top of page

Hasil pencarian

Search this site

9981 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Zaman Gorombolan DI/TII

    TJUTJU Soendoesiyah (74) masih ingat kedatangan pamannya bernama Sersan Mayor Ombi ke rumahnya pada suatu hari di tahun 1956. Selain temu kangen setelah banyak bertugas ke luar daerah, Ombi juga bermaksud memberi tahu sang kakak, ibunya Tjutju, bahwa dirinya mulai hari itu ditugaskan di Bingawatie. Bingawatie adalah nama tempat yang terletak di Kampung Cangklek, Kabupaten Cianjur. Di sana didirikan sebuah pos militer untuk mengadang gerakan gerilyawan DI/TII dari arah Gunung Gemuruh dan Gunung Gede. "Ya kalau dari rumah saya di Salagedang, jaraknya ada sekitar 7 km," ungkap nenek dari 6 cucu itu. Beberapa hari setelah kedatangan sang paman, Tjutju mendengar berita duka: Pos Bingawatie pada suatu malam diserang sekaligus dibakar oleh gorombolan , sebutan orang Sunda kepada gerilyawan DI/TII. Tak ada yang tersisa. Bangunan pos dan para penghuninya nyaris menjadi abu. "Jasad Mang Ombi sendiri ditemukan sudah merengkel  (mengerut), besarnya menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan," kenang Tjutju. Tak lama setelah kehilangan sang paman, Tjutju mendengar kabar sedih kembali. Kali ini dari selatan Cianjur. Diberitakan uaknya yang bernama Tantan tewas disembelih oleh gorombolan  saat mereka menjarah kampungnya. "Waktu zaman gorombolan , hampir tiap waktu kita selalu kehilangan orang-orang yang kita sayangi dan kita kenal sangat akrab. Saat itu pertempuran banyak terjadi, korban pun banyak berjatuhan. Situasi pokoknya sangat kacau," ujar Tjutju. Berbeda dengan Tjutju, Kasa bin Sukadma (76) yang pada 1961 masih berumur 17 tahun mengalami secara langsung kegilaan perang di zaman itu. Bahkan bisa dikatakan dia merupakan salah satu korban keganasan para gorombolan . "Saya harus kehilangan tangan kiri saya yang diteukteuk  (dipotong) oleh salah seorang gorombolan  yang menyerang kampung saya," kenang warga Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya itu. Ceritanya, pada 17 Agustus 1961 tepat jam 12 malam, ratusan gerilyawan DI/TII menyerang desanya. Penyerangan itu sejatinya menyasar pos tentara di desa tersebut, namun tak ayal mengorbankan juga banyak warga desa. Kasa bersembunyi di tengah sawah yang siap panen. Namun, dasar sial, dia ditemukan oleh enam gerilyawan DI/TII yang memeriksa setiap kotak sawah secara teliti. "Mereka langsung membacok saya dengan golok panjangnya dan kena ke tangan kiri saya hingga putus. Nyawa saya selamat karena begitu tangan saya putus langsung pingsan dan dianggap sudah mati," ujar lelaki yang saat ini bekerja sebagai petani itu. Akibat penyerangan itu, 51 warga Parentas tewas seketika. Puluhan orang lainnya luka-luka. Pihak tentara kehilangan tiga prajuritnya. Sementara itu, di pihak gerilyawan DI/TII hanya ditemukan satu orang tewas dengan lubang peluru di kepala. Selain kegetiran dan kesedihan, zaman gorombolan  pun menguak kisah-kisah jenaka. Sudah menjadi rahasia umum jika pada saat itu rakyat berada dalam dilema menghadapi dua pihak yang tengah berperang. Maka muncullah istilah "kongres" kepanjangan dari hareup nyokong ka tukang beres  (di depan bilang mendukung ke belakang bilang beres). "Rakyat jadi berwajah dua: kalau siang mendukung tentara, nah malamnya membantu gorombolan ," kata Usep Romli H.M., wartawan senior Jawa Barat sekaligus pelaku sejarah zaman gorombolan . Usep yang saat itu warga Cibiuk, Garut memiliki pengalaman lucu. Menjelang DI/TII menyerah kepada pemerintah, dia dan kawan-kawannya ditugaskan oleh seorang pemuka masyarakat mengantarkan kebutuhan logistik untuk urang leuweung  (orang hutan, istilah lain untuk gerilyawan DI/TII). Logistik itu berupa makanan enak, seperti nasi putih, sambal, goreng ikan gurame, lalapan, pepes ikan dan lain-lain. Sampai di tempat yang biasanya warga desa “menyetor” logistik, para utusan DI/TII ternyata belum datang. Hingga tengah malam, ternyata tak satu batang hidung pun gorombolan  terlihat. Apa boleh buat, logistik itu akhirnya "disikat" saja oleh para pengantar hingga ludes. Singkat cerita, para pengantar yang kekenyangan itu pun sampai kembali di desanya. Saat itulah, sang tokoh masyarakat menemui mereka dan langsung bertanya:  "Sudah kalian sampaikan logistiknya?" "Sudah Pak Haji, beresss," ujar Usep. "Oh begitu. Tapi kok mereka tidak memberikan kode tembakan seperti biasanya kalau sudah menerima logistik, ya?" tanya Pak Haji lagi. "Hmmm, oh itu. Mereka bilang sih katanya kehabisan peluru," jawab Usep, sekenanya. Walau sedikit bimbang, Pak Haji pun mengangguk-anggukan kepalanya. Dan soal logistik untuk "orang hutan" itu pun tetap menjadi rahasia Usep dan kawan-kawannya hingga bertahun-tahun, jauh setelah DI/TII turun gunung dan menyerah kepada pemerintah.*

  • Dari Pengelana Melayu hingga Bajak Laut Asing

    Ora ng Melayu Mengelilingi Dunia Enrique Malaka, salah satu awak ekspedisi Ferdinand Magellan (1519–1522). Beberapa sejarawan meyakini Enrique seorang Melayu yang diambil sebagai budak oleh Magellan pascapenaklukan Malaka oleh armada Portugis tahun 1511. Ketika Magellan kembali ke Eropa, Enrique dibawa serta. Magellan lalu pergi ke Spanyol untuk meminta sponsor untuk ekspedisinya mencari rute ke kepulauan rempah - rempah. Raja Charles V setuju mensponsori dan mengirimkan armada yang dipimpin Magellan. Enrique diikutsertakan sebagai penerjemah. Ekspedisi itu berangkat dari Sevilla pada 10 Agustus 1519, menyeberangi Samudera Atlantik, melayari pantai timur Amerika Selatan, hingga akhirnya memasuki Samudera Pasifik. Armada tiba di Filipina pada April 1521. Ketika Magellan terbunuh dalam konflik dengan penduduk setempat, Enrique memutuskan menetap di sana. Sisa dari armada Magellan melanjutkan perjalanan dan baru tiba kembali ke Spanyol pada 6 September 1522. Marco Polo dari Timur Rabban Bar Sauma (1220–1294) sering disebut sebagai “Marco Polo dari Timur” karena prestasinya mencapai Eropa dari Asia melalui jalur sutra. Seorang Mongol kelahiran Beijing ini adalah rahib gereja Nestorian, sekte Kristiani yang berkembang pesat di Asia. Dia mendapat perintah dari Khan Mongol untuk menjadi diplomat ke Eropa sekaligus menjalin hubungan politik dengan Prancis untuk menekan dominasi kaum muslim Mamluk di Timur Tengah. Pada 1287, dia dan rombongannya berangkat ke Eropa dan mencapai Konstantinopel dan Sicilia. Pada 1288, dia mencapai Paris, Prancis, dan bertemu dengan Raja Edward I di Bordeaux. Di Roma, dia juga bertemu dengan Paus Nicholas IV. Namun sayangnya, raja-raja Eropa tidak tertarik menjalin hubungan politik dengan bangsa Mongol. Dia menghabiskan masa tuanya di Baghdad sambil menulis catatan perjalanannya, The Monks of Kublai Khan: Emperor of China , yang kali pertama diterbitkan Sir EA Wallis Budge di Inggris pada 1928. Negara Pertama Mencapai Kutub Selatan Roald Amundsen beserta tim ekspedisi dari Norwegia menjadi yang pertama mencapai Kutub Selatan magnetis, ujung medan magnet yang lurus menembus pusat bumi dan menjadi sumbu putar bumi. Mereka tiba pada 14 Desember 1911, empat minggu lebih awal dari ekspedisi Robert Falcon Scott yang membawa panji Inggris. Keberhasilan heroik Amundsen kemudian diberitakan besar-besaran dan dirayakan secara menyeluruh oleh publik dunia. Amundsen lalu menulis kisah keberhasilannya ini dalam laporan berjudul The South Pole: An Account of the Norwegian Expedition in the Fram, 1910-1912 . Bersama dengan Ernest Shackleton dan Robert Falcon Scott dari Inggris, serta Douglas Mawson dari Australia, Amundsen menjadi tokoh kunci ekspedisi penjelajahan Antartika pada Zaman Heroik Penjelajahan Antartika selama pergantian abad ke-20. Setidaknya 17 ekspedisi besar dari 10 negara terjadi selama masa tersebut, dan menjadikan Antartika sebagai pusat riset internasional. Kota Dikuasai Bajak Laut Asing Kota Padang di Sumatra Barat pernah dikuasai gerombolan bajak laut La Meme yang membawa bendera Prancis pada 1793. Menurut E. Netscher dalam Padang, In het laatst der XVIIIe eeuw , La Meme berangkat dari Bordeaux pada 1792 sebagai “utusan” Prancis untuk mengambil alih kekuasaan VOC di Padang setelah Kerajaan Belanda ditaklukkan pasukan Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte. Melalui pernyataan kapitulasi oleh opperkoopman Padang saat itu, P.F. Chasse, La Meme menyatakan kota Padang takluk dan menjadi daerah kekuasaan Prancis. La Meme menguasai kota Padang selama 16 hari dan selama itu penduduk setempat diminta menyetorkan uang sebanyak 70.000 ringgit sebagai setoran harta jarahan.

  • Makna Menarik Kain Jarik

    Twitter  diramaikan oleh thread  tentang "Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset Akdemik dari Mahasiswa PTN di SBY". Pembuatnya, akun mufis @m_fikris , mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang bernama Gilang yang memiliki fetish . " Fetish  adalah ketika seseorang merasakan rangsangan seksual dari fantasi atau perilaku seksual yang melibatkan nonliving objects , misal sepatu, celana dalam, bra, atau bagian tubuh nongenital, bisa itu rambut hingga kaki," kata psikolog Inez Kristianti, dikutip dari Suara.com . Untuk kasus Gilang, nonliving objects yang membuatnya bergairah seksual adalah kain jarik. Kain jarik merupakan kain panjang yang memiliki motif batik dengan berbagai corak. Setiap daerah mempunyai ciri dan motif berbeda-beda. Dulu, jarik menunjukan status sosial dan dari mana orang tersebut berasal. Namun, umumnya kain jarik dipakai oleh semua orang termasuk rakyat biasa karena memiliki beragam fungsi. Bram Palgunadi dalam Serat Kandha Karawitan Jawi: Mengenal Seni Karawitan Jawa, menyebut di wilayah pedalaman atau pedesaan, lazimnya penduduk yang akan menonton pagelaran datang dengan berkalung kain sarung atau kain jarik. Kain sarung atau kain jarik ini sifatnya serbaguna karena selain dipakai bisa juga digunakan sebagai alas tidur, penutup kepala dan badan, atau sekadar sebagai tabir penahan dingin. Ternyata, jarik bukan sembarang kain. Orang Jawa memberinya makna. M. Hariwijaya dalam Islam Kejawen: Sejarah, Anyaman Mistik, dan Simbolisme Jawa menjelaskan bahwa jarik atau sinjang merupakan kain panjang yang dikenakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki. Jarik bermakna aja gampang serik . Artinya, jangan mudah iri terhadap orang lain, menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati, tidak grusa-grusu apalagi emosional. Jarik dikenakan selalu dengan cara diwiru ujungnya sedemikian rupa. Membuat wiru atau wiron  dengan cara melipat-lipat ujung jarik. Berarti  jarik tidak lepas dari wiru . Wiru artinya wiwiren aja ngantikleru yang artinya olahlah segala hal yang terjadi sedemikian rupa sehingga bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. " Bebed adalah kain atau jarik yang sedang dikenakan seorang laki-laki pada bagian tubuh sepanjang kakinya. Bebed artinya manusia harus ubed , rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan tumindak nggubed ing rina wengi artinya bekerjalah sepanjang hari," tulis Hariwijaya. Makna kain jarik sebagai penutup tubuh menjadi istilah bagi orang tua dalam mencari jodoh untuk anaknya. "Dari sisi pakaian, orang dianggap lebih ideal, lebih baik, lebih sopan, seorang bapak yang mencari menantu adalah yang jaritan (kain jarik, ed .). Tapi hal seperti itu sekarang mulai ditinggalkan, pakai jarik atau pakai celana yang pentingpakaiannya sopan," tulis Lusi Margiyani dan Moh. Yasir Alimi (ed.) dalam Sosialisasi Gender: Menjinakkan Takdir, Mendidik Anak Secara Adil . Sementara itu, kain jarik yang membebat tubuh perempuan bermakna bahwa perempuan harus menjaga kesucian dirinya dalam arti tidak mudah menyerahkan diri kepada siapa pun. Di balik makna jarik itu, menurut Hariwijaya, ada perilaku dengan jarik yang tidak sopan dan harus dijauhi, yaitu berselimut kain jarik. "Tidak sepantasnya karena jarik hanya untuk menyelimuti jenazah sebelum dikebumikan," tulis Hariwijaya.

  • Dari Mata Keranjang hingga Mata Ijo

    Istilah Mata Keranjang Ada dua pendapat berbeda. Remy Sylado yakin ini lantaran transliterasi dan transkripsi yang tak konsisten dari huruf Arab gundul ke aksara Melayu. Dalam Arab gundul, mata keranjang tersusun atas huruf mim-alif-ta dengan kaf-ra’-nun-jim-nga . Karena huruf kaf  dan ra'  digandeng, orang membacanya mata keranjang. Mulanya istilah ini untuk menandakan keranjang punya banyak celah yang bisa tembus mata. Tapi ketika Ejaan Yang Disempurnakan resmi digunakan pada 1972, preposisi "ke" terpisah dengan kata di depannya sehingga menjadi "mata ke ranjang". Ini mengasosiasikan mata melihat lawan seks lalu langsung terpikir ke atas ranjang. Pendapat berbeda diutarakan sejarawan Alwi Shahab. Menurutnya istilah ini berasal dari kebiasaan lelaki Jakarta melihat nona-nona Indo bercelana pendek bermain bola keranjang (basket) pada 1950-an. Istilah Hidung Belang Penggunaan istilah hidung belang  terjejaki dari kisah cinta yang tragis Jan Peterszoon Coen, mantan Gubernur Jenderal VOC. Dia mencintai anak tirinya, Sarah Specx. Namun, anak tirinya justru lebih memilih perwira VOC, Pieter Cortenhoeff. Coen, yang melihat anak tirinya berduaan di kamar bersama perwira VOC itu, sontak berang. Dia mencambuk Specx dan menghukum mati Cortenhoeff. Menurut Remy Sylado, sebelum dieksekusi, Cortenhoeff diarak keliling kota. Masyarakat Batavia menghujat dan mencoreng wajah Cortenhoeff dengan arang. Karena corengan arang, yang juga mengenai hidungnya, masyarakat menjulukinya hidung belang. Cortenhoeff si hidung belang. Saat itulah istilah hidung belang mulai dikenal. Menariknya, pemerintah kolonial Belanda pernah menyensor pementasan teater yang mengangkat kisah cinta Coen dan anak tirinya. Soalnya, kisah cinta ini jelas menodai citra sang pahlawan nasional Belanda itu. Mata Ijo Mata duitan Sejarawan Alwi Shahab menyebut sebutan ini bermula dari dekade 1950. Kala itu uang di Indonesia masih dalam pecahan sen. Uang pecahan seratus sen disebut dengan istilah ce-tun atau seperak. Uang seperak ini warnanya hijau, hingga ada istilah " matanye ijo kalo liat duit" . Istilah itu digunakan untuk menyebut orang mata duitan.

  • Karier Sepakbola Erdogan Penuh Tanda Tanya

    TAHUN 2020 seolah milik Recep Tayyip Erdogan. Setelah pada 10 Juli lalu resmi mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid, kini ia mendapati klub sepakbola yang didukungnya, Başakşehir FK, menjuarai Süper Lig Turki yang tutup musim 2019/2020 pada Minggu (26/7/2020). Saking girangnya, putra kedua Presiden Erdogan, Necmettin Bilal Erdogan, sampai berlarian ke tengah lapangan untuk turut merayakan kemenangan. Başakşehir merupakan klub plat merah milik Kementerian Pemuda dan Olahraga Turki, di dalamnya masih dikuasai Partai Pembangunan dan Keadilan Turki (AKP) yang mengusung Erdogan. Dibesut eks pemain timnas Okan Buruk, klub itu untuk kali pertama menjuarai liga Turki kasta teratas sejak promosi dari kasta kedua, TFF 1. League 11 tahun sebelumnya. Sukses Başakşehir via “jalur” Covid-19 itu sekaligus mematahkan dominasi “ The Big Three ”: Galatasaray SK, Beşiktaş JK, dan Fenerbahçe SK. Ketiga raksasa Turki itu kebetulan juga tengah dibelit persoalan finansial gegara pandemi virus corona , utamanya setelah liga dihentikan sementara pada Maret lalu. Namun, tidak halnya dengan Başakşehir. Klub semenjana ini tak punya problem serupa. Gaji para pemain bintangnya seperti Robinho (eks-Real Madrid), Demba Ba (eks-Chelsea), Martin Škrtel (eks-Liverpool), Eljero Elia (eks-Juventus), Gökhan İnler  (eks-Napoli), dan Gaël Clichy (eks-Arsenal) lancar. Gelar juara tersebut paling ditunggu Erdogan sejak dua tahun silam. “Kami ingin Başakşehir menargetkan gelar juara di liga politik, sebagaimana di liga sepakbola. Jika kita tak berhasil di lapangan hijau, maka kita juga akan lemah dalam pertarungan politik,” kata Erdogan, dikutip Al-Monitor , 16 April 2018. Başakşehir FK merayakan gelar juara Süper Lig Turki musim 2019/2020 (Foto: ibfk.com.tr ) Bukan rahasia bila Başakşehir dijadikan alat politik Erdogan. Klub yang berdiri pada 1990 itu laiknya cabang buat AKP sejak 2014 ketika diambilalih kepemilikannya dari pemerintah kota Istanbul. Presiden klub, Göksel Gumüşdağ, merupakan kader Partai AKP yang masih punya hubungan keluarga dengan istri Erdogan. Salah satu anggota dewan direksinya, Ahmet Ketenci, adalah ipar dari salah satu putra Erdogan. Sebulan menjelang pemilihan presiden 2014, Erdogan rela tampil membelanya dalam sebuah laga eksebisi dalam rangka pembukaan stadion baru di Istanbul, 28 Juli 2014. Dalam laga yang turut diikuti beberapa pejabat, seniman, selebritis, dan sejumlah mantan atlet Turki itu, ia mencetak hattrick (tiga gol). Erdogan kala itu mengenakan jersey oranye bernomor punggung 12 dengan emblem Başakşehir walau timnya bernama Turuncu Takim. Nomor punggung itu resmi dipensiunkan Başakşehir saat merayakan juara musim 2019/2020. Sepakbola Sembunyi-Sembunyi Lahir dari rahim Tenzile Mutlu pada 26 Februari 1954 di perkampungan miskin di Istanbul, Kasımpaşa, Erdogan kecil mesti sudah banting tulang karena keluarganya hidup pas-pasan. Nafkah keluarga hanya seadanya karena ayah Erdogan, Ahmet Erdogan, hanyalah anak buah kapal di feri-feri Istanbul. Erdogan kecil sampai harus membantu ekonomi keluarga dengan menjadi pedangang asongan. Biasanya setelah pulang sekolah Erdogan menjajakan simit (roti khas Turki mirip donat) dan beragam minuman di jalan-jalan kota Istanbul. Satu-satunya kesenangan yang ia punya hanyalah sepakbola yang ia mainkan dengan teman-teman satu sekolahnya di waktu luang. Erdogan mengenang masa lalu sepakbolanya ketika diwawancarai dalam program olahraga NTVSpor yang disitat Daily Sabah , 14 November 2017. Menurutnya, ia memulai petualangan sepakbolanya di usia 15 tahun. “Kami biasanya bermain dengan bola yang terbuat dari kertas di perkampungan kami. Sementara di klub amatir, Erokspor menyarankan saya bermain di Camialtı , salah satu klub amatir top di 1970-an,” tutur Erdogan. Nomor punggung 12 di Başakşehir dipensiunkan untuk sang presiden (Foto: Twitter @ibfk2014) Meski sang ibu tak keberatan Erdogan punya angan-angan jadi pesepakbola, ayahnya tak mengizinkan. Akibatnya, sebagaimana dituliskan John McManus dalam Welcome to Hell? In Search of the Real Turkish Football , Erdogan sampai harus sembunyi-sembunyi untuk bisa tampil di lapangan membela Erokspor dan Camialtı SK di kompetisi amatir. “Saya mencintai sepakbola. Itu menjadi hasrat saya. Angan itu selalu masuk dalam mimpi saya saat tidur malam. Tetapi ayah saya tak pernah memberi izin. Katanya: ‘Sepakbola takkan membuat perut kenyang.’ Tetapi Recep Tayyip muda selalu menentang ayahnya dengan menyembunyikan sepatu sepakbolanya di bunker batubara,” kata Erdogan mengenang, dikutip McManus. Karena main di kompetisi amatir, Erdogan bisa menyambi sepakbolanya dengan sekolah. Walau tak terlalu pintar, Erdogan dikenal sebagai pelajar yang rajin dan punya nilai bagus di pelajaran agama Islam dan olahraga. Seorang tetangga Erdogan yang juga kapten tim semi-pro İETT Spor sampai merekomendasikannya untuk bergabung ke tim yang dimiliki İETT, badan usaha bidang transportasi milik Pemerintah Provinsi Istanbul. Prospek itu benar-benar dipikirkan Erdogan. Pasalnya, sebagaimana dituliskan Patrik Keddie dalam The Passion: Football and the Story of Modern Turkey , Erdogan di bawah panji Camialtı berkembang dengan cukup baik. Dengan keunggulan posturnya, pemain jangkung 185 cm saat berusia sekolah menengah atas itu disebutkan menarik perhatian Fenerbahçe, klub yang diidolakannya sejak bocah. Erdogan termasuk pemain serba bisa lantaran mulanya ia ditempatkan sebagai penyerang, lalu gelandang, kemudian bek. “Erdogan mengklaim bahwa saat bermain untuk Camialtı saat berlaga melawan Kasımpaşaspor di tahun 1973, ia dipantau oleh pelatih Fenerbahçe asal Brasil, Didi (Waldyr Pereira) dan klub memberikan tawaran (kontrak profesional, red ). Tetapi Erdogan mengaku bahwa ayahnya tak membolehkan proses transfer –dia menginginkan putranya fokus pada studinya,” ungkap Keddie. Di masa muda, Erdogan sempat meniti karier di sepakbola amatir dan semi-profesional (Foto: Repro "Onların da Yolu İETTden Geçti") Tapi begitu lulus pada 1970-an dan sudah berhak menentukan jalan hidupnya, Erdogan menghadap ke sang ayah dan menyatakan akan tetap bermain bola di klub yang juga membolehkannya bekerja. Maka tawaran dari tetangganya di İETT Spor diterimanya. Jadi sembari bekerja sebagai karyawan İETT dengan gaji bulanan, Erdogan main untuk klub IETT. “Saya menikmati lima gelar dalam tujuh tahun di İETT. Awalnya saya penyerang, kemudian main di tengah, lalu saya dipindah posisi di belakang sebagai sweeper. Selain posisi kiper, bisa dibilang saya mampu main di posisi mana saja. Sepakbola permainan keras. Tubuh saya terdapat beberapa luka jahit. Bekas lukanya masih tampak. Makanya setiap saya bercermin, saya mengingat masa-masa saya sebagai pesepakbola,” kata Erdogan mengenang. Di Balik Karier Sepakbola Karier sepakbola Erdogan harus berhenti pada 1980. Penyebabnya, Erdogan terlibat percekcokan dengan manajemen baru İETT. Di sisi lain, Erdogan makin sibuk dengan aktivitas politiknya. Sejak 1970-an, Erdogan ikut MTTB, sayap pemuda Partai Keselamatan Nasional (MSP) pimpinan Necmettin Erbakan. Keputusan Erdogan itu disayangkan beberapa rekannya. Walau secara teknik tak menonjol, Erdogan punya kelebihan fisik dan kelugasan bermain yang dibutuhkan untuk menjegal setiap alur permainan lawan. Erdogan juga punya pengaruh besar terhadap penyiapan mental rekan-rekannya dengan acap mengajak shalat berjamaah. “Dia selalu menggelar sajadah dan shalat di ruang ganti. Teman-teman setimnya menyebutnya hoca , guru agama. Seringkali Erdogan dan pelatihnya mengajak tim (shalat berjamaah) ke Masjid Sultan Eyüp dan sering menjadi imamnya. ‘Kami memenangi semua pertandingan yang dimainkan dekat (distrik) Eyüp. Keimanan adalah 50 persen dari kesuksesan’ katanya,” sambung McManus. Sejak keputusan mundur itu, Erdogan benar-benar meninggalkan sepakbola. Ia hanya menikmati sepakbola lewat tontonan semata. “Tetapi setelah kudeta militer di tahun itu juga, Erdogan vakum dari perpolitikan, mengingat MSP dibubarkan. Setelah meninggalkan İETT Spor, ia memilih bekerja di sektor swasta, di industri tekstil,” singkap Soner Çağaptay dalam The New Sultan: Erdogan and the Crisis of Modern Turkey. Erdogan kemudian sempat menjalani wajib militer sebelum masuk kembali ke dunia politik. Karier politik Erdogan melejit sejak 1994 dengan menjadi walikota Istanbul. Ia mendaki tangga politik lebih tinggi dengan menjadi perdana menteri pada 2003, untuk kemudian menjadi presiden (2014). Karier emas Erdogan di semi-pro bersama İETT Spor (Foto: Repro "Onların da Yolu İETTden Geçti") Lantaran penggunaan sepakbola untuk urusan politiknya, gosip-gosip miring tentang benar-tidaknya soal karier sepakbola Ergodang pun bermunculan. Utamanya tentang tawaran dari klub Fenerbahçe yang diklaimnya urung ia ambil gegara tak diizinkan ayahnya. Terdapat beberapa perbedaan detail tentang kariernya dari sumber-sumber berlainan. Oleh karenanya beberapa sumber mengambil “jalan tengah” dengan menyebut ia berkarier di era 1970-an. Dalam wawancaranya dengan NTVSpor , disebutkan ia memulai di klub amatir Erokspor di usia 15 tahun yang berarti ia memulai kariernya di Erokspor pada 1969. Sementara, Keddie menuliskan Erdogan memulai karier amatir di Erokspor pada usia 13 tahun (1967) dan pada 1969 Erdogan baru tampil bersama Camialt ı Spor. McManus mengungkap Erdogan sudah ikut tim Erokspor di usia 11 tahun, seiring ia masuk Sekolah Imam Hatip. Beberapa sumber lain juga terbelah dalam hal usia Erdogan memulai karier amatirnya. Mengenai isu Erdogan nyaris direkrut Fenerbahçe, Keddie menuliskan berdasarkan pernyataan Erdogan bahwa dia mendapat tawaran itu pada 1973 ketika masih membela Camialtı Spor. Pernyataan itu berbeda dari ketika Erdogan diwawancara suratkabar Miliyet jelang pemilihan walikota Istanbul pada 1994, di mana ia menyatakan Fenerbahçe ingin merekrutnya pada 1977 alias ketika ia sudah berseragam İETT Spor. “Disebutkan (di Miliyet ) bahwa dia masuk dalam daftar calon rekrutan Fenerbahçe pada 1977. Itu menguatkan keyakinan sejumlah penulis bahwa catatan historis tentang kariernya dilebih-lebihkan. Apalagi klaim tentang dia hampir bermain untuk The Canaries (julukan Fenerbahçe, red. ) selalu diulang-ulang selama karier politiknya,” tambah McManus. Erdogan di tengah-tengah dua tim dalam laga eksebisi pada 2014 di mana ternyata skill sepakbolanya masih tersisa dengan mencetak trigol (Foto: ibfk.com.tr ) Narasi itu, sambung McManus, dikemas lagi dengan begitu apik lewat biografi karya Haci Hasdemir, jurnalis suratkabar pro-pemerintah Zaman, yang terbit pada 2005, Aman Babam Gormesin: Basbakan Erdogan’in Futbol Macerasi . Menariknya, Hayri Beşer, jurnalis Zaman lain, menyiratkan keraguan lewat tulisannya dalam pendahuluan di buku tersebut: “Ketika membacanya, beberapa orang mungkin berkesimpulan bahwa buku ini adalah anatomi seorang malaikat. Karena petualangan sepakbola Tayyip Erdogan sejak usia 15 nyaris tak bercela.” “Jurnalis dan pemerhati olahraga Mustafa Hoş menyindir buku Hasdemir itu sebagai ‘kitab suci’, membandingkan masa-masa sepakbola Erdogan seperti mencoba membongkar bukti tentang sejarah yang terjadi 100 tahun lalu. ‘Semuanya ambigu dan kontradiktif’ katanya,” papar McManus. Penulis Soner Yalçın dengan lantang menyebutkan bahwa cerita tentang Fenerbahçe terlalu dibuat-buat. Dari penelusurannya, semua sejarawan resmi Erdogan menuliskan tahun yang berbeda terkait kapan dia menerima tawaran transfer itu. Hal yang sama juga terjadi pada fakta siapa pelatih Fenerbahçe yang diklaim tertarik padanya: Waldyr Pereira Didi atau Tomislav Kaloperović. “Yalç ı n juga mengklaim Erdogan menghabiskan dua tahun di Cam ı alti Spor sebenarnya hanya staf asisten perlengkapan dan dia bisa beralih ke lapangan sebagai pemain hanya karena tekanan seorang temannya yang berpengaruh di Kas ı mpaşa kepada pelatih. Hal-hal itu mencuatkan terbelahnya kepercayaan tentang karier sepakbola sang presiden. Tergantung dari mana Anda melihatnya, baik dia sebagai Pelé-nya Kas ı mpaşa atau penipu belaka,” tandasnya.

  • Riwayat Politik Dinasti

    Jelang Pilkada serentak 2020, politik dinasti menjadi sorotan. Paling banyak dibahas adalah majunya putra pertama Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka sebagai calon walikota Solo. Sedangkan iparnya, Bobby Nasution, maju sebagai calon walikota Medan. Putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah, juga maju dalam pemilihan walikota Tangerang Selatan, Banten. Ia akan bertarung melawan keponakan Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Dalam kontes yang sama, ada Pilar Saga Ichsan sebagai bakal calon (bacalon) wakil walikota Tangsel. Ia adalah putra Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah dan keponakan mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Masih ada lagi, Hanindhito Himawan Pramono, anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, maju dalam Pilkada Kediri. Irman Yasin Limpo, adik Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang maju sebagai balon walikota Makassar. "Ini bukan fenomena tapi juga tradisi," kata Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, dalam dialog sejarah "Riwayat Dinasti Politik"  live  di saluran Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa, 28 Juli 2020. Akarnya bisa ditarik jauh ke masa lalu. Tradisi yang dimaksud Margana itu berawal dari budaya feodalisme di Nusantara yang juga menganut patrimonialisme. "Memang budaya politiknya mengarah ke sana, garis keturunan ayah diutamakan. Hampir semua kerajaan di Indonesia menerapkan tradisi ini, termasuk dari masa Hindu, Buddha, dan Islam," kata Margana. Margana menilai, ada jurang antara jalan politik demokrasi yang dipilih oleh bangsa Indonesia pada masa modern dengan kultur yang dibawa oleh orang-orang yang menjalankannya. Kultur ini tak mudah hilang begitu saja. "Teori bisa kita aplikasikan, institusinya bisa kita bentuk, tapi orang yang mengisi di lembaga-lembaga yang juga menjalankan kekuasaan itu, kulturnya masih feodal," kata Margana. Di Jawa Relatif Lebih Kuat Politik dinasti relatif lebih banyak ditemukan di Jawa dibanding di tempat lain. Margana berpendapat, ini ada hubungannya dengan langgengnya tradisi kerajaan di Jawa. Sudah sejak abad ke-7 orang Jawa terbiasa dengannya. Sumber-sumber dari masa Jawa kuno jelas menyebutkan konsep kekuasaan. Terlihat dari gelar penguasa atau raja. Konsep dewa raja pada zaman Hindu dan Buddha berarti raja memiliki sifat kedewaan. "Maknanya, apapun titah dia harus jadi undang-udang. Jadi absolut, pantang diubah, harus dipatuhi karena dia bukan hanya raja, dia juga dewa yang mengatur rakyatnya," ujar Margana. Dalam politik dinasti garis keturunan menjadi penting bagi seseorang yang ingin menjadi penguasa. Saking pentingnya dalam beberapa kasus raja-raja sampai harus merunut dan menyatakannya di hadapan publik. Seperti disebutkan dalam Prasasti Mantyasih (907). Raja Dyah Balitung menarik urutan raja-raja pendahulunya hingga Sanjaya, raja pertama Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya. Menurut Dwi Cahono, arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang, Balitung perlu melakukannya karena ada kemungkinan Balitung naik takhta bukan sebagai putra raja terdahulu. Statusnya adalah menantu yang kawin dengan putri mahkota. Balitung pun memberikan anugerah kepada orang-orang yang berjasa dalam pernikahannya. "Hal ini penting untuk mengingatkan khalayak bahwa dia menantu tetapi tetap memiliki trah panjang raja-raja terdahulu," kata Dwi. Raja Airlangga juga begitu. Dalam Prasasti Pucangan (1041), dia membeberkan silsilahnya hingga Mpu Sindok, raja Medang Kamulan. Dia naik takhta di Medang melalui pernikahan dengan putri Dharmawangsa Tguh, raja terakhir Medang Kamulan. "Sebenarnya ibunya (Airlangga, red. ) punya hak atas takhta di Jawa, tapi dia tidak naik takhta dan malah menikah dengan Udayana di Bali," kata Dwi. Pada masa perkembangan Islam, yakni era Mataram, dikenal konsep Khalifatullah. Artinya raja adalah wakil Tuhan di bumi. Raja-rajanya menggunakan gelar, misalnya Sayidin Panatagama Khalifatullah. "Konsepnya mirip. Sebagaimana dijelaskan dalam buku karya Soemarsaid Moertono dengan melihat kasus Kerajaan Mataram jelas bahwa raja-raja Mataram juga melanjutkan konsep dewa raja," kata Margana. Buku dimaksud berjudul Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau: Studi Tentang Masa Mataram II, Abad XVI sampai XIX. Silsilah juga penting. Garis keturunan sang penguasa dibuat dari dua sisi yang disebut trah mangiwo dan manengen . Trah manengen merunut silsilah penguasa hingga era kenabian. Di Jawa, sering kali dalam suatu silsilah ditemukan nama nabi yang tidak begitu dikenal, misalnya Nabi Sis. Sementara trah mangiwo , silsilahnya diurutkan sampai tokoh-tokoh pewayangan hingga Parikesit, yaitu keturunan Pandawa terakhir. "Artinya tak ada perubahan berarti dalam konsep kekuasaan. Dari kebudayaan Hindu dan Buddha ke Islam budaya politiknya tetap sama," kata Margana. Menurut Margana, orang Jawa mengenal trahing kusuma, rembesing madu, wijiling naratapa, tedaking andana warih. Seseorang untuk menjadi raja harus berdarah bangsawan, yaitu orang-orang yang darahnya merembes dari sultan yang bangsawan, pendeta atau ulama. "Jadi hanya orang-orang itu yang dianggap bisa menjadi pemimpin," kata Margana. Kalau ada yang tidak sesuai kriteria itu tapi naik takhta, maka orang itu mendapat pulung .   "Walau orang kecil tapi mendapat wahyu dari Tuhan maka dia legitimate . Ini cara orang Jawa mengkompromikan sesuatu yang tidak biasa," kata Margana. Kultur ini kemudian dipelihara oleh masyarakat sekarang dalam melihat seorang pemimpin. Kalau bukan seseorang yang dekat dengan bangsawan atau elite, paling tidak ia harus dari kalangan intelektual atau ulama. "Biasanya seseorang yang mempromosikan kandidat, walaupun program ada, visi misi juga punya, tidak kalah penting dikaitkan dengan itu," ujar Margana. "Itu alam bawah sadar." Kembali ke Etika Dengan adanya jurang antara politik demokrasi yang dipilih bangsa Indonesia dengan kultur yang dibawa oleh orang-orang yang menjalankannya, maka politik dinasti sangat mungkin terus terjadi. Apalagi itu bukan praktik ilegal. "Dalam undang-undang tak ada larangan. Masing-masing, setiap orang punya hak sama. Jadi sangat mungkin," kata Margana. Kendati tak persis seperti dipraktikkan pada masa lalu. Namun, dalam kasus Gibran dan Bobby misalnya, ada interpretasi bahwa efek dari sosok Joko Widodo masih berpengaruh. "Jadi, kemungkinan dinasti politik ini akan terjadi tapi dalam tanda kutip. Tidak bisa juga serta merta disebut sebagai dinasti," ujar Margana. Apa yang diharapkan kini adalah kesadaran untuk kembali ke etika berpolitik. "Oke, semua orang berhak dipilih dan mencalonkan diri. Mungkin yang diharapkan ada kesadaran kultural atau etika. Misalnya, saya (Gibran, red .) akan maju setelah Jokowi tidak lagi menjabat," kata Margana. Namun, mengubah kultur politik bukan perkara mudah. Itulah mengapa Sukarno bicara revolusi belum selesai. "Salah satu yang paling penting adalah merevolusi kultur yang masih kolonial dan feodal," kata Margana. "Harus cocok kan, institusinya demokrasi modern, tapi orang yang menjalankan, kulturnya masih feodal." Menurut Margana, salah satu caranya adalah memasukkan pembahasan soal budaya politik Indonesia ke dalam sistem pendidikan. Pendidikan politik seharusnya mengikuti kultur politik yang ada. "Orang yang menguasai kultur politik di Indonesia berarti akan bisa memenangkan pertarungan ini," kata Margana. Penyelenggara Pemilu juga mesti memiliki pemahaman terhadap kultur politik. Termasuk bagaimana sistem pemilihan calon pemimpin bisa memunculkan banyak tokoh alternatif yang bisa dipilih rakyat. "Sejauh mana mereka melihat ini sebagai fenomena yang tidak biasa dalam sebuah demokrasi. Kalau itu dianggap hal biasa matilah demokrasi kita," kata Margana. Pemimpin redaksi Historia.id , Bonnie Triyana yang memandu dialog sejarah, mengatakan adalah mimpi bersama demokrasi Indonesia tidak hanya prosedural, tetapi juga esensial. Semua pihak bisa bertarung dalam kontestasi pemilihan pemimpin di manapun wilayah administrasinya. "Tanpa harus mengandalkan trah, tanpa harus menjual atau berdayakan suatu hal yang justru datang dari masa lalu sehingga membawa kita ke dalam kemunduran praktik demokrasi," kata Bonnie.

  • Awal Invasi Narkotika ke Indonesia

    Baru-baru ini, model papan atas Catherine Wilson berurusan dengan pihak berwajib karena penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Perempuan yang akrab dipanggil Keket  itu terciduk setelah polisi menemukan sepaket sabu-sabu dikediamannya. Saat diperiksa, Keket positif menggunakan metamfetamin, jenis psikotropika golongan II. Nama Catherine Wilson menambah daftar panjang selebritis tanah air yang terjerat kasus narkotika. Selebritis dan kehidupan bebas ibarat satu paket. Salah satu rupa gaya hidup bebas itu  mewujud dalam pemakaian narkotika. Dari masa ke masa, cukup banyak seniman maupun artis yang dikenal sebagai pemakai narkotika. Tidak sedikit pula yang meninggal karena overdosis. Zat candu berbahaya ini terdiri dari narkoba, psikotropika, dan obat-obatan terlarang  Di luar kebutuhan medis, narkotika adalah barang haram. Namun, sejak kapan penyalahgunaan narkotika mulai marak di Indonesia? “Masuknya narkoba modern ke Indonesia itu mulai awal tahun 70-an,” ujar Tama Bara Sakti, arsiparis di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) kepada Historia .     Generasi Bunga Situasi global pada dekade 1970-an melahirkan generasi yang disebut kaum hippies. Mereka dikenal sebagai generasi antikemapanan yang menolak nilai-nilai konservatif Amerika. Gelombang protes terhadap keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam pada 1960-an jadi momentum kemunculan hippies. Simbol mereka adalah bunga sehingga kerap disebut sebagai generasi bunga ( flower generation ). Kaum hippies identik dengan gaya hidup bebas, seperti aktivitas seks bebas dan konsumsi obat-obatan terlarang. Love, Peace, and Freedom (Cinta, Perdamaian, dan Kebebasan) adalah semboyan hippies yang terkenal. Grup band pop Inggris The Beatles dan gitaris rock kesohor Amerika Jimi Hendrix adalah musisi yang mendukung dan berpenampilan ala hippies. Jimmi Hendrix bahkan meninggal akibat overdosis obat penenang jenis barbiturat pada 1970. Budaya hippies lalu mengular ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Anak-anak muda, yang mengalami depolitisasi sejak awal Orde Baru, menyerap mentah-mentah budaya hippies kendati hanya kulitnya. Penetrasi kultur pop ini terutama menyasar kaum muda di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Menurut Ekspres , 7 Juni 1971, mulanya anak-anak muda di negeri ini meniru hanya sebatas mode. Lama-lama mereka menyaplok habis budaya dan kehidupan hippies, seperti rambut gondrong, dandanan eksentrik, suka pesta, dansa telanjang, dan seks bebas. Yang paling membuat keadaan menggawat adalah penggunaan narkotika, ganja, dan morfin. Kepala kepolisian RI, Jenderal Hoegeng Iman Santoso turut prihatin menyaksikan anak-anak muda yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika. Hoegeng mengakui invasi narkotika di Indonesia bersumber dari situasi global yang menyerang kalangan muda. Selain itu, menurut Hoegeng ancaman narkotika tidak luput dari persoalan domestik.     “Banyak anak-anak orang kaya yang mengalami broken home mencoba melarikan diri dari kepahitan hidup dengan jalan menjadi pecandu ganja, heroin, dan narkotika,” ujar Hoegeng kepada Abrar Yusra dalam otobiografi Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan yang disusun Ramadhan K.H. Lahirnya Undang-Undang Narkotika Menurut Hoegeng kekhawatiran terhadap ancaman narkotika cukup beralasan. Apalagi letak geografis Indonesia tidak jauh dari kawasan penghasil narkotika alami jenis ganja. Kawasan yang dimaksud Hoegeng adalah Indocina yang disebut-sebut sebagai segitiga emas daerah ganja. Lagi pula, Asia Tenggara merupakan daerah tropis dimana narkotika alami seperti ganja bisa tumbuh subur. Selain itu, pemasokan narkotika dilakukan lewat cara penyelundupan. “Mobilitas transportasi yang kian berkembang, memudahkan narkotika masuk ke Indonesia,” kata Tama, “bisa dilihat dari kasus-kasus tahun 70-an yang melibatkan pemalsuan paspor.” Peredaran narkotika ditengah masyarakat generasi muda meluas dengan cepat. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam jadi tempat rujukan transaksi narkotika meskipun ada juga pedagang rokok jalanan menyambi jualan ganja kecil-kecilan. Dari kota besar ke kota kecil. Dari kalangan menegah ke atas, lantas golongan ekonomi lemah pun jadi ikut-ikutan mencicip barang terlarang itu. Semuanya bermula dari rasa penasaran, coba-coba, lalu terjerumus pergaulan.   Menurut berita Kompas , 10 Juli 1975, pecandu narkotika di Indonesia mencapai 5000 orang. Para pecandu itu menghabiskan uang sebesar 10,8 milyar rupiah untuk memuaskan candu mereka terhadap berbagai jenis narkotika. Karena kelangkaannya narkotika menjadi barang  yang mahal. Pada masa itu 1 kilogram morfin, narkotika semisintesis yang lebih dikenal dengan nama putaw dihargai sebesar 15 juta rupiah. Nilai yang cukup fantastis untuk menebus candu.  Sebagai bandingan, harga sekilogram beras pada tahun 1975 senilai 45 rupiah.   Memasuki 1976, kepolisian menggelar operasi besar-besaran untuk memberantas penyalahgunaan narkotika. Langkah awal dilakukan lewat “Operasi Gurita” pada 21 April–3 Juni. Namun, upaya itu masih belum cukup menekan laju peredaran narkotika. Hingga pertengahan 1976, jumlah korban narkotika di Jakarta saja mencapai 10.000 orang. Sayangnya, belum ada pisau hukum yang cukup tajam untuk menguliti kasus-kasus penyalahgunaan narkotika. Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah meregulasi narkotika ke dalam undang-undang. Maka pada 26 Juli 1976, pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika. Dengan adanya undang-undang itu, pemerintah memberikan wewenang pengolahan narkotika hanya kepada otoritas kesehatan dan medis. Menteri kesehatan, misalnya dapat memberikan izin khusus kepada apotek, dokter, rumahsakit, maupun lembaga ilmu pengetahun dan pendidikan yang memerlukan bahan narkotika untuk kepentingan pengobatan. Sementara itu bagi mereka yang tidak berwenang, si penyalahguna narkotika dapat dipidana bahkan dengan ancaman hukuman mati. “Penegakan hukum (kasus penyalagunaan narkotika) bisa dilakukan jika ada dasarnya. Dengan adanya Undang-Undang Narkotika itu, aparat hukum leluasa melakukan penindakan,” pungkas Tama.

  • Hagia Sophia dan Keteladanan Sahabat Rasulullah

    SERUAN adzan berkumandang dari menara Hagia Sophia di Istanbul, Turki, untuk pertamakali dalam 86 tahun pada Jumat siang, 24 Juli 2020. Bangunan megah dan bersejarah berusia 1483 tahun di tepi Selat Bosphorus itu resmi kembali jadi masjid usai ditetapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan 14 hari sebelumnya. Hagia Sophia dibangun tahun 537 sebagai katedral umat Kristen Ortodoks Yunani kala Istanbul masih bernama Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Pada 1204, ia beralih fungsi menjadi katedral Katolik Romawi di rezim Kaisar Baldwin I. Seiring jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) pada 29 Mei 1453 dan adanya kebutuhan Sultan Mehmed II untuk melaksanakan shalat Jumat di hari itu, katedral itu diubah fungsinya menjadi masjid. Hampir semua simbol Nasrani berupa relic , atribut, dan ornamen ditanggalkan dan diganti simbol-simbol keislaman, kecuali mozaik di langit-langit kubah yang dijadikan mihrab oleh Mehmed II. “Kebanyakan mural-mural dan mozaik-mozaik di gereja-gereja ditutupi lapisan cat putih. Akan tetapi untuk alasan tertentu, Sultan memberi perintah bahwa mozaik Bunda Maria di langit-langit kubah diberi pengecualian. Sampai ratusan tahun kemudian mozaik itu sekadar ditutupi tirai,” tulis Franz Babinger dalam Mehmed the Conqueror and His Time , sebagaimana saat ini ketika Hagia Sophia kembali dijadikan masjid, mozaik-mozaik itu kembali ditutupi tirai, khususnya di waktu-waktu shalat. Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Shalat Jumat untuk kali pertama didirikan di Hagia Sophia setelah 86 tahun (Foto: istanbul.gov.tr ) Menurut Babinger , mozaik bergambar Bunda Maria tengah memangku Yesus Kristus dari abad kesembilan itu dibiarkan seperti sediakala oleh Mehmed sebagai salah satu “nilai tawar” agar Gennadius Scholarius yang sempat ditahan, berkenan menjadi patriark dan pemimpin umat minoritas Ortodoks Yunani. Keputusan politis itu diambil lantaran Mehmet II menganggap dari sekian pemuka Ortodoks yang ada di Konstantinopel, Gennadius dikenal sebagai salah satu penentang Nasrani dari Barat. Dengan menjadikan Gennadius sebagai patriark, Mehmet II bisa sedikit lebih tenang dan mencegah munculnya pergerakan bawah tanah orang-orang Nasrani yang bersatu antara Ortodoks dan Katolik Roma. Baca juga: Mula Kristen di Sri Lanka Begitu Kesultanan Utsmaniyah runtuh pada 1935, masjid itu ditutup kemudian dijadikan museum oleh Presiden pertama Turki Mustafa Kemal Atatürk. Pengalihfungsian bangunan itu menjadi masjid kembali disayangkan sejumlah pihak. Beberapa bahkan mengecam penetapan Erdoğan itu yang isunya sudah berdengung sejak Juni. “Apa yang bisa saya katakan sebagai agamawan dan Patriark (Ortodoks) Yunani di Istanbul? Alih-alih menyatukan, sebuah warisan dunia berusia 1.500 tahun itu justru memecah-belah kita. Saya terguncang dan bersedih,” ucap Uskup Agung Ortodoks Yunani Bartholomew I, dikutip The Washington Post , 24 Juni 2020. Mozaik Bunda Maria dan Yesus Kristus di langit-langit kubah Hagia Sophia (Foto: hagiasophiaturkey.com ) Senada, dalam peringatan Hari Laut Internasional, Paus Fransiskus juga kecewa atas keputusan para pengambil kebijakan Turki terkait Hagia Sophia. “Lautan membawa pikiran saya lebih jauh, ke Istanbul. Saya memikirkan Santa (Hagia) Sofia…saya sangat terluka,” cetus Paus, dilansir Crux Now , 12 Juli 2020. Keputusan Erdoğan menetapkan Hagia Sophia menjadi masjid sangat politis. Ia mengesampingkan keteladanan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin al-Khattab, yang menjadi khalifah kedua pasca-wafatnya nabi. Khalifah Umar Menolak Salat di Gereja Jurnalis dan pemerhati politik Islam Mustafa Akyol dalam kolomnya di The New York Times , 20 Juli 2020 bertajuk “Would the Prophet Muhammad Convert Hagia Sophia?”, menguraikan, keputusan Erdoğan bisa membuka bab baru dari cerita lama Islam versus Nasrani. Padahal di masa lalu, orang-orang pemeluk monoteisme seperti Nasrani dan Yahudi selalu dianggap sekutu dan sahabat oleh nabi. “Jadi ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang masih sekelompok kecil dipersekusi di Makkah oleh para penyembah berhala, beberapa dari mereka mendapat suaka di kerajaan Nasrani di Ethiopia. Ketika Rasulullah memerintah di Madinah, Beliau menyambut para pemeluk Nasrani dari Kota Najran untuk beribadah di masjidnya,” ungkap Akyol. “Beliau juga membuat perjanjian dengan mereka yang isinya: ‘Tidak boleh ada pelarangan terkait peribadahan mereka. Tidak akan ada uskup yang dicabut dari keuskupannya, tidak ada biarawan yang diusir dari biaranya, maupun pendeta dari parokinya’,” lanjutnya. Baca juga: Özil dan Perkara Peranakan Muslim Turki Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan di Hagia Sophia sebelum penetapan status dari museum menjadi masjid (Foto: Twitter @RTErdogan) Teladan Rasulullah menghargai agama lain kembali dicontohkan Umar bin Khattab. Khalifah kedua setelah Abu Bakar “Al-Siddiq” itu memerintah dalam kurun 10 tahun (634-644 M). Menurut Profesor Daniel J. Sahas, peneliti sejarah Islam dari Universitas Waterloo, Ontario, dalam “The Face to Face Encounter between Patriarch Sophronius of Jerusalem and the Caliph Umar Ibn al-Khattab: Friends or Foes?” yang dimuat dalam The Encounter of Eastern Christianity with Early Islam , Khalifah Umar datang ke Yerusalem seorang diri atas permintaan Patriark Sophronius. Itu terjadi setelah ia menolak menyetujui kapitulasi yang ditawarkan Abu Ubaidah bin Jarrah, panglima pasukan Muslim yang sebelumnya mengepung Yerusalem. Baca juga: Prahara Yerusalem Diusik Amerika Sang patriark memberi syarat bahwa ia bersedia menyerahkan Yerusalem jika Khalifah Umar sendiri yang datang dan menerima penyerahan tanpa syarat itu. Permintaan Sophronius, disebutkan Sahas, bukan tanpa alasan. Permintaan itu sebagai simbol ketidaksenangannya terhadap Abu Ubaidah yang sempat mengancam akan menghancurkan setiap rumah ibadah jika Yerusalem harus direbut secara paksa. “Alasan lainnya adalah Sophronius ingin melihat sendiri kualitas seorang Umar yang berjuluk AmirulMukminin . Lainnya adalah Sophronius ingin penyerahan Yerusalem dilakukan dengan proses seremonial resmi, mengingat pentingnya kesucian Yerusalem. Umar yang menerima kabar permintaan itu ketika berada di Suriah, menyanggupi dan datang dengan menunggang unta,” tulis Sahas. Ilustrasi Khalifah Umar (kanan memegang tongkat) saat masuk ke gerbang kota Yerusalem di salah satu episode seri TV "Omar" (Foto: Youtube Qatar Television) Khalifah Umar kemudian berkemah di Bukit Zaitun (3,5 km timur dari kota tua Yerusalem) dan di situlah kapitulasi Yerusalem ditandatangani pada Februari 638. Menurut catatan Patriark Euthychius yang dituliskan pada tahun 876 dan dikutip Sahas, Patriark Sophronius turut mengantar Umar ke gerbang Yerusalem dan mengiringi sang Amirul Mukminin kala berkeliling ke sejumlah tempat suci di kota tua Yerusalem. “Setelah melewati gerbang, Umar mendatangi dan duduk di serambi Gereja Makam Kudus. Kala menjelang waktu s h alat (Dzuhur), Umar berkata: ‘Aku ingin shalat.’ Dan dia (Sophronius) menjawab: ‘Ya Amirul Mukminin , shalatlah di sini!’ Dan Umar berkata: ‘Aku tidak ingin s h alat di sini.’ Patriark lalu mengantarnya ke dalam gereja itu dan menggelar tikar di lantai gereja. Tetapi Umar berkata: ‘Aku juga tak ingin shalat di sini’,” kutip Sahas. “Lalu Beliau (Umar) keluar menuju gerbang timur gereja dan Beliau mendirikan shalat sendirian di atas rerumputan. Selepasnya, ia duduk bersama Patriark Sophronius. ‘Patriark, apa engkau tahu kenapa aku tak shalat di dalam gereja?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak tahu, wahai Amirul Mukminin. ’ Umar berkata: ‘Apabila aku shalat di dalam gereja, Engkau akan kehilangan gereja itu karena setelah kematianku, kaum Muslimin akan merebutnya dengan mengatakan: ‘Umar pernah shalat di sini.’ Tetapi berikanlah aku selembar perkamen untuk menuliskan sebuah dokumen!’” Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Dokumen yang dituliskan Khalifah Umar intinya berisi bahwa kaum Muslimin dilarang mengumandangkan adzan dan mendirikan shalat di tempat umat Nasrani beribadah. Kemudian, disebutkan F. E. Peters dalam Jerusalem: The Holy City in the Eyes of Chroniclers , Khalifah Umar meminta tempat untuk didirikan masjid di kompleks suci itu. “Sophronius berkata: ‘Aku akan memberikan AmirulMukminin sebuah tempat untuk mendirikan tempat ibadah, di mana para raja Romawi tak sanggup membangunnya. Tempat di mana terdapat sebuah batu yang dahulu (Nabi) Yakub berbicara pada Tuhan dan tempat di mana Yakub menyebutnya gerbang surga dan Bani Israil menyebutnya tempat paling suci (jejak-jejak Menorah). Tempatnya berada di tengah-tengah dunia’,” ungkap Peters. Ilustrasi Khalifah Umar (tengah) dalam seri "Omar" yang memilih tempat shalat di luar lingkungan gereja, tepatnya di timur Gereja Makam Kudus (Foto: Youtube Qatar Television) Sophronius kemudian menjelaskan bahwa tempat itu sudah terbengkalai dan kini tertutup pasir dan tanah oleh orang Romawi. Ia tak dijadikan gereja karena Yesus Kristus berkata bahwa Dia takkan meletakkan batu di atas batu yang takkan bisa dihancurkan. Oleh karenanya, umat Nasrani meninggalkannya sebagai reruntuhan. Umar lalu mengambil tanah itu, membersihkannya menggunakan jubahnya sebelum melemparkannya ke Lembah Gehenna, dan diikuti kaum Muslimin sampai tempat itu bersih dan batunya tampak. Setelah batu itu dipindahkan, tempat itupun dibangun masjid yang hingga kini dikenal sebagai Masjid Umar. Letaknya tak jauh dari gerbang timur Gereja Makam Kudus. Tetapi sejak 1193, masjidnya dipindah ke selatan gereja seiring berubahnya gerbang gereja ke arah yang sama sebagai imbas perbaikan usai beberapa kali hancur oleh konflik di abad ke-11. Salahuddin Menjaga Gereja Masjid Umar dibangun kembali pada 1193 oleh Emir Damaskus Al-Afdal bin Salahuddin, putra Sultan Salahuddin “Sang penakluk Yerusalem” dalam Perang Salib III (1187). Sebagaimana Khalifah Umar, Salahuddin al-Ayyub tak menistakan satupun gereja ketika Yerusalem sudah berada di bawah kekuasaannya. Salahuddin merebut Yerusalem dan masuk ke gerbang kota suci itu pada 2 Oktober 1187 atau 27 Rajab 583 Hijriah, bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Mengutip Sir Walter Besant dan Edward Henry Palmer dalam Jerusalem, the City of Herod and Saladin, sang sultan sempat menutup semua gereja, termasuk Gereja Makam Kudus, untuk menggelar diskusi dengan para pengikutnya guna menentukan apa yang akan dilakukan terhadap situs-situs Nasrani. Sementara, sejumlah situs suci Islam ia perbaiki dan kembalikan fungsinya sebagai rumah ibadah. Salah satunya, Qubbat al-Sakhrah (Dome of the Rock), masjid yang dibangun pada 691 di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Salib emas yang dipasang para Ksatria Templar di masjid itu dicopot. Pun begitu dengan yang berada di Masjid al-Aqsa dan Masjid Umar. Baca juga: Gereja Belanda Kutuk Tentara Belanda Ilustrasi Sultan Salahuddin dalam film "Kingdom of Heaven" yang memilih tak menghancurkan gereja-gereja di Yerusalem setelah direbutnya pada 1187 (Foto: Youtube Yubi) Sementara itu, umat Katolik bersama sisa-sisa pasukan Salib pergi setelah dijamin Salahuddin dengan bisa keluar hidup-hidup pasca-kapitulasi sehingga yang tersisa hanyalah budak-budak yang terbebas dan umat Kristen Ortodoks. Gereja-gereja yang mereka tinggalkan juga mendapat perhatian. “Gereja Makam Kudus jadi perhatian khusus. Banyak para pengikut Salahuddin menyarankannya untuk dihancurkan. Akan tetapi berkat pertimbangan matang sultan dan kisah keteladanan (Khalifah) Umar yang ia kemukakan, nasihat-nasihat pengikutnya (untuk menghancurkan gereja) tak ia jalankan,” tulis Sir Walter dan Palmer. Setelah tiga hari itu, Gereja Makam Kudus kembali dibuka dan Salahuddin mengizinkan umat Nasrani manapun untuk menziarahinya. Para penganut Kristen Ortodoks dan Koptik pun diperkenankan untuk tetap menjalani ritual-ritual di situs-situs suci mereka yang sebelumnya sebagian situs Ortodoks dikuasai umat Katolik Roma seiring berdirnya Kerajaan Yerusalem (1099-1187). “Kaisar Byzantium Isaac II mengirim surat untuk memberi ucapan selamat kepada Salahuddin dan memintanya mengembalikan semua gereja di kota (Yerusalem) kepada para agamawan Ortodoks dan semua kebaktian mereka bisa dilaksanakan dalam tata peribadatan Ortodoks Yunani. Permintaan itu dikabulkan Salahuddin, di mana semua urusan gereja diserahkan ke Patriark Konstantinopel,” singkap Maher Abu-Munshar dalam Islamic Jerusalem and its Christianity: A History of Tolerance and Tensions. Baca juga: Pandangan Westerling terhadap Islam

  • Gandum Belum Umum

    KIRAB gunungan mengawali Festival Panen Gandum yang digelar di Kebun Percobaan Salaran, Semarang, pada 8 September 2016. Acara ini memeriahkan panen gandum varietas dewata, berasal dari galur DWR-162 asal India, yang ditanam Pusat Studi Gandum Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga bekerja sama dengan PT. Bogasari.

  • Dari Cara Mengetahui Waktu hingga Zona Waktu

    Bagaimana manusia pada masa lampau mengetahui waktu? Untuk mengetahui waktu, manusia biasanya menggunakan matahari. Seperti dilakukan Ibnu al-Shatir, astronom Arab, pada abad ke-14. Dia memanfaatkan sinar matahari yang menimpa benda tegak pada sebuah bidang landai. Bidang itu terbagi atas 12 sudut. Masing-masing menunjukkan pergerakan waktu karena bayangan benda tegak itu akan bergerak sesuai pergeseran matahari. Tiap pergeseran bayangan satu sudut, Shatir menghitungnya satu jam. Orang mengenal alat ini sebagai jam matahari. Prinsip jam matahari telah dikenal sejak 3500 SM. Kala itu, orang-orang Mesir Kuno membangun sebuah obelisk berupa jam matahari. Dari sinilah, Shatir mengembangkan prinsip jam matahari. Tapi obelisk ini hanya menunjukkan waktu siang. Untuk menyiasatinya, mereka kemudian menggunakan pasir dan air sebagai media penunjuk waktu malam. Bagaimana perhitungan waktu menurut Suku Maya di Meksiko? Perhitungan waktu atau penanggalan yang dipercaya oleh Suku Maya berlandaskan pada perputaran Tanah Suci selama 260 hari, tahun matahari 365 hari, dan satu putaran 18.980 hari. Perputaran tersebut terdiri atas 52 tahun matahari atau 73 tahun suci. Suku Maya yakin bahwa sejarah berulang-ulang dalam daur yang mereka sebut “katun”. Setiap katun mengikuti daur sebelumnya dan berakhir pada hari yang sama dalam perputaran 18.980 hari dan pada hari itu mulailah katun baru. Sistem perhitunganwaktu Suku Maya ini lebih rumit dibandingkan sistem kabisat. Disebut-sebut tahun 2012 menurut perhitungan ini akan terjadi kiamat karena hari dalam waktu penghitungan Suku Maya ini berakhir. Mungkin artinya bukanlah kiamat, tapi tahun ini menjadi perputaran baru daur waktu dengan katun yang baru. Bagaimana cara orang bangun tepat waktu sebelum ditemukan jam alarm? Masyarakat Mesir kuno pada 245 SM telah menggunakan jam mekanik pertama di dunia dengan media air. Caranya air dialirkan ke dalam bejana yang bagian dasarnya dilubangi. Air ditampung wadah yang diberi tanda untuk menunjukkan tingkat perubahan ketinggian air sekaligus menunjukkan waktu. Teknik ini kemudian dikembangkan Tiongkok dengan menambahkan gong atau lonceng sebagai penanda waktunya. Penduduk asli Amerika hingga abad ke-20 punya cara unik: jam biologis. Sebelum tidur, mereka meminum air berlebihan. Hasrat buang air menyebabkan mereka bangun lebih awal. Sementara itu, di Eropa pada era Revolusi Industri, bos-bos pabrik mempekerjakan seseorang untuk mengetuk jendela mess dengan tongkat panjang atau penembak kacang. Cara ini bertujuan membangunkan buruh dan memastikan mereka tiba di pabrik tepat waktu. Bagaimana manusia zaman dulu menentukan arah mata angin? Seorang pangeran dari Tiongkok menghadiahkan sebuah kereta kepada utusan raja muda dari sebelah selatan negeri Tiongkok pada 1000 SM. Kereta itu dilengkapi boneka kayu, dengan magnet di telunjuknya, yang selalu menunjuk ke selatan. Dengan kompas kuno itu, raja muda tak tersesat meski berada di rimba raya. Kompas ini perlahan menggantikan cara menentukan arah dengan melihat matahari atau konstelasi bintang. Orang lalu berpikir menggunakan alat serupa di laut. Orang Arab menyempurnakannya untuk pelayaran pada abad ke-8. Pedoman ini melengkapi alat navigasi lain yang lebih dulu dikenal: peta. Penemuan ini tersebar ke Eropa. Salah satu orang Eropa yang mengembangkan kompas ini adalah Flavio Gioja. Mulanya orang di sana tak percaya dengan sifat magnet pada pedoman. Mereka lebih percaya magnet diisi kekuatan setan. Berapa kali Indonesia mengalami perubahan pembagian zona waktu? Sejak merdeka, Indonesia tercatat mengalami beberapa kali perubahan pembagian zona waktu. Mulanya pengaturan zona waktu masih mengikuti Jepang. Barulah pada 1947, kala Belanda kembali menduduki Indonesia, zona waktu Indonesia berubah. Belanda membagi Indonesia menjadi tiga zona waktu yang berselisih masing-masing enam, tujuh, dan delapan jam dengan Greenwich Meridian Time (GMT). Melalui Keputusan Presiden RI No. 152 Tahun 1950, Indonesia memiliki enam zona waktu dengan selisih 30 menit pada tiap zona waktu. Keputusan ini berubah lagi pada 1963. Indonesia kembali dibagi atas tiga zona waktu dengan selisih 60 menit pada tiap zona waktu. Pada 1987, Keputusan Presiden menyangkut zona waktu dikeluarkan. Namun tak ada perubahan pembagian zona waktu dalam aturan itu. Hanya beberapa wilayah yang ditukar ke dalam zona tertentu. Peraturan tersebut bertahan hingga sekarang .

  • Setelah Siliwangi (Diisukan) Takluk

    Soempena masih ingat peristiwa itu. Ketika dirinya baru saja akan berangkat memimpin satu seksi pasukan untuk menghajar iring-iringan konvoi militer Belanda di jalur Purwakarta-Karawang pada 23 Juli 1947, tetiba seorang petugas perhubungan dari brigade induk tergopoh-gopoh datang menemuinya. Dalam wajah berduka dia memberitahu Soempena untuk membatalkan pencegatan. “Itu perintah siapa?!” hardik Soempena. “Panglima Divisi barusan mengumumkan di radio: kita harus menghentikan perlawanan karena Belanda terlalu kuat buat kita!” jawab sang petugas. Begitu mendengar itu, sang komandan seksi tersebut langsung lemas. Baginya kabar itu sangat sulit dipercaya. Namun apa boleh buat sebagai bawahan dia harus menuruti perintah atasan tertingginya itu. Sementara itu, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel A.H. Nasution sendiri saat itu tengah berkeliling Jawa Barat untuk mengkoordinasi pasukannya. Dari bagian intelijen, Nasution sudah mafhum bahwa Belanda akan mematahkan Perjanjian Linggarjati dengan melakukan agresi ke wilayah-wilayah Republik. Begitu tiba di wilayah Ciwidey, Nasution sangat terkejut ketika Komandan Batalyon 26 (Siluman Merah) Kapten Achmad Wiranatakusumah menyodorkan dua salinan radiogram mengatasnamakan Panglima Divisi Siliwangi. Isinya: perintah kepada Batalyon 26 dan Batalyon 22 untuk menyerah  kepada Belanda karena sudah tidak ada gunanya lagi untuk bertempur. Sementara itu salinan radiogram satu lagi berisi perintah agar Siliwangi menangkapi semua anggota badan perjuangan dan kelaskaran terutama pimpinan mereka Mayor Jenderal Djokosujono. Mereka dianggap sebagai para pengkhianat dan pengacau perjanjian damai. “Saya jelaskan bahwa kawat-kawat itu palsu sama sekali, sudah terang (militer Belanda) telah menggunakan cara perang psikologis. Mereka menggunakan zender yang lebih kuat dari zender kita dengan tujuan untuk mengacaukan kita,” ungkap Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid V: Agresi Militer Belanda I. Dalam kenyataannya, persoalan bukan hanya sekadar “lebih besar-nya zender milik militer Belanda dibanding milik TNI”. Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya Sejarah Kodam Siliwangi, adanya perintah palsu itu juga karena telah bocornya sandi-sandi rahasia Siliwangi ke intelijen militer Belanda. Isu takluknya Siliwangi, ternyata “dimakan” juga oleh Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta. Menurut Nasution, isu bahwa “Panglima Divisi Siliwangi telah kapitulasi” beredar bukan hanya di kalangan para pejabat sipil RI dan para jenderal di MBT saja, namun juga sudah sampai ke pergunjingan isteri-isteri para menteri. “Mereka bilang saya telah berkhianat dan saat itu tengah ditahan dalam sel di Markas Besar,” kenang Nasution. Sejarawan Robert B. Cribb menyebut isu kekalahan Siliwangi yang selalu dibangga-banggakan sebagai “contoh tentara Republik yang modern”, harus diakui sama sekali bukan berita yang enak didengar oleh kalangan TNI di Jawa Tengah. “Berita kekalahan itu menjadikan mereka semakin yakin bahwa sejatinya yang lebih penting untuk menghadapi Belanda adalah mental berperang,” ungkap Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries:  The Jakarta People's Militia and the Indonesian Revolution 1945-1949 . Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman (yang langsung percaya akan berita takluknya Siliwangi) langsung bergerak cepat. Dia mengangkat Mayor Jenderal Soedibjo sebagai Komandan Pertempuran Jawa Barat. Nasution sendiri merasa maklum akan tindakan atasannya itu. “Di tangan Presiden, Menteri dan Panglima Besar (memang sebelumnya) sudah bertimbun-timbun pula laporan yang menyebutkan bahwa saya adalah agen NICA,” ungkapnya. Guna membangkitkan kembali semangat perlawanan, pada 2 Agustus 1947, Soedirman mengucapkan suatu pidato yang ditujukan kepada rakyat dan “sisa-sisa” TNI di Jawa Barat. “Ambillah insiatif dan hancurkan musuh yang sangat ganas itu! Jangan bimbang! Percayalah kepada keadilan Tuhan dan kekuatan kita sendiri. Lebih baik negeri ini tenggelam dalam lautan api, daripada dijajah kembali!” Diputuskan pula oleh Soedirman bahwa sebagai pendukung, kekuatan pro Republik di Jawa Barat akan dibantu oleh pasukan-pasukan resmi dari Jawa Tengah. Sejarah mencatat, baik Soedibjo maupun pasukan-pasukan itu tak pernah tiba di Jawa Barat. Yang terjadi kemudian, secara “diam-diam” Soedirman mengirimkan para eks gerilyawan Lasjkar Rakjat (LR) pimpinan Sutan Akbar untuk kembali ke Jawa Barat. Mereka ditugaskan untuk membentuk unit baru bernama Divisi Gerilya Bamboe Runtjing sebagai pengganti Divisi Siliwangi. Seiring kesibukan di Yogyakarta, Nasution sendiri cepat mengkonsolidasikan kembali kekuatan divisi-nya. Rupanya para komandan lapangan di seluruh Jawa Barat masih menaruh kepercayaan yang tinggi kepada eks tentara KNIL itu. Sementara itu, tujuan utama lain dari Operasi Produk yakni menghancurkan kekuatan TNI sama sekali tak terpenuhi. Alih-alih mencapai hasil maksimal, kekuatan TNI secara kilat malah mulai berhasil memukul balik posisi militer Belanda. Seorang Komandan Batalyon militer Belanda bernama Letnan Kolonel J. Flink dari Divisi C mengakui situasi itu. Sebulan lebih setelah Operasi Produk, memang pasukannya bisa mempertahankan kondisi kemanan. Namun mulai 31 Agustus 1947 keadaan berubah. “Batalyon saya mulai mendapat serangan-serangan gencar dan sistematis. Akibatnya, kami tidak hanya mengalami kekalahan demi kekalahan tapi juga meningkatnya kerugian personil di atas tingkat yang normal,” katanya seperti dikutip Himawan Soetanto dalam  Yogyakarta 19 Desember 1948 . Apa yang dikatakan oleh Flink memang bukan isapan jempol semata. Sejak kota-kota besar di Jawa dan Sumatera dikuasai oleh militer Belanda, praktis kedudukan para serdadu Belanda terkunci. Jangankan melakukan pembersihan secara total, untuk berpindah dari pos satu ke pos lainnya, mereka harus melewati penghadangan-penghadangan maut yang tak jarang menimbulkan kerugian besar. “Otomatis mereka hanya bisa menunggu. Insiatif serangan justru jadi berpindah ke tangan kita,” ungkap Nasution. Lantas bagaimana dengan Divisi Gerilja Bamboe Runtjing? Alih-alih menjadi mitra Siliwangi dalam menghadapi militer Belanda, yang ada konflik lama di antara mereka malah semakin terpupuk. Harapan Sutan Akbar sendiri yang memimpikan para eks LR akan memimpin revolusi di barat Jawa sama sekali tak terwujud.

  • Ketika Orang Jerman Dibuat Kagum Orang Indonesia

    Ketika memulai tugasnya sebagai perwakilan perusahaan telekomunikasi Jerman Telefunken di Indonesia pada akhir 1963, Horst Henry Geerken kaget lantaran menemukan banyak hal baru. Udara panas dan bau rokok kretek di hampir tiap tempat yang disinggahinya amat mengganggunya. Namun, hal yang paling sulit dipahaminya adalah kebiasaan “ngaret”, istilah untuk menamakan sikap tidak tepat waktu, orang Indonesia. Bukan perkara mudah baginya untuk bisa menyesuaikan diri dengan kultur tersebut. “Di mata saya, jam karet melambangkan ketidakpedulian terbesar sehingga pada awalnya, saya sulit mengerti karakter orang Indonesia yang satu ini. Jam karet adalah idealisme orang Indonesia. Bagi kami, hal ini membuat pekerjaan jauh lebih sulit dan makan waktu. Salah satu aspek positifnya adalah kelenturan di mana beberapa masalah dapat diatasi dengan lebih mudah dibandingkan di negara-negara lain,” ujarnya dalam memoar berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno . Namun, Geerken akhirnya bisa beradaptasi dan mengatasi semua kendala itu. Dari 18 tahun masa tinggalnya di Indonesia untuk mengerjakan beragam proyek pemerintah Indonesia, Geerken berubah menjadi pengagum Indonesia. Dia kagum pada kekayaan alam Indonesia, pada tradisi-budayanya yang amat beragam, dan senang pada orang Indonesia yang umumnya ramah, sopan, setia, dan berselera humor tinggi. “Di mana-mana di negara kepulauan ini, baik di kota besar maupun kota kecil, kita selalu berjumpa dengan orang-orang yang selalu punya bahan tertawaan. Sulit mencari orang Indonesia yang tidak punya selera humor,” ujarnya. Humor berkesan didapatnya ketika berkenalan dengan Ir. Gunung Marpaung, kepala penerbangan sipil di Jakarta, saat mengerjakan proyek bandara internasional Tuban (kini Bandara Internasional Ngurah Rai) di Bali pada awal 1964. Pria berdarah Batak itu memperkenalkan dirinya berdarah Jerman meski berkulit gelap dan postur tubuhnya seperti orang Melayu kebanyakan. Pernyataan itu mengejutkan Geerken yang jelas tak paham arah omongan Marpaung sebagai banyolan “gaya Medan”. Dia baru paham ketika Marpaung menjelaskan lebih lanjut. “Kakek saya makan misionaris Jerman,” kata Marpaung, dikutip Geerken. Kesan baik yang didapat Geerken juga datang dari tingginya penguasaan orang-orang Indonesia pada pekerjaan dan kreativitasnya. Itu antara lain dilihatnya dari seorang pembantu di rumahnya yang bertugas sebagai koki. Meski tak pernah membaca resep, pembantu itu hapal begitu banyak cara memproses masakan dan cepat menguasai ketika diajarkan menu baru. Kemampuan para dukun mengobati juga amat mengagumkan Geerken, yang antara lain didapatnya dari cerita seorang dokter di Kedubes Jerman yang mengalami kecelakaan mobil. Luka-luka sang dokter sembuh begitu diobati seorang dukun atas saran kawannya yang Indonesia.  “Setelah pulang, dokter itu bercerita panjang lebar tentang pengobatan ajaib ini. Luka itu tak kelihatan lagi 24 jam kemudian. Dia bisa meneruskan perjalanannya tanpa kesulitan. Katanya, hal ini mustahil dengan pengobatan Barat yang ortodoks,” ujar Geerken. Kreativitas orang Indonesia amat dikagumi Geerken. Yang paling berkesan adalah ketika dia bersama Sudjono, supir Geerken, ke Bali menggunakan mobil. Di tengah perjalanan, tangki mobil mereka bocor setelah menghantam batu besar. Alih-alih bingung, Sudjono bersikap tenang sambil berkata “tidak apa-apa” dan turun dari mobil. Sudjono lalu mengambil sebuah pisang dari pohon yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Pisang tersebut lalu diremasnya berbarengan dengan sepotong sabun sehingga bentuknya berubah menjadi seperti permen karet. Adonan itulah yang digunakan Sudjono untuk menambal tangki bahan bakar mobil. Hasilnya, ajaib, tangki tak bocor lagi bukan hanya bertahan sampai bengkel terdekat namun hingga mencapai Bali dan kembali lagi ke Jakarta. “Orang Indonesia memang genius dalam soal improvisasi. Saya terus saja terkaget-kaget dengan keahlian dan kemampuan mereka mengatasi masalah yang paling sulit dengan cara yang paling sederhana,” kata Geerken.

bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo lahir di Karawang dari keturunan bangsawan Aceh dan Jawa. Anak kesayangan mantri polisi ini pindah ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan di sekolah Belanda.
bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo tak hanya berotak encer dalam pelajaran, wawasan dunia dan kesadaran kebangsaannya tumbuh berkat Jules Verne, Multatuli, hingga Sun Yat-sen.
bg-gray.jpg
Ketika Sutan Sjahrir diculik, Moestopo menyiapkan perlawanan dengan membawa keris, pistol, dan granat. Karena gerak-geriknya mencurigakan, dia dilucuti pengawal Sukarno.
bottom of page