top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cerita Impor Beras Indonesia

    PEMERINTAH berencana mengimpor beras 1-1,5 juta ton pada 2021. Beras impor ini untuk mencukupi cadangan beras pemerintah. Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi menyatakan cadangan beras pemerintah di Bulog terendah dalam sejarah. Tapi rencana ini mendapat tentangan dari dalam dan luar pemerintah.  Impor beras telah menjadi polemik sejak Indonesia merdeka. Impor beras menunjukkan “ironi bagi Indonesia, sebab negeri ini memiliki segala potensi untuk meningkatkan produksi beras,” tulis Dawam Rahardjo dalam “Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia”, Prisma , No 5, 1993. Semenjak merdeka, Indonesia berupaya menjaga kedaulatan pangannya lewat pemenuhan kebutuhan beras. Saat itu kebijakan beras selalu identik dengan kebijakan pangan. Keseriusan pemerintah tampak dalam pembentukan Menteri Negara Urusan Pangan pada November 1947 atau Kabinet Amir Sjarifuddin II. Selama masa itu, ancaman bagi Indonesia bukan saja dari bedil tentara Belanda, tapi juga dari kekurangan pangan. “Masalah yang serius sebagai akibat gangguan perang terhadap kegiatan produksi pertanian. Menteri Urusan Pangan mengemban tugas mengatasi masalah pangan ini,” lanjut Dawam. I.J. Kasimo, Menteri Kemakmuran sekaligus Menteri Persediaan Makan Rakyat dalam Kabinet Hatta I (1948) menetapkan program swasembada beras untuk menjamin kebutuhan pangan rakyat. Alasan lain, devisa Indonesia masih terlalu rendah. Membeli beras impor bisa menyedot sebagian besar devisa Indonesia. Kasimo menargetkan swasembada tercapai sebelum 1956. Program itu akan ditopang oleh penyuluhan cara-cara bertani yang lebih baik. Program itu berhasil menambah produksi beras pada 1950–1953. “Ternyata bahwa tambahnya produksi tidak saja dapat mengimbangi tambahnya penduduk akan tetapi bahkan melebihinya,” catat Almanak Pertanian 1954 . Tapi pertambahan produksi beras belum menutup kebutuhan beras Indonesia. Di perdesaan, harga beras ternyata kelewat tinggi bagi kebanyakan orang. Padahal di desalah beras diproduksi. Keganjilan ini mendorong Wakil Presiden Mohammad Hatta menulis artikel “Politik Harga Beras Bagi Kemakmuran Rakjat” termuat dalam Beberapa Fasal Ekonomi terbitan 1954. Untuk menurunkan harga beras agar terjangkau oleh orang banyak, pemerintah terpaksa mengimpor beras. Tapi kebijakan ini mendapat sorotan dari dalam internal pemerintah sendiri. Presiden De Javasche Bank Sjafruddin Prawiranegara heran terhadap kebijakan tersebut. Menurut Sjafruddin, pada masa kolonial, pemerintah sanggup menghasilkan beras begitu banyak. “Sehingga sejak tahun 1940 Indonesia praktis self-supporting  dalam soal beras, meskipun tiap tahun penduduknya bertambah,” tulis Sjafruddin dalam “Herorientasi di Lapangan Pembangunan Ekonomi”, Suara Partai Masjumi, April 1952. Sjafruddin melanjutkan, tetapi sejak kemerdekaan, Indonesia justru harus mengimpor beras. Tiap tahun impor itu tak berkurang. Malahan terus bertambah. “Keadaan itu tak dapat kita biarkan, kalau kita tidak ingin hanyut dalam penderitaan dan kemiskinan di masa datang,” tulis Sjafruddin. Sjafruddin tak sepenuhnya benar. Menurut catatan Almanak Pertanian 1954,  impor beras pada 1952 mencapai 600 ribu ton. Tapi turun menjadi 300 ribu ton pada 1953. Data Tim penulis Seperempat Abad Bergulat dengan Butir-Butir Beras juga menyatakan impor beras menurun pada 1953, 1954, dan 1955. Kemudian naik lagi pada 1956 dan turun lagi pada 1957. Impor beras selama periode 1950–1952 dilakukan oleh Kian Guan Concern melalui penunjukan oleh Yayasan Bahan Makanan (Bama) –pendahulu Bulog. “Bama menetapkan kwantum, kwalitas, shipping schedule, dan negara asal beras, sedang penunjukan eksportir/ supplier  di luar negeri dilakukan oleh Kian Guan Concern,” tulis tim penulis Seperempat Abad Bergulat dengan Butir-Butir Beras. Lisensi tunggal kepada Kian Guan Concern berubah ketika Bama menunjuk konsorsium Thai Grain Syndicate untuk menangani pembelian beras dari Muanghtai (nama lama Thailand). Konsorsium ini terdiri atas Gabungan Pedagang-Pedagang Beras, orang-orang Indonesia yang bermukim di Bangkok (ibu kota Muangthai), dan Kian Guan. Kebijakan impor beras berubah lagi pada 1956. Kali ini, seiring perkembangan perusahaan-perusahaan nasional dalam bidang impor, pemerintah membuka tender impor beras dan membentuk Panitia Tender Beras Impor. “Panitia mengadakan penilaian dan menetapkan pemenang tender berdasarkan persyaratan yang paling cocok, baik mengenai kwalitas, harga, waktu penyerahan maupun komisi yang diminta,” catat tim penulis Seperempat Abad Bergulat dengan Butir-Butir Beras. Masing-masing perusahaan berupaya membangun jaringan di beberapa negara pengimpor beras demi memenangi tender itu. Negara pengekspor beras selama periode 1950–1957 antara lain Amerika Serikat, Brazil, Burma (Myanmar), Italia, Muangthai, Portugal, Spanyol, Taiwan, dan Vietnam Selatan. Burma dan Muangthai tercatat sebagai negara pengimpor beras terbesar untuk Indonesia. Meski pemerintah terus mengimpor beras tiap tahun, kekurangan pasokan beras kerap terjadi. Tak jarang pula harga beras naik. Pernah pada November 1958, pemerintah justru menaikkan harga beras impor untuk injeksi. Beras injeksi adalah beras yang dilempar ke pasar dengan jumlah yang lebih banyak sehingga harga beras dapat turun. Penaikan harga beras impor untuk injeksi itu langsung disambut protes keras dari berbagai kalangan. “Di DPR Jakarta Raya dan di Parlemen RI diajukan mosi ‘penggugatan’ terhadap keputusan pemerintah itu. Mosi itu didukung oleh orang-orang dari semua partai-partai posisi dan bukan oposisi,” catat Frans Seda dalam Penabur,  10 November 1958. Karena impor beras tak menutup kekurangan pasokan beras dan menyelesaikan perkara seputar ketahanan pangan, pemerintah kembali menggiatkan program Padi Sentra untuk swasembada. “Suatu program yang gagal,” sebut L.A. Mears dan S. Moeljono dalam “Kebijaksanaan Pangan” termuat dalam Ekonomi Orde Baru. Impor beras tetap tinggi memasuki dekade 1960-an. “Selama awal tahun 60-an, lebih dari 1 juta ton beras diimpor setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri,” lanjut Mears dan Moeljono. Presiden Sukarno menyadari tingginya angka impor beras dan ketergantungan rakyat pada beras. Karena itu, dia berupaya mencari cara lain untuk memperbaiki masalah ini. Caranya dengan penganekaragaman pangan. Antara lain dengan memperkenalkan jagung, sagu, dan ketela sebagai makanan pokok. Tapi program ini tak bertahan lama seiring melemahnya pemerintahan Sukarno.*

  • Yogyakarta Usai Serangan Umum

    NGUPASAN, YOGYAKARTA masih diselimuti embun pagi itu. Satya Graha tengah menimba air sumur ketika tiga jip berisi serdadu-serdadu berbaju loreng berhenti di muka rumahnya. Beberapa langsung memasuki rumah-rumah penduduk, sebagian lagi bersiaga dalam formasi tempur. Seorang serdadu  tetiba mendatangi Satya. Sambil membentak, dia bertanya dalam bahasa Melayu yang terpatah-patah mengenai keberadaan kaum Republik. Remaja kelahiran Blitar itu lantas menjawab bahwa dirinya tidak tahu apa-apa dan hanya seorang anak sekolahan. “Mungkin karena saya menjawabnya dengan bahasa Belanda, serdadu itu lantas pergi dan membiarkan saya terus menimba,” kenang lelaki kelahiran tahun 1931 tersebut.   Akibat operasi pembersihan pada 2 Maret 1949 itu, 15 warga Ngupasan tewas ditembak. Begitu mencekamnya suasana hingga 15 mayat itu dibiarkan begitu saja. Pun ketika pada hari ketiga saat burung-burung gagak berdatangan untuk mematuki mayat-mayat tersebut. “Tidak ada yang berani merawat sampai hampir seminggu karena takut dilaporkan oleh mata-mata Belanda,” ujar eks kurir pasukan TNI tersebut. Selepas peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 yang dilakukan oleh TNI, militer Belanda terkesan panik. Operasi pembersihan kerap dilakukan nyaris setiap hari. Kendaraan tempur hilir mudik melakukan patroli. Kantor IVG (Grup Intelijen dan Keamanan) pun dipenuhi dengan orang-orang yang dituduh sebagai kaum Republik. Begitu mendapat kabar Yogyakarta sempat dikuasai selama 6 jam oleh TNI, Panglima KNIL Letnan Jenderal H.M. Spoor langsung terbang dari Jakarta ke Yogyakarta. Besoknya pada 2 Maret1949, sang panglima mengumpulkan semua perwira utama di rumah dinas Kolonel D.R.A van Langen. Dalam diskusi terbatas itu, kendati menganggapnya biasa-biasa saja, namun Spoor memuji insiatif  serangan 1 Maret 1949 tersebut. “Dia menyebut peristiwa itu sebagai serangan yang sangat terkoordinasi secara baik dan dilakukan bersamaan dari berbagai jurusan…” ungkap Basuki Suwarno dalam Hubungan Indonesia—Belanda Periode 1945—1950 . Basuki yang banyak mengambil riset untuk penulisan buku-nya dari dokumen-dokumen intelijen militer Belanda juga mengungkapkan perintah Spoor pasca serangan itu. Dia menginginkan pasukannya agar lebih aktif lagi menjalankan kombinasi antara operasi intelijen, operasi pembersihan dan operasi teritorial. Namun di lapangan, perintah itu terlaksana secara tidak berimbang. Alih-alih berupaya mengambil hati rakyat Yogyakarta, militer Belanda malah lebih banyak menjalankan aksi-aksi penangkapan dan pembunuhan. Itu tentu saja diadakan berdasarkan informasi-informasi intel yang didapat dari mata-mata mereka yang beredar di seluruh Yogyakarta. Hingga 30 Juni 1949,  operasi pembersihan yang dilakukan militer Belanda di wilayah Yogyakarta telah menyebabkan korban penduduk 2.718 tewas, 539 hilang dan 736 luka-luka. Demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sebuah buku yang dikeluarkan Kementerian Penerangan RI, Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta. Situasi itu malah menyebabkan rasa antipati masyarakat Yogyakarta semakin besar terhadap tentara pendudukan. Terlebih sejak Yogyakarta diduduki Belanda pada 19 Desember 1948, nyaris tak ada uluran kerjasama sama sekali dari mereka. Menurut  jurnalis sekaligus akademisi asal Amerika Serikat (AS) George McTurnan Kahin, sikap non kooperasi itu hampir dipastikan absolut. Ketika mewawancarai Mr. B.J. Muller, seorang pejabat Belanda urusan ekonomi di Yogayakarta, dia mendapat informasi bahwa dari sekira 400.000 penduduk Yogyakarta, hanya 6.000 orang saja yang mau bekerjasama dengan pihak Belanda. “Bahkan dia jujur menyatakan keyakinannya bahwa orang-orang itu mau bekerja hanya karena adanya perintah dari Sultan Yogyakarta agar penduduk sipil tidak mengalami penderitaan yang terlalu berat,” ungkap Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia. Rasa antipasti rakyat Yogyakarta justru dimanfaatkan secara ciamik oleh kaum Republik. Terbalik dengan upaya militer Belanda, TNI justru menuai sukses dalam menjalan operasi teritorialnya di dalam kota Yogyakarta. Selain kerap membantu dengan menyumbangkan logistik dan obat-obatan, rakyat Yogyakarta juga merupakan “mata-mata terbaik” dalam menginformasikan segala gerak-gerik tentara Belanda. Tidak heran karena asupan informasi itu, TNI dan laskar bisa melakukan serangan-serangan kecil yang mengakibatkan korban besar hampir setiap waktu. Pos-pos militer Belanda di Kaliurang adalah salah satu yang menjadi sasaran favorit para gerilyawan Republik. Serangan intens itu memang sengaja dilakukan oleh TNI. Menurut Komandan Brigade X Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto hal itu penting selain untuk menurunkan moral pertempuran pasukan Belanda juga sebagai upaya guna menyibukkan anak buah Spoor hingga tak memiliki kesempatan mengganggu rakyat. “Supaya rakyat kita di kota selamat dari pembalasan Belanda…” ujar Soeharto dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (disusun oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H.).

  • Kiprah Politik Idham Chalid

    Sosoknya diabadikan oleh Bank Indonesia dalam uang pecahan 5.000 rupiah. Idham Chalid aktif dalam berbagai organisasi perjuangan hingga menduduki beberapa jabatan strategis.

  • Ambiguitas Gender Pada Atlet

    Sebelum adanya kewajiban tes dan verifikasi gender pada 1950, kasus ambiguitas gender karena kelainan alat reproduksi banyak terjadi. Berikut beberapa atlet dunia yang mengalaminya.

  • Jatuhnya Istana Mataram

    KERUSUHAN besar terjadi di Mataram pada penghujung abad ke-17. Raden Trunajaya beserta pasukannya merangsak masuk ke wilayah ibukota kesultanan. Mereka mengambil alih takhta Mataram yang pengaruhnya saat itu begitu besar, serta menjatuhkan trah Amangkurat dari pucuk kekuasaan raja-raja di Jawa. Menurut Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid 2, salah satu tujuan Trunajaya melakukan penyerangan ke Mataram itu adalah membalaskan dendam atas penghinaan yang pernah diterima keluarganya dari penguasa Mataram. Di samping juga keinginan untuk memperluas kekuasaan Madura ke daratan utama Jawa. Upaya pendudukan Mataram dilakukan Trunajaya pada 1677. Kala itu pasukan pangeran Madura tersebut berusaha merangsak masuk ke Istana Plered, tempat Sultan Amangkurat I berada, tetapi mendapat hadangan dari barisan penjaga istana. Di bawah pimpinan tiga pangeran Mataram -Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, dan Pangeran Singasari- bala tentara Mataram berjuang mati-matian mempertahankan benteng terakhir penguasa Mataram tersebut. Bentrokan pun tidak dapat dihindarkan.

  • Konflik Beras Kaum Republik

    SEJAK era Hindia Belanda, Karawang kadung dikenal sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Pulau Jawa. Menurut sejarawan Aiko Kurasawa, predikat itu tersemat hingga akhir1980-an. Sejak itulah, masyarakat di sana mulai pindah profesi menjadi buruh pabrik. “Dulunya (Karawang) adalah masyarakat pertanian, mayoritasnya petani,” ungkap Aiko dalam suatu seminar bertajuk “Historical and Land Use Transformation in Industrial Society” yang diadakan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada 15 Agustus 2019. Di era revolusi Indonesia tengah berkecamuk (1945—1949), para juragan beras di Karawang mempercayakan pengamanan distribusi beras kepada golongan kaum Republik yang terdiri dari tentara dan kelompok laskar. Selain membiayai kebutuhan pangan tentara dan laskar, mereka pun bahkan menyerahkan sebagian pengelolaan bahan makanan pokok itu kepada kaum bersenjata tersebut. Contoh kasus itu terjadi di wilayah Rawagede. Adalah Bah Inem, seorang juragan beras yang memiliki ratusan hektar sawah yang membentang mulai wilayah Rawagede, Jatimulilit, Patenggong hingga Cilebar. “Bah Inem yang suka berjudi itu memiliki kebiasaan unik yakni kalau lagi kalah judi, dia justru suka membeli sawah orang lain,” ujar Telan ketika saya wawancarai pada 2015. Menurut eks anggota laskar Hizbullah Rawagede itu, Bah Inem memiliki hubungan yang sangat akrab sekali dengan kalangan tentara dan laskar. Bisa dikatakan, dia merupakan donatur utama TRI (Tentara Repoeblik Indonesia) dan kelompok-kelompok laskar yang bermarkas di Rawagede dan sekitarnya. Bukan saja uang dan beras yang mengalir setiap bulannya ke kelompok-kelompok bersenjata itu, namun soal pengelolaan bisnis beras pun, Bah Inem memberikan wewenang kepada mereka. “Beras-beras itu dijual di koperasi-koperasi laskar dan tentara. Namun tak jarang beras-beras itu pun lari ke pasar gelap di Jakarta,” ungkap Kastal, eks komandan regu Hizbullah Rawagede. Soal keterlibatan kaum Republik dalam pengelolaan bisnis beras di Karawang itu, diakui oleh sejarawan Robert Briston Cribb. Mereka yang terdiri dari tentara dan beberapa kelompok laskar (Laskar Rakjat Djakarta Raja, Hizbullah, Barisan Banteng Republik Indonesia, Pemuda Sosialis Indonesia) melakukan kebijakan monopoli terhadap perdagangan beras. “Salah satu yang mereka lakukan adalah melakukan blokade di sekeliling kota agar beras tak masuk ke Jakarta,” ungkap Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries. Aksi itu dijalankan tak lain sebagai upaya untuk melumpuhkan Jakarta yang telah menjadi kota pendudukan Sekutu dan Belanda. Bahkan lebih jauh kelompok laskar memberlakukan kembali aturan yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah pendudukan Jepang: melarang rakyat melewati batas keresidenan dengan membawa lebih dari 5 kg beras. Situasi itu menyebabkan beras Karawang yang terkenal lezat tersebut menjadi barang yang langka dan sangat mahal di pasar-pasar Jakarta. Aksi penyelundupan pun menjadi tak terhindarkan. Kendati dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan yang ketat di batas demarkasi (wilayah Kranji dan Klender), namun tak urung beras-beras asal Karawang ada yang lolos juga masuk ke Jakarta. “Cara yang mudah untuk meloloskannya ya tak ada cara lain dengan menyogok orang-orang laskar dan tentara,” ungkap Haji Sidin, eks tukang beras keliling di Tambun dan Klender pada era 1940-an. Praktik penyelundupan beras itu menumbuhkan kisah-kisah menyedihkan. Soe Hok Gie pernah mengungkapkan tentang nasib para perempuan tukang beras antara Karawang-Jakarta pada era revolusi tersebut. Untuk melancarkan pemeriksaan, para lasykar dan tentara yang menjaga perbatasan garis demarkasi itu tak segan-segan melakukan pelecehan dan pemaksaan seksual terhadap mereka. “Di daerah garis demarkasi yang dijaga serdadu Belanda (Klender), mereka pun harus mengalami kejadian yang sama,” tulis Soe Hok Gie dalam  Zaman Peralihan . Batalyon Beruang Merah adalah salah satu kelompok tentara yang menjadi “subur” karena bisnis penyelundupan beras itu. Begitu sejahteranya kesatuan Divisi Siliwangi asal Tasikmalaya itu, hingga menimbulkan iri kesatuan-kesatuan lain. “Mereka pun segera mendapat julukan 'ber-uang merah' (memiliki uang Belanda yang berwarna merah),” ungkap Cribb. Pertengahan April 1946, Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir memutuskan untuk memberikan bantuan beras kepada India yang tengah dilanda kelaparan. Jumlah yang ditargetkan Sjahrir adalah 500.000 ton. Karawang adalaah salah satu wilayah yang menjadi andalan untuk menyediakan beras bantuan itu. Persoalan muncul ketika Laskar Rakjat Djakarta Raja (LRDR)  yang anti Sjahrir menghalang-halangi upaya itu. Pun mereka yang selama berada di Karawang sangat tergantung dengan persedian beras yang disetor oleh para juragan beras tentu saja tidak mau kehilangan jatahnya. “Mereka lantas melarang rakyat untuk menyetorkan beras kepada pemerintah,” ungkap Telan. Aksi itu kemudian disikapi secara keras oleh Batalyon Beruang Merah selaku alat pemerintah RI  yang memang juga menganggap LRDR sebagai saingan dalam soal bisnis beras itu. Tak berhasil menyelesaikan masalah dengan cara damai, pada sekira pertengahan 1946 kedua kelompok kaum Republik pun bersitegang dengan menggunakan senjata masing-masing. “Sempat terjadi tembak menembak di wilayah Tanjungpura dan ada yang luka-luka juga. Tapi setelah sekitar sejam cepat selesai karena keburu datang Polisi Tentara mengamankan mereka,” kenang Telan.*

  • Percasi dari Masa Revolusi

    Sudiro (1911–1992) suka main catur sejak duduk di sekolah dasar HIS Netral (Neutrale Hollands Inlandsche School). Dia belajar pada L.G. Eggink, kepala sekolah yang suka catur dan menjabat hopdaktur  (ketua dewan redaksi) majalah catur NISB (Nederlands Indische Schaak Bond). NISB merupakan perkumpulan catur Hindia Belanda yang didirikan pada 1915 di Yogyakarta. Sudiro kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Tinggi (Hogere Kweekschool) di Magelang. Dia meneruskan kegemarannya bermain catur. Bahkan, dia mengaku ikut melawan Max Euwe dalam pertandingan simultan pada 22 September 1930. Juara catur Belanda itu melawan 42 pemain. “Penulis dan seorang teman sekelas bernama Ratib beruntung sekali malam itu, karena penulis dapat mengalahkan sang juara, dan Ratib mencapai remis,” kata Sudiro dalam Pelangi Kehidupan . Menurut penelusuran Dutch Docu Channel di pangkalan data surat kabar Belanda ( Delpher ), surat kabar De Locomotief  yang melaporkan pertandingan simultan itu menyebut bahwa kekalahan Max Euwe karena sangat kelelahan setelah perjalanan yang jauh. Dalam perjalanan hidupnya, Sudiro tidak berkarier sebagai pemain catur. Dia memilih terjun ke pergerakan, menjadi guru dan kepala sekolah. Setelah kemerdekaan, dia bekerja di pemerintahan sebagai residen Surakarta. Pembentukan Percasi Pada suatu hari, Saptogiri, pembantu pribadi Sudiro, meminta izin menggunakan pendopo kantor Karesidenan (bekas Kepatihan) untuk mengadakan pertandingan catur antara Percaso (Persatuan Catur Solo) dan Percam (Persatuan Catur Mataram). “Sebagai seorang penggemar permainan catur, dan yakin bahwa permainan ini baik sebagai cabang olahraga maupun sebagai cabang kesenian, pasti sangat penting artinya bagi pembangunan bangsa Indonesia, penulis segera mengizinkannya,” kata Sudiro. Ketika pertandingan berlangsung, Ketua Percam dr. Suwito Mangkusuwondo, mengusulkan untuk membentuk sebuah organisasi sebagai wadah bagi olahraga catur. Gagasan tersebut mendapat sambutan hangat. Beberapa waktu kemudian, kira-kira pertengahan tahun 1948, bertempat di rumah dr. Kwik Tjie Tik di Jalan Purwosari (sekarang Jalan Slamet Riyadi) 147, berdirilah Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia). Menurut pbpercasi.com ,karena situasi saat itu belum pasti dan masih dalam masa peralihan, maka baru pada 17 Agustus 1950 ditetapkan sebagai tanggal resmi berdirinya Percasi dengan memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta berkedudukan di Yogyakarta. Terpilih sebagai ketua umum Percasi pertama adalah dr. Suwito Mangkusuwondo. Pada 1955, kedudukan pengurus Percasi dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta.Selanjutnya Percasi mulai berkiprah di percaturan internasional dengan menjadi anggota Federasi Catur Internasional atau Federation Internationale Des Echecs (FIDE) pada 1960. Catur Wanita Percasi menggelar kejuaraan nasional (kejurnas) catur pertama kali pada 1953 di Solo. Sejak itu, kejurnas catur digelar setiap tahun, terakhir tahun 2019. Sedangkan kejurnas catur wanita baru pertama kali digelar pada September 1978 di Yogyakarta. “Penulis yang kebetulan turut membidani lahirnya Percasi pada tahun 1948 –tepatnya 30 tahun yang lalu– telah mendapat undangan untuk menghadiri upacara pembukaan perlombaan kejuaraan itu,” kata Sudiro, mantan wali kota (kini gubernur) Jakarta Raya (1953–1960). “…untuk pertama kalinya diadakan kejuaraan catur wanita. Menurut berita terakhir, pertandingan diikuti oleh 15 orang,” kata Sudiro yang kemudian menjadi penasihat Percasi. Merujuk pada pangkalan data catur Indonesia, indonesiabase.com ,kejurnas catur wanita ini diselenggarakan bersamaan dengan tahap kualifikasi kejurnas ke-18 dan kejurnas junior ke-3. Kejurnas catur wanita diikuti 16 pemain dari tiga provinsi: tujuh pemain dari Yogyakarta, lima pemain dari DKI Jakarta, dan empat pemain dari Jawa Tengah. Hasilnya cukup mengejutkan. Hanik Maria dari Jawa Tengah keluar sebagai juara nasional catur wanita pertama. Dia mengungguli pemain-pemain terbaik Indonesia, seperti Imasniti (Jakarta), Mun’yati (Jawa Tengah), dan Nanik Wijaya (Yogyakarta). Bintang Indonesia masa depan, Darmayanti Tamin (Jakarta), yang masih berusia belasan tahun mendapat pelajaran berharga dengan menempati posisi ke-11. Kariernya mencapai puncak pada dekade 1980-an dengan menjadi juara pada kerjunas catur wanita tahun 1980 dan 1982. Dia bersama Nanik Wijaya dan Mun’yati menjadi bagian dari tim Indonesia untuk Olimpiade Catur 1982–1986. Kejurnas catur wanita terus digelar hampir setiap tahun, terakhir tahun 2019. Kejurnas catur wanita ke-21 tahun 2006 melahirkan juara Irene Kharisme Sukandar yang baru berusia 14 tahun. Dia menjadi juara nasional catur wanita berturut-turut (2006, 2007, 2009, dan 2010). Bahkan, Irene menjadi pecatur wanita Indonesia pertama yang mendapatkan gelar Women Grandmaster (WGM) pada 2009. Pecatur wanita kedua dan termuda yang menjadi WGM adalah Medina Warda Aulia tahun 2013. Dan hari ini, Senin (22/03) WGM Irene mengalahkan Dewa Kipas Dadang Subur 3-0 dalam pertandingan yang digelar oleh Master Deddy Corbuzier.

  • Terpaksa Mengungsi karena Gunung Berapi

    Kota Berenike di pantai Laut Merah didirikan antara 275 dan 260 SM. Penduduknya meninggalkan kota pesisir itu pada 220 hingga 200 SM, sebelum dihuni kembali selama berabad-abad kemudian. Kekeringan parah memaksa mereka mencari tempat tinggal baru. Marek A. Wozniak, arkeolog dari Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia Institut Kebudayaan Mediterania dan Oriental, dan James A. Harrell, profesor emeritus dari Departemen Ilmu Lingkungan Universitas Toledo, Amerika Serikat, mendapatkan bukti setelah mengekskavasi situs Berenike pada 2004. Hasil penelitiannya, “When the well runs dry: climatic instability and the abandonment of early Hellenistic Berenike”, terbit di laman   Cambridge University Press , Jumat (19/03). “Bukti menunjukkan, penduduk pindah pada akhir abad ke-3 SM mungkin karena kekeringan selama beberapa tahun dan membuat sumber air tawar kota itu mengering,” tulis Wozniak dan Harrell. Mereka menemukan sisa-sisa gerbang dan menara di dinding benteng. Di bawah lantai sebuah gedung, mereka menemukan sumur yang masih menyimpan air sampai sekarang. Sumur ini mengering antara 220 dan 200 SM, lalu terisi pasir yang tertiup angin. Pasir ini terawetkan di dalam sumur.  Di dalam sumur ditemukan dua koin perunggu dari dekade sebelum 199 SM. Sementara di tempat lain di benteng, hanya ditemukan sedikit artefak dari masa itu. Ini menunjukkan Berenike sudah ditinggalkan penduduknya. “Pasti terjadi kekeringan selama beberapa tahun yang membuat sumur mengering,” tulis Wo z niak dan Harrell . Mereka memperkirakan kekeringan itu dipicu oleh letusan gunung berapi pada 209 SM. Penelitian Jennifer Marlon dari Universitas Yale yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2017, menemukan bahwa pada 209 SM, letusan gunung berapi melepaskan banyak aerosol sulfat ke atmosfer bumi. Inilah yang menyebabkan curah hujan turun pada musim panas di atas hulu Sungai Nil. Akibatnya, sungai itu kekeringan yang berbuntut pada pemberontakan penduduk yang kelaparan pada 207–186 SM di Mesir Hulu. Namun, belum jelas gunung berapi mana yang meletus. Wozniak dan Harrell menyebut empat kemungkinan, yaitu Gunung Popocatepetl di Meksiko, Pelee di pulau Martinique di Lesser Antilles, Tsurumi dan Hakusan di Jepang. Kendati demikian, penggalian di Berenike tidak hanya mengungkap keberadaan kota era Helenistik pertama di pantai Afrika Timur, melainkan juga berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik mengenai efek bencana alam pada masyarakat kuno. Peta wilayah Berenike oleh James A. Harrell menggunakan foto satelit dari Google Earth ( cambridge.org ). Pusat Kerajaan Mataram Kuno Pindah Peristiwa serupa terjadi di Jawa. Peninggalan candi di Yogyakarta, seperti Candi Sambisari, Candi Kedulan, Candi Kimpulan, dan Candi Losari, ditemukan terkubur material muntahan Gunung Merapi. Asumsi lama menyebutkan letusan besar Gunung Merapi pada 1006 menyebabkan Kerajaan Mataram Kuno pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pendapat ini dikemukakan geolog Belanda, Reinout Willem van Bemmelen dan D.H. Labberton. Mereka menduga penyebab runtuhnya Mataram Kuno adalah letusan Merapi yang dipicu gempa tektonik. Gempa ini merusak sebagian Candi Borobudur dan Candi Mendut di Magelang, Jawa Tengah, yang dibangun pada abad ke-9. Sementara materi letusan menutup banyak bangunan candi di sekitarnya, termasuk menghancurkan Mataram Kuno. Mereka mendasarkan pendapatnya pada Prasasti Kalkuta atau Prasasti Pucangan tahun 963 Saka (1041). Prasasti ini menyebutkan adanya bencana besar ( pralaya ) pada 928 Saka (1006).  Pendapat mereka disanggah oleh epigraf Boechari dalam makalah “Some consideration of the problem of the shift of Mataram’s center of government from Central to East Java in the 10th Century A.D.”, yang termuat dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti . Boechari menyebutkan bahwa Mataram Kuno telah pindah ke Jawa Timur sejak 928. Mpu Sindok, penguasa Mataram Kuno,telah memerintah di Delta Brantas, wilayah Jawa Timur sekarang. Pendapat Boechari dibuktikan Prasasti Anjukladang yang dibuat Mpu Sindok pada 937. Prasasti ini merupakan prasasti Mataram Kuno pertama setelah pindah ke Jawa Timur. Dalam Prasasti Pucangan juga jelas disebutkan bahwa pralaya di Mataram Kuno pada 1016 disebabkan oleh serangan Raja Wurawari dari Lwaram pada zaman pemerintahan Raja Dharmawangsa Tguh (991–1016). Supriati Dwi Andreastuti, peneliti Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian, Yogyakarta, dkk. dalam makalah “Menelusuri Kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006”, Jurnal Geologi Indonesia , Vol. 1 No. 4 Desember 2006, menyebutkan bahwa catatan rinci yang menjelaskan letusan Gunung Merapi pada 1006 tidak ditemukan. Karenanya kebenaran letusan besar pada tahun itu diperdebatkan. “Bukti-bukti ini menyimpulkan bahwa letusan besar Gunung Merapi pada 1006 tidak pernah terjadi,”tulis Supriati, dkk. Supriati, dkk.menjelaskan dari penemuan endapan Selo tefra dan berdasarkan fakta bahwa Mpu Sindok memerintah pada 928/929–948, kemungkinan letusan Merapi cukup besar terjadi pada 765–911. Letusan ini yang mendorong penduduk Mataram Kuno mulai pindah ke Jawa Timur. S elain intensitas letusan Merapi yang tinggi, perpindahan pusat kerajaan juga untuk menghindar i serangan Kerajaan Sriwijaya. Masyarakat Mataram Kuno memperhitungkan lokasi perdagangan yang lebih strategis di daerah Delta Brantas.

  • Di Balik Panggung Sejarah Grammy Award

    SUDAH sepekan berlalu sejak perhelatan Grammy Award ke-63 pada 14 Maret 2021 di Los Angeles Convention Center. Tak hanya menghadirkan sejarah baru, penghargaan musik paling sohor itu masih menyisakan kontroversi. Biduan Queen Bey alias Beyoncé Knowles yang mendapat sembilan nominasi, pulang dengan memenangkan empat penghargaan. Keempatnya di kategori Best R&B Performance untuk single  “Black Parade”, kategori Best Music Video untuk tembang “Brown Skin Girl”, serta kategori Best Rap Performance dan Best Rap Song untuk lagu “Savage”. Tambahan itu membuat Beyoncé punya koleksi 28 Grammy sejak awal berkarier, termasuk tiga di antaranya saat masih tampil sebagai trio di grup Destiny’s Child. Capaian tersebut membuatnya jadi musisi perempuan dengan koleksi penghargaan terbanyak dalam sejarah Grammy. Ia juga menyamai prestasi Quincy Jones dengan total penghargaan yang sama, serta hanya selisih tiga penghargaan dari komposer legendaris Georg Solti yang masih sebagai pemilik Grammy terbanyak (31 penghargaan). “Sebagai seniman, saya percaya bahwa adalah tugas kita semua untuk bercermin pada perjalanan waktu dan belakangan ini masa itu adalah masa yang sulit. Seumur hidup saya sudah bekerja keras…(masa ini) sungguh merupakan malam yang magis,” ungkap Beyoncé, dikutip   Richmond Free Press , 18 Maret 2021. Mula Grammy Award Anugerah musik beragam genre selevel Piala Oscar di bidang perfilman itu bermula dari sebuah gagasan yang tidak disengaja. Henry Schipper dalam Broken Record: The Inside Story of the Grammy Award  menyingkap, kelahiran Grammy Award tak terlepas dari proyek legendaris Walk of Fame yang akan dibuat di Hollywood Boulevard, California, Amerika Serikat pada pertengahan 1950-an. “Cerita tentang Grammy dimulai pada 1955 ketika sebuah komite kecantikan (dari Kamar Dagang Hollywood, red. ) meminta para eksekutif dari lima perusahaan rekaman besar untuk menentukan   siapa yang pantas atau tidak untuk mendapatkan sebuah bintang di Hollywood Walk of Fame,” tulis Schipper. Walk of Fame yang diinisiasi   E.M. Stuart,   petinggi Kamar Dagang Hollywood, ingin mempopulerkan Hollywood sebagai kawah candradimuka dunia hiburan dengan mengapresiasi para seniman (perfilman, pertelevisian, musik, dan radio)   yang namanya diabadikan dengan simbol bintang perunggu. Khusus untuk bidang musik, lanjut Schipper, Kamar Dagang Hollywood mempercayakan seleksi itu kepada para bos di lima perusahaan rekaman: Axel Stordahl, Paul Weston dan Doris Day (Columbia Records); Dennis Farnon (RCA Records); Sonny dan Milt Gabler (Decca Records); Lloyd Dunn dan Richard Jones (Capitol Records); dan Jesse Kaye (MGM Records).   Kelimanya   disertakan Kamar Dagang Hollywood dalam sebuah komite musik. Trofi-trofi penghargaan Grammy Award. ( grammy.com ). Komite tersebut pada 1957 bertransformasi menjadi National Academy of Recording Arts and Sciences (kini The Recording Academy). Dalam pertemuan dan tukar pikiran para petinggi lima perusahaan rekaman itu, muncul ide untuk mengadakan anugerah untuk para seniman musik sebagaimana Academy Awards atau Piala Oscar untuk seniman film dan Emmy Awards di industri televisi. Weston dkk. Lalu   membentuk komite-komite di dalam The Recording Academy di berbagai kota selain Los Angeles. Di antaranya di New York, Chicago, dan Memphis.   Komite diisi para musisi macam Frank Sinatra, Bing Crosby, dan   Nat King Cole. Ide itu kemudian diejawantahkan dengan proses seleksi nominasi pada 1958.Malam puncaknya digelar pada 1959 dengan disponsori kelima perusahaan rekaman di atas. Trofinya yang desain dan namanya sudah dipikirkan sejak 1957, kemudian disepakati berupa bentuk gramofon berlapis emas.Gramofon dianggap jadi penemuanpaling berpengaruh dalam industri musik. Trofi Grammyyang didesain tim The Recording Academy dibuat berdimensi 18,5 x 8 cmdan pengerjaannya dilakukan di Billing Artworks di Ridgway, Colorado. “Kami sedang membuat trofinya dan sebuah komite penghargaan juga sedang memikirkan namanya,” ungkap Weston kepada suratkabar The Deseret News edisi 9 Agustus 1957. Inagurasi Grammy Award pertama di Hotel Hilton, Beverly Hills, California pada 1959. ( grammy.com ). Komite itu, sambung suratkabar tersebut, juga sempat berdiskusi alot soal penamaan penghargaannya. Beberapa anggotasempat mengusulkan nama “Eddie Award” yang mengacu pada nama Thomas Alva Edison, penemu gramofon pada 1877. Namun akhirnya disepakati anugerah itu dinamai “Grammy” sebagai kependekan sebutan gramofon. Trofi akan diperebutkan da lam inagurasi Grammy Award pertama yang digelar pada 4 Mei 1959 di dua tempat sekaligus : pesisir barat di Hotel Hilton di Beverly Hills, California dan pesisir timur di Hotel Sheraton Park , New York. Tak hanya di- cover media cetak dan radio, inagurasinya juga di rekam kamera televisi NBC walau belum disiarkan langsung. Siaran live baru dilakukan di puncak penganugerahan Grammy Award ke-13 ( 1971 ) . “Gelaran pertamanya menampilkan nominasi-nominasi yang dipilih oleh anggota-anggota (komite) dengan bantuan perusahaan-perusahaan rekaman. Terdapat 28 kategori, dimulai dari kategori rekaman, album, lagu, sampai rekaman anak-anak, penampilan klasik, dan sampul album terbaik,” demikian dilaporkan suratkabar Ocala StarBanner , 8 April 1959. Dari sejumlah seniman musik yang mendapat penghargaannya, biduan Ella Fitzgerald, Count Basie, Domenico Modugno, Ross Bagdasarian, dan Henry Mancini langsung menorehkan sejarah dengan masing-masing memenangi dua penghargaan. Dari masa ke masa, Grammy Award pun selalu menambah kategorinya.Dari 28 kategori pada hajatan pertamanya (1959), Grammy ke-63 tahun ini sudah memiliki 83 kategori. Sarat Kontroversi Dari tahun ke tahun, Grammy meninggalkan sejumlah kontroversi. Salah satunya gelaran itu masih belum “bersahabat” dengan karya-karya musisi Asia. Salah satu contohnya,pengalaman boyband Korea Selatan (K-Pop)BTS. Single mereka, “Dynamite”, masuk nominasi Best Pop Duo/Group Performance, namun dikalahkan duet Lady Gaga dan Ariana Grande dengan tembang “Rain on Me”. Jutaan BTS Army (sebutan fans fanatik BTS) pun mencak-mencak.Mereka  melantangkan sindiran “Scrammy” di beragam media sosial. Mereka tak terima “Dynamite” bisa kalahkendati merajai top chart di mana-mana, termasuk mendapat lebih dari 945 juta viewers di Youtube sejak dirilis 21 Agustus 2020. Alhasil BTS gagal mencetak sejarah sebagai musisi Asia pertama yang memenangi Grammy. “Kami yakin Army merasakan emosi yang sama, jadi kami akan kembali dengan karya yang lebih hebat, penampilan yang bagus , dan bahkan musik yang lebih baik. Jadi kami akan lebih bekerja keras tahun ini dan kami akan kembali dengan musik dan penampilan lebih bagus yang bisa kalian semua nantikan,” kata BTS, dilansir Esquire , 15 Maret 2021. Boyband K-Pop, BTS yang gagal menang meski nyaris punya satu miliar viewers  di Youtube. ( grammy.com ). Musikus Zayn Malik ikut mengkritik Grammydi akun Twitter -nya, @zaynmalik , pada 15 Maret 2021. Menurutnya, problem transparansi yang sama masih terjadi dari masa ke masa dan terjadi pada sejumlah musisi lain, tak hanya BTS. “@recordingacad melangkah hanya satu inci ke depan sementara kami butuh mereka melangkah dalam ukuran mil. Saya terus mendesak dan memperjuangkan transparansi dan inklusi. Kita harus pastikan bahwa kita dihormati dan merayakan kreativitas secara keseluruhan. Akhiri komite rahasia. Sampai semua itu dilakukan…#fuckthegrammys,” cuit Zayn. Kontroversi Grammy sejatinya sudah muncul sejak Grammy Award pertama . Kontroversi itu meliputi soal rasisme hingga transparansi dalam sistem voting oleh 12 ribu anggota untuk m enentu k an nominasi, d a n kemudian pemilihan pemenang oleh komite kecil yang disebutkan Zayn Malik sebagai “komite rahasia”. Soal diskriminasi rasialisme, disuarakan para musisi kulit hitam. Mereka menyoroti fakta bahwa sejak 1959 hingga 2017hanya ada 10 musisi kulit hitam yang memenangi Grammy Award untuk kategori album terbaik. Kasus paling kentara adalah tidak masuknya album Michael Jackson bertajuk Off the Wall (1979) dan album Prince bertajuk 1999 (1982) di nominasi kategori album terbaik. Kedua album tersebut sekadar masuk Grammy Award Hall of Fame pada 2008.Khusus album Michael Jackson, masih relevan lantaran jadi inspirasi para musisi kekinian seperti Justin Bieber, The Weeknd, hingga Beyoncé. “Album ( Off the Wall ) menahbiskan dirinya sebagai musisi dengan talenta luar biasa dan layak mendapatkan bintang paling bersinar untuk disematkan pada dirinya sendiri. Itu adalah album visioner, sebuah rekaman yang menemukan cara menembus batas (genre) disko dan membuka pintu lebar ke dunia baru di mana beat -nya tak terbantahkan lagi,” tutur kritikus Stephen Thomas Erlewine yang dikutip Jean-Pierre Hombach dalam Michael Jackson King Of Pop. Album Off the Wal l karya Michael Jackson (kiri) dan 1999  yang dirilis Prince. (Epic Records/Warner Bros). Selain rasialisme, diskriminasi terhadap musisi perempuan juga masih jadi kanker di internal The Recording Academy. Paling mencolok adalah catatan sepanjang 2013-2018, di mana dari 899 nominasi, hanya 10 persen diisi musisi perempuan. Bukannya memaparkan alasan logis, Presiden The Recording Academy Neil Portnow malah balik menyindirpara musisi perempuan. “Perempuan yang punya kreativitas, yang ingin jadi musisi, teknisi, produser dan ingin jadi bagian dalam industri (musik) di level eksekutif(mereka) harus melangkah ke depan karena saya pikir mereka akan diterima,” ujarnya, disitat Vulture , 29 Januari 2018. Portnow pun kebanjiran kritik akibat komentarnya itu hingga mengundurkan diri pada Agustus 2019. Untuk meredam kritik itu, The Recording Academy mengangkat presiden pengganti dari kalangan perempuan, Deborah Dugan. Namun, Deborah hanya bertahan selama enam bulan lantaran jelang gelaran Grammy Award ke-62,16 Januari 2020,ia dinonaktifkan dan resmi dipecat pada 2 Maret. Kasus itu terjadi tak hanya gegara Deborah melaporkan (dugaan) pelecehan seksual terhadapnya oleh seorang penasihat umum senior di The Academy Award bernama Joel Katz. Tetapi juga klaim bahwa sistem voting untuk nominasi dan pemenang pada Grammy Award ke-61 (2019) adalah hasil yang korup dan sarat kepentingan. “Sistem (voting) harus transparan dan bahwa memang ada beberapa kejadian konflik kepentingan yang menodai hasilnya. Lebih parah lagi, dewan (komite voting) mengizinkan penambahan nominasi musisi yang bahkan tak masuk dalam daftar 20 (yang diseleksi anggota) organisasi. Biasanya, para anggota dari 12 dewan dan komite rahasia memilih musisi yang punya hubungan bisnis atau pribadi dengan mereka. Tahun ini, 30 musisi yang sebelumnya tak dipilih (anggota) justru ditambahkan oleh komite ke daftar nominasi,” kataDeborah kepada Good Moring America , 23 Januari 2020.

  • Larangan Jaksa Agung Membicarakan Politik di Rumah Ibadah

    RADEN Soeprapto, Jaksa Agung pada Mahkamah Agung periode 1950–1959, diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Selama menjadi jaksa, dia dipandang memiliki integritas dan berjasa dalam memperbaiki keadilan dan hukum di Indonesia. “[Dia] Membangun institusi kejaksaan, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, memberi contoh bagi bawahan dan keluarga, bekerja melebihi tugasnya, berjuang sepanjang hayat,” kata Asvi Warman Adam, profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam seminar “Pengusulan Jaksa Agung R. Soeprapto Sebagia Pahlawan Nasional” via zoom, Rabu (17/03). Tapi sepak terjang Soeprapto pun tak luput dari kontroversi. Iip D. Yahya, penulis buku Mengadili Menteri Memeriksa Pewira, mencatat serangkaian keputusan kontroversial Soeprapto. Salah satunya terjadi ketika Soeprapto mengeluarkan Surat Edaran Jaksa Agung No. 9/Plk/04/1632, 17 Juni 1953.

  • Antimiras Zaman Kolonial

    Sejak masa kolonial, minuman keras ilegal kerap meresahkan. Sejumlah organisasi politik dan Pemerintah Hindia Belanda pun bertindak.

  • Jajanan Tiga Bapak Bangsa

    RUTINITAS sore di Jalan Gereja Theresia No.72 Jakarta pada 1950-an itu masih diingat secara jelas oleh Ilya Arslaan. Bersama sang kakek Haji Agus Salim, Ilya kerap menunggu kedatangan tukang otak-otak (penganan yang terbuat dari sejenis ikan laut) langganan mereka. Yang ditunggu biasanya baru datang sekira jam 17. “Kalau sudah datang, kakek saya biasanya memanggil semua orang di rumah terutama cucu-cucunya untuk ikut jajan otak-otak,” kenang lelaki berusia 80 tahun itu. Ilya tak paham sejak kapan Haji Agus Salim menggandrungi kudapan yang biasanya selalu dibungkus dengan daun pisang itu. Namun yang jelas tiap sore dia kerap melihat sang kakek menikmati otak-otak. Biasanya penganan itu disajikan dengan segelas jus buah dan dihidangkan kala Haji Agus Salim melakukan kegiatan rutin membaca buku. “Hebatnya saat itu kami sudah memiliki blender , seseorang mengirimkannya langsung dari Amerika Serikat. Entah siapa, saya lupa. Yang jelas kalau membeli sendiri barang itu, jelas kami tidak akan sanggup,” ujar Ilya sambil tertawa. Lain dengan Haji Agus Salim, perdana menteri Republik Indonesia (RI) pertama Sutan Sjahrir memiliki kesukaan jajan sate ayam Madura. Dari salah seorang putri-nya, sejarawan Rushdy Hoesein sempat mendapat keterangan jika Sjahrir datang ke suatu tempat maka dia selalu mengutamakan sate ayam sebagai menu makan-nya. Ketika tinggal di Jalan Jawa No.61 Jakarta (sekarang Jalan H.O.S. Cokroaminoto), bersama keluarganya, Sjahrir tak jarang mendatangi tukang sate langganannya. Tempatnya ada di ujung Jalan Jawa. “Jadi kalau mau jajan sate ke sana, Sjahrir selalu jalan kaki bersama istri dan anak-anaknya,” ungkap Rushdy.  Sama seperti Sjahrir, salah satu makanan kesukaan Sukarno adalah sate ayam. Bahkan bukan rahasia lagi jika tiap mengunjungi satu tempat, Sukarno selalu meminta untuk disertakan hidangan sate ayam ini dalam menu makanannya. Terkait jajanan kesukaan Bung Karno itu, dikonfirmasi oleh putera sulungnya Guntur Sukarnoputra. Menurut Guntur, untuk sate ayam, di Jakarta Bung Karno memiliki langganan khusus yakni sebuah restoran sate ayam Madura bernama Layar Terkembang . Letaknya berada di kawasan Cilincing, perbatasan antara Bekasi dengan Jakarta. “Bapak sering mengajak saya mampir di restoran itu…” ungkap Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku. Soal berburu sate ayam itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh Bung Karno di Jakarta saja. Saat dia tengah berkunjung ke luar kota pun, sang presiden kerap melakukan kebiasaannya itu. Priyatna Abdurrasyid (eks Jaksa Agung) masih ingat, bagaimana setiap ke Bandung, Bung Karno selalu singgah di tukang sate ayam favoritnya yang terletak di ujung Jalan Asia Afrika. “Dengan menumpang jip dan memakai kaos putih oblong, celana pendek dan sandal, Bung Karno didampingi (Brigjen) Sabur (komandan Resimen Tjakarabirawa) keluar untuk makan sate,” kenang Priyatna dalam otobiografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani (disusun oleh Ramadhan K.H.) Uniknya, Bung Karno sama sekali tak memegang uang untuk membeli makanan kesukaannya itu. Sebelum pergi, kata Priyatna, selalu dia akan menemui terlebih dahulu Mayor Jenderal Ibrahim Adjie (Panglima Kodam Siliwangi saat itu) di Pakuan. Begitu bertemu perwira tinggi yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu, Bung Karno tanpa ragu-ragu akan meminta uang. “Djie coba beri aku uang seribu rupiah! Aku mau makan sate nih…” Tanpa banyak bicara, Adjie pun akan merogoh saku celananya dan langsung memberikan uang ribuan kepada Bung Karno. Jauh sebelumnya, Bung Karno memang sudah menggandrungi sejenis daging ayam bakar tersebut. Bahkan ketika  usai pengangkatannya sebagai presiden pertama RI pada 18 Agustus 1945, dia “merayakannya” dengan jajan 50 tusuk sate ayam di pinggiran jalan Jakarta. “Aku jongkok di sana dekat selokan dan kotoran. Kumakan sateku dengan lahap dan inilah seluruh pesta atas pengangkatanku sebagai kepala negara,” ungkap Sukarno seperti dikisahkannya kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia.

bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bottom of page