top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hanyut dalam Nyanyian Akar Rumput

    FAJAR Merah nyaris tak punya ingatan apapun tentang ayahnya. Ia dan kakaknya, Fitri Nganthi Wani, sudah ditinggal Wiji Thukul sejak masih “ingusan”. Ibunya, Siti Dyah Sujirah alias Sipon, harus jadi tiang kokoh sebagai pegangan Fajar dan Fitri sejak 21 tahun silam. Semua berawal dari hilangnya Wiji Thukul, sang kepala keluarga, yang jadi korban pergolakan negeri di pengujung pemerintahan Orde Baru. Hilangnya Wiji Thukul bukan sesuatu yang tak disangka. Sejak ia mulai mesra dengan politik dan karya-karyanya menikam hati rezim, Sipon yang sejak 1988 diperistri Wiji Thukul, sudah diwanti-wanti ayahnya. “Kamu siap ya, Ti,” cetus Sipon menirukan peringatan ayahnya. Peringatan itu akhirnya menjadi kenyataan ketika prahara Mei 1998 pecah. Wiji Thukul dan 12 aktivis lain hilang tak berbekas bak ditelan bumi. Lebih dari dua dekade mereka, para anggota keluarga, sanak, dan kawan, menunggu kepastian akan kejelasan nasib sang aktivis HAM itu, apakah masih hidup atau sudah tinggal nama.  Begitulah babak awal film dokumenter racikan Yuda Kurniawan, Nyanyian Akar Rumput . Sang sineas mengombinasikan beberapa footage berisi penuturan Fitri, Sipon, Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul), dan Fajar si putra bungsu Wiji Thukul yang usianya baru sekira lima tahun kala ayahnya jadi korban penghilangan paksa. Foto pernikahan Wiji Thukul dan Sipon (Foto: Rekam Docs) Tahun demi tahun berganti. Rasa lelah mulai memudarkan harapan. Keberadaan Wiji Thukul tetaplah gelap. Fajar yang sosoknya jadi sorotan sentral di dokumenter berdurasi 112 menit ini, hanya bisa menumpahkan segala macam kerinduan pada sosok ayah lewat musik. Bersamatiga rekannya, pada 2012 Fajar membentuk band beraliran poem rock , Merah Bercerita. Lagu-lagunya dikreasikan dari musikalisasi puisi-puisi karya ayahnya. “Dengan musiknya, Fajar membawakan karya-karya puisi itu tidak sama dengan ayahnya. Ada nuansa romantis. Enggak versi ayahnya (membacakan puisi, red. ) yang penuh kemarahan. Fajar ingin menciptakan senyum,” kata Sipon. Band Merah Bercerita yang didirikan Fajar Merah dan tiga kawannya sejak 2012 (Foto: Rekam Docs) Dengan tenggelam dalam musik, Fajar seolah bertemu dengan ayahnya dalam versi imajinasi. Apalagi selama ini ia hanya bisa menerka-nerkaseperti apa sosok sang ayah, melalui karya-karyanya. Setiap kali album band-nya diluncurkan, acapkali dibarengi dengan memperingati hari lahir ayahnya yang jatuh pada 26 Agustus. “Sejauh apa aku mengenal bapakku?” ujar Fajar yang lantas terdiam lantaran kesulitan mencari arsip kenangan tentang ayahnya di ingatannya.  “Sebagai anak, ya bingung untuk mengucapkan selamat ulangtahun. Hanya bisa melalui musikalisasi puisi ini. Hal paling sederhana ya itu. Dengan musik aku seolah bisa bicara dengan bapak, untuk bilang bahwa apa yang bapak lakukan tidak sia-sia,” tandasnya. Merawat Perjuangan Wiji Thukul Dokumenter pemenangPiala Citra kategori dokumenter panjang di Festival Film Indonesia (FFI) 2018 itupatut dijadikan tontonan generasi muda kekinian. Selain sarat pengetahuan akan kehidupan politik bangsa di masa lalu, film itu juga menjadi wahana pas untuk mengingatkan presiden akan janjinya dua dekade silam. Dalam suatu adegan, Sipon bertuturbahwa Joko Widodo (Jokowi) ketika masih menjabat walikota Solopernah berjanji untuk membantu mencarikeberadaan Wiji Thukul. Meski zaman sudah berganti dan k ursi presiden sudah silih berganti diduduki orang-orang berbeda , kasus penghilangan paksa Wiji Thukul dan 12 aktivis HAM lain tak kunjung tuntas. “Di masa walikota mungkin dia punya kedekatan tapi kan dia enggak punya power (kewenangan, red . ). Tapi ketika dia menjadi presiden , kan dia punya power untuk melakukan lebih, walau kita juga pahami bukan hal yang ringan bagi Presiden Jokowi untuk menuntaskan agenda-agenda pelanggaran HAM masa lalu. Ternyata juga di masa kabinet sekarang orang yang dianggap bertanggungjawab malah jadi bagian,” tutur Wahyu Susilo, adik Wiji Thukul, kepada Historia. Jadi buronan pasca-Kudatuli, Wiji Thukul dinyatakan hilang pasca-Tragedi Mei 1998 sebagai korban penghilangan paksa (Foto: Rekam Docs) Kerusuhan Mei 1998 yang berimbas pada kejatuhan Soeharto memang jadi satu tonggak sejarah modern Indonesia yang rumit. Namun Yuda Kurniawan mengisahkannya dalam dokumenter sedemikian rupa hingga penonton usia +17 pun takkan merasa jemu. Alur ceritanya mengalir dengan apik dan menghanyutkan. Pun dengan selipan-selipan footage lawas sebagai penguat visual atas narasi sejarah yangada sehingga mudah dipahami. Lewat puisi-puisi Wiji Thukul yang dimusikalisasi Fajar Merah dkk., semisal “Bunga dan Tembok”, “Sajak Suara”, dan “Apa Guna”, penonton “dimanjakan” dalam mengenal siapa Wiji Thukul. Menurut Yuda, mulanya dokumenternya diberi judul Mencari Wiji Thukul , lantaran terinspirasi film dokumenter Searching for Sugar Man garapan Malik Bendjelloul dan Simon Chinn yang menang Piala Oscar untuk kategori dokumenter terbaik 2012. “Itu kan bercerita tentang musisi juga yang memperjuangkan suara orang-orang bawah. Awalnya saya perlu judul itu untuk woro-woro di sosial media. Tapi kemudian berubah pikiran karena merasa kurang sreg. Akhirnya pakai judul itu ( Nyanyian Akar Rumput ), selain juga untuk melestarikan puisi Wiji Thukul,” ujar Yuda. Yuda mengaku tak punya target muluk untuk Nyanyian Akar Rumput. Sebab, genre dokumenter dengan isu politik dan HAM masih kurang diminati  masyarakat walaupundihadirkan se-obyektif mungkin. “Saya enggak terlalu mikir target. Yang penting bagaimana film ini bisa dibawa ke ruang yang lebih luas. Di luar penonton festival atau bioskop-bioskop alternatif. Yang penting juga , bagaimana kita bisa menyuarakan kebenaran dalam film ini,” sambungnya. Fajar Merah (kanan) yang mengekspresikan kerinduan pada ayahnya lewat musik (Foto: Rekam Docs) Sementara, Wahyu punya harapan Nyanyian Akar Rumput tidak hanya sekadar suguhan di balik layar musikalisasi puisi Wiji Thukul yang dibawakan Fajar Merah dan bandMerah Bercerita. Dalam Nyanyian Akar Rumput, kata Wahyu, sarat nutrisi akan pengetahuan.Ratusan juta rakyat Indonesia bisa menikmati kebebasan dengan harga yang tidak murah. “Generasi muda akan melihat dan bercermin. Dia akan bisa mengkontraskan situasi. Bahwa sekarang baca buku bebas, maki-maki pejabat di sosial media sudah bebas, tapi kemudian dia akan tahu fakta-fakta masa lalu yang kontras. Harapannya dia akan punya daya juang. Paling tidak, untuk mempertahankan kebebasan yang sekarang ini yang harganya mahal dan perlu martir,” sambung Wahyu. “Penting untuk anak-anak muda mengenal Wiji Thukul. Kenapa? Karena dia yang membuat kalian bisa buka Youtube , Instagram , bebas kritik, tidak ada pembatasan buku-buku. Kebebasan yang asasi dan dengan melihat dokumenter ini, penting untuk merawat kebebasan itu,” tuturnya menutup obrolan.

  • Dua Sikap Kaum Republik

    PANGLIMA Komandemen Jawa Barat Jenderal Mayor R. Didi Kartasasmita terhenyak saat seorang anak buahnya membantah pendapatnya secara keras. Letnan Kolonel Eddie Soekardi, Komandan Resimen ke-3 TKR Jawa Barat, menyatakan bahwa perintah agar para anakbuahnya bekerjasama dengan tentara Inggris untuk menangani misi-misi internasional adalah sebuah ketidakmungkinan. “Saya bersama Moefreni (Komandan Resimen Cikampek) dan Omon (Komandan Resimen Bandung), merasa itu sebagai lelucon yang tidak lucu…” kenang Eddie Soekardi. Dibantah secara keras demikian, otomatis Didi menjadi emosi. Kendati ia sendiri tak menyetujui perintah tersebut, namun soal itu adalah kemutlakan bagi dirinya sebagai seorang tentara. “Ini kan urusan politik! Jadilah kamu komandan resimen yang matang!” ujarnya seperti dilukiskan dalam buku Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur 1945-1946 karya Yoseph Iskandar, Dedi Kusnadi dan Jajang Suryani. Eddie sendiri mengaku kaget dengan sikap atasannya tersebut. Pada akhirnya, ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang prajurit yang harus melaksanakan apa yang dikatakan pimpinan. “Saya lalu minta maaf dan berjanji kepada Pak Didi untuk coba memahami perintah itu,” ujarnya. Kebijakan Sjahrir Pada 15 November 1945, kabinet presidentil RI berubah menjadi kabinet parlementer di bawah Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri-nya. Naiknya Sjahrir menjadikan pihak Belanda dan Inggris “bernafas agak lega”. Setidaknya, Sjahrir dianggap lebih bebas dari pengaruh Jepang, moderat dan merupakan bagian dari kekuatan sosialisme demokrat dunia, ideologi yang banyak dianut oleh para tokoh dari negara-negara pemenang perang seperti Inggris. “Bahkan diperkirakan oleh Belanda dan Inggris, Sjahrir itu akan mudah diatur,” ujar Eddie Soekardi. Menurut Rudolf Mrazek, secara khusus, Belanda memang lebih “merasa nyaman” dengan Sjahrir dibanding dengan Sukarno-Hatta. Itu terbukti, saat Inggris mendesak Belanda untuk membuka dialog dengan kedua proklamator tersebut, mereka menolak karena merasa tidak ada kompromi dengan “para pemberontak”. “…kabinet Sjahrir adalah kabinet Indonesia demokratis terakhir yang dapat dipikirkan…” ungkap van der Plas seperti dikutip oleh Mrazek dalam bukunya Sjahrir, Politik dan Pengasingan di Indonesia . Lantas bagaimana sikap Sjahrir sendiri? Sjahrir, kata Mrazek, sangat percaya Inggris adalah faktor dominan yang bisa mempengaruhi sikap politik Belanda. Sejak Inggris menguasai Indonesia pada awal abad ke-19 (lalu kemudian diserahkan kembali), sesungguhnya keberadaan Belanda di Indonesia bukan atas dasar kekuatan mereka sendiri. “Akan tetapi atas kebaikan Inggris dengan politik luar negerinya yang sama sekali menjadi andalan Belanda,” ungkap Sjahrir dalam Perdjoeangan Kita . Kesalingpahaman antara Sjahrir, Inggris dan Belanda membawa ketiga pihak ke meja perundingan pada 17 November 1945. Hasil nyata dari perundingan segitiga tersebut adalah Inggris akan membantu penyelesaian sengketa antara Belanda-Indonesia dan sebagai bentuk perwujudan niat baik, pemerintah RI akan membantu semua tujuan-tujuan misi internasional Sekutu di Indonesia. Duabelas hari kemudian, perundingan antara Inggris (diwakili oleh Brigadir Lauder) dan pemerintah Indonesia (diwakili oleh H.Agus Salim) diadakan kembali.Dalam perundingan itu ditetapkan bahwa Surabaya, Semarang, Jakarta, Bogor dan Bandung menjadi wilayah-wilayah kekuasaan militer Inggris.  Dalam rangka itu, PM. Sjahrir pun menyetujui Jakarta dijadikan kota diplomasi yang harus bebas dari kaum bersenjata.  Otomatis keputusan tersebut menjadikan  Resimen Jakarta pimpinan Letnan Kolonel Moefreni Moe’min harus digeser ke Cikampek. Kebijakan PM. Sjahrir disambut secara berbeda-beda oleh berbagai kalangan di tubuh kaum republik. Jika seluruh kekuatan lasykar dan pemuda radikal menolak mentah-mentah, maka di internal TKR sendiri muncul dua sikap terkait masalah itu. Pertama, kalangan TKR yang menerima sepenuhnya keputusan Sjahrir. Kedua, kalangan TKR yang menerima keputusan Sjahrir dengan catatan: sekali pihak Sekutu tidak melakukan koordinasi dengan TKR maka tak ada cara lain selain harus menghantam kekuatan mereka. Insiden Dawuan Stasiun Cikampek, 21 November 1945. Dua puluh satu gerbong yang ditarik sebuah lokomotif itu bergerak menuju Bandung. Belum jauh dari stasiun, di wilayah Dawuan tiba-tiba kereta api berjalan semakin pelan. Bersamaan dengan itu, beberapa anggota TKR dari Resimen V Cikampek pimpinan Letnan Kolonel Moefreni Moe’min, meloncat ke atas lokomotif. Dalam bahasa Inggris yang fasih mereka memerintahkan kereta api yang memuat kiriman logistik dan amunisi untuk tentara Sekutu di Bandung  itu berhenti. “Kami minta surat izin untuk memasuki daerah kami dari pemerintah Republik Indonesia?!” teriak salah satu dari prajurit TKR itu. “ Apa? Kami harus memakai surat izin? Sejak kapan petugas Allied Forces yang ditugaskan ke Indonesia harus memakai izin? Tidak ada, kami tidak usah memakai surat izin!” jawab seorang letnan yang memimpin rombongan Sekutu tersebut. Adu mulut pun kemudian terjadi antara anggota Resimen V Cikampek dengan letnan tentara Inggris itu. Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan dari salah satu jendela gerbong. Maka tak ayal lagi, tembakan itu disambut oleh salakan senjata dari ratusan prajurit Batalyon Priyatna. Pertempuran seru pun berlangsung. Mungkin karena kalah jumlah dan ketiadaan pengtetahuan akan medan setempat, peleton tentara Inggris dari kesatuan Gurkha itu pun menyerah setelah sebagian besar serdadunya banyak yang tewas. “Kami hanya menyisakan 4 tawanan  dan langsung merampas seluruh isi gerbong-gerbong  tersebut,” ujar Letnan Kolonel Moefreni Moe’min dalam Jakarta-Karawang-Bekasi: Dalam Gejolak Revolusi  karya Dien Majid dan Darmiati. Penghadangan itu sempat membuat Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin marah besar. Begitu mendengar insiden tersebut dari pihak Sekutu, ia langsung menelepon Moefreni dan memerintahkan pasukan Resimen V Cikampek untuk mengembalikan isi seluruh gerbong yang dirampas dan membebaskan para serdadu yang tertawan. Namun perintah itu ditolak oleh Moefreni. “Kalau kita terlalu mentolelir, lambat laun mereka akan menginjak kita dan kita akan kehilangan wibawa,” demikian alasan Moefreni. Untuk mencegah terjadinya insiden yang sama, selanjutnya pihak Sekutu melibatkan anggota TKR dari Jakarta dalam setiap misi pengiriman logistik via kereta api. Itu terjadi kali pertama pada 11 Desember 1945, saat satu kelompok kadet Akademi Militer Tangerang (AMT) pimpinan Daan Mogot ikut mengawal  kereta api yang memuat kiriman logistik untuk para interniran di Bandung. Namun hal tersebut tidak diterapkan Sekutu dalam misi pengiriman logistik yang memakai jalur darat lainnya. Kala pasukan dari TKR Jakarta mengawal misi-misi RAPWI via kereta api ke Bandung,  di beberapa kota justru penghadangan-penghadangan tetap dilakukan. Salah satu penghadangan yang paling merepotkan militer Inggris terjadi di rute Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung pada Desember 1945 dan Maret 1946.

  • Agen CIA yang Menuduh Sukarno Bernegosiasi dengan Belanda

    PADA 2001, bertepatan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Sukarno, terbit buku Soekarno, Biografi 1901-1950 karya politisi dan penulis Belanda, Lambert Giebels. Buku ini dianggap telah menyudutkan Sukarno. Pada halaman 398, Giebels mengutip informasi dari Bob Koke, perwira intelijen OSS (Office of Strategic Services), cikal bakal CIA, bahwa Sukarno bersedia memulihkan kedudukan gubernur jenderal Belanda asal dia diangkat menjadi perdana menteri. Percakapan ini konon terjadi setelah November 1945 setelah "Sukarno mungkin sekali kehilangan tempat berpijak".

  • Pemikiran Soendari Darmobroto dalam Pendidikan dan Perkawinan

    Dalam pidatonya di Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22 Desember 1928, Siti Soendari Darmobroto dengan tegas menentang permaduan. Soendari mengeluhkan sikap lelaki yang suka memperlihatkan kekuasaannya. Baginya, sangat tidak pantas bila seorang lelaki memamerkan kegagahan dan kekuasaannya lewat poligami sewenang-wenang. Sebaliknya, dia menganjurkan agar lelaki dan perempuan bekerjasama untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan menyediakan ruang untuk perempuan meraih pendidikan serta menyuarakan nasib. “Sudah lama kaum laki-laki menjadi raja dalam pergaulan hidup dan terkadang juga dalam rumah tangga kita,” kata Soendari dalam pidatonya, dikutip Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang . “Kalau Indonesia ingin maju dan harum, haruslah kita semua berada dalam persamaan dengan kaum laki-laki,” sambungnya. Soendari menyebut bahwa persamaan pertama kali harus dibereskan dalam kehidupan rumahtangga. Lelaki dan perempuan seharusnya bisa salilng menghargai dan berjalan beriringan, bukan berebut siapa yang lebih berkuasa. Komentar Soendari soal kehidupan rumahtangga yang adil menjadi krusial. Tanpa keadilan dalam rumahtangga, perempuan tidak bisa aktif dalam masyarakat. Mereka juga tidak bisa bebas menempuh pendidikan bila orang tua mereka tidak memberi kesempatan sama untuk belajar, tidak bisa aktif berjuang bila suami menjadikan mereka sebatas konco wingking . “Lelaki juga harus membiasakan diri bahwa perempuan sudah semakin cerdas dan maju,” kata Soendari dalam pidatonya. Soendari bukan orang baru dalam perjuangan perempuan. Ia merupakan anak dari Wirio Darmobroto, bangsawan Ponorogo yang bekerja sebagai kepala sekolah. Soendari sendiri juga membuka sekolah di Pacitan, Jawa Timur. Namanya sering tertukar dengan Soendari istri Moh. Yamin, pahlawan nasional atau adik dr. Soetomo pendiri Boedi Oetomo. Siti Soendari Darmobroto. (Harry A Poeze/ Di Negeri Penjajah ). Soendari Darmobroto merupakan pendiri terbitan berbahasa Jawa WanitoSworo, yang dia dirikan pada 1913. Sebagai pemimpin redaksi, Soendari kerap menuangkan pemikirannya tentang praktik permaduan. “Penderitaan yang diakibatkan oleh praktik poligami sebenarnya jauh lebih parah dari yang kita bayangkan. Cinta tidak akan bisa dibagi sama rata dan sama rasa,” tulis Soendari seperti dikutip Cora Vreede-de Stuers dalam Sejarah Perempuan Indonesia. Selain soal kedudukan perempuan dalam perkawinan, Soendari juga amat peduli pada isu pendidikan perempuan. Pandangan tersebut ia tuangkan dalam tulisannya di Wanito Sworo . Pendidikan harus diutamakan bagi seluruh perempuan, kaya ataupun miskin. Soendari amat mengagumi kemampuan hidup mandiri perempuan desa. Para istri dari buruh adalah kelompok yang paling ingin mempelajari beberapa keterampilan seperti baca-tulis, menjahit, dan memasak. Harry A Poeze dalam Di Negeri Penjajah mengisahkan, Soendari Darmobroto hadir menyuarakan pendidikan bagi para gadis pribumi di Kongres Pengajaran Kolonial Pertama di Den Haag, Agustus 1916. Kala itu ia sedang berada di Belanda, menghadiri pelatihan guru sejak 1915. Dari keterangan Van Deventer, ketika menjalani pelatihan guru, Soendari merupakan janda beranak satu dan anaknya dititipkan di Jawa. Dalam pertemuan itu Soendari mengatakan pentingnya pendidikan perempuan. Kala itu dia hanya mampu bicara tentang perempuan Jawa karena ia bergelut dalam pendidikan perempuan Jawa. Menurutnya, ibu sebagai guru pertama bagi anak-anaknya haruslah berpendidikan. Maka dari itu, anak perempuan harus menerima pendidikan sama seperti anak lelaki, mengikutsertakan materi matematika, membaca, menulis, dan kemampuan untuk bertahan hidup seperti menjahit, memasak, dan membatik. Selain diajari bahasa Jawa, para gadis juga harus diajari bahasa Belanda. Soendari pun berpendapat pendidikan untuk perempuan kelas bawah lebih penting mengedepankan pada praktik lantaran akan lebih berguna untuk kehidupan mereka. Pendidikan baca-tulis-hitung harus dibarengi dengan keterampilan membuat batik dan membuat kue. Pengetahuan semacam ini bisa menjadi modal para gadis kampung untuk membuka warung, misalnya. Dengan begitu, mereka akan mandiri secara ekonomi. Seperti pembicara lainnya, Soendari juga berpikir pentingnya asrama untuk para perempuan yang mengenyam pendidikan lanjut.Namun,alasanyang dikemukakannya berbeda darialasan pembicara Belanda.  Soendari berpikir asrama akan membantu para siswa untuk lebih memahami budayanya sendiri dan tidak kehilangan identitasnya ketika mengenyam pendidikan Barat. Sementara orang Belanda berpikir bahwa asrama akan memudahkan siswa untuk terbiasa dengan kebiasaan dan gaya hidup Eropa. Pidato Soend a ri dalam pertemuan di Den Haag itu ia tutup de n gan pernyataan, semangat dari RA Kartini mengiringi usaha kaum perempuan dan menyatukan mereka. Lebih jauh, pendidikan perempuan adalah kunci untuk mengubah kondisi sosial masyarakat Jawa. “ Pada akhirnya, saya tahu, tidak ada alat yang paling efektif untuk menghapus adat usang, kecuali pendidikan,” kata Soendari seperti dikutip Susan Blackburn dalam Women and The State In Modern Indonesia .

  • Hikayat Kopi di Tanah Jawa

    TAHUN 1656, Belanda berhasil mengusir orang-orang Portugis dari Ceylon (Srilanka). Di wilayah tersebut, mereka menemukan hektaran kebun kopi yang  terbengkalai. Rupanya lahan itu milik orang-orang Arab yang ditinggalkan ketika Ceylon diduduki Portugis. Mengetahui potensi ekonomis-nya di pasaran dunia saat itu, VOC (Maskapai Perdagangan Hindia Timur) lantas menyewa seorang pakar botani bernama Carolus Linnaeus. Lewat proses penelitian bertahun-tahun, Linnaeus  berhasil menemukan teknik pembudidayaan tanaman kopi. “Linnaeus lantas menamakan tanaman kopi hasil budidaya-nya itu dengan Arabica,”tulis Gabriella Teggia dan Mark Hanusz dalam A Cup of Java . Menurut pakar sejarah kopi Prawoto Indarto, istilah “Arabica” mengacu kepada orang-orang Arab yang kali pertama mengelola tanaman kopi itu di Ceylon. Bahkan ada anggapan di kalangan orang-orang Belanda bahwa tanaman kopi berasal dari tanah Arabia. “Kalau memakai terjemahan bebas, Arabica itu kurang lebih berarti ‘tanamanya orang-orang Arab’,” ujar Prawoto. Berdasarkan hasil risetnya, Linnaeus yakin bahwa tanaman kopi Arabica dapat berkembang secara maksimal di wilayah beriklim sub-tropis dengan hawa pegunungan yang sejuk. Pendapat sang pakar itu menjadikan salah seorang anggota De Heeren Zeventien (Tuan Tujuh Belas, para pemegang saham VOC) yang juga menjabat sebagai walikota Amsterdam Nicholas Witsen pada 1696 memerintahkan Andrian van Ommen (Komandan Angkatan Perang VOC di Pantai Malabar,India) untuk mengirimkan benih kopi Arabica ke Batavia. Sesampai di Batavia, benih kopi Arabica lantas ditanam di Kedawung (tanah milik Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn (1691—1704).  Namun karena seringnya banjir melanda desa di wilayah yang sekarang terletak di Tangerang Selatan itu, maka uji tanam tersebut mengalami kegagalan. Pada 1699, seorang pejabat VOC bernama Hendricus Zwaardecroon kembali mencoba peruntungan dengan menanam benih Arabica di wilayah bantaran Sungai Ciliwung seperti Bifara Cina (Bidaracina), Kampung Melayu, Meester Cornelis (Jatinegara) dan wilayah-wilayah lain seperti Sukabumi dan Sudimara (Tangerang Selatan). “Percobaan kedua itu ternyata sukses,” ungkap Teggia dan Hanusz. Hasil tanaman kopi yang ditanam oleh Zwaardecroon itu lantas dibawa ke Balai Penelitian Botani Amsterdam pada 1706. Berdasarkan riset di sana kualitas kopi dari Jawa itu mutunya ternyata sangat baik. Setahun kemudian, benih Arabica dari Jawa tersebut diperbanyak lewat biji lalu disebar ke kebun-kebun botani di Eropa, termasuk kebun milik Raja Lois XIV. Akhir 1707, Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704—1709) memberitahukan kepada De Heeren Zeventien bahwa dia telah membagikan tanaman kopi Arabica kepada beberapa bupati di sepanjang pantai Batavia sampai Cirebon. “Dia membagikan itu hanya sekadar untuk kesenangan semata,” tulis Jan  Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720—1870. Namun beberapa waktu kemudian baru diketahui bahwa tanaman kopi Arabica sama sekali tidak cocok ditanam pada dataran rendah. Maka dicobalah generasi awal kopi Arabica dari Jawa itu ditanam di wilayah-wilayah pegunungan yang tanahnya kaya unsur vulkanik seperti Cianjur dan Kampung Baru (Bogor). Pada 1711, Cianjur memanen hasil tanaman kopi Arabica yang pertama. Desebutkan oleh Breaman, saat itu Bupati Cianjur Raden Aria Wiratanu III berhasil menyetor hampir 100 pikul kepada VOC. Harga yang dia peroleh adalah 50 gulden perpikul ( 1 pikul=125 pon). “Cukup lumayan, meskipun sangat sedikit dibandingkan dengan harga yang tercatat di pasaran Belanda,” ujar Breman. Kendati demikian, kiriman kopi dari Cianjur berhasil memecahkan harga lelang tertinggi di Balai Lelang Amsterdam. Biji-biji hitam asal Jawa itu dianggap mutunya lebih baik dibanding barang sejenis yang berasal dari Mocha, Yaman. Menurut Prawoto, keberhasilan itu membuka peluang bagi Belanda untuk tampil sebagai pemain utama dalam bisnis kopi yang tengah menggila saat itu di Eropa. Maka berduyun-duyunlah para pebisnis Belanda mengembangkan tanaman kopi Arabica di wilayah Cianjur dan sekitarnya. “Di tahun 1723, terdapat lebih dari satu juta pohon kopi Arabica tumbuh di Kabupaten Cianjur,” tulis Mudrig Yahmadi dalam Sejarah Kopi Arabica di Indonesia. Tiga tahun kemudian, Belanda semakin berjaya sebagai pengekspor kopi terbesar di dunia. Produk mereka dikenal oleh mancanegara sebagai Java Coffee (Kopi Jawa) yang sejatinya berasal dari tanah Cianjur di Priangan Barat.

  • Lament dan Sejarah Lisan Orang Melanesia

    Planet Bumi baru saja diterjang tsunami. Ketika air telah surut, di sebuah bibir pantai, seorang laki-laki berhasil bertahan hidup karena sebuah noken. Sementara itu, sebuah telur putih yang ukurannya sedikit lebih besar dari semangka juga berhasil selamat dari bencana. Untuk melanjutkan kehidupan yang baru saja porak-poranda, si laki-laki itu harus menetaskan telur itu. Namun ternyata, tsunami tak hanya menyisakan mereka. Sampah-sampah plastik yang tak bisa terurai bermutasi menjadi monster-monster yang kelaparan. Sedangkan satu-satunya sumber pangan dan energi adalah telur putih besar itu. Maka terjadilah perebutan sumber daya antara manusia dan monster-monster. Di sisi lain, rombongan manusia tengah bermigrasi mencari tempat hidup yang baru. Perjalanan panjang dilakukan sambil menyanyikan lament  (lagu ratapan) yang mengisahkan sejarah manusia bertahan hidup ( survival ) dalam mencari pangan dan energi. Kisah di atas merupakan skenario Planet-Sebuah Lament, sebuah pertunjukan yang menggabungkan teater, film, tarian, dan nyanyian yang menarasikan sebuah folklore  dalam kebudayaan Melanesia. Karya ini disutradarai oleh Garin Nugroho dan naskahnya ditulis oleh sutradara teater dan opera dari Melbourne, Michael Kantor. Laki-laki yang selamat dari tsunami menemukan sebuah telur. Diperankan oleh Boogie Papeda. (Fernando Randy/Historia). Menyanyikan Sejarah Lisan Kisah Planet-Sebuah Lament ini dinarasikan oleh Septina Layan, seorang penyanyi lament asal Merauke , dan paduan suara Mazmur Chorale dari Kupang. Melalui lagu-lagu lament Melanesia, mereka menceritakan kisah kehidupan, trauma, doa, keselamatan dan harapan untuk masa depan bumi. Septina Layan, yang telah bertahun-tahun melakukan riset mengenai lagu lament menyebut bahwa lament merupakan sebuah upaya menjaga ingatan tentang suatu kejadian melalui nyanyian. "Jadi lament itu sebenarnya sastra yang dinyanyikan. Sebenarnya juga berkaitan dengan tradisi lisan. Tradisi lisan bagaimana menceritakan sejarah kehidupan menggunakan nyanyian," kata Septina kepada historia.id. Lament , yang bila diterjemahkan menjadi "ratapan", telah berkembang di banyak kebudayaan dunia seperti Mesopotamia, Yunani, hingga Skotlandia. Dalam kebudayaan bangsa Melanesia yang tersebar dari Maluku, Papua hingga Kepulauan Hawaii, lament dapat ditelusuri sejak tradisi pengayauan (perburuan kepala manusia) eksis. "Yang saya kumpulkan hampir semua lagu itu sebenarnya mulai dari (zaman) pengayauan sudah ada," terang Septina. Lament diciptakan orang-orang Melanesia ketika sedang berduka, seperti ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia maupun kejadian-kejadian yang memilukan. "Yang lain berkisah tentang hal-hal yang menyentuh perasaan. Melihat bencana, melihat dinamika kehidupan yang dia merasa bahwa itu tidak seharusnya seperti itu. Akhirnya ungkapan-ungkapan itu untuk menguatkan kembali. Nyanyian itu justru memberikan kekuatan," ungkanya. Paduan suara dari Kupang, Mazmur Chorale, menyanyi dan berakting. (Fernando Randy/Historia). Karena berasal dari tradisi lisan, lagu lament selama ini hanya dihidupi oleh mama-mama Papua. Ketika berkebun maupun pergi ke hutan, mama-mama Papua sering menyanyikan lament . Sebagaimana khas nyanyian Papua, lament hanya memiliki empat dan lima nada (tetratonis dan pentatonis). Lament juga sarat akan pengulangan atau repetisi, gaya resitatif, dan pengulangan beberapa nada di akhir kalimat lagu. Septina sendiri mengenal lament sejak kecil karena ia lahir dari keluarga yang menghidupi lament. Ayahnya, seorang pembantu pastor membuatnya dekat dengan lament, paduan suara, dan bermusik. Septina pun kemudian terpanggil menekuni nyanyian-nyanyian tradisi bangsa Melanesia itu. "Saya baru mengumpukan di wilayah selatan Papua. Kebetulan itu sebenarnya kerinduan saya karena nyanyian-nyanyian tradisi itu lebih banyak diminati oleh orang tua dan jarang dinyanyikan oleh anak-anak karena kesulitan bahasa," sebutnya. Septina kini telah menghimpun 30 lagu, menotasikan, dan menuliskan liriknya berdasar memori orang-orang yang sudah tua. Ia kemudian membukukan kumpulan lagu tersebut dan membagikannya kepada anak-anak. Ia juga melatih mereka menyanyikannya. Septina juga menciptakan sendiri lagu-lagu lament dengan tema-tema yang berkaitan dengan masalah lingkungan di Papua seperti tergusurnya hutan sagu hingga kehidupan burung cendrawasih. Monster-monster yang diperankan oleh Galabby, Douglas D’Krumpers, Bekham Dwaa, dan Pricillia E.M. Rumbiak. (Fernando Randy/Historia). Ruang Ekspresi Indonesia Timur Garin Nugroho, sutradara Planet-Sebuah Lamen menyebut pementasan ini merupakan upaya untuk membicarakan dan menyediakan ruang ekspresi bagi budaya Melanesia yang selama ini jarang tersentuh. Garin sudah tertarik dengan lament sejak tahun 2012. Dia menyebut  lament  hidup di sudut-sudut Nusantara purba dan menjadi ratapan sejarah purba dunia, baik ratapan hilangnya kota-kota maupun rusaknya peradaban sebab perang atau bencana. Sejak 1985, Garin juga telah melakukan perjalanan ke daerah timur Indonesia dan mendengarkan lament ­ di desa-desa. Selain itu, pengalaman mendengar lament dalam perayaan paskah di Pulau Procida, Italia hingga Larantuka, Nusa Tenggara Timur juga menginspirasinya. "Saya melakukan perjalanan panjang sejak 1985 di NTT, khususnya Flores. Kalau anda baca dalam tradisi musikologi, (mereka) memiliki kekayaan luar biasa pada vokal. Dan saya banyak sekali jalan di Papua. Bahasa tubuh Papua kalau anda lihat tadi luar biasa sekali. Vocabulary -nya hampir kita tidak punya," ujar Garin. Burung yang menetaskan telur menjadi hutan kecil. Diperankan oleh Rianto. (Fernando Randy/Historia). Garin kemudian melakukan riset tentang lament hingga tanpa sengaja bertemu Septina Layan di Papua. Ia juga kemudian bertemu paduan suara Mazmur Chorale dari Kupang serta penari-penari Papua. "Oleh karena itu, ini menjadi sebuah kumpulan dari mereka yang kemudian memang membawa suara Melanesia," terang Garin. Garin menambahkan, merayakan Melanesia tidak hanya dengan menyebut-nyebut eksistensinya, melainkan juga dengan memberi dukungan kepada bakat-bakat luar biasa orang Melanesia. Planet-Sebuah Lament telah digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, 18-19 Januari 2020 dan akan membuka perhelatan Asia-Pacific Triennial of Performing Arts (Asia-TOPA) Februari mendatang di Melbourne, Australia. Pertunjukan ini juga dijadwalkan tampil di Dusseldorf, Jerman, dan Amsterdam, Belanda.

  • Kontroversi Schumi

    BALAPAN Formula One (F1) musim 2020 memang masih dua bulan lagi, 15 Maret 2020. Namun, Lewis Hamilton sudah tak sabar. Juara bertahan asal Inggris dari tim Mercedes itu bakal menyongsong rekor untuk mensejajarkan diri dengan legenda hidup Michael “Schumi” Schumacher. Schumi punya koleksi tujuh gelar dunia. Hamilton yang kini dalam puncak kariernya dan tengah mendominasi F1 ibarat Schumi di masa lampau, sudah punya enam gelar itu. “2019 adalah tahun yang takkan saya lupakan. Saya tak bisa menggambarkan perasaan memenangi gelar keenam. Sekarang mari kita rayakan akhir 2019 dan kembali berjuang untuk 2020,” ujar Hamilton di akun Instagram -nya, @lewishamilton, 1 Januari 2020. Hamilton sendiri satu dari sekian pembalap F1 yang mengagumi Schumi. Sebaliknya, Schumi pernah meramalkan bahwa Hamilton bakal melampaui rekornya. Schumi mengungkapkannya dalam sebuah program BBC , 27 Oktober 2008, tak lama setelah Hamilton memenangi gelar pertamanya di musim 2008. Kala itu Schumi sudah pensiun (sementara) dan menjadi penasihat pengembangan di tim Scuderia Ferrari, lima tahun sebelum Schumi mengalami kecelakaan saat berski di Pengunungan Alpen. “Saya bisa bilang, tentu saya iya (Hamilton bisa memenangi tujuh gelar, red. ). Dulu tiada yang menyangka, bahkan saya sendiri, bisa mengalahkan rekor (Juan Manuel) Fangio. Lalu saya melewatinya. Rekor memang tercipta untuk dipecahkan,” sebutnya. Catatan Rekor di Atas Kecurangan Namun seperti halnya Hamilton, kegemilangan kiprah Schumi tak jarang diwarnai kontroversi. Tak sedikit insiden dengan kesengajaan dan kecurangan yang dilakoni di lintasan atas nama kemenangan dari sejumlah rival sengitnya. Insiden yang terjadi pada 1991, contohnya, kala Schumi belum masuk F1. Insiden itu terjadi 18 Agustus 1991, saat kualifikasi 430km of Nürburgring yang merupakan seri kelima di World Sportscar Championship. Menyitat Autosport , 16 November 2005, Schumi di balik kemudi mobil tim Sauber-Mercedes yang hendak melaju cepat untuk mencetak waktu terbaik, merasa dihalang-halangi pembalap tim Jaguar Derek Warwick. Saat itu Warwick sudah mencetak waktu terbaiknya dan menjalani sisa sesi kualifikasi dengan ‘santuy’. Alhasil, Schumi kesal dan kehilangan waktu di sesi itu. Michael Schumacher kala balapan di tim Sauber-Mercedes di ajang World Sportcars Championship (Foto: Daimler AG) Sebagai balasan, Schumi memepetkan mobilnya ke samping mobil Warwick, lantas banting setir hingga menghantam “hidung” dan ban depan mobil Warwick. Schumi yang kemudian kabur ke pit stop , dikejar Warwick. Sesampainya di garasi Sauber, Warwick melabrak Schumi. Nyaris terjadi baku pukul jika tak segera dilerai senior Schumi di Sauber, Jochen Mass. Insiden lainnya yang lebih culas terjadi 13 November 1994 di GP Australia yang jadi seri terakhir di musim itu. Schumi tinggal selangkah lagi menggamit gelar dunia pertamanya di tim Benetton-Ford. Namun posisinya di klasemen hanya berjarak satu poin dari rival sengitnya, Damon Hill asal Inggris di mobil tim Williams-Renault. Hill dalam otobiografinya, Watching the Wheels, berkisah bahwa pada lap ke-35 ia mengklaim punya kesempatan emas menyalip Schumi yang sejak awal memimpin balapan. Mobil Schumi tergelincir dan menabrak dinding pembatas sehingga beberapa bagian depannya rusak. Namun, Schumi ngotot melanjutkan balapan lantaran gelar juara dunia taruhannya. Saat di tikungan Hill hendak meng- overtake Schumi dengan kecepatan mobil yang menurun drastis akibat kecelakaan, Schumi sengaja menutup celah dan akhirnya kedua mobil bertabrakan. Schumi maupun Hill pun gagal finis. Alhasil, Schumi berhasil meraih gelar juara dunia pertamanya. Detik-detik Michael Schumacher (kanan) menabrakkan mobilnya ke arah Damon Hill di F1 GP Australia 1994 (Foto: Youtube Formula One) Dari hasil investigasi pengawas balapan, kejadian itu hanya dianggap insiden balapan biasa. Schumi bisa berbangga dengan gelar juara perdananya, namun sejumlah media Inggris mengecamnya meski Hill pribadi enggan berbicara miring lantaran masih terpengaruh tragedi kematian rekannya, Ayrton Senna, di GP San Marino beberapa bulan sebelumnya. “Saya terpaksa menerima hasilnya. Namun bagian terbesar dari diri saya juga merasa bahwa sejak kami kehilangan Ayrton, musim ini sudah berantakan. Gelar itu jadi yang pertama dari tujuh gelar Formula One-nya, di mana di saat itu jadi target di luar bayangan siapapun. Mungkin juga Senna takkan membayangkannya,” ungkap Hill. Hal serupa terjadi di seri terakhir GP Eropa musim 1997, di Sirkuit Jerez, 26 Oktober 1997. Schumi yang di musim itu sudah bersama tim Scuderia Ferrari, tengah bersaing ketat untuk gelar juara dengan pembalap tim Williams, Jacques Villeneuve. Schumi memimpin klasemen dengan 78 poin, hanya unggul satu poin dari Villeneuve. Menukil Chicago Tribune 12 November 1997, keculasan Schumi seperti yang ia lakukan pada Hill diulanginya terhadap Villeneuve. Kala balapan memasuki lap ke-48, Villeneuve yang senantiasa membuntuti Schumi berupaya menyalip di tikungan Dry Sac dari sisi dalam. Saat Villeneuve sudah mulai menyusul, Schumi menabrakkan hidung mobilnya ke sisi kiri body mobil Villeneuve. Mobil Schumi pun rusak parah dan ia gagal menyelesaikan balapan. Sementara meski body samping mobilnya rusak, Villeneuve tetap mampu melanjutkan dan bahkan finis urutan ketiga. Kali ini keculasan Schumi gagal berbuah. Villeneuve tetap juara. Michael Schumacher (merah) di kokpit Ferrari saat menyeruduk mobil Jacques Villenueve di F1 GP Eropa 1997 (Foto: formula1.com ) Kelakuan Schumi itu tak dibiarkan FIA selaku otoritas balapan. “Motor Sports Council FIA melucuti hasil urutan kedua klasemen Schumacher dan memerintahkannya terlibat dalam kampanye safe-driving tahun depan,” tulis Chicago Tribune. Schumi mengaku salah. Sejumlah media kembali mengutuknya. Bahkan media-media Jerman mengecam tindakannya. Meski tak disanksi, Schumi harus rela posisinya sebagai runner-up musim 1997 didiskualifikasi. Kontroversi lain terjadi di GP Austria 2002. Team order atau perintah manajer tim yang ditaati Schumi justru memancing kemarahan banyak fans Ferrari. Perintah itu mengharuskan Rubens Barrichello, rekan setimnya, memperlambat mobilnya agar Schumi lebih dulu menyentuh garis finis. Meski tak melanggar regulasi F1 maupun FIA, hal itu dianggap banyak pihak, utamanya fans Ferrari, sebagai tindakan tak sportif. Toh, musim 2002 masih panjang. Pada saat penerimaan trofi di podium, Schumi memaksa Barrichello untuk berdiri di puncak podium, sementara Schumi geser ke podium kedua. Kejadian itu membuat Ferrari didenda USD1 juta. “Saya berterimakasih pada Rubens untuk poin yang saya dapat, namun saya tidak terlalu senang dengan hal itu,” aku Schumi, dikutip BBC , 12 Mei 2002. Di Sirkuit Indiana Motor Speedway dalam GP Amerika Serikat 2002, kala Schumi sudah mengunci gelar dengan raihan poinnya, ia balas memberi jalan buat Barrichello untuk finis lebih dulu. Barrichello pun menang. Kelakuan Schumi (kanan) kala menjepit Rubens Barrichello ke pagar pembatas sirkuit di GP Hungaria 2010 (Foto: formula1.com ) Ending serupa tak terjadi di GP Hungaria 2010.  Ketika balapan memasuki lap ke-42, di salah satu trek lurus, Barrichello yang sudah bersama tim Williams berupaya menyalip dari sisi dalam. Schumi yang saat itu sudah bersama tim Mercedes, enggan memberi jalan. Mobil Barrichello dengan kecepatan 180 mil per jam pun terjepit antara mobil Schumi dan dinding pembatas. Meski tak terjadi kecelakaan, pengawas balapan menghukum Schumi dengan start dari posisi ke-10 di race berikutnya, GP Belgia. Schumi akhirnya minta maaf. “Setelah melihat insiden itu lagi, keputusan sanksi steward sudah tepat. Manuver saya terhadap dia (Barrichello) terlalu berbahaya. Memang saya ingin menunjukkan bahwa dia takkan bisa melewati saya, namun setelah dilihat secara rasional, saya membahayakan dia. Saya minta maaf dan bukan maksud saya membahayakan nyawanya,” tandas Schumi dikutip ESPN , 2 Agustus 2010.

  • Sejarah Bisnis Asuransi di Indonesia

    KASUS dugaan korupsi melanda Jiwasraya dan Asabri, dua perusahaan asuransi milik negara. Keduanya asuransi berbeda jenis. Jiwasraya bergerak di asuransi jiwa, sedangkan Asabri mengelola dana pensiun. Tapi pangkal kasus keduanya sama: kesalahan berinvestasi. Kesalahan itu merugikan negara lebih dari Rp20 triliun dan mengancam kepercayaan publik terhadap asuransi.

  • Kala M. Jusuf Nyaris Direnggut Maut

    TANPA pemberitahuan sebelumnya, Pangdam Hasanuddin Kolonel M. Jusuf disertai Komandan PM Kodam Hasanuddin Letkol CPM Sugiri, As-Ops Koandait (Komando Antar Daerah Indonesia Timur) Letkol Suraksono, dan Kepala Kepolisian Sulawesi Selatan/Tenggara Kombes Pol. Mardjaman mendatangi pos komando Yon 330 Siliwangi –yang ditugaskan memberi bantuan kodam setempat dalam mematahkan pemberontakan Kahar Muzakkar– di Enrekang, 2 April 1964. Kedatangan mereka mengagetkan para pimpinan Yon 330 yang saat itu sedang rapat. Setelah makan siang bersama, Jusuf mengatakan dirinya minta disediakan satu kompi pasukan untuk mengawalnya esok. “Besok aku akan mengadakan pertemuan dengan Andi Selle agar ia kembali ke jalan yang benar. Sebagai putera Sulawesi saya ingin mengajaknya baik-baik untuk bersama-sama membangun Sulawesi ini. Pertemuan ini dipersiapkan oleh Letkol Eddy Sabar, komandan Brigif 011, namun saya tidak tahu pasti bagaimana kelanjutan dari pertemuan ini. Karena itu siapkan satu kompi 330 untuk pengamanan, dan tugaskan seorang perwiramu yang baek untuk mendampingi saya!” kata Jusuf, dikutip Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit . Andi Selle merupakan Dan Yon Bau Massepe di Korps Cadangan Nasional Sulawesi Selatan yang dipimpin Kahar Muzakkar. Selle dan Kahar kemudian berpisah jalan. “Dalam minggu-minggu sebelum hari yang telah ditetapkan untuk integrasi resmi Korps Cadangan Nasional, pertentangan intern yang pertama di kalangan pengikut-pengikut Kahar Muzakkar terjadi ketika Andi Selle memihak Pemerintah dalam persoalan apakah integrasi Korps Cadangan Nasional Sulawesi Selatan akan dilakukan batalyon demi batalyon atau tidak,” tulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan . “Penggabungan Batalyon Bau Masseppe Andi Selle ke dalam Tentara sebagai Batalyon 719 pada 7 Agustus 1951 hanyalah memperbesar pertentangan antara Kahar dan Tentara, selanjutnya.” Dalam perjalanan waktu, besarnya kebebasan yang dimiliki para komandan batalyon, termasuk Selle, membuat mereka menyalahgunakan posisi militer yang ada untuk mencari keuntungan pribadi. Seperti Andi Sose, Andi Selle juga tumbuh menjadi warlord yang merugikan masyarakat dan negara. Dalam Paths and Rivers: Sa’dan Toraja Society in Transformation, Profesor Roxana Waterson dari National University of Singapore menggambarkan keduanya sebagai oportunis, serakah, menggunakan posisi militer untuk terlibat dalam perdagangan barter yang amat menguntungkan, berusaha mengendalikan ekspor regional dengan mengorbankan pemerintah pusat, mematok harga lokal, dan menarik pajak barang dalam perjalanan ke kota-kota dataran rendah. “Laporan Staf Angkatan Darat tahun 1961, yang saat itu jelas-jelas dianggap sebagai liabilitas, menggambarkannya sebagai seorang oportunis dan petualang ambisius, siap memperkaya dirinya dengan cara apa pun yang mungkin dan selalu mencari peluang untuk mendapat untung dari kedua belah pihak, apakah pemerintah atau gerilyawan,” lanjut Roxana. Oleh karena itulah Dan Yon 330 Siliwangi Mayor Himawan Soetanto menaruh curiga besar saat Jusuf menerangkan rencana perundingannya dengan Selle. “Bakalan rame nih!” kata Himawan kepada wakilnya, Yogie S. Memet, mengomentari keterangan Jusuf. Namun, Himawan tetap mematuhi perintah Jusuf dengan mempersiapkan pasukan yang diminta. Dua kompi dipersiapkannya untuk perundingan itu, yakni Kompi E/330 di bawah Lettu Mukardanu sebagai kompi pengawal dan Kompi D/330 di bawah Lettu Anwar Rasyim sebagai kompi cadangan. Sepuluh prajurit terbaik diplot menjadi pengawal pribadi Jusuf. Sementara untuk pendamping Jusuf, Himawan menugaskan Kapten Jayadi. Pada pukul 07 pagi keesokan harinya, Jusuf berangkat ke Pinrang, tempat perundingan, dikawal satu peleton dari Kompi E/330. Para pengawal pribadi Jusuf yang dipimpin Peltu Daud Supriyanto menggunakan jip Gaz dan jip yang digunakan Jayadi. Anggota kompi yang lain naik truk. Jusuf sendiri menggunakan sedan Dodge milik gubernur Sulawesi Selatan yang dipinjamnya untuk keperluan resmi. Sedan itu berada di belakang jip Jayadi dan di depan truk kompi. Di sedan itu juga ikut Letkol Sugiri dan Kombes Mardjaman, keduanya duduk di baris supir. Begitu konvoi mendekati lokasi perundingan, Desa Lappangeng, para prajurit Siliwangi mulai curiga karena ratusan pengawal Selle dengan beragam senjata sudah bersiap di sepanjang jalan. “Pasukan Siliwangi yang cuma satu kompi itu ditambah sejumlah kecil pasukan dari Raiders Hasanuddin akhirnya berbaur dengan pasukan Andi Selle di tepi-tepi jalan. Semua bersenjata lengkap dan berdiri dengan raut muka tegang,” tulis Atmadji. Kecurigaan prajurit Siliwangi makin bertambah ketika melihat mobil Jusuf dibuntuti sebuah power wagon berisi tujuh pengawal Selle bersenjata bren, yang kemudian menjaga pintu bangunan tempat perundingan. “Andi Selle datang dengan memakai baju merah dengan disertai oleh salah seorang kepercayaannya Sersan Mayor Mansyur,” tulis Badan Pembina Corps Siliwangi Jakarta Raya dalam Album Kenangan Perjuangan Siliwangi . Kecurigaan itu akhirnya tak berbuah apa-apa. Tak lama kemudian, Jusuf dan Selle beriringan keluar dari tempat perundingan sambil tersenyum dan berbincang. Keduanya lalu menaiki mobil Jusuf, yang di dalamnya ada Sugiri, Mardjaman, dan supir. Mobil itu akan membawa mereka ke rumah Bupati Pinrang H. Andi Makkulau, sekitar delapan kilometer dari tempat perundingan, untuk makan siang atas permintaan Selle. Jusuf duduk di kursi belakang kiri dan Selle di belakang kanan. Di sebuah pertigaan dalam perjalanan, mobil Jusuf bukannya berbelok ke kanan malah lurus. Mobil seolah-olah menuju Pare-Pare lalu ke Makassar. Para pengawal Selle pun mengkhawatirkan pemimpinnya akan dibawa lari ke Makassar untuk ditangkap. Sebuah jip pengawal Selle lalu mendahului mobil Jusuf. Jip itu mendadak berhenti. Beruntung supir masih sempat menghentikan mobil Jusuf sehingga tak menabrak mobil di depannya. Sejurus kemudian, tulis Atmadji, “Jusuf melompat turun dan memerintahkan pengawal untuk menangkap Selle, dan Selle juga turun dari sisi yang lain dan memberikan perintah.” Tembak-menembak jarak dekat antara pengawal Jusuf dan pengawal Selle pun tak terhindarkan. “Tiga penumpang di mobil Dodge terkena peluru semua karena tidak sempat ke luar mobil. Kolonel Sugiri tewas, Kombes Pol. Mardjaman mengalami luka-luka di tangan, sementara supir Langa, luka di kepala hingga topinya robek. Mobil Dodge penuh dengan lubang-lubang peluru. Dan pihak pengawal pribadi juga gugur Praka Adang B dan sejumlah prajurit Kujang lainnya mengalami luka-luka ringan,” sambung Atmadji. Hampir bersamaan dengan perintah Jusuf kepada Daud agar menangkap Selle, Selle pun memerintahkan prajuritnya untuk menembak Jusuf. “Hampir bersamaan dengan bunyi senjata otomatis yang ditujukan ke sedan, salah seorang pengawal Jusuf yaitu Praka Syamsudin melempar granat ke arah jip yang memotong konvoi yang kemudian disusul dengan tembakan Thompson Sersan Kopong Poyong, juga pengawal Jusuf yang lain.” Tembak-menembak makin sengit setelah pasukan pengawal Jusuf yang tertinggal jauh di belakang tiba. Sementara tangan kanannya memegang senapan, Peltu Daud langsung melompat dan merangkul Jusuf untuk memberi perlindungan sambil menarik panglima ke arah mobil Gaz. Dalam upaya perlindungan itulah Daud roboh setelah dadanya diterjang peluru pengawal Selle. Jusuf terpaksa meneruskan perjalannya ke jip Gaz tanpa perlindungan. “Menurut Jusuf, sewaktu ia berjalan menuju jip Gaz, Andi Selle malah meneriakkan komando kedua: ‘Ikuti dia dan tembak!’ Para pengawal kemudian terus mengalihkan tembakan ke arah Jusuf. Tetapi ia sendiri merasa ada sesuatu yang panas di belakang lehernya dan punya insting bahwa ada sesuatu yang melindungi nyawanya,” tulis Atmadji. Begitu Jusuf masuk ke dalam jip, supir langsung menancap gas sekuat mungkin menerobos apa saja yang ada di depan tanpa menghiraukan hujan peluru di sekitarnya. Jusuf dan penumpang lain dalam jip pun selamat. Sementara, para prajurit Siliwangi dan pengawal Selle masih baku tembak meski hanya beberapa menit. Namun karena pasukan Siliwangi lebih menguasai cara menembak dan menguasai posisi, korban lebih banyak jatuh dari pihak Selle. Tak lama kemudian, Selle dan para pengawalnya yang tersisa melarikan diri ke hutan. “Tetapi dalam tembak-menembak yang terjadi Andi Selle, yang berhasil melarikan diri, tertembak bahunya,” tulis Van Dijk.

  • Percetakan Al-Qur'an Era Kolonial

    Dulu Alquran Bombay tersebar luas, kini kurang diminati. Ia terpojok oleh Alquran ayat pojok.

  • Kerja-kerja Operasi Onta

    Satuan Khusus Intelijen menggelar operasi bersandi Onta untuk mencegah masuknya komunisme dari Timur Tengah.

  • Ilmu Eksak Tertua

    Manusia Nusantara sudah mengenal ilmu perbintangan sejak 35.000 tahun lalu. Di salah satu lukisan cadas tertua, Leang-leang di Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, ditemukan penggambaran proses perburuan babi dan rusa, telapak tangan, dan gambar-gambar geometris. Diperkirakan itu melambangkan bintang dan matahari. Sementara itu, peradaban Mesopotamia mencatat pengetahuan astronomi untuk pertama kali pada 4.000 tahun silam. Mesopotamia bahkan telah mengenal planet-planet seperti Dewi Isthar atau Inana, sekarang dikenal dengan nama Venus. “Mereka juga telah memperkenalkan konsep makrokosmos dan mikrokosmos yang mencapai India pada awal milenium pertama. Kemampuan leluhur mempelajari langit dan angkasa merupakan ilmu eksak paling tua yang ada di muka bumi,” kata Ayu Dipta Kirana, kurator Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Karin menjabarkan sejarah perkembangan pengetahuan astronomi lewat pameran temporer Etnoastronomi bertajuk “Angkasa Raya, Ruang dan Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Salah satunya soal bagaimana astronomi mempengaruhi religi masyarakat kuno hingga kini. Menurut Karin,dimulai sejak kepercayaan animisme dan dinamisme, praktik penyembahan terhadap matahari sudah dijumpai. Komunitas pendukung kebudayaan itu meyakini kalau matahari memberikan kehidupan terhadap mereka. Aliran kepercayaan ini kemudian berkembang secara konseptual menjadi agama dunia yang lebih kompleks. Nekara, salah satu dari corak kebudayaan logam awal, merupakan salah satu perangkat dalam upacara. Nekara ini dihiasi dengan berbagai unsur alam dan angksa, seperti simbol matahari, rembulan, dan bintang. (Wikipedia). Nekara, salah satu dari corak kebudayaan logam awal, merupakan salah satu perangkat dalam upacara. Nekara ini dihias dengan berbagai unsur alam dan angksa, seperti simbol matahari, rembulan, dan bintang. Praktik peribadatannya kemudian turut pula dipengaruhi oleh konsep langit dan arah mata angin, seperti dalam agama Hindu atau Buddha. “Ada pengetahuan kuno mengenai konsep kosmologi yang menjadi dasar spiritual beberapa kepercayaan kuno. Manusia adalah bagian dari sebuah jagad besar (makrokosmos) alam semesta ini, manusia juga representasi dari jagad kecil (mikrokosmos),” kata Karin. Karenanya, manusia percaya kalau nasib dan garis hidupnya sudah ditentukan dan dibaca oleh langit. “Konsep makrokosmos dan mikrokosmos merupakan konsep tua dari masa Babilonia yang kemudian menyebar ke India, mempengaruhi perkembangan agama Hindu-Buddha juga,” lanjut Karin. Misalnya dalam pembangunan bangunan suci. Biasanya orang kuno menggunakan konsep mandala. Mandala adalah representasi dari alam semesta yang diwujudkan dalam konstelasi dewa-dewa berdasarkan tingkatannya. Konsep ini merupakan imajinasi visual mengenai alam raya. Sebagaimana yang dijabarkan dalam pameran, Candi Borobudur menjadi contoh bangunan Buddhis yang memperlihatkan konsep mandala dengan jelas. Dikenal arca lima tokoh Tataghata yang mewakili unsur pokok alam semesta: Wairocana, Aksobhya, Ratnasambhawa, Amitabha, dan Amoghasiddhi. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa arca Wairocana menguasai zenith dengan sikap tangan memutar roda dharma. Aksobhya menguasai arah timur dengan sikap tangan kanan seakan menyentuh bumi. Ratnasambhawa menguasai arah selatan, dengan sikap tangan mengajar. Amitabha menguasai arah barat dengan sikap tangan bersemadi. Lalu Amoghasiddhi menguasai arah utara dengan sikap tangan menolak bahaya. Karena menjadi bagian dari jagad besar, gerak konstelasi bintang pun bisa dijadikan pertanda masa depan. Segala peristiwa dan kejadian dapat diprediksi dan berjalan sesuai dengan tatanan kosmik yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Dalam pameran yang masih berjalan hingga 10 Februari 2020 itu dijumpai cawan zodiak atau yang disebut dengan prasen. Ini biasanya menjadi perlengkapan upacara adat masyarakat Tengger, yang mendiami dataran tinggi di sekitar kawasan Pengunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur. Prasen digunakan sebagai wadah air suci oleh Dukun Pandita. J.G. de Casparis, epigraf asal Belanda, dalam Indonesian Chronology menjelaskan prasen umumnya dibuat pada era Majapahit, abad ke-14 hingga ke-15. Ia berbahan perunggu. Pada permukaannya terdapat simbol-simbol zodiak. Di antaranya Mesa (domba jantan, Aries), Vrsabha (lembu jantan, Taurus), Mithuna (anak kembar, Gemini), Karka (ketam, Cancer), Simha (singa, Leo), Kanya (gadis, Virgo), Tula (timbangan, Libra), Vrscika (kalajengking, Scorpio), Dhanusa (busur panah, Sagitarius), Makara (uadng, Capriconus), Kumbha (guci, Aquarius), Mina (ikan, Pisces). “Kehadiran tanda-tanda zodiak mirip jam matahari berhubungan dengan pengukuran waktu, misalnya penggunaannya dalam upacara keagamaan, mengetahui waktu kapan matahari memasuki setiap tanda zodiak,” jelas Casparis. Angkasa yang menjadi dasar konsep waktu hadir dalam konsep spiritual hingga masa kini. Tanda-tanda pergantian waktu diterjemahkan praktik ibadahnya. Karin mencontohkan dengan waktu-waktu kapan azan, sebagai penanda waktu salat dalam Islam, dikumandangkan. “Dalam Islam, perubahan waktu amat penting sebagai pondasi spiritual, termasuk untuk menentukan waktu perayaan ibadah seperti Ramadan,” kata Karin. Menurutnya, pengamatan bintang dan benda-benda langit di alam raya membantu manusia untuk mewujudkan kepercayaan mereka. Tak heran, sejak dulu mereka yang ahli mengamati pergerakan benda langit mendapat tempat penting di masyarakat. Di Jawa Kuno dan Bali Kuno dikenal jabatan wariga. Daud Aris Tanudirjo, arkeolog Universitas Gadjah Mada, menjelaskan tugas wariga adalah menentukan waktu dan tempat yang baik untuk memulai suatu pekerjaan. Caranya dengan membaca kejadian alam yang berulang atau gerakan benda-benda di langit. Beberapa prasasti menyebut profesi itu. Misalnya, prasasti-prasasti dari masa pemerintahan Rakai Kayuwangi (856-883) dan Rakai Watukura (901-910). Di sana disebut beragam jabatan di desa. Menurut ahli epigrafi, Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, jika dijumlahkan semuanya kira-kira lebih dari 30 jabatan, di antaranya wariga. “Kita saat ini sudah memegang pengetahuan luar biasa itu dalam alat bantu berupa kompas atau GPS, misalnya. Smartphone kita memuat semua pengetahuan itu terasa sangat sederhana, tapi dulu, tak semua orang bisa memahami pengetahuan langit,” kata Karin. Pembaca bintang dan benda langit pada masa lalu tak cuma penting dalam spiritual, tapi dalam keseharian bahkan politik. Langit menentukan waktu tanam, waktu perjalanan, navigasi, menerjemahkan konsep pagi, siang, malam, untuk beradaptasi terhadap lingkungan, hingga meramal nasib kerajaan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page