Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sarinah akan Dikembalikan ke Khittah
Dibukanya relief di lantai dasar gedung Sarinah membuka wacana publik mengenai sejarah gedung itu sendiri. Gedung toserba pertama di Indonesia itu kini berada dalam proses pemugaran sebagai salah satu cagar budaya. Warisan sejarah yang dipertahankan berpadu dengan kebutuhan modernitas. Direktur Utama PT. Sarinah, Fetty Kwartati, mengatakan dalam Dialog Sejarah “Mengembalikan Marwah Sarinah” di saluran Youtube dan Facebook Historia , Selasa, 19 Januari 2021, pihaknya telah membuat benang merah antara sejarah dengan transformasi Sarinah ke depan. Fetty menjelaskan bahwa relief Sarinah akan menjadi katalis yang akan membuat Sarinah lebih dikenal. Berdasarkan data Sarinah, ungkap Fetty, relief inipun pernah ditunjukkan ke publik sejak Sarinah dibuka pada 1966 hingga kisaran tahun 1981. Namun karena perubahan konsep dan ekspansi bisnis, wajah Sarinah kemudian berubah. Relief tidak lagi ditampilkan. “Jadi karena itu, sekarang kita sebagai eksekutor yang mau membawa ke khittahnya kembali, jadi akhirnya kita buka,” terang Fetty. Fetty juga menyebut, relief berukuran sekitar 3x17 meter itu akan menjadi bagian dari museum atau galeri Sarinah. Letaknya yang berada di muka pintu Sarinah akan membuat relief menjadi Center of Atrium gedung Sarinah. Pihaknya juga sudah merencanakan pembuatan film dokumenter terkait gedung Sarinah. Selain itu, arsitek sekaligus sejarawan Yuke Ardhiati juga telah menyelesaikan buku berjudul Dua Relief Sarinah . Terkait pemugaran gedung, Fetty menyebut bahwa gedung Sarinah akan memadukan nuansa gedung Sarinah era 1960-an dengan sentuhan modern. Jika sebelumnya memiliki fasad yang warna warni, ke depan gedung Sarinah akan dibuat lebih sederhana dengan garis horsontal dan vertikal yang merupakan ciri khas Sarinah awal. Selain itu, ada pula kolam pantul yang juga merupakan bagian dari cagar budaya. Lalu, lanskap Sarinah akan diubah menjadi ruang komunal yang terbuka bagi publik. Sarinah juga akan memiliki amphitheater dan menghilangkan pagar. “Kita akan menciptakan satu wadah yang semua orang bisa hadir, semua orang bisa merasa nyaman, tidak intimidated , makanya kita buka konsepnya yang tanpa berpagar,” jelas Fetty. Ide mengenai Sarinah sebagai ruang bagi produk-produk berdikari akan dikedepandankan. Menurut Fetty, Sarinah menjadi satu-satunya retailer Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bisa mengangkat dan mempromosikan produk-produk lokal. “Diharapkan Sarinah bisa menjadi brand pemersatu dari produk-produk apa, produk UMKM yang dipersepsikan oleh Bung Karno dulu sebagai ekonomi kerakyatan dan juga produk-produk lokal lainnya,” ujarnya. Fetty menambahkan, Sarinah, baik yang di dalam negeri maupun luar negeri, diproyeksikan menjadi pintu bagi pihak luar negeri untuk melihat produk-produk lokal Indonesia. Tak hanya sebagai penyedia tempat, Sarinah juga hendak mewadahi gerakan-gerakan yang berfokus pada lokalitas. “Kitapun juga akan mengangkat ini, bahwa Sarinah merupakan movement untuk women's empowerment . Di desain interiornya akan terlihat tokoh-tokoh, dalam hal ini Mbok Sarinah sebagai sebuah inspirasi seorang perempuan hebat,” katanya. Gerakan pemberdayaan perempuan ini, lanjutnya, akan terintegrasi dengan UMKM yang sebagian besar pelakunya juga merupakan perempuan. Jadi, lanjut Fetty, ”kita kesankan bahwa Sarinah ini sebagai panggung. Kalau kita bicara dulu Sarinah The Window of Indonesia ya, sampai sekarangpun. Tapi ke depan kita mau buka jendelanya, kita tidak hanya terbatas pada jendela, tetapi kita mau melihat Sarinah ini sebagai panggung. Pangungnya siapa, panggung karya unggulan Indonesia.” Gedung Sarinah baru rencananya akan dibuka pada 10 November 2021 bertepatan dengan Hari Pahlawan.
- Mantan Agen CIA Gagal Jadi Duta Besar di Indonesia (2)
AMERIKA Serikat pernah menghadapi masalah dalam memilih duta besar untuk Indonesia. Akibatnya, kursi duta besar kosong selama setahun. Setelah Duta Besar Edward E. Masters menyelesaikan tugasnya pada November 1981, Michael Hayden Armacost disebut sebagai penggantinya.
- Relief Sarinah dan Narasi Perjuangan Wong Cilik
Perempuan dan perjuangan yang dimainkannya merupakan bagian penting dalam kehidupan Sukarno. Pada 1947, Sukarno menerbitkan buku berjudul Sarinah , yang berisi buah pikirnya tentang perempuan, tentang matriarki dan patriarki, hingga kaitanya dengan evolusi dan revolusi manusia. Dalam berbagai kesempatan, Sukarno kerapkali menegaskan tentang perjuangan dan peran perempuan dalam peradaban manusia dan Republik secara khusus. Dalam Bab III Dari Gua ke Kota, misalnya, Sukarno menjelaskan bahwa perempuanlah yang mengawali pertanian. Ketika para lelaki berburu, terangnya, perempuan yang awalnya hanya mencari tumbuh-tumbuhan, lambat laun mulai menanam benih-benihnya. Inilah awal mula ilmu bercocok tanam dan perempuanlah petani yang pertama. “Buat jasa ini saja kemanusiaan pantas mendirikan patung-terima-kasih bagi perempuan itu!” tulisnya. Bung Karno barangkali tak pernah benar-benar membangun patung itu. Tapi, nama Sarinah sebagai representasi perempuan hebat itu kemudian diabadikan sebagai nama toserba pertama di Indonesia. Dan di dalamnya, ternyata dibangun relief yang menarasikan Sarinah itu sendiri. Perjuangan Wong Cilik Gedung Sarinah mulai dibangun pada 1963 dan diresmikan pada 15 Agustus 1966. Gedung 14 lantai ini awalnya direncanakan sebagai department store untuk mengatur harga pasar dan menjual barang-barang hasil berdikari rakyat Indonesia. Namun, ide untuk menyokong ekonomi sosialis itu gagal. Sementara itu, relief di lantai dasarnya tak banyak diketahui publik hingga belakangan dibuka kembali dalam rangka renovasi. Relief berukuran sekitar 12 x 3 meter itu menampakkan sosok laki-laki dan perempuan berskala gigantik. Ada yang memakai caping, ada yang membawa bakul, ada yang menyunggi dagangan. Yuke Ardhiati, arsitek sekaligus sejarawan yang turut dalam konservasi, menyebut dalam makalahnya, “Bung Karno dan ‘Sarinah’”, bahwa relief Sarinah merepresentasikan “The Struggle for Life of ‘Wong Cilik’”. Yuke juga menyebut, sosok-sosok dalam relief menggambarkan kaum kuli dan penjaja keliling, terutama perempuan, yang banyak ditemui pada masa kolonial Belanda. “Litografi banyak banget saya temukan. Orang-orang Indonesia di masa kolonial itu dijabarkan sebagai ya kuli tadi. Terus sama di foto-foto keluaran Tropen (Tropenmuseum –red. ), itu kan juga orang yang lagi bawa barang-barang berat. Itu kan perempuan semua. Sambil bawa anak kalau perlu,” kata Yuke kepada Historia . Yuke yang juga penulis buku Bung Karno Sang Arsitek ini menjelaskan bahwa para perempuan inilah yang seringkali disebut Sukarno sebagai penyangga beban kehidupan bangsa sekaligus representasi perjuangan wong cilik . “Nah di situ Bung Karno melihat bahwa the struggle for life itu perempuan yang memikulnya. Dengan perempuan yang memikulnya tadi, Bung Karno pengen memberikan satu fasilitas untuk meringankan dia,” jelas Yuke. Menurut Yuke, dibangunnya gedung Sarinah merupakan bentuk kehadiran negara untuk memfasilitasi kaum penjaja keliling tersebut. Sarinah dibangun agar penjaja keliling bisa mendapat tempat layak sehingga dapat menaikkan nilai barang dagangannya. Dalam relief Sarinah, wong cilik tidak digambarkan kecil, kurus, dan lemah. Sebaliknya, laki-laki digambarkan gagah dan menantang, sedangkan perempuan dilukiskan cakap dan elok. Mereka ditampilkan tengah bekerja dengan percaya diri. “Itu semua bekerja itu, nggak ada yang tidur. Menunjukkan apa? Orang Indonesia itu gigih lho, struggle lho, elok lho, meskipun dia orang kecil,” ungkap Yuke. Secara keseluruhan, Yuke melanjutkan, gaya relief Sarinah membentuk gambaran ideal bagi sosok wong cilik Indonesia. Selain memberi sugesti positif dan kebanggaan bagi rakyat kecil, relief ini kemungkinan dipakai juga untuk memberikan kesan baik pada pandangan politik dunia. Yuke menambahkan, ketika proses pembangunan Sarinah masih berlangsung, Indonesia juga mendirikan Patung Pahlawan (Tugu Tani). Patung garapan seniman Uni Soviet itu juga memiliki semangat yang sama dengan relief Sarinah: penghormatan kepada rakyat kecil. Sukarno sendiri, jelasnya, memang banyak menyebut dalam pidatonya bahwa ia lebih senang membangun monumen bagi rakyat kecil ketimbang untuk tokoh-tokoh besar seperti di negara lain. Narasi tentang Sarinah dan wong cilik ini nampaknya sesuai dengan apa yang dikatakan Sukarno dalam kata pendahuluan Sarinah. “Ia ‘ mBok’ saya. Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat banyak pelajaran mencintai ‘orang kecil’. Dia sendiripun ‘orang kecil’. Tetapi budinya selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu!” tulis Sukarno. Seniman Penganggit Sejauh ini, belum ditemukan prasasti yang menjelaskan siapa saja seniman yang mengerjakan relief tersebut. Berdasarkan catatan dan arsip yang ditelusuri Yuke, relief Sarinah kemungkinan dikerjakan oleh kelompok seniman Sanggar Pelukis Rakyat. Dalam catatan pematung Edhi Sunarso, misalnya, disebutkan bahwa ketika ia membuat Monumen Pembebasan Irian Barat, Bung Karno mengirim 18 orang yang belajar ke Korea, Jepang, Italia, Belanda, Prancis, dan Meksiko. Para seniman itu diminta belajar membuat diorama sejarah untuk nantinya bekerja membuat diorama Monumen Nasional. “Sepulangnya belajar diorama sejarah dari luar negeri, mereka diberi pekerjaan di lantai dasar gedung Sarinah, dengan peralatan sangat cukup dan tenaga sekitar 30 orang. Semua diasramakan, dan mereka mendapatkan uang saku sebagaimana umumnya tenaga ahli yang dipekerjakan di pemerintahan,” sebut Edhi. Dalam penelusurannya, Yuke juga membandingkan beberapa karya patung dan lukisan kelompok seniman Pelukis Rakyat dengan relief Sarinah. Seniman Sudarso dan Trubus Soedarsono misalnya, beberapa kali melukis perempuan berkebaya dan berkonde yang dianggap merepresentasikan Sarinah. Hal serupa juga ditemukan ketika membandingkan relief Sarinah dengan patung-patung karya Trubus, Djoni Trisno dan Batara Lubis. Selain itu, Yuke juga menemukan spirit yang sama dalam karya-karya Rustamadji, seniman yang juga menggarap detil relief Tugu Muda Semarang. Mereka adalah anggota Sanggar Pelukis Rakyat. Namun, sementara ini belum ada catatan otentik yang menuliskan nama-nama pasti seniman pembuat relief Sarinah. Di sini, arsip mengenai karya seni menjadi penting dalam penelusuran sejarah. Yuke berharap, ke depan para seniman menyimpan arsip dari karya-karya mereka di Arsip Nasionasi Republik Indonesia (ANRI) agar lebih terawat.
- Peluang Emas Pasukan Baret Merah Seketika Musnah (Lanjutan)
Kendati temaram, cahaya bulan purnama cukup untuk menerangi malam di Desa Paloh, pedalaman Kalimantan Barat (Kalbar). Di tempat persembunyiannya di dekat rumah di pinggiran hutan Kalimantan, Kepala Seksi 1/Intelijen Satgas 42 Kopasandha (kini Kopassus) Kapten Hendropriyono tiduran santai sambil menunggu targetnya tiba. Dia ditemani lelaki bernama Cang Kim. Selagi asyik bersantai itulah tiba-tiba Hendro dikagetkan oleh suara ketukan kayu yang dibunyikan berulangkali. Sambil meraih senapan AK-47-nya Hendro langsung bangun dan melihat sekitar. Suara ketukan itu ternyata merupakan sandi yang dibunyikan oleh Then Bu Ket, komandan Kompi 2 Pasukan Gerilya Rakyat Kalimantan Utara (PGRKU). PGRKU merupakan pasukan gerilyawan bersenjata di Kalbar yang anggotanya terdiri dari bekas anggota Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS), Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku), dan Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Mereka merupakan pihak-pihak yang tak setuju dengan penggabungan Sarawak dan Sabah ke dalam Federasi Malaysia. Sikap mereka yang hendak merdeka dari Malaysia mengundang simpati dari Presiden Sukarno. Simpati itu diwujudkan dengan dukungan persenjataan, logistik, dan pelatihan oleh militer Indonesia kepada perjuangan mereka. Selepas G30S dan Sukarno terdepak dari kursi kekuasaannya, Jenderal Soeharto mengupayakan normalisasi hubungan Indonesia dengan Malaysia. Puncaknya adalah ditandatanganinya Jakarta Accord oleh Menlu Adam Malik dan Menlu Tun Abdul Razak. “Setelah dicapai persetujuan dan ditandatangani Jakarta Accord itu, maka permusuhan antara kedua negara itu mulai tanggal 11 Agustus 1966 telah berakhir. Kemudian dalam pelaksanaannya di bidang operasi militer Pangkolaga telah memerintahkan kepada semua komandan bawahannya untukmenghentikan kegiatan-kegiatan operasional. Untuk meletakkan dasar kerja sama sebagai realisasi dari Jakarta Accord itu, baik di bidang militer maupun non militer, maka pada tanggal 4 September 1966 diberangkatkan missi militer Indonesia di bawah pimpinan Brigjen TNI Sudarsono Prosuseno ke Malaysia,” tulis Dinas Sejarah TNI AD dalam Sejarah TNI-AD 1945-1973 . Akibat kerjasama militer Indonesia dan Malaysia itu, pasukan-pasukan gerilya di Kalimantan Utara yang tadinya merupakan sekutu Indonesia melawan Malaysia berubah menjadi lawan. Mereka menghadapi militer Indonesia dan Malaysia sekaligus. Kian hari posisi mereka kian terjepit. Meski mengandalkan dukungan hanya dari penduduk, mereka tetap bergerilya melawan. Mereka acapkali menyerang pos-pos militer kedua negara. Penduduk yang tak mendukung mereka kerap jadi korban. “Kalau tentara kita diam, kita diganggu. Kalau tentara kita tidak ada, mereka melakukan teror terhadap rakyat. Kalau kita patroli, mereka bersembunyi. Kalau kita kuat mereka terus berlari, tetapi kalau kita sedang lemah atau lengah, kita diserang. Kita tidak dapat santai-santai,” kata Dan Satgas 42 Kopasandha Mayor Sintong Panjaitan, yang dikirim ke Kalbar untuk melanjutkan tugas operasi penumpasan gerombolan komunis bersenjata yang sebelumnya dilakukan Satgas 32, sebagaimana dikutip Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Satgas 42 lalu melancarkan Operasi Garu di sektor barat Kalbar. Dalam pertempuran di Gunung Kanyi, 3 Maret 1973, mereka menewaskan anggota gerombolan bernama A Fong yang mempertahankan sebuah bivak. Dari penelusuran terhadap mayat A Fong itulah Kapten Hendropriyono berhasil mengadakan kontak dan berhubungan baik dengan istri almarhum. Dari janda A Fong itulah Hendro kemudian mendapat informasi bahwa dukungan logistik gerombolan dilakukan oleh mata-mata bernama Cang Kim. Setelah melaporkannya kepada Sintong, Hendro mendapat perintah untuk memutus dukungan logistik lawan itu. Dengan bantuan janda A Fong, Hendro pun mendekati Cang Kim dan keluarganya. Pola yang diterapkannya mirip dengan pola ketika mendekati janda A Fong. Pendekatan yang dilakukannya tak hanya dengan memberi uang, namun juga roti dan segala macam keperluan keluarga Cang Kim. Lagi-lagi upaya Hendro berhasil. Cang Kim menaruh kepercayaan padanya. Dari Cang Kimlah Hendro mendapat informasi bahwa gerombolan biasa mengambil logistik beras yang sudah dibagi-bagi ke dalam 25 sampai 30 kantong di halaman belakang sebuah rumah di pinggir hutan. Mereka biasa mengambilnya saat malam terang bulan lantaran mereka tak diizinkan menggunakan senter atau obor dalam perjalanan menuju lokasi pengambilan. Berbekal informasi itu, Hendro langsung melaporkan pada Sintong dan kemudian mengajak Cang Kim menjebak gerombolan. Skenario langsung dirancang Hendro. Dalam skenario itu, beras yang akan dibagikan kepada gerombolan sengaja tidak dibagi-bagi ke dalam kantong namun diwadahi dalam karung. Dengan begitu, para anggota gerombolan mesti membagi-bagi sendiri ketika mengambilnya. Saat gerombolan membagi-bagi beras itulah Hendro bersama pasukan penyergap dan pasukan penutup akan menjadikan mereka sebagai sitting duck . Setelah skenario dan persiapan selesai dibuat, saat yang dinanti pun tiba. Malam terang bulan itu dijadwalkan sebagai malam pengambilan beras oleh gerombolan. Sebelum gerombolan tiba, Hendro bersama pasukan penyergap dan pasukan penutup, berasal dari pasukan organik Kodam XII/Tanjungpura, telah bersiaga di sekitar rumah yang dijadikan titik pengambilan beras. Hendro menempati sebuah tempat tersembunyi tak jauh dari rumah itu. Beberapa saat kemudian, Then Bu Ket beserta sekira 24 anak buahnya tiba. “Then Bu Ket berjalan menuju tempat itu, kemudian ia memberi sandi kedatangannya dengan ketukan berunyi, ‘tek…tek…tek.’ Cang Kim bangun dan menjawab sandi itu dengan ketukan,” tulis Hendro Subroto. Cang Kim segera menyeret karung berisi beras dan meletakkannya di halaman belakang yang terbuka. Karena beda dari sebelumnya, upayanya itu membuat para anggota gerombolan marah karena mesti membagi-bagi beras itu terlebih dulu. Setelah mendengar jawaban Cang Kim bahwa belum dibagi-baginya beras itu karena dia belum mendapat info siapa saja yang akan datang mengambil, para anggota gerombolan sibuk membagi-bagi beras tadi ke dalam kantong-kantong. Saat itulah Hendro mengontak Sintong lewat radio bahwa target sedang sibuk dengan pembagian beras. “Kalau begitu mereka sudah dapat disiram dengan tembakan,” jawab Sintong singkat. Hendro segera memberi lampu hijau kepada pasukannya. Namun belum lagi perintah dikeluarkan Hendro, komandan pasukan penutup, yang posisinya di belakang pasukan penyergap, sudah mengeluarkan perintah tembak. Suara tembakan pun menguburkan kesunyian desa malam itu dan itu justru membuat para anggota pasukan penyergap bingung. Akibat blunder itu, Satgas 42 gagal total. Dari 25 orang yang dijadikan target serangan, hanya satu yang berhasil ditewaskan. Sisanya berhasil melarikan diri lewat berbagai “jalur tikus” yang telah mereka kuasai. “Kasi-1/Intelijen (Hendropriyono, red .) tidak tahu bagaimana kronologisnya, sehingga Sintong memberikan tugas kepada pasukan Kodam XII/Tanjungpura bertindak sebagai pasukan penutup. Seharusnya perintah menembak dikeluarkan oleh pasukan para komando yang bertindak sebagai pasukan penyergap. Jalan panjang yang dirintis telah berhasil menuntun gerombolan masuk ke dalam killing ground , gagal akibat terjadinya kesalahan teknis dalam penyergapan,” tulis Hendro Subroto.
- Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone
GEMURUH di arena Madison Square Garden di New York, Amerika Serikat kian terdengar seiring pelatih gaek Ray Arcel (diperankan Robert De Niro) memasuki lorong arena menuju kursi di sisi ring. Malam itu, 13 September 1971, ia tergelitik memantau petinju potensial asal Panama , Roberto Durán (Édgar Ramírez), yang tengah menghadapi Benny Huertas di sebuah laga kelas ringan. “Insting ring (tinju) adalah seni. Sebuah anugerah dari Tuhan yang mengalir dalam diri petinju seperti halnya seorang seniman yang menghasilkan karya atau penulis yang menghasilkan buku hebat,” kata Arcel dalam monolog kala menggambarkan sosok Durán yang sedang fokus diperhatikannya. Arcel terkesan lantaran Durán hanya butuh satu menit enam detik di ronde pertama untuk menang TKO atas lawannya. Itu jadi kemenangan ke-25 petinju berjuluk Manos de Piedra alias Si Tangan Batu itu dalam karier profesionalnya. Pascalaga, Arcel dipertemukan dengan Durán oleh manajer Carlos Eleta (Rubén Blades) di ruang ganti. Eleta menganggap Arcellah yang bisa mengantarkan Durán merebut titel dunia yang hingga saat itu belum pernah dicicipi sang petinju. Butuh desakan keras dari Eleta agar Durán mau dilatih Arcel. Pasalnya sejak kecil Durán punya segudang kenangan pahit berurusan dengan orang Amerika. Begitulah adegan enam menit pertama film biopik olahraga bertajuk Hands of Stone yang dibesut sineas Jonathan Jakubowicz. Alur cerita lantas mundur ke adegan yang mendeskripsikan apa saja yang membuat Durán begitu alergi dengan banyak hal berbau Amerika. Tepatnya, ketika Durán berumur 13 tahun dan ikut unjuk rasa pelajar pada 9 Januari 1964 yang berujung ricuh di Terusan Panama. Durán yang sudah putus sekolah melihat sendiri bagaimana militer Amerika menghalau ratusan demonstran dengan cara-cara represif. Penembakan kepada para pelajar yang mencoba mengibarkan bendera Panama di zona yang masih dikuasai Amerika itu juga dilakukan. Potongan adegan Carlos Eleta (kanan) membujuk Ray Arcel untuk kembali dari masa pensiunnya sebagai pelatih. (The Weinstein Company). Sejak saat itu, Durán kecil berkeinginan untuk jadi petinju agar bisa melindungi ibunya yang jadi orang tua tunggal dan adik-adiknya. Selain bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga, Durán sering jadi petinju jalanan untuk mendapatkan uang hasil taruhan. Suatu kali, ia bertemu pelatih tinju profesional Nestor ‘Plomo’ Quiñones (Pedro Pérez). Plomo lantas memungut Durán dari jalanan ke sasana tinju. Begitu Durán tumbuh dewasa, Carlos Eleta ikut andil membawa Durán ke tinju profesional. Namun untuk mewujudkan ambisi jadi juara dunia demi mengharumkan nama Panama, Durán butuh tangan dingin Ray Arcel. Bagi Arcel yang punya strategi bertarung di ring jempolan dan sudah mencetak 18 juara dunia selama 50 tahun kariernya, Durán petinju yang nyaris sempurna. Insting dan pergerakannya natural serta pukulannya sekeras batu sehingga dijuluki Manos de Piedras . Akan tetapi Durán kerap indisipliner. Soal ini Arcel jagonya dan dia berhasil menangani Durán. Hasilnya pun manis. Laga demi laga dengan mudah dilalui Durán dengan kemenangan telak. Termasuk ketika berhadapan dengan simbol tinju Amerika Sugar Ray Leonard (Usher Raymond) di Montréal, Kanada, 20 Juni 1980, yang mengantarkan Durán merebut gelar WBC kelas welter. Dari petinju medioker, Durán meroketkan kariernya di bawah asuhan Ray Arcel. (The Weinstein Company). Namun, Durán kemudian jadi arogan dan kedisiplinannya mulai kendor. Bahkan jelang rematch kontra Leonard lima bulan kemudian di New Orleans Superdome, Durán masih getol foya-foya. Akibatnya di ronde kedelapan Durán menyerah. Tak hanya kehilangan gelar akibat kekalahan TKO itu, Durán juga kehilangan muka lantaran diolok-olok media dan publik. Kehidupan rumah tangganya dengan Felicidad (Ana de Armas) pun mulai terguncang. Durán yang di negerinya hero seketika terjun menjadi zero. Masyarakat Panama yang saban hari berkutat dengan kemiskinan dibuat kecewa oleh Duran yang selama ini dijadikan harapan, kebahagiaan, dan kebanggaan mereka. Bagaimana perjuangan dan pergulatan mentalnya untuk bangkit dan seperti apa kerasnya usaha Ray Arcel dan istri Durán untuk membangunkan “Si Tangan Batu” dari keterpurukannya? Silakan ditonton sendiri Hands of Stone . Meski sudah dirilis pada 26 Agustus 2016, hingga saat ini masih bisa Anda saksikan di platform daring Mola TV. Drama Sarat Konflik Hands of Stone boleh jadi hiburan tersendiri buat para penikmat tinju dunia sekaligus wahana bernostalgia dengan era emas tinju pada 1980-an. Ia melengkapi deretan film bertema tinju, baik fiktif maupun biopik, yang bermunculan sejak Ali (2001), Million Dollar Baby (2004), Cinderella Man (2005), Rocky Balboa (2006), Ressurecting the Champ (2007), The Fighter (2010), Max Schmeling (2010), Creed (2015), Southpaw (2015), atau Bleed for This (2016). Dengan dibantu Miguel Ioann Littin dalam sinematografi, nuansa retro dan atmosfer “latino” cukup terasa dalam garapan Jakubowicz ini lewat tone film serta rangkaian music scoring yang dikomposeri Angelo Milli. Perpaduan itu cukup bisa membuat penonton merasakan nuansa 1970-an dan 1980-an, baik kala adegan masa kecil Durán di Panama maupun saat sudah berkarier di tinju pro di Amerika. Faktor-faktor teknis itu jadi penyokong penting dalam bab-bab kehidupan Durán yang melodramatik. Sosok Ray Arcel dan Roberto Durán yang diperankan Robert De Niro & Edgár Ramírez. (The Weinstein Company). Kehidupan Durán amat berwarna. Melarat di masa kecil, mendadak kaya setelah juara dunia, dan jatuh-bangun pasca-pertarungan dengan Leonard yang kondang dengan ucapan “ No Mas ”-nya kala menyerah dari Leonard. Semua fase kehidupan itu diangkat diceritakan Jakubowicz dalam Hands of Stone yang diadaptasi dari biografi karya jurnalis Christian Guidice, Hands of Stone: The Life and Legend of Roberto Durán . “Roberto Durán memiliki kombinasi antara heroisme dan cela dalam kehidupannya, di mana justru itu yang membuat saya jatuh hati pada kisahnya. Hubungannya dengan pelatih Yahudi dan perseteruannya dengan Leonard adalah salah satu sejarah olahraga yang paling menarik. Kisah Durán unik karena dia adalah pahlawan yang tak membosankan. Dia punya karakter yang menginspirasi. Namanya dikenal dunia namun cerita di balik itulah yang tak banyak diketahui,” terang Jakubowicz kepada Remezcla , 15 Juni 2016. Oleh karenanya, pendalaman karakter Durán dijalani sang aktor Edgár Ramírez dengan tak main-main. Ramírez melakukan transformasi fisik selama lima bulan jelang produksi, berlatih langsung di Panama, hingga bertemu anak-anak Durán demi mendapatkan gambaran lebih utuh akan kehidupan nyata petinju legendaris itu. “Petinju Panama punya gaya unik, pergerakannya sangat musikal, hampir seperti berdansa salsa. Selain ditemani pelatih merangkap terapis fisik, awalnya saya juga dilatih anak-anak Durán. Untuk memahami kehidupannya, saya harus berlatih di permukiman kumuh. Di mana saya melihat tinju adalah olahraga orang miskin. Mereka mencari nafkah dengan tangan kosong. Anda bertarung untuk makan dan itu kondisi yang sebenarnya alih-alih hanya kiasan,” ungkap Ramirez dalam wawancaranya dengan Esquire , 5 Agustus 2016. Aktor Edgár Ramírez menjalani latihan lima bulan di permukiman kumuh Panama untuk mendalami karakter Roberto Durán. (The Weinstein Company). Meski didukung dengan kisah kehidupan Durán dengan premis-premis yang menarik itu, ditambah akting solid aktor-aktor papan atas, Hands of Stone menuai banyak kritik miring usai dirilis 26 Agustus 2016. Dramatisasi yang diracik Jakubowicz dianggap justru membuat filmnya tak fokus. Jakubowicz memang banyak menambahkan percabangan cerita hingga “ tumplek-blek ” dalam 111 menit durasi film. Adegan konflik antara Amerika Serikat dan Panama yang berujung pada pembunuhan Presiden Omar Torrijos pada 1981, atau kisah tentang Ray Arcel yang acap diancam mafia Italia di New York, misalnya, lebih bagus dijadikan film tersendiri. Dramatisasi yang dilakukan Jakubowicz juga acapkali tak sesuai dengan fakta kehidupan Durán dan Arcel. Dalam Hands of Stone , Arcel digambarkan pertamakali comeback setelah 16 tahun pensiun dari dunia tinju akibat dibujuk Eleta untuk melatih Durán, pasca-pertarungan Durán vs Huerta pada 13 September 1971. Momen itu juga digambarkan jadi pertemuan awal Arcel dan Durán. Padahal, faktanya bukan seperti itu. Menurut Donald Dewey dalam Ray Arcel: A Boxing Biography , Arcel terlebih dulu melatih Alfonso Frazer baru melatih Durán. Frazer merupakan petinju kelas welter ringan asal Panama yang dimanajeri Eleta. Eleta berhasil membujuk Arcel untuk comeback dan melatih Frazer dua pekan sebelum Frazer naik ring menghadapi Nicolino Locche untuk memperebutkan gelar dunia versi WBA. Sosok asli Ramil 'Ray' Arcel & Nestor 'Plomo' Quiñones (baris kanan) yang berjasa dalam karier Roberto Durán. ( Ray Arcel: The Boxing Biography / panamaamerica.com.pa ). Dua pekan kemudian barulah Eleta membujuk Arcel untuk mau bertemu dan melatih Durán. Kala itu, Durán tengah menyiapkan diri untuk pertarungan pertamanya di kelas ringan memperebutkan gelar dunia (WBA) kontra Ken Buchanan, 26 Juni 1972. Nama Durán juga sudah didengar Arcel dari Eleta ketika masih melatih Frazer di Panama City. Saat bersedia melatih Durán, Arcel tetap minta Plomo jadi asistennya atau lebih tepat jadi penerjemahnya. Pasalnya, Arcel tak bisa bahasa Spanyol dan Durán tak bisa berbahasa Inggris. Sebagaimana diungkapkan Ronald K. Fried dalam Corner Men: Great Boxing Trainers , Arcel merasa harus sering bicara dari hati ke hati dengan Durán. Dengan begitu, diharapkan Durán bisa lebih disiplin, di mana itu jadi titik kelemahannya. “Durán tak harus diajari bertinju oleh siapapun. Hari pertama saya melihatnya berlatih di Panama saat sedang melatih Frazer, saya bilang ke semua orang: ‘Jangan ubah gaya bertarungnya. Biarkan saja dia bertarung dengan gayanya.’ Masalahnya ada pada komitmen. Dia harus bertarung tiga menit setiap ronde untuk merebut gelar juara dan komitmen bergantung pada kedisiplinan,” cetus Arcel dikutip Fried. Pertarungan Roberto Duran vs Sugar Ray Leonard jilid II dalam film (atas) & kejadian asli (bawah) jelang momen "No Mas!". (The Weinstein Company/The Ring Magazine). Dramatisasi lain yang tak sesuai fakta sejarah terjadi dalam adegan break pertarungan. Di sudut ring, Arcel acap menyisir rambut Durán sebelum mulai bertarung lagi. Itu dilakukannya sebagai strategi perang urat syaraf. Jika Durán bertarung lagi dengan penampilan tetap klimis, bakal turut menjatuhkan mental lawan. Hal itu tak pernah terjadi dalam kehidupan nyata Arcel dan Duran. Yang paling mendekati dengan dramatisasi itu, lanjut Dewey, adalah kebiasaan Arcel yang kerap menyeka keringat dari wajah Durán. Tidak lebih. Dramatisasi terakhir yang dipilih sutradara yang merangkap penulis skenario itu seolah mempertahankan enigma tentang benar-tidaknya “ No Mas ” (Inggris: No More ) dikatakan Durán kepada Leonard dalam rematch , 25 November 1985. Padahal menurut biografi yang ditulis Guidice maupun biografi Arcel karya Fried, yang sama-sama memverifikasi pernyataan Durán lewat wawancara dengan Eleta, kisahnya bukan begitu. Durán mulanya mengeluh nyeri pada perutnya, namun keluhan itu justru jadi bahan ejekan Leonard untuk Durán di atas ring. “Dari keterangan manajer Carlos Eleta, Durán (faktanya) mengatakan: ‘Saya tidak mau melawan badut ini lagi.’ Akan tetapi Howard Cosell yang menyiarkan pertarungan itu, hanya menggaungkan perkataan ‘ No Mas ’ (tidak mau lagi, red. ) yang kemudian jadi tajuk berita utama di mana-mana dan sampai saat ini lestari dalam sejarah olahraga,” tulis Guidice. Data Film: Judul: Hands of Stone | Sutradara: Jonathan Jakubowicz | Produser: Jay Weisleder, Carlos Garcia de Paredez, Claudine dan Jonathan Jakubowicz | Pemain: Édgar Ramírez, Robert De Niro, Ana de Armas, Usher Raymond, Oscar Jaenada, Ellen Barkin, Rubén Blades, Pedro Pérez | Produksi: Fuego Films, Vertical Media, Panama Film Commission, Epicentral Studios | Distributor: The Weinstein Company | Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 111 menit | Rilis: 26 Agustus 2016, Mola TV
- Ketika Baret Merah Berhasil Mengorek Informasi Gerombolan Bersenjata
Enam hari setelah tiba di Pontianak pada 15 November 1972, Komandan Satgas 42/Kopassandha Mayor Sintong Panjaitan mengambil-oper tugas dari Satgas 32. Sebagaimana satgas yang digantikannya, Satgas 42 ditempatkan di bawah Kodam XII/Tanjungpura untuk tugas operasi penumpasan gerombolan komunis bersenjata –Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) maupun Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku)– yang semasa Dwikora merupakan sekutu militer Indonesia dalam menghadapi Malaysia. “Sejak tahun 1965, Mako RPKAD telah menempatkan pasukannya di Kalimantan Barat secara bergantian. Setelah terjadinya peristiwa penyerangan gudang senjata di Pangkalan Udara Sintang II, operasi penumpasan gerombolan komunis di Kalimantan Barat semakin ditingkatkan,” tulis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Sintong segera putar otak mencari konsep operasi yang tepat agar operasinya tidak berlarut-larut. Dia merapatkannya dengan jajaranya. Upaya mereka makin keras lantaran dia tak mendapat informasi memadai mengenai kekuatan lawan. Alhasil, mereka terpaksa memulai semua perencanaan operasi tempur dari nol. Dari pembelajaran terhadap fakta-fakta yang ada, Sintong menyimpulkan berlarut-larutnya operasi sebelumnya karena beberapa kelemahan. Salah satu yang terpenting yakni operasi terbentur pada garis batas negara Indonesia-Malaysia. Akibatnya, pengejaran yang dilakukan terhadap lawan acapkali gagal karena lawan berhasil menyeberang ke wilayah Malaysia –begitupun sebaliknya, militer Malaysia kerap gagal menangkap buruannya karena keburu menyeberang ke wilayah Indonesia. Bertolak dari situ, Sintong mengubah konsep daerah operasi dari yang awalnya sejajar dengan garis batas negara menjadi tegak lurus. Untuk itu, kerjasama dengan Tentera Diraja Malaysia tetap dilanjutkan. “Kerjasama di bidang operasi keamanan sepanjang daerah perbatasan ini telah terjelma sejak permulaan tahun 1967 yang dirintis oleh Pangdam XII Brigjen Ryacudu dan dilaksanakan dengan baik dan berhasil sekali oleh Panglima Brigjen A.J. Witono. Panglima Brigjen Soemadi yang sekarang, lebih memperluas serta mengintensifkan kerjasama operasi pemulihan keamanan perbatasan ini dengan pihak Malaysia,” tulis Dinas Sejarah Militer Kodam Tanjungpura dalam Tandjungpura Berdjuang: Sedjarah Kodam XII/Tandjungpura . Dengan kesepakatan yang diambil bersama komandan BIM 3 Brigadir Tunku Nazaruddin, pasukan Sintong maupun pasukan Nazaruddin dapat bebas melintasi batas negara ketika mengejar buruan sekalipun mereka menyeberangi batas kedua negara. Sebagai lanjutan dari kesepakatan itu, Satgas 42 dan BIM 3 menggelar Operasi Garu. “Pengendalian operasi berada di bawah satu tangan, yaitu di tangan Sintong sebagai Komandan Operasi Garu dengan nama sandi Rajawali 1,” tulis Hendro. Dalam pertempuran di Gunung Kanyi, 3 Maret 1973, Kompi Para-Komando (Parako) yang dipimpin Kapten Muryono menewaskan anggota gerombolan bernama A Fong. Jasad A Fong, yang tewas mempertahankan bivak, tak sempat dibawa teman-temannya karena kondisi mereka terdesak. Informasi tersebut meyakinkan Sintong bahwa ada hal penting di balik bivak itu sehingga dipertahankan mati-matian oleh lawan. Dia segera memerintahkan Kepala Seksi 1/Intelijen Kapten Hendropriyono mendatangi bivak itu untuk mencari hal-hal penting. Benar saja. Hendro berhasil menemukan sebuah surat berbahasa Tiongkok yang dibungkus kantong plastik di salah satu tiang bivak. Surat itu ternyata berisi pertanyaan A Fong kepada istrinya soal kabar kedua anak lelaki dan kedua anak perempuannya. Berbekal informasi itu, Hendro segera menuju Desa Paloh guna mencari janda A Fong. Dia lalu mendapati janda beranak empat kendati belum tahu pasti itu orang yang dicarinya atau bukan. Setelah melaporkan pada Sintong dan mendapat restu, Hendro melakukan pendekatan pada perempuan itu. Kendati hubungan keduanya kian hari kian dekat, perempuan itu masih belum terbuka kepada Hendro, terutama soal suaminya. Jika ditanyakan keberadaan suaminya, perempuan itu hanya hanya menjawab bahwa suaminya merantau ke Pontianak. Hendro tak patah arang. Hubungan baik tetap dia jaga. Terlebih Sintong telah memerintahkan agar tidak menggunakan kekerasan dalam mengorek informasi agar tidak menyesatkan. Perhatian lebih pun diberikan Hendro kepada perempuan itu. Hendro bahkan sampai meminta Wa-Dan Satgas 42 Mayor Justam memberi santunan kepada perempuan tersebut. Perhatian berlebih itu tentu membuat si perempuan menjadi kian dekat dan terbuka. Saat itulah Hendro mengeluarkan “jurus” untuk mengorek identitas pasti si perempuan. Dia menceritakan kepada si perempuan bahwa ada seorang anggota gerombolan yang tewas di hutan ditembak kawan-kawannya karena hendak menyerah. Perempuan itu pun kaget dan penasaran mendengar cerita Hendro sehingga menanyakan siapa yang dimaksud. Dia lalu ditunjukkan sebuah foto oleh Hendro yang tak tahu pasti nama A Fong lantaran seringnya berganti nama. Si perempuan sontak menangis dan berteriak begitu melihat foto tadi. “Reaksi istri A Fong dapat memastikan bahwa janda beranak empat itu adalah istri gerombolan yang telah tertembak mati dalam pertempuran di Gunung Kanyi,” tulis Hendro Subroto. Hendro langsung melaporkan kepada Sintong bahwa orang yang dicarinya telah didapatkan. Setelah itu, dia terus membina hubungan baik dengan istri A Fong. Dari perempuan itulah Hendro kemudian mendapat banyak informasi berharga mengenai gerombolan. (Bersambung)
- Penerbang Amerika Pertama yang Hilang di Perang Pasifik
SUDAH lebih dari sebulan kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat (AL-AS) USS Enterprise (CV-6) berlayar di Samudera Pasifik Tengah sejak pembokongan Jepang atas Pearl Harbor. Pada bulan pertama tahun 1942, USS Enterprise –bertindak sebagai kapal komando Divisi Kapal Induk ke-2 AL dengan panglima Laksamana Madya William Halsey Jr.– sudah kesumat untuk membalas dendam. Di lambung kapal induk kelas Yorktown itu dimuat senjata utama: 90 pesawat terbang. Salah satunya pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator yang diawaki Aviation Chief Machinist Mate (ACMM, setara sersan mayor) Harold Dixon, penembak A. J. ‘Tony’ Pastula, dan opsir radio Gene D. Aldrich. Sejak USS Enterprise melepas jangkar dari Pearl Harbor pada 8 Desember 1941, Laksdya Halsey memimpin Divisi Kapal Induk ke-2 menjelang misi raid ke Kepulauan Marshall dan Gilberts. Seperti biasa, pesawat-pesawatnya saban hari diterbangkan untuk misi anti-kapal selam dan patroli, termasuk yang dilakoni Dixon dan krunya yang ditugaskan di Skadron Torpedo VT-6. Menjelang misi rutin pada Jumat petang, 16 Januari 1942, Dixon punya perasaan tak enak. Perasaan tak enak itu baru pertamakali dialaminya dalam 22 tahun masa tugasnya sebagai penerbang AL. “Kebanyakan pelaut percaya akan hal takhayul. Lucunya beberapa hari sebelum 16 Januari seiring kapal kami berlayar ke selatan Pasifik, saya memiliki perasaan aneh bahwa sesuatu akan terjadi. Sulit untuk mengabaikan perasaan itu karena beberapa hal kecil yang aneh juga terjadi kepada saya,” kata Dixon mengenang yang dituangkannya di Majalah Life , 6 April 1942. Saat Dixon makan siang menjelang misi pada petangnya, misalnya, ia mengaku muncul dorongan dari hatinya untuk makan dua atau tiga kali lebih banyak. Saat selesai makan dan melewati kabin medis, tiba-tiba ia diajak masuk ke kabin oleh salah seorang petugas medis. Tetapi Dixon tak mengungkapkan semua itu kepada Aldrich dan Pastula yang masih “hijau”. Kala waktu menunaikan misi patroli tiba, Dixon setenang mungkin memimpin keduanya naik ke pesawat TBD Devastator mereka yang bernomor ekor 0335. Pastula dan Aldrich tak pernah menduga bahwa itu akan jadi misi yang berujung petaka yang membuat mereka menjadi penerbang pertama yang hilang di Perang Pasifik. Petaka itu bermula setelah mereka sudah tinggal landas dari geladak USS Enteprise . Semakin lama mereka terbang, situasimakin pelik. Diperparah cuaca buruk, Dixon berkali-kali sibuk memerhatikan kompas dan petanya lagi, hingga akhirnya ia mengakui telah tersesat. “Patroli di hari itu benar-benar sarat kejadian. Selain harus terbang pada petang hari, kumpulan awan yang menurunkan hujan membuat kami sulit melihat lautan, hingga entah bagaimana pesawat kami tersesat. Selama berjam-jam saya mencari arah kembali ke kapal (induk) sampai bahan bakar hampir habis. Tiada lain saya harus membawa pesawat mendarat di air,” sambung Dixon. Kapal Induk USS Enterprise (atas) & kumpulan pesawat TBD Devastator dari Skadron Torpedo VT-6 di geladaknya jelang misi terbang. (U.S. Naval History and Heritage Command). Bertahan Hidup Kendatiberhasil mengumpulkan perlengkapan survival dan bisa mendaratkan pesawat di laut dengan selamat, Dixon mengakui nasib sial mereka terjadijustrupasca-keluar dari pesawat.Mayoritas perlengkapan surival vital seperti makanan, persediaan air, dan pistol suar justru gagal terselamatkan. Pasalnya, ketika Dixon berupaya membuka kaleng CO2 yang macet demi mengembangkan perahu karet, Aldrich dan Pastula yang diperintah membawa perlengkapan itu justru bergulat maut. Pastula membantu Aldrich melepas sabuk pengamannya agartidak terbawa tenggelam bersama pesawat. Mereka akhirnya hanya bisa berharap pada hujan untuk mendapatkan air tawar untuk diminum. Di saatkritis itulah keyakinan mereka diuji. Selain kegigihan untuk bertahan hidup, nasib mereka bergantung pada belas kasih Sang Pencipta. Terlebih mereka hanya bertiga di lautan itu. Optimisme mereka meningkat tatkala melihat sebuah pesawat terbang di atas mereka. “Kami berteriak sebisanya. Namun ketika pesawat itu berlalu, hati saya ikut tenggelam ke dasar laut. Saya mengerti prosedur itu. Laksamana (William Halsey Jr., red . ) yang saya kenal takkan mengambil risiko mengerahkan segenap armada hanya untuk menyelamatkan satu pesawat , ” lanjutnya. Optimisme mereka seketika berubah jadi pesimisme.Sebagaimana dikisahkan dalam Fly Navy: Discovering the Extraordinary People and Enduring Spirit of Naval Aviation karya Alvin Townley, setelah mereka terpaksa menahan dahaga dan lapar hampir satu pekan, hujan deras akhirnya turun. Dixon, Aldrich, dan Pastula buru-buru merentangkan pakaianuntuk menampung air hujan yang kemudian mereka peras lalu airnya mereka tampung di kantung air. Air persediaan itu harus dijatah untuk minum bertiga. Mereka berharap hujan turun lagi hujan sebelum persediaanair tandas. ACMM Harold Dixon (kanan) dan dua anak buahnya, Tony Pastula & Gene Aldrich. (Majalah Life , 6 April 1942). Selain air, masalah yang membelit mereka adalah tempat untuk tidur. “Kami segera tersadar tak bisa tidur. Perahunya hanya delapan kaki. Dimensi di dalamnya lebih kecil, 80x40 inci. Mustahil cukup ruang untuk kami bertiga beristirahat dengan nyaman,” ujar Dixon dikutip Townley. Keputusan segera diambil Dixon sebagai solusi. Secara bergiliran satu dari mereka mesti melek setiap empat jam sekali g un a mendapatkan ruang untuk merebahkan diri dua rek annya . Untuk urusan perut, Aldrich menjadi andalan dua rekannya karena masih menyimpan pisau lipat di sakunya.Pisau itu lalu dimanfaatkannya untuk mencari ikan kendati sempat dikhawatirkan Dixon pisau itu akan mengenai perahu karetnya. Namun alih-alih mendapat ikan segar berukuran kecil, pisau Aldrich justru menghujamseekor hiu. “Dengan pisaunya, Gene (Aldrich) menusuk badan hiu yang menggelepar hingga melompat ke perahu. Tony (Pastula) ikut memeganginya hingga tikaman berikutnya yang membuatnya mati. Setelah 10 menit bergulat dengan hiu, akhirnya kami bisa memotong-motongnya,” sambung Dixon. Trio Dixon-Pastula-Aldrich yang bertahan hidup 34 hari di Samudera Pasifik sebelum akhirnya mencapai daratan (National Museum of the US Navy) Kendati hanya bisa disantap mentah-mentah, daging ikan hiu itu bisa memperpanjang hidup mereka. Beberapa bagian daging laludisimpan di dalam kaus kaki yang dibasahi air laut agar bisa awetselama beberapa hari. Selain daging hiu, menu lain yang sempat mereka nikmati adalah daging burung albatros. Pada suatu pagi, burung itu hinggap di salah satu ujung perahu. Burung malang itu segera dimangsa peluru pistol M-1911 yang ditembakkan Pastula. Begitu mati dan tercebur ke laut, burung itu diambil Dixon yang buru-buru nyemplung untuk menghindari jadi mangsa hiu yangmasih banyak di sekitar perahu mereka. Entah di hari ke berapa, Dixon tiba-tiba teringat pada skema peta sebelum pesawat mereka jatuh. Peta itu ikut hilang bersama persediaan makanan dan air, namun tidakdengan kompasyangmasih dikantongi Dixon. Lantaran mulaiingat skema peta yang didapat dari briefing sebelum misi, Dixon menggambarnya ulang dengan pensil di atas jaket pelampung. Ia pun mulai memperkirakan posisi mereka dan posisi kepulauan terdekat yang bisa mereka capai. “Saya sudah mempelajari peta-petanya dan kemudian ingatan saya kembali tentang di mana saja posisi-posisi pulau-pulau di peta itu. Ke arah barat dan utara dari posisi (jatuh) kami adalah Kepulauan Jepang. Tentu saya ingin menghindari mereka. Ke timur adalah kepulauan tak berpenghuni. Harapan kami hanya bermanuver ke arah selatan dan timur, letak kepulauan yang lebih bersahabat, sembari berharap kami berjumpa sebuah konvoi kapal Amerika,” imbuhnya. Dixon, Aldrich, dan Pastula lalu berusaha mengarahkan perahu dengan memanfaatkan angin. Mereka juga membuat jangkar darurat dari jaket pelampung dan kawat, dan menggunakan sol sepatu sebagai dayung. Mereka berusaha mengarungi 30-40 mil setiap harinya. Mereka terus berusaha meski berhari-hari menahan rasa lapar, haus, serta terik matahari saat siang dan badai tropis kala malam.Pada hari ke-34, Aldrich dengan tenaga tersisa berteriak kepada atasannya. “Pak, saya melihat ladang jagung yang indah. Saya melihatnya dengan jelas, Pak. Saya melihat sesuatu dari kejauhan!” teriak Aldrich, dikutip Stephen W. Sears dalam World War II: Carrier Way. Upacara penganugerahan medali Navy Cross kepada Harold Dixon oleh Panglima Armada Pasifik Laksamana Chester William Nimitz ( Life , 6 April 1942) Perjuangan mereka yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan itu akhirnya berbuah manis. Daratan yang dilihat Aldrich adalah Atol Pukapuka di gugusan karangKepulauan Cook, 750 mil dari lokasi jatuhnya pesawat mereka. Bagi mereka itu suatu mukjizat. Pasalnya di belakang mereka sudah berkerumun lagi awan hitam dan angin yang mulai berhembus kencang. Pertanda badai bakal kembali menerjang, seperti halnya beberapa hari sebelum mereka melihat daratan, di mana mereka nyaris mati dihempas badai tropis. “Kami melihat daratan itu di waktu yang kritis. Jika ditambah satu hari lagi (di laut) mungkin badai akan menuntaskan apa yang gagal dilakukan oleh rasa lapar, haus, angin, matahari dan hiu,” kenang Dixon lagi. Dengan tenaga tersisa, mereka mendayung perahu menuju Pukapuka.Ketika sampai di perairan dangkal, mereka turun dan dengan tertatih-tatih mencapai daratan. “Kemudian mereka ditemukan dan dirawat penduduk asli pulau itu. Setelah seminggu dirawat dan pulih, mereka bisa membuat isyarat untuk bisa dideteksi sebuah pesawat Amerika. Tak berapa lama, Dixon, Pastula, dan Aldrich dievakuasi oleh para kru kapal penyapu ranjau USS Swan ,” tandas Sears. Setelah pulih dan kembali ke USS Enterprise yang berlabuh di Pearl Harbor pada 17 Maret 1942, mereka disambut Laksdya Halsey dan Panglima Armada Pasifik Laksamana Chester Nimitz. Atasketeguhan jiwa dan fisik mereka, Nimitz menganugerahkan medali Navy Cross pada Dixon dan piagam Presidential Commendations pada Aldrich dan Pastula. Kisah mereka diangkat ke layar lebar pada 2014 oleh sineas Brian Falk bertajuk Against the Sun.
- Korban Granat di Front Bandung
Ketika datang kali pertama pada Oktober 1945, militer Inggris menemukan kenyataan Jawa merupakan medan perang yang panas bak neraka. Perlawanan sangat keras hampir terjadi setiap hari hingga menimbulkan korban yang cukup banyak di kedua pihak. “Kami seolah tengah masuk ke dalam suatu gudang peluru yang siap meledak,” tulis Letnan Kolonel A.J.F. Doulton dalam The Fighting Cock, The Story of the 23RD Indian Division. Salah satu palagan yang membuat pasukan Inggris sibuk adalah front Bandung. Di sana, Brigade Infanteri ke-37 pimpinan Brigadir N. Mac Donald mendapatkan perlawanan seru dari para pejuang Indonesia: mulai serangan tak terkoordinasi gaya amuk hingga hujan peluru artileri dan serangan sistematis yang dipandu buku-buku pegangan tentara Jepang. “Korbannya jangan dibayangkan. Mereka yang merupakan pemenang Perang Dunia II hampir tak berdaya menghadapi orang-orang nekat,” ungkap Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, pimpinan TKR di Jawa Barat pada 1945-1946. Namun di balik kebrutalan perang di barat Jawa itu, terselip berbagai kisah lucu yang dialami oleh para pejuang Indonesia. Salah satu-nya pengalaman R.J. Rusady W dari Batalyon 33 Pelopor. Ceritanya, suatu hari Rusady bersama salah seorang kawannya bernama Ridwan, ditugaskan berjaga di perempatan Grote Postweg dan Pangeran Sumedang (sekarang Jalan Asia Afrika dan Jalan Oto Iskandar Dinata. “Saya saat itu bersama Ridwan berada di belakang tumpukan karung pasir,” kenang Rusady dalam otobiografinya, Tiada Berita dari Bandung Timur. Saat berjaga itulah, dari arah barat muncul sebuah tank Sherman yang dikendarai oleh beberapa prajurit Gurkha. Melihat itu, Rusady cepat menyiapkan granat tangan bekas milik prajurit KNIL yang beberapa waktu sebelumnya diperoleh pasukannya dari sebuah gudang amunisi tua. Dalam hitungan detik, tank itu semakin mendekat ke arah Rusady dan Ridwan. Begitu berada dalam jarak lempar, Rusady pun langsung menyambitkannya ke kendaraan tempur baja tersebut. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Alih-alih mencapai tubuh Sherman itu, granat justru mengenai kawat listrik dan berbalik kembali ke tumpukan pasir tempat kedua prajurit TKR tersebut berlindung. Glaarrr! Meledaklah granat itu, diikuti rubuhnya Rusady dan Ridwan. Anehnya beberapa saat kemudian, Rusady merasa dia masih hidup. Namun saat siuman dia membayangkan kondisi tubuhnya dan jadi merasa ngeri sendiri. “Yang terpikir kami pasti berantakan dibuatnya dan tak berani membuka mata,” kenang ayah dari artis Paramitha Rusady itu. Yang pertama-tama dilakukan oleh Rusady adalah menggerakan jari-jemari tangannya. Ternyata tak ada rasa sakit sama sekali. Kemudian dia menggerakan jari-jari kaki. Itu pun terasa biasa. Diberanikannya untuk membuka sebelah mata, karena tak berharap melihat pemandangan yang mengerikan dari tubuhnya. Ternyata seluruh tubuhnya normal. Tak ada yang putus atau terlepas sama sekali. Meskipun merasa aneh, Rusady dan Ridwan langsung bangkit. Mereka betul-betul tidak percaya jika granat yang mental itu tidak menyebabkan luka apapun. Mukjizat Tuhankah ini? Ternyata belakangan mereka baru tahu jika granat milik KNIL itu memang tidak ditujukan untuk membunuh. Granat tangan tersebut memang jenis yang jika digunakan hanya membuat sasaran hidup menjadi pingsan saja dan dijadikan tawanan. Hal yang lucu terkait granat juga terjadi dalam pertempuran seru di Jalan Lengkong pada Desember 1945. Menurut Aleh (93), beberapa pejuang Indonesia yang masih buta akan amunisi mesiu, melemparkan beberapa granat tanpa mencabutnya pin-nya terlebih dahulu. “Akibatnya granat dikembalikan oleh musuh dan meledak hingga menimbulkan korban yang banyak di pihak kita,” ungkap eks pejuang Hizbullah Bandung itu. Menjadi “korban granat” juga dialami oleh Soleh (92), seorang tukang dagang telur bebek. Suatu ketika seorang yang dikenalnya sangat baik di kota Bandung tetiba menitipkan sejumlah telur bebek yang sudah rapi tertata di keranjang kepadanya. Dia berpesan jika sudah sampai Majalaya, telur-telur itu harus diserahkan ke sebuah warung makan. Soleh tentu saja tidak keberatan membawa telur-telur bebek itu. Apalagi Si Penitip memberinya upah yang lumayan besar. Tanpa curiga dibawanya telur-telur itu hingga melewati beberapa pos penjagaan serdadu Inggris yang melewatkannya begitu saja. “Saya memang sering tak diperiksa oleh tentara-tentara itu karena selain saya memang sudah dikenal oleh mereka, beberapa tentara itu juga adalah langganan saya,” tutur Soleh. Bukan main terkejutnya Soleh setelah sampai di warung itu. Dia baru tahu bahwa di sela-sela telur tersebut ada sejumlah granat tangan yang sengaja dicat mirip warna telur. “Teu kabayang upami harita Abah digaradah ku Gurkha, tos pasti Abah tinggal ngaran ayeuna (Tidak terbayang jika saya saat itu diperiksa tentara Gurkha, sudah pasti saya tinggal nama saja sekarang),” ujarnya sambil terkekeh.
- Kisah Penyintas Terlupakan di Perang Pasifik
CAKRAWALA di atas Samudera Pasifik Selatan mulai gelap petang (16 Januari 1942) itu. Pilot Angkatan Laut Amerika Serikat Harold Dixon (diperankan Garret Dillahunt) masih sibuk dengan kompas dan peta di kokpit pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator-nya. Dia mulai kelimpungan mencari arah. Dixon terpaksa memerintahkan awak radionya, Gene Aldrich (Jake Abel), untuk membuka saluran radio ke USS Enterprise, kapal induk basis mereka. Dengan misi mencari dan melenyapkan kapal selam Jepang sebagai bagian dari Skadron Torpedo VT-6, sebetulnya mereka dilarang membuka saluran radio ke markas demi menghindari radar musuh. Sial, upaya Aldrich membuka kontak ke USS Enterprise hasilnya nihil. Alih-alih sambungan radio dari markas, Aldrich malah menangkap siaran radio Jepang. Buru-buru dia hentikan upayanya itu. Detik demi detik berlalu tanpa keberhasilan mendapatkan arah, Dixon memerintahkan kru pembom Tony Pastula (Tom Felton) untuk membuang torpedo demi mengurangi beban dan menghemat bahan bakar. Tetap saja harapan Dixon untuk menemukan arah kembali ke kapal induk nihil. Dixon pun memerintahkan kedua krunya menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk menyintas. Dixon melakukannya lantaran memilih mendaratkan pesawatnya di air ketimbang jatuh kehabisan bahan bakar. Adegan mati-matian Harold Dixon, Tony Pastula, dan Gene Aldrich bertahan hidup di Samudera Pasifik Selatan (The American Film Company) Adegan itu membuka drama film perang bertajuk Against the Sun garapan sineas Brian Falk. Film yang mengangkat perjuangan tiga awak pesawat pembom torpedo yang terombang-ambing di lautan luas Samudera Pasifik Selatan itu mengambil setting waktu Perang Dunia II. Adegan lalu berganti ke adegan pesawat mereka mendarat darurat di air. Dixon yang bergegas keluar kokpit segera berkutat dengan kaleng CO2-nya (karbon dioksida) yang macet. Dia harus segera membukanya demi mengembangkan perahu karet darurat buat mereka menyelamatkan diri. Di dekat Dixon, Pastula dan Aldrich nyaris tenggelam bersama pesawat karena sabuk pengaman mereka macet. Kegigihan mereka akhirnya membuat mereka bisa keluar dari kokpit sebelum dibawa pesawat yang tenggelam dengan cepat. Namun, mereka mesti merelakan perlengkapan survival, termasuksuplai makanan dan air, yang ikut tenggelam bersama pesawat . Hanya kompas, tang, gulungan kabel, dan kantong air tanpa isi yang selamat. Perjuangan mereka yang terombang-ambing di Samudera Pasifik Selatan tanpa makanan dan air selama lebih dari sebulan di bawah terik matahari dan hujan badai pun dimulai. Bagaimana akhir perjuangan mereka, apakah berhasil ataukah gagal? Anda bisa saksikan sendiri Against the Sun di aplikasi daring Mola TV . Kisah Para Penyintas dari Pasifik Kisah yang dialami Dixon, Aldrich, dan Pastula bukan kejadian langka. Dalam Perang Pasifik, banyak pelaut dan penerbang AL Amerika mengalami kejadian serupa. Presiden Amerika ke-41, George Herbert Walker Bush, salah satunya. Ia terombang-ambing di lautan selama empat jam sebelum diselamatkan kapal selam Amerika USS Finback pada 1 Agustus 1944. Wajar bila kisah mereka banyak difilmkan. Oleh karena banyaknya film bertema itu, sutradara Brian Falk menyebut Against the Sun serupa tapi tak samajika dibandingkan dengan Lifeboat (1944) besutan Alfred Hitchcock, Unbroken (2014) garapan Angelina Jolie atau film-film bertema survival dalam Perang Pasifik lain. “Akan selalu ada perbandingan di antara film-film bertema penyintas dengan perahu penyelamat di lautan terbuka. Tentu saya menonton Lifeboat sebelum menggarap film ini. Lifeboat bagus tapi itu termasuk film noir sementara Against the Sun bukan seperti itu,” ujar Falk dalam wawancaranya dengan Jared Frederick yang dimuat di blognya, 26 Januari 2015. Untuk “mengalahkan” Unbroken, yang rilis lima hari sebelum Against the Sun dan mendapat perhatian khalayak lebih luas mengingat timpangnya ongkos produksi, Falk menyiasatinya dengan memilih tiga aktor utama yang solid demi memainkan tiga karakter asli dengan apik. Penyiasatan juga dilakukan denganpenggunaan CGI (Computer-Generated Imagery) yang halus dan music scoring sentimentil apik dari komposer Petr Cikhart. “ Unbroken sedikit lebih mirip tetapi sayangnya bisnis film tidaklah berdasarkan garis start yang sama (ongkos produksi, red ). Jika orang menyukai Unbroken , mereka akan menyukai Against the Sun dan sebaliknya,” sambung Falk. Pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator (atas) & sosok asli trio Harold Dixon (kanan), Tony Pastula (tengah) dan Gene Aldrich (Navy National Museum of Naval Aviation) Dari segi topik, kisah yang diusung Against the Sun dalam literatur-literatur sejarah tentang Perang Pasifik masih kalah kondang dibanding Unbroken atau USS Indianapolis: Men of Courage (2016) yang dibintangi aktor kawakan Nicolas Cage. Kendati dibayang-bayangi kisah-kisah yang lebih populer, pengalaman trio Dixon-Aldrich-Pastula sarat inspirasi. “Kisahnya saya dapat dari naskah yang sudah dirangkum penulis skenario Mark David Keegan. Dalam kisahnya terdapat semangat dari pepatah para pelaut: lautan tenang takkan menciptaskan pelaut handal. Idenya adalah mengangkat sifat dan karakter terbaik dari manusia itu sendiri saat menghadapi situasi terburuk dan buat saya, itu menarik untuk dieksplorasi,” imbuhnya. Sebagaimana misi rumah produksinya yang selalu ingin mengangkat kisah nyata yang terlupakan, Falk pun selalu berusaha mericek semua naskah hingga properti sesuai eranya. Ia dibantu konsultan sejarah Robert Cressman yang pakar sejarah Angkatan Laut Amerika di Perang Dunia II. Tujuannya agar bumbu dramanya tak jauh melenceng dari fakta kisah asli Dixon dan kedua anak buahnya. Namun, Anda mesti bersiap cepat bosan. Against the Sun minim adegan-adegan action seru sebagaimana Unbroken yang ber-budget 65 juta dolar atau USS Indianapolis yang berbiaya 40 juta dolar. Unbroken menyuguhkan sejumlah adegan pertempuran kolosal di angkasa. Pertempuran itu membuat tokoh utamanya, Louie Zamperini, terdampar 47 hari di lautan sebelum ditawan Jepang. Dua film bertema serupa: Unbroken (kiri) & USS Indianapolis: Men of Courage (IMDb) Sementara, USS Indianapolis hadirdengan aksi tokoh utama Kapten Charles McVay III yang menakhodai kapal penjelajah berat USS Indianapolis terdampar akibat diserang Jepang pascamisi mengantarkan bom atom. Serangan itu mengakibatkan 300 dari 1.100 awak USS Indianapolis yang selamat harus mati-matian bertahan hidup. Setelah tiga setengah hari terombang-ambing di lautan, mereka akhirnya diselamatkan. Against the Sun adalah melulu soal daya tahan fisik dan mental tiga manusia minim perlengkapan survival di lautan lepas. Bagaimana mereka saling bekerjasama, mengharap kemurahan Tuhan yang lantas datang dengan hujan deras pemberi persediaan air minum mereka, dan berbagai aksi lain yang membuat mereka survive menjadi pesan utama yang disampaikan film ini. Hanya dengan dua faktor itu, ditambah pertolongan Tuhan, mereka berjuang menghadapi bahaya yang datang bukan dari pasukan lawan namun dari keganasan alam. Yang pasti, bagaimana detail perjuangan mereka dan hasil akhir yang didapatkan merupakan pesan moril amat berharga bagi siapapun dalam mengarungi lautan kehidupan, kapan dan di manapun. Data Film: Judul: Against the Sun | Sutradara: Brian Falk | Produser: Brian Falk, Kurt Graver, Mark Moran | Pemain: Garret Dillahunt, Tom Felton, Jake Abel | Produksi: American Film Company | Distributor: Goldcrest Films NYC | Genre: Drama Perang | Durasi: 99 menit | Rilis: 22 November 2014, 2020 (Mola TV)
- CIA, PRRI, dan PSI
SUATU hari pada Mei 1957, Sumitro Djojohadikusumo menemui Sutan Sjahrir, ketua umum Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan mantan perdana menteri, di kediamannya di Jalan Jawa, Jakarta. Dia mengungkapkan niatnya untuk bergabung dengan gerakan di daerah. Saat itu, dia giat mendorong otonomi daerah. Sejak menjadi menteri keuangan (1952–1953), dia telah merasakan adanya ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah.
- Harem, antara Fantasi Erotis dan Kenyataan
Dua perempuan, yang satu telanjang, yang satu setengah telanjang, tengah bersantai di sebuah permandian mewah bergaya Timur Tengah. Seorang pelayan berkulit gelap dengan pakaian menutupi seluruh tubuhnya berbicara kepada mereka. Masing-masing kedua tangannya membawa satu pipa hookah. Di belakang ketiganya terletak kolam permandian. Lima perempuan telanjang lainnya sedang bersantai di tepian kolam itu. Adegan itu dituangkan Jean Leon Gerome (1824–1904), seniman orientalis dari Paris, dalam lukisannya yang berjudul “Pool in a Harem” pada sekira 1876. Gerome adalah salah satu dari seniman abad ke-19 yang kerap mengangkat tema negeri Timur dalam karyanya, khususnya kehidupan di dalam harem. Sebagaimana lukisan Gerome, dalam imajinasi orang Barat, harem adalah rumah berisi banyak perempuan yang dikumpulkan dari banyak negeri oleh lelaki yang berkuasa. Harem difantasikan berisi perempuan-perempuan telanjang yang ada untuk memuaskan tuan penguasa. Menurut Wendy M.K. Shaw, profesor sejarah seni budaya Islam di Free University, Berlin, dalam tulisannya di Al - Jazeera , penggambaran harem semacam ini hanyalah imajinasi orientalis Barat atas dunia Timur. Itu pun baru berkembang pada sekira abad ke-19. Fantasi Erotis Shaw berpendapat, fantasi sensual orang Barat tentang harem terpicu setelah karya 1001 Malam diperkenalkan kepada orang-orang Eropa pada sekira awal abad ke-18. Orang yang bertanggung jawab adalah Antoine Galland, orientalis asal Prancis, yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis. Karya ini terbit pertama kali pada 1704. Ditambah kemudian pada 1798 pasukan Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte menyerbu dan menduduki Mesir hingga 1801. Sebagaimana disebut Jennifer Meagher, senior kataloger di Departement of European Paintings, The Metropolitan Museum of Art, di New York, Amerika Serikat, bahwa kehadiran orang Eropa di Mesir pun menarik para pelancong Barat ke wilayah Timur Dekat hingga Tengah. “Banyak di antara mereka yang menuangkan kesan mereka ke dalam karya seni,” tulis Meagher dalam “Orientalism in Nieteenth-Century Art” di Heilbrunn Timeline of Art History . Baca juga: Memahami Sejarah lewat Lukisan Pada 1809, pemerintah Prancis juga menerbitkan jilid pertama dari 24 volume Description de l’Égypte (1809–22). Karya ini menggambarkan topografi, arsitektur, monumen, kehidupan alam, dan populasi Mesir. Menurut Meagher, Description de l'Égypte merupakan yang paling berpengaruh dari banyak karya lainnya yang mendokumentasikan budaya Mesir. “[ Description de l'Égypte ] membawa pengaruh yang mendalam pada arsitektur Prancis dan seni dekoratif periode itu, sebagaimana dibuktikan dalam dominasi motif Mesir di gaya kekaisaran,” jelas Meagher. Sementara banyak orang Eropa mengandalkan catatan perjalanan dan literatur resmi seperti Description de l'Égypte dalam membangun kesan terhadap dunia Timur, para seniman justru melakukan satu atau lebih perjalanan ke wilayah tersebut. Mereka di antaranya Eugene Delacroix (1798–1863), Jean-Léon Gérôme (1824–1904), Théodore Chassériau (1819–1856), Alexandre-Gabriel Decamps (1803–1860), dan William Holman Hunt (1827–1910). “Lukisan orientalis pada abad ke-19 sangat dipengaruhi oleh pengalaman langsung seniman dalam kehidupan sehari-hari di kota dan permukiman di Timur Dekat,” tulis Meagher. Baca juga: Kisah Aneh tentang Turki Usmani di Nusantara Penggambaran tentang harem termasuk dalam beberapa adegan yang paling populer. Namun soal ini, kata Meagher, seniman pria sangat bergantung pada desas-desus dan imajinasi. Mereka mengisi interior harem dalam kanvas dengan dekorasi mewah, juga budak atau selir perempuan, yang berwajah orang Eropa, tengah berbaring telanjang atau dalam balutan pakaian bergaya Timur. Misalnya, lukisan karya pelukis Prancis, Jean Auguste Dominique Ingres (1780–1867), berjudul “The Turkish Bath”. Di sana ia menggambarkan suasana permandian dengan banyak perempuan telanjang. Ada yang sedang bermain musik, menari, dan berbaring. Semuanya lebih mirip perempuan Eropa alih-alih orang Timur Tengah. Baca juga: Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani Dalam menciptakan karyanya itu, Ingres bahkan tak pernah melakukan perjalanan ke Timur. “Ia menggunakan latar harem untuk menuangkan angan-angan erotisnya,” jelas Meagher. Pada masa berikutnya banyak pelukis dan novelis orientalis mengembangkan repertoar harem yang lebih fantastis lagi. Ini makin meningkat terutama dengan erotisasi tari perut yang ditampilkan dalam Pameran Dunia (Exposition Universelle) di Paris pada 1889. Harem di dalam Istana Topkapi, Istanbul, Turki. (MehmetO/Shutterstcok). Propaganda Imperialisme Menurut Laurel Ma, sejarawan University of Pennsylvania, penggambaran harem dalam seni lukis orientalis perlu ditelusuri. Khususnya dalam dunia Islam, lingkungan harem sangat terlarang bagi orang asing, terlebih jika itu laki-laki. “Istilah harem berasal dari kata Arab yang dilafalkan haram, yang berarti terlarang atau suci,” tulis Laurel Ma dalam “The Real and Imaginary Harem: Assessing Delacroix’s Women of Algiers as an Imperialist Apparatus”, termuat dalam Penn History Review . Meagher menyebut ada maksud terselubung di balik lukisan orientalis pada awal abad ke-19. Itu dimaksudkan sebagai propaganda untuk mendukung imperialisme Prancis. Lukisan itu sengaja menggambarkan dunia Timur sebagai tempat terbelakang, barbar, di mana pelanggaran hukum kerap terjadi, yang kemudian oleh Prancis berhasil dicerahkan dan dijinakkan. Baca juga: Kolonialisme Hancurkan Kedudukan Perempuan Sementara itu, Ma berpendapat, ada dua mitos yang saling menguatkan tentang harem. Pertama adalah versi harem sebagai tempat mewah di istana Turki di mana sejumlah besar selir dan budak wanita dengan cemas menunggu kembalinya tuan atau suami mereka, yakni sultan. Kedua adalah penjara di rumah tangga muslim di mana wanita tunduk pada kendali mutlak suaminya yang bertentangan dengan keinginan mereka. Mitos ini tidak hanya diterapkan pada lingkungan domestik muslim, tetapi juga kepada perempuan yang mengenakan cadar. Kebiasaan itu dipahami dan disebarluaskan oleh orang Eropa sebagai simbol penindasan di bawah suami dan masyarakat tirani mereka. “Definisi harem bermasalah karena lebih mencerminkan fantasi seksual orang Eropa tentang perempuan Timur daripada realitas domestik yang seharusnya digambarkannya di wilayah itu,” tulis Ma. Interior di dalam Harem Istana Topkapi, Istanbul, Turki. (Tolgaildun/Shutterstock) Peran Penting dalam Politik Kenyataannya, para perempuan di harem memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menghibur sultan atau suami secara umum. Beberapa bahkan memiliki andil dalam perpolitikan Kekaisaran Ottoman yang kuat. Sejak 1299 hingga 1920, harem sultan Ottoman terdiri dari istri, pelayan, kerabat perempuan sultan, dan selir. Murat Iyigun menjelaskan, di kesultanan itu, harem memegang otoritas politik yang cukup besar, terutama selama periode yang dikenal sebagai “Kesultanan Wanita”, yakni sekira 1533–1656. Masa ini kemudian membawa harem kepada kekuasaan yang lebih besar dari sebelumnya. Baca juga: Para Sultanah di Kesultanan Aceh “Anggota harem dengan latar belakang etnis atau agama yang berbeda sering melobi sultan untuk mempengaruhi penaklukkan Ottoman,” tulis Murat dalam “Lessons from the Ottoman Harem on Culture, Religion, and Wars”, termuat dalam Economic Development and Cultural Change . Adapun Kekaisaran Ottoman memiliki pengaruh besar di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Itu pada puncak kekuasaannya, yakni antara 1453 dan 1699. Lingkungan harem Istana Topkapi di Istanbul, Turki. (Shyshko Oleksandr/Shutterstock). Ruang Privat dalam Rumah Tangga Bagaimanapun, kata Shaw, harem sebenarnya hanyalah bagian pribadi dari sebuah rumah tangga. Misalnya, seperti juga ditulis dalam dailysabah , pada setiap rumah orang Turki, baik di desa maupun di kota biasanya memiliki dua bagian, harem dan selamlik . Harem adalah bagian dari sebuah rumah yang diperuntukkan bagi perempuan, dan hanya kerabat laki-laki yang diizinkan masuk. Selamlik , sebaliknya, adalah tempat para tamu laki-laki dijamu. Seperti rumah tangga mana pun, bangsawan atau bukan, harem adalah ruang pendidikan, dan perempuan dari berbagai status sosial mempelajari tugas-tugas dasar rumah tangga, membaca, dan mempelajari al-Quran. Untuk perempuan di kalangan elite, mereka biasanya berpartisipasi dalam lingkungan sosial budaya yang mencakup pembacaan puisi hingga urusan administrasi warisan dan properti. Baca juga: Perempuan-Perempuan Bersenjata Harem menjadi ruang bagi perempuan untuk mendapat akses yang sama ke pendidikan dan partisipasi publik. “Harem bukanlah seperti yang Anda pikirkan. Itu hanyalah bagian pribadi dari rumah tangga yang cukup besar, untuk membedakan antara tempat pribadi dan umum,” tulis Shaw. Sementata di balik erotisme para seniman orientalis, adegan tentang harem juga membangkitkan rasa keindahan banyak orang Barat. Cita rasa seni budaya Timur dalam motif arsitektur, furnitur, seni dekoratif, dan tekstil, selanjutnya semakin banyak dicari oleh kalangan elite Eropa.
- Cerita Impor Kedelai di Indonesia
Masyarakat Indonesia mendapat kejutan pada awal tahun baru 2021. Tempe dan tahu menghilang dari pasaran. Musababnya pembuat tempe dan tahu kesulitan mengolah kacang kedelai. Harga kedelai impor naik pesat. Padahal lebih dari 70 persen kebutuhan kedelai Indonesia berasal dari impor. Belakangan, pembuat tempe dan tahu mulai berproduksi kembali. Tapi harga tempe dan tahu naik. Harga kedelai naik pesat bukanlah cerita baru. Sejarah menunjukkan Indonesia sulit lepas dari ketergantungan impor kedelai. Impor ini telah bermula sejak masa Hindia Belanda. Menurut William Shurtleff dan Akiko Aoyagi dalam History of Tempeh and Tempeh Products (1815–2011), Hindia Belanda menjadi salah satu pengimpor besar kedelai di dunia pada 1920-an. “Setiap tahun, Jawa membutuhkan jumlah kedelai yang cukup banyak. Sekitar setengahnya berasal dari impor,” ungkap Shurtleff dan Aoyagi, mengutip catatan D.F. Blokhuis dalam Over de Beteekenis van de Sojaboon als Handelsproduct (Arti Pentingnya Kacang Kedelai Secara Komersial Sebagai Komoditas) terbitan 1932. Jumlah impornya mencapai 200 ribu ton untuk kebutuhan 35 juta penduduk. Dari 200 ribu ton kedelai impor, 95 ribu ton lebih berasal dari Manchuria. Kedelai impor itu digunakan untuk membuat tempe, tahu, dan kecap. Blokhuis menyebut sebenarnya kedelai lokal sama cocoknya untuk digunakan sebagai bahan utama pembuatan tiga jenis makanan tersebut. “Tetapi para pembuat tempe dan tahu memilih menggunakan kedelai impor sebagai bahan utama pembuatan tempe dan tahu karena kedelai impor lebih memuaskan,” sebut Blokhuis. Ukuran kedelai impor lebih besar daripada kedelai lokal. Selain itu, pasokannya juga lebih stabil. Masa itu, pasokan kedelai lokal terbanyak di Hindia Belanda berada di Jawa Tengah dan Timur. Di sini para pembuat tempe dan tahu memilih kedelai lokal. Tapi di Jawa Barat justru kebalikannya. Sebab lahan kedelai di Jawa Barat lebih sedikit daripada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedikit lahan mengakibatkan sedikitnya produksi kedelai. Buntutnya pasokan tak stabil dan kurang. Karena itulah, kedelai impor sangat laku di Jawa Barat. Memasuki masa kemerdekaan, impor kedelai menurun. Saat bersamaan, kebutuhan terhadap kedelai juga stagnan. Masa-masa setelahnya sampai era Demokrasi Terpimpin Sukarno, data produksi tempe sangat minim. Tak diketahui secara pasti berapa nilai impor dan produksi tempe dalam negeri ketika itu. Yang pasti, tempe saat itu termasuk menjadi menu andalan bersama jagung untuk Revolusi Menu yang dicanangkan Sukarno pada 1964. Sebab tempe telah dikenal memiliki kandungan protein tinggi. Bahkan Institut Teknologi Bandung memproduksi tempe dengan kandungan gizi lebih tinggi daripada telur. Data impor dan produksi tempe muncul kembali pada 1970-an. Menurut Anes Rachman dkk. dalam Ekonomi Kedelai di Indonesia, Indonesia mengimpor kembali kedelai pada 1972. Jumlahnya 183 ton. Relatif kecil dibandingkan dengan produksi dalam negeri yang mencapai 518.229 ton. Sementara kebutuhan kedelai saat itu berada pada angka 515.357 ton untuk 131 juta penduduk. Angka tersebut menunjukkan Indonesia surplus kedelai sehingga mampu mengekspor kedelai sebesar 3.055 ton. Tapi cerita manis ini berubah memasuki 1976. Nilai konsumsi kedelai Indonesia naik sedikit menjadi 692.969 ton. Begitu pula dengan produksi. Ada kenaikan menjadi 521.777. Tetapi kenaikan ini tak sebanding dengan kebutuhan. Defisit konsumsi tersebut tak tertutup oleh pembukaan keran impor kedelai secara besar-besaran. Tercatat saat itu nilai impor kedelai naik drastis hingga 171.746 ton. Anes Rachman mencatat, defisit tersebut terjadi karena beberapa hal seperti penurunan areal produksi, peningkatan jumlah penduduk, dan kelambanan perubahan teknologi. Karena itulah, pemerintah meminta Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk mengurangi defisit kebutuhan kedelai nasional. BULOG memegang monopoli impor kedelai dan harus menjaga harga kedelai lokal agar tetap bisa bersaing dengan kedelai impor. Untuk urusan ini, BULOG bekerja sama dengan Koperasi Pengusaha Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) yang berdiri sejak 1979. Radius Prawiro dalam Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi Pragmatisme dalam Aksi menyebut BULOG mencatat peran penting dalam swasembada beras di Indonesia pada 1980-an. Tetapi dalam kasus kedelai, BULOG tak berperan banyak.Beberapa program BULOG yang sukses diterapkan dalam program swasembada beras seperti Bimbingan Masyarakat, gagal pada ranah kedelai. Dalam urusan penentuan harga kedelai pun, BULOG tak berdaya menghadapi tekanan hukum permintaan dan penawaran. “Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. Harga kedelai sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar, yang tergantung pada permintaan dan penawaran ( demand and supply ),” catat Tahlim Sudaryanto dan Dewa K.S. Swastika dalam “Ekonomi Kedelai di Indonesia” termuat dalam Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Kondisi tersebut membuat harga kedelai impor selalu lebih rendah daripada kedelai lokal. Petani menjadi tak begitu tertarik untuk memproduksi lebih banyak kedelai. Sebab, tak banyak untung dari memanen kedelai. Mereka lebih memilih menanam jagung karena harganya lebih kompetitif dan menguntungkan. Sementara itu, angka perbandingan pertumbuhan produksi dan konsumsi kedelai sepanjang dekade 1970–1990 juga jomplang. Angka konsumsi selalu lebih tinggi daripada angka produksi. Tahlim Sudaryanto mengungkapkan tingkat produksi kedelai Indonesia sebenarnya pernah mengalami penurunan beberapa kali sejak 1992 hingga puncaknya pada 1998. Tetapi penurunan konsumsi itu terjadi karena penurunan ketersediaan kedelai impor. “Turunnya volume impor kedelai secara otomatis menurunkan volume persediaan (penawaran) dalam negeri. Konsumsi pun menyesuaikan dengan ketersediaan kedelai di dalam negeri,” ungkap Tahlim. Untuk mengatasi itu, pemerintah mengakhiri monopoli impor kedelai di tangan BULOG pada 1998. Sejak itulah, swasta ikut berperan dalam menentukan tinggi rendahnya jumlah impor kedelai. Produksi kedelai nasional tak kunjung mampu mencukupi kebutuhan kedelai. Sejak itulah pemerintah menerapkan bea impor nol persen. Kebijakan liberalisasi ini membuat kedelai impor kian membanjiri Indonesia. Sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Kemudian pada 2004, pemerintah menghapus subsidi dan kredit lunak untuk palawija termasuk kedelai. “Menyebabkan biaya produksi kedelai di dalam negeri meningkat, sehingga daya saing usaha tani kedelai semakin lemah,” tulis Dewa K.S. Swastika dkk. dalam “Perdagangan Internasional Kedelai” termuat dalam Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Hingga hari ini, Indonesia masih terbelit lingkaran setan produksi kedelai nasional.





















