top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kenapa Sepakbola Indonesia Kalah Melulu?

    KERUTAN di wajah. Kumis dan janggut lebat. Tatapan mata tajam. Suaranya yang berat dan tegas. Di usia 79 tahun, I Gusti Kompyang Manila masih memendam gairah terhadap persepakbolaan Indonesia. Dia ingin tim nasional (timnas) Indonesia kembali berjaya seperti dulu.

  • AKU

    "Biar peluru menembus kulitku. Aku tetap meradang menerjang. Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih peri". Dalam rangka memperingati 100 tahun Chairil Anwar, ia akan hidup 1000 tahun lagi.

  • Api Terakhir di Bhumi Kadiri

    TENTARA Ken Angrok sudah meninggalkan Tumapel. Mereka bergerak bak gelombang besar dari timur Gunung Kawi menuju Daha. Bersama kaum brahmana dari sekte Siwa, Waisnawa, Buddha, dan Tantrayana. Bersatu dengan petani, perusuh, perampok, dan penjudi. Pertempuran sengit terjadi sebentar lagi.

  • Hukuman Kasus Pembunuhan di Masa Sultan Hamengkubuwono VI

    PERKARA mengenai kasus pembunuhan sudah ada sejak dulu. Para penguasa, termasuk raja-raja di Nusantara, punya aturan berbeda-beda dalam menangani kasusnya. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VI tahun 1865, Kesultanan Yogyakarta punya peraturan tersendiri untuk kasus pembunuhan. Peraturan ini ditulis dalam Serat Angger Pradata Awal  dan Serat Angger Pradata Akhir . Kedua serat tersebut berkiblat pada peraturan Kerajaan Mataram. Akan tetapi Perang Jawa (1825-1830) telah mengubah tatanan politik di kerajaan-kerajaan pecahan Mataram Islam. Oleh sebab itu, Sultan Hamengkubuwono VI membuat peraturan yang ditulis dalam Serat Angger Pradata . “Maka si Tumenggung Nitipraja, saya titipi suratku, sebab saya jadikan rakyatku jaksa di pradataku, saya perintahkan membenarkan (mengadili) kepada semua rakyatku yang bertengkar, itu si Tumenggung Nitipraja, engkau hendaklah menggunakan hati yang sungguh-sungguh dan yang bersih, serta ikhlas di dalam hati,” sabda Hamengkubuwono VI pada bagian awal Serat Angger Pradata . “Dan teman-temanmu semua bernama bernama ‘Lawang Sarayuda’ itu saya perintahkan membenarkan (mengadili) kepada semua rakyatku   yang bertengkar, kecuali yang naik ke (ranah) hukum, dan kecuali yang diakibatkan oleh kekuasaan, dan kecuali yang disebabkan (masalah) suami-istri (rumah tangga),” sambungnya. Baca juga:  Pembunuhan yang Menggemparkan Hindia Belanda Dalam menghadapi kasus pembunuhan atau yang disebut sebagai rajapati , abdi dalem  bernama Tumenggung Nitipraja bertanggung jawab untuk mengusut dan menetapkan hukumannya. Akan tetapi apabila tersangka pembunuhan atau korban mengajukan banding hingga ke kasultanan, maka keputusan hukuman yang akan dijatuhkan akan diambil sendiri oleh keraton dibantu Adipati Danureja. Adipati Danureja adalah Patih Dalem di Kasultanan Yogyakarta yang menjadi kepanjangan tangan sultan sejak tahun 1847-1879. Gelar Danureja saat itu adalah Danureja V.  “Adapun jika menggugat rajapati (pembunuhan) atau luka, yang pantas naik ke (ranah) hukum. Adapun yang tidak bisa selesai olehmu (Tumenggung Nitipraja), dengan engkau Adipati Danureja,” kata Sultan Hamengkubuwono VI. Apabila tidak ditemukan sebab yang pasti mengenai pembunuhan, maka pejabat yang bertugas memberi hukuman adalah pangulu. Jabatan ini diberikan bagi seseorang yang bertugas mengurusi administrasi keagamaan di wilayah Kasultanan Yogyakarta. Hukuman yang akan diberikan tentu disesuaikan dengan syariat agama Islam. “Pembunuhan dan luka/penganiayaan yang tanpa sebab, yang menghukum adalah pengulu, dan jangan ada rekayasa, dan jangan ada rayuan dengan suap,” demikian bunyi Bab 2 Serat Angger Pradata Awal . Baca juga:  Hukuman Bagi Pelaku Perselingkuhan Bab 2 Serat Angger Pradata Awal menyebutkan lebih lanjut, sultan dan segenap pejabat kerajaan juga berhak menolak mengabulkan gugatan pembunuhan. “Adapun gugatan pembunuhan, yang tidak saya kabulkan, ini jenisnya, jika ada orang terluka atau meninggal, (karena) peperangan desa membela orang yang tidak mendapatkan perintah, (itu) gugatannya tidak dikabulkan,” kata Sultan Hamengkubuwono VI. Terhadap seseorang yang mati dibunuh karena mendapat perintah, sultan menyarankan pihak keluarga waris mengajukan banding. Sultan sendiri yang akan memimpin pengadilan kasusnya. Hukuman bagi orang yang terbukti melakukan pembunuhan ada dua. Pertama , dicambuk sebanyak 500 kali dan kedua , dibuang ke Hutan Lodaya atau Pantai Ayah. Hukuman itu hanya untuk kasus pembunuhan. Apabila terbukti ada tambahan kasus lain sebelum terjadi pembunuhan seperti pencurian atau pemerkosaan, maka hukumannya akan ditambah. Tambahan hukuman cambuk terdakwa bisa 200 sampai 500 kali. Dalam mengadili suatu perkara pembunuhan, dihadirkan pula saksi-saksi pendukung baik dari pihak penggugat atau tergugat. Mereka harus jujur mengungkapkan perkara di depan pengadilan. Ada hukuman tersendiri jika saksi-saksi itu terbukti berbohong. “Jika yang bersaksi ringkas tersebut ternyata berbohong, hendaklah kau denda dua puluh lima reyal, dan gugatannya tidak diterima,” kata Sultan Hamengkubuwono VI pada Tumenggung Natapraja. Baca juga:  Ada Oknum Polisi dalam Pembunuhan Berencana Marhaenis Masyarakat dalam suatu wilayah yang tempat terjadinya pembunuhan juga diharuskan bersaksi pada pengadilan kasus terkait. Kesaksian mereka akan ditunggu hingga 40 hari. Lewat dari masa itu, maka didenda 25 reyal per orang di wilayah tersebut. Oleh karena itu, orang-orang yang berada di wilayah tempat kejadian pembunuhan wajib mencari tanda-tanda siapa penjahat yang menganiaya korban dengan batas waktu 40 hari. Setelah lewat dan tidak menemukan titik terang, orang-orang dalam radius 40 meter di sekitar tempat perkara akan segera ditangkap dan didenda sebanyak 100 reyal. Para pejabat pemimpin desa seperti lurah dan bekel (kepala seksi pemerintahan di desa) juga mendapat hukuman denda 20 reyal. Hal ini dilakukan karena lurah dan bekel dianggap tidak bertanggung jawab sebagai pelindung masyarakat. Sebuah perkara akan dinyatakan selesai tanpa hukuman jika ada orang menggugat namun orang yang tergugat tidak ada/ditemukan. Jika setelah melalui berbagai penulusuran dan pemeriksaan ternyata tidak ditemukan siapa pembunuhnya dan tidak jelas siapa yang harus diperkarakan dan ditangkap, maka kasus dinyatakan selesai.*

  • The Doctor on the Death List

    SOEMARNO Sosroatmodjo, a practicing doctor at a hospital in Kandangan, South Kalimantan, took leave from his job and went to visit Banjarmasin. Along with his family, he stayed at the house of R. Sosrodoro Djatikoesoemo, a private doctor. One day, in the middle of a conversation, someone came to Soemarno and Sosrodoro delivering a letter they found out later to be a circular requesting for donation as the Christmas gift for the Dutch who were interned by the Japanese.

  • Liku-liku Otto Abdulrachman

    Letnan Kolonel CKH Durmawel Achmad, oditur Mahmilub (Mahkamah Luar Biasa), menyebut sekitar awal Juni 1965, tertuduh dr. Subandrio telah mendengar dari Brigadir Jenderal TNI Otto Abdulrachman bahwa ada sekelompok perwira yang tidak puas dengan petinggi Angkatan Darat, yang kala itu dipimpin oleh Letnan Jenderal TNI Achmad Yani. Sekitar tahun 1965, Otto Abdulrachman menjabat asisten khusus Menteri Luar Negeri. Kala itu Menteri Luar Negeri dirangkap Wakil Perdana Menteri dr. Subandrio. Mahmilub menjatuhkan vonis mati kepada dr. Subandrio yang kemudian diubah menjadi hukuman seumur hidup. Sementara itu, nasib Otto Abdulrachman, sepupu wartawan perempuan Herawati Diah, tak seapes dr. Subandrio. Ia terus berkarier di Departemen Luar Negeri. Ia sempat jadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Tanzania dari 1970 hingga 1974. Masa pensiunnya dihabiskan dengan menjadi pemikir pada Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Tahun 1976, ia dan keluarga Diah pergi naik haji. Baca juga:  Dari Kamp Nazi ke TNI Soemiarto Abdulrachman lahir di Bogor pada 11 November 1918.Sejak pertengahan tahun 1938, ia sudah merantau ke Negeri Belanda. Koran De Sumatra Post , 10 Agustus 1938, menyebut ia naik kapal Sibajak. Ia menjadi taruna bagian infanteri Koniklijke Militaire Academie atau Akademi Militer Kerajaan di Breda. “Meski begitu, Soemiarto memendam simpati nasionalisme yang samar,” tulis Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950 . Selain itu, Otto Abdulrachman juga menjalin kontak dengan mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda. Sedianya setelah lulus Otto Abdulrachmanmenjadi perwira KNIL yang ditugaskan di Hindia Belanda. Namun, sejarah dunia kolonial terguncang tahun 1939. Bahkan, Negeri Belanda diduduki oleh tentara Nazi Jerman pada Mei 1940. Hubungan antara Negeri Belanda dengan tanah koloninya, Hindia Belanda, terputus. Otto Abdulrachmantak bisa lulus dengan baik dari Akademi Militer Breda dan bersama taruna lainnya menjadi penghuni kamp tawanan Nazi. Perang Dunia II tak bisa membuatnya hidup mapan sebagai perwira KNIL melainkan harus menderita selama beberapa waktu di kamp Nazi. Bahkan, jadi penghuni kamp Nazi bisa membuat nyawanya melayang. Baca juga:  Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Pertama Nazi Akhirnya, Otto Abdulrachman dibebaskan tentara Rusia pada 1945. Sebuah komisi menyatakan Otto Abdulrachman tidak bisa dijadikan perwira untuk militer Belanda. Ia kemudian mendengar kabar bahwa Indonesia telah merdeka dan Republik Indonesia sudah lahir. Sebagai orang yang bersimpati kepada nasionalisme Indonesia, Otto Abdulrachman tentu merasa senang. Ia memilih jadi wartawan di Belanda sebelum pulang ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia sekitar pertengahan 1946,ia diberi pekerjaan di Kementerian Pertahanan. Tak hanya Otto Abdulrachman, bekas taruna Breda lainnya, yakni Kanido Rachman Masjur juga berada di Kementerian Pertahanan. Mereka mendapat pangkat Letnan Kolonel dengan keahlian militernya dari hasil belajar di Breda. Otto Abdulrachman dekat dengan kelompok kiri dan pejabat kiri macam Amir Sjarifuddin. Ia disebut Francisca Fanggidaej dalam Memoar Perempuan Revolusioner termasuk guru yang mengajar di Marx House. “Belakangan pada awal tahun 50-an, ketika aku bertemu lagi sudah menjadi seorang perwira TNI,” kata Francisca. Marx House dibuka oleh Pesindo di Madiun pada 1946. Kelompok kiri ini hanya berjaya hingga awal 1948 dan setelah September 1948 dihabisi oleh Kabinet Hatta dan tentara yang dipimpin A.H. Nasution. “Ia ditahan sewaktu Peristiwa Madiun. Setelah dibebaskan sehubungan serangan Belanda (dalam Agresi Militer II 19 Desember 1948), ia bertempur dalam pasukan Republik,” tulis Bouman. Baca juga:  Sersan Mas Soemitro Melawan Nazi di Belanda Rupanya, kawannya semasa di Akademi Militer Breda, Kapten J.J. Nortier tidak jauh dari tempat Otto Abdulrachman bergerilya di sekitar Purworejo. Nortier mengenalinya dan menangkapnya. Otto Abdulrachman dibebaskan setelah gencatan senjata antara Indonesia dengan Belanda. Ia lalu bekerja kembali untuk Republik Indonesia Serikat. Namanya lalu direhabilitasi oleh negara terkait Peristiwa Madiun dengan Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 1951 tentang Penetapan Merehabiliteer Letnan Kolonel Otto Abdul Rachman dengan Pangkat Mayor. Setelah bertugas kembali di TNI, Otto Abdulrachman menjauh dari politik praktis. Dalam kariernya di TNI, ia berhasil mencapai pangkat Mayor Jenderal. Namun, ia tidak dalam pasukan tempur dengan pangkat militernya, tetapi lebih dikenal di jabatan diplomatik. Belakangan ia menjadi pengamat politik luar negeri yang cukup didengar.*

  • Haji Salahuddin bin Talabuddin Melawan Belanda

    Pahlawan Nasional asal Maluku Utara bertambah. Semula ada Sultan Nuku (1738–1807) dari Tidore yang melawan VOC dan Sultan Babullah (1528–1583) dari Ternate yang melawan Portugis. Kini bertambah lagi dengan diangkatnya Haji Salahuddin bin Talabuddin (1874–1948) asal Halmahera sebagai Pahlawan Nasional tahun 2022. Haji Salahuddin bin Talabuddin lahir di desa Gemia, Patani pada 1874. Pada 1928, ia masuk Sarekat Islam Merah, tetapi lolos dari penangkapan pemerintah kolonial Belanda ketika terjadi pemberontakan PKI. Pada 1938, Haji Salahuddin bergabung dengan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) dan duduk dalam kepengurusan Gabungan Politik Indonesia (Gapi) bersama M. Arsyad Hanafi, M.S. Djahir, dan A.S. Bachmid. Sejarawan M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-Rempah  mencatat, karena kegiatan politiknya, Haji Salahuddin dipenjara di Nusakambangan kemudian dipindahkan ke Boven Digul. Pada 1942, ia dibebaskan oleh Jepang dan memilih menetap di Sorong. Setelah Indonesia merdeka, Haji Salahuddin mendukung Republik Indonesia meski jauh dari Jawa. Daerah Indonesia Timur kala itu termasuk wilayah pendudukan Belanda. Pada 1946, ia mendirikan organisasi keagamaan Islam bernama Sarikat Jamiatul Iman wal Islam di pulau Gebe, Halmahera Timur. Para pengikutnya menyebut organisasi ini dengan nama Sarikat Islam (SI). “Tujuannya mempertahankan agama Islam dan negara Republik Indonesia di bawah Bung Karno dan Bung Hatta yang baru saja diproklamasikan,” tulis Adnan Amal. Baca juga:  Dr. Raden Rubini Natawisastra, Pahlawan Nasional dari Kalimantan Barat Pada akhir Desember 1946, Haji Salahuddin pindah ke Patani, masih di Halmahera. Pengaruhnya semakin kuat. Jumlah anggota SI pun semakin banyak, hingga akhir Januari 1947 mencapai lebih dari 3000 orang. Adnan Amal mencatat, tiap hari berdatangan utusan dari desa-desa yang melakukan baiat dan menyatakan siap mati untuk Islam dan Republik Indonesia. Bahkan, desa Siden Popo, yang seluruh penduduknya beragama Kristen, diwakili dua kepala keluarga dalam SI. Mereka juga menyatakan siap mati untuk Republik Indonesia. Koran Algemeen Indisch , 21 Februari 1947, menyebut Haji Salahuddinsebagai pemimpin umat yang fanatik yang telah melakukan propaganda perlawanan. Para pengikutnyatelah diberi semacam jimat kebal antipeluru dan dipropagandakan pula jika pengikutnya mati maka dijamin masuk surga. Menurut Adnan Amal, gerakan Haji Salahuddin dapat diidentifikasikan sebagai gerakan menentang Belanda yang diberi baju Islam. Seluruh gerakannya dipusatkan di masjid. Usai salat lima waktu, ia menyampaikan dakwah dengan porsi politik yang terkadang menyita sebagian besar waktu. Haji Salahuddin juga mengajarkan berbagai ritual keagamaan seperti zikir dan doa yang dibaca secara bersama-sama. Lirik zikir itu, dalam bahasa Indonesia, berbunyi: “Amankan Islam, amankan syariat Islam, amankan Republik Indonesia! Jangan takut mati dan luka, pintu surga sudah terbuka!” Baca juga:  Dukungan Paku Alam VIII pada Republik Indonesia Di samping dakwah Islam, Haji Salahuddin juga selalu menjelaskan mengapa SI mendukung negara Republik Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno dan Bung Hatta. Ia mengeluarkan fatwa wajib bagi orang Islam mendukung negara Republik Indonesia dan haram bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda. “Hal yang patut dicatat adalah pernyataan Haji Salahuddin kepada pengikutnya bahwa Halmahera Timur (pulau Gebe dan Patani) adalah wilayah kekuasan Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta,” tulis Adnan Amal. Oleh karena itu, Adnan Amal menambahkan, sejak tiba di pulau Gebe, Haji Salahuddin telah menyatakan bahwa rakyat Halmahera Timur adalah warga negara Republik Indonesia, dan setiap perlawanan terhadap Republik Indonesia harus dilawan. Haji Salahuddin juga mengidentikkan perlawanan terhadap dirinya atau gerakan SI sebagai perlawanan menentang pemerintah Republik Indonesia. Untuk menghadapi serangan pemerintah kolonial Belanda, Haji Salahuddin memerintahkan pengikutnya mempersenjatai diri dan membentuk sayap militer yang dipimpin oleh Wakil Ketua SI, Kadhi Abdul Hadi. Anggotanya terdiri dari laki-laki dan perempuan yang dipersenjatai. Abdul Hadi merekrut para pandai besi untuk membuat 600 senjata mulai dari pedang, parang, badik, tombak, hingga panah. Kepala Distrik Gebe Muhammad Yasin kemudian melaporkan gerakan Haji Salahuddin dan SI kepada HPB ( Hoofd van Plaatselijk Bestuur atau Kepala Pemerintah Setempat) di Wedayang dijabat seorang Belanda. HPB mengutus Haji Gani ke Patani untuk mematai-matai kegiatan Haji Salahuddin dan SI. Namun, Haji Gani ketahuan dan dieksekusi. Muhammad Yasin, seorang guru, dan beberapa orang lainnya, juga dieksekusi. Baca juga:  KH Ahmad Sanusi, Ajengan dalam Arus Kemerdekaan Pada 14 Februari 1947, polisi Belanda yang terdiri dari 15 orang di bawah pimpinan Ajun Inspektur Paparang bergerak ke Patani untuk menangkap Haji Salahuddin. Menurut Adnan Amal, 600 perempuan bersenjata, salah satunya Hajah Aisah, ibu dari Menteri Pemuda dan Olahraga era Orde Baru Abdul Gofur, memukul mundur polisi Belanda itu. Pertempuran mengakibatkan sebelas orang tewas dan delapan luka berat. “Berdasar laporan kami tentang gangguan di Halmahera, kami mengetahui bahwa konsentrasi sekitar 1000 kwaadwilligen (orang jahat),” tulis koran Nieuwe Courant , 22 Februari 1947 dan Het Dagblad , 21 Februari 1947. Kedua koran menyebut massa rakyat berkekuatan 700 senjata berupa pistol dan senjata tajam. Setelah polisi Belanda itu mundur, Haji Salahuddin memerintahkan para pengikutnya tetap siaga untuk mengantisipasi serangan berikutnya yang lebih besar. Kapal motor HrMs Tidore merapat di Patani pada pukul 4.00 sore tanggal 17 Februari 1947. Dua orang berpakaian adat turun dari kapal kemudian menemui Haji Salahuddin di masjid. Mereka menyampaikan pesan bahwa Sultan Ternate M. Jabir Syah ingin bertemu. Setengah jam kemudian, Sultan Jabir Syah dengan pengawalan Hulptroepen (pembantu tentara) dalam jumlah besar , mendatangi Haji Salahuddin di masjid. Sultan berjalan aman karena pengikut Haji Salahuddin sudah diperintahkan untuk tidak membuat keributan. “Apa maksud kedatangan Yang Mulia,” tanya Haji Salahuddin. “Saya datang untuk menjemput dan membawa Anda ke Ternate. Kita berangkat sekarang juga karena Sultan Tidore menunggu Anda di Ternate,” kata Sultan Jabir Syah. Baca juga:  Akhirnya Soeharto Jadi Pahlawan Nasional Haji Salahuddin pun ikut dengan Sultan Jabir Syah. Ia sempat memberi pesan kepada pengikutnya agar tetap tenang dan menjaga keamanan sembari meneriakkan “Hidup Islam, Hidup SI, hidup Republik Indonesia!” Sultan Jabir Syah meminta pengikut Haji Salahuddin untuk menyerahkan senjatanya. Sebanyak 2000 senjata disita dan dibawa ke kapal. Haji Salahuddin bersama 200 pengikutnya terutama para pemimpin dan anggota sayap militer dinaikkan ke kapal. Sesampainya di Ternate pada 19 Februari 1947, para tahanan dijebloskan ke penjara. Pada Juli 1947, Haji Salahuddin dan enam pemimpin sayap militer diadili di Pengadilan Negeri Ternate. Haji Salahuddin mengaku telah mengeksekusi delapan orang (Haji Gani, Muhammad Yasin, dan lain-lain) karena mereka telah berkhianat dan bekerja untuk musuh Republik Indonesia. Menurut Haji Salahuddin menyelamatkan Republik Indonesia berarti menyelamatkan Islam. Mengkhianati Republik Indonesia berarti mengkhianati Islam. Pada 13 September 1947, pengadilan memutuskan Haji Salahuddin dan enam p emimpin sayap militer bersalah. Haji Salahuddin divonis mati, Khadi Abdul Hadi dihukum 12 tahun penjara di Nusakambangan, sementara kelima pemimpin lainnya masing-masing dihukum 6 hingga 9 tahun penjara di Manado dan Ambon. Haji Salahuddin sendiri dieksekusi mati pada 6 Juni 1948.*

  • Akhirnya Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

    Pada Juli 1942, klinik Dr. Soeharto kedatangan pasien penting. Pasien itu adalah Ratna Juami, anak angkat Bung Karno yang hendak melahirkan anak pertamanya. Sejak dirawat, lahir, dan masa penyembuhan di klinik Dr. Soeharto, Ratna Juami dan anaknya sering dikunjungi Bung Karno.

  • Suradi Bledheg Si Bandit Gunung

    Dusun Gedong di Kabupaten Semarang tampak tenang dan damai. Orang-orang biasa berada di ladang sepanjang hari. Dusun yang mayoritas penduduknya beragam Kristen ini biasanya ramai jika ada acara di gereja saja, seperti pernikahan atau hari raya. Namun, pada satu periode sejarah, dusun ini pernah begitu mencekam karena kehadiran bandit-bandit gunung. Sukarto (90), warga sepuh dusun Gedong mengingat, hampir semua rumah di dusunnya pernah digedor grayak , sebutan lain bagi para bandit gunung. “(Yang diambil) pakaian, juga lembu,” katanya. Pasca kemerdekaan, gunung Merapi dan Merbabu menjadi salah satu wilayah paling berbahaya di Jawa Tengah. Sebagian besar daerahnya masih ditutupi hutan dengan jurang curam dan lereng yang terjal. Di sinilah para bandit gunung bermarkas sejak zaman kolonial. Baca juga:  Asal Usul Bandit di Perdesaan Menurut Sukarto, tak ada orang berani melawan jika rumahnya digedor karena penggrayakan melibatkan belasan hingga puluhan bandit. “Kalau dihalangi, yang punya rumah dipentungi (dipukuli),” lanjutnya. Dipukuli gerombolan grayak barangkali jadi risiko paling ringan. Karena jika berani melawan, nyawa taruhannya. Dusun Gedong berada di wilayah Desa Tajuk. Kertoredjo, bekel (kepala desa) Tajuk pernah menyampaikan usulan untuk memperkuat keamanan dalam sebuah rapat kecamatan pada 4 April 1951. Pada hari itu juga, sekira pukul sembilan malam rumahnya langsung didatangi gerombolan grayak . Mereka bahkan bersenjata api. “Setelah pintu diketok dan seketika dibuka, dengan tiba-tiba telah dilepaskan beberapa tembakan ke arah pak bekel sehingga ia rubuh menemui ajalnya. Salah seorang keponakan yang datang menolong juga tak terlepas dari perbuatan gerombolan itu dan turut ditembak juga,” tulis Suara Merdeka, 7 April 1951. Baca juga:  Bandit-Bandit Kakap Batavia dan Sekitarnya Orang-orang tak bisa berbuat banyak. Jika sudah demikian, besok sorenya polisi datang hanya untuk memeriksa. Kasus-kasus penggrayakan tak pernah diusut tuntas. Dari sekian banyak bandit gunung, ada beberapa nama yang cukup terkenal seperti Darmopendot, Kampret, Ngusman Ali, hingga Hardjo Bagong. Namun, ada satu nama bandit paling ikonik di Merapi Merbabu: Suradi Bledheg. Suradi Bledheg ditembak mati dalam Operasi Merapi Merbabu pada 1 April 1951. ( Minggu Pagi , 13 Mei 1951). Racardus Yustinus Hari Susanto Hardjoloekito dalam skripsinya, “Gerakan Merapi Merbabu Complex (MMC) di Jawa Tengah Tahun 1950-1955”di IKIP Sanata Dharma tahun 1993, menyebut Suradi Bledheg merupakan tokoh pemersatu para bandit. Ricardus juga mencatat, ada intervensi Suradi Bledheg berhubungan dengan pihak Belanda di mana Belanda punya kepentingan mengacaukan perekonomian dengan perampokan ternak. Belanda memasok senjata kepada para bandit. Baca juga:  Kisah Amat Boyan, Raja Bandit dari Medan Suradi Bledheg lahir di Kemusuk, Boyolali, dengan nama Suradi. Nama Bledheg disematkan orang-orang karena ia punya suara menggelegar sepeti bledheg (petir). Ia juga disebut memiliki kesaktian berpindah tempat dalam waktu singkat. Suradi Bledheg seringkali dianggap sebagai representasi organisasi bersenjata MMC. Namun, menurut beberapa jebolan MMC, Suradi Bledheg bukan siapa-siapa. Waluyo, bekas anggota MMC dalam arsip Anton Lucas Collection, menyebut Suradi Bledheg hanyalah seorang bajingan. Waluyo pernah meminta Suradi Bledheg untuk menggarong pengkhianat Republik yang bekerja sama dengan Belanda, bukan petani biasa. “Jangan sekali-sekali menggarong orang yang baik-baik. Lha, lama-lama setelah menggarong, kaum tani juga, maka keadaan menjadi panas,” ungkap Waluyo. Ricardus memasukkan Suradi Bledheg dalam MMC tahap pertama yang merujuk pada organisasi bandit atau grayak . Sementara MMC tahap kedua, di mana Waluyo bergabung, adalah MMC PKR (Persatuan Korban Rasionalisasi). MMC PKR berisi bekas tantara rakyat yang terkena program Reorganisasi-Rasionalisasi (ReRa) pada masa Kabinet Hatta. Meski berbeda entitas, kedua MMC ini sebenarnya beririsan. Baca juga:  Cara Pemerintah Kolonial Redam Bandit Sosial Pada akhir Maret 1951dilancarkan Operasi Merapi Merbabu (MM) yang dipimpin oleh Letkol Suadi Suromihardho dan Mayor Salamun. Suradi Bledheg bersama dua pengikutnya, Hardjo Tukarno dan Jososami, ketahuan bersembunyi di Desa Brintik, Klaten. Mereka ditembak mati. “Selama operasi MM ini gembong utama dari gerombolan MMC di daerah Surakarta, Suradi Bledheg, yang merupakan momok bagi rakyat berhasil tertembak mati dalam suatu tembak-menembak dengan pasukan Ton-II Yon. 417 di Desa Brintik, Kelurahan Malangdjiwan, pada tanggal 1-4-1951 beserta dua orang temannya,” tulis Semdam VII/Diponegoro dalam Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro . Sisa-sisa pengikut Suradi Bledheg kehilangan patron dan pengaruh mereka di Merapi-Merbabu mulai meredup. Sementara MMC PKR masih berlanjut. Baca juga: Kisah selengkapnya tentang Merapi Merbabu Complex (MMC) baca di Historia Premium: Tentara Merah di Selingkung Gunung.

  • Itaewon dari Masa ke Masa

    Tak ada yang menyangka festival Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam, berubah menjadi tragedi. Pesta Halloween yang kembali digelar setelah dua tahun tidak diadakan akibat pandemi Covid-19 itu ramai didatangi pengunjung, tak hanya warga lokal tetapi juga wisatawan dari berbagai negara. Ribuan orang mengunjungi Itaewon, salah satu distrik paling sibuk di Seoul, untuk merayakan pesta Halloween. Mereka berkumpul di restoran dan bar. Saat malam makin larut, kawasan Itaewon makin ramai didatangi pengunjung hingga menyebabkan kepadatan. Di salah satu jalan sempit para pengunjung berdesakan yang mengakibatkan banyak orang kesulitan bernapas hingga jatuh dan terinjak. Insiden itu menyebabkan 154 orang tewas dan beberapa orang terluka menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Itaewon yang terletak di wilayah Yongsan-gu merupakan salah satu distrik yang populer di Seoul, ibu kota Korea Selatan. Kawasan yang dipenuhi beragam restoran, bar, dan pertokoan ini kerap menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai festival. Oleh karena itu, Itaewon masuk dalam daftar wajib dikunjungi para pelancong yang berwisata ke Seoul. Baca juga:  Dari Harajuku ke Haradukuh Sebagai kawasan wisata, Itaewon menjadi tempat bertemu orang-orang dari berbagai negara dan latar belakang. Itaewon telah menjadi tujuan para pelancong sejak zaman dulu. Korea Magazine  terbitan Korean Culture and Information Service tahun 2015 menyebut nama Itaewon berasal dari tempat penginapan bagi para pelancong yang sudah ada sejak zaman Goryeo (918–1392). Setelah Jepang menginvasi Korea di bawah pimpinan Toyotomi Hideyoshi pada 1592–1598, Itaewon disebut “Itain” yang berarti “desa orang asing”, karena tentara Jepang di tempatkan di sana. Ketika perang berakhir tahun 1598, beberapa tentara Jepang menetap di sana. Pesta Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam, yang menelan ratusan korban jiwa. (Youtube Watchers Club/Wikimedia Commons). Sementara itu, Song Doyoung dalam Migration and Diversity in Asian Contexts  menulis, nama Itaewon mulai muncul dalam catatan sejarah pada abad ke-16 sebagai titik penghubung Seoul dengan wilayah selatan Korea. Pada akhir abad ke-19, wilayah Itaewon pernah diduduki tentara Cina kemudian dikuasai tentara Jepang hingga tahun 1945. Pada masa pendudukannya, Jepang mendirikan markas militer di daerah Yongsan. Wilayah Itaewon juga pernah menjadi rumah bagi sejumlah orang Amerika setelah Perang Dunia II dan Perang Korea (1950–1953) karena di wilayah tersebut terdapat pangkalan militer Amerika Serikat. Jieheerah Yun dalam Globalizing Seoul The City’s Cultural and Urban Change  menyebut penggunaan awal daerah Yongsan –termasuk wilayah Itaewon– sebagai pangkalan militer karena lokasinya dekat dengan dermaga sungai. Selain itu, di masa perang, militer cenderung menggunakan kembali infrastruktur yang sudah ada. Baca juga:  Parasite dan Seabad Perfilman Korea Terletak tepat di pinggiran kamp tentara, Itaewon menjadi distrik komersial yang mendukung berbagai kebutuhan pasukan Amerika. Sejak 1950-an, toko dan klub di Itaewon telah berfungsi sebagai tempat rekreasi bagi personel militer Amerika. Di sisi lain, Itaewon pun menjadi gerbang masuknya budaya Amerika dan negara asing lainnya yang diperkenalkan kepada penduduk Korea Selatan. Seiring berjalannya waktu, distrik Itaewon tak hanya didominasi budaya Amerika. Wilayah itu berkembang menjadi melting pot , yang tak hanya dikenal sebagai pusat pariwisata, tetapi juga pusat pertukaran budaya. Menurut Doyoung, globalisasi menjadi salah satu faktor yang memungkinkan pertukaran budaya terjadi di wilayah Itaewon. Masjid Pusat Seoul (Seoul Central Mosque) di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. (Brandon Butler/Wikimedia Commons). Popularitas Itaewon sebagai pusat pariwisata kian meningkat setelah diselenggarakannya Asian Games 1986 dan Olimpiade Seoul 1988. Secara khusus turis dari Barat dan Jepang mulai sering mengunjungi Itaewon di mana mereka dapat berbelanja tanpa khawatir terkendala bahasa karena bahasa utama di jalan-jalan Itaewon adalah bahasa Inggris dan Jepang. Gelombang kedatangan pekerja migran dari Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh ke Korea Selatan sejak awal 1990-an turut memberi warna baru bagi Itaewon. Wilayah itu juga menjadi tujuan wisata populer bagi wisatawan muslim terlebih di Itaewon terdapat Masjid Pusat Seoul (Seoul Central Mosque) yang dibangun pada 1976. Meningkatnya jumlah pengunjung muslim berdampak pada berdirinya restoran-restoran halal di Itaewon. Restoran yang menyediakan makanan halal pertama kali di Seoul pada awal 1990-an berada di distrik Itaewon. Baca juga:  Banjiha, Potret Kemiskinan Korea dalam Parasite Setelah lebih dari tiga dekade Itaewon didominasi budaya Amerika, kawasan itu kini menjelma menjadi semacam “zona internasional” yang beragam secara budaya dan terbuka bagi orang asing di Korea Selatan. Jieheerah Yun dalam A Foreign Country in Seoul: Itaewon’s Multicultural Streets menulis, perkembangan yang beragam dalam lingkup komersial di distrik Itaewon membuat pemerintah Metropolitan Seoul menetapkan wilayah itu sebagai Zona Wisata Khusus pada 1997. Reputasi Itaewon sebagai pusat hiburan yang trendi dan kosmopolitan menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Tak heran Itaewon kerap disebut sebagai “pintu gerbang menuju dunia”.*

  • Duel Setan Yahudi dan Jin Hawara

    Lebih dari 150 orang meninggal dunia dalam Festival Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan (Korsel) pada Minggu (30/10/22) sore waktu setempat. Kendati belum diketahui secara pasti penyebabnya, kematian itu terjadi dalam gang sempit dekat stasiun keretaapi yang dipenuhi orang-orang yang menghadiri acara tersebut. “Detailnya masih belum ada, tetapi kesaksian dan rekaman media sosial menunjukkan banyak orang jatuh ke tanah di jalur sempit, sementara yang lain saling mendorong untuk masuk atau meninggalkannya,” demikian kompas . com , 31 Oktober 2022 memberitakan. Kendati tak sebanyak di Korsel, di Indonesia Halloween juga dirayakan sebagian orang. Berbagai pusat perbelanjaan dan café di kota-kota besar menyajikan dekorasi-dekorasi seperti patung tengkorak atau sosok hantu lainnya untuk merayakan Halloween. Artis-artis terkenal tidak ketinggalan. Mereka berdandan dengan busana karakter unik tokoh tertentu. Wujud hantu masih menjadi primadona di kalangan masyarakat dalam merayakan Haloween. Baca juga:  Asal Usul Valak, Setan dari Masa Kegelapan Bicara soal hantu, Indonesia memiliki berbagai karakter hantu jauh sebelum Halloween masuk. Beberapa karakter hantu tercatat dalam karya sastra Jawa. Salah satu manuskrip yang menulis hantu adalah Nagari Siluman yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional. Manuskrip Nagari Siluman disinyalir sudah ada sebelum tahun 1930. Dari keterangan dalam sampul naskah, penulisan manuskrip dilakukan di daerah Kauman (daerah sekitar masjid) Yogyakarta. Penulisnya adalah Pawiradirya, seorang  bupati kepala Mancanegara berkedudukan di Maospati, Madiun, yang saat itu Madiun masih berada di bawah Kesultanan Yogyakarta. Hantu-hantu dalam Nagari Siluman berbeda dari hantu-hantu Jawa yang sudah populer. Setidaknya ada 30 karakter hantu dalam manuskrip tersebut. Antara lain Setan Yahudi, Setan Yahari, Setan Yahkobra, Setan Yahgombak, Setan Yahkuncung, Setan Yahroban, Setan Yahmrala, Setan Yahkumpra, Setan Yahnglawet, Setan Yahbangkrik, Setan Irangas, Setan Gumbira, Setan Humbaran, Setan Srakah, Setan Kobar, dan Setan Rangkot. Baca juga:  Asal Usul Setan Gundul Ilustrasi dalam manuskrip menggambarkan Setan Yahudi memiliki tubuh besar, tambun, dan berbadan bungkuk. Dari leher hingga kakinya berwarna hijau. Wajahnya berwarna biru, mata lancip dengan kerutan di sekitarnya dan bola mata berwarna hitam. Dari balik bibir berwarna jingga, ada empat gigi taring runcing. Hidungnya mancung dan besar. Rambutnya putih sepanjang bahu. Setan Yahudi menggunakan tiga buah anting berwarna hijau, kuning, dan jingga. Ia digambarkan tidak memakai pakaian sama sekali sehingga penisnya terlihat bergelayutan dengan warna hijau seperti bagian tubuhnya yang lain. Setan Yahudi adalah sosok makhluk dengan jenis kelamin laki-laki. Ia dapat memiliki keturunan dengan ritual bertapa. Setan Yahudi bersama puluhan keturunannya tinggal di hutan Pringgawi Suta. “Ini adalah cerita Setan Yahudi bertengkar dengan Jin Hwara di Hutan Pringgawi Suta,” demikian tertulis dalam Nagari Siluman . Pertengkaran dengan Jin Hawara disebabkan oleh perebutan tempat bernama Khayangan Lak Pangamun-amun. Duel Setan Yahudi dan Jin Hawara. (Gambar manuskrip koleksi Perpustakaan Nasional, dilansir dari Onny Amanda Putri). “Setelah Setan Rakut lahir, Setan Yahudi merasa tempatnya tidak cukup, kemudian ia mencari tempat baru berupa Khayangan Lak Pangamun-amun,” kata Nagari Siluman . “Siapa yang menduduki Khayangan Lak Pangamun-amun, itu adalah Jin Hawara, memiliki putra Jin Habodhag, Jin Habilis, dan Jin Habirawa Lodra.” Berita itu terdengar sampai ke telinga Jin Hawara. Tokoh jin utama dalam Nagari Siluman ini digambarkan sebagai sosok besar dan tambun layaknya Setan Yahudi. Perutnya sangat besar dan buncit dengan pusar menonjol di tengahnya. Dari leher hingga kaki berwarna coklat. Ia menggunakan celana dalam berwarna putih dan biru untuk menutupi kemaluannya. Rambut Jin Hawara panjang  berwarna putih dan gimbal. Mukanya berwarna hijau, bibir jingga, dan gigi bertaring empat buah. Bola matanya berwarna hitam, dan di sisi mata terdapat kerutan. Alisnya tebal. Baca juga:  Genderuwo yang Suka Menakut-nakuti Maka begitu mendengar rencana Setan Yahudi, Jin Hawara memasang siasat. Sebelum pasukan Setan Yahudi datang, Jin Hawara memerintahkan anak-anaknya untuk ke hutan Pringgawi Suta. Negosiasi antara anak-anak Jin Hawara dan Setan Yahudi tidak berjalan baik sehingga Jin Hawara datang langsung ke hutan Pringgawi Suta. “Hai Setan Yahudi, apa maksud kamu ingin mengambil tempatku? Tidak bisa seperti ini jika kamu tamak, sekarang kamu mau aku bunuh apa tidak?” ujar Jin Hawara.   Setan Yahudi yang tidak sudi dibunuh oleh Jin Hawara pun melawan. Mereka akhirnya saling gigit. Tidak ada yang kalah ataupun menang. Keduanya lalu memutuskan berdamai. Jin Hawara kembali ke Khayangan Lan Pangamun-amun setelah itu dan Setan Yahudi tetap tinggal di hutan Pringgawi Suta.

  • Awal Mula Pasar Ular

    Suasana siang hari di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, bising oleh kendaraan lalu-lalang terutama mobil-mobil besar (tronton) yang mendominasi jalanan. Namun, sedikit menarik perhatian kala melihat sederet toko menjual keramik-keramik hias di pinggir jalan dekat stasiun Transjakarta Koja Permai. Saat itu, tak begitu ramai, namun yang membuat penasaran, beberapa pelancong termasuk turis asing jalan-jalan di kawasan yang dikenal dengan Pasar Ular. Ada beberapa cerita mengenai asal-usul Pasar Ular. Cerita pertama terkait sejarah kawasan Batavia. Banyaknya binatang buas di Batavia tercermin dari adanya tempat-tempat bernama binatang, seperti Rawa Buaya, Rawa Badak, dan Pasar Ular. Ira Lathief, pemandu tur Wisata Kreatif Jakarta, mengatakan ada yang bilang Pasar Ular awalnya berupa rawa-rawa dan banyak ular. Ada juga yang bilang dinamai Pasar Ular karena dulu barang-barang yang dijual barang selundupan, jadi dalam transaksi jual-beli harus licin seperti ular. Barang-barang yang ditawarkan kebanyakan pakaian, di antaranya celana jeans dan sepatu. “Awal mulanya Paul (sebutan untuk Pasar Ular) adalah pasar kaget, barang black market  dijual dengan harga lebih murah, barang seperti sepatu bermerek yang dulu di mal nggak  ada,” kata Ira dikutip liputan6.com .  Seiring berjalannya waktu, karena telah banyak orang tahu, tak ada lagi barang selundupan yang dijual. Hanya saja, barang ditawarkan dengan harga miring karena langsung turun dari kapal. Baca juga:  Pasang Surut Pasar Tanah Abang Cerita lain disebut dalam majalah Ummat  tahun 1999. Asal mula nama Pasar Ular, konon seorang konsumen setia di pasar pelabuhan (Jalan Sulawesi) adalah seorang tetua dari Ambon. Setiap proses tawar-menawar, bapak tua ini tak lupa mencecarkan umpatan-umpatannya yang khas. “Dasar ular! Sama teman sendiri saja mau menggigit. Barang seharga Rp5 ribu dijual Rp15 ribu!” gertaknya. “Demikianlah selalu terjadi nyaris setiap hari. Maka, nama Pasar Ular pun untuk pertama kali ditabalkan di pasar itu,” tulis Ummat . Seorang pedagang berkata, “Kami memang harus selalu tawar-menawar. Sebab, kalau harganya pas banderol seperti di toko, nggak  ada seninya.” Barang-barang yang dijual di Pasar Ular dulu kebanyakan barang elektronik. Entah kenapa kemudian pasokan utamanya kebanyakan berupa barang garmen. Lain lagi dengan cerita Iwan, seorang tukang ojek di kawasan Pasar Ular. Menurut Iwan, dulu Pasar Ular bernama Pasar Permai. Letaknya di dekat Pelabuhan Tanjung Priok, persisnya di Jalan Jampea. “Karena adanya pedagang daging-daging ular untuk kebugaran pria dan wanita akhirnya dikasih nama Pasar Ular sampai sekarang,” kata Iwan dikutip kumparan.com . Baca juga:  200 Tahun, Pasar Baru Terus Melaju Sementara itu, Zaenuddin H.M. dalam 212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe  mencatat cerita lain Pasar Ular. Pada 1959, Pasar Ular mulanya tempat berdagang secara kagetan di Kawasan III Pelabuhan Tanjung Priok. Ada yang menduga, nama Pasar Ular berasal dari kondisi tempatnya yang meliuk-liuk terutama di bagian lorong seperti bentuk ular. Dalam perkembangannya, pada 1973 sekitar 85 kios di Pasar Ular dan Pasar Buaya digusur. Laporan majalah Tempo , 4 Agustus 1973, menyebut Pasar Buaya berlokasi di pinggir Jalan Sulawesi, berseberangan dengan Pasar Ular. Konon, munculnya pasar ini karena ulah camat setempat yang kemudian menjadi staf walikota. Sejak 1969, Pasar Buaya terpaksa diresmikan di bawah pengawasan PD Pasar Jaya. “Dan justru karena seolah-olah punya status resmi, Buaya pun menjadi saingan Ular. Namun begitu penghuni-penghuninya tak merasa terusik. Mereka baru terkesiap setelah walikota Jakarta Utara menurunkan perintah menertibkan Pasar Ular dan Pasar Buaya,” tulis Tempo . Baca juga:  Menengok Sejarah Glodok Pasar Buaya lenyap sementara Pasar Ular bertahan. Kini Pasar Ular ada di dua tempat, yaitu Pasar Ular di Kebon Bawang dan Pasar Ular di Plumpang, Rawa Badak Selatan. Kedua Pasar Ular ini memiliki ciri khas masing-masing. Pedagang di Pasar Ular Plumpang kebanyakan menjual pakaian, sepatu, dan tas. Sedangkan di Pasar Ular Permai, selain pedagang yang menjual tiga barang tersebut, juga terdapat pedagang keramik seperti guci dan peralatan rumah tangga, serta lampu hias. Pasar Ular Permai beroperasi sampai pukul 21.00 WIB. Para pembelinya berasal dari berbagai daerah, seperti Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Beberapa turis asing juga kerap datang sekadar melihat-lihat atau memotret. Salah satu toko yang ramai di Pasar Ular Permai, yaitu Ida Jaya Crystal yang berdiri sejak 1995. Berawal dari toko sepetak, Ida Jaya Crystal berkembang menjadi toko mewah nan klasik. “Barang yang pertama kali dijual oleh Ibu Ida berupa barang-barang antik, kristal, guci, dan piring keramik. Seiring berjalannya waktu, Ibu Ida menjual peralatan dapur, home  dekor, hingga bunga-bunga hias,” ujar Rama, pekerja bagian digital marketing  Ida Jaya Crystal. “Berbeda dari toko lainnya, Ida Jaya Crystal memiliki produk hias berwarna gold  yang banyak dicari oleh orang daerah. Barang tersebut selain diproduksi di Eropa, jumlahnya pun hanya tersedia di beberapa mal, itu pun dengan harga yang cukup tinggi daripada di sini,” kata Rama sambil menunjukan barang yang dimaksud. Baca juga:  Keramik Antik Ciamik Toko-toko di Pasar Ular Permai kebanyakan menyetok barang-barang dari China, Ceko, dan Jerman. Tak hanya itu, barang-barang produksi lokal pun masih banyak ditemui seperti dari Jawa Tengah. Setiap toko membanderol barang-barangnya dengan harga bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah untuk barang-barang dalam negeri dan buatan China hingga jutaan rupiah untuk produk dari Eropa. “Ciri khas yang berbeda banyak ditawarkan oleh toko keramik di sini, yang jarang ada di daerah lain,” ujar Dedi, pembeli dari Pontianak, Kalimantan Barat.  Para pembeli bisa membeli keramik dengan beragam motif, mulai dari motif bunga, pemandangan, binatang, kaligrafi, hingga batik. Selain keramik, keanekaragaman barang-barang yang dijual di Pasar Ular menjadi daya tarik tersendiri. Barang-barangnya berkualitas tapi harganya pas.* Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta.

bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Semasa menjadi panglima di Kalimantan Barat, Musannif Ryacudu membuktikan loyalitasnya kepada Presiden Sukarno dengan membiayai sendiri operasi Ganyang Malaysia. Kariernya redup setelah peristiwa G30S 1965.
bottom of page