top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Seks dalam Karya Pujangga Jawa

    Pada masa Jawa Baru, banyak pujangga menulis teks-teks bermuatan seks. Dari hubungan asmara, tata cara bersenggama, hingga jenis-jenis penyimpangan seks.

  • Meninjau Kembali Proses Masuknya Islam ke Nusantara

    Banyak yang meyakini Barus di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, salah satu bandar tertua di mana Islam pertama kali berlabuh. Pelabuhan Barus dikenal sejak masa awal masehi dan semakin berkembang pada era kenabian Muhammad Saw. abad ke-7.   Claudius Ptolemeus, ahli geografi Romawi pada 100–170 M, mencatat keberadaan Barousai . Kata Claude Guillot, arkeolog Prancis, dalam Lobu Tua: Sejarah Awal Barus , itu jika disepakati kalau Barousai yang ditulis Ptolemeus sebagai Barus. Sayangnya, tidak ada penemuan yang tegas soal awal mula kedatangan Islam di Nusantara membuat pembahasannya belum tuntas. Selama ini pendapat soal kapan Islam menyebar dan dari mana datangnya selalu berputar pada hasil penelitian asing. “Kita bisa melihatnya lagi sebagai orang yang tinggal di kepulauan Nusantara ini,” kata Bastian Zulyeno, ahli kajian Persia Universitas Indonesia, dalam dialog sejarah “Riwayat Masuknya Islam ke Nusantara” live  di kanal Youtube  dan Facebook   Historia.id . Menyebar Bertahap Hingga saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli mengenai kapan tepatnya Islam masuk ke Barus. “ Bagaimana Islam hadir di Nusantara? Menurut sumber sudah cukup lama. Ada yang menganut sejak abad ke-7, tapi ini pembuktiannya bukan arkeologis,” kata Irmawati Marwoto, arkeolog Universitas Indonesia. Tetapi berita Tiongkok yang mencatat hal itu. W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa , menyebutkan kalau Ta-shih  atau olehnya disebut Da-zi,  merupakan nama yang umum digunakan untuk bangsa Arab dalam catatan-catatan sejarah Tiongkok. Groeneveldt menjelaskan Da-zi berada di pantai barat Sumatra. Lokasi ini tak pernah dijelaskan dalam literatur geografi Tiongkok. Sepertinya tak ada perdagangan atau kontak dengan wilayah itu. Maka, ketika wilayah ini dijelaskan, seringkali disamakan dengan Persia atau mayoritas dengan Arabia. “Sepertinya, permukiman Arab telah ada di pantai barat Sumatra sejak lama. Akibatnya, sejumlah penulis Tionghoa menyamakan negara ini dengan Arabia,” tulis Groeneveldt. Irma menjelaskan, permukiman Arab atau Persia berawal dari para pedagang yang menetap. Setelah menetap, pedagang-pedagang muslim itu membutuhkan tempat ibadah, karenanya membangun masjid di permukimannya.  “Jadi , ada proses cukup lama bagaimana Islam masuk ke seluruh wilayah Indonesia,” kata Irma. Islam berkembang hingga abad ke-11 dibuktikan oleh nisan-nisan kuno di Barus. Ini diperkuat dengan keberadaan naskah-naskah dari masa Kerajaan Kadiri.“Sudah ada pengaruh bahasa Arab, sudah masuk di situ,” jelas Irma. Pada abad ke-13, Islam mulai membentuk sistem kerajaan. Dibuktikan dengan adanya nisan Pasai dari 1297.“Pertama kali kerajaan Islam di Indonesia adalah Samudra Pasai. Sudah disebutkan ‘sultan’. Islam di sini sudah masuk secara politis,” kata Irma. Kemudian pada abad ke-15 mulai berdatangan para ulama. “Misalnya di Pasai ada ulama Persia datang, menjadi ulama di sana. Di Jawa juga ada,” kata Irma. Dalam penelitiannya, batu nisan terawal dari masa masuknya Islam di Nusantara menunjukkan gaya budaya luar yang kental. Makin muda, nisan-nisan di makam Islam lebih bergaya Indonesia. “Islam sudah datang untuk berdagang pada abad ke-7, membentuk kerajaan pada abad ke-13, berkembang ke seluruh Indonesia pada abad ke-15-16,” kata Irma. “ Jadi, kita harus membedakan antara kapan Islam datang dan kapan Islam menyebar.” Arab ke Persia Hingga Barus Lalu dari mana datangnya? Menurut Bastian, dari fakta historis, artefak nisan, dan manuskrip, pengaruh Persia sangat kental. “Kita juga kenal serapan dari bahasa Persia: nakhoda, jangkar, bandar, nisan. Ini menyerap dari bahasa Persia,” ujar Bastian. Di Barus, jejak budaya Persia terlihat pada nisan-nisan tuanya. “Dalam bahasa Persia, nisan artinya tanda, secara umum ya,” kata Bastian. Nisan bergaya Persia dibagi menjadi dua kategori: pra-Islam dan setelah kedatangan Islam. Bastian dan Ghilman Assilmi, arkeolog Universitas Indonesia, dalam “Representation and Identity of Persian Islamic Culture in Ancient Graves of Barus, North Sumatra”, termuat d alam International Review of Humanities Studies Vol. 3 No. 2 Juli 2018 , menyebutkan bahwa sebagian besar batu nisan dari periode Islam memiliki ciri khusus. Misalnya bertuliskan ayat Al-Qur ’ an, kaligrafi jenis Kufi , dan gambar datar. Lalu ada juga nisan berbentuk pilar yang berdiri seperti mihrab. Nisan ini bisa ditemukan di wilayah Uzbekistan dan Azarbeijan dengan bentuk dan ornamen yang sama.Sementara hampir semua nisan tokoh-tokoh agama penting di Barus memiliki pilar tinggi berbentuk mihrab.  Beberapa nisan di Barus ditulis dalam aksara Arab dengan tata bahasa Persia. “Beberapa batu nisan teridentifikasi memiliki dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan Persia,” jelas Bastian dan Ghilman. Misalnya, makam Syekh Mahmud di dalam Kompleks Makam Papan Tinggi, Barus Utara. Pada batu nisan di sisi selatan inskripsinya ditulis dalam bahasa Arab. “Syekh Mahmud, semoga Allah menyucikan jiwanya!” tulis sebagian inskripsi itu. Sementara batu nisan di sisi utara ditulis dengan bahasa Persia. Tertulis di sana, kalau hingga 829H/1425–6 M, makan ini tersembunyi di dunia gaib. Penggalan inskripsinya berbunyi: “Makam ini makam Syekh Mahmud. Dan setiap hari, keajaiban timbul bagi yang minta pertolongan.” Pada nisan itu juga terdapat prasasti yang menampilkan puisi klasik Persia dari abad ke-11. Puisi ini karya penyair bernama Firdawsi yang terdapat dalam buku Shah Nameh atau ( Risalah Para Raja ),bab pertempuran antara Rostam dan Esfandiyar. “Dunia adalah laluan, kita akan kembali. Tidak ada yang tersisa dari manusia kecuali kemanusiaannya,” demikian bunyi puisi itu sebagaimana dikutip Bastian.  Bastian dan Ghilman menjelaskan,Firdawsi dalam kesusastraan Persia disebut sebagai Bapak Bahasa Persia. Mahakaryanya, Shah Nameh adalah tonggak sejarah kebangkitan bahasa Persia setelah kurang lebih tiga abad berada dalam bayangan bahasa Arab. Sejak Islam muncul dan berkembang pertama kali di jazirah Arab, mulai muncul tantangan bagi para mubalig untuk membawa ajaran Islam keluar wilayah. Contoh penaklukkan wilayah yang dilakukan Islam secara masif adalah di Persia. Rencana penaklukkan atas wilayah ini bahkan sudah muncul pada masa kenabian Muhammad Saw. “Zaman keemasan Islam ketika Islam berhasil menaklukkan Persia,” kata Bastian. Persia merupakan peradaban yang sudah tua sekaligus kuat. Pada 2.500 SM mereka telah menjadi empire (kekaisaran). Itu pada saat di dunia hanya dikenal empat empire besar, yakni Romawi, Yunani, Tiongkok, dan Persia. Menurut Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, ekspansi Islam ke Persia dan Anak Benua India sepanjang masa Dinasti Umayah (660–749) memberikan dorongan baru kepada pelayaran Arab-Persia untuk menjelajah sampai ke Timur Jauh.  “Persia sampai abad ke-16, sebelum ditaklukkan Dinasti Safawiah, masih sebagai pusat ortodoksi Suni. Banyak ulama Suni itu orang Persia,” kata Bastian. Mayoritas orang di Persia, kata Bastian , sebelum menjadi Syiah, menganut maz h ab Syafi’i dan Hanafi. Orang Indonesia akhirnya pun banyak merujuk pada ilmuan Persia, seperti Al-Ghazali.

  • Tembok Tebal Bernama Sudarno

    KABUT duka kembali menghinggapi persepakbolaan Indonesia pekan ini. Sudarno, salah satu kiper legendaris Persija dan Timnas Indonesia, berpulang. Dedikasinya pada sepakbola dikenang tak hanya oleh klub berjuluk Macan Kemayoran itu tapi juga oleh PSSI. Sudarno mengembuskan nafas terakhirnya pada Rabu (3/2/2021) dalam usia 64 tahun. Hingga tulisan ini dimuat, belum diketahui penyebab wafatnya kiper era 1970-an itu. “Innalillahi wa innailaihi rojiun. Keluarga besar Persija mengucapkan bela sungkawa atas berpulanganya salah satu mantan penjaga gawang Tim Nasional dan Persija era Perserikatan, Sudarno. Doa terbaik untuk almarhum dan keluarga yang ditinggalkan,” demikian pernyataan Persija di akun Twitter -nya @Persija_Jkt . Ketua Umum PSSI Komjen Pol. Mochamad Iriawan alias Iwan Bule melayangkan ungkapan dukanya di akun Twitter -nya, @iriawan84 . “Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Sudarno (Legenda Penjaga Gawang Timnas). Semoga almarhum mendapat tempat yang mulia di sisiNYA dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran,” cuitnya. Sepenelusuran Historia, hanya sedikit sumber yang menyebutkan bagaimana kiper kelahiran 1953 itu pertamakali terjun ke persepakbolaan nasional. Hanya jamak diketahui, sebelum berdiri di bawah mistar Persija, Sudarno acap jadi andalan PS Jayakarta, satu klub yang acap jadi langganan juara di kompetisi Divisi I Persija. Menjelang kompetisi Perserikatan 1975, nama Sudarno turut dipanggil untuk memperkuat Persija. Diungkapkan Ario Yosia dkk. dalam Gue Persija , Sudarno bersaing dengan tiga kiper lain dari delapan klub yang dinaungi Persija, yakni: Husein (Hercules), Ronny Pasla (UMS), dan AA Rake (Angkasa). Jayakarta sendiri jadi klub penyumbang pemain terbanyak tim yang diasuh Sinyo Aliandoe itu, terdiri dari: Sudarno, Sutan Harhara, Sofyan Hadi, Iswadi Idris, dan Anjas Asmara. Di awal kompetisi, Sudarno berposisi sebagai kiper cadangan pertama. Pelatih Sinyo Aliandoe masih memilih Ronny Pasla sebagai kiper utama. Namun itu berubah begitu Persija menginjak babak delapan besar. “Berlangsung di Stadion Senayan jelas keuntungan buat Persija sebagai juara bertahan. Namun di luar dugaan, Persija kalah dari Persipura dengan skor ‘wah’ 2-4. Gara-gara hasil pertandingan mengecewakan, posisi kiper utama Ronny Paslah berpindah ke tangan Sudarno,” tulis Ario. Susunan pemain Persija di final Perserikatan 1975 dengan Sudarno di bawah mistar gawangnya ( Gue Persija ) Sudarno tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia jadi tembok tebal bagi Persija. Salah satu penyelamatan fenomenalnya ialah kala Persija bersua Persebaya di babak semifinal, 6 November 1975. Meski Persija terbilang mendominasi, sesekali tim “Bajul Ijo” punya peluang membahayakan. “Persebaya sesekali mengancam gawang Persija yang dikawal Sudarno. Satu peluang emas, yakni saat Waskito tinggal berhadapan dengan kiper Sudarno. Tendangan Waskito berhasil ditinju Sudarno,” imbuh Ario. Persija pun melaju ke final berbekal kemenangan 2-0 atas Persebaya itu. Nama Sudarno kembali diplot sebagai pengawal mistar utama di partai puncak yang mempertemukan Persija kontra PSMS. Laga tersebut menjadi bersejarah karena jumlah penonton yang hadir di Stadion Utama Senayan mencapai 125 ribu penonton. Partai sengit itu bikin Sudarno pontang-panting di bawah mistar. Ia bahkan kebobolan ketika PSMS membuka gol lewat kaki Parlin Siagian di menit ke-10. Persija baru terselamatkan oleh gol penyama kedudukan lewat sundulan Sofyan Hadi. Namun, laga kedua tim berujung ricuh hingga diputuskan Persija dan PSMS menjadi juara bersama. Namun, posisi kiper utama itu beralih lagi ke tangan Ronny Pasla kala Persija menjalani kompetisi Perserikatan 1978. Pelatih asal Polandia Marek Janota lebih memilih Ronny Pasla ketimbang Sudarno, yang kembali dipanggil ke tim sebagai kiper cadangan. Kendati begitu, Sudarno tetap dipanggil ke Timnas PSSI meski Ssaat itu banyak kiper hebat, baik kiper muda maupun veteran yang masih aktif. Namun beruntung bagi Sudarno, PSSI saat itu membentuk banyak tim untuk mengikuti beragam kompetisi resmi maupun non-resmi, seperti Merdeka Games atau King’s Cup. Sebagaimana dikutip dari Kiprah Sepak Bola Nasional Menerobos Piala Dunia , PSSI pada 1978 punya dua tim, yakni PSSI Utama dan PSSI Pratama. Sementara Ronny Pasla dipanggil ke tim PSSI Utama untuk Merdeka Games, Sudarno  dipanggil ke tim PSSI Pratama untuk berlaga di Pra Piala Asia Grup III di Bangkok, 1-14 Mei 1979. Sudarno bersaing dengan Novrizal Chai dan Purwono dalam memperebutkan posisi itu. Tersandung Suap? Namun kiprah Sudarno sempat tercoreng oleh urusan luar lapangan. Ditengarai, ia dan beberapa pemain timnas tersandung kasus suap. Tepatnya kala memperkuat PS Jayakarta di kompetisi semi-pro Galatama I musim 1979-1980. Galatama dihelat sebagai kompetisi profesional pertama yang banyak tim pesertanya  berada di bawah naungan klub-klub Perserikatan. Untuk mewakili Jakarta, ada Indonesia Muda, Warna Agung, Tunas Inti, Arseto, Perkesa ’78, Cahaya Kita, dan Buana Putra. Sebelumnya semua klub itu berlaga di kompetisi Persija Divisi I. Sudarno kembali ke Jayakarta untuk tampil di Galatama I. Mirisnya, Galatama turut dicengkeram perjudian bola dan skandal suap. Tak hanya melibatkan klub-klub besar seperti Perkesa, Mercu Buana, hingga Warna Agung yang keluar sebagai juara perdana, namun juga sejumlah pemain timnas. Tak terkecuali Sudarno. Sebagaimana disitat dalam buku Kisah Panjang Suap Sepakbola Indonesia , nama Sudarno turut didengungkan kala seorang whistleblower dengan nama samaran Eddy “bernyanyi” di media hingga menarik perhatian PSSI. Eddy disebutkan seorang karyawan Telkom Tanjung Karang cum salah satu pembina tim Provinsi Lampung untuk cabang sepakbola PON X 1981. Mayoritas anggota tim Lampung yang tengah dipersiapkan untuk PON saat itu berasal dari klub Jaka Utama. Jaka Utama sering kalah tak wajar di Galatama, termasuk kalah dari Indonesia Muda dan Jayakarta yang keluar sebagai runner-up Galatama I. Eddy yang heran atas kekalahan tak wajar Jaka Utama, pada suatu malam menyadap sebuah sambungan telepon interlokal seorang bandar judi bernama A Hong di Tanjung Karang dengan Sudarno di Jakarta. “Dalam pembicaraan itu, A Hong ditagih oleh pemain nasional Sudarno untuk segera mengirimkan uang Rp.4 juta yang telah disetujui lewat Budi Santoso dari Jaka Utama. Saya kecewa betul melihat permainan anak-anak Jaka Utama yang juga menjadi pemain inti tim PON X Lampung. Saya sudah curiga mereka disogok. Cuma saya tak punya bukti (sebelumnya),” aku Eddy. Sudarno (kedua dari kiri) di Skuad Timnas PSSI. ( indonesianjuniorleague.com ). Setelah mendapatkan bukti, Eddy mengadukan hasil penyadapannya ke pemilik Jaka Utama sekaligus penanggungjawab tim PON X Lampung, Marzuli Waranegara. Dari Marzuli, laporan itu diteruskan ke Gubernur Lampung Yasir Hadibroto dengan tembusan ke PSSI. Sayangnya PSSI seolah tutup mata. Eddy akhirnya memutuskan untuk buka suara ke media massa. Dari pengakuan Eddy, para pemain Jaka Utama yang terlibat dalam skandal dengan tukang judi A Hong itu adalah Budi Santoso, Bujang Nasril, M. Asyik, serta pemain lain, Sudarno (Jayakarta), dan Haryanto (Tidar Sakti). Akan tetapi tetap saja beberapa nama itu terlepas dari jeratan hukum, kecuali untuk sang bandar judi A Hong yang diciduk, diadili, dan dibui. “Hukuman PSSI tetap ada, bahkan bisa lebih berat daripada yang dijatuhkan klub. Tergantung persoalannya. Namun Bujang Nasril, Sudarno, dan Haryanto adalah pemain nasional,” ujar juru bicara PSSI Uteh Riza Yahya. Sejak saat itu, nama Sudarno mulai tenggelam dan tergantikan oleh kiper-kiper muda. Setelah gantung sarung tangan awal 1990-an, Sudarno memilih menjadi pelatih. Disitat dari laman Indonesia Junior League (IJL) , Rabu (3/2/2021), Sudarno lebih dulu membantu timnas sebagai staf pelatih kiper pada periode 2002-2007 dan 2008-2010, untuk kemudian menghabiskan masa senjanya dengan mencari bibit-bibit masa depan di Indonesia Muda, klub yang turut berkompetisi di IJL. “IJL sangat kehilangan dan turut berbelasungkawa atas wafatnya coach Sudarno. Semoga ada generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan Mbah Darno dari bawah mistar gawang. Selamat jalan, legenda,” tandas CEO IJL Rezza Mahaputra Lubis.

  • Kisah Lucu di Tengah Liburan Bung Karno Bareng Pelukis

    Tak lama setelah Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dibentuk pada 1943, pelukis Sudjojono dipanggil Bung Karno, satu dari Empat Serangkai yang menjadi pemimpin PUTERA. Sudjojono diminta Bung Karno membantunya di lembaga era pendudukan Jepang itu. “Mas Djon ditarik bekerja di PUTERA oleh Bung Karno, yang telah mengenalnya melalui karikatur-karikaturnya di harian Pikiran Rakyat,”  kata Mia Bustam, istri Sudjojono, dalam memoar berjudul Sudjojono   dan Aku . Di lembaga yang bertugas untuk menghimpun segenap potensi bangsa Indonesia guna mendukung kepentingan Perang Asia Timur Raya itu, Sudjojono ditempatkan di Bagian Kesenian. “Bagian Seni PUTERA diketuai oleh mantan anggota PERSAGI, Sudjojono, bersama Agus Djaja, Otto Djaja, Suromo, dan Kartono Yudhokusumo,” tulis M. Dwi Marianto dalam Surealisme Yogyakarta . Tugas Sudjojono, sebagaimana diminta Bung Karno, menarik para pelukis yang tidak tergabung ke dalam Keimin Bunka Shidoso (Badan Kebudayaan) masuk ke Bagian Kesenian di PUTERA. Salah satu pelukis yang ditariknya bergabung ke PUTERA adalah Affandi. Hubungan para pemimpin PUTERA dan anggota sangat cair. Terlebih Bung Karno, sangat karib dengan para anggota yang seniman. "Sejak tahun ’35-an Bung Karno sudah menjalin hubungan dengan seniman, khususnya dengan pelukis," tulis Iman Toto K. Rahardjo dalam  Bung Karno, Bapakku, Guruku, Sahabatku, Pemimpinku: Kenangan 100 Tahun Bung Karno . Seingat Mia, Bung Karno kerap mengundang para pelukis ke rumahnya di Pegangsaan. Di masa pendudukan Jepang, ketika Bung Karno mendapatkan rumah peristirahatan di daerah Tugu, Puncak, Bogor, para pelukis kerap diundang berlibur ke sana.  Vila bekas milik Profesor Reddingius itu dinamakannya Pesanggrahan Kiara Payung. Di tangan Bung Karno, vila itu diperindah dengan taman yang dirancang menurut selera seninya. “Alangkah indah taman bunga itu ditatanya. Selera Bung Karno memang sangat artistik. Di taman Bung Karno semua tumbuhan perdu dibiarkan tumbuh alamiah. Hanya jika perlu saja di sana-sini dipangkas, sekadar untuk pantas-pantas. Semuanya dicampur menjadi satu, tumbuh bersama. Anyelir, margrit, pensee, verbena, gerbera, aster . Semuanya dicampur, tapi juga tidak terkesan ngawur. Tinggi rendah tanaman masing-masing diperhatikan, demikian juga perpaduan warna-warninya dibuat serasi. Di taman ini mataku benar-benar berpesta,” kata Mia mengenang keindahan taman hasil rancangan Bung Karno itu. Ke vila itulah Bung Karno mengundang para pelukis berlibur di tahun 1944. Selain Sudjojono dan dirinya, seingat Mia, yang diundang Bung Karno antara lain Tjiroto, Ernest Dezentje, dan beberapa pelukis yang Mia lupa namanya.  Selepas makan malam, di dekat perapian mereka dijamu Bung Karno musik kecapi yang penampilnya selalu ditanggap Bung Karno setiap kali beristirahat di sana. Setelah kroket yang dibuat Fatmawati dan Mia sebagai hidangan teman ngobrol disajikan, Dezentje pun mulai bercerita. “ Zus Fat meringkuk di dipan, mendengarkan Dezentje bercerita macam-macam. Ia memang pandai mendongeng,” kata Mia. Dezentje merupakan pelukis pengusung “Mooie Indie”. Ia, sebagaimana ditulis Aoh Kartahadimadja dalam Beberapa Paham Angkatan ’45 , pernah meraih medali emas dalam pameran di New York. “Ernest Dezentje lahir di Jatinegara, Jakarta pada 17 Agustus 1885 dari sebuah keluarga kaya. Ayahnya merupakan Belanda keturunan Prancis, ibunya seorang Indonesia keturunan Belanda. Dia baru mulai melukis di usia 30-an tahun,” tulis Agus Dermawan T dalam A Collector’s Journey: Modern Painting in Indonesia .   Cerita Dezentje sukses membuat Fatmawati larut ke dalamnya. Bahkan, Fatmawati sampai meringkuk ke dalam selimut ketika mendengarkan cerita seramnya. Esok paginya, usai menikmati kopi pagi para tamu diajak Bung Karno ke Telaga Warna. Hanya Fatmawati dan Mia yang tidak diajak karena keduanya sedang hamil. Momen itu kemudian digunakan Fatmawati untuk menyiapkan sarapan. Ditemani Mia, Fatmawati membuat nasi goreng. Namun belum lagi proses memasak itu selesai, suara Bung Karno mengatakan “tamu-tamumu sudah lapar” terdengar dari dapur. Fatmawati pun menjawab agar menunggu sebentar. “Nasi gorengnya kurang asin,” kata Fatmawati yang langsung menaburkan garam ke dalam penggorengan. “Apa tidak perlu dihaluskan dulu, Zus ?” kata Mia yang bingung kepada Fatmawati. “Apa tidak bisa hancur sendiri?” kata Fatmawati balik bertanya. Begitu selesai, nasi goreng pun dihidangkan. Para tamu menikmatinya tanpa suara. Selain lapar di tengah hawa yang dingin itu, mereka lelah usai berjalan ke telaga. Namun tak berapa lama kemudian, suara Bung Karno memecah santap pagi yang tenang itu. “Waduh! Apa ini kok garam masih utuh?” kata Bung Karno.

  • Akhiri Ganyang Malaysia Lewat Belakang

    Waktu menjabat Konsul Jenderal RI di Singapura, Soegih Arto pernah mengantarkan seorang perempuan ke Jakarta. Nyonya Felice Leon Soh, perempuan paruh baya warga Singapura itu mengaku ingin bertemu Presiden Sukarno. Atas bantuan Menteri Luar Negeri Soebandrio, pertemuan itupun dapat terjalin. Nyonya Felice Leon Soh mengenakan baju Malaya berwarna merah menyolok. Pembicaraan dengan Bung Karno berlangsung selama setengah jam. “Bagi Nyonya Felice pertemuan dengan Bung Karno merupakan pengalaman yang tidak akan dapat dilupakan selama hayat dikandung badan,” kenang Soegih Arto dalam  Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto.   Si nyonya rupanya terkagum-kagum dengan pesona Sukarno. " What a great man and he is so charming ," kata Leon Soh kepada Soegih Arto. Kesan senada sayangnya tidak berlaku bagi Bung Karno. Ketika Soegih Arto hendak pamit, Bung Karno bercanda dalam bahasa Jawa, “ Mbok nek gawa wong ki sing enom tur ayu (kalau membawa seseorang, bawalah yang muda dan cantik).” Kendati demikian, Sukarno puas juga dengan pertemuan itu. Dia memerintahkan Soegih Arto untuk selalu berhubungan dengan Nyonya Felice Leon Soh. Felice Leon Soh adalah wanita pebisnis warga negara Singapura sekaligus politisi yang berasal dari Singapore Partij. Kelak, pada 1964, ketika konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia memanas, Nyonya Felice Leon Soh inilah yang berperan menjadi perantara untuk misi Soegih Arto. Misi rahasia tersebut merupakan perintah Sukarno untuk menghentikan konfrontasi lewat jalur belakang. Sukarno secara senyap mengutus Soegih Arto berunding dengan Kementerian Luar Negeri Kerajaan Inggris. Menembus Pihak Inggris Dengan bekal sangu sebesar US$350, Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris, Prancis. Di Paris, Ny. Leon Soh telah menanti. Kepadanyalah segala keperluan Soegih Arto akan diurus, termasuk soal saluran diplomatik. Setibanya di London, tutur Soegih Arto, yang ada hanya seorang Kuasa Usaha. Orang ini pernah bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Indonesia. Soegih Arto meminta kepadanya dibuatkan teks bahasa Inggris yang akan digunakan sebagai bahan perundingan. Pertemuan itu telah diatur sedemikian rupa oleh Ny. Leon Soh sehingga Soegih Arto tidak perlu buang waktu lebih banyak.  Soegih Arto kemudian dipertemukan dengan seseorang bernama Mr. Silver (entah nama sebenarnya atau nama samaran) di salah satu restoran pilihan Ny. Leon Soh. Kejutan terjadi ketika Mr. Silver menertawakan niatan Soegih Arto. Dia mengatakan bahwa Indonesia sudah kelabakan sampai harus meminta-minta Inggris menyelesaikan konfrontasi. Kendati demikian, Mr. Silver berjanji untuk menyampaikan masalah itu kepada atasannya dan akan memberikan jawaban secepatnya. Sekira 2-3 hari Soegi Arto menanti. Jawaban dari pihak Inggris maupun Mr. Silver tidak kunjung datang. Lantaran kesal, Soegih Arto kembali ke Indonesia. Ini berarti bahwa Inggris telah menolak gagasan Sukarno. Menanggapi misi Soegih Arto tersebut, menurut peneliti politik UGM Hidayat Mukmin, kemungkinan pihak Inggris punya banyak pertimbangan. Bisa jadi Inggris menilai pemerintah Indonesia tidak sungguh-sungguh dengan gagasan penyelesaian konfrontasi. Lobi ini ditafsirkan pula sebagai tanda kapitulasi Indonesia menyerah kalah mengganyang Malaysia. “Atau Inggris justru ingin memberikan ‘pelajaran’ kepada Indonesia,” tulis Hidayat Mukmin dalam disertasinya yang dibukukan TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia .     Melacak Jejak Sejarah Versi lebih gamblang mengenai misi Soegih Arto diteliti oleh sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti dalam disertasinya. Menurut Linda, dalam dokumen Kementerian Luar Negeri Inggris ( Foreign Office  ) terdapat beberapa keterangan tentang seorang utusan Sukarno yang datang untuk melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan mengakhiri konfrontasi. Dalam penelitian Linda terlihat Ny. Leon Soh berperan lebih jauh sebagai penghubung antara Indonesia dan Inggris. Pada 14 Oktober 1964, Leon Soh menghubungi Sir N. Pritchard dari Kementerian Luar Negeri Inggris. Leon Soh menjelaskan bahwa Indonesia masih berminat menyelesaikan konfrontasi melalui perundingan. Leon Soh kemudian meneruskan pesan Sukarno yang disampaikan kepada Soegih Arto. Sekiranya Inggris membantu Indonesia menyelesaikan konfliknya dengan Indonesia, Sukarno berjanji akan mengembalikan semua aset Inggris yang dinasionalisasi, termasuk ganti rugi. Leon Soh mengemukakan dua alternatif untuk mengakhiri konfrontasi. Pertama, mengadakan pemungutan suara di Sabah dan Serawak, setelah itu Sukarno akan menerima putusan referendum tersebut. Alternatif selanjutnya adalah dengan mengadakan pertemuan puncak antara pimpinan Indonesia, Malaysia, dan Inggris, setelahnya kantor konsulat akan dibuka di masing-masing negara. Sejajar dengan itu, Indonesia akan menarik mundur tentaranya dan mengakhiri konfrontasi. Bagaimana reaksi pihak Inggris? Dalam catatan arsip Inggris yang dikutip Linda, Pritchard menegaskan bahwa posisinya hanya mendengarkan. Selanjutnya, dia akan melaporkan kepada pemerintahnya dan bila diperlukan akan meminta pertimbangan Malaysia. Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris memberitahukan adanya pertemuan antara Leon Soh dan Pritchard kepada Wakil Komisaris Tinggi Malaysia di London. Namun, perdebatan alot justru terjadi di Kementerian Luar Negeri Inggris.    Felice Leon Soh. Sumber: Singapore Press Holdings. “Kementrian Luar Negeri Inggris ternyata tidak begitu terkesan dengan penampilan Leon Soh, bahkan menilainya sebagai tipikal oportunis,” ungkap Linda dalam disertasinya “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Sementara itu tawaran Sukarno mengembalikan aset Inggris dinilai sebagai sebuah tawaran yang naif. Mengenai rencana pertemuan puncak, pihak Inggris menanggapinya sebagai alat untuk membuktikan tuduhan Sukarno bahwa Malaysia adalah boneka Inggris. Apalagi Kementerian Luar Negeri Inggris menerima masukan dari Andrew Gilchrist, duta besar Inggris di Jakarta yang tidak begitu yakin akan ketulusan Sukarno. Pada intinya, pihak Inggris meragukan niat baik pemerintah Indonesia. Perbincangan inilah yang menyebabkan Soegih Arto menanti jawaban yang tidak kunjung datang. Dalam otobiografinya, Soegih Arto mengakui misinya menuai kegagalan. Malahan dirinya merasa dipermalukan dengan sikap orang Inggris itu. “Usaha saya gagal seperti itu juga kegagalan yang saya alami dalam usaha membeli Irian Barat,” kata Soegih Arto. Pernyataan Soegih Arto, kata Linda, memang diperkuat dengan dokumen-dokumen milik Inggris yang menyatakan adanya utusan Sukarno yang bernama Soegih Arto dan Leon Soh. Menurut Hidayat Mukmin, kesediaan Sukarno untuk berunding dengan Inggris tidak perlu ditafisrkan sebagai kelemahan. Sebagai ahli politik kawakan, Sukarno sejatinya telah melepaskan balon percobaan. Dengan mengutus Soegih Arto ke London, Sukarno dapat mengetahui siapa sebenarnya yang menjadi penentu dalam Federasi Malaysia. Selain itu, Sukarno ingin menjajaki sejauh mana Inggris bersedia berkompromi. “Apabila rakyat memang menginginkan rujuk dengan menyelesaikan konfrontasi secara cepat, Sukarno pun telah siap sedia,” ungkap Hidayat. Di balik seruan garang “ganyang Malaysia”, Sukarno sejatinya ingin menyelesaikan konfrontasi secara terhormat tanpa kehilangan muka. Namun, karena pihak Inggris belum menanggapinya dengan serius, Sukarno mengerahkan saluran-saluran diplomatik non formal yang lain. Sementara itu, tentara yang dipimpin Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani pun mempersiapkan operasi khusus intelijen untuk kepentingan yang sama. Salah satunya adalah misi rahasia Jenderal S. Parman. (Bersambung)

  • Mata Uang Emas di Nusantara

    Transaksi jual beli menggunakan koin emas di Depok, Jawa Barat, berbuntut panjang. Polisi menahan Zaim Saidi, pendiri pasar Muamalah. Menurut polisi, Zaim terkena dua pasal pidana: Pasal 9 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Transaksi jual beli memakai uang emas telah lama jarang terjadi di Indonesia. Kalaupun ada, aktivitasnya terbatas pada kelompok kecil masyarakat. Tapi secara historis, transaksi jual beli dengan uang emas pernah marak semasa kerajaan Hindu-Buddha dan kesultanan Islam pada abad 8-17 M. Penggunaan emas sebagai alat pembayaran paling jamak berlangsung di wilayah Sumatra. Sebab, di sini banyak tambang emas. “Sumber Arab paling kuno yang berkaitan dengan Asia Tenggara, Akhbar al-Sin wa-l-Hind (851 M) mencatat bahwa tambang-tambang emas ditemukan di wilayah tersebut,” ungkap Claude Guillot dkk. dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu. Baca juga:  Merentang Sejarah Uang Saking banyaknya tambang emas, Sumatra disebut Suvarnadipa atau Suvarnabhumi. Tome Pires, pelaut Portugis yang hidup pada abad ke-15, menguatkan sebutan itu. “Dalam pengembaraannya di Sumatra, Tome Pires, sepertinya melihat emas di mana-mana di pulau ini,” lanjut Guillot. Pires menjelaskan dalam bukunya, Suma Oriental , emas tersua di barat Sumatra, Kerajaan Pirada, Aru, Arcat, Rokan, Purim, Siak, Jambi, Minangkabau, Palembang, Panah Malaio, Sekampung, dan Tulang Bawang. Di semua wilayah itu, emas berfungsi sebagai perhiasan keluarga kerajaan dan alat pembayaran.   Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi depan. Ketiganya bermotif bunga Cendana seperti motif mata uang perak di Jawa. (Repro  Barus Seribu Tahun yang Lalu) Uang emas berbentuk lingkaran dengan ukuran dan motif ukiran yang beragam. Tergantung dari mana dan kapan uang emas itu berasal. Misalnya di Barus, uang emasnya terdiri atas empat ukuran berbeda: kecil, sedang, besar, dan besar sekali. Selain itu, ada pengaruh Jawa yang kuat dalam mata uang emas Barus. “Mata uang emas dari Barus memakai jenis bunga cendana yang ada pada mata uang perak di Jawa,” catat Guillot. Baca juga:  Emas Kegemaran Bangsawan Jawa Pengaruh ini kemungkinan berpangkal dari hubungan dagang Barus (masa Lobu Tua) dan Jawa antara pertengahan abad ke-9 dan akhir abad ke-11. Sementara itu di Samudra Pasai, uang emasnya menggunakan huruf Arab. Tak ada keterangan angka tahun keluar, tetapi tampak nama sultan yang tengah berkuasa ketika uang emas itu dikeluarkan. “Bentuknya kecil dengan garis tengah kira-kira 10 mm,” tulis Ninie Soesanti Yulianto dan Irmawati M. Johan dalam Mata Uang Kuna di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sejarah Ekonomi Abad 9–17 Masehi. Nama mata uangnya drama . Meski berbeda ragam ukiran dan ukuran, mata uang emas di Sumatra berasal dari dua tambang emas besar: Lebong dan Minangkabau. Dua daerah ini sohor sebagai penyuplai emas ke berbagai wilayah Sumatra dan luar Sumatra, termasuk ke Jawa. Kualitas emas di sini lebih baik daripada emas di wilayah lain. Baca juga:  Uang Aceh Tak Pernah Lemah Ekspor emas ke Jawa ini untuk memenuhi kebutuhan emas yang tinggi di Jawa. Uang emas memang banyak beredar di Sumatra, tetapi Jawa lebih dulu menggunakan uang emas untuk alat pembayaran dagang dan denda pada masa Mataram Kuno abad ke-8 M. “Semua pelanggaran hukum dikenai denda dalam bentuk mata uang emas yang besarnya disesuaikan dengan berat ringannya tindak pidana yang dilakukan,” ungkap Irmawati Marwoto dalam Peranan Mata Uang di Beberapa Wilayah Indonesia pada Sekitar Abad ke-13–17 M. Contoh mata uang emas Barus berusia lebih dari seribu tahun pada sisi belakang. Nomor 1 dan 2 bermotif aksara tulisan dewanagari, sedangkan nomor 3 agak kabur.. (Repro  Barus Seribu Tahun yang Lalu) Yang unik, para pekerja tambang emas di Sumatra dipelopori oleh orang-orang India. “Orang dari India Selatan –kita sudah mengetahui bahwa masyarakat yang berasal dari India Selatan tinggal di Lobu Tua– telah lama menguasai teknik-teknik pertambangan di wilayah mereka sendiri,” catat Guillot. Baca juga:  Uang Kuno bukan Sembarang Uan Untuk memperoleh emas, para pekerja tambang harus bekerja keras. “Kerja menambang emas sangat melelahkan, sangat berbahaya, dan banyak dilanda penyakit,” terang Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680. Setelah memperoleh emas, tukang cor mencetaknya dengan cetakan dari terakota. Ini untuk uang emas yang beredar di Barus. Sedangkan untuk wilayah lain, emas dikirim tanpa dicetak. Dengan demikian, orang India menjadi mata rantai tak terpisahkan dalam suplai bahan uang emas di wilayah Sumatra dan Jawa. Meski penggunaan uang emas marak di Sumatra dan Jawa, penggunaannya di pasar untuk kebutuhan sehari-hari sangat sedikit. “Koin emas dan perak terlalu tinggi untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di pasar,” tulis Erwien Kusuma dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Penggunaan uang emas lazimnya untuk pembayaran barang dan denda dalam jumlah besar, pajak tanah, hadiah, dan ritual dalam kuil. Tak jarang pula uang emas menjadi jimat berkekuatan magis. Seiring tumbuhnya perdagangan rempah dan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara pada abad ke-17, penggunaan uang emas semakin terbatas pada beberapa kesultanan dan transaksi. Orang lebih banyak menggunakan uang picis atau uang koin Tiongkok.   Baca juga:  Pulau Emas di Barat Nusantara

  • Ketika Pelukis Sudjojono Angkat Senjata

    DARI tempat pengungsiannya di Desa Bogem, Prambanan, Yogyakarta, Sudjojono berkunjung ke kota Yogyakarta sekira tanggal 16 atau 17 Desember 1948. Kepergian “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia” ke ibukota republik itu adalah untuk membicarakan persiapan pameran tunggalnya. “Sebanyak 45 buah lukisan akan dipamerkan seluruhnya. Sebagian dari zaman PERSAGI, sebagian dari zaman Jepang, sebagian dari Biro Perjuangan, dan sebuah dua yang dibuatnya di Bogem,” ujar Mia Bustam, istri Sudjojono, dalam memoar berjudul Aku dan Sudjojono . Namun, pameran tersebut batal dilaksanakan karena pada 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Kedua dan menduduki Yogyakarta. Lukisan-lukisan Sudjojono yang bakal dipamerkan sendiri musnah ketika disembunyikan. “Lukisan itu disimpan, kemudian ditemukan dan dihancurkan oleh tentara-tentara Belanda, ditembak-tembak,” kata Dosen FSRD ITB Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah di Historia  bertajuk “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya, 21 Juli 2020. Sudjojono baru berhasil berkumpul kembali dengan keluarganya pada 20 Desember. Mereka lalu mengungsi ke Desa Kragan di utara Bogem malam itu juga. Di sana mereka ditampung Dirjo Pawiro yang menjabat sebagai Kamitua desa. Di rumah itu pula kemudian bermarkas sepasukan Tentara Pelajar (TP). Di utara Kragan, terdapat markas Militaire Academie (MA) atau Akademi Militer Yogyakarta (AMY). Pada suatu malam, para kadet MA bergabung dengan para prajurit TP merencanakan penyergapan markas Belanda di Bogem. Mengetahui rencana itu, Sudjojono ikut bergabung. “Mas Djon ikut bersama mereka, membawa sepucuk karaben pasukan MA yang tersisa. Ia pamit padaku, muncul dengan berikat kepala. Aku tertawa geli melihatnya. Ia lebih mirip penari ngremo, yang tampil membuka lakon di panggung ludruk, ketimbang seorang gerilyaawan yang siap bertempur,” kenang Mia. Sudjojono bukan satu-satunya seniman yang ikut angkat senjata. Dalam Perang Kemerdekaan, banyak seniman yang ikut angkat senjata. Meski tak semua bertempur, mereka berjuang dengan beragam cara, seperti menjadi telik sandi, pendukung kerja teknis, atau penghibur. Selain Sudjojono, seniman-seniman di Yogya yang ikut angkat senjata antara lain pelukis Haryadi dan pelukis Supono. “Supono harus mondar-mandir dari desa ke kota atau sebaliknya. Dalam mondar-mandir dari desa ke kota atau sebaliknya itu, dia melukis bersama Moh. Affandi sebuah jembatan yang sering mereka lalui telah hancur karena diledakkan sendiri oleh pasukan gerilya,” tulis Tashadi dalam Partisipasi Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan Daerah Istimewa Yogyakarta . Setelah berpesan kepada bapaknya, Sindudharmo, agar menjaga anak-istrinya, Sudjojono pun berangkat. Di tengah perjalanan, Sudjojono baru mengetahui bahwa Pak Sindu ternyata ikut serta dalam penyergapan itu dengan berbekal golok dan granat gombyok –granat buatan sendiri berupa bahan peledak yang dimasukkan ke dalam bumbung dan diujungnya diikatkan seutas tali. Sudjojono jelas tak bisa melarangnya apalagi marah. Sudjojono tahu bapaknya memendam kesumat terhadap Belanda sejak masih menjadi kuli kontrak di sebuah perkebunan di Sumatera Utara. Perlawanan dilakukan para gerilyawan dengan cara hit and run . Saat malam, mereka menyerang dan ketika siang mereka menghilang. “Serangan terbatas secara sporadis dilakukan oleh gerilyawan di sekitar kota Yogya, penghadangan konvoi Belanda di jalan raya dan penyergapan pos Belanda yang terpencil,” tulis buku berjudul Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta: Latar Belakang dan Pengaruhnya . Akibatnya, Belanda kerepotan dan mengamuk. Desa-desa di sekitar wilayah penyerangan biasanya langsung “dibersihkan”. Sasaran yang dipilih pasukan Belanda seringkali asal. Penduduk acap menjadi korban. Terlebih bila yang melakukan serangan adalah pesawat “cocor merah” Mustang. Pos PMI di Sleman Timur bahkan tak luput jadi sasaran serangan itu. “Selama Januari dan Pebruari 1949 musuh aktif melancarkan penyerbuan dan pembersihan di bagian-bagian selatan, mulai dari Yogya dan Maguwo –Prambanan sampai ke onderdistrik-onderdistrik Bantul yang terselatan,” tulis AH Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Perang Gerilya Semesta II . Suatu kali, Gufron Dwipayana –kelak menjadi brigadir jenderal dan memimpin Perusahaan Produksi Film Negara– dari TP kembali ke desa dengan sedih. Sebelas kawannya gugur dimangsa pesawat Belanda, katanya. “Di tengah sawah itu terjadi. Aku sendiri selamat, tapi tak bisa apa-apa, karena aku membenamkan diri di lumpur,” kata Dwipayana, dikutip Mia yang ikut menangani dapur umum di Kragan. Kendati begitu, para pejuang Indonesia tidak pernah menyerah. Meski serangan dari kedua belah pihak sempat mereda pada Februari-Maret, pertempuran kembali sengit pada April. Belanda kembali “kalap”, terlebih setelah kota Yogya diserang dalam Serangan Umum. Pada 11 April 1949. Sleman Timur, termasuk Kragan di dalamnya, dibombardir dari segala penjuru. Sudjojono segera pulang untuk menyelamatkan sketsa-sketsanya dan dokumen-dokumen penting miliknya. Setelah selesai menyelamatkan barang-barang berharganya, dia kembali kabur bersama Gulam Mohamad, desertiran pasukan Sekutu-Inggris, dan Pak Sindu. Mereka pulang pada petang hari. Mia bersama ketiga anaknya mengantar sampai ke perbatasan desa. Mereka lalu kembali pergi. Sudjojono membawa sketsa-sketsanya, Pak Sindu membawa dokumennya, dan Gulam membawa buntalan yang isinya hanya dia yang tahu. Mereka berlarian di bawah hujan tembakan lawan. Di jalan yang agak menanjak dan terbuka, Gulam masuk ke parit di tepi kanan jalan sementara Sudjojono dan Pak Sindu terus berlari. Dalam pelarian itu, tiba-tiba Sudjojono mendengar bapaknya berkata tertembak dan kemudian menutup matanya dan roboh. Tubuh Pak Sindu langsung dibalikkannya. Meski tak banyak mengeluarkan darah, dada Pak Sindu mengeluarkan suara aneh. Sudjojono langsung mencium sang bapak sambil berbisik lirih, “Pak, Bapak masih mendengar aku?” Pertanyaannya hanya berjawab anggukan lemah. Melihat kondisi kritis bapaknya, Sudjojono segera mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibawa Pak Sindu dan menciumnya. “Pak, Bapak terpaksa kutinggal di sini. Sket-sket dan dokumen ini harus aku selamatkan. Kalau Bapak haus, di kanan jalan ada parit. Airnya bening. Bapak bisa minum,” kata Sudjojono sebagaimana dikisahkan Mia. Lagi-lagi kalimat Sudjojono hanya berbalas anggukan lemah. Kondisi Pak Sindu kian kritis. “Pak, umpama Bapak mati, bukan mati konyol. Bapak mati berjuang melawan Belanda. Menyelamatkan dokumen juga perjuangan, Pak. Sudah, Pak. Selamat, Pak. Aku terpaksa dan harus cepat-cepat pergi,” Sudjojono melanjutkan percakapan. Setelah mencium kembali sang bapak, Sudjojono langsung berlari sambil sesekali tiarap menghindari peluru Belanda. Semak-semak di tepi jalan kerap dia jadikan sebagai tempat perlindungan dalam pelarian itu. Ketika sudah aman, Sudjojono kembali ke tempat ayahnya tertembak. Namun, dia tak mendapatkan yang dicarinya. Seseorang yang ada di sana lalu mendekati Sudjojono. “Pak Djon mencari Pak Sindu? Sudah dibawa ke Jolanan. Orang menemukan Pak Sindu telungkup di pinggir parit,” kata orang itu. Menjelang senja, Sudjojono tiba di rumah. Dengan sedih dia memberitahu istrinya. “Bapak telah gugur, Jeng. Kena tembak,” katanya pada sang istri Mia. “Aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ingatanku kembali pada beberapa hari lalu, ketika bapak kuantar dengan pandang mataku di batas desa. Bapak sangat mengasihi aku. Kuikuti dengan mata langkah-langkah bapak yang agak terbungkuk-bungkuk. Di tikungan jalan, Bapak dan Minah berhenti, sebentar menoleh sambil melambaikan tangan. Aku sama sekali tidak menangkap firasat, ketika itulah saat pertemuan kami terakhir dengan bapak,” kenang Mia.*

  • Soe Hok Gie, Politik, Gunung dan Puisi

    SELEMBAR “surat kaleng” sampai di rumah Soe Hok Gie senja itu. Isinya: permintaan agar aktivis mahasiswa UI tersebut berhenti melakukan kritik kepada pemerintah. Jika tak menuruti perintah tersebut, sang pengirim surat menjamin Hok Gie akan mati sia-sia. Mungkin itu akan terjadi di jalanan atau saat dirinya sedang lengah, ancamnya. “Cina yang tak tahu diri, lebih baik kau pulang saja ke negerimu saja!” demikian salah satu bunyi ancaman tersebut. Kepada sang kakak Soe Hok Djin alias Arief Budiman, Hok Gie menyatakan tak takut sedikitpun terhadap ancaman itu. Yang menjadi masalah justru dia tak jarang mengalami kebuntuan. Kendati hampir tiap waktu dia melancarkan kritik keras kepada pemerintah Orde Baru atau menelanjangi kecurangan-kecurangan yang ada di lingkungannya (UI), namun semua yang dilakukannya itu tak pernah digubris secara serius. “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir , apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya melakukan kritik kepada banyak  orang yang menurut saya tidak benar. Makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik saya tak pernah mengubah keadaan…Apakah ini bukan sejenis onani yang konyol? Kadang-kadang saya sungguh merasa kesepian,” ungkap Hok Gie seperti ditulis Arief Budiman dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demosntran. Biasanya jika kebuntuan melanda, Hok Gie memilih untuk “kabur” ke gunung. Menurut sahabatnya Rudy Badil, wilayah terdekat yang kerap didatanginya adalah Mandalawangi, suatu lembah yang terletak antara Gunung Pangrango dengan Gunung Gede. Di sana pemandangannya memang sangat indah. “Dia tidak sendiri. Biasanya ngajak gue  atau kawan-kawan lainnya sesama anggota MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam UI),” ujar lelaki tua yang mangkat pada 11 Juli 2019 itu. Soe Hok Gie dan gunung memang sulit dipisahkan. Sejak mendirikan MAPALA bersama kawan-kawannya di Fakultas Sastra UI pada 12 Desember 1964, Hok Gie terbilang sering mengorganisasi kegiatan pendakian ke berbagai gunung tinggi di Pulau Jawa. Selain Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Gunung Salak, Hok Gie pun tercatat pernah singgah di puncak Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Slamet dan Gunung Semeru. Puncak Gunung Semeru malah menjadi tempat terakhir Hok Gie menghembuskan napasnya. “Ya kalau di tahun 1960-an, pernah menaiki puncak gunung-gunung itu sudah bisa dikatakan prestasi yang hebat,” ungkap almarhum Rudy Badil dalam suatu wawancara dengan saya empat tahun yang lalu. Secara pribadi, Hok Gie sendiri memandang kegiatan naik gunung merupakan kegiatan yang “ideologis”. Hal itu dikatakannya saat dia menulis sebuah artikel berseri di surat kabar Kompas  pada 14-18 September 1967 berjudul “Menaklukan Gunung Slamet”. Diceritakan Hok Gie, setiap meminta sumbangan kepada para donatur pendakian tersebut, mereka selalu menjelaskan apa yang menjadi tujuan sebenarnya dari kegiatan mereka mendaki gunung: “Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan.  Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat…Karena itulah kami naik gunung.” Dalam artikel itu diceritakan soal perkenalan Hok Gie dan kawan-kawannya dengan seorang pemuda desa di kaki Gunung Slamet. Dalam obrolan akrab mereka, sang pemuda menanyakan tentang Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan situasi politik di Jakarta. Maka terjadilah diskusi yang menarik di antara anak-anak muda itu. Hok Gie memberikan penjelasan apa adanya. Dia menyatakan tanpa ragu bahwa Sukarno telah banyak menyengsarakan rakyat. Tetapi kata Hok Gie, itu tidak berarti bahwa para penentang Sukarno seperti sebagian aktivis KAMI, secara otomatis adalah pahlawan pembela rakyat. “Banyak di antara mereka juga adalah bajingan-bajingan dan oportunis,” ujar Soe Hok Gie. Saat mencapai puncak Gunung Slamet, Hok Gie dan kawan-kawan menemukan pemandangan yang sangat memukau: kawah yang mengepulkan asap belerang kuning kehijau-hijauan dan pasir-pasir vulkanik yang menghampar. Di pasir itu pula mereka menemukan batu-batu yang berjajar rapi dan membentuk nama-nama organisasi serta pribadi yang pernah mencapai tempat tersebut. Mereka pun melihat di antara tulisan-tulisan itu ada suatu deretan batu yang membentuk kalimat “Aku Pendukung Sukarno”. Merasa geram, beberapa kawan Hok Gie bermaksud untuk menghapusnya. Namun upaya itu dicegah oleh Hok Gie sendiri. “Saya katakan bahwa kita harus menghormati the right of dissent . Dan setiap orang berhak untuk setuju ataupun tidak setuju dengan Sukarno,” ujar Hok Gie. Gunung pun menjadi tempat perenungan pribadi bagi Soe Hok Gie. Tak jarang perenungan-perenungan itu diejawantahkannya dalam berbait-bait puisi. Salah satu puisi hasil perenungannya yang begitu romantik berjudul Mandalawangi-Pangrango yang dia tulis pada 19 Juli 1966, ketika demonstrasi-demonstrasi mahasiswa menentang Presiden Sukarno sedang marak-maraknya di Indonesia. Senja ini... Ketika matahari turun Ke dalam jurang-jurangmu Aku datang kembali Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu Dan dalam dinginmu Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan Dan aku terima kau dalam keberadaanmu Seperti kau terima daku Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada Hutanmu adalah misteri segala Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta Malam itu ketika dingin dan kebisuan Menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua “hidup adalah soal keberanian, Menghadapi yang tanda tanya Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar Terimalah, dan hadapilah” Dan antara ransel-ransel kosong Dan api unggun yang membara Aku terima itu semua Melampaui batas-batas hutanmu Aku cinta padamu Pangrango Karena aku cinta pada keberanian hidup Hari-hari terakhir menjelang kematiannya di atas Puncak Semeru, Hok Gie pun terbilang sangat aktif membicarakan sejarah kaum tertindas kepada kawan-kawannya. Rudy Badil masih ingat bagaimana pada suatu malam secara tiba-tiba, Hok Gie melengkingkan suara fales-nya saat mereka duduk berkerumun di depan api ungun. Dia melantunkan lagu We Shall Not Be Moved -nya The Seekers. “ Lu tau gak , lagu ini dinyanyikan oleh para demonstran penentang Perang Vietnam di Columbia University pada 1968,” tuturnya setelah usai menyanyikan lagu tersebut. Bisa jadi kegembiraan Hok Gie menjelang kematiannya merupakan ekspresi terbuka dari kejenuhannya selama dia menjadi dosen di Fakultas Sastra UI. Selepas lulus dari Jurusan Sejarah FSUI, rutinitas mengajar dan rapat antar dosen adalah kesehariannya dan itu membuatnya merasa “seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang”. “Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras…Diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil,” katanya dalam satu catatan hariannya yang dinukil oleh Luki Bekti dalam buku Soe Hok Gie…Sekali Lagi. Hok Gie pada akhirnya mendapatkan semua itu. Di Puncak Semeru, setelah dia memungut sehelai daun pinus kering untuk dibawanya pulang ke Jakarta, maut pun mengajaknya pergi. Seolah menggenapi kata-katanya dalam suatu surat panjang kepada seorang sahabatnya: “Orang-orang seperti kita ini, tidak pantas mati di tempat tidur.”*

  • Operasi Agen CIA Pertama di Indonesia

    GEORGE McT. Kahin berada di Yogyakarta ketika Belanda melancarkan agresi militer untuk menduduki kembali Indonesia. Dia sedang melakukan penelitian untuk disertasinya di Johns Hopkins University, Amerika Serikat. Kahin melihat lambang Amerika Serikat pada beberapa pesawat terbang, mobil lapis baja, dan truk-truk pasukan Belanda ketika menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948. “Seorang mayor Belanda ketika ditanya segera menjawab bahwa dia memakai seragam perang yang bertuliskan U.S. Marines karena merasa bangga pernah dilatih di kamp U.S. Marines di Quantico, Virginia,” kata Kahin dalam bukunya, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia.

  • Jejak Sutradara Kotot Sukardi

    PADA 1954, Misbach Yusa Biran muda menemui kepala Bagian Film Cerita Perusahaan Film Negara (PFN). Harapnya, ia bisa bergabung dengan PFN meski tak punya ijazah SMA. Oleh orang tersebut, Misbach dipertimbangkan karena pernah mengikuti ujian di Taman Siswa dan diminta mengambil ijasah ke sekolahnya. Namun sayang, Misbach tak jadi mengambil ijazah. Ia tak jadi masuk PFN lewat orang dalam. Akan tetapi niat baik kepala Bagian Film Cerita itu selalu dikenangnya. Namanya Kotot Sukardi, sutradara terkemuka dekade 1950-an yang terkenal karena filmnya:  Si Pintjang  (1951). “Pak Kotot tahu bahwa ijazah swasta tidak berlaku di kantor pemerintah, tapi beliau merenung lama dan mengatakan mau mencoba memperjuangkan. Jadilah saya harus minta ijazah Taman Siswa ke sekolah,” tulis Misbcah dalam Kenang-Kenangan Orang Bandel . Meski tak jadi mengambil ijasah, belakangan Misbach banyak belajar dari Kotot. Mereka bekerja sama dalam pembuatan film Holiday In Bali  (1962) di Ubud, Bali. Misbach bahkan tidur dalam satu kamar yang sama dengan Kotot dan sering mengobrol tentang banyak hal. Menurut Misbcah, Kotot dulunya merupakan guru Taman Siswa Bali. Nyoman S. Pendit dalam Bali Berjuang menyebut Kototlah yang merintis dan kemudian memimpin Taman Siswa yang didirikan di Tejakula, Buleleng itu. Pada masa pendudukan Jepang, Kotot bekerja untuk Keimin Bunka Sidhoso (Badan Kebudayaan). Kotot juga memimpin Badan Permusyawaratan Tjerita POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa). Salah satu sandiwara gubahan Kotot yang paling terkenal ialah Turut Sama Amat. Sandiwara propaganda mendukung militer Jepang ini dipentaskan serentak pada 18-22 Juni 1945 di berbagai kota di Jawa. Selain Turut Sama Amat, Kotot juga menggubah beberapa sandiwara. Antara lain Pecah Sebagai Ratna dan Bende Mataram yang cukup terkenal, ditulis bersama Soekarsih dan Inu Kertapati. Pada saat menjadi penulis sandiwara, Kotot juga dikenal sebagai pemimpin Suluh Pemuda Indonesa (SPI). Pada masa Revolusi Fisik, Kotot berada di Yogyakarta. Dalam Sudjojono dan Aku, Mia Bustam mengenang Kotot sebagai seorang bujangan yang tinggal di paseban sisi timur alun-alun. Kotot dikenal sebagai “Bapak para gelandangan dan pencopet”. “Ia mengumpulkan anak-anak gelandangan dan pencopet cilik di situ, diberi makan dan minum serta pendidikan rohani dan jasmani. Pendek kata dilatih memasuki hidup bermasyarakat yang berbudi dan berpekerti. Kotot kemudian lebih dikenal bukan sebagai pendidik anak terlantar, tetapi lebih sebagai seorang tokoh dalam dunia perfilman nasional Indonesia,” tulis Mia. Geladangan yang dimasud Mia Bustam itu barangkali adalah Barisan P. Barisan P merupakan barisan yang meliputi pengemis, pencopet, hingga pekerja seks yang dilatih untuk menjadi mata-mata untuk mengorek informasi dari tentara-tentara Belanda. Oleh Kotot, Barisan P juga dilatih sandiwara dan bahkan diajak bermain film di kemudian hari. Film itu adalah Si Pintjang  (1951). Film yang membuat nama Kotot semakin terkenal ini menceritakan tentang anak-anak korban perang. Film ini turut dalam Festival Film Interasional Karlovy Vary di Cekoslowakia. “ Si Pintjang  satu-satunya film Indonesia yang dipertunjukan dalam Festival Film Internasional di Praha, mendapat hadiah kehormatan istimewa pada penutupan festival itu, berupa diploma untuk Kotot Sukardi dan PFN,” tulis Majalah Minggu Pagi , 10 Agustus 1952. Si Pintjang  dibuat ketika Kotot telah bekerja di PFN. Film ini mendapat tanggapan baik dari para sineas kala itu. Antara lain dari Usmar Ismail. "’Si Pintjang’ film Kotot Sukardi yang pertama sebagai sutradara mempunyai arti penting karena pemakaian anak sebagai pemain dengan secara efektif,” tulis Usmar dalam Usmar Ismail Mengupas Film. Meski demikian, menurut Usmar, Kotot belum dapat melepaskan pengaruh sandiwara masa pendudukan Jepang yang propagandistis sehingga merusak tendensi sosial yang ingin ditonjolkan Kotot dalam Si Pintjang . Sementara, Salim Said dalam Pantulan Layar Putih: Film Indonesia dalam Kritik dan Komentar  menyebut Kotot tidak lagi bicara muluk-muluk tentang buah kemerdekaan. Menurutnya, dalam Si Pintjang , Kotot hanya ingin menyuarakan nasib anak-anak terlantar akibat perang. “Setelah para bekas pejuang sendiri sudah mulai mengkhianati cita-cita mereka, yang diminta Kotot Sukardi cumalah agar anak-anak terlantar, akibat revolusi, juga mendapat perhatian. Api harapan yang tadinya amat menyala-nyala, makin redup saja oleh kenyataan yang makin menyimpang dari dambaan awal,” tulis Salim. Selain Si Pintjang , menurut data indonesianfilmcenter.com , Kotot telah menyutradari beberapa film: Djajaprana  (1955), Tiga-Nol  (1958), Ni Gowok  (1958), Lajang-Lajangku Putus  (1958), Kantjil Mencuri Timun  (1958), dan Melati Dibalik Terali  (1961). Kotot juga menulis naskah untuk beberapa film yang disutradarai rekan-rekannya sendiri, seperti Si Mientje  (1952), Si Melati  (1954), Sajem  (1961), dan Dibalik Dinding Sekolah  (1961). Kotot juga diketahui membuat film dokumenter sejarah Ki Hadjar Dewantara dan melakukan perjalanan ke Maluku pada 1953 untuk membuat film dokumenter tentang pembangunan di pulau itu. Merujuk obituari Kotot yang diterbitkan suratkabar Bintang Timur , 23 November 1963, Kotot merupakan Wakil Ketua Lembaga Film Indonesia yang berada di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kotot juga merupakan anggota Pleno PP Lekra, wakil Lekra dalam Panitia Sensor Film, serta anggota Pleno Sarbufis (Sarekat Buruh Film dan Sandiwara). Kotot meninggal pada Sabtu, 21 November 1963 di Jakarta pada usia 47 tahun. Pemakamannnya dihadiri oleh tokoh-tokoh Lekra seperti Joebaar Ajoeb, Njoto, Bakri Siregar, dan Agam Wispi serta para tokoh perfilman seperti Bachtiar Siagian, Basuki Effendi, hingga Tan Sing Hwat. Pasca 1965, anasir-anasir kiri diberantas rezim militer. Lekra menjadi salah satu lembaga yang juga kena bulan-bulanan. Tokoh-tokohnya ditangkap, dipenjara bahkan dihilangkan. Bagian film juga tak luput dari kekejaman ini. Film-film karya sutradara Lekra seperti Bachtiar Siagian, Basuki Effendi, Tan Sing Hwat dan Kotot Sukardi absen dari sejarah perfilman Indonesia. Menurut Khrisna Sen dalam Indonesian Cinema: Framing the New Order , hanya ada satu film utuh karya Kotot Sukardi yakni Si Pintjang  yang disimpan Sinematek Indonesia. Setelah absen dalam narasi Orde Baru, nama Kotot baru muncul kembali pada 2015. Kotot dianugerahi Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.*

  • Jejak Sufi, Pembawa Ajaran Islam ke Nusantara

    Berdasarkan teori terpopuler, pedagang Gujarat adalah pembawa Islam ke Nusantara. Namun, ada teori lain yang menggunakan pendekatan sufisme, yakni bahwa kaum sufi juga ikut meramaikan Islamisasi di Nusantara. “Bagaimana Islam masuk Nusantara? Agama urusan batin, tak mudah orang pindah dari agama lama menjadi baru. Misal, kita sedang kumpul, lalu ada orang datang membawa agama baru, apa kita bisa langsung pindah,” kata Bastian Zulyeno, ahli kajian Persia Universitas Indonesia, dalam dialog sejarah “Riwayat Masuknya Islam ke Nusantara”  live  di kanal Youtube  dan Facebook Historia.id , Selasa, 2 Februari 2021. Bastian  menilai, diterimanya agama baru di tengah masyarakat yang sudah memiliki kepercayaan, yang dalam kasus masyarakat Nusantara adalah Hindu dan Buddha, tentunya dibutuhkan proses intelektual. “Di Islam, kita mengenal hidayah, mau jungkir balik kalau tak dapat hidayah ya susah,” katanya. Bastian  pun menemukan bahwa ulama sufi memiliki peran dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Buktinya, ada banyak nisan-nisan kuno yang menunjukkan ciri sufisme, dari ornamen, inskripsi, maupun bentuknya. Ciri-ciri itu bisa terlihat pada makam-makam Islam kuno di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Banyak yang berpendapat bahwa Barus adalah lokasi masuknya Islam pertama kali ke Nusantara.  “Kuburan itu membuat para peneliti dengan penuh perhatian mencatatnya sebagai bagian dari peta jalan untuk menemukan dokumen sejarah,” kata Bastian.   Makam Para Sufi di Barus Situs permakaman di Barus yang kini berada di Kecamatan Barus dan Barus Utara memiliki beberapa makam Islam kuno. Di dalamnya terdapat nisan-nisan yang menunjukkan identitas pemiliknya. Inskripsi berbahasa Arab dan Persia tertera padanya. Beberapa kompleks permakaman Islam di Kecamatan Barus dan Barus Utara, di antaranya: Kompleks Makam Ibrahim (Tuanku Batu Badan), Kompleks Makam Maqdum, Kompleks Makam Mahligai, Kompleks Makam Ambar, Makam Kinali, Makam yang terkikis sungai, dan Makam Papan Tinggi.  Kompleks Makam Ibrahim atau Tuanku Batu Badan berada di Bukit Hasang, Barus. Letaknya di kavling tanah yang tinggi di belakang rumah warga. Dari jalan Kabupaten Barus-Aceh keberadaan kuburan ini sulit ditemukan jika tak ada petunjuk arah. Menurut Daniel Perret, arkeolog dari École française d’Extrême-Orient (EFEO), karena di Bukit Hasang banyak ditemukan nisan kuno, artinya kawasan ini dulunya dipakai untuk tinggal dan menetap. Bukit Hasang baru mulai digunakan pada abad ke-12 hingga abad ke-16. “Pada abad ke-12 baru dipakai, luasnya masih 3 ha, kemudian pada awal abad ke-16 menjadi 60 ha,” kata Perret dalam diskusi di Institut Français d’Indonésie (IFI), Jakarta. Kompleks makam ini terdiri dari tiga halaman bertingkat. Makam Ibrahim atau Tuanku Batu Badan berada di teras ketiga bersama dengan sembilan kuburan lainnya. Makam Ibrahim memiliki panjang sekitar 4 meter dengan lebar jirat 2,4 meter.  Sosok yang dimakamkan di kompleks ini diyakini sebagai salah satu dari 44 Awliya , yaitu manusia yang dianug e rahi oleh Tuhan dengan kekhususan tertentu. Mereka ini punya peran dalam penyebaran Islam di Barus. Sementara itu, Kompleks Permakaman Makhdum terletak di atas bukit kecil, sekira 300 m dari pinggir jalan Kabupaten Barus-Aceh. Jumlah nisan di sini ada 33 buah. Sebagian besar memiliki prasasti kaligrafi Islam. Biasanya berisi kalimat syahadat. Ludvik Kalus, epigraf Prancis, dalam “Sumber-Sumber Epigrafi Islam di Barus”, termuat dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu, menjelaskan istilah Maqdum atau Makhdum yang dipakai untuk menyebut kompleks makam ini mungkin berasal dari kata Arab, mahdūm. Artinya “dilayani dengan setia”. Bisa juga berarti “syekh orang suci” atau “penuntun rohani” di dunia Iran-India.  Salah satu nisan di Kompleks Makam Mahligai, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. (Septianda Perdana/Shutterstock). Selanjutnya Kompleks Makam Mahligai yang terletak di Kecamatan Barus. Dalam jurnal yang ditulis Bastian bersama Ghilman Assilmi, arkeolog Universitas Indonesia, berjudul “Representation and Identity of Persian Islamic Culture in Ancient Graves of Barus, North Sumatra”, termuat dalam International Review of Humanities Studies Vol. 3 No. 2 Juli 2018,disebutkan kalau tokoh yang dimakamkan di sini diyakini sebagai salah satu dari 44 Awliya . Mereka adalah Syekh Rukunuddin, Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamshah Biktiba’i, Syekh Syamsuddin, dan Syekh Abdul Khatib Siddiq.  Selain makam Awliya , di sekitarnya juga terdapat beberapa batu nisan dengan bentuk yang sama. Namun ornamennya lebih sederhana. Makam itu dianggap sebagai pusara para pengikut Awliya . Adapun Kompleks Permakaman Ambar terletak sekitar 1,5 km di utara Kompleks Makam Ibrahim. Berjarak 500 meter dari pinggir jalan kabupaten. Hanya ada satu nisan yang memuat nama almarhum. Namun, saat ini kondisi nisan sudah tak lagi memungkinkan untuk dibaca keterangannya. Berdasarkan pembacaan yang dilakukan oleh Ludvik Kalus, nama dalam nisan itu didahului gelar al-syekh. Terdapat pujian baginya yang berbunyi: “Semoga Allah menyucikan jiwanya yang mulia!” “Hampir sama dengan pujian dalam tulisan berbahasa Arab pada nisan selatan makam Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Tapi tipologinya nisan ini bisa dibandingkan dengan nisan utara di Papan Tinggi,” jelas Kalus. Nisan makam Syekh Mahmud di Kompleks Makam Papan Tinggi yang paling mencolok. Letaknya di atas sebuah bukit setinggi 215 m di atas permukaan laut. Untuk mencapainya orang harus mendaki kira-kira 800 langkah. Ada delapan makam. Tujuh makam berkelompok dengan bentuk nisan sederhana. Satu kuburan dipisahkan dari tujuh lainnya. Letaknya di puncak bukit. Ini merupakan kuburan utama milik salah satu dari 44 Awliya . Menurut cerita masyarakat setempat, nisan yang dibuat dari granit itu milik Syekh Mahmud al-Hadramaut. Bastian memperkirakan, makam ini berasal dari 1300-an M. Jarak antara kedua batu nisan yang menandai makam sang syekh kira-kira 15 m. Pada tubuh dan kepala nisan terdapat inskripsi. Beberapa bagian sulit dibaca karena sudah aus.   Pada batu nisan Syekh Mahmud yang ada di sisi selatan inskripsinya ditulis dalam bahasa Arab. “Syekh Mahmud, semoga Allah menyucikan jiwanya!” tulis sebagian inskripsi itu. Sementara batu nisan yang ada di sisi utara ditulisi dengan bahasa Persia. Tertulis di sana, hingga 829H/1425-6 M, makan ini tersembunyi di dunia gaib. Penggalan inskripsinya berbunyi: “Makam ini makam Syekh Mahmud. Dan setiap hari, keajaiban timbul bagi yang minta pertolongan.” “Syekh Mahmud semestinya adalah seorang syekh ahli sufi yang lokasi makamnya tak diketahui. Terungkapnya tempat ini terjadi pada 829 H/1425-6 M di dalam mimpi Tūğīn b. Maḏari,” jelas Kalus. Begitupula kata Bastian, kalimat bahwa makam ini pernah tersembunyi di dunia gaib menunjukkan unsur sufi yang kental. “Seseorang bermimpi bahwa di sini adalah kuburan Syekh Mahmud. Ini unsur sufinya sangat kental,” katanya. Penyebaran Paling Berhasil Irmawati Marwoto, arkeolog Universitas Indonesia, meyakini bahwa pedaganglah yang mengawali masuknya Islam ke Nusantara. “ Sebelumnya mungkin Islam sudah datang. Kita harus membedakan kedatangan dan penyebaran,” kata Irma. Setelah para pedagang datang ke Nusantara, mereka lalu menetap. Di Banten misalnya, kata Irma, di kawasan itu terdapat Situs Pakojan. “Di sini pedagang muslim menetap. Di berbagai kerajaan itu dipisah-pisah, kalau Persia, Arab biasanya di Pakojan. Kalau dari Tiongkok biasanya di Pecinan,” kata Irma . Setelah menetap, pedagang-pedagang muslim itu lalu membangun masjid. “Jadi ada proses cukup lama bagaimana Islam masuk ke seluruh wilayah Indonesia,” kata Irma. Menurut Irma, kalau ada yang mengatakan Islam sudah hadir di Nusantara abad ke-7, itu tidak dibuktikan secara arkeologis, tetapi tercatat dalam naskah Tiongkok. “Di berita Tiongkok ada permukiman orang Arab di pesisir Sumatra,” kata Irma. “Tapi bukan pembuktian arkeologi.” Kendati begitu, Bastian menilai penyebaran Islam paling berhasil dilakukan oleh kaum sufi. “Kaum sufi ini datang, mendirikan perguruan, ada murid dan pengikut yang banyak,” kata Bastian. Tak diragukan pulaada ulama-ulama dari Nusantara yang belajar di Makkah atau Madinah (Hijaz) di Arabia. Mereka pun turut serta dalam proses Islamisasi.  Apa yang ditunjukkan oleh beberapa nisan kuno di Barus, menurut Bastian, telah menegaskan kembali teori masuknya Islam, yakni oleh para sufi dari Asia Tengah ke Nusantara. “ Nisan sebagai salah satu media dakwah. Kenapa nisan harus dibuat indah? Di kaum sufi mereka menyebut bahwa nisan adalah tanda orang hidup, untuk pesan kepada orang hidup, mengambil pelajaran darinya,” kata Bastian.

  • Ketika Jakarta Tiba

    PADA suatu waktu, Baskara T. Wardaya, SJ., sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, bertemu dengan Benny Widyono di Columbia University, New York, Amerika Serikat. Saat makan malam, Benny yang berasal dari Magelang cerita pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan ditugaskan di Chile. Di sana, dia melihat banyak grafiti, di antaranya tulisan “Jakarta is coming”. Duta besar Republik Indonesia protes ke pemerintah Chile, menyampaikan bahwa Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia, dan corat-coret grafiti itu sepertinya berbahaya. “Sejak itu, dia courious (penasaran). Ternyata yang dimaksud grafiti itu adalah peristiwa 1965, itu menjelang Salvador Allende diturunkan,” kata Baskara dalam diskusi buku The Jakarta Method karya Vincent Bevins yang diselenggarakan Jaringan Moderat Indonesia pada 26 Januari 2021.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page