Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Refleksi Intelektualitas Daniel Dhakidae
INDONESIA baru saja kehilangan salah satu intelektual terkemukanya: Daniel Dhakidae. Daniel meninggal dunia pada Selasa, 6 April 2021 di Jakarta pada usia 76 tahun. Ia merupakan salah satu intelektual penting dalam sejarah Indonesia yang berada dalam satu barisan dengan mereka yang kritis terhadap Orde Baru. Lahir di Ngada, 22 Agustus 1945, Daniel Dhakidae lulus dari Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1975 sebagai sarjana Ilmu Administrasi. Sejak 1976, ia bergabung dengan Majalah Prisma dan menjadi Ketua Dewan Redaksi Prisma periode 1979-1984. Selain lekat dengan Prisma, Daniel dikenal sebagai Wakil Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan, Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada 1982-1984. Daniel meneruskan studinya di Cornell University dan mendapat gelar Master of Arts bidang Ilmu Politik pada 1987 dan gelar PhD di bidang pemerintahan dari universitas yang sama pada 1991. Disertasinya yang bertajuk The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry mendapat penghargaan Lauriston Sharp Prize dari Southeast Asian Program Cornell University.
- Zona Gempa Selatan Malang
GEMPA bumi Magnitudo 6,1 mengguncang selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya pada Sabtu, 10 April 2021 sekitar pukul 14.00 WIB. Hingga pukul 20.00 WIB dilaporkan korban meninggal tujuh orang, dua orang luka berat, dan sepuluh orang luka ringan. Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, melalui akun twitter @DaryonoBMKG, menjelaskan bahwa Gempa Selatan Malang M 6,1 ini terjadi di kedalaman 60 km dan tidak berpotensi tsunami. Gempa ini memiliki spektrum guncangan yang luas sehingga dirasakan hingga Banjarnegara di barat dan Bali di timur. Gempa ini, lanjut Daryono, bukan gempa megathrust, melainkan gempa menengah akibat adanya deformasi atau patahan di zona Benioff, yaitu pada bagian Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi atau menunjam dan menukik ke bawah Lempeng Eurasia di bawah lepas pantai selatan Malang.
- Sri Sultan, Es Puter, dan Pedagang Beras
SUATU senja di tahun 1946. Kereta Api Luar Biasa yang datang dari Yogyakarta terhenti di Stasiun Klender, Jakarta Timur. Kendati memuat sejumlah pejabat RI (Republik Indonesia) yang akan melakukan perundingan dengan pihak Sekutu dan Belanda di Jakarta, namun tak urung izin masuk Jakarta dari NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) tetap diperlukan. Sudah beberapa menit kereta api tak jalan jua. Cuaca Klender yang panas membuat para penumpang kegerahan. Rasa dahaga pun mendera. Dokter Abdoel Halim memutuskan keluar dari gerbong untuk mencari minuman dingin. Baru saja meloncat keluar tetiba terdengar suara Sri Sultan Hemengkubuwono IX di belakangnya. “Hei Dok, mau kemana?” tanya Raja Jawa itu. “Ah tidak…Saya mau mencari minuman,” jawab Halim. “ Ik ga met u mee, ” jawab Sri Sultan sambil meloncat dari dalam kereta api. Sang adik Pangeran Bintoro lantas mengikutinya. Menyaksikan itu, Halim agak terperangah. Dia tak berani mengajak Sri Sultan karena berpikir mana mungkin seorang bangsawan yang kedudukannya sangat tinggi mau nongkrong dengannya sambil minum di pinggir jalan. “Ini bisa bikin repot, mana ada restoran yang lumayan di dekat stasiun ini,” pikir Halim seperti dikisahkannya dalam buku Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX (disunting oleh Atmakusumah). Meskipun agak segan, Halim menunggu Sri Sultan dan Pangeran Bintoro untuk menyertainya cari minuman. Mereka kemudian jalan beriringan keluar dari lingkungan Stasiun Klender. Beberapa meter dari stasiun nampaklah seorang tukang es puter tengah melayani para pembelinya. Merasa jengah jika harus mengajak Sri Sultan dan adiknya itu jajan minuman di pinggir jalan, Halim terus melewati gerobak es puter tersebut. “Hai Dok, mengapa berjalan terus? Ini kan ada es puter, di sini saja kita minum,” kata Sri Sultan. Jadilah mereka bertiga jajan es puter di depan Stasiun Klender. Anehnya, tak nampak gelagat dua bangsawan itu terlihat rikuh. Dengan santainya mereka menikmati es puter sambil berdiri di sela lalu-lalang kendaraan dan pejalan kaki. “Dengan kejadian itu, mendadak hilanglah sikap segan dari saya terhadap orang bangsawan yang feodal itu dan mulai terpikir oleh saya bahwa orang ini selanjutnya mungkin dapat menjadi kawan yang akrab,” ungkap Abdoel Halim. Kebersahajaan Sri Sultan juga terceritakan Komandan Komando Militer Kota (KMK) Yogyakarta Mayor Pranoto Reksosamodra pada 1950. Suatu hari Sri Sultan pulang blusukan dari pelosok. Di Desa Godean, tetiba Land Rover-nya dihentikan oleh seorang perempuan penjual beras. Tanpa pikir panjang, Sri Sultan menghentikan jip buatan Inggris itu. Belum Sri Sultan mengeluarkan sepatah kata, perempuan itu sudah berseru: “Niki, karung-karung beras niki diunggahake!” Rupanya, sang penjual beras yang tak mengenal wajah Sri Sultan mengira raja Jawa itu sebagai sopir angkutan beras yang biasa membawa para pedagang ke Pasar Kranggan di wilayah kota Yogyakarta. Sri Sultan pun mengangkat dua karung besar beras ke bagian belakang kendaraannya. Sementara itu sang penjual beras langsung menaiki jip dan duduk di samping Sri Sultan. Sepanjang jalan, mereka ngobrol dengan akrabnya hingga tak terasa sampai tujuan. Tanpa diperintah, Sri Sultan lantas keluar dari mobil. Dengan tangkas diturunkannya karung-karung berisi beras tersebut. Begitu selesai, penjual beras itu lantas merogoh kemben usangnya dan mengeluarkan uang lembaran dan disodorkan ke Sri Sultan. Lelaki ramah itu tersenyum dan menggelengkan kepala. Disikapi seperti itu, alih-alih berterimakasih, sang penjual beras malah ngomel-ngomel , dikiranya “sang sopir” tidak mau menerima ongkos karena jumlah uangnya yang kurang. Dengan sabar, Sri Sultan mengatakan ,” Pun boten sisah, Mbakyu.” Artinya: tidak usah bayar, Mbak. Tanpa menunggu jawaban dari si penjual beras, Sri Sultan lantas memacu Land Rover-nya ke arah keraton. “E, eee…Diwenehi duwit kok nampik. Sumengkean temen ta sopir kuwi,” gerutu penjual beras itu. Ya, siapa yang tak berkata demikian di zaman susah itu jika ada sopir angkutan yang begitu “belagu” menampik duit. Kendaraan Sri Sultan sudah berlalu, namun perempuan itu tetap saja mengomel. Tanpa disadarinya sudah lama prilakunya disaksikan banyak orang yang ada di sekitarnya. Seorang polisi lantas menghampiri penjual beras itu dan memberitahu jika “sopir” yang baru diomelinya itu adalah Ngarsa Dalem . Bukan main kagetnya penjual beras itu. Bahkan saking kagetnya, ia lantas terhuyung-huyung dan jatuh pingsan hingga dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda. Kejadian itu lantas berkembang dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga Sri Sultan. “Sri Sultan mendapat laporan bahwa si penjual beras dirawat di Rumah Sakit Bethesda, maka beliau pun memerlukan datang untuk menengoknya,” ungkap Pranoto Reksosamodra dalam otobiografinya, Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra: Dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya .*
- Kisah Cinta Dua Dunia Sudhana dan Manohara
Pada suatu masa hiduplah Sudhana, putra mahkota Pancala Utara, tanah makmur di mana ayahnyamemerintah dengan penuh kebajikan. Saat sedang berburu,dia melihat kinnari , manusia setengah burung, bernama Manohara yang ditangkap pemburu saat sedang mandi di danau. Dia jatuh cinta pada Manohara. Sudhana memberi kan hadiah yang mahal kepada pemburu untuk mendapatkan Manohara. D ia kemudian menikahinya. Manohara memberi kan permata kekuatan di dahinya kepada Sudhana. Pertanda Manohara menyerahkan diri sepenuhnya kepada suaminya. Suatu hari, dua brahmana datang ke Pancala Utara. Brahmana pertama ingin menjadi imam bagi raja yang sedang bertakhta. Sementara brahmana kedua dijanjikan Sudhana akan menjadi imam kerajaan ketika dia duduk di singgasana. Mengetahui hal itu, brahmana pertama berusaha melenyapkan Sudhana. Dia membujuk raja untuk menugaskan Sudhana meredam pemberontakan. Baca juga: Kisah Naga di Jawa Sudhana memberikan permata Manohara kepada ibunya. Dia meminta ibunya menjaga istrinya selama dia tidak ada. Sudhana berhasil mengalahkan para pemberontak dengan bantuan pasukan raksasa hutan. Pada malam yang sama, ayahnya bermimpi. Dia meminta pendeta menafsirkannya. Pendeta itu mengetahui bahwa mimpi raja merupakan pertanda kemenangan Sudhana. Namun, dia mengatakan kepada raja bahwa mimpi itu pertanda bencana akan datang. Bencana bisa dicegah hanya dengan mengorbankan seorang kinnari . “Raja menolak, tetapi pada akhirnya menyetujui permintaan tersebut,” tulis John N. Miksic, arkeolog National University of Singapore, dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas. Mengetahui menantunya dalam bahaya, ratu menyuruhnya pergi. D ia kembalikan permata Manohara agar kinnari itu bisa terbang kembali ke kampung halamannya. Manohara tak ingin pergi begitu saja meninggalkan Sudhana. Dia pun mampir ke rumah rsi di tepi danau. Dia menitipkan cincin bagi Sudhana dan memberi tahu bagaimana cara bisa menemukanya di negeri Kinnara dan Kinnari. Baca juga: Kegagalan Cinta dalam Kisah Zaman Kuno Sudhana pulang membawa kemenangan,namun Manohara telah kembali ke istana ayahanya, Raja Kinnara. Dia lalu mendatangi kediaman rsi . Dia diberi cincin dan cara mencapai Kerajaan Kinnara. Sudhana meminta izin pada Raja Kinnara agar bisa kembali tinggal bersamaManohara. Setelah melewati serangkaian ujian, hubungan mereka direstui. Pasangan itu pun kembali bersatu. Kisah cinta dua dunia antara Sudhana dan Manohara tersua dalam relief Avadana di dinding Candi Borobudur. Dua dunia karena Sudhana adalah manusia sementara Manohara adalah kinnari yang menghuni khayangan. “Meski di dalam relief, Manohara digambarkan sepenuhnya berbadan manusia,” tulis Miksic. Kisah Paling Terkenal Dalam mitologinya, kinnari diperlakukan sebagai makhluk setengah dewa. Ia kerap muncul pada relief candi, baik yang berlatar Buddha seperti di Borobudur, Sewu, Mendut, maupun Hindu seperti Prambanan. Penampilannya dalam relief agak mencolok. Berbeda dengan penggambaran Manohara, kinnari lebih sering berwujud perempuan cantik dari kepala sampai pinggang, dan bagian tubuh ke bawahnya berwujud burung. Kinnari biasanya dilukiskan berpasangan dengan kinnara , wujudnya yang laki-laki. Mereka pandai bersyair, memainkan alat musik, dan menari. Mitologi kinnara-kinnari dikenal pula di wilayah Asia Tenggara. Khususnya yang mendapat pengaruh Hindu dan Buddha, seperti Thailand, Kamboja, dan Myanmar. Di Candi Borobudur, kisah Putri Manohara bisa ditemukan di deretan cerita Avadana di tingkat tiga, pada relief dinding candi lorong pertama. “Avadana adalah kisah Buddha yang terkenal, termasuk tentang Putri Manohara,” tulis sejarawan Peter Levenda dalam Tantric Temples: Eros and Magic in Java . Manohara di Candi Borobudur. ( borobudurpedia.id ). Praktik Tantra Dalam kesusaatraan India, kisah tentang seorang pangeran yang kehilangan putri dan kemudian menemukannya kembali adalah gagasan yang akrab. Contoh yang paling terkenal adalah Ramayana . Ceritanya tentang Rama yang istrinya, Sita diculik oleh Rahwana, tapi kemudian merebutnya kembali dengan mengalahkan sang raksasa. “Pernikahan Sudhana dengan seorang kinnari mungkin menunjukkan pesan Tantra yang lebih dalam,” tulis Levenda. Baca juga: Ketika Sumatra Menjadi Pusat Peribadatan Tantrayana Levenda menjelaskan dalam kisah Avadana, Sudhana melakukan pencarian untuk menemukan dan membawa kembali istrinya. Dia menyoroti, dalam kisah Manohara dan Sudhana rumah Manohara disebutkan berada di Kailasa, gunung suci Buddha Tibet dan Hindu Tantra yang terkenal. “Bagi umat Hindu, Gunung Kailasa adalah tempat tinggal Siwa dan Parvati,” tulis Levenda. Di gunung itulah Sudhana melakukan dan menemukan pencariannya, yakni Manohara. Lalu d ia bawa pulang setelah melalui serangkaian ujian. “Seorang lelaki dan istri yang dipisahkan kemudian bersatu kembali. Istri adalah makhluk spiritual, yang tinggal di kerajaan ajaib dan dengan demikian dapat diartikan sebagai sumber kekuatan spiritual, shakti ,” jelas Levenda. Menurut Levenda, pertemuan kembali Sudhana dan Manoharamewakili ide penyatuan bumi dan langit, duniawi dan ilahi. Kisah Avadana tentang Sudhana dan Manohara dapat diartikan sebagai pendekatan dualis terhadap penyatuan spiritual. Baca juga: Kisah Romansa Masa Lalu Kisah Sudhana setelah di Avada masih berlanjut di kisah Gandabvyuha. Dalam kisah Gandavyuha, Sudhana sekali lagi menjalankan misi suci. Bedanya, kali ini untuk pencerahan pribadinya. Selama perjalanan pencarian ini, Sudhana mengunjungi 52 orang bijak dan suci. Ia mengumpulkan pelajaran penting dari masing-masing guru spiritualnya, hingga akhirnya dia menyadari bahwa rahasia pencerahan ada di dalam dirinya selama ini. “Sudhana, oleh karena itu, menjadi wakil untuk kemanusiaan secara umum, sarana untuk menunjukkan pencarian spiritual Buddha yang keras dan dengan praktik Tantra yang berkaitan dengan keseimbangan aspek kesadaran laki-laki dan perempuan,” jelas Levenda. Baca juga: Romansa dalam Relief Candi Beberapa waktu yang lampau, kata arkeolog Bambang Sulistya dalam “Pengaruh Tantrayana di Kawasan Nusantara” yang terbit dalam Berkala Arkeologi Vol. 6 No. 2 (1985),keberadaan Tantrayana di Borobudur masih menjadi bahan perdebatan. Di antara ahli yang membahasnya adalah Noerhadi Magetsari, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasi berjudul “Candi Borobudur Rekonstruksi Agama dan Filsafatnya” pada 1997. Dia menempatkan Tantrayana dalam kaitannya dengan ajaran keagamaan yang terdapat di Candi Borobudur. Berdasarkan kajian terhadap kitab Sang Hyang Kamahayanikan (SHK), Noerhadi menjelaskan bahwa Candi Borobudur menunjukkan tahap perkembangan pengalaman seorang Yogin yang sejalan dengan uraian ajaran yang terangkum dalam SHK. Ajaran Paramita atau kebajikan diwujudkan melalui relief-relief Lalitavistara, Avadana, dan Jataka. Aliran Yogacara diwujudkan oleh relief Gandavyuha dan Badrawati. Sementara unsur Tantrayana diwujudkan dalam arca-arca Panca Tathagata. Melalui penempatan arca-arca yang memagari semua relief, Noerhadi pun menyimpulkan, Candi Borobudur sama dengan SHK, lebih menitikberatkan pada ajaran Tantrayana. Baca juga: Mabuk Saat Berpesta dan Berdoa
- Bogem Mentah Leo Wattimena
SUATU pagi yang cerah di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakumah. Komodor (Udara) Leo Wattimena sedang memanasi pesawat P-51 Mustangnya di pinggir landasan. Namun, kondisi landasan Pangkalan Halim saat itu tidak begitu mulus. Pada pertengahan 1965, salah satu pangkalan udara tertua itu tengah direnovasi. Pengerjaannya meliputi perpanjangan landasan 24 sepanjang 1000 meter dan pengurukan kerendahan tanah setinggi 20 meter. Proyek itu dinamakan Proyek Pringgodani. “Kami mendapat bantuan sepenuhnya dari Zeni Angkatan Darat berupa truk-truk dan alat-alat berat beserta personil-personilnya,” kata Kolonel (Udara) Wisnu Djajengminardo dalam Kesaksian: Memoir Seorang Kelana Angkasa. Wisnu saat itu menjabat sebagai komandan PAU Halim Perdanakusuma. Dia juga merupakan teman baik Leo Wattimena. Mereka seangkatan ketika sama-sama mengikuti sekolah penerbangan di Akademi TALOA, California, Amerika Serikat. Meski keduanya sejawat akrab, namun secara kedinasan, Leo yang menjabat Panglima Komando Operasi (Pang Koops) AURI adalah atasan Wisnu.
- Tanaman untuk Penghijauan dari Relief Candi
TIGA candi di Yogyakarta mendapat giliran untuk dihijaukan dan diperindah. Tanamannya dipilih berdasarkan referensi yang tersua dalam relief di dinding candi. Kegiatan Candi Darling From Home yang diluncurkan Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) menargetkan 10.000 pohon yang akan ditanami di kawasan Candi Sambisari, Candi Banyunibo, dan Candi Barong. Tanaman itu dipilih dari bibit pohon dan tanaman dari Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Djarum Foundation di Kudus, Jawa Tengah. Abdurrachman Aldila, program associate Bakti Lingkungan Djarum Foundation, mengatakan pemilihan tanaman dilakukan berdasarkan kecocokan dengan karakteristik tanah lingkungan candi berada.
- Mempercantik Candi-candi di Yogyakarta dengan Semak Berbunga
BAKTI Lingkungan Djarum Foundation melalui program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) meluncurkan kegiatan Candi Darling From Home. Kegiatan ini menantang masyarakat luas, khususnya generasi muda, untuk secara kreatif ikut melestarikan lingkungan di tengah situasi pandemi. "Biasanya kita menanam langsung. Tapi karena ada pembatasan kegiatan sejak 2020 maka diadakan Candi Darling From Home. Jadi, kita tetap bisa ikut melestarikan lingkungan walau tetap di rumah," kata Tania Anggriani Arbi, program associate Bakti Lingkungan Djarum Foundation dalam acara media gathering Candi Darling From Home, yang diadakan secara daring, Rabu, 7 April 2021. Candi Darling From Home merupakan kelanjutan kegiatan Candi Darling yang sudah dijalankan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation sejak 2019. Program Candi Darling telah menghijaukan dan mempercantik beberapa candi di Indonesia di antaranya Candi Prambanan, Situs Ratu Boko, Candi Ijo, dan Candi Gedong Songo. Dari kawasan Candi Prambanan, Gedong Songo, dan Ratu Boko, program ini telah menanam sebanyak 11.037 tanaman semak berbunga.
- Target Pembunuhan Jamaah Imran
MEMASUKI tahun 1981, Indonesia dikejutkan dengan berbagai aksi teror yang melibatkan Jamaah Imran. Nama itu mengacu kepada suatu kelompok Islam radikal pimpinan Imran bin Muhmmad Zein Sutan Sinaro. Sejarah mencatat, aksi teror mereka dipuncaki dengan penyerangan terhadap Pos Polisi Kosekta 8606 di Cicendo, Bandung dan pembajakan terhadap pesawat Garuda DC-9 Woyla pada 28 Maret 1981. Menurut Ken Conboy dalam Intel II: Medan Tempur Kedua , dari Januari hingga Februari 1981, para anggota Jamaah Imran sangat aktif menjalan upaya penyingkiran orang-orang yang dianggap akan menghalangi kerja-kerja jihad mereka. Kendati gagal total karena seluruh anggota jaringan Jamaah Imran keburu terciduk , namun sejatinya semua rencana itu sempat dijalankan secara serius. Bahkan setelah aksi gagal mereka membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla pada akhir Maret 1981, Im Im (panggilan akrab anggota jamaah tersebut kepada ketuanya) masih sempat memerintahkan agar para anggota-nya melakukan aksi balas dendam kepada pimpinan operasi penumpasan para pembajak yakni Letnan Kolonel Sintong Panjaitan. Berikut sebagian para tokoh agama, politik dan militer Indonesia yang rencananya akan dihabisi oleh anggota Jamaah Imran: K.H. Engking Zainal Muttaqin Kiyai Haji Engking Zainal Muttaqin merupakan ulama senior di Jawa Barat. Kendati dikenal anti komunis dan pernah dipenjarakan oleh pemerintah Sukarno selama 5 tahun (1961—1966), dia dikenal sebagai tokoh Islam yang memiliki pemikiran keagamaan yang moderat. Demikian menurut buku Jejak Langkah, Cita, dan Alam Pikiran Dr. K.H. E.Z. Muttaqien karya Agussalim Sitompul. Karena kerap menyiarkan pesan-pesan damai dan mengecam sikap ekstrim dalam beragama, Imam Im memandang Ajengan Engking (panggilan akrab K.H.E.Z. Muttaqin) sebagai ulama yang telah “melacurkan” diri kepada pemerintah Orde Baru. Dia juga menilai ceramah-ceramah Ajengan Engking hanya akan membuat umat Islam menjadi umat yang lemah. Kebencian Imam Im terhadap Ajengan Engking semakin bertambah saat dikabarkan sang ajengan diangkat sebagai penatar program politik pemerintah Orde Baru yakni Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Hal itu diucapkan secara langsung oleh Imam Im saat berceramah di Masjid Istiqomah Bandung pada Agustus 1979. “Model Muttaqin yang gila itu, kalau tahu dia (tidak) gila, mana mau dia ditatar (P4),” ujar Imran seperti dicatat dalam buku Imran dari Hukum Sampai Islam yang ditulis dan diterbitkan oleh Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta. Tidak hanya cukup dengan mengecam dan menghina, Imran juga memerintahkan pengikutnya untuk membunuh Ajengan Engking. Hal itu pernah diucapkan Imran secara tidak langsung (lewat orang kepercayaannya) kepada salah seorang pengikutnya bernama Amsyurizal, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung (UNISBA). “Imam memerintahkan (Ajengan Engking) untuk disandera terlebih dahulu, baru dibunuh,” ungkap lelaki kelahiran tahun 1959 itu. Amir Murtono Tidak jelas benar apa yang menyebabkan Jamaah Imran menyasar Mayor Jenderal TNI (Purn) Amir Murtono untuk dijadikan target pembunuhan. Bisa jadi ide itu tercetus karena nama Ketua Umum Golongan Karya (1973—1983) terdapat dalam selebaran gelap yang beredar di kalangan umat Islam pada akhir 1970-an. Disebutkan dalam selebaran tersebut, Amir bersama Menteri Penerangan Ali Murtopo telah mengadakan sejumlah pertemuan dengan Dewan Gereja Indonesia (DGI) dan Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) untuk secara sistematis menyingkirkan peran umat Islam dalam perpolitikan di Indonesia. Yang jelas, Imran telah memerintahkan Muhammad Jusuf (salah satu orang kepercayaannya di Mojokerto, Jawa Timur) untuk menghabisi nyawa Amir Murtono begitu dia pulang ke Surabaya. Perintah itu kemudian diteruskan kepada M. Amin alias Umar. “Saya diperintahkan oleh Muhammad Jusuf untuk bunuh Amir Murtono,” ungkap lelaki kelahiran Mojokerto pada 1956 itu. Namun untuk menyelidiki Amir Murtono, Muhammad Jusuf langsung melakukannya sendiri. Di hadapan pengadilan yang menyidangkan kasus Imran pada Februari 1982, sebagai saksi Jusuf menyatakan telah diminta Imran untuk mengecek keberadaan Amir Murtono di rumahnya yang di Surabaya. “(Saya harus mengecek) kapan ia kembali ke Jakarta dan dengan pesawat apa, agar pesawat yang membawanya dapat dibajak,” ujar Jusuf. Ali Murtopo Sama dengan alasan untuk menghabisi Amir Murtono, motivasi rencana untuk membunuh Menteri Penerangan Ali Murtopo sepertinya tercetus dari adanya selebaran gelap yang menyatakan bahwa sang menteri sebagai otak di balik penghancuran umat Islam di Indonesia. Disebutkan oleh Imran bahwa Ali dianggap “berdosa” kepada umat Islam. Selain banyak mengobrak-abrik jaringan perlawanan Islam radikal, juga dia dianggap telah bersepakat dengan orang-orang Kristen untuk menyingkirkan orang-orang Islam dari kancah perpolitikan di Indonesia. Secara langsung, seorang saksi yang bernama Jacob Ishak, pernah mendengar Imran berencana akan memerintahkan para pengikutnya untuk membunuh Ali Murtopo. Menurut perwira menengah Angkatan Udara yang terlibat dalam Jamaah Imran tersebut, aksi itu akan dilakukan oleh seorang kawan Imran yang bertempat tinggal di sekitar rumah Ali Murtopo. Bahkan lebih jauh Imran meminta kepada Jacob untuk menyediakan 10 pucuk senjata api. Namun permintaan itu ditolak. “Saya beritahu mereka, saya tidak sanggup,” ungkap saksi yang turut ditahan itu. Kolonel Sintong Panjaitan Pedongkelan, Jakarta, 2 April 1981. Begitu mendengar para pembajak pesawat Garuda DC-9 Woyla berhasil ditumpas Komando Pasukan Sandi Yudha Angkatan Darat (Kopassandha AD), Imran langsung melakukan pertemuan mendadak dengan sisa-sisa pengikutnya. “Imran tidak sudi menyerah, ia merencanakan aksi berikutnya,” ungkap Ken Conboy. Imran betul-betul marah kepada Kopassandha. Dia lantas memerintahkan kepada salah satu pengikutnya bernama Hisyam untuk membunuh Letnan Kolonel Sintong Panjaitan (Komandan Satuan Anti Teror Kopassandha) yang dianggap bertanggungjawab atas operasi penumpasan itu. “Kau! Hisyam! Harus menebus darah teman-temanmu yang telah mati syahid itu,” kata Imran seperti disampaikan oleh Jumardi, salah seorang saksi dalam persidangan Imran. Tidak sekadar memerintah, Imran pun ikut mengatur strategi rencana pembunuhan tersebut dengan memberikan saran agar Hisyam dan beberapa kawannya melakukan pengintaian terhadap rumah Sintong Panjaitan di Asrama Kopassandha Cijantung, Jakarta Timur “Kamu (nanti) melamar menjadi seorang pembantu agar dapat membunuh Komandan Pasukan Anti Teror itu,” ujar Imran. Dua hari setelah pertemuan itu, rencana awal pun mereka laksanakan. Namun sebelum pembunuhan itu terjadi, aparat keamanan keburu meringkus tim qisas (pembalasan) tersebut. Beberapa hari kemudian giliran Imran yang diciduk. Setahun kemudian, pada akhirnya sang imam pun harus tewas di hadapan regu tembak. Maka dengan gagalnya operasi qisas itu, gagal pula-lah seluruh mimpi Imran dan para pengikutnya.*
- Koko Koswara, Pembaharu Karawitan Sunda
DALAM Festival Pelajar dan Pemuda Sedunia di Moskow tahun 1957, tampil tiga orang Sunda memainkan karawitan Sunda. Ketiga seniman ini meraih medali emas dan perunggu. Mereka adalah Ety Rumiaty sebagai sinden, Parmis sebagai pemain suling, dan yang paling terkenal, Mang Koko, penyanyi sekaligus pemain kecapi. Mang Koko bukan pemain kecapi biasa. Ia merupakan pembaharu musik karawitan Sunda yang telah malang melintang sejak zaman revolusi. Karya-karyanya masih dipakai sebagai rujukan pengembangan musik Sunda modern. Koko Koswara lahir pada 24 November 1917 di Desa Indihiang, Tasikmalaya. Namun untuk keperluan pendaftaran sekolah, tanggal lahirnya tertulis 10 April 1917. Koko mendapat pendidikan Hollandsch Inlandsche II (HIS II) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Tasikmalaya. Semasa sekolah inilah Koko mulai mengembangkan permainan kecapi yang digemarinya sejak kanak-kanak.
- Monster Perempuan dan Ketakutan Laki-laki
MEDUSA, pendeta Dewi Athena telah menarik perhatian para dewa di Olympus. Salah satunya Poseidon. Sayangnya, dewa penguasa lautan itu tak luput dari nafsu. Dia memperkosa gadis itu di dalam kuil Athena. Medusa yang malang. Daripada menghukum Poseidon, Athena justru marah kepadanya karena dianggap mencemari kuil. Bahkan, Athena mengutuk Medusa menjadi monster mengerikan sehingga tak ada laki-laki yang bakal menginginkannya lagi. Sang dewi perang itu mengubah rambut Medusa menjadi juntaian ular-ular berbisa. Siapapun yang melihat langsung ke mata Medusa, seketika berubah menjadi batu. Di dunia Yunani Kuno, Medusa menjadi salah satu monster yang paling ditakuti. “Ia mendominasi mitologi Yunani Kuno,” catat Smithsonian Magazine . Akhir hayat Medusa pun tak indah. Seperti kebanyakan monster di dunia Yunani Kuno, Medusa menemui ajalnya di tangan pahlawan laki-laki. Perseus membunuhnya. Perseus bisa membunuhnya karena mendapat bantuan dari dewa dan dewi. Hermes, sang dewa pembawa pesan, meminjaminya sandal bersayap. Hades, dewa penguasa dunia bawah, membekalinya topi tembus pandang. Dia juga mendapat perisai yang permukaannya seperti cermin dari Athena. Setelah membunuh Medusa, Perseus menjadikan kepalanya sebagai senjata dan menempatkannya pada perisai milik Athena. Selain Medusa, masih banyak mitos klasik yang berkisah tentang monster berwujud perempuan mengerikan mati di tangan pahlawan. Yang paling menonjol adalah mitologi Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno. Jess Zimmerman, kolumnis di The Guardian dalam bukunya Women and Other Monsters: Building a New Mythology mencermati semua cerita tentang monster perempuan selalu digambarkan terlalu marah, terlalu licik, dan terlalu pintar. Mitos-mitos ini diceritakan oleh laki-laki. Misalnya, yang familiar berasal dari penyair Romawi bernama Ovid. Ada pula Homer, salah satu penyair terpenting yang melahirkan epos Iliad dan Odyssey. Pun Hesiod yang hidup di sekitar masa yang sama dengan Homer. Masyarakat modern mengenal beberapa di antaranya Sphinx dari drama Oedipus gubahan Sophocles yang hidup sekira 496–406 SM. Ada pula Sirens dalam dongeng Odyssey yang bercerita tentang perjalanan Odysseus, raja Ithaca. “Apa yang akan dikatakan Medusa tentang kemalangan yang ia alami sebagai hukuman yang tak adil? Apa yang terjadi ketika kita mengeluarkan Sphinx dari drama Oedipus dan membiarkannya ada sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar penghalang pria? Bagaimana dengan Sirens ketika harus melihat semua orang yang mencoba mencintai mereka mati tenggelam?” tulis Zimmerman. Laki-laki Penjaga Tatanan Dunia Sepanjang sejarah manusia dan di semua masyarakat kuno, perempuan memiliki kekuatan signifikan, aktif menopang kehidupan. Di Indonesia, Dewi Sri identik dengan dewi ibu atau dewi kesuburan. Ada pula Dewi Hariti yang dipuja sebagai dewi kesuburan dan pelindung anak. Begitu juga di kawasan sekitar Mediterania, tempat lahirnya peradaban-peradaban kuno. Masyarakatnya memiliki beragam ekspresi simbolik feminin. Misalnya, masyarakat prapertanian Yunani, bergantung pada Gaia, dewi perwujudan dari bumi dalam mitologi Yunani sebelum era kepemimpinan Zeus. Namun, itu berubah seiring perkembangan zaman. Kepemimpinan Zeus sebagai raja para dewa kemudian mendominasi kepercayaan bangsa Yunani Kuno seakan dihubungkan dengan hadirnya stabilitas dunia. Begitu pun di antara manusia, muncul pahlawan yang akan membawa tatanan sosial dengan membersihkan bumi dari makhluk-makhluk mengerikan. Debbie Felton, peneliti cerita rakyat dalam sastra klasik khususnya tentang supernatural dan monster, punya pendapat terkait itu. Dalam “Rejecting and Embracing the Monstrous in Ancient Greece and Rome” yang terbit dalam The Ashgate Research Companion to Monsters and the Monstrous , Felton menerangkan bahwa orang Yunani secara teratur mengidentifikasi perempuan dengan keliaran alam yang didefinisikan oleh orang Yunani sebagai apa pun yang ada di luar batas yang teratur. “Monster dalam mitos Yunani cenderung mewakili kekuatan tak beradab dan tanpa hukum, seperti halnya elemen alam liar yang sering diwakili oleh perempuan mengerikan,” kata Felton. “Unsur-unsur ini untuk ditaklukkan dan digantikan oleh laki-laki pembawa budaya.” Contohnya, dongeng Perseus, tokoh pahlawan dari generasi paling awal. Termasuk juga Bellerophon dan Heracles atau Hercules menurut sebutan Romawi. “Mitos awal ini mencerminkan tema masyarakat yang lebih muda dan patriarkal yang menggantikan dunia yang lebih tua,” kata Felton. Dalam dongeng, setelah membunuh Medusa, Perseus melewati Ethiopia di mana dia melihat putri Andromeda dirantai ke batu. Sang putri akan dikorbankan untuk menenangkan monster. Perseus membunuh makhluk itu dengan pedangnya. “Dengan demikian, dengan memegang lambang budaya yang lebih beradab [pengerjaan logam menjadi pedang], Perseus membuktikan dirinya sebagai pembela masyarakat yang layak,” jelas Felton. Pun dalam dongeng Odiseus. Perjalanan pulangnya dari perang melawan pasukan Troy tak berjalan mulus. Dia dan pasukannya kena marah dewa karena telah menghancurkan kuil-kuil mereka saat membumihanguskan Troy. Amukan para penghuni Gunung Olimpus pun membuat armada Odiseus terombang-ambing di lautan selama sepuluh tahun. Dalam perjalanannya itu, Odiseus harus berurusan dengan berbagai monster. Di antaranya Sirens. Dalam tradisi pasca-Homer, Sirens digambarkan sebagai perempuan yang memiliki cakar seperti burung. Sirens memikat para pelaut dengan nyanyiannya yang mempesona hingga mereka tak sadar menenggelamkan diri dan mati. “Selain mencerminkan konflik laki-laki dan perempuan yang kita lihat sebelumnya, Sirens juga, mungkin lebih bisa, mewakili bahaya perjalanan laut, bagaimana pelaut tidak boleh membiarkan diri mereka lengah,” tulis Felton. Ada juga Sphinx, sosok yang populer di Mesir, Asia, dan Yunani. Ia digambarkan sebagai campuran dari berbagai makhluk. Di Mesir Kuno, Sphinx adalah patung bertubuh singa penjaga Piramida Agung Giza yang dibangun sekira 2.560 SM. Kemungkinan dirancang sebagai simbol kekuasaan laki-laki. Pada abad ke-5 SM, penulis drama Sophocles menulis kisah Sphinx dalam drama Oedipus Rex sebagai monster betina dengan tubuh kucing, sayap burung, yang memiliki kebijaksanaan dan kecerdasan. Sphinx bakal melahap siapa saja yang tak bisa menjawab teka-teki dengan benar. Sampai Oedipus bisa menjawab teka-teki itu. Sphinx putus asa dan menjatuhkan diri ke kematian. Ketakutan Laki-laki Kisah-kisah tadi mungkin terdengar fantastis pada masa kini. Tapi sebagai produk imajinasi, makhluk menyeramkan yang diciptakan orang-orang kuno itu menjawab pertanyaan soal apa yang pernah sangat ditakuti manusia pada suatu masa. Makhluk seperti Medusa dan Sirens berada di antara banyak kisah lain yang bercerita tentang ketakutan pria terhadap potensi destruktif perempuan. Awalnya Medusa seorang gadis jelita, tapi akhirnya dianggap berbahaya. Sementara Sphinx, tulis Zimmerman, adalah kesimpulan logis dari budaya yang menghukum perempuan karena menyimpan pengetahuan untuk diri mereka sendiri. “Pengetahuan adalah kekuatan, itulah mengapa dalam sejarah modern, laki-laki mengecualikan perempuan dari akses ke pendidikan formal,” jelasnya. Karenanya, sebagaimana pendapat Felton, sampai batas tertentu, mitos memenuhi fantasi laki-laki untuk menaklukkan dan mengendalikan perempuan. Ini jelas terlihat dalam mitologi Yunani yang berulang kali menampilkan monster berciri perempuan mati ditaklukkan oleh dewa dan manusia (laki-laki). “Kekuatan, tatanan, peradaban, dan patriarki pasti berlaku dalam pemikiran Yunani,” jelas Felton. Zimmerman menyebut bahwa monster perempuan memperkuat ekspektasi tentang tubuh dan perilaku perempuan. “Perempuan telah menjadi monster, dan monster telah menjadi perempuan, dalam kisah berabad-abad,” catatnya. Menurutnya, cerita adalah cara untuk menyandikan harapan dan meneruskannya. Bagaimanapun Yunani memiliki pengaruh pada sastra dan seni masa Renaisans. Lalu seni dan sastra Renaisans juga punya pengaruh besar pada gagasan masyarakat masa kini. Mungkin itu pun menjelaskan mengapa banyak hantu mengerikan yang legendaris di Asia, khususnya Indonesia, berwujud perempuan.*
- Pewarta Foto Historia Mendapat Penghargaan APFI
FERNANDO Randy, pewarta foto Historia.ID , mendapat penghargaan dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2021, ajang tertinggi untuk pewarta foto tanah air. Dia memenangi Foto Esai Terbaik APFI 2021 kategori olahraga lewat artikel “Perjuangan Bangsa di Stadion VIJ”. Fotonya berbicara tentang salah satu lembar sejarah persepakbolaan tanah air. Penghargaan diberikan di Jakarta, Jumat, 2 April 2021. APFI kali ini melombakan 4.400 foto karya pewarta foto lintas media sepanjang 2019–2020. APFI sempat absen tahun lalu karena pandemi Covid-19. Dalam rilisnya, panitia menyebutkan penyelenggaraan APFI tahun ini penuh keterbatasan. Tapi itu tak mengurangi niat mereka untuk mengapresiasi capaian dan karya pewarta foto pada tahun yang berat itu. “ Segala kesulitan dan tantangan di masa pandemi tidak menyurutkan semangat dan komitmen organisasi profesi PFI untuk menghadirkan ajang penghargaan tertinggi jurnalis foto tanah air ini ,” kata panitia APFI. Dewan juri APFI terdiri dari jurnalis dan fotografer senior di media-media ternama. Mereka adalah Agus Susanto, pewarta foto Kompas ; Arief Suhardiman, editor foto The Jakarta Post ; Desi Fitriani, produser MetroTV ; Enny Nurhaeni, jurnalis senior; dan Oscar Motuloh, jurnalis senior. Nama-nama tadi sudah sohor sebagai sosok yang berdedikasi, berpengalaman, berintegritas, dan memiliki kedalaman dalam menghadirkan berita ke masyarakat. “Kualitas jajaran juri berbanding lurus dengan kualitas karya pemenang,” kata panitia APFI dalam rilisnya. Maka menjadi pemenang dalam APFI berarti sebuah capaian istimewa bagi para fotografer dan media yang meraihnya. “Dan yang lebih spesial lagi ternyata di tahun ini per kategori hanya punya satu pemenang. Tidak seperti tahun sebelumnya: satu kategori ada juara 1, 2, 3. Jadi ketat banget,” kata Fernando Randy. Nando, sapaan akrabnya, menuturkan dia sebenarnya masuk dalam dua nominasi pada APFI 2021. Satu karya lainnya juga termuat di Historia.ID dan mengangkat kisah Ibu Sri Nasti Rukmawati, salah satu penyintas peristiwa pembantaian 1965. Karya ini masuk dalam kategori People in the News. “Walau nominasi, tetap bangga karena ketat sekali,” tutur Fernando. Untuk menghasilkan karya foto-foto stadion VIJ (Voetballbond Indonesia Jacatra), Nando berangkat dari pembacaannya tentang sejarah sepakbola tanah air. Kebetulan dia berdomisili dan bekerja di Jakarta. Dan di sini ada klub sepakbola dengan sejarah panjang: Persija yang punya nama lama VIJ. Karena itu, dia mengulik tonggak-tonggak masa lampau klub ini. Berbekal artikel Persija dari Masa ke Masa dan Perjuangan MH Thamrin Lewat Sepakbola , Nando menyusuri bekas stadion milik Persija di kawasan Petojo, Jakarta Pusat. “Tempat itu punya cerita, punya sejarah. Terkadang kita hanya memandang tempat di sekitar kita itu biasa. Padahal banyak cerita di dalamnya seperti di VIJ. Dan sebagai sebuah kritik sosial: tempat yang menjadi salah satu perjuangan bangsa tapi tidak terawat,” ungkap Nando. Di tempat inilah dulu Mohammad Hoesni Thamrin, tokoh pergerakan nasional dari Kaoem Betawi, ikut menggelorakan nasionalisme dan perlawanan terhadap kolonialisme lewat sepakbola. Dia menyumbang uang untuk memperbaiki lapangan Petojo agar bisa dipakai oleh VIJ. Masa itu, polarisasi antara pesepakbola anak negeri dan Eropa sangat kuat. Fasilitas berlebih tersedia untuk pesepakbola Eropa, sedangkan anak negeri hanya mendapat sedikit fasilitas. Akibatnya, kompetisi anak negeri sering terhambat karena ketiadaan stadion yang layak. Kompetisi masa itu juga terbagi dua untuk anak negeri dan Eropa. Karena itulah Thamrin bertekad membantu VIJ agar bisa mendapat fasilitas layak. Dia mengupayakan lapangan dengan tribun penonton dan ruang makan. Harapan itu terwujud pada 1936. Inilah lapangan Pulo Piun. Sampai sekarang masih berdiri dan bernama Lapangan Petojo. Dalam foto-fotonya, Nando menghadirkan suasana stadion VIJ hari ini. Tampak besi-besi berkarat, rumput yang mengering, cat yang kusam, tembok-tembok retak, dan kursi kayu tribun yang reyot. Tapi lapangan ini masih sering dipakai untuk latihan sekolah sepakbola dan klub setempat. Foto-fotonya yang lain memperlihatkan suasana di luar stadion VIJ. Anak kecil yang bersepeda dengan memakai kostum sepakbola dan aktivitas warga mencuci di luar tembok stadion. Bagi Nando, sejarah dan fotografi sesuatu hal yang tak terpisahkan. “Karena fotografi adalah medium komunikasi untuk medokumentasikan peristiwa sejarah yang akhirnya bisa kita pelajari sampai saat ini.” Agus Susanto, anggota dewan juri, berpendapat foto Fernando di Historia.ID telah membuka mata dan berhasil menerawang salah satu babakan sejarah sepakbola di tanah air. “Pencarian ide yang baru, riset dan penguasaan lapangan menjadi kunci foto cerita stadion yang berdiri sejak 1928 ini menarik perhatian juri,” kata Agus kepada Historia.ID . Foto ini juga sekaligus membuktikan bahwa foto olahraga tak melulu soal membekukan gerakan atlet dari kamera yang canggih.*
- Jamaah Imran Mencari Senjata
AKHIR Maret 1981. Pesawat Garuda DC-9 Woyla dibajak oleh lima lelaki Indonesia yang merupakan anggota Jamaah Imran. Nama itu mengacu kepada suatu kelompok Islam radikal pimpinan Imran bin Muhmmad Zein Sutan Sinaro. Kepada pemerintah Republik Indonesia (RI), para pembajak mengajukan beberapa tuntutan, di antaranya pemerintah RI harus membebaskan 86 tahanan politik terkait gerakan Islam radikal. “Salah satunya adalah ketua Momok Revolusiener di Sumatra dan juga Abdullah Sungkar, pengkhotbah asal Solo yang (pernah) mengajak para pendukungnya memboikot Pemilu 1977,” ungkap Ken Conboy dalam Intel II: Medan Tempur Kedua. Sekira tiga minggu sebelumnya, Jamaah Imran pun telah melakukan penyerangan ke Pos Polisi Kosekta 8606 di wilayah Cicendo, Bandung. Akibat serangan tersebut, 3 anggota Polri langsung tewas seketika dan satu lainnya terluka parah. Selain itu, para penyerang berhasil membebaskan beberapa tahanan dan merampas dua pistol jenis Colt 38. Menurut Conboy, penyerangan itu dilaksanakan dengan berbekal senjata laras panjang berjenis M1 Garand, sepucuk pistol jenis FN 32 dan beberapa granat tangan. Senjata dan granat-granat tersebut merupakan hasil curian dari gudang senjata Sekolah Angkutan Militer di Cimahi. Sedangkan pistol dicuri dari seorang kolonel yang merupakan ayah dari salah seorang anggota Jamaah Imran. Pistol dari berbagai jenis itulah yang kemudian dipakai oleh lima anggota Jamaah Imran untuk membajak pesawat Garuda Woyla. Selain pistol, mereka pun menggunakan beberapa granat tangan dan dinamit. Awalnya Jamaah Imran melakukan berbagai aksi kekerasan hanya dengan menggunakan bayonet dan golok. Itu pernah mereka jalankan pada saat mereka mengupayakan sejumlah pembunuhan terhadap beberapa tokoh ulama Bandung yang dianggap pro pemerintah RI dan Kopral Dua Nadjamuddin, seorang anggota ABRI yang dianggap anggota intelijen pemerintah yang disusupkan ke jaringan mereka. Semua upaya pembunuhan itu tak pernah berhasil. Kecuali aksi yang dilakukan terhadap Kopral Dua Nadjamuddin yang berhasil ditusuk secara beramai-ramai hingga tewas. Saat itu yang bersangkutan memang sengaja diundang untuk ikut pengajian kecil mereka. Dari berbagai aksi yang gagal itulah, Imam Im (panggilan akrab para pengikut Imran) sampai pada satu kesimpulan bahwa mereka memerlukan senjata api. Maka keluarlah “fatwa” dari sang imam agar para pengikutnya harus mendapatkan senjata api dengan berbagai cara. Upaya pertama dijalankan dengan membuat sendiri sejenis pistol berpeluru jarum beracun. Itu diupayakan oleh seorang anggota Jamaah Imran bernama Muhammad Amin. Lelaki kelahiran Mojokerto pada 1957 itu kemudian meminta kepada Sueb (seorang anggota Jamaah Imran yang pandai merakit senjata) untuk membuatkan “senjata rahasia” yang akan digunakan Amin membunuh sejumlah tokoh pemerintah, termasuk Mayor Jenderal (Purn) Amir Murtono yang saat itu merupakan Ketua Umum Golkar (Golongan Karya). “Saya diperintahkan Haji Yusuf (orang dekat Imran),” ungkap Amin seperti dikutip buku Imran: Dari Hukum sampai Islam terbitan Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta. Selain membuat sendiri, senjata-senjata maut milik Jamaah Imran juga didapatkan dari hasil mencuri. Secara khusus, Imam Im “mendoktrin” beberapa anggota jamaah-nya yang memiliki ayah yang berprofesi sebagai anggota ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Mereka kemudian diperintahkan untuk menyusup ke gudang senjata milik ABRI atau mencuri secara langsung senjata milik orangtua mereka. Imam Im juga memerintahkan pengikutnya untuk merampas senjata dari para anggota Polisi Lalu Lintas (Polantas) yang tengah menunaikan tugas-nya di jalanan. Cara itu pernah dipraktekkan oleh dua anggota Jamaah Imran yakni Muthalib dan Mahrizal (pimpinan pembajak pesawat Garuda Woyla). Pada suatu hari, sebelum operasi pembajakan dilakukan, Muthalib dan Mahrizal mendatangi Pos Polisi di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Aksi itu terekam dalam dialog antara majelis hakim dengan Muthalib yang merupakan salah satu saksi dalam pengadilan Imran bin Muhammad Zein Sutan Sinaro pada Februari 1982: “Bagaimana hasil mencari senjata di Suropati itu?” tanya Hakim Soebandi, S.H. “Saya disuruh mengintip polisinya, sedang Mahrizal merayap mau menggetok kepala polisi itu,” jawab Muthalib yang langsung disambut tawa riuh penonton sidang. “Ya… Lalu bagaimana?” tanya Hakim lagi. “Lagi asyiknya Mahrizal merayap, saya colek pantatnya, (saya bilang): Sstt! Polisinya melihat saya, awas nanti kita ditembak. Akhirnya kami berlari. Enggak jadi rampok senjata.” Ruang sidang pun kembali dipenuhi tawa riuh. “Apa benar polisinya melihat saudara saksi?” “Tidak Pak Hakim. Cuma karena saya takut, saya kasih tahu begitu. Habis saya ngeri, kaki saya gemetaran,” ungkap Muthalib. Untuk kesekian kalinya, para pengunjung pun tertawa mendengar kepolosan Muthalib.*





















