top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Warisan Si Mbah Buat Jokowi

    SEJAK awal kepemimpinannya di Solo, Jokowi (panggilan akrab Joko Widodo) kadung dikenal sebagai pemimpin yang kerap blusukan (masuk ke sana ke mari) untuk mengetahui aspirasi yang beredar di kalangan rakyatnya. Ketika menjadi gubernur DKI Jakarta dan presiden Republik Indonesia, kebiasaan itu tetap dipertahankannya. “Itu saya lakukan untuk mengenali hati rakyat. Mengunjungi dan berdialog dengan rakyat bagaikan nafas yang menghidupkan tubuh pemerintahan,” ujar Jokowi kepada Alberthiene Endah dalam Jokowi Menuju Cahaya . Tradisi blusukan itu tak urung mendapat sambutan baik. Kebiasaan itu dinilai tepat untuk menyerap segala keinginan rakyat di bawah sekaligus menjadikannya sebagai media pengawasan langsung dari pihak pemerintah terhadap suatu program. Sebaliknya, tak sedikit pula pihak yang berpendapat negatif terhadap tradisi blusukan itu. Mereka menilainya hal tersebut tak lebih hanya pencitraan, laiknya dilakukan oleh para politisi untuk mengambil simpati media dan rakyat. Salah satu kritik itu datang dari politisi yang kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta: Anies Baswedan. Menurut Anies blusukan bukanlah suatu cara yang efektif karena hanya sekadar mendengarkan keluhan masyarakat tanpa memberikan solusi. "Saya enggak mau pencitraan dengan blusukan. Bukan cuma mendengarkan tapi mengajak berubah. Blusukan itu hanya menonton masyarakat. Hanya hadir lalu kesannya sudah melakukan," ujar Anies seperti pernah dikutip merdeka.com . Lantas dari mana sebenarnya Jokowi mengadopsi kebiasaan itu? Tradisi Sang Kakek Tersebutlah Lamidi Wiryomihardjo, kakek Jokowi dari garis ayah. Dia terpilih sebagai lurah di Desa Kragan (masuk wilayah Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar) pada 1948. Sebagai seorang pemimpin yang terpilih di masa perang, Wiryo harus bisa menjaga desanya agar tetap aman.   Kendati demikian, situasi itu tidak menjadikan Wiryo balik badan berpihak kepada Belanda. Boleh saja secara de jure kawasannya dimasukan dalam kekuasaan Belanda namun simpati sang lurah tetap kepada Republik. Itu dibuktikan Wiryo dengan selalu melindungi unit-unit gerilyawan Republik yang berlindung dari kejaran tentara Belanda. Pada 7-10 Agustus 1949 terjadi pertempuran besar antara gerilyawan Republik dengan militer Belanda di Surakarta. Di hari ke-4, sebuah unit pasukan Tentara Pelajar (TP) mundur jauh hingga ke Desa Kragan. Tak mau kehilangan mangsa, tentara Belanda tetap memburu dan menekan Lurah Wiryo untuk memberitahu perlindungan para gerilyawan tersebut. Namun Lurah Wiryo bergeming. Guna memberi kesempatan kepada anak-anak TP untuk meluputkan diri, Lurah Wiryo terus melobi kelompok pasukan Belanda itu untuk tidak meneruskan aksi militer mereka di Desa Kragan. “Saya lurah di sini. Saya tahu betul semua yang ada di sini. Silakan cari. Kalaupun ada satu orang saja Tentara Pelajar tertangkap, silakan tembak saja saya,” ujar Wiryo seperti dikisahkan dalam buku Jadul Kinanti: Jokowi, Dulu, Kini dan Nanti karya Widjiono Wasis. Keberanian Mbah Lurah (panggilan akrab penduduk Desa Kragan kepada Wiryo) membela para pejuang menimbulkan rasa percaya bukan hanya di kalangan rakyatnya namun juga pemerintah Republik Indonesia. Sebagai bukti, pasca revolusi, dia tetap didapuk sebagai lurah hingga 1983. Pada 1955, Wiryo terlibat dalam proses pemilihan umum dan mendukung PNI (Partai Nasional Indonesia). “Mbah Lurah adalah juga tokoh PNI di desanya, yang memiliki kedakatan dengan kekuatan Masyumi di desanya,” demikian menurut Wawan Mas’udi dan Akhmad Ramdhon dalam Jokowi, dari Bantaran Kalianyar ke Istana: Mobilitas Vertikal Keluarga Jawa. Sebagai pemimpin, Mbah Lurah bukan hanya dipercaya juga dicintai oleh rakyatnya. Hal itu terjadi karena selama kepemimpinannya, Mbah Lurah kerap mengedepankan dialog. Segala keinginan dan cita-cita rakyat diserapnya lewat cara mengunjungi langsung orang-orang di desanya. Tak jarang Mbah Lurah pun mengadakan kegiatan dengar pendapat secara massif dengan penduduk Desa Kragan. Tidak hanya sebatas mendengar, apa yang diminta dan dikeluhkan oleh rakyatnya, dia laksanakan atau hindari jika itu memang tidak sesuai keinginan rakyat. Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, tak mungkin Mbah Wiryo bisa bertahan sebagai lurah hingga 35 tahun lamanya. Rupanya “blusukan” gaya Mbah Lurah itu diwariskan kepada cucunya yang bernama Joko Widodo. Bukan hanya di tingkat desa, tetapi juga di tingkat kota, provinsi dan bahkan saat ini, di tingkat negara. Berawal dari Kampanye Tahun 2005, Jokowi mencalonkan diri sebagai walikota Solo. Dari ketiga kandidat yang bertarung, hanya dialah yang dinilai memiliki peluang kecil. Itu terbukti dengan hasil survey yang dilakukan oleh tim suksesnya sendiri. Kans Jokowi untuk duduk sebagai walikota Solo hanya 10%. Berdasarkan data tersebut, tim sukses Jokowi yang dipimpin oleh Anggit Noegroho (eks jurnalis Solo Pos ) lantas bergerak cepat. Setelah berdiskusi alot dengan Jokowi, maka diputuskan bahwa mereka harus memiliki gaya tersendiri dalam berkampanye, sesuai dengan keinginan Jokowi yang mau kampanyenya sederhana, mengena dan merakyat. Akhir mereka menemukan solusi untuk lebih menyentuh hati rakyat yakni dengan bersilaturahmi, persis seperti yang dilakukan oleh Mbah Lurah saat memimpin Desa Kragan.  Maka masuklah Jokowi ke kampung-kampung, menyusup gang kecil, menghampiri kawasan paling terpencil.  Dia juga tak segan berbecek ria di pasar-pasar dan berkeringat di tengah rakyat banyak. “Ya hanya dengan begitu saya bisa 'mengenali rakyat'. Pemimpin harusnya menghampiri mereka, mengenal mereka,” ujar Jokowi dalam biografinya, Jalan Menuju Cahaya . Kegiatan Jokowi itu kemudian mendapat tempat di media massa. Mereka mulai bertanya, apa nama gaya kampanye yang sangat berbeda dari kandidat-kandidat lainnya itu? Maka muncullah istilah blusukan. Sebuah kata yang menurut Jokowi sendiri sangat pas menjadi ciri kepemimpinannya. Jadilah kemudian blusukan populer. Terlebih setelah gaya ini diterapkan pula oleh Jokowi saat memimpin DKI Jakarta dan Republik Indonesia. Tentu saja banyak juga orang yang tidak setuju dan memandang cara ini hanya sebagai strategi politik semata guna memelihara elektabilitas. Namun Jokowi tak peduli. “Yang penting bagi saya adalah bekerja dan bekerja. Kalaupun ada orang yang melihatnya lain ya silakan saja, terserah orang untuk menilai hasil pekerjaan saya,” ujarnya.

  • Asal Usul Setrika

    Sejak kapan orang terganggu melihat pakaian kusut? Ini pertanyaan yang sulit dijawab dengan jelas kapan pastinya. Yang jelas, alat pelicin pakaian, atau kini dikenal dengan setrika telah berevolusi selama ratusan tahun dari benda-benda sederhana. Terkadang ia dibuat dari batu, kaca, kayu, atau logam. Bahan-bahan itu seringkali membuat setrika pada masa lalu begitu berat dan sulit digunakan. Karenanya tak heran, mereka yang pakaiannya terawat pastilah orang berada. Menggunakan alat-alat seperti itu pastinya sulit dan melelahkan. Hanya orang kaya yang mampu mempekerjakan seseorang utnuk mengerjakannya. Mereka biasanya budak atau pelayan. Selain untuk menghilangkan kusut pada pakaian, setrika panas kemudian juga difungsikan untuk membunuh parasit, jamur, dan bakteri lain dalam pakaian. Ini khususnya sebelum pengering yang dipanaskan ditemukan. Pada perkembangannya, sebagian besar setrika modern terbuat dari logam dan plastik. Mereka memiliki banyak fitur seperti uap dan kontrol suhu.     Goffering iron Goffering iron (Koleksi Saffron Walden Museum) Dipakai oleh orang-orang di Yunani pada sekira 400 SM. Mereka menggunakan alat besi ini untuk membuat lipatan pada jubah linennya. Goffering Iron adalah batang bundar seperti batang penggiling yang dipanaskan sebelum digunakan. Pemukul pakaian Alat pemukul pakaian (Koleksi Vesterheim Museum, Iowa) Orang-orang pada era Kekaisaran Romawi punya beberapa macam alat yang berfungsi seperti setrika masa kini. Salah satunya adalah alat pengepres pakaian dengan tangan. Alatnya semacam dayung atau palu logam datar yang digunakan untuk memukul-mukul pakaian. Kerutan pada kain akan hilang berkat cara itu. Alat lain adalah prelum. Ini terbuat dari kayu yang tak berbeda bentuknya dengan alat pemeras anggur. Dua papan berat rata diletakkan di antara tuas yang juga terbuat dari kayu. Kain atau pakaian kemudian diletakkan di antara kedua papan itu. Papan-papan itu, yang digerakan dengan tuas, akan menekan kain di tengah-tengahnya dan membuat kain bebas kerutan. ilustrasi prelum Logam panas Orang Korea kuno tengah menyetrika pakaiannya Bisa dibilang orang-orang di Asia Timur yang pertama kali menggunakan logam panas untuk menyetrika pakaiannya. Paling tidak sejak 1.000 tahun yang lalu orang Tiongkok kuno telah memiliki alat untuk melincinkan pakaiannya. Alatnya terbuat dari besi yang dipanaskan. Bentuknya terlihat seperti sendok es krim besar. Alat ini diisi dengan batu bara panas, lalu ditekan di atas kain. Alat ini memiliki ruang terbuka dengan bagian bawah yang rata dan pegangan. Ruang ini yang nantinya diisi batu bara atau pasir panas, yang memanaskan bagian bawah alat besi itu. Cara menggunakannya mirip dengan cara menggunakan setrika sekarang, yaitu digosokkan di atas kain untuk menghilangkan kerutan. Setrika Viking Alat pelicin pakaian dari kaca dan batu beserta papan setrikanya (Koleksi Historiska Museet, Stockholm) Sekira abad ke-8 dan ke-9 M, orang-orang Viking di Skandinavia menggunakan setrika kuno yang terbuat dari bahan kayu, kaca, dan batu. Ketika akan digunakan, alat-alat itu diletakkan di dekat uap untuk memanaskan, lalu digosokkan pada kain. Alat ini dianggap sebagai alat setrika paling awal di dunia barat. Bentuknya mirip jamur. Flat iron Flat iron (Shutterstock) Setrika yang lebih mirip dengan bentuk masa kini muncul di Eropa pada 1300-an. Setrika ini berupa sepotong besi datar dengan pegangan logam. Untuk memanaskannya, alat ini diletakkan di atas atau di dalam api. Ketika sudah panas, alat ini harus diambil dengan kain empuk yang kemudian digosokkan di atas kain. Sebelum itu, secarik kain tipis harus lebih dulu diletakkan di atas kain yang akan disetrika. Ini untuk mencegah jelaga langsung mengenai kain. Setrika digunakan sampai menjadi terlalu dingin untuk dipakai. Ketika itu, banyak orang merasa harus punya lebih dari satu setrika. Dengan begitu mereka bisa menggunakannya ketika setrika yang lain sedang dipanaskan. Setrika arang Setrika arang (Shutterstock) Pada sekira abad ke-15, perbaikan pada bentuk seterika diperkenalkan. Kotak besi panas ini dibuat dengan rongga di dalamnya untuk meletakkan elemen pemanas, seperti arang. Bagian atasnya dilengkapi pegangan. Sementara bagian bawahnya dibuat dengan logam yang halus. Ini pun menghilangkan kebutuhan akan kain tambahan di antara kain dan besi. Karena bagian bawah setrika tak akan membuat permukaan pakaian kotor. Alat ini digunakan selama beberapa ratus tahun di berbagai negara. Setrika arang kini menjadi barang antik dan menarik bagi banyak kolektor. Bahkan, setrika arang modern diproduksi di Asia dan di sebagian besar Afrika. Sad iron Smithsonian National Museum of African American History and Culture Pada abad ke- 17, setrika muncul di dunia barat dengan bentuk sepotong besi yang tebal, permukaan bawahnya rata, serta diberi pegangan besi. Setrika ini disebut dengan sad iron . Sebelum digunakan, sad iron dipanaskan di depan perapian atau kompor, baru setelah itu dipakai untuk melicinkan pakaian. Kelemahan dari setrika ini adalah pada saat dipanaskan, pegangannya ikut panas karena terbuat dari besi yang sifatnya mudah menyerap panas. Ketika teknologi kompor tungku ditemukan pada abad ke-19, beberapa masalah yang ditinggalkan flat iron mendapat jalan keluar. Setrika ini pun bisa dipanaskan di atas kompor tungku, yang jauh lebih bersih daripada api. Setrika ini disebut setrika sedih karena beratnya, beratnya sekitar 5,6 kg, dan sulit untuk dipindahkan. Setrika Mary Potts dan reklame iklan (Wikipedia) Pada 1870, seorang ibu rumah tangga bernama Mary Florence Potts di Ottumwa, Iowa, menemukan setrika cetak. Setrika ini adalah hasil pengembangan dari sad iron . Setrika ini, kedua ujungnya dibuat runcing. Dibuat seperti itu agar lebih mudah saat menyetrika. Tak sampai di situ, tahun berikutnya Mary juga membuat sad iron yang pegangannya bisa dilepas. Tujuannya agar pegangannya tidak ikut panas saat sad iron dipanaskan. Potts juga membuat pegangan kayu yang bisa dilepas. Ide itu dinilai brilian mengingat pegangan setrika telah dibuat dari bahan yang sama sejak abad pertengahan. Ketika setrika tradisional dibiarkan di atas bara, diperlukan kain tebal atau sarung tangan untuk mengangkat setrika agar tidak panas. Pegangan kayu Potts memastikan tidak akan ada luka bakar. Tak heran setrikanya diproduksi selama hampir 75 tahun. Setrika gas Setrika gas Setelah gas tersedia di rumah-rumah di Amerika pada akhir 1800-an, setrika gas pun muncul. Yang paling awal dipatenkan pada tahun 1874. Waktu itu masing-masing rumah sudah memiliki saluran gas. Setrika gas dihubungkan ke saluran gas dengan pipa. Setrika gas punya tempat pembakaran yang berhubungan dengan aliran gas. Ketika tempat pembakaran ini dinyalakan dengan korek api, setrika pun memanas. Setrika sangat panas dan gas terkadang bocor. Namun, setrika gas lebih ringan daripada sad iron. Berikutnya, setrika berbahan bakar lainnya menyusul. Setrika ini dipanaskan dengan minyak, bensin, parafin, dan bahan bakar lainnya. Setrika listrik Seely dan mekanisme setrika listrik ciptaannya Banyak orang percaya kalau setrika listrik ditemukan pertama kali dan dipatenkan oleh seorang Amerika, Henry W. Seely pada 1882. Desainnya dia kembangkan setahun sebelumnya. Setrika ini berupa setrika listrik datar yangmasih mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya lama untuk panas, tetapi sangatcepat dingin. Pun waktu itu belum semua rumah menggunakan listrik. Jadi, tak semua orang bisa menggunakan setrika listrik. Hotpoin Hot point rancangan Richardson Setrika listrik ini diperkenalkan ke pasar pada 1905 oleh seorang kelahiran Wisconsin, Earl Holmes Richardson. Setrika ini mengatur elemen pemanas dengan cara yang memusatkan panas pada titik ujung tapak setrika. Cara ini diklaim membuat proses penyetrikaan lebih baik. Hotpoin pun menjadi setrika binatu listrik pertama yang sukses secara komersial. Secara resmi dinamai setrika Hotpoint pada 1907. Setrika Termostat Setrika dengan pengatur suhu Pada 1920-an, Joseph Myers dari The Silex Company memperbaiki setrika dan kabelnya dengan menambahkan kontrol panas otomatis yang terbuat dari perak murni. Thermostat pun segera menjadi fitur standar. Setrika nirkabel (tanpa kabel) pertama kali diperkenalkan pada 1922, meski mereka tidak begitu berhasil. Setrika ini untuk pertama kalinya berhasil dijual pada 1984. Setrika uap Setrika Uap Thomas Sears adalah penciptanya. Uap membuatnya lebih mudah untuk melicinkan kain kaku yang kering. Sebelumnya pengguna harus mencipratkan air ke kain. Kalau tidak pakaian harus disetrika saat lembab. Setrika uap menggunakan tangki air yang memungkinkan uap air yang dipanaskan dapat dibuat dan diterapkan melalui lubang kecil di dasar setrika. Secara komersial, setrika uap pertama kali diperkenalkan pada 1926 oleh perusahaan pengeringan dan pembersihan New York, Eldec. Sayangnya, tidak sukses secara komersial. Paten untuk setrika uap listrik kemudian dikeluarkan kepada Max Skolnik dari Chicago pada 1934. Pada 1938 Skolnik memberikan hak patennya kepada Steam-O-Matic Corporation di New York berupa hak eksklusif untuk memproduksi setrika uap listrik. Ini adalah setrika uap pertama yang mencapai tingkat popularitas. Selama 1940-an dan 1950-an setrika uap pun digunakan secara lebih luas. Setrika modern Alat pelipat pakaian otomatis. Kini setrika sudah mengalami berbagai perubahan yang lebih canggih, seperti setrika yang sudah dilengkapi dengan wadah air, uap panas, dan inovasi lainnya. Contohnya, mesin pelipat pakaian robotik. Ini merupakan mesin lipat cucian. Pengguna hanya perlu memasang pakaian ke bagian luar mesin. Selanjutnya ia akan melipatnya secara otomatis. Mesin ini juga bisa menguapi, menghilangkan kerut, dan melembutkan, serta mengharumkan pakaian. Mesin semacam ini dipatenkan sebuah perusahaan di California, FoldiMate.

  • Isu PKI Buat Jokowi

    KETIKA bertemu Presiden Joko Widodo di Jawa Timur pada Oktober 2018, La Nyalla Mahmud Mattaliti menyatakan rasa penyesalan atas prilakunya di masa lalu. Sebagai oposan, dia  mengakui pada Pilpres 2014 telah ikut menyebarkan isu bahwa Jokowi adalah keturunan anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). "Saya minta maaf karena pernah ikut menyebarkan informasi-informasi negatif, termasuk isu-isu Jokowi keturunan dan pendukung PKI saat Pilpres yang lalu," ujar La Nyalla seperti diberitakan Antara pada Minggu (28/10/2018). Mantan walikota Solo itu menyambut baik permintaan maaf La Nyalla. Menurut eks politisi Partai Gerindra tersebut, Jokowi menyatakan sudah melupakannya dan tidak menanggapi berbagai fitnah terkait dirinya. Tokoh PKI Boyolali Isu Jokowi keturunan anggota PKI mulai tersebar sejak tabloid Obor Rakyat ( OR ), menurunkan sebuah tulisan mengenai riwayat calon presiden Joko Widodo pada Mei 2014 (dua bulan sebelum Pilpres 2014 berlangsung). Dalam sebuah artikelnya, OR menyebutkan bahwa Joko Widodo sejatinya bukan putra dari Widjiatno Notomihardjo melainkan putra salah seorang tokoh PKI bernama Oey Hong Leong. Dia juga disebut-sebut memiliki nama baptis: Hubertus Handoko. Tulisan lain menyebut bahwa Widjiatno Notomihardjo adalah Ketua OPR (Organisasi Perlawanan Rakyat) yang merupakan organisasi mantel dari PKI di Kabupaten Boyolali. Dia kemudian menikahi Sudjiatmi yang disebut-sebut juga merupakan Sekjen Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang lagi-lagi adalah onderbouw PKI. Pasca meletus peristiwa 30 September 1965, Widjiatno Notomihardjo lantas diburu oleh tentara dan sempat meluputkan diri ke hutan Gunung Merbabu selama 4 tahun. Versi ini sempat ditayangkan oleh situs berita  pojoksatu.id berjudul “Ayah Jadi Pimpinan PKI Boyolali? Ini Kata Presiden Jokowi” pada Rabu, 30 September 2015 jam 14.28 WIB. Meskipun sudah dibantah langsung oleh pihak Presiden Jokowi, namun tak urung soal ini tetap diyakini kebenarannya oleh sebagian orang. Anehnya tuduhan itu tak pernah ditegaskan dalam suatu buku resmi atau tulisan ilmiah yang kadar kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan. Jadilah isu itu tetap beredar dan menjadi santer kembali justru pada saat menjelang Pilpres 2019 yang akan berlangsung sebentar lagi. Anak Tukang Bambu Dalam biografinya, Jokowi sendiri tak pernah membahas afiliasi politik dari kedua orangtuanya. Dia hanya menyebut bahwa Widjiatno Notomihardjo dan Sudjiatmi merupakan orangtua yang baik dan bertanggungjawab terhadap anak-anaknya, terutama dalam soal pendidikan. Khusus mengenai ayahnya, Jokowi menggambarkannya sebagai seorang pekerja keras. Ketika anak-anaknya masih bersiap-siap untuk sarapan, sang ayah sudah menghilang di pagi hari guna bertarung mencari rezeki. Kesan yang terbangun, segala sepak terjang Notomihardjo saat itu sangat jauh dari hal-hal yang berbau politik. “Dia berjualan bambu dan kayu di lapak sederhana dalam pasar tak jauh dari rumah,” ungkap Jokowi seperti disampaikan kepada Alberthiene Endah dalam Jokowi Menuju Cahaya . Lantas apa yang terjadi dengan orangtua Jokowi usai insiden 30 September 1965 meletus? Belum jelas benar. Namun disebutkan bahwa di Kota Solo, lingkungan Jokowi tinggal kala itu, pembersihan terhadap orang-orang PKI memang  berlangsung secara intens. “Bahkan beberapa tetangga keluarga Pak Noto waktu itu juga ditangkap karena dianggap sebagai anggota atau simpatisan PKI,” ungkap Wawan Mas’udi dan Akhmad Ramdhon dalam Jokowi, Dari Bantaran Kalianyar ke Istana: Mobilitas Vertikal Keluarga Jawa. Notomihardjo dan Sudjiatmi sendiri tak pernah sekalipun disentuh oleh tentara. Itu terjadi karena mereka memang tidak memiliki keterkaitan dengan Peristiwa 30 September 1965. Jika memang benar mereka adalah tokoh PKI, itu jelas suatu keanehan.  Saat itu, alih-alih anggota PKI, seorang seniman profesional yang sama sekali bukan komunis pun bisa dipenjarakan tanpa pengadilan hanya karena dia pernah mengisi sebuah acara seni yang diadakan oleh PKI.

  • Nasihat Soeharto untuk Gubernur Irian Jaya

    PEMILU tinggal sepekan lagi. Dalam hajatan akbar pesta demokrasi itu, kita berperan menentukan masa depan bangsa untuk lima tahun ke depan. Calon presiden ataupun calon legislatif saling bersaing untuk memenangkan kursi jabatan. Siapapun yang terpilih, mereka akan menjadi pejabat publik yang sejatinya mengabdi pada rakyat.

  • Simbol Yahudi Tertua Ditemukan

    Pecahan lampu minyak berukir menorah bercabang sembilan, baru saja ditemukan di selatan Kota Beersheba atau Beersheva, Israel bagian selatan. Menorah, merupakan simbol Yahudi berbentuk tempat lilin bercabang tujuh hingga sebelas. Temuan ini merupakan salah satu penggambaran menorah paling awal yang pernah ditemukan. Seperti dilansir dari Israel Today , Kamis (4/4) , pecahan lampu langka itu digali bersama temuan lainnya dalam sebuah penelitian arkeologis yang melibatkan Universitas Ben-Gurion di Negev, dengan penelitinya Peter Fabian dan Daniel Varga dari Otoritas Barang Antik Israel (Israel Antiquities Authority). Selain pecahan lampu yang langka itu, penggalian arkeologis juga mengungkapkan bukti lebih lanjut tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi Kuno di pusat kota Negev. Termasuk bejana dari batu kapur yang digunakan dalam ritual mereka. Ada pula sebuah menara pengawas setinggi 10 x 10 meter, dan sisa-sisa tangganya yang mengarah ke tingkat dua menara. Pun lorong-lorong tersembunyi di bawah tanah yang digunakan oleh para pejuang Yahudi melawan Romawi. Puluhan koin perunggu pun ditemukan dari periode kekuasaan Romawi atas Israel. Beberapa koin dicetak di Ashkelon, dan yang lain dicetak di kota-kota dari seluruh Kekaisaran Romawi. Replika menorah kuil yang bercabang tujuh. (Wikipedia). Menurut Peter Fabian dan Daniel Varga, sisa-sisa permukiman itu mencakup area seluas 2500 meter persegi. Ia meliputi beberapa struktur dan instalasi. Seperti fondasi menara pengawal yang besar, fasilitas pembuatan roti, lubang sampah kuno, dan sistem bawah tanah yang mungkin digunakan sebagai pemandian ritual Yahudi ( mikveh ). Tanda-tanda kebakaran juga ditemukan di beberapa struktur. Ini menunjukkan permukiman itu pernah mengalami kebakaran. Mungkin seperti pemberontakan Yahudi pertama pada sekira 70 M. “Itu adalah tahun yang sama ketika Kuil Kedua Yerusalem dihancurkan,” katanya. Semua temuan itu menggembirakan para peneliti. Mengingat para arkeolog telah dibingungkan oleh pertanyaan abadi: Di mana orang-orang Yahudi Beersheba kuno? Situs ini terletak di sepanjang perbatasan selatan kerajaan kuno Yehuda, di sebelah jalan yang mengarah dari Tel Beersheba ke dataran pantai selatan di sepanjang Laut Mediterania. Letaknya yang strategis, mungkin merupakan alasan untuk membangun menara pengawas. "Ini adalah daerah perbatasan. Kita tidak bisa mengatakan apa yang terjadi di sini pada periode itu," kata Shira Bloch, manajer situs untuk Universitas Ben-Gurion dan Otoritas Barang Antik Israel, dikutip Haaretz . Berada di jantung Gurun Nagev yang tandus dengan mata air, wilayah ini sudah ditempati manusia setidaknya selama 6.200 tahun dan mungkin lebih lama lagi. Selama bertahun-tahun, sebenarnya artefak dari bangsa Yahudi telah ditemukan. Namun, tidak ada bukti yang bisa menguatkan keberadaan permukiman di mana orang Yahudi tinggal saat itu. Namun, temuan terbaru ini akhirnya mengungkap sisa-sisa kota mereka. Situs Tel Beer Sheva. (Gugganij) Berdasarkan karakteristik tembikar pada waktu itu dan juga temuan-temuan lain, orang-orang Yahudi tampaknya telah tinggal di sana selama 150 tahun atau lebih, dari abad pertama sebelum Masehi hingga masa pemberontakan Bar Kokhba melawan Kaisar Romawi pada 135 M. Dia juga menjelaskan bahwa permukiman Yahudi yang dikenal luas berada jauh di utara. Sebelum ditemukannya permukiman ini, satu-satunya yang ditemukan di Beersheba dari periode Kuil Kedua adalah artefak dari peradaban Nabatean yang langka. “Ini adalah pertama kalinya sisa-sisa permukiman Yahudi dari periode Kuil Kedua telah ditemukan di Beersheba,” tulis Haaretz . Dalam Alkitab, nama kotaBeersheba disebutkan beberapa kali. Ini terkait dengan leluhur bangsa Ibrani, Abraham dan Ishak. Menurut Kejadian 21, disebutkan kalau kota ini didirikan oleh Abraham dan Abimelekh setelah keduanya menyelesaikan perbedaan mereka di atas sumur air dan membentuk perjanjian bersama. “Nama Beersheba berarti Sumur Tujuh atau Sumur Sumpah,” tulis CBN News . Alkitab pun mengatakan Ishak membangun sebuah altar di Beersheba dan Yakub bermimpi tentang tangga ke surga setelah meninggalkan kota. Belakangan, Nabi Elia dikisahkan berlindung di Beersheba setelah Izebel memerintahkan eksekusi.

  • "Steve McQueen" Merampok Duit Haram Presiden

    SUATU siang di Deerwood, Pennsylvania medio 1980. Harry Barber (diperankan Travis Fimmel) menatap sekilas poster film Bullitt dengan foto aktor yang diidolakannya, Steve McQueen, di dinding kamar. Ia sudah membulatkan tekad untuk melakukan “pengakuan dosa”, bukan kepada pendeta, melainkan kepada pacarnya, Molly Murphy (Rachael Taylor). Rasa gugup luar biasa menerpanya saat akan mengungkap jati dirinya di hadapan Molly pacarnya. Saat keduanya bertemu di sebuah kedai dine-in, Harry mengungkapkan dirinya bukanlah John Baker, nama yang digunakannya sejak berpacaran dengan Molly tujuh tahun silam. Harry hanyalah seorang buron yang dicari FBI (Biro Penyelidik Federal) sejak 1972 akibat perampokan bank terbesar dalam sejarah Amerika saat itu. Molly terkejut bukan main. Tak percaya. Harry sampai memperlihatkan poster pencarian buronan yang ditemukannya di sebuah kantor pos. Harry pun mencurahkan kisahnya bersama kawanannya guna meyakinkan Molly. Alur mundur lantas tersaji di adegan berikutnya, sebuah pabrik kecil penghasil suplai mesin permen karet di Youngstown, Ohio, awal 1972. Scene itu hanya satu dari sekian scene dengan alur maju-mundur yang disuguhkan sutradara Mark Steven Johnson dalam membuka film Finding Steve McQueen . Di adegan berikutnya itulah Johnson menunjukkan motif mengapa kawanan Harry Barber yang acap berdandan ala Steve McQueen itu merampok sebuah bank di negara bagian lain. Ide merampok bank datang dari kepala Enzo Rotella (William Fichtner), paman Harry sekaligus pemilik pabrik permen karet tempat Harry bekerja. Enzo seorang hater presiden berkuasa, Richard Nixon. Ia mendapat ilham kala termakan isu adanya dana haram kampanye sang presiden jelang Pilpres Amerika 1972, di sebuah bank di California. Enzo pun mengumpulkan kawanannya: Tommy Barber (Jake Weary), adik Harry; Pauly Callahan (Louis Lombardi), dan Rhys Coiro (Ray Darrow) yang ahli bahan peledak. Enzo ingin menjatuhkan Nixon dengan merampok duit haram sang presiden yang kabarnya mencapai 30 juta dolar Amerika. Sebuah rencana yang simpel tapi efektif pun diracik. Dengan menggunakan nama Steve McQueen, Harry menyewa sebuah mansion di Laguna Niguel dekat Bank United California. Bank itu diyakini Enzo jadi tempat penyimpanan dana kampanye ilegal Presiden Nixon dari sejumlah mafia. Harry juga menyewa mobil untuk operasional perampokan, juga atas nama Steve McQueen. Pasca-observasi singkat mengenai lingkungan sekitar bank, kawanan itupun menjalankan aksinya pada 24 Maret 1972. Tidak hanya sekali, melainkan sampai tiga kali lantaran perampokannya dijalankan saat bank tutup di akhir pekan (Jumat, Sabtu dan Minggu). Mereka pede aksi mereka takkan mendapat perhatian sang presiden lantaran itu uang haram. Tapi dugaan mereka salah. Ratusan agen FBI diterjunkan untuk mengusut kasus itu. Wakil Direktur FBI Mark Felt (John Finn) sampai mengingatkan Kepala Cabang FBI California agen Howard Lambert (Forest Whitaker) agar kasus ini segera dituntaskan karena diduga berkaitan dengan Skandal Watergate di Washington DC. Enzo kurang puas terhadap hasil aksinya. Dari tiga hari aksi, mereka hanya mendulang sekira empat juta dolar. Hasil itu terpaksa mereka terima sebelum pulang ke Youngstown, kecuali Harry dan Tommy yang memilih kabur ke Las Vegas. Mereka kecele, ternyata bukan di bank itu Nixon diduga menyimpan dana haram kampanyenya. Semua anggota kawanan gagal. Namun, sutradara membuat ending dengan apik. Perbedaan tindakan dan nasib masing-masing anggota memperkuat drama di akhir film. Suasana heroik, menegangkan, atau mengharukan mewarnai akhir film. Harry sendiri memilih menceritakan semuanya pada Molly. Sang kekasih lalu mengajaknya kabur laiknya perampok legendaris Bonnie dan Clyde. Namun, lebih baik Anda tonton sendiri Finding Steve McQueen agar lebih greget. Film ini sudah rilis sejak 15 Maret 2019. Kombinasi Fakta dan Drama Selain punya alur maju-mundur, Finding Steve McQueen menarik lantaran didukung sejumlah lagu menarik seperti “Drivin’ My Life Away” (Eddie Rabbit), “Funk #49” (James Gang), dan “Draggin’ the Line” (Tommy James). Lagu-lagu itu memperkuat suasana era 1970-an. Tapi, jangan harap Anda menemukan twist rumit dan mengejutkan laiknya film-film bertema perampokan bank. Sebab, sutradara Johnson memang tidak ingin menyuguhkan kisah yang belum pernah diangkat ke layar lebar ini dalam film action . Finding Steve McQueen sengaja dihadirkan dengan titik-berat kisah historis yang dibumbui drama dan sedikit humor. Ya, keyword -nya fakta sejarah yang didramatisir. Johnson menambahkan keterangan, “ Inspired by True Events ”, karena hanya setengah dari film itu yang berdasarkan fakta. Dramatisasi fakta itu terlihat misalnya dalam jumlah uang yang dirampok kawanan Harry. Dalam film, kawanan itu hanya mendapatkan empat juta dolar. Faktanya, mereka mendapatkan sembilan juta dolar. Fakta lain adalah soal karakter dalam film. Hanya ada dua tokoh yang berdasarkan karakter asli dalam kejadian, yakni Harry Barber dan Wakil Direktur FBI Mark Felt. Sisanya disajikan dengan nama samaran. Faktanya, bisa ditengok dalam Inside The Vault: The True Story of a Master Bank Burglar karya Amil Dinsio. Amil merupakan otak perampokan yang dalam film karakternya dinamai Enzo Rotella. Karakter lainnya ada Tommy Barber, adik Harry Barber yang aslinya bernama Ronald Barber. Dua anggota lainnya, Phil Christopher dan Charles Broeckel, dalam film dinamai Pauly Callahan dan Ray Darrow. Namun, adegan-adegan aksi pembobolan brankas bank hingga faktor yang menyebabkan mereka tertangkap, benar adanya. Itu terjadi setelah identitas mereka terbongkar lantaran ditemukannya sidik jari pada mesin pencuci piring di mansion mereka. Johnson mengaku punya alasan soal ini. Ia ingin menghormati Harry yang sempat ditemuinya, di mana skenario filmnya memang dibuat berdasarkan versinya. Maka selain menyamarkan nama-nama karakter, Johnson juga berkenan meng- cut adegan-adegan yang menggambarkan keluarga. “Ketika Anda menghadapi kisah kejahatan seperti ini, tidak semua orang berkenan bercerita. Kami ingin menghormati Harry yang meminta agar tidak menggunakan nama asli karakter-karakter lainnya. Harry juga yang meminta karakter ibu dan ayahnya tidak dimasukkan ke film. Akhirnya kami memutuskan untuk menghormatinya dengan mengganti nama-nama karakternya dan memotong adegan keluarganya,” terang Johnson, dikutip comicbook .com, 11 Maret 2019.

  • Laku Pandita Seorang Raja Jawa

    ROMBONGAN turis asing itu terpukau oleh koleksi benda-benda antik nan cantik milik Museum Puro Mangkunegaran. Selain jumlahnya masih banyak, mayoritas koleksi itu juga terawat. Komentar acap keluar dari mulut para turis itu. Sambil menenteng plastik kresek sebagai tempat alas kaki –karena aturan dalam museum mengharuskan alas kaki pengunjung dilepas saat di dalam Dalem Ageng, tempat yang kini jadi museum– mereka terlihat sering manggut-manggut setelah mendapat penjelasan dari tourguide . Dari sekian banyak koleksi milik museum, benda-benda milik dan tentang Mangkunegara VII mungkin terbanyak. Penguasa Mangkunegara berpikiran maju itu punya kepedulian tinggi terhadap seni-budaya dan sejarah. “Beliau kan orangnya multitalenta,” ujar Supriyanto, petugas Dinas Urusan Istana Mangkunegaran, kepada Historia. Pengembaraan Mangkunegara VII atau RM Soerjo Soeparto merupakan putra laki-laki ketiga dari 12 putra laki-laki Mangkunegara V. Lahir pada 15 Agustus 1885, Soeparto menjalani kehidupan masa kecil jauh dari kemewahan selayaknya anak-anak raja pada umumnya. Penyebabnya, Mangkunegaran saat itu sedang mengalami defisit yang disebabkan oleh salah urus perekonomian oleh Mangkunegara V, krisis ekonomi dunia, dan hancurnya perkebunan kopi yang menjadi sumber keuangan Mangkunegaran oleh hama. Selain itu, sejak kecil Soeparto hidup dalam pengasuhan pamannya, Pangeran Handajaningrat (kemudian Mangkunegara VI). “Mangkunegoro V kan meninggal dalam usia muda, kecelakaan,” ujar Supriyanto. Dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 karya Wasino disebutkan, Soeparto sejak kecil diberikan oleh orangtuanya kepada Pengeran Handajaningrat lantaran sang pangeran belum dikaruniai putra kendati telah lama menikah. Dalam kesehariannya, Soeparto memiliki banyak perbedaan dibandingkan anak-anak pada umumnya. Dia lebih senang melihat tanaman di kebun dan menanyakan nama tanaman-tanaman yang ada ketimbang bermain bersama anak-anak sebayanya. Soeparto juga lebih banyak menyendiri. Andai berkumpul, Soeparto lebih senang duduk-duduk dengan emban dan para abdi dalem . “Tidak ikutnya Soeparto bermain seperti putra-putra Mangkunegara V yang lain menandakan sikap rendah diri, karena walaupun merupakan putra Mangkunegara V ketika itu, toh ia sudah diberikan kepada Mangkunegara VI. Dengan demikian, derajat sosialnya lebih rendah daripada putra Mangkunegara V yang langsung di bawah asuhannya sendiri,” tulis Wasino. Namun, pendidikan Soeparto sampai jenjang Europeesche Lagere School (ELS) tetap ditanggung oleh Mangkunegara VI seperti anak Mangkunegara V yang lain. Pembatasan jenjang itu jelas membuat Soeparto tak puas. Hasratnya untuk mengenyam pendidikan ke jenjang lebih tinggi amat besar. Setelah berupaya meminta izin untuk melanjutkan pendidikan kepada Mangkunegara VI dan ditolak, Soeparto frustrasi. Dia kemudian menikah dengan Mas Rara Mardewi, putri bekel bernama Mas Wangsasutirta. Alih-alih bahagia setelah menikah dan dikaruniai putri bernama BRA Partini, Soeparto justru melampiaskan rasa frustrasinya dengan meninggalkan anak, istri, dan Mangkunegaran. Dengan bekal alakadar, Soeparto mengembara. Sesekali menumpang kereta api kelas III, Soeparto lebih banyak berjalan kaki mengunjungi desa-desa. Dia makan sekadarnya, terkadang pemberian penduduk. Apabila tak beruntung mendapat tumpangan menginap di rumah kepala desa, Soeparto menginap di rumah penduduk atau bahkan seringkali di pinggir jalan. Pengembaraan itu membuat Soeparto melihat langsung dan mengenali wilayah-wilayah yang disinggahinya berikut kondisi masyarakat di dalamnya. Dia merasakan perasaan sebagian besar masyarakat. Di Demak, Soeparto menetap dan mendapat pekerjaan sebagai juru tulis, lalu mantri. Saat menjadi mantri itulah Soeparto mengetahui kondisi kesehatan masyarakat. Sambil bekerja, Soeparto terus menambah pengetahuan bahasa Belanda dan sastra Jawanya dengan mengikuti kursus yang biayanya didapatnya dari menyisihkan gaji. Namun, itu tak berlangsung lama. Konfliknya dengan bupati Demak dan membuatnya berhenti bekerja. Soeparto kembali frustrasi lantaran tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Frustrasi itu baru sirna setelah dia mendapat pekerjaan dari Residen Van Wijk, menerjemahkan naskah-naskah berbahasa Jawa ke bahasa Belanda atau sebaliknya. Soeparto amat menikmati pekerjaan barunya. Sambil bekerja, Soeparto bergabung dengan Boedi Oetomo dan aktif berdiskusi serta menulis di Dharmo Kondo . Tak lupa, dia terus menabung untuk biaya sekolah di Eropa yang diimpikannya. Kerja keras dan ketekunan Soeparto menjadi perhatian residen. Setelah melihat semangat Soeparto yang tak pernah kendur, residen akhirnya merekomendasikan agar Soeparto bisa belajar di Eropa dengan biaya sendiri. Mimpi Soeparto akhirnya menjadi kenyataan ketika pada 12 Juni 1913 dia berangkat ke Eropa untuk belajar di Leiden. Soeparto memanfaatkan betul kesempatannya di Eropa untuk menambah pengetahuan dan pergaulan serta pengalaman. Selain senang berkeliling ke berbagai tempat, dia bersahabat dengan banyak orang. “Mangkunegara VII menikmati kehangatan hubungan dengan etnografer tari Claire Holt dan arkeolog Belanda, Willem Suttterheim,” tulis Laurie Margot Ross dalam The Encoded Cirebon Mask: Materiality, Flow, and Meaning along Java’s Islamic Nortwest Coast . Soeparto juga berkarib dengan etnomusikolog Jaap Kunst. Pengetahuan, pergaulan, dan pengalaman di Eropa menambah kaya pengalaman Soeparto yang banyak didapat saat menderita di masa pengembaraan. “Dalam perjalanan pengembaraan itu ia dapat mengenal wilayah dan kehidupan masyarakat yang disinggahi. Dengan cara itu ia dapat mempelajari kehidupan masyarakat Jawa. Kesan ini tampak memengaruhi kepribadiannya, sehingga ketika menjadi Mangkunegara, ia sangat memikirkan nasib kemajuan dan kemakmuran rakyatnya,” tulis Wasino.*

  • Ajakan Menghapus Feminisme

    KAMPANYE antifeminis muncul pertengahan Maret 2019 di Instagram melalui akun Indonesia Tanpa Feminis. Akun tersebut mengampanyekan uninstall feminisme, Indonesia tidak butuh feminisme, dan “Tubuhku bukan miliku”. Kampanye yang disebut terakhir selain menegasi pandangan para feminis bahwa perempuan punya ototritas atas tubuhnya, juga bertentangan dengan desakan pengesahan RUU PKS baru-baru ini. Per 4 April 2019, pengikutnya mencapai 2700-an akun. Namun, jumlah like kirimannya hanya sekira 300-an, jauh lebih sedikit dari jumlah pengikut akun tersebut. Kehadiran akun tersebut pun memancing komentar pengguna Instagram . Mayoritas mencibir kampanye antifemnisme yang diusung. Menurut Julia Suryakusuma, penulis Ibuisme Negara , kemunculan akun ini sudah lagu lama yang hanya menemukan platform baru, yakni lewat media sosial. Pada tahun-tahun sebelumnya, gerakan serupa bermunculan dari kelompok konservatif, seperti penentang pacaran, atau anti asing. Sebelum dibubarkan, Muslimah HTI bahkan secara terang-terangan menolak feminisme dalam demonstrasi mereka, seperti diberitakan Republika Online , Maret 2015. Julia menuturkan kampanye yang dilakukan Indonesia Tanpa Feminis menunjukkan ketidakpahaman akun tersebut. Feminisme disederhanakan sebagai liberalisme Barat, dianggap membenci lelaki, suka bakar bra, lesbian, dan membenci kegiatan domestik. “Mau disodori fakta tentang feminisme, mereka tidak akan berubah karena tidak mau tahu,” kata Julia kepada Historia . Selain mispersepsi tentang feminisme, menururt Julia, nalar kampanye akun tersebut, yang membenturkan Islam dan feminisme, amat keliru. Pasalnya, keduanya sama-sama membuka kesempatan bagi perempuan. Islam hadir membela hak perempuan ketika orang-orang di negara Arab masih menggangap perempuan sebelah mata. Soal hak waris, misalnya, semula tak ada, setelah Islam datang perempuan mendapat 1/3 bagian. Pernyataan bahwa Indonesia tidak butuh feminisme pun menjadi wagu ketika orang-orang di balik akun ini justru menikmati usaha panjang para perempuan di masa lalu seperti kemampuan membaca, menulis, dan akses untuk menyalurkan pendapat. “Ironinya itu, mereka bisa bersuara juga akibat gerakan feminisme. Jadi, aneh-aneh-lucu,” kata Julia. Sejak akhir abad ke-19, usaha pengentasan buta huruf bagi anak perempuan sudah dilakukan banyak tokoh perempuan, seperti RA Kartini, Dewi Sartika, dan Rahmah El Yunusiyah. Sementara gerakan perempuan dengan bentuk organisasi, tulis Ruth Indiah Rahayu dalam “Gerakan Perempuan Indonesia dalam Belenggu Historiografi Indonesia-Androsentris”, baru dikenal pada awal abad ke-20. Di masa itu, kesadaran perempuan untuk memerdekakan diri dari penjajahan dan adat yang membelenggu mulai bangkit. Masalah yang disoroti pun melebar ke soal praktik kawin paksa, perkawinan anak, penelantaran keluarga, dan permaduan sewenang-wenang. Para permepuan berusaha mengatasi masalah ini lewat pembentukan Biro Konsultasi yang diketuai Maria Ullfah (menteri sosial RI pertama). Dari usaha bertahun-tahun tersebut, lahir Undang-Undang Perkawinan tahun 1974 yang mengatur pencatatan perkawinan, batas usia, dan taklik-talak. Usaha melindungi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga menyusul diupayakan sejak 1997 dan berbuah sebuah legislasi: UU KDRT tahun 2004. Usaha ini tak mulus lantaran penentangan dari golongan konservatif Islam muncul sejak aturan itu diusulkan. Mereka menganggap kemunculan RUU KDRT berpotensi menghancurkan keharmonisan rumah tangga sehingga mesti ditolak. Dalam bidang politik, para perempuan menuntut hak mereka untuk bisa memilih dan mengajukan diri dalam Volksraad. Meksi akhirnya hanya lolos sampai Dewan Kota, usaha ini menjadi bekal perjuangan hak politik perempuan ketika Indonesia merdeka. Jaminan akan hak dasar yang sama bagi semua penduduk juga diperjuangkan hingga lahir UUD 1945 pasal 27. “Padahal, apa yang mereka kecam adalah apa yang diperjuangkan oleh para aktivis perempuan sejak lama. Saya yakin tidak banyak yang akan tertarik,” kata Julia. Sejak 25 Maret 2019, akun tersebut mengajak pengguna Instagram untuk memposting foto diikuti tagar uninstallfeminisme. Dari pantauan Historia, sejauh ini ajakan itu sepi peminat. Jumlahnya bisa dihitung jari, hanya sembilan kiriman.

  • Politisi Bertensi Tinggi

    BILA seorang jenderal berperangai temperamental bisa jadi wajar. Dunia militer yang penuh disiplin dan tegas biasanya membentuk watak prajurit menjadi keras. Sebelumnya, beberapa profil jenderal dengan tipikal demikian telah kami ulas. Namun bagaimana dengan para politisi sipil bertensi tinggi alias gampang tersulut emosi? Tentu saja ada. Baru-baru ini kita menyaksikan video viral yang memperlihatkan Senator Australia, Fraser Anning meninju dan menendang seorang remaja tanggung yang melemparkan telur ke batok kepalanya. Masih aktual juga, Menteri Pertahanan kita, Ryamizard Ryacudu pernah bilang akan menempeleng mereka yang suka menuding orang lain dengan sebutan kafir secara serampangan.   Di masa lalu pun begitu. Alih-alih kalem dan santun, sewaktu-waktu mereka dapat meledak melampiaskan kemarahan bak sebagian koleganya yang berasal dari kalangan militer. Berikut kisahnya. Duel Badik Wartawan tiga zaman Rosihan Anwar punya pengalaman dengan Ketua Umum PNI, Soejono Hadinoto. Pada 1949, mereka sama-sama ke Den Haag, Belanda menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB). Soejono menjadi salah satu delegasi pemerintah Indonesia. Sementara Rosihan, jurnalis suratkabar Pedoman yang bertugas meliputnya. Pada dekade 1950-an, Soejono menjabat Menteri Perekonomian. Rosihan tetap berkhidmat di Pedoman selaku pemimpin redaksi. Pernah sekali waktu, Soejono menantang Rosihan berduel memakai badik (pisau belati bermata satu). Soejono ingin pertarungan satu lawan satu dengan Rosihan; sama-sama masuk ke dalam sarung lantas saling tikam dengan badik. Rosihan enggan menanggapi. Laga adu bacok itu pun urung terjadi. “Soejono bilang dalam bahasa Belanda kepada saya, ‘ Je bent een viswif ’. Maksud dia, saya tukang ngomong doang, tapi pengecut,” kenang Rosihan dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 5: Sang Pelopor . Soejono emosi lantaran ilustrasi tentang dirinya muncul dalam pojok Kili-Kili – rubrik satir khas Pedoman. Dalam pojok Kili-Kili , Soejono dilukiskan sebagai Menteri Perekonomian yang mobilnya mengibarkan bendera Merah Putih dengan didahului oleh polisi voorijder lengkap dengan bunyi sirene. Soejono yang membacanya tersinggung. Sekonyong-konyong, timbulah niatnya untuk mengadu badik dengan Rosihan Anwar, orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas pemuatan gambaran tersebut. Hampir Adu Jotos Chaerul Saleh adalah pentolan tokoh pemuda pada hari-hari menjelang kemerdekaan. Presiden Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat menyebut Chaerul sebagai pemuda yang berkepala panas. Namun pada awal 1960, Chaerul Saleh menjadi pembantu Sukarno paling loyal. Dia dipercaya menjabat Wakil Perdana Menteri Tiga yang mengurusi bidang ekonomi.   Pada akhir 1964 ketika sidang kabinet berlangsung, Charul Saleh hampir saja adu jotos dengan pemimpin PKI, D.N. Aidit. Saat itu, Chaerul menemukan risalah yang secara tersirat menunjukan rencana PKI merebut kekuasaan paling lambat tahun 1970. Aidit membantah. Dengan muka merah padam dan tangan gemetar, Aidit menegaskan bahwa dokumen tersebut bukan buatan PKI. Sebaliknya, dia menyerang Chaerul merupakan kaki tangan musuh sekaligus antek nekolim. Sebagaimana dicatat Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang, nyaris terjadi keributan antara Chaerul dan Aidit. Di kemudian hari terungkap bahwa dokumen tersebut memang palsu. Aidit menyayangkan sikap Chaerul. “Tetapi dia (Chaerul) sudah mengakui kesalahannya dengan mengatakan, perbuatannya merupakan vergissing , kekhilafan,” tulis Julius Pour. Presiden Sukarno sendiri tidak bereaksi menyikapi polemik dokumen itu dan segera menutup persidangan. Umpatan dan Gamparan Kendati merintis kariernya sebagai perwira TNI Angkatan Laut, namun Ali Sadikin lebih dikenal karena reputasinya memodernisasi Jakarta kala menjabat gubernur. Bang Ali -panggilan warga Jakarta kepada Ali Sadikin - menjadi orang nomor satu Jakarta selama dua periode (1966-77). Selama memimpin Jakarta, Bang Ali kerap kali kontroversial. Bicara nya ceplas-ceplos. Tindakannya pun kadang-kadang di luar dugaan. Mulai dari kata-kata yang ketus hingga  main tangan. “Ali Sadikin jika marah sering mengumpat. Banyak pejabat yang pernah jadi sasarannya, termasuk saya,” kenang mantan bawahan Ali Sadikin di Pemda Jakarta, Wardiman Djojonegoro yang pernah jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam memoarnya Sepanjang Jalan Kenangan: Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar. Ali Sadikin bahkan pernah menggampar sopir truk ABRI yang menyetir ugal-ugalan. Ketika itu, Ali Sadikin hendak menuju Menteng menghadiri upacara, tiba-tiba mobilnya di salip sang sopir truk. Selain itu, sopir truk melaju kencang di tengah jalan. Karena dapat membahayakan pengguna jalan yang lain, sontak saja Bang Ali murka. Dia perintahkan sang sopir untuk menepi. Sopir truk didatangi, lantas melayanglah dua kali tempelengan Bang Ali  ke wajahnya.   Setelah puas melampiaskan kemarahan dengan menggampar si sopir tadi, Bang Ali tetap saja dongkol. “Lalu lintas di Jakarta brengsek. Sayalah yang paling tidak puas terhadap keadaan itu,” demikian kekesalan Bang Ali sebagaimana dikisahkannya kepada Ramadhan K.H. dalam Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi.

  • Aneka Olahraga Sandiaga

    ADA Sandiaga, ada olahraga. Di sela kesibukan politiknya jelang Pilpres 17 April 2019, cawapres nomor urut dua bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno itu tak pernah lepas dari olahraga. Entah itu lari, senam aerobik, renang, atau basket. Dalam Debat Cawapres yang digelar KPU pada 17 Maret 2019, pasangan capres Prabowo Subianto itu bahkan mengangkat program promotif preventif 22 menit per hari berolahraga untuk masyarakat Indonesia. Gaya hidup semacam ini sudah lama diterapkan dalam keluarganya. “Sejak dini saya sudah mengajarkan kepada Sulaiman (putra bungsu Sandi, red. ) pentingnya berolahraga. Dari kecil saya sudah merutinkan Sulaiman untuk les renang,” kicau Sandi di akun Twitter -nya, @sandiuno, 4 Oktober 2018. Kendati hobi renang, sosok kelahiran Rumbai, 28 Juni 1969 itu memang tak pernah punya prestasi membanggakan. Namun, hobi itu pernah bikin heboh ketika dia ikut memeriahkan Festival Danau Sunter, 25 Februari 2018. Sandi berduel dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Danau Sunter. Dalam perlombaan itu, Sandi berenang sementara Susi berkayak dengan paddle board -nya sejauh 2x500 meter. Dalam olahraga basket, Sandi rutin sparring dengan para sahabatnya atau terkadang dengan kolega politik. Menjelang debat 17 Maret 2019, Sandi bermain dengan Agus Harimurti Yudhoyono di Bulungan, Jakarta Selatan. “Mudah-mudahan ini juga menjadi motivasi untuk muda-mudi yang hadir, bahwa menempuh jalur politik itu banyak kebaikannya dan tentunya harus diperjuangkan setiap saat dengan cara-cara yang baik pula,” ungkapnya, dikutip Kumparan , 17 Maret 2019. Dorongan Orangtua Sedari dini, Sandi sudah menjajal olahraga renang dan basket. Aktivitas itu berasal dari dua faktor: keturunan dan dorongan orangtua. Ibunda Sandiaga, Rachmini Rachman alias Mien Uno, sejak belia sudah terobsesi dengan banyak jenis olahraga. “Berawal dari kemampuannya berlari cepat, ia mudah mengakrabi bidang atletik, termasuk lompat jauh dan lompat tinggi. Tak ketinggalan, ia juga piawai bermain voli. Bisa dipastikan, nilai rapor Mien untuk mata pelajaran Pendidikan Djasmani selalu tinggi cemerlang. Jadilah ia langganan mendapat rupa-rupa piala dan piagam,” tulis Herry Gendut Janarto dalam Mien R. Uno: Menjadi Wanita Indonesia . Namun, Mien Uno anti terhadap satu olahraga yang justru disenangi Sandi, yakni renang. “Gara-gara guru olahraganya pernah bernasihat bahwa otot-otot untuk lari cepat akan terganggu bila ia juga berenang. Karena itu, Mien enggan berlatih renang, di samping karena merasa jijik melihat kolam yang amit-amit dicemplungi banyak orang,” lanjut Herry. Maka itu, hobi renang Sandi berasal dari ayahnya, Razif Halik ‘Henk’ Uno. Selain memperkenalkannya, Henk mengajarkan Sandi renang sejak masih tinggal di Rumbai. Kian intensnya renang Sandi membuatnya dimasukkan ke klub renang setelah pindah ke Jakarta. “Setiap pagi sehabis salat Subuh, dia bersama kakaknya (Indra Cahya Uno, red. ) berlatih renang, setelah itu baru mereka berangkat sekolah. Ketika masih SD, ia lalu didaftarkan ayahnhya menjadi anggota klub renang,” tulis Bintang Wahyu dalam Ketika Mimpi & Usaha Berbuah Manis . Selain lari dan renang, Sandiaga rutin berolahraga basket (Foto: Twitter @sandiuno) Saking intensnya berlatih renang, baik di klub maupun oleh ayahnya, Sandi dan Indra pun sempat jenuh. Namun, Henk bergeming. “Supaya kalau tercebur ke sungai tidak tenggelam,” cetus Henk. Setelah sekian lama Sandiaga baru insyaf bahwa kata-kata ayahnya punya makna dalam: belajar berenang ibarat belajar survive dan menyesuaikan diri di lingkungan yang berbeda. Faktor lain yang membuat Henk terobsesi terhadap renang adalah Lukman Niode. Putra Gorontalo itu merebut tiga medali emas renang di SEA Games 1977. Di SEA Games 1979 dia bahkan meraih lima emas. Pilih Basket Terinspirasi Magic Johnson Sandi tak pernah benar-benar menseriusi renang. Ayahnya pun pasrah setelah Sandi jatuh cinta pada basket. “Saya tidak ingin menjadi Lukman Niode. Cukup satu Gorontalo saja yang mengharumkan nama bangsa di kolam renang. Biarkan Gorontalo yang satu ini mengibarkan Sang Merah Putih di arena bola basket,” papar Sandi dalam otobiografinya, Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas . Sandi kepincut basket saat duduk di kelas lima SD PSKD Bulungan. Saking seriusnya menekuni basket, dia tidak hanya sekadar berlatih di sekolah tapi juga masuk ke klub basket Tunas Junior pada 1980. Idolanya, Earvin ‘Magic’ Johnson. Sandi acap membayangkan dirinya dengan bintang NBA itu setiapkali bermain. “Saya ingin menjadi Magic Johnson. Dengan tinggi badan 206 sentimeter, Johnson seharusnya bisa jadi center yang kokoh tapi memilih menjadi point guard untuik tim LA Lakers. Cincin NBA pertamanya bersama Lakers didapatkannya bersamaan dengan mulainya saya bermain basket pada 1980,” kenang Sandi. Di timnya, Sandi pun memilih posisi yang sama dengan idolanya, point guard. Baginya, posisi itu punya peran besar menciptakan visi permainan dengan menjaga keakuratan passing , menciptakan peluang mencetak angka, dan menjaga penguasaan bola. Saat bertahan, orang di posisi itu jadi yang pertama menghadang serangan lawan. “Posisi ini memberikan banyak pelajaran hidup untuk saya di masa depan. Saya belajar bahwa kita butuh kerjasama tim dan strategi untuk mencapai kemenangan. Di luar lapangan, terutama setelah divonis mengidap HIV, Johnson juga tak kalah ajaibnya. Lewat basket, saya belajar dari Magic Johnson bahwa kita tidak boleh berhenti berlari bahkan ketika waktu tak lagi berpihak pada kita semua,” sambung Sandi. Menukil otobiografi Johnson, My Life , ia pertamakali mengetahui dirinya mengidap HIV medio November 1991. Saking down -nya mental Johnson, ia sampai berniat pensiun. Johnson mengakui bahwa ia terkena HIV karena seks bebas. Beruntung, istri dan anak dalam kandungan istrinya tak ikut terpapar HIV. Earvin "Magic" Johnson (Foto: nba.com ) Namun, Johnson akhirnya batal pensiun. Kariernya tetap cemerlang hingga dia dipercaya memegang ban kapten The Dream Team alias timnas Amerika Serikat di Olimpiade 1992. Namanya tetap populer di kalangan generasi muda penggila basket. “Banyak orang memanggil saya pahlawan karena saya kemudian mendedikasikan hidup saya untuk mengedukasi generasi muda tentang HIV dan bagaimana mereka bisa terlindungi. Saya katakan, saya bukan pahlawan karena saya mengidap HIV, karena saya melakukan seks yang tidak aman. Tapi kini saya hanya bisa menatap ke depan. Saya akan berjuang dan berbagi pada generasi muda tentang apa yang sudah saya alami,” ujar Johnson. Hal itu amat inspiratif buat Sandi. Tapi, Sandi akhirnya gagal jadi atlet basket profesional. Begitu bersekolah di SMP 12 dan di SMA Pangudi Luhur, Sandi beralih minat ke olahraga lari yang tak lain bermula dari kewajiban dari mata pelajaran Pendidikan Jasmani. “Ketika cita-cita basket redup, saya berkenalan dengan cinta baru yang kelak jadi rutinitas saya. Guru olahraga kami, almarhum Bapak Bobby, selalu mewajibkan seluruh siswanya menempuh lari jarak jauh sebagai syarat kelulusan ujian olahraga,” kenang Sandiaga. Kala itu, olahraga lari belum booming seperti beberapa tahun belakangan. Lari seolah hanya jadi formalitas di setiap sekolah atau pelengkap sesi pemanasan macam-macam olahraga lain. Tapi, Sandi memandangnya berbeda. “Ibu” dari berbagai cabang olahraga itu lantas kemudian terbukti jadi tren baru di berbagai daerah di Indonesia. Pada akhirnya, Sandi tak mengentaskan cita-citanya jadi atlet basket. Tapi antusiasmenya terhadap basket dan renang tak hanya sekadar rutinitas. Sandi ikut mengurus timnas basket putri sebagai manajer jelang SEA Games 2005 dan sempat jadi ketua umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) periode 2013-2017.

  • Zarima di Arena

    NIKMATNYA narkoba andai memang ada, hanya sesaat. Selebihnya, penyesalan. Karier tercoreng. Masa depan hancur. Potensi dan prospek yang terbangun runtuh seketika dan bukan perkara mudah untuk pulih. Pandangan masyarakat bakal tetap abadi. Itulah yang terjadi pada figur cantik Zarima Mirafsur. Kalau menyebut nama Zarima, hingga kini yang terngiang pastilah julukan “Ratu Ekstasi”. Padahal, ia punya potensi cemerlang tidak hanya di dunia artis tapi juga bulutangkis. Zarima merupakan sosok yang punya prospek cerah dalam bidang tepok bulu. Itu diingat betul oleh Yuni Kartika, mantan pebulutangkis yang kini jadi presenter olahraga. Eks pebulutangkis kelahiran 16 Juni 1973 ini pertamakali mengenal Zarima di audisi PB Djarum Jakarta medio 1984. “Waktu itu saya ikut audisi pas usia 11 tahun. Lucu tuh di situ angkatan saya. Ada Zarima Mir yang ratu ekstasi itu juga termasuk. Ade Rai yang sekarang angkat besi, terus ada Jean Pattikawa, anaknya (sutradara) Chris Pattikawa. Jadi memang kalau dilihat komposisi yang diterima ini, beda-beda banget karakternya dan ini membuat dinamika dalam latihan menarik. Seru sih waktu itu,” ujar Yuni kala ditemui Historia di Djarum Foundation Jakarta, 15 Januari 2019. Namun, sedikit yang teringat dari sosoknya karena memang Yuni hanya sebentar satu “kamp” dengan Zarima. Dia berpindah-pindah klub, seperti ke PB Jaya Raya dan Bimantara Badminton Club. “Kalau mainnya, dia cukup lincah dan tipe pemain reli,” kenang Yuni. Lahir di Bandung 3 Desember 1972 (sumber lain menyebutkan 1974), Zarima merupakan anak ketiga pasangan blasteran Pakistan-Sunda Mirafsur Khan-Mardiah. “Zarina (Zarima, red. ) dilahirkan dari keluarga harmonis dan berkecukupan. Mirafsur seorang pengusaha penginapan Grup Palm dengan anak usaha Karina, Permata Hati dan Palm di Cisarua, Bogor,” tulis Rahmawati Maharani dalam Ekstasi: Zarima Mir, Ria Irawan, Mohd. Said . Ketertarikan dan bakatnya terhadap bulutangkis mulai tampak sejak pulang dari New York, Amerika Serikat usai menyelesaikan sekolah dasar (SD) di Negeri Paman Sam. Sebagaimana juga Zulfikar kakaknya, ketertarikan Zarima bermula setelah dikenalkan sang ayah. “Ayah kandungnya, Mirafsur-lah yang sangat menginginkan Zarina menjadi atlet andal,” sambung Rahmawati. Bakatnya diasah sejak masuk SMP di Rawamangun hingga Ragunan, sebelum diseriusi lagi dengan masuk klub. “Obsesi itu membuat Mirafsur berlaku keras terhadapnya. Tak sia-sia, ia pernah jadi juara tunggal putri di Kejurda DKI Jaya,” sambungnya. Dari Ragunan, PB Djarum, PB Jaya Raya hingga Bimantara, karier Zarima akhirnya barlabuh ke Pelatnas PBSI di Senayan pada 1989. Ia bermain di tunggal putri dan ganda campuran berpasangan dengan Ardy Bernardus Wiranata. “Iya, kita pernah berpasangan di ganda campuran. Seingat saya pertamakali kenal sebenarnya sejak saya masih di PB Tunas Inti. Agak lupa juga saya soal sosoknya. Saya masih sangat muda waktu itu. Paling yang teringat, dia orangnya sangat pendiam,” kenang Ardy kala dihubungi Historia , 25 Maret 2019. Di Pelatnas, Zarima dilatih legenda Rudy Hartono dan Retno Koestijah. Laman BWF mencatat, Zarima ikut memperkuat skuad Indonesia di Malaysia Open 1989 tapi hanya turun di tunggal putri. Ia hanya sampai babak kedua setelah keok dua set langsung, 10-21 dan 2-11, dari Fiona Smith asal Inggris. Sayangnya, hanya sekira tiga tahun Zarima berkiprah di Pelatnas lantaran kemudian memutuskan terjun ke dunia hiburan. Zarima dalam film Cinta Anak Muda produksi 1990. (Youtube/Star Chanel) Gegara Prahara Psikis Zarima ikut terguncang akibat prahara keluarga. Ayah dan ibunya bercerai. Zarima pun gantung raket pada 1993. “Sejak itu kariernya sebagai pemain bulutangkis berantakan. Ia juga dihadapkan pada pilihan, ikut ayah atau ibu. Baginya dan saudara-saudaranya, pilihan ini berat,” kata Rahmawati. Zarima , yang sudah merintis karier film di sela-sela jadi atlet , akhirnya memutuskan terjun ke dunia hiburan . Namun ironisnya, di era itu pula Zarima terlibat narkoba hingga melekatkan julukan “Ratu Ekstasi” padanya. Bukan hanya pihak keluarga yang kaget, kawan-kawannya di dunia bulutangkis juga terkejut. “Sejak Zarima berhenti main badminton, saya enggak pernah kontak juga. Ya namanya juga zaman dulu alat komunikasi dan media sosial enggak seperti sekarang. Mendadak cuma tahu berita Zarima kena kasus narkoba itu,” ujar Ardy lagi. Mantan pelatihnya, Retno, syok dan menyesalkan skandal itu. “Padahal selain pukulan-pukulan Zarima cukup bagus, dia juga disiplin. Makanya kaget ketika melihat fotonya terpampang di koran karena kasus ekstasi,” ungkap Retno dikutip Rahmawati.

  • Bencana di Danau Ladoga

    ARLOJI tua itu masih berdetak. Arloji itulah satu-satunya benda yang jadi medium Nastya Tkachyova (Galina Kuznetsova) tu mengenang pria yang dikasihinya. Arloji itu juga saksi bisu kala Nastya muda mati-matian menyelamatkan diri dari Pengepungan Kota Leningrad (kini St. Petersburg) via Danau Ladoga, sepanjang malam 16 September hingga pagi 17 September 1941. “Hanya arloji ini yang tersisa. Kami tidak punya foto. Semua sudah binasa bersama kota yang luluh lantak oleh pengeboman (Nazi Jerman),” kenang Nastya. Sekilas memori wanita tua itu jadi mukadimah yang disajikan sutradara Aleksey Kozlov dalam film Spasti Leningrad ( Saving Leningrad ). Drama sepanjang 96 menit ini mengangkat satu dari sekian bab sejarah mengenai Pengepungan Leningrad (8 September 1941-27 Januari 1944). Wanita uzur itu mengingat kembali peristiwa tersebut, Nastya muda (Maria Melnikova) buru-buru mengepak koper untuk ikut kekasihnya Kostya Gorelov (Andrey Mironov-Udalov), seorang kadet artileri Angkatan Darat (AD) Uni Soviet. Keduanya berniat menumpang Tongkang 752 untuk keluar dari kota via Danau Ladoga menuju Novaya Ladoga di timur Leningrad, wilayah yang belum dikepung Nazi Jerman. Kebetulan, kompi tempat Kostya bertugas juga akan diberangkatkan bersama ratusan kadet medis Angkatan Laut (AL) Soviet. Tapi jelang keberangkatan, sekompi kadet itu justru mendapat perintah dadakan untuk tidak berangkat dan membantu Tentara Merah dan milisi sipil menahan Nazi Jerman di pesisir Leningrad. Kostya mestinya batal berangkat bersama kompinya, namun ayahnya, Kolonel Laut Nikolai Gorelov (Vitaliy Kishchenko), menyuruhnya berganti seragam dari kadet AD menjadi kadet AL. Sang ayah tetap ingin putranya ikut keluar dari Leningrad. Mulanya banyak perwira yang khawatir untuk memberangkatkan Tongkang 752 dengan ditarik Kapal Selemdzha, terlebih turut diisi ribuan sipil. Selain khawatir ancaman Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman), buruknya cuaca juga jadi kecemasan besar sang nakhoda kapal penarik tongkang, Kapten Dmitrievich Erofeev (Aleksey Shevchenko). “Saya yang akan bertanggungjawab jika terjadi apa-apa. Sebagai buktinya, putra saya akan ada di tongkang (752) itu,” ujar Kolonel Gorelov yang merupakan komandan pangkalan. Sang nakhoda pun melaksanakan perintahnya untuk memenuhi tongkang usang berkapasitas 600 orang itu dengan 1500 orang. erjatuhan kala Tongkang 752 diserang pesawat Jerman (Foto: Twitter @roskino) Namun belum lama tongkang berlayar, badai mengombang-ambingnya dan kapal penarik. Paginya, giliran dua pesawat Jerman menghujani tembakan ke arahnya. Dengan senjata seadanya, Mosin-Nagant, Kostya dan sisa kadet AL Soviet dengan heroik balas menembak hingga kedua pesawat jatuh. Meski begitu, serangan udara itu sudah lebih dulu memakan ribuan jiwa. Hanya sekira 200-an jiwa yang selamat dan ditolong kapal penarik dan beberapa kapal motor AL Soviet lain yang datang terlambat. Mereka dievakuasi ke Novaya Ladoga. Di pesisir Novaya Ladoga, Kostya berkumpul dengan sisa kompinya pasca-gagal memukul mundur pasukan Jerman. Termasuk bertemu lagi dengan sersan-pelatihnya yang sempat menyita arlojinya untuk kemudian dikembalikan pada Kostya. Sinematografi yang Kurang Greget Saving Leningrad jadi penggambaran terbaru tentang pengepungan Leningrad di Perang Dunia II setelah beberapa film dokumenter dan film Attack on Leningrad (2009). Namun, alur Saving Leningrad kurang greget dan adegan-adegan pertempuran di pesisir kota serta serangan pesawat Jerman ke Tongkang 752 pun kurang mengena jika dibandingkan film-film tentang front timur lain, seperti Enemy at the Gates (2001). Saving Leningrad juga tidak sepenuhnya menggambarkan derita sipil yang kelaparan dan serdadu Soviet yang kekurangan amunisi dalam meladeni serbuan Jerman di dalam kota. Kozlov lebih fokus menggambarkan kepanikan dan ketakutan yang dialami ribuan penumpang Tongkang 752 yang belum pernah diungkap ke publik sebelumnya. Namun, iringan tata suara garapan Yuri Poteyenko, ditambah bahasa Rusia yang dipergunakan dalam seluruh dialognya, cukup membawa penonton ke suasana Leningrad di masa itu. Hebatnya lagi, film yang diluncurkan awal tahun 2019 ini hampir tak diselipi visual effect selain di adegan tongkang dihantam badai. Untuk itulah Kozlov dan timnya mereplika Tongkang 752 dan laiknya Dunkirk (2017) garapan Christopher Nolan, shooting- nya benar-benar dilakukan di air, di Danau Ilmen, Novgorod. “Perfilman Rusia kekurangan entertainment, menurut saya. Jika kami bisa mendekati film yang dibandingkan dengan kami (Dunkirk), saya senang, tidak hanya untuk diri saya sendiri tapi juga untuk perfilman Rusia,” tutur Kozlov, dikutip media Rusia Tech2 , 25 Januari 2019. Fakta yang Terungkap Bencana yang menewaskan sekira 1500 orang itu baru pada 2004 terungkap dari sebuah arsip yang lama disimpan militer Soviet (kini Rusia). Dari arsip-arsip inilah Kozlov menggodok naskah. Faktanya diperkuat dengan kesaksian seorang penyintas Tongkang 752 yang ditemuinya, Galina Kuznetnsova. Galina adalah karakter figuran wanita tua yang digambarkan menceritakan kisahnya sebagai Nastya. “Awalnya sutradara meminta saya memainkan peran utama di usia tua. Umur saya 87 tahun dan saya sudah tidak terlalu sehat. Karenanya saya menolak peran utama,” ujar Galina yang akhirnya setuju jadi figuran di awal film, dilansir metronews.ru , 25 Januari 2019. Kapten Erofeev merupakan figur nyata satu-satunya dalam Saving Leningrad yang diperankan Aleksey Shevchenko Kendati jalan ceritanya berdasarkan pengalaman Galina, nyaris semua karakter dalam film adalah fiktif. Hanya satu tokoh yang berdasarkan karakter nyata, yakni Kapten Erofeev, nakhoda kapal penarik Tongkang 752. Namanya diambil Kozlov dari arsip-arsip yang diungkap militer Rusia. “Selain dia, karakter sisanya adalah fiktif. Tetapi kami mengangkat fakta terkait imbas yang diderita akibat blokade itu. Fakta yang tidak diketahui sebelumnya oleh siapapun yang baru akan tahu pada 28 Januari,” sambung Kozlov. Saving Leningrad resmi dirilis pada 28 Januari 2019 di St. Petersburg, bersamaan dengan peringatan 75 tahun pembebasan Leningrad. Produser Arkady Fateev berharap generasi muda bisa mengambil pelajaran dari film dan arsip-arsip yang baru diungkap itu. “Kami harus mengoreksi fakta-fakta yang sebelumnya direkayasa. Oleh karenanya kami bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan untuk membuka mata pelajaran terbuka tentang blokade Leningrad ini kepada para pelajar pada 28 Januari. Film kami dibuat untuk memicu masyarakat berpikir kritis, mempelajari tentang tragedi ini dan banyak hal lain terkait fakta-fakta yang belum terungkap,” tandasnya, disitat RIA Novosti , 25 Januari 2019.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page