top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tumbuh Kembang Popok Bayi

    Penggunaan popok modern merupakan bentuk kasih sayang pada si buah hati atau kemalasan orangtua?

  • VOC di Balik Penangkapan Sjahrir cs.

    AKHIR 1961. Rumor itu bertiup kencang di kalangan tentara. Adalah Organisasi Gerilya Hindia Belanda (NIGO) yang didesas-desuskan akan menumbangkan pemerintah. Bahkan kelompok bawah tanah yang disebut-sebut mendapat dukungan dari intelijen Belanda dan para perwira Amerika Serikat itu memiliki rencana untuk membunuh Presiden Sukarno pada 10 Desember 1962. “Mr. Subarjo, bekas Menteri Luar Negeri meneruskan 'dokumen rahasia' yang berisi nama orang-orang NIGO tersebut,” ungkap A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid V: Kenangan Masa Orde Lama. Persoalan NIGO itu kemudian ditindaklanjuti oleh Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) I. Sebagai penguasa wilayah (Jakarta), intel Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Kodam Jaya) kemudian dipersilakan untuk menyelidiki lebih dalam kasus tersebut. Ternyata hasilnya nihil. Laporan-laporan terkait aksi agen NIGO terbukti hanya isapan jempol semata.

  • Ketika Chairul Saleh Ogah Memijat Sukarno

    ZAKARIA RAIB, kepala Biro Industrialisasi di Departemen Perindustrian Dasar dan Pertambangan (Perdatam), pada suatu sore mengunjungi rumah sahabat sekaligus atasannya di Dep. Perdatam, Chairul Saleh. Sang tuan rumah terlihat lesu ketika Zakaria tiba. Zakaria pun langsung menanyakannya ke Johanna SM Saidah, istri Chairul. “Ia lagi dongkol, lagi dikibulin si Pingji (kuping siji),” kata Zus  Yo, sapaan akrab Johanna, menerangkan kepada Zakaria mengapa suaminya lesu, dikutip Irna HN Soewito dalam Chairul Saleh Tokoh Kontroversial . Pingji yang disebut Zus  Yo merupakan panggilan Chairul dan Yo untuk Subandrio, Wakil perdana menteri (Waperdam) I  sekaligus Menko Luar Negeri dan ketua Biro Pusat Intelijen. Hubungan Chairul dan Subandrio bak kucing dan tikus. Bukan rahasia bila di era Demokrasi Terpimpin para pejabat saling sikut untuk mengambil hati Presiden Sukarno. Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta berjuluk “Raja Mobil Indonesia” yang dekat dengan Sukarno maupun Chairul, tahu betul hal itu. Menurutnya, dalam otobiografi berjudul Pasang Surut Pengusaha Pejuang,  “Dalam masyarakat lingkungan Istana terdapat serigala dan ular yang saling mengincar mangsa untuk disergap ramai-ramai atau difitnah.” Fitnah itu pula yang sering dilontarkan Subandrio, yang dijuluki “Durno”, kepada Chairul. Menteri Penerangan di Kabinet Ali II Sudibyo menjadi saksinya. “Sangat saya sesalkan adalah sikap Subandrio yang menuduh Chairul Saleh sebagai orang yang termasuk dinasti ekonomi,” kata Sudibyo. Posisi Chairul yang “basah” dalam kabinet membuat banyak orang iri. Namun bukan itu saja penyebab ketidaksukaan Subandrio kepadanya. “Aidit dan Subandrio memang mencurigai Chairul Saleh, mereka berdua tidak senang melihat Chairul terlalu dekat dengan Jenderal Achmad Yani,” tulis Irna. Angkatan Darat merupakan lawan politik BPI-nya Subandrio. Sebelum Peristiwa 30 September meletus, Chairul sering berdebat sengit dengan Subandrio. Terlebih ketika isu “Dewan Jenderal” sudah memanasi perpolitikan nasional. Di suatu pagi, Subandrio bertamu ke rumah Chairul. Dia diterima lalu diajak sarapan bersama. Di meja makan itulah keduanya kembali berdebat panas. Sikap Subandrio yang sering menuduh lawan-lawan politiknya untuk mengambil hati Sukarno itulah yang membuat Soeharto meminta bantuan Hasjim Ning agar membujuk Sukarno supaya mau memberi kepercayaan kepada Soeharto untuk memulihkan keamaanan yang kacau pasca-G 30 S. “Aku datang menemui kau, karena aku ingin Bung Karno diselamatkan dari pengaruh-pengaruh cecunguk di sekelilingnya,” kata Hasjim pada Chairul. Ketika menemui presiden di Istana Bogor awal 1966, Hasjim, yang diutus Soeharto, terus terang mengutarakan kelicikan Subandrio. “Antara Bapak dan rakyat Bapak ada penyekatnya. Yaitu Subandrio. Di sekitar Subandrio ada lagi PKI. Apabila Bapak terus melindungi Subandrio dan PKI, rakyat akan kecewa kepada Bapak. Mereka akan berhadapan dengan Bapak akhirnya, karena Bapak ingin melindungi orang yang mereka benci.” Sikap Subandrio yang suka menjilat itulah yang membuat Chairul dongkol ketika didatangi Zakaria di rumahnya. “Gimana gue enggak dongkol. Udah capai-capai meyakinkan Babe (maksudnya Bung Karno) untuk lebih memperhatikan pembangunan ekonomi dan Babe setuju untuk ditimbang di sidang terbatas kabinet dan menggariskan kebijaksanaan, nyatanya pagi tadi Babe berbalik 180 derajat. Selidik punya selidik, ternyata tadi malam si Pingji datang ke istana, dengan alasan bahwa Babe sakit. Sambil memijit-mijit, si Pingji merubah pendirian Babe, yang kemudian menerima usulan si Pingji. Siapa yang enggak kesal dengan cara-cara ini,” kata Chairul menjelaskan pada Zakaria, dikutip Irna. Pernyataan Chairul membuat Zakaria tertawa. Sambil berkelakar, Zakaria lalu menanyakan kenapa Chairul tak meniru apa yang dilakukan Subandrio. “Gue bukan tipe tukang pijit seperti si Pingji,” kata Chairul.*

  • Kisah Aneh Tentang Turki Usmani di Nusantara

    SUPREMASI politik dan kultural Turki Usmani menyebar ke berbagai wilayah dunia muslim, termasuk Nusantara. Banyak tradisi lisan dan literatur awal Nusantara memberikan kesaksian. Sejarawan Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menjelaskan Sumatra dan Semenanjung Malaya adalah wilayah di mana Islam pertama kali menancapkan akar terkuatnya. Para penguasa muslim sering menghubungkan dirinya dengan kekuasaan besar di Timur Tengah.

  • Proudhon, Orang Pertama yang Mengaku Anarkis

    DI sebuah kota tua Besançon, Prancis, 15 Februari 1809, lahir seorang Pierre-Joseph Proudhon. Berasal dari keluarga petani pegunungan yang tangguh sejak beberapa generasi, Proudhon merupakan pemikir awal anarkisme dan orang pertama yang menyebut dirinya anarkis di kemudian hari. Ayah Proudhon adalah seorang pembuat bir dan tong bir. Ia sendiri hidup di pertanian sampai usia sepuluh tahun. Pada usia 12 tahun, ia bekerja di gudang bawah tanah dalam bisnis ayahnya. Proudhon kemudian mendapat beasiswa di College de Besançon. Ketika menginjak usia 18 tahun, bisnis ayahnya bangkrut dan ia keluar dari sekolah untuk mencari nafkah.

  • Insentif untuk Para Petugas Medis

    PEMERINTAH mengalokasikan Rp405,1 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menangani wabah covid-19. CNN Indonesia mengabarkan, dana tersebut akan diberikan untuk insentif kesehatan sebesar Rp75 triliun, insentif perlindungan sosial Rp110 triliun, insentif perpajakan dan Kredit Usaha Rakyat Rp70,1 triliun, dan insentif pembiayaan dan restrukturisasi Kredit Rp150 triliun. Adapun insentif untuk petugas kesehatan yang ikut menangani covid-19 diberikan sebanyak Rp15 juta untuk dokter spesialis, Rp10 juta untuk dokter umum, Rp7,5 juta untuk bidan dan perawat, dan Rp5 juta untuk tenaga medis lainnya. Pada masa kolonial, insentif juga diberikan kepada petugas medis yang dikerahkan untuk menangani wabah. Kala malaria melanda Jawa pada abad ke-19, Kepala Dinas Kesehatan Koloni dokter Willem Bosch mengusulkan agar seluruh petugas kesehatan yang ikut menangani wabah mendapat status pegawai negeri.

  • Kebiasaan Unik Diponegoro

    Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830) yang membuat Belanda bangkrut, ternyata memiliki kebiasaan atau perilaku unik. Sejarawan Inggris Peter Carey, dalam karyanya, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), mencatat beberapa perilaku atau kebiasaan unik tersebut.

  • Hukuman Bagi Pelanggar Karantina di Hindia Belanda

    Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akhirnya diberlakukan di Jakarta mulai Jumat, 10 April 2020. Aturan tentang PSBB ini tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 33 Tahun 2020 sebagai upaya memutus penyebaran virus korona. Kegiatan perkantoran dan sekolah diliburkan. Hanya beberapa sektor yang diizinkan beroprasi, seperti sektor kesehatan, pangan, energi, komunikasi, keuangan, logistik, dan penyediaan kebutuhan sehari-hari. Transportasi umum tetap beroperasi namun hanya dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dan kapasitasnya dibatasi menjadi 50 persen. Pembatasan kapasitas angkut ini juga berlaku untuk mobil pribadi. “Dalam satu kendaraan, jumlah penumpang yang bisa naik bersamaan dibatasi. Bila jumlah kursinya untuk enam orang maka maksimal hanya tiga orang, dan semua di dalam mobil wajib pakai masker," kata Gubernur Anies Baswedan seperti dikabarkan Kompas.com. Kebijakan tersebut diberlakukan hingga 23 April 2020 namun bisa pula diperpanjang. Masyarakat yang terbukti melanggar aturan PSBB bisa dihukum 1 penjara atau denda hingga Rp100 juta. Pemberlakuan hukuman bagi para pelanggar karantina kesehatan juga pernah terjadi di era kolonial. De Sumatra Post 20 Juli 1910 memberitakan, karantina kesehatan diberlakukan di Deli. Seluruh biaya karantina untuk orang yang membutuhkan dibayar oleh pemerintah. Namun, bagi mereka yang melanggar aturan pada kesempatan pertama akan langsung mendapat hukuman berupa denda f 2000 atau dua tahun penjara bagi orang Eropa dan dua tahun kerja paksa bagi pribumi. “ f 2000 akan menjadi jumlah yang sangat besar bagi orang pribumi,” kata Liesbeth Hesselink, penulis buku Healers on the Colonial Market, kala dihubungi Historia. Pada tahap akhir penjinakan pes, seperti dikisahkan Martina Safitry dalam tesisnya, “Dukun dan Mantri Pes”, hukuman dan denda juga diberlakukan bagi para pelanggar aturan. Besluit No. 4064/52 tanggal 25 April menerangkan bahwa setiap orang harus menjaga kebersihan pekarangan, rumah, dan lingkungannya agar terhindar dari sarang tikus. Bambu utuh dan kotor dilarang digunakan untuk perkakas rumah. Barang-barang harus ditata dengan rapi dan beraturan. Barang siapa yang melanggar peraturan tersebut, akan dihukum berdasar artikel II dalam Staatsblad no. 484 tahun 1916 yakni denda sebanyak f 100 atau hukuman penjara 1-6 hari bagi pribumi maupun Eropa. Kala wabah influenza menyerang Hindia Belanda, aturan karantina beserta hukumannya juga diberlakukan. Dalam Staatsblad tahun 1920 nomor 723 disebutkan wewenang untuk karantina diberikan kepada pejabat kesehatan setempat. Orang dari daerah terjangkit dilarang keluar atau memasuki daerah yang dinyatakan masih sehat. Bila aturan tersebut dilanggar, hukuman pidana sudah menanti. Setiap orang yang menolak pengawasan dan tindakan karantina diancam kurungan maksimal enam hari atau denda uang maksimal f 50. Kepala sekolah atau pengelolanya yang tidak meliburkan sekolah juga akan dijatuhi hukuman serupa. Kontrol rutin terhadap kondisi kesehatan masyarakat juga digalakkan, khususnya terhadap korban-korban penyakit influenza. Lantaran penyakit ini berasal dari luar negeri, aturan ketat pada kapal-kapal di pelabuhan pun diterapkan. Orang-orang dari kapal dilarang turun dari kapal karena dikhawatirkan menulari penduduk di pelabuhan dan menyebarkan penyakit di darat. Setiap penumpang kapal yang turun harus menunjukkan bukti bahwa mereka bebas dari influenza. Bila tidak, mereka diperintahkan untuk tetap berada di kapal (bila transit) atau dikarantina terlebih dahulu sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan. Mengingat kapal berada di bawah tanggungjawab nahkoda (kapten kapal), maka pengawasan menjadi tugasnya. Apabila ada penumpang yang melanggar, nahkoda wajib menghukum pelanggar; bila tidak, nahkoda itu sendiri yang akan dihukum pemerintah karena dianggap melalaikan tugas. Kepala Dinas Kesehatan Rakyat dokter de Vogel, yang tercatat dalam karya Priyanto Wibowo berjudul Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918, merupakan orang yang mengusulkan aturan hukuman bagi pelanggar aturan karantina pada Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum. Seorang nahkoda kapal yang didapati melalaikan tanggung jawab terkait karantina kesehatan akan dihukum kurungan maksimal setahun atau denda uang maksimal f 2000. Pandangan de Vogel itu segera menuai protes dari direksi Perusahaan Pelayaran Kerajaan (Koninklijk Paketvaart Maatschappij, KPM). Mereka keberatan bila nahkoda dimintai tanggung jawab untuk mengawasi penumpang atau awak kapal yang turun tanpa izinnya. Terlebih, aturan karantina yang disebutkan de Vogel bukan bagian dari tugas seorang nahkoda, melainkan tugas petugas kesehatan atau bahkan pemerintah setempat. Pihak KPM kemudian mengusulkan agar tanggung jawab dalam peraturan karantina seharusnya diberikan oleh kepala pelabuhan. Mereka juga menyebut kebijakan tersebut bukan hanya menyulitkan nahkoda dan penumpang tetapi juga akan mematikan aktivitas perekonomian di sekitar pelabuhan. De Voogel tetap pada pendiriannya. Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal, dia mengatakan bahwa alasan direksi KPM tentang hambatan aktivitas ekonomi terlalu dibesar-besarkan. Namun dari aturan karantina kala pandemi influenza tersebut, hanya kalangan pendidikan, perkapalan, dan masyarakat umum yang diancam hukuman apabila tidak mematuhi aturan. “Ancaman seperti itu tidak berlaku bagi dinas kesehatan atau kepala pemerintah daerah yang lalai dalam melaksanakan tugasnya,” tulis Priyanto dalam bukunya.

  • Menggali Akar Anarkisme di Indonesia

    NARASI tentang anarkisme sebenarnya sudah eksis bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Hanya saja ketika membicarakannya pada hari-hari ini, seolah-olah ia menjadi sebentuk barang baru dari dunia Barat. Anarkisme adalah ideologi yang tak memiliki tanah air. Ia hanya tampak sebagai paham impor dari Eropa hanya karena dari sana bermula ideologi ini diartikulasikan, elemen-elemen dasarnya diformulasikan, diperbincangkan hingga paham ini terus mengada di antara paham-paham besar lainnya yang juga dilantangkan dari sana.

  • Ketika Asisten Pribadi Presiden Soeharto Berkuasa

    Presiden Joko Widodo membuat kejutan ketika mengangkat beberapa staf khususnya dari kalangan milenial. Namun belum sempat menorehkan prestasi mentereng, salah satu dari mereka telah membuat blunder fatal. Andi Taufan Garuda Putra, staf khusus presiden bidang Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) ketahuan menyurati camat se-Indonesia agar menggunakan jasa relawan PT Amartha Mikro Fintek dalam program penanggulangan Covid-19. Amartha merupakan perusahaan dimana Taufan duduk sebagai kepala eksekutifnya.

  • Seblang Menolak Bala

    HAMPIR dua bulan, pandemi Covid-19 atau Corona melanda Indonesia. Pemerintah pusat dan daerah berupaya mengatasi penyebarannya. Awal Maret 2020, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melakukan penanganan dini. Ini penting dilakukan mengingat Banyuwangi adalah destinasi wisata yang ramai. Masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi, memiliki ritual khusus untuk menghadapi wabah penyakit ( pageblug ), yakni melalui tarian adat Seblang. Ritual ini ditarikan seorang penari dalam keadaan trance , tak sadarkan diri, sebagai penghubung warga desa dengan leluhur. Dahulu kala, Seblang digelar setiap tahun untuk tolak bala dan bersih desa setelah panen. Tujuannya agar desa memperoleh ketentraman, keselamatan, kesuburan tanah sehingga hasil panen melimpah. Namun, seperti dilaporkan antropolog Belanda John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi (1927), Seblang bisa dipanggil kapan saja oleh keluarga sebagai pemenuhan nadar (janji) agar beroleh kesembuhan penyakit. Sebab, masyarakat percaya penyakit disebabkan gangguan atau kemarahan dari roh leluhur atau dhanyang (penjaga desa). Pertunjukan Seblang sebagai pelepas nadar kini jarang dilakukan. Kendati demikian, bukan berarti ritual Seblang lantas punah. Masyarakat Bakungan dan Olihsari, dua desa Osing yang berada di wilayah Kecamatan Glagah, masih menjalankan ritual Seblang setiap tahun untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi memberikan dukungan agar khasanah tradisi ini lestari. Salah satu caranya dengan menjadikan Seblang sebagai salah satu agenda Banyuwangi Festival setiap tahun. Menurut Anas, ini merupakan bagian dari menghidupkan dan mengenalkan potensi desa lebih luas. Agenda festival yang sifatnya tradisi ritual tidak harus ditarik ke kota, namun justru harus dilestarikan di desa tersebut. “Seblang menjadi salah satu contoh kegiatan Banyuwangi Festival yang muncul dari masyarakat. Pemerintah tidak melakukan intervensi apapun terhadap penyelenggaraan budaya ini, karena ini adalah adat tradisi. Kita cukup mendukung infrastruktur sekitar dan melakukan promosi hingga akhirnya tradisi ini mendapatkan perhatian khalayak yang lebih luas,” ujar Bupati Anas , empat tahun lalu. Tradisi Tua Seblang merupakan tradisi suku Osing yang cukup tua sehingga sulit diacak asal-usulnya. Ada yang menyebut Seblang merupakan peninggalan kebudayaan pra-Hindu. Menurut Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang dan Gandrung , tari Seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang. Nyanyian, tatabusana, hingga gerakan dan pose dasar dalam seblang mirip seperti dalam pertunjukan sanyang. Awalnya Seblang dibawakan seorang lelaki dan dalam keadaan trance . “Tari Seblang itu mesti kesurupan, tapi pembawaan-gerakannya dan iramanya menyenangkan serta mantap,” tulis Gunawan Suroto dalam “Dolan Menyang Blambangan”, dimuat majalah Kunthi , Juni 1973. Di masa lalu ritual Seblang digelar pada tanggal 1 Sura, hari pertama dalam perhitungan tahun baru penanggalan Jawa. Sekarang disesuaikan dengan kalender Islam. Perayaan di Olehsari berlangsung seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri, sementara di Bakungan seminggu setelah Hari Raya Idul Adha. Menurut Robert Wessing dalam artikel “A Dance of Life”, termuat di BKI No. 4 tahun 1999, meski ada penyesuaian dengan adanya pengaruh Islam, tujuan utama pertunjukan Seblang tak berubah. Yakni, “untuk memperkuat hubungan antara desa dan dunia roh,” tulis Wessing. Agama juga tak meminggirkan kepercayaan pada leluhur. Bahkan, menurut Wessing, Seblang menggabungkan semuanya; leluhur, dhanyang, Dewi Sri, dan bahkan Tuhan bergabung menjadi satu sumber vitalitas manusia. “Tarian itu kemudian menghidupkan kembali bukan hanya hubungan dengan dunia roh tapi seluruh kehidupan spiritual desa-desa ini.” Pengaruh Islam tampaknya juga mengubah orang yang menarikan Seblang. Penari perempuan mulai menggantikan penari lelaki. Kendati demikian, cerita tutur lokal menyebut perubahan itu terjadi pada 1895 dan dikaitkan dengan sosok bernama Semi, salah seorang putri Mak Midah. Suatu ketika Semi yang masih berusia 10 tahun sakit parah. Mungkin karena hidup pas-pasan, Mak Midah tak berani bernadar dengan mengundang Seblang dari Bakungan. Tapi dia sering melihat dan boleh jadi sering terlibat dalam pertunjukan Seblang. Maka, ketika hampir putus asa, dia pun benadar: “Kalau engkau sembuh, kujadikan engkau penari Seblang.” Semi mendapatkan kembali kesehatannya. Mak Midah pun memenuhi kaul dan mengajar Semi menjadi penari Seblang. Menentukan siapa penari Seblang pertama memang agak repot. Para penari dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya keturunan penari Seblang sebelumnya. Wessing menyebut ketidakjelasan data itu untuk Bakungan. Ada beberapa nama disebut, kendati Wessing berpendapat Mbah Kantok dan Mbah Suwitri adalah keturunan dari penari pertama. Sementara di Olehsari, Mak Milah dianggap penari pertama dan dilanjutkan keturunannya yang perempuan. Ada beberapa pengecualian di mana lima dari penari Olehsari muncul dari garis laki-laki. “Singkatnya, para penari di kedua desa cenderung keturunan dari garis perempuan yang idealnya kembali ke pendiri desa. Penari adalah ujung vitalitas dan kekuatan spiritual pendiri yang sangat penting bagi kesejahteraan dan kemakmuran desa,” tulis Wessing. Masyarakat antusias melihat ritual tari Seblang di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, yang dimulai pada Jumat, 7 Juni 2019. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi).  Menghidupkan Tradisi Tari Seblang masih bertahan dan dipertunjukkan di Bakungan dan Olihsari. Selain waktu pelaksanaannya, ada perbedaan usia penari, alat musik, dan busana di dua desa tersebut. Di Bakungan, tari Seblang dibawakan perempuan berusia 50 tahun ke atas yang telah menopause dan digelar seminggu setelah Hari Raya Idul Adha selama semalam suntuk. Di Olehsari dibawakan perempuan yang belum akil baliq dan dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fitri. Alat musik yang mengiringi tarian Seblang di Desa Bakungan terdiri dari satu kendang, satu kempul atau gong dan dua sarong. Sedangkan di desa Olehsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal. Di Bakungan, seseorang dapat memilih di antara sekitar 50 lagu, yang tidak tunduk pada urutan tertentu seperti dalam tradisi Olehsari. Dari segi busana, omprok atau mahkota penari di Bakungan biasanya dihiasi bunga warna warni, sementara di Olehsari berhias untaian dari daun pisang muda. Tata urutan ritual Seblang di Bakungan dan Olehsari hampir sama. Sebelum pertunjukan dimulai, dilakukan ziarah ke leluhur desa. Keesokan harinya, setelah matahari terbenam, ritual dilanjutkan dengan selametan. Lalu, aliran listrik di desa Bakungan dipadamkan dan diadakan pawai obor keliling desa yang dinamakan ider bumi . Di setiap pojok desa, mereka berhenti sambil melafalkan doa-doa keselamatan dari ayat ayat suci Alquran. Ritual ini dimaksudkan agar tidak ada roh jahat yang akan mengganggu desa. Usai persiapan semua, penari pun bersiap. Wajah dan bagian tubuhnya diolesi atal , sejenis tepung dari batu halus yang berwarna kuning dan dicampur air. Dia memakai omprok . Penari membawa nyiru atau tampah berbentuk bundar dari anyaman bambu dengan tangannya. Jika si penari sudah kesurupan, nyiru akan jatuh dengan sendirinya. Proses pemanggilan roh diiringi lagu Sêblang Lukinto . Dalam keadaan trance , penari akan menari dengan iringan gending dengan gerakan yang sederhana dan monoton. Dia berputar berlawanan arah jarum jam, bergerak melingkar seturut bentuk panggung. Lalu dia melemparkan sampur atau selendang kepada seorang penonton dan turut menari. Puncak tarian Seblang berakhir saat pengiring lagu memainkan gending brang brang. Gending itu dimainkan dengan tempo yang cepat. Sang penari juga berputar dengan cepat, lalu penari jatuh tergeletak dengan posisi menelungkup. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Seblang dari Bakungan maupun Olehsari masuk dalam gelaran Banyuwangi Festival 2020. “Ini adalah salah satu bentuk komitmen Pemkab menjaga keberlangsungan tradisi dan adat warga lokal Banyuwangi. Kami tidak ingin, adat dan tradisi yang telah hidup sejak puluhan tahun silam menghilang seiring perkembangan zaman. Untuk itu, kami pentaskan dan kami gelar secara rutin sebagai upaya menghidupkan tradisi ini di generasi mendatang,” kata Bupati Anas . Seblang Olehsari dijadwalkan pada 28-31 Mei, sedangkan Seblang Bakungan pada 9 Agustus. Namun, di tengah pandemi Corona, apakah Seblang akan tetap digelar? Mengingat, menjaga jarak adalah salah satu prasyarat menghindari penyebaran Corona. Berdoa saja badai segera berlalu sehingga sajian tradisi dan ritual tua dari Banyuwangi tetap berjalan.

  • "Tak Perlu Menunggu Ludah itu Kering, Kau Kutembak!"

    Akhir Mei 1948, pemerintah Republik Indonesia (RI) via Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta menugaskan Letnan Kolonel A.E.Kawilarang untuk berangkat ke Sumatera. Bersama Mayor Ibrahim Adjie, Letnan Satu Abu Amar dan Letnan Dua Hutabarat, Alex mendapat misi untuk menuntaskan pertikaian antar tentara Indonesia di Sumatera. Komandan Brigade II Surjakantjana Divisi Siliwangi itu merasa penasaran, apa yang menyebabkan dia harus pergi ke wilayah yang sama sekali belum dikenalnya itu. Guna mememenuhi kepenasaran itu, Alex bahkan pernah bertanya langsung kepada Wakil Presiden sekaligus Menteri Pertahanan ad interim Mohammad Hatta. “Di Tapanuli dan Sumataera Timur harus ada komandan yang bukan berasal dari Jawa atau Sumatera. Di sana harus dilakukan pembersihan. Banyak serobotan, lucut melucuti, kurang disiplin dan lagi banyak korupsi,” jawab Bung Hatta. Sebagai catatan, di wilayah Tapanuli memang saat itu sedang terjadi “perebutan wilayah” antara tentara Indonesia sendiri. Mereka yang terlibat berasal dari kesatuan tentara yang dipimpin oleh Mayor Bedjo dan para pejuang yang ada di bawah Mayor L. Malao. “Alhasil saya merasa terpilih sebagai “tukang bersih-bersih”. Jadilah!” ujar Alex seperti dituliskan dalam otobiografinya, Untuk Sang Merah Putih  (disusun oleh Ramadhan KH). Singkat cerita, berangkatlah Alex dan rombongan ke Sumatera pada Agustus 1948. Selama belum ada penugasan rinci, untuk sementara mereka ditempatkan di Bukittinggi, Sumatera Barat. November 1948, Alex ditunjuk menjadi Komandan Sub Teritorial VII. Sebagai pimpinan wilayah, dia harus mulai membereskan kekacauan-kekacauan yang ada di Tapanuli, Sumatera Timur Selatan. Langkah pertama yang dia lakukan adalah membubarkan brigade-brigade yang ada lalu menggantinya dengan sektor-sektor. Setidaknya ada 4 sektor yang dia bentuk untuk menghadapi kemungkinan agresi militer Belanda yang kedua kalinya. Pembentukan sektor-sektor otomatis diikuti dengan perpindahan wilayah kekuasaan masing-masing kekuatan bersenjata yang ada saat itu. Sebagai contoh Pasukan Sektor I harus meninggalkan Sibolga digantikan oleh Pasukan Sektor IV dan Sektor S. Aturannya Pasukan Sektor IV dan Sektor S dipersilakan masuk Sibolga usai Pasukan Sektor I pergi. Namun karena ada kesalahpahaman beberapa unit Pasukan Sektor S sudah mulai mendekati Sibolga, sementara saat itu Pasukan Sektor I masih ada di kota tersebut. Untuk mencegah keributan karena pertemuan dua pasukan yang tadinya bermusuhan itu, maka Letnan Kolonel Alex  mengutus Letnan Dua David Munthe untuk mengingatkan komandan Pasukan Sektor S untuk tidak masuk dulu ke Sibolga. Alih-alih disanggupi, komandan Sektor S malah mengancam Letnan Dua David dengan todongan pistol. “Besok paginya, saya panggil perwira yang menodong Munthe itu…” kenang Alex. Belum selesai melakukan teguran, Sang Perwira malah menyemprot Alex duluan. Sambil menggebrak meja, dia menolak mentah-mentah perintah atasannya itu untuk jangan dulu memasuki Sibolga. Bak mitraliur, Si Perwira terus nyerocos. Alex yang tadinya akan melakukan teguran juga terkait penodongan Munthe, memilih untuk  menahan diri, menunggu dulu sampai teriakan-teriakan sang perwira selesai. Setelah dia diam, sambil menggebrak meja hingga gelas-gelas di atas meja berjatuhan, Alex langsung balas memaki-maki Komandan Sektor S tersebut. “Sekarang dalam kondisi aman, kau mau aksi-aksian masuk Sibolga! Tahu kau, kalau kau dan pasukanmu  masuk Sibolga sekarang lalu bentrok dengan Pasukan Sektor I, siapa yang menjadi korban? Rakyat dan tentara lagi! Mana tanggungjawabmu?! Mana disiplinmu?! Kau malah mau bermain-main koboy-koboyan dengan pistol. Memuakan! Pengecut memang biasa begitu! Tunggu sampai Aksi II, baru kau boleh mencabut pistolmu kepada lawan!” Sejumlah kalimat lagi masih dilontarkan Alex. Dia betul-betul memarahi Komandan Sektor S. Namun di luar dugaan, tetiba Si Komandan bangkit dan berdiri. Bersikap tegap sambil memberi hormat kepada Alex. “Saya taat perintah!” katanya dalam nada tegas. Sikap membangkang juga pernah dilakukan oleh salah satu pasukan yang akan dipindahkan dari Sibolga. Waktu itu giliran Mayor Ibrahim Adjie yang harus  menghadapi komandannya yang dikenal garang dan tak jarang main tembak begitu saja. Mayor Adjie lantas memanggil sang komandan. Alih-alih menuruti perintah, dia malah menyuruh Adjie untuk datang langsung ke markasnya. Kendati merasa kesal, perwira yang berasal dari Divisi Siliwangi itu berusaha menahan diri. Dia mengalah dan lantas mendatangi markas pasukan yang membandel itu. “Ayah saya bilang, mereka biasanya hanya menguji nyali para komandan saja,” tutur Kiki Adjie, salah seorang putra dari Ibrahim Adjie. Perundingan pun terjadi. Si Komandan bersikeras tidak akan pindah. Dia malah mengusir Adjie dan menyebut tidak mengakui kepemimpinannya. Adjie pun bersikeras dalam sikap tegas. Tetiba di tengah percekcokan itu, sang komandan mengeluarkan pistol, menyimpannya di meja lalu meludahinya. “Kau aku kasih kesempatan untuk pergi dari sini sampai ludah di pistolku itu kering. Jika tidak, kau kutembak!” teriaknya menantang. Di luar dugaan Si Komandan, Adjie malah menyambar pistol berludah itu lalu menodongkannya ke kepala Si Komandan. “Tak perlu menunggu ludah itu kering, sekarang juga kau aku tembak jika tidak ikut perintahku!” ujar Adjie. Dalam sikap ketakutan, Si Komandan akhirnya menyanggupi permintaan Mayor Adjie. Sejak kejadian itulah para komandan di Tapanuli tak pernah lagi membantah perintah-perintah yang datang dari Alex dan Adjie.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page