Hasil pencarian
Cari di situs ini
10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dokter yang Rajin Menulis
SUATU pagi di hari Sabtu, 1917. Johannes Adrianus van Dijk, dokter KNIL yang baru ditempatkan di Batavia setelah setahun bertugas di Surabaya, memulai tugas baru dalam karier medisnya. Dia mengoperasi hati (liver) seorang pasien. Operasi itu membuka lembaran baru teknik medis modern di Hindia Belanda dan melambungkan nama Jan. Jan, panggilan akrab Johannes, lahir dari kelaurga kelas menengah atas yang tinggal di Hindia-Belanda. Ayahnya seorang pengusaha penerbitan yang punya kantor percetakan besar dan toko buku, De Javasche Boekhandel. Sejak dini, Jan terbiasa dengan dunia penerbitan. Bersama Oscar, adiknya, Jan dikirim ke Belanda untuk belajar kedokteran setelah menamatkan sekolah menengah di Batavia. Jan lulus dari Leiden tahun 1905, di tahun yang sama dia menikah dan kembali ke Hindia-Belanda.
- Nasib Tragis Dokter Pembawa Metode Bedah
SEORANG gadis Jawa berusia 15 tahun mengalami luka bakar serius di dada, perut, dan kaki bagian atas. Orangtuanya Iangsung melarikan ke Rumah Sakit Militer Magelang (kini Rumah Sakit Tentara dr. Sudjono). Tubuh gadis itu dipenuhi bekas luka, sebagian besar alat kelaminnya bahkan tertutup bekas luka yang timbul (parut hipertrofik). Kulit kakinya mengkerut dan kaku (kontraktur). Kondisi itu membuat si gadis kesulitan berjalan. Gadis itu ditangani Norbert Grzywa, yang pada 1930-an bertugas sebagai ahli bedah dan ortopedi di Magelang. Grzywa menganjurkan operasi bedah plastik untuk menghilangkan bekas luka agar si gadis dapat berjalan lagi. Grzywa membuang semua area kulit yang mengkerut dan mengganggu gerak pasien lantas mencangkok kulit baru. Metode bedah itu sudah digunakan sejak Perang Dunia I. Grzywa mendapat pengetahuan itu ketika bertugas di klinik Universitas Wina, Austria di mana Johannes (Jan) Fredericus Samuel Esser memperkenalkan prinsip dasar transplantasi kulit pada 1917. Keberhasilan Grzywa menjajal metode Esser kemudian dituliskannya dalam jurnal medis yang terbit pada 1934 sekaligus memperkenalkan salah satu metode bedah ke Hindia-Belanda.
- Kiprah Bumiputera di Jurnal Kedokteran Era Hindia Belanda
SELAMA hampir seabad (1852-1942), Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie (GTNI) menjadi jurnal medis terkemuka di Hindia Belanda. Hampir seluruh informasi yang dibutuhkan oleh mereka yang hendak mempelajari perkembangan ilmu medis di Hindia Belanda terhimpun di sini. Dengan sendirinya, menjadi kontributor GTNI adalah prestise tersendiri bagi seorang dokter atau peneliti kala itu. Sebelum abad 20, GTNI hanya diisi oleh kontributor Eropa. Lalu, seiring dengan dibukanya sekolah medis di koloni, dokter-dokter kelahiran Hindia mulai ikut mengisi GTNI. Umumnya mereka adalah lulusan STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) dan pernah mengenyam pendidikan kedokteran lanjutan di negeri Belanda, baik dari kalangan pribumi maupun Tionghoa. Menurut Hans Pols, sejarawan University of Sydney, lahirnya para penulis medis lokal ini tidak lepas dari peran Christiaan Eijkman. Eijkman, yang dikenal atas penelitiannya tentang penyakit beri-beri, datang ke Hindia Belanda membawa pembaruan dalam penelitian kesehatan modern. Ia membangun sebuah laboratorium medis di rumah sakit militer yang kini menjadi RSPAD Gatot Subroto.
- Martir Dunia Kedokteran
DOKTER-dokter di Indonesia mogok dan berunjukrasa sebagai bentuk solidaritas terhadap koleganya di Manado, Sulawesi Utara, yang ditahan dengan tuduhan malpraktik sampai menghilangkan nyawa pasiennya. Kasus ini masih bergulir, dan begitu mengguncang dunia kedokteran di dalam negeri. Pada masa pendudukan Jepang, ada satu kasus yang menggemparkan dunia kedokteran. Pada Juli 1944, ratusan romusha (pekerja paksa) di Klender Jakarta dicurigai terkena wabah penyakit. Dokter-dokter Jepang setempat menyuntikkan vaksin tipes, kolera, dan disentri kepada mereka. Alih-alih sembuh, sekira 900 romusha malah tewas. Pemerintah pendudukan Jepang langsung mencurigai dokter-dokter di Lembaga Eijkman, lembaga penelitian medis dan biologi di Jakarta. Polisi militer (Kenpetai) memeriksa mereka dengan tuduhan telah meracuni vaksin yang diberikan kepada para romusha.
- Kiprah Dokter di Dunia Pergerakan
BENAR rasanya jika saat ini semua orang berpikir bahwa para tenaga medis adalah pahlawan. Peran mereka begitu penting dalam menghadapi pandemi virus Covid-19 yang penyebarannya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dilansir kompas.com, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga memberi apresiasi atas kinerja mereka. Dia menyebut tenaga medis sebagai pejuang di garis depan, ibarat tentara di masa lalu. “Kalau dulu dalam perang terbuka, mungkin tentara di garis depan, sekarang dokter. Pahlawan bangsa. Jadi kami sangat menghormati mereka,” kata Prabowo. Tidak lupa Prabowo memberikan ucapan terima kasih kepada para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang telah berdedikasi merawat dan mengobati para pasien Covid-19. Perjuangan tak kenal lelah para dokter yang berusaha menekan angka kematian di masyarakat seolah kembali menegaskan peran tenaga medis ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
- Hurustiati Soebandrio, Dokter yang Aktif dalam Gerakan Perempuan
DALAM perjamuan malam yang diadakan Presiden Sukarno dan dihadiri oleh Perdana Menteri Djuanda, sejumlah menteri luar negeri negara sahabat, Hurustiati Soebandrio ikut hadir menemani suaminya, Menteri Luar Negeri Soebandrio. Ia bahkan menghampiri Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrey Gromyko yang duduk di pojok ruangan dan terlihat ogah ikut berdansa, dan membujuknya ikut menari selepas perjamuan. Ajakan Hurustiati pun tak bisa ditolak Gromyko. “Tak mungkin seorang gentleman menolak undangan seoang lady, ya toh?” tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia. Menteri Uni Soviet yang terkenal berwajah muram itu pun menari mengikuti alunan musik. Ia memegang tangan Husrustiati yang berdansa berputar-putar sekeliling partner-nya. Itu bukan kali pertama Hurustiati menemani suaminya. Pada 1947, Hurustiati mengikuti suaminya ke London sebagai perwakilan Pemerintah Republik Indonesia. Sembari mengikuti suaminya, ia kuliah di London School of Economics and Political Science dan meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul “Javanese Peasant Life”.
- Awal Mula Dokter Hewan di Indonesia
SEPERTI klinik dokter umum atau dokter gigi, klinik dokter hewan mudah ditemui di berbagai tempat. Dokter-dokter hewan menjadi tujuan pemilik hewan peliharaan ketika kucing, anjing, hingga kelinci mereka terluka atau sakit. Kemajuan teknologi membuat konsultasi mengenai kondisi kesehatan hewan peliharaan dapat dilakukan secara online atau virtual. Pemilik hewan dapat melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum membawa hewan peliharaannya ke klinik hewan. Memiliki hewan peliharaan tak bisa dipandang sepele. Seperti halnya manusia, hewan juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi mulai dari makanan, kebersihan, hingga kesehatan yang harus ditangani khusus oleh dokter hewan.
- Jejak J.A. Kaligis, Dokter Hewan Bumiputra Pertama
HARI Dokter Nasional diperingati setiap 24 Oktober. Tanggal ini diambil dari tanggal perubahan nama Vereeniging van Indonesische Geneeskundingen menjadi Ikatan Dokter Indonesia dalam muktamar yang diselenggarakan di Jakarta pada 1950. Mengutip Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid I terbitan Departemen Kesehatan RI, organisasi yang menaungi para dokter di Hindia Belanda telah ada sejak tahun 1911. Kala itu organisasi tersebut bernama Vereeniging van Inlandsche Artsen yang kemudian berganti nama menjadi Vereeniging van Indische Artsen. Pada 1926, organisasi ini kembali berganti nama menjadi Vereeniging van Indonesische Geneeskundingen yang kini bernama Ikatan Dokter Indonesia. Kehadiran organisasi dokter di Indonesia berkaitan dengan kebutuhan pemerintah kolonial Belanda akan tenaga ahli di bidang medis. Sekolah untuk mendidik pemuda-pemuda bumiputra menjadi dokter pembantu (hulp-geneesher) mulai didirikan di Weltevreden, Batavia, pada 1 Januari 1851 atas prakarsa Dr. W. Bosch, Kepala Jawatan Kesehatan (Tentara dan Sipil).
- Peran Calon Dokter dari Indonesia Timur dalam Kemerdekaan
SETELAH Belanda menyerah kepada Jepang, siswa-siswa kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) Surabaya dan Geneeskundige Hogeschool te Batavia (GHS) melanjutkan pendidikan di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Di antara mantan siswa NIAS yang belajar di Ika Daigaku terdapat Frans Pattiasina, Piet Mamahit, dan Oscar Eduard Engelen. Frans Pattiasina lahir pada 19 Februari 1920 dari orang tua asal Ambon yang tinggal di Makassar. Piet Mamahit berdarah Minahasa tapi kelahiran Denpasar, Bali pada 10 Oktober 1920. Sementara Oscar Engelen lahir di Kema, Minahasa pada 12 Maret 1922. Frans Pattiasina, Oscar Engelen, dan Piet Mamahit terlibat dalam pergerakan pemuda kelompok Asrama Prapatan 10, Jakarta. Ketika tentara Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, mereka masih berstatus mahasiswa dan belum menjadi dokter. Seperti banyak pemuda di Jakarta, mereka mendukung negara baru Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
- Dokter Soetomo Dokter Gadungan
AWAL tahun 2024 ini, dokter gadungan masih bisa leluasa beraksi di Indonesia. Kali korbannya bukan perorangan, rumahsakit daerah, atau perusahaan, melainkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Jika timnas PSSI berjuang mati-matian di lapangan agar tidak kebobolan oleh tim lawan, di luar lapangan PSSI malah kebobolan oleh dokter gadungan itu. Tak tanggung-tanggung, selain dua timnas PSSI yakni U-16 dan U-19, beberapa klub sepakbola juga menjadi korban penipuan dokter gadungan itu. Dokter gadungan yang mengaku lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala (USK) Aceh itu adalah Elwizan Aminudin. “Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Riski Adrian, membeberkan, motif tersangka memalsukan dokumen karena alasan ekonomi. Sebelum jadi dokter palsu, Elwizan bekerja sebagai kondektur bus dan memiliki usaha toko kelontong. Elwizan juga disebut sudah menjadi dokter abal-abal sejak 2013 silam. Selain PSS Sleman, ada sejumlah klub sepak bola Tanah Air yang pernah ditangani Elwizan Aminudin,” demikian bola.com tanggal 3 Februari 2024 memberitakan.
- Perploncoan dalam Pendidikan Kedokteran Zaman Belanda
PERPLONCOAN di sekolah kedokteran sudah terjadi sejak zaman Belanda. Mohammad Roem (1908–1983) menceritakan pengalamannya diplonco ketika masuk STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra) pada 1924. Bahasa Belandannya plonco adalah ontgroening. Kata groen artinya hijau. Murid baru adalah hijau, dan ontgroening dimaksudkan untuk menghilangkan warna hijau itu. “Dia harus diberi perlakukan agar dalam waktu singkat menjadi dewasa, berkenalan dengan teman-teman seluruh STOVIA,” kata Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah Jilid 3. Menurut Roem, perploncoan sudah bertahun-tahun dilaksanakan di STOVIA –didirikan tahun 1899–, tetapi belum pernah terdengar kejadian yang tidak sedap atau melampaui batas. Hal ini karena pengawasan yang ketat, sehingga ekses dapat dihindarkan.
- Dokter Knoch dan Barry Prima
DARI arah Mauk, Banten, perahu kayu kecil itu berlayar ke arah timur menuju Batavia (kini Jakarta) pada 18 September 1938 pagi. Belum pukul 10.00 pagi, kapal –membawa dua penumpang yang hendak mencari pekerjaan: perempuan bernama Minah dan lelaki bernama Tjiran bin Maki– itu sudah hampir mencapai Pasar Ikan. Sementara di daratan Batavia, Minggu, 18 September 1939 adalah waktu luang bagi dr. Max Hermann Knoch Jr. untuk melakoni hobinya bermain perahu. Dirinya dikenal sebagai pemilik perahu motor tercepat di Batavia. Maka dia telah berada di sekitar Pasar Ikan pagi itu. Perairan di sekitar tempat dr. Knoch berada kala itu sedang diganggu gelombang. Kapal kayu yang sedang membawa Minah dan Tjiran tadi pun sedang dalam bahaya hingga akhirnya menabrak tembok di dermaga dan kandas.





















