Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Gugurnya Mayor Bahrin Yoga
SUASANA mencekam menyelimuti Desa Pancur Batu, Deli Serdang, 28 Juni 1947. Hari masih pagi tapi berbagai kelompok laskar dan tentara Republik sudah berjejal di mana-mana. Entah mengapa, kebanyakan dari mereka menampilkan wajah bengis. Alamat bakal terjadi pertempuran begitu terasa. “Di sana kami mendengar berita bahwa kemarin malamnya seorang mayor ditembak oleh seorang sersan mayor,” kenang Mohammad Radjab, wartawan kantor berita Antara, dalam reportasenya yang dibukukan berjudul Tjatatan di Sumatra. Saat itu, Radjab ditugaskan Departemen Penerangan Republik Indonesia untuk meliput kondisi perjuangan di Sumatra. Kasus penembakan yang terjadi ketika rombongannya singgah di Pancur Batu turut terekam dalam catatan Radjab. Warga setempat menyebutkan bahwa yang ditembak seorang Aceh sedangkan yang menembak orang Batak. Rombongan Radjab pun berlalu meneruskan perjalanan dengan meninggalkan kesan atas insiden yang baru saja disaksikan.
- Mengubah Wajah Bisbol dengan Moneyball
YANKEE Stadium begitu riuh oleh puluhan ribu penonton tuan rumah pada malam 5 Oktober 2001. New York Yankees begitu superior saat menjamu Oakland Athletics di game 5 American Division League (ADL) Series 2001. Billy Beane (diperankan Brad Pitt), General Manager Oakland A’s, memilih menyepi mendengarkan pertandingan itu lewat radio kecilnya. Dia serius dalam senyap di tribun stadion Oakland Coliseum. Billy insyaf tim bisbolnya yang hanya ber- budget 39,7 juta dolar tentu kalah tajir dari Yankees yang bernilai 114,4 juta dolar dalam semusim. Keinginannya membangun tim juara pun terbentur keterbatasan uang belanja sang pemilik Oakland A’s, Stephen Schott (Bobby Kotick). Schott menolak belanja besar-besaran walau Billy memohon untuk bisa membeli tiga pemain pengganti yang hengkang di akhir musim: Johnny Damon, Jason Giambi, dan Jason Isringhausen. Billy pun pasrah. Ia hanya bisa blusukan mencari pemain dengan dana terbatas. Baca juga: Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone Pandangan Billy terhadap bisbol tiba-tiba berubah setelah bertandang ke markas tim Cleveland Indians. Billy ke sana mulanya ingin bertemu GM Indians Mark Shapiro (Reed Diamond) guna bernegosiasi mendapatkan beberapa pemain, namun gagal. Kendati begitu, pertemuannya dengan Peter Brand (Jonah Hill) benar-benar mengubah pendekatan Billy terhadap bisbol dan itu menjadi fokus sutradara Bennett Miller dalam menggarap Moneyball . Film biopik olahraga ini diangkat dari kisah nyata Billy ditambah penguatan dari biografi tim Oakland A’s karya Michael Lewis berjudul Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game . Film ini mengisahkan tentang sebuah tim gurem yang hendak bangkit bermodalkan sejumlah perhitungan statistik. David Justice, Scott Hatteberg, dan Chad Bradford, pemain direkrut dengan metode statistik (Sony Pictures Entertainment) Cerita pun berganti ke adegan Billy pulang dari markas Indians. Alih-alih merekrut pemain, ia justru menjadikan Peter staf khususnya. Billy ingin lulusan anyar jurusan ekonomi Universitas Yale itu membangun tim berdasarkan hitungan kode statistik yang sejak 1970-an diperkenalkan pakar statistik Bill James namun tak pernah jadi perhatian tim-tim bisbol Amerika. “Ini kode-kode yang saya tulis untuk proyek tahunan. Kode-kode ini membangun pengetahuan untuk menilai pemain. Semuanya dirangkum menjadi satu angka. Menggunakan statistik untuk membaca mereka dan kita akan menemukan nilai pemain yang tak pernah bisa dilihat orang lain. Orang lain menilai dengan alasan bias dan hanya dengan perasaan: umur, penampilan fisik, kepribadian. Bill James dan matematikanya melangkahi itu semua,” kata Peter. Baca juga: Kisah Matematikawan yang Dipandang Sebelah Mata Dengan bantuan Peter, Billy tak hanya mendapat belasan tapi sampai 20 ribu calon pemain potensial yang sesuai anggaran. Peter mencontohkan reliever (pelempar cadangan) bernama Chad Bradford (Casey Bond). Bradford diremehkan banyak scout (pemandu bakat) hanya karena gaya melemparnya yang aneh. Namun di mata Peter, Bradford adalah pelempar yang efektif jika menengok catatan statistiknya. Billy yang terkesan pun menjalankan pendekatan radikal dalam membangun tim musim barunya. Selain Braford, Billy mendatangkan outfielder veteran, David Justice (Stephen Bishop), dan catcher yang bermasalah pada syaraf di tangannya, Scott Hatteberg (Chris Pratt). Pelatih Art Howe (kiri) & kepala scout Grady Fuson yang menentang metode statistik " moneyball " (Sony Pictures Entertainment) “Revolusi” Billy sayangnya ditentang sekumpulan scout senior Oakland A’s. Ketegangan pun terjadi hingga berujung pada pemecatan ketua scout Grady Fuson (Ken Medlock). Grady tak habis pikir Billy memilih percaya membangun tim hanya berdasarkan komputer dan angka ketimbang pengalaman dan intuisi tim scout -nya. Masalah tak berhenti sampai di situ. Kepala pelatih Art Howe (Philip Seymour Hoffman) menolak menurunkan para pemain baru itu. Perang dingin pun terjadi dan Billy terpaksa menukar sejumlah pemain langganan Howe agar para rekrutan barunya bisa dimainkan. Baca juga: Race, Drama Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Nazi Billy juga percaya takhayul bahwa jika ia menonton langsung pertandingan, timnya akan kalah. Maka itu ia tak pernah menyaksikan langsung laga. Kala timnya bertanding, ia memilih ke luar stadion untuk putrinya, Casey Beane (Kerris Dorsey). Maklum Billy hanya punya jatah bertemu seminggu sekali setelah cerai dari istrinya, Sharon Beane (Robin Wright). Tanpa dinyana, keputusan Billy tepat. Setelah Howe mengalah, Oakland A’s justru memetik rekor dalam sejarah bisbol Amerika dengan 20 kemenangan beruntun. Pendekatan “ moneyball ” itu bahkan menarik perhatian pemilik klub Boston Red Sox, John W. Henry (Arliss Howard). Henry mengajukan tawaran 12,5 juta dolar dan jika diterima, Billy akan jadi general manager (GM) dengan bayaran tertinggi dalam sejarah bisbol Amerika. Apakah Billy dengan “ moneyball ”-nya benar-benar bisa mengubah wajah bisbol? Saksikan keseruan lanjutan filmnya di aplikasi daring Mola TV. Tim Oakland A's yang mencetak 20 kemenangan beruntun sebagai imbas metode statistik " moneyball " (Sony Pictures Entertainment) Uang Bukan Segalanya Sebagaimana tone film yang cukup bervariasi antaraterang dan muram, music scoring film ini pun cukup berwarna. Gemuruh penonton di stadion juga dihadirkan. Komposer Mychael Danna mengiringi beberapa adegan sang tokoh utama, Billy Beane, dengan variasi melodi mengharukan, lagu pop bertajuk ‘The Show” yang dipopulerkan biduan Lenka, serta musik instrumen khas 1980-an. Iringan instrumen 1980-an itu cukup penting karena sutradara Miller membuat alur dramanya maju-mundur ke masa Billy masih jadi pemain. Di masa lalu itu Billy pernah membuat keputusan terbesar dalam hidupnya berdasarkan uang dan ia tak ingin mengulanginya lagi. “Dia adalah orang yang pernah dinilai begitu tinggi semasa jadi pemain dan sekarang bekerja sebagai GM di tim papan bawah. Terdapat jurang yang begitu besar bagi tim-tim seperti ini, di mana mereka takkan pernah bisa setara, mereka takkan pernah bisa kompetitif,” kata Brad Pitt, si pemeran utama, kepada National Public Radio , 13 Februari 2012. Baca juga: Membangkitkan Kasti yang Mati Suri Kolase adegan Billy Beane yang mengombinasikan metode moneyball dengan pendekatan personal (Sony Pictures Entertainment) Di situlah Beane ingin mengubah peta perbisbolan Amerika. Kisahnya yang didramatisir dalam Moneyball juga menggambarkan pembuktian bahwa bahwa uang bukan segalanya untuk menang sehingga tim beranggaran kecil sanggup bersaing dengan tim kaya. Sang sineas juga menyajikan banyak hal yang jarang diketahui penonton terkait bagaimana intensnya negosiasi di balik layar dari setiap perekrutan pemain. Hal lainnya, penggambaran bahwa metode “moneyball” tak serta-merta bisa membuahkan kemenangan instan. Selain perhitungan statistik, dibutuhkan pula pendekatan personal antara pelatih atau GM kepada pemain. Hal itu sebelumnya sangat jarang terjadi di tim-tim bisbol Amerika. Ini tak pernah didapatkan Billy semasa berkarier sebagai pemain profesional. Belajar dari Masa Lalu Billy lahir di Orlando, Florida pada 29 Maret 1962 dengan nama lahir William Lamar Beane III. Sejak kecil sudah mengenal bisbol dari ayahnya yang seorang perwira Angkatan Laut Amerika. Billy berbakat dalam American football, basket, dan bisbol. Namun, Billy kemudian fokus pada bisbol. Ia bahkan sudah masuk tim utama sekolahnya di tahun ajaran pertamanya. Menjelang lulus, banyak tawaran dari tim-tim bisbol profesional mendatanginya lantaran Billy punya lima bakat alamiah dalam bisbol: running, fielding, throwing, hitting, dan hitting hard. Di sisi lain, Billy juga mendapat tawaran beasiswa kuliah sambil bermain untuk tim kampus Universitas Stanford. “Billy Beane adalah bintang olahraga SMA Mount Carmel, di mana ia memimpin tim sekolahnya memenangi kejuaraan bisbol dan basket. Dia sempat ditawari beasiswa Universitas Stanford sebelum datang tawaran dari tim kami,” kata eks-GM Boston Red Sox, Lou Gorman, dalam otobiografinya, High and Inside: My Life in the Front Offices of Baseball. Baca juga: Kurt Russell dari Bisbol ke Hollywood Pada 1980, datang pula tawaran dari New York Mets. Nilai kontraknya terbilang sangat besar untuk seorang pemain semuda Billy, yakni 125 ribu dolar (setara 392 ribu dolar saat ini atau Rp.5,2 miliar dalam kurs 2020). Ibunya cenderung menginginkan Billy menerima beasiswa Stanford, sementara sang ayah mempercayakan keputusan itu pada putranya sendiri. “Suatu hari ayahnya menantang Billy adu panco. Billy sempat terkejut walau kemudian Billy yang menang. Setelahnya sang ayah mengatakan pada Billy bahwa jika ia sudah berani mengalahkan ayahnya dalam adu panco, maka ia sudah cukup dewasa untuk menentukan keputusan dalam hidupnya. Tawaran dari Mets adalah keputusan besar pertama bagi Billy,” tulis Michael Lewis dalam Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game. Sosok asli William Lamar 'Billy' Beane III (kanan) yang diperankan aktor William Bradley 'Brad' Pitt (Sony Pictures Entertainment/mlb.com) Selain nilai kontrak yang menggiurkan, rayuan scout Mets Roger Jongerwaard begitu manis dengan banyak hal yang dijanjikan. Billy pun luluh untuk menandatangani kontrak dengan Mets di jendela transfer Major League Baseball (MLB) 1980. “New York adalah dunia baru baginya. Seumur hidup ia hampir tak pernah meninggalkan San Diego. Saat penyambutan pemain baru, Billy tercengang mendapat sapaan para pemain besar: Lee Mazzilli, Mookie Wilson, Wally Backman. Ia mengatakan: ‘Saya akan bermain dengan mereka. Mets seperti tempat keramat dan saya ada di dalamnya. Mimpi itu jadi nyata,’” kata Lewis. Baca juga: Rush Memicu Adrenalin hingga Garis Finis Namun ekspektasinya masih jauh dari realita. Billy tak langung diturunkan di tim utama. Mets memutuskan Billy lebih dulu beradaptasi di tim satelit yang bermain di liga bawah, seperti Little Fall Mets, lalu Lynchburg Mets, dan Jackson Mets. Billy baru dipromosikan ke tim utama Mets pada musim 1984 walau penampilannya justru mulai menurun dan tak bisa mencapai ekspektasi terdahulu. “Beane tak pernah sukses di liga kecil. Angka rata-rata batting -nya (memukul) hanya .210 di musim pertama dan .211 pada 1982. Beberapa tahun kemudian Beane memang muncul di tim Mets tapi akhirnya ditukar dengan pemain Minnesota Twins, Tim Teufel,” ungkap Brett Topel dan Greg W. Prince dalam Mount Rushmore of the New York Mets. Billy Beane semasa di Mets (kiri) & Oakland Athletics ( jeffreykeeten.com/Oakland A's) Semenjak “dibuang” Mets ke Twins, Billy jadi pribadi yang temperamental. Kegagalan demi kegagalan dalam memukul atau menangkap bola memperparah rasa frustrasinya. Mentalnya jatuh menghujam tanah dan oleh karenanya Billy tak pernah bisa bangkit lagi meski kemudian terus berganti tim dari Twins ke Detroit Tigers pada 1988 hingga Oakland A’s pada 1989. Walau merasa kariernya di lapangan habis, Billy belum mau jauh dari bisbol. Pada April 1990, ia mendatangi GM Oakland A’s Richard Lynn ‘Sandy’ Alderson dan melamar jadi scout untuk Oakland A’s. Di bawah Schott sang pemilik baru, Alderson diminta membangun tim dengan dana terbatas. Dari Alderson pula Billy, yang kemudian naik menjadi asisten GM, belajar statistik dalam bisbol yang dikenal dengan istilah “ sabermetrics ”. Baca juga: Rasisme Memuakkan Klub Israel dalam Forever Pure Sabermetrics atau SABRmetrics adalah hitung-hitungan matematika dan data statistik yang dipopulerkan Bill James sejak 1971. Hal ini juga menjadi pelurusan fakta yang digambarkan dalam Moneyball bahwa Billy baru mengenal sabermetric dari seorang analis muda Peter Brand pada 2002. “Sebenarnya Aldersonlah yang memperkenalkan sabermetrics di kepengurusan A’s sejak pertengahan 1980-an dan kemudian mengajarkan itu kepada Beane pada pertengahan 1990-an,” tulis Benjamin Baumer dan Andrew Zimbalist dalam The Sabermetric Revolution: Assessing the Growth of Analytics in Baseball. Figur George William 'Bill' James (kiri) & Richard Lynch 'Sandy' Alderson ( mlb.com ) Ketika menggantikan Alderson sebagai GM Oakland A’s pada 17 Oktober 1997, Billy sudah menerapkan sabermetrics untuk merekrut para pemain baru. Ia dibantu Paul DePodesta, mantan pemain Cleveland Indians yang direkrut Billy jadi asisten GM. Tokoh Peter Brand dalam Moneyball merupakan penggambaran sosok DePodesta yang didramatisir. Keberhasilan Billy dengan sabermetrics -nya terjadi di musim 2002 walau ia harus puas sekadar mencetak sejarah bisbol dengan 20 kemenangan beruntun. Meski begitu, berkat Billy pula sejumlah petinggi tim bisbol lain mau membuka mata lebih lebar soal sabermetrics yang sebelumnya disepelekan. Bos Red Sox bahkan sampai merekrut “Bapak Sabremetrics ” Bill James ke jajaran timnya pada 2003. Baca juga: Lima Gebrakan Revolusioner Wenger Billy juga memanfaatkan data statistik pemain setelah terinspirasi dua manajer tersukses dalam sepakbola Inggris, Sir Alex Ferguson (Manchester United) dan Arsène Wenger (Arsenal). Billy sangat terkesan dengan filosofi keduanya, terutama Wenger, dalam memantau data statistik pemain berprospek cerah yang kemudian diasah jadi pemain bintang yang sangat bernilai. “Wenger bertahun-tahun mampu menemukan pemain muda atau bakat mentah, lalu dikembangkan dan dijual dengan keuntungan besar. Emmanuel Adebayor, Nicolas Anelka, Samir Nasri, Marc Overmars, Emmanuel Petit, Robin van Persie, dan Kolo Touré hanya sebagian dari bukti metode ekonomi dan stastistik Wenger. Filosofi Beane juga bergantung pada statistik untuk mengidentifikasi talenta potensial, bertaruh pada pengembangannya dan dijual mahal. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Moneyball Effect ,” tulis John Cross dalam The Inside Story of Arsenal Under Wenger. Manajer legendaris Arsène Charles Ernest Wenger (kiri) yang diidolakan Billy Beane ( premierlague.com/passionmlb.com ) Deskripsi Film: Judul: Moneyball | Sutradara: Bennett Miller | Produser: Michael De Luca, Rachael Horovitz, Brad Pitt | Pemain: Brad Pitt, Jonah Hill, Chris Pratt, Philip Seymour Hoffman, Reed Diamond, Casey Bond, Kerris Dorsey, Bobby Kotick, Robin Wright, Stephen Bishop | Produksi: Columbia Pictures, Scott Rudin Productions, Michael De Luca Productions, Rachael Horovitz Productions, Plan B Entertainment | Distributor: Sony Pictures Releasing |Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 133 menit | Rilis: 9 September 2011, Mola TV
- Pecah Kongsi Pemuda Pasca Proklamasi
LEPAS isya di Asrama Mahasiswa Prapatan 10, Jakarta. Enam puluhan orang bersiap gelar rapat penentuan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), badan legislatif sementara Republik Indonesia. Mereka menunggu Sukarno dan Hatta tapi tak kunjung datang. Rapat tetap berlangsung hingga pukul 22.00. Dalam rapat 22 Agustus 1945 itu, Sutan Sjahrir sempat berbicara. Dia berkomentar tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bagi dia, cara Proklamasi kurang sreg. “Dianggapnya sebagai made in Japan,” kenang Alizar Thaib dalam 19 September dan Angkatan Pemuda Indonesia. Sjahrir anti-Jepang, tapi dia condong “lunak” terhadap Sekutu. “Sjahrir sama sekali tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa kita harus menyiapkan diri untuk berperang, sehingga perdamaian atau memakai jalan perundingan merupakan satu-satunya alternatif cara perjuangan Sjahrir,” tulis Hadidjojo Nitimihardjo dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo.
- Tjoet Nja’ Dhien Petarung Konsisten
RUANGAN sederhana di pedalaman Aceh itu hening dan temaram diterangi obor di suatu malam pada 1896. Di sana, Teuku Umar (diperankan Slamet Rahardjo) sedang bertukar pikiran dengan para panglimanya. Pemimpin gerilya Aceh itu lalu merenung sejenak sebelum mengutarakan niatnya melancarkan serangan fisabilillah terhadap kaphe-kaphe Belanda. “Kalian harus ingat! Udep saree , matee syahid !” ujar Teuku Umar kepada pasukannya yang disambut gema takbir serentak. Sang istri, Tjoet Nja’ Dhien (Christine Hakim), dan putrinya, Tjoet Gambang (Hendra Yanuarti), hanya bisa mendoakan. Sebagai perempuan Aceh, ia pun muak dengan keberingasan Belanda sejak Perang Aceh yang bergulir 23 tahun ke belakang. Baca juga: Semesta Wiro Sableng Menyapa Dunia Kolase sosok Teuku Umar (Tangkapan Layar Mola TV) Sementara, petinggi militer Belanda di Kutaradja (kini Banda Aceh) yang belajar dari pengalaman, mendatangkan ribuan pasukan Korps Marechaussee te Voet pimpinan Letkol Johannes Benedictus van Heutsz (Huib van den Hoek) dari Jawa. Pasukan khusus anti-gerilya itu punya taktik lebih mobile dan bengis. Gabungan pasukan Marechaussee dan tentara reguler KNIL (Tentara Hindia Belanda) itu, yang diperkuat informasi dari pengkhianat bernama Teuku Leubeh (Muhamad Amin), mampu mematahkan perlawanan Teuku Umar. Teuku Umar tertembak dan tewas kala menyerang Belanda di Meulaboh pada 11 Februari 1899. Tetapi itu bukanlah akhir dari perjuangan rakyat Aceh. Kematian Teuku Umar justru menggelorakan semangat Tjoet Nja’ untuk meneruskan perlawanan. “Berjuang melawan kaphe-kaphe Belanda adalah bagian dari keimanan… Aku bersyukur karena yang ada di sekelilingku sekarang hanyalah mereka, orang-orang kita, yang mengerti arti perjuangan dalam keimanan,” ujar Tjoet Nja’ Dhien. Baca juga: Wiro Sableng si Pendekar Konyol dan Ajaran 212 Letnan Kolonel Joannes Benedictus van Heutsz yang memimpin Korps Marechaussee (Tangkapan Layar Mola TV) Adegan-adegan itu jadi permulaan film drama Tjoet Nja’ Dhien. Film ini disutradarai penulis Eros Djarot. Adegan beringsut ke upaya Tjoet Nja’ Dhien membawa keluarga dan warganya melanjutkan jihad dengan bergerilya di pedalaman. Ia bersama Pang Laot (Piet Burnama), panglima yang paling setia sejak masa Teuku Umar, memimpin sisa pasukan mendiang suaminya. Tak hanya cermat dalam taktik gerilya, Tjoet Nja’ juga pandai menjalin jaringan untuk mendukung perjuangannya dari segi perbekalan dan persenjataan. Suatu waktu, ia menyamar jadi rakyat jelata untuk masuk ke Meulaboh dan bertemu Habib Meulaboh (Rosihan Anwar). Ia diberikan bantuan harta yang digalang sang habib untuk perjuangan. Tjoet Nja’ lalu menggunakan harta itu untuk membeli senjata api dari seorang saudagar Portugis. Baca juga: Kemasan Anyar Nagabonar Adegan negosiasi Tjoet Nja' Dhien dengan saudagar Portugis (Tangkapan Layar Mola TV) Sang saudagar Portugis mengaku terkesan dengan perjuangan Tjoet Nja’. Jika perwira-perwira Belanda melancarkan perang berkepanjangan demi harta dan tahta, Tjoet Nja’ berperang dengan tulus demi membebaskan negerinya dari penjajah Belanda. “Semua ini politik. Bila pemberontakan berhenti, pemerintah pusat juga akan menghentikan dana perang yang begitu besar jumlahnya. Kenapa Van Heutsz bawa pasukan begitu besar? Hanya untuk uang, pangkat. Money and glory . Mereka itu berjuang demi gaji. Dunia ini penuh permainan. Banyak juga orangmu yang jadi pengkhianat hanya karena uang ,” kata sang saudagar itu. “Bagaimana dengan tuan sendiri?” tanya Tjoet Nja’. “Ingat, Tjoet Nja’, aku seorang pedagang. Di mana ada uang mengalir, di situlah aku berada. Kalau ada pedagang besar teriak-teriak: ‘Aku berjuang untuk negeri ini!’ Ah, omong kosong. Aku benci orang munafik.” Baca juga: De Oost dan Ikhtiar Menyembuhkan Luka Lama Sosok Teuku Leubeh, saudagar besar yang mengkhianati perjuangan rakyat Aceh (Tangkapan Layar Mola TV) Kata-kata sang saudagar ditujukan pada pengkhianatan Teuku Leubeh. Ia juga yang menginformasikan di mana dan kapan bisa menghabisi sang pengkhianat itu. Namun, pembunuhan terhadap Teuku Leubeh tak menghentikan pengkhianatan. Tjoet Nja’ kemudian mengendus pengkhianatan Nja’ Fatma, pembantunya sendiri, yang mengaku terpaksa melakukannya demi membebaskan suami dan anaknya. Fatma lantas dibunuh Nja’ Bantu (Rita Zaharah), pembantu lain Tjoet Nja’. Ketika Tjoet Nja’ tergolek sakit, Nja’ Bantu mengorbankan diri dalam sebuah pertempuran. Ia memakai pakaian selaiknya Tjoet Nja’ untuk memimpin pertempuran. Baca juga: De Oost , Perang Westerling di Timur Jauh Pang Laot yang mengaku terpaksa berkhianat demi keselamatan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Makin lama, perlawanan Tjoet Nja’ makin lemah. Pada 1906 ia terdesak ke pedalaman Beutong Le Sageu dengan kondisi kesehatan yang memburuk serta jumlah pasukan dan persenjataan yang menipis. Kondisi itu membuat Pang Laot kian prihatin dan akhirnya membelot. Diam-diam ia menemui perwira Marechaussee, Kapten Veltman (Rudy Wowor). Dia lalu mengultimatum Tjoet Nja’: jika bersedia bekerjasama, akan diberi jaminan perawatan dan takkan diasingkan dari tanah Aceh. Bagaimana kelanjutan kisah Tjoet Nja’ Dhien yang dikhianati panglima terdekatnya itu? Biar lebih seru, sepatutnya Anda saksikan sendiri di aplikasi daring Mola TV . Versi Restorasi Tjoet Nja’ Djien yang ditayangkan Mola TV sejak 17 Agustus 2021 ini adalah film versi kedua hasil restorasi. Mengutip laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 10 Juli 2021, film yang memenangi Piala Citra di kategori film terbaik Festival Film Indonesia 1988 ini ditransformasi dari pita seluloid ke Digital Camera Package (DCP) agar secara visual dan audionya lebih jernih. Film Tjoet Nja’ Djien mulanya punya dua salinan. Salinan pertama berdurasi 132 menit, dirilis pada 1988. Versi kedua durasinya lebih pendek, 108 menit, dan dirilis setahun setelahnya. Versi kedua itulah yang lantas direstorasi oleh IdFilmCenter Foundation, Haghefilm Digitaat, dan Eye Filmmuseum dalam kurun 2017-2018 dengan alasan bahwa kualitas audio versi 1989 lebih baik dan lebih mudah untuk direstorasi ketimbang versi 1988. Baca juga: Bumi Manusia Rasa Milenial Lantunan syair-syair Aceh untuk membangkitkan semangat pasukan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Hasilnya, generasi sekarang bisa lebih sedap menghayati alur demi alur kisah perjuangan Tjoet Nja’ Dhien tanpa terganggu gambar buram dan suara yang buruk. Sang sutradara selain menyemarakkan film dengan adegan-adegan peperangan nan epik juga menyuguhkan pemandangan bentangan alam pegunungan hingga pantai elok tanah Aceh. Audio yang direstorasi juga membuat penonton bisa lebih merasakan suasana Aceh lewat music scoring melankolis Melayu garapan komposer Idris Sardi. Nuansa kultur Aceh makin terasa dengan lantunan syair-syair Aceh yang diiringi rapai (alat musik tabuh khas Aceh). Baca juga: Tabula Rasa yang Menggugah Selera Hasil restorasi juga sangat terang memampang berbagai detail wardrobe dan properti yang terbilang apik di masanya. Para gerilyawan Aceh digambarkan tak hanya berjuang dengan rencong, tombak, dan klewang namun juga sudah membawa senapan seperti blunderbuss. Detail properti dan wardrobe KNIL dan Marechaussee sangat kentara hasil riset matang. Berbagai atribut seragamnya cukup sesuai dengan masanya, pun dengan senjata karbin Mannlicher M-1888 yang sohor sebagai senjata khas Marechaussee selain klewang. Kendati begitu, bukan berarti hasil versi restorasinya sempurna. Banyak cutting saat pergantian adegan tak begitu halus atau presisi. Alhasil, cukup mengganggu. Keturunan Petarung yang Konsisten Rambut memutih, kerutan di wajah, dan usianya tak muda lagi tak mengurangi semangat Tjoet Nja’ untuk angkat senjata. Kharisma membuat pengikutnya begitu hormatinya dan lawannya begitu menyeganinya. “Dhien, istri (Teuku) Umar, adalah wanita yang berbahaya. Dia adalah putri dari Teuku Nanta Seutia, musuh besar Jenderal van Swieten. Dan suami pertamanya, Ibrahim Lam Nga, juga seorang panglima perang. Saya juga pernah menjelaskan ini kepada Tuan Snouck Hurgronje. Dialah otak dari Teuku Umar,” terang sang pengkhianat, Teuku Leubeh, kepada Letkol Van Heutsz dalam sebuah adegan di film. Baca juga: Christine Hakim Bicara tentang Tjoet Nja' Dhien Sosok Tjoet Nja' Dhien yang diperankan Herlina Christine Natalia Hakim (Wikipedia/Mola TV) Dialog itu jadi upaya tim produksi menampilkan latarbelakang singkat Tjoet Nja’ yang lahir di Lampadang (kini Lamteh) sekitar tahun 1848. Mengutip H. M. Zainuddin dalam Srikandi Atjeh , ayahnya, Teuku Nanta Seutia, merupakan uleebalang di wilayah Kesultanan Aceh. Ia masih punya garis keturunan Datuk Makhudum Sati, salah satu perantau Minangkabau pertama di tanah Aceh. Sementara, ibunya sampai kini masih samar identitasnya. Hanya disebutkan ia putri dari seorang uleebalang . “Teuku Nanta Muda Seutia Radja menikahi seorang putri bangsawan Lampagar. Sebab itu pula ia dianggap seorang uleebalang yang gagah berani oleh Sultan Alaiddin Mansjursjah. Teuku Nanta Seutia mendapat 2 orang putra dan seorang putri. Di antaranya dua anak laki-laki itu seorang meninggal, seorang lagi Teuku Tjut Rajeuk kurang sempurna akalnya. Anak yang putri dinamainya Tjut Dhien dan elok parasnya, baik budi pekertinya dan tingkah lakunya tangkas,” tulis Zainuddin. Baca juga: Cut Nyak Dhien Berhijab? Sebagai salah satu uleebalang dan panglima, Teuku Nanta Seutia turut menyabung nyawa menghadapi kolonial Belanda yang mendeklarasikan perang terhadap Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Dalam serangkaian perlawanannya, turut pula seorang uleebalang lain, Teuku Ibrahim Lam Nga, suami pertama Tjoet Nja’. “Awal mula perang dipicu kesepakatan Traktat Sumatera 1871 antara Inggris-Belanda yang memberikan keleluasaan Belanda meluaskan pengaruh di Pulau Sumatera dan Inggris menguasai Semenanjung Malaya. Pihak Inggris dan Belanda mengabaikan kedaulatan Kesultanan Aceh yang sebelumnya diakui dalam Traktat London 1814. Ketika itu kekuasaan kolonial diberi hak mengeksplorasi merica dan hasil hutan,” tulis Jean Rocher dan Iwan Santosa dalam KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis. Kolase Teuku Umar, suami kedua Tjoet Nja' Dhien (KITLV) Para pejuang Aceh menghadapi pasukan ekspedisi kedua Hindia Belanda yang turun dari kapal frigat Citadel van Antwerpen di pesisir timur Aceh. Pasukan ekspedisi itu terdiri dari 10 ribu kombatan KNIL pimpinan Jenderal Jan van Swieten yang dilengkapi dua senjata mesin gatling dan 75 meriam. Teuku Ibrahim syahid pada Juni 1878 dalam sebuah pertempuran di Lembah Beurandeun Gle’ Taron, sementara Teuku Nanta kembali ke kampung halamannya karena usia yang kian renta. Setelah beberapa bulan menjanda, Tjoet Nja’ dilamar Teuku Umar. Teuku Umar bukanlah orang asing baginya. Dari silsilah, Teuku Umar terhitung masih keponakan Teuku Nanta Seutia. Tjoet Nja’ bersedia dengan memberi syarat diperbolehkan ikut bergerilya bersama suaminya. Baca juga: Upaya Belanda Mengalahkan Aceh Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Tjoet Nja’ bersama putrinya, Tjoet Gambang, berikrar melanjutkan jihad sebagai seorang janda. Ia mengikuti heroisme Laksamana Keumalahayati kala menghadapi armada Portugis dan VOC (Kongsi Hindia Timur) di peralihan abad ke-16 dan abad ke-17. “Tradisi kepahlawanan perempuan Aceh telah dibangun 4 atau 5 abad sebelum mereka terlibat perang dengan Belanda. Laksamana Keumalayahati, seorang jenderal militer pertahanan laut Kesultanan Aceh, mampu menjadi penguasa laut berpengaruh dan disegani di seluruh Laut Andaman, Laut Aceh, Selat Malaka sampai pantai barat Sumatera. Keumalayahatilah yang menundukkan Portugis dan Spanyol di seluruh kekuasaan perairan Aceh,” ungkap Juftazani dalam De Atjeh Oorlog: 1873-1890 . Adegan penangkapan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Taktik gerilya Tjoet Nja’ dan sejumlah tokoh Aceh di wilayah lain melelahkan Belanda dan pihak Aceh. Selain menggembosi kas pemerintah kolonial di Batavia, gerilya Tjoet Nja’ hingga empat dekade kemudian perang itu menimbulkan korban jiwa terbesar Belanda. “Dari seluruh perang di kepulauan Nusantara, Perang Aceh adalah yang paling kejam dan berdarah. Perang Aceh adalah ujian kekuasaan Belanda dan KNIL. Secara keseluruhan jumlah prajurit Belanda yang gugur mencapai 37 ribu atau 10 kali lipat jumlah korban serdadu Belanda dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949),” tulis Rocher dan Iwan. Baca juga: Kemenangan dan Kegagalan di Aceh Namun, perlawanan Tjoet Nja’ dapat dipatahkan karena banyaknya pengkhianatan. Terakhir adalah pengkhianatan Pang Laot dengan niat “menyelamatkan” Tjoet Nja’ yang pada 1906 sudah menderita encok dan penglihatannya makin rabun. Ia pun disergap pasukan Belanda yang dipimpin Letnan van Vuuren setelah mendapat informasi lokasi persembunyiannya dari Pang Laot. “Setelah pasukannya dikepung, Cut Nyak Dien mencabut rencongnya. Dia bermaksud menikam serdadu Belanda tapi berhasil dicegah. Setelah gagal, Cut Nyak Dien bermaksud menikam rencongnya ke dadanya sendiri yang juga berhasil dicegah. Setelah semua usahanya gagal, Cut Nyak Dien memaki-maki serdadu Belanda dengan mengatakan ia tidak ingin badannya dipegang tentara kafir. Badannya telah lemas tapi semangatnya tetap menyala. Letnan Van Vuuren kagum melihat keberanian pemimpin wanita Aceh ini. Ia memberikan penghormatan militer karena Cut Nyak Dien adalah musuh tentara Belanda yang satria,” tulis Mardanas Safwan dalam Teuku Umar. Setelah ditangkap, semangat non-kooperasi Tjoet Nja’ tak luntur. Ia menolak pemberian akomodasi dan logistik dari pihak Belanda. Sikap tersebut terus dibawanya hingga akhir hayat. Potret Tjoet Nja' Dhien (duduk, kedua dari kiri) di usia senjanya kala diasingkan di Sumedang (Tropenmuseum) Deskripsi Film: Judul: Tjoet Nja’ Dhien | Sutradara: Eros Djarot | Produser: Alwin Abdullah, Alwin Arifin, Sugeng Djarot | Pemain: Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Rudy Wowor, Hendra Yuniarti, Piet Burnama, Muhamad Amin, Robert Syarif, Rosihan Anwar, Rita Zahara, Huib van den Hoek, Herald Meyer | Produksi: Kanta Indah Film | Genre: Drama Biopik | Durasi: 105 menit | Rilis: 1988, 17 Agustus 2021 (Mola TV) .
- Gadis Maluku Pembawa Tombak
SAPARUA, 1817. Thomas Matulesia atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura memulai perlawanannya terhadap kolonialisme Belanda di Maluku. Semangat perjuangannya kemudian menjalar ke berbagai wilayah di kepulauan tersebut. Di Ambon, Kapitan Ulupaha menyerang kota dan berusaha menguasai Benteng Victoria. Sementara di Nusa Laut, peperangan berkobar dengan dipimpin Kapitan Abubu bersama putrinya yang pemberani: Martha Christina Tiahahu. Martha barangkali sosok perempuan Maluku paling dikenal hingga hari ini. Ia menjadi salah satu simbol perjuangan Maluku melawan Belanda, selain Kapitan Pattimura. Perjuangannya menjadi ikonik karena ia masih belia ketika turut sang ayah bertempur. Kapan Martha dilahirkan masih belum jelas. Namun, catatan Belanda menyebut bahwa ia masih berusia antara 16 hingga 18 tahun ketika meletus peperangan pada 1817. L.J.H. Zacharias dalam Marta Christina Tiahahu, memperkirakan Martha lahir di Nusa Laut sekira tahun 1800. Martha telah kehilangan ibunya sejak kecil. Maka, sang ayah Paulus Tiahahu menjadi satu-satunya panutan baginya. Paulus bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang kapitan. Nama Tiahahu sendiri berasal dari kata “ Atihahu ” yang berarti “melompat seperti babi.” Ini menandakan bahwa sang empunya nama punya kecakapan bertarung seperti babi yang melompat-lompat ketika mengamuk. Karena ayahnya menyandang gelar “Kapitan Abubu”, Martha sering menguping pertemuan para kapitan. Ia banyak belajar mengenai perjuangan melawan penjajah hingga strategi-strategi perang. “Oleh karena itu tidak heran bahwa tugas sehari-hari ayahnya sebagai kapitan dikenal dengan baik sekali oleh Martha Christina Tiahahu dan tugas itu berbekas dan turut membentuknya ketika ia menginjak remaja,” tulis Zacharias. Pada 1817, suasana politik di Maluku begitu panas. Pasalnya, Belanda baru saja merebut wilayah ini dari Inggris yang telah dua kali bekuasa, yakni pada 1796-1803 dan 1810-1817. Sejak Inggris berkuasa, sikap rakyat Maluku terhadap Belanda juga berubah. Mereka tak lagi kagum terhadap negeri kincir air itu. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, mula-mula pemberontakan pecah di Saparua. Kapitan Pattimura bersama pasukannya berhasil menduduki Benteng Duurstede pada Mei 1817. “Setelah Residen Belanda di Saparua berikut keluarganya (kecuali seorang anak kecil) dibunuh, pihak Belanda mengirim bala bantuan dari Batavia,” tulis Ricklefs. Di Nusa Laut, Kapitan Abubu dan Hehanusa, Raja Titawaai, juga memulai perlawanan. Martha yang awalnya dilarang ayahnya ikut berperang, akhirnya turun juga ke palagan. Dengan rambut berombak yang terurai, ia begitu semangat menggunakan tombak dan parang. Pemberontakan makin menjalar. Kapitan Ulupaha yang sudah lanjut usia dan harus ditandu bahkan telah menyerang pos-pos Belanda di Pulau Ambon. Peperangan ini mengharuskan pimpinan tertinggi militer Belanda, Laksamana Buyskes, turun gunung. Buyskes harus berhadapan langsung dengan pasukan Pattimura dengan mengandalkan armada lautnya, kapal Maria Reygersbergen dan Iris serta bantuan kapal Inggris The Dispatch . Pattimura berhasil dikalahkan dan Benteng Duurstede kembali dikuasai Belanda. Menurut buku Sejarah Daerah Maluku , kampung-kampung di Pulau Lease juga berhasil diduduki. Perlawanan di daerah lainnya juga berhasil dilucuti. Pattimura ditangkap dan divonis hukuman mati bersama tiga orang lain termasuk Kapitan Abubu. Mereka digantung di depan Benteng Victoria, Ambon pada Desember 1817. Tahanan yang lain akan dikirim ke Jawa dan menjalani kerja paksa di perkebunan kopi. Martha yang turut dalam tahanan tersebut dibebaskan karena dianggap masih terlalu muda. Martha kemudian mengasingkan diri ke hutan. Meski bebas, Belanda masih mengawasi Martha karena khawatir gadis itu akan merepotkan Belanda nantinya. Martha juga disebut tengah mengumpulkan sisa-sisa pejuang yang masih bertahan. Martha kemudian dituduh telah menjadi gila sehingga harus ditangkap. Tak hanya itu, ia tak akan dipenjara di Maluku melainkan diasingkan ke Pulau Jawa. “Mungkin karena pihak Belanda kuatir Christina Martha Tiahahu akan mempengaruhi orang–orang tawanan lainnya dalam penjara dengan cita-cita politiknya,” tulis M. Sapija dalam Kisah Perjuangan Pattimura . Menurut Zacharias, Martha kemudian ditangkap dan bersama 39 tawanan lain diasingkan ke Jawa. Di atas kapal Evertsen yang membawanya ke pengasingan itu, kesehatan Martha terus menurun. Pada 2 Januari 1818, ketika kapal melintasi Laut Banda, sang mutiara Nusa Laut itu meninggal dunia.*
- Dana Awal Pendirian Republik
PRANGKO itu sudah lusuh. Warnanya memudar. Tapi gambarnya masih cukup terlihat. Seekor sapi di tengah sawah dengan latar belakang alam perdesaan. Di sudut atas tertera tulisan “FONDS KEMERDEKAAN”. Perangko ini terbit pada 1946 dan hasil penjualannya digunakan untuk membiayai Republik Indonesia yang baru lahir pada Agustus 1945. Fonds Kemerdekaan tadinya bernama Fonds Perang dan Kemerdekaan. Dibentuk pada 1 Februari 1945, fonds ini bertujuan untuk mendanai persiapan Indonesia sebagai negara merdeka setelah keluarnya janji Perdana Menteri Kuniaki Koiso pada September 1944.
- Mencari Titik Temu Dua Sudut Pandang Sejarah
HARI ini 17 Agustus, 76 tahun lalu. Hari di mana Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hari di saat orang Indonesia menyobek biru dari bendera Belanda dan di seluruh negara Merah Putih mulai berkibar. Hari Kemerdekaan? Apakah orang-orang di Belanda juga akan menyebut hal yang sama, karena sebenarnya di Indonesia si penjajah belum sepenuhnya menghilang. Negara dan rakyat masih harus melewati empat tahun masa Revolusi, dan menghadapi Agresi Militer Belanda , dua rangkaian peristiwa berdarah yang mengakibatkan belasan ribu orang mati. Kemenangan terasa manis: ia membuat semua korban menjadi martir, menjadikan mereka sebagai pahlawan, sementara orang-orang Belanda jadi pecundang. Di tahun 1950, saat Indonesia akhirnya bisa menulis sejarahnya sendiri, sementara itu Belanda dengan malu menutupi luka-lukanya, sebagai pecundang yang tidak terlalu baik. Belanda merajuk, bahkan menolak mengakui 17 Agustus 1945 sebagai momen kemerdekaan Indonesia. Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka bulan Desember 1949, ketika Belanda dan Indonesia menandatangani apa yang disebut " De Overdracht " (penyerahan kedaulatan) di dalam buku-buku sejarah Belanda. Sebuah sikap picik yang sama seperti Inggris saat mereka tak mengakui 4 Juli sebagai hari kemerdekaan Amerika, karena setelah 1772 Inggris terus menerus memerangi Amerika. Ini mungkin omong kosong historis, tetapi untuk orang Belanda argumen itu absah dari segi hukum. Sebab kalau Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, artinya Belanda mengakui bahwa mereka berperang selama empat tahun di wilayah negara Indonesia merdeka. Sama artinya dengan invasi yang bisa menjadi serangkaian klaim ganti rugi Indonesia atas Belanda untuk kerusakan yang berkepanjangan. Belanda dan Indonesia tidak pernah bersepakat tentang 17 Agustus 1945, –orang Indonesia meninggalkan masalah itu dan melihat ke depan, sementara orang Belanda paling banyak menatap ke belakang. Kedua negara menulis versi sejarahnya sendiri, dengan terminologi yang berbeda dan dengan versi sendiri dari apa yang persis terjadi dan kenapa itu terjadi. Dan sejak Desember 1949 mereka berjalan sendiri-sendiri saat berbicara sejarah. Saling berlawanan, bukan saling bertautan satu sama lain. Tapi tentu saja para pegawai Kedutaan Besar Belanda di Jakarta bersedia menghadiri upacara-upacara resmi tujuhbelasan, dan pada 2005 Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot datang ke Jakarta untuk ikut merayakannya –sebagai pejabat tinggi pemerintah Belanda. Menurut Bot, kehadirannya itu adalah pengakuan. "Pengakuan bahwa di Belanda ada kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia secara de facto sudah mulai pada 17 Agustus 1945 dan bahwa kami, enampuluh tahun setelahnya dengan murah hati menerima fakta itu dalam arti politik dan moral". Dia pasti bersungguh-sungguh tanpa keraguan, tetapi dengan semua kemurahan hati sang menteri terkesan seakan melarikan diri dengan menggunakan kata " de facto ". Belanda telah mengakui 17 Agustus secara " de facto ", tetapi itu sangat berbeda dengan " de jure ", secara hukum. Jadi pengacara manapun tidak bisa berbuat apapun dengan pengakuan itu, begitu pula dengan orang Indonesia. Saat itu orang Belanda dan beberapa warga Jakarta bertanya kepada saya, "benar atau tidak kalau Belanda mengakui 17 Agustus?" Saya hanya bisa menjawab, “Iya secara de facto , tidak secara de jure .” Keraguan yang sama juga terjadi pada soal "meminta maaf", sebuah kalimat yang selama bertahun-tahun tidak mau Belanda ucapkan –misalnya berhubungan dengan pembunuhan massal di Rawagede. Tanpa disadari, Indonesia menjadi saksi atas permainan kata-kata yuridis yang halus dan sejatinya memiliki perbedaan makna antara "meminta maaf" atas sesuatu hal dengan "menyesali" sesuatu hal. Sekali lagi orang-orang bertanya kepada saya sebenarnya apa persoalan sekarang ini? Sekali lagi saya jawab dengan penjelasan, yang dalam bahasa Indonesia lebih sulit lagi dimengerti daripada dalam bahasa Belanda: "Kalau Anda minta maaf, Anda mengakui bahwa Anda salah. Kalau Anda menyesali sesuatu, Anda hanya mengakui bahwa sesuatu pernah terjadi..." "De-jurisme" ini telah lama menjadi ciri khas sikap Belanda berhubungan dengan sejarah: sebuah upaya untuk tidak pernah mengatakan sesuatu secara terus terang dalam arti yuridis dan tidak bersedia menggunakan kata-kata yang disarankan dalam sudut pandang itu. Dapat dimengerti jika Anda berpikir bahwa pemerintah Belanda selalu mencari keseimbangan antara kesalahan dari masa lalu dengan beberapa isu sensitif, misalnya veteran-veteran perang Belanda yang merasa tersingkirkan, janji-janji yang tidak realistis kepada orang-orang Maluku dan Papua, warga Indo yang memikul beban dari trauma yang dalam. Belanda merasa dikhianati dan dirampok. Di antara semua itu, pemerintah Belanda mencoba menyelamatkan mukanya dengan bermain kata-kata dan eufemisme supaya aman. Sejak hubungan Belanda-Indonesia terputus, Belanda sudah memainkan hal tersebut. Itu terlihat dari beberapa perbedaan istilah yang digunakan di kedua negara. Contoh: orang Indonesia memakai kata "Agresi Militer". Itu adalah ungkapan untuk periode yang oleh orang Belanda disebut sebagai "Politionele Acties" (aksi polisionil). Orang Indonesia terbiasa dengan istilah Agresi Militer. Sementara "Aksi Polisionil" tidak bisa ditemukan di buku sejarah mereka. Untuk apa harus begitu? Itu bukan tentang upaya menegakan hukum oleh polisi, tetapi sebetulnya tentang kampanye kekerasan oleh tentara Belanda yang direncanakan dan disetujui oleh pemerintah Belanda. Karena pada saat yang sama, ketika "Aksi Polisionil" itu dilancarkan, banyak sekali pembantaian di desa-desa di Indonesia yang telah membuka banyak luka. Sebaliknya orang Belanda lebih banyak bicara tentang "Periode Bersiap": sebuah istilah yang dipakai untuk merujuk kepada periode yang penuh kekerasan tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno 17 Agustus 1945. Seperti halnya istilah ‘Aksi Polisionil’, istilah ‘Periode Bersiap’ juga tak bisa ditemukan dalam buku pelajaran sejarah di Indonesia. Apa yang terjadi pada periode itu: Hasutan dikumandangkan melalui radio "pemuda" (pejuang muda) untuk memburu semua orang Belanda atau orang yang pernah berkolaborasi dengan orang Belanda. Dalam beberapa bulan mereka membunuh antara 20 dan 30-ribu lelaki, perempuan, orang lansia dan anak-anak. Misalnya tiga anak-anak Van Slooten, yang berusia 7, 8, dan 10 saat mereka dibunuh di Batavia pada 7 Desember 1945. Nama dan tanggal kematian mereka disebut pada nisan salib putih di kompleks pemakaman Menteng Pulo di Jakarta. Untuk orang Indonesia "Periode Bersiap" tidak pernah ada. Di dalam buku-buku sejarah, periode itu tidak disebut secara tersendiri. Kekerasan ada kapan saja dan di mana-mana. Itu adalah revolusi. Hanya ada sedikit korban mati Indonesia yang nisan kuburannya yang dirawat sebaik di pekuburan Menteng Pulo (kecuali kuburan korban Rawagede), bahkan untuk semua anak-anak yang meninggal. Dan bagi mayoritas orang Indonesia "bersiap" hanya adalah sebuah kata yang hanya berarti, bersiap (siap siaga). Suatu pembantaian tidak boleh menjadi pemakluman untuk hal lain. "Periode Bersiap" tidak boleh disandingkan dengan "Aksi-aksi Polisionil" dengan perbandingan siapa yang paling kejam di dalam perang: orang Belanda atau orang Indonesia? Memilih untuk menggunakan terminologi tertentu selalu memiliki maknanya sendiri: pada semua istilah yang dipakai merujuk kepada tafsiran atas kejadian. Penggunaan istilah itu adalah pernyataan sikap dan posisi dari sebuah kontestasi sudut pandang. Sementara itu semua terjadi, dunia sedang terjaga. Suara dari yang pernah dijajah lebih terdengar dan perlakuan dari para penjajah tiba tiba menjadi kejahatan. Pameran dan buku-buku menggambarkan sudut pandang yang berbeda tentang kejadian di masa lalu. Artefak-artefak di museum menjadi terkuak bawah itu "hasil rampokan" dan harus dikembalikan, patung-patung dirobohkan dan sejarah kembali diteliti. Sejarawan-sejarawan Belanda dikirim ke Indonesia dalam sebuah misi yang mahal untuk meneliti kembali kekerasan-kerasan yang terjadi, terutama di tahun 1940-an. Mereka punya tugas khusus untuk meneliti "Periode Bersiap". Hingga kini mereka masih menyusun hasil penelitiannya. Di tengah dunia yang sedang terjaga ini, harian nasional Belanda De Volkskrant memilih tanggal 17 Agustus untuk mengirimkan kuesioner kepada orang-orang Indonesia, bekerjasama dengan majalah sejarah popular Indonesia Historia.ID . Ide ini tampaknya sederhana: Bagaimana pendapat orang Indonesia tentang orang Belanda? Tetapi saat menyusun kuesioner ini, para penyusun kuesioner sadar bahwa bicara sejarah tak pernah terhindar dari beban masa lalu. Di balik beberapa pertanyaan tanpa disadari ada kemungkinan bahwa pertanyaan itu mengandung maksud yang tidak terucap, prasangka-prasangka dan kesalahpahaman. Yang jelas bahwa selama 76 tahun tidak pernah ada percakapan yang baik antara dua bangsa tentang masa lalu, selain enggan mengotak-atik masa lalu dengan motif di baliknya dan alasan-alasan kompensasi. Mungkin lebih gampang bagi saya untuk melupakan semua hal dari masa lalu dalam sudut pandang Belanda dan menjawab pertanyaan dalam kuesioner dari sudut pandang Indonesia masa kini –sebagaimana pernah saya alami selama 18 tahun tinggal di Indonesia yang membuat saya lebih memahami sejarah dari perspektif Indonesia. Pertanyaannya kini bagaimana perlakuan orang Indonesia terhadap orang Belanda? Orang Indonesia menerima orang Belanda secara ramah, karena pada dasarnya mereka adalah bangsa yang sangat ramah tamah. Mereka bisa tertawa dengan hal-hal nostalgia yang terhubung dengan ikhtiar pencarian akar masa lalu orang Belanda di Indonesia, tetapi mereka memanfaatkan nostalgia itu juga di hotel-hotel dan restoran-restoran, di mana mereka memamerkan suasana kolonial dan menyediakan rijstafel Belanda. Mereka memainkan musik keroncong dan menyanyi " Als de orchideeën bloeien " dan dengan senyum mengucapkan " hotperdom ", satu-satunya kata Belanda yang semua orang Indonesia kenal. Bagaimana dengan orang Belanda menurut orang Indonesia? Mereka bicara keras, sangat kaku, banyak minum (minuman keras) dan punya hidung yang mancung. Mereka tinggal di "Negeri Kincir Angin". Tapi kalau orang Indonesia liburan ke Belanda mereka akan senang selfie di De Zaanse Schans, mereka berfoto dengan pakaian tradisional Volendam dan berkunjung taman tulip De Keukenhof. Kalau Belanda terlalu jauh mereka akan kunjungi Holland Village di Jawa untuk ambil selfie dan memakai klompen, sepatu kayu, seolah mereka berada di Belanda. Sementara itu kalau orang Belanda berkunjung ke Indonesia, mereka akan mencari rumah kelahiran kakek-neneknya, sebuah rumah yang mereka kenal dari selembar foto hitam putih dengan orang berpakaian rapih yang sedang menyenangkan diri di kebun yang terawat dengan pohon besar. Dalam foto itu kakek-nenek mereka berdiri di teras rumah besar dan megah. Tentu mereka, orang-orang Belanda yang sedang berkunjung ke Indonesia, akan senang ketika rumahnya masih ada, walaupun kebunnya sudah tidak ada lagi dan sekarang rumah itu sudah menjadi bangunan sekolah. Mereka malahan membiarkan diri mereka terkejut oleh bunyi riuh tawa seisi kelas saat murid-murid meneriakkan ‘penjajahan’ saat mereka bertanya soal zaman kolonial. Kami tidak merasa diacuhkan. Lagipula mereka merasa bukan kolonialis. Perasaan mereka juga sama ketika mereka berpikir tentang ayah, kakek, kakek buyut mereka, semunya orang baik juga. Orang Belanda menjadi sangat hangat ketika mereka mendengar orang Indonesia memakai kata-kata seperti "waslap", "asbak", "handuk", "persneling", "rem", "notaris", dan "kantor". Sementara itu pemuda pemudi Indonesia masa kini bereaksi sama terkejutnya dengan orang Belanda tentang kata-kata tersebut. "Lho, apakah itu sama dalam bahasa Belanda?" Sebab untuk mereka, orang Indonesia, kata-kata itu sudah lama tidak lagi menjadi kata dalam bahasa Belanda, melainkan kosakata Indonesia yang mereka gunakan sehari-hari. Turisme membebaskan sejarah dari esensinya yang berat, dengan menjadikan sesuatu hal yang sebenarnya serius dan ruwet menjadi sesuatu yang lucu. Biarkan waktu yang akan mengubahnya. Suatu saat, "hubungan lama" antara Belanda dan Indonesia yang penuh kerumitan, akan menjadi latar belakang untuk selfie saja. Kuesioner dari harian De Volkskrant , berkolaborasi dengan Historia.ID ini adalah sesuatu eksperimen kecil tetapi penting, di tengah persimpangan dua dunia pemikiran yang begitu berbeda ini. Penulis adalah wartawan senior De Volkskrant. Artikel ini ditulis sebagai pengantar survei Persepsi Pembaca Historia.ID terhadap Kolonialisme Belanda di Indonesia. Artikel dalam bahasa Belanda berjudul “ Hoe denken de Indonesiërs over de Nederlanders? Een nodig, maar moeilijk gesprek in een ontwakende wereld” terbit di De Volkskrant, 17 Agustus 2021. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Arjan Onderdenwijngaard dan Bonnie Triyana. Survei dilakukan oleh harian De Volkskrant dengan Historia.ID.
- Menjelang Proklamasi Tiba
KEPANIKAN terjadi saat Bung Karno dan Bung Hatta dikabarkan menghilang dari kediamannya. Dua lakon utama yang tengah mempersiapkan proklamasi itu tetiba tidak diketahui rimbanya. Petunjuk mengarah kepada golongan muda yang memang beberapa waktu menekan Bung Karno dan Bung Hatta menyegerakan proklamasi. Ahmad Subardjo, ditemani Sudiro, segera menemui salah seorang tokoh golongan muda, Wikana. Subardjo, sebagaimana disebutkan Suhartono dalam Kaigun Penentu Krisis Proklamasi, dikenal dekat dengan Wikana. Dia yakin kawannya itu akan mengatakan keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta kepadanya. Namun Wikana bersikukuh merahasiakan keberadaan mereka. Akhirnya, dengan “menggadaikan” namanya, Subardjo berjanji melaksanakan proklamasi begitu Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta. Wikana pun akhirnya betus. Setelah mengetahui di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada, Subardjo langsung menjemput keduanya. Pada waktu yang bersamaan, Wikana bersama beberapa pemuda yang sengaja ditinggal di Jakarta melakukan persiapan penyelenggaraan proklamasi. Dari keterangan Sidik Kertapati dalam bukunya Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi di rumah Bung Karno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Tadashi Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi.
- Jajak Pendapat Pembaca Historia.ID: Persepsi terhadap Penjajahan Belanda di Indonesia
Jika Anda kesulitan mengakses form survei di bawah silahkan klik tautan berikut ini: Form Jajak Pendapat
- Repotnya Menyusun Pidato Sukarno
SETIAP memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, sudah kewajiban bagi Bung Karno untuk menyampaikan pidato kenegaraan. Menjelang 17 Agustus, kesibukan selalu terjadi di ruang tengah Istana Merdeka. Di tempat itulah Bung Karno biasa menyusun konsep pidatonya. Ketelitian Sukarno dalam menyusun pidato kenegaraan diungkapkan oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra. Bung Karno, menurut Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku, selalu mendiskusikan tema pidatonya terlebih dahulu dengan orang-orang penting seperti para menteri dan tokoh-tokoh masyarakat. Setelah itu, Sukarno mengumpulkan bahan-bahan pendukung melalui literatur, suratkabar, majalah, hingga berita dan laporan dari luar negeri. Kebiasaan lain Sukarno dalam menyusun teks pidatonya adalah penggunaan pulpen kelas atas merk Parker dengan tinta warna biru merek Quink. Penulisan dilakukan di atas kertas kepresidenan ukuran folio. Setelah selesai ditulis tangan, naskah pidato itu kemudian diketik sebagai konsep. Sukarno kerap kali mengutip pemikiran dari tokoh-tokoh besar maupun istilah asing yang semakin menambah bobot pidatonya.
- Pertempuran Perbatasan Kedua Soviet-RRC (lanjutan)
SEJAK pertempuran di Pulau Zhenbao (Russia: Damansky) di Sungai Ussuri –yang merupakan perbatasan Uni Soviet-RRC– pecah pada 2 Maret 1969, Komandan Detasemen Perbatasan ke-57 Uni Soviet Kolonel Demokrat Vladimirovich Leonov sibuk bukan kepalang. Dia sering tak pulang. Kepada istrinya dia sampai mengatakan bahwa keinginannya hanyalah tidur sesaat. Sempat pulang sesaat, pada 14 Maret Leonov kembali pergi ke pos-pos terdepan di perbatasan kedua negara. Kesiapan tempur semua pasukan penjaga perbatasan diinspeksinya. Tapi, dia tak lupa menelepon istrinya guna mengabarkan hari itu dia tidak pulang dan berjanji akan pulang esoknya. Tensi di perbatasan wilayah dua raksasa komunis itu masih tinggi kendati belum ada pertempuran susulan setelah pertempuran tanggal 2 Maret. Meski kedua belah pihak mundur dari pulau yang disengketakan, masing-masing justru memperkuat pasukan perbatasannya. Konflik perbatasan Soviet-RRC terjadi karena perpecahan aliansi keduanya pada akhir dekade 1950-an. Perbedaan doktrin sebagai hasil interpretasi terhadap Marxisme-Leninisme menjadi pangkalnya. Hubungan kedua negara makin buruk setelah pemimpin Soviet Nikita Khrushchev mengeluarkan kebijakan luar negeri “Koeksistensi Damai” yang mengupayakan perdamaian dengan Blok Barat. Kebijakan itu dikritik pemimpin RRC Mao Zedong sebagai revisionisme. Kritik Mao memicu kritik balasan dari Khrushchev. Hubungan kedua negara pun diwarnai saling kritik. Puncaknya, RRC menolak Soviet sebagai pemimpin gerakan Komunis dunia pada musim semi 1969. Akibatnya, di lapangan, para serdadu penjaga perbatasan kedua negara berubah menjadi rival dari yang semula sahabat. Kendati perkelahian antara kedua pasukan telah muncul sejak paruh pertama 1960-an, intensitasnya baru naik pesat sejak awal 1967. Saling hantam menggunakan tongkat, popor senapan, atau alat-alat pemukul lain jadi pemandangan umum. “Saat itu, episode seperti itu biasa terjadi: penjaga perbatasan Soviet atau Cina akan berpatroli di salah satu dari banyak pulau yang disengketakan, dan penjaga dari negara lain akan menemui mereka di pulau itu, mengklaim bahwa mereka melanggar wilayah kedaulatan mereka, dan menuntut mereka pergi. Sampai saat ini, konfrontasi biasanya hanya melibatkan sedikit lebih dari teriakan, perkelahian, dan penggunaan pentungan,” tulis Michael S. Gerson dalam The Sino-Soviet Border Conflict: Deterrence, Escalation, and the Threat of Nuclear War in 1969 . Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Para prajurit Soviet, sebagaimana ditulis Vladimir Rybin dalam “Heroes of Ussuri” yang dimuat dalam warheroes.ru, biasa pulang dengan badan memar. Kendati begitu, mereka mendapat perhatian besar dari Kolonel Leonov. Mayor Kvitko, kepala dinas medis pos terdepan Soviet, ingat betul besarnya perhatian Leonov pada para prajurit yang terluka. “Saya ingat bahwa tahun lalu orang Cina memukul kepala Prajurit Lavrov dengan pemecah es. Kami, seperti yang diharapkan, segera membawanya ke ambulans untuk membawanya ke rumahsakit. Dan Leonov berhenti. Dia berkata: ‘Naik helikopter dan langsung ke Vladivostok. Ada spesialis berpengalaman.’ Setelah semua itu, aku tahu. Lavrov mengalami patah tulang tengkorak,” kata Kvitko, dikutip Rybin. Betapapun seringnya perkelahian terjadi di perbatasan, tak satu peluru pun ditembakkan oleh kedua belah pihak. Baik Soviet maupun RRC sama-sama melarang keras pasukannya memulai tembakan pertama. Pola konflik baru berubah setelah bentrokan terjadi antara pasukan penjaga perbatasaan Soviet dengan nelayan-nelayan Tiongkok pada awal 1968 yang menewaskan empat nelayan. Pemerintah RRC segera memerintahkan Distrik Militer Provinsi Heilongjiang melakukan pembalasan setimpal, yang lalu diejawantahkan dengan pembentukan pasukan komando untuk menyergap pasukan penjaga perbatasan Soviet. “Pada 19 Februari 1969, sebuah rencana yang diprakarsai otoritas militer Heilongjiang untuk menempatkan tiga batalyon infanteri di Damansky/Zhenbao guna pertahanan melawan ‘revisionisme’ telah disetujui Staf Umum PLA, dan mungkin mengingat kemungkinan dampak internasional, Kementerian Luar Negeri RRT. Pada saat itu, perasaan permusuhan di antara elit dan massa di kedua negara terhadap satu sama lain telah dihasut sedemikian rupa sehingga peluang untuk menyelesaikan masalah perbatasan sama sekali tidak ada,” tulis sejarawan Chien-peng Chung dalam Domestic Politics, International Bargaining and China’s Territorial Disputes . Pertempuran akhirnya pecah pada 2 Maret 1969 dengan penyergapan pasukan RRC terhadap pasukan perbatasan Soviet di Pulau Zhenbao/Damansky dekat pos luar Soviet Nizhne-Mikhailovka. Penyergapan itu membuat para petinggi Soviet, termasuk komandan lapangan Kolonel Leonov dan atasannya, Komandan Distrik Militer Timur Jauh Kolonel Jenderal Oleg Losik, kaget dan bingung tak menyangka pasukan RRC bakal senekat itu. “Dalam waktu satu jam Kolonel Jenderal Oleg Losik, komandan Distrik Militer Timur Jauh, sedang berbicara di telepon dengan Alexei Kosygin, ketua Dewan Menteri Soviet yang kebingungan. Para pemimpin politik Rusia telah sepenuhnya lengah oleh serangan China. Brezhnev berada di luar negeri, sementara Kremlin disibukkan dengan dampak lanjutan invasi Cekoslowakia tahun sebelumnya serta pertemuan puncak yang akan datang dengan Amerika Serikat,” tulis sejarawan militer Jesse Du dalam “Russia vs. China: How Conflict at the Sino-Soviet Border Nearly Started Nuclear War”, dimuat di historynet . com , Juli 2021. Konflik makin memanas setelah pertempuran 2 Maret itu. Masing-masing pihak memperkuat pasukannya. Sambil menunggu lampu hijau dari Kremlin, Jenderal Losik memperkuat pasukan perbatasannya dengan penambahan Divisi Senapan Motor ke-135 yang di dalamnya mencakup tank T-62, truk peluncur roket BM-21 “Grad”, howitzer 122mm, dan sedikit helikopter Mi-4. Sementara, Komandan Distrik Militer Shenyang RRC Chen Xilian menambah kekuatannya dengan mengerahkan resimen infanteri dan artileri dari Divisi ke-67 berikut penambahan RPG (granat berpeluncur roket) dan recoilless 75mm. Losik akhirnya mendapat perintah dari Moscow untuk mempertahankan perbatasan nasional sambil mencegah konflik militer skala besar. Perintah yang membingungkan itu diterjemahkan Losik sebagai tidak akan ada bala bantuan tentara Soviet. Dia terpaksa harus bertahan dengan pasukan perbatasan yang ada berikut persenjataannya. Pada 14 Maret, Leonov yang amat dicintai anak buahnya menginspeksi kesiapan pasukan Soviet di pos-pos perbatasan. Dia tak pulang ke rumah karena sebelum fajar keesokan harinya, pasukan itu mesti dikerahkan ke Pulau Zhenbao/Damansky. “Leonov menuntut dari setiap penjaga perbatasan pengetahuan sangat baik tentang daerah tersebut, kemampuan untuk bertindak dengan berani dan mandiri, kesiapan tempur yang konstan, kecepatan, kerahasiaan, tindakan dadakan, kesiapan untuk melawan musuh yang kalah jumlah. Dan, seolah mengantisipasi peristiwa, dia fokus pada organisasi komunikasi, interaksi yang jelas dari detasemen, pos terdepan, dan semua unit dari tiap unit yang ada,” tulis Rybin. Pada saat hampir bersamaan di tepi lain Sungai Ussuri, pasukan RRC juga dikerahkan ke pulau yang disengketakan itu. Alhasil sebelum tengah hari 15 Maret, pertempuran pecah. Artileri dan tembakan senapan mesin RRC terus menghujani posisi Soviet. Dilindungi kendaraan angkut personel lapis baja BTR-60, pasukan Soviet maju menuju posisi lawan. Namun, gerak-maju mereka dihadang tembakan-tembakan RPG dan recoilles 75mm pasukan RRC. “Beberapa menit kemudian, ketika ledakan mengelilingi sekitar kendaraan angkut personel lapis baja kami di Pulau Damansky, dia (Leonov, red .), tidak tahan, bergegas ke panasnya pertempuran,” tulis Rybin. Begitu bantuan empat tank T-62 tiba pada tengah hari, Kolonel Leonov langsung menaiki sebuah tank. Dia memimpin langsung serangan. Tank-tank lain diperintahkannya untuk tidak ke pulau tapi mengitari pulau di atas sungai yang membeku untuk mengapit posisi lawan. Sebuah panggilan radio dari Letkol Yanshin yang meminta bantuan tembakan artileri perlindungan mengusik Leonov. Dia segera mengontak Komandan Divisi ke-135 Mayjen V.K. Nesov agar memberi perlindungan terhadap pasukan Yanshin, namun tidak mendapat jawaban. Lantaran tak ada lampu hijau sementara para personel di lapangan berjuang antara hidup dan mati, Leonov berinisiatif mengambil tanggung jawab. “’Bongkar amunisi artileri!’ dia memerintahkan komandan tank,” tulis Rybin mengutip perkataan Leonov. Tank Leonov berhasil memberi perlindungan kepada pasukan infanteri sambil terus bermanuver. Di bawah hujan tembakan RRC yang tak satupun berhasil mengenainya, tank tersebut terus maju dan memuntahkan peluru senapan mesinnya ke pasukan RRC di tepi sungai wilayah RRC. Namun, laju tank Leonov akhirnya terhenti ketika seorang personel militer RRC tiba-tiba keluar dari belukar dan menembakkan RPG-nya ke tangki bahan bakar cadangan tank –sumber lain menyebut tank Leonov terkena ranjau. Dengan susah payah Leonov keluar dari tanknya. Namun belum banyak langkah kaki diayunkan sang kolonel dari tanknya, peluru seorang penembak jitu RRC menghujam dadanya. Leonov roboh dan menjadi korban tewas dengan pangkat tertinggi dalam pertempuran. Pertempuran memburuk sore harinya. Pasukan Soviet yang didukung heli Mi-4 terus merangsek karena unggul persenjataan. Pasukan RRC gigih bertahan. Wang Guoxiang, salah satu komandan peleton RRC, mendapati salah seorang personelnya yang bertelanjang dada di bawah suhu minus 30 derat sampai tuli akibat berulangkali menembakkan RPG ke kendaraan angkut lapis baja Soviet. Wang sendiri kemudian juga tuli sementara. Sementara, di markasnya Kolonel Jenderal Losik terus diliputi kecemasan. Lampu hijau untuk membentuk unit-unit tempur dari satuan reguler yang diperlukannya tak kunjung tiba dari Moskow. Padahal, dia amat membutuhkan izin tersebut. Situasi yang terus memburuk akhirnya mendorong Losik berinisiatif membentuk unit tempur yang diperlukannya dan memberi izin penggunaan roket BM-21 “Grad” serta howitzers 122mm. “Pukul 17.00, saat cahaya memudar, artileri Soviet dan, khususnya, penggunaan tempur pertama artileri roket ‘Grad’ (‘ Hail’ ), memberikan pukulan yang memekakkan telinga dan menghancurkan ke sisi sungai Tiongkok yang mengakhiri pertempuran 15 Maret,” tulis Dmitri S. Ryabushkin dalam makalah berjudul “New Documents on the Sino-Soviet Ussuri Border Clashes of 1969”. Salvo roket BM-21 “Grad” dan howitzer selama 10 menit Soviet itu kemudian diikuti serangan dua kompi tank dan infanteri Soviet ke pulau. “[Setelah salvo] kami mengubah posisi kami sekali lagi. Sekarang tepi Cina sudah sepenuhnya terlihat. Dari sisi itu terdengar suara seorang wanita berteriak melalui pengeras suara. ‘Enyah!’, ‘Grup Nesov, pergi!’ dan ‘Vaschenko, Vachenko, jangan tembakkan salvo!’ sambung Ryabushkin mengutip kesaksian seorang prajurit Soviet. Korban jatuh dalam jumlah besar di pihak RRC. Kendati mati-matian bertahan, sekira pukul enam petang pasukan RRC ditarik mundur dari pulau. Sementara, pasukan Soviet ditarik mundur ketika langit sudah gelap. Penarikan mundur itu mengakhiri konflik perbatasan kedua negara lantaran keesokannya pertempuran tak terjadi lagi. Masing-masing pihak tak ingin memicu konflik global sehingga mengalihkan pertempuran ke meja perundingan. “Setelah lebih dari sembilan jam pertempuran yang memekakkan telinga, keheningan yang menakutkan menyelimuti pulau kecil yang kini dipenuhi lubang bekas tembakan, puing-puing, dan mayat,” tulis Jesse Du.*
- KGB di Indonesia
ANATOLIY Babkin pertama kali tiba di Jakarta pada 1956 untuk bertugas di Kedutaan Besar Uni Soviet. Dari atase politik rendahan, kariernya kemudian naik menjadi Sekretaris Ketiga, Sekretaris Kedua (1961), dan Sekretaris Pertama (1966). Pada 1969, Babkin yang lahir di Moskow tahun 1931, mulai menjalankan penugasan yang keempat sebagai konselor.





















