top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Yang Terbuang, Yang Gemilang

    GEMURUH ribuan penonton di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta makin semarak. Sorakan dukungan hingga cemoohan untuk meneror lawan meramaikan jalannya pertandingan demi pertandingan sejak dimulainya Indonesia Open ke-38, 16-21 Juli 2019. Kendati para pendekar raket Indonesia satu per satu berguguran, dukungan para penonton tanah air tak luntur. Utamanya karena di turnamen berlevel Super 1000 ini Indonesia berhasil menaruh empat pendekarnya di partai puncak, yakni di nomor ganda putra. Pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya berhasil membuat nomor tersebut dengan akhir All-Indonesian Final. Dari babak-babak awal, kedua pasangan andalan tuan rumah itu tampil gemilang dan tak terbendung. Pasangan “The Minions”, julukan Marcus/Kevin, akhirnya mencomot gelar juara. Padahal, nomor ganda dulu merupakan nomor buangan yang dimainkan oleh para pebulutangkis yang terdepak dari persaingan di nomor tunggal. Seperti dalam olahraga tenis, dalam bulutangkis mulanya hanya nomor tunggal putra dan putri yang punya prestis tinggi. Christian Hadinata, pemain ganda legendaris Indonesia era 1960-an, merasakan betul atmosfer itu. Saat itu bulutangkis Indonesia tengah kebanjiran pemain tunggal. Lantaran spot untuk tunggal putra di berbagai kejuaraan kaliber dunia terbatas, hanya yang terbaik bisa tampil di sektor prestisius itu. Sisanya, terdepak ke ganda. Kelaziman lainnya adalah para pemain tunggal merangkap main di nomor ganda. Selain Christian, ada Rudy Hartono atau Liem Swie King. “Memang awalnya saya tunggal. Lalu ke belakang sering double (ganda) dengan Christian atau Kartono. Waktu masih muda, fokus enggak terpecah. Fisik masih kuat. Tapi makin tambah umur, ya mulai jadi masalah. Terakhir saya merangkap di Thomas Cup 1984. Hasilnya tunggalnya kalah, double -nya menang,” ujar King kepada Historia . Liem Swie King pernah merangkap ganda putra beberapa kali dalam catatan kariernya. Titik Balik Kebiasaan rangkap itu membuat perhatian pada pembinaan sektor ganda jadi minim. Pada akhirnya, ganda dipandang sebelah mata. Namun, perlahan anggapan itu berubah sejak gelar demi gelar dibawa pulang para jagoan ganda Indonesia macam Tjun Tjun/Johan Wahyudi atau Ade Chandra/Christian Hadinata. Prestasi mereka jadi titik balik pandangan bahwa ganda putra juga bisa membanggakan, bukan lagi buangan. “Memang dulu pelatihan di pelatnas dan klub tidak spesifik ada ganda putra. Biasanya pemain tunggal merangkap ganda. Di Kejuaraan Asia 1971, saya malah merangkap di dua nomor ganda. Di ganda putra dengan Ade dan ganda campuran dengan Mbak Retno Koestijah. Prestasinya cukup baik (juara ganda campuran, red),” kata Christian kepada Historia . Pamor sektor ganda makin gemilang setelah pasangan Christian/Ade Chandra juara di All England 1972. Dunia tak menyangka Indonesia punya pasangan kuda hitam di nomor ganda yang menemani kedigdayaan Rudy di nomor tunggal putra turnamen bulutangkis tergaek itu. “Itu pengalaman yang enggak akan pernah lupa. Waktu itu kita satu-satunya ganda putra Indonesia yang ikut All England. Kita masih dipandang remeh. Selama ini kan saingan-saingan kita tahunya kekuatan Indonesia hanya di tunggal putra. Ganda putra enggak dipandang,” Christian melanjutkan. Christian Hadinata, legenda ganda putra Indonesia. (Randy Wirayudha/Historia) Prestasi tersebut membalikkan pandangan publik yang awalnya memandang sebelah mata. “Saat kita masuk semifinal, mereka heran, lho kok ada semifinalis dari Asia, dari Indonesia. Saya ingat, saat masuk lapangan, ada lampu bulat disorot ke pemain sampai ke tengah lapangan utama. Rasanya luar biasa jadi pusat perhatian ketika kita tak diunggulkan dan belum punya nama,” sambungnya. Sejak itu, pamor ganda kian melambung. Gelar demi gelar ganda putra, mulai dari All England hingga Olimpiade, nyaris tak pernah lepas dari genggaman wakil Indonesia. Sektor ganda putra pun perlahan jadi perhatian PBSI. Tongkat estafetnya diteruskan Christian sebagai pelatih sejak 1990. Nama-nama para pasangan juara terus bermunculan, menyambung estafet yang dimulai di era Christian. Ada Eddy Hartono/Rudy Gunawan, Ricky Subagdja/Rexy Mainaky, Sigit Budiardjo/Candra Wijaya, hingga yang terbaru Markus Gideon/Kevin Sanjaya.

  • Batavia Kota Polusi

    KAMIS (4/7/2019), Tim Advokasi Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta menggugat sejumlah pejabat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dikutip dari dw.com , diketahui ada 31 orang yang melayangkan gugatan Citizen Law Suit (CLS). Mereka menuntut pemerintah segera membuat kebijakan baru terkait polusi udara di ibu kota yang terus memburuk. Adapun pejabat yang tergugat dalam kasus ini antara lain: Presiden, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jawa Barat, dan Gubernur Banten. Sementara itu sebuah cuitan dari akun @rifandaputri  di Twitter menghebohkan jagat maya. Cuitan yang telah 13.000 kali dibagikan itu memperlihatkan perbedaan kualitas udara di Jakarta dan Manado dari atas pesawat. “Mungkin selama ini gue ga begitu aware sama perubahan polusi di Jakarta, sampe akhirnya hari ini sepulang dari Manado bener-bener kaget dan jadi merasa insecure banget ternyata udah separah itu polusi udara di Jakarta,” tulis @rifandaputri . Masalah polusi bukan soal baru di Jakarta. Sudah sejak abad ke-17 pemerintah kolonial Belanda fokus menangangi hal ini. Mereka melakukan banyak perencanaan agar Batavia (sebutan Jakarta waktu itu) terlihat indah, bersih, dan terbebas dari polusi. Meski dalam praktiknya, persoalan lingkungan agaknya sulit diatasi dan terus menghantui masyarakat di Batavia. Awal Masalah Sejak pertama didirikan pada 1619, Batavia telah diproyeksikan menjadi basis kegiatan ekonomi Belanda di Hindia Timur. Hanya dalam waktu 10 tahun, kota ini telah membangun pusat-pusat kegiatan produksi dan dihuni oleh 20 ribu orang dari aneka rupa bangsa. Namun ternyata pertumbuhan itu telah memunculkan permasalahan baru, yakni polusi. Semakin berkembang Batavia, semakin cepat pula polusi ini muncul. Tidak hanya pabrik-pabrik, masyarakatnya pun ikut ambil bagian dalam pencemaran lingkungan di Batavia Dalam tulisannya, “Urban Pollution in Java 1600-1850” dimuat Issues in Urban Development , Luc Nagtegaal menyebut aktivitas perdagangan internasional yang begitu besar di Batavia telah menyisakan sampah-sampah. Bau tak sedap pun merebak di beberapa sudut kota yang menjadi pusat keramaian industri. “Pada 1630, tumpukan sampah di jalan dan kanal Batavia menjadi masalah. Sampah-sampah ini, terutama sekali, terdiri dari abu, batu bata, kapur, daun palem, dan material lainnya. Ini ditambah lagi bangkai ikan dari beberapa pasar.” tulis Luc. Tidak hanya dari aktivitas dagang dan produksi, kegiatan biologis masyarakat pun turut mencemari kanal-kanal di sana. “Bentuk utama polusi air adalah feses.” lanjut Luc. Batavia kala itu belum menerapkan sistem sanitasi yang baik. Penduduk biasa memakai guci untuk menampung kotoran. Kemudian setelah dirasa perlu dibuang, mereka akan mengalirkannya ke kanal dan kali. Praktik semacam itu sangat mengganggu mana kala kanal dan kali mampat di musim kemarau. Bau busuk kotoran akan tercium selama berhari-hari hingga aliran kanal kembali lancar. Akibatnya udara di kota pun ikut terdampak. Sama seperti pencemaran air, polusi udara juga ikut membuat penat penduduk Batavia. Pencemarannya berasal dari pabrik gula, pabrik mesiu, pabrik batu bata, penggergajian kayu, penyulingan arak, dan pabrik kapur. Mayoritas ditemukan di sepanjang kali yang membelah Batavia. Bondan Kanumoyoso dalam disertasinya, Beyond the City Wall , menyebut beberapa lokasi pabrik-pabrik gula di Batavia. Ada 16 pabrik gula di Ciliwung, 36 pabrik di sepanjang Kali Sunter, dan 26 pabrik di tepi Kali Peranggrahan. “Jumlah itu bertambah pada 1710, ketika industry ini mencapai kejayaannya,” tulisnya. Sementara itu pabrik bubuk mesiu dan lainnya telah berdiri sejak 1657 di wilayah pinggiran Batavia. Menurut Luc, dari semua pabrik yang ada, tempat produksi mesiu lah yang paling berbahaya. Zat polutan yang dihasilkan benar-benar sangat beracun. “Penduduk di kota itu tak tahan lagi. Sebagian besar memilih pindah ke wilayah yang lebih sehat di luar kota,” ucap Luc. Upaya Penanggulangan Melihat semakin besarnya dampak dari polusi di kotanya, Pemerintah Tinggi Batavia segera bertindak. Mereka menerapkan hukuman bagi masyarakat yang membuang sampah ke jalan atau kanal. Pemerintah Batavia juga mempekerjakan sekelompok orang yang bertugas mengangkut sampah. Para pertugas itu akan menyusuri kanal untuk mengambil sampah-sampah di sana. Pada tempat tertentu mereka akan berhenti dan turun dari tongkang, kemudian beranjak ke jalan untuk memungut sampah. Demi mendukung kerja para petugas pemungut sampah itu, Pemerintah Tinggi Batavia menyediakan tempat sampah di banyak tempat. “Tapi itu tidak menyelesaikan masalah kekotoran di kota,” pungkas Luc. Cara lain pun ditempuh. Pada 1707, Pemerintah Tinggi mengontrak orang-orang Tionghoa untuk membereskan sampah-sampah ini. Namun keputusan itu malah menambah masalah. Bukannya membawa sampah-sampah itu ke luar kota yang jauh, mereka malah membuangnya ke laut. Kenakalan pekerja Tionghoa itu sudah sering dilakukan dengan dalih mempersingkat kerja. Alhasil pinggiran laut ikut tercemar. Pemerintah pun kembali harus menerapkan peraturan baru, baik untuk masyarakat maupun orang-orang yang bekerja di bawah mereka. Kebiasaan masyarakat membuang guci kotoran juga ikut diperhatikan. Sadar akan bahayanya terhadap kualitas air dan udara, pemerintah membuat larangan pembuangan guci sebelum pukul sembilan malam. Sebagai gantinya, pemerintah menugaskan beberapa orang untuk berkeliling mengambil guci-guci kotoran milik penduduk dan membuangnya di tempat penampungan yang jauh dari kota. Sementara untuk pencemaran udara akibat pabrik, Pemerintah Tinggi Batavia mengatasinya dengan menanam banyak pohon di taman-taman terbuka, kantor pemerintah, dan rumah-rumah pejabat yang berdiri di tengah kota. Di sepanjang jalan dan kanal juga ditemukan pohon-pohon besar. Jenisnya pun beragam, bahkan sebagian tidak dikenal oleh orang-orang Eropa. “Jalan-jalan dan kanal-kanal ditumbuhi banyak pohon besar di sisinya. Umumnya berasal dari jenis pohon anophyllum, calophyllum , dan calaba . Namun ada juga jenis pohon yang tidak dikenal,” tulis John Joseph Stockdale dalam Island of Java. Foto ini memperlihatkan jarak pandang yang pendek di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Hasil yang Didapat Lantas apakah usaha Pemerintah Tinggi Batavia berhasil? Berdasarkan arsip-arsip pemerintah Belanda, Peter H. Van Der Brug dalam tulisannya, ”Batavia yang Tidak Sehat dan Kemerosotan VOC pada Abad ke-18” dimuat Jakarta-Batavia: Esai Sosio-Kultural , menyebut jika Batavia dilanda sebuah penyakit misterius pada pertengahan abad ke-18. Anehnya, penyakit tersebut hanya menyerang para pendatang Eropa, termasuk tentara, yang baru satu atau dua tahun tinggal di sana. Tercatat hampir 85.000 orang meninggal dunia. “Ketidaksehatan kota itu, yang begitu mematikan bagi pertumbuhan dan kemakmuran koloni, menghancurkan kepentingan dan keuangan kompeni,” tulis Peter. Sejalan dengan itu, Charles Walter Kinloch, seorang penulis Inggris, menggambarkan suasana Batavia pada 1852. “Kapal-kapal harus berlabuh dalam jarak yang cukup jauh dari pantai untuk menghindari penyakit yang dibawa oleh angin darat yang buruk, proses pendaratan selalu menjadi hal yang menyulitkan”. Tetapi JWB Money, seorang Inggris, memberikan jawaban berbeda yang mengejutkan di dalam catatan pelayarannya, termuat di Jawa Tempo Doeloe: 650 Tahun Bertemu Dunia Barat . Pada 1858, dia sebenarnya hendak pergi ke Pulau Jawa untuk mencari terapi bagi kesembuhan istrinya. Tetapi perjalanan yang jauh, dari India, membuat ia terpaksa harus singgah di Batavia sebelum melanjutkan misinya menyusuri wilayah Jawa. Sesampainya di Batavia, Money tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia terkejut saat menemukan suasana di Batavia jauh dari apa yang pernah dibacanya di buku-buku, bahwa Batavia kota yang kotor. “Batavia sendiri merupakan salah satu kota terbersih dan tercantik di sana,” tulis Money.

  • Biang Kerok di Balik Wabah Pes

    PENYAKIT pes tidak begitu dikenal hari ini. Teknologi kedokteran berhasil memberantas penyakit mematikan inisejak lama. Tak ada pes yang mengerikan seperti di abad pertengahan. Namun, pes masih tetap eksis kendati sedikit. WHO mencatat, sepanjang 2010-2015 ada 3248 kasus pes di dunia dengan 584 kematian. Epidemi paling parah terjadi di Kongo, Madagaskar, dan Peru. Di Indonesia, pes sudah hampir dilupakan. Padahal, penyakit ini pernah amat menakutkan kala mewabah di Malang dan menyebar ke seantero Jawa pada paruh pertama abad ke-20. Keadaan itu membuat pemerintah kolonial Belanda serius menanganinya lantaran ada pengalaman pahit wabah pes di Eropa yang membunuh 60 persen populasi. Peristiwa mengerikan yang terjadi pada abad ke-14 itu dikenal dengan nama Black Death. Penderita Black Death akan mengalami kematian jaringan pada ujung jari tangan, kaki, atau hidung hingga warnanya menghitam. Dunia medis menamakan pes jenis ini septicemic plague, yang menyerang aliran darah. Jenis ini paling berbahaya karena penderitanya bisa mati bahkan sebelum gejala muncul. Penyakit ini ditandai dengan pendarahan, bagian tubuh yang menghitam, nyeri perut, diare, muntah, demam, dan lemas. Namun, sejatinya ada tiga jenis serangan penyakit pes. WJ Simpson dalam A Treatise On Plague menyebut, jenis pes lainnya ialah bubonic plague, yang menyerang sistem limfatik (sistem imun). Gejala pes limfatik muncul setelah penderita tiga hari terjangkit. Penderita pes jenis ini akan mengalami pembengkakan pada kelenjar getah bening yang terdapat di lipatan paha, ketiak, atau leher. Benjolan ini terasa lunak dan hangat ketika dipegang. Gejala lain umumnya berupa demam, menggigil, pusing, lemas, nyeri otot, serta kejang. Pes juga bisa menyerang paru-paru ( pneumonic plague ). Pes jenis ini, yang disebabkan bakteri yersinia pestis, paling cepat mengakibatkan kematian. Gejalanya bisa terlihat dalam beberapa jam setelah seseorang digigit kutu tikus. Begitu terinfeksi, penderita akan sesak nafas hingga batuk-batuk. Gejala lain yang ditermui bila terinfeksi ialah batuk darah, muntah, demam tinggi, pusing, serta lemas. “Setelah mewabah di Eropa dan mematikan banyak orang, ahli medis belum tahu persis penyebabnya. Lalu dilakukan banyak penelitian sampai akhirnya ditemukan bakteri yang terdapat di kutu tikus tahun 1800-an,” kata Martina Safitry, dosen sejarah IAIN Surakarta yang pernah meneliti sejarah wabah pes di Jawa untuk tesisnya, kepada Historia . Penemuan bakteri yersiniapestis sendiri terjadi ketika wabah pes mencapai Hong Kong pada 1894. Ahli bakteriologi Jepang Shibasaburo Kitasato berangkat untuk meneliti penyakit itu pada Juni 1894. Di saat bersamaan, Alexandre Yersin dari Institute Pasteur juga berangkat ke Hongkong atas perintah menteri kolonial Prancis. Keduanya menemukan jenis bakteri baru dalam tubuh pasien pes dan organ tikus mati di daerah wabah. Kitasato menjadi orang pertama yang mempublikasikan temuan mikroorganisme baru, di jurnal kesehatan The Lancet pada 25 Agustus 1894. Namun, identifikasi bakteri baru yang dilakukan Kisato diragukan karena keterbatasan teknis. Maka, deskripsi Yersin yang dipublikasikan setelahnya yang dianggap lebih akurat. Pada 1970, nama Yersin kemudian dipakai untuk menyebut bakteri penyebab pes, yersinia pestis . Menurut Hartmut Dunkelberg dalam “The History of The Plague and The Research on The Causative Agent Yersinia Pestis”, sebelum nama Yersin dipakai untuk menyebut penyebab penyakit, nomenklatur yang digunakan antara lain bakteri pestis hingga 1900, bacilluspestis hingga 1923, dan pasteurellapestis , merujuk lembaga yang menaungi Yersin. Temuan Kitasato dan Yersin menggiatkan penelitian tentang penyakit pes. Pada akhir abad ke-19, beberapa peneliti mencari pola-pola penyebaran wabah dan cara-cara penularan pes. Masanori Ogata, misalnya, meneliti penyebaran pes di Taiwan pada 1896. Ia menemukan bahwa cairan tubuh kutu yang masuk ke dalam tubuh tikus bisa menyebabkan binatang pengerat itu terkena pes. Dari sini anggapan bahwa tikus sebagai penyebab pes tidak sepenuhnya benar. Kutu-kutu tikuslah yang jadi biang kerok. Hasil riset Ogata serupa dengan temuan Paul-Louis Simond yang meneliti pes di India. Simond menemukan peran besar kutu tikus dalam penyebaran pes. Pada 1902 di Marseille, J.C. Gauthier dan A. Raybaud meneliti dengan menempatkan dua tikus pada kandang yang disekat jala. Kandang ini memungkinkan kutu berpindah tempat tanpa ada kontak antartikus. Mereka menggunakan dua spesies kutu yang berbeda dalam percobaan ini. Hasilnya, mereka menemukan pes dapat ditularkan antardua tikus tanpa kontak tubuh langsung. Kutu-kutu tikuslah yang bekerja dengan melompat dari satu inang ke inang lain. “Ketika pes melanda Jawa, penelitian yang telah dilakukan sebelumnya jadi bekal ahli medis Belanda memberantas pes di negeri jajahan. Tikus-tikus yang mati langsung diperiksa,” kata Martina.

  • Melihat Budapest Lewat Kanvas

    KEDUTAAN Besar Indonesia untuk Hungaria hendak mengadakan pameran bersama antara seniman Indonesia dan Hungaria. Para pelukis Indonesia akan diberangkatkan ke Budapest, Hungaria untuk observasi dan penggalian ide lukisan. Sebaliknya, perupa Hungaria akan berkunjung ke Indonesia guna mencari ide. “Ini bisa sekalian jadi promosi pariwisata kita,” kata Duta Besar Indonesia untuk Hungaria Dimas Wahab. Pameran bersama ini diprakarsai Dimas Wahab. Dua orang kurator dipilih untuk menanganinya, yakni budayawan Toeti Heraty dan Ari Kupsus, pemilik gallery di Budapest. “Budapest, Hongaria sering disebut Parisnya Eropa Tengah. Di sana penuh peninggalan budaya karena pernah dikuasai Romawi, Mongolia, Turki, Austria, dan pernah jadi bagian dari Uni Soviet,” kata Toeti Heraty dalam konferensi pers di Roosseno Plaza, Rabu (17/07/2019). Budapest merupakan gabungan dua kota yang dipisahkan Sungai Danube, yakni Kota Buda (Obuda) dan Pest di sebelah kiri sungai. Setelah jembatan rantai Széchenyi dibangun pada 1839 di bagian anak sungai Danube yang menyempit, kedua kota pun terhubung. Pada 17 November 1873, gabungan dua kota itu diresmikan menjadi Budapest. Penemuan arkeologis membuktikan adanya permukiman besar suku Celtic di Budapest selama ribuan tahun. Mereka menetap di kedua tepi Sungai Danube sejak abad ke-3 SM. Bangsa seperti Romawi, Turki, Jerman, Latin dan pedagang muslim dari Bulgaria juga pernah bermukim di sini. Periode besar pertama pembangunanan Buda (sebelah kanan Sungai Danube) terjadi pada paruh kedua abad ke-13. Beberapa gereja dan biara didirikan, di antaranya Gereja Bunda Maria (sekarang Gereja Matthias) dan Gereja St. Mary Magdalene. Pembangunan skala besar antara abad ke-14 dan ke-16 membentuk pola jalan dan tata letak kota Buda yang tidak berubah hingga hari ini. Sementara, Kota Pest berada di posisi penting rute perdagangan ke Eropa Barat, dikenal sebagai Jalan Kiev. Pada abad ke-11, tembok yang jadi cikal-bakal Gereja Dalam Kota Parish dibangun di atas tembok bekas kamp Romawi. Populasi kota Pest tumbuh pesat pada paruh pertama abad ke-13, mayoritas orang Jerman. Perkembangan Kota Buda dan Pest kemudian terhenti lantaran kalah perang dari Turki pada 1526. Sebagian penduduk kaya melarikan diri keluar kota Buda, sementara seluruh Hungaria berada di bawah kekuasaan Turki dari 1541 hingga 145 tahun kemudian. Institute Riset Metropolitan Urbanisztika menyebut pada abad ke-19 Budapest dikuasai Kekaisaran Austro-Hungaria sampai Perang Dunia I. Hingga empat dekade terakhir abad ke-19, gaya romantis dominan dalam rancang-bangunan di Budapest. Gaya Art Nouveau ini jadi upaya sadar menciptakan gaya nasional, seperti terdapat pada bangunan Museum Seni Terapan (Museum of Applied Arts, Budapest) karya Odon Lechner. Ketika Hungaria dikuasai Jerman-Nazi pada Perang Dunia II, pembangunan dihentikan. Kondisi Hungaria kacau-balau selama delapan bulan. Budapest sendiri jadi medan pertempuran selama dua bulan. Pengeboman dan baku tembak merusak 75 persen bangunan di Budapest. Hanya sekira 10 ribu bangunan yang tersisa tanpa cacat. Suasana gawat itu baru berhenti ketika Hungaria dibebaskan tentara Soviet yang berhasil memukul mundur pasukan Jerman. Sejak itu, Hungaria menjadi bagian blok Timur. “Setelah Perang Dunia II, Budapest masuk Uni Soviet dan jadi komunis,” kata Toeti. Runtuhnya Uni Soviet mengakhiri pula komunisme di Hungaria. “Pada 1989 (Hungaria, red .) bertransformasi jadi negara demokrasi. Sejarahnya sudah dimulai dari dari dua ribu tahun lalu. Jadi, akan ada banyak jejak-jejak kebudayaan yang bisa digali untuk jadi sasaran seni di sana,” sambung anak mendiang Ir. Roosseno itu. Beberapa seniman Indonesia yang akan diberangkatkan antara lain Afriani, Hardi, Baron Basuning, Tatang Ramadhan Bouqie, dan Hannyoto Roosseno. Mereka akan mengunjungi Budapest pada September 2019 dan menginap di kastil milik Ari Kupsus. Hardi merupakan pelukis yang menjadi salah satu pencetus Gerakan Seni Rupa Baru. Karya-karyanya kebanyakan mengambil tema realisme sosial. Semasa Orde Baru, Hardi yang menampilkan diri sebagai presiden tahun 2001 lewat pamerannya di Taman Ismail Marzuki, dicap melakukan tindakan subeversif. Sementara, Hannyoto merupakan seorang arsitek sekaligus perupa. Dia mempopulerkan gaya gedung berpilar ke Jakarta pada 1970-1980-an. Pada 2006, Hannyoto memenangkan penghargaan arsitektur terbaik Skala +02. “Lukisan jadi penghubung kerjasama dua negara ini karena Hungaria dikenal sebagai kota seni,” kata Dimas Wahab. Pameran akan diselenggarakan pada Oktober mendatang di Indonesia dan Hungaria. Pameran di Hungaria berbarengan dengan Indonesian Food Festival di Budapest sehingga akan ada satu rangkaian pemeran tentang budaya Indonesia, baik makanan maupun lukisan.

  • Sirkuit Jalanan Lintas Zaman

    EUFORIA bercampur rasa penasaran begitu terasa di hati begitu satu per satu mobil Formula One (F1) menampakkan diri di depan mata saya, yang duduk di tribun Nicoll Highway, menjelang start Grand Prix Singapura 2014. Itu kali pertama saya menyaksikan langsung balapan F1, 21 September 2014. Perasaan itu masih bertahan di lap - lap awal. Para pembalap masih sengit saling beradu skill di balik kemudi mobil masing-masing. Tapi beberapa lap kemudian, utamanya saat jarak masing-masing mobil melebar, kantuk mulai menyerang mata. Rasa kantuk itu baru buyar kala pembalap tim Sauber Adrian Sutil bertabrakan dengan pembalap tim Force India Sergio Pérez, tepat di depan mata. Para penonton lain di tribun tak kalah kaget. Selain jadi debut menyaksikan balapan F1 secara langsung, itu juga jadi momen pertama saya merasakan atmosfer balapan malam di Marina Bay Circuit. Arena balap ini merupakan sirkuit jalanan yang disediakan pemerintah Singapura untuk masuk kalender F1 sejak 2008. “Anda harus punya dukungan penuh dari pemerintah. Kalau pemerintah tidak aktif bergerak, akan sulit bisa membawa F1 ke Indonesia,” kata Fiona Smith, asisten Direktur Media dan Komunikasi GP Singapore PTE. Ltd,kala berbincang di executive box Sirkuit Marina Bay pada malam sebelum race. Kendati mesti bermodal besar, kata Fiona, ajang F1 jadi investasi menguntungkan buat perekonomian negerinya. “GP Singapura sangat berperan besar secara signifikan untuk meningkatkan pelancong (mancanegara, red ) datang ke sini. Begitupun dengan perekonomian negara. Contoh singkat, hotel-hotel di sini hampir semua pasti penuh ketika F1 dan mereka tentu pasang harga dua atau tiga kali lipat dari biasanya,” sambungnya. Indonesia sedianya pernah ingin menggelar F1 dengan mem bangun Sirkuit Sentul pa da 1990-an , namun batal. B elakangan , upaya mengikuti jejak Singapura mencuat. Mengutip Kumparan , 14 Juli 2019, Pemprov DKI Jakarta siap membawa ajang balap mobil Formula ke ibukota. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) saat mengunjungi race Formula E di New York (Foto: Twitter @aniesbaswedan) Bukan F1 memang yang akan dibawa ke ibukota, melainkan Formula E aliasajang balapan mobilbertenaga listrik internasional. Gubernur DKI Anies Baswedan menyatakan, pihaknya sudah bernegosiasi dengan FIA selaku badan yang menaungi ajang-ajang balapan dunia. Perwakilan Formula E juga sudah datang untuk mengecek area-area yang akan disiapkan untuk jadi sirkuit jalanan pada 8-9 Juli 2019. Dua rute yang disiapkan yakni di seputaran tenggara Silang Monas dan Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Kendati begitu, dilansir Motorsport edisi 14 Juli 2019, FIA Formula E menyatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap pembicaraan serius. Pun begitu mereka belum bisa menyampaikan pengumuman resminya. Sirkuit Jalanan Tertua Jika Formula E jadi dihelat, Indonesia bakal mengikuti atau bahkan menyaingi Singapura sebagai satu-satunya pemilik sirkuit jalanan dan balapan malam di Asia. Sirkuit jalanan merupakan pengalihfungsian sementara waktu jalur lalu lintas untuk arena balapan. Lazimnya, sirkuit jalanan berada di kota-kota metropolitan. Alasannya, untuk mendongkrak turisme. S irkuit jalanan tertua yang masih digunakan untuk balapan jet darat adalah Circuit de Monaco yang berad a di Monako, negeri seluas 202 hektar di selatan Prancis yang benderanya sama dengan Indonesia . Esksistensi balap jalanan sendiri dimulai pada akhir abad ke-20. Umumnya, trek balap jalanan itu antarkota. Paris-Amsterdam-Paris Race yang diadakan Automobile Club de France (ACF) pada 1898, contohnya. Ada pula Eifelrennen, yang dihelat sejak 1922,dengan treknya membentang dari kota Nideggen-Wollersheim-Vlatten-Heimbach-Hasenfeld di Pegunungan Eifel, Jerman. Namun, balapan di jalanan itu belum tergolong balap di sirkuit jalanan. Jika menyebut sirkuit jalanan resmi pertama, Circuit de Monaco-lah tempatnya. Arenanya yang membentang sepanjang 3,145 kilometerdi areal metropolitan Monte Carlo, menurut Malcolm Folley dalam bukunya Monaco: Inside F1’s Greatest Race , memang dipersiapkan oleh Automobile Club de Monaco (ACM). “Gagasannya muncul dari Antony Noghès yang ingin mengadakan balapan di jalanan Monaco, di mana jalannya masih berupa jalanan batu. Di beberapa seksi jalannya juga masih beriringan dengan rel trem. Ide itu dimunculkannya saat rapat umum luar biasa, seiring pergantian nama dari Sport Automobile Vélocipédique de Monaco (SAVM) menjadi Automobile Club de Monaco, 29 Maret 1925.” Antony Noghès merupakan putra dari bos rokok Alexandre Noghès. Antony sejak 1925 menggantikan ayahnya sebagai presiden ACM. Disokong bantuan Pangeran Monaco, Louis II, Noghès memprakarsa Grand Prix Monaco pertama pada 14 April 1929. Hanya 16 pembalap undangan yang berkompetisi di balapan untuk memperebutkan hadiah 100 ribu franc itu. Dari 100 lap , pembalap tim Bugatti T35B asal Inggris William Grover-Williams jadi pemenangnya. Gelaran balap di Circuit de Monaco pada 1929 (Foto: Repro Monaco: Inside F1's Greatest Race) Dari penggunaan awalnya tahun 1929 sampai 2019, treknya hanya mengalami perubahan panjang trek sekira 200 meter. Kendati begitu, Sirkuit Monako begitu ikonik lantaran punya ketinggian berbeda-beda dan treknya sempit dengan sejumlah belokan tajam dan berbahaya. “Ibarat naik sepeda di ruang keluarga,” ujar eks pembalap F1 Nelson Piquet kepada Motorsport , 24 Mei 2011. Jika tak benar-benar mahir , siap-siap didatangi insiden. Dari sejumlah kecelakaan,  ada empat pembalap yang mesti tutup karier dan usia di sirkuit itu. Se telah y a ng pertama Norman Linnecar pada 1948, ada Luigi Fagioli pada 1952, Dennis Taylor pada 1962 , dan Lorenzo Bandini pada 1967. Kendati disebut sirkuit yang menakutkan, Monaco tetap dianggap sebagai sirkuit terbaik oleh pembalap F1 Lewis Hamilton. “Seperti naik rollercoaster yang paling menakutkan. Memang menakutkan tapi karakter treknya keren dan membuat Anda merasakan semua emosi menjadi satu,” ujarnya, dikutip The Telegraph , 23 Mei 2014.

  • Kala Black Death Hampir Memusnahkan Eropa

    BAGI anak muda kini, penyakit pes terdengar asing. Padahal, penyakit itu pernah mematikan di awal abad ke-20, terutama di Jawa. Jauh sebelum pes menyerang Jawa, penyakit ini jadi ancaman di Eropa. Orang-orang menyebutnya dengan The Black Death. Nama yang merupakan terjemahan dari bahasa Latin atra mortem ini muncul dari gejala yang dialami penderita. Kulit mereka menghitam, biasanya di bagian jari tangan, jari kaki, atau ujung hidung. Kehitaman itu muncul akibat adanya jaringan yang mati. Ketika mewabah pada abad ke-14, Black Death membunuh 50 juta orang. Dengan kata lain, mengurangi 60 persen populasi Eropa.

  • Enam Aktor di Balik Topeng Spider-Man

    Aktor Spiderman dari masa ke masa

  • Balada Meriam Hasan

    MEMASUKI tahun 1947, serbuan tentara Belanda makin menggila di Medan Area. Hampir setiap hari pesawat pemburu mereka mondar-mandir keliling kota Medan. Tembakan dari udara menghujani kubu-kubu pasukan Republik, khususnya yang berada di front barat. Di sini, banyak orang-orang Aceh yang tergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) . “Pada tanggal 5 Januari 1947, mereka membom serta menghujani Sungai Semayam dengan tembakan dan serangan-serangan dari udara. Serangan udara Belanda datang secara bertubi-tubi tanpa mengenal ampun,” ujar Nukum Sanany kepada penulis B. Wiwoho dalam Pasukan Meriam Nukum Sanany . Serangan udara Belanda mengakibatkan korban berjatuhan. Dua orang luka-luka berlumuran darah dan seorang lainnya tewas. Prajurit yang gugur itu bernama Kopral Suparman yang berasal dari Batalion IX. Kapten Nukum Sanany, komandan pasukan meriam RIMA memutuskan memindahkan basis pertahanan dari Sungai Semayam ke Kampung Lalang. Untuk menghindari serangan udara musuh, kubu pertahanan diperkuat dengan membuat parit-parit dan benteng. Pada saat-saat demikian, terjadilah suatu lelucon di tengah perang. Seorang prajurit bernama Hasan Cumbok bikin ulah. Pangkatnya sersan satu dan bertugas sebagai komandan meriam ukuran pucuk 13 ponder. Sebagaimana dicatat Amran Zamzami dalam Jihad Akbar di Medan Area , sebelum bergabung dengan pasukan meriam, Hasan pernah menjadi pasukan Heiho di zaman Jepang.  Prajurit Aceh asal Pidie ini berpendidikan rendah namun wataknya keras nan berani. Sekali waktu Hasan Cumbok nekat membawa meriam ukuran 18 ponder kaliber 7,5 ke Sungai Sikambing.  Tanpa instruksi komandannya, Hasan langsung melepaskan sebanyak dua kali dengan jarak maksimal. Hasan menargetkan markas tentara Belanda akan hancur lebur kena hantam meriamnya. Menurut Nukum Sanany, Hasan belum begitu lama mengikuti latihan menembak meriam sehingga kurang menguasai sepenuhnya teknik pengoperasiannya. Dalam aksi solonya itu, Hasan mengabaikan berbagai hal, mulai dari cara bidik, mengukur jarak tembak, elevasi, dan koordinat tembakan. Tidak ayal, tembakannya melampaui sasaran. Alih-alih mengenai tentara Belanda, tembakan Hasan malah nyasar ke kawan sendiri. Peluru-peluru meriam jatuh di kota Matsum dan Tembung. Dua kawasan ini merupakan kubu pertahanan Republik yang berada di front Medan Timur. “Sebagai Komandan, bukan alang kepalang marah saya menyaksikan kelancangannya. Namun demikian saya berusaha menahan sabar seraya memaklumi kegelisahan anak-anak anggota pasukan yang belum terlatih betul,” kenang Nukum Sanany. Laporan dari komandan seksi Hasan menyebutkan bahwa Hasan ingin membalas dendam karena menyaksikan rekan-rekannya diterjang peluru pesawat pemburu Belanda. Dia tidak peduli perintah komandan, tidak peduli koordinasi, tak peduli strategi dan taktik. Emosinya yang meluap menyingkirkan akal sehat.  “Yang penting hutang nyawa dibayar nyawa, hutang darah dibayar darah. Kalau lawan bertolak pinggang kita pun harus melakukan hal yang sama,” kata Amran Zamzami sang komandan seksi. Pada 8 Januari 1947, persiapan parit-parit dan kubu pertahanan pasukan meriam di Kampung Lalang rampung. Namun kisah Hasan dan meriamnya tetap menjadi pembicaraan yang menggelikan di kalangan pasukan meriam.  Di kemudian hari, apa yang dilakukan Hasan Cumbok ini menjadi bahan tertawaan dan ejekan terhadap Pasukan Artileri RIMA.

  • Muasal Sub-Zero yang Diperankan Joe Taslim

    PASANG kuda-kuda, pusatkan konsentrasi terhadap lawan, Fight! Masih ingat dengan aba-aba itu? Jargon-jargon itu kondang berkat populernya video gim Mortal Kombat , gim pertarungan paling beken era 1990-an sebagai pesaing Street Fighter dan Tekken . Meski mulanya sekadar arcade game , Mortal Kombat sukses saat diangkat ke layar lebar pertamakali pada 1995. Dua tahun berselang, sekuelnya dilanjutkan dengan judul Mortal Kombat: Annihilation . Buat para penggemarnya, kini ada kabar gembira. Mortal Kombat bakal di- reboot sutradara Simon McQuoid dengan diproduseri James Wan di bawah rumah produksi Atomic Monster . Sementara Greg Russo didapuk jadi penulis naskahnya. Menariknya, mengutip The Hollywood Reporter , Selasa (9/7/2019), James sudah deal dengan aktor pertama untuk memerankan karakter Sub-Zero, yakni aktor Indonesia Joe Taslim. Sebetulnya, sempat muncul nama aktor Jepang Hiroyuki Sanada untuk memerankan Sub Zero yangbernama asli Bi-Han itu. Namun, Joe Taslim yang akhirnya terpilih memainkan petarung yang punya kekuatan pukulan es mematikan itu. “Saya menjadi (Sub) Zero karena Anda (para fans) nomor satu bagi saya! Terimakasih semua atas support- nya selalu,” ungkap Joe Taslim di akun Twitter -nya, @Jota, 10 Juli 2019. Aktor laga berusia 38 tahun yang mantan atlet pencak silat, wushu, taekwondo, dan judo itu sejak beberapa tahun terakhir laris di Hollywood selepas keterlibatannya dalam film The Raid (2011). Peraih medali emas Kejuaraan Judo Asia Tenggara 1999 dan perak di SEA Games 2007 itu berturut-turut digaet untuk membintangi sejumlah film box office , mulai dari Fast & Furious 6 (2013) hingga Star Trek Beyond (2016). Dipilihnya Joe Taslim ditengarai tak lepas dari kesuksesannya dalam seri action yang diputar di Netflix, Warrior . Joe berakting apik sebagai salah satu kombatan brutal dalam sinema laga itu. Karakter Sub-Zero dalam gim Mortal Kombat 11 (Foto: mortalkombat.com) Mortal Kombat yang akan dibintangi Joe tergolong “Rating-R” alias penuh adegan brutal dan diharamkan ditonton anak-anak. “MK ( Mortal Kombat ) akan jadi film Rating-R dan untuk pertamakali, Fatalities akan disajikan di layar lebar. Anda harus menanti apa kejutan fatalities -nya,” kata Russo di Twitter -nya, @WriterRusso, 12 Juli 2019. Namun, para penggemar dan penikmat gim serta filmnya mesti bersabar. James dkk. menetapkan waktu rilisnya medio Mei 2021. Bulan ini disebutkan proses produksinya masih dalam tahap persiapan di Australia. Beberapa karakter lainnya juga belum diresmikan kendati rumor para calon pemeran sudah menyebar sejak Juni. Situs fortressofsolitude.co.za pada 27 Juni 2019 sempat melempar sejumlah nama itu, seperti Jin Zhang dan Sung Kang untuk peran Liu Kang, dan ken Watanabe untuk Shang Tsung. Alkisah Dua Ninja Bersaudara Sebagai salah satu karakter pionir di gim Mortal Kombat milik Midway Games yang dirilis pertamakali tahun 1992, Sub-Zero lahir dari tangan desainer gimnya, John Tobias dan Ed Boon. Gagasan awal penciptaannya bermula dari kekaguman Tobias akan karakter Lin Kuei sebagai ninja versi China dalam buku The Chinese Ninja Connection karya Li Hsing. Dibantu rekan desainer lainnya, Richard Divizio, Tobias melakoni sejumlah trial and error kala menggoreskan sosoknya di sejumlah lembar kertas catatan 27 tahun lampau. Awalnya dia hanya menyebut karakter barunya itu dengan sebutan “Ninja”, sebagaimana desain awalnya berkostum perpaduan antara ninja asli Jepang dan versi China. Dalam perkembangannya sebelum ikut dimasukkan ke gim, karakter itu diberi nama Sub-Zero. Tobias juga merevisi ciri-ciri fisiknya demi membedakan dengan karakter Lin Kuei di buku Li Hsing. Untuk latar belakang karakternya, mengutip Majalah MEL edisi 26 November 2018, Tobias punya gagasan bahwa karakternya merupakan dua kakak-beradik yang dinamai Bi-Han (Sub-Zero) dan Kuai Liang (Tundra). Keduanya dikisahkan punya ambisi merebut kekuasaan dalam klan mereka dengan membunuh ayah mereka sendiri. Keduanya lantas jadi buron para anggota klan. Untuk keperluan grafis di gimnya, Tobias meminta Daniel Pesina untuk melakoni gameplay -nya. “Pertamanya ia ingin membuat cerita bahwa dua ninja bersaudara ini akan bertarung satu sama lain. Saya usulkan bahwa saudara tak boleh saling pukul. Lalu John punya ide lain bahwa ceritanya dua ninja ini akan membunuh ayahnya demi jadi pemimpin klan dan akhirnya itu yang dipakai,” ujar Pesina kepada MEL . Dalam gameplay , Pesina memainkan karakter Bi-Han/Sub-Zero dengan finishing khas berupa pukulan pemenggal kepala dan pukulan es yang membuat musuh jadi beku lantas hancur. Dalam gimnya, itu dibuat Tobias dan Boon jadi lebih brutal dan sadis demi membedakan diri dari dua pesaingnya, Street Fighter dan Tekken. Sketsa awal Sub-Zero karya John Tobias (Foto: Twitter @therealsaibot) Dalam gim pertamanya itu, nasib Bi-Han/Sub-Zero dibuat tewas dalam sebuah turnamen oleh petarung lain, Scorpion. Bi-Han lantas jadi mayat hidup dan karakternya diubah dengan nama Noob Saibot, yang namanya merupakan kombinasi dua nama belakang terbalik kreator Mortal Kombat: Boon dan Tobias. Untuk melanjutkan kisahnya, Sub-Zero digantikan adiknya, Kuai Liang, yang dikreasikan Tobias hampir mirip sang kakak namun tanpa topeng ninja. Kuai Liang sebagai Sub-Zero langsung dimunculkan dalam sekuel gimnya yang rilis 1993, Mortal Kombat II. Dalam layar perak, di mana Mortal Kombat diangkat dengan tajuk yang sama pada 1995, sosok Sub-Zero versi Bi-Han diperankan aktor laga François Petit. Sementara di sekuelnya, Mortal Kombat: Annihilation (1997), Sub-Zero versi Kuai Liang diperankan aktor blasteran Jepang-Amerika Keith Cooke. Menarik dinantikan bagaimana Joe Taslim akan memainkan peran unik ini dua tahun mendatang.

  • Soe Hok Gie dan Harta Karun Watanabe

    AGUSTUS 2000. Telepon di meja Rudy Badil berbunyi nyaring. Pada dering kedua, jurnalis senior Kompas itu lantas mengangkatnya. Terdengarlah suara lelaki berdialek Jawa di seberang sana, memperkenalkan diri sebagai wakil dari sebuah perusahaan ternama di Surabaya. Kepada Badil dia menawari sebuah pekerjaan besar: proyek pencarian harta karun peninggalan tentara Jepang senilai 82,62 trilyun rupiah! “Mereka bilang memerlukan saya sebagai konsultan. Kerjanya cuma masuk hutan sesuai arahan peta, lalu menafsirkan isi kalimat proposal dan meriset data kepustakaan guna mendukung mega proyek itu,” kenang Rudy kepada Historia . Yang paling mengagetkan Badil, proyek itu ternyata tersangku paut dengan sahabatnya, Soe Hok Gie. Menurut cerita sang empu pekerjaan, Soe waktu studi ke Kanada dan Jepang pernah mempelajari suatu naskah harta karun yang disembunyikan di Gunung Semeru oleh seorang perwira Jepang bernama Watanabe pada 1944. Dokumen Watanabe  inilah yang dibawa oleh Soe ke Puncak Mahameru pada Desember 1969. Takdir menentukan Soe harus tewas di Mahameru, puncak tertinggi Gunung Semeru. Saat proses evakuasi, dokumen itu ditemukan oleh pemimpin SAR. “Lalu entah gimana ceritanya, dokumen terjemahan itu ada di tangan seseorang, yaa sebut saja namanya A-deh. Orangnya gua kenal kok,” ungkap Rudy Badil. Sejak itulah, mulai 4 Oktober 1976, selalu ada tim khusus yang diberangkatkan ke Puncak Mahameru secara diam-diam. Namun karena masalah beaya, “rahasia” harta karun Watanabe itu kemudian dibagikan kepada perusahaan tersebut dan disetujui untuk ditindaklanjuti. Maka terbentuklah Tim Pencari Lokasi Simpanan Harta Karun Watanabe 1944. “ Gua lihat sendiri proposalnya yang berjudul “Mencari Potensi Alam dalam Rangka Menyongsong Otonomi Daerah Melalui Penggalian dan Pemanfaatan Peninggalan Jepang” tertanggal 23 Agustus 2000,” ujar penulis sakaligus fotografer itu. Disebutkan dalam proposal tersebut, berita itu bukanlah sekadar rumor belaka. Ada beberapa nama saksi di sana yang dijelaskan merupakan mantan pekerja romusha dan pegawai di era revolusi. Tentu saja tak ketinggalan dokumen Watanabe yang katanya telah diterjemahkan oleh Soe Hok Gie menjadi data-data penguat keberadaan harta karun itu. “Mereka juga bilang, bukti di lapangan juga sudah ada yakni seringnya orang-orang datang ke lokasi untuk melakukan pencarian harta karun dengan cara menggali secara manual,” tutur Badil. Situasi semakin “seru” manakala Pemda Provinsi Jawa Timur pada 24 Maret 2000 menyurati jajarannya agar meneliti dan mengecek soal harta karun itu. Mereka rupanya “ngiler” juga mendengar isi harta karun itu yang (katanya) terdiri dari perhiasan emas, emas lantakan, berlian, mutiara dan emas putih yang konon ditempatkan dalam sebuah gua rahasia.  Disebutkan pula adanya alat-alat perang (seperti senjata, tank, ranpur dan granat) yang masih tertinggal di sana. “Makanya kata mereka, bawanya harus hati-hati dan melibatkan militer, karena gua itu juga penuh dengan jebakan berupa ranjau darat dan gas beracun yang dialirkan melalui pipa. Pokoknya kayak di film-film deh,” kata Badil sambil tertawa. Secara pribadi, Badil sendiri tak pernah menganggap serius cerita itu. Selain banyak bohongnya (misalnya soal Soe yang pernah ke Jepang), dia juga tahu pasti bahwa pimpinan SAR yang disebut-sebut sebagai awal dari munculnya cerita itu tak lain adalah Herman O. Lantang, sahabat Badil dan Soe. Saat melakukan pendakian ke Semeru pada Desember 1969, mereka merupakan kawan satu tim juga. Ketika Badil memperlihatkan salinan proposal itu kepada Herman, sesepuh MAPALA UI itu hanya tertawa geli saja. “Orang banyak yang aneh-aneh saja ya. Pimpinan SAR yang tak pernah ada itu pintar menjual sensasi dan informasi tipu-tipu…” ujar Herman seperti dikutip Badil dalam buku Soe Hok Gie Sekali Lagi . Soal isu harta karun Jepang itu sebenarnya bukan soal yang asing bagi para penduduk di sekitar Lumajang dan Malang Selatan. Terlebih pada 1946-1949, wilayah Gunung Semeru dan sekitarnya,  pernah menjadi  basis sekira 30 eks tentara Jepang yang membelot ke pihak Republik Indonesia pimpinan Mayor Tatsuo Ichiki alias Abdul Rachman. “Pak Tatsuo ini adalah kawan baiknya Pak Zulkifli Lubis, yang mendrikan pertama kali lembaga intel di Indonesia,” ujar Shigeru Ono, salah satu dari 30 eks tentara Jepang itu, kepada saya pada 2013. Di antara nama-nama rekannya di Pasukan Gerilya Istimewa (kesatuan yang dibentuk oleh eks tentara Jepang tersebut), Shigeru Ono sendiri tak pernah menyebut nama Watanabe. Namun mengenai penyembunyian senjata, amunisi, logistik dan sejumlah meriam di sebuah gua di Garotan (Malang Selatan bukan Lumajang) diakui oleh Shigeru dan dikonfirmasi dalam tulisan Letnan Kolonel AL (Purn) Satmoko Tanoyo dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid V .

  • Enam Wajah di Balik Topeng Spider-Man

    HABIS Tobey Maguire dan Andrew Garfield, terbitlah Tom Holland. Tiga aktor itu menjadi pemeran Peter Parker alias Spider-Man paling populer dan timeless , utamanya bagi para fans Marvel Cinematic Universe (MCU). Holland jadi pujaan baru setelah era Tobey dan Garfield. Holland kembali beraksi sebagai Peter Parker dalam sekuel Spider-Man: Far From Home , produksi ke-23 franchise MCU yang rilis sejak 2 Juli 2019. Demam filmnya tengah mewabah pasca- Avengers: Endgame , termasuk di tanah air. Debut Holland memerankan Spider-Man sendiri berlangsung di garapan ke-13 franchise MCU, Captain America: Civil War (2016). Lantas, berturut-turut Holland membintangi Spider-Man: Homecoming (2017), Avengers: Infinity War (2018), hingga Avengers: Endgame (2019), dan Far From Home (2019). Sejak itu, nama Holland selalu dibanding-bandingkan dengan Tobey Maguire dan Andrew Garfield oleh para fans Spider-Man di seantero bumi. Siapa di antara ketiganya yang paling top, masing-masing fans tentu punya pilihan. “Saya lebih suka Tom Holland daripada Tobey atau Andrew. Tobey bagus sebagai Peter tapi tidak sebagai Spider-Man. Andrew bagus sebagai Spider-Man tapi tidak sebagai Peter. Dan, Tom bagus sebagai keduanya (Peter Parker dan Spider-Man),” tutur Ragina Oksavinata, salah satu penonton yang rajin mengikuti film-film Spider-Man sejak era Tobey Maguire. Founder Komunitas Marvel Indonesia Dedi Fadim juga cenderung memfavoritkan Holland. Menurutnya, di antara Maguire, Garfield, dan Holland, terlihat jelas perbedaan pendalaman karakternya. “Paling suka saat ini dengan Tom Holland karena dia bisa kasih lihat pengembangan karakternya. Dari film ke film ada peningkatan. Tobey bagus tapi selama tiga film karakternya enggak berubah, begitu juga Garfield,” ungkapnya kepada Historia . Namun, sambung Dedi, perbedaan ketiganya tak lepas dari soal versi komik ciptaan Stan Lee mana yang jadi sumbernya. Film-film Spider-Man sejak 2002 berhulu dari dua versi komik, yakni versi orisinil Earth 616 dan versi Ultimate Universe . “Di versi Earth 616 , Peter Parker jadi Spider-Man sejak kuliah dan jadi fotografer lepas. Sedangkan di versi Ultimate Universe , Parker lebih ke versi remaja. Tobey lebih masuk ke karakter original -nya menurut saya karena karakter dan kepribadiannya mirip banget: kutu buku, pintar, pemalu, dan fisik yang lebih cocok jadi superhero ,” sambungnya. Sedangkan Garfield disebut lebih mencerminkan Parker yang sudah ngampus , sudah bisa bersosialisasi, lebih dewasa menyikapi sesuatu dan enggak pemalu. Bawel, jahil, iseng dan ngocol . Sementara, Holland lebih mirip versi ultimate -nya karena jadi superhero pas usia pelajar dan kisahnya berlanjut di sekuelnya saat Parker masuk kuliah namun belum bekerja sebagai fotografer di The Daily Bugle . Namun, perbandingan ketiga nama di atas justru menenggelamkan beberapa nama lain yang pernah memerankan karakter bikinan legenda Stan Lee dan Steve Ditko pada 1962 itu. Dari total enam aktor pemeran Spider-Man, ada tiga nama sebelum Maguire, Garfield, dan Holland. Berikut ketiganya: Donald F. Glut (1969) Kendati low-budget dan berformat film pendek 12 menit , Donald F. Glut jadi pionir lewat peran dan karyanya dalam film Spider-Man yang dirilisnya pada 1969. Ini jadi kali pertama Spider-Man nongol di film live-action setelah Stan Lee dan Steve Ditko meluncurkan karakternya di komik tujuh tahun sebelumnya. Tentu, film ini digarap tanpa seizin Marvel Comics maupun Stan Lee. Glut dalam I Was a Teenager Movie Maker: The Book memaparkan, mulanya ia hanya seorang mahasiswa University of Southern California yang terinspirasi mengangkat karakter komik idolanya ke layar perak. Disebut amatiran karena Glut juga merangkap sebagai produser, sutradara, penulis naskah, pengisi narasi, editor tata suara, dan pemeran Spider-Man. Beberapa aktor lain turut dilibatkan dan diupah rendah. Salah satunya, Donna Shane. Dia berperan sebagai putri dari penjahat Dr. Lightning, yang diplot akan diselamatkan Spider-Man. “Filmnya dibuat film berwarna dan saya menggunakan banyak trik kamera, termasuk menggunakan miniatur, animasi stop-motion , hingga backward photography . Lokasi syuting dilakukan di Bronson Canyon dan Marlboro House, gedung apartemen tempat saya tinggal. Untuk menggambarkan Spider-Man memanjat gedung, kameranya saya miringkan,” terang Glut. Film ini mulanya hanya diputar di rumah sahabatnya, Michael Nesmith, di Hollywood Hills dengan proyektor pinjaman. Penontonnya sekadar keluarga Nesmith dan sejumlah fans plus teman-teman sekampus. Publik baru menyaksikan karyanya dalam rangkuman dokumenter I Was a Teenage Movie Maker (2006), di antara sejumlah karya-karya film pendek Glut lainnya. Nicholas Hammond (1977-1981) Aktor ini didapuk jadi pemeran Spider-Man pertama dalam film yang diproduksi secara profesional delapan tahun setelah versi amatir karya Glut. Hammond dipilih rumah produksi Danchuck Productions dan Marvel Television karena pengalamannya berperan sebagai aktor utama film legendaris The Sound of Music (1965). Hammond jadi ujung tombak film Spider-Man garapan sineas Egbert Warnderink Swackhamer produksi 1977 yang merupakan pilot project sebelum dilanjutkan dalam serial televisi 1978-1979. Hammond kembali memerankan Spider-Man dalam sekuel Spider-Man Strikes Back (1978) dan Spider-Man: The Dragon’s Challenge (1981). Namun, penampilan Hammond baik di versi film maupun seri televisi yang ditayangkan CBS justru bikin Stan Lee geleng-geleng kepala. “(Pemeran Spider-Man) terlihat seperti anak nakal…bodoh, terlalu kutu buku. Hasilnya jelek. Tidak ada humornya sama sekali. Penulis naskahnya terus membuat naskah yang buruk. Tidak terasa human interest -nya,” ujar Stan Lee sebagaimana dikutip Bob Batchelor dalam Stan Lee: The Man behind Marvel . Shinji Todo (1978) Aktor Jepang ini memerankan Spider-Man untuk versi Jepang. Seiring populernya serial Spider-Man versi televisi di Amerika Serikat pada 1978, perusahaan Jepang Toei Company membeli hak siarnya dari Marvel selama empat tahun. Inti perjanjiannya, tulis Shirrel Rhoades dalam Comic Book: How the Industry Works , Toei boleh memodifikasi sosok Spider-Man jika tak ingin menggarapnya mirip dengan versi Amerika. Jadilah Spider-Man yang diperankan Todo bukan ber-alter ego Peter Parker lagi, melainkan Takuya Yamashiro. Dalam versi Jepang, Takuya berprofesi sebagai pembalap motor. Todo mulanya terlibat dalam seri televisi dan kembali dilibatkan dalam spin-off berupa film Supaidaman yangberdurasi 24 menit dan dirilis 22 Juli 1978. “Diceritakan Takuya merupakan anak sulung ilmuwan astro-arkeolog Dr. Hiroshi Yamashiro. Takuya menjadi Supaidaman setelah ayahnya tewas usai menginvestigasi jatuhnya meteor yang ternyata membawa pasukan alien untuk menginvasi bumi,” urai Rayna Denison dalam tulisannya, “American Superheroes in Japanese Hands”, termuat dalam Superheroes on World Screens. Tobey Maguire (2002-2007) Sejatinya, Marvel dan Stan Lee ingin Spider-Man kembali nongol di layar lebar pada 1990-an. Namun, impian itu baru terwujud dua tahun setelah pergantian abad dengan mengandalkan Tobey Maguire di balik topeng Spider-Man. Ia jadi andalan dalam trilogi garapan Sam Raimi, Spider-Man (2002), Spider-Man 2 (2004), dan Spider-Man 3 (2007). Menjelang produksi Spider-Man (2002), Maguire bukan opsi pertama pilihan Sony Pictures selaku distributor utama. “Sony menginginkan nama-nama besar seperti Leonardo DiCaprio atau Freddie Prinze Jr. Namun sutradara Sam Raimi tak sependapat. Ia malah tertarik pada Maguire setelah melihat perannya di film The Cider House Rules (1999) karena keotentikan performanya,” sebut Mark Ginocchio dan Tom DeFalco dalam 100 Things Spider-Man Fans Should Know & Do Before They Die. Raimi mengajaknya audisi dan lulus jadi aktor utamanya. Sebelum masuk produksi, Maguire rela menyisihkan waktu hingga lima bulan latihan fisik, termasuk latihan beladiri. Keputusan Raimi berbuah manis lantaran triloginya yang melibatkan Maguire terbilang sukses besar hingga menyisakan kesan tersendiri bagi para fans. “Saya tak khawatir dianggap satu-satunya Spider-Man. Saya menunggu cukup lama dalam karier saya untuk menunjukkan bahwa saya punya karakter lain dalam diri saya,” ungkap Maguire, dikutip Philip Abraham dalam biografi Tobey Maguire . Andrew Garfield (2012-2014) Publik mengenang Garfield sebagai Spider-Man yang bukan tengah kasmaran dengan MJ alias Mary Jane Watson, kekasih Spider-Man paling dikenal. Dalam dualogi garapan sineas Marc Webb: The Amazing Spider-Man (2012) dan The Amazing Spider-Man 2 (2014), sang jagoan punya kekasih lain, Gwen Stacy. Cewek pirang teman satu sekolah Parker yang diperankan Emma Stone ini tak kalah jenius. Garfield merupakan pilihan utama sutradara Marc Webb, yang sebelumnya menyeleksi sejumlah calon. “Dia wajah baru dan saat casting , dia langsung punya chemistry dengan calon lawan mainnya, Emma Stone, padahal itu pertemuan pertama mereka. Dari gerak-geriknya dan bahasa tubuhnya, saya tahu dia cocok untuk jadi Peter Parker,” ungkap Webb, dikutip Movie Talk , 17 April 2012. Pilihan Webb terhadap Garfield ternyata tepat. Pendahulu Garfield, Tobey Maguire, merasa Garfield jadi pilihan pas buat film versi baru. “Saat tahu bahwa sutradara yang terlibat adalah Marc Webb, saya penasaran siapa yang akan jadi Peter Parker. Ketika saya dengar adalah Andrew, saya bilang, sempurna! Andrew aktor yang hebat,” tutur Maguire, dikutip VMan edisi Mei 2012. Tom Holland (2016- ) Ia jadi wajah baru Peter Parker/Spider-Man selepas masa Maguire dan Garfield. Seperti diuraikan di atas, Holland sudah terlibat di lima film MCU, termasuk yang terbaru Far From Home . Ia jadi pilihan utama produser Kevin Feige dan Amy Pascal setelah perannya di film The Impossible (2012), Wolf Hall (2015) dan In the Heart of the Sea (2015) dilihat sang produser. Ia digambarkan sebagai Peter Parker yang lebih muda dan memperlihatkan lebih detail soal problem sehari-hari yang dihadapi remaja usia 15 tahunan tapi tetap harus ikut menangkal kemungkaran. Di sini, Spider-Man juga punya tambatan hati yang serupa tapi tak sama, Michelle yang disapa MJ. Ya, bukan Mary Jane Watson sebagaimana kisah asalnya di komik atau eranya Tobey Maguire. “Memang di versi sekarang (Spider-Man versi MCU) ada pengembangan cerita. Biar tidak terlalu full action , dibuat sisi cinta remaja buat bumbu cerita. MJ-nya bukan yang kita kenal seperti umumnya. MJ-nya pun hanya nama panggilan. Jadi saya sendiri enggak pernah mengakui ini Mary Jane asli,” sambung Dedi Fadim. Namun setidaknya dalam film terbaru Holland sebagai Spider-Man, Far From Home, diselipkan satu adegan seorang cameo yang naga-naganya bakal dikaitkan dengan Spider-Man era Tobey Maguire. Apalagi kalau bukan kemunculan bos media The Daily Bugle yang ‘ nyolot ’, J. Jonah Jameson. Dalam credit title -nya, ia kembali diperankan J.K. Simmons, di mana aktor senior ini turut memerankan karakter yang sama di trilogi Spider-Man era Tobey Maguire. “Dia (J. Jonah Jameson) sangat cocok karena karakter ini salah satu bumbu serunya. Paling enggak, ada kemungkinan film berikutnya menceritakan karakter Peter Parker setelah kuliah dan kerja di Daily Bugle . Jameson memang diciptakan Stan Lee dengan kepribadian yang ‘ rese ’. Apapun demi dapat berita sensasional, selalu memutarbalikkan fakta karena enggak mau berita yang biasa saja agar rating medianya tinggi,” tandas Dedi.

  • Kepincut O-Bahn

    Mode Transportasi campuran BRT dan LRT O-Bhan di jerman dari masa ke masa

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page