Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Naim yang Malang
Nama adalah doa. Orang tua memberikan nama terbaik agar anaknya bernasib baik. Tapi, pemuda pejuang ini justru bernasib buruk karena namanya. Pemuda itu bernama Naim. Dia anggota Kelompok Merah Putih yang bermarkas di Jalan Bank No. 5 Purwokerto (dulu gedung percetakan De Boer). Kelompok ini terdiri dari 40 pemuda yang dipimpin oleh Moerdono. Baca juga: Menghabisi Mata-mata Pada suatu hari di masa revolusi kemerdekaan, Naim ditugaskan menjadi kurir ke Purworejo, Jawa Tengah. Dia ditangkap oleh pemuda di sana. Karena bahasa Jawanya kurang baik, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari “hakim” dengan lancar. Meskipun di atas baju Naim melekat bendera merah putih, tanda paspor bagi orang Republik, dia tetap tidak dipercaya. Bahkan, dia dituduh mata-mata musuh, Belanda. “Akhirnya dia dihukum tembak. Alasannya karena namanya: Naim. Oleh para ‘hakim’ dinyatakan sebagai singkatan dari Nederland Anti Indonesia Merdeka,” kata Sudiro, mantan Walikota (kini Gubernur) Jakarta Raya, dalam Pelangi Kehidupan . Baca juga: Berburu Mata-Mata di Era Revolusi Asmadi, mantan anggota Tentara Pelajar, mengungkapkan bahwa suasana saling mencurigai bahkan tidak percaya terhadap setiap orang yang dijumpai di tengah jalan, timbul akibat mata-mata musuh yang berusaha menyesatkan pasukan-pasukan yang datang dari luar kota. Mereka melakukan adu domba antarpasukan. Yang langsung menerima akibatnya ialah para kurir, karena mereka umumnya berjalan kaki dari markas besar ke markas sektor, dari markas sektor ke garis depan atau yang menghubungkan antarmarkas sektor. “Banyak pula di antara para kurir yang terbunuh di tengah jalan karena dituduh sebagai mata-mata musuh,” kata Asmadi dalam Pelajar Pejuang. Baca juga: Gubernur di Tengah Operasi Anti Mata-Mata Pelaku Peristiwa Tiga Daerah ditahan di penjara Yogyakarta pada Desember 1946. Sakhyani alias Kutil berdiri kedua dari kiri. (Koleksi Anton Lucas). Baca juga: Kisah Kutil "Robin Hood" dari Pantura Sudiro menyebut ada anggota Kelompok Merah Putih lain yang bernasib nahas seperti Naim. Dia lupa namanya. Seperti Naim, anggota itu diberi tugas ke daerah Tegal. Dia ditangkap oleh kelompok yang dipimpin oleh Sakhyani atau dikenal dengan sebutan Kutil. Kalau Naim dituduh mata-mata karena namanya, kawannya itu karena kacamata yang dipakainya. “Dia dijatuhi hukuman mati karena di kacamatanya –buatan luar negeri– ada huruf-huruf tertentu, yang sebenarnya hanyalah inisial dari pabrik yang memproduksinya. Oleh para ‘hakim’, huruf-huruf itu dianggap sebagai kode bagi seorang mata-mata musuh,” kata Sudiro. Baca juga: Anton Lucas dan Cerita Kutilnya Kutil memimpin revolusi sosial di wilayah Karesidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang pada Oktober sampai Desember 1945, di mana seluruh elite birokrat, pangreh praja (residen, bupati, wedana, dan camat), serta sebagian besar lurah, diganti oleh aparat pemerintahan baru dari aliran Islam, sosialis, dan komunis. Untuk menjalankan revolusi sosial, Kutil membentuk organisasi AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia). Menurut sejarawan Anton Lucas dalam Peristiwa Tiga Daerah , seperti badan-badan perjuangan lainnya waktu itu, tugasnya ditetapkan sendiri oleh Kutil, yaitu mencari sisa-sisa orang Jepang dan melucutinya, membagikan kekayaan kepada rakyat, dan menumpas setiap orang yang dicurigai menjadi agen NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Baca juga: Koleksi Digital Anton Lucas Tragisnya, salah satu korban yang dituduh mata-mata adalah pemuda anggota Kelompok Merah Putih dari Purwokerto. “Tambah seorang lagi korban dari Peristiwa Tiga Daerah,” kata Sudiro. Karena Kutil adalah tokoh utama dalam revolusi sosial itu, maka Peristiwa Tiga Daerah sering disebut sebagai “gerakan Kutil”. Gerakan Kutil akhirnya bisa ditumpas oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat). “Kutil adalah orang pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang dijatuhi hukuman mati melalui proses pengadilan formal di Pekalongan,” tulis Anton. Menurut Sudiro, tuduhan mata-mata kepada Naim dan kawannya sungguh menggelikan, tapi akibatnya pejuang ini telah mati konyol. “Seperti yang dialami oleh ratusan mungkin ribuan orang lainnya dalam zaman meluapnya semangat kemerdekaan kita,” kata Sudiro.
- Kedigdayaan Anti-Hero dalam Venom 2
KABUT di suatu malam pada 1996 menyelimuti Rumah Penampungan Anak Terlantar St. Estes California. Cletus Kasady kecil (diperankan Jack Bandeira) hanya bisa berteriak tak berdaya ketika kekasihnya, Frances Barrison (Olumide Olorunfemi), hendak dibawa ke Rumahsakit Jiwa (RSJ) Ravencroft Institute. Frances dianggap gadis kecil “spesial” yang punya kekuatan manipulasi jeritan suara hingga harus dipindahkan ke fasilitas “spesial” di Ravencroft. Dalam perjalanan yang dikawal polisi, Frances berontak. Gadis supervillain beralter-ego Shriek itu menjerit hingga melukai seorang polisi muda Patrick Mulligan (Sean Delaney). Mulligan terpaksa menekan picu pistolnya hingga melukai Frances. Adegan-adegan itu sekadar prolog film pahlawan super Venom: Let There Be Carnage ( Venom 2 ) garapan sutradara Andy Serkis. Film ini merupakan film kedua dalam franchise Sony’s Spider-Man Universe (SSU). Sebagai sekuel dari film terdahulunya, Venom (2018), kisahnya masih berpusar pada sosok jurnalis Eddie Brock (Tom Hardy) yang di dalam tubuhnya bersemayam simbiot Venom, membuat perpaduan dua kepribadian yang berbeda itu menjadi sesosok anti-hero. Baca juga: Spider-Man Terjerat Tipu Daya Sosok Frances Barrison alias Shriek (kiri) & Cletus Kasady ( sonypictures.com ) Plotnya kemudian bergulir cepat ke 25 tahun berselang, ke adegan Eddie dipanggil detektif Mulligan (Stephen Graham). Eddie diminta menyelidiki lebih jauh korban-korban kejahatan Cletus dewasa (Woody Harrelson) yang berubah jadi pembunuh berantai. Cletus hanya mau bicara pada Eddie karena Eddielah yang membuatnya dibui akibat laporan investigasinya. Cletus ingin bicara pada Eddie sebelum hari-H eksekusi matinya dengan suntikan. Namun Venom dalam diri Eddie kerap berontak ketika menemui Cletus, mengingat Venom paling hobi menyantap kepala penjahat. Akibatnya, Cletus melawan balik dengan menggigit tangan Eddie hingga berdarah. Karena cemas ketahuan aparat kepolisian, Eddie pun bertengkar hebat dengan Venom. Dua karakter berbeda yang bersahabat dan bersimbiosis mutualisme itu berubah jadi bermusuhan meski sebelumnya selalu melewati suka-duka bersama, termasuk ketika Eddie diputuskan Anne Weying (Michelle Williams), mantan tunangannya yang seorang pengacara. Ketika Eddie dan Venom berpisah, tetiba muncul kegemparan di Penjara San Quentin dan RSJ Ravencroft. Rupanya zat simbiot Venom dalam darah Eddie dari gigitan Cletus “melahirkan” Carnage, sesosok simbiot merah yang berdiam dalam tubuh Cletus. Carnage menghancurkan San Quentin, lalu Ravencroft untuk membebaskan kekasihnya, Frances (Naomie Harris). Mampukah Eddie menghadapi masalah yang lahir dari kesalahannya sendiri? Baiknya Anda saksikan sendiri kelanjutan Venom: Let There Be Carnage di bioskop maupun beberapa platform daring, seperti Disney+ dan Hulu. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Carnage, sosok simbiot merah musuh utama Venom ( sonypictures.com ) Dua Karakter, Dua Kepribadian, Satu Persahabatan Venom 2 mulanya dijadwalkan rilis pada 2020. Namun pandemi membuatnya tertunda hingga 1 Oktober 2021. Pun begitu, film ini tetap menarik karena di bagian akhirnya berkelindan dan bersilang semesta dengan salah satu film dari franchise Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: No Way Home yang rilis 15 Desember 2021. Sebagaimana film-film superhero di MCU, Venom 2 yang merupakan garapan SSU tak kalah ciamik dalam visual efek CGI. Penonton tetap bisa menikmati aksi-aksi mendebarkan meski tone gelapnya dominan. Music scoring -nya juga bervariasi mengikuti setiap perbedaan plot. Seperti nada-nada melankolis yang mengiris dalam adegan-adegan menyedihkan masa lalu Cletus, musik komikal dalam beberapa adegan jenakanya, atau musik rap dan rave semua ada. Baca juga: Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey Venom bersama kaum rave di "coming out party" ( sonypictures.com ) Selain “tema wajib” percintaan seperti yang kerap ada di film-film Hollywood, Venom 2 memasukkan sedikit tentang LGBTQIA (lesbian, gay, bisexual, transgender, queer, intersex, asexual). Itu ada pada adegan Venom ikut pesta kaum rave usai berpisah dengan tubuh Eddie. “Tom (Hardy) dan Kelly (Marcell, penulis naskah) selalu ingin ada adegan Venom keluar dan membebaskan diri (dari Eddie) dan pergi ke pesta, di mana saya menyebutnya semacam festival LGBTQIA. Jadi pada dasarnya (adegan) itu pesta pembebasan diri Venom,” kata Serkis kepada Uproxx , 23 September 2021. Baca juga: Captain Marvel, Antara Nostalgia dan Isu Feminisme Meski begitu, bukan berarti Venom sepenuhnya gay. Adegan itu lebih merupakan upaya Venom ingin membebaskan dirinya dari perlakuan Eddie atau manusia lain yang kejam terhadap alien. Pesannya jelas, kaum LGBTQIA dianggap “alien” oleh orang lain. Toh sejak awal Venom tak pernah disebutkan sebagai simbiot yang berjenis kelamin pria atau wanita. Venom bisa berdiam di tubuh perempuan ataupun laki-laki. Adegan ketika Venom merasuki tubuh Anne atau pemilik toko Nyonya Chen (Peggy Lu) menunjukkan Venom sesosok simbiot yang membebaskan diri dari bias gender. Sutradara Andrew Clement 'Andy' Serkis (duduk) dan aktor utama Edward Thomas 'Tom' Hardy ( sonypictures.com ) Tema lain yang tak kalah penting yang diangkat Serkis adalah nilai-nilai persahabatan. Dua karakter dan dua sifat berbeda sejatinya tetap bisa membentuk satu hubungan persahabatan. Seperti tokoh Don Quixote dan Sancho Panza dalam novel The Ingenious Gentleman Don Quixote of La Mancha karangan Miguel de Cervantes pada awal abad ke-17. Serkis sengaja mengambil persahabatan Don Quixote dan Sancho Panza itu sebagai inspirasi dalam menciptakan karakter Eddie Brock dan Venom. Secara simbolis hal itu diperkuat dengan adegan Eddie bicara dari hati ke hati dengan Venom di depan patung di halaman Palace of Fine Arts, San Francisco. “(Patung) itu adalah Don Quixote dan di sebelahnya adalah Sancho Panza. Mereka orang yang sangat berbeda yang punya pandangan berbeda pula terhadap dunia, cara yang berbeda dalam melakukan sesuatu. Terkadang mereka tidak saling menyukai tapi pada akhirnya mereka bekerjasama untuk menunjukkan kehebatan masing-masing,” kata Eddie kepada Venom. Persahabatan yang didasari cinta satu sama lain itu jelas berbeda dari persatuan Cletus dan Carnage. Persatuan Cletus-Carnage didasari kebencian kendati kelahiran mereka nyaris serupa dengan Eddie dan Venom. Baca juga: Aquaman Sang Penguasa Tujuh Lautan Persahabatan tokoh Eddie Brock dan Venom digambarkan seperti Don Quixote dan Sancho Panza ( sonypictures.com ) Muasal Venom Bermula dari kostum menjadi anti-hero. Begitulah muasalanya Venom hadir di semesta Marvel. Venom mulanya dikonsepsikan bukan sebagai sesosok simbiot anti-hero seperti yang dihadirkan dalam Spider-Man 3 (2007), Venom (2018), Venom: Let There Be Carnage (2021), dan Spider-Man: No Way Home (2021). Gagasan aslinya lahir dari sayembara komik yang dibuat Marvel. Pada 1982, Marvel lewat komik The Amazing Spider-Man membuat sayembara kepada para penggemarnya untuk dijadikan inspirasi bagi penulis dan ilustrator komik dalam merancang kostum baru Spider-Man alias Peter Parker. Dari beberapa ide yang masuk, sang Pemred Jim Shooter menyukai konsep kostum hitam karya Randy Schueller, penggemar berat Spider-Man asal Norridge, Illinois. Dalam kolom cbr.com , 4 Mei 2007, Schueller mengenang bahwa ia tak hanya menggambarkan kostum tapi juga latar cerita di baliknya. Schueller mendesain kostum hitam pekat agar tak terlihat musuh dalam kegelapan, meski ia tetap menyematkan lambang laba-laba berwarna merah di bagian dada. “Saya pikir akan keren jika Spidey bisa meng- upgrade kekuatan dan penampilannya. Jadi saya punya ide bahwa Reed Richards (alter-ego Mister Fantastic) membuatkan kostum baru untuk Spidey menggunakan molekul tak stabil seperti kostum-kostum FF (Future Foundation, red ). Molekul-molekul itu akan mengalir ke dalam pori-pori Peter dan membuatnya bisa menempel di tembok dengan lebih baik. Jadi ide dasar saya kostum itu akan meningkatkan 25 persen kekuatannya,” tulis Schueller. Baca juga: Mulanya Spider-Man Si Manusia Laba-Laba Randy Schueller, suratnya kepada Jim Shooter & komik The Amazing Spider-Man #252 ( cen.acs.org/marvel.com ) Shooter yang menyukai konsep Schueller lalu berkorespondensi via surat pada Agustus 1982. Ide Schueller itu akhirnya dibeli sebesar 220 dolar Amerika. Tetapi pada akhirnya, gagasan Schueller yang lantas terealisasi dalam komik The Amazing Spider-Man nomor 252 edisi Mei 1984 jauh dari gagasan awalnya. Gagasan Schueller kemudian dipadukan dengan ide-ide editor, penulis, dan ilustrator Marvel seperti Roger Stern, Tom DeFalco, Mike Zeck, dan Ron Frenz. Gagasan mereka adalah kostum Spider-Man hitam itu terbentuk dari zat biologis alien atau makhluk luar angkasa yang punya kelemahan terhadap energi suara sonik. Desainnya hampir mirip, bedanya lambang laba-labanya diubah berwarna putih, bukan merah seperti konsep awal Schueller. Baca juga: Stan Lee Godfather -nya Marvel Tetapi saat itu zat tersebut belum dinamai Venom dan bentuknya pun belum seperti sekarang berupa simbiot yang punya mata, mulut, taring besar, dan lidah panjang. Ia hanya berupa kostum alien seperti yang digambarkan dalam film Spider-Man 3. “Saya melihat ide kostum saya dieksekusi dengan cara yang sangat jauh dari yang saya bayangkan. Saya terkejut dan sedih. Lalu bergulir ke 2007, saya melihat kostum hitam (saya) di film Spider-Man 3 . Wow! Nyatanya kontribusi saya membuat film itu jadi blockbuster terbesar. Tetapi saya tak pernah mendapat pengakuan apapun. Saya tak pernah ingin menuntut karena semuanya bukan soal uang. Saya hanya ingin pengakuan akan kontribusi penggemar,” imbuh Schueller. Kemunculan Venom di film Spider-Man 3 tahun 2007 ( sonypictures.com ) Gambaran, latarbelakang, dan penamaan “Venom” baru muncul ketika zat simbiot itu menemukan sosok Eddie Brock, orang kedua yang jadi tempat zat itu menginduk, hasil karya David Michelinie dan Todd McFarlane. Michelinie turut membuka cerita asal-usul simbiot itu dan kekuatan apa saja yang dimiliki Venom ketika menginduk di tubuh Eddie atau sejumlah host lain di komik-komik berikutnya seperti Flash Thompson, Ms. Marvel, Red Hulk, Groot, dan Mysterio. Kepada Comic Crusaders , 11 Oktober 2017, Michelinie berkisah bahwa indikasi eksisnya Venom memang sudah bermula saat ia membuat naskah komik Web of Spider-Man nomor 1 edisi April 1985. Eksistensinya digambarkan berupa sebuah tangan yang mendorong Peter Parker ke jalur keretaapi bawah tanah, walau kemudian naskah itu digantikan naskah lain. “Sebuah tangan mendorong Peter Parker dan tangan itu tak memicu spider sense- nya Peter, di mana saya pikir itu bisa jadi kunci. Itu alasan awal saya menciptakan Venom. Bagaimana jika karakter ini tak terdeteksi insting spider -nya Peter?” kenang Michelinie. Baca juga: Enam Wajah di Balik Topeng Spider-Man Tokoh Eddie Brock awalnya juga bukan pilihan pertama yang akan jadi host Venom lantaran pasti sasarannya bukan laki-laki, melainkan perempuan. Michelinie berniat mengaitkan sosok perempuan yang penuh dendam itu dengan Spider-Man untuk komik The Amazing Spider-Man nomor 300 (edisi Mei 1988). “Sebelumnya saya punya novel grafis, Revenge of the Living Monolith , dalam ceritanya ada perempuan hamil yang suaminya terbunuh sebagai imbas pertarungan Spider-Man dengan monolit hidup itu. Sang perempuan trauma hingga bayi yang ia lahirkan meninggal. Perempuan itu menyalahkan Spider-Man dan sebuah simbiot medeteksi kebencian itu, di mana perempuan itu kemudian menjadi Venom,” imbuhnya. Debut Venom di komik The Amazing Spider-Man #300 karya David Michelinie ( marvel.com ) Tetapi kemudian, lanjut Michelinie, sang editor komik Jim Salicrup tak terkesan dengan karakter perempuan itu. Dia menganggap seorang perempuan takkan bisa diterima para fans jika bertarung dengan Spider-Man. Maka, Michelinie menciptakan karakter lain untuk menjadi Venom, Eddie Brock, berikut latarbelakang dan motivasinya membenci Spider-Man. Setelah debut Venom pada Mei 1988 itu, Todd McFarlane bersama Michelinie mengembangkan ceritanya di sejumlah komik berikutnya. Venom juga dibuat punya kekuatan berupa dapat berubah bentuk, menghindari spider-sense , dan memulihkan luka dengan sendirinya. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Dalam pengembangan ceritanya, sosok simbiot itu bisa menginduk pada tubuh manusia atau pahlawan super manapun. Tetapi bagi Michelinie, karakter Venom yang menjadi anti-hero hanya ada dalam diri Eddie Brock. “Kebanyakan itu bukanlah Venom yang sebenarnya karena mereka bukanlah Eddie Brock. Untuk saya pribadi, Eddie Brock dan simbiot itu, itulah Venom. Anda bisa menghadirkan orang lain dengan latarbelakang dan motivasi berbeda dan Anda bisa melakukan hal berbeda pula tapi itu bukanlah Venom,” tandas Michelinie. Deskripsi Film: Judul: Venom: Let There Be Carnage | Sutradara: Andy Serkis | Produser: Avi Arad, Matt Tolmach, Amy Pascal, Kelly Marcel, Hutch Parker, Tom Hardy | Pemain: Tom Hardy, Michelle Williams, Stephen Graham, Naomie Harris, Woody Harrelson, Jack Bandeira, Olumide Olorunfemi, Peggy Lu | Produksi: Columbia Pictures, Marvel Entertainment, Avi Arad Productions, Matt Tolmach Productions, Pascal Pictures | Distributor: Sony Pictures | Genre: Superhero | Durasi: 97 Menit | Rilis: 1 Oktober 2021.
- Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia
PADA 4 April 1972, pesawat Vickers Viscount 613 Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan nomor penerbangan MZ-171 terbang dari Surabaya menuju Jakarta. Pesawat bernama “Merauke” itu diterbangkan oleh pilot Kapten Hindiarto Sugondo dan kopilot Kapten Muhammad Soleh Sukarnapradja. Pesawat mengangkut 36 penumpang dan tujuh awak. Ternyata, salah satu penumpang adalah pembajak. Hermawan seorang diri membajak pesawat dengan granat. Dia memaksa pesawat mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Dia menuntut uang tebusan sebesar Rp25 juta. Kalau tidak dipenuhi pesawat akan diledakkan. Menteri Perhubungan Frans Seda menyatakan pembajakan itu tidak boleh ditolerir. “Diinstruksikan agar pembajaknya ditangkap hidup-hidup. Bila perlu dibunuh demi keselamatan para penumpang,” tulis S. Saiful Rahim dalam Operasi Pembebasan Sandera Pesawat Garuda di Bangkok.
- Piala AFF, Turnamen Para Jawara Asia Tenggara
SETELAH setahun tertunda gegara pandemi Covid 19, Piala AFF 2020 akhirnya bisa dihelat 5 Desember 2021-1 Januari 2022. Sebagaimana perhelatan perdananya 25 tahun lampau, Singapura kembali jadi tuan rumah turnamen dua tahunan ASEAN ini. Laga-laganya dihelat di dua venue : National Stadium dan Bishan Stadium. Indonesia tergabung di Grup B bersama Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Laos. Tak hanya diperkuat para pemain muda terbaik kompetisi domestik, skuad Indonesia yang berisi 30 pemain juga diisi beberapa pemain yang berkarier di luar negeri. Mereka yang dipanggil coach Shin Tae Yong yakni Elkan Baggott (Ipswich Town/Inggris), Asnawi Mangkualam (Ansan Greeners/Korea Selatan), Ryuji Utomo (Penang FC/Malaysia), Syahrian Abimanyu (Johor Darul Ta’zim/Malaysia), Witan Sulaeman (Lechia Gdańsk/Polandia), dan Egy Maulana Vikri (FK Senica/Slovakia). “Ini kombinasi pemain yang bagus. Rata-rata usia skuad masih muda. Masa depan tim ini saya yakin akan cerah. Saya dan beberapa exco (komite eksekutif, red.) juga akan berangkat ke Singapura untuk mendukung mereka. Insya Allah mereka bisa jadi juara,” kata Ketua PSSI Mochamad Iriawan, di laman resmi PSSI, 1 Desember 2021. Baca juga: Menggocek Sejarah Sepakbola Vietnam Hingga tulisan ini diturunkan, performa timnas cukup apik. Setelah sukses menghajar Kamboja 4-2, Indonesia menggilas Laos 5-1. Publik sepakbola tanah air tentu berharap banyak pada timnas. Pasalnya, sejak digelar pertama tahun 1996 dan kejuaraan ini masih bernama Piala Tiger, belum sekali pun skuad “Garuda” pernah mencicipi gelar juara. Dari 13 edisi, Indonesia lima kali gigit jari karena sekadar keluar sebagai runner-up (2000, 2002, 2004, 2010, 2016). Skuad Garuda yang diharapkan mencetak sejarah di Piala AFF 2020 ( pssi.org ) Padahal, PSSI adalah satu dari enam pendiri Federasi Sepakbola Asia Tenggara (AFF). Bahkan, Marsekal Madya (Purn.) Kardono yang merupakan Ketua Umum PSSI periode 1983-1991dipercaya menjadi presiden AFF pertama pada 1984. AFF yang jadi bagian dari AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) menaungi semua induk sepakbola se-ASEAN. AFF berdiri pada 1984 dengan markasnya di Kuala Lumpur, Malaysia. Menukil laman resmi AFF, gagasan pendirian AFF diprakarsai oleh lima perwakilan induk sepakbola anggota ASEAN yang menggelar pertemuan di Bangkok, Thailand pada 1982. Mereka adalah Dato’ Seri Haji Samah (Malaysia), Hans Pandelaki (Indonesia), Fernando G. Alvarez (Filipina), Pisit Ngampanich (Thailand), serta Teo Chong Tee dan Yap Boon Chuan (Singapura). Pertemuan itu didukung Sekjen AFC Peter Velappan. Rapat itu dilanjutkan pertemuan susulan enam delegasi induk sepakbola ASEAN: Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Brunei Darussalam pada 31 Januari-1 Februari 1984. Keenamnya bersepakat mendirikan AFF dengan tujuan kerjasama demi pengembangan sepakbola. Kardono, dipilih sebagai presiden pertamanya, ditemani Pengiran Ibrahim Pengiran Damit dari Brunei sebagai wakilnya. Baca juga: Roman Sepakbola Negeri Jiran Namu n, turnamen antarnegara ASEAN belum jadi agenda utama. AFF pada tahun itu justru menggelar turnamen antarklub , ASEAN Club Championship . Turnamen itu di juara i Bangkok Bank of Thailand y a n g d i final menang 1-0 atas Yanita Utama di Stadion Utama Senayan. Turnamen tersebut berjalan sampai 1989.Setelah itu, AFF tidak punya agenda lain. “AFF baru menggeliat lagi di pertengahan 1990-an dengan tujuan menggalakkan aktivitas administratif dan edukasi di antara para anggotanya. Dibantu sekjen-sekjen FAM (induk organisasi sepakbola Malaysia) dan FAT (Thailand), Paul Mony Samuel dan Worawi Makudi, bekerjasama dengan AML (AFC Marketing Limited), AFF meluncurkan turnamen utama mereka yang baru untuk tim nasional, Tiger Cup pada 1996,” tulis Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football: The Role of the Asian Football Confederation. Edisi Perdana yang Ternoda Turnamen antarnegara Asia Tenggara itu disepakati digelar dua tahun sekali. Nama “Tiger Cup” diambil bertolak dari sponsor utama, Tiger Beer, brand bir dari produsen Heineken yang berbasis di Singapura. Selain enam anggota pendiri AFF, empat negara yang belum menjadi anggota AFF kala itu turut diundang: Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam.Tujuannya untuk membuktikan siapa yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Pada edisi perdana yang dihelat di Singapura, 2-15 September 1996, itu skuad Indonesia tampil menjanjikan dipenyisihan Grup A yang juga dihuni Vietnam, Myanmar, Laos, dan Kamboja.Namun, Kurniawan Dwi Yulianto dkk. ditumbangkan Malaysia, 3-1, di semifinal. Thailand lantas keluar sebagai juaranya setelah mengalahkanMalaysia, 1-0,di final. Baca juga: Serumpun yang Berseteru di Lapangan Akan tetapi bukan euforia Thailand atau penampilan ciamik bintangnya, Kiatisuk Senamuang, yang jadi buah bibir usai turnamen AFF perdana itu. Kehebohan justru datang dari skandal pengaturan skor yang berkelindan dengan judi sepakbola. Skandal itu terungkap setelah bek Filipina, Judy Saluria, menjadi whistleblower -nya. Mengutip laporan AP News , 20 September 1996, Saluria ditawari uang 50 ribu dolar (senilai 1,3 juta peso Filipina) oleh tiga penyuap asal Singapura dan Malaysia. Kasus itu kemudian jadi perhatian Biro Investigasi Praktik Korupsi Singapura CPIB. “Jaksa penuntut CPIB menguak tiga tersangka, Kandasamy Karuppan (45) dan Yam Phuang Fei (54), keduanya dari Malaysia, dan Chong Dhin Hoong (Singapura). Ketiganya dihadapkan pada ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda 71.430 dolar,” kata laporan tersebut. Timnas Thailand jadi juara di Piala Tiger (kini AFF Cup) pertama tahun 1996 ( aseanfootball.org ) Percobaan suap kepada Saluria itu dilakukan untuk mengatur skor matchday ketiga penyisihan Grup B antara Singapura kontra Filipina pada 6 September 1996. Ketiga penyuap meminta Saluria untuk membiarkan Singapura mencetak banyak gol.Harapan mereka agar Singapura bisa menang hinga 7-0. Pasalnya, di dua laga sebelumnyaSingapura hanya bisa bermain imbang 1-1 kontra Malaysia dan menang 3-0 atas Brunei. Saluria mengaku tidak menerima suap tersebut. Singapura sendiri akhirnya hanya bisa menang 3-0 atas Filipina. Hasil itu membuat Singapura gagal melaju ke semifinal karena hanya bertengger di posisi tiga klasemen di bawah Malaysia dan Thailand. Baca juga: Menangkal Babi-Babi Suap di SEA Games 1991 Saluriadengan ditemani asisten pelatih Hans Smit sudah berusaha melaporkan upaya penyuapan itu kepada otoritas Singapura sebelum 6 September. Tetapi Saluria diminta untuk tutup mulut, setidaknya sampai turnamen usai. Ceritanya bermula dari Smit yang sudah lama mengendus adanya mafia pengaturan skor.Smit memutus semua sambungan telepon di kamar pemain. Karena itulah kemudian Saluria ditemui langsung ketiga tersangka usai konferensi pers jelang matchday kedua Grup B Filipina vs Malaysia pada 4 September. “Saya tahu hal semacam ini (suap) sangat mungkin terjadi karena perjudian dalam laga-laga sepakbola sangat merajalela di Asia,” kata Smit kepada suratkabar Manila Standard , 22 September 1996. Kolase pemberitaan terkait upaya suap terhadap pemain Filipina ( People's Journal edisi 28 November 1996) Saluria ditemani Smitkemudian diminta otoritas Singapura untuk menjebak ketiga tersangka itu. Saluria diperintah untuk berpura-pura mau menerima suap jelang laga Singapura kontra Filipina. Ia setuju. Maka saat ketiga penyuapdatang dan menyerahkan sebuah tas berisi uang kepada Saluria di halaman parkir hotel, mereka langsung diciduk. Ketiganya diajukan ke meja hijaupada 15 November dan diancam hukumanlima tahun penjara dan denda 71.430 dolar. Akan tetapi, ketiganya kemudian dibebaskan dengan sejumlah uang jaminan namun paspor terdakwa asal Singapura dicabut dan dua terdakwa asal Malaysia dilarang masuk Singapura lagi. Lucunya, jauh setelah itu, isu dugaan pengaturan skor juga mengemuka di Piala AFF 2020. Netizen dengan akun @orientalgambler pada 9 Desember 2021 menuduh kemenangan Malaysia atas Laos,4-0, adalah hasil pengaturan skor. “@affsuzukicup @theaseanball sungguh pertandingan pengaturan skor yang mencolok di mana Laos sengaja mengalah kepada Malaysia. Kalian mesti memulai sebuah investigasi. Ini terjadi di Singapura,” kicau akun tersebut. Otoritas AFF hingga kini belum memberikan tanggapan. Oleh karenanya publik bertanya-tanya, benarkah Piala AFF 2020 kembali tercoreng skandal suap sebagaimana edisi perdana? Baca juga: Utak-Atik Skor Bola di Belakang Layar
- Maaf dan Ganti Rugi Belanda atas Penjajahan di Indonesia
Pemerintah Belanda telah beberapa kali meminta maaf kepada korban perang kemerdekaan di Indonesia. Terakhir, pada Maret 2020, Raja Belanda Willem-Alexander bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Di depan media, ia menyatakan permintaan maaf atas kekerasan perang kemerdekaan periode 1945–1949. Pada 17 Agustus hingga 16 September 2021, Historia.id bekerja sama dengan harian Belanda, De Volksrant , melakukan survei atau jajak pendapat tentang persepsi penjajahan Belanda di Indonesia. Survei ini dilakukan secara daring terhadap 1.604 responden yang tersebar di 34 provinsi, yang di antaranya meminta pendapat mengenai permintaan maaf raja Belanda berkaitan dengan tindakan kekerasan yang dilakukan tentara Belanda pada perang kemerdekaan di Indonesia. Hasilnya, sebanyak 74,06 persen responden mengetahui perihal permintaan maaf raja Belanda itu, dan 25,94 persen responden tidak tahu. Ini menandakan sebagian besar masyarakat Indonesia mengetahui berita tentang permintaan maaf raja Belanda. Lalu, apakah responden merespons positif permintaan maaf Raja Belanda Willem-Alexander? Hasilnya, lebih dari 70 persen responden belum merespons positif. Sebanyak 31,67 persen responden menjawab permintaan maaf raja Belanda itu dibutuhkan. Baca juga: Mayoritas Responden Tuntut Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 Sementara itu, responden yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 25,94 persen; 22,69 persen menjawab sudah terlambat; tidak perlu sebanyak 5,17 persen; 2,62 persen menjawab permintaan maaf sudah tepat waktunya; dan 0,37 persen menganggap terlalu dini. Sedangkan 11,53 persen responden menjawab dengan jawaban lain, seperti harus mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukan dan membayar segala kerugian yang dialami bangsa Indonesia. Pernyataan permintaan maaf dari kerajaan atau pemerintah Belanda sudah beberapa kali dilakukan. Pada 2013, bertepatan dengan peringatan peristiwa pembantaian Rawagede (sekarang Desa Balongsari) di Karawang, Jawa Barat, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd De Zwaan menyatakan permintaan maaf kepada keluarga korban pembantaian Rawagede. Indonesia menyatakan korban pembantaian Rawagede berjumlah 431 orang, namun pihak Belanda mencatat 150 orang. Permintaan maaf Dubes Zwaan itu dilakukan setelah Kejaksaan Negeri Belanda memutuskan kasus tuntutan para janda Rawagede yang suaminya dibunuh oleh tentara Belanda. Selain permintaan maaf, pemerintah Belanda juga harus memberikan kompensasi kepada sepuluh janda yang telah berjuang di pengadilan Belanda sejak 2011 sebesar 20.000 euro atau saat itu nilainya sekitar Rp270 juta. Baca juga: Pengadilan Pembantaian Rawagede: Kemenangan dari Masa Lalu Kompensasi kepada sepuluh janda korban pembantaian Rawagede itu dianggap setengah hati. Pandangan ketidakpuasan tercermin dari hasil jajak pendapat ini. Sebagian besar responden (77,06 persen) berpendapat bahwa Belanda harus membayar ganti rugi kepada Indonesia atas seluruh penjajahan. Sisanya 22,94 persen responden berpendapat tidak harus membayar ganti rugi. Dasar pertimbangan ganti rugi, menurut 47,26 persen responden, karena penjajahan Belanda telah mengakibatkan kerugian material dan nonmaterial. Sedangkan bagi 19,64 persen responden, Belanda harus membayar ganti rugi karena telah menjajah selama lebih dari 3,5 abad. Cukup besar responden (22,94 persen) yang tidak tahu atau tidak menjawab dasar pertimbangan Belanda harus membayar ganti rugi. Kejahatan Perang Permintaan maaf pemerintah Belanda, seperti disampaikan Raja Belanda Willem-Alexander hanya untuk periode perang kemerdekaan Indonesia (1945–1949), juga dianggap belum cukup. Responden meminta pengakuan “kejahatan perang” dan permintaan maaf atas seluruh penjajahan Belanda. Sebab, responden (32,04 persen) menganggap tindakan kekerasan militer Belanda pada perang kemerdekaan 1945–1949 bukanlah satu-satunya periode terburuk penjajahan Belanda. Bahkan, sebagian besar responden (37,97 persen) berpendapat periode terburuk penjajahan Belanda adalah pelaksanaan tanam paksa pada abad ke-19. Periode terburuk penjajahan Belanda lainnya yang dipilih oleh 11,16 persen responden adalah pembunuhan massal di Pulau Banda pada 1621. Sedangkan 9,60 persen responden menyebut kekejaman perang pada penaklukkan Aceh dan wilayah lain pada abad-19. Baca juga: Tanam Paksa Periode Terburuk Penjajahan Belanda Apa yang terjadi di Hindia Belanda terus menjadi kegelisahan di kalangan politikus, veteran, dan pejabat pemerintahan Belanda. Praktik kekerasan dan kekejaman militer Belanda kepada penduduk sipil meninggalkan jejak trauma hingga saat ini. Sejarawan Belanda Geert Oostindie mengungkapkan bahwa dilema “kejahatan perang” kolonial itu telah menjadi polemik dan perdebatan di kalangan politisi Belanda pada 1969. Bahkan, Perdana Menteri Belanda Piet de Jong, yang mantan Angkatan Laut, menerangkan dengan tegas masalah “ekses-ekses” dalam aksi militer di Hindia Belanda. Para korban sipil yang jumlahnya ribuan itu dipandang karena “ekses” atau situasi tak terkendali yang dihadapi dalam peperangan. Baca juga: Mencari Titik Temu Dua Sudut Pandang Sejarah Dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1950: Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah , Geert Oostindie mengungkapkan sikap Belanda yang masih menutup persoalan periode buruk perang dekolonisasi di Indonesia pada 1945–1949, seperti yang dikutipnya dari pernyataan surat De Jong kepada Tweede Kamer (Majelis Rendah) pada 29 Januari 1969: “Pemerintah menyesalkan bahwa telah terjadi ‘ekses-ekses’ tetapi pemerintah mempertahankan pandangannya bahwa seluruh angkatan perang Belanda di Indonesia telah berperilaku benar. Data-data yang dikumpulkan menegaskan bahwa di masa itu tidak ada tindakan kekejaman sistematis.” Baca juga: Van Mook, Tokoh Belanda Kontroversial dalam Memori Orang Indonesia Butuh waktu lama, sekitar 40 tahun lebih, persoalan “kejahatan perang” dibuka dan diperbincangkan di publik dalam negeri Belanda. Sejak dikabulkannya tuntutan janda-janda Rawagede oleh Kejaksaan Negeri Belanda, bergulirlah penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh peneliti dan sejarawan Belanda terkait kekerasan, kejahatan kemanusiaan, perkosaan dalam perang dekolonisasi, untuk membuka fakta-fakta tentang kejahatan perang yang dilakukan tentara Belanda. Berikut ini kesaksian seorang veteran perang Belanda yang diungkap oleh Remy Limpach, sejarawan Belanda dan bekerja di Institute Sejarah Militer Belanda (NIMH), dalam disertasinya setebal 870 halaman, yang versi pendeknya terbit dalam bahasa Indonesia pada 2019 berjudul Kekerasan Esktrem Belanda di Indonesia: Perang Kemerdekaan Indonesia pada 1945–1949 . “Butuh beberapa waktu sebelum saya menyadari apa yang dilakukan Belanda di sana betul-betul salah. Dengan artileri brengsek milik kita itu […] kampung-kampung yang penuh perempuan dan anak-anak dihujani tembakan sehingga rata tanah … malah juga pada awalnya itu kita anggap indah: kembang api! Christus, Kennedy, dan Cruijff digabung bersama.”” Baca juga: Trauma Serdadu Belanda dalam Perang Kemerdekaan Indonesia
- Kontroversi Ballon d’Or
SEANDAINYA Johan Cruyff masih hidup, mungkin ia bisa tersenyum puas. Nubuatnya pada 2012 tentang rekor Ballon d’Or Lionel Messi menjadi kenyataan pada akhir tahun ini (2021) atau lima tahun pascapesepakbola legendaris Belanda peraih tiga trofi bola emas itu mangkat. “Sejauh ini dia pemain terbaik di dunia. Dia mungkin akan memenangkan lima, enam, atau tujuh Ballon d’Or. Dia tiada bandingannya. Messi berada dalam nominasi karena dia memenangkan setiap titel penting, karena dia telah memenangkan dua Ballon d’Or dan akan memiliki koleksi Ballon d’Or terbanyak dalam sejarah,” kata Cruyff kepada media Argentina, Olé , 8 Januari 2012. Untuk ketujuh kalinya, Messi menerima penghargaan pesepakbola terbaik itu. Lewat penganugerahan yang berlangsung di Théâtre du Châtelet di Paris, Senin (29/11/2021) malam itu sekaligus menegaskan Messi menjadi pemain terbanyak yang mengoleksinya (2009, 2010, 2011, 2012, 2015, 2019, 2021). Baca juga: Lionel Messi, Alien Sepakbola yang Membumi Bintang Argentina yang membela klub Paris Saint-Germain (PSG) itu merengkuh trofi ketujuhnya setelah mendapat poin terbanyak dari 180 jurnalis yang jadi voters-nya. Dari 30 nama yang dinominasikan, Messi meraih 613 poin, diikuti Robert Lewandowski (Polandia/Bayern Munich) 580 poin, Jorginho (Italia/Chelsea) 460 poin, Karim Benzema (Prancis/Real Madrid) 239 poin, dan N’Golo Kanté (Prancis/Chelsea) 186 poin. Bintang Portugal yang main di Manchester United, Cristiano Ronaldo, dan Mohamed Salah (Mesir/Liverpool) hanya menempati urutan keenam dan ketujuh. Namun capaian Messi itu menuai suara sumbang. Media Jerman Bild menyatakan itu hasil skandal. Beberapa tokoh sepakbola, seperti Lewandowski, pun menganggap ada pemain lain yang lebih baik dan lebih pantas mendapatkannya ketimbang Messi. “Saya tidak yakin dengan (hasil Ballon d’Or) itu, 100 persen. Anda bisa selalu memberikannya kepada Messi atas kariernya tapi jika Anda tak memberikannya kepada Lewandowski kali ini, setelah tahun ini, akan cukup tricky baginya untuk mendapatkannya sama sekali. Dan Mo (Salah) harusnya mendapat hasil lebih tinggi. Votingnya oleh jurnalis, kan? Jangan tanya saya –itu salah kalian. Bicaralah pada para kolega kalian jika mestinya hasilnya berbeda,” tutur pelatih Liverpool Jürgen Klopp, dikutip ESPN , Selasa (30/11/2021). Baca juga: Wartawan Pencetus Ballon d'Or Jurgen Norbert Klopp bersama Mohamed Salah Hamed Mahrous Ghaly (kiri) & Robert Lewandowski ( liverpoolfc.com/fcbayern.com ) Kritikan lebih pedas dilayangkan Jean-Pierre Papin. Striker Prancis yang merengkuh Ballon d’Or 1991 itu menilai tahun ini Messi sedang dalam performa yang sangat buruk, terutama jelang kepindahannya dari Barcelona ke PSG pada Agustus lalu. Prestasinya hanya raihan Copa América 2020 bersama timnas Argentina. Itu berkebalikan dengan catatan Lewandowski tahun ini. Lewandowski memainkan 51 laga dengan 61 gol, sedangkan Messi dengan 56 laga hanya mengumpulkan 41 gol. Di klub, Messi hanya memenangkan Copa del Rey. Padahal, Lewandowski memenangkan Bundesliga, DFL-Supercup, dan Piala Dunia Antarklub. Jangankan dibandingkan dengan Lewandowski, prestasi Ronaldo di laga-laga penting MU masih dianggap lebih baik ketimbang Messi di PSG. Maka hasil itu dianggap kontroversi. “Dia (Messi) sempat tak bermain selama lima bulan! Sejak memenangkan Copa América, apa yang telah dilakukan Messi di Paris? Dia mencetak satu gol di liga, tiga di Champions League. Tahun ini dia tak laik mendapatkannya. Memilih Messi di 2021 hanya akan mendevaluasi Ballon d’Or karena sepertinya trofi itu tak lagi untuk diberikan kepada pemain yang sedang dalam performa tinggi,” kata Papin kepada Le Parisien . Baca juga: Argentina dan Trofi Copa America yang Dirindukan Lewandowski sendiri lewat akun Twitter -nya, @lewy_official , legawa dan bersikap sportif dengan mengucap selamat kepada Messi. Ucapan selamat itu mendorong Messi untuk menanggapinya. “Robert, Anda laik mendapatkan Ballon d’Or Anda. Tahun lalu semua orang tak sepakat jika Anda menang penghargaan ini. Semoga (penyelenggara) France Football akan memberikan Anda Ballon d’Or 2020. Kami semua yakin dan saya berharap Anda mendapatkannya di rumah,” kata Messi, dilansir talkSPORT , (Selasa 30/11/2021). Bukan kali ini saja pemenang Ballon d’Or banjir kritik. Berikut lima pemain yang meraihnya namun diliputi kontroversi: Igor Belanov (1986) Igor Ivanovich Belanov dan trofi Ballon d'Or 1986 ( francefootball.fr ) Bagi pecinta sepakbola era 2000-an kemari, nama Igor Belanov mungkin terdengar asing. Padahal, striker Uni Soviet yang membela Dynamo Kyiv itu memenangi Ballon d’Or tahun 1986. Karier sepakbola Belanov –kelahiran Odessa, Ukraina pada 25 September 1960– terdongkrak setelah bergabung dengan Dynamo Kyiv yang ditangani pelatih tenar Valery Lobanovski. Lobanovski yang menginspirasi Ralf Rangnick, pelatih Manchester United saat ini, kala menciptakan taktik gegenpressing yang kondang saat ini. Lewat tangan dingin Lobanovski, Belanov mulai dikenal sebagai pemain yang punya power dan kecepatan. Itu membuatnya setara dengan bintang Kyiv lain, Oleg Blokhin. Hasil dari duetnya adalah juara Piala Winners 1985-1986. Baca juga: Kisah Klopp, Liverpool dan Gegenpressing Namun, di level internasional, Belanov hanya mampu mengantarkan timnas Soviet ke babak 16 besar Piala Dunia 1986 dengan torehan empat gol sepanjang turnamen. Maka ketika 26 voters memenangkan nama Belanov meraih Ballon d’Or 1986 dengan 84 poin, banyak pihak terhenyak. Yang paling jengkel adalah Diego Maradona . Pasalnya, tahun 1986 tahun keemasannya baik di Napoli dan maupun timnas Argentina. “Sejak 1984 mestinya saya sudah menangkan (Ballon d’Or), tapi orang Prancis (Michel Platini) itu yang menang. Katakanlah saya menang sekali. Pada ’85 Platini menang lagi. Apakah dia membeli trofinya? Lalu pada ’86 Belanov yang menang. Igor Belanov? Di ’86? Ayolah! Itu tahun Piala Dunia di mana saya menang bersama Argentina, seandainya Anda lupa. Mestinya saya sudah dapat dua,” ujar Maradona dalam Touched by God yang ditulisnya bersama Daniel Arcucci. Maradona sial lantaran terbentur regulasi. Sebelum 1995, Ballon d’Or masih dikhususkan untuk pemain Eropa. Namun jika Maradona tidak bisa, banyak pihak menganggap Gary Lineker lebih pantas menerima trofi itu ketimbang Belanov. Pasalnya, bomber Inggris itu penampilannya lebih konsisten dan jadi topskorer Piala Dunia 1986 (enam gol). “Selain Maradona ada Careca dari Brasil tapi mereka tak bisa masuk nominasi karena dulu masih khusus pemain Eropa, jadi saya berasumsi saya yang akan menang. Tetapi voting-nya dilakukan para jurnalis dan mereka belum pernah memilih pemenang dari Blok Timur. Untuk alasan tertentu itulah mereka memilih Igor Belanov. Dia bukan pemain fantastis, terlepas membantu Dynamo Kyiv menang Piala Winners. Dia mengalahkan saya,” kata Lineker dalam Match of the Day: Our Ultimate Football Debates yang dituliskan bersama Alan Shearer dan Micah Richards. Matthias Sammer (1996) Matthias Sammer, satu dari sedikit pemain bertahan yang memenangi Ballon d'Or ( francefootball.fr ) Sekarang, bisa dibilang Sukar bahkan mustahil untuk pemain bertahan, apalagi kiper, bisa menang Ballon d’Or. Virgil van Dijk (Belanda/Liverpool) pernah nyaris menang pada 2019 tapi akhirnya kalah tujuh poin dari Messi. Maka selain Fabio Cannavaro (Italia/Juventus) pada 2006, hanya ada Matthias Sammer (Jerman/Borussia Dortmund) yang pernah memenangkannya (1996) kendati berkalang kontroversi. Pada 1996, jumlah voters sudah bertambah menjadi 51. Selain Sammer, kandidatnya di lima besar ada Ronaldo Luiz Nazario de Lima (Brasil/Inter Milan), Alan Shearer (Inggris/Newcastle United), Alessandro Del Piero (Italia/Juventus), dan Jürgen Klinsmann. Mulanya, banyak yang mengira pemenangnya akan jatuh pada Ronaldo (Brasil/Barcelona). Tahun itu kebintangannya tengah benderang dengan raihan trofi Copa del Rey, Supercopa de España , dan Piala Winners. Ronaldo juga jadi topskorer La Liga dan meraih European Golden Shoe. Baca juga: Kisah Alan Shearer di Arena Jika bukan Ronaldo, Ballon d’Or diprediksi akan jatuh ke kapten Jerman saat menjuarai Piala Eropa 1996, Klinsmann. Selain sukses dengan timnas, Klinsmann bersama Bayern memenangkan Bundesliga dan Piala UEFA. Klinsmann jadi pemain tersubur turnamen itu. Namun, banyak orang akhirnya tercengang ketika nama Sammer disebut sebagai pemenang Ballon d’Or 1996. Sammer unggul satu poin (144) dari Ronaldo (143). Shearer yang menempati urutan ketiga (107) jadi salah satu yang kaget dan kecewa. Dia masih bisa terima jika kalah dari Ronaldo, namun tidak dengan Sammer. “Saya pikir saya punya kesempatan memenangkan Ballon d’Or. Saya sudah melakukan segalanya yang saya bisa di tahun 1996: Saya finis topskorer di Piala Eropa musim panas itu, dan memecahkan rekor tranfer dunia ketika saya direkrut Newcastle, beberapa bulan setelahnya. Pada akhirnya saya hanya finis ketiga di bawah Matthias Sammer –si kapten Jerman– dan Ronaldo,” ungkap Shearer dalam Match of the Day: Our Ultimate Football Debates yang dituliskan bersama Gary Lineker dan Micah Richards. Luís Figo (2000) Kolase Luís Filipe Madeira Caeiro Figo yang menang Ballon d'Or menyingkirkan Francesco Totti (Twitter @ChampionsLeague) Dunia sepakbola pada peralihan abad XX ke XXI melahirkan banyak pemain jempolan. Namun, tak satupun dari mereka yang lantas dimenangkan oleh 51 voters untuk trofi Ballon d’Or 2000. Awalnya, publik memprediksi Zinedine Zidane yang akan menang. Selain tengah onfire bersama Juventus, dia menjadi motor Prancis menjuarai Piala Eropa 2000 dan Zidane jadi pemain terbaiknya. Selain Zidane, kandidat kuat peraih Ballon d’Or 2000 adalah Francesco Totti . Striker AS Roma dan Italia itu jadi pemain terbaik Serie A 2000, man of the match final Piala Eropa 2000, dan sedang menyongsong titel Serie A bersama Roma . Baca juga: AS Roma Harga Mati bagi Francesco Totti Namun, tak satupun dari kandidat kuat itu yang menang Ballon d’Or 2000. Justru Luís Figo yang keluar sebagai pemenangnya dengan 197 poin, mengalahkan Zidane (181 poin) dan Shevchenko (85 poin). Publik pun bertanya. Pasalnya, gelandang Portugal itu sepanjang tahun 2000 hanya punya prestasi berupa pemain asing terbaik La Liga 1999 dan 2000, mengantarkan Barcelona ke semi-final Champions League, dan runner-up La Liga 1999-2000. Figo juga tengah jadi sasaran murka fans Barcelona lantaran pada Juli 2000 membelot ke musuh bebuyutan, Real Madrid. Toh, Figo tetap jadi pemenangnya. Namun butuh waktu lama baginya untuk mengakui bahwa trofi itu lebih pantas diraih Totti. “Francesco yang luar biasa, kamu bertambah tua ya? Ulang tahun ke-40, harapan terbaik untukmu, temanku. Dan saya minta maaf telah mencuri Ballon d’Or di tahun 2000 –kamu yang pantas mendapatkannya,” kata Figo dalam video ucapan ulangtahun, dikutip Football-Italia , 27 September 2016. Pavel Nedvěd (2003) Pavel Nedvěd saja kaget menang Ballon d'Or 2003 ( francefootball.fr ) Tahun 2003 adalah tahun kejayaan Thierry Henry (Prancis/Arsenal) dan Paolo Maldini (Italia/AC Milan). Nama-nama seperti Zinedine Zidane (Prancis/Real Madrid), Andriy Shevchenko (Ukraina/AC Milan), dan Raúl González (Spanyol/Real Madrid) pun tak kalah ciamik lantaran punya peran besar di tim masing-masing. Henry punya catatan 42 gol dan 26 assist , baik untuk Arsenal maupun timnas Prancis, dalam setahun itu. Publik pun banyak yang menjagokan pemain kunci di skuad “The Invincibles” Arsenal asuhan Arsène Wenger itu. Tetapi di malam penganugerahan Ballon d’Or 2003, kejutan terjadi. Pavel Nedvěd (Rep. Ceko/Juventus) mendapatkan 45 poin dari 52 voters sehingga memenangkannya. Henry harus puas di tempat kedua (37), dan Maldini (38) di posisi tiga. Baca juga: Trofi Piala Dunia Tinggal Kenangan Padahal, Nedvěd bukan satu-satunya pilar kunci Juventus kala menang Scudetto musim 2002-2003. Ia pun gagal tampil di final Champions League 2002-2003 karena akumulasi kartu kuning. Oleh karenanya, Nedvěd mengaku kaget saat namanya disebut sebagai pemenang. “Saya bahkan tak pernah memimpikannya. Saya dengar hanya jadi bagian dari nominasi tapi saya tak pernah berpikir bakal menang. Ada banyak pemain yang permainannya bagus di musim ini, seperti Zidane, Maldini, dan Raúl. Henry bagi saya adalah penyerang terbaik saat ini. Saya tak pernah berpikir bisa mengalahkan Henry, Maldini atau Zidane dan jika saya berhak voting, saya akan memilih Thierry di podium,” tutur Nedvěd, dinukil BBC , 22 Desember 2003. Cristiano Ronaldo (2013) Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro mengoleksi Ballon d'Or keduanya pada 2013 ( realmadrid.com ) Gelar juara Bundesliga, ceklis. DFB Pokal, ceklis. Trofi Champions League, ceklis. Piala Super Eropa, ceklis. Piala Dunia Antarklub, ceklis. Lembar prestasi Frank Ribéry bersama Bayern Munich di tahun 2013 sepertinya sudah kehabisan kolom ceklis. Ia juga pemain terbaik dan top- assist Bundesliga musim 2012-2013 dan peraih bola emas Piala Dunia Antarklub 2013. Namun apes buat winger lincah berpaspor Prancis itu lantaran sejumlah ceklis itu belum cukup untuk membuatnya dianugerahi Ballon d’Or. Ballon d’Or tahun 2013 yang masih diselenggarakan bareng FIFA jatuh ke tangan Cristiano Ronaldo (Portugal/Real Madrid) dengan 1.365 suara. Itu jadi Ballon d’Or kedua Ronaldo setelah 2008. Ronaldo mengalahkan Messi (Argentina/Barcelona) di tempat kedua dengan 1.205 suara. Ribéry yang sudah memenangkan banyak hal cuma bertengger di tempat ketiga dengan 1.127 suara. Memang kalau soal gol, Ribéry masih kalah dari Ronaldo atau Messi. Dari semua ajang, klub maupun internasional, tahun 2013, Ronaldo membukukan 66 gol dari 56 laga; Messi 42 gol dari 45 laga; dan Ribéry 22 gol dari 52 laga. Tetapi jika bicara raihan trofi, di tahun itu Ronaldo puasa gelar. Messi lebih baik, dia merengkuh titel La Liga. Sedangkan Ribéry, memenangkan segalanya. Terang saja Ribéry sewot. Sampai 2019 pun ia mengenang momen itu sebagai “perampokan” berbau politis. “Lebih dari sekadar kekecewaan. Itu adalah ketidakadilan terbesar, tak hanya dalam karier saya tapi juga bagi banyak orang. Saya tak merasa harus iri pada Messi atau Ronaldo tahun itu. Saya mengatakannya dengan segala kerendahan hati karena itulah kebenarannya. Saya memenangkan segalanya. Ronaldo tak memenangkan apapun. Saya merasa pantas mendapatkan penghargaan itu. Itu semua karena politik,” ujarnya, dikutip Essentially Sports , 14 Juni 2019. Baca juga: Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira
- Perjuangan Mirabal Bersaudari untuk Hak Asasi
Hujan lebat mengiringi perjalanan pulang kakak-beradik Patria Mercedes Mirabal (1924-1960), Minerva Argentina Mirabal (1927-1960), dan Maria Teresa Mirabal (1935-1960) pada 25 November 1960. Mereka habis menjenguk Manuel “Manolo” Tavarez Justo, suami Minerva, dan Pedro A. Gonzales, suami Patria, yang masih dipenjara oleh diktator Republik Dominika Rafael Leonidas Trujillo di Penjara San Felipe, Puerto Plata. Dalam perjalanan pulang menuju Salcedo, tempat asal mereka, itu mereka disetop sekelompok orang di tengah perjalanan antara Puerto Plata dan Santiago De Los Caballeros. Para penyetop ternyata merupakan polisi rahasia yang ditugaskan langsung oleh Presiden Trujillo yang terkenal korup dan anti-kritik. Kendati tak mengetahui alasan penyetopan itu, Mirabal Bersaudari mungkin menyadari penyetopan itu terkait dengan aktivitas politik mereka. Mirabal Bersaudari merupakan penentang rezim Trujillo terpopuler. Mereka merupakan anak pasangan Enrique Mirabal Fernandez dan Mercedes Reyes. Enrique merupakan pengusaha lokal di Salcedo yang bidang usahanya meliputi perkebunan kopi, pabrik pengolahan kopi dan beras, pergudangan, peternakan, dan toko daging. Kekayaan Enrique membuat keempat putrinya, termasuk Belgica Adela Mirabal Reyes (anak kedua, biasa dipanggil Dede), bisa bersekolah di El Colegio de la Imaculada di kota La Vega hingga tingkat menengah atas. Sekolah Katolik itu merupakan salah satu sekolah asrama swasta paling bergengsi di Dominika. Minerva menjadi anak yang paling menonjol di antara saudari-saudarinya. Dia amat suka membaca. “Minerva yang lahir pada 12 Maret menunjukkan tanda-tanda kecerdasan luar biasa sejak usia sangat dini. Pada saat baru berusia tujuh tahun, dia bisa membacakan sajak-sajak penyair Prancis. Dia juga pada usia 12 tahun, dikirim ke Sekolah Menengah Katolik Inmaculada Conception bersama saudarinya Patria dan Dede. Seperti saudarinya Patria, dia juga menghargai dan menikmati seni terutama karya Pablo Picasso, kecintaan utamanya adalah menulis dan membaca puisi dan menyukai Juan Pablo Neruda,” demikian The Real Dominican Republic ( menuliskannya dalam “Who Were the Mirabal Sisters?” yang didokumentasikan web.archive.org , 17 Desember 2013. Ketertarikan Minerva pada politik dimulai di sekolah menengah atas. Itu dilatarbelakangi oleh pengalaman pahit teman-temannya. Sejumlah temannya mengaku punya kerabat yang ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh oleh aparat rezim Trujillo. Pengalaman itu mendorong Minerva terjun ke dunia politik dengan menjadi aktivis anti-Trujillo bawah tanah. Minerva menjadi orang pertama di antara saudari-saudarinya yang terjun ke politik. Pengetahuan Minerva akan bobroknya rezim Trujillo membuatnya tak hanya mengandalkan bacaan untuk mendapat informasi yang lebih baik. Siaran radio-radio “ilegal” dari luar negeri juga dijadikannya bagian dari keseharian. “Sejak awal, Minerva menunjukkan semangat patriotik, keyakinan, dan kepemimpinan yang paling kuat. Dia adalah seorang pembaca rakus yang memverifikasi validitas berita yang diterbitkan di suratkabar-suratkabar lokal dengan mendengarkan stasiun-stasiun radio dari Kuba dan Venezuela, yang dia rasa memberikan perspektif lebih baik tentang politik,” tulis Serafin Mendez-Mendez, Gail Cueto, dan Neysa Rodriguez Deynes dalam Notable Caribbeans and Caribbean Americans: A Biographical Dictionary . Aktivitas politik itu mengakibatkan Minerva menjadi tahanan rumah bersama ibunya pada Oktober 1942, sementara ayahnya dipenjara. Perkaranya dimulai ketika keluarga Mirabal menghadiri pesta yang diadakan Trujillo di San Cristobal untuk mengenang penemuan Benua Amerika oleh Christophorus Columbus. Hujan mulai turun ketika pesta luar-ruang itu baru dimulai. Enrique langsung memanfaatkannya untuk mengajak anggota keluarganya pulang. Di luar dugaan mereka, hal itu membuat Trujillo marah. “Aturan etiket khusus Trujillo tidak mengizinkan siapapun meninggalkan kegiatannya tanpa izinnya atau sebelum kepergiannya. Hari berikutnya, dalam tindakan yang diulang berkali-kali, Enrique Mirabal dipenjara dan istrinya serta Minerva ditahan di sebuah hotel lokal sebagai tahanan rumah. Salah satu syarat untuk pembebasan Minerva adalah dia harus menulis surat permintaan maaf kepada diktator, yang tidak pernah dia lakukan,” sambung Serafin, Gail, dan Neysa. Ketidakmauan Minerva menulis surat permintaan maaf membuatnya harus menjalani interogasi setelah dipindah ke Benteng Ozama. Minerva diinterogasi tentang aktivitas politiknya langsung oleh dua orang kepercayaan Trujillo paling ganas. “Minerva dituduh komunis dan interogatornya adalah dua orang Trujillo paling ganas, bernama Fausto Caaman Medina dan Manuel de Moya,” tulis The Real Dominican Republic. Kendati terus dipaksa untuk menulis surat permintaan maaf, Minerva menolak. Dia tetap ditahan. Namun karena keluarga Mirabal cukup dihormati, Trujillo yang amat butuh citra positif publik akhirnya membebaskan mereka. Kendati secara politis amat berseberangan, Minerva tetaplah gadis berpenampilan menarik. Trujillo “Si Bandot Tua” amat terobsesi mendapatkan Minerva sebagaimana dia terobsesi pada gadis-gadis lain sebelumnya. Trujillo dikenal suka membangun rumah di seluruh negeri untuk ditempati gadis-gadis simpanannya. “Pemerintahan Trujillo sangat buruk bagi perempuan. Dia akan mengirim ‘ BeautyScout’ ke seluruh negeri untuk menemukan perempuan dan mengundang mereka ke pestanya atau, jika gagal, menculik mereka,” kata Hannah Jewell dalam 100 Nasty Women of History: Brilliant, Badass and Completely Fearless Women Everyone Should Know. Trujillo ingin memperlakukan Minerva sebagaimana gadis-gadis lain yang telah didapatnya. Pada suatu hari di tahun 1949, Trujillo mengundang Minerva dan saudari-saudarinya ke pesta yang dihelatnya. Di pesta yang dihadiri Mirabal bersaudari itu Trujillo melamar Minerva. Namun, lamaran itu bertepuk sebelah tangan. Trujillo amat marah. Segala upaya kemudian dilakukannya untuk mendapatkan Minerva. “Di lain waktu, ketika Minerva dan ibunya menginap di sebuah hotel, mereka dikunci di kamar mereka dan diberitahu bahwa mereka tidak akan diizinkan keluar sampai Minerva setuju untuk tidur dengan Trujillo,” sambung Hannah Jewell. Kebencian Minerva terhadap Trujillo pun kian menggelora. Terlebih keluarganya silih berganti keluar-masuk penjara. Perlawanannya pun kian kencang. Akibatnya, dia menjadi musuh rezim. Ditambah soal makalahnya untuk tugas akhir kuliahnya yang berisi saran agar ada perubahan hukum dalam pemerintahan, Minerva terpaksa kehilangan kuliahnya pada 1952. Dia memilih dikeluarkan dari kampus ketimbang tetap kuliah namun harus memenuhi persyaratan dari Trujillo berupa berpidato dengan isi memuji-muji Trujillo. Kendati menganggur, aktivitas politik Minerva tetap berlanjut. Dia bahkan acap ke Santo Domingo untuk menemui rekan-rekanya sesama aktivis anti-Trujillo. Kiprah politik Minerva amat mempengaruhi Maria adiknya. Berbeda dari Patria yang mulai terjun ke dunia politik setelah melihat pembantaian yang dilakukan anak buah Trujillo di sebuah kegiatan keagamaan, Maria terjun ke politik setelah tinggal di rumah Minerva. Ketiga bersaudari itu lalu bersatu dengan para aktivis anti-Trujillo lain di berbagai kota terus menyuarakan ideologi yang mempromosikan kebebasan, kesetaraan, pendidikan, serta kebebasan memilih dan berkehendak. Mirabal Bersaudari, yang dijuluki “Kupu-Kupu”, pada akhirnya menjadi idola kelas menengah dan bawah rakyat Dominika. Banyak orang, kata Susan K. Opt dan Mark A. Gring dalam The Rhetoric of Social Intervention: An Introduction , menghentikan mereka ketika bertemu di jalan, gereja, atau toko hanya untuk berterima kasih karena berani melawan hierarki sosial-politik di Dominika yang dipuncaki Trujillo. Mereka mendoakan agar Mirabal Bersaudari baik-baik. “Intervensi Mirabal Bersaudari membentuk bagaimana orang lain melihat peran mereka dalam sistem sosial. Semakin banyak orang mulai menyadari bahwa mereka dapat menukar kehidupan yang mereka miliki dengan interpretasi Mirabal Bersaudari untuk mencapai negara yang lebih baik melalui perdamaian, kebebasan, kesetaraan, pendidikan, dan sebagainya,” tulis Susan dan Mark. Mirabal Bersaudari memainkan peran penting dalam Gerakan 14 Juni 1959 yang dikepalai Manolo, suami Minerva. Gerakan tersebut menjadwalkan hari itu sebagai hari-H Luperon Invasion, operasi pengiriman para anggota Dominican Liberation Movement (DLM) ke kota-kota Constanza, Estero Hondo, dan Maimon di bawah komando Enrique Jimenez Moya. DLM terdiri dari eksil-eksil Dominika yang didatangkan untuk invasi tersebut. Namun, invasi itu mati sebelum lahir karena rezim Trujillo sudah menciumnya. Akibatnya, lebih dari 100 anggota Gerakan 14 Juni ditangkap aparat dan kebanyakan ditahan di Penjara “angker” La Cuarenta untuk kemudian disiksa dan dibunuh. Setelah Manolo dan Minerva, keluarga Mirabal berikutnya yang ditahan adalah Maria dan Leandro, diikuti Pedro A. Gonzales. Hanya Patria yang tidak ditahan, kendati suami dan anaknya ikut ditahan. Selain ditahan, keluarga Mirabal mesti rela dimiskinkan rezim Trujillo dengan penyitaan tanah, mobil, dan rumah mereka. Toh, tindakan Trujillo tidak menciutkan nyali Patria dan saudari-saudarinya yang ditahan. “Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam rezim yang korup dan tiran ini, kita harus melawannya, dan saya bersedia menyerahkan segalanya, termasuk hidup saya jika perlu,” demikian kalimat terpopuler Patria. Sebagaimana Mirabal Bersaudari, nyali para pemuda dan rakyat kebanyakan juga semakin tersulut dengan sikap kejam yang dilakukan aparat Trujillo. Perlawanan terhadap rezim terus berlangsung. Gereja Katolik bahkan ikut bergabung. “Iklim politik saat ini berubah dan semakin banyak kaum muda kelas menengah Dominika mulai menentang Trujillo dan rezimnya yang ditakuti,” tulis The Real Dominican Republic. Perlawanan terhadap Trujillo semakin besar setelah negara-negara di kawasan Karibia dan Amerika mulai memberi perhatian dan dukungan. Negara-negara di kawasan bahkan mengirim utusan-utusan mereka untuk melihat realitas di Dominika yang banyak kehilangan nyawa rakyatnya akibat tindakan kejam Trujillo. Venezuela dan Amerika Serikat yang tadinya merupakan sekutu Dominika berbalik menjadi lawan. Kuba di bawah Fidel Castro menjadi penyokong utama gerakan perlawanan terhadap Trujillo. “Saya katakan bahwa dari setiap seratus pemuda yang berusia lima belas tahun pada 1956, sembilan puluh sembilan akan bermimpi menjadi Fidel Castro,” kata Juan Bosch, lawan politik Trujillo, dikutip Alex von Tunzelmann dalam Red Heat: Conspiracy, Murder and the Cold War in the Caribbean. Dukungan Castro membuat Trujillo berang. Dia segera menugaskan Johhny Abbes Garcia, orang kepercayaannya. “Trujillo memberi tugas kepada Abbes untuk menyingkirkan Fidel,” sambung Tunzelmann. Namun, Trujillo tidak pernah berhasil menundukkan Casrto. Sebaliknya, tekanan negara-negara lain membuatnya harus melunak. Minerva dan Maria tidak pernah disiksa lagi sejak itu. Padahal, sebelumnya Trujillo amat kejam terhadap tahanannya. Mirabal Bersaudari “kenyang” mengalaminya. “Anak buah Trujillo menyiksa saya di dalam La 40. Mereka menahan saya dan menusuk saya dengan tongkat listrik. Saya berteriak dan rasa sakitnya sangat buruk. Semua penjaga malu pada diri mereka sendiri. Aku berjalan keluar sendirian,” kata Maria dalam diary -nya tanggal 11 April 1960. Tekanan negara lain pula yang membuat Trujillo membebaskan Minerva dan Maria pada 8 Agustus 1960. Alhasil, dari keluarga Mirabal yang tersisa di penjara hanya suami-suami mereka: Manolo dan Pedro di La Cuarenta lalu dipindah ke Penjara San Felipe, sedangkan Leandro di Penjara La Victoria di Santo Domingo. Mirabal Bersaudari juga diberi hak menjenguk suami-suami mereka kendati amat jarang dan terbatas durasinya. Kesempatan itu dimanfaatkan Mirabal Bersaudari untuk menengok Pedro dan Manolo di Puerto Plata. Dalam perjalanan pulang usai menjenguk pada 25 November 1960 itulah mereka dihentikan oleh sekelompok polisi rahasia di tengah perjalanan antara Puerto Plata dan Santiago De Los Caballeros. Setelah dipaksa keluar dari mobil di tengah hujan lebat yang turun malam itu, mereka digiring ke pinggir jurang. “Setelah menghentikan mereka, kami membawa mereka ke tempat di dekat jurang di mana saya memerintahkan Rojas untuk mengambil beberapa tongkat dan mengambil salah satu gadis, dia mematuhi perintah dan mengambil salah satunya, yang memiliki rambut kepang panjang, itu adalah Maria. Alfonso Cruz mengambil yang tertinggi, yaitu Minerva, dan Malleta mengambil pengemudi, Rufino de la Cruz. Saya perintahkan masing-masing untuk pergi ke kebun tebu di pinggir jalan, masing-masing dipisahkan agar para korban tidak merasakan eksekusi satu sama lain, saya perintahkan Perez Terrero untuk tetap di tempat dan melihat apakah ada orang datang yang bisa mengetahui situasi. Itulah kebenaran situasinya,” ujar Ciriaco de la Rosa, pemimpin polisi rahasia yang ditugaskan langsung Trujillo itu, dikutip The Real Dominican Republic . Mirabal Bersaudari dan sopir Rufino lalu dipukuli kemudian dicekik hingga tewas malam itu juga. Jasad mereka lalu dimasukkan ke dalam mobil yang digunakan sebelumnya. Mobil itu kemudian didorong ke dalam jurang sehingga kematian mereka terkesan alami akibat kecelakaan. Namun, publik yang marah tetap meyakini kematian mereka dilakukan olah orang-orang suruhan Trujillo. Kematian mereka, yang pada 1999 dijadikan Majelis Umum PBB sebagai International Day for the Elimination of Violence against Women, membawa Trujillo memasuki masa akhir kekuasaannya. “Pembunuhan Mirabal Bersaudari membuat marah mayoritas penduduk dan dianggap sebagai salah satu peristiwa yang membantu mendorong sentimen anti-Trujillo yang menyebabkan pembunuhannya enam bulan kemudian,” tulis Serafin, Gail, dan Neysa.
- Watford, Klub Semenjana Kesayangan Elton John
SEBULAN jelang Boxing Day , Liga Inggris musim 2021-2022 sudah sarat kejutan. Salah satunya datang dari tim mapan dan kaya pemain bintang yang sedang “gangguan mental”, Manchester United (MU). Dibekuk Aston Villa 0-1, Leicester City 2-4, Liverpool 0-5, dan Manchester City 0-2, Sabtu (20/11/2021) lalu giliran MU kehilangan muka akibat dikalahkan Watford FC, 1-4. Vicarage Road, kandang “The Hornets” (julukan Watford), jadi saksi bisu bagaimana gawang Manchester United yang dikawal David De Gea jadi lumbung gol tim semenjana yang pernah dipimpin musisi flamboyan legendaris Sir Elton John itu. Jika pelatih “Setan Merah” Ole Gunnar Solskjær makin dihempas isu pemecatan, pelatih Watford Claudio Ranieri mengaku puas mendulang tiga poin penting demi bisa menghindari zona merah. “Sungguh performa yang fantastis. Babak pertama kami bermain luar biasa. Kami terus menekan dan bisa mencetak banyak gol dan pada akhirnya kami menang. Tiga poin ini sangat penting,” kata Ranieri di laman klub , Sabtu (20/11/2021). Di pekan ke-12, Watford bertengger di urutan 16 klasemen. Ia hanya berjarak satu posisi dari zona degradasi. Watford butuh konsistensi performa jika tak ingin langsung jatuh lagi ke kasta kedua. Pasalnya, Watford musim lalu baru promosi ke Premier League. Terlebih Watford dalam sejarahnya termasuk tim medioker yang paling sering “numpang lewat” di divisi teratas. “Kemenangan (atas Manchester) ini sangat penting namun saya ingin melihat konsistensi dalam performa berikutnya. Kami tak mendapatkan konsistensi itu sejak menang dari Everton ( 23 Oktober 2021), jadi saya butuh para pemain menunjukkan bahwa mereka telah belajar akan filosofi permainan ketika kami menghadapi laga berikutnya,” tandas eks-pelatih Chelsea, Juventus, AS Roma, dan Inter Milan tersebut. Baca juga: Setan Merah Berharap Tuah Claudio Ranieri (kanan) saat mendampingi timnya membantai MU 4-1 ( watfordfc.com ) Hasil Amalgamasi Watford Football Club (FC) yang diklaim lahir pada 1881 adalah tim hasil amalgamasi atau peleburan dua tim amatir pada akhir abad ke-19, yakni Watford Rovers dan Watford St. Mary. Menukil Oliver Phillips dalam The Official Centenary History of Watford FC 1881-1991 , Watford Rovers lahir dari gagasan sekelompok remaja kota Hertfordshire, Inggris, seperti Henry Grover dan Charlie Peacock. Sebagaimana warga Hertfordshire, Grover cs. mulanya bangga akan tim sepakbola kota mereka, Hertfordshire Rangers, yang punya prestasi lumayan sejak lahirnya pada 1865. Sayangnya Rangers di era akhir 1870-an mulai menukik bersamaan animo warganya. Itulah yang membuat Grover dan teman-temannya ingin menggalakkan kembali sepakbola. Kebetulan, mereka didukung George Devereux de Vere Capell alias Earl, bangsawan setempat bergelar Earl of Essex. Sang Earl kemudian mengizinkan Grover dkk. memainkan sepakbola di lahannya di Cassiobury Park. Pada 1881, para remaja itu sepakat mendirikan Watford Rovers. Seiring bubarnya Rangers pada 1882, Rovers didongkrak dengan pemberitaan media lokal Watford Observer yang juga didirikan Peacock. “Selama lima tahun pertama, tim (Watford Rovers) berpartisipasi secara eksklusif dalam laga-laga persahabatan melawan tim sekolah-sekolah dan klub-klub lokal. Pada musim 1888-1887, Watford Rovers berpartisipasi di FA Cup untuk pertamakali walau mereka langsung tersisih di pertandingan pembuka,” ungkap Phillips. Baca juga: Balada Klub Antah Berantah Como 1907 Stadion Vicarage Road, dulu (atas) dan kini ( watfordfc.com ) Tetapi pada 1891, reorganisasi terjadi. Watford Rovers dijadikan bagian dari sebuah perkumpulan olahraga bernama West Hertfordshire Club and Ground. Rovers yang mulanya tampil khusus di sepakbola, berubah nama jadi West Herts pada 1893 dan pindah markas tim dari Cassiobury Park ke Cassio Road. Setelah beberapa lama hanya tampil di beberapa turnamen lokal, West Herts, yang sudah berevolusi dari tim amatir menjadi profesional, mulai mentas di kompetisi kasta ketujuh, Southern Football League pada 1896. Sementara, di Hertfordshire juga muncul satu tim yang performanya mencolok, yakni Watford St. Mary. Watford St. Mary yang lahir pada 1893 langsung jadi runner-up di turnamen Hertfordshire Senior Cup 1894-1895. Para petinggi kedua klub lalu mulai melakukan pembicaraan amalgamasi. Suratkabar Watford Observer pada 7 Mei 1898 mengungkapkan, kedua klub pada 15 April 1898 sepakat untuk beramalgamasi dengan penetapan nama klub: Watford Football Club. Baca juga: Aston Villa Punya Cerita Skuad Watford St. Mary pada 1898 jelang beramalgamasi menjadi Watford FC ( Watford Observer 9 April 1898) Sejarah Baru di Tangan Elton John Tak pernah ada prestasi istimewa bagi Watford dari awal 1900-an sampai 1970-an. Tim yang berbasis di Vicarage Road itu berulangkali hanya wara-wiri di kasta kedua, ketiga, bahkan keempat. Angan-angan Watford tampil di kompetisi teratas First Division (kini Premier League) bagai pungguk merindukan bulan. Namun Watford memijak sejarah baru setelah dibeli musisi Reginald Kenneth Dwight alias Elton John pada 1976. Elton yang lahir di Pinner pada 25 Maret 1947 mengaku sejak kecil sudah fans Watford. “Seperti lazimnya orang Inggris, dia mencintai sepakbola. Dia tumbuh menyaksikan tim lokal (Watford) dari tribun dan ketika dia mencapai level superstardom, dia berinvestasi pada klub dan masuk dalam jajaran direktur. Elton penggemar terbesar dan paling terkenal bagi Warford. Setiap ia datang menonton, kerumunan penonton memujanya, walau saya yakin di dalam hatinya, ia hanya ingin hadir sebagai penggemar biasa,” tulis fotografer Terry O’Neill dalam Elton John by Terry O’Neill: The Definitive Portrait with Unseen Images. Baca juga: Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal Elton John (kiri) & Graham Taylor ( watfordfc.com ) Elton punya ambisi membawa Watford mencapai level teratas. Karena itulah Elton tak sembarangan mencari orang untuk menangani tim. Terlebih, Elton juga punya misi dan visi baru di mana klub, terutama para pemainnya, mesti bisa lebih terbuka dan dekat dengan fans dan warga sekitar. Visi dan misi ini sejalan dengan Graham Taylor, pelatih yang menggantikan George Kirby. “Taylor yang menjadi manajer Watford mulai 1977, paham bahwa aktivitas sosial para pemain bisa meningkatkan image klub bagi warga kota, membuat para pemain bisa lebih bertanggungjawab kepada fans dan ikatan kepada klub. Para pemain punya klausul dalam kontrak-kontrak mereka yang mewajibkan mereka ikut pekerjaan sosial-kemasyarakatan selama beberapa jam dalam sepekan,” singkap Andrew Ward dan John Williams dalam Football Nation: Sixty Years of the Beautiful Game. Perlahan tapi pasti, animo warga kota melonjak lagi. Di awal-awal kepemimpinan Elton di kursi ketua dan Taylor sebagai manajer, tingkat keterisian Vicarage Road melonjak dari rata-rata lima ribu penonton menjadi 20 ribu. Elton juga jadi saksi kala Watford bikin gempar Old Trafford, kandang Manchester United, dengan mengalahkan tuan rumah 2-1 dan menyisihkannya dari League Cup pada 4 Oktober 1978. “Malam di mana kami menyingkirkan Manchester United dari League Cup di Old Trafford, saat kami masih berada di divisi ketiga, media massa yang biasanya tak pernah peduli, mulai menulis tentang Watford dan memberi julukan ‘Elton John’s Rocket Men’ keesokan paginya,” kenang Sir Elton dalam otobiografinya, Me: Elton John. Baca juga: Kisah Sean Connery Menolak Pinangan Manchester United Watford menekuk Man. Utd 2-1 di Ronde Ketiga League Cup 1983-1984 ( watfordfc.com ) Momen yang dinantikan pun tiba. Watford sukses promosi ke First Division pada 1982 setelah menjadi runner-up Second Division. Elton cukup puas ketika Watford mampu mencapai final FA Cup 1984 kendati harus mengakui keperkasaan Everton, 2-0, di Stadion Wembley, 18 Mei 1984. Elton cukup emosional melihat lonjakan performa Watford. “Jika bukan karena klub, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada saya. Saya rasa Watford menyelamatkan hidup saya. Saya menjadi ketua klub seiring periode terburuk hidup saya: kecanduan, ketidakbahagiaan, hubungan yang kandas, kesepakatan bisnis yang buruk, urusan hukum. Di balik itu semua Watford menjadi sumber kebahagiaan yang konstan,” imbuhnya. Tiga tahun berselang, seiring kesibukannya di dunia hiburan sehingga tak bisa membagi waktu, Elton menjual Watford kepada pebisnis otomotif Sir Jack Petchey. Kendati begitu, Elton tetap diberi status presiden kehormatan klub sampai saat ini. Kecintaannya pada Watford tak pernah luntur kendati performa tim kembali labil dan naik-turun di kasta pertama dan kedua pada era 1990-an. Elton jadi salah satu orang paling bahagia saat Watford kembali mentas di Premier League musim 2021-2022. “Watford selalu ada di hati saya, jiwa saya, Anda tak bisa menyingkirkannya. Gairah saya terhadap klub ini tak pernah mati dan saya sangat bangga,” tandasnya di laman klub , 12 Mei 2021. Baca juga: Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali Sir Elton John bersama skuad Watford FC 2021-2022 ( watfordfc.com )
- Misteri Insiden Memali
Hari ini, 19 November, 36 tahun lalu. Ustad Marzuki tidak mengajar di sekolah desanya di Desa Memali, Baling, Kedah, Malaysia. Hari itu dia mengajar di sebuah sekolah di distrik lain. Namun karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, dia menyempatkan pulang sejenak saat jam istirahat tiba. “(Saat, red .) Tragedi itu terjadi, saya sedang dalam perjalanan pulang ke Memali, karena saya sedang jam istirahat sekolah, saya mengajar di distrik lain dan ingin pulang sebentar, ujar Marzuki sebagaimana dikutip Dina Zaman, penulis-aktivis Malaysia, dalam Holy Men, Holy Women: A Journey Into the Faiths of Malaysians and Other Essays . Tragedi yang dikatakan Marzuki adalah Memali Incident. Insiden tersebut dipicu upaya penangkapan Ustad Ibrahim Mahmud alias Ibrahim Libya oleh aparat kepolisian yang dibantu militer Malaysia. Ibrahim merupakan seorang guru di Memali yang usianya sedikit lebih tua dari Marzuki. Setelah lulus dari Sekolah Agama Ittifaqiah Kampung Carok Putih dan Pondok AL-Khariah di Seberang Perai, dia melanjutkan studinya ke berbagai negara. Selain ke India dan Al-Azhar (Mesir), Ibrahim berkuliah di University of Tripoli, Libya – nama yang kemudian dilekatkan padanya menjadi nama alias. Sepulang dari kuliah, Ibrahim memboyong keluargnya ke Kuala Lumpur. Di sana dia bekerja di Pusat Islam. Ibrahim mendapat tugas berdakhwah mengenai Islam. Dia bahkan kerap tampil di televisi. Namun, gaya hidup materialistis di Kuala Lumpur membuatnya tidak nyaman. Ibrahim mencoba mengubah keadaan namun tak banyak berhasil. Terlebih, Pusat Islam tidak bisa membantunya lebih banyak. “Mimpinya adalah untuk menyebarkan pesan Islam, dan bekerja di Pusat Islam tidak memberinya kebebasan untuk berdakwah dan melakukan apa yang dia inginkan,” sambung Marzuki. Baca juga: Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara Ibrahim lalu memboyong anak-istrinya ke Memali. Kemampuannya bercerita dan humor di samping mampu berkomunikasi dengan pemuda menggunakan bahasa mereka amat baik. Ibrahim mampu dan mau mendengarkan curhatan mereka yang umumnya hanya petani miskin, dia mengerti apa yang menjadi mimpi mereka. Itu semua membuatnya disukai banyak orang. Kondisi tersebut membuat Ibrahim mendapatkan suasana yang memungkinkannya untuk berdakwah dengan berkeliling memberi ceramah kepada masyarakat. “Sejujurnya, dia bukan seorang politisi atau politikus. Tapi dia sangat bersemangat tentang Islam dan kemerosotan kehidupan Muslim di Malaysia. Dan dia juga mengamati anak-anak di sekitar desa, dan keputusasaan dan pengangguran mereka. Orang Memali tidak kaya. Kehidupan dulu dan sekarang sama saja. Tidak ada yang berubah,” kata Marzuki. Pada 1982, Ibrahim mulai terjun sebagai penceramah. Seturut waktu, namanya semakin populer di Memali dan sekitarnya. “Orang-orang dari jauh dalam jumlah besar mendengar tentang Ibrahim, dan terkadang sekira seribu orang menghadiri ceramahnya,” tulis Dina. Popularitas Ibrahim didapat dari keadaan Malaysia yang sedang “dimeriahkan” oleh kebangkitan Islam. Masifnya desakan budaya pop seperti dance dan punk di kota-kota besar Malaysia membuat masyarakat, terutama yang konservatif, “haus” akan ha-hal spiritualitas. Di Baling, yang banyak dihuni petani miskin, nilai-nilai Islam seperti keadilan mendapat banyak pendukung. Hal itu bertemu dengan keinginan para aktivis-mahasiswa yang memperjuangkan keadilan. Akibatnya, kebangkitan Islam di Baling cukup signifikan. “Di selatan Thailand di Malaysia, Anwar Ibrahim dan aktivis mahasiswa lain yang terinspirasi Ikhwanul Muslimin membentuk gerakan Islam Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) pada 1971. Pada 1974 ABIM mengumpulkan pemuda pedesaan yang miskin di Baling untuk memprotes kondisi serupa dengan yang dialami oleh Melayu-Muslim miskin, diskriminasi pemerintah, kurangnya perwakilan politik. Perambahan wilayah tradisional Melayu-Muslim oleh petani Utara dan Timur Laut sebagai desakan dari pemerintah pusat ditambah dengan kehilangan hak, pemuda terdidik membantu menelurkan gelombang kedua. Identitas Islam gelombang kedua tidak dimulai di provinsi selatan tetapi diperkenalkan dan didorong oleh aktor dan peristiwa eksternal yang telah saya uraikan di atas. Pendidikan di luar negeri memungkinkan siswa Melayu-Muslim berjejaring dengan siswa lain di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim yang mereka kunjungi. Melalui jaringan ini terbentuk hubungan dengan kelompok-kelompok Islamis seperti Liga Arab, Organisasi Pembebasan Palestina, Sekretariat Islam, dan Parti Islam,” ujar Sara A. Jones dalam tesisnya di Ohio University, “Framing the Violence in Southern Thailand: Three Waves of Malay-Muslim Separatism”, dimuat dalam https://etd.ohiolink.edu . Gerakan kebangkitan Islam di Malaysia makin besar setelah Revolusi Islam di Iran pecah pada 1979. “Revolusi Iran 1979 mungkin juga telah mengilhami ideologi Islamis di dalam separatis Melayu-Muslim, karena ini adalah gerakan Islam pertama yang berhasil yang kemudian menginspirasi lebih banyak lagi di seluruh dunia,” sambung Sara. Dalam suasana seperti itulah Ibrahim terjun sebagai pendakwah. Dia berkeliling ke Memali dan sekitarnya untuk memberi “pencerahan” kepada masyarakat di tengah desakan dance , punk dan beragam budaya pop lain di kota-kota besar Malaysia. Ibrahim kemudian juga mendirikan sekolah untuk masyarakat. Alhasil, Ibrahim mendapat penerimaan luar biasa. “Ia adalah ustadz kontemporer populer versi 1980-an seperti Mohd Asri Zainul Abidin dan Juanda Jaya. Popularitasnya segera mencapai pusat kota Kedah, dan berita mencapai tingkat federal. Saat itu, Mahathir Mohamad adalah perdana menteri,” tulis Dina. Baca juga: Kontingen SEA Games Indonesia Tanpa Sambutan di Malaysia Ibrahim menjadi sosok yang diperhatikan pemerintah pusat. Terlebih, ia dan penduduk Memali punya hubungan dekat dengan partai Islam PAS, oposisi utama UMNO (United Malays National Organisation) yang berkuasa. Ibrahim pernah mencalonkan diri sebagai wakil rakyat asal PAS untuk Bayu-Baling dalam pemilu 1978. Pemerintah pusat pun mewaspadainya. Suatu ketika, Ibrahim melontarkan kritik terhadap Internal Security Act (ISA/). Dalam pandangannya, undang-undang “super” tersebut tidak sesuai dengan Islam. “Ibrahim hanya keberatan dengan undang-undang, yang memberi pemerintah kekuatan untuk menahan siapapun tanpa pengadilan,” kata mantan senator asal PAS Datuk Muhamad Yusuf Husin sebagaimana dikutip Adie Suri Zulkefli dalam tulisannya di nst.com.my edisi 12 Januari 2018, “Memali Tragedy: ‘It Was Caused by anti-ISA Sentiment’”. Kritikan Ibrahim membuat panas telinga pemerintah pusat. Berbagai tindakan untuk mencoreng citra positif Ibrahim pun dibuat oleh berbagai “pemain” politik di pusat. “Suami saya hanya menentang Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri, karena itu adalah undang-undang kejam yang bertentangan dengan prinsip Islam, tetapi pihak berwenang telah melukiskan gambaran bahwa dia adalah seorang ekstremis yang mengobarkan perang untuk menggulingkan pemerintah. Dia bersumpah bahwa dia lebih baik mati daripada ditahan di bawah hukum yang menindas, tetapi malah dituduh memimpin revolusi bersenjata melawan pihak berwenang,” kata Soleha Husin, istri Ibrahim, dikutip New Straits Times di lamannya, nst.com.my , 11 Januari 2018. Tuduhan terhadap Ibrahim kemudian diikuti dengan pengawasan ketat aparat keamanan. “Perlahan-lahan penduduk desa melihat tambahan satu atau dua polisi datang ke desa. Tidak ada yang terjadi, tetapi orang-orang Memali merasa ada yang tidak beres,” tulis Dina. Baca juga: Ketika Aparat Bertindak di Luar Batas Kendati awalnya hanya pasif terhadap Ibrahim dan desa tempat tinggalnya, pengawasan aparat keamanan kemudian menjadi aktif. Suatu kali, mereka menghentikan serombongan petani yang diangkut sebuah van dan meminta mereka menjelaskan diri masing-masing. Namun ketika para petani yang membawa cangkul dan kapak itu menjelaskan bahwa mereka akan ke ladang, aparat melepaskan mereka. “Namun kebencian terhadap polisi bertumbuh. Ada banyak sentimen anti-UMNO,” tulis Dina. Penduduk Memali, yang amat mencurigai polisi, marah ketika rumah Ibrahim digeledah pada 2 September 1984. Dengan menggunakan senjata seadanya, mereka siap mempertaruhkan jiwa menghadapi aparat. “Operasi Polisi untuk menangkap dan menahan Ibrahim bin Mahmood berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri 1960 berlangsung pada pukul 01.00 tanggal 2 September 1984 di rumahnya di Kampung Memali. Upaya itu ditentang oleh sekitar 100 pengikut Ibrahim bin Mahmood. Mereka melompat keluar dari semua rumah, bersenjatakan bambu runcing dan meneriakkan ‘ Allahu Akbar. ’ Ibrahim bin Mahmood yang berada di rumah pada saat itu tinggal di balik pintu yang terkunci dan menolak untuk keluar ketika diminta untuk menyerahkan diri. Suasana menjadi tegang. Dengan mempertimbangkan keamanan publik, dan untuk menghindari masalah dan kemungkinan bentrokan, Polisi memutuskan untuk menunda operasi penangkapan Ibrahim bin Mahmood,” tulis Tunku Muszaffar Bin Tunku Ibrahim, aparat kepolisian yang ikut dalam operasi tersebut, dalam memoarnya, Memali: A Policeman Remembers . Seturut pergantian hari, situasi semakin panas di Memali. Ceramah besar yang diadakan pada September 1985 mendapat perhatian lebih dari polisi. Selain mengerahkan jauh lebih banyak personelnya, polisi memasang barikade. Dalam suasana panas itulah upaya penangkapan Ibrahim oleh sepasukan polisi yang dibantu tentara menggunakan sejumlah truk dan panser terjadi pada 19 November 1985. Mengetahui ustad mereka akan ditangkap, para penduduk Memali melawan. Bentrokan bersenjata pun terjadi. Akibatnya, 14 penduduk dan empat aparat kepolisian tewas, sementara lebih dari 100 orang terluka. Baca juga: Ulah Komunis Jepang di Kuala Lumpur Polisi menahan lebih dari 150 orang, termasuk perempuan dan anak-anak dan Datuk Muhamad Yusuf Husin, setelah insiden. Bentrokan berdarah itu yang diabadikan oleh aparat keamanan juga disiarkan di televisi nasional. Lebih jauh, pemerintah membuat “Buku Putih” yang menyebut para penduduk Memali sebagai para kriminal. “Ini semua salah paham, saya pikir. Ada lagi ustadz di Baling yang agak populer, tetapi popularitas Arwah (almarhum) Ibrahim Libya mengalahkannya. Dan ustadz itu kebetulan adalah orang UMNO. Semua ini dipolitisasi! Anda tahu, persaingan. Setidaknya ini pengamatan saya. Yang satu anggota UMNO, yang lain mewakili PAS. Arwah bukanlah pria kejam. Saya pikir itu adalah (disebabkan oleh, red .) kecemburuan. Dia (Ibrahim) bisa berbicara, dan dia memiliki banyak pengikut di kalangan anak muda. Dan dia adalah seorang joker. Dia bercanda dengan semua orang, pria, wanita. Jadi, saya pikir orang lain itu pasti sudah mengadu ke kepala UMNO Baling saat itu, dan semua ini terjadi,” kata Marzuki, dikutip Dina. Hingga kini, Insiden Memali masih tertutup tabir gelap. Nama Ibrahim masih “hitam” dalam sejarah. Akibatnya, Soleha Husin, istri Ibrahim, masih terus berupaya memperjuangkan keadilan bagi mendiang suaminya. “Yang saya inginkan adalah kebenaran terungkap dan nama suami saya dibersihkan dari semua kejahatan dan tuduhan palsu yang dilontarkan oleh mereka yang bertanggung jawab atas insiden itu. Sebelum saya meninggal, saya ingin mendapatkan keadilan untuk mendiang suami saya,” kata Soleha, dikutip nst.com.my , 11 Januari 2018.
- Ruang Kosong Historiografi Parlemen Indonesia
Sejarah nasional telah mengabaikan peran penting parlemen dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Posisi parlemen yang strategis itu terlupakan dan tersingkirkan dari penulisan sejarah Indonesia. Padahal, parlemen menjadi tonggak penting dalam meletakan bentuk negara. Museum DPR RI menggelar diskusi bertajuk “Posisi DPR RI dalam Historiografi Indonesia” pada Rabu, 17 November 2021, yang disiarkan secara langsung di channel Youtube Historia.id . Seminar ini bagian penutupan pameran sejarah parlemen Indonesia, yang diadakan oleh Museum DPR RI sejak Oktober 2021. Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang menjadi embrio dari sejarah parlemen Indonesia, dikupas tuntas oleh tiga pembicara: Susanto Zuhdi, Bambang Purwanto, dan Amelia Fauzia. Baca juga: Membaca Ulang Sejarah Parlemen Indonesia Bambang Purwanto, sejarawan Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan kenyataan yang ironi, bahwa parlemen tidak dianggap sebagai arus utama dalam sejarah politik Indonesia sejak awal kemerdekaan. Ia menyebut parlemen bukan hanya tidak mendapatkan tempat dalam historiografi Indonesia, tetapi memang dianggap tidak pernah ada. “Kita tahu sejarah nasional dipenuhi oleh presiden, pemerintah, dan partai politik sebagai aktor. Sementara parlemen hanya hadir ketika membangun relasi dengan ketiga elemen dominan itu. Mirip historiografi kolonial, dalam belajar sejarah Indonesia, yang melihat seperti geladak. Geladaknya presiden, geladaknya pemerintah, geladaknya partai politik. Sehingga, kita kehilangan banyak sekali hal menarik,” kata Bambang. Suasana sidang KNIP tahun 1947. (ANRI). Satu contoh menarik, seperti ditampilkan oleh sejarawan Universitas Indonesia, Susanto Zuhdi, ketika menerangkan penulisan buku Seabad Rakyat Indonesia Berparlemen: Sejarah Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia, 1918–2018 . Dalam buku yang terdiri dari lima jilid dengan lebih dari 2.000 halaman itu, Susanto menceritakan hal penting dan menarik yang luput dari historiografi, seperti tentang Mohammad Hatta yang dikabarkan “marah” kepada KNIP yang menolak meratifikasi Perjanjian Linggarjati. Sisi menarik lain, diungkapkan Susanto, misalnya terkait Petisi Soetardjo, “Mosi Orang Seberang”, yang menunjukkan dikotomi antara Jawa dan luar Jawa, masih berlaku hingga saat ini. “Anggota Volksraad pertama bukan hanya orang Jawa, tapi juga ada orang Ambon, Sumatra dan sebagainya. Ada juga anggota dari kalangan perempuan,” kata Susanto. Baca juga: Perempuan Pertama di Parlemen Bandung Begitu juga dengan posisi perempuan dalam parlemen, seperti diungkapkan oleh Amelia Fauzia, Guru Besar Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, bahwa peran perempuan belum mendapatkan representasi dalam sejarah DPR. Menurut Amelia, sejarah ditulis lebih banyak ke pihak yang berkuasa. Kelompok minoritas jarang sekali mendapatkan tempat dalam penulisan sejarah, termasuk kelompok perempuan. “Perempuan itu minoritas, walaupun kiprahnya di DPR ada perempuan,” kata Amelia. Meski kecil, peran perempuan mesti ditulis, agar perannya diakui oleh sejarah. Menurutnya, bila tidak ditulis, sekecil apa pun, peran perempuan akan absen dalam historiografi perlemen Indonesia. Dua perempuan anggota KNIP sedang mengikuti persidangan. (ANRI). Isu-isu penting lain yang terlewatkan dalam penulisan sejarah parlemen pada periode 1945, yaitu ketika parlemen berada dalam situasi darurat dan sementara. Sejak terbentuk, parlemen Indonesia berusia pendek. Parlemen Indonesia hasil Pemilu pertama tahun 1955 disahkan pada 25 Maret 1956, lalu keluar Dekrit Presiden 1959 yang membubarkan parlemen. Lalu parlemen hadir lagi pada 28 Oktober 1971. Padahal, dinamika parlemen di masa darurat tersebut menjadi elemen sangat penting untuk memahami realitas keindonesiaan. Baca juga: "Gentong Babi" di Parlemen Pembentukan KNIP pada 29 Agustus 1945, yang oleh DPR RI ditetapkan sebagai hari jadi, sesungguhnya ada masalah. Menurut Bambang, dari dokumen-dokumen yang ia baca, parlemen Indonesia bukan seperti yang ditulis dalam buku-buku sejarah, dengan menyebut KNIP, namun ditulis Komite Nasional Pusat (KNP). Bambang merujuk aturan peralihan UUD ’45 tentang KNP sebagai hasil rapat Badang Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP), yang salah satu fungsinya menjalankan tugas DPR dan MPR terkait garis-garis besar haluan negara. Fungsi KNP inilah yang menarik untuk dilihat, menurut Bambang, karena saat KNP didirikan telah terjadi intervensi –walau direkomendasikan juga dari sidang KNP, dimulai sebuah Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, tentang pembentukan Badan Pekerja yang menjalankan pekerjaan sehari-hari KNP. Anggota Badan Pekerja sekitar 28 orang yang dipimpin Sutan Sjahrir. “Kalau kita perhatikan di dalam keputusan itu, maklumat ini kemudian diikuti oleh penjelasan atas Maklumat Wakil Presiden yang ditandatangani Sutan Sjahrir, Badan Pekerja ini bersama presiden berhak dan wajib ikut serta dalam penetapan garis-garis besar haluan negara dan undang-undang yang berkaitan dengan urasan pemerintah. Di sinilah Badan Pekerja tak hanya menjalankan fungsi DPR, tapi juga MPR,” kata Bambang. Baca juga: Riwayat Nama Ruang dan Gedung Parlemen Realitas politik Indonesia yang menarik itu tidak dipahami dalam historiografi Indonesia, karena menurut Bambang, parlemen tidak dilihat langsung sebagai spotlight , fokus utama. Bambang melanjutkan, jika parlemen menjadi fokus utama dalam historiografi, maka akan bisa mengungkap tentang dinamika sejarah dalam parlemen. Parlemen, lembaga yang sifatnya sementara, tetapi sangat dominan saat itu. “Bayangkan sebuah Badan Pekerja, bukan badan utamanya, itu bisa mengubah praktik ketatanegaraan Indonesia, mengubah betuk pemerintahan negara. Padahal, konstitusi UUD ‘45 tidak mengenal Perdana Menteri, seharusnya menteri bertanggung jawab kepada presiden, tetapi kabinet harus bertanggung jawab kepada Komite Nasional Pusat. Ini dinamika bukan biasa. Ini luar biasa,” kata Bambang. Baca juga: Serangan Terhadap Anggota Parlemen Sebuah negara, yang pernah dipimpin oleh Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan, semestinya pusat kegiatan politik ada di parlemen, namun historiografi Indonesia periode 1950-an hingga pertengahan 1960-an, lebih mengutamakan pembahasan presiden, pemerintah atau kabinet, dan partai politik. Inilah, kata Bambang, parlemen terus dieksklusi atau dikooptasi. “Selama Orde Baru, ketika itu Golkar dominan, militer dominan, parlemen dikooptasi di dalamnya. Maka, saya melihat hal ini menimbulkan disorientasi historiografi. Praktik penyusunan undang-undang tidak pernah menjadi arus utama dalam penulisan sejarah. Akibatnya, sejarah fungsi DPR sebagai representasi wakil rakyat tidak menjadi cara berpikir metodologis dalam sejarah penulisan parlemen,” kata Bambang.
- Cikal Bakal Batas Internasional Indonesia-Papua New Guinea
Pada Minggu pertama November 2021, pihak keamanan Papua New Guinea, melaporkan sekitar dua ratus orang Papua, korban konflik di Intan Jaya, melintasi perbatasan. Penduduk Papua melintasi batas negara Indonesia- Papua New Guinea untuk mengungsi karena konflik berkepanjangan. Tak jarang, perbatasan kedua wilayah itu menjadi persoalan. Lalu, bagaimana kedua wilayah itu dipisahkan dengan garis batas negara? Perbatasan dua wilayah Indonesia-Papua New Guinea dirancang saat masih di bawah kekuasaan kolonial. Pada 1828, Belanda masuk ke pantai barat daya New Guinea dan memproklamasikan kedaulatan atas wilayah tersebut. Dua puluh tahun kemudian, pada 1848 pemerintah Hindia Belanda mengeklaim wilayah West New Guinea yang terletak di 141 derajat garis bujur. Pada 1884, Inggris Raya mendeklarasikan wilayahnya di Pantai Selatan New Guinea, dan wilayah ini dikenal dengan British New Guinea. Tahun yang sama Jerman mengibarkan bendera di pantai utara dan menamainya German New Guinea. Pada 1906, Inggris menyerahkan wilayahnya kepada Australia, yang kemudian menamai bekas koloni itu dengan nama Papua –Papua New Guinea. Sejak itu, kekuatan Australia merangsek ke bagian koloni lain. Pada 1914, pasukan Australia menguasai German New Guinea. Lalu, Australia mendapatkan mandat otoritas wilayah itu dari Liga Bangsa-Bangsa (kini Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada 1920. Kedua wilayah itu kemudian dikelola terpisah oleh pemerintahan Australia, kemudian pada 1949 kedua wilayah disatukan dalam satu administrasi pemerintahan. Baca juga: Ongkos Pembebasan Irian Barat Australia membuka kembali soal batas internasional setelah wilayah itu mereda dari ketegangan perang di kawasan Pasifik, di antaranya pendudukan Jepang pada 1942–1945. Menurut John C. Macartney, senior surveyor dari Port Moresby, Papua New Guinea, dan R.G. Matheson, dalam laporan Survey of International Border beetween West Irian and The Territory of Papua dan New Guinea , yang diterbitkan pada The Australian Surveyor , Desember 1968, perbatasan internasional dibicarakan intensif setelah perundingan sengketa wilayah di bagian barat, antara Belanda dan Indonesia pada 1962, menghasilkan kesepakatan New York Agreement: otoritas wilayah di bawah UNTEA dan administrasi pemerintahan dipegang pemerintah Indonesia untuk mempersiapkan Act Free Choice atau Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969. Namun, pada 1963, Indonesia mengeklaim wilayah itu bagian utuh dari Indonesia dan menamainya Irian Barat (West Irian). Penandatanganan laporan hasil survei gabungan Australia-Indonesia mengenai perbatasan Papua New Guinea dan Irian Barat di Canberra, pada 12 Februari 1970. (Repro The Australian Surveyor ). Laporan Macartney itu dilengkapi laporan R.G. Matheson, suveryor general dari pemerintah Papua New Guinea. Keduanya terlibat langsung dalam pertemuan-pertemuaan antardelegasi Australia-Indonesia, dalam membahas penentuan garis batas internasional Papua New Guinea-Indonesia, yang laporannya diterbitkan dalam Australian Surveyor pada Desember 1964, berjudul Internasional Border Between West Irian and the Territories of Papua dan New Guinea , dan pada Juni 1970 berjudul Join Report of Australian and Indonesian Survey Authorites od Survey of the Border Between the Territories of Papua dan New Guinea and West Irian . Pertemuan pertama Australia dan Indonesia digelar di Jakarta pada 31 Juli–4 Agustus 1964. Agenda pertama ini dirancang oleh kedua menteri luar negeri yang bertemu di Jakarta pada Juni 1964, membahas perbatasan internasional untuk kedua wilayah teritorial yang pemerintahannya dikuasai oleh Australia dan Indonesia. Baca juga: Silang Pendapat tentang Irian Barat Pertemuan pertama itu dihadiri oleh para ahli topografi. Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Topografi Angkatan Darat Brigjen TNI Soerjosoemarno, dan delegasi Australia dipimpin B.P. Lambert, Direktur Pemetaan Nasional, serta dua ahli surveyor dari pemerintah Papua New Guinea, R.G. Matheson dan J.C. Macartney. Dalam pertemuan itu, para delegasi menyetujui proposal demarkasi permanen batas internasional Australia dan Indonesia yang diajukan masing-masing negara, yang selanjutnya menjadi acuan dalam pelaksanaan survei. Beberapa keputusan dihasilkan dalam pertemuan itu. Baca juga: Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat Keputusan paling penting adalah perjanjian deskripsi teknis batas meridian yang terletak pada 141 derajat bujur timur sebagai perbatasan antara pantai utara dan persimpangan utara dari meridian itu dengan Fly River, melewati bagian tengah muara Bensbach River, yang diadopsi bersama sebagai perbatasan permanen antara pantai selatan dan persimpangan selatan dari meridian ini dengan Fly River. Pertemuan itu juga menyepakati empat belas titik untuk dibuat tanda batas dari pantai ke pantai, dan dibangun monumen perbatasan di darat. Dua tahun kemudian, Mei 1966, pertemuan soal batas internasional dilanjutkan di kota Canberra, Australia, yang menghasilkan kesepakatan dan rekomendasi pelakasanaan suvei meridian pada demarkasi perbatasan dan disetujuinya pembangunan tiap titik perbatasan di darat yang telah ditentukan dengan monumen permanen. Tim survei gabungan Australia-Indonesia menyelesaikan monumen permanen batas internasional. (Repro The Australian Surveyor ). Untuk merealisasikannya, kedua negara melalukan ekspedisi gabungan, yang selama 1966, telah menyelesaikan enam penanda. Sisanya, sebanyak delapan penanda akan diselesaikan setelah pertemuan ketiga, yang berlangsung di Jakarta, pada Januari–Februari 1967, yang di antaranya menyepakati garis-garis batas meridian yang telah ditandai harus dilakukan foto udara untuk memastikan akurasinya, sekaligus memastikan dengan jelas penanda itu berada di titik lokasi awal yang disepakati. Pertemuan ketiga ini telah menyepakati untuk menggelar pertemuan lagi untuk menetapkan laporan survei gabungan perbatasan internasional ini, setelah penyelesaian delapan tanda dalam ekspedisi lanjutan selama 1967. Setelah pertemuan ketiga ini, situasi konflik kedua negara sempat memanas, dipengaruhi oleh situasi politik terkait sengketa wilayah Irian Barat antara Indonesia dan Belanda, di mana pemerintah Indonesia menjadi penyelenggara Pepera yang menjadi bagian kesepakatan New York Agreement. Baca juga: Duri dalam Daging Bernama Irian Barat Jadi, praktis 1967 hingga 1969, Indonesia berfokus pada perhelatan politik penentuan Irian Barat, yang hasilnya, telah dipastikan wilayah itu masuk ke Indonesia. Pemerintah Indonesia menerapkan sistem “musyawarah mufakat” atau perwakilan, yang telah ditentukan atau diseleksi wakil-wakil dari 800.000 penduduk Papua, sebagian besar 1.025 wakil dipilih untuk memilih ikut pemerintah Indonesia daripada pemerintahan sendiri. Hasil Pepera itu terus digugat oleh orang Papua karena pelaksanaannya tidak sesuai dengan New York Agreement, seperti prinsip “one man one vote”. Setelah status wilayah Irian Barat diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia, maka hasil laporan terakhir terkait kesepakatan-kesepakatan perbatasan internasional, wilayah Papua New Guinea dan Irian Barat oleh pemerintah Australia-Indonesia, ditetapkan bersama di Canberra, Australia, pada 12 Februari 1970. Laporan akhir hasil kesepakatan-kesepakatan itu ditandatangani oleh masing-masing otoritas survei. Brigjen TNI Pranoto Asmori, Direktur Topografi Indonesia mewakili pihak Indonesia, sementara Australia diwakili oleh B.P. Lambert, Direktur Pemetaan Nasional. Disaksikan oleh Agus Jaman dan KBRI di Australia, dan A.J. Easment C.B.E dan William Granger, masing-masing dari departemen teritorial dan urusan eksternal Australia. Baca juga: Suap di Balik Upaya Pembebasan Irian Barat Kesepakatan hasil kerja tim gabungan batas internasional kedua negara ini telah menjadi cikal bakal sejarah batas internasional Papua New Guinea dengan Indonesia, meskipun akan mengalami ratifikasi dan perbaikan, misalnya, penentuan batas laut yang menghasilkan “Perjanjian 1971”. Perjanjian itu pun masih menyisakan persoalan terkait garis batas darat, garis batas laut wilayah dan garis batas dasar laut di Selatan Papua, lahirlah perjanjian baru Australia dan Indonesia pada 12 Februari 1973. Garis batas internasional Indonesia-Papua New Guinea kembali diratifikasi setelah Papua New Guinea merdeka pada 1975. Selain karena Papua New Guinea telah menjadi negara merdeka, soal lain yang memicu perundingan batas negara, terutama lintas batas negara, adalah saat ribuan warga Papua mengungsi ke Papua New Guinea selama kemelut konflik berlangsung pada 1980-an.
- Race, Islam and Power Bukan Catatan Perjalanan Biasa
LANGIT Palmerah sudah digelayuti mendung saat Andreas Harsono, wartawan cum aktivis kemanusiaan, mengantar Historia sampai muka lobi apartemen. Sebelum berpisah, ia sempat mengisahkan sebuah kejadian tak mengenakkan di tempat yang sama. Kejadiannya tahun 2009, katanya, tanpa bisa mengingat tanggal atau bulannya. Kala itu datang orang tak dikenal mencarinya dengan tujuan yang buruk walau orang itu menyapa sopan ke resepsionis dan security di lobi. “Dia datang ke lobi, minta cari saya. Orangnya sopan seperti Anda. Ditanya, maksudnya ada keperluan apa. Katanya, ‘saya mau bunuh dia.’ Lalu dia nyamperin ke (Yayasan) Pantau juga. Security sini lalu lapor ke polsek,” kata Andreas mengenang. Baca juga: Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I Saat kejadian, Andreas kebetulan sedang di luar kota. Dia hanya tahu soal itu dari pihak security . Rupanya, kejadian itu merupakan salah satu imbas dari aktivitasnya sebagai aktivis HAM cum jurnalis sepanjang menginvestigasi tentang pembantaian massal etnis Madura di Kalimantan pada 1997 dan 2001. Kala itu, Andreas mewawancarai banyak narsumber, mulai dari penjagal hingga pihak keluarga korban. Kisah-kisah getir konflik etnis Madura-Melayu dan Madura-Dayak itu merupakan satu dari sekian catatan perjalanan Andreas sampai ke empat titik terluar perbatasan Indonesia. Sejurus mata angin, perbatasan-perbatasan itu yakni Pulau Rondo di ujung barat, Desa Wutung di perbatasan paling timur, Pulau Miangas di tapal batas utara, dan Rote di ujung selatan. Butuh 15 tahun buat Andreas untuk merangkum dan membukukan petualangannya yang dilakoni sejak 2003 itu dengan tajuk Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia . “(Alasannya) waktu. Waktu kan uang,” kata Andreas menjelaskan soal waktu penyelesaian bukunya. Baca juga: Tembang Gerilya Seorang Menteri Negara Sedikitnya waktu yang dimiliki Andreas disebabkan karena dia juga aktif di Human Rights Watch selain sebagai jurnalis di media-media asing berbahasa Inggris. Perjalanannya sendiri memakan waktu lima tahun (2003-2008), ditambah banyak riset dan proses penyelesaian dengan pihak penerbit. Sekilas, Race, Islam and Power ibarat travelogue atau catatan pelesiran. Lima pulau besar dan dua kepulauan, yakni Maluku dan Nusa Tenggara, yang dikunjungi Andreas. Kisah-kisah dari masing-masing tempat itu lalu dibagi ke dalam tujuh bab. Semua punya “surga” tersendiri. Bab pertama, tentang Aceh, misalnya. Di bagian pembuka, pembaca disuguhkan keindahan alam Sabang dengan lautan biru serta kicauan burung-burung camar. Imajinasi pembaca bahkan bisa lebih luas karena penulisnya menyuguhkan gambaran tempat yang sama dari kacamata penjelajah Inggris Sir Thomas Stamford Raffles pada 1819 dan wartawan Djamaluddin Adinegoro. Saat itu, abad ke-19, Sabang jadi salah satu kota-pelabuhan terbuka dengan fasilitas mumpuni. Baca juga: Suara Penyintas 1965 yang Layak Didengar Hanya saja, Sabang gagal menyaingi Singapura karena letaknya kalah strategis di samping perhatian terhadapnya terus menurun usai pemerintah Hindia Belanda. Akibatnya, kini yang tersisa dari Sabang hanya keindahannya. Sabang sebagai kota pelabuhan sudah jauh tertinggal, bahkan sempat mati suri setelah ditutup pemerintah pada 1985. Kuliner yang menggugah selerasebagai bagian kekayaan budaya juga dikisahkan Andreas dalam buku ini. Tak ketinggalan, Andreas juga mendeskripsikan beraneka jenis transportasi yang digunakannya sampai ke destinasi di pedalaman pulau-pulau itu. “Transportasinya memang macam-macam. Ada perahu dongdong di Sambas (Kalimantan Barat). Itu ngeri sekali. Ada barang dan motor di atas kabin. Itu kalau jatuh gimana? Di Gunung Kelimutu (Nusa Tenggara Timur) saya kecelakaan sekali. Naik motor jatuh. Lukanya hanya lecet tapi anak yang nyetir patah tulang,” tambahnya. Andreas Harsono, aktivis, jurnalis dan penulis Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia (Randy Wirayudha/Historia) Tetapi Race, Islam and Power bukanlah travelogue biasa. Buku setebal 280 halaman ini mengungkap banyak cerita yang tertinggal setelah konflik-konflik atas nama etnis, agama, dan kekuasaan. Konflik-konflik itu meledak setelah Presiden Soeharto lengser kendati punya akar historis jauh ke belakang. Andreas memulainya dari Aceh, bertolak dari hasil liputannya pada 2003 untuk suratkabar Malaysia, The Star, yang terbit sampai 16 halaman. “Sampai sekarang The Star belum pernah bikin laporan lebih panjang daripada tulisan saya. Judulnya ‘Starting From Kilometer Zero’. Sambutannya bagus. Bahkan editor saya memberi tahu, waktu itu PM Mahathir Mohamad memuji laporan itu. Karena sambutannya bagus, beberapa orang bilang, kenapa enggak di- expand dengan gaya perjalanan begini? Walaupun dia travelogue , dia sebetulnya kan sebuah esai,” sambung salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dan Institut Studi Arus Informasi tersebut. Andreas melanjutkannya dengan disponsori Ford Foundation sebesar 100 ribu dolar Amerika. Dari pertemuannya dengan orang-orang Gerakan Acheh Merdeka (GAM), pihak TNI, intelektual Aceh, Andreas menguak banyak cerita tentang ketidakadilan dan ketidakpuasan orang-orang Aceh terhadap pemerintah pusat, diskriminasi terhadap kaum minoritas dan perempuan, hingga kajian akar konflik sejak masa kolonial. Baca juga: Sekelumit Kisah Mahathir Mohamad Konflik Aceh, yang banyak tidak dipahami publik, amat berbeda dari yang ditulis dalam buku-buku sejarah umum, terutama keluaran resmi pemerintah era Orde Baru. Dalam buku ini Andreas hendak menjelaskan konflik itu dari sudut non-versi pemerintah. Menurutnya, konflik Aceh punya keterkaitan historis erat dengan Perang Aceh. Itu tercermin antara lain dari pemahaman pentolan GAM Hasan di Tiro, yang masih keturunan Teuku Chik di Tiro, panglima semasa Perang Aceh. Bagi Hasan, Kesultanan Aceh tak pernah benar-benar tunduk pada Belanda. Oleh karenanya ketika penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949, Aceh tak semestinya jadi wilayah yang turut diserahkan kepada republik baru yang didominasi etnis Jawa itu. Aceh, menurut Hasan, bersedia masuk menjadi bagian dari Indonesia karena dijanjikan otonomi khusus oleh Presiden Sukarno yang baru ditepati pada 1961. Itupun baru terjadi setelah terjadi pergolakan lebih dulu oleh Daud Beureueh. Baca juga: Rasisme Sejak dalam Pikiran Faktor ketidakadilan ekonomi yang timbul kemudian makin memperparah hubungan Aceh-Jakarta. Kala Hasan menanyakan Gubernur Muzakkir Walad tentang konsesi hutan dan kontrak penambangan gas alam dengan Exxon Mobil, dia tak mendapatkan jawaban apa-apa. Aceh, apalagi rakyatnya, tak punya hak menikmati kekayaan alam mereka tanpa persetujuan Jakarta. Akibatnya, sentimen anti-pemerintah pusat dan etnis Jawa makin terasa pada 1970-an dan itu masih terasa hingga kini. Berangkat dari kondisi sosial-politik yang ada itulah Andreas seakan memberikan tips kepada pembaca, terutama yang kurang memahami situasi Aceh, agar menghindari panggunaan lema “Mas” dan memilih lema “Bang” jika bertemu orang-orang setempat di wilayah-wilayah yang dulu dikuasai GAM semisal Tiro di Kabupaten Pidie. Hal serupa tapi tidak sama pun ia temukan di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Timor Timur, Papua, dan bahkan di Pulau Jawa. Gejolak kekerasan itu mencapai klimaksnya setelah rezim Orde Baru runtuh. Baca juga: Bandul Stigma yang Berbahaya Alhasil, di pedalaman pulau-pulau itu sentimen antaretnis dan agama masih terasahingga kini. Di Sambas, misalnya, sampai saat ini orang Madura belum diperbolehkan masuk wilayah kabupaten itu. Atau di Ambon, yang bahkan persnya terpecah antara yang bersimpati dengan Muslim dan Kristiani. Andreas merekam semuanya menggunakan dua pendekatan: jurnalistik dan riset. Risetnya mencakup historis, sosiologis, hingga antropologis. Ketiga studi itu dibutuhkannya untuk memahi identitas, bangsa, dan nasionalisme yang berkelindan dengan banyak konflik akibat diskriminasi dan kekerasan yang klimaksnya sampai pembunuhan massal atas nama etnis atau agama. Dari beberapa yang dikisahkan di buku ini, aparat sebagai kepanjangan tangan negara “tidak bisa” atau “tidak berkenan” meredam kekerasan. “Ketika pusat itu goyang, sebagian daerah yang diperlakukan tidak adil oleh pusat ingin mendapatkan kekuasaan lebih besar, mengatur diri mereka lebih besar, entah sosial, politik, ekonomi. Nah bila cara-cara biasa, (seperti) kampanye, advokasi tidak berhasil, mereka lakukan kekerasan. Saya ingin merekam bagaimana kekerasan ini terjadi ketika kekuasaan pusat sedang goyang dan mereka melakukan kekerasan,” lanjutnya. Baca juga: Peliknya Rekonsiliasi Peristiwa 1965 Pendekatan jurnalistik dan multidisipliner yang digunakan Andreas membuat semua yang dikisahkan bisa lebih mudah dibayangkan dan dipahami oleh pembaca. Buku ini menyajikan premis bahwa apa yang tampak apik dari suatu daerah ternyata menyimpan banyak pengalaman kelam di baliknya. Namun, pengalaman kelam itu hanya diketahui dari segelintir orang yang mengalami, entah para pelaku ataupun korban pembunuhan massal. Betapapun pahitnya pengalaman-pengalaman itu, tetapi itulah realitasnya. Publik, terutama yang di luar pulau-pulau itu, perlu diberitahu. Dengan begitu, mereka bisa lebih memahami realitas yang ada. Dengan memahami, mereka bisa lebih bijak dalam merawat ke-bhineka-an yang menjadi ciri “endemik” Indonesia. Oleh karenanya, menurut Andreas, buku ini penting untuk mengubah perspektif para pengambil kebijakan dan pemimpin politik agar kekerasan, terlebih konflik yang berujung pembunuhan massal, tak terjadi lagi ketika krisis global kembali menghantam. “Kemarin saya diajak rapat sama Kantor Staf Presiden. Buku ini menurut mereka penting untuk punya perspektif. This is to sit back and think. Jadi saya juga mau ngajak orang Indonesia, terutama elitelah, untuk berpikir bahwa bila terjadi krisis lagi, kita bisa bunuh-bunuhan lagi. Bila Anda baca sejarah Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, kawasan ini bergolak setiap kali ada krisis global,” jelasnya. Baca juga: Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa Secara keseluruhan, Andreas mengakui buku initidaklah sempurna. Karena keterbatasan ruang, beberapa isu yang juga menimbulkan gejolak nyaris tak termuat. Antara lain isu perempuan dan lingkungan. “Anak saya juga bilang ini kurang isu perempuan dan buat saya (kurang isu) HAM. Ada soal isu lingkungan tentang perkebunan sawit di Riau dan Jambi, dianggap (penerbit) membuat fokusnya bergeser, maka dihilangin. Banyak hal yang enggak masuk dan dipotong. Kira-kira dari 130 ribu kata dipotong jadi 90 ribu, tapi kemudian ditambah lagi 10 ribu, khusus tentang saya mendirikan AJI dan kasus Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, red .) di Bab Jawa,” katanya. Hal lain yang juga membedakan buku ini dari travelogue umum adalah dokumentasi foto. Setiap bab buku ini sekadar menampilkan beberapa peta pulau yang dilukis. Padahaladanya dokumentasi foto, terutama tentang keindahan bentang alam yang didatangi penulis, bisa menyuguhkan kontras dengan aneka kisah getir di baliknyapada para pembaca. “Saya enggak mikir sih. Baru mikir sekarang yang Anda tanya (soal foto). Dokumentasi foto-foto ada. Di blog saya (andreasharsono.net) juga ada. Benar, banyak di Indonesia, banyak sekali pantai indah. Penerbit dan desainernya enggak mau ada foto. Saya enggak tahu pertimbangan mereka apa,” jelas Andreas. Terakhir, soal edisi, sampai saat ini Race, Islam and Power baru tersedia dalam bahasa Inggris. “Itu pertanyaan bagus tapi saya enggak tahu menjawabnya. Saya memang menulis dalam dua bahasa. Alasan yang paling masuk akal karena memang ditulis untuk The Star . Lalu merembet yang lain-lain. Ada bagian tentang Sulawesi terbit di Newsbreak Filipina, bagian yang Timor-Timur terbit di Amerika juga bahasa Inggris. Tapi pasti akan saya kerjakan (edisi) bahasa Indonesianya. Cuma lagi-lagi soal waktu dan uang ya,” tandasnya. Data Buku: Judul: Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto|Penulis: Andreas Harsono | Penerbit: Monash University Publishing, Clayton, Victoria (Australia) | Tahun: 2019, Cetakan Pertama | Tebal: 281 hlm.





















