Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- 9 Orang Indonesia yang Menjadi Nama Jalan di Belanda
SOFYAN MBARKI tampaknya dapat bernapas lega. Usulan anggota Partij van de Arbeid (Partai Pekerja) Belanda ini akhirnya direspon walikota Amsterdam, Femke Halsema. Dalam waktu dekat pengajuan proposal “Keberagaman di Jalanan Amsterdam” yang dibuatnya akan direalisasikan oleh pemerintah Kota Amsterdam. Diberitakan harian Parool pada Kamis, 1 Agustus 2019 waktu setempat, akan ada 27 tokoh anti-kolonial dari negara bekas jajahan Belanda yang disematkan menjadi nama sebuah jalan di kawasan Ijburg, sebuah pemukiman di tenggara Amsterdam yang berdiri di atas pulau buatan. “Kami ingin Amsterdam menjadi kota bagi semua orang. Kota orang-orang merdeka yang setara dan nyata,” ungkap walikota Halesma dikutip laman parool.nl . Menariknya, dari 27 nama yang muncul, sembilan di antaranya diambil dari nama tokoh-tokoh Indonesia. Selain satu nama yang menggunakan istilah keindonesiaan, Merdekastraat atau Jalan Merdeka. Kawasan pemukiman di Ijburg yang menggunakan nama-nama tokoh antikolonial. (parool.nl) Kesembilan tokoh yang namanya terabadikan menjadi nama jalan tersebut adalah para pejuang yang semasa hidupnya banyak menentang kebijakan kotor praktek imperialisme di Indonesia melalui berbagai tindakan. Siapa sajakah mereka? Tan Malaka Tan Malaka Tan Malaka lahir pada 2 Juni 1897 di Padam Gadang, Sumatera Barat. Ia adalah tokoh pemikir yang gagasannya dinilai berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda. Tan dianggap dapat menggerakan perlawanan terhadap praktek kolonialisme. Bahkan setelah Indonesia mencapai kemerdekaan, Tan masih dianggap sebagai ancaman, terutama setelah ia mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak). Namun jauh sebelum Partai Murba yang berasas: antifascis, antiimperialis, dan antikapitalis terbentuk, Tan Malaka telah menyuarakan gagasan kebebasannya di panggung internasional. Pada 12 November 1922, saat Kongres Komunis Internasional IV, Tan mengusulkan aliansi Islam-Komunis dengan membentuk Pan-Islamisme dalam rangka melawan imperialisme. Tan juga pernah membuat sebuah propaganda yang sukses menarik 17-19 batalyon untuk bergabung dengan Gabungan Pembela Proklamasi (GPP). Ia mampu menarik simpati kalangan militer saat menjelaskan ide-idenya itu dalam Gerpolek (Gerilya, Politik, Ekonomi). GPP sendiri disiapkan oleh Tan untuk mengahadapi serangan Belanda jika sewaktu-waktu mereka kembali ke Indonesia. Selama masa hidupnya Tan dianggap sebagai pengkhianat. Pemikirannya yang anti pemerintah Sukarno-Hatta dikhawatirkan akan merusak stabilitas negara yang baru terbentuk ini. Tan memang giat melakukan gerilya untuk gagasan-gagasannya. Pemerintah yakin bahwa gerakan Tan mesti ditumpas. B ersama GPP , Tan mesti berpindah-pindah markas dan akhirnya melarikan diri ke arah selatan Jawa Timur. Ketika melakukan gerilya menyusuri lereng Gunung Wilis, di Selopanggung, Kediri, Tan Malaka ditangkap oleh Letnan Dua Sukoco dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya. RM. Soewardi Soerjaningrat RM. Soewardi Soerjaningrat Berbeda dengan Tan Malaka, RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara memiliki cara sendiri dalam melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Dilahirkan di Yogyakarta, 2 Mei 1889, Soewardi dianggap sebagai tokoh pemikir yang tenang, namun tulisannya dapat mengusik kekuasaan Belanda di tanah jajahannya. Seperti tulisan singkatnya, “Als ik eens Nederlander was” (Andai Aku Seorang Belanda), yang mengkritisi perayaan 100 tahun Negeri Belanda lepas dari cengkraman Prancis. Baginya beban finansial perayaan yang dibebankan kepada masyarakat di Hindia Belanda merupakan “ sebuah ironi masyarakat jajahan yang harus membiayai pesta kemerdekaan para penjajah”. Berselang sepekan dari kritiknya itu, Soewardi kembali membuat tulisan, “Een voor Allen, Allen voor een” (Satu untuk Semua, Semua untuk Satu), diterbitkan De Express 28 Juli 1913. Geram dengan tulisan-tulisan Soewardi, pemerintah Belanda segera bergerak untuk menindaknya. Soewardi berserta koleganya, Tjipto Mangkunsumo dan Douwes Dekker, lantas ditangkap dan dipenjarakan. Pada 18 Agustus 1913, hakim memutuskan tiga serangkai itu diasingkan ke Bangka, Banda Neira, dan Kupang. Namun mereka menolak. Ketiganya lebih memilih luar negeri sebagai tempat pengasingannya. Akhirnya diputuskan bahwa mereka dikirim ke Belanda. Perjuangan lain Soewardi adalah mendirikan sekolah Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta,buntut darikegelisahannya akan pendidikan di Hindia Belanda yang diskriminatif. Ia ingin semua orang dapat memperoleh pendidikan, tidak peduli status sosialnya. Namun halangan dari pemerintah kolonial kembali dilakukan. Mereka memberlakukan peraturan yang memberatkan pelaksanaan sekolah pribumi tersebut. Akhirnya Soewardi mengancam akan melakukan pembangkangan. Karena tidak menggubris ancamannya, Soewardi akhirnya tetap menjalankan pendidikan dan terus mengembangkan Taman Siswa menjadi model pendidikan rakyat yang baik di masa kolonial Belanda. SK Trimurti SK Trimurti Perjuangan S.K. Trimurti dalam pergerakan melawan imperialisme telah dimulai sejak usia yang cukup muda. Dilahirkan di Solo pada 11 Mei 1912, Trimurti segera bergabung dengan Partindo (Partai Indonesia) ketika usianya genap menginjak 20 tahun. Selama tahun-tahun tersebut, Trimurti terlibat dalam berbagai pergerakan anti kolonial hingga akhirnya ia harus mendekam di penjara Semarang selama 9 bulan pada 1936. Setelah bebas dari penjara, Trimurti menekuni dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja sebagai pembantu tetap harian Sinar Selatan yang terbit di Semarang. Trimurti dengan cepat dikenal oleh para tokoh pergerakan sebagai penulis yang anti kolonial. Tulisan-tulisannya yang kritis tentang pemerintah Belanda membuat ia harus menyamarkan namanya agar tidak ditangkap. Berkat karirnya yang cemerlang selama periode kemerdekaan, Trimurti diminta menjadi Menteri Perburuhan yang baru dibentuk dalam kabinet Amir Sjarifuddin. Awalnya ia menolak, namun akhirnya diterima sebagai lanjutan dari perjuangan yang selama ini ia lakukan. Sebagai Menteri Perburuhan, Trimurti mendorong oraganisasi-organisasi buruh untuk memperkuat diri agar siap mengahadapi segala kemungkinan dalam suasana kemerdekaan yang masih rapuh tersebut. Terutama jika suatu saat penjajahan kembali menghampiri Indonesia. Trimurti meyakini bahwa pergerakan buruh harus dibawa ke front perjuangan nasional. Ia hafal betul kalau kabinet Amir Sjarifuddin masih terlalu lemah untuk perjuangan sehingga Trimurti selalu menemui dan meyakinkan kelompok buruh agar mendukung pemerintah. Kapiten Pattimura Kapiten Pattimura Kepahlawanan Kapiten Patimura yang bernama asli Thomas Matulessy dalam menentang kolonialisme di Maluku dianggap sebagai salah satu yang terbesar di wilayah timur Indonesia. Perjuangannya mampu menggerakkan rakyat Maluku untuk melakukan perlawanan, bahkan setelah dirinya tewas dihukum mati. Api perjuangan yang dinyalakan Pattimura sejatinya tidak pernah padam. Sebelum dihukum mati, perlawanan terbesar Matulessy adalah berhasil menduduki Benteng Duurstede di Saparua, Maluku, yang menjadi satu dari sekian basis kekuatan Belanda di wilayah tersebut. Kabar jatuhnya benteng itu tersebar dari mulut ke mulut hingga didengar oleh seluruh rakyat Maluku yang akhirnya ikut berjuang. Pattimura sendiri merupakan nama sebuah gelar. Ada yang mengatakan bahwa gelar itu mengandung arti ‘Patih yang murah hati’. Nama Pattimura juga dipakai sebagai nama keluarga atau nama bayi laki-laki yang baru dilahirkan terutama di Seram Barat atau tempat terjadinya pemberontakan kecil melawan pemusnahan kebun-kebun cengkeh dan pala yang disebut hongi . Di Maluku setiap pemimpin perlawanan selalu digelari Pattimura mengikuti jejak Kapitan Pattimura. Pangeran Diponegoro Pangeran Diponegoro Terlahir dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar, Pangeran Diponegoro dilahirkan di Ngayogyakarta Hadiningrat pada 11 November 1785 dari pasangan Sultan Hamengkubuwono III dan Ratu Kedaton. Sejak kecil, Diponegoro dididik di lingkungan agama yang baik, serta dekat dengan rakyat. Walau berasal dari keluarga ningrat, Diponegoro dibesarkan jauh dari lingkaran keraton yang penuh intrik politik, sehingga ia dapat akrab dengan seluruh lapisan masyarakat. Bukan tanpa alasan Diponegoro mengangkat senjata pada Perang Jawa. Sejarawan Peter Carey yakin bahwa Diponegoro berperang di jalan Islam untuk membela moralitas umat dan keadilan seluruh rakyat Jawa. Diponegoro melihat sendiri kesengsaraan yang ditimbulkan oleh kolonialisasi sehingga ia merasa perlu untuk melawan. Sementara menurut sejawaran Belanda, alasan Diponegoro berperang adalah rasa sakit hati setelah tidak terpilih menjadi sultan. Sedangkan sumber lain menyebut Diponegoro berjuang untuk mempertahakan pesantren Tegalrejo pemerintah kolonial yang dibongkar demi membangun jalan kereta api. Maria Ulfah Maria Ulfah Maria Ulfah lahir pada 18 Agustus 1911 di Serang, Banten, putri dari Bupati Kuningan RAA Mohammad Achmad. Aktivitas pergerakan politik Maria dimulai saat ia bertemu dengan Sutan Sjahrir, tokoh sosialis tekemuka yang kelak menjadi perdana menteri RI, di negeri Belanda. Melalui Sjahrir, Maria dikenalkan kepada kalangan sosialis Belanda dan banyak dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan kaum sosialis di sana. Ketika kembali ke Indonesia, lulusan Fakultas Hukum di Universitet Leiden itu memilih mengajar di Perguruan Rakyat dan di Perguruan Muhammadiyah. Sembari mengajar, Maria juga menceburkan dirinya ke dalam aktivitas pergerakan perempuan Indonesia. Pada kurun tahun 1930-an, gerakan ini menemukan gairahnya untuk menuntut kesetaraan di tengah masyarakat. Maria semakin gencar mencurahkan gagasan-gagasannya tentang perempuan Indonesia. Ia menjadi salah satu pendiri organisasi Isteri Indonesia. Organisasi itu menerbitkan majalah bulanan, dan Maria menjadi kolumnis tetap di sana. Ia kerap mencurahkan pikiran-pikirannya tentang gerakan perempuan di Indonesia. Ada berbagai soal yang menjadi perhatian Maria di dalam tulisan-tulisannya, mulai dari keadaan umum peremuan di Indonesia, pernikahan paksa, keadaan buruh perempuan, dan soal perwakilan perempuan dalam parlemen di Hindia Belanda. Lewat majalah Isteri Indonesia , Maria memperjuangkan gagasan perempuan Indonesia duduk di parlemen dan dewan-dewan kota. Pada masa kemerdekaan, Maria diminta oleh Sjahrir untuk menempati kursi menteri sosial. Penunjukkan itu menjadi wujud sikap antifasis dan memegang prinsip demokrasi yang dilakukan oleh Indonesia. Kiprah Maria sebagai menteri juga memperlihatkan kepada dunia bahwa bangsa ini memiliki seorang pemimpin perempuan yang bahkan di Eropa hal tersebut belum lazim terjadi. Soekaesih Soekaesih Dari sekian tokoh Indonesia yang muncul, nama Soekaesih mencuri cukup banyak perhatian. Sosoknya terdengar asing di telinga orang-orang Belanda, bahkan mungkin masyarakat Indonesia sendiri tidak akrab dengan nama tersebut. Perempuan kelahiran Garut ini merupakan putri seorang asisten wedana. Pada pemberontakan komunis tahun 1926, Raden Soekaesih dianggap sebagai sosok yang berbahaya karena pengaruh pemikiran-pemikirannya dapat memicu pergerakan perempuan Indonesia. Bersama kawannya, Munapsiah, Soekaesih dibuang dan dipenjara ke kamp konsentrasi Digul. Ketika usianya masih sangat muda, Soekaesih sudah menikah dengan seorang laki-laki pilihan orang tuanya. Merasa tidak nyaman, ia pun bercerai dan mulai melibatkan diri dalam pergerakan. Soekaesih kemudian bertemu Soekarna, tokoh Sarekat Islam yang juga dibuang ke Digul. Sepeninggal Soekarna, dan setelah bebas dari kamp konsentrasi, Soekaesih menikahi seorang Belanda J.H. Philipo. Bersama dengan suaminya itu, Soekaesih terbang ke Amsterdam Belanda pada 1937. Di sana ia menyuarakan kegetiran yang dirasakan para tahanan di Digul kepada rakyat Belanda. Roestam Effendi Roestam Effendi Pada 1935, usai Ratu Belanda Wilhelmina memberikan sambutan, semua orang bersorak: “Leve Oranje!” Di tengah-tengah gemuruh sorak tersebut terdengar pekikan: “Indonesia Merdeka!” Sontak semua orang panik. Petugas keamanan segera menyeret orang Indonesia itu dan menghajarnya sampai babak belur. Adalah Roestam Effendi, seorang pejuang yang tidak mengenal rasa takut di tengah negeri penjajah tersebut. Dilahirkan di Padang, 13 Mei 1903, Roestam merupakan seorang pemikir yang giat menyuarakan kemerdekaan. Setelah lulus dari sekolah tinggi guru untuk bumiputra di Bandung, ia menjadi guru di Siak Sri Indrapura, Riau. Sebelum pergi ke Belanda, Roestam aktif di dunia politik dan sangat giat menuliskan gagasan-gagasannya melalui berbagai media tulis. Pada 1920-an, ia pernah menulis sebuah drama sajak berjudul Bebasari yang dicekal oleh pemerintah Belanda. Isinya dianggap memprovokasi rakyat untuk melawan. Sehingga ketika akan dipentaskan oleh mahasiswa kedokteran di Batavia pemerintah kolonial buru-buru mengeluarkan larangan. Di Belanda, Roestam aktif bergerak di Perhimpunan Indonesia (PI) pimpinan Mohammad Hatta. Ia dipercaya mengurus majalah perhimpunan tersebut, sekaligus menjadi penghubung antar organisasi di Belanda. Roestam dikenal sebagai seorang radikal. Tampak dalam tulisan-tulisannya yang dimuat majalah-majalah kiri, seperti Links Socialist, De Opbouws, De Anti Muiliteristi, dan De Branding . Roestam adalah orang Hindia Pertama yang menempati jabatan anggota Majelis Rendah Belanda mewakili Partai Komunis Belanda. Saat itu umurnya 30 tahun, termuda di antara seratus anggota yang ada. Di Parlemen, Roestam dikenal lantang berbicara. Ia tidak takut dengan posisinya sebagai orang Hindia yang sedang dijajah negeri itu. Roestam pulang ke Indonesia pada 1947. Ia telah dikenal luas sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia di negeri Belanda. Di Indonesia, dirinya masih sering menulis pemikiran-pemikirannya di koran, dan dikenal sebagai sastrawan. L.N. Palar L.N. Palar Lambertus Nicodemus Palar lahir di Tomohon, Manado, Sulawesi Utara, pada 5 Juni 1900. Setelah meneyelesaikan studinya di MULO Tonando, AMS di Yogyakarta, dan Technische Hoogeshcool di Bandung, Palar meneruskan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia. Pada masa-masa tersebut, ia mulai mendalami pandangan sosial-demokrat. Hal itu dipengaruhi oleh pertemanannya dengan JE Stokvis, anggota Volksraad dan ketua Partai Sosial Demokrat Hindia (ISDP). Pada 1928, Palar pergi ke Belanda dan kuliah di Universitas Amsterdam mengambil studi ekonomi dan sosiologi. Ia lalu mendaftar menjadi anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda (SDAP). Di dalam partai Palar cukup dihormati sebagai penulis dan pembicara untuk urusan sosial-demokrat. Atas usul Palar, SDAP dan Perserikatan Perhimpunan-Perhimpunan Pekerja Belanda membentuk komisi kolonial dan Persdienst voor Indonesia (Persindo). Pembentukan komisi itu dilakukan agar terjalin kontak antara gerakan di Belanda dan Indonesia. Palar dipercaya sebagai sekertaris komisi kolonial, merangkap ketua Persindo. Palar menjadi salah satu orang Hindia yang dihormati oleh banyak orang Belanda, terutama Partai Buruh Belanda. Itu terjadi lantaran ia ikut melakukan perlawanan bawah tanah melawan fasisme NAZI saat Jerman menduduki Belanda pada 10 Mei 1940. Pada 1945, Palar terpilih menjadi anggota Parlemen Belanda. Ia sangat aktif membujuk pemerintah Belanda agar tidak melancarkan agresi militer terhadap Indonesia. Usahanya selalu gagal. Bahkan partai buruh yang dibelanya ikut mendukung agresi tersebut. Sebagai bentuk protes, Palar pun memilih mengundurkan diri. Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta kemudian mengundang Palar untuk menjadi juru bicara di Sidang Dewan Keamanan PBB. Dengan keahlian diplomatiknya, Palar menekan negara-negara anggota PBB agar ikut membela perjuangan bangsanya. Indonesia pun diterima menjadi anggota PBB ke-60 pada 28 September 1950.
- Naik Heli Cukup Bayar Pakai Kambing
SAAT pertamakali mendapat tugas terbang mengangkut logistik ke perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Timur dalam rangka Dwikora, Lettu Pnb. AURI Pramono Adam mengingat pulau itu masih rimba raya. “Dari tengah Kalimantan mau ke timur, ke Balikpapan atau ke Tarakan, warna laut sama warna hutan sama: biru. Bukan hijau. Masih padat sekali (hutannya, red .),” ujarnya kepada Historia . Celakanya, dalam mengemban tiap tugas memiloti helikopter angkut Mi-4 di pulau yang masih “perawan” itu, dia tak diberi panduan (SOP) dan diberi minim peralatan navigasi. “Jadi blind navigation . Nggak ada yang menunjukkan pada kita,” sambung lelaki yang akrab disapa Pram itu. “Kalau diberi tugas, ini SP, one way trip . Kamu pulang ya syukur, nggak pulang ya nggak masalah. Karena yang harus accomplish itu misi yang pertama. Itu yang harus diselesaikan.” Kendati berat, Pram pantang menolak tugas. “Kita senang aja,” kata Pram. Hal itu yang agaknya menjadi alasan Pangdam Mulawarman Mayjen Soemitro mengandalkan Pram untuk meninjau lapangan. “Pada saat-saat terakhir setelah pengalaman gagal jalan kaki, kami mendapat bantuan helikopter buatan Rusia (M-4). Mobilitas saya menjadi lebih tinggi. Inspeksi ke perbatasan lebih sering,” kata Soemitro dalam otobiografi yang ditulis Ramadhan KH, Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib . Pada suatu hari di Pulau Bunyu, Pram diminta Soemitro menerbangkannya ke Tarakan. Setelah observasi singkat, Pram memberitahu bahwa mereka mesti terbang pukul 4 sore dan sang komandan menuruti. Sesaat sebelum helikopter yang dipiloti Pram terbang, seorang penduduk datang tergopoh-gopoh ke helikopter itu. Orang itu menitipkan seorang keluarganya yang sudah beberapa bulan sakit untuk dibawa ke Tarakan. “Pak, saya nitip kambing untuk Bapak ya. Nanti di Tarakan sana disatelah,” kata penduduk tadi sebagaimana ditirukan Pram. “Saya dikasih kambing. Wah, naik pesawat dikasih (dibayar pakai) kambing,” ujarnya sambil tertawa dan menggelengkan kepala.
- Intel Indonesia Mengejar Perampok Inggris
POLISI dari Metropolitan Police Service berhasil menemukan tempat persembunyian para perampok di Leatherslade Farm. Mereka mendapatkan sidik jari pada botol kecap. Sidik jari itu milik Ronald Arthur Biggs, salah satu anggota perampokan kereta api pos Royal Mail dari Glasgow menuju London pada 8 Agustus 1963. Komplotan perampok itu berjumlah 15 orang. Dipimpin oleh Bruce Reynolds yang bertemu Biggs di penjara HM Prison Wandsworth. Mereka menggondol lebih dari £2,6 juta (sekarang setara dengan £53,5 juta). S alah satu perampokan terbesar di Inggris itu disebut The Great Train Robbery. Biggs ditangkap di London Selatan pada 4 September 1963. Pada 1964, sembilan dari 15 perampok termasuk Biggs dipenjara dengan hukuman tertinggi selama 30 tahun. Setelah 15 bulan di penjara HM Prison Wandsworth, Biggs melarikan diri pada 8 Juli 1965. Dia pergi ke Brussel kemudian ke Paris. Istri dan dua anaknya menyusul ke sana. Mereka kemudian pindah ke Australia. Menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia , surat kabar di seluruh dunia memberitakan cerita tentang Ronald Biggs yang melarikan diri ke Australia, Rhodesia, atau Indonesia. Pada Maret 1970, Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) mendapat informasi adanya seorang pria dengan nama belakang Biggs tiba di Indonesia dari Australia. Satsus Intel pun dikerahkan untuk mengintai orang itu. “Setelah melakukan pengejaran selama tiga minggu, kemudian diketahui bahwa sang pria tersebut bukanlah Ronald Biggs tetapi Donald Biggs, seorang pendeta berusia 56 tahun asal Tennessee,” tulis Ken Conboy. Pada Oktober 1969, koresponden Reuters melaporkan keberadaan Biggs di Melbourne dan polisi tengah mendekatinya. Lima bulan kemudian, dia melarikan diri ke Brasil. Istri dan anaknya ditinggal di Australia. Mereka kemudian bercerai. Biggs memilih Brasil karena tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Inggris. Dia tinggal di Brasil sejak 1970. Butuh waktu lama untuk Inggris dan Brasil meratifikasi perjanjian ekstradisi pada 1997. Dua bulan kemudian, pemerintah Inggris secara resmi mengajukan permintaan kepada pemerintah Brasil untuk mengekstradisi Biggs. Biggs menyatakan tidak akan menentang ekstradisi. Namun, permintaan ekstradisi ditolak oleh Mahkamah Agung Brasil dan memberikan hak kepada Biggs untuk tinggal di Brasil selama sisa hidupnya. Akhirnya, Biggs memutuskan untuk kembali ke Inggris. Pada 7 Mei 2001, dia tiba di Inggris dan ditangkap untuk menjalani hukuman. Setelah beberapa kali permohonannya ditolak, Biggs akhirnya dibebaskan dengan alasan belas kasihan karena kesehatannya memburuk pada 6 Agustus 2009, dua hari sebelum ulang tahun yang ke-80. Biggs sempat menghadiri pemakaman pemimpin perampokan, Bruce Reynolds, pada Maret 2013. Tak lama kemudian, pada 18 Desember 2013, di usia 84, Biggs meninggal di tempat perawatannya, Carlton Court Care Home di Barnet, London utara. Kematiannya hanya beberapa jam sebelum penayangan perdana serial televisi BBC dua bagian, The Great Train Robbery , di mana Biggs diperankan oleh aktor Jack Gordon.
- Tan Malaka dan Delapan Tokoh Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam
PEMERINTAH Kota Amsterdam akan meresmikan penggunaan nama jalan-jalan di kawasan pemukiman Ijburg yang mengabadikan 27 nama tokoh antikolonial dari negara bekas koloni Belanda, sembilan di antaranya dari Indonesia. Selain sembilan nama tokoh, bakal ada satu nama jalan yang menggunakan nama Merdekastraat atau Jalan Merdeka. Wilayah Ijburg adalah kawasan pemukiman yang terletak di Ijmeer, pulau buatan sebelah tenggara Amsterdam itu, akan terpajang nama Tan Malaka (Tan Malakastraat), RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara (Suwardistraat), SK Trimurti (Trimurtistraat), Kapiten Pattimura (Pattimurastraat), Pangeran Diponegoro (Diponegorostraat dan Diponegorohof), Maria Ullfah (Mariaulfahstraat), Soekaesih (Soekaesihstraat), Roestam Effendi (Roestam Effendistraat), Lambertus Nicodemus Palar (Palarstraat).
- Gila Baca Pendiri Bangsa
SEWAKTU mendekam di Penjara Glodok, Mohammad Hatta menuliskan sepucuk surat. Surat bertanggal 20 April 1934 itu ditujukan kepada T.A. Murad, Ketua Dewan Pimpinan Pusat PNI Baru. Hatta menuturkan, “Aku bisa hidup di manapun, asal dengan buku.” Murad kemudian memuat “curhatan” Hatta yang sedang dihukum oleh pemerintah kolonial tersebut ke dalam suratkabar Daulat Ra’jat , 10 Mei 1934. “Buat banyak orang penjara itu tempat yang buruk, tempat yang tidak ada enak-enaknya, tidak ada yang baik. Tapi buat Bung Hatta, penjara adalah ruang semedi, ruang pertapaan di mana orang bisa memperkuat watak, memperkuat iman, terutama jalannya adalah dengan membaca,” ujar sejarawan J.J. Rizal dalam diskusi publik “Literasi Kita, Masa Depan Bangsa” di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, 31 Juli 2019. Menggambarkan Hatta dengan buku, menurut Rizal ibarat gigi dengan gusi: dekat sekali. Bahkan, kata Rizal, istri pertama Hatta bukan berwujud manusia melainkan buku. Meski demikian, Hatta hanyalah satu dari sekian banyak tokoh bangsa dengan reputasi sebagai pecinta buku (bibliofil). Di awal abad 20, hampir seluruh pendiri bangsa punya cerita dengan buku. Abdul Rivai, dokter bumiputera pertama yang lulus dari Belanda, misalnya. Rivai dikirim belajar ke Belanda dan menuliskan pengalaman-pengalamannya dalam kumpulan artikel yang kemudian diterbitkan menjadi Student Indonesia . Di salah satu artikelnya yang ditulis pada 1901, Rivai mengatakan, “Karena aku membaca, maka aku bertanya siapakah kita?”. Membaca telah membuat Rivai mempertanyakan siapa dirinya, siapa kaumnya. Itulah untuk kali pertama, persoalan nasionalisme dikumandangkan oleh seorang bernama Abdul Rivai. Pertanyaan itulah yang pada 1912 dijawab oleh tiga serangkai: Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan Cipto Mangunkusumo dengan mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang mengusung nasionalisme Indonesia di tengah dominasi kolonialisme Belanda. Ada lagi Kartini, namanya sohor sebagai pejuang emansipasi wanita. Kartini di sebuah desa kecil di Jepara, hidup dalam limpahan literasi. Pada 1903, Kartini menulis, “Aku benamkan diriku dalam membaca dan membaca.” Pernyataan itu kelak terekam dalam kumpulan suratnya yang dibukukan pada 1911 berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang . Dari membaca, Kartini pun kian “melek” terhadap situasi sekitar. Apalagi pada zamannya, Kartini menyaksikan betapa minornya kedudukan perempuan dalam feodalisme masyarakat Jawa. Inilah yang mendorong Kartini menjadi kritis mempersoalkan konsep kesetaraan. Kelak, namanya tercatat dalam sejarah karena memperjuangkan ruang privat bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan. J.J. Rizal dalam diskusiLiterasi Kita, Masa Depan Bangsa di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, 31 Juli 2019. (Fernando Randy/Historia) Yang juga tidak kalah gandrung dengan buku tentu saja Sukarno. Di umurnya yang masih sangat belia (15 tahun), Sukarno memuaskan dahaga intelektualnya dengan memanfaatkan perpustakaan milik perkumpulan teosofi di Surabaya. Selain penerbitan, kelompok teosofi saat itu mempunyai koleksi bibliotik terbaik yang hanya bisa disaingi oleh organisasi seperti Muhammadiyah. Karena itu, pada 1916 Sukarno pernah menulis, “Buku mengenalkanku pada dunia dengan pikiran-pikiran terhebat dan aku ingin dunia tahu, aku dan bangsaku juga besar.” Melalui buku Sukarno melampaui imajinasi kebanyakan orang-orang sebangsanya. Kendati hidup di dunia kolonial, Sukarno telah membayangkan akan kemerdekaan bangsanya dan menjadi bangsa yang digdaya. Pendiri Sarekat Islam Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang juga gurunya Sukarno ini adalah seorang pembaca buku yang militan. Begitu militannya, bahkan dia pun tidak sungkan melahap buku-buku beraliran kiri. “Aku menemukan api Islam di dalam buku,” kata Tjokro. Hasil pemikiran Tjokro tentang nilai-nilai sosialis dalam Islam melahirkan buku berjudul Islam dan Sosialisme pada 1924. Sementara itu, Tan Malaka adalah contoh seorang pembaca yang loyal sekaligus royal. Tan merupakan tipikal yang sedia mengalokasikan biaya kebutuhannya untuk belanja buku. Demi buku, Tan bahkan rela mengencangkan ikat pinggangnya kuat-kuat dengan mengurangi jatah makan. Ini terungkap dalam karya monumentalnya yang terbit pada 1943 berjudul Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. ”Mengunjungi toko buku adalah pekerjaan yang tetap dan dengan giat saya jalankan,” kata Tan Malaka. “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.” Dalam Madilog , Tan menuturkan kegigihannya menyerap pengetahuan lintas ilmu bukan tanpa tujuan. Mulai dari buku bidang eksakta, ekonomi, politik, hingga sejarah dia pelajari. Semua buku-buku itu membantu Tan membebaskan diri dari sesat pikir atau semacam takhayul di tengah masyarakat kolonial yang dalam istilahnya disebut “logika mistika”. Belenggu pola pikir kolot inilah yang hendak diberantas Tan dari kaum sebangsanya pada zaman itu. “Bangsa ini didirikan oleh mereka yang membaca. Bangsa ini basisnya adalah buku. Kalau kita ingin punya masa depan sebagai bangsa, kita tidak boleh kehilangan tradisi membaca....” ujar Rizal. Dari semua kisah para tokoh tersebut, barangkali hanya Hatta yang koleksi bukunya masih terjaga dengan baik. Keluarga besar Hatta memutuskan merawat secara swadaya buku-buku itu yang dinilai sebagai warisan paling berharga dari Bung Hatta - selain tentu saja pemikiran dan perjuangan Hatta bagi bangsa dan negara. Menurut Tan Sri Zulfikar Yusuf, salah satu cucu Bung Hatta, sebanyak 18.000 judul buku koleksi Hatta kini tersimpan di rumah peninggalan Hatta di Jalan Diponegoro 57, Jakarta Pusat.
- Panglima AURI pilihan Sukarno
Pembawa kejayaan Angkatan Udara yang hidup sengsara karena tersangkut peristiwa 1965
- Asal-Usul Bandit di Perdesaan
HAMPARAN sawah hijau, pegunungan berselimut awan, sungai jernih mengalir, dan udara bersih. Suasana perdesaan begitu memikat. Orang kota datang ke desa untuk mencari kedamaian. Mereka menempatkan desa sebagai obat stres. Bayangan mereka, kehidupan di desa selalu serba tenang dan ajeg. Petani kelihatan bergembira dan harmonis.
- Bertemu dalam Secangkir Jamu
KEGEMARAN Albertina van Spreeuwenburg, perempuan campuran Indo-Eropa, pada jamu membuatnya jadi penyembuh tenar di Weleri, Jawa Tengah. Suami Albertina merupakan pemilik perkebunan. Bila ada pegawainya yang sakit, Albertina maju untuk menyembuhkan. Perkenalan Albertina pada jamu didapat dari ibunya yang seorang nyai. Persilangan budaya dari dalam rumah umum terjadi di masa kolonial lantaran adanya interaksi intensif orang Eropa dan pribumi, entah nyai ataupun babu, di dalamnya. Para nyai biasanya tetap melakukan kebiasaan mereka, entah mengenakan kebaya, mengunyah sirih, atau meminum jamu. Kebiasaan inimenular pada anak-anak mestizo mereka. Tingginya kebiasaan mengonsumsi jamu di rumah tangga Indies mendorong peneliti Eropa mempelajari jamu dan tanaman obat lokal. Mereka biasanya mendapat informasi dari perempuan Indo-Eropa, penjual jamu di pasar, atau dukun. Penggalian informasi tentang jamu dan tanaman obat makin dipermudah ketika dokter , ahli botani, atau apoteker kulit putih yang datang ke Hindia-Belanda melakukan kawin campur. Dari sinilah ilmu pengobatan modern dan lokal bertemu. Profesor Hans Pols dari Universitas Sydney dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation” menyebutkan, dokter Eropa yang baru tiba di Hindia menikahi wanita Indo-Eropa atau pribumi merupakan hal umum pada paruh pertama abad ke-19. Pernikahan campur ini diterima karena hampir semua orang Eropa yang tiba di koloni adalah lajang dan akan menghabiskan waktu lama di Hindia. Bentuk interaksi antarkelompok sosial dan etnis ini berpengaruh pada pengetahuan medis dan botani di Hindia-Belanda. Fenomena itu dapat dilihat pada kehidupan dr. CCW Mandt. Ahli kesehatan berkebangsaan Jerman yang menikahi perempuan mestizo dari Makassar itusangat tertarik pada jejamuan dan mempelajari khasiat tanaman lokal untuk masalah kesehatan sehari-hari. Selain dari istrinya, pengetahuan Mandt tentang obat tradisional diperoleh dari Albertina. Keduanya sering berdiskusi tentang khasiat tanaman Nusantara. Istri Mandt bahkan sering bertukar resep jamu dengan Albertina. Bermodal pengetahuan itu, Mandt lalu mendirikan spa tradisional. Kegemaran Albertina pada jamu menurun pada anaknya, Johanna Maria Carolina Verst e egh (setelah menikah dikenal sebagai Jans Kloppenburg-Verste e gh). Selain mendapat pengetahuan tentang jamu dari ibunya, Jans juga sering berdiskusi dengan Hendrik Freerk Tillema, pengusaha air mineral dan pemilik apotek di Semarang, untuk mendapat informasi yang lebih saintifik . Saking tertariknya pada jamu, pada 1907 Jans menulis buku Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman asli Hindia dan kekuatan penyembuhnya). Buku itu jadi pegangan rumah tangga orang kulit putih dan buku tentang jamu paling banyak disebut dalam catatan sejarah . Namun, Jans bukan orang kulit putih pertama yang menulis buku tetang jamu. Sebelumnya, ada Emelie van Gent de Telle, yang berasal dari keluarga pemilik perkebunan di Yogyakarta, yang menulis Boekoe Obat-Obat voor Orang Toewa dan Anak-Anak pada 1875. Setelah Emelie, pada 1885 Nyonya van Blokland dari Suabaya menulis tentang keampuhan pengobatan tradisional lewat buku Doekoen Djawa . Menurut Martina Safitry dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, hal itu menjadi bukti tingginya minat orang kulit putih pada khasiat jamu dan pengobatan tradisional Nusantara. Pada abad ke-19, hampir semua orang Indo-Eropa dan sebagain orang Eropa menggemari perawatan kesehatan oleh dukun perempuan, baik untuk sekadar pijat, membuatkan secangkir ramuan jamu, atau menyembuhkan penyakit ringan. Mereka menilai para perempuan tua ini punya ilmu perawatan kesehatan yang mumpuni. Mereka biasanya minta dicarikan tukang jamu atau tukang urut (dukun) pada babu dan jongosnya. Tak jarang pula mereka merekomendasikan perawatan tradisional ini pada pendatang baru Eropa. Pasien Eropa bahkan terkadang merekomendasikan dokter untuk berkonsultasi dengan ahli jamu atau dukun. Tapi usul itu sering bikin dokter Eropa jengkel, seperti yang disampaikan dokter ternama Cornelis Leendert van der Burg dalam bukunya The Physician in the Dutch East Indies . “Bahkan ada dokter yang tidak keberatan dengan pengobatan dari wanita ini (dukun/tukang jamu) untuk istri, anak-anak dan bahkan dirinya sendiri,” kata Van der Burg. Seiring menguatnya sekat rasial pada abad ke-20, ketidaksukaan pada pengobatan tradisional kian sering disuarakan orang kulit putih. Untuk menghindari identifikasi dengan penduduk pribumi, Komunitas Hindia menerapkan standar tinggi pada etiket berkomunikasi, berpakaian, dan etiket sosial Eropa lain. Buntutnya, para profesional Barat, termasuk dokter dan ahli botani, menjadi kurang tertarik pada obat herbal lokal. Mereka juga kurang menghargai pengetahuan pengobatan lokal dan mulai menyingkirkannya dengan ilmu pengetahuan Barat.
- Serba Serbi Makanan Zaman Purba
Manusia awalnya tak begitu repot memikirkan rasa daging atau sayuran yang dimakan. Cukup kunyah dan telan saja mentah-mentah. Tapi mereka tak terus-menerus begitu. Manusia purba akhirnya juga memasak. Richard Leakey dalam Asal Usul Manusia menjelaskan, Australopithecus , sebagai leluhur bersama manusia dan kera, hidup dengan makan tumbuhan. Ini terlihat dari struktur gigi mereka. Namun, bentuk grahamnya tak mirip kera. Mahkota giginya tak lancip tetapi rata. Bentuk ini cocok untuk menggiling makanan. “Jelas sudah bahwa 2-3 juta tahun yang lalu makanan manusia berubah jadi lebih alot, seperti buah-buahan keras dan kacang-kacangan,” tulis Leakey. Menjelang 2,5 juta tahun yang lalu, walau belum bisa dipastikan, muncul spesies manusia lainnya. Otaknya lebih besar. Giginya juga berubah. Itu mungkin disebabkan kebiasaan makan yang berubah, dari melulu tumbuhan menjadi kombinasi tumbuhan dan daging. “Perubahan struktur gigi Homo purba menunjukkan adanya kebiasaan makan daging, sebagaimana ditunjukkan juga oleh penyempurnaan teknologi perkakas batu,” tulis Leakey. Fosil kerbau purba di Sangiran. (Koleksi Museum Sangiran) Memasuki masa paleolitik, yaitu waktu manusia mulai menggunakan alat batu, mereka menggantungkan hidup pada hewan buruan. Menurut Teuku Jacob, pakar paleoantropologi ragawi Universitas Gadjah Mada dalam “Evolusi Makanan Manusia dari Paleonutrisi dan Paleoekonomi Menuju Gizi Futuristik” terbit di Pertemuan Ilmiah Arkeologi V , manusia purba berburu hewan kecil maupun besar untuk kemudian dimakan. Namun itu masih perdebatan. Ada juga ahli yang berpikir manusia awalnya hidup dengan memakan bangkai binatang buruan hewan lainnya. Jadi, mereka bukannya berburu. Salah satu yang meyakininya adalah Lewis Binford, arkeolog dari Amerika. Dia mengungkapnya pada 1981 dalam Bones: Ancient Men and Modern Myth. “Leluhur kita itu tidak romantis, melainkan pemakan sembarang yang umumnya lebih suka memulung bangkai hewan-hewan berkuku untuk mendapatkan sisa-sisa,” tulis Lewis. Bahkan, ketika sudah mulai makan daging, manusia kemudian berburu manusia lainnya. Diyakini Homo, memakan Australopithecus , saudara tuanya, sebagaimana mereka memangsa hewan lain jika bisa. Pasalnya, kedua spesies itu sempat hidup berdampingan. Tapi ini masih juga diperdebatkan. “Saya tidak ragu, tetapi penyebab kepunahan Australopithecus mungkin tak sedramatis itu,” tulis Leakey. Makin lama, manusia lebih banyak makan daging hewan. Lebih-lebih Homo neanderthalensis . Menurut Jacob, di lingkungan dia hidup kurang banyak tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan. Sementara, hewan besar seperti rusa, banteng, kerbau, gajah, kuda sungai, kambing, mungkin badak, beruang, begitu melimpah untuk diburu. Hewan lain seperti kura-kura, ikan, juga dimakan. Ada pula makanan yang berasal dari hewan seperti madu dan larva. “Kera dan monyet mungkin hanya kalau terpaksa saja dimakan, karena bentuknya menyerupai manusia,” tulis Jacob. The Man of Bicorp adalah gambar di dinding gua berusia 8000 tahun di dekat Valencia, Spanyol. Tergambar seseorang tengah mengumpulkan madu dari sarang lebah Ditemukannya api membuat makan daging menjadi lebih mudah. Homo erectus adalah spesies pertama manusia yang menggunakan api. Dia juga mungkin yang pertama mengumpulkan makanan sekaligus berburu. Karena mereka sudah kenal api, makanan pun lebih mudah dikunyah dan dicerna. Perubahan pola makan terjadi lagi ketika masuk periode lebih modern yang disebut mesolitik. Menurut Jacob penjinakan hewan mulai dikenal. Anjing mungkin yang pertama dipelihara. Lalu sapi, kuda, keledai, kambing, kerbau, babi, kucing, dan unggas. Dengan kebiasaan beternak, makan daging hewan menjadi lebih dominan. “Beberapa kelompok telah memakai susu dalam dietnya,” tulis Jacob. Pada masa ini pula eksploitasi pantai dan laut mulai terjadi. Berbagai jenis kerang dan ketam, ikan, dan udang banyak dikonsumsi. Buktinya adalah tumpukan kulit kerang di beberapa situs yang luar biasa besar. Contohnya di Tamiang, Aceh. Hewan-hewan kecil juga menjadi makanan. Di Liang Toge, Flores ditemukan sisa-sisa kelelawar, tikus biasa dan tikus raksasa, monyet, landak, dan babi. “Berburu masih dilakukan dan tumbuhan tetap dimakan,” tulis Jacob. Pada masa Neolitik, manusia semakin banyak mengonsumsi tumbuhan. Ini didukung pertanian yang mulai berjalan. Mereka mulai rajin makan gandum dan beras. Bahan-bahan itu sudah pula dijadikan bubur, roti, nasi, bir, dan arak. Cara mengolah makanan juga makin beragam. Manusia tak lagi mengonsumsi makanan mentah. Tak juga cuma dibakar atau dipanaskan di atas batu. Mereka sudah mengenal cara merebus dan memanggang. Bahan makanan mereka awetkan dengan dijemur, disalai, diasinkan, dan dibumbui. Mereka pun mulai mencampur bahan-bahan makanan. “Waktu luang bertambah dengan penemuan api, penjinakan tumbuhan dan hewan, permukiman menjadi tetap, umur manusia memanjang,” tulis Jacob.
- Letnan Jenderal Tujuh Hari
MEMASUKI tahun 1950 APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) melakukan berbagai pembenahan. Salah satunya penggantian bentuk pangkat. Pangkat mayor, letnan kolonel, dan kolonel tidak lagi menggunakan simbol bintang tetapi bunga tanjung. Simbol bintang hanya digunakan untuk tingkat mayor jenderal, letnan jenderal, dan jenderal; saat itu pangkat brigadir jenderal belum diadakan. Selain soal pangkat, perubahan nama kesatuan pun dilakukan di tiap divisi. Brigade XII Divisi Siliwangi termasuk kesatuan yang harus memberlakukan peraturan baru tersebut. Kesatuan yang bertanggung jawab atas wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur itu berganti nama menjadi Brigade D/XV. “Sebagai pimpinan Brigade D ditunjuklah Mayor Sambas Atmadinata yang kemudian pangkatnya dinaikan menjadi letnan kolonel,” tulis buku Siliwangi dari Masa ke Masa Bag. II (1950-1965). Seiring dengan pembenahan itu, aksi pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia pimpinan S.M. Kartosoewirjo semakin merajalela di Jawa Barat. Guna menangani situasi tersebut, nyaris tiap minggu Letkol Sambas harus mempersiapkan pasukannya dan melakukan inspeksi keliling. Suatu hari, Letkol Sambas akan menginspeksi pasukan yang berada di tiga wilayah yang menjadi wewenangnya. Merasa belum punya tanda pangkat letkol, dia kemudian menyuruh ajudannya untuk membeli di Toko Beny, yang terletak di depan Sekolah Zeni Angkatan Darat Bogor. Singkat cerita, tanda pangkat bintang dua berkilauan pun dibeli dan langsung ditempelkan oleh Sambas di leher kamejanya, bukan di pundak. Dengan jip yang dikemudikan oleh seorang ajudan dan dikawal seorang penembak, selama seminggu Sambas berkeliling ke basis-basis pasukan yang berada di Bogor, Sukabumi, dan Cianjur. Mereka mengecek kesiagaan dan mencocokan info lapangan dari pos ke pos. Hari terakhir inspeksi, sampailah mereka di Istana Cipanas dan langsung memeriksa kesiapan satu seksi CPM (Corps Polisi Militer). Begitu memasuki gerbang Istana Cipanas, penjaga langsung memberi hormat. Dengan sikap percaya diri, Sambas lantas bertanya, “Apakah situasi aman?” “Siap! Aman Let!” jawab sang penjaga dalam nada bersemangat. Sambas tersenyum mendengar kata “Let” dari prajurit jaga. Dia memaafkan dan memaklumi jika prajurit itu belum mengetahui tanda pangkat APRI versi terbaru. Tapi tidak demikian dengan dua pengawalnya, mereka terlihat sangat kesal atas panggilan yang sungguh tidak “etis” itu. “Sialan!” Sambas mendengar seorang pengawalnya mengumpat. Memasuki halaman Istana, seluruh peleton CPM pun dibariskan. Kepada sang sersan yang mengomandani peleton itu, Sambas lagi-lagi bertanya, “Apakah situasi di Istana Cipanas terkendali?” Eh, lagi-lagi sersan itu menjawab persis sama dengan jawaban prajurit penjaga di pintu gerbang. “Siap, aman Let!” Sambas memutuskan untuk tidak marah atau menegur. Pikirnya, bisa jadi sosialisasi soal pangkat belum sampai ke seluruh pasukan. Jadi, dia merasa itu bukan salah para prajurit di bawah. Saat situasi tersebut, tiba-tiba ajudannya maju ke depan dan menegur si sersan. “Lihat-lihat dong! Beliau ini komandan brigade, bukan seorang letnan!” Keributan itu cepat dilerai oleh Sambas dan untuk mencegah timbulnya suasana tidak enak, mereka pun lalu beranjak melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor. Saat di Puncak, barulah “kesalahpahaman” itu terpecahkan. Mendapat informasi dari seorang tentara lainnya, Sambas baru mafhum bahwa para prajurit di Istana Cipanas itu sama sekali tidak salah. Mengapa? Ternyata tanda pangkat yang dibelikan ajudannya dari Toko Beny adalah tanda pangkat seorang letnan jenderal! “Yang tidak tahu itu adalah kami. Toko Beny salah jual, ajudan saya salah beli. Mereka keliru karena baru pertama kali,” kenang Sambas dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid I terbitan Markas Besar LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia). Kendati demikian Sambas merasa bersyukur. Kendati tidak sengaja, dia setidaknya pernah merasakan jadi seorang letnan jenderal. Walaupun hanya tujuh hari. *
- Enam Istri Sunan Gunung Jati
SUDAH lama pernikahan menjadi sarana penyebaran agama. Hal itu pernah dilakukan oleh Sunan Gunung Jati saat proses penyebaran Islam di wilayah Priangan. Sang wali tidak hanya memperistri satu orang saja, atau empat orang sesuai ajaran Islam, melainkan enam orang. Walau dalam waktu yang tidak bersamaan. Dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, M.C. Ricklefs menjelaskan jika jalinan pernikahan menjadi salah satu cara efektif untuk menyebarkan ajaran Islam. "Sunan dan para penggantinya dianggap memainkan peranan penting dalam penyiaran agama Islam ... melalui penaklukan, perkawinan-perkawinan, ataupun melalui dakwah para bekas muridnya". Tidak dijelaskan siapa istri pertama, kedua, ketiga dan seterusnya dari Sunan Gunung Jati. Namun yang pasti pernikahan sang wali dilakukan dalam rentang waktu yang berbeda. Dalam sebuah naskah tasawuf tidak berjudul, yang kemudian diberi nama Naskah Kuningan: Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah-Sunan Gunung Jati, terjemahan Amman N. Wahju diketahui bahwa pernikahan Sunan Gunung Jati dilakukan setelah ia selesai berguru kepada seorang ahli qiro’at (membaca Al-Qur’an) bernama Pengeran Makdum, putra Raja Andalusia.
- Tragedi Dakota dalam Hari Bakti Angkatan Udara
DENGAN khidmat, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Yuyu Sutisna memimpin upacara sederhana Hari Bakti TNI AU ke-72 di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta,Senin 29 Juli 2019. Di pagi buta itu, KSAU berpesan agar generasi penerus TNI AU meneladani para kadet yang melancarkan operasi pemboman atas Semarang, Salatiga, dan Ambarawa 72 tahun silam. “Nilai-nilai perjuangan yang merupakan warisan para pendahulu harus senantiasa diteladani dan diimplementasikan insan-insan Swa Bhuwana Paksa dari generasi ke generasi, sehingga seluruh prajurit TNI AU mengingat jati dirinya sebagai tentara yang mengabdi pada Ibu Pertiwi,” ujar KSAU. Pidato KSAU kemudian dilanjutkan dengan pementasan sosiodrama yang dilakoni para pereka ulang Djokjakarta 1945. Hari Bakti TNI AU, diungkapkan Irna H.N. Hadi Suwito dkk dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 , ditetapkan lewat SK KSAU Nomor Kep. 133/VII/1976 berdasarkan pada peristiwa gugurnya tokoh-tokoh AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia)dalam peristiwa jatuhnya pesawat angkut C-47 Dakota bernomor registrasi VT-CLA pada petang 29 Juli 1947. KSAU Marsekal Yuyu Sutisna dalam upacara peringatan Hari Bakti TNI AU di Lanud Adisutjipto. (tni.au.mil.id). Rabu Kelabu Rabu 30 Juli 1947 itu, sejumlah petinggi TNI memenuhi sebuah aula di Hotel Tugu, Yogyakarta dalam suasanakelabu. Di sanalah berbaring tiga jenazah perintis AURI: Komodor Muda Udara dr. Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo Wiryokusumo. Selain KSAU Komodor Suryadi Suryadarma, turut hadir Panglima TNI Jenderal Sudirman memberi penghormatan terakhir dalam upacara militer itu. Ribuan masyarakat sipil yang terpukulturut memberi penghormatan. Masing-masing jenazah lalu dikebumikan sesuai permintaan keluarga.Jenazah Abdulrachman Saleh dan Adisutjipto dikuburkan di Kuncen, sementara Adisumarmo di Taman Makam Pahlawan Semaki. Suryadarma amat terpukul dan sedikit menyesal . Ia merasa gugurnya ketiga kolega beserta enam korban Dakota VT-CLA lain disebabkan oleh amuk Belanda yang dikejutkan oleh serangan udara kadet-kadet AURI pada pagi 29 Juli 1947. Akibatnya, pesawat Dakota VT-CLA itupun jadi salah satu tumbal pembalasan Belanda. Pesawat Dakota VT-CLA itu dibeli pemerintah RI sedianya untuk mengantar dua ton obat-obatan dari Singapura yang merupakan sumbangan Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Sebelum dibeli, pesawat itumilik Biju Patnaik, pengusaha India cum mantan pilot Royal Air Force (RAF/AU Inggris) yang bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. VT-CLA sendiri merupakan nomor registrasi sipil Dakota itu dalam naungan Maskapai Kalingga Airlines, dan belum diganti meski sudah dibeli pemerintah RI. Pesawat dengan rute Singapura-Yogyakarta itu dipiloti penerbang veteran AU AustraliaAlexander Noel Constantine dan veteran AU InggrisRoy Lance Hazelhurst. Mengutip Adityawarman Suryadarma dalam biografi ayahnya, Bapak Angkatan Udara: Suryadi Suryadarma , rute penerbangan nonmiliter itu sudah mendapat izin terbang dari pemerintah Inggris dan NICA di Jakarta. Berdasarkan manifes otoritas bandara Singapura, pesawat itu ditumpangi sembilan orang. Selain tiga tokoh AURI dan dua penerbangnya, turut menumpang istri sang pilot, Beryl Constantine; Abdulgani Handonotjokro dari GKBI Tegal; Zainal Arifin dari Konsul Dagang RI di Malaya; dan teknisi Bhida Rom asal India. Dikuntit Sepasang Kittyhawk Dakota VT-CLA itu bertolak dari Singapura pukul 1 siang dengan muatan dua ton sumbangan obat-obatan. Penerbangan berjalanan aman. Namun sesampainyadi atas Kepulauan Bangka-Belitung, sepasang pesawat Curtiss P-40 “Kittyhawk” AU Belanda mulai tampak. Muncul dan menghilang,begitulahseterusnya dua Kittyhawk bermanuver untuk menguntit Dakotahingga tiba di angkasa Yogyakarta sekira pukul 4 sore. Saat runway Lanud Maguwo terlihat, pilot Constantine segera menurunkan roda pesawat sambil mengarahkan pesawat berputar sekali sebelum mendarat. Saat itulah tembakan dari senapan mesin kaliber 12,70 milimeter M2 Browning sepasang Kittyhawk dimuntahkan kedua pilotnya. “Dakota VT-CLA mengeluarkan asap; baling-baling sebelah kanan patah. Pesawat itu kehilangan keseimbangan dan tembakan masih gencar dilancarkan. Ketika menukik tajam, dari pintu pesawat tampak beberapa sosok tubuh terlempar ke luar. Pesawat miring hingga sayap kirinya melanggar pucuk pohon, kemudian jatuh melayang mem b entur tanggu l sawah,” ungkap Irna dkk b e r dasarkan kesaksian seorang bernama Soma Pawiro. Panglima TNI Jenderal Sudirman turut memberi penghormatan terakhir pada tiga tokoh AURI di Hotel Tugu. Dakota VT-CLA jatuh dan meledak di persawahan batas Desa Ngoto dan Desa Wojo, sekira tiga kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Warga langsung mendatangi lokasi. Meski mulanya dikira pesawat Belanda, pertolongan tetap diupayakan meski hari mulai gelap. Dengan obor dan tandu seadanya dari batang bambu, masyarakat mengevakuasi beberapa korban. Para personil AURI lantas berdatangan, termasuk kadet Suharnoko Harbani dan KSAU Suryadarma. Saat itulah warga insyaf bahwa itu pesawat republik. Selain Abdulgani, Beryl Constantine masih hidup dengan luka tembak di pipi saat dievakuasi. Namun, nyawanya tak tertolong saat dilarikan ke Rumahsakit Bethesda, tempat para korban mendapat penanganan. Para korban, utamanya para perintis AURI, lalu disemayamkan di Hotel Tugu untuk mendapatkan penghormatan terakhir secara militer. Mereka dimakamkan keesokan harinya. Peristiwa itu membuat Belanda mencari alasan untuk mengelak.“Menurut radio Yogya, dua pesawat Belanda menembak jatuh Dakota yang membawa bantuan medis dari Singapura. Namun jurubicara pemerintah Belanda di Den Haag membantah, berdasarkan komunike Belanda di Batavia, di mana pesawat Belanda hanya memberi tembakan peringatan namun Dakota itu jatuh karena menabrak sebuah pohon,” tulis Suratkabar Nieuwe Apeldoornsche Courant , 30 Juli 1947. Alasan itu jelas mengada-ada lantaran pada jenazahBeryl Constantine dan Adisumarmoterdapat luka tembak. Belanda lantas “meralat” pernyataannya bahwa memang benardua pilot Kittyhawk, Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, melepas tembakan tapi lantaran mereka salah mengira pesawat itu sebagai pembom tukik Jepang Ki-49 “Helen”. Dua pilot AU Belanda, B.J. Ruesink dan W.E. Erkelens yang menembak jatuh Dakota VT-CLA. (Dienst voor Legercontacten Indonesie/nationaalarchief.nl) Alasan yang lebih mengada-ada itu –lantaran kedua pilot Belanda merupakan alumnus Skadron Nederlands East Indisch (NEI) yang berlatih di Canberra, Australia semasa Perang Dunia II;mustahil mereka tak mengenali bentuk pesawat Dakota yang merupakan andalan Sekutu–kembali direvisi Belanda. Menurutnya, pesawat mereka menembaki Dakota VT-CLA lantaran tak menggunakan insignia palang merah di badan pesawat. Dunia internasional kian mengecam Belanda, terlebih setelah keluar kesaksian Letkol Peter Ratcliffe , perwira Inggris utusan SEAC (South East Asia Command) yang sedang di Yogyakarta. Ratcliffe menyaksikan sendiri dua Kittyhawk Belanda itu menembaki Dakota meski D a kota sudah miring menjelang menghantam daratan. Ratcliffe ikut mendatangi RS Bethesda untuk melihat dua korban, Beryl Constantine dan Adisumarmo. Dalam kesaksiannya, kedua tubuh jenazahdipenuhi luka tembak. “Sebuah insiden paling pengecut dan brutal dan tindakan kebodohan yang pernah saya lihat,” kata Ratcliffe marah, dikutip tabloid AU Australia, Pathfinder, edisi 159, Juli 2011.





















