top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pengalaman Mantan Direktur CIA di Indonesia

    JOHN O. Brennan diterima di Georgetown University di Washington D.C., tetapi memutuskan untuk kuliah ilmu politik di Fordham University di Bronx. Pada musim semi tahun pertama, dia diundang sepupunya, Tom Brokaw, untuk menghabiskan musim panas bersamanya di Indonesia. Tom bekerja sebagai petugas Food for Peace USAID di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Tom yang membayar tiket pesawat pulang-pergi. Tawaran untuk melepaskan diri dari kebosanan musim panas New Jersey terlalu bagus untuk dilewatkan.

  • Gotong Royong dalam Menghadapi Pandemi

    SELAMA masa pandemi banyak orang menanggung kesulitan hidup. Dari kehilangan pekerjaan, pemotongan pendapatan, sampai kerugian usaha. Sejumlah orang berinisiatif untuk mengurangi kesulitan sesamanya. Salah satu yang fenomenal adalah konser amal Didi Kempot Covid-19. Hasilnya dana Rp7,8 miliar terkumpul dan disalurkan kepada yang membutuhkan. Pada masa lalu, praktik mengatasi kesulitan bersama ini kerap tersua dalam sejarah Hindia Belanda. Misalnya terjadi saat wabah misterius sejenis tifus merebak di Jawa pada 1848. Menurut Liesbeth Hesselink dalam Healers on the Colonial Market,  saat itu pemerintah kolonial memberlakukan karantina bagi para penderita. Segala kebutuhan mereka menjadi tanggungan pemerintah. Pemerintah kolonial berupaya menyediakan segala kebutuhan untuk penduduk dan para tenaga medis. Contohnya dengan menyediakan selimut dan obat kina. Penduduk pun ikut membantu mencukupi kebutuhan tetangganya yang terkena penyakit. Kejadian serupa terulang pada akhir dekade 1910-an. Kali ini, Hindia Belanda dilanda pandemi Flu Spanyol. Meski awalnya banyak yang meremehkan penyakit ini, pemerintah dan masyarakat akhirnya bergerak bersama untuk mengatasi pandemi. Pemerintah mulai mengatur kegiatan masyarakat selama pandemi. Salah satunya kewajiban memakai masker. Di masyarakat, cara-cara kultural dilakukan untuk pencegahan pandemi. Ini terjadi karena informasi tentang Flu Spanyol belum tersebar luas dan jelas. Cara kultural itu antara lain dengan menggelar doa bersama dan arak-arakan. Penyelenggaraan itu dilakukan dengan melibatkan banyak orang. Tanpa bayaran sepeserpun. Meski cara-cara itu justru bisa memperparah penyebaran, contoh ini menegaskan adanya keinginan masyarakat untuk bergotong royong menghadapi pandemi dan masa-masa sulit. Setelah pandemi Flu Spanyol, masyarakat Hindia Belanda diuji lagi oleh resesi ekonomi pada 1930-an. Jumlah pengangguran dan gelandangan di kota besar meningkat. Di desa-desa, petani juga kelimpungan. Gotong Royong Pemerintah dan Masyarakat Pemerintah kemudian bergerak mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk meringankan masyarakat. Antara lain mengubah besaran pajak, membuka kursus keterampilan, dan menyalurkan bantuan langsung tunai. Gerak masyarakat muncul lewat praktik gotong royong. Mereka saling membantu mengatasi kesulitan. Bantuan bisa dari perorangan atau lewat organisasi dan koperasi; bisa pula dari sesama pekerja kepada pekerja lain yang dirumahkan. Di kampung, koperasi dan para pemilik warung atau toko kelontong memberikan kelonggaran kredit barang kepada penduduk yang dikenal baik. Sementara itu di kota, orang kaya kerap mendermakan sejumlah hartanya untuk para pengangguran. “Sebenarnya, masyarakat Indonesia di perkotaan jauh lebih dermawan dalam mendukung para pengangguran, tetapi dukungan diberikan pada tingkat personal, atau komunal melalui organisasi sukarela yang tidak berhubungan dengan pemerintah,” catat John Ingleson dalam Tangan dan Kaki Terikat . John Ingleson melanjutkan, organisasi pergerakan nasional dari berbagai paham ikut pula turun tangan menggalang dana untuk membantu masyarakat. Guru Besar Sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah, Amelia Fauzia, dalam Filantropi Islam: Sejarah Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara di Indonesia  mencatat bahwa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah getol menggalang semangat filantropi pada masa krisis melalui penyaluran zakat. Filantropi merupakan sebentuk gotong royong. Sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebut praktik gotong royong terus berkembang memasuki abad ke-20 ketika kehidupan masyarakat kian sulit. Tak hanya di desa, tapi juga di kota-kota. “Selama dua atau tiga puluhan tahun pertama abad ini, maka timbullah kesan bahwa terdapat variasi yang banyak sekali dari bentuk gotong royong seperti yang berlaku di pelbagai daerah,” ungkap Sartono dalam “Kedudukan dan Peranan Sistem Gotong Royong dalam Perkembangan Masyarakat Indonesia”, termuat dalam  Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah . Bentuk-bentuk Budaya Gotong Royong Sartono mencontohkan bentuk-bentuk gotong royong itu antara lain slametan, sambatan , sumbangan, sinoman , dan krama atau seka . Slametan  biasanya berbentuk acara syukuran bersama warga atas tercapainya panen dan peringatan hari keagamaan. Bentuk ini tersua di Jawa dan Sumatra. Sambatan lazimnya muncul di daerah transmigrasi seperti Sumatra Selatan. Di wilayah ini tanah terhampar luas, tetapi penduduknya jarang. Mereka membentuk kelompok kecil yang disebut regu. “Ke dalam para anggota saling membantu, tetapi ke luar mereka menyediakan tenaga untuk membantu dengan ganti kerugian atau imbalan,” catat Sartono. Sambatan terdiri dari tiga jenis. Sambatan pembangunan desa, sambatan mendirikan rumah, dan sambatan  pertanian. Sumbangan menjadi praktik gotong royong paling umum pada awal abad ke-20. Sumbangan bisa dilakukan secara berkelompok atau perorangan. Saat masa sulit, di Yogyakarta organisasi berbasis Katolik dan Kristen Protestan getol menyediakan bantuan bagi kaum miskin dan penganggur terdampak. “Di antara mereka adalah Yayasan Bantuan Kemiskinan Yogyakarta (Vereniging Jogjasche Armenzong), Yayasan St. Elizabeth (St. Elizabethvereniging), Dewan Bantuan Kemiskinan Kristen Protestan (Diaconie der Protestansche Gemeente)…” ungkap Ben White dalam “Pengalaman Tiga Resesi: Yogyakarta Masa 1930-an, 1960-an dan 1990-an”, termuat dalam  Dari Krisis ke Krisis . Organisasi tersebut bernaung dalam satu payung besar organisasi bernama Komite Umum Bantuan Kaum Miskin (Algemeene Armenscommissie) yang berdiri pada September 1935. Bantuan organisasi tersebut berupa uang tunai, pangan, dan tempat menginap gratis bagi orang-orang yang memenuhi syarat. Sartono menyebut bahwa sinoman sebenarnya bentuk gotong royong lama di Jawa Timur abad ke-19. Berbentuk perkumpulan tradisional, sinoman memiliki anggota pengurus seperti ketua dan juru tulis. Sinoman bertujuan saling membantu terkait kematian anggota atau keluarga perkumpulan, perkawinan, khitanan, dan pembangunan rumah. Satu sinoman dapat beranggota 25 sampai 20 orang. Gotong royong berbentuk krama atau seka muncul secara khusus di Bali pada awal abad ke-20. Salah satu contoh yang paling terkenal ialah krama subak . “Subak merupakan perkumpulan penggarap sawah yang mendapat air dari satu empul (bendungan) atau satu aliran air,” terang Sartono. Jenis krama lain meliputi krama desa, krama banjar , dan seka kelompok kesenian (gong, barong, joged janger). Guru Besar Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Tadjuddin Noer Effendi, dalam “Budaya Gotong Royong Masyarakat dalam Perubahan Sosial Saat Ini” Jurnal Pemikiran Sosiologi , Vol. 2 No. 1, Mei 2013, menyebutkan, gotong royong terus tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Kebiasaan ini tak lekang dihantam pandemi atau krisis ekonomi. Perubahan sosial dan ekonomi masyarakat tak menggerus gotong royong. Tadjuddin menyatakan kebertahanan gotong royong menghadapi zaman karena “gotong royong suatu paham yang dinamis, yang menggambarkan usaha bersama, suatu amal, suatu pekerjaan atau suatu karya bersama, suatu perjuangan bantu-membantu.” Karena itulah, gotong royong tak hanya menjadi milik masyarakat perdesaan atau dunia pertanian. Ia juga kaprah dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Gotong Royong Kaum Buruh Serikat buruh tak ketinggalan pula ambil peran mempraktikkan gotong royong. Ini tampak dalam laku lampah Perserikatan Pekerja Pegadaian Hindia (PPPH). Serikat ini memiliki jumlah anggota yang besar dan termasuk serikat buruh terbesar di Hindia Belanda. Mereka memiliki 3.000 anggota. Dari jumlah itu, hampir setengahnya mengalami pemecatan pada masa krisis. Dalam masa krisis, PPPH meminta para anggota yang masih bekerja untuk menyisihkan uang bagi korban resesi. Dari penggalangan dana itu, PPPH menyalurkan bantuan sebesar 30 gulden kepada anggotanya yang di-PHK selama 1931. Tapi jumlah bantuan merosot menjadi 7,5 gulden untuk tiap orang memasuki 1932. Penyebabnya penerimaan dana sumbangan dari anggota PPPH berkurang akibat resesi berkepanjangan. Resesi menyulitkan anggota lainnya untuk mengeluarkan dana sumbangan. Selain membantu para anggotanya sendiri, PPPH menjalin kerja sama dengan serikat buruh dan organisasi lainnya untuk memudahkan ekonomi orang-orang di luar PPPH. “Membuat undian kooperatif yang terorganisir dan mengadakan malam kebudayaan, serta pertandingan sepakbola untuk membantu para pengangguran,” tulis John Ingleson. Di Bangka, para buruh Tambang Timah Bangka atau Bangka Tin Winning Bedrijft (BTW) berkebangsaan Eropa dan Indo berbuat serupa PPPH. Mereka mengumpulkan bantuan keuangan dan material untuk sesama pekerja Eropa dan Indo yang di-PHK. Caranya dengan menggelar berbagai pertunjukan hiburan di kota-kota di Bangka. “Upaya ini sangat berhasil sehingga bisa menggalang bantuan bagi orang Eropa yang menganggur di Batavia dan para korban bencana alam di Jawa,” catat Erwiza Erman dalam “Antara Lada dan Timah: Pengalaman Krisis di Bangka” termuat dalam  Dari Krisis ke Krisis . Selain itu, para pekerja yang masih berpenghasilan mencoba bersama-sama menerapkan laku prihatin atau hidup sederhana sebagai bentuk solidaritas dalam masa sulit. Hal berbeda ditempuh oleh Pekerja Serikat Seluruh Indonesia (PSSI) di Surabaya pada 1931. Mereka tidak menyalurkan dana bantuan secara langsung untuk para penganggur, melainkan menggunakan dana tersebut untuk membuka lapangan kerja baru. Pembukaan itu hasil bahu-membahu antar anggota serikat dengan kemampuan berbeda. “Para ketua perserikatan mengakui bahwa skema tersebut hanya dapat membantu sejumlah kecil pengangguran di perkotaan, namun merupakan bagian penting dalam kerja bantuan mereka,” sebut John Ingleson. Gagasan Gotong Royong Sukarno-Hatta Bersamaan dengan masa resesi itu, Sukarno menulis dua artikel berjudul “Demokrasi Politik dan Demokrasi-Ekonomi” dan “Sekali lagi tentang Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi”. Dia mengemukakan gagasan dan sistem demokrasi dan ekonomi yang bertumpu pada semangat gotong royong. Bukan pada persaingan sesama rakyat jelata. Dua artikel tadi menjadi bentuk kritik atas kapitalisme yang kala itu telah dianggap sebagai biang kerok resesi ekonomi. Kelak semangat gotong royong ini kembali diulang oleh Sukarno dalam pidato di sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Semangat gotong royong ini dijembarkan secara luas di berbagai macam bidang seperti politik, sosial, dan budaya melalui penggalian terhadap sejarah dan tradisi bangsa. Selama masa resesi itu pula, Mohammad Hatta juga berupaya mengembangkan praktik gotong royong di bidang ekonomi. Dia menulis gagasan tentang sistem ekonomi koperasi di koran Daulat Ra’jat pada 1933. Dalam pandangan Hatta, sistem ekonomi kapitalisme mempunyai banyak celah dan merugikan orang. Salah satunya resesi ekonomi. Karena itu, Hatta melihat kembali sistem ekonomi yang bertumpu pada asas gotong royong, tradisi turun-temurun yang hidup dan berkembang di masyarakat Indonesia. Resesi ekonomi di Hindia Belanda berangsur hilang sejak 1937. Tapi tak semua wilayah mengakhiri resesi pada waktu bersamaan. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, kesukaran ekonomi masih tetap berlangsung. Jepang pun berupaya meraih simpati rakyat dengan menyentuh akar tradisi, yaitu mempropagandakan gotong royong. Namun, Jepang gagal karena melakukan penindasan sehingga menimbulkan antipati rakyat. Melalui sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Sukarno berpidato tentang Pancasila yang intinya adalah gotong royong. Pidato ini juga menjadi ikhtiarnya mengembalikan makna gotong royong yang sesuai sejarah dan tradisi bangsa Indonesia. Gotong royong untuk mewujudkan kemakmuran bersama sekaligus menjadi solusi ketika menghadapi masa sulit.*

  • Mereka yang Berjuang Dulu dan Sekarang

    Selain Agustus, bulan yang identik dengan perjuangan bangsa Indonesia adalah November. Bulan kesebelas dalam kalender tersebut merupakan bulan yang akan selalu dikenang oleh bangsa kita. Alasannya tentu saja adalah peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.  Perang tersebut membuat Sekutu kocar kacir. Bahkan, jenderal mereka A.W.S Mallaby tewas. Perang yang diakui oleh pasukan Inggris sebagai perang terdahsyat mereka pasca Perang Dunia II tersebut memakan ribuan korban dari kedua belah pihak. Untuk mengenang mereka yang gugur, maka Presiden Sukarno menentapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Kiri: Ratusan demonstran pro-RMS saat melakukan unjuk rasa di Jakarta tahun 1950. ( geheugendelpher ). Kanan: Ribuan mahasiswa dan buruh saat melakukan unjuk rasa di Jakarta tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini, setelah 75 tahun merdeka ternyata perjuangan bangsa Indonesia tidak berhenti. Mungkin saat ini kita tidak berperang dengan senjata seperti masa lalu, namun pada kenyataannya musuh yang dihadapi pun tidak kalah dahsyat. Bila dulu para pejuang kita berjuang melawan para penjajah, saat ini kita berperang dengan berbagai masalah kehidupan. Kiri: Potret seorang tukang becak di sekitar Klaten tahun 1947. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang tukang becak saat menunggu penumpang di Jogjakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Pemandangan aktivitas kapal di pelabuhan Jakarta sekitar tahun 1947. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Aktivitas kapal di pelabuhan Jakarta Utara. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Buruh angkut di pelabuhan Jakarta tahun 1940-an. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Buruh angkut di pelabuhan Sunda Kelapa tahun 2020. (Fernando Randy/ Historia.id ). Mulai dari kemiskinan yang belum ada solusi, banjir yang sampai saat ini terus menghantui berbagai kota di Indonesia, hingga berbagai seruan demonstrasi akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah. Para pejuang bangsa tentu bukan saja orang yang menjaga keamanan negeri ini, namun juga ada dalam diri berbagai manusia, contohnya adalah para atlet yang berjuang mengharumkan nama bangsa di setiap pertandingan, pemimpin bangsa yang terus memperjuangan kehidupan negara dan kelas pekerja yang terus bekerja agar mendapat kehidupan yang layak. Mereka semua yang bejuang dulu dan kini, pada kenyataannya hanya berbeda waktu dan zaman saja, namun selebihnya semua sama. Mereka semua berjuang untuk sebuah kehidupan di negeri ini. Kiri: Warga saat menyusuri banjir dengan membawa barang di Surabaya tahun 1947. (National Archief). Kanan: Warga membawa barang mereka saat banjir di Kelapa Gading, Jakarta, tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang penjual telur di pasar tradisional di Jawa tahun 1940-an. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang pedagang bawang putih di pasar Yogyakarta tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang pedagang berpose dengan sepedanya sekitar tahun 1940. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Tukang kopi keliling saat menjajakan jualanya di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Para peserta lomba lari di kawasan Deca Park tahun 1948. (RG Jonkman). Kanan: Para atlet muda yang berlomba di Velodrome Rawamangun. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang anak tertidur pulas di depan pagar bambu. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang anak penjual koran tertidur di kawasan Menteng. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Membuka Tabir P.V. Gopalan, Kakek Kamala Harris

    EUFORIA kemenangan pasangan Joe Biden-Kamala Harris dari Partai Demokrat atas pasangan Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik di Pilpres Amerika Serikat pekan lalu terasa sampai ke Desa Thulasendrapuram, Negara Bagian Tamil Nadu di India selatan. Desa tersebut merupakan tempat kelahiran kakek Kamala dari garis ibu, Painganadu Venkataraman Gopalan. “Kami tak melepas pandangan dari televisi dan segenap keluarga sangat bahagia ketika beritanya tiba. Kami sangat senang dia telah menuliskan sejarah baru,” tutur Dr. Sarala Gopalan, tante Kamala, kepada The Hindu , Senin, 9 November 2020. Selain menjadi perempuan pertama yang terpilih jadi wakil presiden (wapres), Kamala juga tercatat jadi wapres pertama berdarah Afro (Jamaika) dari pihak ayahnya, Donald Jasper Harris; dan India dari pihak ibunya, Shyamala Gopalan. “Ibunya menjadi sumber inspirasi yang besar bagi Kamala. Kakak saya selalu percaya kepadanya, bahwa dia harus mengejar cita-cita besar. Jika kami menjadi perempuan tangguh dalam keluarga, tak lain berkat ayah saya PV Gopalan. Di 1950-an ketika kakak saya, Shyamala, mendapat beasiswa studi di Amerika, ayah mendukungnya. Keluarga lain mungkin ragu mengirim anak gadis 18 tahun pergi sendirian ke luar negeri,” lanjutnya. Dalam memoar yang ditulisnya pada 2019, The Truths We Hold: And American Journey , Kamala juga mengagungkan sosok kakeknya itu. Disebutkan Kamala, P.V. Gopalan termasuk salah satu tokoh pejuang kemerdekaan India. “Kakek saya P.V. Gopalan telah menjadi bagian dari pergerakan untuk memenangkan kemerdekaan India. Pada akhirnya dia menjadi diplomat senior di pemerintahan, di mana dia dan nenek saya lama tinggal di Zambia yang juga baru merdeka untuk membantu para pengungsi,” tulis Kamala. Kendati begitu, banyak yang meragukan klaim Kamala. Tak terkecuali internal keluarganya sendiri. Siapa sebenarnya P.V. Gopalan? Bersama Joe Biden, Kamala Harris memenangi Pilpres Amerika Serikat 2020. (Instagram @kamalaharris). Di Bawah Panji Kolonial Tak banyak catatan yang menguraikan kisah hidup Gopalan sejak lahir di Thulasendrapuram tahun 1911. Bahkan Central Bureau of Investigation (CBI) atau semacam FBI di Amerika sejak lama kesulitan melacak jejak-jejak masa kecilnya. Hanya sedikit informasi yang tersedia, mengenai pendidikan layak Gopalan yang dimungkinkan karena ia berasal dari keluarga kasta tertinggi. “Tak banyak yang bisa diketahui tentang pendidikannya. Seperti kebanyakan orang Brahmana tradisional di masa itu, sepertinya dia pindah ke ibukota Delhi untuk mencari pekerjaan di pemerintahan,” tulis Raghava Krishnaswami Raghavan, Direktur CBI periode 1999-2001, di kolomnya yang dimuat CNN News18 , 17 Agustus 2020. “Karena di masa itu hampir tidak ada sektor swasta yang mau menerima orang-orang muda dari desa untuk dipekerjakan. Sebaliknya di pemerintahan pusat di Delhi, justru selalu menyambut hangat para lulusan muda, terutama dari kawasan selatan karena orang-orang Madras (Tamil, red .) dikenal sebagai orang-orang yang lembut, patuh, dan loyal, ditambah pengetahuan yang solid akan bahasa Inggris,” lanjutnya. Gopalan kemudian diterima menjadi birokrat di Imperial Secretariat Service (Badan Kesekretariatan) di pemerintahan kolonial British India. Lantas pada 1930-an, Gopalan dikirim bertugas ke Semenajung Malaya (kini Malaysia) untuk menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah berbahasa Inggris di Malaka, Lorong Panjang English School. Menyongsong pengangkatan George VI sebagai raja Inggris pada 1937, Gopalan turut menyiapkan buklet “Coronation Souvenir” yang disebarkan di Malaka. “Buklet pemahkotaan untuk kawasan Malaka dibuat seorang guru dan kepala sekolah asal Tamil P.V. Gopalan, di mana dalam bukletnya menyatakan: ‘Tidak satupun warna kulit, suku, maupun gelombang besar akan memecah-belah persemakmuran (Inggris),’” ungkap Lynn Hollen Lees dalam Planting Empire, Cultivating Subjects: British Malaya, 1786-1941. P.V. Gopalan yang lahir dari kasta Brahmana menduduki jabatan tinggi di pemerintahan kolonial British India. (Wikipedia). Dalam buklet itu Gopalan bersama birokrat asal Tamil lain, Sangara Pillai Rajaratnam, mengajak semua masyarakat di Melaka sebagai salah satu unsur dari wilayah kolonial British Malaya yang kosmopolitan untuk tidak terprovokasi menjelang pengangkatan George VI. Pasalnya, sejak 1935 muncul bibit-bibit perpecahan akibat isu penentangan terhadap para elit lokal yang jadi kepanjangan tangan para bangsawan Inggris. “Tentu saja Gopalan dan Rajaratnam paham bahwa hal-hal yang berbau Inggris selalu didefinisikan secara sempit oleh masyarakat lokal. (Sejarawan) Anthony Stockwell menggambarkan perilaku sosial orang-orang Eropa di Malaya sebagai ‘tribalisme putih’ berdasarkan keyakinan akan inferioritas kultur dan biologis orang Asia,” sambung Lees. Oleh karena Gopalan berada di Malaya pada 1930-an, maka klaim Kamala Harris bahwa kakeknya bagian dari pergerakan nasional untuk memerdekakan India pun beraroma dusta. Aroma dusta bahkan diperkuat oleh pernyataan, Balachandran Gopalan, adik kandung Shyamala Gopalan, yang mengatakan bahwa ayahnya, PV Gopalan, bukan bagian dari para tokoh perjuangan kemerdekaan India. “Tidak ada catatan bahwa dia (Gopalan) terlibat dalam hal lain selain seorang pegawai negeri semata. Jika dia melakukan advokasi terbuka untuk mengakhiri kekuasaan Inggris, dia akan dipecat,” terang Balachandran kepada LA Times , 25 Oktober 2019. Keistimewaan Kasta Brahmana Ketika para tokoh lain bergelut melawan kolonialisme Inggris, Gopalan justru selangkah demi selangkah melejitkan kariernya sebagai abdi kolonial. Pasca-India merdeka, karena statusnya sebagai mantan birokrat kolonial berkasta Brahmana, Gopalan kembali masuk ke pemerintahan, yakni di Direktorat Perhubungan Darat, Kementerian Transportasi Gopalan. Dia terakhir menjadi diplomat di Zambia. Menukil arsip “Gazette of India, 1956, No. 34”, Gopalan dengan status birokrat Golongan I bertugas di Direktorat Perhubungan Darat hingga 30 Desember 1955 dan mulai 31 Desember secara efektif dimutasi ke Kementerian Rehabilitasi. Dalam tugas barunya inilah kemudian Gopalan jadi Direktur Urusan Pengungsi di Zambia. “Waktu itu hampir semua tokoh muda direkrut sebagai asisten di sejumlah kementerian. Seperti paman saya yang juga berasal dari golongan elit. Setiap asisten, kecuali dia terlalu medioker atau indisipliner, pasti akan mendaki tangga jabatan dan pensiun sebagai joint-secretary (menteri bersama),” sambung Raghavan.  “Beberapa orang yang dipromosikan, seperti dari suku Gopalan, mendapat keistimewaan penempatan di luar negeri di pengujung kariernya. Ini yang jadi faktor Gopalan bisa ke Zambia menjadi Direktur Urusan Pengungsi. Seperti tipikal semua birokrat asal selatan India, ia tak pernah teralihkan selain berkonsentrasi pada pekerjannya, mendapatkan uang dari gaji dan reputasi,” tambahnya. Pernyataan itu turut diamini Tanvi Kohli dalam kolomnya, “Kamala Harris’s American Journey: Caste, Global Mobility, and State Power” yang dimuat Jamhoor , 1 November 2020. Menurutnya, reputasi dan melejitnya karier Gopalan tak semata-mata diraih secara mandiri, melainkan juga memanfaatkan status kastanya. “Keluarga (Kamala) Harris mengilustrasikan bagaimana kasta, kelas, dan mobilitas global erat berkaitan dengan pekerjaan di pemerintahan, pendidikan kelas tinggi, jaringan sosial dan kesempatan untuk bermigrasi. Kakek Harris, P.V. Gopalan adalah pegawai pemerintahan sejak era kolonial –sebuah posisi yang memungkinkan untuk putrinya pindah ke Amerika,” tulis Kohli. Kamala Harris (tengah) saat mengunjungi kakeknya, PV Gopalan (kiri) & neneknya Rajam Ayyar (kanan) ke India pada 1972. (Instagram @kamalaharris). Banyaknya pengalaman Gopalan sebagai birokrat didapatnya dari Kesekretariatan Negara di era British India, lalu Kesekretariatan Pusat pasca-kemerdekaan. Di Zambia, Gopalan bertugas pada masa krisis pengungsi yang diakibatkan imperialisme Inggris yang di mana sebelumnya membawa banyak orang dari Rhodesia (kini Zimbabwe) ke Zambia untuk dijadikan pekerja pertambangan di Matabeleland. Krisis yang mengakibatkan pengungsian itu berakar dari kemerdekaan Zambia, 24 Oktober 1964. Kemerdekaan itu diperoleh dari gerakan yang banyak dibantu para pendatang Rhodesia sebelum dan sesudah Perang Dunia II. “Inggris melakukan langkah perhitungan dengan mendorong petisi dan sanksi embargo terhadap Zambia di PBB, seraya membiayai perang gerilya yang mengakibatkan kehancuran masif dan krisis pengungsi. Ironisnya kemudian seorang birokrat dari bekas koloni Inggris lainnya dikirim untuk mengurusi pengungsi. Itu tak terlepas dari kasta dan status kelas Gopalan yang memfasilitasi kariernya mendaki tangga jabatan ke posisi yang tinggi di pemerintahan India,” urai Kohli. Pada era 1980-an setelah pensiun, Gopalan menghabiskan sisa umurnya bersama istrinya, Rajam Ayyar, dengan beristirahat di apartemen mewah di kawasan eksklusif Besant Nagar, Chennai. Pada Februari 1998, di usia antara 86-87 tahun, Gopalan tutup usia.

  • Antara Habib Rizieq Shihab dan Ayatullah Khomeini

    Kehadiran kembali Habib Rizieq Shihab (HRS) di Indonesia pada 10 November 2020 menyedot perhatian masyarakat. Nikita Mirzani, salah satu selebritas, menyebut kedatangan HRS disambut gila-gilaan. Dia juga menyebut Habib sebagai tukang obat. Karuan aksinya beroleh tanggapan lebih keras dari pendukung HRS seperti Maaher at-Thuwailib. Maher mengatakan Nikita menghina Habib. Dia berjanji akan mengerahkan 800 orang untuk mengejar Nikita. Orang ini jugalah yang menyamakan HRS dengan Ayatollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran pada 1980-an. Di twitter -nya, dia bilang perbedaan HRS dan Khomeini hanya terletak pada Syiah dan Sunni. Benarkah begitu? Lahir 24 September 1902 di Khomein, Persia Tengah, Khomeini bernama lengkap Ruhollah Musavi Khomeini. Dia putra dari Mostafavi Musavi, seorang penentang Dinasti Qajar yang berkuasa ketika itu di Persia. Saat berumur lima bulan, Khomeini kehilangan ayah. Orang-orang bayaran dari Dinasti Qajar membunuhnya. Khomeini kecil telah terbiasa dengan hidup keras. Dia terbiasa dengan perang dan mempertahankan wilayahnya dari serangan orang-orang bayaran Dinasti Qajar. “Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan perang… Saat saya masih anak-anak atau kira-kira di masa-masa awal baligh  (dianggap mampu bertanggung jawab, red .), saya mengawasi kantong-kantong perlindungan di kampung kami,” kata Khomeini seperti tersua dalam Imam Khomeini dari Lahir hingga Wafat  terbitan Islamic Culture and Relations Organization. Khomeini remaja kemudian hijrah ke kota Qom untuk mendalami ilmu agama pada 1921. Kota Qom adalah kota intelektual bagi orang-orang Syiah di Persia. Di sini para murid juga mempelajari filsafat dan irfan atau pengetahuan kebatinan tentang Islam. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Khomeini mengajar di Najaf, sekarang menjadi bagian Irak. Selama menjadi pelajar di Qom dan pengajar di Najaf, Khomeini menyaksikan sejumlah perubahan politik dan sosial di negerinya. Kerajaan Rusia runtuh pada 1917 oleh Revolusi Bolshevik. Padahal kerajaan itu pendukung kuat Dinasti Qajar. Akibatnya, Dinasti Qajar kehilangan sokongan dan jatuh pada 1925. Reza Khan tampil menggantikan penguasa sebelumnya. Dia mendirikan dinasti baru bernama Pahlevi dengan sokongan Inggris. Reza Khan memimpin Persia dengan cara-cara tiran. Dia mirip pendahulunya, memberangus lawan-lawan politiknya. Termasuk pula kalangan agamawan. Protes menguar. Reza Khan mengeluarkan Revolusi Konstitusional yang membagi kekuasaan dalam tiga bidang: yudikatif, eksekutif, dan legislatif. Langkah ini dinilai mampu membuat protes mereda. Tapi sebenarnya gerakan oposisi yang digalang kaum agamawan masih bergerak di bawah tanah. Pada 1935, Reza Khan mengubah nama Persia menjadi Iran. Menjelang Perang Dunia II, Reza Khan menjalin hubungan dengan Jerman. Kedekatan ini mengganggu hubungan Iran dengan Inggris dan Rusia. Keduanya memiliki sejumlah konsesi minyak di Iran dan berseberangan dengan Jerman. Karena kedekatan itu, Inggris dan Rusia bertindak menyingkirkan Reza Khan. Raja itu pun jatuh dan diganti oleh anaknya, Reza Pahlevi. Reza Pahlevi menginginkan Iran yang maju dan setara dengan negara-negara Barat. Dia sangat dekat dengan Amerika Serikat. Selama memerintah pada 1960-an, dia mendatangkan 60.000 orang Amerika Serikat. Terdiri dari ahli dan tenaga kerja asing. “Kedatangan mereka menyebabkan benturan kebudayaan yang terlalu brutal,” catat Nasir Tamara dalam Revolusi Iran . Reza Pahlevi juga menempuh cara-cara tiran dalam memerintah. Dia menutup sekolah dan universitas di Teheran. Tapi justru membangun kekuatan teror lewat polisi rahasia bernama SAVAK untuk menculik, menyiksa, dan membunuh lawan politiknya. Amnesti International mencatat setidaknya 100 ribu orang menjadi tahanan politik sepanjang pemerintahan Reza Pahlevi. Khomeini telah mengamati perubahan itu sejak dia masih remaja. Dia kerap berdiskusi dengan teman-temannya tentang kerusakan-kerusakan negerinya dan bagaimana memperbaikinya. “Imam Khomeini melihat bahwa satu-satunya harapan untuk melepaskan bangsa Iran dari jeratan penguasa diktator dan konspirasi asing, pasca kegagalan Revolusi Konstitusional dan berkuasanya Reza Khan adalah kebangkitan para ulama Hauzah (perguruan tinggi, red .),” ungkap tim Islamic Culture and Relations Organization. Nama Khomeini telah dikenal luas di kalangan kaum agamawan Iran sejak naiknya Reza Pahlevi sebagai penguasa pada 1940-an. Dari kaum agamawan, Khomeini turun membangun jaringan dengan masyarakat luas. Dia percaya sebelum membangkitkan peran ulama, hubungan spiritual ulama dan masyarakat harus kuat. Selain itu, Khomeini mulai rajin menulis buku dan artikel untuk membangun jiwa masyarakat. Beberapa buku dan artikelnya juga berisi kritik dan tinjauan atas Dinasti Pahlevi. Karena kritiknya, dia ditangkap dan ditahan rezim Reza Pahlevi selama delapan bulan pada 1964. Selepasnya dari tahanan, kritik Khomeini pada rezim Reza Pahlevi makin keras. Rezim menangkapnya lagi dan membuangnya ke Turki dan Irak. Selama masa pembuangan ini, Khomeini memberikan dukungan berupa uang dan pikirannya untuk orang-orang Palestina. Dari Irak pula, Khomeini tetap mengamati perkembangan di Iran. Rezim Reza Pahlevi makin menindas. Ratusan orang tewas setiap tahunnya karena menentang rezim Reza Pahlevi. Kritik-kritik Khomeini terungkap dalam kaset-kaset ceramahnya. Kaset-kaset itu tersebar luas di Iran dan mendapat tempat di kelompok opisisi, di luar kalangan Islam seperti anggota partai komunis Iran dan orang-orang nasionalis sekuler. Seluruh kelompok oposisi berbagai aliran berada di belakang Khomeini. Karena sepak terjangnya, nyawa Khomeini di Irak terancam. Tentara Irak mengepung rumahnya di Irak. Tapi dia berhasil lolos dan tinggal di sebuah wilayah pinggiran Paris, Prancis, sejak 14 Mei 1978. Pemerintah Prancis meminta Khomeini menghentikan segala aktivitas politik. Tapi Khomeini tetap melancarkan ceramah-ceramahnya. Orang-orang di Iran mulai bergerak. Mereka turun ke jalan dan berteriak, “Hidup Khomeini, Mampuslah Shah.” Militer menembaki pemrotes. Banyak orang gugur, tapi benih-benih perlawanan malah tumbuh lebih banyak. Buruh, dokter, wartawan, petani, pelajar, dan mahasiswa mogok nasional. Amerika Serikat mulai mengendurkan dukungannya pada Reza Pahlevi. Menteri-menterinya juga mulai mengundurkan diri. Reza Pahlevi kehilangan dukungan. Dia pergi dari Iran pada 16 Januari 1979. Orang-orang Iran bersuka-cita atas kepergian itu. Mereka juga berharap Khomeini bisa segera kembali ke Iran. Pada 1 Februari 1979, Khomeini menjejakkan kakinya kembali di Iran. Dia disambut luas oleh gerakan perlawanan yang digalang sejak lama dan melibatkan berbagai kelompok. Nasir Tamara, wartawan Indonesia satu-satunya yang menyaksikan langsung peristiwa itu, sampai susah mengungkapkannya, “Penyambutannya sulit digambarkan dengan kata-kata… Betapa populernya Khomeini dan bahwa tak mungkin bagi orang lain untuk memerintah Iran tanpa persetujuannya.” Sementara itu, sepak terjang HRS muncul justru setelah jatuhnya rezim diktator Soeharto. Dia mendirikan Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta, pada 17 Agustus 1998. FPI bergerak sebagai “hakim jalanan” dengan mengubrak-abrik tempat hiburan malam yang dianggap sarang maksiat. “FPI muncul sebagai kekuatan baru di jalanan, dengan citra berjuang bukan demi uang, wilayah kekuasaan, atau patronase politik, melainkan membela Islam,” sebut Ian Wilson dalam Politik Jatah Preman. Sebagai ketua umum, nama HRS mulai kesohor. Tapi dia baru mendapatkan momen politiknya sejak kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama pada 2016. HRS juga belum banyak membuat buku. Selain itu, tak semua kelompok oposisi di Indonesia berada di belakangnya.       Dari sini, orang bisa melihat perbedaan besar antara sepak terjang HRS dan gerakan perlawanan Khomeini. Begitu pula dengan gambaran penyambutan keduanya.

  • Ketakutan Bung Karno

    LETNAN J.B. Schussler masih ingat wajah Sukarno saat pertama kali melihatnya sebagai penawannya di serambi Istana Presiden Yogyakarta. Kendati berusaha tenang, namun komandan peleton Korps Pasukan Khusus (KST) KNIL itu menangkap kegelisahan dari bahasa tubuh pimpinan kaum republiken tersebut. “Yang pertama-tama ditanyakan oleh Sukarno dengan nada khawatir adalah apakah Kapten Westerling yang ditakuti itu adalah komandan kami?” kenang Schussler seperti dikutip Lambert Giebels dalam bukunya, Soekarno: Biografi 1901-1950.

  • Soebandrio, CIA, dan BVD

    PRESIDEN Sukarno memberikan amanat kepada para pemimpin dari tujuh partai politik di Guest House Istana Merdeka, Jakarta pada 27 Oktober 1965. Dia mengajak untuk menjaga keselamatan negara dan revolusi dengan mengawasi segala usaha dari nekolim (neo kolonialisme dan imperialisme) dan CIA.

  • Gerakan Kaum Intelektual di Ranah Minang

    Permulaan abad ke-20, kekuasaan Belanda masih mengakar kuat di seluruh wilayah Sumatra Barat. Kendati demikian, perlawanan rakyat pun tidak henti-hentinya dilakukan, baik oleh kaum tua maupun oleh kaum muda. Meski keduanya sama-sama bergerak untuk kebebasan ranah MInang dari belenggu penjajahan, ada perbedaan mendasar yang menghalangi kedua kelompok untuk bersatu, yakni pandangan tentang Islam. Kondisi itu tentu merugikan karena kekuatan rakyat untuk berjuang menjadi terpecah. Dituturkan Jajat Burhanuddin dalam Islam dalam Arus Sejarah Indonesia , kaum tua dikenal sebagai golongan Islam-Tradisionalis, sementara golongan muda acap dikaitkan dengan kelompok Islam-Reformis. Kaum tua percaya bahwa Islam sebagai agama tidak bisa dilepaskan dari pengaruh adat istiadat. Sehingga dalam prakteknya, kelompok ini sering menggabungkan kepercayaan kepada Tuhan dengan kepercayaan kepada roh nenek moyang. Di sisi lain, kaum muda memisahkan kedua nilai tersebut. Mereka percaya bahwa Islam harus dijalankan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, tanpa sedikitpun memasukkan unsur adat di dalamnya. Gerakannya hampir serupa dengan kaum Padri. Mereka juga meyakini bahwa perubahan ke arah kemajuan di berbagai sektor kehidupan perlu dijalankan. Masyarakat tidak bisa hanya terkurung di dalam keyakinan adat istiadat semata. Keyakinan kaum muda itulah yang kemudian selalu dikaitkan dengan kemajuan intelektual di Minangkabau pada abad ke-20. “Di Minangkabau, gagasan tentang kemajuan adalah inti dari konflik-konflik kaum cendekiawan dalam beragam pokok masalah seperti adat dan agama. Retorika selama dua puluh tahun pertama abad kedua puluh membandingkan yang “muda” yang didefinisikan sebagai simbol kemajuan, dengan yang “tua” yang dipandang sebagai terbelakang dan konservatif,” kata Yuliandre Darwis dalam Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau (1859-1945) . Gesekan antara kaum muda dan kaum tua juga tidak hanya terjadi di ranah agama saja, tetapi sudah merambah kepada urusan sosial-politik di masyarakat. Alam pikir golongan tua oleh kaum muda dianggap sebagai kemunduran intelektual. Mereka yang masih memisahkan satu kelompok dengan kelompok lain atas dasar status sosial, serta berpikir bahwa kekuasaan didapat secara turun temurun berdasarkan garis keluarga, dinilai dapat merusak tatanan kehidupan di Sumatra Barat. Untuk itu, kaum muda menyerukan berbagai gerakan pembaharuan, di antaranya dengan membangun sekolah dan menyebarkan dakwah melalui media massa. Sekolah Kaum Muda Gerakan untuk melakukan perubahan dari kaum muda diyakini sebagai gerakan Islam modern di Minangkabau. Ada begitu banyak tokoh yang terlibat di dalam gerakan reformis tersebut. Beberapa di antaranya merupakan murid-murid Syekh Ahmad Khatib, seperti Syekh Djamil Djambek, Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul), Haji Abdullah Ahmad, dan Syekh Thaib Umar. Di antara tokoh-tokoh tersebut, ada yang sampai membuat sebuah sekolah untuk mempermudah penyampaian gagasan-gagasan reformis yang diyakini para kaum muda, seperti perlawanan, perjuangan, kebebasan, dan kemerdekaan. Abdul Karim Amarullah misalnya, mendirikan perguruan Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Sekolahnya itu merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan di Surau Jembatan Besi, yang mulanya mengajarkan pelajaran fiqih dan tafsir Al-Qur’an dengan cara-cara tradisional. Ketika Haji Rasul masuk sebagai pengajar, kurikulum yang ditekankan di sana berubah menjadi ilmu aplikatif. Para santri harus memiliki kemampuan menguasai bahasa Arab dan percabangannya. Hal itu dimaksudkan agar mereka mampu mempelajari sendiri kitab-kitab yang lambat laun akan mendekatkan mereka kepada dua sumber dalam Islam: Al-Qur’an dan Hadits. Perubahan-perubahan di dalam Sumatra Thawalib terus dilakukan. Bahkan dicatat Darwis, perubahan sistem pendidikan di sana memerlukan waktu kurang lebih 10 tahun. Sistem pembagian kelas, penggunaan buku pelajaran, sarana dan prasarana sekolah, hingga kurikulum pendidikan, membuat Thawalib menjadi lembaga pendidikan yang berpengaruh di Minangkabau. “Sekolah Thawalib khusus mengajarkan teori dan aspek filosofi dalam Islam. Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan yang mampu berpikir mandiri dan bertindak sebagai pembaharu agama di masyarakat,” kata Sally White dalam Rasuna Said: Lioness of the Indonesian Independence Movement . Selain Thawalib, sekolah lain yang dinilai melambangkan kemajuan pendidikan modern di Minangkabau adalah Sekolah Diniyah. Lembaga pendidikan yang telah ada sejak 1915 di Padang Panjang itu didirikan oleh Zainuddin Labai El Yunus. Sekolah Diniyah ini mengenalkan sistem pendidikan modern di Sumatra Barat. Menurut Sally, mereka mempelopori penggunaan buku teks, dan jenjang kelas untuk berbagai tingkatan usia. Sekolah Diniyah juga membuka cabang sekolah khusus untuk perempuan. Dikelola oleh Rahmah El Yunusiah, sekolah ini mengajarkan agar perempuan tidak kalah dari kaum pria dalam urusan pendidikan. Motto sekolah itu adalah “menjadikan perempuan pengajar di rumah, di sekolah, dan di masyarakat”. Mereka juga mengajarkan keterampilan untuk kaum putri. “Lembaga pendidikan yang dimotori oleh kaum muda ini mengembangkan cara belajar dan mengajar dengan meniru metode pendidikan modern. Metode pengajaran seperti ini tidak lagi hanya mengandalkan penjelasan dari guru melainkan juga menyebarluaskan penggunaan buku bacaan sebagai sumber ilmu yang lebi penting,” ungkap Sastri Sunarti dalam Kajian Lintas Media: Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau . Majalah Pergerakan Tidak hanya membangun sekolah, para kaum muda ini juga menggunakan media yang sedang populer digunakan kelompok-kelompok pergerakan kala itu, yakni surat kabar dan majalah, sebagai sarana pembaharuan di Minangkabau. Mereka banyak menuangkan gagasan-gagasan tentang kemajuan, serta ilmu agama Islam di sana. Pada 1911, terbit majalah Islam pertama di Minangkabau, yaitu Al-Munir . Pelopornya adalah Haji Abdullah Ahmad. Al-Munir banyak menerbitkan berita, opini, serta tulisan-tulisan pendek dari tokoh-tokoh kaum muda. Majalah itu menjadi sarana pertama mereka menyebarluaskan ide-ide tentang kemajuan di ranah Minang. Al-Munir  juga banyak menyadur analisis sejumlah tokoh besar Timur Tengah, termasuk tentang kemunduran agama dan dunia Islam yang mengakibatkan dunia Barat mendominasi. “Artikel di majalah ini cukup beragam. Antara lain mencakup masalah-masalah duniawi sampai artikel-artikel yang bersifat filosofis tetapi masih berkaitan dengan masalah agama. Sebagai contoh adalah pengajian masalah-masalah tauhid,” tulis Darwis. Namun usia Al-Munir rupanya hanya seumur jagung. Pada 1916, penerbitannya terpaksa dihentikan karena kurangnya biaya produksi. Selain itu, masih banyak tokoh pergerakan Minang yang tidak maksimal memanfaatkan sarana media massa ini. Sebagai penggantinya, dua tahun kemudian terbit majalah lain, yaitu Munirul Manar , yang penerbitannya dipimpin Zainuddin Labai El Yunusi. Serupa dengan Al-Munir , majalah Munirul Manar juga isinya tidak jauh dari ide ide pembaruan. Bahkan dari tataletak, corak, dan konten dalam majalah hampir seluruhnya sama. Perbedaan yang terlihat hanya pada isi mazhab yang dipakai ketika menjawab soal-soal agama. Jika Al-Munir hanya berlandaskan mazhab Syafi’I, Munirul Manar menjawabnya dengan hampir semua mazhab yang terdapat dalam Islam. Majalah Islam lain yang cukup berpengaruh di Minangkabau adalah Al-Bayan . Majalah ini diterbitkan pertama kali pada 1919 di Bukittinggi di bawah pimpinan Syekh Ibrahim Musa Parabek. Majalah ini selanjutnya berada di bawah naungan Sumatra Thawlib, bersama majalah-majalah Islam lainnya seperti Al-Iman , Al-Ittiqan , Doenia Achirat , Al-Basyir , dan sebagainya. “Masyarakat pendukung majalah-majalah Islam yang terbit di Minangkabau ternyata cukup banyak dan beragam. Masyarakat pembacanya tidak hanya terbatas pada lingkungan Minangkabau sendiri, tetapi jauh lebih luas dari daerah itu. Para pendukung pers Islam ini bukan semata-mata orang-orang ahli dalam bidang agama tetapi juga berasal dari lapisan masyarakat yang awam tentang agama,” ungkap Darwis.

  • Senja di Atas Bukit Kapur

    MATAHARI sudah condong ke barat. Beberapa menit lagi senja tiba. Muda mudi telah bersiap dengan lensa kameranya. Lalu membidik siluet empat bangunan candi diterpa semburat jingga langit senja. Begitu mempesona dan memanjakan mata. Berdiri pada ketinggian 425 m di atas permukaan laut, kawasan Candi Ijo memang menawarkan panoroma yang indah. Pemandangan sawah. Barisan pegunungan kapur di kejauhan. Langit biru yang luas. Candi Ijo, kompleks percandian bercorak Hindu, berada di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Akses menuju candi ini tak mudah-mudah amat. Cukup curam. Tapi jangan khawatir. Jalannya sudah mulus beraspal. Lahan parkir juga sudah tersedia. Bahkan sudah ada beberapa tempat ngopi di dekat pintu masuk Candi Ijo. Candi ini dinamakan “Ijo” karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. Puncak Gumuk Ijo berada seratus meter di belakang candi dan jauh lebih tinggi sehingga puncaknya terlihat jelas di belakang candi. Sebuah tempat yang tepat untuk menikmati Senja. Semakin petang angin semakin kencang. Senja mulai menghilang. Muda mudi pun kembali pulang. Di atas bukit kapur itu, kompleks Candi Ijo kembali sunyi. Bukan Poros Alam Semesta Berdasarkan data prasasti yang ditemukan, para ahli memperkirakan Candi Ijo didirikan tahun 850 hingga 900. Entah siapa inisiator pembangunan kompleks bangunan suci ini. Dalam jangka waktu itu di sebuah negeri bernama Mataram telah terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan, dari Rakai Pikatan ke Rakai Kayuwangi, lalu Dyah Tagwas, Rakai Panumwangan, Rakai Gurunwangi, Rakai Limus Dyah Dewendra, Rakai Watuhumalang, hingga Rakai Watukara Dyah Balitung. Keberadaan candi di atas bukit kapur dan jauh dari sungai juga terbilang kurang populer kala itu. Mundardjito, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya berjudul “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, menyebut kebanyakan candi di wilayah Yogyakarta berdiri di daerah yang datar dan landai. Di daerah-daerah semacam itu keleluasaan orang untuk bergerak mudah diperoleh dibanding daerah-daerah yang memiliki lereng miring, agak curam, curam, dan sangat curam. Candi Ijo bersama Situs Ratu Boko, Candi Barong, dan Candi Miri menempati wilayah yang disebut Batur Agung. Wilayah ini termasuk dalam kawasan purbakala Siva Plateu yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan kapur Gunung Kidul. Sementara di dataran rendah, tak jauh dari aliran Kali Opak yang subur, ada Kompleks Candi Prambanan, Sewu, Bubrah, Lumbung, Plaosan, Sojiwan, dan Kalasan. Kata Mundarjito, makin tinggi kedudukan tempat makin sedikit terdapat situs. Sebaliknya,makin rendah ketinggiannya makin banyak terdapat situs. Besar kemungkinan hal itu berkaitan erat dengan jumlah keragaman vegetasi. Sejak dulu orang cenderung memilih kawasan dataran rendah yang memiliki jenis tanaman lebih bervariasi. “Daerah-daerah semacam itu potensial untuk bermukim dan bercocok tanam dengan baik seperti juga terjadi pada masa sekarang,” catatnya. Veronique Myriam Yvonne Degroot, arkeolog dari lembaga penelitian Prancis Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO), berpendapat serupa. Dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains”, Degroot menyebut lokasi Candi Ijo yang jauh dari dataran subur membedakannya dari banyak peninggalan candi di Jawa Tengah lainnya. Di sisi lain, keberadaan Candi Ijo di punggung bukit menyampaikan kesan yang berbeda dari candi-candi di puncak bukit. Candi Ijo bukanlah puncak Gunung Meru, gunung suci dalam kosmologi Hindu dan dianggap sebagai pusat alam semesta. Gunung ini merupakan tempat bersemayam para dewa. Sama seperti Ratu Boko, Dieng atau Gedong Songo, kata Degroot, “ada kemungkinan tempat ini mungkin merupakan tempat ziarah atau situs yang didedikasikan untuk praktik pertapaan.” Tata ruang Candi Ijo pun sama sekali berbeda. Kalau kata arkeolog Edi Sedyawati dkk dalam Candi Indonesia : Seri Jawa pola dan tata letak kompleks Candi Ijo mengingatkan pada pemujaan tradisi megalitik, jauh sebelum masuknya pengaruh India. Dibanding Candi Prambanan dengan tata letak konsentris, Candi Ijo tersusun pada 11 halaman berbentuk teras berundak dari barat ke timur. Di dalamnya ada 17 struktur bangunan. Teras paling suci sekaligus paling tinggi berada paling timur. Di sini terdapat empat candi yang biasa menjadi tempat wisatawan berfoto. Satu candi yang paling besar disebut candi induk. Napas Hindu terlihat pada keberadaan arca Agastya, Ganesa, dan Durga di dalam relung dindingnya. Sementara kalau masuk ke dalam bilik, terdapat sepasang lingga-yoni yang menjadi lambang Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Di hadapan candi induk, berjajar tiga candi perwara yang berukuran lebih kecil dan diduga dibangun untuk memuja Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu Nandini, kendaraan Dewa Siwa. Berdasarkan peninggalan-peninggalannya, Edi Sedyawati dkk memastikan bahwa kompleks Candi Ijo merupakan bangunan suci untuk pemujaan yang berlatar agama Hindu. Penanaman ribuan pohon di area Candi Ijo. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Gerakan Candi Darling Dari kejauhan, Candi Ijo dikelilingi pepohonan hijau. Tapi begitu memasuki areal kompleks candi, yang terlihat bangunan candi berdiri di tanah yang gersang. Apalagi jika musim kemarau. Hanya sedikit pepohonan rindang tumbuh di area ini, yang dimanfaatkan pengunjung untuk berteduh dan beristirahat. Candi Ijo butuh penghijauan. Namun pemilihan tanamannya pun harus tepat. Menurut Bernadus Punta Patria Saksono dalam tugas akhirnya di Universitas Gadjah Mada berjudul “Komposisi Jenis Tingkat Tiang dan Pohon Penyusun Hutan Rakyat di Sekitar Kawasan Candi Ijo Yogyakarta”, pemilihan jenis tanaman harus memperhatikan jenis perakarannya agar tidak merusak situs tersebut. Tanaman hias yang punya nilai estetika bisa dipilih untuk memperindah sekaligus meningkatkan daya tarik dari candi tersebut. “Adapun tanaman penghias yang dapat ditanam dengan kondisi topografi miring serta untuk mempertahankan tapak agar tidak tererosi maka diberikan tanaman yang mampu menahan dan memperkokoh tanah. Tanaman tersebut dapat berupa angsana, flamboyan, bungur, johar, kupu-kupu, sikat botol, dan asoka,” catat Bernadus. Seribu tanaman perdu dan semak berbunga pun telah ditanam tahun lalu untuk mempercantik kawasan Candi Ijo. Di antaranya soka, ruellia, dan melati. Penanaman dilakukan melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) atas inisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation dengan menggandeng ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di wilayah Yogyakarta.  “Selain akan mempercantik wilayah Situs Ratu Boko dan Candi Ijo, gerakan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan mempelajari warisan sejarah yang ada di Indonesia,” ungkap Tri Hartini, ketua unit kerja situs Ratu Boko dan Candi Ijo Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, yang ikut mengapresiasi kegiatan ini.

  • Sukarno, Pan Am, dan CIA (2)

    TELEVISI ABC menayangkan film seri tentang maskapai penerbangan Amerika Serikat, Pan Am, tahun 1960-an. Fokus ceritanya pada para pramugari, yaitu Maggie Ryan (Christina Ricci), Kate Cameron (Kelli Garner), Laura Cameron (Margot Robbie), dan Collete Valois (Karine Vanasse). Masing-masing memiliki karakter dan peran berbeda. Bahkan, Kate Cameron bekerja pada CIA (Central Intelligence Agency atau Dinas Intelijen Amerika Serikat) untuk menyampaikan informasi atau barang rahasia kepada agen yang ditempatkan di berbagai negara termasuk Indonesia. Di salah satu episode, dia menyerahkan barang rahasia kepada agen CIA di Jakarta.

  • Siapa Ayah dan Ibu Kamala Harris?

    DENGAN mata berkaca-kaca terharu, Shyamala Gopalan tampak fokus memperhatikan kata per kata dari serangkaian kalimat sumpah yang diucapkan Hakim Agung California Ronald M. George. Di hadapan sang hakim, berdiri sosok putri sulungnya, Kamala Devi Harris, yang tangan kanannya diangkat dan tangan kirinya memegang sebuah Alkitab. Momen itu jadi kebanggaan besar terakhir yang disaksikan Shyamala atas pencapaian putrinya. Kala itu, awal Januari 2004, Kamala mengucapkan sumpah dalam pelantikannya sebagai jaksa Distrik San Francisco. “Kamala D. Harris adalah perempuan dan Afro-Amerika pertama yang terpilih menjadi jaksa distrik di San Francisco. Ibunya ikut mengamati saat upacara pelantikannya. Jaksa distrik yang baru ini adalah jaksa veteran dengan pengalaman 13 tahun. Sebelum momen bersejarah itu, sosok berusia 39 tahun tersebut memimpin Divisi Pelayanan Rumah Tangga dan Anak-anak di kantor kejaksaan kota,” tulis majalah Ebony  edisi Maret 2004. Namun sang ibu tak lagi mendampingi ketika Kamala dilantik jadi Jaksa Agung California pada 2011, anggota Senat Amerika Serikat pada 2017. Pun nanti pada saat Kamala dilantik sebagai wakil presiden (wapres) Amerika. Shyamala wafat lima tahun setelah pelantikan Kamala jadi jaksa Distrik San Francisco. Kamala Harris (kanan) saat disumpah menjadi Kepala Jaksa Distrik San Fransisco. (Majalah Ebony edisi Maret 2004). Kamala tercatat jadi wapres Amerika perempuan keturunan Asia-Afrika pertama, setelah bersama Joe Biden memenangi Pilpres Amerika 2020. Pasangan Biden-Kamala dari Partai Demokrat unggul atas pasangan Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik dengan electoral votes 290 (batas pemenang 270) berbanding 214. “Saya berterimakasih kepada perempuan yang paling bertanggungjawab atas eksistensi saya di sini, ibu saya, Shyamala Gopalan Harris. Saat dia datang ke sini dari India di usia 19 tahun, mungkin dia takkan membayangkan momen ini. Namun dia sangat percaya pada Amerika di mana momen seperti ini adalah hal yang mungkin,” ujar Kamala, disitat NDTV , Minggu (8/11/2020). “Saya memikirkan dia dan generasi perempuan, perempuan kulit hitam, Asia, putih, Latin, perempuan pribumi Amerika sepanjang sejarah negeri ini yang telah membuka jalan untuk momen malam ini,” sambungnya dalam pidato pertamanya sebagai wapres terpilih. Sebagaimana Barack Obama, Kamala adalah representasi keragaman etnis dan ras yang bercampur-baur di negeri Paman Sam. Kamala yang lahir 57 tahun lampau adalah buah hati sejoli imigran yang punya asal-usul dari dua belahan bumi berbeda berjarak 15 ribu kilometer. Ibu dari Kasta Brahmana Shyamala merupakan satu dari empat bersaudara yang dilahirkan pasangan suami-istri (pasutri) Rajam Ayyar dan P.V. Gopalan pada 7 April 1938 di Madras (kini Chennai), ibukota Negara Bagian Tamil Nadu. Meski tumbuh di tengah keluarga Hindu berkasta Brahmana, ayah Shyamala tak pernah membelenggu pemikiran terbuka anak-anaknya. Mengingat ayahnya pegawai pemerintahan kolonial British India, Shyamala tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sekolah hingga jenjang tinggi di Jurusan Kesehatan masyarakat di Lady Irwin College, kampus ternama di India untuk kaum perempuan di New Delhi. Ketika di usia 19 tahun Shyamala lulus dan berhasrat melanjutkan pendidikan ke Amerika, ayahnya tak melarang. Sikap itu melangkahi adat bahwa perempuan dari kasta Brahmana lazimnya dilarang pergi ke luar negeri sebelum menikah. Bahkan sang ayah mendukung penuh dengan membiayai kuliah Shyamala di Universitas California Berkeley dan biaya hidup pada tahun pertama dari tabungan pensiunannya. “Di masa itu (1950-an), jumlah perempuan lajang India yang pergi ke Amerika untuk kuliah – mungkin tak sampai dua digit. Tetapi ayah saya orang yang terbuka. Dia bilang, ‘jika kamu diterima masuk, maka pergilah,’” ungkap Balachandran Gopalan, adik Shyamala, kepada LA Times , 25 Oktober 2019. Dalam otobiografi Kamala Harris, The Truths We Hold: An American Journey , Kamala juga menceritakan bagaimana ibunya bertemu ayahnya, Donald Jasper Harris, di kampus yang sama. Perbedaan keyakinan, di mana Donald Harris seorang Nasrani, tak menghalangi keduanya bersatu ke jenjang pernikahan pada 1963. Shyamala dan Donald pertamakali bertemu dalam sebuah rapat Afro American Association di Berkeley pada musim gugur 1962. Saat itu Donald menjadi salah satu pembicaranya. Shyamala Gopalan (kiri) saat di Universitas California Berkeley. (Facebook Page Kamala Harris). Awalnya hubungan Shyamala-Donald tak disetujui karena Shyamala sudah dijodohkan. “Ibu saya diharapkan pulang ke India setelah lulus karena orangtuanya sudah mengatur perjodohannya. Diasumsikan ibu saya akan menurut. Namun takdir berkata lain. Ibu dan ayah saya bertemu dan jatuh cinta di Berkeley saat ikut pergerakan HAM. Pernikahan dan keputusannya tinggal di Amerika adalah puncak dari tindakan menentukan nasibnya sendiri atas nama cinta,” tulis Kamala. Orangtua Shyamala akhirnya memberi restu setelah Donald datang ke India untuk meminta izin menikahi Shyamala. “Saya membayangkan betapa sulit bagi orangtuanya merelakan ibu saya pergi, namun ibu saya mendapat restu pindah ke California dan kakek saya tak melarang. Dia masih remaja saat masuk Berkeley pada 1958 untuk mengejar gelar S-2 dalam bidang nutrisi dan endokrin, mengejar cita-citanya menjadi peneliti kanker payudara,” sambungnya. Shyamala tetap giat dalam perkuliahan dan aktivitasnya menyerukan HAM dan anti-Perang Vietnam kala kemudian mengandung Kamala. Gelar PhD-nya juga sukses diraihnya pada Februari 1964 dengan tesis “The Isolation and Purification of a Trypsin Inhibitor from Whole Wheat Flour”. Shyamala kemudian bekerja di Departemen Zoologi dan Laboratorium Riset Kanker Berkeley hingga punya anak kedua, Maya Lakhsmi Harris, yang lahir pada 1967. Namun biduk rumah tangga Shyamala-Donald retak pada 1969. Dua tahun berselang keduanya bercerai. “Mereka berpisah tak lama setelah ayah mengambil pekerjaan di Universitas Wisconsin. Mereka tak memperebutkan uang, melainkan buku-buku. Saya sering berpikir seandainya mereka saat itu sudah lebih matang secara emosional dan usia, mungkin pernikahan mereka akan bertahan,” kata Kamala yang tak pernah tahu penyebab perceraian kedua orangtuanya. Setelah bercerai pada 1971, Shyamala Gopalan berjuang membesarkan Kamala dan Maya sebagai ibu tunggal. (Facebook Page Kamala Harris). Shyamala pun menjadi ibu tunggal ketika membesarkan kedua putrinya di sebuah duplex di Bancroft Way, Berkeley. Namun, itu bukan satu-satunya beban berat yang dipikulnya. “Saya pikir, buat ibu saya perceraian merepresentasikan kegagalan yang tak pernah ia perkirakan. Pernikahannya saja sudah laiknya pemberontakan. Menjelaskannya kepada orangtuanya sudah sulit. Menjelaskan tentang perceraian, saya bayangkan, lebih sulit lagi,” tambahnya. Meski Kamala memeluk Nasrani mengikuti kepercayaan ayahnya, Shyamala tetap memperkenalkan budaya dan tradisi India kepada anak-anaknya. “Kamala mengenal semua mitos dan tradisi Hindu dan Kamala sama-sama nyaman berada di kuil maupun di gereja. Saya memberi nama Kamala terinspirasi dari Dewi Lakshmi. Sebuah budaya yang menyembah dewa-dewi menghasilkan para perempuan tangguh. Oleh karenanya Kamala juga sering mengunjungi Kuil Shiva Vishnu di Livermore. Keluarga saya selalu menginginkan anak-anak bisa belajar tradisi, terlepas di mana mereka lahir,” kata Shyamala, dikutip Peter Schweizer dalam Profiles in Corruption: Abuse of Power by America’s Progressive Elite . Shyamala kemudian memboyong dua putrinya ke Montreal, Kanada, lantaran menerima dua pekerjaan sekaligus di Lady Davis Institute for Medical Research dan Fakultas Medis Universitas McGill. Sepanjang karier penelitiannya yang berfokus pada pertautan hormon progesteron dan kanker payudara, Shyamala setidaknya berhasil menghasilkan tujuh laporan jurnal kesehatan. “Estrogenic of Murine Uterine 90-kilodaton Heat Shock Protein Gene Expression” sebagai jurnal pertamanya terbit pada Agustus 1989 dan “Cellular Expression of Estrogen and Progesterone Receptors in Mammary Gland: Regulation by Hormones Development and Aging” sebagai jurnal terakhirnya terbit pada 2002. Penelitian terakhirnya dilakoni Shyamala ketika sudah kembali ke Lawrence Berkeley National Laboratory, California seraya aktif di organisasi amal Breast Cancer Action. Pada 11 Februari 2009, Shyamala mengembuskan nafas terakhir di usia 70 tahun setelah menderita kanker usus besar. Jenazahnya dikremasi dan abunya dibawa Kamala untuk dilarung di pantai selatan Chennai sesuai tradisi Hindu. “Breast Cancer Action menyatakan penghormatannya kepada Shyamala G. Harris. Seorang ilmuwan terkemuka dunia yang juga sahabat baik Breast Cancer Action. Karya penelitian Harris dalam mengisolasi dan menggolongkan gen reseptor progesteron mengubah pemahaman medis akan respons hormon dalam jaringan payudara. Penemuannya memicu banyak kemajuan mengenai peran progesteron dan sel reseptornya dalam biologi dan kanker payudara,” demikian pernyataan Breast Cancer Action , 21 Juni 2009. Ayah Ekonom Marxis Sebagaimana ibundanya, ayah Kamala Harris, Donald Joseph Harris, juga bukan berasal dari keluarga sembarangan. Lahir Brown’s Town, Provinsi Saint Ann, Jamaika pada 23 Agustus 1938, Donald merupakan buah hati pasutri keturunan tuan tanah dan pemilik budak Oscar Joseph Harris dan Beryl Christie Finnegan. Lewat artikel bertajuk “Reflections of a Jamaican Father” yng dimuat laman diaspora Jamaika, Jamaica Global , 14 Januari 2019, Donald menguraikan nenek moyang dari garis ayah dan ibunya lebih detail. “Akar keluarga, sepengetahuan saya, dari garis ayah ada sosok nenek, Miss Chrishy (Christiana Brown), keturunan Hamilton Brown yang dalam catatan sejarahnya adalah pemilik budak dan perkebunan serta pendiri kota Brown’s Town. Nenek dari ibu saya, Miss Iris (Finnegan), adalah petani dan pengajar dari Aenon Town dan Inverness,” terang Harris. “Nama Harris berasal dari kakek di garis ayah, Joseph Alexander Harris, seorang tuan tanah dan eksportir cengkeh dan rempah-rempah. Dia meninggal setahun setelah saya lahir (1939). Kedua nenek saya punya pengaruh besar dalam masa kecil saya. Miss Chrishy sosok yang disiplin, sementara Miss Iris adalah orang paling lembut yang pernah saya temui,” kenangnya. Donald Jasper Harris bersama Kamala yang masih bayi. ( The Truths We Hold: An American Journey ). Sang nenek Chrishy lebih senang berdagang dengan membuka toko. Sementara ayahnya mengurusi perkebunan keluarga. Dengan latar belakang keluarganya itu, Donald tumbuh dengan minat yang besar akan bidang ekonomi. Maka setelah lulus dari SMA di Titchfield High School, Donald melanjutkan studi ke University College of the West Indies untuk pendidikan strata-1 dan Universitas California Berkeley untuk strata-2 lewat program beasiswa. Donald bertemu Shyamala Gopalan di sebuah rapat asosiasi pelajar kulit hitam pada 1962 dan menikah setahun berikutnya. Biduk rumah tangganya tak bertahan lama, mereka bercerai pada 1971. Meski berpisah, Donald sebisa mungkin tetap mengunjungi Kamala dan Maya, dua buah hatinya hasil pernikahan dengan Shyamala. Ketidakmampuannya untuk sering menengok buah hatinya disebabkan karena kesibukannya sebagai profesor ekonomi di Universitas Wisconsin kemudian Universitas Stanford. Ia acap jadi dosen tamu di beragam kampus, bahkan hingga ke Meksiko, Brasil, dan Malaysia. Miss Iris, nenek Donald Harris saat menggendong Kamala. ( jamaicaglobalonline.com ). Disertasinya semasa di Berkeley, “Inflation, Capital Accumulation and Economic Growth: A Theoretical and Numerical Analysis”, merupakan pemikirannya tentang pembangunan ekonomi yang terinspirasi dari para pemikir ekonomi seperti Karl Marx hingga John Maynard Keynes. Lantaran banyak memakai metode Karl Marx saat mengajar, Donald dijuluki Suratkabar The Stanford Daily , 3 November 1976, sebagai akademisi “Marxis”. Penggunaan metode Marxis oleh Donald bahkan  pernah bikin resah para koleganya di Stanford. “Sebuah argumentasi muncul dua tahun lalu di Departemen Ekonomi dalam oposisi terhadap penunjukan Prof. Donald Harris secara permanen, seorang akademisi Marxis, di mana keahliannya sebagai dosen menarik minat para mahasiswanya untuk mendalami pemikirannya,” tulis suratkabar itu. “Beberapa pengajar Fakultas Ekonomi memerhatikan efek pada sejumlah mahasiswa Harris: (1) adanya sebuah sinyal di mana mahasiswa tak mampu memilih mata kuliah-mata kuliah penting untuk pendidikannya dan (2) sebuah demonstrasi tentang bahayanya cara mengajar yang mengakibatkan melebarnya fokus mahasiswa,” lanjutnya. Donald Harris bersama putrinya, Kamala & cucunya, Meenakshi. ( jamaicaglobalonline.com ). Meski pemikirannya tak terlalu diterima di Amerika, pemikiran Donald bisa diterima baik di negeri asalnya, Jamaika. Pada 1990-an, Donald sempat pulang ke Jamaika untuk mengaplikasikan teorinya demi pembangunan. Sebelumnya, dia telah melakukan riset mendalam tentang ekonomi makro dan mikro di Jamaika. Hasilnya, pemerintah Jamaika menetapkan National Industrial Policy (NIP) pada 1996. Inti dari kebijakan itu adalah, dorongan inisiatif dan kerangka legalitas dari pemerintah kepada sektor-sektor swasta sebagai alat untuk bernegosiasi demi menarik investasi asing. Pada 2011, pemikiran Donald membuahkan Growth Inducement Strategy (GIS). Inti GIS adalah strategi proaktif pemerintah dan sektor swasta dalam kerjasama untuk membangun lingkungan investasi yang stabil dengan di -endorse IMF.

  • Darah Aktivis Kamala Harris

    PINTU menuju kursi penguasa negeri adidaya Amerika Serikat terbuka lebar buat Kamala Harris yang maju jadi calon wakil presiden Amerika bersama Capres Joe Biden dari Partai Demokrat. Pasangan Biden-Kamala unggul jauh dalam perolehan electoral votes  dari duet petahana Partai Republik, Donald Trump-Mike Pence. Hingga kini, Sabtu (7/11/2020) pukul 23.00 WIB, Biden-Kamala memimpin jauh dengan perolehan 264 electoral votes  (214) sejak digelarnya Pilpres Amerika empat hari lalu. Meski Trump ingin membawa hasilnya ke Mahkamah Agung Federal Amerika, Biden-Kamala sudah bersiap merayakan kemenangan yang tinggal menanti enam electoral votes  (270) lagi untuk resmi jadi capres-cawapres terpilih. Jika begitu, sejarah akan kembali tercipta setelah Barack Obama jadi orang kulit hitam pertama yang menjabat presiden Amerika pada 2009. Kamala akan jadi wakil presiden perempuan dan berkulit hitam pertama Amerika. Catatan sejarah itu akan melanjutkan catatan yang dibuatnya pada 2017. Kala itu Kamala menjadi politikus perempuan keturunan Afro-Asia pertama yang menjadi senator (Negara Bagian California). Kamala Harris bersama Joe Biden di ambang sejarah baru Amerika Serikat ( joebiden.com ) Berdemonstrasi dengan Kereta Bayi Meski terpisah ribuan mil dari tempat Kamala mengikuti kontestasi pilpres, Masyarakat Tamil Nadu, terutama di Desa Thulasendhirapuram, berbondong-bondong mendatangi Kuil Dharmasastha. Mereka mendoakan Kamala menang di pilpres Amerika. Desa Thulasendhirapuram mempunyai kedekatan emosional dengan Kamala. Ia merupakan kampung kelahiran P.V. Gopalan, kakek Kamala dari garis ibu. “Pada 2014, ibunya, Shyamala, pernah memberikan sumbangan atas nama Kamala Harris, jadi para penduduk desa mengenalnya dengan sangat baik,” tutur Kepala Desa Thulasendhipuram Arulmozhi Sudhakar sebagaimana diberitakan Hindustan Times , Rabu, 4 November 2020. Orangtua Kamala Harris: Donald Jasper Harris & Shyamala Gopalan ( joebiden.com ) Kamala Harris lahir di Oakland, California pada 20 Oktober 1964 sebagai sulung dua bersaudari dari orangtua blasteran Tamil-Jamaika. Ibunya, Shyamala Gopalan, berasal dari Chennai di selatan India; sementara ayahnya, Donald Jasper Harris, merupakan imigran dari Jamaika. Dalam memoarnya, The Truths We Hold: An American Journey , Kamala mengisahkan ia dilahirkan oleh orangtua yang cemerlang secara akademik meski kehidupan masa kecil keduanya tak mudah. Donald Harris sejak muda tumbuh menjadi akademisi di bidang ekonomi sebagai lulusan Universitas London dan penyandang gelar PhD di Universitas Berkeley. Sementara, Shymala pada usia 19 tahun sudah lulus dari Lady Irwin College di New Delhi dan langsung mengejar gelar S-2, juga di Berkeley. Keduanya saling mengenal di kampus Berkeley lantas berpacaran. Pada 1963, keduanya menikah. “Hidup ibu saya dimulai ribuan mil dari asalnya di belahan timur, di selatan India. Ia merantau pada 1958 untuk mengejar gelar doktor dalam bidang nutrisi dan spesialis endokrin. Ayah dan ibu saya jatuh cinta saat ikut pergerakan HAM di Berkeley,” ungkap Harris. Kakek-nenek Kamala Harris dari garis ibu: P. V. Gopalan & Rajam Gopalan (Facebook Page Kamala Harris) Aktivis, itulah yang diturunkan ke dalam diri Kamala dari garis ibunya. Kakek dan neneknya dikenal sebagai dua dari segelintir tokoh masyarakat yang berpengaruh di wilayah Tamil. “Nenek saya, Rajam Gopalan, tak pernah sekolah sampai SMA, namun dia seorang yang terampil dalam sosial kemasyarakatan. Ia akan selalu menampung perempuan korban kekerasan suami dan selalu mengancam agar para suami mau mengurus istri dengan baik dan kalau tidak, dia yang akan mengurusnya di rumahnya. Dia juga sering mengedukasi perempuan di desanya tentang kontrasepsi,” tutur Kamala. Kamala melanjutkan, “Kakek saya P.V. Gopalan pernah menjadi bagian dari pergerakan untuk memenangkan kemerdekaan India. Pada akhirnya dia menjadi diplomat senior di pemerintahan. Dia dan nenek sempat menghabiskan waktu hidupnya di Zambia setelah India merdeka, untuk membantu para pengungsi.” Dari merekalah Shyamala belajar tentang kepedulian dan aktivisme yang lantas diturunkan ke Kamala. Menurut Kamala dari cerita ibunya, pernah suatu ketika Kamala yang baru berusia sekitar dua tahun (tahun 1966) sampai dibawa ikut berunjuk rasa dengan para aktivis Free Speech Movement (FSM) untuk menyuarakan HAM, anti-rasisme, dan anti-Perang Vietnam. “Ibu saya sangat paham dengan sejarah, kesadaran politik, dan kesadaran akan perjuangan dan persamaan. Maka orangtua saya sering membawa saya dengan kereta bayi bersama mereka ke aksi-aksi menyuarakan HAM. Sedikit yang saya ingat waktu itu hanya melihat lautan kaki bergerak ke sana-sini. Teringat akan energi di sekeliling dan teriakan-teriakan,” tambahnya. Sejak balita sudah diajak ikut unjuk rasa dan pada usia tujuh tahun sudah jadi korban broken home (Facebook Page Kamala Harris) Mereka saat itu bergerak di Sproul Plaza untuk memprotes dengan damai karena diserang polisi dengan selang air. “Mereka datang untuk bertemu Martin Luther King Jr. yang berbicara di Berkeley, di mana ibu saya berkesempatan bertatap muka. Dia menceritakan pada satu aksi protes anti-perang, massa dikonfrontir (geng motor) Hell’s Angels. Saat kerusuhan pecah, ibu saya dilindungi teman-temannya untuk membawa saya keluar dari situasi itu,” kata Kamala. Namun ketika Kamala baru berusia tujuh tahun dan Maya, adiknya yang masih balita, harus jadi korban broken home. Shyamala dan Donald bercerai. Sejak itu, Kamala dan Maya dibesarkan oleh ibunya. “Saya tahu mereka saling mencintai tapi kelamaan mereka menjadi seperti air dan minyak. Hubungan mereka sudah retak sejak saya berusia lima tahun. Setelah ayah saya mengambil pekerjaan mengajar di Universitas Wisconsin, mereka bercerai. Uniknya bukan uang yang mereka perebutkan, melainkan koleksi buku-buku. Ayah saya tetap jadi bagian hidup kami yang selalu datang pada akhir pekan,” ungkapnya. Pembela LGBT Meski dibesarkan di keluarga yang tak utuh, Kamala Harris tetap tumbuh jadi anak secemerlang kedua orangtuanya. Mereka sempat pindah untuk mengikuti aktivitas sang ibu yang sambil mengajar di Montreal, Kanada juga melakukan banyak penelitian tentang hormon progesterone dan tentang kanker payudara . Selepas SMA, Kamala hidup mandiri di Washington DC sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Politik dan Ekonomi Universitas Howard. Lulus pada 1986, ia melanjutkan studinya dengan mengambil jurusan Hukum di Hastings College of the Law, University of California berbekal  beasiswa dari Legal Education Opportunity Program (LEOP). Pada 1988, Kamala ikut program magang di Pengadilan Tinggi Alameda County, Oakland, California. “Saya magang bersama sembilan mahasiswa lain di kantor jaksa distrik. Saya sudah lama memendam niat menjadi jaksa penuntut. Saya ingin berada di baris terdepan dalam reformasi pengadilan kriminal, di mana saya ingin melindungi yang lemah. Pekerjaan kami lebih kepada belajar dan mengamati segala kegiatan di sana, di mana kami masing-masing ditempatkan bersama para jaksa yang mengerjakan beragam kasus dari Driving under the Influence hingga pembunuhan,” terangnya. Di situ pula Kamala mengawali kariernya sebagai salah satu deputi jaksa Distrik Alameda County setelah lulus pada 1990. Kariernya melejit berkat otak encernya. Setelah berpacaran dengan Willie Brown, seorang duda yang juga ketua Majelis Negara Bagian California, Kamala melenggang jadi anggota Dewan Unemployment Insurance Appeals pada 1994, dan pada 1998 jadi kepala Divisi Karier Kriminal di Pengadilan Tinggi San Francisco. Saat itu Willie sudah menjabat walikota San Francisco (1996-2004). Sejak Agustus 2000, Kamala mengepalai Divisi Pelayanan Rumah Tangga dan Anak-Anak di Balai Kota San Francisco di bawah jaksa kota Louise Renne. Di sanalah Kamala menemukan passion -nya untuk membela orang lemah, terutama perempuan dan anak-anak. Kamala Harris semasa di Universitas Howard (kiri) & wisuda Hastings College of the Law (Facebook Page Kamala Harris) Namun ketika hendak mengajukan diri sebagai jaksa Distrik San Francisco pada November 2002, Kamala diserang saingannya, Terence Hallian dan Bill Fazio, dengan isu hubungannya dengan walikota yang memuluskan kariernya. Sebagaimana diungkapkan Peter Byrne dalam artikelnya yang dimuat San Francisco Weekly , 24 September 2003, “Kamala’s Karma”, Hallinan dan Fazio menyerang Kamala dengan isu nepotisme. Kamala pun membela diri bahwa apa yang dicapainya selama ini bukan berkat mantan pacarnya. “Saya menolak mendesain kampanye saya dengan mengelilingi kritik terhadap Willie Brown karena saya mengajukan diri secara independen. Tak diragukan lagi saya pribadi yang mandiri dan terlepas dari pengaruhnya dan faktanya dia tak bisa mengontrol saya. Kariernya sudah habis; saya masih akan hidup dan berjuang untuk 40 tahun ke depan. Saya tak berutang apapun kepadanya,” ujar Kamala, dikutip Byrne. Kamala akhirnya menang pada pemilihan jaksa distrik 2003. Setelah menjadi jaksa, ia tetap memegang janjinya semasa kampanye untuk tidak akan pernah mengajukan hukuman mati kepada terdakwa dengan kasus kejahatan apapun. Di jabatan itulah dia mulai menonjolkan diri sebagai jaksa pembela LGBT, dengan membentuk Unit Kejahatan (berdasarkan) Kebencian pada 2005. Unit ini memfokuskan diri pada kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) korban hate crime . Salah satu kasusnya yang terpenting adalah peninjauan kasus pembunuhan Gwen Araujo, remaja transgender 17 tahun yang dihabisi empat pelaku di Newark, California, 4 Oktober 2002. Kamala Harris kala menjadi Jaksa Agung (kiri) & Senator Negara Bagian California (Facebook Page Kamala Harris) Menurut The San Francisco Examiner , 5 Juli 2006, Kamala sampai menggelar konferensi selama dua hari untuk menghimpun 200 jaksa dan aparat penegak hukum guna membahas strategi hukumnya. Pasalnya, empat tersangka pelaku menggunakan hak “Gay Panic Defense”, aturan yang memungkinkan keempatnya membela diri dengan melukai atau membunuh sebagai reaksi atas provokasi yang timbul dari kepanikan terkait hubungan seks sesama jenis yang tak diinginkan. LGBT jadi salah satu isu yang disuarakan Kamala dalam kampanyenya sejak 2008 kala maju dalam pemilihan jaksa agung Negara Bagian California. Saat sudah menjadi jaksa agung California, Kamala mengajukan laporan amicus curiae (dasar hukum sahabat pengadilan, red. ) ke Ninth Circuit (Pengadilan Banding Federal). Dalam laporannya, Kamala menegaskan bahwa Proposition 8, yang mengatur hanya pernikahan beda jenis yang dilegalkan di California, tak punya dasar hukum kuat. Ninth Circuit akhirnya mencabut larangan pernikahan sesama jenis pada Juni 2013. Sejak saat itu kaum LGBT senantiasa berada di belakang Kamala. Termasuk saat Kamala maju menjadi Senat California pada 2017 dan mendampingi Joe Biden di Pilpres Amerika, 3 November 2020.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page