Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Misteri Pembela Omar Dani
Sehari sebelum sidang perkaranya di Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) yang dijadwalkan pada 1 Desember 1966, mantan Men/Pangau Laksdya TNI Omar Dani akhirnya bertemu dengan R. Soenario, yang dipilih Teperpu untuk menjadi pembelanya. Dani berharap Soenario akan memberi banyak masukan hukum untuk persiapan sidang. Namun, Dani ternyata salah berharap. “Pembela tersebut dalam pertemuan pertamanya dengan Omar Dani hanya menyibukkan diri dengan segala macam cerita yang tidak ada hubungannya dengan tuduhan yang telah ditujukan kepada Omar Dani, kliennya,” tulis Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku . Selain membanggakan diri dengan menceritakan kesuksesannya ketika menangangi kasus Jungschlager, mantan tentara Belanda yang mendukung Gerakan APRA-Westerling, Soenario hanya bercerita tentang hal-hal remeh yang sama sekali tak berkait dengan permasalahan hukum yang dihadapi kliennya. Ketika diminta Dani membicarakan soal hukum, Soenario dengan enteng menjawab belum sempat membaca tuduhan, terlebih berita acaranya Dani. Soenario tak sedikitpun menunjukkan simpatinya. Sebelum berpisah, Soenario menyarankan agar Dani mengatakan di persidangan semua yang diketahuinya dan Soenario paling banter hanya bisa menolong Dani dengan menurunkan vonis dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup. Perkataan dan perbuatan Soenario jelas mengecewakan Dani. Lebih jauh, hal itu juga janggal dalam sebuah hubungan antara pengacara dengan kliennya. Bila pada umumnya pengacara akan selekasnya menemui klien untuk mendapatkan keterangan selengkap mungkin mengenai perkara yang membelit kliennya, Soenario sejak awal ditunjuk membela Dani tak menyediakan waktu untuk menemui Dani. “Dia bukan pembela pilihan Omar Dani, melainkan pembela yang diberikan, ditugaskan untuk bertindak sebagai pembela Omar Dani. ‘Penugasan’ itu tentu mengandung muatan-muatan yang hanya diketahui oleh pemberi tugas,” sambung Benedicta dan Soeparno. Tak jelas siapa orang yang menunjuk Soenario sebagai pembela Dani. Penunjukan Soenario dan perilaku yang diperlihatkannya sama-sama menunjukkan kejanggalan seperti yang terjadi pada sidang-sidang Mahmilub. “Pada Desember 1966, mantan Men/Pangau Laksdya Omar Dani diajukan ke muka Mahmilub. Mahmilub ini ternyata bukan untuk membuktikan kesalahan Omar Dani semata, lebih dari itu digunakan untuk membuktikan keterlibatan dan dukungan Presiden Sukarno kepada G30S. Akibatnya, sidang yang dipublikasi secara luas ini menimbulkan dorongan kuat bagi para penentang Presiden Sukarno untuk melakukan aksi-aksi penggulingan terhadap dirinya,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Puasaran Politik . Yang pasti, penunjukan Soenario terjadi setelah permohonan Dani untuk mengajukan pembelanya ditolak. Pada Oktober 1966, ditanyai Teperpu apakah ingin mengajukan pembela sendiri atau tidak dalam persidangannya kelak. Mendapat secercah harapan itu, Dani lalu mengajukan nama Oei Tjoe Tat, mantan Menteri Negara Diperbantukan pada Presiden, sebagai pembelanya. Karena nama Oei ditolak dengan alasan sedang ditahan juga, Dani lalu mengajukan nama Mr. Sartono, pengacara Bung Karno di masa penjajahan, dan Mr. Iskak Tjokroadisurjo. Kedua nama tersebut dikenal sebagai ahli hukum sejak zaman kolonail dan bersama Bung Karno mendirikan PNI. Sekira dua pekan sebelum sidang perdananya (1 Desember 1966), Dani mendapat pemberitahuan bahwa dua nama yang diajuakannya sebagai pembela ditolak. Pihak Teperpu beralasan penolakan Sartono dan Iskak diambil karena keduanya telah mengajukan persayarakat yang sudah patut diketahui bahwa persyaratan tersebut tidak akan mungkin dipenuhi Teperpu. Dani yang penasaran pun mengejar dengan pertanyaan, persyaratan apa yang membuat Sartono dan Iskak jadi ditolak. Dani tak mendapatkan jawabannya karena Teperpu bungkam. Alhasil, Dani pun terpaksa menerima Soenario. Sebelum memasuki ruang sidang pada 15 Desember 1966 dengan agenda pembacaan tuntutan, Soenario menemui Dani di ruang tunggu gedung Mahmilub (kini Gedung Bappenas). Dia mengutarakan sesuatu. “Dia tidak mau membicarakan mengenai tuduhan dengan alasan bahwa dia juga diminta bertemu oleh ayah Omar Dani, di samping dia menyatakan masih belum siap mempelajari berkas-berkas perkara,” ujarnya sebagaimana ditulis Benedicta-Soeparno. Pernyataan janggal Soenario itu tentu menimbulkan tanda tanya besar di benak Dani. Namun, Dani tak melanjutkan. Dia terus menjalani sidang demi sidang hingga akhirnya dijatuhi vonis hukuman mati oleh Mahmilub pada 23 Desember 1966. Dalam perjalanan, Dani akhirnya menjalani hukuman penjara seumur hidup meski pada suatu periode dia sempat tiap malam menunggu regu tembak yang akan mengakhiri hidupnya. Dalam masa penahanan panjang itu, Dani yang mulanya tak diizinkan mendapat besuk dari keluarga akhirnya bisa mendapat besukan istri dan anak-anaknya kendati jarang. Dalam pertemuan pertama dengan istri dan anaknya itulah Dani mendapatkan informasi yang sedikit menguak “permainan” di balik persidangannya. Ternyata, tak pernah sekali pun orangtua Dani meminta seperti apa yang dikatakan Soenario. Pun dengan Sri Wuryanti istri Dani. Sebaliknya, Wuryanti malah memberi informasi yang membuka tabir misteri adanya "permainan" di balik pemilihan Sonario sebagai pembela Dani. “Teperpu telah bohong. Aku datang kepada Pak Sartono dan beliau mengatakan, ‘Jeng, katakan pada suamimu, Mas Omar Dani, bahwa saya dan Iskak tidak hanya mau, tetapi ingin membela suamimu, tetapi Teperpu tidak mengijinkan kami berdua bertemu dengan Mas Omar Dani sebelum sidang. Lha, itu namanya hukum apa??” kata Wuryanti menirukan perkataan Sartono, dikutip Benedicta-Soeparno.
- Triple Agent di Indonesia
WOLFGANG Reif tiba di Jakarta pada 1971 untuk bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Demokratik Jerman atau biasa disebut Jerman Timur. Tak lama kemudian, dia direkrut oleh HVA (Hauptverwaltung Aufklarung), badan intelijen luar negeri Jerman Timur, bagian dari Stasi (Ministry of State Security atau State Security Service).
- Joe Biden dan Pemimpin Gagap
JOSEPH Robinette Biden Jr. alias Joe Biden dari Partai Demokrat untuk sementara memimpin perolehan suara Pemilihan presiden Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2020 (Rabu, 4 November WIB). Data Associated Press per Rabu (4/10/2020) pukul 11 malam WIB menunjukkan, Biden unggul 238 electoral votes dari Donald Trump yang diusung Partai Republik (213 electoral votes ). Untuk menang, salah satu kandidat harus meraup 270 electoral votes . Meski punya keyakinan besar, Biden berusaha untuk sabar menunggu perhitungan perolehan suaranya 100 persen rampung. “Bukan kewenangan saya atau Donald Trump untuk mendeklarasikan kemenangan pemilu ini. Melainkan kewenangan para pemilik suara. Kami senang dengan keunggulan kami. Kami percaya sudah berada di trek yang benar untuk memenangkannya,” kicau Biden di akun Twitter -nya, @JoeBiden , Rabu (4/10/2020). Bersama Kamala Harris sebagai calon wakil presidennya, Biden menang di 23 negara bagian. Jika Biden resmi terpilih jadi presiden Amerika ke-46, dia akan jadi presiden pertama yang punya kekurangan dalam berbicara di depan publik, yakni gagap. Lahir di Scranton, Pennsylvania, 20 November 1942 sebagai anak sulung pasangan blasteran Irlandia-Prancis, Catherine Eugenia Finnegan dan Joseph Robinette Biden Sr., sejak kecil Biden sudah mengalami gagap bicara. Dituliskan Michael V. Uschan dalam biografi, Joe Biden , kegagapannya makin parah semenjak usia sekolah. “Sejak kecil ia sudah gagap dan tak pernah jadi masalah serius sampai dia mulai sekolah. Sebelumnya, teman-teman dan keluarganya menerima apa adanya dan dia tak merasa malu ketika tiba-tiba berhenti saat bicara. Namun kegagapan Biden semakin buruk di sekolah karena dia gugup bicara di depan orang banyak yang tak dikenal,” ungkap Uschan. Joe Biden (kiri) bersama Kamala Devi Harris sebagai Capres-Cawapres Amerika di Pilpres 2020. ( joebiden.com ). Tak ayal, Biden acap jadi korban olok-olok baik oleh teman-teman sekolahnya maupun gurunya. Pernah suatu ketika di masa sekolah dasar di St. Helena School, Pennsylvania, Biden diejek “Tuan Bu-bu-bu-Biden” oleh kepala biarawati Suster Agnes Constance yang mengajar di kelasnya. Ejekan itu membuat Biden mengadu pada ibunya. Tanpa pikir panjang sang ibu pun mendatangi sekolah dan mencari biarawati perundung putranya. Dalam memoarnya, Promises to Keep: On Life and Politics, Biden mengenang sang ibu mendatangi sekolahnya dengan membawa Biden dan Frank adiknya yang masih bayi. Sang ibu langsung melabrak suster di ruang kepala sekolah. Meski Biden menunggu di luar ruangan, ia masih ingat betul pembicaraan itu yang terdengar sampai ke luar. Sang ibu menyela penjelasan yang diberikan suster. “Saya tahu itu, Suster, tapi apa yang Anda katakan?” “ Well , Nyonya Biden, saya tidak sungguh-sungguh mengatakan…” “Apakah Anda mengatakan Bu-bu-bu-bu-Biden?” “ Well , itu tidak relevan, nyonya…” “Apakah Anda mengatakan Bu-bu-bu-bu-Biden?” “Ya, Nyonya Biden, saya saat itu sedang menjelaskan…” “Jika Anda bicara pada putra saya seperti itu lagi, saya akan kembali dan mencabik-cabik kerudung di kepala Anda. Apakah Anda mengerti?” kata sang ibu yang langsung membanting pintu kantor kepala sekolah dengan keras sembari membawa pulang Frankie dan memerintahkan Biden kembali ke kelas. Catherine Eugenia Finnegan bersama anak-anaknya. ( joebiden.com ). Setelah pengaduan akibat olok-olok terakhir itu, Biden tak pernah lagi mengadu walau perundungan tetap dialaminya bahkan hingga masa kuliah. Perundungan yang diterimanya terus berlangsung tak peduli Biden merupakan pemuda cakap dalam olahraga American footbal dan bisbol sejak SMA. Julukan-ejekan seperti “Joe Impedimenta” (Joe cacat) atau “Joe Dash” tetap diterimanya. “’ Dash ’ (tanda pisah, red. ) jadi julukan semenjak saya main American football. Saya memang cepat dan mencetak banyak touchdown . Tapi mereka memanggil saya ‘Dash’ lebih kepada saya bicara seperti kode Morse. Titik-titik-titik-titik- dash-dash-dash-dash, ” tambah Biden. Meski tak pernah mengatasinya dengan terapi, Biden berusaha mengurangi kegagapannya dengan banyak membaca puisi di depan cermin sejak masuk Archmere Academy di Claymont. Kegagapannya berulang-kali tetap muncul hingga ketika Biden menjadi wakil presiden Amerika ke-47 mendampingi Barack Obama (2009-2017). Toh, Biden bukan satu-satunya tokoh politik yang memiliki kegagapan bicara. Jauh sebelumnya, raja Inggris juga mengalami hal yang sama. George VI, Raja yang Gagap Raja Inggris George VI (1936-1952) diketahui juga punya kelainan syaraf yang sama dengan Biden. Raja yang lahir pada 14 Desember 1895 dengan nama Pangeran Albert Frederick Arthur George ini juga sudah mengalami kelainan gagap sejak kecil. Akibatnya ia tumbuh jadi bocah pendiam. Bicaranya hanya lancar di depan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Namun, menurut Mark Logue dan Peter Conradi dalam The King’s Speech: How One Man Saved the British Monarcy , publik baru mengetahui bahwa anak kedua Raja George V itu gagap ketika diminta berpidato pada upacara penutupan sebuah pameran di British Empire Exhibition Stadium (kini Stadion Wembley), 31 Oktober 1925. Pada 1926, sang pangeran mencoba mengatasinya dengan mengambil jasa terapis Lionel Logue. Sang pangeran dikenalkan kepada terapis asal Australia itu oleh kerabatnya, Lord Stamfordham. “Tuan Logue mendapati diagnosa bahwa George mengalami koordinasi (syaraf) yang buruk antara pangkal tenggorokan dan diafragma toraksnya. Ia menyarankan George untuk terapi vokal harian,” tulis Conradi dan Mark Logue, cucu Lionel Logue. Lionel George Logue, terapis pidato Raja George VI. ( npr.go.uk ). Sejak saat itu Logue rutin menerapi sang pangeran. Terapi makin intens setelah George diangkat menjadi raja pada Desember 1936 menggantikan kakaknya, Edward VIII, yang tak punya keturunan. Kendati demikian, tak pernah ada catatan detail metode apa yang digunakan dalam terapi rutin harian Logue terhadap pasien terpentingnya itu. Yang pasti terapi yang dilakukan di ruang tertutup itu membuat Raja George lebih rileks menghadapi publik. “Terapi (Logue) membuat George lebih bisa rileks dan menghindari kejang otot. Hasilnya, public speaking -nya meningkat pesat tanpa tergagap-gagap. Tuan Logue ikut menggerakkan lidah dan mulut untuk mendorong latihan pidato yang akan disiarkan di radio,” lanjutnya. Bimbingan terpenting Logue terjadi menjelang pidato radio deklarasi perang Inggris terhadap Jerman Nazi yang dikumandangkan Raja George VI pada 3 September 1939. Raja George VI tak boleh sekali pun terganggu gagap dalam pidato itu lantaran raja menjadi simbol terpenting yang jadi pegangan rakyatnya menyongsong Perang Dunia II. Raja George VI saat menyampaikan pidato 3 September 1939 menyatakan perang terhadap Jerman. ( thecrownchronicles.co.uk ). Maka sebelum pidato itu disiarkan, naskah dipelajari Logue terlebih dulu. Logue memberikan banyak coretan di naskah tersebut sebagaimana dilihat Mark Logue sang cucu yang memegang satu salinannya. Coretan itu dijadikan Logue sebagai penanda di mana sang raja harus berhenti bicara dan mengambil nafas, lalu melanjutkannya lagi. “Garis-garis vertikal ini dijadikan penanda berhenti sementara agar sang raja bisa mempersiapkan otot syarafnya untuk mengeluarkan suara di kata-kata berikutnya tanpa ragu dan gagap. Ada juga coretan untuk mengganti beberapa kata yang sulit dengan kata yang lebih mudah untuk diucapkan raja,” tandas Mark Logue. Upaya Logue berhasil. Pidato Raja George VI pada 3 September 1939 itu menjadi salah satu pidato ikonik pada Perang Dunia II. Pidato tersebut membakar semangat rakyatnya untuk bersiap menghadapi pasukannya Adolf Hitler.
- Jagoan Udara Bernama Leo Wattimena
Jangan coba-coba meniru aksi Leo Wattimena. Pesan itu tercetus dari kolega Leo sendiri sesama penerbang, Roesmin Noerjadin. Di kalangan sejawatnya, Leo terkenal sebagai penerbang “gila”. Kepiawaiannya dalam menerbangkan pesawat sambil akrobatik tidak dapat ditandingi siapapun. “Saya pernah meniru satu kali, tapi langsung diperingatkan Pak Roesmin Noerjadin, agar jangan meniru orang gila itu lagi,” kenang Moesidjan. Pada 1958, Moesidjan salah satu penerbang pesawat tempur P-51 Mustang dalam Skadron 3 AURI yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Komandan skadronnya saat itu ialah Roesmin Noerjadin. “Kalau kamu ulangi, kamu enggak usah jadi penerbang tempur,” kata Roesmin ditirukan Moesidjan dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Teguran itu bukan tanpa alasan. Belajar dari pengalaman, seorang penerbang lain pernah mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Hussein Sastranegara, Bandung. Gara-gara mau meniru gaya Leo Wattimena, pesawat yang dikemudikan Letnan I (Udara) Subagyo jatuh menghujam landasan ketika lepas landas. Subagyo pun gugur seketika. Sebagai jagoan di udara, Leo Wattimena tidak bermodal keberuntungan semata. Dibandingkan rekannya sesama penerbang, Leo selalu mengambil bobot yang lebih berat untuk mengasah kemampuan. Ternyata, Leo diam-diam sudah sering melatih berbagai gaya atraksi di udara. Inilah rahasianya. Dia sering berlatih terbang di atas gumpalan awan dan menganggap awan sebagai landasan. Ukurannya, kalau sampai pesawat menyentuh awan, berarti pesawat telah jatuh. Setelah berkali-kali percobaan, barulah atraksinya itu dilakukan di atas landasan. Selain giat berlatih, Leo punya postur tubuh yang menunjang untuk ukuran pilot pesawat tempur. Secara kasat mata, Leo terlihat kekar, berleher pendek, dan bertubuh gempal. Leher pendek sangat menguntungkan bagi penerbang tempur karena jarak jantung memompakan darah ke kepala menjadi dekat. Dengan demikian, sang pilot akan mudah mengatasi kondisi kehilangan kesadaran ketika berada di ketinggian tertentu. “Postur fisik Leo memang mendukung. Di selalu bisa cepat mengatasi kondisi-kondisi blank itu. Bahkan, ia melakukan sambil tersenyum atau melambaikan tangan kepada teman terbangnya,” tulis Iswadi. Dengan Mustang kesayangannya, Leo mengangkasa sesuka hati. Begitu pula di kalangan AURI, Leo adalah penerbang tempur yang disegani. Tapi, itu semua tidak membuat Leo lupa daratan. Di balik reputasi gemilang itu, Leo memperlihatkan kehidupan pribadi yang sederhana. Pada 1956, Leo menikahi Corrie Dingemans seorang perempuan indo asal Jakarta. Pada awal perkawinannya, keluarga Leo tinggal di mess di kawasan Setiabudi. Sebenarnya, Leo sudah ditawari rumah besar di kota tetapi tidak diambilnya karena ingin tinggal di Halim Perdanakusuma. Pada awal 1960, keluarga Leo kemudian berpindah ke Komplek Trikora Halim. Salah satu kebiasaan Leo yang diingat banyak koleganya adalah secara berkala mengantarkan beras kepada ibunya yang tinggal di Bandung. Dia mengantarkannya langsung dengan pesawat Mustang yang dikemudikan sendiri. Padahal, pekerjaan itu bisa dititipkan kepada anak buahnya. Dikisahkan dalam riwayat hidup Leo Wattimena yang disusun Kapten Heri Susanto dari Dispen AU, ketika operasi Trikora pembebasan Irian Barat, Leo pernah mendapat tugas mengirim gula dari Jakarta ke Makassar. Sementara itu, di rumah Leo sendiri sedang tidak ada gula. Alih-alih aji mumpung, Leo malah memilih untuk tidak mau mengambil sedikit pun gula untuk keperluan rumahnya. “Tanpa gula kita bisa membesarkan anak-anak,” begitu kata Leo kepada istrinya. Sekali waktu, Leo juga pernah tersulut amarah sebagai tanda solidaritasnya kepada pasukan terdepan. Pada saat makan bersama, Leo tiba-tiba membuang makanan miliknya karena menyaksikan para prajurit yang akan diterjunkan ke Irian Barat cuma dikasih makan tempe. Sementara itu, para perwira tinggi yang duduk di garis belakang mendapat jatah makan dengan lauk daging ayam. Luapan emosional itu semata-mata ditunjukkan Leo karena menghormati hak-hak prajurit yang belum tentu dapat kembali pulang dari pertempuran dengan selamat. “ Spirit de corps -nya tinggi. Leo selalu penuh dedikasi,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dikutip Iswadi. Di hadapan siapapun yang mengenalnya, Leo juga tidak sungkan unjuk kebolehan selain menerbangkan pesawat. Leo memiliki hobi menyanyi, bermain musik, melukis, bahkan memasak. “Kalau ada Leo, tidak pernah sepi,” begitulah teman-temannya mengenang sosok Leo Wattimena.
- Ketika Orang Sunda Mulai Berhaji
SUATU hari di awal tahun 1700-an. Bupati Cianjur Aria Wiratanu II (1691–1707) merasa pusing dengan prilaku sang adik yang bernama Raden Prawatasari. Bagi pejabat yang mengabdi kepada VOC itu, sikap keras Prawata terhadap orang-orang Belanda membuatnya ada dalam posisi dilematis. Supaya sang adik lebih “dewasa” dan berpikir dingin, maka Aria Wiratanu II memberangkatkan Prawatasari untuk pergi berhaji ke Makkah. “Namun boro-boro menjadi lebih tenang, sepulang dari Makkah, Haji Prawatasari malah semakin keras sikapnya terhadap kompeni dan bahkan melancarkan perlawanan bersenjata yang sulit dikendalikan,” tutur sejarawan Cianjur, Luki Muharam. Jika cerita di atas memang benar, itu membuktikan Bupati Aria Wiratanu II memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap VOC. Menurut sejarawan Henri Chambert-Loir, sejak akhir 1600-an, VOC sangat selektif memberikan izin kepada orang-orang muslim di Nusantara untuk pergi berhaji. Sebabnya: mereka khawatir orang-orang Nusantara terpengaruh ajaran perang sabil selama di tanah Arab tersebut.
- Sukarno, Pan Am, dan CIA (1)
DALAM kunjungan kenegaraan ke berbagai negara, Presiden Sukarno suka menyewa pesawat Pan American World Airways. Namun, pemerintah Uni Soviet tak senang Sukarno menggunakan pesawat musuhnya, Amerika Serikat.
- Subronto K. Atmodjo, Komponis Sukarnois
SELAIN Sudharnoto, Bintang Suradi, dan Titik Kamariah, di Ansambel Gembira ada nama Subronto Kusumo Atmodjo yang tak bisa dilewatkan. Subronto sering kali membuat lagu untuk Ansambel Gembira dan sempat memimpin ansambel ini hingga kejatuhannya pada 1965. Astuti Martoyo, mantan anggota Ansambel Gembira, menyebut bahwa Subronto adalah sosok yang cerdas. Selain sebagai pelatih, ia juga komponis sekaligus konduktor. Lagu-lagu ciptaannya sering kali menjadi lagu andalan Ansambel Gembira. Astuti mengenal Subronto jauh sebelum ia bergabung dengan Ansabel Gembira. Astuti mengenang, lagu “Suburlah Tanah Airku” ciptaan Subronto adalah lagu yang hampir pasti bisa dinyanyikan anak sekolah pada waktu itu. “Beliau itu sangat pandai karena ia membuat lagu yang massal. Lagu massal yang gampang dinyanyikan,” kata Astuti Martoyo kepada Historia.ID. Subronto lahir dari keluarga petani di Kabupaten Pati pada 1929. Ayahnya menginginkan Subronto menjadi petani, namun musik tampaknya menjadi panggilan jiwanya. Ketika melanjutkan pendidikan di SMA Taman Siswa Yogyakarta, Subronto justru gandrung dengan gamelan. Semua instrumen gamelan pun dikuasainya. Ketika menjadi Ketua Ikatan Pemuda dan Pelajar Indonesia di Semarang, untuk pertama kalinya ia menonton pertunjukan Sudharnoto yang sudah sohor namanya. Ketika pindah ke Jakarta, kepada Sudharnotolah ia banyak belajar tentang musik. Subronto bergabung dengan Ansambel Gembira pada 1952. “Waktu itu ia belum kerja, masih luntang-lantung. Malah, katanya, pernah mengombrengkan baju dengan bersama Mas Dharnoto,” sebut Koesalah Soebagyo Toer dalam Ke Langit Biru, Kenangan tentang Gembira. Di Ansambel Gembira, Subronto menjadi salah satu anggota yang menonjol baik sebagai penyanyi maupun dalam urusan organisasi. Dia juga yang mengusulkan agar Ansambel Gembira tidak hanya mementaskan lagu-lagu perjuangan melainkan juga lagu rakyat atau lagu daerah. Koesalah yang juga sempat bergabung dengan Ansambel Gembira menyebutnya sebagai orang paling berjasa di Ansambel Gembira selain tiga pendirinya. “Itu tidak hanya karena kedudukannya sebagai Penanggungjawab Kesenian, melainkan juga karena ketokohannya sebagai pendidik, pembimbing, dan panutan pemuda,” kenang Koesalah. Selain tenar sebagai pemimpin Ansambel Gembira, Subronto juga dikenal karena sering membuat lagu yang terinspirasi dari pidato-pidato Sukarno. “Setiap statemen politik Bung Karno yang disampaikan kepada masyarakat dibikinkan (Subronto) lagu,” kata Titik Kamariah seperti dikutip Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam tulisannya “Bersama Lekra dan ansambel: melacak panggung musik Indonesia: 1950-1965”, termuat dalam Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia, 1950-1965. Pidato-pidato Sukarno menjadi inspirasi Subronto. Dua lagu di antaranya ialah “Nasakom Bersatu” dan “Resopim”, yang sering dibawakan Ansambel Gembira dari panggung ke panggung. Subronto memang tidak pernah menempuh pendidikan musik, namun ia belajar kepada banyak orang. Selain kepada Sudharnoto, ia juga sering mendatangi Amir Pasaribu dan Sudjasmin. Nasib membawanya kuliah di jurusan Kepemimpinan Paduan Suara dan Ansambel Kesenian di Sekolah Tinggi Musik Hanns Eisler, Berlin. Subronto lulus pada Agustus 1965. Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels menyebut Subronto adalah orang yang menemukan bahwa pelog, tangga nada diatonik dalam musik Jawa, ternyata berasal dari Gereja Phrygia di Asia Minor. Pelog masuk melalui Surabaya dan tersebar ke seluruh Jawa dengan beragam modifikasi. Sementara pelog yang masih mendekati aslinya disebut masih bertahan di Madura. Di luar Ansambel Gembira, Subronto bekerja sebagai karyawan di Departemen Pendidikan, Pengamatan, dan Kebudayaan (PPDK). Selain itu, ia juga aktif menulis di media massa dan menjabat sebagai redaktur majalah Pemuda. Beasiswa di Berlin juga didapatnya dari penugasan Departemen PPDK. Subronto sempat bekerja di Kedutaan Cekoslovakia. Pada 1953, ia mengikuti Festival Pemuda dan Pelajar Sedunia di Bukares, Rumania. Kemudian pada 1957, ia menjadi Ketua Seksi Kesenian delegasi Pemuda/Mahasiswa pada Festival Pemuda dan Mahasiswa Demokratik se-Dunia di Moskow. Kiprah Subronto di Ansambel Gembira berakhir ketika pada 1968 ia ditangkap karena menjadi pimpinan Ansambel Gembira sekaligus komponis ternama Lekra. Ia berpindah dari penjara ke penjara sebelum dibuang ke Pulau Buru. Namun, pembuangan tak mematikan jiwa musiknya. Menurut Hersri Setiawan dalam Memoar Pulau Buru, Subronto memimpin grup musik Bandko, singkatan dari Band Markas Komando. Setelah bebas dari Pulau Buru pada 1977, Subronto diajak oleh Alfred Simanjuntak untuk bergabung dengan Yayasan Musik Gereja. Sejak itu, ia mulai sering menciptakan lagu-lagu rohani Kristen. Namun, lagunya yang terkenal “Kantata Bintang Bethlehem” sebenarnya telah diciptakan di Pulau Buru. Subronto meninggal dunia di Bekasi pada 12 November 1982.*
- Penggalan Akhir Kiprah PPPI
Hari ini, 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dilahirkan oleh Kongres Pemuda II yang dihelat di Jalan Kramat, Jakarta 92 tahun lalu. Selain meneguhkan sikap para pemuda akan cita-cita kemerdekaan, dalam kongres itu juga diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang kelak menjadi lagu kebangsaan. Kongres tersebut diprakarsai Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Organisasi yang didirikan mahasiswa-mahasiswa Recht Hooge School (RHS/Sekolah Tinggi Hukum), School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), dan Technische Hooge School (TH/Sekolah Tinggi Teknik) Bandung pada tahun 1926 itu menjadi wadah untuk menyatukan gerakan perjuangan kemerdekaan di kalangan pemuda-pelajar. “Di dalam perkumpulan mahasiswa ini masalah nasionalisme, kolonialisme dan perjuangan kebangsaan dengan perkembangannya yang terakhir dibicarakan secara serius dan tidak ada waktu dan kesempatan bagi para anggota perhimpunan ini untuk berfoya-foya atau mengadakan pesta-pesta,” kata Ide Anak Agung Gde Agung, salah satu anggota PPPI yang kelak menjadi menjadi menteri luar negeri (1955-1956), dalam Kenangan Masa Lampau: Zaman Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali . Para anggota PPPI kemudian juga aktif di berbagai organisasi perjuangan. Salah satunya di Indonesia Muda, yang dibentuk sebagai perwujudan dari Sumpah Pemuda. “Bahkan boleh dikatakan seluruh pimpinan Indonesia Muda itu mahasiswa yang juga anggota PPPI,” kata Subadio Sastrosatomo dalam testimoninya di buku Chairul Saleh Tokoh Kontroversial , “Chairul Saleh, Nasionalis Sejati”. Dalam kiprahnya, PPPI aktif menentang kolonialisme Belanda. Selain menentang penangkapan para pemimpin PNI, PPPI mendukung Ki Hadjar Dewantara dalam menentang Wilde Scholen Ordonantie atau Undang-Undang Sekolah Liar. PPPI juga menentang upacara peresmian Monumen Van Heutz di Batavia. “Upacara pembukaan Monumen Van Heutsz, yang bagi pemerintah jajahan adalah suatu upacara khidmat untuk menghormati pahlawan kolonial yang besar berkat perjuangannya di Aceh, pada tahun 1932 dipandang sebagai tantangan pihak pemerintah kepada gerakan nasional Indonesia oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Peristiwa tersebut membangkitkan semangat untuk memperkuat barisan kulit berwarna guna mencapai kemerdekaan,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional, Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan . Sebelum dipaksa bubar oleh pemerintah militer pendudukan Jepang, PPPI dipimpin Chairul Saleh. Di bawah Chairul, PPPI lebih radikal. Ketegasan sikap PPPI itu dibuktikan ketika menentang Petisi Soetardjo. “Pada saat dalam Volksraad sedang rame-ramenya diperbincangkan masalah Petisi Soetardjo, maka PPPI menolak dengan keras, karena bertentangan dengan asas dan tujuannya. Petisi Soetardjo mengusulkan paling tinggi sampai DominionStatus , sedangkan PPPI dengan terang-terangan memperjuangkan Indonesia Merdeka,” kata Maruto Nitimihardjo, senior Chairul di Recht Hoge School, yang hadir dalam rapat tersebut, lewat testmioninya di buku Chairul Saleh Tokoh Kontroversial , “Chairul Saleh Penggerak Pemuda”. Ketika pada 1940 Gabungan Politik Indonesia (GAPI) menggelar rapat untuk membahas tuntutan Indonesia berparlemen yang diajukan kepada pemerintah kolonial, Chairul hadir mewakili PPPI. Chairul pun bersuara keras. “Bung Chairul hadir sebagai salah seorang wakil PPPI yang mengusulkan bahwa jika resolusi GAPI untuk Indonesia berparlemen ditolak pemerintah, semua partai yang bernaung di bawah GAPI supaya melarang anggotanya untuk ber-coperasi dengan pemerintah Hindia Belanda. Sudah barang tentu usul PPPI itu tidak mendapat suara di GAPI,” sambung Maruto yang hadir dalam pertemuan tersebut. Keteguhan pada cita-cita perjuangan itu terus ditunjukkan Chairul bahkan hingga ketika Perang Pasifik telah pecah. Tak hanya keras bersikap ke luar, Chairul juga tegas ke dalam. Dia amat marah begitu mengetahui Adnan Kapau Gani, seniornya di RHS dan PPPI, main film. Meski alasan Gani melakoninya untuk biaya hidup dan biaya ujian kuliahnya, Chairul tak peduli. “Apa-apaan Bung Kapau Gani ini, seorang student , sudah hampir dokter, anggota PPPI, GERINDO, kok main film? Gila dia! Nama PPPI, GERINDO, seluruh perjuangan kita terseret ke lumpur! Dia harus keluar dari PPPI!” kata Chairul sebagaimana didengar dan dikutip M. Arifin Andanasasmita dalam testimoninya di buku yang sama. Sikap Chairul sontak menimbulkan faksi di dalam PPPI, antara yang pro dan kontra. PPPI sampai mengadakan rapat khusus untuk membahasnya. Chairul ditentang keras oleh Sucipto Gondoamidjoyo dalam rapat tersebut. Meski suasananya panas, rapat akhirnya diselesaikan dengan baik. “Seingat saya, Bung Adnan Kapau Gani memang dikeluarkan dari PPPI,” sambung Arifin. Namun, AK Gani tak pernah diketahui meladeni kemarahan Chairul. Konfliknya dengan Chairul bahkan dia yang menyelesaikan. Tak lama setelah mendapatkan kelulusan dari STOVIA dan ditempatkan di Palembang, dia mengirim sebuah telegram. “Demi persatuan koma stop pertengkaran mengenai saya titik” demikian bunyi telegram AK Gani.
- Khabib Nurmagomedov Sang Elang Dagestan
KALA pertarungan di ronde kedua masih berjalan sengit di menit pertama lewat 34 detik, Khabib Nurmagomedov memanfaatkan secuil peluang. Dia langsung mengeluarkan kuncian triangle choke terhadap lawannya, Justin Gaethje. Justin mati kutu. Upayanya meloloskan diri gagal hingga tubuhnya yang melemah memaksanya tapping dan wasit menghentikan pertarungan. Seketika, Khabib pecah tangisnya. Seraya bersujud, air matanya mengalir deras membasahi kanvas ring oktagon UFC (Ultimate Fighting Championship) 254 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Sabtu (24/10/2020). Saking emosionalnya, Khabib harus dibantu untuk bangkit oleh lawannya yang bertindak sportif. “Alhamdulillah, Tuhan memberikan segalanya pada saya. Hari ini saya ingin mengatakan bahwa inilah pertarungan terakhir saya. Mustahil saya bisa bertarung lagi tanpa ayah saya. Saya telah berjanji pada ibu saya bahwa ini yang terakhir dan saya akan menepatinya,” ungkap Khabib dalam wawancaranya usai pertarungan, dikutip Sky Sports , Minggu (25/10/2020). Khabib mengalahkan Gaethje lewat kuncian triangle choke di ronde kedua. (Instagram @ufc). Pertarungan itu jadi pertarungan ke-13 petarung berjuluk “Sang Elang” itu dalam rangka mempertahankan gelar dunia UFC kelas ringan. Sepanjang kariernya di ajang beladiri campuran terkondang itu, tak pernah sekali pun Khabib kalah dari 29 laga. Petarung Rusia pertama yang berlaga di UFC era baru sejak 2012 itu telah mencatat beragam sejarah sepanjang sepakterjangnya. Yang terpenting adalah status incumbent juara kelas ringan terlama (931 hari). Walau usianya terbilang muda, janji pada ibunya itu membuatnya mesti pensiun di usia 32 tahun. Ketiadaan Abdulmanap Magomedovich Nurmagomedov, ayahnya yang wafat pada 3 Juli 2020 di usia 57 tahun setelah tertular COVID-19, jadi faktor utama pensiunnya Khabib. Banyak yang menyayangkan keputusan itu. Salah satunya, Connor McGregor, rival kontroversial Khabib. McGregor kerap menghina keyakinan dan ayah Khabib sebelum duel keduanya pada 6 Oktober 2018. Kearoganan McGregor dibungkam Khabib dengan kemenangan lewat kuncian neck crank pada ronde keempat. “Pertarungan yang bagus @TeamKhabib. Saya akan meneruskan pertarungan (di UFC). Salam hormat dan salam duka untuk ayah Anda, juga kepada Anda dan keluarga. Dengan tulus. The McGregors,” kicau McGregor di akun Twitter -nya, @TheNotoriousMMA , Minggu (25/10/2020). Keluarga Petarung di Wilayah Konflik Lahir di Sildi, Republik Dagestan, Uni Soviet (kini Rusia) pada 20 September 1988, Khabib mewarisi sifat petarung keluarga besarnya. Mayoritas keluarga besarnya merupakan praktisi beladiri gulat bebas, judo, dan SAMBO. Termasuk pamannya dan sang ayah, Abdulmanap. “Ayah saya pernah memenangkan kejuaraan gulat bebas dan SAMBO di Ukraina. Dia punya banyak pengalaman dalam olahraga. Adiknya, Nurmagomed Nurmagomedov, adalah juara dunia SAMBO 1992. Paman dari pihak ibu saya juga praktisi yang ahli dalam gulat bebas. Jadi saya tak punya banyak pilihan,” tutur Khabib kala diwawancara Boris Krivin yang dimuat dalam Sport-Express , 2 Desember 2015. Khabib, anak kedua Abdulmanap, mulai bersentuhan dengan beladiri sejak usia dini karena sering melihat ayahnya melatih beladiri anak-anak sekitar. Semenjak bisa berlari-lari dan mulai paham dengan kegiatan olahraga yang digeluti ayahnya, Khabib seketika itu juga mulai menaruh minatnya. “Khabib memulai langkah pertamanya di matras gulat sejak usia dua tahun. Dia mulai bisa mengikuti sedikit-sedikit latihan gulat. Awalnya tidak ada yang mengajarkannya. Dia memahaminya dengan melihat anak-anak yang saya latih. Mulanya juga semua orang menertawakannya, namun akhirnya beginilah yang terjadi (Khabib juara dunia),” ungkap Abdulmanap dalam wawancaranya dengan All Boxing , 14 April 2015. Abdulmanap Magomedovich Nurmagomedov wafat pada 3 Juli 2020 setelah tertular Covid-19. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Sang Elang Melawan Beruang Hidup di lingkungan pegunungan yang keras secara alamiah membentuk karakter bermental baja Khabib. Pembentukan karakter itu makin nyata dengan tambahan didikan sang ayah dalam kesehariannya. “Kenapa kami punya para petarung terbaik di dunia? Karena tempat kami hidup dahulu kala juga ditinggali para petarung. Bangsa kami bertarung sepanjang hidup mereka dan itu sudah ada dalam darah kami. Ayah saya membuat saya berlatih di pagi dan petang hari. Hidup kami seperti tentara. Kondisinya Spartan. Ayah saya selalu menciptakan kompetisi agar saya bisa lebih tangguh,” aku Khabib sebagaimana disitat matchtv.ru , 21 Juli 2016. “Saat saya bilang tak ingin belajar, ayah pasti menghukum saya. Dia menjelaskan dengan lidahnya. Saat penjelasannya tak bisa dimengerti – dengan tinjunya. Jika saya tak dihukum, saya akan jadi seorang perundung. Jika saya dihukum, memang berarti saya pantas mendapatkannya,” imbuhnya. Khabib (kiri) saat berusia delapan tahun pada 1996 sudah mulai menekuni gulat bebas. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Di usia sembilan, Khabib mulai dilatih lebih serius oleh ayahnya. Tak hanya dasar-dasar gulat bebas, Khabib juga dilatih berenang di sungai es, hingga bertarung melawan anak beruang. Dalam sebuah video bertanggal 23 September 1997 yang beredar di media sosial, tampak sang ayah memegang rantai yang mengikat leher seekor anak beruang sembari memerintahkan Khabib untuk bergulat melawannya. “Pertama-tama, seorang ayah harus selalu memastikan sejauh mana kemampuan putranya. Memang disayangkan tidak ada pertarungan yang lebih menarik dari masa dia masih muda (melawan beruang, red. ). Pada akhirnya, pertarungan itu lebih kepada ujian karakter ketimbang latihan,” terang Abdulmanap. Namun, tak mudah bagi keluarga Khabib hidup di wilayah konflik. Dagestan sejak 1980-an mulai tersemai bibit konflik setelah masuknya aliran Wahabi, aliran radikal Islam Sunni, yang dipimpin militan Chechen Shamil Basaev. Kelompok tersebut menggalang gerakan di antara masyarakat Sunni Dagestan dengan mendeklarasikan Jamaah Islamiyah Dagestan. Konflik pun berujung pada pecahnya Perang Dagestan, 7 Agustus-14 September 1999. Meski perang besarnya hanya terjadi sebulan, perang gerilya terus berlangsung hingga 2016. Abdulmanap enggan angkat senjata lagi meski seorang veteran, sebab di rumahnya tinggal istri dan ketiga anaknya serta selusin keponakannya. Khabib bak menggelar "rematch" dengan seekor beruang pada 2015 mengenang masa-masa kecilnya. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Hampir setiap hari selama sebulan peperangan, keluarga Khabib hidup dalam ketakutan. Di lingkungan tempat tinggalnya di Kirovaul, semua warga mendukung pihak Rusia dan Republik Dagestan untuk mengusir para pemberontak Chechen. “Era 1990-an jadi dekade yang berat untuk negeri kami. Peperangan terjadi kurang dari 20 kilometer dari tempat tinggal kami,” kenang Abdulmanap, dikutip Karim Zidan dalam "Dagestani Dynasty: How Fighting Became the Nurmagomedov Family Business" yang dimuat dalam buku Best Canadian Sports Writing . Tak lama setelah perang usai kala Khabib berusia 12 tahun, Abdulmanap memutuskan untuk pindah dari Kirovaul ke Makhachkala, ibukota Republik Dagestan. Empat tahun berselang, Khabib diajari judo. Kala berusia 17 tahun, Khabib menekuni SAMBO di Sekolah Beladiri Manapov yang didirikan ayahnya. Sejak saat itu, bak elang, Khabib mulai melebarkan sayapnya ke berbagai kompetisi gulat, judo, maupun SAMBO di bawah asuhan sang ayah. Debut profesionalnya dilakoni di ajang turnamen MMA (mixed martial arts/beladiri campuran) CFSU: Champions League di kelas ringan. Ia langsung menang lewat kuncian triangle choke di ronde pertama kontra Vusal Bayramov di Poltava, Ukraina, 13 September 2008. Khabib di masa muda sudah selalu dalam bimbingan sang ayah. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Setahun berselang, kiprahnya makin berkibar. Medali emas Kejuaraan Nasional SAMBO Rusia 2009 pun disabetnya. Juga dua kali berturut-turut Khabib meraih medali emas di Kejuaraan Dunia SAMBO (2009 dan 2010) mewakili Rusia. Selain di ajang CFSU, pada 2009 Khabib mendaki tangga kariernya di Tsumada Fighting Championship, M-1 Challenge: 2009, M-1 Selection Ukraine 2010, hingga ProFC/GM Fight 2011. Selepas meneken kontrak pertamanya dengan UFC pada 2011, Khabib melakoni debutnya pada 20 Januari 2012 dengan mengalahkan Kamal Shalorus lewat kuncian rear-naked choke di Nashville, Amerika Serikat. Meski begitu, butuh enam tahun bagi Khabib untuk dapat melingkari pinggangnya dengan sabuk juara dunia UFC kelas ringan. Tepatnya pada 7 April 2018 lewat kemenangan angka setelah melalui pertarungan sengit lima ronde kontra Al Iaquinta. Khabib pernah bikin heboh ketika ia melompat pagar ring oktagon dan menyerang tim lawan usai mengalahkan Conor McGregor lewat kucian neck crank di Las Vegas, Amerika, 6 Oktober 2018. Laga kontroversial Khabib vs McGregor pada 2018 yang berujung kericuhan. (Twitter @TeamKhabib). Aksi Khabib tak lepas dari luapan emosinya yang dipicu hinaan McGregor. Bahkan, jelang pertarungan itu McGregor berulangkali melayangkan hinaan kepada Khabib maupun agamanya, serta menghina sang ayah dan istri Khabib. Orang-orang di tim McGregor menambah panas dengan menghancurkan bus tim Khabib. Walau kemenangannya tak dianulir dan gelar kelas ringan UFC tetap jadi miliknya, Khabib dijatuhi hukuman denda USD500 ribu dan sanksi larangan bertarung selama sembilan bulan dari Nevada State Athletic Commission. Sementara, McGregor hanya didenda USD50 ribu dan sanksi larangan bertarung enam bulan. “Saya hanya seorang manusia dan saya tak tahu mengapa orang-orang hanya membicarakan aksi saya melompat pagar. Bagaimana dengan dia (McGregor) yang bicara tentang keluarga saya, agama saya, dan menyerang bus saya?” cetus Khabib, dikutip Independent , 7 Oktober 2018. “UFC adalah olahraga yang terhormat, bukan olahraga untuk omongan yang menghina. Anda tak bisa menghina agama. Saya tahu ayah akan memukul saja saat pulang nanti. Tapi (Presiden Rusia, Vladimir) Putin sudah menelepon saya dan dia bilang bangga pada saya,” tandasnya.
- Kemarahan Istri-istri Bung Karno
SUATU pagi di tahun 1964. Tetiba Presiden Sukarno diam-diam mengumpulkan ajudan dan petugas kawal pribadi. Kepada para bawahannya itu, Si Bung Besar meminta agar Haryatie, salah satu istrinya yang tinggal di bilangan Slipi, Jakarta Barat, dicegah untuk tidak meninggalkan rumahnya. Bagaimana pun caranya. “Pagi itu Bung Karno ada janji dengan istri yang lain,” ungkap Bambang Widjanarko, eks ajudan Presiden Sukarno, dalam bukunya, Sewindu Dekat Bung Karno. Namun rupanya, informasi rencana pertemuan itu entah bagaimana ternyata bocor ke telinga Haryatie. Dia memerintahkan agar para pengawal dan sopir untuk siap-siap mengantarkannya ke tempat Bung Karno berada pagi itu.
- Bentuk-bentuk Gerakan Protes Masa Kolonial
PROTES menentang pengesahan Undang Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau Omnibus Law terus bergulir di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian besar berbentuk demonstrasi. Kadangkala berujung kerusuhan. Beberapa menyerukan pembangkangan sipil. Beberapa orang berniat protes dengan membawa UU itu ke Mahkamah Konstitusi.
- Dihantam Pandemi Bali bak Kota Mati
Sudah hampir delapan bulan virus corona melanda dunia. Selama itu pula semua berjibaku mengatasi virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019. Hampir semua sektor kehidupan terhantam corona. Salah satunya pariwisata. Ini bikin repot negara yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber devisa seperti Indonesia. Hingga saat ini, Bali menjadi primadona industri pariwisata di Indonesia. Tiap tahun, jutaan wisatawan datang ke Bali. Saking terkenalnya, para wisatawan asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sebuah gang yang tampak sepi di sekitar Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Daya tarik Bali adalah fenomena lampau. Provinsi yang juga terkenal dengan kopinya ini sudah menjadi primadona sejak dulu kala. Pintu masuk bagi orang asing terbuka lebar saat Bali dikuasai oleh Belanda pada awal abad ke-20. Kapal Dagang Belanda (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang berlayar dengan rute Surabaya singgah ke pelabuhan Buleleng, Bali, dengan membawa rombongan turis dari Eropa. Karena permintaan untuk berlayar ke Bali meningkat, maka jalur pelayaran diubah menjadi Bali Express. Mereka juga membangun perwakilan resmi untuk pariwisata pertama di Bali bernama Official Tourist Buerau pada 1924. Pemandangan etalase toko yang tutup di kawasan sekitar Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang warga yang duduk di depan deretan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan sekitar Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pelancong dari negeri Barat lekas terkesan dengan panorama alam Bali dan kehidupan masyarakatnya. Buat mereka, Bali jadi surga yang jatuh di bumi Timur. Begitu tenteram dan eksotik. Ritme kehidupan berjalan lambat. Setiap saat adalah ritual. Sesuatu yang tak mereka dapatkan di Eropa. Kesan itu kemudian cepat menyebar ke seluruh dunia. Para pelancong lain pun berdatangan. Seniman, pelukis, penulis dan sutradara film menyinggahi Bali untuk merasakan berkarya dan berlibur di Bali. Mereka menikmati keindahan dan keunikan alam Bali, kemudian turut serta mempromosikan Bali. Begitulah pesona Bali terus mengalir. Deretan toko yang tutup di kawasan Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang warga melintas di antara kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan sekitar Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, Bali saat ini ibarat putri cantik yang tertidur. Bali ikut terhantam Covid-19. Pariwisata rontok. Kafe dan restoran tutup. Bandara I Gusti Ngurah Rai yang menjadi gerbang utama dan selalu ramai, kini tampak sepi. Jalan Legian yang biasanya begitu padat, saat ini berubah lengang. Keadaan serupa pun tampak di Seminyak. Sepanjang jalan Kuta yang biasanya dipenuhi oleh ribuan wisatawan asing dan lokal, kini kosong. Pedagang merugi. Toko-toko buka, tapi tak ada pembeli. Pengusaha ambruk. Hotel mengobral tarif menginap, tapi kamar-kamar jauh dari penuh. Bahkan tak jarang hanya menyisakan petugas keamanan untuk menjaganya. Suasana sepi di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para petugas porter barang yang biasanya sibuk kini tak tampak lagi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana sepi di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pemandangan sepi di sebuah hotel kawasan Sunset Road, Bali (Fernando Randy/ Historia.id ). “Wah ini sudah hampir 75 persen ruginya. Penjualan toko saya, tak pernah sampai separah ini,” ujar Wayan (48), seorang warga yang membuka toko baju khas Bali di pinggir jalan raya Kuta. Walau pernah diguncang terorisme, Bali tak pernah tidur lama seperti ini. Para wisatawan asing yang terpaksa tetap tinggal di Bali pun merasakan kesulitan keuangan. “Yang sekarang mulai banyak itu ‘bule’ makan di warung-warung, tidak di tempat mahal-mahal lagi,” ujar Kadek (35), sopir transportasi daring yang biasa mengantar turis asing. “Untuk saat ini, bisa makan saja sudah bagus di Bali,” lanjutnya. Orang-orang di sana berharap pandemi segera berakhir agar semua kembali seperti sediakala. Ekonomi pulih dan putri cantik itu bisa terjaga lagi. Seorang warga melintas di deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sejumlah pedangang bermain ponsel di kawasan Kuta, Bali yang sepi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pedagang baju khas Bali saat menunggu pembeli di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ).





















