top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dari Tapa ke Penjara

    Protes dengan Tapa Pepe Dalam masyarakat feodal Jawa, aksi protes secara damai terhadap kebijakan kerajaan dinamakan dengan tapa pepe . Biasanya dilakukan rakyat kecil, berpakaian putih, dengan berjemur di bawah terik matahari di alun-alun kerajaan sambil menunggu sang raja berkenan untuk menghadap mereka. Tapa pepe sudah dikenal sejak masa kerajaan Hindu-Buddha dan terus dipraktikkan pada masa-masa kesultanan Islam di Jawa. Baca juga:  Bentuk-bentuk Gerakan Protes Masa Kolonial Pemberontakan Budak yang Berhasil Saint-Domingue di Karibia merupakan koloni Prancis sejak 1659. Di sana, sistem perbudakan orang-orang kulit hitam Afrika berlangsung. Setelah revolusi rakyat melanda Prancis tahun 1789, kaum budak di Saint-Domingue ikut bangkit melawan tuan-tuan kulit putihnya. Perang kemerdekaan berlangsung pada 1791–1804 dengan kekalahan Prancis. “Dengan mengalahkan Prancis dan menyingkirkan hampir semua populasi kulit putih, orang kulit hitam dan ras campuran di Saint-Domingue telah membuka jalan untuk membentuk sistem sosial baru di mana perbudakan dihapus sepenuhnya,” tulis Jeremy D. Popkin dalam A Concise History of the Haitian Revolution . Perang revolusi dimenangkan kaum budak. Sebuah negara baru didirikan dan diperintah mantan budak pada 1 Januari 1804: Republik Haiti. Baca juga:  Ketika Budak Melakukan Pemberontakan Pemberontakan Kapal Tujuh Pemberontakan Kapal Tujuh adalah insiden pembajakan kapal laut Belanda Zeven Provincien (Kapal Tujuh Provinsi) oleh awak-awak kapal Indonesia. Insiden ini terjadi karena para pembajak tak terima dengan kebijakan Gubernur Jenderal De Jonge (menjabat 1931–1936) untuk memotong gaji buruh-buruh kapal. Ditambah, sebelumnya telah terjadi pemogokan buruh di pelabuhan Surabaya untuk merespons isu yang sama. Pada 5 Februari 1933, ketika kapal sedang berlabuh di Olele, dekat Kutaraja, para pembajak memulai aksinya. Mereka menyekap para perwira Belanda serta mengambil alih kapal dan membawanya berlayar ke Surabaya. Pemerintah Hindia Belanda murka. Begitu memasuki Selat Sunda, kapal Zeven Provincien dicegat kapal perang dan pesawat pengebom Belanda. Karena tak mau menyerah, Zeven Provincien dibom. Awaknya menyerah. Para inisiator pemberontakan seperti Kawilarang, Martin Paraja, dan Maud Boshart dihukum berat. “Gerakan pemberontakan pelaut itu memang terkesan kiri. Ada semangat kelas pekerja yang menuntut hak-haknya pada majikan,” tulis Petrik Matanasi dalam Prajurit-Prajurit di Kiri Jalan . Baca juga:  Henk Sneevliet Membela Pemberontakan Kapal Tujuh Kamp Konsentrasi Bermula Penggunaan kamp konsentrasi di masa perang sudah diterapkan Spanyol, yang disebut reconcentrados , ketika mengatasi pemberontakan rakyat Kuba (1868–1878). Di Afrika Selatan, kamp serupa dibangun Inggris untuk menampung orang-orang Boer selama masa Perang Boer II (1899–1902). Meski Inggris menyuplai logistik, tetap saja kehidupan di kamp-kamp ini begitu menyedihkan dan banyak yang meninggal karena sakit atau kelaparan. Pada masa Nazi Jerman, kamp-kamp konsentrasi berubah menjadi tempat eksekusi massal. “Semua kamp konsentrasi di abad ke-20 punya satu kesamaan: orang-orang ditaruh di kamp bukan karena apa yang mereka lakukan, tetapi karena siapa mereka, seperti kelompok ras yang dibenci, lawan politik, atau orang yang dianggap berbahaya bagi masyarakat,” tulis Hermann Giliomee dalam The Afrikaners: Biography of a People . Baca juga:  Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Pertama Nazi Hukuman Masuk Penjara Orang Mesir kuno mengenal hukuman penjara sejak 2040 SM. Sementara orang Yunani dan Romawi kuno mengenal hukuman penjara untuk melengkapi hukuman badan seperti cambuk dan kerja paksa. Para terhukum bisa masuk penjara karena banyak hal: membunuh sampai menunggak utang. Seperti termaktub dalam Corrections: The Essentials karya Mary K. Stohr dan Anthony Walsh, yang disebut penjara kala itu hanya berupa ruang bawah tanah, gua, dan lubang. Kemudian orang Inggris memperkenalkan penjara sebagai institusi khusus pada abad ke-17. Mereka menyebutnya “rumah perbaikan”. Baca juga:  Cerita dari Balik Jeruji Besi

  • Tujuh Cerita Ringan Sukarno

    Lagak Menghadapi Kuda Pada peringatan ulang tahun pertama Angkatan Perang Republik Indonesia (kini TNI) pada 5 Oktober 1946, Presiden Sukarno dijadwalkan naik kuda untuk inspeksi pasukan. Seorang prajurit kavaleri melatihnya. Di akhir sesi latihan, Sukarno berbisik: “Untuk pawai besok, berilah saya kuda yang paling lunak, paling tua, paling jinak, dan hampir mendekati kematiannya.” Si prajurit menolak: “Tidak pantas buat Bapak. Kuda yang Bapak naiki harus kuda yang muda dan garang.” Sukarno cemas namun dipendam dalam hati. Keesokan harinya, saat acara, kekhawatirannya terjadi. Kuda tunggangannya menjadi liar. Sukarno ciut nyali, namun sifat pelagaknya muncul di depan pasukan yang bersorak. Dia memainkan pergelangan, mengingat apa yang diajarkan si prajurit kavaleri. Akhirnya, tunggangan itu pun dapat dikuasai. Baca juga:  Lima Cerita Ringan Sukarno Lawi Jadi Kromo Dalam kongres Partai Indonesia (Partindo) di Surabaya, sekira tahun 1933, salah satu pesertanya bernama Lawi mendatangi Sukarno. Dia merengek minta gelar kehormatan. Sukarno dengan spontan memberinya gelar Kr. Semua peserta kongres bingung, tak paham dengan gelar Kr. tersebut. Jika Dr. kependekan dari dokter, Ir. adalah insinyur, dan Mr. untuk Meester de Rechten (ahli hukum), lantas apa artinya Kr? Mereka mendesak Sukarno memberi penjelasan. “Kr itu artinya kromo,” ujar Sukarno. Kromo artinya rakyat kecil. Peserta kongres tergelak tawa. Lawi pun senang dengan tambahan itu. Sejak itu nama Lawi menjadi Kromo Lawi. Setelah Proklamasi, Kromo Lawi menjadi tokoh Barisan Banteng yang terkenal dari Pekalongan. Baca juga:  Mengulik Gelar-gelar Akademik di Indonesia JanganTembak Mati Desember 1948, Belanda menyerbu Yogyakarta. Tentara Belanda di bawah komando Van Langen lalu mengepung istana dan memaksa bertemu Sukarno. Mangil Martowidjojo, komandan polisi pengawal pribadi presiden, menemui Van Langen. “Tuan bisa saya tembak mati di sini. Sukarno suruh datang kemari,” kata Van Langen sambil menodongkan senjata. Mangil kembali masuk istana dan melapor kepada Sukarno. “Apakah mereka tidak mau datang? Mereka saja suruh datang ke mari,” ujar Sukarno. Mangil menjawab bahwa dirinya akan ditembak mati jika Sukarno tidak datang menemui Van Langen. “Ancaman mereka begitu, Pak.” “Oh ya jangan,” kata Sukarno yang lalu menemui Van Langen. Baca juga:  Ketakutan Bung Karno Keris Tolak Kemarau Satu sore di istana, Bung Karno menerima tamu seorang laki-laki berpakaian Jawa. “Ini Pak Pringgo, menghadap Bapak sekaligus membawa keris pusakanya untuk dipersembahkan kepada Bapak,” ujar Harjo, kepala rumah tangga istana. Bung karno mengangguk. Pringgo pun mengeluarkan keris yang dibungkusnya. Dia berujar bahwa kerisnya berasal dari zaman Majapahit, ber-luk lima dan bertuah. “Lalu apa yang bisa saya berikan kepada Bapak?” tanya Bung karno lagi. Pringgo pun menginginkan mobil. “Bapak ingin apa?” ujar Pringgo meyakinkan keampuhan kerisnya. “Coba cabutlah keris itu dan mohon hujan turun sekeras-kerasnya agar rumput di tamanku ini menjadi segar dan hijau kembali,” jawab Bung Karno. Pringgo langsung pucat. Dia pun mengundurkan diri. Hujan juga tak datang. Baca juga:  Sebelum Keris Berfungsi Magis Nyasar ke Bioskop Selepas berpidato di depan rakyat Madiun, sekira 1960-an, Sukarno beserta rombongan siap bergerak menuju rumah kepala daerah setempat, tempat mereka menginap. Begitu Sukarno masuk mobil, si sopir segera tancap gas. Selama perjalanan, si sopir mengikuti laju sepeda motor salah satu Corps Polisi Militer (CPM). Setelah lama berputar-putar, motor itu ternyata menuju bioskop dan berhenti di depan gedung yang penuh reklame film. Rupanya, dia tak sadar jika diikuti rombongan Sukarno. Sukarno pun bertanya kepada ajudannya, Sugandhi. “Gandhi, ini mau ke mana?” tanya Sukarno. Ditanya demikian, Sugandhi kebingungan. Rupanya si sopir mengira CPM yang diikutinya adalah voorijder yang biasa mengawal presiden. Sukarno pun memahami kesalahpahaman itu. Dia hanya tersenyum dan segera memerintahkan bergerak ke tujuan semula, kediaman rumah kepala daerah. Baca juga:  Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop Bung Besar Senang Sekali waktu, pengusaha Thayeb Gobel datang ke istana atas ajakan kawannya. Rupanya Bung Karno sudah mendengar bahwa produk dari Gobel, radio transistor merek Cawang dan Leppin Product, sudah tersebar hingga ke pedesaan. Setelah berjabat tangan, Bung Karno bertanya alasan Gobel memproduksi radio transistor. “Supaya pidato Bapak bisa sampai ke desa-desa, di tempat yang jauh di kaki gunung, di pulau-pulau. Di desa belum ada listrik, Pak,” jawab Gobel diplomatis. Bung Besar gembira. “Begini seharusnya pemuda-pemuda kita,” ujarnya keras-keras di hadapan para tamu istana. Baca juga:  Riwayat Radio Pemberontakan Bung Tomo Revolusi Versi Sukarni Ketika akan kembali ke Jakarta dari Rengasdengklok, rombongan Sukarno dikejutkan oleh asap yang membumbung tinggi di kejauhan. Sukarni, yang sebelumnya menyebut akan terjadi revolusi di Jakarta, langsung berteriak: “Lihatlah! Itu sudah dimulai. Revolusi sudah berkobar persis seperti yang kami janjikan. Jakarta sudah terbakar. Lebih baik, kita cepat-cepat kembali ke Rengasdengklok,” katanya bersemangat. Baca juga:  Sukarni dan Proklamasi Alih-alih menuruti kata-kata Sukarni, Sukarno memerintahkan sopir untuk mendekati lokasi kebakaran. Suasana di dalam mobil tegang. Namun begitu mendekat, mereka menemukan seorang petani kurus-kecil berpakaian compang-camping tengah membakar tumpukan jerami. Sukarno menoleh ke arah Sukarni dan dengan sinis berkata: “Ini bukan bumi hangus. Tidak ada pemberontakan besar-besaran. Tidak ada ratusan ribu orang yang menantikan isyarat untuk berontak. Ini hanyalah seorang Marhaen yang tengah membakar jerami!”

  • Empat Hal Terkait Perempuan

    Perempuan Berkaki Kecil Tradisi Tiongkok kuno mengenal praktik mengikat kaki ( footbinding ). Diperkirakan berawal pada abad ke-10 di masa Dinasti Tang. Kaki yang mungil diidentikkan dengan kegemulaian, erotisme, dan keanggunan. Karenanya sejak usia lima tahun kaki anak perempuan diikat sedikit demi sedikit dengan kain tebal untuk mencegah pertumbuhannya. Proses menyakitkan ini berlangsung tahunan; membuat perempuan sulit beraktivitas hingga cacat permanen. “Lelaki jarang mendapat kesempatan melihat kaki wanita dalam keadaan terbuka, karena biasanya tertutup daging busuk dan jika ikatannya dibuka akan menyebarkan bau tak sedap,” tulis Jung Chang dalam Angsa-Angsa Liar . Tradisi yang menyiksa perempuan ini baru berakhir seiring runtuhnya kekaisaran Tingkok awal abad ke-20. . Baca juga:  Langkah Perempuan dengan Stiletto Penguasa yang Melajang Ratu Elizabeth I (1533–1603) membawa Inggris mencapai puncak kejayaan sebagai kerajaan penakluk di era penjelajahan samudera. Selama hidupnya dia kerap dipaksa menikah agar menurunkan ahli waris. Kepada Parlemen, Elizabeth I berkata: “Saya sudah mengikatkan diri dalam pernikahan dengan seorang suami, yaitu Kerajaan Inggris.” Elizabeth I dijuluki Virgin Queen (Ratu Perawan) karena selama hidupnya memutuskan tak menikah. Selain Elizabeth I, penguasa lain yang melajang adalah James Buchanan Jr. danWilliam Lyon Mackenzie King. Baca juga:  Hubungan Elizabeth I dengan Kerajaan-Kerajaan Islam James Buchanan Jr. (1791–1868), presiden Amerika Serikat ke-15, pernah bertunangan dengan Anne Caroline Coleman, anak pengusaha kaya. Namun, Coleman membatalkannya setelah mengetahui Buchanan dekat dengan temannya. Tak lama kemudian Coleman wafat. Sejak itu Buchanan tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan. Ada kabar dia gay. Selama berkuasa pada 1857–1861, Harriet Lane, keponakannya, diadopsi sebagai anak dan berperan sebagai ibu negara. William Lyon Mackenzie King (1874–1950) adalah perdana menteri ke-10 dan terlama Kanada.Selama berkuasa pada 1921–1948, dia meletakkan dasar-dasar bagi negara kesejahteraan ( welfare state ) Kanada. Dia tak pernah menikah tapi memiliki beberapa teman dekat perempuan, termasuk Joan Patteson, perempuan sudah menikah dengan siapa dia menghabiskan waktu luangnya. . Waria Memimpin Kota Sejarah mencatat seorang waria pernah memimpin kota New York pada kurun 1702–1708. Namanya Edward Hyde (1661–1723) yang lebih dikenal dengan Lord Cornbury. Dia seorang laki-laki yang beroleh kepuasan dengan mengenakan pakaian perempuan. Sebelumnya, tak banyak orang tahu kebiasaan Cornbury. Tapi lama-lama Cornbury tak tahan juga. Dia mulai berani mempertunjukan kebiasaannya. Dan ini berujung pada pemecatan dirinya. Alasan pemecatannya, sebagaimana termaktub dalam Manual of the Coorporation of the City of New York 1869 , “Kebiasaannya untuk mengenakan pakaian perempuan di hadapan umum. Dia menghentikan segala pekerjaan selagi memuaskan hatinya dengan cara yang luar biasa memuakkan itu.” Baca juga:  Takdir Waria di Persimpangan Jalan Istilah Lesbian Bermula Lesbian adalah istilah untuk orientasi seksual perempuan penyuka sesama jenis. Kata “lesbian” diambil dari nama sebuah pulau di Yunani, yaitu Lesbos. Di Pulau Lesbos, tinggal seorang perempuan penyair bernama Sappho yang dalam puisi-puisinya mengungkapkan perasaan cinta kepada sesama jenisnya (perempuan). Menurut James Neill dalam The Origins and Role of Same-Sex Relations in Human Societies , Sappho lahir dari keluarga bangsawan pada 612 SM. Sappho adalah penyair perempuan bermutu tinggi sehingga Plato menyebutnya “Dewi Kesepuluh”, Socrates menyebutnya “Sappho yang Cantik”, dan Strabo menyebutnya “yang terindah”. Baca juga:  Kisah Cinta Lesbian yang Menikah di Indonesia Sayangnya, sebagian besar karyanya hancur di bawah perintah para pemimpin Kristen awal, sehingga hanya menyisakan sebuah fragmen kecil, enam ratus dari dua belas ribu bait yang ditulis Sappho. Sappho juga mengorganisasi dan menjalankan thiasoi , semacam akademi untuk perempuan muda dan belum menikah di Lesbos maupun tempat lain di Yunani untuk belajar menari, musik, dan menyanyi. Di dalam thiasoi , para gadis menjalankan ritual inisiasi di mana dua gadis menjalani penyatuan seksual yang mirip dengan pernikahan.

  • Merekam Dua Sisi Pematangsiantar

    SEBAGAI salah satu wilayah permukiman lama yang pernah diduduki Belanda dan Jepang, Pematangsiantar di Sumatra Utara bergelut dengan banyak perubahan. Namun, di tengah geliat perkembangan masa, jejak-jejak masa lalu tidak lantas hilang. Salah satu jejak masa lalu itu adalah kebiasaan masyarakat berkumpul di kedai kopi pada pagi hari. Kegiatan itu tidak hanya soal mengisi perut, melainkan sebuah aktivitas sosial. Kegiatan sarapan ini merupakan sarana masyarakat untuk berdiskusi tentang apa saja dengan siapa saja yang mereka temui di kedai kopi. Dengan tradisi sarapan itu juga, masyarakat turut menjaga eksistensi kuliner khas Pematangsiantar, yaitu kopi Siantar, cakwe, dan roti srikaya. “Sarapan di kedai begini memang sudah menjadi kebiasaan kami sekeluarga bahkan dari dulu dari zaman ayah saya. Beliau sudah sering mengajak saya sarapan kopi dan roti di berbagai kedai disini,” kata Edward (42) yang datang bersama anak dan istrinya. Seorang warga usai memberi makan puluhan burung di Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID). Sejumlah warga saat menikmati sarapan di salah satu kedai di kawasan Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID). Sejumlah warga saat beraktivitas di depan Gedung Juang 45 kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID). Berbagai bangunan dan stasiun Siantar yang menjadi saksi sejarah kota itu. (Fernando Randy/Historia.ID). Para petani usai memetik daun teh di Siantar tempo dulu. (geheugen.delpher.nl). Jejak sejarah lain yang dapat kita lihat adalah Hotel Siantar, yang dibangun dan beroperasi pada masa pendudukan Belanda di wilayah itu, pada 1915. Saat ini, ada banyak hotel lain di Pematangsiantar. Namun, seperti halnya tradisi sarapan di kedai kopi, Hotel Siantar tetap memiliki daya tarik tersendiri. Seiring perkembangan zaman pula, Pematangsiantar semakin ramai. Suasana pagi yang dulu relatif tenang, berubah menjadi lebih ramai. Banyak orang berlalu-lalang dengan bentor atau becak motor. Ada pula warung kwetiau dengan asap dan wangi membuat kita tak tahan untuk berhenti dan mencicipnya. Pemandangan di Hotel Siantar tahun 1930-an. (KTLV). Para tamu hotel saat berada di Hotel Siantar yang merupakan hotel legendaris kota itu. (Fernando Randy/Historia.ID). Seorang tamu hotel saat menikmati sarapan di Hotel Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID). Suasana kolam renang di Hotel Siantar, Sumatra Utara. (Fernando Randy/Historia.ID). Ketika malam datang, suasana kota semakin menarik dengan kehadiran kendaraan bermotor dengan lampu berwarna-warni yang biasa disebut odong-odong. Merekam Pematangsiantar di saat ini seperti melihat dua dunia yang berbeda. Perilaku masyarakatnya pada masa kini beriringan dengan suatu pemahaman untuk terus menjaga sebuah tradisi. Boleh jadi, tradisi sarapan di kedai kopi menjadi sebuah filter alami yang menjembatani perubahan zaman dan peralihan generasi. Tradisi ini seperti fenomena yang menumbuhkan harapan bahwa Pematangsiantar akan terus berkembang tanpa kehilangan identitas dan keunikan mereka sendiri. Seorang penjual bakmi saat menyiapkan sarapan di kedainya. (Fernando Randy/Historia.ID). Seorang warga saat melintas di jalan raya Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID). Salah seorang warga saat menunggu bentor di Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID). Sejumlah warga saat menikmati wahana odong-odong di alun-alun kota Siantar. (Fernando Randy/Historia.ID). Seorang warga saat menikmati suasana di alun-alun kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID). Seorang penjual martabak tertidur saat menunggu pembeli di alun-alun kota Pematangsiantar. (Fernando Randy/Historia.ID).

  • Tiga Tentang Jepang

    Penerimaan Anggota Mafia Setiap organisasi kriminal memiliki ritual khusus sebagai tanda penerimaan terhadap anggota baru. Di Italia, pembaiatan anggota mafia baru biasanya dilakukan dengan upacara pemotongan kulit calon anggota. Darah yang mengucur melambangkan hubungan darah yang terjalin di antara sesama anggota mafia. Tradisi itu berlangsung hingga 1930-an. Di Tiongkok, penerimaan anggota dilakukan melalui upacara pemotongan ayam jantan. Di depan altar, calon anggota mengucapkan 36 sumpah dan diakhiri dengan menusuk jari tangan menggunakan jarum perak. Sedangkan di Jepang, organisasi mafia Yakuza melakukan ritual bertukar mangkuk sake (minuman keras khas Jepang). Upacara penerimaan anggota Yakuza memiliki makna religius karena biasanya dilakukan secara khusus di kuil Shinto. Baca juga:  Nick Zapetti Raja Mafia Amerika di Jepang Apa itu Seppuku Berasal dari bahasa Jepang yang artinya “memotong perut”, Seppuku adalah tradisi bunuh diri para samurai dan daimyo (penguasa lokal atau tuan tanah) di Jepang. Seppuku mulai dipraktikkan sejak abad ke-12 dengan tujuan menghindari penangkapan dan penyiksaan dari musuh sekaligus menghapus aib setelah kekalahan. Mereka menghujamkan pisau atau katana ke perut, mengirisnya secara horizontal, lalu diakhiri dengan menusuk pisau ke tenggorokan. Dipercaya roh yang bersemayam dalam perut terlepas menuju alam baka. Pada abad ke-17, seppuku dilakukan dengan memotong bagian belakang leher dengan pedang. Namun, tindakan ini lebih sering dipraktikkan untuk menghukum mati samurai yang melakukan kejahatan, bukan metode bunuh diri. Seppuku sebagai hukuman dihapuskan pada 1873. Baca juga:  Aksi Barisan Berani Mati di Jakarta Pesawat untuk Kamikaze Ohka yang berarti “bunga sakura”. Okha digagas Letnan Muda Mitsuo Ohta dan dibuat Angkatan Laut Jepang pada 1945. Ia merupakan tipe pesawat pengebom yang mirip dengan pesawat Roket V1 milik Nazi Jerman.  Berat Ohka sekitar 2,3 ton dan membawa bahan peledak seberat 1400 kg pada bagian hidungnya. Pasukan Amerika Serikat menyebutnya Baka Bombs yang berarti “bom yang bodoh”. Ohka digunakan dalam serangan puncak kamikaze atau serangan bunuh diri di Kepulauan Okinawa pada April 1945. Pesawat Ohka menyerang kapal-kapal perang Sekutu. Tujuh kapal milik Amerika rusak atau ditenggelamkan. USS Mannert L. Abele adalah kapal Sekutu yang pertama ditenggelamkan pada 12 April 1945. Baca juga:  Pesawat AL Jepang Tenggelamkan Kapal AL AS.

  • Berdarah Karena Ketakutan

    DUA bulan setelah Proklamasi, terjadi pertempuran di Heetjansweg (sekarang Jalan Sultan Agung) Bandung antara Badan Keamanan Rakyat (BKR) melawan Kempeitai , polisi militer Angkatan Darat Jepang. Selain orang dewasa, banyak remaja yang masih duduk di sekolah menengah terlibat dalam pertempuran. Salah satunya Soegih Arto (1923–2008) yang kelak menjadi perwira tinggi berpangkat Letnan Jenderal di lingkungan Tentara Nasional Indonesia dan menjabat Jaksa Agung kedelapan (1966–1973). Dalam pertempuran itu, Soegih kebagian membawa watermantel , sejenis senjata otomatis. Soegih menceritakan pertempuran itu dalam memoarnya, Sanul Daca  (Saya Nulis Anda Baca). Kendati asrama Kempeitai  dihujani tembakan gencar dari berbagai arah, Kempetai  tak mau menyerah. Mereka malahan membalas tembakan jauh lebih gencar. “Sedadu-serdadu Kempeitai  itu menembak secara terukur dan menargetkan sasaran tepat, sedangkan kami menembak secara membabi buta sekadar untuk menghilangkan rasa takut saja,” kenang Soegih. Saat menembak seenaknya itulah sebutir peluru mengenai dahan pohon tempat Soegih dan kedua kawannya berlindung. Menyaksikan itu nyali Soegih meleleh. Tanpa banyak cakap, dia berdiri mengangkat senapan mesin lalu mundur secara teratur. “Ayo mundur! Keadaan gawat nih!” seru Soegih. “Apanya yang gawat? Tembakan baru dua-tiga kali, masa sudah gawat?” tanya salah seorang kawannya. Soegih tak mengindahkan pertanyaan kawannya. Dia tetap mengambil langkah seribu. Dalam kondisi panik dan ketakutan, kakinya tersandung batu. Soegih terjatuh. Dagunya membentur batu tajam hingga mengeluarkan darah. “Dalam sekejap, kameja saya berlumuran darah dari dagu yang terluka,” ujar Soegih. Tak lama kemudian tembak-menembak berhenti. Sambil memikul watermantel , dengan gagah Soegih berjalan menuju Java Straat (sekarang Jalan Jawa). Dia tahu, di situ ada sebuah sekolah menengah yang memiliki banyak murid perempuan dan organisasi palang merah. Dengan darah bercucuran, tentu saja Soegih mendapat perhatian lebih. Dia langsung ditangani gadis-gadis palang merah yang jelita. Dan itu memang maunya. “Saya tentunya tidak menceritakan bahwa darah itu keluar karena saya lari ketakutan lalu jatuh kesandung batu,” kata Soegih.*

  • Dari Harajuku ke Haradukuh

    Tren Citayam Fashion Week memunculkan istilah-istilah unik. Salah satunya Haradukuh, pelesetan dari Harajuku yang terkenal sebagai pusat fesyen dunia. Haradukuh diambil dari nama Dukuh Atas, Jakarta Pusat, tempat anak-anak muda dari daerah-daerah penyangga Jakarta mengekspresikan dirinya dengan berbagai gaya busana. Fenomena ini seakan mengingatkan kita pada Harajuku di Jepang yang meriah oleh penampilan para pencinta fesyen yang unik dan tak biasa. Kesibukan di wilayah Harajuku telah terjadi sejak zaman Meiji. Menurut Sigit Purnomo Adi, Agustinus Sumargo, Stephanus Budi Satya Putra dalam Perkembangan Seni Urban di Surakarta , pada zaman Meiji, Harajuku dibangun sebagai kawasan penting yang menghubungkan kota Tokyo dengan wilayah sekelilingnya. Aktivitas di wilayah tersebut meningkat usai stasiun JR Harajuku dibuka sebagai bagian dari perluasan jalur kereta api Yamanote pada 1906, serta dibangunnya Omotesando atau jalan utama menuju kuil di kawasan tersebut. Baca juga:  Dari Peragaan Busana hingga Bersulang Harajuku merupakan sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku yang berada di Distrik Shibuya, Tokyo. Dalam Tokyo: Geography, History, and Culture , Louis G. Perez menyebutkan, pada 1970-an dan 1980-an Harajuku merupakan pusat budaya populer anak muda. Pada masa itu, anak-anak muda berkumpul di sana dengan mengenakan pakaian yang mengacu pada gaya rock and roll ala Amerika. Para pria bergaya layaknya Elvis Presley dan Marlon Brando dengan menggunakan jaket kulit serta jin yang dilipat. Sementara para perempuan mengenakan rok poodle dengan gaya rambut bob. Sebelum menjadi pusat mode, Harajuku merupakan kawasan yang diduduki militer Amerika Serikat. Dalam Ethnic Dress in The United States: A Cultural Encyclopedia suntingan Annette Lynch dan Mitchell D. Strauss disebutkan, sesudah Perang Dunia II, Harajuku menjadi area permukiman militer Amerika Serikat. Di wilayah tersebut dibangun sejumlah toko yang menjual berbagai keperluan bagi keluarga para prajurit. Hal itu kemudian memberikan pengaruh kebudayaan Barat pada generasi muda Jepang. Baca juga:  Pembuka Jalan Peragaan Busana di Indonesia Dampak pengaruh budaya Barat, khususnya di Harajuku, membuat kawasan tersebut menjadi pusat berkumpul anak muda. Menurut Tiffany Godoy dalam Style Deficit Disorder: Harajuku Street Fashion-Tokyo , pada 1960-an dan 1970-an, wilayah Harajuku menjadi tempat bertemunya anak-anak muda Jepang dari berbagai latar belakang. Di sana mereka mengisi waktu dengan nongkrong dan berbelanja. Tahun-tahun itu juga menjadi saksi perkembangan budaya Barat dan Jepang. Negeri Sakura yang sempat porak poranda setelah dijatuhi bom atom pertama mulai bangkit dari kehancuran dan menjadi salah satu negara yang kuat di bidang perekonomian. Perekonomian Jepang yang kian membaik pada 1980-an memungkinkan kaum muda hidup lebih makmur. Pendapatan dari pekerjaan tak jarang dihabiskan untuk fesyen dan hiburan. Berkembangnya pusat perbelanjaan di kawasan Harajuku sejak akhir 1970-an membuat wilayah itu menjadi tujuan anak-anak muda untuk berbelanja berbagai pakaian. Baca juga:  Fesyen dan Krisis Ekonomi Gairah berekspresi melalui gaya busana tak padam meski krisis ekonomi melanda Jepang pada 1990-an.Kondisi ini justru membuat warga Jepang gencar membeli produk-produk lokal dibandingkan berbelanja pakaian maupun barang-barang impor dari Barat. “Bisnis besar tak lagi mendominasi pasar, tetapi dipandang sama berisikonya dengan bisnis kecil, sehingga menciptakan lapangan usaha yang setara untuk semua usaha baru,” tulis Tiffany. Besarnya minat masyarakat terhadap produk lokal membuat bisnis mode di Jepang bergeliat dengan lahirnya banyak perancang busana baru. Dampaknya gaya busana anak muda makin beragam. Mereka berkumpul dan mengekspresikan diri dengan berbagai gaya busanadi kawasan Harajuku. Baca juga:  Kisah Perancang Mode pada Zaman Jepang Gaya berpakaian mereka diklasifikasikan menjadi beberapa golongan seperti konsep kawaii atau imut yang warna-warni, gothic lolita yang biasanya ditandai dengan dandanan serba gelap, cyber punk , hingga cosplay yaitu berpakaian meniru gaya busana karakter di komik, serial televisi, maupun game di Jepang. Di sana para pencinta fesyen berkumpul dan tak jarang memeragakan pakaian-pakaian unik khas Harajuku Style . Seiring berjalannya waktu, gaya busana anak-anak muda di Harajuku mulai menjadi acuan para pencinta fesyen dunia. Kemunculan internet membuat Harajuku semakin populer. Keunikan gaya busana anak-anak muda di sana mendorong sejumlah merek fesyen ternama dunia seperti Donna Karan, Calvin Klein, dan Marc Jacobs bekerja sama dengan perancang busana Jepang untuk membuat koleksi busana yang terinspirasi Harajuku Style . Tak hanya dikunjungi para pencinta mode mancanegara, Harajuku juga masuk daftar yang wajib dikunjungi oleh wisatawan saat berkunjung ke Negeri Sakura. Harajuku yang dahulu menjadi tempat permukiman militer Amerika Serikat seiring berjalannya waktu bertransformasi menjadi pusat mode dunia bersanding dengan Paris, Milan, dan New York yang termahsyur sebagai kota mode dunia.

  • Dari Bersin hingga Penyakit Kelamin

    Bersin dan Pes Bersin adalah gejala awal penyakit pes ( plague ). Wabah yang disebabkan bakteri dan ditularkan tikus ini pada 590 pernah bekecamuk hebat di Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Paus Gregory I lantas memerintahkan serangkaian doa yang tiada habisnya. Manakala ada seseorang bersin, ia dianggap sebagai tanda terindikasi pes. Seruan “Tuhan Memberkatimu” dianggap menjadi cara rohani untuk mengantisipasi penularan penyakit pes melalui bersin. Hingga kini orang-orang di Eropa selalu berharap seseorang akan baik-baik saja setelah bersin. [Martin Sitompul] Penyakit Mematikan Sejak Lama Sebermula orang meyakini kanker merupakan penyakit abad ke-20 lantaran muncul sebagai pengaruh gaya hidup modern. Namun, temuan para arkeolog di Tuva, Rusia, menggoncangkan keyakinan itu. Sebuah tengkorak laki-laki di kuburan Scythian, masyarakat nomaden prasejarah Iran, menunjukkan kanker telah ada sejak 27 abad lalu. Tengkorak itu dijalari tumor. Menurut arkeolog, tumor itu dapat dianggap sebagai kasus kanker prostat paling purba yang pernah ditemukan dalam sejarah peradaban manusia. Meski prostat tengkorak itu telah terurai tersebab penuaan zat padat, sel-sel kanker ganas yang berpindah meninggalkan bekas luka yang mudah dikenali. Dengan bantuan paleopatolog, ahli penyakit purba, arkeolog mengambil protein dari tulang. Hasil ekstraksi menunjukkan terdapat kandungan antigen spesifik prostat, sejenis protein khusus yang ditemukan dalam sel prostat. Menghilangkan Rasa Sakit Pasien Sejumlah dokter bedah abad pertengahan menggunakan minuman beralkohol, opium, dan tanaman untuk menghilangkan rasa sakit pasien. Tapi mereka lebih sering kehilangan pasiennya. Bukan hanya karena kehabisan darah dan rasa sakit yang tak tertahankan, tapi juga ketakutan ekstrem dari pasien. Joseph Priestly, kimiawan berkebangsaan Inggris, mengisolasi gas nitrogen oksida pada 1776 untuk merangsang pasien tertawa. Tujuannya mengurangi rasa sakit dan takut. Langkah ini dikembangkan sejumlah ilmuwan seperti Humprhy Davy, Michael Faraday, Horace Wels, dan William Thomas Green Morton. Nama terakhir dianggap sebagai Bapak Anestesi, penghilang rasa sakit. Dia menjajaki penggunaan eter, senyawa kimia yang dikenal sejak 1540. Pada 1846, dia membantu seorang dokter membedah pasien di Massachusetts, Amerika Serikat. Operasinya tak menyakitkan pasien. Eutanasia Kali Pertama Eutanasia, tindakan mengakhiri hidup seseorang yang sakit parah dengan suntikan mematikan, pernah menjadi program rezim Adolf Hitler. Pada 1939, pemerintah Nazi Jerman di bawah Hitler memperkenalkan program kesehatan rasial bernama “Aktion T4”. Kebijakan ini bertujuan membersihkan Jerman dari unsur ras yang tidak sehat termasuk orang-orang cacat. Kode T4 adalah singkatan dari kata Tiergartenstrasse 4, nama sebuah jalan di pusat kota Berlin di wilayah Tiergarten, tempat program ini dijalankan. Dokter-dokter dipaksa untuk melaporkan anak-anak dengan mental atau cacat fisik. Sedangkan para orang tua dianjurkan agar menyerahkan anak-anak mereka untuk diperiksa dalam program T4. Diperkirakan antara 1939 sampai 1941 sekira 70.000 orang menjadi korban dari program ini. [Martin Sitompul]. Mendiagnosis Penyakit Kelamin   Cumano, dokter militer asal Venezia, Italia. Dia menemani Raja Prancis Charles VII saat terjadi pertempuran Fornovo antara Kerajaan Prancis menghadapi aliansi Kerajaan Italia di Napoli pada 6 Juli 1495. Setelah perang usai, Cumano menyaksikan beberapa serdadu infantri memiliki bintil-bintil di wajah dan sekujur tubuh. Bintil juga terdapat di bagian bawah kulup penis dan sering terasa gatal. Garukan bisa menyebabkan koreng yang perih. Beberapa hari kemudian, daya tahan tubuh si penderita kian menurun akibat rasa sakit di lengan, kaki, dan pecahnya bintil. Menurut sejarawan Prancis Claude Quetel dalam Le Mal de Naples , gambaran yang dilakukan Cumano tadi merupakan yang pertama untuk penyakit ini. Orang-orang Prancis menyebutnya “Penyakit Napoli” ( Le Mal de Naples ), sementara orang Italia menyebutnya “Penyakit Prancis” ( Mal Franzoso ). Namun, penyakit dengan gejala seperti ini kemudian lebih dikenal dengan nama siflis. [Martin Sitompul].

  • Sabotase di Garis Demarkasi

    PERAN gerilyawan rakyat di desa tak bisa dikesampingkan dalam sejarah revolusi Indonesia. Di perbatasan Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali, di mana garis demarkasi atau garis status quo  yang memisahkan wilayah Belanda dan Republik ditarik, para pejuang “tanpa nama” terus mengganggu pertahanan Belanda. Jika TNI harus terikat pada perjanjian dan formalitas, gerilyawan rakyat lebih bebas dalam beraksi. Mereka biasanya mengisi celah-celah dalam perang seperti pencegatan patroli musuh, penyusupan, penculikan, teror, sabotase, dan menjadi mata-mata. Di wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali, muncul sejumlah pasukan gerilyawan atau laskar rakyat. Misalnya, pasukan Merbabu I, Merbabu II, Merbabu III yang bergerak di Getasan dan Tengaran. Beberapa menggunakan nama unik, seperti Pasukan Djelata yang dipimpin Ki Ageng Suryomentaram, Barisan Maling, hingga Barisan Clurut. Bahkan ada yang muncul di dalam wilayah kekuasaan Belanda seperti Markas Pertahanan Rakyat (MPR) yang bergerilya di Tuntang, Bringin, dan Kedungjati dan Markas Kuda Besi/Sabotase Service (MKB/SS) yang beroperasi di Karanggede hingga Salatiga. Dua terakhir ini tampaknya merupakan pasukan yang mahir melakukan sabotase. Menurut buku Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro, MKB/SS merupakan pasukan yang terdiri dari kesatuan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pimpinan Mayor Sukiswo yang bermarkas di Karanggede. “Pasukan Sabotase Service terdiri dari anggota-anggota kelaskaran yang tidak dapat dimasukkan ke dalam formasi TNI. Masyarakat yang dihimpun dan digerakkan untuk mengadakan perlawanan gerilya,” tulis Sedjarah Militer Kodam (Semdam) VII/Diponegoro. Pada Juni 1948, MKB/SS pernah menyabotase waterleiding atau pipa-pipa saluran air di mata air Senjoyo di selatan Salatiga. Sabotase terhadap mata air yang menjadi penyuplai air bersih di wilayah Salatiga dan Kabupaten Semarang ini tentu merepotkan Belanda. Sementara itu, Markas Pertahanan Rakyat (MPR), pada bulan yang sama menyabotase Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok di daerah Bringin, Kabupaten Semarang. Salah satu PLTA tertua di Jawa itu harusnya bisa mengaliri Kota Salatiga dan sekitarnya, terganggu oleh para gerilyawan. Menurut Chusnul Hajati, dkk. dalam Peranan Masyarakat Desa di Jawa Tengah dalam Perjuangan Kemerdekaan Tahun 1945-1949 ,   dua aksi itu disusul oleh aksi demonstrasi massa pada Juli 1948. Masa menggeser patok tanda batas demarkasi di Tengaran dan beberapa tempat lain. “Walaupun aksi ini gagal dan dibubarkan oleh tembakan tentara Belanda, namun perlu dicatat sebagai satu tindakan yang heroik,” tulis Chusnul Hajati, dkk. Serangan-serangan gerilyawan dilakukan malam hari. Agar tak saling serang sesama gerilyawan Republik, mereka telah menetapkan sasaran, rute perjalanan, tempat konsolidasi hingga kode sandi. Belanda tentu saja kerepotan. Pasukan Belanda sering kali membalas serangan pada siang hari dengan tembakan meriam. Sering kali warga sipil menjadi korban karena pembalasan Belanda yang membabi buta. Aksi semacam ini memang sangat berbahaya. A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 8 menyebut pada awal Desember 1948, seorang anggota MKB/SS sektor selatan tertangkap di daerah Kadungwaringin, Suruh. Aksi ini, menurut Semdam VII/Diponegoro, sesungguhnya dipicu oleh berbagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dilakukan Belanda di sepanjang garis demarkasi. Sementara pasukan-pasukan TNI patuh terhadap gencatan senjata yang disetujui pada 4 Agustus 1947 itu, Belanda justru sering kali melakukan provokasi. “Sikap defensif TNI dengan dibarengi tindakan ofensif perlawanan gerilya rakyat tersebut ternyata berhasil menahan agresi Belanda lebih lanjut,” tulis Semdam VII/Diponegoro.*

  • Pembuka Jalan Peragaan Busana di Indonesia

    CITAYAM Fashion Week (CFW) di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, masih ramai diperbincangkan. Selain karena hak kekayaan intelektual CFW sempat diklaim oleh selebritas Baim Wong dan Paula Verhoeven, fenomena ini juga telah menjalar ke berbagai daerah. Anak-anak muda memakai berbagai jenis busana berlenggok-lenggok catwalk  di zebra cross.  Peragaan busana pun kini tidak identik lagi dengan kalangan elite. Sejarah peragaan busana ( fashion show ) di Indonesia dimulai oleh Adriana Paula Adeline Kawilarang, pendiri butik dan salon kecantikan pertama di Indonesia. Dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982  dijelaskan, Non Kawilarang lahir di Tondano pada 27 Oktober 1917. Dia anak kesembilan dari seorang mayor-sipil di Minahasa –setingkat regent  (bupati) di Jawa. Sejak kecil dia telah menunjukkan ketertarikannya pada dunia mode, khususnya merancang pakaian. Sejak duduk di sekolah MULO (kini setara SMP), dia telah merancang dan menjahit pakaiannya sendiri.  Pernikahan Adriana Paula Adeline dengan Martinus van Rest memperoleh anak perempuan bernama Marjoline. Dia kemudian menikah lagi dengan John Nicolaas Tambayong, sehingga putrinya bernama Marjoline Tambayong yang kemudian lebih dikenal dengan Rima Melati, aktris dan model ternama yang belum lama meninggal dunia. Irma Hardisurya, Ninuk Mardiana Pambudy, dan Herman Jusuf dalam Kamus Mode Indonesia  menyebut Non Kawilarang termasuk pelopor industri mode di Indonesia. Dia menempuh pendidikan tata busana di Akademi Jahit Rotterdam, Belanda pada 1936–1938. Dia termasuk perintis bisnis ritel mode ketika membuka butik Shri Fatma di kompleks bioskop Metropole (Megaria), Cikini, Jakarta Pusat, pada 1951. Nama Shri Fatma pemberian Presiden Sukarno yang diambil dari nama istrinya, Fatmawati, yang artinya perempuan terindah. “Waktu itu kami memang agak dekat dengan Bung Karno,” kata Non Kawilarang . Sukarno juga memberi nama Melati kepada Marjoline sehingga namanya menjadi Rima Melati. Pada era 1950-an, Non Kawilarang dan Peter Sie dikenal sebagai perancang busana top dan pelopor mode di Indonesia. Sama-sama mendapatkan pendidikan mode di Belanda, keduanya secara terpisah membuka usaha pembuatan pakaian. Tak sekadar menjahit pakaian, mereka juga memberi masukan tentang pakaian bagi para pelanggannya dan merancang pakaian dengan kreasi sendiri. Itulah yang membedakan mereka dengan penjahit biasa. Tak hanya membuka butik dan salon kecantikan pertama, menurut Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981–1982 ,   Non Kawilarang juga menyelenggarakan peragaan busana pertama kali di Indonesia pada 1951. Mula-mula acara peragaan busana diadakan dua kali setahun, akhirnya dia tak dapat lagi mengingat jumlah peragaan busana yang telah diselenggarakannya selama berkecimpung dalam dunia mode. “Aduh! Pokoknya banyak sekali,” kata Non Kawilarang .    Meski peragaan busana belum banyak diadakan pada era 50-60-an, Non Kawilarang dan Peter Sie cukup sering menggelar peragaan busana untuk memperkenalkan karya-karya mereka. Popularitas yang diraih Non Kawilarang dalam dunia mode tak membuatnya puas. Dia merasa harus terus mengembangkan diri. Untuk meningkatkan keahliannya, dia tinggal di Hong Kong pada 1963–1966. Sekembalinya dari Hong Kong, dia mendirikan Rima Melati Boutique. Non Kawilarang. (Majalah U , Maret 2009). Pada 1969, perdagangan internasional berkembang pesat dan Indonesia mulai terbuka untuk investasi asing. Non Kawilarang bersama sejumlah perancang busana dan tokoh mode mendirikan asosiasi perancang mode pertama yang bernama Perhimpunan Ahli Perancang Mode Indonesia (PAPMI). Dia juga turut mendirikan sekolah-sekolah jahit yang guru-gurunya dari anggota PAPMI. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai pelindung PAPMI antusias dengan rencana pendirian sekolah jahit tersebut. Dia menyumbang uang sebagai modal awal, sementara sisa kekurangannya ditanggung oleh anggota PAPMI secara gotong-royong. Ali juga mendorong diselenggarakannya acara-acara peragaan busana. Dalam memoar Peter Sie, Mode Adalah Hidupku , disebutkan bahwa Ali Sadikin menugaskan Non Kawilarang dan Peter Sie untuk menggelar peragaan busana dalam rangka peresmian penggunaan gelanggang pacuan kuda di kawasan Pulo Mas tahun 1971. Dalam peragaan busana tersebut, Non Kawilarang dan Peter Sie menggunakan batik dan katun untuk rancangan mereka, dilengkapi beragam topi yang disesuaikan dengan warna dan corak rancangannya. Sebagai salah satu perancang busana ternama, Non Kawilarang berhasil meraih sejumlah penghargaan dan hadiah. Di antaranya dalam First International Contest of Indonesia Batik (FICIB) yang digelar di Mirasa Sky Club di Gedung Sarinah, Jakarta, pada 1972, dia menjadi satu-satunya pemenang mengalahkan peserta dari berbagai negara yang diundang. Pada 1972, Non Kawilarang mendirikan agensi model bernama Indonesian Modelling Agency (IMA). Para peragawati yang dididik di agensi model ini turut ambil bagian saat Non Kawilarang memperkenalkan pakaian-pakaian rancangannya melalui peragaan busana. Menjelang usia senja, Non Kawilarang mencurahkan perhatiannya pada kegiatan rohani. Dia menyatakan menemukan kebahagiaan dengan “bekerja di ladang Tuhan”. Terakhir, dia mengetuai sebuah kelompok umat Kristen di Jakarta. Perancang busana dan salah satu perintis dunia mode Indonesia ini tutup usia pada 27 Juni 1997 di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, setelah berjuang melawan kanker kulit. Pada 2013, Non Kawilarang dianugerahi penghargaan Lifetime Fashion Icon Awards atas jasanya dalam mengembangkan industri mode tanah air.*

  • Lima Cerita Ringan Sukarno

    Sukarno Makan Sate Pada 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) secara aklamasi mengangkat Sukarno sebagai presiden Republik Indonesia yang pertama. Namun, alih-alih mengeluarkan perintah penting (seperti pembentukan kabinet atau seruan mobilisasi untuk perang), Sukarno justru mengeluarkan “perintah” pertama di luar masalah politik. Ceritanya, usai menjalani pengangkatan tersebut, Sukarno pulang dengan berjalan kaki. Di tengah jalan menuju rumah, dia berpapasan dengan seorang tukang sate. Tiba-tiba, dia merasa perutnya keroncongan.  Tanpa banyak pikir dia lantas menghentikan tukang sate yang bertelanjang dada dan nyeker  (tidak memakai alas kaki) itu.“Sate ayam lima puluh tusuk!” kata Sukarno. Begitu sate yang dibakar sudah matang, Sukarno dengan lahap menikmatinya sambil jongkok di dekat selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.  Singkong Marhaen   Suatu pagi pada Januari 1965. A.M. Hanafi, duta besar Republik Indonesia untuk Kuba, datang ke Istana Negara. Di sana, dia mendapati Sukarno tengah berbincang dengan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani. Dia bergabung. Di tengah perbincangan, seorang pelayan istana masuk dengan membawa tiga cangkir kopi dan sepiring singkong rebus. Begitu diletakkan di atas meja, tanpa babibu  Hanafi mengambil dan menyodorkan piring kepada Yani. “Pak Yani, mari, ini singkong Marhaen, ditanam oleh kaum Marhaen, makanan kaum Marhaen, ini hari naik ke Istana Marhaen. Mari, silakan, Pak,” ujar Hanafi. Alih-alih mencomot singkong rebus, Yani mengambil piring itu lalu menyodorkannya kepada Sukarno sambil berkata: “Silakan Bapak Marhaen dulu.” Sukarno kontan tergelak. Seraya mengambil singkong rebus, dia pun berkata: “Silahkan, Panglima Tentara Marhaen.” Kontan semua di ruangan tertawa, termasuk para pengawal dan pelayan yang mendengar dari kejauhan. Sukarno Kehausan Sekira tahun 1942, Sukarno berkunjung ke Surabaya dan melihat-lihat Gedung Nasional Indonesia (GNI) di daerah Bubutan. Cuaca yang panas membuat Sukarno kehausan. “Apakah ada minuman? Saya haus,” ujar Sukarno kepada orang di sekelilingnya. Namun, tak ada minuman kala itu, sebab kunjungan Sukarno mendadak. “Pakai es, Pak?” tanya Soetomo, lebih dikenal dengan Bung Tomo, memberanikan diri. Sukarno mengangguk. Bung Tomo pun pergi ke seberang gedung, menemui penjual es pikulan. Ketika sudah menerima segelas minuman es, Bung Tomo baru sadar dia tidak membawa uang sepeser pun. “Uangnya bon dulu,” bisik Bung Tomo kepada penjual es. Penjual itu hanya melongo ketika Bung Tomo berjalan kembali menuju GNI. Nehru Makan Rebung Pada Agustus 1950, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru berkunjung ke Indonesia. Saat menginap di Istana Bogor, dia sempat mencicipi sajian sayur lodeh yang bahan utamanya terbuat dari rebung (tunas muda pohon bambu) pada jamuan makan pagi bersama Presiden Sukarno. Begitu acara sarapan usai, Sukarno mengajak Nehru untuk jalan-jalan berkeliling Istana Bogor. Ketika tiba di suatu sudut istana yang dipenuhi rimbunan pohon bambu, Sukarno tiba-tiba menghentikan langkahnya.  “Tahukah kamu, makanan yang kamu nikmati tadi bahannya berasal dari pohon ini,” kata Sukarno sambil tersenyum. Nehru hanya terbengong-bengong dalam rasa heran. Dia menghampiri pohon-pohon bambu itu dan mengetuk-ngetuk batangnya satu per satu. Melihat pemandangan itu, Sukarno hanya tertawa. Sersan Mayor Terasi Sebagai anggota Detasemen Kawal Predsiden (DKP) Resimen Tjakrabirawa, Dalimin Ronoatmodjo dekat dan dipercaya Sukarno serta keluarga. Saking dekatnya, dia kerap mengerjakan tugas-tugas kecil di luar pengawalan. Jika Fatmawati pulang dari Istana Merdeka menuju rumahnya di Kebayoran Baru, begitu lewat Pasar Tanah Abang, Dalimin disuruh turun. “Sana belikan ibu terasi dan cabe rawit, aku mau bikin sambal pecel,” ujar Fatmawati. Sambal pecel merupakan salah satu makanan kesukaan Sukarno.  Belanja terasi dan cabe rawit hampir menjadi kegiatan rutin Dalimin setiap minggu hingga Sukarno dilengserkan pada 1967. Tanpa banyak protes, Dalimin melaksanakan tugas itu. Hingga suatu hari, atas permintaan Fatmawati, pangkat Dalimin dinaikan menjadi sersan mayor. Sejak itulah, kawan-kawannya di DKP menjulukinya Sersan Mayor Terasi.*

  • Uang Tak Bisa Membeli Kebahagiaan

    Aviani Malik, pembaca berita Metro TV , terpesona pada sosok Oei Hui Lan (1899–1992). Baginya, Oei Hui Lan mengenyahkan gambaran miring tentang perempuan kaya: manja dan tak punya kepedulian sosial. Tak hanya membaca otobiografinya, No Feast Last Forever , Avi juga menyambangi situs bersejarah peninggalan keluarga Oei Tiong Ham di Semarang. Oei Hui Lan, putri Oei Tiong Ham, taipan gula tersohor dari Semarang pada abad ke-19. Menikah dengan Wellington Koo, duda berusia 32 tahun, orang terpenting kedua setelah Menteri Luar Negeri Lu Zheng Xiang untuk urusan diplomasi Tiongkok. Kalau bukan karena paksaan Goei Bing Nio, ibunya, Oei Hui Lan tak pernah berniat menikahi Wellington. Sebagai seorang istri diplomat sekaligus anak raja gula terkaya di Asia Tenggara, Oei Hui Lan bergaul dengan kalangan papan atas di Eropa. Berpesta bersama para bangsawan, mulai Ratu Victoria sampai Ratu Belgia, sudah jadi hal biasa. Baca juga:  Oei Tiong Ham, Si Manis dan Letnan Tionghoa Duka mendera saat ayahnya wafat. Anak keturunan dan gundik-gundik Oei Tiong Ham berebut warisan. Saling menggugat. Terlibat konflik berkepanjangan. Kendati memperoleh bagian warisan terbanyak, tak lantas membuat Oe Hui Lan bahagia. Derita Oe Hui Lan semakin lengkap karena dia bukan satu-satunya perempuan dalam hidup Wellington Koo. Ditemui di sela-sela kesibukannya liputan dan membawakan program berita di Metro TV , Aviani mengemukakan kenapa dia memilih Oei Hui Lan sebagai tokoh idolanya. Sejak kapan mengenal sosok Oei Hui Lan? Pertama kali aku kenal dari bukunya, No Feast Last Forever , yang mengisahkan jatuh bangun kehidupannya. Aku juga pergi ke Semarang, ke bekas rumahnya Oei Tiong Ham, ayahnya Oei Hui Lan. Sedih banget, sudah banyak yang rusak dan tak terpelihara. Apa alasannya mengidolakan dia? Buat aku dia perempuan tangguh, perempuan kuat. Dia anak orang kaya, bergelimang harta sejak kecil. Tapi tidak membuatnya jadi perempuan lemah. Dia juga perempuan yang cerdas, pandai bergaul dan menguasai banyak bahasa, seperti Inggris, Prancis, Mandarin, dan bahasa Indonesia. Baca juga:  Auw Tjoei Lan, Musuh Para Mucikari Adakah alasan lain? Dia anak orang kaya dan istri dari pejabat tinggi, tapi tetap punya kepedulian sosial. Waktu dilanda Perang Dunia II, Oe Hui Lan jadi tenaga sukarelawan untuk Inggris. Peranannya itu sampai membuat Oei Hui Lan dapat penghargaan dari Kerajaan Inggris. Pesan apa yang Anda petik dari kehidupan Oei Hui Lan? Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Oei Hui Lan adalah gambaran perempuan yang tegar dan kuat, yang tetap memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekeliling dia. Sebisa mungkin dia memiliki peranan agar berguna buat masyarakat luas. Baca juga:  Auw Tjoei Lan, Pelindung Kebajikan Apa yang membuat Anda terinspirasi dari sosoknya? Dia perempuan yang pandai bersyukur. Tak pernah menyesali apa yang telah dijalani. Sebetulnya dia bisa nekat menolak perjodohan dengan Wellington Koo, tapi akhirnya dia memilih menerima pinangan Wellington Koo walau harus meninggalkan kekasih di masa mudanya. Ketika Oei Hui Lan bukan perempuan satu-satunya dalam hidup Wellington Koo , dia pun tak pernah menyesali walau akhirnya berpisah. Oei Hui Lan bagi aku figur perempuan yang bisa beradaptasi dalam suasana apa pun. Bahkan ketika dia mengalami masa kesepian di masa akhir hidupnya. Pokoknya gila banget lah dia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page