top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tips Memilih Jodoh Ala Raja Jawa

    Buat kaum milenial yang masih lajang, mencari jodoh bukanlah perkara sulit lagi. Cukup browsing dengan kata kunci “ dating ” atau sejenisnya, sederet nama aplikasi pencarian jodoh pun bermunculan. Tinder , Bumble , Okcupid , PACAR , Taaruf ID dan masih banyak lagi aplikasi pencarian jodoh yang ada kini. Melalui aplikasi tersebut kita dapat berkenalan dengan calon jodoh kita dari berbagai latar belakang. Apa yang didapatkan generasi Z dan milenial jelas tak didapat generasi-generasi sebelumnya. Dulu, ada masa ketika muda-mudi yang “kebelet” ingin memiliki pasangan sampai mesti pasang iklan di berbagai media cetak. Tentu, ada yang tetap “lestari” dalam proses mencari jodoh dari dulu hingga kini, yakni mesti hati-hati. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk terhindar dari salah pilih orang. Faktor kehati-hatian itulah yang selalu dipesankan orangtua kepada anak-anak mereka, baik generasi dulu maupun sekarang, dalam memilih jodoh. Untuk itulah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV memiliki tips memilih jodoh idaman. Tips tersebut dituliskannya dalam Serat Waragyagnya , yang ditulis pada 1856 M dalam bentuk macapat Dhandhanggula . Tujuan penulisan serat ini sebagai nasihat untuk putra dan putri Mangkunegara IV. Baca juga:  Lelaki Idaman Perempuan Jawa Kuno Mangkunegara IV memiliki 32 anak dari enam istri. Berbagai ide dan buah pikirnya tidak hanya diucapkan namun juga dituangkan dalam bentuk karya sastra. Hal pertama yang diungkapkan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Waragyagnya adalah pesan bagi putra-putrinya sebelum menikah. Ia menganjurkan agar tetap menjaga lisan. “Apabila kelak tiba saat perkawinan, janganlah asal bicara,” tulis Mangkunegara IV dalam bait 2. Selanjutnya, Mangkunegara IV menekankan untuk putra-putranya, ketika memilih istri harus diperhatikan dengan cara seksama. Jangan sampai terobsesi pada nafsu belaka, karena akan membawa penyesalan. Ia juga menyarankan untuk tidak poligami. “Ya memang betul jika laki-laki mau, ia memiliki kesempatan, untuk menikah empat kali sehari, mungkin untuk mengikuti keinginan dirinya, namun jangan kamu lakukan itu,” sambung Mangkunegara IV. Mangkunegara IV. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). Mangkunegara IV juga berpesan agar para putranya tidak mudah terjebak oleh rayuan duniawi. Ada empat perkara yang harus diwaspadai. Pertama , melihat wajah cantik; kedua , menginginkan orang kaya; ketiga, menginginkan kekuasaan, dan yang keempat , karena sering saling berkunjung. Satu lagi yang tidak kalah penting yaitu hati-hati pada perempuan yang merayu dengan memberikan barang-barang seperti rokok, gambir, sirih, dan kain. Hal yang demikian bisa jadi bukan berniat untuk menikah. Boleh memilih perempuan cantik, kaya, dan berwibawa namun perempuan tersebut harus memiliki karakter dan tabiat baik. Perempuan baik-baik, bukan perempuan bayaran adalah seutama-utamanya perempuan yang pantas dipilih menjadi istri. Perempuan nista hanya akan menurunkan martabat keluarga, menurutnya. Baca juga:  Pernikahan Orang Jawa Kuno Jika ulasan-ulasan di atas ditujukan kepada laki-laki, Mangkunegara IV juga punya tips untuk putri-putrinya. Di masa tersebut, patriarki masih amat kental di Jawa, terutama di keraton. Seringkali karya-karya sastra kurang memperhatikan kesejahteraan perempuan. Perempuan dituntut hanya untuk menjadi seperti yang diinginkan lelaki tanpa bisa bersuara. Namun, Mangkunegara IV justru berpesan pada putra-putranya supaya senantiasa memperhatikan petunjuk agar dapat memperlakukan istri dengan baik. “Jangan hanya karena kamu laki-laki, lalu merasa berkuasa terhadap harta milik perempuan,” kata Mangkunegara IV. Mangkunegara IV punya pandangan dan sikap tak umum di tengah feodalisme yang masih kokoh di keraton Jawa. Ia dikenal sebagai raja yang bervisi jauh ke depan. Modernisasi di Mangkunegaran dialah yang meletakkan batu fondasinya, termasuk di bidang ekonomi. “Untuk menopang keuangan praja, ia tidak hanya mengandalkan pajak secara tradisional sebagaimana umumnya berlaku di kerajaan Jawa, tetapi mengembangkan perusahaan-perusahaan perkebunan dan industri pengelolaannya untuk menopang perekonomian praja, tulis sejarawan Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 . Baca juga:  Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Pandangannya yang melampaui sekat-sekat feodal itulah yang membuat Mangkunegara IV punya pandangan berbeda terhadap perempuan. Mangkunegara IV beranggapan perempuan juga berhak memilih dan memiliki sikap untuk memilih pasangan. Tidak boleh menerima begitu saja laki-laki untuk menjadi suami. Selain harus memilih laki-laki baik, kata Mangkunegara IV dalam tipsnya, perempuan jangan memilih laki-laki yang dicela sesama masyarakat. Orang yang seperti itu biasanya memiliki tabiat buruk. Mangkunegara IV tidak akan membiarkan putrinya dilamar oleh orang dengan tabiat buruk. “Sungguh hina perempuan yang menikah dengan orang yang tabiatnya jelek tersebut, lebih baik pepohonan yang tidak memiliki anak cucu, begitulah,” tulis Mangkunegara IV. Baca juga:  Empat Tipe Perempuan Jawa Kuno Baik laki-laki maupun perempuan apabila sudah mantap hati untuk menikah, wajib menjaga hawa nafsu. Jangan sampai melanggar ilmu syariat, membuang harga diri, dan mengabaikan keselamatan. “Jangan sampai ngawur sehingga menyesal di kemudian hari,” tulis Mangkunegara IV. Setiap orang di dunia ini memiliki harapan baik yang ingin dicapai. Pada akhirnya, memilih pasangan itu pilihan pribadi, tidak dapat dimusyawarahkan oleh orang lain. Jangan lupa dengan bobot, berasal dari keturunan yang baik, dan dapat memiliki keturunan yang baik pula. Demikian nasihat-nasihat Mangkunegara IV untuk memilih jodoh. Tertarik mencoba?

  • Paskibraka dari Kelompok 10 hingga Formasi 17-8-45

    Lobi Hotel Sriwijaya, Jakarta Pusat, sedang lengang sore itu. Sebagian besar Purna Paskibraka yang menjadi tamu hotel itu sedang mengikuti Upacara Penurunan Bendera Pusaka. Budiharjo Winarno, Purna Paskibraka 1978, karena suatu alasan tidak turut serta ke istana. Bersama Historia.id dia menyaksikannya dari televisi yang terpasang di lobi hotel. “Harusnya belum (penurunan bendera, red. ). Aturan itu, kan, dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Jadi upacaranya mestinya jam 17.45. Ini baru 17.20 sudah diturunkan,” ujarnya mengomentari upacara yang disiarkan secara langsung itu. Sambil memerinci aturan Upacara Penurunan Bendera Pusaka, Purna Paskibraka yang sekarang berwiraswasta ini mengeluh, “Sekarang aturan dilanggar, ya mau bagaimana lagi.” Budiharjo sangat peduli kepada aturan dan filosofi seputar Paskibraka. Selama pembicaraan sore itu, dia banyak menjelaskan tentang hal-hal mendasar itu. Tidak hanya itu, pengetahuannya tentang sejarah Paskibraka juga terbilang detil sebagaimana dikisahkan kepada Historia.id. Karena suasana Jakarta yang tidak kondusif akibat tekanan dari Belanda, ibukota Republik Indonesia akhirnya dipindahkan ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Di ibukota baru ini pula ulang tahun kemerdekaan Indonesia kali pertama dilangsungkan. Untuk hajatan penting itu disiapkan sebuah upacara pengibaran bendera pusaka di halaman Gedung Agung Yogyakarta. “Presiden Sukarno memerintahkan Kak Mut selaku ajudannya untuk mempersiapkan upacara kemerdekaan itu,” terang Budiharjo . Kak Mut yang dimaksud adalah Mayor Laut Husein Mutahar atau lebih dikenal sebagai H. Mutahar, penggubah lagu hymne Syukur . “Kak Mut punya ide brilian. Upacara ini adalah untuk mempersatukan Indonesia dan menggelorakan semangat kemerdekaan.” Budiharjo Untuk merealisasikan idenya itu, Mutahar lalu mengumpulkan sepuluh pemuda-pemudi dari latar belakang etnis berbeda yang saat itu tinggal di Yogyakarta. Dalam pemikiran Mutahar, dengan mengemban tugas bersama mengibarkan bendera pusaka, pemuda-pemudi Nusantara pilihan itu dapat menjadi simbol pemersatu Indonesia. “Nah, kalau pemuda-pemudi sudah bersatu, Indonesia ini akan jaya,” ucap Budiharjo menirukan Mutahar. Itulah formasi pertama pasukan pengibar bendera pusaka yang disebut Kelompok 10. Saat itu belum ada pemanggilan pemuda dari daerah luar Jawa karena suasana yang tidak mendukung dan kendala transportasi. Formasi ini terus dipertahankan hingga 1950. Tahun berikutnya formasi berganti dengan Kelompok 17. Saat itu, Mutahar tidak terlibat lagi dalam upacara pengibaran bendera. Hingga 1966 kegiatan tahunan itu dipersiapkan oleh Rumah Tangga Kepresidenan. “Baru tahun 1967 kita memakai formasi 17-8-45,” ujar Purna Paskibraka wakil Yogyakarta ini. “Saat itu Pak Harto yang meminta kembali Kak Mut mempersiapkan upacara kemerdekaan. Konsep beliau adalah melambangkan tanggal Proklamasi.” Husein Mutahar Selama perkembangan itu upacara kemerdekaan juga dipersiapkan dengan mengadopsi upacara militer. Ketika diminta menjelaskan lebih rinci bilamana upacara kemerdekaan mulai mengadopsi upacara militer, Budiharjo masih ragu. “Saya juga masih mencari-cari literaturnya,” lanjutnya. Yang terang, meskipun sistem formasinya terus diperbarui, konsep pluralitas anggota cetusan Mutahar tetap dipertahankan. Pada awal dibentuknya pasukan pengibar bendera pusaka keanggotaannya diisi oleh anak-anak pegawai pemerintahan di sekitaran ibukota. Pangkal soalnya adalah masalah transportasi yang minim. “Yang penting prinsip keterwakilan itu tetap terpenuhi,” ujar Budiharjo, “malah tahun 1962 semua pengibar adalah mahasiswa UI (Universitas Indonesia).” Sistem keanggotaan yang lebih proporsional baru ditetapkan pada 1968. Saat itu dibuat aturan bahwa anggota pengibar bendera pusaka adalah wakil dari setiap provinsi. Lalu pada 1969 anggota pengibar bendera pusaka adalah siswa sekolah menengah atas dari seluruh provinsi di Indonesia. Juga masing-masing provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri. Sampai 1967 pasukan pengibar bendera pusaka ini belum memiliki nama resmi. Nama resmi Paskibraka sebagai singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka baru dicetuskan dan diresmikan pada 1972. Pencetus nama Paskibraka itu adalah Idik Sulaiman Nataatmaja.

  • Kamp Orang Indonesia di Texas

    Edison Tomimaro Uno, seorang remaja Jepang-Amerika, ditahan di sebuah kamp di Crystal City, Texas selama Perang Dunia II. Ia ditahan bersama keluarganya di kamp yang terletak di dekat perbatasan Meksiko itu. Pasca perang, Uno menjadi aktivis hak sipil dan tokoh berpengaruh dalam upaya ganti rugi perang. Pada 1967, Uno menulis pengalamannya ditahan di Crystal City untuk surat kabar Pacific Citizen . Menariknya, ia juga menyebut lebih dari 300 orang Indonesia ditahan di kamp itu. “Mereka diinternir di Crystal City untuk ‘penahanan pelindung’ selama perang,” tulis Uno dalam Pacific Citizen , 10 Maret 1967. Menurut Uno, hanya sedikit dari orang-orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Mereka menunjuk juru bicara untuk bernegosisasi dalam hal apapun dengan otoritas kamp atau interniran lainnya. “Para pelaut ini tidak diizinkan untuk berbaur dengan kelompok lain di kamp,” tulis Uno. Baca juga:  Kabar Pilu dari Kamp Sachsenhausen Namun, alienasi itu ternyata bukan masalah bagi orang Indonesia. Menurut Uno, itu karena mereka beragama Islam serta memiliki pola makan dan budaya yang berbeda. Sehingga mereka cukup puas dibiarkan terpisah dari interniran lain. Uno melanjutkan, kamp khusus orang Indonesia hanya diberi sedikit hiburan dan pekerjaan untuk membuat mereka sibuk. Salah satu yang menjadi kegemaran meraka adalah menonton film-film Amerika yang sesungguhnya tak mereka pahami. “…namun mereka selalu menikmati Barat dan, seingat saya, menjadi cukup riuh atas adegan cinta khas Hollywood,” tulis Uno. Lalu dari mana orang-orang Indonesia ini? Uno menyebut mereka adalah para buruh kapal Belanda yang mendarat di New York. Sementara itu, Charles Bidien, seorang imigran Indonesia di Amerika Serikat, dalam arsipnya  Gerakan Angkatan ‘45 di U.S.A ., menyebut 300 buruh kapal Belanda protes ketimpangan upah di New York pada 1943. Baca juga:  Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Pertama Nazi Para buruh kapal dari Indonesia itu kemudian mogok kerja dan meninggalkan kapal. Mula-mula mereka mengungsi ke Seaman House. Petugas imigrasi meminta mereka kembali ke kapal. Namun, mereka melarikan diri dan memilih menggelandang di New York. “Banyak di antara mereka yang kelaparan dan kedinginan sampai ada yang menemui ajalnya. Di antaranya tujuh orang mati kelaparan dan kedinginan di pinggir jalan, tiga orang masuk rumah sakit gila, dan ada beberapa orang yang mendapat hukuman karena kejahatan kriminil,” tulis Bidien. Bidien sempat mengungsikan mereka ke penginapan miliknya. Namun, penginapannya digrebek. Mereka kemudian di tahan di Pulau Ellis. Belakangan, Bidien dan ratusan buruh kapal di New York melakukan aksi mogok dan demonstrasi mendukung kemerdekaan Indonesia. Baca juga:  Pesan dari Kamp Interniran Belum diketahui apakah mereka yang ditahan di Crystal City adalah orang-orang yang sama dengan para buruh kapal di New York yang sempat ditahan di Pulau Ellis. Uno sendiri tak menyebutnya secara pasti. Uno justru mengungkap fakta menarik lain dalam pamflet Concentration Camps American-style yang ditulisnya pada 1974. Ia menyebut orang-orang Indonesia di Crystal City adalah rombongan terakhir yang dikirim ke Crystal City. Sebelumnya mereka ditahan di Tule Lake, kamp lain di California. Selain orang Indonesia, Crystal City juga menahan orang-orang Jerman, Italia, Peru-Jepang, dan Jepang dari Hawaii. “Kamp Crystal City unik karena merupakan kamp terakhir yang ditutup pada tahun 1947,” tulis Uno. Baca kisah Charles Bidien dan aksi pemogokan buruh kapal di New York di sini: Ode Pejuang yang Kesepian

  • Fetching Mr. Nas

    THOSE three soldiers with red berets were standing menacingly. With guns in their hands, they battered the bedroom door of the Coordinating Minister of Defense and Security and Armed Forces Chief of Staff, General Abdul Haris Nasution. But the general, who was planned to be brought in front of President Sukarno that early morning, was nowhere to be seen.

  • Di Balik Makam Roso

    Pada sebuah lereng nan hijau di tengah kota Ambon. Berjejer makam para serdadu Sekutu dalam Perang Dunia II. Ada barisan makam tentara Inggris termasuk dari India, makam tentara Australia di bagian depan,   dan makam tentara Belanda di barisan belakang. Salah satu makam menarik perhatian karena namanya yang tertera pada nisan: A. Roso lahir 12 Januari 1924 dan meninggal 15 Juni 1943. Roso   seperti nama Jawa. Nama yang mengingatkan kita pada “roso” dari Mbah Maridjan satu dekade silam. Inisial A pada nama depannya adalah Alphons. Jadi,   nama lengkapnya Alphons Roso. Kartu tawanan perang Jepang atas namanya, yang tersimpan dalam Arsip Nasional Belanda, menyebut dia adalah prajurit milisi kelas dua infanteri dengan nomor stamboek  161424. Dia ditangkap di perkebunan teh Sedep di Kertasari, Bandung, pada 8 Maret 1942, ketika Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Baca juga:  Kopral Anthony Menjebol Benteng Salubanga Sebelum ditangkap Jepang,Alphons Roso adalah anggota Depot Batalion Infanteri ke-4 di Bandung. Dia berasal dari Jakarta, anak dari H.F. Roso dan Tidja. Dalam beberapa kartu lain, terdapat tawanan perang Jepang dengan nama belakang Roso, dengan nama ayah H.F. Roso. H.F. adalah singkatan dari Henry Ferdinand. Sedangkan nama ibu mereka ditulis Tidja dan Saidjah. Dua nama asli Indonesia itu kemungkinan orang yang sama. Jadi Alphons Roso dan serdadu-serdadu lain dengan nama belakang Roso adalah orang Indo. Semua serdadu dengan nama belakang Roso itu berasal dari Batavia. Mereka antara lain: Leopold August Roso lahir 23 Maret 1900; Theodorus Frederik Roso lahir 7 Mei 1904; George Alexander Roso lahir 22 November 1910; Henry Victor Roso lahir 22 September 1912; Eddie Wilhelm Roso lahir 2 Juli 1916; dan Johnny Reinier Roso lahir 2 Februari 1921. Berdasarkan nama ayah dan ibu, diperkirakan mereka semua bersaudara dalam sebuah keluarga besar. Kartu tawanan perang Jepang atas nama Alphons Roso. (Arsip Nasional Belanda). Mereka rata-rata ditangkap di sekitar Bandung.Sebelum ditangkap, mereka bertugas di sekitar kantor Departemen Peperangan yang berada di Bandung. Menurut surat dari Oorlog Graven Stichting (Yayasan Korban Perang) di Den Haag tanggal 22 Desember 1964, mulanya di tahun 1942, Alphons dan ketujuh saudaranya ditawan di kamp tawanan perang Cimahi. Alphons kemudian dibawa oleh militer Jepang ke luar Jawa menuju daerah Maluku. Dia terpisah dari saudara-saudaranya yang dibawa ke Singapura. Alphons lalu dibawa ke daerah Kariuw, Pulau Haruku, di utara Pulau Ambon. Jepang mencurigai orang-orang Ambon karena banyak yang menjadi serdadu Belanda. Sebagai tawanan perang, merekakerap dipekerjakan dalam proyek-proyek militer Jepang. Selama masa pendudukan Jepang di Ambon jatuh banyak korban termasuk Alphons Roso. Baca juga:  Narkim Menerkam Pejuang Aceh Ketika Alphons Roso tutup usia pada 15 Juni 1943,saudara-saudaranya tidak langsung tahu. Arus informasi di zaman perang kerap tidak sampai ke tawanan perang Jepang. Keluarganya baru tahu Alphons meninggal pada 1945 setelah Perang Dunia II atau Perang Pasifik berakhir. Pasca Perang Dunia II, tentara S ekutu melakukan penyelidikan tentang kekejaman militer Jepang termasuk di Maluku. Selain itu , korban perang dari tentara Belanda dan tentara S ekutu dikumpulkan di Ereveld Galala, Ambon. Termasuk Alphons Roso yang akhirnya bersemayam di Commonwealth War Cemetery, sebelah Taman Makam Pahlawan Kapaha , kota Ambon.*

  • Teknologi Pemindai Muarajambi

    Di hadapan Junus Satrio Atmodjo terpampang peta wilayah Kompleks Percandian Muarajambi yang ada di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Tak seperti peta kebanyakan. Peta digital tersebut didominasi warna hijau muda, dengan liukan sungai Batanghari yang berwarna biru di tengahnya. Peta ini tanpa keterangan apapun. Arkeolog itu kemudian meminta agar tampilan peta itu diperbesar pada satu bagian. “Aduh cakep!” seru dia beberapa saat kemudian. Ia yang tadinya duduk langsung beranjak maju mendekati layar proyektor di mana peta itu ditampilkan. Tampaklah di sana, kotak-kotak yang menyebar, khususnya yang dekat dengan aliran Batanghari. Junus menangkap bentuk yang menurutnya tak alami. Wujudnya ada yang persegi, ada yang seperti sruktur memanjang rapi. “Ini ada pola-pola garis lurus yang kelihatannya simetris, artinya didesain,” ujarnya. Beberapa bentuk mewakili posisi bangunan candi yang ada di sana. Kenampakannya seperti kotak-kotak teratur. “Ini Candi Gumpung, yang ini Candi Kedaton,” ujar Junus atau yang akrab disapa Oteng sambil menunjuk beberapa lokasi candi yang telah dipugar.  Baca juga:  Usaha Menemukan Muarajambi Meski dia bisa mengenali sebagian candi dalam peta “buta” itu, masih banyak struktur yang tak ia ketahui. “Saya ya dulu sering mondar mandir di sana tapi nggak kelihatan juga ada begini,” katanya.  Usaha untuk menyibak situs yang diperkirakan sudah ada sejak awal abad ke-7 atau 8 sampai ke-13 itu memang sudah berkali-kali dilakukan. Ia sendiri pertama kali ditugaskan ke sana pada 1984. Waktu itu kondisi Muarajambi masih berupa hutan. “Pohon besar-besar sekali,” katanya. Junus tak pernah membayangkan hamparan situs kuno itu kini jelas terlihat di hadapannya. Ada lebih banyak kotak teratur dari yang pernah ia ingat.  “Bulatan ini kita nggak pernah tau. Ini juga nggak pernah tau ada dua kotak ini,” ucapnya lagi. Tampilan 3D hasil pemindaian LIDAR pada Menapo  Bukitsenggalo, ​​​​salah satu situs di dalam gugusan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Waindo Specterra Indonesia). Menguak Peradaban Angkor Wat dan Maya Sebanyak 82 lebih reruntuhan bangunan kuno ada di wilayah situs Percandian Muarajambi. Di antaranya 11 kompleks candi telah dipugar yaitu Candi Kembar Batu, Candi Gumpung, Candi Tinggi I, Candi Tinggi II, Candi Astano, Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan Telagorajo. Lainnya masih berupa gundukan tanah berisi runtuhan bata yang oleh penduduk sekitar disebut dengan manapo. Junus mengakui para arkeolog sebelum ini kesulitan memetakan sebaran bangunan-bangunan kuno itu. Ia bilang, Muarajambi umumnya dipahami sebagai hutan lebat. “Hutan ya bagaimana kita memetakan? Kita baru jalan sedikit ketemu pohon besar. Jadi pola-pola yang kita perkirakan belum terlihat,” katanya. Belum lagi banyak tinggalan kuno yang diyakini masih tersimpan dan belum terkuak. “Seperti apa? Kami pun para arkeolog tidak tahu. Untuk orang-orang yang sudah lalu lalang sejak 1980-an, pertanyaan ini selalu ada di pikiran,” katanya. Baca juga:  Mengingat Lagi Muarajambi Karenanya demi mengungkap rahasia yang masih tersembunyi di kawasan arkeologi berskala besar seperti Muarajambi, atas inisiasi Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono, alat yang berupa pemindai laser diterbangkan dengan pesawat Cesna bermuatan dua awak dan dua penumpang pada Desember 2019. Apa yang dihasilkan oleh teknologi bernama Light detection and ranging (LIDAR) itu adalah data spasial dengan kepadatan dan akurasi tinggi. Teknologi ini mampu merekam semua objek yang ada di permukaan bumi, bahkan yang tertutup pepohonan. Karena menggunakan sinar laser, selama masih ada celah cahaya yang bisa menembus ke bawah pepohonan data LIDAR tetap bisa didapat. Secara teori lima jam terbang bolak-balik, data sudah bisa didapat. Tapi karena cuaca tak bersahabat, butuh waktu lima hari dan 15 kali penerbangan untuk memindai wilayah seluas 7.192 hektar itu. Cakupannya meliputi sebagian wilayah di luar Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi. Peta dari hasil pemindaian LIDAR itulah yang tengah dibaca Junus. “Cakep banget ini. Kami arkeolog kalau lihat ini udah mau teriak. Saya orang yang paling happy hari ini,” serunya. LIDAR merupakan teknologi pemetaan yang sangat baru bagi penelitian arkeologi di Indonesia. Di negara lain, teknologi ini sudah lebih dulu dipakai. Sebagaimana dikutip dari The Guardian , dengan metode ini para arkeolog di Kamboja telah menemukan kota tersembunyi dari abad pertengahan, tak jauh dari kota kuil kuno Angkor Wat. Menurut Arkeolog Australia Dr Damian Evans, luasnya menyaingi ukuran ibu kota Kamboja sekarang, Phnom Penh. Baca juga:  Menuntut Ilmu Sampai ke Negeri Jambi LIDAR juga membuat para peneliti mampu mengidentifikasi reruntuhan lebih dari 60.000 rumah, istana, jalan raya yang ditinggikan, dan fitur buatan manusia lainnya yang telah tersembunyi selama berabad-abad di bawah hutan Guatemala utara. “Dengan LIDAR, para ilmuan mengungkap reruntuhan peradaban pra-Columbus yang luas yang jauh lebih kompleks dan saling berhubungan dari yang diperkirakan kebanyakan spesialis Maya,” tulis Tom Clynes, sebagaimana dilansir dari Nationalgeographic. Kini dengan teknologi yang sama, kata Junus, untuk pertama kali ia bisa melihat pola struktur bangunan yang tersebar di Muarajambi. Sesuatu yang katanya, sejak dulu sangat sukar diketahui. “Dari hasil yang kita lihat pola ini sudah muncul. Ini mimpi yang tidak pernah terwujud. Saya hari ini melihatnya di depan mata,” katanya. Tumpukan reruntuhan bata yang telah ditumbuhi pepohonan besar di Kompleks Candi Koto Mahligai. (Risa Herdahita Putri/ Historia.ID ). Temuan Baru, Pekerjaan Baru Kini banyak “pekerjaan rumah” menanti. Muncul dugaan temuan baru berdasarkan peta hasil LIDAR yang harus dipastikan langsung ke lapangan. “Dugaan itu temuan juga. Sesuatu yang tadinya tak kita lihat dengan mata. Tapi kalau dari hasil ini kelihatan sekali dan ini perlu dilihat ke lapangan untuk meyakinkan,” ujar Junus. "Harus dicek antara struktur pola dan temuan artefak di situ, keduanya nanti digabung." Sebelum ini pun, kata Junus, sudah muncul banyak interpretasi terkait candi-candi di Muarajambi. Ia sendiri makin yakin kalau Muarajambi adalah suatu pusat permukiman. “Ada kemungkinan memang dia pernah menjadi suatu kota. Saya tidak berani mengatakan ini ibukota,” tegasnya. Bisa disebut kota salah satunya dari jumlah bangunan. Menurut hitungannya ada lebih dari 100 struktur bangunan di kawasan Situs Muarajmbi, baik dalam bentuk candi maupun manapo. Artinya, tenaga pembangunnya juga pasti tak sedikit. “Tidak mungkin penduduknya sedikit. Pasti ada konsentrasi masyarakat yang hidup ramai-ramai di situ,” jelasnya. Baca juga:  Kota Seribu Biksu Tampilan hasil LIDAR dari kompleks Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu dan Kolam Kolam Telagorajo. Nampak pula jejak kanal-kanal kuno yang saling terhubung. (Dok. Waindo Specterra Indonesia). Seluas apa kemungkinan permukiman kuno di Muarajambi? Sejauh ini para arkeolog menduga batas wilayahnya ditentukan oleh keberadaan kanal-kanal yang dibuat mengelilinginya. “Dan ini berbentuk temu gelang, nggak bulat betul, memanjang dan blengkak-blengkok, tapi semuanya ketemu,” jelas Junus. “Kita butuh satu instrumen yang bisa lebih meyakinkan bahwa apa yang kita pikirkan itu sudah mendekati kenyataan. LIDAR ini salah satu instrumen.”. Awalnya situs yang ada di tepi Sungai Batanghari ini diperkirakan membentang dari barat ke timur sejauh 7,5 km. Itu sampai kemudian hasil LIDAR menunjukkan kemungkinan baru, bahwa gugusan percandian ini berjajar sepanjang 9 km. Peta hasil LIDAR pun memperlihatkan wilayah di sekitar Candi Gumpung dan Candi Tinggi merupakan kawasan yang lebih padat daripada yang telah nampak kini. Terlihat struktur-struktur yang lebih kecil yang saling berdekatan. Baca juga:  Temuan Baru di Situs Muarajambi “Kita bukan hanya bicara tentang candi yang nampak, tapi kita juga bicara tentang ekologi peradaban di Sumatra,” jelasnya. “Tanda- tanda itu bisa ditemukan di Muarajambi. Ini sangat menarik.” Junus menyebut teknologi LIDAR adalah terobosan penting bagi dunia arkeologi dalam negeri. Bukan sekadar karena bisa menemukan kemungkinan struktur-struktur kuno baru, tapi hubungan antar satu temuan dengan yang lainnya. “Temuan baru itu tidak harus berarti suatu situs baru, candi baru. Bukan itu ukuran kita. Ukuran kita bagaimana kita bisa melihat pola,” lanjutnya. Teknologi LIDAR memberi petunjuk pada cara kita atas pola yang sudah hilang sekian ratus tahun. Menurut Junus ihktiar ini merupakan terobosan besar. Sejatinya temuan LIDAR akan dilanjutkan dengan penggalian situs, namun pandemik Covid-19 menunda sementara aktivitas tersebut.

  • Menuntut Ilmu Sampai ke Negeri Jambi

    Atisha Dipankara Sri Jnana, guru Buddha dari Kekaisaran Pala memulai perjalanan ke Swarnadwipa dengan menumpang kapal pedagang. Di dalam rombongan ini, terdapat juga guru lain dan muridnya. Atisha bertolak ke Swarnadwipa untuk menerima ajaran langsung dari Dharmakirti, salah satu guru Buddhis tersohor pada masa itu. “Orang Tibet menyebutnya Sherlingpa Darmakirti, Sherling  itu artinya Sumatra, Pa itu orang, orang Sumatera. Ia seorang Bikku asli Nusantara,” jelas Agus Widiatmoko, arkeolog yang lama mempelajari Muarajambi dan menulis disertasi berjudul “Situs Muarajambi sebagai Mahavihara Abad ke-7-12 Masehi”, ketika ditemui di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Perjalanan Atisha dimulai pada 1013. Apa yang dipelajarinya selama di Swarnadwipa atau yang kini Sumatra adalah filosofi Buddha, yaitu Prajnaparamitha . “Tak heran kalau di Muarajambi ditemukan dengan arca Prajnaparamitha, memang terkait ajaran ini,” ujarnya lagi. Studi Atisha selama 12 tahun di Sumatra kelak terbukti menjadi bekal pengalaman dalam mereformasi Buddhisme di Tibet. Lokasi Strategis Tenarnya Sumatra sebagai tempat belajar agama Buddha sudah disebutkan sejak kemunculan I-Tsing, biksu Tiongkok pada abad ke-7. Dalam laporan perjalanannya dari Tiongkok ke Nalanda, India pada 672, I-Tsing bercerita kalau sempat singgah di Fo-shi (Sriwijaya)dan Mo-lo-yeu (Melayu). Ia lalu mampir lagi di Melayu sekembalinya dari Nalanda pada 685. Menurut dia, waktu itu Melayu sudah menjadi bagian dari Shili-Foshi (Sriwijaya). Baca juga:  Mengingat Lagi Muarajambi Dalam persinggahannya, I-Tsing bilang kalau dia memperdalam pengetahuannya tentang ajaran Buddha dan tata bahasa Sansekerta. Katanya di sebuah kota yang berbenteng, terdapat biksu Buddhis yang jumlahnya ribuan yang bertekad untuk belajar dan menjalankan tindakan bajik. “Mereka menganalisa dan mempelajari semua mata pelajaran, persis seperti yang ada di Kerajaan Tengah (Madhyadesa India), tata cara dan upacaranya sama sekali tak berbeda,” tulis I-Tsing, sebagaimana yang diterjemahkan Shinta Lee dari Komunitas Sudimuja & Jinabhumi. I-Tsing juga mencatat, Sakyakirti merupakan salah satu yang tinggal di Shili-Foshi ketika itu. Dia merupakan salah satu di antara lima guru terkemuka pada masanya. Empat abad kemudian datanglah Atisha Dipankara Sri Jnana ke Sumatra. Setelahnya, ada lagi biksu penerjemah, Danapala atau Shihu dari Swat, sekarang Pakistan Barat, pada 1018. Andrea Acri, arkeolog Ecole Pratique des Hautes Etudes, PSL University, Prancis, membahasnya dalam “The Place of Nusantara in the Sanskritic Buddhist Cosmopolis” yang terbit di TRaNS. Kata dia, Danapala tinggal di Sriwijaya beberapa waktu hingga bisa menguasai bahasa Sriwijaya dan Jawa. “Setelah I-Tsing ada banyak pendeta lain. Kira-kira ada 30 pendeta yang dicatat. Bukan hanya dari Tiongkok, tapi ada juga dari Kamboja, Thailand, dan sebagainya,” jelas Junus Satrio Atmodjo, arkeolog yang kini menjadi bagian dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB), ketika ditemui di Kemendikbud. Baca juga:  Tempat Pendidikan Buddha di Nusantara Swarnadwipa pada era Sriwijaya berjaya, sekira abad ke-7 sampai ke-12, merupakan titik yang strategis dalam pelayaran dunia. Titik temu antarnegara inilah kemudian yang membuat Sumatra menjadi tempat singgah para pelayar dari berbagai negara. Para pelayar yang melakukan perjalanan dengan rute Tiongkok-India biasanya akan singgah di Sumatra. Minimal mereka menghabiskan waktu setengah tahun. Mereka mengikuti musim angin yang berganti enam bulan sekali. “Atisha itu ke Sumatra 1012-1024. Abad ke-11 itu sedang mekar-mekarnya (perdagangan maritim, red. ). Kalau lihat banyaknya temuan keramik Tiongkok, dari Dinasti Sung, perdagangan saat itu lagi seru-serunya,” kata Junus. Sekelompok peziarah biksu Tibet di halaman universitas Buddha kuno Nalanda, India, Rajgir. (dymov/123rf). Muarajambi sebagai Pusat Pengajaran Sampai saat ini Muarajambi banyak dikaitkan dengan Mahavihara yang didatangi I-Tsing, di mana banyak biksu belajar. Kendati catatan kuno, seperti yang ditulis I-Tsing misalnya, tak pernah secara jelas menyebutkan nama tempat ia belajar. Bahkan catatan I-Tsing itu sebenarnya cukup membingungkan. Ia mengatakan dirinya singgah di Mo-lo-yeu untuk memperdalam pengetahuannya tentang ajaran Buddha dan Bahasa Sansekerta. Tapi ia juga melaporkan bahwa pusat pengajaran Buddhis ada di Sriwijaya. Padahal kali pertama I-Tsing singgah, Melayu masih belum menjadi bagian Sriwjiaya. Baca juga:  Mengunjungi Tempat Belajar I-Tsing Tak heran kalau ada sebagian yang menolak mengidentifikasi Mo-lo-yeu sebagai Melayu di Jambi. "Apakah Melayu di situ sama dengan di Jambi? Ini sama dengan perdebatan di mana letak pusat Sriwijaya, di Jambi atau di Palembang. Nah, ini harus beradu bukti," kata Retno Purwanti, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam dialog sejarah "Jejak Sriwijaya di Bumi Jambi" live di kanal Youtube dan Facebook Historia.id . Yang jelas, kata dia, Sriwijaya itu seperti negara dengan ibukota yang pusat pendidikannya bisa saja di tempat berbeda. “Ibu kotanya misalnya Jakarta, pusat pendidikan bisa di Yogyakarta," kata Retno. Lalu di mana perguruan Buddhis terkenal itu berada? Dilihat dari perjalanannya, I-Tsing menyusuri pantai timur Sumatra, lalu berhenti di suatu tempat, dan naik perahu yang lebih kecil. “Artinya ada di pedalaman. Yang paling memungkinkan kalau kita bicara dari abad ke-7, permukiman pedalaman ya Muarajambi,” jelas Junus. Hingga kini memang hanya Muarajambi yang masih memperlihatkan bukti adanya sebuah peradaban dari era Sriwijaya dan Melayu Kuno. Pun dari kajian arkeologi, percandian di sini berlatar Buddhis. Ditambah lagi, jika dibandingkan dengan Mahavihara di India, Muarajambi punya banyak kemiripan. Beberapa stupa di Muarajambi. (belikova/123rf). Mirip dengan di India India, khususnya Nalanda, terbukti memang terhubung dengan Sumatra. Prasasti Nalanda memberitakan Raja Balaputradewa, dari trah Sailendra penguasa Swarnadwipa abad ke-9, meminta Dewapaladewa, dari wangsa Pala di India, untuk mendirikan vihara di Nalanda. Bukan hanya itu, Agus Widiatmoko menjelaskan, dua situs Buddha di India punya kronologi masa perkembangan yang saling bekesinambungan dengan di Muarajambi. Situs Nalanda dari abad ke-5-12 M. Situs Vikramashila dari abad ke-8-13 M. Sementara Situs Muarajambi, menurut Agus berasal dari abad ke-7-12 M. Meskipun, kalau menurut Retno Purwanti bukti tertuanya dari abad ke-9-10. Dari sisi arsitektur dan teknologi bangunan, ketiganya pun nampak mirip. Sama-sama memakai bata sebagai bahan utama. Masing-masing situs juga mempunyai kompleks bangunan vihara dan kuil pemujaan walaupun berbeda variasi. Baca juga:  Kota Seribu Biksu “Ketiganya punya mandapa (pendopo), setyagara atau candi induk, serta kuil-kuil kecil,” lanjut Agus. “Ini sama dengan di Candi Kedaton dan ada stupa. Ia menerangkan, stupa dalam kompleks vihara didirikan untuk mengormati para guru. Abu para guru yang sudah wafat biasanya diwadahkan dalam stupa. Stupa juga digunakak untuk menyimpan teks suci Buddhis. “Itu kenapa di Candi Gumpung banyak stupa. Banyak guru penting di situ. Ini penting bahwa orang-orang tertentu dibuatkan stupa,” lanjutnya. Ketiganya juga memilih pola lokasi yang sama. Bangunan-bangunan itu tak jauh dari aliran sungai besar. Baca juga:  Usaha Menemukan Muarajambi Temuan-temuan seperti belanga besar di Candi Kedaton dan pecahan mangkuk di luar candi itu dan Gumpung menjadi temuan penting. Temuan yang jadi pertanda adanya kebiasaan masyarakat pendukung candi yang mirip dengan yang ditemukan di sebuah kompleks vihara. “Belanga yang besar itu untuk masak di sana. Karena setiap pagi biksu datang, makanan dan minuman dibagikan. Wadahnya mangkuk dan keramik. Mereka datang hanya modal alat makan,” kata Agus. Agus meyakini, meski mirip dengan di India, pusat pendidikan di Sumatra sebenarnya sudah berkembang sebelum Balaputradewa mendirikan vihara di Nalanda. “Sriwijaya mendirikan vihara di Nalanda dapat dimaknai sebagai upaya menjadikan Swarnadwipa setara dengan pusat pendidikan di Nalanda,” ujar dia. Sisa-sisa stupa di tengah reruntuhan Vihara Vikramashila di India. (Wikimedia Commons). Silsilah dari Sumatra Apa yang menginisiasi sang penguasa Sriwijaya untuk membangun salah satu vihara terbesar di Nalanda itu adalah tokoh bernama Dharmakirti Sherlingpa. Dalam hikayat Tibet, Dharmakirti adalah putra Syailendra yang waktu muda belajar di Vikramashila, Rajgir, India. “Vihara itu tempat tinggal. Dua yang dibangun, vihara dan perpustakaan,” ujar dia. Darmakirti tinggal selama tujuh tahun di Mahavihara Vikramashila. Di sana ia belajar tentang Boddhisattva Prajnaparamita. Setelah lulus, Darmakirti kembali ke Swarnadwipa untuk meneruskan ajaran ini. Sampai kemudian datang Atisha Dwipangkara, yang sebelumnya sempat belajar di Nalanda. Pada umur 21 tahun, ia menyelesaikan studinya di sana. Lalu direkomendasikan untuk memperdalam ajaran tentang Boddhisattva di Sumatra. Atisha belajar langsung kepada Darmakirti. Setelah paham betul dengan ajarannya, dia kembali ke India menjadi rektor di Universitas Vikramashila. Melakukan perbaikan kurikulum. “Gelar Darmakirti ini acharya , setingkat Profesor atau mahaguru. Tingkatannya ada Guru, itu untuk biksu biasa, diatasnya ada pandit , baru acharya ,” jelasnya. Baca juga:  Guru Buddha Terkemuka Belajar di Sriwijaya Setelah di Vikramashila, diundanglah Atisha oleh Raja Tibet untuk mereformasi Buddha di negerinya. “Dalam otobiografinya disebut, orang Vikramashila, biksunya maupun muridnya bilang kalau guru mereka dicuri orang Tibet,” ujar Agus. Ketika itu, Mahavihara Nalanda sudah mulai drop. Pusat pendidikan yang sebelumnya terkenal itu hancur pada abad ke-12. “Dihancurkan oleh Sultan Bakhtiyar dari Afganistan, dibakar habis, hampir tiga bulan tak padam apinya,” jelas Agus. Baca juga:  Temuan Baru di Situs Muarajambi Setelah Atisha mangkat pada awal abad ke-12, kira-kira 50 tahun kemudian, sistem ajarannya telah mulai menjadi panduan utama bagi studi Buddhisme di Tibet. Kelak pada abad ke-15 ajaran ini sampai dan diteruskan oleh sarjana besar bernama Tsongkhapa. Ajaran ini yang kemudian diturunkan kepada Dalai Lama pertama hingga sekarang ke-14. “Bahwa apa yang sekarang dipercayai oleh kaum Tibetan, Buddhisme Mahayana Prajnaparamitha itu silsilahnya dari kita,” tegas Agus.

  • Kota Seribu Biksu

    Dahulu kala, ada seorang pangeran yang pergi melamar putri raja. Putri bilang, ada syarat jika ingin menikah dengannya. “Buatkan aku candi setinggi langit,” kata putri. “Sebelum matahari terbit harus sudah jadi.” Pangeran pun menyanggupi. Ia mulai membangun candi yang sangat tinggi. Candi itu hampir selesai ketika sayup-sayup terdengar seekor ayam berkokok. Lalu disusul ayam-ayam lainnya. Dilanjut suara lesung bertalu-talu. Fajar rupanya telah tiba. Pangeran gagal. Betapa kesalnya dia. Impiannya menikah dengan sang putri mesti dilupakan. Saking marahnya, candi yang belum rampung tadi ia tendang. Tersebarlah batu-batunya ke segala arah. “Ini kisah buyut-buyut kami dulu. Itu kenapa batu-batuan ini berserakan. Orang  tengok  di mana-mana batu. Makanya ada cerita begitu,” kata Datuk Ibrahim Akbar, mantan Kepala Desa Muaro Jambi periode 1980-an sambil menunjuk area sekeliling Candi Gumpung. Baca juga:   Usaha Menemukan Muarajambi Umur Ibrahim kini sudah 73 tahun. Sulit menangkap ceritanya karena ia lebih lancar bicara dalam bahasa Melayu Jambi. Ibrahim bilang, dulu Candi Gumpung dan Candi Tinggi yang tak berjauhan letaknya, hanya berupa gundukan dengan bata-bata yang bertebaran. Pohon-pohon besar tumbuh di atasnya. Kebanyakan pohon duku dan durian. “Gundukan yang ada candinya orang sini sebutnya  menapo, menapo  itu kecil, dari kata  napo,  itu semacam kancil,” jelas Sulaeman (55), juru pelihara Kompleks Candi Gumpung dan Tinggi, ikut nimbrung. Candi Gumpung dan Tinggi pertama kali disebut F.M. Schnitger, sarjana Belanda yang melakukan perjalanan singgah di Jambi dalam laporannya pada 1937. Ada 80 lebih reruntuhan bangunan kuno lainnya di wilayah Situs Percandian Muarajambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Candi Gumpung dan Tinggi kini sudah dipugar bersama kompleks candi lainnya, yakni Candi Kembar Batu, Candi Astano, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan Telagorajo. Sementara masih banyak runtuhan bata yang tertutup tanah atau  menapo. “Dulu kerajaan taunya, tapi  ndak  tau ini kerajaan apa,” sambung Ibrahim lagi. Ia sama seperti Schnitger yang dalam catatannya menyangka kalau penemuannya adalah bekas dari sebuah kerajaan kuno di Muaro Jambi. Runtuhan gerbang di Kompleks Candi Gedong I dan II. (Belikova/123rf). Tak Banyak yang Tahu Siang itu,  Historia  menemui Arkeolog Junus Satrio Atmodjo, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional, di kantornya, Kemendikbud RI. Junus termasuk yang melakukan pembukaan hutan saat ditempatkan sebagai kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi pada 1990-1997. Sekiranya seribu batang pohon ditebang untuk melihat seberapa banyak temuan yang masih tesembunyi. “Cerita tentang Muarajambi ini sebetulnya tidak banyak yang tahu,” katanya yang akrab disapa Oteng itu. Baru pada 1823 keberadaan situs ini terungkap. Waktu itu perwira angkatan laut Inggris, S.C. Crooke, diberi tugas mengumpulkan data tentang wilayah Jambi. Ia melaporkan adanya runtuhan bangunan kuno dari bata dan arca-arca batu di Desa Muaro Jambi.         “Salah satunya (arca,  red. ) rambutnya seperti wignya seorang hakim di Inggris. Kelihatannya yang ditemukan adalah kepala Buddha, rambutnya keriting,” ujar Junus. Pada masa-masa berikutnya, lewat penggalian dan pemugaran, temuan-temuan arkeologis mulai terkumpul. Yang tertua misalnya temuan keramik dari masa Dinasti Tang abad ke-8 hingga 9. Ada juga temuan dari penggalian Candi Gumpung pada 1985-1990 berupa lempengan emas berisi mantra di dalam kotak peripih. Epigraf Boechari sudah menelaah kalau inskripsi pada lempengan itu mewakili gaya tulisan dari pertengahan abad ke-9 sampai awal abad ke-10.  Baca juga:  Temuan Baru di Situs Muarajambi Kemudian di Candi Tinggi ditemukan lempengan emas, bata beraksara Jawa Kuno, Keramik Tiongkok dari abad ke-10 sampai ke-12, serta gong perunggu beraksara mandarin dan angka tahun 1231. Lalu lapik arca, fragmen arca, manik-manik, tembikar, batuan mulia, dan keramik Tiongkok abad ke-11 sampai ke-14 ditemukan di Candi Astano. Sementara dari kompleks Candi Gedong, ada umpak batu, fragmen arca, bata bertulis dan berhias, pecahan genting, keramik tiongkok. Ada belanga perunggu dan arca gajah di Candi Kedaton. Arca gajah dan pecahan genting ditemukan juga di Candi Koto Mahligai.   “Kita banyak temukan keramik yang rata-rata dari Dinasti Sung abad ke-11 sampai ke-13. Kita juga temukan pecahan kaca dari Timur Tengah dan benda-benda yang kita perkirakan benda logam dari India,” jelas Junus. Dugaannya, pada abad ke-13 percandian kuno Muarajambi masih digunakan. Lalu ditinggalkan seabad kemudian. Petunjuknya temuan arca-arca bergaya Singhasari. Salah satunya arca Prajnaparamitha dari Candi Gumpung yang berciri kerajaan Jawa dari abad ke-13 itu. Begitulah rupanya, Percandian Muarajambi tak digunakan dan dibangun pada satu masa. Agaknya masa peradaban di Percandian Muarajambi telah berlangsung selama sekira 500 tahun. Beberapa candi jelas-jelas menunjukan tanda-tanda pembangunan yang bertahap. Seperti Candi Gumpung yang dibangun dua tahap dan Candi Astano yang dibangun dalam tiga tahap.  “Lima ratus tahun nggak pernah ditinggalkan? Artinya daerah ini memang penting dari dulu,” kata Junus lagi. Temuan sumur kuno di Kompleks Candi Kedaton di Percandian Muarajambi. (Risa Herdahita Putri/ Historia.ID ). Permukiman Buddhis Interpretasi terkait candi-candi di Muarajambi selama ini memang sudah bermunculan. Ia sendiri yakin kalau Muarajambi, secara utuh, adalah suatu pusat permukiman yang kosmopolitan. “Ada kemungkinan memang dia pernah menjadi suatu kota. Saya tidak berani mengatakan ini ibukota,” tegas Junus. Bisa disebut kota salah satunya dari temuan artefak yang begitu banyak dan beragam. Asal usulnya pun dari tempat dan masa yang berbeda pula. Lalu jumlah bangunannya. Menurut hitungannya ada lebih dari 100 struktur bangunan di kawasan Situs Muarajambi, baik dalam bentuk candi maupun menapo. Artinya, tenaga pembangunnya juga pasti tak sedikit. “Tidak mungkin penduduknya sedikit. Pasti ada konsentrasi masyarakat yang hidup ramai-ramai di situ,” jelas Junus. Baca juga:  Mengingat Lagi Muarajambi Kalau dianalogikan dengan kondisi hari ini, dalam satu kota biasanya terdiri dari jejeran rumah dengan tempat ibadah, pasar, warung, dan lainnya. “Jejeran rumah yang sangat banyak, ada warung, ada masjid, ada pasar, ini kan ada pola,” jelas Junus.  Sementara dengan banyaknya struktur kuno yang ada, masing-masing fungsinya belum banyak terungkap. “Apakah terus digeneralisir? Kan harus dijawab masing-masing fungsinya,” kata Asyhadi Mufsi Sadzali, arkeolog Universitas Jambi, yang ditemui Historia di warung kopi milik warga dekat area Candi Kembar Batu, Muaro Jambi. Candi Astano di Kompleks Percandian Muarajambi. (Risa Herdahita Putri/ Historia.ID ). Misalnya Musawira, lulusan arkeologi Universitas Jambi yang waktu itu ikut dalam perbincangan mengatakan dalam penelitiannya di Candi Gumpung menemukan bekas-bekas kegiatan agama. Itu berupa temuan bata setengah lingkaran, bagian dari stupa. Ada pula lantai pradaksina patha pada candi induknya. Pradaksina patha itu lantai untuk melakukan ritual pradaksina , yaitu mengelilingi candi searah jarum jam. Baca juga:  Mencari Sriwijaya di Jambi Di depan candi induk tadi, ditemukan dua kolam. “Sebelum ritual mereka mensucikan diri, lalu mereka ke candi induk melakukan pradaksina. Kemungkinan yang di candi induk untuk para petinggi, nah yang di perwara (candi pendamping, red .) buat umat kebanyakan," kata Musawira. Lalu jika Candi Gumpung digunakan untuk kegiatan ibadah, bagaimana dengan Candi Kedaton yang memiliki begitu banyak ruang dan halaman, misalnya? Ditambah temuan belanga dan sumur kunonya. “Di Kedaton, apakah itu asrama? Ada sumur, ada kuali di sana. Apakah biksu waktu itu memasak? Apakah mereka melibatkan warga lokal? Penyuplai beras siapa? Dari mana suplainya?” sambung Asyhadi. Prasasti pada makara  dalam bahasa Jawa Kuno berbunyi: "Tempat mengheningkan ciptanya (meditasi) Mpu Kusuma". (Risa Herdahita Putri/ Historia.ID ). Banyak peneliti yang menghubungkan Percandian Muarajambi, khususnya Candi Kedaton, dengan mahavihara yang pernah didatangi oleh I-Tsing, biksu dari Tiongkok. Itu sewaktu dia singgah di Mo-lo-yeu pada abad ke-7. Di sana ia bermaksud memperdalam pengetahuannya, yakni tentang ajaran Buddha dan bahasa Sanskerta. Vihara umumnya adalah tempat tinggal para biksu, untuk mereka berkegiatan sehari-hari mempelajari kitab suci. Di dalamnya ada bangunan khusus untuk melakukan ritual agama. Ini sejalan dengan yang diungkap arkeolog Agus Widiatmoko dalam disertasinya Situs Muarajambi sebagai Mahavihara Abad ke-7 – 12 Masehi . Katanya secara keseluruhan Situs Muarajambi bukan semata-mata lokasi ritual dan pemujaan, tertapi juga permukiman keagamaan Buddha. Baca juga:  Mengunjungi Muarajambi, Tempat Belajar I-Tsing Ia membandingkan situs ini dengan yang ada di Nalanda dan Vikramasila serta pendidikan Buddha Mahayana yang masih berlangsung di Monastic University Sera Jey di India. Kesimpulannya Situs Muarajambi pada masa lalu adalah mahavihara dan pusat pendidikan agama Buddha. I-Tsing memang tak secara spesifik menyebut nama tempat ia belajar ketika singgah di Mo-lo-yeu. Tapi Mo-lo-yeu kerap diidentikan dengan Kerajaan Malayu di Jambi. Apa yang nampak di Muarajambi pun sangat mirip dengan yang digambarkan oleh I-Tsing dalam catatannya, di mana ribuan biksu belajar di suatu kota berbenteng.   “Kurang pas kalau Muarajambi dikatakan sebagai pusat pemerintahan,” jelas Asyhadi sambil mengangkat gelas kopinya. “Rajanya tidak di wilayah Muaro Jambi, mungkin di tempat lain, tapi pusat pendidikan Buddha-nya ada di sini.”

  • Menemukan Kembali Peradaban yang Hilang dengan Lidar

    Selama puluhan tahun, orang mengenal situs Kompleks Percandian Muarajambi sebagai tempat wisata yang bertema religi. Banyak catatan sejarah menunjukan bahwa kompleks ini berperan penting dalam penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara. Muarajambi memiliki beberapa candi. Beberapa di antaranya merupakan temuan seorang Perwira Angkatan Laut bernama S.C Crooke pada 1820. Penasaran dengan candi-candi tersebut, Crooke mencoba menelitinya. Kemudian arkeolog R. Soekmono melanjutkan penelitian tentang situs Muarajambi pada 1954. Arkeolog yang juga meneliti candi Borobudur ini mengunjungi Candi Gumpung, Candi Tinggi, dan Astano yang masih berbentuk gundukan tanah. Salah satu candi di kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ). Tampak beberapa candi di kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ). Untuk kepentingan penelitian lebih lanjut, kawasan Muarajambi baru dibersihkan dan dipugar pada 1976. Dari sini mulai banyak penelitian arkeologi tentang situs ini dan menguak sejumlah hal. Tapi lebih banyak lagi belum terungkap dari situs ini. Sebab masih banyak pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Pepohonan itu tak bisa dibersihkan sembarangan. Karena diduga ada struktur bangunan di antara rimbunan pohon itu. Akarnya bisa jadi sudah terikat dengan struktur bangunan itu. Suasana di kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ). Kompleks Percandian Muarajambi terkenal karena menjadi tempat belajar para biksu. (Dok. Historia.ID ). Seorang penjaga candi membersihkan candi di Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ). Gundukan berisi reruntuhan bata di situs Candi Koto Mahligai. Situs ini termasuk dalam gugusan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ). Setelah puluhan tahun, kini penelitian di wilayah yang pernah didatangi biksu asal Tiongkok I-Tsing pada abad ke-7, kembali menggeliat. Djarum Foundation bekerja sama dengan Historia.ID  melakukan terobosan baru untuk menemukan kembali peradaban di kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. Menggunakan teknologi Light Distance And Ranging (LIDAR), penelitian ini diharapkan akan mengungkap lebih jauh kawasan Muarajambi. Tim Waindo saat mempersiapkan LIDAR di Tangerang. (Fernando Randy/Historia.ID). Anggota tim Waindo mempersiapakan peralatan LIDAR di bandara Tangerang. (Fernando Randy/Historia.ID). Petugas dari Waindo mengecek peralatan LIDAR sesaat sebelum berangkat. (Fernando Randy/Historia.ID). Tampilan hasil LIDAR dari kompleks Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu dan Kolam Kolam Telagorajo. Tampak pula jejak kanal-kanal kuno yang saling terhubung. (Dok. Waindo Specterra Indonesia). LIDAR adalah teknologi peraba jarak jauh optik yang mengukur properti cahaya yang tersebar untuk menemukan jarak dan informasi lain dari target yang jauh. Selain itu, LIDAR juga menggunakan metode pulsa laser untuk menentukan jarak ke objek atau permukaan tanah. Teknologi ini kali pertama digunakan pada 1960-an untuk penerbangan. Baru pada dekade 1980-an, LIDAR mulai digunakan untuk sistem pemetaan. Dengan demikian, LIDAR mampu menembus apa yang berada di balik rimbunan pepohonan tanpa perlu membersihkan pepohonannya. Karena itu, LIDAR diterapkan sebagai alat foto udara untuk menemukan peradaban baru di kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. Petugas dalam pesawat sedang memindai dengan LIDAR kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ). Selama empat hari, tim gabungan yang terdiri dari teknisi LIDAR, jurnalis, dan arkeolog bekerja keras menyingkap sisa-sisa peradaban lama di Muarajambi. Kehadiran teknologi LIDAR dalam membantu dunia arkeologi Indonesia menjadi angin segar dalam upaya menemukan bukti-bukti peradaban masa lalu di Nusantara. Tim gabungan menggunakan LIDAR untuk menemukan situs sejarah di kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ). Petugas dalam pesawat sedang memindai dengan LIDAR kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ). Pesawat yang membawa LIDAR mulai memindai kawasan Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia.ID ).

  • The Last Battle in Bhumi Kadiri

    THE army under the command of Ken Angrok had left Tumapel. The troops marched like a giant wave from the east of Mount Kawi heading to Daha. They were joined by the Brahmins from the sects of Shiva, Vaishnava, Buddha, and Tantrayana, alongside the forces of farmers, rioters, plunderers, and gamblers. A fierce battle was about to take place.

  • Ncing Sambo Maen Pukulan

    Masyarakat Betawi umumnya menyebut seni bela diri sebagai maen pukulan . Sebutan lain yaitu silat, maen akal , maen taplekan , bhe si  atau beksi, gisauw , dan kuntao  atau kundao . Tiga istilah terakhir kental pengaruh Tionghoa. Masyarakat Betawi mengartikan maen pukulan  sebagai permainan yang melibatkan kontak fisik serang-bela dengan atau tanpa senjata. Di dalamnya terdapat unsur bela diri. Disebut maen pukulan  karena gerakannya didominasi oleh pukulan yang disinyalir terpengaruh ilmu bela diri dari imigran Tionghoa Selatan. Maen pukulan  juga menabukan penggunaan kaki atau tendangan. Kalau pun ada tendangan hanya sebatas pusar ke bawah. Menurut Gusmanuddin Natawidjaja alias G.J. Nawi dalam Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi , konteks kata maen  (dialek lokal untuk “main”) menandakan ada unsur kesenangan. Dengan kata lain, ilmu bela diri bagi masyarakat Betawi awalnya hanyalah permainan, bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik maupun sifat jago. Baca juga:  Jago Pukul Betawi Sejarawan Alwi Shahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe menyebut para jago maen pukulan  ditakuti bukan hanya karena kepandaiannya dalam ilmu bela diri, tetapi karena mereka membela kebenaran dan ahli ibadah yang tidak menonjolkan diri. Sebab, orang-orang Betawi dulu sebelum belajar maen pukulan  harus lebih dulu mempelajari agama. Jadi, tidak heran kalau para jagoan Betawi banyak ditemui di masjid-masjid dan majelis-majelis taklim. Murid-muridnya juga belajar di masjid-masjid. Untuk belajar maen pukulan  para murid harus mematuhi peraturan yang disyaratkan oleh para gurunya. Mereka tidak bolah berjudi, berzina, mabuk-mabukan, dan jangan lupa salat. Dengan demikian, tujuan belajar maen pukulan  bukan untuk mentang-mentang menjadi jagoan, tetapi untuk menjaga diri dan keluarga. Dalam bukunya yang lain, Saudagar Baghdad dari Betawi , Alwi Shahab menyebutkan bahwa maen pukulan  bagi masyarakat Betawi terdahulu sudah mendarah daging. Tidak ada orang Betawi yang sama sekali nihil dari maen pukulan . Bahkan, kaum perempuan pun mahir memperagakan jurus maen pukulan  mulai jurus dasar sampai jurus pamungkas. Karenanya tidak heran, dalam cerita rakyat Betawi, kerap muncul jago-jago dari kaum perempuan yang membela rakyat tertindas, menentang pimpinan yang zalim, dan menegakkan amar makruf nahi munkar. Baca juga:  Siapa Sebenarnya Si Pitung? “Sebut saja nama Mirah, yang memperoleh gelar ‘singa betina dari Marunda’ atau Nyi Mas Melati, tokoh pejuang revolusi fisik pada 1945 di Tangerang yang berada di medan perang dengan keberanian luar biasa,” tulis Alwi Shahab. Menurut Nawi yang mengutip tuturan lisan masyarakat setempat, Marunda dulu menjadi tempat berkumpulnya jago-jago maen pukulan Betawi. Marunda merupakan kawah candradimuka bagi para jago dan jagoan. Kisah tentang Si Mirah, Si Ronda, sampai Si Pitung tertanam kuat dalam bentuk cerita rakyat. “Setiap jago Betawi jika ingin menguji kemampuan maen pukulannya , akan menyambangi Kampung Marunda,” tulis Nawi. H. Muhammad Sambo Ishak, guru maen pukulan Marunda Pulo yang disebut Pamor Kurung. (Dok. G.J. Nawi).  Salah satu jago maen pukulan di Marunda adalah H. Muhammad Sambo Ishak yang biasa disapa Ncing Sambo.Menurut Ncing Sambo, zaman dulu ilmu agama dan ilmu maen pukulan merupakan kewajiban bagi setiap anak laki-laki. Bahkan, kemampuan dalam dua ilmu itu menentukan seorang lelaki Betawi diterima sebagai menantu atau tidak. Orang-orang tua Betawi zaman dulu sebelum mungut mantu laki selalu mempunyai harapan dengan bertanya kepada lelaki yang hendak melamar anak gadisnya mengenai dua perkara, yaitu ilmu agama dan ilmu maen pukulan . “Tradisi menjatuhkan harapan kepada calon mantu laki ini disebut kekudangan ,” tulis Nawi. Baca juga:  Bandit Menguasai Malam di Batavia Kalau calon mantu tidak mampu menguasai ilmu agama dan ilmu maen pukulan , maka calon mertua biasanya akan mengatakan dalam bahasa Betawi, “Kalau elu kagak bisa ngaji atawe maen pukulan lebih baek kagak usah jadi mantu gue!” Namun, jika calon mantu menguasai kedua ilmu itu, dia harus mempraktikannya di hadapan keluarga mempelai perempuan. Ujian ilmu agama yaitu mengaji Al-Qur’an. Sedangkan maen pukulan diuji oleh calon mertua atau wakilnya. Ujian dilakukan di tempat tertutup untuk menjaga harga diri keduanya. Kalau calon mantu menang, maka dia diterima, dan mertuanya akan belajar kepada calon mantu atau gurunya. Baca juga:  Bandit-Bandit Kakap di Batavia “Tradisi kekudangan diakhiri acara makan bersama sebagai cerminan jalinan keluarga baru. Sayangnya, tradisi kekudangan kini sudah tidak terdengar lagi,” tulis Nawi. Kini, maen pukulan biasanya diperagakan dalam prosesi palang pintu di acara perkawinan. Ncing Sambo sendiri seorang guru maen pukulan terkenal di Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara. Dia belajar maen pukulan tahun 1972 dari Abdul Ghani atau Ra Kaucin yang konon berasal dari Cirebon. Sebelumnya, dia sudah menguasai maen pukulan aliran lain yang didapatnya dari mengembara. “Dari ilmu itu dia membuat formulasi jurus maen pukulan Marunda Pulo yang disebut Pamor Kurung,” tulis Nawi. Baca juga:  Bandit-Bandit Kakap Batavia dan Sekitarnya Menurut Ncing Sambo, gerakan maen pukulan Marunda Pulo terbilang jelek, sehingga tidak bisa untuk atraksi panggung. Namun, untuk menguasainya, seseorang harus memiliki dasar ilmu bela diri lebih dulu, karena butuh fisik kuat dan wawasan luas dalam menerima pelajaran. Maen pukulan Marunda Pulo memiliki 20 jurus. Jurus pamungkasnya Pamor Kurung yang merupakan gabungan dari semua gerak jurus dan langkah. Itu sebabnya  maen pukulan ini sering disebut maen pukulan Pamor Kurung. Maen pukulan Marunda Pulo memiliki gerakan yang rumit. Kuda-kuda umumnya sedang dan hentakan pukulannya bertenaga. Yang paling khas adalah gerak jurusnya atraktif, bisa secara tiba-tiba berubah dari kuda-kuda rendah setengah rebahan menjadi kuda-kuda tinggi. Pada jurus Bangke Ngamuk misalnya, gerakannya bagai orang mabuk. Nawi menyebut maen pukulan Marunda Pulo tidak hanya memiliki gerak dan jurus secara fisik, tetapi juga “ilmu dalam” kebatinan Islam yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an seperti babuna wa kholiquna wa subatulillahita’ala yang digunakan sebagai amalan ilmu kebal. *

  • Kecak dari Sakral Jadi Profan

    Sinar matahari senja menyeruak dari balik awan di atas Pura Uluwatu. “Cak cak cak cak...” terdengar bunyi dari pelataran candi. Suara itu datang dari pertunjukan tari Kecak, yang dilakukan dengan latar laut lepas dan langit jingga. Kecak sangat populer di Uluwatu. Wisatawan yang datang tidak ragu merogoh kantong dalam-dalam untuk membeli tiket pertunjukan. Menyaksikan pertunjukan Kecak seolah keniscayaan buat mereka apabila berkunjung ke Bali Selatan. Popularitas Kecak di Uluwatu bukan datang tiba-tiba. Ia telah dipupuk sejak era kolonial. “Kecak telah hadir sebagai sajian wisata sejak tahun 1930-an,” kata R.M Soedarsono dalam Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi . Baca juga:  Tarian yang Mempesona Kecak awalnya disebut dengan pertunjukan “Cak”. Nama tersebut berangkat dari bunyi suara yang dilakukan penari sebagai pengganti gamelan. Seniman berkebangsaan Jerman, Walter Spies, berperan dalam perkembangan Kecak. Saat datang ke Desa Bedulu, Bali, ia menganjurkan beberapa seniman di sana untuk mengeluarkan Kecak dari bentuk sakral. Tujuan dari sarannya: agar wisatawan mancanegara dapat menikmati tari Kecak. “Walter Spies diundang oleh Ida Cokorde Gede Sukawati untuk membantu masyarakat Bali memilah kesenian upacara dan kesenian yang dapat ditampilkan di depan umum,” kata I Wayan Dibia dalam laman YouTube BPNB Bali. Baca juga:  Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Sebelum Walter Spies datang, sebenarnya Kecak sudah ada di dalam pertunjukan Sanghyang, terutama Sanghyang Jaran dan Sanghyang Dedari. Sanghyang diiringi gamelan suara dengan pengisi suara yang disebut Cak. “Kecak sudah ada di dalam pertunjukan Sanghyang namun tidak memakai lakon,” ungkap I Wayan Dibia. Pemilihan kecak didasarkan pada pengamatan Spies yang menganggap koor pria pengiring tari Kecak benar-benar memiliki kesan sakral dan magis. Untuk membuat kesenian tersebut menjadi lebih hidup dan diterima masyarakat, Spies memasukkan lakon (tema) cerita. “Pertunjukan pertama dilakukan di Desa Bedulu dengan bintang tamu I Wayan Limbak berperan sebagai Kumbakarna,” tulis RM Soedarsono. Tari kecak. ( collectie.wereldculturen.nl ). Lakon dalam pertunjukan itu adalah Karebut Kumbakarna (Gugurnya Kumbakarna). Durasinya tergolong pendek, hanya sekitar 15 menit. Oleh Walter Spies, pertunjukan kecak itu dijadikan sebagai salah satu bagian filmnya. Itu adalah cikal-bakal pertunjukan Kecak Ramayana yang sekarang banyak dinikmati. Pada pertunjukan-pertunjukan selanjutnya, seringkali lakon yang dibawakan oleh tari Kecak seputar cerita Ramayana. Ketika cerita tersebut dimainkan, biasanya muncul Hanoman sebagai salah satu tokohnya. Kelincahan dan karakteristik Hanoman sukses mencuri perhatian penonton. Oleh sebab itu, banyak wisatawan mancanegara mengenalnya sebagai Monkey Dance . Baca juga:  Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi Kendati Kecak ditampilkan pertama kali di Bedulu, pengembangannya justru terjadi di Desa Bona. “Tahun 1960, Bona menjadi rajanya Kecak,” kata I Wayan Dibia. Busana yang digunakan dalam tari Kecak saat itu masih sangat sederhana. Pemain pria hanya mengenakan selembar kain untuk menutupi bagian bawah tubuh. Busana adat lengkap hanya digunakan penari yang memerankan tokoh tertentu seperti Dewi Sita dan Trijata. Pada 1965, sendratari Ramayana mulai muncul di Bali. Eksistensinya mempengaruhi pertunjukan Kecak. Bila awalnya lakon pada pertunjukan Kecak hanya ditampilkan secara episodik (tidak utuh), sendratari Ramayana memulai dengan lakon yang ditampilkan naratif (lengkap). Pada tahun 1970-an istilah “Kecak” sering dirangkai dengan kesenian Janger. Alhasil ada dua kecak: Kecak untuk Janger dan Kecak untuk pertunjukan Ramayana. Akan tetapi beberapa penduduk Bali masih sering menyebut pertunjukan “Cak” untuk Kecak dengan lakon Ramayana. Baca juga:  Mengenang Dwitunggal Pembaharu Tari Sunda Pada masa itu pula tari Sanghyang seringkali dimasukkan pada bagian akhir pertunjukan Kecak. Hal menarik pada pertunjukan akhir yakni ketika dua penari kerasukan setelah menampilkan tari Sanghyang Dedari. Lalu, ada pula penari menginjak-injak api membara tanpa alas kaki padan Sanghyang Jaran. “Adegan ini dilakukan agar wisatawan mancanegara lebih mudah tertarik,” kata RM Soedarsono. Kendati sarat aspek entertain , aspek filosofis Kecak tetap ada. Di Desa Teges, Gianyar, misalnya, Kecak merupakan simbol dari kebersamaan yang ditunjang oleh kesediaan berbagi penduduk desa. Hal itu diketahui dari penelitian yang dilakukan Sardono W. Kusumo ke desa tersebut. “Dalam deskripsi Sardono hal ini diungkapkan dengan serba-ilustratif. Para penari kecak di Teges mempunyai kebiasaan mempertimbangkan kemampuan teman menarinya selagi mereka menari bersama. Jadi, seorang penari akan mengukur dengan cermat seberapa jauh dia dapat mengerahkan dan menunjukkan kemampuannya agar memancing dan merangsang kemampuan dan kegairahan sesama penari, dan seberapa jauh pula dia harus mengekang diri dan kemampuannya, agar tidak melumpuhkan daya kreatif mereka,” tulis sosiolog Ignas Kleden dalam Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page