 1920-an, sepakbola sudah teratur dimainkan di Maroko, utamanya di wilayah protektorat Prancis. Terutama sejak sebuah kompetisi berformat liga yang bernaung dan disupervisi langsung oleh federasi sepakbola Prancis (FFF), yakni LMFA, dimulai tahun 1917. Sepakbola di Maroko, utamanya di wilayah protektorat Prancis, sudah teratur dan ajeg sejak 1920-an. Terutama semenjak dimulainya sebuah kompetisi berformat liga, yakni LMFA, mulai 1917. Liganya bisa teratur dan berjalan dengan laik lantaran bernaung dan disupervisi langsung oleh FFF atau federasi sepakbola Prancis. “Sepakbola begitu cepat merambah ke segala penjuru Maroko pasca-Perang Dunia I. Pada 1928, Union 14 Sportive Musulmane de Casablanca didirikan. Klub yang sepenuhnya untuk orang Maroko dan memberi mereka kesempatan bermain. Pada 1937, salah satu klub besar Maroko, Wydad, lahir. Meski berbasis di Kasablanka, Wydad sengaja tak menyematkan nama kotanya demi menarik minat dan dukungan yang lebih luas. Setelah Perang Dunia II, klub besar lain, Raja CA didirikan juga di Kasablanka,” ungkap Stuart dan Philip Laycock dalam How Britain Brought Football to the World. Baca juga: Gema Kemerdekaan Palestina dari Seberang Lapangan Sementara, klub-klub Maroko yang bertebaran di wilayah protektorat Spanyol baru melahirkan liganya sendiri, Campionato Hispanomarroqui, pada 1931. Sebagaimana juga wilayah tetangga, liganya bernaung di bawah arahan langsung federasi sepakbola Spanyol RFEF. Dari liga, terutama dari LMFA, terkumpullah sejumlah pemain terbaik yang lantas dihimpun menjadi kesebelasan nasional pertama Maroko pada medio 1928. Pada 22 Desember di tahun itu, timnas Maroko melakoni laga perdananya kontra timnas Prancis B yang sedang tur ke Afrika Utara. Skor akhir 2-1 untuk tim tamu. Selebihnya, timnas pelopor Maroko itu sekadar memainkan laga-laga eksebisi melawan klub-klub lokal Tunisia atau Aljazair. Sebagaimana di banyak negeri jajahan, sepakbola juga dijadikan alat perjuangan untuk kemerdekaan. Sepakbola, lanjut Stuart dan Philip Laycock, dijadikan salah satu alat untuk show of force terhadap kolonialis Prancis dan mempromosikan kesadaran akan martabat dan identitas nasional. Timnas Maroko pada debutnya di Piala Dunia 1970 ( fifa.com ) Kesadaran identitas nasional itulah yang mendorong para aktivis kemerdekaan bumiputera mendirikan federasi sepakbola, Fédérarion Royale Marocaine de Football (FRMF), pada 1955. Setelah Maroko mencapai kemerdekaannya pada 1956, FRMF baru diterima jadi anggota CAF (Konfederasi Sepakbola Afrika) dan FIFA. Debut timnas Maroko setelah menjadi negara merdeka dilakoni di ajang multi- event Pan Arab Games 1957 di Lebanon. Ditukangi Benbarek yang baru gantung sepatu, prestasi timnas Maroko lumayan membanggakan dengan membawa oleh-oleh juara empat usai KO di semifinal. Baca juga: Si Kulit Bundar di Tanah Saudi Sebagai negara dengan solidaritas politik tinggi, Maroko mendukung upaya kemerdekaan tetangganya, Aljazair. Dimotoro Presiden Ghana Kwame Nkrumah, bentuk solidaritas untuk Pan-Afrika dilakukan juga lewat sepakbola. Oleh karena itu, timnas Maroko hingga 1958 sering bolak-balik ke Aljazair untuk melakoni laga persahabatan dengan tim Front Pembebasan Nasional Aljazair. Timnas Maroko di level internasional mulai dikenal saat mengikuti cabang sepakbola di Olimpiade Tokyo 1964. Adapun di kualifikasi Piala Dunia, Maroko pertamakali ikut serta pada 1968 untuk merebut tiket lolos zona Afrika menuju Piala Dunia 1970. Maroko akhirnya bisa berbangga menjadi negara Arab cum wakil Afrika pertama yang tampil di Piala Dunia. “Rasanya sungguh luar biasa karena itu pertamakali Maroko lolos ke Piala Dunia. Jika Anda juga tak punya keyakinan dan kepercayaan diri, Anda takkan tampil di sana” kenang kiper Allal Ben-Kassou yang turut dalam skuad 1970, dikutip ESPN , 6 Mei 2014. Timnas Maroko menorehkan sejarahnya di Piala Dunia 1986 ( fifa.com ) Maroko tergabung di Grup 4 bersama Peru, Bulgaria, dan Jerman Barat yang ditopang Franz Beckenbauer dan Gerd Müller-nya. Tim kuat itu jadi lawan perdana Maroko. Di luar dugaan, Maroko sanggup memberi sengatan dengan unggul 1-0 yang dicetak Houmane Jarir ke gawang Sepp Maier. “Gol pertama kami benar-benar mengejutkan tim Jerman. Hanya Tuhan yang tahu seperti apa perasaan mereka saat kami unggul lebih dulu,” kata Said Ghandi yang juga anggota skuad 1970. Baca juga: Maroko Dulu Menjegal, Kini Gagal Kendati Müller dan Uwe Seeler akhirnya mampu membalikkan skor 2-1, Maroko kemudian bisa pulang dengan kepala tegak meski di dua laga grup berikutnya kalah 0-3 ari Peru dan imbang 1-1 melawan Bulgaria. “Kami gagal lolos ke fase kedua tetapi kami bermain bagus dan menunjukkan pada seluruh dunia bahwa sepakbola Afrika tak boleh dipandang remeh. Kami mendapat pengakuan dari semua orang. Saat kami pulang, ada ribuan fans yang menunggu dan menyambut kami di bandara,” sambung Ben-Kassou. Kiprah timnas Maroko di Piala Dunia, searah jarum jam: 1994, 1998, 2018, dan 2022 ( fifa.com ) Cerita timnas Maroko lebih indah pada Piala Dunia 1986. Jawara Piala Afrika 1976 dan Mediterranean Games 1983 itu berangkat ke Meksiko dengan skuad generasi emasnya. Tim yang dibesut pelatih asal Brasil José Faria itu membawa serta lima pemain yang berkarier di Eropa dan menempati grup F yang juga dihuni Inggris, Polandia, dan Portugal. Maroko yang tak mematok target muluk-muluk justru memberi kejutan besar. El Haddadoui dkk. jadi juara Grup F dengan menahan imbang Polandia dan Inggris dengan skor serupa (0-0), serta membekuk Portugal 3-1. Maroko pun lolos ke fase berikutnya. Namun, perjalanan Maroko tamat di perdelapanfinal usai kalah 0-1 dari Jerman Barat. Setelah itu, auman “Singa Atlas” begitu menggetarkan Afrika. Selain langganan masuk Piala Dunia, Maroko konsisten jadi salah satu raja di Benua Hitam bersama Kamerun dan Nigeria. Tiga kali Maroko juara Afrika (1972, 2018, 2020) selain menjadi kampiun Arab Cup 1998. Baca juga: Maroko dan Piala Dunia
- Sebuah Keajaiban di Jakarta
KANOPINYA berwarna keperakan. Sisi kiri dan kanannya dipasangi kaca. Ia terletak di tengah jalur pedestrian Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Inilah stasiun bawah tanah Moda Raya Terpadu (MRT) Bundaran Hotel Indonesia (HI).
- Annie Landouw, Biduanita Tunanetra
Sejarah musik keroncong Indonesia tak hanya punya musisi-musisi hebat laki-laki seperti Ismail Marzuki, S. Abdullah, Gesang, atau Kusbini. Musisi keroncong perempuan juga pernah jadi idola penggemar pada masanya. Sebut saja Miss Rukiah, Miss Netty, Miss Jacoba, hingga Miss Annie Landouw. Nama yang terakhir bahkan seorang penyanyi keroncong tunanetra. Annie Landouw lahir di Solo pada 1913. Sejak usia satu tahun ia telah mengalami tunanetra. Menurut Victor Ganap dalam Krontjong Toegoe in Tugu Village: Generic Form of Indonesia Keroncong Music , seorang Belanda bernama Ferdinand Roland Landouw kemudian mengangkatnya sebagai anak. Dalam wawancara dengan surat kabar Pewarta Surabaia , 30 September 1939, Annie Landouw suka menyanyi sejak usia lima tahun. “Ayah saya ada kampiun nyanyi, ia ada jadi eigenaar (pemilik) stambul Amoenaris,” kata Annie Landouw. Baca juga: Lief Java dan Ismail Marzuki Mendengar ayahnya mendapat sambutan tepuk tangan dari penonton ketika menyanyi di atas panggung, keinginan Annie Landouw menjadi penyanyi semakin besar. Setelah stambul Amoenaris tak lagi aktif, Annie meminta sebuah gitar kepada ayahnya. “Permintaan saya tentu diturutin sebab ayah saya sangat sayang dan saya ada anak yang satu-satunya,” kata Annie Landouw. Sejak itu, Annie Landouw semakin serius berlatih menyanyi. Pada 1927, ketika baru berusia 14 tahun, untuk pertama kalinya Annie mengikuti Fandel Concours Keroncong di Surakarta. Iamenyabet juara satu. “Matanya yang cacat sebagai penyanyi keroncong tidak menghalanginya untuk meraih juara pertama pada tahun 1927 Fandel Concours Keroncong di Surakarta, di mana setelah itu Annie memiliki beberapa kontrak rekaman dengan Decca, Columbia…,” tulis Victor Ganap. Salah satu piringan hitam Annie Landouw yang populer ialah Keronchong Pearls yang memuat lagu Air Laut , Stambul O Tuhan , Fatimah , Keroncong Spesial , Kr. Moritsko , hingga Stambul Masuk Keluar Kampung . Lagu Stambul O Tuhan mengisahkan dirinya sendiri yang tunanetra. Baca juga: Riwayat Kontes Keroncong Dari Surakarta, Annie Landouw mulai menyanyi ke kota-kota lain seperti Surabaya dan Tegal. Bahkan ia kemudian melakukan trip ke Singapura dan Malaya. Namun, sepulang dari trip dan menikah, ia sempat istirahat dari panggung keroncong. Pada 1936, Annie Landouw menyanyi kembali. Ia memulai kembali dari Surakarta dan di Semarang ia langsung merebut juara Java Kampiun. Radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij) Bandung kemudian menyiarkan rekaman Annie Landouw secara reguler. Annie Landouw kemudian kembali melakukan tur ke Malaya yang dipimpin oleh penyanyi keroncong kawakan S. Abdullah. Kembali dari Malaya, ia mengikuti Krontjong Councours Pasar Gambir dan merebut juara tiga. Ia kemudian menetap di Batavia dan bergabung dengan grup keroncong Lief Java. Menurut Ninok Leksono dalam Seabad Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman , bersama Lief Java, ia menyanyi untuk radio VORO (Vereeniging voor Oostersche Radio Oemroep) setiap Sabtu malam. Mereka tampil tanpa dibayar karena VORO masih berupa radio rintisan. Sementara menurut Pewarta Soerabaia ia tampil sembilan kali dalam sebulan. “…terima panggilan menyanyi apabila temponya vrij (bebas) dan 1 tahun sekali opname (rekaman) buat plaat gramofon,” tulis Pewarta Soerabaia . Penghasilan Annie Landouw sebagai penyanyi tampaknya tak menentu. Kadang ia dapat penghasilan besar, kadang hanya cukup untuk ongkos.“Saya terpaksa gadaikan barang-barang perhiasan saya,” kata Annie jika sedang tak ada penghasilan. Baca juga: Legenda Keroncong Itu Berpulang Peter Keppy dalam “Keroncong, Concours and Crooners, Home Grown Entertainment in Early Twentieth-Century Batavia” yang termuat dalam Linking Destinies, Trade, Towns and Kin in Asian History menyebut pada 1940, tersiar kabar Annie Landouw hendak menjalani operasi mata. Ketika itu, sekelompok orang Tionghoa-Indonesia di Batavia secara spontan mengumpulkan dana untuk membantunya. Tapi Annie Landouw menolak. Ia takut berutang budi. Keppy juga menyebut Annie Landouw menginspirasi tokoh utama dalam novel Belenggu karya sastrawan Pujangga Baru, Arjmin Pane. “Karakter ini ditampilkan Pane untuk menjawab persoalan sosial-budaya yang mendesak dalam masyarakat Indonesia dan kesulitan untuk mendamaikannya: moralitas konvensional, emansipasi perempuan, identitas budaya baru, nasionalisme, dan modernitas,” tulis Keppy. Selain menyanyi, Annie Landouw juga membintangi beberapa film seperti Fatimah (1938), Siti Akbari (1939), Gagak Hitam (1939), Sorga Ketudjuh (1940) dan Roekihati (1940). Setelah Perang Dunia II, Annie Landouw tampaknya tak aktif lagi di panggung keroncong maupun layar perak. Biduanita tunanetra itu meninggal dunia pada 17 Agustus 1982 di Jakarta. *
- Banteng Bersayap versus Garuda
PESAWAT De Haviland Beaver mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta. Bercat warna putih, merah, dan hijau, dengan badan pesawat bertuliskan “Pioneer Aviation Corporation”. Dua penumpangnya turun dari pesawat.
- Hikayat Raja Ban
PAGI itu, Presiden Sukarno kongko sambil minum kopi bersama orang-orang terdekatnya di Istana Merdeka. Berita tak sedap sampai ke telinga kepala negara. Ibrahim “Bram” Tambunan buka suara soal ekspor hasil bumi Indonesia yang diboikot masuk pasar Eropa. Sebagai jalan keluar, Bram usul membuka kantor dagang di Belanda yang mengusahakan impor berbagai hasil bumi dari Indonesia dan mengekspor aneka ragam barang industri ke Indonesia. Usulan ini dukung sepenuhnya oleh Bung Karno.
- Runtuhnya Taipan Istana
ASMAWI Lida membolak-balikan foto di album lawas peninggalan mendiang ayahnya, Sulaiman Lida. Kendati sudah lusuh, lembar demi lembar foto masih terlihat jelas. Menampilkan kebersamaan dan keakraban Presiden Sukarno dengan para pembesar negeri. “Enggak berani dulu kita keluarkan ini, Pak. Selama zaman Soeharto album foto itu saya simpan di rumah. Enggak saya buka-buka. Saya diamkan saja di rumah. Mana tahu suatu saat nanti akan ada gunanya,” ujar Asmawi, lelaki pensiunan berusia 69 tahun.
- The Memory Tape of Kotot Sukardi
"IF you ever lack a story to tell, you can either come to brother Kotot Sukardi or to me." The remark was given by Sukarno in his speech during the farewell night of the artists and filmmakers gathering held at the State Palace on 12 March 1956.
- Hitam-Putih Catur Indonesia
DI lantai tujuh Gedung Nusantara I DPR RI di kawasan Senayan, Jakarta, Utut Adianto lagi kedatangan tamu. Di sebuah ruangan, dengan meja oval besar di tengahnya, beberapa rekannya sedang rehat makan siang. Tapi Utut memilih berada di ruang di sebelahnya yang lebih kecil, tempat ia menyibukkan diri sebagai ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
- 25 November 1867: Kantor Cabang DJB Surakarta Didirikan
Ketika perjalanan dinas ke Yogyakarta, Direktur De Javasche Bank (DJB) C.F.W. Wiggers van Kerchem punya gagasan untuk mendirikan kantor cabang DJB di Surakarta. DJB sudah punya lima kantor cabang yang berada di wilayah pesisir atau kota-kota pelabuhan. Pendirian kantor cabang di wilayah pedalaman merupakan suatu kebutuhan. Gagasan itu terealisasi pada 25 November 1867 dengan berdirinya De Javasche Bank Agentschap Soerakarta (Kantor Cabang DJB Surakarta). De Javasche Bank (DJB), cikal-bakal Bank Indonesia, merupakan bank sirkulasi yang didirikan pemerintah kolonial pada 1828. Ia adalah bank sirkulasi pertama di Asia. Kantor pusatnya di Batavia (Jakarta). Oleh pemerintah Kerajaan Belanda, DJB diberikan octrooi atau hak-hak istimewa untuk bertindak sebagai bank sirkulasi. Atas perannya tersebut, DJB memiliki wewenang untuk mencetak dan menyebarkan uang gulden di Hindia Belanda. Tak hanya sebagai bank sirkulasi, DJB juga berfungsi sebagai bank umum yang dapat menerima deposito, wesel, pemberian kredit, serta jual-beli emas dan perak batangan. Baca juga: Perampokan Javasche Bank dan Kisah Resort Gentisville Setelah setahun beroperasi, DJB mendirikan kantor cabang di berbagai wilayah Hindia Belanda. Lokasinya dipilih berdasarkan perkembangan ekonomi dan keuangan wilayah tersebut. Maka, berdirilah kantor-kantor cabang DJB di Semarang (1829), Surabaya (1829), Padang (1864), Makassar (1864), dan Cirebon (1866). Menurut Darsono dalam Perjuangan Mendirikan Bank Sentral Republik Indonesia , awalnya pendirian kantor cabang DJB dilakukan di wilayah-wilayah yang merupakan kota pelabuhan, bandar-bandar besar di Jawa, serta sentra perdagangan. Ramainya arus lalu lintas ekonomi dan perdagangan di wilayah-wilayah tersebut berimplikasi pada kebutuhan akan uang dan peredaran uang yang masif. Surakarta (Solo) menjadi wilayah pedalaman pertama yang dipilih DJB untuk mendirikan kantor cabangnya. Terpilihnya Surakarta tentu punya alasan. Antara lain perkembangan ekonomi Surakarta yang dinamis, pesatnya pertumbuhan industri batik, dan berkembangnya sektor perkebunan yang berorientasi ekspor. Melihat kenyataan tersebut, Gubernur DJB C.F.W. Wiggers van Kerchem melakukan safari ke Surakarta. Setelah kunjungannya itu, van Kerchem mengirim suatu telegram kepada direksi DJB di Batavia terkait rencana pendirian kantor cabang DJB di Surakarta. Baca juga: Agen CIA Merampok Bank Indonesia Gagasan tersebut ditanggapi positif dan disetujui dalam Rapat Direksi pada 12 Juli 1867. Notulensi Rapat Direksi tersebut menyebut bahwa rencana pendirian kantor cabang DJB Surakarta akan mendapat pengawasan dan arahan dari kantor cabang DJB di Semarang. Selanjutnya, sebagaimana ditulis dalam buku Harmoni dalam Perbedaan: Bank Indonesia dalam Dinamika Ekonomi Solo Raya, rencana pendirian kantor cabang DJB Surakarta kembali diangkat dan menjadi salah satu agenda pembahasan dalam Rapat Umum Pemegang Saham pada 24 Juli 1867. Dalam perjalanannya, pendirian kantor cabang DJB Surakarta nyatanya tidak berjalan mulus. Terjadi silang pendapat. Butuh sepuluh kali Rapat Direksi guna memperoleh jawaban final. Dalam perdebatan itu, van Kerchem berkeyakinan bahwa kelak Surakarta berkembang menjadi wilayah yang perekonomiannya tumbuh bergeliat. Dengan begitu, DJB tidak akan mengalami kerugian dan kehadirannya diperlukan. Selain urgensi ekonomi, kepentingan politik dalam rangka meneguhkan kekuasaan Belanda di wilayah koloni turut menjadi alasan lain perlunya mendirikan kantor cabang DJB di Surakarta. Dari hasil Rapat Direksi pada 29 Juli 1867 dan atas persetujuan Gubernur DJB, D.N. Versteegh (pemimpin kantor cabang DJB Semarang) dan A.W. Verkouteren (pejabat pimpinan sementara cabang Surakarta) mengawali kegiatan kantor baru di Surakarta. Baca juga: Sejarah Lahirnya Bank Syariah di Indonesia Setelah melalui prosedur Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, dengan Surat Keputusan No. 15 tanggal 23 Oktober 1867 disetujui pendirian kantor cabang DJB Surakarta. Sebagaimana tertera dalam arsip “Sekilas Sejarah Pendirian Kantor Cabang Solo”, koleksi Arsip De Javasche Bank yang tersimpan dalam Khazanah Arsip Bank Indonesia, De Javasche Bank Agentschap Soerakarta (kantor cabang DJB Surakarta) secara resmi berdiri pada 25 November 1867 dengan A.W. Verkouteren sebagai pemimpinnya. Kantor cabang DJB Surakarta ditutup pada masa pendudukan Jepang. Kemudian dibuka kembali dan akhirnya menjadi bagian dari nasionalisasi DJB menjadi Bank Indonesia pada 1951. Kini ia menjadi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo.*





















