top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Fernando Signorini "Si Buta" yang Setia Dampingi Maradona

    SUATU pagi di Stadio San Paolo pada musim panas 1985 jelang musim Serie A 1985-1986. Sejumlah pemain SSC Napoli berlatih skema permainan di setengah bidang lapangan. Namun sang bintang Diego Maradona tak ikut. Ia mengkhususkan diri latihan untuk menggenjot stamina di trek lari. Seiring Maradona mengayunkan kaki melintasi trek lari, sesosok pria kurus berkaus kuning, Fernando Signorini, dengan cermat menghitung waktu di jam tangan digitalnya. Setelah mencatatkan sesuatu di buku kecilnya usai Maradona selesai satu putaran, Signorini mengecek denyut nadi di leher Maradona. Begitu seterusnya hingga Maradona tumbang kelelahan. “Fernando Signorini, seorang master, seorang jenius. Fernando tidak hanya mengajarkan caranya berlatih kepada saya tetapi juga bagaimana caranya melatih pikiran saya,” kata Maradona dalam narasi   yang mengiringi footage   yang turut disajikan dalam film dokumenter Diego Maradona: Rebel, Hero, Hustler, God  (2019). Lantas, siapakah Signorini? “Si Buta” yang Setia Walaupun tak punya bakat sepakbola sedari lahir, Signorini tak mau jauh dari olahraga paling populer itu. Maka sejak mudapria kelahiran Lincoln, Buenos Aires, Argentina pada 7 Desember 1950 itu sudah bercita-cita jadi pelatih di dunia sepakbola. Diperguruan tinggi, Signorini memilih program studi pendidikan fisik. KarierSignorini mulai dikenal kalangan sepakbola Argentina setelah jadi teman dekat César Luis Menotti, pelatih Timnas Argentina ketika menjuarai Piala Dunia 1978,kalasang pelatih menukangi Barcelona (1983-1984). “Saat sedang di Barcelona, saya ingin menyaksikan sesi latihan tetapi tak bisa dapat akses. Sampai akhirnya ada seorang teman yang mengenali saya dan memberikan akses masuk. Dia yang mengenalkan saya kepada César. Sejak saat itu pintu (stadion) Camp Nou selalu terbuka bagi saya kapan pun saya mau datang,” tutur Signorini dalam wawancaranya dengan NTR Guadalajara , 12 September 2016. Maradona semasa di Barcelona di bawah asuhan César Luis Menotti. ( fcbarcelona.com ). Saat itu Signorini sudah mengenal Maradona. Perkenalan keduanya terjadi saat  Maradona sedang dalam perawatan akibat cedera engkel kiri pada September 1983. Keduanya kian akrab lantaran istri Signorini adalah instruktur tenis Claudia Villafañe (pacar Maradona) dan Lalo (adik Maradona). Pada suatu kesempatan, Claudia mengundang Signorini dan istrinya untuk bertandang ke rumah Maradona ketika sang pemain tengah dalam masa pemulihan. “Di saat itu juga Signorini ditawari pekerjaan sebagai pelatih pribadi Maradona melalui rekomendasi Claudia. Signorini mengatakan: ‘Saya bilang ke Diego jika merekrut seorang yang belum lama dikenal seperti saya sebagai pelatih pribadi, justru akan membuatnya terbuka pada kritik. Dia bilang tidak peduli dan dia butuh saya. Saya terkesima. Dia menawarkan pekerjaan yang paling diperebutkan semua orang , ’” ungkap Jimmy Burns dalam Maradona: The Hand of God. Signorini selalu mengecek denyut nadi Maradona pascalatihan stamina. (Instagram @signorinifernando). Sempat minta waktu untuk berpikir,Signorini akhirnya setuju mendampingi Maradona. Dia bahkanbersedia mengambil pekerjaan itu sampai durasi panjang tanpa hitam di atas putih. “Dia menawarkan saya untuk menandatangani sebuah kontrak dan saya katakan, ‘tidak.’Karena pekerjaan ini butuh hubungan dengan tingkat kejujuran yang besar, kesetiaan yang besar, jadi kami menghabiskan hampir 11 tahun tanpa menandatangani apapun dan tanpa harus mengklaim sesuatu di antara kami,” imbuh Signorini. “Si Buta” di Balik Kebintangan Maradona Selain berkat dokter tim, pemulihan fisikMaradona bisa lebih cepat berkat latihan-latihan kebugaran yang diberikan Signorini. Makameski cedera parah, Maradona sudah bisa kembali merumput tiga bulan kemudian. Ketika Maradona hijrah ke Napoli, Signorini sebagai pelatih pribadi turut serta. Berkat tangan dingin Signorinilah Maradona mengalami transformasi fisik dan staminauntuk menghadapi gaya permainan di Italia yang masih asing bagi Maradona. “Saya memulai persiapan diri secara fisik –saya paham bahwa untuk menang di sepakbola Italia, saya butuh (kondisi) tubuh yang berbeda. Bek-bek Italia tidaklah seperti bek-bek Spanyol. Saya harus beradaptasi secara perlahan dan di situlah peran pelatih fisik saya, Fernando Signorini, menjadi krusial. Saya memanggilnya dengan sebutan ‘ El Ciego ’ (si buta) karena dia tak bisa melihat seekor sapi di dalam kamar mandi, tetapi dia tahu lebih banyak tentang latihan fisik dari orang lain,” sambung Maradona dalam otobiografinya. Maradona (kanan) di musim kedua sudah dipercaya jadi kapten dan membawa Napoli meroket ke urutan tiga klasemen akhir Serie A 1985-1986. ( fifa.com ). Perlahan, Maradona mulai paham bagaimana caramenyimpan tenaga untuk memaksimalkan tekniknya. Setelah tiga laga pertama berseragam Napoli berakhir dengan hasil buruk, perlahan Maradona mulai mampu menaklukkan bek-bek Italia yang terkenal tangguh lagi keras. “Sepakbola Italia dimainkan dengan ritme berbeda. Permainannya lebih keras. Saya harus beradaptasi, menemukan kecepatan yang berbeda dan timing yang tepat. Saya harus bisa menyimpan tenaga. Karena jika saya berlari cepat maka teknik saya takkan berguna. Saya harus menemukan keseimbangan yang tidak mudah,” tambahnya. Hasil bimbingan Signorini sangat kentara di musim kedua Maradona.Sang bintang mengantarkan Napoli bertengger di urutan ketiga klasemen akhir Serie A 1985-1986. Maradona pun langsung jadi pujaan publik Italia. Namundi sisi lain, Maradona mulai sering foya-foya di kehidupan malam.Dia juga makin kecanduan kokain setelah punya hubungan dekat dengan mafia dari keluarga Giuliano. Maradona di Piala Dunia 1986 yang kondang dengan gol "Tangan Tuhan". ( fifa.com ). Pada titik itulah Signorini melihat anak asuhnya seolah punya kepribadian ganda, antara Diego dan Maradona.Signorini insyaf bahwa dia harus “menetralisir” fisik Maradona yang sudah tercemar narkoba dan memperbaiki gaya hidupnya serta pikirannya yang tak sehat jelang Piala Dunia 1986. Terlebih, pikiran Maradona mulai terusik kabar bahwa pasangan selingkuhannya, Cristiana Sinagra,mengandung anak Maradona. “Di musim kedua peta sepakbola Italia mulai berubah. Napoli berada di posisi tiga klasemen liga dan Diego sudah jadi penyerang top. Akan tetapi saya ingin memberi pengertian ke dalam kepalanya bahwa target utamanya adalah Piala Dunia. Ketika berangkat ke Meksiko Diego juga sudah tahu kehamilan Cristiana. Itu sangat mengganggu pikirannya. Beruntung, saya dibantu ayah Diego yang membuat Diego tetap bisa fokus,” u j ar Signorini. Di Piala Dunia 1986, Maradona diistimewakan pelatihTimnas Argentina Carlos Bilardo. Selain diperbolehkan tetap ditemani Signorini, dia juga diizinkan membawa terapisnya, Victor Galindes. “Sementara pemain lainnya menjalani program latihan ketat seperti biasanya, termasuk aturan istirahat dan jam rekreasi, Maradona diperbolehkan didampingi Signorini dan Galindes, serta izin untuk melakukan latihan yang fleksibel sesuai kebutuhannya demi menjaga pikiran positifnya. Bilardo mengatakan: ‘Saya sadar sedari awal bahwa dia harus menjalani latihan yang beda dari yang lain. Di skuad, ada Maradona dan ada para pemain yang lain,’” tambah Burns. Signorini (kiri) dalam ikut merayakan gelar Scudetto musim 1986-1987. (Instagram @signorinifernando). Hasil penganakemasan Maradona tak sia-sia. Argentina dibawanya juara Piala Dunia 1986 setelah di final mengalahkan Jerman Barat 3-2. Pencapaian Maradona makin sempurna ketika dia membawa Napoli meraihgelar pertamanya di Liga Italia pada 1986-1987. Publik Napoli pun dibuatnya bangga.Maradona makin “disembah”. Namun, pujian besar itu membuat Maradona makin terlena.Selain hura-hura, diakian dalam masuk ke lingkaran setan narkoba. Hal itu membuat Signorini khawatir pada anak asuhnya. “Sudah lama saya menyadari ada sosok Diego dan ada Maradona. Pemujaan terhadapnya membuatnya tidak nyaman. Dia merasa masih sebagai Diego, anak miskin dari Villa Fiorito. Tetapi dengan pemujaan seperti itu, (sosok) Maradona harus mengambil alih. Tetapi makin jelas lewat perilakunya bahwa kokain juga makin mempengaruhinya. Saya bilang padanya bahwa dia butuh bantuan. Maka saya bersama Claudia mendatangi sebuah klinik rehabilitasi. Saya juga melaporkan hal ini kepada Presiden (Napoli, Corrado) Ferlaino,” ujar Signorini. Kolase Signorini mendampingi Maradona melatih kebugaran fisik jelang Piala Dunia 1994. (Instagram @signorinifernando). Pekerjaan berat Signorini kian bertambah karena dia dituntut memulihkan kondisi fisik Maradona jelang Piala Dunia 1990 dan Piala Dunia 1994. Akibatnya, Signorini sampaiharus membawa Maradona ke sebuah tempat terpencil di Argentina jelang persiapanke Piala Dunia 1994. “Saya memilih sebuah tempat terpencil itu demi menggenjot semangat spartannya. Lokasinya tak punya TV yang bagus dan tanpa air panas. Satu-satunya kemewahannya sekadar radio kecil untuk mendengarkan musik dan siaran sepakbola. Saya ingat bicara pada Diego setibanya di tempat itu, jika dia ingin jadi pemain top lagi, dia harus mulai dari bawah, dari tempat seperti Villa Fiorito demi memiliki rasa lapar lagi,” lanjutnya. Sial, di Piala Dunia 1994 pascalaga penyisihan Grup D kontra Nigeria, 25 Juni 1994, Maradona tak lolos drug test dan dinyatakan positif terkandung zat terlarang di sampel urinenya. “Bukan hal mengejutkan urinenya mengandung jejak kokain. Semua orang sudah tahu kecanduannya. Tetapi otoritas sepakbola melihat hal itu sebagai kesempatan sempurna untuk menyingkirkannya,” kenang Signorini. Setelah Maradona, Signorini turut jadi pelatih fisik Juan Román Riquelme & Lionel Andrés Messi (kanan). (Instagram @signorinifernando). Ketika Signorini menyampaikan kabar bahwa Maradona disanksi, bukan main terpukulnya sang bintang. Di kamarnya di Babson College, Boston, Maradona tak berhenti meringkuk dan menangis histeris di lantai kamar mandi. “Ibarat dunia Diego runtuh seketika. Dia menangis dari jiwanya yang terdalam, benar-benar tak terkendali,” ujar Signorini mengingat momen itu. Sejak saat itu, kebintangan Maradona memudar. Setelah publik Italia di Piala Dunia 1990, kini seluruh dunia mulai membenci Maradona. Kendati begitu, Signorini setia di sisi Maradona. Dia terus mendampinginya sampai Maradona mengakhiri kariernya di Boca Juniors 1997. “Kehidupan Diego penuh hal luar biasa dan juga hal buruk. Diego tidak ada hubungannya dengan Maradona. Tetapi Maradona menyeret Diego ke mana-mana,” tandas Signorini .

  • Desersi TNI di Palagan Minahasa

    ANGGOTA pasukan elite Raider 400 (Kodam IV Diponegoro) Prajurit Satu Lucky Y. Matuan alias Lukius akhirnya resmi dianggap sebagai kelana yudha (desersi). Dalam keterangannya kepada pers, Asisten Operasi Kogabwilhan III Brigjen Suswatyo menyatakan bahwa pihaknya sudah memastikan bahwa Lukius telah lari dari kesatuannya dan bergabung dengan gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Intan Jaya sejak beberapa hari lalu. “Kalau ketemu ya ditindak tegas karena dia sudah masuk kelompok ekstremis,” ujar Suswatyo seperti dikutip Kompas  (16/4). Aksi desersi yang dilakukan Lukius menjadi kasus kesekian kalinya dalam sejarah militer Indonesia. Terakhir, kala berlaga di palagan Aceh, TNI pun sempat kecolongan ketika diberitakan beberapa anggotanya membelot ke Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Salah satunya bernama Ahmad Kandang, yang kemudian menjadi salah satu panglima GAM legendaris. Saat meletusnya pembangkangan yang dilakukan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), di palagan Minahasa (Sulawesi Utara) pada 1958--1961, hal yang sama juga pernah dilakukan sekelompok anggota TNI. Kisah itu bahkan terbuhul dalam biografi Jenderal (Purn) L.B. Moerdani, Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan yang disusun oleh Julius Pour. Ceritanya menjelang terjadi perlawanan di Sulawesi Utara, sekira satu peleton (60-70 prajurit) pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang merupakan putra Minahasa, dicutikan oleh kesatuannya. Itu dilakukan agar saat pulang kembali ke barak dan asrama, mereka bisa melaporkan situasi obyektif di wilayah yang tengah menghangat tersebut. Namun belum habis masa cuti, pemberontakan Permesta keburu meletus. Terbawa oleh suasana di kampung halaman, mereka pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan pihak pemberontak dan mangkir untuk kembali ke Batujajar, basis RPKAD saat itu. “…kami terpaksa bertempur di pihak pemberontak, karena memang terjebak oleh keadaan,” ungkap Kopral Dua Nicholas Sulu, salah satu dari prajurit RPKAD itu. Menurut Benny, para eks RPKAD itu terbukti memainkan peran penting dalam tubuh ADREV (Angkatan Darat Revolusiener). Rata-rata mereka menjadi instruktur militer yang mumpuni bagi para gerilyawan muda Permesta. Bahkan kala menjalankan praktek, para pelatih eks RPKAD itu tak segan langsung memberi contoh dengan melakukan penyerangan solo terhadap iring-ringan konvoi TNI. Dalam penerapan pelajaran ini, sang pelatih tak jarang berhasil mendapatkan senjata rampasan dan sejumlah alat-alat militer berharga. Menurut Jopie Lasut, eks gerilyawan Permesta, salah satu hasil didikan eks RPKAD itu adalah para gerilyawan Permesta yang berbasis di wilayah Kakaskasen. Di sana hampir tiap waktu, para gerilyawan melakukan penghadangan terhadap konvoi TNI yang hilir mudik dari Manado ke Tomohon, Kawangkoan, Langoan, Amurang dan Bolaang Mangondow. Dari penghadangan itulah, mereka berhasil merampas banyak senjata dan peluru TNI. “Ternyata dua komandan kompi mereka adalah mantan bintara RPKAD yang cuti itu,” ungkap Jopie Lasut dalam otobiografi-nya, Kesaksian Seorang Gerilyawan Permesta—RPI. Di wilayah itu pula mereka pernah menghabisi satu peleton pasukan dari Kodam Brawijaya. Cara mereka menghadang pun terbilang sangat berani: bersembunyi di balik rerumputan atau bertiarap di tengah sawah yang jaraknya dari jalan besar hanya sekira 10—15 meter. “Kalau mereka dikejar, mereka tidak lari ke kampung lain, tapi hanya berputar ke ujung kampung dan kembali melakukan penghadangan di sana…” ujar Jopie. Tak jarang untuk menghadapi mereka, TNI harus menurunkan pasukan RPKAD. Justru hal itu menjadikan “kejengahan” tersendiri bagi pasukan yang ditugasi tersebut. Hal itu diakui sendiri oleh Benny Moerdani. “Pengalaman harus melawan para bekas anak buahnya sendiri ini yang sering membikin Benny tidak begitu enak perasaannya selama berlangsungnya pertempuran di wilayah Sulawesi Utara,” ungkap Julius Pour. Tentu saja di militer Permesta, para eks RPKAD tersebut mendapat kenaikan pangkat dan jabatan. Seperti halnya Kopral Dua Nicholas Sulu, dia diangkat menjadi Letnan Dua dan diserahi tanggungjawab memimpin sebuah peleton ADREV. Selain eks RPKAD, di tubuh Angkatan Perang Revolusiener (APREV) terdapat pula sejumlah kelana yudha yang berasal dari KKo-AL, Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara (PGT AU) dan sejumlah pilot pesawat tempur eks AU seperti Muharto dan Hadi Sapandi. Dari eks KKo AL tersebutlah seorang bintara bernama Jolly Manopo. Dia terkenal karena pernah melatih satu kompi gerilyawan Permesta di Langowan. Pasukan inilah yang kemudian termasyhur karena keberanian dan kecerdikannya hingga pernah suatu hari berhasil menghabisi satu peleton TNI.

  • Pemburuan Terhadap Guru Agama

    SELAMA hampir sebulan pada Juli 1888, Cilegon dilanda huru-hara. Para haji, guru agama, dan petani menyerang pegawai pemerintah. Peristiwa itu disebut sebagai Pemberontakan Petani Banten 1888. Korban tewas berjatuhan: 17 orang dari pemerintah, 30 orang dari pemberontak. Secara jumlah, korbannya sedikit. Tapi cukup membuat sibuk orang-orang Belanda. Sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebut pemberontakan itu menimbulkan dendam bagi orang-orang Belanda. “Hasrat berkobar untuk melakukan pembalasan seringkali dilampiaskan terhadap haji yang pertama-tama dijumpai Belanda,” catat Sartono dalam karya monumentalnya, Pemberontakan Petani Banten 1888. Haji, petani, dan guru agama seringkali membaur dalam identitas seseorang. Tapi ada kalanya pula identitas itu terbagi secara ketat. Tapi beberapa pegawai Belanda tak mau tahu. Mereka mengalami trauma akibat huru-hara itu sehingga mengubah pandangan mereka terhadap semua guru agama dan haji selepas peristiwa itu.

  • Sisi Terang dan Gelap Diego Maradona

    SUASANA kota Napoli begitu ramai pada 5 Juli 1984. Dari sebuah kamera amatir di sebuah mobil, konvoi tiga mobil tampak sedang menuju Stadio San Paolo, markas klub SSC Napoli. Salah satu mobil di konvoi itu membawa sosok yang dinanti: Diego Maradona. Tempo cepat musik disko tekno 1980-an yang ‘nge -beat ’ mengiringi beberapa sisipan foto dan video tentang Maradona sebelum tiba di Napoli. Sisipan foto maupun footage- nya beragam, mulai saat dia masih jadi pemain Boca Juniors hingga setelah jadi pemain yang mulai terseret kehidupan malam di Barcelona. “Dia pemain bertalenta dan punya semua hal yang dibutuhkan. Tetapi dia belum siap secara psikologis,” ujar Pelé  dalam sebuah cuplikan wawancara mengomentari gagalnya Maradona bersinar di Barcelona. Music scoring yang sama masih mengiringi saat alur cerita kembali ke konvoi mobil tadi setibanya di San Paolo. Maradona langsung disambut ratusan wartawan dan juru foto pada konferensi pers jelang diperkenalkan ke 85 ribu fans Napoli yang sudah menyesaki stadion. Raut wajah Maradona begitu cerah saat menyapa puluhan ribu fans di dalam lapangan yang terus menggemakan chant “Diego, Diego, Diego!” Ia berterimakasih setelah Napoli bersedia memungutnya dari Barcelona, dan siap untuk memberi mukjizat kepada warga kota termiskin di Italia itu. Stadio San Paolo yang berjejal manusia demi menyambut Maradona (Twitter @MaradonaMovie) Maradona jelas belum mengetahui hidupnya bakal melejit tinggi sekaligus akan menukik tajam dengan menyakitkan selama hampir delapan tahun di Napoli. Ini yang jadi fokus sutradara Asif Kapadia kala membuka film dokumenter bertajuk Diego Maradona: Rebel, Hero, Hustler, God. Sejumlah narasumber primer dan sekunder turut menuturkan narasi yang mengiringi rangkaian cuplikan video lawas. Tentang pergulatan Maradona baik di dalam maupun di luar lapangan. Selain Maradona sendiri, ada sejarawan John Foot, jurnalis olahraga Gonzalo Bonadeo dan Daniel Arcucci, pelatih pribadi Maradona  Fernando Signorini, eks-bek Napoli Ciro Ferrara, eks-Presiden SSC Napoli Corrado Ferlaino, perwakilan fans Napoli Gennaro Montuori; kakak Maradona Maria Rosa Maradona, Claudia Villafañe sang istri, hingga pengacaranya Vincenzo Siniscalchi. Narasi yang dituturkan mereka seolah mengajak penonton untuk melihat lebih dalam sisi lain kehidupan Maradona di masa jaya hingga kejatuhannya di Napoli. Apa yang dicapai Maradona bak pisau bermata dua. Di satu sisi ia dipuja setara Tuhan oleh publik Napoli, tetapi di sisi lain ia bagaikan hidup terpenjara akibat tekanan dari mafia dan petinggi klub. Sisi gelap tak membiarkan Maradona bernaung dalam kemasyhurannya. Lingkaran setan memaksanya bergaul dengan kelompok mafia dari Keluarga Giuliano hingga jadi pemadat. Kegelapan Maradona makin ditambah dengan belenggu dari Ferlaino yang enggan melepasnya kendati Maradona mulai tak kerasan. Presiden SSC Napoli (1983-1993) yang "memenjarakan" Maradona (Wikipedia) Jeratan kegelapan itu mulai timbul setelah Maradona memberikan mukjizat berupa scudetto (gelar juara) Liga Italia pertama pada publik Napoli di musim 1986-1987 dan musim 1989-1990, serta satu juara UEFA Cup pada 1988-1989. “Setelah pertandingan (final UEFA Cup) Maradona minta saya untuk menjualnya. Dia ingin meninggalkan Napoli. Tetapi saya tidak mau menjual Maradona dan ingin dia bertahan dengan semua cara. Jadi sayalah yang memenjarakan Maradona,” aku Ferlaino. Publik tak pernah menyangka Maradona makin hari makin mengalami pergulatan batin. Hanya Signorino yang menyadarinya. Sang pelatih pribadi itu bisa melihat Maradona makin jelas memperlihatkan kepribadian gandanya: sebagai Diego, seorang anak dari Villa Fiorito, sebuah kampung kumuh di Buenos Aires, yang polos dan mulai tersiksa batinnya; dan sebagai Maradona, yang dipuja publik dan tak boleh memperlihatkan sisi lemahnya. “Saya melihat ada Diego dan ada Maradona. Diego seorang anak manis yang selalu gelisah. Maradona adalah karakter yang mesti ia ciptakan untuk menghadapi tuntutan bisnis sepakbola dan media. Maradona tak boleh menunjukkan kelemahannya. Saya pernah bilang padanya bahwa saya akan mengikuti Diego sampai ujung dunia tapi tidak dengan Maradona. Dia bilang: ‘Tentu, tapi tanpa Maradona, saya masih akan berada di Villa Fiorito,’” kata Signorino mengisahkan dialognya dengan sang bintang. Tampak wajah tertekan Maradona dalam perayaan UEFA Cup lantaran sudah tak kerasan di Napoli ( fifa.com ) Villa Fiorito oleh sang sineas juga dihadirkan lewat potongan-potongan video lama dan foto lingkungan kumuh itu yang jadi tempat tinggal Maradona saat kecil. Di sanalah Maradona sejak usia 15 tahun sudah jadi tulang punggung keluarga. Keinginan kuatnya untuk membawa keluarganya dari jurang kemiskinan membuatnya mau berjuang menjadi “Maradona” ketimbang “Diego” walau harus membayar mahal. “Adik saya sedari umur 15 tak lagi punya kehidupan sendiri. Dia menjelma jadi orang yang berbeda. Dia selalu mengurus segalanya. Adalah sebuah beban baginya untuk jadi terkenal. Dia selalu menjadi pahlawan. Tetapi dia tak bisa melakukannya sendiri,” ujar Maria. Namun, kesohoran pula yang menjatuhkan Maradona. Bermula dari pujian tinggi publik pasca-dia membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986, ketenaran Maradona mencapai titik balik di Piala Dunia 1990. Ia mulai dibenci publik Italia maupun publik Napoli gegara Italia kalah dari Argentina di semifinal Piala Dunia 1990. “Tuhan yang dipuja dan disembah publik Napoli kala mengangkat derajat kota kecil yang dikucilkan publik kota-kota di utara Italia itu, kini berbalik dilaknat. Itu jadi titik balik kehidupan Maradona yang lantas puncaknya diperparah kasus narkoba. Untuk menyelami lebih dalam insight dari kisah manis dan getir Maradona itu, baiknya tonton sendiri di aplikasi daring Mola TV . Publik Italia dan Napoli berbalik membencinya setelah Argentina mengandaskan Italia di semifinal Piala Dunia 1990 ( fifa.com ) Harga Mahal Kemasyhuran Walau dikemas dalam genre dokumenter, kisah Maradona garapan Kapadia diracik dengan gaya melankolis dan klasik: from hero to zero . Kendati begitu, dokumenter garapan Kapadia tak membosankan, pasalnya dari awal hingga akhir sarat kisah terpendam yang jarang diketahui publik, terutama oleh para pemuja Maradona. Kisah yang disajikan beragam. Dari tentang bagaimana Maradona harus berlatih ekstra untuk beradaptasi dengan gaya permainan Italia yang berbeda dari Argentina atau Spanyol, hingga tentang bagaimana Maradona memanggul ekspektasi besar sebagai juru selamat yang diharapkan bisa mengangkat martabat warga Napoli yang acap dirundung dan jadi sasaran rasisme warga kota-kota di utara. Yang juga penting adalah tentang kisah pergulatan batinnya. Di balik kenikmatannya sebagai pesohor, Maradona mulai tak nyaman dengan beragam bentuk pemujaan yang diterimanya dari publik Napoli. Tak hanya fotonya terpajang sejajar dengan foto Bunda Maria atau Yesus Kristus di hampir semua rumah warga Napoli, darahnya yang diambil dari tes medis pun diletakkan di Katedral San Gennaro. Camorra (mafia) dari keluarga Giuliano yang memperlakukan Maradona seperti properti pribadinya ( Blood Brothers: A History of Italy's Three Mafias ) Pergulatan batin Maradona makin berat dengan tekanan media yang memberitakan perselingkuhannya dengan Cristiana Sinagra hingga melahirkan seorang putra yang tak diakui Maradona. Lalu, bos Camorra (mafia) Carmine Giuliano memperlakukanya bak propertinya sendiri. Tekanan-tekanan itu menyeret Maradona makin dalam ke lingkaran setan dunia malam dan narkoba. Semua itu dijahit dengan apik oleh Kapadia yang menggunakan total 500 arsip video yang belum pernah dipublikasikan. Arsip video itu berisi wawancara para narasumber maupun gambar hasil dua tim kameramen yang dipekerjakan agen Maradona, Jorge Cyterszpiler. Untuk menambah daya tarik, Kapadia melengkapi jahitan gambarnya dengan music scoring bergenre disko untuk menggambarkan suasana era 1980-an, dan alunan musik klasik menegangkan dan mengharukan yang mengiringi cuplikan-cuplikan aksi Maradona di lapangan. Tak ayal, sejumlah kritikus memuji karya Kapadia sebagai berhasil menyajikan pencerahan dan kedalaman cerita hidup Maradona sebagai subyek. “Semua ada di sini: pertandingan-pertandingan hebat, gol-gol dan skandal-skandal besar. Semua menjadi satu dalam kehidupan (Maradona) dan ini yang menjadikannya tidak sama dengan biopik para legenda olahraga lain. Dokumenter ini menyuguhkan sebuah perasaan yang lebih tajam dari atmosfer yang ada di sekitarnya,” tulis kritikus John Doyle di kolomnya yang dimuat The Globe and Mail , 16 Desember 2020. Anak yang Tak Diakui Maradona Kapadia juga menyisipkan kisah tersembunyi tentang Maradona dan kekasih gelapnya, Christina Sinagra. Di pengujung film, Kapadia menyelipkan rekaman pertemuan pertama Maradona dengan putra yang tak pernah diakuinya, Diego Armando Maradona Junior Sinagra, pada 2016. Kapadia melengkapinya dengan keterangan: “Pada 2016, setelah 30 tahun penyangkalan, Diego Maradona akhirnya mengakui kebenaran tentang hubungannya dengan Cristiana Sinagra.” Namun, bagian penutup ini jadi titik mula ketidakakuratan fakta biopik. Maradona bertemu pertama kal i dengan putranya yang lahir dari rahim Cristiana faktanya adalah tahun 2007. Dalam narasi yang disampaikan Cristiana, dia pertamakali bertemu Maradona pada Desember 1985. Menurut Jimmy Burns dalam Maradona: The Hand of God , pertemuan Maradona dan Cristiana terjadi dalam sebuah pesta yang digelar Maria Rosa, kakak Maradona. Cristiana yang kala itu baru lulus kuliah di jurusan akuntansi dengan paras cantik berambut pirang, begitu memesona mata Maradona. Kebetulan di akhir tahun itu tunangannya, Claudia Villafañe, sedang mudik ke Argentina. “Dia (Cristiana) adalah teman di kalangan pergaulan Maria, suaminya Gabriel Esposito dan dua adik Maradona, Hugo dan Lalo. Adalah ide Maria yang memperkenalkan Cristiana kepada Diego,” tulis Burns. Maradona yang dikultuskan publik Napoli. ( fifa.com /Wikipedia ). Dari pesta itu, Maradona dan Cristiana pun sering bertemu. Terutama ketika Maradona tengah kesepian tanpa Claudia. Cristiana sendiri kagum dengan kepribadian Maradona kendati tahu sang pemain sudah ada yang punya. “Kami bertemu hanya pada saat-saat tertentu. Saya melihat sesuatu hal yang lain pada dirinya dari apa yang eksis di imej publik. Diego yang saya kenal bukanlah Diego yang ada di suratkabar. Dia sosok yang peduli dan perhatian pada keluarga, dia bukan sosok yang arogan,” ungkap Cristiana dikutip Burns. Namun, Maradona cenderung ingin menyudahi hubungan terlarang mereka setelah medio April 1986. Pasalnya, Cristiana memberitahu keluarga Maradona bahwa dia mengandung anak Maradona. Walau keluarga Maradona mendesaknya menggugurkan kandungan, Cristiana bertahan menolaknya. “Pada suatu saat, ayah Cristiana bahkan diam-diam mendatangi Maradona dan memohon kepadanya untuk menunjukkan rasa tanggung jawabnya kepada putrinya. ‘Ya, anak yang dikandungnya itu adalah anak saya tapi saya tidak ingin melihat Cristiana sampai melahirkannya.’ Hanya kata-kata itu yang didapat ayah Cristiana dari Maradona,” imbuhnya. Cristiana Sinagra dan putranya, Diego Junior (kiri) & Maradona bersama tunangannya, Claudia Villafañe. (Altitude Film/ clarin.com ). Maradona seolah tak peduli. Terlebih ia ingin fokus pada persiapan Timnas Argentina di Piala Dunia 1986. Kasus “anak haram” Maradona itu baru digegerkan media-media Italia kala Cristiana melahirkan putranya pada 20 September 1986. Kepada media, Cristiana menyatakan ia menamai putranya Diego Armando Maradona Junior. Sebab, dia memang anak Maradona. Claudia yang menyaksikan wawancara Cristiana itu via televisi jelas syok. Apalagi saat itu Claudia juga tengah mengandung dua bulan. Kepada Claudia, Maradona berulangkali menyanggah bayi yang dilahirkan Cristiana itu darah dagingnya. “Di sisi lain keluarga Sinagra harus menghadapi kepopuleran Maradona di publik Napoli. Saat Cristiana dan putranya, Diego Armando Junior, meninggalkan rumahsakit, mereka harus keluar diam-diam pada jam dua dini hari demi menghindari kemarahan fans Napoli. Fans Napoli khawatir performa idola mereka terganggu sebagai hasil dari tuntutan hukum dari keluarga Sinagra,” ungkap Paddy Agnew dalam Forza Italia: The Fall and Rise of Italian Football. Diego Junior yang akhirnya diakui sang ayah setelah 30 tahun. (Instagram @diegomaradonajunior). Sembilan tahun Cristiana dan keluarganya memperjuangkan tuntutan itu di pengadilan. Mereka menuntut Diego Armando Junior bisa diakui pengadilan Italia agar kemudian sang bayi berhak menyandang nama belakang “Maradona”. Selama itu pula, termasuk ketika tengah diterpa skandal narkoba, Maradona enggan mengakuinya. Pada akhirnya di tahun 1995 pengadilan Italia menyatakan bahwa Diego Junior adalah benar anak dari Diego Maradona. Oleh karenanya secara hukum berhak menggunakan nama ‘Maradona’. “Tetapi sampai 10 tahun setelahnya, pada musim gugur 2005, Maradona masih menyanggah. Dalam acara televisi yang dibawakannya, ‘La Noche del 10’, dia mengatakan: ‘Diego Junior mesti menerima untuk tidak diakui. Saya punya dua putri yang saya cintai. Hakim bisa memaksa saya membayar sejumlah uang tapi tidak cinta saya. Cinta saya hanya untuk Dalma dan Giannina. Suka atau tidak, saya takkan pernah menerima bahwa Diego Junior adalah putra saya,’” sambung Agnew Di tahun 2005 itu, Diego Junior sudah merintis kariernya sebagai pesepakbola di akademi SSC Napoli dan Cervia 1920. Ia bahkan sempat mengenakan kostum Timnas Italia U-17 sejak 2001. Namun pada 2008 dia beralih karier ke sepakbola pantai. Kendati Maradona bertemu pertamakali dengan Diego Junior di sebuah turnamen golf tahun 2003, Maradona baru mau mengakui Diego Junior adalah darah dagingnya pada 2007. Footage tahun 2016 yang disisipkan Kapadia di akhir film adalah momen pertemuan dan pengakuan resmi Maradona di depan publik. Pertemuan yang terjadi di Buenos Aires itu diatur oleh kekasih Diego Junior, Rocio Oliva. Data Film Judul: Diego Maradona: Rebel, Hero, Hustler, God | Sutradara: Asif Kapadia | Produser: James Gray-Rees, Paul Martin | Produksi: , Lorton Entertainment, On the Corner, Film4 | Distributor: Altitude Film Distribution | Genre: Dokumenter | Durasi: 130 Menit | Rilis: 14 Juni 2019 (Inggris), Mola TV

  • Ketika Indonesia Takut Revolusi Iran

    JAKARTA, 1981. Kunjungan itu berakhir di kantor polisi. Baru saja keluar dari wilayah Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Fadli (bukan nama sebenarnya) langsung dicokok tiga petugas berpakaian preman. Mereka kemudian membawa mahasiswa Bandung itu ke kantor polisi terdekat. Setelah ditanya ini-itu dan dicatat namanya, barulah Fadli dibolehkan pulang. “Saya ingat salah satu pertanyaan polisi itu adalah: apakah saya anggota Jamaah Imran?” kenang lelaki kelahiran tahun 1958 itu. Fadli sebetulnya tidak salah. Kunjungannya ke Kedutaan Besar Republik Islam Iran hanya untuk kepentingan penyusunan skripsinya terkait dengan Iran. Dia sama sekali tidak paham jika beberapa bulan sebelumnya, Iran pernah dihubung-hubungkan dengan nama kelompok Islam garis keras tersebut.

  • Menteri Korup Era Orde Lama

    Disebut sebagai menteri paling korup pada era Orde Lama. Jusuf Muda Dalam mendapat vonis hukuman mati.

  • Ada Intel di Jamaah Imran

    DI RUMAH Imam Im (panggilan akrab pengikutnya untuk Imran bin Muhammad Zein Sutan Sinaro) Kopral Dua Nadjamudin tersungkur dengan berlumuran darah. Anggota Korps Angkutan Militer Angkatan Darat di Cimahi itu akhirnya menemui ajal pada Jumat siang, 27 Maret 1981, setelah Imam Hidayat menancapkan sebilah belati di bagian perutnya. “Saya yang bunuh (Nadjamudin),” ungkap lelaki kelahiran tahun 1959 itu di hadapan majelis hakim pada Januari 1982. Sebelum ditusuk, Nadjamudin dipukuli secara beramai-ramai oleh 6 anggota Jamaah Imran yang lainnya. Lantas mengapa nyawa sang kopral harus melayang? Menurut Imam, sejatinya Nadjamudin adalah seorang anggota yang berharga bagi Imran. Selain ikut menyediakan sepucuk  laras panjang berjenis M1 Garand, dia pun terlibat dalam rencana penyerangan Pos Polisi Kosekta 8606 di wilayah Cicendo, Bandung pada 11 Maret 1981. Namun lambat laun kawan-kawan sejamaahnya mencium gelagat tidak beres. Mereka mendapatkan informasi bahwa sesungguhnya Nadjamudin adalah seorang intel tentara yang sengaja diselusupkan ke Jamaah Imran guna membongkar rahasia kelompok tersebut sekaligus melakukan “provokasi”. Soal itu kemudian dilaporkan kepada Imam Im. Tanpa banyak bicara, sang imam hanya memerintahkan kepada para anggotanya itu agar Nadjamudin “dilibas” saja. Kata “dilibas” itulah yang kemudian ditafsirkan para pengikut Imam Im sebagai instruksi untuk menghabisi Nadjamudin. “Gagasan untuk membunuh Nadjamudin datang dari Mahrizal (pemimpin pembajakan pesawat Woyla milik Garuda),” ungkap Imam Hidayat seperti termaktub dalam buku Imran: Dari Hukum sampai Islam  yang ditulis dan diterbitkan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Keberadaan Nadjamudin sebagai agen intel tentara dikonfirmasi oleh pihak militer Indonesia sendiri puluhan tahun kemudian. Hal itu disebutkan oleh mantan staf intelijen Hankam, Teddy Rusdy dalam biografinya yang ditulis Servas Pandur, 70 Tahun Teddy Rusdy: Think Ahead. “Menjelang subuh hari terjadinya pembajakan pada Sabtu 28 Maret 1981 (diberitakan) seorang anggota intelijen yang disusupkan telah dibunuh…Karena kedoknya telah terbuka,” ungkap Servas berdasarkan wawancaranya dengan Teddy Rusdy. Selain Nadjamudin ada dua orang lain dari unsur militer yang dihubungkan dengan Jamaah Imran. Mereka adalah Mayor (Udara) Ir. Jacob Ishak dan Mayor Jenderal (Purnawirawan) Ishak Djuarsa. Namun sebagai saksi di depan pengadilan, Jacob dan Ishak menyanggah bahwa mereka merupakan bagian dari Jamaah Imran. Jacob mengaku bahwa hubungannya dengan Imran terjalin berkat keponakannya yakni Ir. Armi Noor. Armi bersama ayah dan dua adiknya merupakan anggota aktif  Jamaah Imran. Bahkan ayah dan salah satu adik Armi ditahan karena ikut menyerang Pos Polisi Kosekta 8606 Cicendo. Tentang rencana aksi teror Jamaah Imran didengar langsung Jacob dari mulut Imam Im sendiri. Ceritanya, dua hari sebelum aksi pembajakan, Amri dan salah satu adiknya yakni Azhar Zulkarnain serta Imran sendiri datang ke rumah Jacob di kawasan Cipinang Timur, Jakarta Timur. Tujuan mereka datang adalah untuk meminjam pistol berjenis Makarov kepada Jacob. “Gunanya untuk apa?” tanya Hakim Soebandi. “Bajak pesawat udara,” jawab Jacob. “Terus bagaimana?” cecar hakim. “Saya tidak berikan,” ujar Jacob. Karena tidak mau memberikan, secara emosional Armi mengingatkan bahwa saat itu kakak kandung dari dan dua keponakan Jacob tengah ditahan aparat. Dengan Makarov kepunyaan Jacob, Armi menegaskan dirinya akan membebaskan mereka. “Jika senjata api itu tidak diberikan, saya akan bunuh diri!” teriak Armi. “Tapi itu rencana tidak baik!” jawab Jacob. Imran lalu menengahi pertengkaran paman dan keponakan tersebut. Sambil mengutip beberapa ayat Al Qur’an, dia lalu menyarankan agar Jacob memberikan saja Makarov itu kepada mereka. “Berilah dengan ikhlas,” ujar Imran. Namun Jacob tetap bersikeras. Alih-alih mengamini, dia malah langsung meninggalkan ketiga orang tersebut dan berangkat langsung ke kantornya. Singkat cerita, sepulang ngantor , Jacob langsung memeriksa lemari. Alangkah terkejutnya saat dia menyaksikan pintu lemari telah dirusak dan pistol Makarov miliknya yang biasa dia simpan di balik lempitan baju-baju tak ditemukan. Pistol buatan Uni Soviet itu bahkan raib beserta semua pelurunya dan sebuah kamera. Khawatir terjadi sesuatu, Jacob kemudian melaporkan kehilangan tersebut ke kantor polisi setempat. Namun dia tak menyertakan kecurigaannya kepada seseorang mengingat Armi Noor merupakan keponakannya sendiri. “Dia tidak sampai hati berbuat demikian,” ungkap Jacob. Sebelumnya Jacob juga diminta oleh Imran dan Armi Noor untuk menyediakan 10 pucuk senjata api genggam untuk menjalankan rencana pembunuhan Menteri Penerangan Ali Moertopo. Menurut kesaksian Jacob, permintaan itu ditolaknya mentah-mentah. Namun tak urung, Mayor Jacob tetap ditahan oleh Polisi Militer. Sama seperti Jacob, Ishak Djuarsa pun memberikan kesaksian di pengadilan bahwa hubungannya dengan Imran tak lebih sebagai kolega bisnis semata. Kendati rencana bisnis itu tak pernah berlanjut secara nyata, namun Ishak mengakui bahwa dirinya kerap berdiskusi soal-soal bisnis dengan Imran. Ishak menjalin hubungan dengan Imran karena dikenalkan oleh salah seorang eks anak buahnya bernama Joni. Saat berkenalan itulah, Imran mengaku sebagai wakil suatu perusahaan kontraktor umum dari Saudi Arabia. Untuk meyakinkan Ishak, dia kemudian memperlihatkan surat keterangan dari perusahaan itu. Imran beberapa kali bertemu dengan mantan Panglima Kodam I Iskandar Muda itu. Bahkan Ishak mengakui, dia pernah satu kali menginap di rumahnya yang ada di Bogor. Saat berhubungan itulah, Imran kerap membicarakan soal penyelewengan-penyelewengan dan korupsi yang tengah merajalela di negeri ini. “Semua orang sudah tahu soal itu,” ujar mantan pejuang kemerdekaan RI tersebut. Berbeda dengan keterangan Ishak sebagai saksi, Imran sendiri menyatakan bahwa selain soal bisnis, dirinya kerap berdiskusi mengenai soal-soal politik dan pengalamannya memberantas praktek penyelundupan saat menjabat sebagai pangdam di Aceh sehingga dia “dipanggil” ke Jakarta dan dipindahkan ke Palembang. Selain diskusi tersebut, kata Imran, Ishak juga pernah memberikan sejumlah dokumen kepada Imran. Dokumen itu antara lain terjemahan dari buku The Last Day Indonesian Soeharto,  salinan dokumen CSIS (lembaga yang dibidani Ali Moertopo) dan dokumen hasil rapat Ali Moertopo dengan pimpinan Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) dan Dewan Gereja Indonesia (DGI). “Semua itu saya dapatkan ketika menginap di rumah Ishak Djuarsa,” ungkap Imran di depan Hakim Soebandi. Keterlibatan unsur-unsur militer dalam gerakan Jamaah Imran menyebabkan banyak kalangan mencurigai kelompok tersebut tak lebih sebagai “peliharaan” salah satu faksi di tubuh badan intelijen Indonesia. Hal itu pernah dilontarkan oleh seorang agen CIA berkode Friendly/2 dalam buku karya Ken Conboy, Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia. “Dia melaporkan bahwa salah seorang pengikut Imran menghambur-hamburkan dana dengan sumber dananya yang misterius,” ungkap Conboy. Bukan hanya CIA, pimpinan Badan Intelijen Strategis (BAIS) sekaligus Asisten Intelijen Hankam L.B. Moerdani juga mencium adanya keterlibatan “intelijen pemerintah” lainnya dalam kasus Jamaah Imran. Menurut Ken Conboy, kecurigaan itu bukanlah tanpa dasar —walaupun secara teori, Ali Moertopo tidak terlibat dalam urusan operasi khusus—, namun desas-desus tentang ikut campur tangannya dalam kasus tersebut bertiup kencang kala itu. Begitu marahnya Benny (panggilan akrab L.B. Moerdani) atas situasi tersebut, kata Conboy, hingga dia menelepon langsung Deputi III Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) Aswis Sumarmo. “Bilang pada Pitut (Soeharto) untuk menghentikannya! Atau dia akan kutangkap!” ujar Benny. Pitut Soeharto adalah agen intelijen kepercayaan Ali Moertopo. Saat awal Orde Baru, dia ditugaskan untuk “masuk” ke jaringan kelompok Islam garis keras guna menjalankan operasi penjinakan sekaligus melakukan pembusukan terhadap kekuatan-kekuatan Islam politik. Ketidakpercayaan Benny kepada “intel lain” secara tersamar dibuktikan oleh keinginannya untuk menjadi koordinator langsung penanganan Operasi Woyla. Ketika Teddy menyampaikan pertanyaan Duta Besar RI untuk Thailand Hasnan Habib: apakah koordinasi dalam pengendalian pembajakan ada pada tangan Hasnan Habib, Kepala BAKIN Yoga Soegomo atau berada di Jakarta? “…di Jakarta!” jawab Benny setengah membentak.*

  • Perselisihan dan Perbedaan Awal Puasa Masa Kolonial

    AWAL Ramadan 1442 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 13 April 2021. Tak ada perbedaan mula bulan puasa antara dua ormas besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Dua ormas ini menggunakan konsep astronomi dan perhitungan yang berbeda. Tak jarang awal puasa bisa berlainan. Perbedaan mula bulan puasa seringkali terjadi pada masa lampau. Kisah paling sohor berasal dari abad ke-16. H.J. de Graaf dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa mencatat, kala itu ulama Kesultanan Demak bermusyawarah menjelang bulan puasa. Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga menggunakan pandangan dan pendekatan berbeda dalam menentukan awal puasa.

  • Tragedi Kematian Magellan

    MACTAN, Filipina, 27 April 1521. Ferdinand Magellan bersama 60 anak buahnya telah bersiap perang melawan penduduk Mactan tiga jam sebelum fajar. Mereka sudah berbaju zirah lengkap dengan helm. Mereka juga disertai raja lokal, pangeran, beberapa pemimpin lokal dan sekitar 30 perahu tradisional balanghai. Perang tersebut disebabkan karena penduduk Mactan tidak mau tunduk pada perintah Magellan maupun pada raja-raja lokal yang telah memeluk Katolik. Merekapun siap bertempur. Tombak-tombak bambu dengan pucuk besi tajam dan panah-panah beracun telah disiapkan. Lubang-lubang jebakan juga telah digali di sekitar rumah-rumah penduduk. Mactan tak ingin jatuh ke tangan Magellan. “Kapten tidak ingin berperang saat itu, tetapi mengirim pesan kepada penduduk asli melalui orang Moor yang menyatakan bahwa jika mereka mematuhi raja Spanyol, mengakui raja Kristen sebagai penguasa mereka, dan memberi upeti, kapten akan menjadi teman mereka; tetapi jika mereka menginginkan sebaliknya, mereka akan melihat bagaimana tombak kami melukai,” tulis Antonio Pigafetta dalam The First Voyage around the World (1519– 1522): An Account of Magellan’s Expedition (Theodore J. Cachey Jr., Ed.).

  • Tradisi Berbuka Puasa Masyarakat Melayu

    SELAMA bulan puasa hampir seluruh masyarakat gampong senang berkumpul di meunasah (masjid) untuk menunggu waktu magrib. Menjelang waktu berbuka, orang-orang kampung yang sudah berkumpul masing-masing mengambil batok kelapa atau mangkuk kecil. Mereka lalu mengambil makanan yang telah disiapkan dari hasil sumbangan masyarakat di bawah pengawasan teungku . Makanan yang biasanya dihidangkan untuk berbuka puasa adalah bubur ( kanji ) yang terbuat dari beras dan berbagai sayuran yang diaduk rata. Bubur ini dimasak oleh beberapa orang tua miskin di gampong yang nantinya mendapat bagian fitrah dari teungku atas jerih payahnya. Setelah berbuka puasa dengan bubur, orang-orang lalu ikut seumayang mugreb atau sembahyang magrib. Yang tidak salat, mereka akan tetap di masjid menyaksikan orang melakukan salat berjamaah. Saat salat magrib selesai, semuanya kembali ke rumah untuk memuaskan rasa lapar mereka. Begitulah C. Snouck Hurgronje mengabadikan suasana bulan puasa di Aceh dalam laporan yang telah diterjemahkan berjudul Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial. Judul aslinya dalam bahasa Belanda, De Atjehers  terbit dari dua jilid laporan yang disusun tak lama setelah Snouck mengunjungi Aceh antara 16 Juli 1891–4 Februari 1892. Makanan yang disebut Snouck sebagai hidangan yang dinantikan masyarakat Aceh ketika berbuka puasa di masjid mungkin adalah ie bu peudah atau bubur pedas. Bubur ini telah menjadi makanan tradisi masyarakat Aceh saat bulan suci Ramadan hingga kini. Dikenal Luas Masyarakat Melayu Tradisi berbuka puasa dengan bubur pedas telah dikenal luas oleh masyarakat Melayu. Sartika dan Siti Wahidah dalam "Analisis dan Kebermaknaan Bahan Bubur Pedas sebagai Warisan Kuliner Melayu Stabat dan Tanjung Balai" yang terbit dalam   Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Medan, menyebutkan bahwa masyarakat di daerah Stabat dan Tanjung Balai di Sumatra Utara juga selalu membuat bubur pedas kala bulan puasa tiba. "Daerah Tanjung Balai dan Stabat merupakan daerah yang mayoritas penduduknya adalah Melayu. Bubur pedas merupakan salah satu menu wajib yang harus ada pada saat bulan Ramadan," catatnya. Menurut Sartika dan Wahidah yang telah mewawancarai tetua Melayu dan pengusaha bubur pedas di Stabat dan Tanjung Balai, bubur pedas hanya dibuat saat Ramadan dan perayaan keluarga karena cukup repot dalam pembuatannya. Bahannya pun tak sedikit. Di antaranya beberapa jenis kacang-kacangan, ikan, rempah, dan daun-daunan. Dalam Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera) yang diterbitkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Proyek Pelestarian dan Pengembangan Tradisi dan Kepercayaan pada 2004, dijelaskan bahwa resep ie bu peudah  yang tradisional biasanya dilengkapi bahan-bahan dari 44 macam daun kayu dari hutan. Karena sulit, muncullah beberapa variasi ie bu peudah . Cara membuatnya, daun-daunan itu ditumbuk hingga menjadi dedak dan dijemur. Setelah itu, daun-daun itu dicampur ke dalam breueh (beras) dan dimasak bersama air hingga menjadi bubur. " Ie bu peudah  yang sudah jadi bila waktu berbuka puasa hampir tiba dibagikan setiap orang yang akan berbuka puasa," sebut ensiklopedi. " Ie bu peudah  ini disajikan dalam wadah berupa cawan (mangkok) atau pinggan (piring)." Sementara itu, menurut Fariani, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh dalam "Bubur Pedas Makanan Khas Melayu di Bulan Ramadan" yang terbit dalam Haba No. 79 Th. XXI,   jika dicicipi ie bu peudah  tak sesuai dengan namanya. Bubur ini tak pedas, melainkan gurih, bahkan sedikit manis. Kisah di Balik Bubur Pedas Saat bulan puasa tiba, bubur pedas biasanya disajikan di masjid-masjid secara gratis sebagai menu berbuka. Bubur ini dimasak seusai salat zuhur secara bergotong-royong. "Tradisi makan bubur pedas ini dapat membina kerja   sama dan gotong royong antarumat muslim, karena bubur ini dimasak dan dimakan bersama-sama sehingga kebersamaan akan semakin terjaga," tulis Fariani. Konon bubur pedas ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Deli yang berdiri pada 1632 di bekas wilayah Kerajaan Haru atau Aru.  Wilayah Haru mendapatkan kemerdekaan dari Aceh pada 1669 dengan nama Kesultanan Deli. Menurut Fariani, pada masa kesultanan, tradisi makan bubur pedas dilakukan sebagai wujud kebersamaan antara kerajaan Melayu dan rakyatnya. Bubur pedas menjadi media bagi keluarga kerajaan untuk mendekatkan diri kepada rakyatnya. "Sultan dapat mendengarkan keluh kesah dan mengetahui permasalahan yang dihadapi rakyatnya, oleh karena itulah Kesultanan Deli menjadikan bubur pedas ini sebagai makanan tradisi saat Ramadan datang," tulis Fariani. Namun, Sartika dan Wahidah mencatat kisah asal-usul bubur pedas ini berbeda-beda di beberapa tempat. Masyarakat di daerah Stabat berpendapat bubur pedas dibuat karena pada zaman dahulu banyak rakyat yang hidup susah. Karenanya rakyat membuat makanan yang dicampur dengan banyak macam bahan agar bisa dimakan oleh banyak orang. "Kemudian makanan tersebut disuguhkan kepada raja-raja dengan tujuan agar mereka dapat merasakan penderitaan rakyat-rakyatnya yang susah," tulisnya. Masyarakat di Tanjung Balai memiliki cerita berbeda. Pada waktu penobatan Sultan Deli, sang raja membuat sayembara bagi rakyat untuk membuat suatu makanan yang layak disuguhkan kepada tamu-tamu kerajaan. Rakyat pun secara bersama-sama membuat berbagai macam masakan. Salah satunya bubur pedas. "Maka dari itu sampai saat ini masyarakat Melayu masih melestarikan bubur pedas tersebut," catatnya. Namun, sebagaimana disebut Fariani, tak sembarang orang bisa membuatnya. Biasanya yang bisa memasak bubur ini adalah orang-orang yang sudah berumur.  " Anak-anak muda Melayu, sudah jarang sekali yang bisa memasak bubur ini," tulisnya.*

  • Mula Komentator Iringi Laga Sepakbola

    RAMAI, semarak, berisik, kadang juga jenaka meski cenderung nyeleneh  bahkan “ngaco” merupakan kesan yang ditinggalkan Valentino Simanjuntak kala menjadi komentator laga Bali United vs PSS Sleman di ajang Piala Menpora 2021, Senin (12/4/2021) malam di sebuah stasiun tv swasta nasional. Kosakata yang diucapkannya sering hiperbolis dan tak edukatif. Di kanal Youtube -nya pada tahun lalu, komentator yang sohor dengan jargon “Jebret!” itu memang mengakui gayanya sengaja dibuat ramai dan “ngaco” sejak debutnya pada 2013. Semata demi hiburan. Namun, kali ini gayanya membawakan siaran sepakbola berujung pada kemunculan kampanye #GerakanMuteMassal.  Kampanye itu dipicu oleh kicauan akun resmi Twitter  @BaliUtd pada Minggu (11/4/2021): “rikues besok jangan terlalu hiperbola.” Para haters  pun memanfaatkan momen untuk menggaungkan tagar # GerakanMuteMassal . Dari beragam komentar di linimasa, ada yang mengomentari Valentino sebagai komentator yang polutif, mencari sensasi semata, hingga tak edukatif. Sebagaimana disitat Kumparan , Senin (12/4/2021), Valentino mengakui bahwa itu merupakan kreasi gimmick dari perpaduan inisiatifnya sendiri dan permintaan industri televisi. Dia menyanggah tudingan bahwa komentar-komentarnya tak edukatif. “Saya kan juga host yang harus mencari sensasi supaya penonton semakin banyak. Penonton yang dimaksud TV itu kan bukan hanya penonton bola, tetapi penonton di luar bola yang sekarang larinya ke (sinetron) Ikatan Cinta . Soal edukasi, saya sudah lakukan, misalnya dalam 90 menit pesepakbola rata-rata berlari 8-11 km tapi enggak ada yang merespon apa-apa. Saya keluarin semua catatan saya yang tebal banget tapi enggak ada yang diomongin orang,” ujar Valentino. Komentator nyentrik Valentino Simanjuntak yang kondang dengan jargon "Jebret!". (Instagram @radotvalent). Edukatif dan Deskriptif Edukatif dan deskriptif selalu jadi poin penting bagi setiap komentator untuk menyampaikan aksi-aksi detail sebuah pertandingan kepada audiensnya. Dengan demikian, berkomentar baik dalam laga yang ditayangkan via layar kaca maupun gelombang radio, bukan pekerjaan gampang. “Orang-orang berpikir Anda sekadar berkomentar secara sederhana di luar kepala. Saya pastikan tidak sama sekali. Anda harus tahu bahwa itu adalah salah satu bentuk seni, itu adalah skill. Di radio, Anda harus mencari kosakata yang lebih banyak karena Anda harus deskriptif sembari mengikuti pertandingan. Tapi televisi bisa jadi tricky juga karena Anda harus melengkapi gambar yang ditonton orang dengan cara-cara tertentu. Di TV Anda harus lebih disiplin dalam seni (berkomentar) dan bisa sangat tricky untuk Anda sempurnakan,” terang komentator kawakan BBC dan kemudian Fox Sports , Simon Hill, dikutip Medium , 13 Desember 2017. Hadirnya komentator sepakbola tak lepas dari perkembangan pesat siaran radio. Demi bisa dihayati para pendengarnya yang tak kesampaian datang langsung ke stadion, para komentator di radio mesti menggambarkan suasana dan jalannya pertandingan secara mendetail dan deskriptif. Syarat-syarat itulah yang dilakoni Kapten Henry Blythe Thornhill ‘Teddy’ Wakelam, veteran Perang Dunia I yang tercatat jadi komentator sepakbola pertama via siaran radio BBC. Menurut sejarawan Dick Booth dalam Talking of Sport: The Story of Radio Commentary , Wakelam adalah pemain rugby di tim Harlequin FC. Sebelum jadi komentator sepakbola, Wakelam lebih dulu jadi komentator pertandingan rugby antara Inggris kontra Wales di Stadion Twickenham, 15 Januari 1927yang disiarkan BBC . Momen tersebut jadi momen pertama BBC meliput pertandingan rugby dilengkapi komentator, yang gagasannya datang dari bos BBC John Reith. “Reith punya visinya sendiri tentang betapa berharganya transmisi (radio). Dia bukan pecinta olahraga, namun dia ingin BBC menyiarkan ajang-ajang besar di era kontemporer. Reith paham keunikan kualitas radio saat dia membandingkan alat-alat komunikasi lain, di mana radio bisa menjangkau langsung ke hati masyarakat di rumah masing-masing,” tulis Booth. Sosok Henry Blythe Thornhill ‘Teddy’ Wakelam, komentator pertama dalam pertandingan rugby dan sepakbola. ( Twickenham: The Home of England Rugby ). Menindaklanjuti gagasan Reith, produser BBC Lance Sieveking lantas mengontak Wakelam, yang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi setelah pensiun dari ketentaraan, untuk dijadikan komentator laga rubgy Inggris-Wales itu. “Pada suatu hari di Januari, saat saya sedang mengerjakan suatu detail tender (konstruksi), datang sebuah panggilan telepon. Sosok yang belum saya kenal di ujung telepon bertanya apakah saya Wakelam yang sama yang pernah bermain untuk (tim) Harlequins, dan saya bilang: ‘Ya.’ Dia menginformasikan bahwa dia utusan dari BBC yang ingin bertemu untuk membicarakan urusan penting,” ungkap Wakelam dalam otobiografinya, Half Time: The Mike and Me. Saat bertemu Wakelam, Sieveking menyampaikan keinginannya agar Wakelam jadi komentator rugby untuk BBC. “Tentu saya akan mencobanya, Pak Tua,” kata Wakelam mengiyakan permintaan Sieveking. Gubuk panggung kayu tempat komentator BBC menyiarkan dan memandu pertandingan rugby. (World Rugby Museum). Sieveking kemudian menguji Wakelam dengan menjadikannya komentator sebuah pertandingan tingkat sekolah. Sieveking terkesan dengan Wakelam yang sebagai pembicara di depan mikrofon, amat natural dengan keragaman kosakata apik namun tidak “ journalese ” atau hiperbolis. Wakelam pun jadi komentator radio pertama, yakni di pertandingan rugby antara Inggris kontra Wales. Wakelam hadir di Stadion Twickenham dan bekerja dari sebuah gubuk panggung kayu di bagian tenggara stadion yang mirip sarang burung. Bermodalkan buku catatan, pulpen, mikrofon, dan sebuah binokular, ia dengan lancar menyampaikan informasi jalannya pertandingan yang berkesudahan 11-9 untuk kemenangan Inggris itu. Dari laga rugby, BBC kemudian meminta Wakelam untuk mengomentari pertandingan sepakbola antara Arsenal kontra Sheffield United di Stadion Highbury, London, 22 Januari 1927. “Saya ingat orang dari BBC memperingatkan agar saya tak mengeluarkan kata-kata sumpah-serapah,” imbuh Wakelam. Diagram lapangan untuk memudahkan pendengar BBC kala komentator memandu laga Arsenal vs Sheffield United. ( Radio Times , 22 Januari 1927). Tuntutan untuk selalu edukatif dan deskriptif membuat Wakelam meminjam istilah rugby dalam mengomentari pertandingan sepakbola itu. Peminjaman itu dimaksudkannya agar pendengar bisa lebih paham tentang detail permainan dan posisi bola. “Seminggu setelah pertandingan rugby (Inggris vs Wales), Wakelam jadi komentator pertandingan sepakbola pertama di radio Inggris: Arsenal v. Sheffield. Dipercaya istilah ‘ back to square one ’ asalnya dari sini, karena Radio Times ikut mencetak diagram lapangan yang dibagi delapan bidang agar pendengar bisa lebih paham tentang posisi bola. ‘ Back to square one ’ artinya pertandingan dimulai lagi dengan tendangan gawang,” singkap Martin Kelner dalam Sit Down and Cheer: A History of Sport on TV. Dalam laga sepakbola itu, Wakelam tak sendirian jadi komentator di “sarang burung”. Ia ditemani Cecil Arthur Lewis, veteran Perang Dunia I berpangkat mayor Udara yang kemudian menjadi penulis merangkap produser untuk BBC. “Perannya (Lewis) di laga Arsenal lebih kepada sebagai cameo. Dia bertindak sebagai penanggap nomor dua yang menyampaikan posisi bola ada di bidang nomor berapa,” kata Roger Domeneghetti dalam From the Back Page to the Front Room . Setelah itu Wakelam makin laris diminta jadi komentator sepakbola. Termasuk di laga puncak FA Cup yang mempertemukan Cardiff City kontra Arsenal di Stadion Wembley, 23 April 1927. Hanya saja, pihak yang kontra terhadap makin meluasnya penyiaran dan maraknya komentator sepakbola tetap ada. Hingga awal 1931, lebih dari 100 laga Football League sudah di- cover BBC lengkap dengan para komentatornya. Hal itu turut berimbas pada pemasukan klub yang memburuk sejak diterpa Depresi Ekonomi 1930. Pendapatan klub dari tiket menukik tajam. Publik yang biasanya memadati stadion, memilih berhemat dengan menikmati pertandingan via radio. Akibatnya, sejumlah petinggi klub menekan Football League untuk melarang ratusan laga sepakbola disiarkan BBC. Larangan ini baru dicabut pasca-Perang Dunia II. Bersamaan dengan pencabutan larangan ini, komentator sepakbola kembali jadi penyambung lidah tak hanya via radio melainkan juga televisi di seluruh dunia. Seorang komentator di salah satu laga Piala Dunia 1934 di Italia di mana di tahun itu juga untuk pertamakali disiarkan via radio. ( fifa.com ). Di Indonesia, kemunculan komentator sepakbola secara masif berjalan seiring dengan menjamurnya stasiun tv swasta pada awal 1990-an yang membeli hak siar laga-laga sepakbola nasional maupun liga-liga Eropa. Komentator merangkap presenter yang memandu jalannya pertandingan pun bermunculan. Mulai dari Sambas Mangundikarta, Andi Darussalam Tabussala, Rayana Djakasurya, Edi Sofyan hingga generasi selanjutnya macam Ricky Johanes dan M. Kusnaeni, dan generasi Valentino Simanjuntak si “Jebret” yang juga diramaikan Hadi Gunawan dengan jargon “Ahay”-nya. Perubahan gaya gimmick komentator menjadi lebih kreatif sekaligus menghibur, diakui Valentino, tak lepas dari permintaan stasiun TV. “ I’m not born with this, but I made by and created , ini semua hingga menjadi sebuah tampilan. Saya pikir bukan hanya karena kebutuhan pihak TV, itu hanya salah satu tetapi lebih kepada pemirsa bola kok lagi adem aja ya? Kok bola ini enggak jadi bahan pembicaraan asyik masyarakat. Kalau bawakan kayak zaman 90-an, bisa. Saya akan bawakan juga dengan gaya begitu, why not ? Karena saya muncul tahun 2013 dengan gaya begini pun itu kan transformasi dari gaya saya sebelumnya yang tidak begini,” pungkasnya.

  • Kapten Herman Rante dan Pembajakan Pesawat Garuda

    KAPTEN A. Sapari, pilot pesawat Garuda F-28 baru saja lepas landas dari Pekanbaru. Sesuai jadwal, Sapari mestinya berpapasan dengan Kapten Herman Rante, pilot pesawat Garuda DC-9 “Woyla” bernomor penerbangan 206 di ketinggian 25.000 kaki. Saling tegur sapa untuk memberitahu posisi masing-masing lazimnya terjadi antara sesama pilot di atas udara. Hari itu, 28 Maret 1981 pukul 10.18, Sapari merasakan sesuatu yang ganjil. Herman Rante tetap terbang pada ketinggian 24.000 kaki. Sapari mencoba melakukan kontak komunikasi lewat frekuensi radio. Setelah tersambung dengan “Woyla”, Sapari menerima sinyal yang dikirimkan Herman Rante berupa berisi pesan bermakna gawat: “Being hijacked... being hijacked (Dibajak... dibajak).” Sapari terkejut begitu menyadari sejawatnya itu kena bajak.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page