Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Gotti, Mafia Flamboyan yang Dicinta dan Dibenci
JOHN Gotti Junior (diperankan Spencer Lofranco) mulai gelisah di sebuah ruang tunggu Penjara Federal Springfield, Missouri pada suatu hari tahun 1999. Sebuah kamera DLSR di balik cermin kamuflase sudah siap merekam semua yang ada di ruangan itu. Sosok yang ditunggu Junior akhirnya tiba. Dikawal tiga sipir, John Gotti (John Travolta) datang dengan tangan dan kaki dibelenggu. Wajahnya sudah semarak oleh kerutan. Kepalanya sudah tak lagi bermahkota rambut. Suaranya pun mulai parau akibat kanker tenggorokan. Tetapi kharisma dan wibawa Gotti tak pernah luntur. Pada pertemuan itu, Junior mengungkapkan kepada sang ayah bahwa dia ingin mengajukan pernyataan dirinya bersalah atas sejumlah dakwaan pemerintah federal terhadapnya. Selama ini Junior terlibat atas semua dakwaan yang berhubungan dengan aktivitas dunia hitam keluarga mafia Gambino yang pernah dipimpin ayahnya. Baca juga: Lantai Dansa John Travolta Adegan John Gotti di masa senjakalanya dalam hukuman bui seumur hidup. (Vertical Entertainment). Gotti mengerti bahwa putra sulungnya itu punya niat untuk melindungi keluarganya. Namun, Gotti berusaha membulatkan hati Junior untuk tidak menundukkan kepala meski hukuman bui belasan tahun mengancamnya. Gotti ingin Junior belajar tentang kekuatan karakter seseorang, sebagaimana Gotti yang selalu berusaha menegakkan kepala, kendati sudah dibui dengan hukuman seumur hidup. Adegan mengenai hari-hari terakhir Gotti menjelang ajalnya itu jadi pilihan sineas Kevin Connolly untuk membuka biopik tokoh kriminal bertajuk Gotti . Connolly ingin memperlihatkan sosok gembong mafia ternama itu tetap bertahan dengan prinsipnya meski “dunianya” sudah lama tenggelam. Prinsip itu selama ini berperan besar membuat Gotti bisa menjadi “Godfather”. Baca juga: Melihat Lebih Dekat Dunia Mafia Lewat The Godfather Alur cerita lalu mundur ke tiga dekade sebelumya. Gotti mulai mendaki tangga “kariernya” di organisasi mafia Gambino sejak 1972. Dia mulai jadi soldato (tukang pukul) yang dimentori underboss Aniello ‘Neil’ Dellacroce (Stacy Keach). Sejak saat itu hingga di era 1980-an, perlahan tapi pasti Gotti naik kelas dari soldato hingga menjadi caporegime. Selama itu juga Gotti kerap ditangkap, diadili, hingga keluar-masuk penjara. Meski di dalam organisasi selalu jadi sosok yang dingin dan brutal, di luar organisasi Gotti justru jadi sosok yang dicinta. Tidak hanya oleh sang istri Victoria (Kelly Preston) dan anak-anaknya, namun juga warga proletar di area yang dikuasainya. Adegan John Gotti saat bersama mentornya, Aniello 'Neil' Dellacroce. (Vertical Entertainment). Kecintaan mereka muncul karena besarnya perhatian Gotti. Ketika sebuah sasana tinju disegel pemerintah karena tak punya uang untuk bayar pajak, Gotti bersedia menanggungnya demi anak-anak muda di lingkungannya jauh dari dunia hitam. Lalu ketika beberapa lansia miskin tak punya biaya untuk ke rumahsakit, Gotti dengan tulus menanggung biaya perawatan mereka. Namun memasuki 1985, gonjang-ganjing terjadi di dalam tubuh Gambino. Sang boss , Paul Castellano, juga mulai dibenci Gotti karena dianggap sosok pemimpin lemah di antara lima keluarga mafia New York. Yang paling bikin Gotti murka adalah, Castellano ingin merombak internal organisasi, termasuk kelompok yang selama ini dipegang Gotti. Baca juga: The Godfather: Part II dan Seluk-Beluk Organisasi Mafia Bersama rekan terdekatnya, Angelo Ruggiero (Pruitt Taylor Vince), Gotti merencanakan penyingkiran Castellano. Neil yang selama ini jadi mentor Gotti, paham keadaannya dan mendukung. Dia bahkan memberitahu apa tindakan selanjutnya jika Gotti ingin mematangkan rencana membunuh Castellano dan siapa saja orang yang harus didekati. Di antaranya adalah mendekati beberapa capo di organisasi mafia Gambino lain, seperti Frank DeCicco (Chris Mulkey) dan Sammy ‘Bull’ Gravano (William DeMeo), serta melakukan pendekatan kepada lima keluarga mafia di Staten Island, Bronx, Brooklyn, Queens, dan Manhattan. Namun, Neil tak bisa membiarkan Gotti membunuh Castellano selama Neil masih hidup. Sebab, pembunuhan sesama satu organisasi merupakan aib bagi dunia mafia. Gotti pun terpaksa menuruti dan menunggu hingga tiba hari kematian Neil karena usia tuanya. Gotti kian bertekad membantai Castellano setelah tahu sang bos tertinggi itu tak hadir di prosesi pemakaman Neil. Maka, Castellano pun dibunuh oleh orang-orang suruhan Gotti di depan restoran Sparks Steak House di Manhattan, beberapa hari sebelum perayaan Natal 1985. John Gotti Junior (kanan) yang mengikuti jejak ayahnya masuk "Cosa Nostra". (Vertical Entertainment). Gotti kemudian merayakan tahun baru 1986 sebagai pemimpin Gambino. Tak seperti bos mafia lain, Gotti nan flamboyan justru menikmati sorotan publik. Berbagai media cetak menjulukinya “The Real Godfather”, “The Dapper Don”, atau “The Teflon Don” karena selalu lolos dari jerat hukum berkat pengacara handal. Ia pun mengajak serta Junior yang baru lulus Akademi Militer New York untuk “dibaptis” sebagai soldato. Sayangnya tak ada yang abadi. Masa kejayaan Gotti yang bergelimang harta dan popularitas itu perlahan tenggelam. Penyebabnya, rekan terdekatnya, Ruggiero, keceplosan bicara banyak tentang aktivitas mafia dan terekam alat penyadap FBI. Gotti pun kembali berurusan dengan hukum. Lebih runyam ketika beberapa mantan anak buahnya “bernyanyi” di muka sidang. Bagaimana Gotti mencoba menghindari jeratan hukum itu dan apa yang membuat Gotti bertahan dengan prinsipnya dan enggan tunduk meski masa depan pahit sudah siap menyambutnya? Baiknya Anda saksikan sendiri Gotti di aplikasi daring Mola TV. Sisi Lain Gotti Gotti dikemas dengan tone film yang cukup apik sepanjang tiga dekade riwayat bos mafia flamboyan itu. Editor Jim Flynn bahkan menyelipkan beberapa footage pemberitaan televisi terhadap sosok Gotti di era 1980-an dan 1990-an, termasuk video pemakaman sang “Godfather” usai menghembuskan nafas terakhirnya pada 10 Juni 2002. Biopik ini kian “gurih” karena diiringi music scoring yang berwarna. Mulai dari ritme retro untuk mengiringi adegan-adegan Junior dan Gotti di era 1980-an hingga efek scoring yang membangun nuansa ketegangan kala mengiringi adegan-adegan sadis. Hanya saja, Gotti justru gagal meledak di pasaran. Sejumlah kritik, salah satunya dari kritikus Jordan Mintzer, menyasar pada penulisan alur cerita. “Filmnyanya ditulis dengan buruk, minim scene menegangkan dan sisanya sangat biasa saja. Cerita tentang ayah dan anak sama sekali tak berhasil. Gotti terlalu lama menghabiskan waktu menggambarkan emosi setelah kematian Frank (anak ketiga Gotti). Inti cerita tentang karakter utamanya justru kurang berkesan,” tulis Mintzer di kolom The Hollywood Reporter , 15 Mei 2018. Baca juga: The Godfather: Part III dan Skandal Vatikan Connolly sang sutradara beralasan bahwa ia memang sengaja mengemasnya cenderung kepada cerita drama, bukan action kriminal. Ia ingin penonton bisa melihat sisi lain Gotti yang selama ini dikenal publik hanya dari luar via pemberitaan televisi maupun media cetak. Meski tangan Gotti “berlumuran darah” oleh aktivitas pemerasan dan pembunuhan, toh di mata masyarakat kelas menengah-bawah ia justru dianggap pahlawan. “Ibu dan ayah saya berasal dari kelas pekerja. Ayah saya seorang sopir truk, namun ironisnya selalu ada sesuatu tentang Gotti yang membuatnya terkesan. Gotti seperti tokoh anti-kemapanan yang dipuja masyarakat kelas pekerja. Saya ingat ayah saya senang terhadap sosoknya dengan mengatakan, ‘Lihatlah orang ini, ia mengacungkan hidungnya terhadap pemerintah.’ Jadi, ya, dia semacam pahlawan lokal bagi kelas pekerja,” ujar Connolly, dikutip Men’s Journal . Aktor utama John Joseph Travolta (kiri) & sosok asli John Joseph Gotti Gotti (Vertical Entertainment/Majalah New York , 19 Februari 1990). Di bagian penutup film, Connolly pun menggambarkan Gotti lewat footage komentar beberapa warga tentang Gotti usai ribuan orang meratapi konvoi kereta jenazahnya di pinggir jalan. “Lingkungan tempat tinggal kami selalu lebih aman ketika Gotti masih berkuasa. Ketika dia dipenjara, tingkat kriminalitas naik drastis karena jalanan mulai dikuasai berandal jalanan,” tutur seorang responden. Baca juga: Robert De Niro Bicara tentang The Godfather: Part II Sama seperti Connolly, Travolta yang memerankan Gotti awalnya juga heran mengapa seorang bos mafia justru disanjung masyarakat kelas menengah dan golongan bawah. Padahal saat sedang disorot publik dan media, Gotti senantiasa tampil perlente dengan jas dan mantelnya yang –atas izin keluarga mendiang Gotti juga dipakai Travolta selama syuting– elegan bak kaum elite. “Mulanya saya tak mengerti karakter Gotti, kenapa dia sangat dicintai dan populer? Jadi saya meriset sendiri dan menemukan bahwa yang dilakukannya: Bisnis ilegal apapun yang dilakoninya, dia akan mengelolanya menjadi dana subsidi (untuk masyarakat) dan mengembalikannya menjadi legal. Jadi dia menjadi sekutu dan nyaris seperti sebuah asuransi keamanan,” ungkap Travolta kepada Phoenix New Times , 15 Juni 2018. Seperti Al Capone, John Gotti gemar jadi media darling. (Mingguan People , 27 Maret 1989/ The New York Daily News , 11 Juni 2002). Seperti yang digambarkan dalam film, Gotti perhatian kepada lingkungan tempat tinggalnya dan lingkungan tempatnya berkuasa sejak masih jadi capo hingga menjadi bos besar. Gotti kerap berderma pada masyarakat kelas bawah. “Dia orang yang murah hati di lingkungannya. Jika dia melihat beberapa petinju potensial tetapi sasananya ditutup, dia akan membuka kembali sasana itu untuk mereka. Bila sebuah keluarga kesulitan biaya medis, dia akan menanggung tagihan rumahsakitnya. Jadi dia orang yang perhatian. Karena saya tak ingat Al Capone, (John) Dillinger, atau bahkan Whitey (Bulger) dicintai banyak orang. Jadi karena itulah Gotti dicintai dan menjadi sangat berkuasa,” sambungnya. Baca juga: Francis Ford Coppola dan Trilogi The Godfather Menurut Jeffrey Sussman dalam Big Apple Gangsters: The Rise and Decline of the Mob in New York , popularitas dan kecintaan kelas menengah dan bawah terhadap Gotti merupakan pelampiasan ketidakpuasan mereka terhadap banyak kebijakan pemerintah di era 1980-an yang tidak pro-rakyat. Gotti pun diusung sebagai sosok idola anti-kemapanan, terlepas ia acap nongol di media-media dengan jas mewah seharga dua ribu dolar dan sepatu impor Italia yang banderolnya tak pernah kurang dari 400 dolar. “Sejak eranya Al Capone, tak pernah ada lagi gangster yang jadi media darling karena semuanya memilih low-profile. Dan John Gotti dan media punya hubungan simbiosis mutualisme dalam hal itu. Dia selalu tampil necis, selalu menegur publik dengan ramah. Saat pejalan kaki menyapa, ‘Hai, John,’ dia akan merespon dengan lambaian tangan dan senyum lebar. Saat makan di restoran pun dia bersedia meladeni permintaan tandatangan fansnya,” tulis Sussman. Kolase iring-iringan jenazah John Gotti yang wafat di usia 61 tahun yang turut diselipkan dalam film Gotti. (Vertical Entertainment). Gotti juga selalu menghadapi persidangan dengan kepala tegak. Termasuk ketika dimejahijaukan atas kasus pemerasan dan lima pembunuhan dalam kurun Desember 1990-April 1992. Dalam persidangan itu Gotti tak bisa berkelit lagi karena beberapa eks-anak buahnya berkhianat dengan memberi kesaksian berlawanan. Selain didenda 250 ribu dolar, Gotti pun divonis hukuman penjara seumur hidup. Vonis itu membuat ratusan fans Gotti mengamuk di luar gedung pengadilan New York. “Ratusan fans Gotti yang berkumpul di luar gedung pengadilan terhenyak. Mereka merusuh, membalikkan sejumlah mobil, tawuran dengan polisi, dan melantangkan teriakan dukungan kepada Gotti untuk menuntut pembebasannya. Aparat Kepolisian New York sampai harus menurunkan personel dari seluruh polresnya untuk meredam kerusuhan,” tambah Sussman. Setelah Gotti wafat, jenazahnya tak hanya diiringi rombongan keluarga dan kerabat, namun juga para fans-nya. Justru tak satupun perwakilan organisasi mafia yang ikut mengantar Gotti ke peristirahatan terakhirnya. “Gotti dikuburkan di St. John’s Cemetery. Sekitar 20 mobil limo ikut iring-iringan jenazahnya, ditambah ratusan mobil penggemarnya bak sedang mengantar seorang bintang film atau pahlawan penakluk. Ketiadaan utusan keluarga mafia lain diinterpretasikan sebagai penghinaan kepada figur yang berani menantang aparat hukum pemerintah. Iring-iringan itu tak hanya jadi salah satu konvoi paling berwarna dalam sejarah gangster di New York, namun juga menandai permulaan tenggelamnya organisasi mafia Gambino,” tandas Sussman. Data Film: Judul: Gotti | Sutradara: Kevin Connolly | Produser: Randall Emmett, George Furla, Michael Froch, Marc Fiore | Pemain: John Travolta, Spencer Lofranco, Kelly Preston, Stacy Keach, Pruitt Taylor Vince, Willam DeMeo, Chris Mulkey | Produksi: Highland Film Group, EFO Films, Fiore Films | Distributor: Vertical Entertainment | Genre: Biopik Kriminal | Durasi: 110 menit | Rilis: 15 Mei 2018, Mola TV Baca juga: Diego Maradona dalam Pangkuan Mafia
- Penerbangan Gelap Nan Mengerikan dr. Soeharto
DOKTER R. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta, senang bukan kepalang. Perjalanan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa baru saja diselesaikannya. Perjalanan itu ialah menyertai Bung Karno, Bung Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat menghadap Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi Jepang di Asia Tenggara, di Dalat, Vietnam.
- Kisah Perseteruan Ajengan Yusuf Tauziri vs Kartosoewirjo (1)
GARUT, 17 April 1952. Kengerian membekap Pesantren Darussalam Cipari malam itu. Ribuan bayangan berkelebat, seolah hantu-hantu pencabut nyawa yang tengah memburu mangsanya. Di tengah suara tembakan gencar yang membahana, terdengar jerit ketakutan para perempuan dan anak-anak. “Saya ingat sekitar 3 batalyon gorombolan DI (Darul Islam) menyerang pesantren kami selepas jam 7 malam. Di bawah pimpinan langsung Mama Ajengan Yusuf (Tauziri) kami melawan mereka sebisanya” kenang Syarif Hidayat, saksi hidup peristiwa tersebut. Penyerangan sekitar 3000 gerilyawan DI tersebut merupakan puncak perseteruan politik antara pimpinan Pesantren Darussalam Cipari Ajengan Yusuf Tauziri dengan imam DI Sekar Maridjan Kartosoewirjo. Menurut Syarif Hidayat, sejak tahun 1949—1958 sudah sekitar 50 kali pesantren yang terletak di kawasan Wanaraja itu diserang para pengikut Kartosoewirjo.
- Kisah Romansa Masa Lalu
KISAH romansa yang muncul pada suatu zaman bisa menunjukkan situasi sosial politik yang sedang berlangsung. Romansa adalah bagian dari situasi politik yang berdampak pada kisah percintaan. “Kita bisa lihat bagaimana romansa merupakan cerminan konstruksi politik, maskulinitas, feminisme juga,” kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam diskusi “Romansa dalam Peradaban Nusantara” yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di kanal Youtube , Kamis (18/02/2021). Seno mengambil contoh cerita Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karangan Marah Rusli. Novelnya dirilis pada 1922 dan sangat populer. Kisahnya menunjukkan bagaimana ide perjodohan oleh orangtua ditolak. “Kamu tidak boleh menikah dengan siapapun pilihanmu, kecuali pilihan kami. Ini antara hormat pada orangtua dan kebebasan manusia, menjadi dilema. Ini menarik dalam proses modernisasi,” kata Seno. Pada masa Orde Baru ada dua tonggak dari karya sastra populer. Pertama, novel Karmila karya Marga T . Kisahnya tentang seorang perempuan yang diperkosa kemudian menikah dengan pemerkosanya. Dia bersedia dengan pertimbangan etis, bahwa ini adalah anak orang itu. “Konflik batin luar biasa,” kata Seno. Kedua , trilogi karya Ashadi Siregar berjudul Cintaku di Kampus Biru , Kugapai Cintamu , dan Terminal Cinta Terakhir . “Ashadi dengan sadar, dalam setiap diskusi selalu mengatakan, ini menyimbolkan orangtua merupakan gambaran kekuasaan,” ujar Seno. “Ingin menyadarkan orang akan adanya kekuasaan yang bisa berlangsung keliru atas nama adat.” Pada masa Reformasi, kata Seno, seolah terjadi pembebasan dengan karya-karya dari Ayu Utami dan Djenar Mahaesa Ayu. Misalnya soal seksualitas tak hanya merupakan ungkapan cinta, tapi juga penindasan dan penyiksaan. Tanda-tanda itu juga bisa ditangkap dari karya-karya kesusastraan pada masa Jawa Kuno. Misalnya pada kisah Ramayana dan Panji. Ramayana dan Kritik Terhadap Kuasa Lelaki Seno mengadaptasi cerita Ramayana dalam karya Kitab Omong Kosong. Ia menandai tiga momen kunci dalam kisah romansa itu. Ketiganya mewakili kritik terhadap pola kekuasaan. Momen pertama ketika Hanoman, sang kera putih, diutus Rama ke Alengka menemui Sita yang diculik Rahwana. Ia menemui Sita dengan membawa cincin Rama sebagai bukti sekaligus untuk menguji kesetiaan Sita. “Kalau cincinya pas ketika dipakai Sita artinya masih setia. Jadi kalau nggak setia nggak cinta lagi gitu? Ini namanya cinta bersyarat dan juga menunjukkan kepentingan lelaki,” ujar Seno. Momen kedua setelah Rama memenangkan peperangannya melawan Rahwana. Sita masih harus membuktikan lagi kesuciannya di hadapan Rama. Caranya dengan membakar diri. “Kalau mati bagaimana? Hanya demi cintanya Rama itu?” ujar Seno. Momen ketiga rupanya Rama masih kurang puas dengan kenyataan itu. Rama terus ragu dengan kesucian Sita. Maka, ketika Sita melahirkan putra kembarnya, Lawa dan Kusya, Rama mempertanyakan asal-usul keduanya. “Saya kira Valmiki [pencipta Ramayana] luar biasa, jauh-jauh hari, berabad lalu menunjukkan kritik terhadap kuasa laki-laki dan dia memenangkan perempuan,” ujar Seno. Kisah itu berakhir dengan pembuktian Sita yang paripurna. Sita bersumpah kepada Rama, jika ia tak suci, sebagaimana diduga Rama, maka bumi pun takkan sudi menerimanya. Bumi pun terbelah. Sita pun ditelan, diterima oleh bumi. Panji dan Keberagaman Seksual Sementara itu, keterbukaan pada pluralitas seksual terbaca dalam kisah Panji. Mulanya dari cerita lisan, paling tidak sejak 1400 M. Secara garis besar, kisahnya merupakan kumpulan cerita tentang kepahlawan Raden Inu Kertapati dan kisah cintanya dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Cerita Panji punya banyak versi yang menyebar luas di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara dan telah dikisahkan ke dalam 13 bahasa. Bentuknya pun beragam. Ada wayang, teater, tarian, lukisan, sastra lisan, tulis, variasi bahasa, bahan, dan variasi ceritanya. Hikayat cinta Inu Kertapati dengan Galuh Candra Kirana yang paling terkenal. Mereka diceritakan sempat berpisah dan harus mengatasi banyak rintangan luar biasa hingga akhirnya bersatu kembali. “Pada waktu pengelanaannya itu yang kemudian banyak berkembang versinya,” ujar Titi Surti Nastiti, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Di dalam pengelanaannya, Panji dan Candra Kirana kerap kali menyamar. Candra Kirana bahkan dikisahkan menyamar sebagai laki-laki. “Ini adegan rawan. Dia tertarik pada Candra Kirana ketika masih berwujud lelaki tanpa tahu ini samarannya,” ujar Seno. “Ini kode tentang pluralitas seksual.” Karenanya, menurut Seno, semua yang kini bisa ditemukan di dalam karya sastra kontemporer, nyatanya sudah ditemukan di dalam sastra lisan Nusantara. “Tema ketersamaran gender ini kembali dan menyeruak,” kata Seno. Panji dan Rama dalam Relief Candi Pada masa Jawa Kuno, kisah Ramayana dan Panji terpahat dalam bentuk relief di candi-candi utama Jawa. Relief kisah Rama dan Sita bisa ditemukan di Candi Siwa dan Brahma di Kompleks Candi Prambanan dari abad ke-9 dan relief candi utama di Kompleks Candi Panataran, Blitar dari masa Majapahit. Sementara cerita Panji muncul pada banyak candi dari era Majapahit akhir, misalnya Candi Gambyok, Candi Panataran, Candi Gajah Mungkur, Candi Yuddha, dan Candi Sakelir. Kisah Ramayana pada Candi Siwa di Kompleks Candi Prambanan dimulai dari adegan Rama mengikuti sayembara untuk mendapatkan Sita. “Adegan percintaan dalam relief-relief candi dari abad ke-8 hingga ke-10 masih sangat sopan, hanya duduk berdua di kamar. Tapi pada masa yang lebih kemudian adegannya lebih berani, mangku memangku,” kata Titi. Menurut peneliti kisah Panji dari Jerman, Lydia Kieven dalam Menelusuri Figur Bertopi pada Relief Candi Zaman Majapahit , kenikmatan erotis yang beragam diungkapkan dalam cerita Panji. Pertemuan seksual sering digambarkan dengan cara yang sangat romantis dan realistis. “Pelukisan adegan atau perilaku erotis, emosi, hasrat, keinginan dan kerinduan, cinta seksual, semuanya dimaksudkan agar menimbulkan efek rasa asmara pada penonton,” kata Lydia. “Penonton akan diharu-biru emosi erotis.”*
- Ketika Rosihan Anwar Ikut Sidang Kabinet RI
YOGYAKARTA, Februari 1947. Sebuah mobil memasuki halaman kepresidenan. Di depan ruang tunggu pada sayap kiri gedung kediaman Presiden mobil berhenti. Menteri Sosial Maria Ulfah Santoso keluar, mengapit tas, naik ke beranda, lalu menghilang ke belakang. Wakilnya Mr. Abdulmajid Djojodiningrat mengikuti dari belakang. Langkahnya santai saja. Tidak lama, decit ban mobil kembali menggeser pasir dan kerikil istana. Muncul Syafruddin Prawiranegara, Menteri Keuangan. Di belakangnya sang wakil Lukman Hakim terlihat berlari kecil. Mobil berikutnya tiba. Kini muncul Menteri Pekerjaan Umum Martinus Putuhena, bersama Menteri Muda Pekerjaan Umum Herling Laoh. Keduanya melempar senyum lebar ke arah wartawan Siasat Rosihan Anwar. “Demikianlah mereka datang. Dua-dua, terkadang sendirian menyelinap dari samping seperti Menteri Negara Wikana atau melenggang besar-besar dari muka seperti Menteri Kesehatan Darmasetiawan. Demikian para menteri dalam berbagai gaya serta ragamnya datang berkumpul di Kepresidenan untuk bersidang jam 10 pagi sebagaimana tercantum dalam acara rapat,” kata Rosihan dalam bukunya, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 7.
- Membuka Mata dan Hati Setelah Multatuli Pergi
HARI ini, 19 Februari 2021, tepat 134 tahun wafatnya Eduard Douwes Dekker atau kondang dikenal dengan nama penanya, Multatuli. Novelnya yang terbit pada 1860, Max Havelaar , ramai diperdebatkan dan digunjingkan secara teknis maupun substantif. Ironisnya rakyat Lebak yang jadi objek cerita novelnya justru minim perhatian. Kekosongan itulah yang coba ditutup oleh film dokumenter Setelah Multatuli Pergi (2020). Film tersebut berangkat dari impian seorang Belanda bernama Arjan Onderdenwinjgaard, wartawan lepas Katholieke Radio Omroep yang pada 1980-an ke Indonesia dan blusukan ke Kabupaten Lebak. Beberapa hasil footage yang diambilnya kala itu turut dijadikan “bahan jahitan” dalam Setelah Multatuli Pergi yang penggarapannya dibantu oleh sineas Yogi D. Sumule. Film berdurasi 90 menit itu diputar perdana di pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten, secara terbatas pada 7 Maret 2020. Namun mulai hari ini, Jumat (19/2/2021), film itu bisa disaksikan khalayak lebih luas lewat penayangan secara daring oleh Erasmus Huis Jakarta. “Kebetulan banyak hal yang kami temui di tahun 1987 masih sangat mirip dengan zamannya Multatuli. Semisal tentang perjalanan kami yang terjebak di lumpur untuk menuju Desa Badur (desa latarbelakang kisah Saidjah dan Adinda di Max Havelaar , red. ). Seratus tahun lebih setelah Multatuli jalan di sana masih sama,” ujar Arjan dalam dialog sejarah bertajuk “Cerita di Balik Film Setelah Multatuli Pergi ” di Youtube dan FacebookHistoria . id , Jumat (19/2/2021). Baca juga: Yang Lestari Setelah Multatuli Pergi Arjan Onderdenwinjgaard, produser Setelah Multatuli Pergi (Dok. Arjan Odw). Kondisi desa yang masih relatif sama kendati waktu telah bergeser seabad itulah yang menjadi kegelisahan Arjan. Ia tak peduli banyaknya perdebatan yang mengitari Max Havelaar , fiktif atau fakta, atau cap terhadap Multatuli apakah dia whistleblower atau sekadar eks-pejabat kolonial yang “julid” terhadap negerinya. Inti keresahannya adalah, tiada satu pun forum-forum semacam itu yang memperhatian rakyat Lebak itu sendiri. “Selama 160 tahun Max Havelaar diteliti setiap koma dan titik, di mana itu didiskusikan. Tapi tidak ada yang tanya bagaimana dengan rakyat Lebak? Itu aneh. Karena tanpa rakyat Lebak, tidak akan ada Multatuli dan tidak akan ada Max Havelaar, ” kata Arjan . Padahal, lanjut Arjan, Max Havelaar ibarat jendela bagi orang-orang di Belanda untuk memahami tentang arti kolonialisme itu sendiri. Bagaimana Multatuli menggambarkan kolonialisme dari tiga sisi yang mana, warga bumiputera bergulat dengan kehidupannya yang pahit di antara himpitan kolonialisme Belanda dan feodalisme lokal. Hal itu masih terjadi hingga hari ini, mengingat infrastrukturnya masih “11-12” seperti di abad ke-19 dan pemerintahan lokalnya masih dikuasai kaum elite. Baca juga: 200 Tahun Multatuli, Penyadar Rakyat Indonesia Hal itu pula yang membuat Yogi tertarik membantu Arjan dan sejarawan cum Pemimpin Redaksi Historia.id Bonnie Triyana menggarap film tersebut pada 2019. Yogi mengenal Multatuli lewat “perantara” Pramoedya Ananta Toer. Pram merupakan sastrawan yang “menghidupkan” kembali sosok Multatuli lewat karyanya yang ia terbitkan pertamakali dalam bahasa Inggris pada 1999, Best Story: The Book That Killed Colonialism (terj. Max Havelaar: Buku yang Membunuh Kolonialisme ). “Saya masih berpendapat bahwa Multatuli besar jasanya kepada bangsa Indonesia, karena dialah yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka dijajah. Sebelumnya di bawah pengaruh Jawanisme, kebanyakan orang Indonesia bahkan tidak merasa bahwa mereka dijajah,” kata Pram mengenang usulannya mendirikan patung Multatuli yang ditolak Presiden Sukarno yang dituangkan dalam Saya Terbakar Amarah Sendirian . Sutradara dan produser film Setelah Multatuli Pergi, Yogi D. Sumule. (Dok. Historia.id ). Baca juga: 150 Tahun Max Havelaar Menurut Yogi, ada dua faktor yang membuatnya tertarik menyutradarai Setelah Multatuli Pergi . “Pertama alasannya dari Arjan, soal pertanyaan apa sih yang terjadi dengan warga Lebak pasca-kepergian Multatuli? Lalu dari Bonnie, tentang warga Lebak sepertinya sampai hari ini pun tak bisa berharap banyak dari siapa-siapa, hingga akhirnya mereka kembali ke Tuhan,” kata Yogi. Setelah Multatuli Pergi tak hanya menampilkan paparan historis. Pesan yang jauh lebih penting di dalamnya adalah kritiknya. Kritik untuk elite pemerintahan bertujuan agar mereka mau lebih perhatian kepada warga di pelosok Lebak, seperti Desa Badur, misalnya. Lalu, kritik selanjutnya ditujukan untuk masyarakat awam Indonesia dewasa ini, bahwa ada masyarakat sesama warga Indonesia yang berdiam tak jauh dari ibukota, justru punya kehidupan jauh berbeda. “Kita selama ini terlalu asyik dengan yang di luar jauh dari Jakarta. Kita enggak pernah lihat yang tinggalnya 40 menit dari Jakarta, kalau naik kereta ( commuter line ). Bahwa ada lho tetangga kita yang menarik untuk dilihat dari sisi itu. Saya begitu duduk ngobrol langsung dengan mereka, ya ampun! Begini banget ya hidup orang-orang Lebak. Ini juga sindiran kepada kita, kok yang bikin orang Belanda lagi. Harusnya lebih banyak orang Indonesia daripada dianggap enggak peduli sama sejarah dirinya sendiri,” imbuhnya. Agar Pemikiran Multatuli Lestari Setelah Multatuli Pergi secara tak langsung mengajak penontonnya untuk mau membaca ulang Max Havelaar. Tujuannya untuk mengetahui, memahami, lalu menghidupkan dan melestarikan pemikiran Multatuli. Kendati dikemas dalam fiksi, ia juga mengandung realitas yang bahkan masih terasa sampai hari ini. Novelis Ayu Utami melihat bahwa film tersebut seakan menegaskan bahwa Max Havelaar sebagai karya sastra berasal dari kumpulan cerita faktual yang dibungkus fiksi dan menjadi buah dari sebuah strategi. Strategi untuk memicu perubahan dengan gaya sastra demi bisa diterima semua kalangan, terutama di Belanda. “Saya jadi ingat zaman Orde Baru. Saat itu ada slogan ‘Ketika pers dibungkam, sastra harus bicara.’ Maka untuk menuliskan sejarah, caranya melalui karya sastra yang bertopeng fiksi agar lebih aman. Kalau buku sejarah kan punya syarat-syarat tersendiri, harus faktual, ada verifikasi dan sebagainya, prosesnya jadi lebih panjang. Sementara esensi pengalaman manusia itu berupa emosi yang subyektif enggak bisa diceritakan. Di situlah orang-orang menempuh jalan sastra atau novel, meski novel belum tentu sepenuhnya fiksi,” Ayu menimpali. Baca juga: Jalan Multatuli Menuju Lebak Novelis Justina Ayu Utami. (Dok. Historia.id ). Penulis roman Saman (1998) dan Bilangan Fu (2008) itu juga melihat MaxHavelaar semacam otobiografi Multatuli yang difiksikan. Isinya berdasarkan pengalaman Multatuli selama jadi pejabat pemerintahan kolonial di Mandailing Natal, Manado, Ambon, hingga Lebak. “Jadi pengalaman nyatanya Eduard Douwes Dekker kemudian diolah menjadi kuasi fiksi. Tetapi fiksi itu mampu mengadakan perubahan juga dalam kenyataan. Karena saya melihat Max Havelaar merupakan suatu strategi, suatu kenyataan yang abu-abu dari pengalaman dia sebagai asisten residen. Makanya kini kita sendiri juga harus hati-hati karena sejarah enggak semuanya faktual dan sebuah novel juga belum sepenuhnya fiksi,” tambahnya. Baca juga: Van Halen, Van Banten Ayu insyaf selama ini nama Multatuli kurang familiar dalam sastra di Indonesia. Penyebabnya antara lain, anggapan bahwa Multatuli adalah seorang yang tak patut dihargai dan dipuja karena dia orang Belanda yang berkarier di pemerintahan kolonial. Oleh karena itu Ayu ingin menyadarkan generasi muda Indonesia untuk membuang pikiran itu jauh-jauh karena pemikiran Multatuli terkait kemanusiaan dan anti-kolonialisme justru patut dilestarikan. “Kebetulan saya ada proyek, namanya Peta Sastra. Mengajarkan orang awam dan anak-anak sekolah untuk bisa memahami sastra sebagai sejarah pemikiran, terutama mengenai kebangsaan. Saya memulainya dengan Multatuli dan Kartini. Kita bisa menggabungkan dua disiplin ini (sejarah dan sastra) untuk melihat bagaimana formasi bangsa ini dari pemikirannya dan buat saya, Multatuli harus bisa dibaca dalam pelajaran sastra dan pelajaran sejarah,” lanjut Ayu. Ubaidillah Muchtar, Kepala Museum Multatuli di Lebak, Banten. (Dok. Historia.id ). Upaya itu berparalel dengan yang dilakukan Museum Multatuli di Rangkasbitung sejak berdirinya pada 2018. Museum itu sendiri awalnya dikitari kontroversi penolakan berbagai pihak di Lebak karena dianggap mengkultuskan orang asing. Perlahan, museum itu bisa diterima lebih luas tidak hanya sebagai ruang publik yang bisa dinikmati siapapun, namun juga wahana edukasi yang tak melulu tentang Multatuli. Beragam aspek kehidupan terkait sejarah Lebak seperti kisah tokoh Nyimas Gamparan, Pemberontakan Petani Banten pada 1888, atau tokoh-tokoh kondang yang punya kaitan dengan Banten, semisal dewa gitar Eddie van Halen yang ibunya berasal dari Rangkasbitung ikut dipamerkan museum itu. “Terlepas dari awalnya ada penolakan, bagaimanapun juga kita harus hadir karena museum ini tidak melulu mengkultuskan Multatuli tetapi juga bagaimana (menyampaikan) ide-idenya tentang kemanusiaan, kesetaraan, dan antikolonialisme,” terang Kepala Museum Multatuli Ubaidillah Muchtar. Baca juga: Museum Multatuli, dari Rangkasbitung untuk Dunia Museum Multatuli jadi wahana edukasi yang kemudian menutup celah nihilnya pengetahuan tentang sosok Eduard Douwes Dekker di ruang kelas maupun buku pelajaran. Ubay tahu betul bahwa Multatuli tak pernah diajarkan di ranah pendidikan formal, berangkat dari pengalaman Ubay sebelumnya sebagai guru di sebuah SMP di Rangkasbitung. “Sampai hari ini pun Multatuli belum jadi bacaan wajib di sekolah. Itu jadi PR kita (Museum Multatuli) di Rangkasbitung, di mana anak-anak bisa banyak belajar tidak hanya tentang Multatuli, namun juga tentang masuknya dan prosesnya kolonialisme di Nusantara, bagaimana perjuangan orang-orang Banten yang heroik, di mana dimulai dengan kalimat Multatuli bahwa banyak orang Banten mengibarkan bendera pemberontakan terhadap Belanda,” tutupnya.
- Jasa Shibata untuk Indonesia
DALAM sebuah kesempatan ketika berkunjung ke Jepang tahun 1950, Dokter R. Soeharto menyempatkan diri ke Yokohama. Di kota tersebut, dokter pribadi Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta itu bertandang ke kediaman mantan Laksamana Yaichiro Shibata. Kunjungan tersebut dilakukannya untuk mengantarkan titipan Bung Karno. “Bung Karno menitipkan sebuah bingkisan dalam amplop agar disampaikan kepada eks Laksamana Shibata,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah . Di kediaman Shibata yang amat sederhana, Soeharto mendapat sambutan hangat. Dia lalu memberikan titipan Presiden Sukarno kepada tuan rumah. “Senang sekali ia menerima bingkisan itu dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Bingkisan itu dikirimkan oleh Bung Karno sebagai kenang-kenangan dan tanda ucapan terima kasih,” sambung Soeharto. Ucapan terimakasih Bung Karno ditujukan untuk membalas kebaikan Shibata dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana bawahannya, Laksamana Maeda, Panglima Kaigun (AL Jepang) di Indonesia semasa Perang Dunia II Laksamana Shibata menunjukkan dukungannya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Simpati Shibata terhadap nasionalisme Asia Tenggara bukanlah hal baru. Pada Oktober 1935 dia termasuk di antara sekelompok orang Jepang terkemuka yang menyambut pemimpin Filipina Sakdalista, Benigno Ramos, ke Tokyo,” tulis Bennedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 . “Laksamana Madya Yaichiro Shibata hampir tidak menyembunyikan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia.” Tatkala posisi Jepang sudah diambang kekalahan dalam Perang Dunia II, Shibata menyatakan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia lewat pertemuan dengan Bung Karno di Bali, Juli 1945. Pertemuan yang juga diikuti Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo itu diketahui Dokter Soeharto yang diajak Bung Karno mendampingi ke Bali. “Pada suatu hari di bulan Juli Bung Karno meminta pada saya agar stand by , karena sewaktu-waktu hendak mengajak saya terbang ke Bali. Maksud perjalanan ke Bali itu untuk menemui Laksamana Yaichiro Shibata, Panglima Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang membawahi Nusantara, kecuali Sumatra dan Jawa,” kata Soeharto. Pertemuan ketiga pemimpin bangsa Indonesia dengan Shibata berlangsung di Singaraja. Tak ada satupun dari ketiga pemimpin Indonesia itu yang menyebutkan hasil dari pertemuan tersebut. Namun, Soeharto dapat mengetahuinya karena diceritakan Soebardjo usai pertemuan. “Pak Bardjo mengatakan kepada saya, Shibata menaruh simpati besar terhadap perjuangan mewujudkan Indonesia Merdeka dalam waktu dekat, dan akan memberikan segala bantuan yang mungkin dapat ia berikan,” sambung Soeharto. Shibata tak melanggar janjinya. Dukungan itu dia buktikan tak lama setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. “Sejak akhir bulan Agustus ia telah mulai memberikan senjata-senjata kepada unsur-unsur pemuda tertentu,” tulis Ben Anderson. Di Surabaya, tempatnya menetap setelah di Bali, dukungan Shibata dibuktikan lewat penyelesaian konflik antara pemuda pejuang dengan Kenpeitai ketika sekira 700 pemuda pejuang di bawah pimpinan Soengkono menyerbu kantor Kenpeitai untuk meminta persenjataan mereka. Mereka mengingingkan senjata hanya untuk menghadapi Belanda yang akan kembali menjajah, kata Sungkono. “Baiklah akan saya selesaikan,” kata Shibata kepada Soengkono sebagaimana dikutip Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya . “Akhirnya Laksamana Shibata menemui pimpinan mereka (Keinpetai, red .). Ia menyatakan bahwa senjata sudah ada di bawah pengawasan Polisi Indonesia dan akan diserahkan kepada Residen Sudirman,” sambung Notosusanto. Pada 3 Oktober 1945, Shibata secara resmi menyerahkan persenjataan Kaigun kepada Kapten Huijer, perwakilan South East Asia Command/Sekutu. Penyerahan itu secara simbolik dilakukannya dengan menyerahkan pedangnya kepada Huijer. Keputusan itu diambil Shibata karena Huijer menuntut penyerahan senjata Jepang agar tidak jatuh ke tangan para “ekstremis”. Senjata-senjata itu kemudian, dengan persetujuan Huijer, akan dijaga para anggota Komite Nasional Indonesia, yang dalam penilaiannya cukup moderat, hingga pasukan Sekutu tiba. Shibata mematuhi tuntutan Huijer tentu dengan alasan akan terbebas dari tanggungjawab menjaga keamanan yang kian kacau. Namun lebih dari itu, Shibata yang telah mengenal kondisi masyarakat Indonesia dan bersimpati pada kemerdekaan mereka, yakin senjata-senjatanya akan jatuh ke tangan para pemuda-pejuang Indonesia karena para anggota KNI yang dipercaya Huijer menjaga persenjataan itu takkan mampu menjalankan tugasnya. Namun, di lapangan keadaan berjalan tak semudah yang dibayangkan. Beberapa kesatuan militer Jepang menolak menyerahkan persenjataan mereka. Ketegangan pun terjadi antara mereka dengan para pemuda-pejuang. “Mereka bersedia menyerahkan senjata yang ada, asal ada perintah dari atasan, yakni Laksamana Shibata pimpinan tertinggi Angkatan Laut Jepang untuk wilayah timur,” tulis Irna HN Soewito dalam Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan , Vol. 1. Keesokan harinya, Shibata memerintahkan para bawahannya agar menyerahkan persenjataan mereka kepada Indonesia. Dengan begitu, tanggung jawab penyerahan senjata itu kepada Sekutu nantinya menjadi tanggung jawab Indonesia sepenuhnya. Sementara, mulai saat itu tanggung jawab keamanan di Surabaya sudah berada di pundak Huijer, bukan lagi di pundak Jepang. Seruan Shibata kemudian dipatuhi para bawahannya. Panglima AD setempat, Mayjen Iwabe Syigeo, pun mengikuti langkah Shibata dengan menyerahkan persenjataan pasukannya kepada Polisi Indonesia. Langkah Shibata kemudian terbukti tidak meleset. “Ternyata kemudian bahwa KNI itu tidak mempunyai kemampuan dan juga tidak mempunyai keinginan untuk mematuhi persetujuan itu. Dengan demikian semua senjata dan mesiu milik komando Angkatan Laut di Surabaya jatuh ke dalam tangan KNI dan Polisi Istimewa pada namanya saja, sedangkan pada praktiknya jatuh ke tangan BKR, kelompok-kelompok pemuda, pasukan-pasukan polisi, dan bahkan gerombolan-gerombolan yang masih kurang terorganisasikan,” tulis Ben Anderson.*
- Moerad, Sjahrir, Hatta dan Persahabatan yang Terlupakan (2)
DI Digul, Moerad hidup dalam situasi pengasingan yang tentu saja jauh dari kenyamanan. Kepada anak-anaknya, dia pernah berkisah bagaimana liarnya alam di tanah Papua itu. Selain gangguan nyamuk malaria dan binatang berbisa seperti ular batik, para digulis pun harus menghadapi kerasnya perlakuan petugas-petugas yang dibayar oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi mereka.
- Panji Matahari Terbit di Bali
SEJAK pagi, 19 Februari 1942, Letnan Clarence McPherson, pilot pesawat pembom B-17E “Flying Fortress” dari Grup Pembom ke-7 Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat, sudah punya perasaan tak enak. Padahal, hari itu ia punya misi terbang dari Pangkalan Udara (Lanud) Darwin menuju Lanud Denpasar, Bali. Perasaan tak enak itu bermula dari jadwal keberangkatannya yang tertunda beberapa jam untuk perbaikan mesin pesawatnya di pagi buta. Alhasil baru pada sekira pukul 9.15 pagi McPherson bisa take-off untuk mengiringi 10 pesawat pemburu P-40 “Warhawk” pimpinan Mayor Floyd Pell dari Skadron Pemburu ke-33. Namun di tengah perjalanan, ke-10 pesawat P-40 memutuskan balik kanan lantaran cuaca buruk di langit Kupang. McPherson memilih tetap meneruskan penerbangannya. Ketika ia sudah melihat Lanud Denpasar dari arah selatan dan hendak mendarat di siang hari, tetiba pesawatnya ditembaki senapan mesin. Disadarinya kemudian, Lanud Denpasar ternyata sudah dikuasai satu detasemen serdadu Jepang sejak malam sebelumnya. “Roda pesawat sudah sempat diturunkan dan hendak mendarat untuk kemudian taxiing . Andai tentara Jepang tak lebih dulu menembaki saat pesawat mendekati landasan, sangat mungkin kru pesawat ditawan Jepang. Namun McPherson langsung terbang lagi dengan hanya membawa lubang peluru di badan pesawat dan salah satu krunya tertembak di bagian kaki,” tulis Walter Dumaux Edmonds dalam The Fought with what They Had: The Story of the Army Air Forces in Southwest Pacific, 1941-1942. McPherson beruntung. Para serdadu Jepang belum sempat menempatkan meriam antiudara di lanud itu. Sekira pukul 5.55 petang, McPherson berhasil mendarat dengan selamat di Lanud Singosari (kini Lanud/Bandara Abdulrahman Saleh), Malang. Di lanud itu, McPherson diterangkan oleh perwira intelijen ABDACOM atau Komando Amerika-Inggris-Belanda-Australia, bahwa Bali sudah sudah dikuasai serdadu panji matahari terbit. Pesawat pembom berat B-17E "Flying Fortress" bernomor seri 41-2417 yang dipiloti Letnan Clarence McPherson. ( americanairmuseum.com ). Surga Dunia yang Strategis Pulau Bali mulanya tak pernah masuk dalam perhitungan Jepang untuk direbut. Toh sejak awal Januari 1942, Jepang sudah punya tiga lanud besar (Banjarmasin, Makassar, dan Kendari) untuk membom Malang dan Surabaya yang jadi basis terkuat ABDA di timur Pulau Jawa. “Tetapi disadari juga bahwa Bali dikenal punya cuaca yang luar biasa ideal. Itu yang kemudian membuat Jepang tertarik, selain keindahannya sebagaimana yang diakui Laksamana Matome Ugaki, kepala Staf Armada Gabungan Jepang, sebagai ‘surganya dunia’,” ungkap Jeffrey Cox dalam Rising Sun, Falling Skies: The Disastrous Java Sea Campaign of World War II . Cuaca jadi kata kuncinya. Jepang segera insyaf bahwa kondisi cuaca di langit Lanud Makassar dan Kendari tak seideal Lanud Denpasar. Selain itu, jika Denpasar bisa dikuasai, pesawat-pesawat Jepang bakal lebih menghemat bahan bakar dalam membombardir Malang dan Surabaya ketimbang berangkat dari Banjarmasin, Makassar, maupun Kendari. Maka, pada akhir Januari Markas Umum Militer di Tokyo menambahkan Bali sebagai target invasinya. Rencana pendaratan dan langkah antisipatif terhadap gangguan Sekutu (ABDA) pun dirancang. Operasi pendaratan jatuh ke pundak Laksamana Muda Kyuji Kubo, komandan Armada Serbu ke-4. Kapal penjelajah ringan Nagara jadi kapal komando Laksamana Kubo yang akan bertanggungjawab atas konvoi armada yang terdiri dari tujuh kapal perusak dan kapal angkut Sasago Maru dan Sagami Maru . Dua kapal angkut itu akan membawa satu batalyon pasukan pendarat dari Divisi Infantri ke-48 pimpinan Mayor Matabei Kunemura. Konvoi ini berangkat dari pelabuhan Makassar pada 17 Februari malam. “Sasaran (pendaratan) mereka adalah pantai dan jalan utama Sanur di pesisir tenggara Bali di Selat Badung. Area itu dipilih karena jadi titik terdekat menuju Denpasar. Kapal perusak Asashio , Oshio , Arashio , dan Michishio akan mengawal ketat dua kapal angkut. Kapal perusak Hatsushimo , Nenohi , dan Wakaba akan mengekor di belakang sebagai pelindung jika ada musuh dari arah Laut Banda di utara,” lanjut Cox. Skema pendaratan dan Pertempuran Selat Badung (kiri) & komandan laut ABDA Laksamana Karel Willem Frederik Marie Doorman. ( microworks.net / nationaalarchief.nl ). Intelijen pangkalan ABDA di Surabaya sejatinya sudah mengintip ada persiapan besar di Makassar yang akan memberangkatkan sebuah konvoi. Namun ABDA belum mendapat kesimpulan detail ke mana dan kapan konvoi itu akan melancarkan serangan atau pendaratan. Ditambah, kekuatan ABDA, terutama armadanya di bawah komando Laksamana Karel Doorman, tercerai berai antara Laut Jawa hingga Laut Banda. ABDA baru mendapat info konvoi Jepang itu menyasar ke Bali pada 18 Februari petang, ketika dua kapal angkut Jepang bersiap mendaratkan serdadunya ke Pantai Sanur. Adalah kapal selam (kasel) Amerika USS Seawolf dan kasel Inggris HMS Truant yang melakukan kontak pertama. Sayangnya serangan mereka kandas dan dihalau kapal-kapal perusak Jepang dengan bom-bom dalam mereka. Di atas kapal penjelajah HNLMS De Ruyter yang jadi kapal komandonya, Laksamana Doorman langsung menginstruksikan armadanya di Pelabuhan Cilacap untuk segera menuju Selat Badung. Di dalamnya turut serta kapal penjelajah HNLMS Java , kapal perusak HNLMS Piet Hein , dan dua kapal perusak Amerika USS John D. Ford dan USS Pope . Sementara, kapal penjelajah HNMLS Tromp berangkat dari Surabaya dan kapal perusak USS Stewart , USS John D. Edwards , USS Parrott , dan USS Pillsbury menyusul dari Teluk Ratai. Gangguan berat pertama Jepang datang dari udara. Sejak 18 Februari tengah malam, pesawat-pesawat pembom dan pembom tukik Sekutu bergantian berangkat dari Malang dan Surabaya untuk membombardir kapal-kapal angkut Jepang. Pendaratan Jepang pun tertunda beberapa jam. “Saat kami baru mengira bahwa pendaratan ini akan berakhir sukses, tiba-tiba sebuah (pesawat pembom) B-17 terbang di atas konvoi kami. Pemboman terus-menerus oleh pesawat-pesawat musuh memaksa kami menunda operasi pendaratan,” tutur seorang perwira Jepang, dikutip Cox. Pada dini hari 19 Februari, konvoi Jepang baru mendapat perlindungan udara dari Grup Udara Tainan yang berbasis di Balikpapan. Saat pesawat-pesawat Amerika sudah menemukan lawan di udara, operasi pendaratan baru bisa dimulai lagi. Para serdadu Jepang mulai menginjakkan kaki di Pantai Sanur sekira pukul 2 dini hari. Korps Prajoda yang berdiri pada 1938 praktis bubar sejak Jepang mendarat pada 19 Februari 1942. ( berghapedia.nl ). Mereka tak menemukan perlawanan berarti di darat sehingga dengan mudah merangsek hingga merebut Lanud Denpasar yang ditinggalkan pasukan pertahanan. Bali saat itu sama sekali tak memiliki satu peleton pun pasukan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda). Saat itu Bali hanya dipertahankan Korps Prajoda yang terdiri dari 600 milisi lokal dan beberapa perwira menengah Belanda pimpinan Kolonel W.P. Roodenburg. “Bahkan sebelum pendaratan, pimpinan KNIL di Bandung hanya memerintahkan pengrusakan kendaraan-kendaraan militer dan depot-depot bahan bakar di sekitar Denpasar dan Singaraja. Saat Jepang mulai mendarat, pasukan itu mundur ke Penebel di utara Tabanan,” urai Geoffrey Robinson dalam The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali. Bahkan, lanjut Robinson, Kolonel Roodenburg kala mendengar Jepang sudah masuk ke Denpasar segera memerintahkan ke-600 prajurit Korps Prajoda melucuti senjata dan seragam, lalu diperintahkan pulang ke rumah masing-masing. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Korps Prajoda yang didirikan pada 1938 sebagai “kepanjangan tangan” KNIL untuk mempertahankan Bali, resmi dibubarkan. Duel Armada Jika di darat hampir tak ada pertempuran, di laut armada Doorman dan armada Kubo duel hebat. Seiring pendaratan pasukan Jepang dan datangnya kapal-kapal ABDA, Pertempuran Selat Badung pun dimulai pada 19 Februari 1942 dini hari. Meriam-meriam dari dua kapal penjelajah dan tiga perusak ABDA pimpinan Doorman mulai menyalak pada jam 10.25 malam. Serangan balik Jepang dengan torpedonya justru lebih efektif. Sebuah torpedo dari Asashio mengenai Piet Hein dengan telak hingga akhirnya tenggelam. Kapal perusak Amerika John D. Ford dan Pope juga kepayahan melawan meriam-meriam Asashio dan Oshio yang lebih superior. Keduanya akhirnya kabur ke arah tenggara dari Selat Badung dengan beberapa kerusakan pada badan kapal. Pukul 1 dini hari 20 Februari, enam kapal lain ABDA tiba. Pertempuran dahsyat dengan dua kapal Jepang pun terjadi. Mereka saling bertukar tembakan meriam. Oshio dan Asashio mulai kewalahan hingga rusak berat dan terpaksa mengundurkan diri. Lantas giliran Arashio dan Michishio yang baku serang dengan tiga kapal ABDA yang tersisa. Ketika mentari terbit pukul 6 pagi 20 Februari, Selat Badung mulai sepi. Kapal-kapal Jepang dan Amerika sama-sama mengundurkan diri dengan kerusakan berat. Kapal penjelajah ringan Nagara (atas) & HNMLS De Ruyter , dua kapal komando Jepang dan ABDA. ( Modellversium: Japanese Light Cruisers of World War II in Action / nationaalarchief.nl ). Pihak Jepang mengklaim kemenangan karena misi utama mereka mendaratkan pasukan berjalan sukses. Pihak Sekutu tak mau kalah, mereka bangga bisa membuat Jepang membayar mahal. Sejak saat itu Jepang tak berani mengirim kapal-kapal untuk suplai pasukannya. Jepang baru kembali mengirim kapal suplainya pada Maret 1942 setelah Hindia Belanda menyerah di Kalijati. “Ofensif udara dan laut Sekutu melawan pasukan ekspedisi Jepang sukses, mereka membuat Jepang tak bisa mengirim satu pun kapal perang atau kapal angkut untuk mendukung suplai pasukan Jepang (di Pulau Bali). Kemenangan di Bali adalah kemenangan dengan harga yang mahal,” tulis suratkabar The West Australian , 24 Februari 1942. Perubahan drastis langsung terjadi di Bali begitu pasukan Jepang menguasai Denpasar dan sekitarnya. Para pegawai Belanda beramai-ramai kabur ke Jawa dan Australia. Hanya sekitar 63 warga asing yang ditahan sebelum dipindahkan ke kamp-kamp interniran di Jawa pada Maret. “Untuk sesaat kemudian, kehidupan warga kembali normal. Sebuah siaran radio Jepang pada 27 Maret 1942 menyebutkan: ‘Warga Indonesia di Pulau Bali menikmati hidup yang damai di bawah kendali pasukan Jepang. Bus-bus beroperasi lagi, jalan-jalan raya yang dihancurkan Belanda telah diperbaiki Korps Buruh Sukarela Indonesia. Tiga ribu warga Cina yang mengontrol aktivitas bisnis sudah kembali ke rumah mereka dan sepenuhnya bekerjasama dengan otoritas militer Jepang’,” tandas Robinson.
- Medan Perang Pangeran Antasari
PADA April 1859, pos pertahanan pasukan HIndia Belanda di Pengaron mendapat serangan dari rakyat Benua Ampat. Ratusan orang bergerak menembus benteng Pengaron dan melancarkan tembakan bertubi-tubi. Orang-orang Belanda dibuat tak berkutik. Kejatuhan Pengaron pun tak terelakan. Serangan itu menjadi tanda dimulainya Perang Banjar. Tidak hanya Pengaron, pusat kekuatan Belanda di Banyu Irang, Bangkal, Gunung Jabuk, Marabahan, serta pulau Petak dan pulau Telo, tidak luput dari serangan dadakan laskar rakyat Banjar. Bahkan benteng di Tabonio dan Martapura mendapat gempuran terbesar dari rakyat Benua Ampat dan Benua Lima. Seluruh pertempuran dilakukan secara serentak. Otak di balik itu semua adalah Pangeran Antasari.
- Phoa Beng Gan, Jago Pengairan Tionghoa di Batavia
MUSIM kemarau panjang melanda Batavia. Saluran air di Batavia mengering. Sampan-sampan kecil tak bisa bergerak mengangkut barang kebutuhan pokok penduduk. Kala itu, 1648, saluran air menjadi urat nadi transportasi Batavia dan sampan adalah alat utamanya. Karena sampan tak bisa digunakan lagi, pemilik sampan menjualnya.Kemarau juga bikin pusing gubernur dan pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Batavia. Suplai obat-obatan dari negeri Belanda terputus akibat perang Belanda-Inggris. Untuk menyediakan obat, VOC harus membangun pabrik sendiri. Itu perlu suplai air yang cukup. Selama musim kemarau, air mengalir sangat kecil sehingga pabrik obat tak dapat berjalan. Seorang Tionghoa bernama Phoa Beng Gan (disebut juga Phoa Bingham) mendapat cara jitu untuk membuat suplai air kembali normal dan menghadapi musim kemarau. Dia adalah Kapitan Tionghoa ketiga di Batavia setelah Souw Beng Kong. Berbeda dari Souw yang pandai dan lihai dalam urusan niaga, Phoa lebih jago dalam teknik pengairan. Kapitan adalah jabatan tertinggi seseorang dari suatu komunitas masyarakat berdasarkan asal daerahnya pada masa VOC. Kapitan juga bertugas mengurus administrasi kependudukan masyarakatnya. Jabatan ini juga menghubungkan komunitas tersebut dengan kebijakan VOC. Misalnya ketika terjadi musim kemarau panjang, seorang kapitan harus pula memikirkan langkah penanganannya. “Gubernur Belanda meminta bantuan Phoa Beng Gan untuk mencari jalan mengatasinya,” catat Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik. Phoa mengusulkan pembangunan saluran air baru untuk menghubungkan wilayah utara ke selatan kota. Kala itu, kota Batavia memiliki puluhan saluran atau kanal yang membentang dari barat ke timur. Tapi hampir semuanya berada di sekitar tembok kota atau wilayah yang dihuni oleh orang-orang VOC. Kanal yang melewati tembok kota dan menjulur ke selatan dibuat untuk menggiatkan daerah penanaman tebu di luar tembok kota ( ommelanden ). Tapi pembangunan kanal di luar tembok kota masih kurang. Phoa ingin kanal utara-selatan ditambah. Penambahan kanal akan memecah aliran Kali Ciliwung dari timur ke barat, lalu mengalir ke utara melewati tembok kota. Phoa menghitung, kanal baru juga akan membuat banjir dan wilayah rawa-rawa di Batavia berkurang pada musim hujan. Sementara pada musim kemarau, kanal baru akan menambah debit air. VOC menyetujui usulan itu. Begitu pula dengan masyarakat Tionghoa. “Ahli pengairan yang dapat dipercaya,” begitu orang Tionghoa dan VOC menggelari Phoa, seperti diungkap Tim Reporter penulis buku Sedjarahnya Souw Beng Kong, Phoa Beng Gan, Oey Tambah Sia . Untuk membangun kanal baru itu, Phoa meminta masyarakat Tionghoa ikut menyumbang. Sebab mereka pula yang akan menikmati hasilnya kelak. Phoa merencanakan kanal itu berfungsi pula sebagai lalu-lintas sampan.“Biayanya dipikul oleh masyarakat sendiri karena pemerintah waktu itu hanya berani membiayai dengan jumlah yang tidak berarti,” ungkap Tim Reporter. Sumbangan dari orang Tionghoa mengucur. Tak hanya berbentuk dana, tetapi juga tenaga kasar. Mereka jadi penyumbang dana sekaligus buruhnya. VOC ikut membantu pengongkosannya. Tiap melihat kemajuan pembangunan kanal baru tersebut, VOC menambah pengongkosannya. Phoa turun langsung membuat tahapan pembangunan kanal. Dia terjun ke lapangan mencari aliran Kali Ciliwung. Dia membabat hutan lebat di luar tembok kota dan sempat bertemu beberapa binatang buas. Dia tak lupa membuat peta hasil penelusurannya sehingga memudahkan pekerjaan pembuatan kanal baru. Phoa menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu relatif singkat. Tapi hasilnya sangat manjur. “Air-air yang menggenangi rawa-rawa, sekarang ini sudah mulai turun... Lalu-lintas air itu menambah jalannya perekonomian semakin sehat,” lanjut Tim Reporter. Orang Tionghoa menyebut kanal tersebut “Binghamvart”, merujuk pada nama Phoa Bingham atau Beng Gan. Tapi orang VOC mengubahnya jadi Molenvliet pada 1661. “Saluran ini menjadi jalur yang paling diminati penduduk,” catat Restu Gunawan dalam “ Kala Air Tak Lagi menjadi Sahabat: Banjir dan Pengendaliannya di Jakarta tahun 1911–1985 ”, disertasi di Universitas Indonesia. Terkesan dengan hasil kerja Phoa, VOC menghadiahinya sebidang tanah di luar tembok kota (sekarang terletak di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat). Phoa menanam tebu di atas tanah itu. Penanaman tebu merangsang pertumbuhan daerah sekitarnya. Rumah-rumah buruh tebu pun bermunculan. Mereka membangun rumahnya dengan batu-bata dan kapur. Karena itu, pabrik batu-bata dan kapur bersitumbuh pula. VOC turut serta meramaikan wilayah itu dengan membangun pabrik penggilingan obat. Dari situlah Phoa mengusulkan lagi penambahan kanal untuk menghubungkan wilayahnya di selatan ke pusat kota di utara. Sekali lagi, Phoa berhasil melakukannya. Tapi petaka kemudian datang. Batavia yang sempat sohor sebagai Venezia dari Timur karena kanal-kanalnya itu, berubah menjadi sarang penyakit secara bertahap. Wabah malaria melanda kota, menyerang tiap penduduk tanpa pandang bulu. Orang Tionghoa terkapar tak berdaya. Beberapa mendatangi Phoa untuk meminta bantuan. Phoa membuka tangan dan pikirannya. Meski tak sekaya seperti Souw Beng Kong, dia menyumbang uang untuk pendirian rumah sakit Tionghoa untuk masyarakat. Ide ini pun berasal dari pikirannya. Phoa mengusulkan sekaligus mampu mewujudkannya. Usia Phoa menua seiring waktu, kesehatannya pun menurun. Dia merasa saatnya sudah tiba untuk mundur sebagai Kapitan. “Sudah tentu hal ini sangat dibuat menyesal, bukan saja oleh bangsanya sendiri, bahkan oleh seluruh masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jakarta Raya,” terang Tim Reporter. Gajah mati meninggalkan gading. Phoa mati meninggalkan saluran air dan rumah sakit.*
- Memuja Dewi Cinta Mesopotamia
Ishtar atau Inanna adalah salah satu dewi paling populer dari jajaran dewa-dewi Peradaban Mesopotamia. Ia merupakan dewi cinta paling awal di dunia kuno yang sering kali dipandang raja-raja Mesopotamia sebagai jalan legitimasi status mereka. Ishtar adalah nama yang diberikan oleh bangsa Akkadia, salah satu bangsa yang mendiami kawasan Mesopotamia. Sementara bangsa Sumeria yang juga mendiami kawasan itu memanggilnya dengan Inanna. Selain dipercaya sebagai dewi cinta dan kesuburan, Ishtar atau Inanna di beberapa daerah juga dianggap sebagai pelindung para pekerja seks. Di sisi lain, ia juga dianggap sebagai dewi perang. “Ada penggambaran Ishtar atau Inanna sebagai seorang pejuang dalam pertempuran membawa tawanan,” tulisLouise Pryke, dosen Bahasa dan Sastra Israel Kuno di Macquarie University, Australia, sekaligus peraih gelar Ph.D Sejarah Timur Dekat Kuno dari University of Sydney,dalam “Friday essay: the legend of Ishtar, first goddess of love and war” di laman The Conversation . Baca juga: Di Balik Kematian Cleopatra Citra Ishtar atau Inanna itu kemudian berpengaruh pada lahirnya dewi cinta paling terkenal di dunia, yakni Aphrodite, dewi cinta dan kecantikan dari Yunani. “Dalam tradisi modern, Aphrodite membentuk citra pahlawan super Wonder Woman, dan citra Aphrodite sendiri dipengaruhi oleh Ishtar,” tulis Pryke. Baik Ishtar maupun Wonder Woman, lanjut Pryke, sama-sama merepresentasikan pejuang di medan perang. Mereka digambarkan mengenakan gelang dan tiara dan mengacungkan senjata tali. Di sisi lain menunjukkan cinta, kesetiaan, dan komitmen yang kuat terhadap keadilan. “Di zaman modern, cinta dikatakan menaklukkan segalanya dan di dunia kuno Ishtar mewujudkan hal itu,” catat Pryke. Simbol Persatuan Bangsa Mesopotamia yang berarti “tanah di antara sungai-sungai” dalam bahasa Yunani Kuno, merupakan pusat peradaban paling awal di dunia. Kawasan ini merupakan lahan subur yang berada di antara dua aliran sungai besar, Sungai Eufrat dan Tigris. Yang menghuni adalah orang-orang Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asiria. Kini, kira-kira wilayahnya sama dengan Irak modern, sebagian Iran, Suriah, Kuwait, dan Turki. Sebagai dewi Mesopotamia yang paling terkenal, Ishtar dihormati di seluruh jangkauan geografis Timur Dekat Kuno yang luas selama ribuan tahun. Dia bukan sekadar dewi cinta, tapi juga dewi kesuburan, perang, dan bintang senja dan pagi: bintang Venus. Kultus Ishtar atau Inanna yang berkembang dan menyebar ke seluruh wilayah Timur Dekat Kuno dimulai sejak munculnya Kekaisaran Akkadia yang didirikan oleh Sargon, raja dari Akkadia. Baca juga: Mumi Berlidah Emas dari Mesir Mengutip History , Sargon memperluas kerajaannya melalui serangkaian serangan militer hingga menaklukkan seluruh Sumeria. Ia tidak hanya menyatukan Sumeria dan Akkadia, tetapi memperluas kerajaannya hingga ke Suriah, Fenisia, Kanaan, Anatolia, bahkan hingga Siprus. Dengan gelar Sargon Agung, ia lalu membentuk Kekaisaran Akkadia (2234–2154 SM), kerajaan multikultural pertama di dunia dengan pemerintah terpusat. Sejarawan Jennette Adair dalam tesisnya di University of South Africa berjudul "Certain Aspects of the Goddess in the Ancient Near East (10.000–330 BCE)" menjelaskan, bersama dengan pembentukan Kekaisaran Akkadia, bahasa tertulis Sumeria digunakan. Sementara Akkadia menjadi bahasa resmi. “Oleh karena itu Dewi Inanna dikenal dengan nama Akkadia-nya, Ishtar,” tulis Adair. Baca juga: Di Balik Kutukan Makam Firaun Menurut Adair, bagi Sargon, Inanna dan Ishtar adalah landasan teologis yang dapat menstabilkan persatuan Kerajaan Sumeria dan Akkadia. “Raja-raja Akkadia percaya mereka adalah kekasih Ishtar dan kesuksesan mereka dikaitkan dengan sang dewi,” lanjut Adair. Selama masa pemerintahan Sargon, di mana pun pengaruhnya ada, maka peran Ishtar akan menonjol. Ketika pengaruh Ishtar menyebar lebih jauh ke Barat, menyebar ke negara lain, namanya terus diubah agar sesuai dengan bahasa budayanya. Misalnya,Ashtarte atau Ashart yang dikenal oleh budaya Fenisia dan Astoreth pada orang-orang Kanaan. Setelah Kekaisaran Akkadia, timbulah Dinasti Ur III (2100–2000 SM). Selama periode ini terjadikebangkitan budaya, sastra, dan bahasa Sumeria. Lalu selama era Babilonia berikutnya (1750 SM), nyanyi-nyanyian dan mitos kembali ditulis dalam bahasa Akkadia. Peran Inanna pun tetap sama, walaupun ia dikenal dengan nama Ishtar. Gerbang Ishtar di sisi utara kota Babilonia yang dibangun pada sekira 575 SM atas perintah Raja Nebukadnezar II. (Focus and Blur/Shutterstock). Kedudukan Perempuan Pada masa kekuasaan Babilonia, khususnya setelah pembentukan Kekaisaran Babilonia Lama di bawah Hammurabi (1750 SM), ideologi agama berubah signifikan. Dewi agung dibayangi oleh sosok dewa tertinggi. “Ini yang akan mengubah paradigma umum kesadaran dalam teologi dan ideologi di kawasan Timur Dekat Kuno,” jelas Adair. Alasan perubahan ini sebenarnya sulit untuk didefinisikan. Namun, ini adalah proses bertahap yang dimulai menjelang akhir Zaman Perunggu. “Pada akhir milenium ke-2 SM, kosmos didominasi oleh dewa laki-laki, dengan hanya Ishtar yang mempertahankan posisi kekuasaannya,” lanjut Adair. Baca juga: Melihat Kehidupan Orang Romawi Lewat Lubang Jamban Adair menduga, perubahan itu mungkin cerminan status sosial perempuan yang mulai menurun. Kekuatan perempuan dalam masyarakat berkurang. Demikian pula dengan peran mereka dalam agama. Dengan munculnya negara-bangsa melawan negara kota yang lebih kecil, ada kebutuhan bagi pahlawan atau raja untuk memimpin dan melindungi. Ini juga merusak peran publik dan sosial perempuan. Maka, dunia pada akhir milenium ke-2 pun tak lagi memandang dewi sebagai pelindung terkuat kehidupan manusia. Penduduk desa, kota, dan negara merasa bahwa dewa laki-laki akan lebih kuat dan lebih mampu melindungi mereka dan tanah mereka. “Hal ini khususnya terjadi pada periode Asiria (934–608 SM), status perempuan baik dalam peran pribadi maupun publik menurun,” kata Adair. Namun Ishtar, dengan semua versi namanya, tidak pernah kehilangan pengaruh. “Kita dapat melihat bagaimana kepercayaan orang Kanaan, Fenisia, dan Israel mencerminkan dewi ibu,” lanjutnya. "Burney Relief" diyakini mewakili Ishtar dari sekira abad ke-19 atau ke-18 SM. Sepasang singa terlihat di kakinya. (Wikipedia). Di Luar Peran Domestik Perempuan Begitulah Ishtar, di Mesopotamia disembah s elama lebih dari 3.500 tahun dalam berbagai perannya. Sebagai dewi cinta, Ishtar tak hanya dihubungkan dengan cinta romantis, tetapi juga cinta keluarga, cinta antarmasyarakat, dan cinta seksual. Sementara di medan perang, Ishtar adalah dewi cinta yang menakutkan. Pemujanya percaya kalau sang dewi memiliki kekuatan untuk menentukan nasib dan memastikan kemenangan dalam peperangan. “Kecantikannya adalah subyek puisi cinta, dan amarahnya diibaratkan badai yang merusak,” kata Pryke. “Tetapi dalam kapasitasnya untuk membentuk takdir dan keberuntungan, dua citra itu berada di dua sisi dari mata uang yang sama.” Baca juga: Mengintip Isi Dapur Firaun Ishtar digambarkan sebagai sosok yang baik dan peduli. Namun, ada keganasan yang kejam dalam kepribadiannya. Ishtar digambarkan dengan sifat pengasuh. Namun, ia bisa jadi liar dan sering menyebabkan kekacauan sosial. “Ini adalah paradoks sifatnya yang menggabungkan dasar-dasar keteraturan dan ketidakteraturan,” lanjut Pryke. Rivkah Harris dalam “Inanna-Ishtar as Paradox and a Coincidence of Opposites” yang terbit dalam History of Religions (1991) mencatat kendati Inanna-Ishtar adalah seorang istri dan ibu, keduanya tidak memiliki arti penting dalam mitologinya. Doa, himne, mitos yang dikenal mengumandangkannya sebagai dewi di arena publik yang punya kuasa dan ketenaran. “Dia tidak terlibat dalam kegiatan feminin seperti menenun dan mengasuh anak. Peran dewi pejuang menempatkannya di luar wilayah domestik perempuan,” jelas Harris. Baca juga: Ketika Firaun Keliling Dunia Berkali-kali teks menekankan kehausan darahnya, kecintaannya pada perang dan pembantaian. Kisah-kisah tentangnya berbunyi: “Pertempuran adalah pesta untuknya”, “Dia mencuci alat dengan darah pertempuran”, “Dia membuka pintu pertempuran”, dan lain sebagainya. Pada saat yang sama, kasih sayang Inanna-Ishtar untuk raja-raja Mesopotamia berulang kali dicatat. Itu seperti: “Dia (Ishtar) memelukmu dengan baik (seperti anak kecil)”, “Dalam dadanya yang penuh kasih dia memelukmu dan melindungi seluruh sosokmu”. Secara khusus, singa selalu dikaitkan dengan Ishtar. “Dia adalah satu-satunya dewi yang memiliki julukan singa ( labbatu ) dengan keganasan dan kekuatannya yang mengamuk itu memang julukan yang pas,” tulis Harris.





















