top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Di Balik Ciuman yang Diabadikan

    MASYARAKAT Kota Yogyakarta digegerkan oleh aksi vandalisme yang menyasar relief Monumen Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di kompleks Museum Benteng Vredeburg. Pelakunya masih diburu polisi. Tindakan vandalisme itu diduga terjadi pada Jumat, 15 Februari 2016 dini hari. Aksi vandalisme ternyata juga terjadi di Amerika Serikat (AS). Perilaku tak terpuji itu menyasar patung Unconditional Surrender atau biasa dikenal sebagai patung V-J Day pada Selasa, 19 Februari 2019 waktu setempat, sebagaimana dikutip ABC News , 20 Februari 2019. Sama seperti di Yogyakarta, hingga kini kasus vandalisme ini masih dalam tahap penyelidikan kepolisian. Patung berbentuk seorang serdadu AL AS dan seorang wanita yang tengah berciuman itu dibuat untuk merayakan kemenangan Sekutu atas Jepang di Perang Dunia II. Dalam aksi vandalisme tersebut, kaki kiri patung wanita, yang menggambarkan sosok Gretta Zimmer Friedman, seorang perawat di klinik gigi, dicoret dengan tulisan “#MeToo” berwarna merah. Ironisnya, aksi vandalisme terjadi tak lama setelah George Mendosa, sosok serdadu AL di patung itu, meninggal pada 16 Februari 2019 dalam usia 95 tahun. Mula Foto Ikonik Patung Unconditional Surrender dibuat Seward Johnson II berdasarkan foto lawas karya fotografer AL AS Victor Jorgensen yang menangkap pose fenomenal pada perayaan V-J Day di Times Square, 14 Agustus 1945. Kisah di balik jepretan foto itu juga merupakan aksi spontan Mendonsa. Mendosa merupakan seorang pelaut kelas satu yang bertugas di kapal perusak USS The Sullivans (DD-537). Dia ikut serta ketika USS The Sullivans ambil bagian dalam operasi amfibi di Hollandia (kini Jayapura), medio April 1944. Sedangkan Gretta Zimmer Friedman, adalah pelarian dari Austria saat Perang Dunia II berkecamuk di Eropa dan kemudian menjadi perawat dokter gigi. Gretta wafat pada 2016 di usia 92 tahun, di Richmond, Virginia. Saat berciuman, Mendonsa dan Gretta tak saling kenal. Mereka hanya dua dari puluhan ribu manusia yang menyemut dan ikut larut dalam euforia perayaan V-J Day. Mendonsa sedang mendapat cuti tugas, pun dengan Gretta yang sedang libur dari pekerjaannya. Mendonsa spontan mencium Gretta yang kebetulan berada di sebelahnya, lalu dijepret Eisenstaedt. Foto itu booming setelah Majalah Life menjadikannya cover dua pekan setelahnya . Life hanya menampilkan fotonya tanpa menyebut siapa kedua insan itu lantaran Eisenstaedt tak mendapatkan informasi kedua muda-mudi itu. Di waktu hampir bersamaan, muncul pula foto serupa miliki Victor Jorgensen dengan angle sedikit berbeda. Serupa foto milik Eisenstaedt, dua pemuda di foto milik Jorgensen pun masih misterius. Selama 74 tahun Mendonsa mengklaim itu adalah foto dirinya, namun tak satu pihak pun mengakui, termasuk majalah Life. Klaim Mendosa baru diamini banyak pihak tahun 2012, setelah Lawrence Verria dan George Galdorisi menelitinya. Hasil penelitian Verria-Galdorisi itu dibubukan Naval Institute Press dengan jugul The Kissing Sailor: The Mystery Behind the Photo That Ended World War II. Dalam risetnya, Verria dan timnya melakukan pemindaian wajah dengan teknologi facial recognition yang kemudian diteliti ulang oleh sejumlah ahli fotografi. “Hasilnya sangat menakjubkan. Tidak diragukan lagi orang ini layak mendapat pujian sepanjang hidupnya,” ujar Verria. Pengakuan terhadap Mendonsa lebih meluas lagi setelah tim Mitsubishi Electric Research Laboratories (MERL) di Cambridge, Massachussetts, melakukan riset serupa. MERL menggunakan teknologi pemindaian wajah Leading-Edge-3-D dan hasilnya juga jadi bukti bahwa sosok pelaut di pose bersejarah itu adalah Mendonsa. “Dengan kombinasi teknologi itu dan analisis para ahli foto, menghasilkan bukti nyata bahwa George Mendonsa, adalah pelaut dalam pose ciuman di majalah Life 1945 itu,” ungkap Robert Hariman dan John Louis Lucaites dalam No Caption Needed: Iconic Photographs, Public Culture and Liberal Democracy . Diabadikan Lewat Patung Foto Mendosa dan Gretta karya Jorgensen menjadi acuan Seward Johnson dalam  membuat patung Unconditional Surrender. Johnson membuat patung perunggu setinggi 7,6 meter itu atas permintaan Sarasota Season of Sculpture (kini Sarasota Sculpture Center/SSC) yang mengadakan pameran di Sarasota pada 2005. “Direktur (SSC) Jill Kaplan merasa foto itu jadi kenangan yang paling diingat terkait perayaan V-J Day buat masyarakat Amerika. Foto tenar itu menjadi simbol abadi dalam perayaan berakhirnya perang,” tulis Susan Goldfarb yang dimuat dalam Longboat Key Life , 15 Februari 2008. Setelah beberapa kali dibongkar-pasang untuk dipindah, pada 2015 patung Unconditional Surrender dipasang secara permanen di New York. Johnson membuat beberapa patung serupa untuk dipasang secara permanen di Civitavecchia (Italia), Sarasota (Florida), Royal Oak (Michigan), Key West (Florida), dan Bastenaken (Belgia). Patung yang dijadikan sasaran vandalisme baru-baru ini adalah patung versi kedua karya Johnson yang dipasang di Sarasota.

  • Manuver Politik Jelang Pemilu 1955

    SUARA gamelan sayup-sayup terdengar di kejauhan. Warga desa berbondong-bondong langsung mendatanginya untuk menonton. Pentas ketoprak di lapangan kampung itu merupakan bagian dari kampanye yang dilakukan PKI. Lantaran bagian dari kampanye, dialog para pemain dalam ketoprak itu banyak berisi slogan-slogan komunis. Para pemain ketoprak biasanya sudah ahli dalam menyisipkan slogan partai tanpa mengganggu isi cerita. Teknik ini sangat efektif dalam mempopulerkan slogan karena bisa lama diingat dan disukai warga desa. “Orang-orang desa banyak berdatangan karena pada umumnya kekurangan hiburan. Sejauh itu, belum ada partai politik lain di Yogyakarta yang memiliki ide kampanye seperti PKI,” tulis Selo Soemardjan dalam Perubahan Sosial di Yogyakarta. Selain menggelar kesenian tradisional, PKI juga berkampanye dengan cara melakukan kunjungan langsung terhadap calon pemilih atau anjang sana . Untuk mencegah kejenuhan calon pemilih gara-gara dikunjungi kader yang itu-itu saja, PKI di Gunung Kidul membuat sistem rolling . Tiap kader mengunjungi tempat yang berbeda dalam satu periode. Cara ini cukup efektif karena pemilih yang rumahnya sering dikunjungi biasanya pakewuh kalau tidak memberikan suara. Partai politik selain PKI biasanya membatasi diri pada ceramah tentang masalah yang sedang hangat, program partai, dan pemasangan poster partai. Ceramah biasanya dilakukan di tempat terbuka, semisal Stadion Kridosono. Partai yang tidak punya cukup anggaran kampanye, seringkali menarik pemimpin formal, informal, atau tokoh masyarakat berpengaruh sebagai kader untuk menjaring suara. Ikatan kekeluargaan bahkan menjadi jalan terbaik untuk melakukan pendekatan di desa. Selain kampanye dari partai politik, sosialisasi mengenai pentingnya mengikuti pemilu, tugas konstituante, dan peran partai politik, juga dilakukan Kementerian Penerangan yang bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri. Tugas ini cukup sulit dilakukan mengingat angka buta huruf sangat tinggi. Di Yogyakarta, misalnya, angka buta huruf mencapai 60%. “Penduduk perkotaan biasanya mempunyai hubungan yang lebih erat dengan partai politik. Mereka lebih terdidik serta lebih paham dibanding penduduk di pedesaan,” tulis Selo Soemardjan. Di masa kampanye untuk Pemilu 1955 itu, persaingan antarpartai sangat terlihat, terutama partai dengan sasaran massa yang sama semisal NU dan Masyumi –NU memisahkan diri dari Masyumi pada 1952. Kedua partai berbasis agama ini bersaing untuk menarik dukungan para santri. Masyumi juga sempat bersitegang dengan Sukarno pada 1953. Kala itu, terjadi polemik antara Presiden Sukarno  dan pemimpin Masyumi Isa Ansyari. Sukarno menginginkan negara kebangsaan daripada negara Islam. Sementara, Isa Ansyari menganggap sikap Sukarno sebagai pengingkaran hak-hak demokratis orang Islam. Sementara, PKI dan PNI bersaing untuk mendapatkan dukungan kaum abangan. Pejabat abangan dan elite sosial cenderung mendukung PNI karena identik dengan nasionalisme. PNI sangat membanggakan kedekatannya dengan Sukarno dan menggunakannya sebagai bahan kampanye. Mereka juga mengklaim punya peran besar dalam menentang kolonialisme. Dengan taktik kampanye ini, PNI cukup berhasil. Di Jakarta, para pegawai negeri sipil, kecuali pegawai Kementerian Agama, lebih banyak yang memilih PNI. Alhasil, PNI mendapat suara terbanyak dalam pemilu 29 September 1955 yang diikuti 118 peserta dengan 36 partai politik, 34 organisasi kemasyarakatan, dan 48 perorangan. PNI tercatat memperoleh 22,3% suara. Meski jumlah suara yang didapat PNI lebih banyak dari Masyumi dengan 20,9%,  keduanya mendapat 57 kursi di DPR. Sementara NU mendapat 45 kursi dengan perolehan suara 18,4%. PKI mendapat 39 kursi dengan perolehan 16,4% suara. "PKI, PNI, NU merupakan partai-partai besar di Jawa Timur dan Tengah. Sedangkan Masyumi kuat di semua provinsi, kecuali Jawa Timur dan Tengah," tulis William Liddle dalam Partisipasi dan Partai Politik . Tingginya suara Masyumi di berbagai provinsi sudah dibuktikan pada pada pemilu percobaan di daerah. Tahun 1951 di Yogya, misalnya, Masyumi memenangkan 15 dari 40 kursi DPRD DIY. Selo Soemardjan menyebut, kemenangan Masyumi lantaran kuatnya Muhammadiyah di Yogyakarta.

  • Pertempuran Surabaya dari Mata Perempuan

    SUATU hari di Surabaya pasca-proklamasi. Pasukan Inggris menyerang Banyuurip, Surabaya. Riet dan suaminya, Boenakim, yang sedang berjaga di pos dekat Pasar Kupang, menyaksikan mereka menembak ke segala arah dengan membabi buta. Sejak pertempuran pecah, Riet ambil bagian dalam perjuangan sebagai anggota palang merah. Sementara, Boenakim sebagai komandan pos. “Aduh!” kata Boenakim yang sekonyong-kongyong ambruk. Riet langsung menjerit. Dilihatnya punggung Boenakim berlubang terkena peluru yang menembus lewat dadanya. Darah mengalir dari dada, punggung, mulut, dan telinga Boenakim. Di tengah kepanikannya, Riet terus memberi pertolongan pada suaminya. Parto, anak buah Boenakim, lantas datang membantu. Riet dan Parto bahu-membahu merawat luka Boenakim. Namun sayang, nyawa Boenakim tak tertolong. Di pangkuan istrinya, Boenakim meninggal pada 11 November 1945 pukul 10.45. Sampai di rumah Riet, Kampung Asemjajar, suasana sudah sunyi. Seluruh penduduk kampung mengungsi lantaran takut sewaktu-waktu dibom Sekutu. Pasalnya, kampung sebelah, Asemrowo dan Dupak, sudah dibumihanguskan Sekutu dengan hujan bom. Setelah satu jam menyiapkan pemakaman hanya bersama Parto, Riet kedatangan empat perempuan tetangga yang membantunya bekerja di dapur. Suara bom dan mortir terus-menerus terdengar di kejauhan. Semua bekerja dengan cemas. Pukul tiga sore, suara ledakan bom makin menjadi namun hilang setengah jam kemudian. Riet mengira kedua belah pihak kehabisan amunisi. Di saat itulah, anak buah Boenakim berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir kepada komandan mereka. Menjelang penguburan, suara letusan senjata kembali terdengar. Jenazah Boenakim yang semula akan dimakamkan bersebelahan dengan ibunya, batal dilakukan. Situasi terlalu berbahaya, jalan-jalan ditutup. Satu-satunya tempat aman yang bisa dijangkau adalah kebun milik Riet di dekat sawah. amun ketika rombongan baru jalan sekira 100 meter, letusan senjata kembali terdengar. Mereka langsung tiarap dan mencari tempat aman. Keranda terpaksa mereka taruh di tanah. “Karena keadaan inilah jarak dekat antara rumah dan kebon, kami tempuh tak kurang dari satu jam,” kata Riet Boenakim dalam memoarnya, Sumbangsihku bagi Ibu Pertiwi jilid 3. Malamnya, Riet langsung meninggalkan kampung dan bergabung dengan pejuang lain di Banyuurip. Riet bekerja di dapur umum merangkap juru rawat dan dilibatkan dalam rapat-rapat strategis. Pada hari kelima pasca-kematian Boenakim, Pos Banyuurip diserang. Seluruh pengungsi dan para pejuang pindah ke Kandangan. Riet mengikuti dengan menumpang tank. Setelah Kandangan tak lagi aman, warga Surabaya mengungsi ke berbagai tempat. Riet memilih ke Yogyakarta. Kembali ke Yogyakarta Yogyakarta bukan kota asing buat Riet. Ia lahir dan besar di sana. Riet menempuh pendidikan di Neutrale Hollandsche Javanesche Meisjeschool bersama Arini Soewandi, kelak menjadi anggota DPRD DIY 1966/67. Semasa sekolah, Riet dan Arini aktif di kepanduan yang diketuai Pranyoto. “Kami mempunyai idola pemimpin yang sama, yakni Bapak Pranyoto. Orangnya tenang, sabar, dan berwibawa,” kata Arini dalam memoarnya di Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi V. Sekembalinya ke Yogyakarta, Riet langsung aktif di Perwari dan menjadi pengurus ranting Danureja. Mereka lalu membuka kelas penghapusan buta huruf untuk anak-anak kelas bawah dan perempuan dewasa yang belum pernah mengenyam pendidikan Barat. Riet juga aktif menyelenggarakan dapur umum dan mengumpulkan informasi sembari menyamar sebagai mbok - mbok pencari bayam. Keaktifannya di Perwari tak membuat Riet meninggalkan kepanduan. Kesibukannya makin bertambah setelah menjadi pegawai sipil menengah di bagian pemeriksaan Markas Besar Polisi Tentara Laut pada November 1946. “Tugas sosial Perwari dan kepanduan tetap kukerjakan pada sore harinya, bahkan sampai malam hari,” kata Riet. Semasa Ki Mangunsarkoro menjadi Menteri Pendidikan, Riet bekerja di Pendidikan Masyarakat bagian Kepanduan, Pemuda, dan Olahraga. Riet kemudian diperbantukan di Kwartir Besar Putri Pandu Rakyat Indonesia. Banyaknya pelatihan yang diikutinya membuat Riet kemudian diangkat menjadi Komisaris Besar (Andalan Nasional) golongan Kurcaci yang memimpin Pramuka Siaga Putri. Bersama Eni Karim, Rimmy Tambunan, Otti Adam, dan Mulyati, Riet dilantik menjadi anggota inti Korps Wanita Angkatan Darat dengan pangkat mayor pada 1960. Dari kedua lembaga ini, Riet mendapat banyak ilmu baru dan sering dikirim untuk mengikuti kursus-kursus kepemimpinan, salah satunya pelatihan pandu putri internasional di Australia pada 1971. Terbitan pramuka putri Australia, Matilda , memberitakan kedatangan Riet bersama dua orang perwakilan Indonesia. “Sangat sulit mengenali seorang Letnan Kolonel Nyonya Riet D Boenakim dari Indonesia, mengenakan pakaian nasional dan menampilkan tarian tradisional,” ditulis Matilda, Juli 1971. Riet terus aktif dalam kepanduan dan militer. Ia menjadi Komandan Detasemen Korps Wanta Angkatan Darat II di Bandung dan menjadi staf Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Kepengurusannya di Perwari juga terus dipertahankannya. Selama lima tahun sejak 1973, Riet menjadi direktris Panti Asuhan Trisula milik Perwari. Keaktifan di militer dan kegiatan sosial Riet menjadi pembunuh sepinya pasca-kematian suaminya. “Aku merasa hidup kembali dan menghirup kesegaran,” kata Riet.

  • Bandit Menguasai Malam di Batavia

    RUMAH kayu itu berwarna kecoklatan. Arsitekturnya bergaya rumah panggung. Sangat mencolok di antara bangunan landai sekitarnya. Rumah itu merupakan tempat tinggal seorang tajir melintir keturunan Bugis bernama Haji Sapiudin di Batavia pada akhir abad ke-19. Si Pitung menyatroni rumah itu pada suatu malam dalam bulan Juli 1892. Tujuannya mengambil-alih harta si pemilik rumah. Dia membawa lima temannya dan sebuah revolver.

  • Ikan, Kuliner Favorit Sejak Dulu

    “Tidak makan ikan, saya tenggelamkan!” begitu bunyi kelakar yang tak asing lagi terdengar dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Lewat candaannya itu, dia mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi ikan. Ikan menjadi makanan favorit sejak dulu kala. Sebagaimana disebut sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin , kekayaan ikan di Kepulauan Nusantara membuat kagum para penjelajah asing. Marcopolo misalnya. Pelaut asal Italia itu sempat menginjakkan kaki di tanah Sumatra pada akhir abad ke-13. “Ikan di kawasan Asia Tenggara merupakan yang terbaik di dunia,” kata Marcopolo. Laksamana Cheng Ho yang melakukan ekspedisi ke Nusantara pada abad ke-15 M sempat menggerutu langka dan mahalnya beras, daging, maupun sayuran di beberapa pelabuhan Asia Tenggara. Namun, ikan murah dan melimpah di mana-mana. Jauh sebelum kedatangan mereka, data dari masa kerajaan-kerajaan kuno sudah membuktikan banyaknya ragam ikan yang dikonsumsi masyarakat kuno. Arkeolog Supratikno Raharjo dalam Peradaban Jawa menyebut orang-orang pada masa itu telah memanfaatkan ikan tawar dan laut untuk dikonsumsi. Ikan tawar, seperti kepiting ( hayuyu ), udang sungai ( hurang ), sejenis ikan ( wagalan, kawan-kawan, dlag ). Ikan laut adalah kepiting laut ( gtam ), cumi ( hnus ), kerang-kerangan ( iwan knas ), sejenis ikan laut ( kadiwas, layar-layar, prang, tangiri, rumahan, slar ). Ada pula beberapa jenis ikan yang tidak diketahui habitatnya, yaitu  bijanjan, bilunglung, harang, halahala,  dan  kandari. Sumber prasasti juga menyebutkan beberapa jenis ikan yang diawetkan dalam bentuk dendeng ( deng ) atau rasa asin ( asin-asin ) sebelum dikonsumsi. Kedua jenis itu, baik ikan segar maupun yang telah dikeringkan, menjadi komoditas yang diperjualbelikan di pasar. Data prasasti menggambarkan sajian dari ikan selalu ada dalam upacara penetapan  sima. Keterangan itu ditemukan dalam Prasasti Taji (823 Saka/901 M), Panggumulan (824 Saka/902 M), Sangguran (850 Saka/928 M), Paradah (865 Saka/943 M), dan Rukam (829 Saka/907 M). Pada prasasti-prasasti itu tertulis  asin asin dain kakap  (ikan asin kakap),  kadiwas, bilunglung, hala hala, layar layar  , dan  kawan . Hewan air lainnya dijumpai dengan istilah hurang  (udang). Untuk ikan yang diasinkan atau dikeringkan istilahnya grih (ikan asin) atau  gêreh  dalam bahasa Jawa) dan ḍeŋ/ḍaiŋ (dendeng/ikan yang dikeringkan). Arkeolog Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa menjelaskan, dalam prasasti ada dua macam dendeng yaitu ikan yang dikeringkan dengan rasa asin atau rasa tawar. “Demikianlah mereka semua menambah kepada daun mereka, lalu menyantap jenis-jenis makanan, nasi matiman menumpuk ikan yang diasinkan, seperti dendeng kakap, dendeng bawal, ikan asin kembung (ikan peda?), ikan layar atau pari, udang, hala hala, dan telur,” sebut Prasasti Panggumulan. Dalam Prasasti Rukam (829 Saka/907 M), disebutkan jenis makanan yang dihidangkan di antaranya adalah nasi paripurna  timan?  berlimpah-limpah  haraŋ-haraŋ,  dendeng kakap, dendeng bawal, dendeng ikan duri, dendeng  hanaŋ, kawan kawan,  ikan kembung, ikan layar/pari,  hala hala,  udang, ikan gabus dikeringkan, serta telur kepiting. Kata Titi, dari jenis hidangan yang disajikan pada upacara penetapan sima  terdapat juga jenis makanan yang umum dijadikan konsumsi sehari-hari, yaitu ikan asin. “Sampai saat ini pun ikan asin masih umum dikonsumsi sebagai salah satu jenis lauk pauk sehari-hari di pedesaan,” jelas Titi. Relief sajian ikan di Candi Borobudur. Pada sebuah panil di relief Candi Borobudur tergambar beberapa menu dari ikan. Pertama, empat ikan belut yang disajikan dalam posisi melingkar. Kedua , tiga ekor ikan yang cukup besar, disajikan utuh, kepala, tubuh, hingga ekor. Ketiga , dua tusuk potongan tubuh ikan yang dirangkai dengan tusuk bambu persegi memanjang. “Hal ini memgingatkan kita kepada pepatah Jawa ‘ kutuk marani sunduk ’. Kemungkinan lain adalah semacam sate daging ikan yang dihaluskan dan dibumbui, kemudian dipanggang, yang kini disebut dengan ‘brengkes ikan’,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang. Lalu ada juga dua kepiting atau yuyu dan empat ekor ikan. Kedua jenis masakan itu, masing-masing nampak hanya bagian atasnya, sepasang sapit dan kepala ikan. “Boleh jadi itu lantaran makanan ini berkuah, bagian tengah dan bawahnya terendam kuah,” kata Dwi.

  • Asa yang Kandas di Negeri Sakura

    BERAGAM foto hitam-putih menghiasi tiga sisi dinding ruang tamu kediaman Hendrik Brocks di Sriwidari, Kota Sukabumi. Sejumlah piagam dan medali yang tertata rapi di satu lemari kaca, menemani. Itu semua merupakan buah prestasi Hendrik di berbagai ajang balap sepeda road race tingkat Asia Tenggara maupun Asia. Hanya satu yang tak ada dalam deretan penghargaan Hendrik tadi, yakni medali olimpiade. “Kalau bukan karena masalah politik, mungkin kita sudah bisa dapat medali di tahun 1964 di (Olimpiade) Tokyo,” ujar Hendrik menyesalinya saat mengenang masa-masa jayanya, kala ditemui Historia , 11 Februari 2019. Medali olimpiade, terlebih medali emas, senantiasa jadi mimpi terbesar setiap atlet. Tak terkecuali Hendrik Brocks, pembalap sepeda legendaris Indonesia era 1960-an. Sayang, kesempatannya untuk meraih medali olimpiade sirna akibat politik. “Waduh itu nyeselnya waktu itu. Saya perkirakan minimal dapat perunggu. Balap sepeda waktu itu kita masih merajai di Asia. Tapi akhirnya kita enggak jadi tanding waktu itu karena ada masalah itu. Ya itu negara urusannya,” kata Hendrik menjelaskan. Tersandung Politik Hendrik merupakan salah satu anggota andalan Indonesia di balap sepeda sejak Olimpiade Roma 1960. Di olimpiade itu, tulis buku Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah: Periode 1945-1965 , Indonesia mengirim tim di tujuh cabang, yakni menembak, renang, angkat besi, anggar, atletik, tinju, dan balap sepeda. Di tim balap sepeda, Hendrik bahu-membahu bersama Theo Polhaupessy, Hamsjin Rusli, Sanusi, dan Munaip Saleh. Sayang, tak satupun dari mereka membawa pulang medali. “Di kategori perorangan saya gagal finis, ketinggalan jauh dari para pembalap Eropa dan (benua) Amerika. Tapi untuk tim beregu kita sudah terbaik di Asia waktu itu,” kata Hendrik. Hendrik Brocks, legenda balap sepeda Indonesia yang kini tuna netra akibat penyakit glaukoma (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Di olimpiade itu, hanya Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) wakil Asia yang lolos kualifikasi. Catatan waktu Indonesia di putaran final jauh lebih baik dari Korsel. Tim beregu road race Indonesia menempati urutan ke-26 dari 32 tim dengan catatan waktu 2 jam 34 menit 29,98 detik, sementara Korsel menempati urutan ke-30 dengan torehan waktu 2 jam 53 menit 09,51 detik. Sebagai “Macan Asia”, kedigdayaan Indonesia di balap sepeda dibuktikan di Asian Games 1962 di Jakarta. Indonesia jadi juara umum dengan tiga emas dan satu perunggu. Ketiga emasnya disumbangkan Hendrik di nomor open road race individual, team road race, dan team time trial. Di Ganefo (Games of the New Emerging Forces) 1963 di Jakarta, Hendrik menyumbang satu emas dan satu perak. Namun, di Asian Games 1962 dan Ganefo 1963 itulah Indonesia bergelut dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC). Gara-gara Indonesia melarang Israel dan Taiwan ikut serta dalam Asian Games 1962 sebagai sikap politik pro-Palestina dan pengakuan satu China, IOC menjatuhkan sanksi medio Februari 1963. “Saya menyatakan memberi sanksi terhadap Komite Olimpiade Indonesia. Prinsip-prinsip olimpiade jelas tak dihormati di negara itu,” ujar Presiden IOC Avery Brundage, dikutip Alfred Senn dalam Power, Politics and the Olympic Games . Tapi keanggotaan Indonesia di IOC kemudian dipulihkan menjelang Olimpiade 1964. Pasalnya, Jepang sebagai tuan rumah dan Meksiko sebagai tuan rumah olimpiade 1968 khawatir boikot Indonesia, yang mendapat simpati negara-negara Arab, akan mengurangi level kesuksesan olimpiade di Jepang dan Meksiko. “Presiden Meksiko (Adolfo López Mateos, red. ) mengambil prakarsa terobosan menghubungi pihak Jepang untuk kemudian berusaha menemukan jalan keluar lewat lobi-lobi internasional. Hasilnya pada Juni 1964 skorsing terhadap Indonesia dicabut. Jepang kemudian diizinkan mengundang Kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo 1964,” tulis Julius Pour dalam Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno . Pun begitu, Indonesia tetap batal hadir di Olimpiade Tokyo 1964. Perkaranya, seperti termuat di buku The Games of the XVIII Olympiad Tokyo 1964: The Official Report of the Organizing Committee Volume 1 , tidak semua atlet Indonesia diizinkan bertanding, khususnya para atlet renang dan atletik. FINA (Federasi Akuatik Internasional) dan IAAF (Federasi Atletik Amatir Internasional) belum mencabut sanksi para atlet Indonesia yang berlaga di Ganefo 1963. Kontingen Indonesia pun memutuskan seluruh atletnya mundur ketimbang ikut tapi beberapa atletnya dilarang berlaga. Para atlet Indonesia meninggalkan Tokyo jelang pembukaan Olimpiade 1964 (Foto: Repro "The Games of the XVIII Olympiad Tokyo 1964") “Sebenarnya saya, tim balap sepeda dan beberapa cabang lain, sudah lebih dulu diberangkatkan ke Jepang. Seingat saya ada tim tinju sama angkat besi juga. Kami di tim sepeda sudah nyobain rutenya tuh di Jepang. Tapi paginya sebelum pembukaan (Olimpiade, 10 Oktober 1964, red. ), kita disuruh mengepak koper semua untuk pulang ke Indonesia. Kita semua mundur dari olimpiade,” ujar Hendrik. Keputusan mundur itu tak hanya menimbulkan penyesalan di dalam diri Hendrik dan para atlet Indonesia. Pelatihnya asal Jerman Timur, Heinz Schmidt, bahkan paling terpukul. Berbulan-bulan upayanya mempersiapan para atlet untuk bisa mensejajarkan diri dengan para kontestan Eropa, kandas. “Pelatih saya, si Schmidt itu, sampai jadi gila dia karena kecewa. Ya karena olimpiade kan bukan event kecil dan catatan tercepat waktu uji coba yang kita buat selama persiapan di Jepang sesuai dengan peraih emas olimpiade. Sampai pernah ditangkap polisi karena mabuk-mabukan. Kasihan dia,” kata Hendrik. Setelah itu, prestasi balap sepeda Indonesia perlahan mengendur kendati di Ganefo Asia 1966 prestasinya lumayan. Di Olimpiade Meksiko 1968, Hendrik dkk. gagal lolos. “Kita enggak lolos kualifikasinya. Olahraga semuanya kena imbas karena negara kita juga lagi ngambang, kacau (pasca-Tragedi 1965 dan transisi kepemimpinan 1967). Negara kita lagi babak belur, banyak atletnya jadi korban juga pada waktu itu,” kata Hendrik menutup pembicaraan.

  • Kasus Jenderal Tuan Tanah

    Dalam debat calon presiden minggu lalu, terungkap aset milik salah satu kandidat. Setelah disentil Joko Widodo, Prabowo Subianto mengakui punya lahan seluas 340.000 hektar. Letaknya terpencar. Sebanyak 220.000 hektar ada di Kalimantan Timur dan sisanya 120.000 hektare di Aceh Tengah. Tanah seluas itu digunakan Prabowo untuk kepentingan perkebunan seperti kelapa sawit.    Bila dikomparasi, luas tanah Prabowo ini sama dengan lima kali luas Kota Jakarta. Meski luasnya mencengangkan, Prabowo jemawa. Menurut Prabowo  masih lebih baik lahan seluas itu dikelola oleh dirinya yang berjiwa nasionalis dan patriot ketimbang dikuasai pihak asing. Politikus yang juga tangan kanan Prabowo, Fadli Zon , mengatakan lahan tersebut diperoleh Prabowo lewat proses lelang dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) pasca krisis moneter 1998. Status kepemilikannya adalah Hak Guna Usaha (HGU). Jadi sewaktu-waktu, tanah itu harus dikembalikan kepada negara sesuai kontrak dan Undang-undang yang berlaku. Lahan Berkuda dan Bertinju Di masa lalu, seorang mantan jenderal pernah terjerat kasus penguasaan lahan negara. Perwira tinggi era Orde Baru itu bernama Herman Sarens Sudiro. Sekira tahun 1966-1967, Herman memperoleh tanah di Jalan Warung Buncit, Mampang, Jakarta Selatan (berada tak jauh dari Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, nyaris berhadapan dengan halte “Imigrasi” bus Transjakarta,  red ). Karena hobi memelihara kuda, Herman hendak menjadikan lahan seluas 29.000 meter persegi atau sekitar 3 hektar itu sebagai istal yang menampung kuda dalam jumlah banyak. Dalam otobiografinya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon jadi Opsir , Herman mengakui memperoleh tanah tersebut atas arahan Letjen Soeharto yang baru saja dilantik menjadi pejabat presiden. Herman cukup dekat dengan Soeharto karena pernah menjadi ajudan Soeharto ketika menjabat Komandan Komando Satuan Tugas (Kosatgas) Supersemar. Soeharto-lah yang menyarankan agar Herman membeli sebidang tanah di Warung Buncit. Di sana, Herman mendirikan Djakarta International Sadie Club (DISC). Gelanggang pacuan kuda ini menjadi arena bergengsi bagi sebuah perkumpulan olahraga berkuda yang saat itu belum begitu marak di Indonesia. Di kalangan orang tertentu, DISC mendapat sambutan positif. Tempat itu menarik minat pecinta olahraga berkuda dari kelas atas. Herman lantas mengganti nama DISC menjadi Satria Kinayungan yang diambil dari nama kuda putih milik Pangeran Diponegoro. Tak hanya menjadi arena berkuda, Satria Kinayungan berkembang ke berbagai lini sport mulai dari sasana tinju, klub berburu, dan bisnis lainnya. Para tamu Herman Sarens di lokasi itu datang mulai dari Keluarga Cendana, para perwira tinggi, sampai selebritis. “Semua orang tahu bahwa Satria Kinayungan adalah Herman Sarens,” kata Herman kepada penulis otobiografi Restu Gunawan. Setelah pensiun dengan pangkat letnan jenderal, Herman lebih dikenal sebagai pegiat olahraga. Nama Herman kondang sebagai promotor tinju yang suka membawa petinju binaannya bertanding ke mancanegara. Pada 1992, Hankam Sport Center Satria Kinayungan sudah mengasuh tak kurang dari 100 petinju. “Ada yang bekas pembunuh, bekas tukang pukul. Orang-orang seperti ini kalau tidak dirangkul mau lari kemana?” kata Herman seperti dikutip majalah Pertiwi , 15-28 Maret 1992. Sengketa di Senjakala Hingga tahun 1997, lahan milik Herman itu aktif digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga. Menurut Kompas , 21 Januari 2010, meskipun banyak digunakan orang dari keluarga penguasa dan kaum berpunya, masyarakat boleh beraktivitas di lahan itu. Warga sekitar boleh menggunakan sasana tinju, bulutangkis, atau sekadar melihat orang berlatih menunggang kuda, dan lari pagi. Menjelang akhir kekuasaan Soeharto, Satria Kinayungan mulai meredup. Pamor Herman Sarens berangsur-angsur ikut pudar. Pada awal gerakan reformasi, tiba-tiba aktivitas di pusat olahraga milik Herman itu berhenti. Herman yang telah memasuki masa tua, diusik kehidupannya. Menurut laporan Tempo , 31 Januari 2010, sejak 2005, Herman masuk daftar pencarian orang Markas Besar TNI. Sebanyak tiga kali Oditur Militer Tinggi II Jakarta memanggilnya untuk proses pengadilan. Tiga kali pula Herman mangkir. Di senjakalanya, Herman malah terlilit sengketa. Pihak TNI menyatakan, Herman menyalahgunakan wewenang saat menjadi pimpinan TNI AD tahun 1970. Herman dianggap telah menguasai lahan Satria Kinayungan semenjak dirinya menjabat Komandan Korps Markas Hankam dan Mabes AD. Herman digugat lantaran status kepemilikan lahan itu ternyata belum jelas. Pada 19 Januari 2010, Polisi Militer Komando Daerah Militer Jakarta Raya menangkap Herman karena menolak panggilan sidang Oditur Militer Jakarta. Penjemputan Herman sempat berjalan alot sehingga kediamannya di Serpong, Tanggerang Selatan dikepung aparat. Penangkapan Herman jadi pemberitaan yang menyita perhatian publik kala itu.  Proses hukum tetap berjalan meski kondisi kesehatan Herman semakin melemah karena faktor usia.   Herman akhirnya menyerahkan lahan itu kepada negara pada 17 Juni 2010 setelah ada keputusan dari Mahmakamah Militer Tinggi Jakarta. Persoalan kepemilikan lahan itu selesai dengan damai. Tak lama kemudian, Herman meninggal pada 11 Juli 2010 dalam usia 80 tahun. "Persoalan (sengketa tanah) itu selesai dengan damai,” ujar Hadijah Soediro, istri Herman, dikutip Kompas , 12 Juli 2010. “Jangankan hanya tanah, beliau pernah menegaskan bersedia menyerahkan jiwa raganya jika untuk negara," demikian pungkas Hadijah.

  • Akhir Hayat Sang Penyelamat

    SEPAKBOLA Inggris berduka. Satu legenda sohornya, Gordon Banks, mengembuskan napas terakhir dengan damai dalam tidurnya di kediamannya, Stoke-on-Trent, Selasa 12 Februari 2019 malam waktu setempat (Rabu, 13 Februari 2019 WIB) dalam usia 81 tahun. Banks menderita kanker ginjal sejak 2015. Kabar kematian kiper Inggris saat menjuarai Piala Dunia 1966 itu menuai banyak ucapan belasungkawa. Tidak hanya dari para legenda hidup, klub, FA (Induk Sepakbola Inggris) dan para pemain yang masih aktif, induk organisasi sepakbola Jerman DFB turut mengucapkan belasungkawa. “Seorang lawan yang tangguh dan pribadi yang sangat baik. Beristirahatlah dengan tenang, Gordon Banks,” cuit DFB di akun Twitter resminya, @DFB_Team_EN pada Selasa, 12 Februari 2019. Edson Arantes do Nascimento alias Pelé, legenda hidup sepakbola asal Brasil, turut terpukul mendengar kematian kiper terbaik Inggris sepanjang sejarah itu. Pelé mulai menjalin persahabatan dengan Banks pasca-sang kiper melakukan penyelamatan fenomenal dengan menggagalkan sundulan Pelé di Piala Dunia 1970. “Bagi banyak orang, memori tentang Banks ditentukan oleh penyelamatan dari peluang saya di 1970. Saya mengerti alasannya. Penyelamatan itu salah satu yang terbaik dari yang pernah saya lihat sepanjang karier saya…Saya mencetak begitu banyak gol, tapi kebanyakan orang, saat mereka bertemu saya, selalu menanyakan tentang penyelamatan itu…Jadi saya senang dia menyelamatkan sundulan saya karena itu jadi awal persahabatan kami yang sangat saya banggakan. Beristirahatlah dengan tenang, sobat. Ya, Anda adalah seorang kiper yang punya sihir. Anda adalah manusia yang sangat baik,” tulis Pelé dalam akun Facebook resminya, Selasa 12 Februari 2019. Penyelamatan fenomenal itu terjadi pada partai kedua Grup C, 7 Juni 1970 di Estadio Jalisco, Guadalajara, Meksiko. Dalam satu momen di interval pertama, Jairzinho ngacir dari sisi kiri pertahanan Inggris dan mengirim umpan lambung ke tengah kotak penalti. Pelé langsung meloncat untuk menyambut crossing itu dan menanduk bola hingga memantul lebih dulu sebelum mengarah ke sudut kanan gawang Banks. “Saya sudah berteriak ‘Gol!’ sebagai reaksi,” ujar Pelé dikutip Les Scott dalam Banksy: My Autobiograpy . Tapi betapa terkejutnya Pelé lantaran dengan cepat Banks terbang ke kanan dan menepis saat bola baru sepersekian detik memantul dekat garis gawang. Bola pun gagal bersarang dan hanya menghasilkan tendangan sudut. “Saya pikir harusnya itu gol,” cetus Pelé seketika usai sundulannya kandas. “Saya pun sempat berpikir begitu,” jawab Banks. “Anda mulai menua, Banksy. Biasanya bisa ditangkap, kan,” kata bek Inggris Bobby Moore menimpali dalam obrolan singkat. Sayang di laga itu Inggris akhirnya kalah setelah Jairzinho mencetak gol semata wayang di menit 59. Pele dan Gordon Banks yang bersahabat sejak 1970. (Facebook Pele) Dari Buruh Serabutan ke Pentas Dunia Banks lahir di Abbeydale, Sheffield, 30 Desember 1937 dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Di usia 15 tahun, Banks harus putus sekolah demi membantu perekonomian keluarga dengan menjadi buruh di perusahaan batubara lokal. Setelah itu, tulis Les Scott dalam autobiografi Banks terbitan 2002 itu, Banks jadi buruh bangunan di Catcliffe menyambi jadi kiper klub amatir Millspaugh. Titik balik hidupnya bermula saat Banks ditawari trial oleh pemandu bakat Chesterfield pada Maret 1953. Banks tak menyia-nyiakannya dan tampil impresif hingga mendapat kontrak paruh waktu dengan gaji tiga poundsterling sepekan pada Juli di tahun yang sama. Dari situlah namanya mulai dikenal hingga dibeli Leicester City pada 1959, Stoke City pada 1967, sampai pensiun bersama Fort Lauderdale Strikers pada 1978. Performa apiknya saat bersama Leicester menjadi bekal Banks masuk Timnas Inggris U-23 pada 1961 dan timnas senior dua tahun berselang. Karier emasnya dicetak pada Piala Dunia 1966, di mana Banks dkk memenangi trofi Piala Dunia untuk kali pertama yang hingga kini masih jadi satu-satunya kenangan paling manis buat Negeri Ratu Elizabeth II. Di Piala Dunia berikutnya, nama Banks kian melangit setelah melakukan penyelamatan terhadap sundulan Pelé. FIFA sampai menyebut aksi itu sebagai aksi penyelamatan terbaik sepanjang sejarah. International Federation of Football History and Statistics menempatkannya sebagai kiper terbaik kedua Abad ke-20 setelah Lev Yashin. Bila Banks tak keracunan makanan, bisa jadi Inggris mampu mempertahankan gelar di Piala Dunia Meksiko 1970. Namun nahas, jelang perempatfinal kontra Jerman Barat, kondisi Banks mengharuskan pelatih Alf Ramsey mencadangkannya. “Peter Bonetti menggantikan Gordon yang masih sakit di perempatfinal yang sarat drama dan membuat sakit hati,” tulis Jim Morris dalam Gordon Banks: A Biography. Inggris seolah “dikerjai” dan soal ini masih jadi misteri sampai sekarang. Banks menderita keram perut, diare, dan keringat dingin mengucur terus-menerus tak lama setelah minum bir bersama rekan-rekan setimnya. Anehnya, hanya Banks yang keracunan. “Saya tak ingat jika tutup botol yang disajikan sudah terbuka atau tidak. Yang pasti, setengah jam kemudian saya merasakan nyeri pada perut saya,” ungkap Banks dalam biografinya. Gordon Banks (jersey kuning) bersama timnas Inggris saat memenangi Piala Dunia 1966. (fifa.com) Selain itu, Inggris juga “dikerjai” sebelum menjalani laga perempatfinal di Léon, sekitar 200 kilometer dari Guadalajara yang jadi basis tim Inggris. Sedianya, tim Inggris ingin pakai pesawat ke venue , tapi panitia mengatakan landasan bandara di Léon tak cukup memadai buat pesawat tim. Padahal, pesawat tim Jerman bisa mendarat di Léon. Banks dkk. terpaksa mengarungi perjalanan darat Guadalajara-Léon dengan bus tanpa AC selama lima jam. Tanpa banks di bawah mistar, Inggris akhirnya kalah 2-3 dari Jerman Barat di Estadio Nou Camp, Léon, 14 Juni 1970. Ironisnya, nasib Banks setelah pensiun pada 1972 tak begitu cemerlang. Dari 1977-1980, Banks secara serabutan melatih klub-klub kecil Liga Inggris seperti Port Vale hingga Telford United. Pada 1980 di Telford United, Banks vakum lantaran menjalani operasi. Tapi saat kembali ke klub, Banks malah dipecat. Manajemen klub hanya bersedia menampung Banks sebagai penjual kupon undian. Banks memutuskan pergi dari klub itu tak lama kemudian. “Saya sakit hati…tidak mau lagi berada di dalam manajemen klub,” ujarnya saat diwawancara BBC , 24 Agustus 2010. Banks lantas memilih berbisnis dengan membuka hotel kecil di Leicester. Sayang, bisnisnya mandek dan bangkrut. Perekonomiannya baru bisa perlahan bangkit setelah dibantu Leicester City, bekas klub Banks yang prihatin kepadanya. Pada 2001, pria yang pernah ditawari posisi presiden kehormatan seumur hidup oleh Stoke City itu mengambil satu keputusan tersulit dalam hidupnya. Banks melelang medali emas Piala Dunia 1966 di Rumah Lelang Christie’s dan laku seharga 124.750 pounds. Keputusan itu diambil setelah Banks berpikir masak-masak tak ingin medalinya jadi biang rebutan warisan ketiga anaknya kelak jika dia meninggal.*

  • Yang Kaya yang Madu Tiga

    SUATU hari, Maria Ullfah kedatangan seorang perempuan di Biro Konsultasi. Dengan berlinang airmata perempuan itu bercerita tentang suaminya yang tiba-tiba kawin lagi. Ia meminta Maria Ullfah untuk mengurus perceraian ke Raad Agama. Perempuan itu jelas bukan satu-satunya istri yang mendapati suaminya kawin lagi. Biro Konsultasi, yang dibentuk Kongres Perempuan Indonesia pada 1935, memang dibentuk untuk menangani banyaknya masalah perempuan dalam perkawinan. Kala itu, permaduan menjadi masalah yang kerap menimpa perempuan. Menurut missionaris A. Kruijt dalam penelitiannya tahun 1903 yang dikutip Cora Vreede de Stuers dalam Sejarah Perempuan Indonesia, poligami kebanyakan dilakukan orang-orang dari kalangan bangsawan dan menengah ke atas. Di kalangan rakyat bawah, poligami jarang terjadi. “Terdapat strata yang besar… Di kalangan kaum buruh dan mereka yang kondisinya lebih baik, poligami jarang ditemui,” tulis Kruijt. Pernyataan Kruijt didukung sebuah laporan mengenai ekonomi desa yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda pada 1912. Laporan tersebut menyebut angka poligami di desa dan kalangan masyarakat bawah cenderung tidak ada alih-alih banyak dari kaum bangsawan dan kelas berada. Tingginya angka poligami di kalangan bangsawan disebabkan kurangnya bekal para perempuan bangsawan untuk bertahan hidup sendiri. Mereka tak pernah dilatih untuk menghidupi diri sendiri karena terbiasa dilayani dan sejak kecil dididik untuk menjadi nyonya rumah. Melepaskan perkawinan lantaran dipoligami berarti menyengsarakan diri dan anak-anak. Mereka akhirnya terpaksa menerima permaduan karena dianggap lebih aman dibanding menggugat cerai. “Pada umumnya wanita dari lapisan masyarakat rendah jauh lebih tegas dalam menuntut perceraian sebab mereka sudah biasa mencari nafkah sendiri,” kata Maria Ullfah dalam rekaman Arsip Sejarah Lisan Arsip Nasional Republik Indonesia. Poligami dalam Angka Poligami menjadi isu hangat yang diperbincangkan sejak akhir abad ke-19. Data sensus pemerintah kolonial tahun 1930 menunjukkan: persentase poligami di Jawa dan Madura mencapai 1,9%, di pulau-pulau luar 4%, dan di kalangan orang Minangkabau sebesar 8,7%. Dalam laporan Indisch Verslag terbitan 1939, angka poligami di Jawa mencapai 163.362. Dari angka tersebut, 1.024 poligami mengambil empat istri, sebanyak 7.696 mengambil tiga istri, dan yang terbanyak 154.642 mengambil dua istri. Angka poligami di Jawa pada 1939 tersebut menjadi yang tertinggi di antara wilayah lain. Di Sumatra, total angka poligami mencapai 69.790, di Sulawesi mencapai 22.378, serta di Bali dan Lombok sebesar 14.061. Sementara, Maluku menempati angka terkecil, yakni 5.150 praktik poligami. Namun, angka-angka tersebut hanya merujuk pada praktik poligami yang terdaftar. Faktanya, tidak semua orang melakukan pencatatan perkawinan di era kolonial dan banyak poligami dilakukan secara sembunyi-sembunyi sehingga tidak diketahui istri pertama. Achmad Djajadiningrat, bupati Batavia (1924-1929) sekaligus paman Maria Ullfah, yang meneliti jumlah poligami di Bojonegoro pada 1936, menemunkan bahwa di kalangan pegawai sipil, santri, dan pedagang, poligami banyak dilakukan hanya untuk kebutuhan seksual saja. Poligami, sebut Djajadiningrat, juga menjadi faktor terbesar terjadinya perceraian. Ramainya isu poligami mendorong pemerintah kolonial untuk mengeluarkan rancangan undang-undang tentang perkawinan tercatat (Ordonansi Perkawinan) untuk orang bumiputra dan timur asing bukan Tionghoa. Ordonansi itu menyebutkan bahwa semua perkawinan secara agama apapun bisa dicatatkan di kantor bupati. Dengan mandaftarkan perkawinan secara sukarela, orang tunduk pada Ordonansi Perkawinan yang berazas monogami. Ordonansi Perkawinan sendiri menurut gerakan perempuan nonagamis tidak terlalu buruk. Aturan tersebut setidaknya bisa melindungi perempuan dari permaduan sepihak. Pencatatannya pun tidak bersifat wajib. Bagi mereka yang mau mencatatkan, akan dilayani. Tapi bagi yang tidak ingin perkawinannya dicatat, diperbolehkan untuk mengabaikan. Maria Ullfah dalam bukunya Perjuangan untuk Mencapai Undang-Undang Perkawinan menyatakan sepakat dengan Ordonansi Perkawinan. Alasannya, tidak ada paksaan bagi seseoang untuk mendaftarkan perkawinannya. Namun, ketika pemerintah Hindia Belanda menanyakan pendapat KPI tetentang Ordonansi ini, Maria mengusulkan untuk tidak memberi jawaban. Sebab kalau kongres menyatakan tak setuju, akan menjadi suatu kejanggalan mengingat selama ini kongres memperjuangkan pernikahan yang adil, aman bagi perempuan, dan monogami. Namun kalau kongres menyatakan setuju, golongan Islam akan marah dan keluar dari kongres. Golongan Islam menolak keras Ordonansi Perkawinan lantaran produk Barat. Menurut mereka, Ordonansi Perkawinan bukti terlalu ikut campurnya Belanda dalam masalah ibadah orang Islam. Penentangan keras dari golongan Islam dan diamnya kaum perempuan Indonesia akhirnya membuat pemeritah kolonial mencabut rancangan ini. “Kalau Belanda betul-betul berniat baik seharusnya mereka mengumumkan langsung pemberlakuan Ordonansi Perkawinan tanpa perlu konsultasi ke KPI. Apa mungkin Belanda sengaja memancing simpati untuk membuat perpecahan dalam gerakan perempuan Indonesia?” kata Maria Ullfah. Dalam pidato panjangnya di Kongres ketiga yang dilaksankan di Bandung, 1938, Maria memberikan jalan tengah bagi kaum perempuan pro-ordonansi perkawinan dan mereka yang kontra. Menurutnya, undang-undang perkawinan harus dibuat beriringan dengan agama, bukan meninggalkannya. Maria meyakini agama Islam yang dipeluknya hadir tidak untuk menyakiti perempuan. Oleh karenanya lelaki muslim tak punya hak untuk menyakiti perempuan. “Poligami merupakan institusi yang merendahkan keberadaan kami,” kata Maria. Untuk itulah, negara bertanggung jawab untuk melindungi posisi perempuan dalam hubungan perkawinan yang tidak setara melalui hukum yang diterima baik golongan muslim maupun nasionalis. Dalam praktiknya, upaya tersebut sulit diwujudkan. Usaha-usaha menghapuskan poligami selalu mendapat sanggahan dari kaum lelaki. Argumen bahwa poligami hadir untuk menyelamatkan perempuan karena jumlahnya jauh lebih banyak dibanding lelaki benar-benar membuat para perempuan gondok. “Kami tidak ingin menikah karena belas kasihan... Lebih baik bekerja keras daripada menikah karena belas kasihan,” kata Maria.

  • Garis Finis Sang Sprinter Legendaris

    Dunia atletik Indonesia berduka. Satu legenda sprinter, Purnomo Muhammad Yudhi, mencapai garis finis dalam hayatnya. Purnomo mengembukan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jumat, 15 Februari 2019, dalam usia 56 tahun. Purnomo meninggal setelah lama melawan kanker kelenjar getah bening yang menjangkitinya sejak 2015. Jasadnya langsung dikebumikan sekira pukul empat sore di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Di lintasan atletik, Purnomo merupakan satu dari beberapa legenda yang dimiliki Indonesia. Lahir di Purwokerto, 12 Juli 1962, Purnomo menekuni atletik sejak muda lantaran ingin seperti idolanya, Mohammad Sarengat. Di usia belia, Purnomo sudah malang-melintang di berbagai kejuaraan junior meski kerap bertanding tanpa sepatu dan hanya mengenakan kaus kaki. Kondisi itu terpaksa dia lakukan lantaran ekonomi keluarganya. Hingga usia SMA, Purnomo belum mampu memiliki sepatu lari yang memadai. Tapi kerja keras dan pengorbanannya tak mengkhianati hasil. Pada 1983, Purnomo sudah menjadi bagian dalam kontingen Indonesia di Kejuaraan Atletik Dunia (IAAF) di Helsinki, Finlandia. Setahun kemudian, namanya masuk ke dalam tim atletik Indonesia di Olimpiade 1984 di Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Di pesta olahraga terbesar sejagat ini bintang Purnomo melesat tinggi kendati tim Indonesia tak membawa pulang medali. Rudy H. Parengkuan menuliskan dalam laporannya, “Olimpiade Los Angeles 1984: Sukses dan Lancar Sekalipun Dilanda Aksi Boikot” yang dimuat di Rekaman Peristiwa ‘84 terbitan Sinar Harapan 1985, Purnomo baik di kategori individu maupun bersama tim estafet mencetak rekor-rekor nasional (rekornas) anyar. “Semula memang targetnya bukan medali, tetapi mencetak rekornas baru dan target ini berhasil tercapai. Purnomo mencetak rekornas untuk 200 meter dengan catatan waktu 20,93 detik. Rekor lama atas namanya sendiri 21,2 detik. Dalam estafet 4x100 meter, kuartet Purnomo, Kardiono, Christian Nenepath, dan Ernawan Witarsa mempertajam rekornas menjadi 40,37 detik,” ungkap Rudy. Sebelumnya, rekornas estafet itu adalah 40,54 detik. Tidak lupa, Purnomo mengukir sejarah baru, tidak hanya untuk Indonesia tapi juga Asia. Purnomo menjadi sprinter Asia pertama yang mampu menembus semifinal 100 meter putra di Olimpiade. Di nomor 200 meter putra, Purnomo hanya mampu sampai perempatfinal. Meski di semifinal Purnomo hanya menempati urutan buncit, urutan kedelapan dengan waktu 10,51 detik, ini jadi kali kedua Purnomo jadi orang tercepat Asia. Di IAAF Helsinki 1983, Purnomo jadi satu-satunya wakil Asia di final 100 meter putra. Untuk urusan prestasi, mengutip Julius Pour dalam Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno , Purnomo menyumbangkan dua perak dari nomor 100 dan 200 meter putra di Kejuaraan Asia 1985 di Jakarta. Sedangkan di SEA Games 1985 di Bangkok, Purnomo membawa pulang dua emas dan sekeping perunggu. Dua emas diperolehnya dari 200 meter putra dan estafet 4x100 meter putra, sementara satu perunggu dari 100 meter putra. Setelah pensiun, Purnomo tak bisa jauh dari dunia atletik. Selain aktif ikut dalam kepengurusan PB PASI, Purnomo juga sempat duduk pula di kepengurusan KONI Pusat. Selain itu, Purnomo juga menjadi ketua pertama IOA (Indonesian Olympian Association) pada 2010 dan bahkan pernah mengutarakan niatnya ingin jadi Menpora untuk membantu kesejahteraan para mantan atlet yang kehidupannya memprihatinkan. “Dia pernah bilang ke saya, ‘Mbak, saya ingin tetap sehat. Saya ingin membantu para atlet,” kata Tuti Mardiko, Wasekjen PB PASI, dikutip Beritagar , Jumat, 15 Februari 2019.

  • Roda Kehidupan Legenda Balap Sepeda

    TANGAN kanannya sibuk menggerak-gerakkan tongkat. Tangan kirinya senantiasa mencari pegangan. Dengan langkah tergopoh-gopoh, Hendrik Brocks sampai ke kursi ruang tamu. Dia tak lagi bisa melihat. Penyakit glukoma merampas penglihatan sang legenda balap sepeda itu sejak 2007. Sosok bersahaja berusia 77 tahun itu tinggal di sebuah rumah sederhana di Gang Rawasalak, Sriwidari, Kota Sukabumi hanya bersama istri, Yati Suryati, seorang pensiunan guru. Kehidupannya jauh dari kata sejahtera. Untuk biaya sehari-hari saja, harus ditopang bantuan kecil-kecilan keluarga besar dan para tetangganya. Hendrik sama sekali tak punya uang pensiun. “Ya makanya kadang sakit kalau mendengar banyak atlet sekarang dikasih bonus miliaran,” ujarnya saat ditemui Historia di kediamannya, Senin (11/2/2019). Padahal, seperti halnya sepakbola dan bulutangkis, di gelanggang balap sepeda era 1960-an Indonesia pernah jadi “Macan Asia” kala Hendrik masih jadi sosok yang disegani oleh kawan maupun lawannya. Di ajang sekelas PON (Pekan Olahraga Nasional), Kejuaraan Asia, Asian Games, Ganefo (Games of the New Emerging Forces) hingga Olimpiade, pria berdarah Jerman-Sunda itu nyaris tak pernah pulang tanpa prestasi. Dari lintasan kampung hingga dunia Hendrik lahir di Sukabumi pada 27 Maret 1942. Perkenalannya dengan sepeda terjadi sejak usia sekolah dasar kendati hanya sekadar untuk selingan bermain.  Dengan sepeda onthel milik ayahnya, Joppi Brocks, Hendrik acap bersepeda di kebun-kebun dan kampung sekitar rumahnya. Hendrik tak pernah menyangka sebuah event road race tingkat daerah di Sukabumi pada 1958 akan jadi titik balik bagi kehidupannya. “Anak-anak (teman-teman) bilang agar saya ikut. Tapi saya ragu karena enggak punya sepeda (balap),” sambungnya. Namun dorongan teman-temannya membuat Hendrik yang masih di usia sekolah menengah dan “buta” teknik balap sepeda itu pun mengikuti race dengan rute Sukabumi-Cisaat-Gekbrong-Sukabumi. “Akhirnya pakai sepeda kumbang punya teman. Pas lihat lawan-lawannya, waduh pakai sepeda balap semua. Saya bengong lihat sepeda mereka. Rantainya beda, gear -nya banyak, stang -nya yang tanduk begitu. Aneh lah pokoknya buat saya waktu itu.” Alhasil, sebelum start , Hendrik kerap mendengar sindiran meremehkan dari lawan-lawannya. “Awalnya diketawain sama pembalap-pembalap dari Bandung, Bogor, enggak tahu kenapa. Pas lagi balapan, malah dibilang: ‘Anak Sukabumi ngalang-ngalangin saja nih!’. Tapi saya diam saja,” kenangnya. Hendrik tak gentar. “Malah tambah semangat,” katanya. Tak dinyana, Hendrik yang masih “anak bawang” justru jadi yang pertama melewati garis finis. “Pas sampai Gekbrong, saya sudah tinggal sendirian paling depan. Alhamdulillah menang,” ujarnya mengenang masa lalu. Hendrik Brocks bersama kedua orangtuanya. (Dok. Hendrik Brocks) Saking bangganya, ayah Hendrik menghadiahinya sepeda balap bekas. Sejak itu, Hendrik lebih sering ikut beragam kejuaraan di berbagai kota. Namanya mulai dikenal sejak menang sebuah event road race di Jakarta tahun 1959 dengan rute Jakarta-Serang-Jakarta. Di tahun itu pula Hendrik ikut terpilih masuk Pelatnas Balap Sepeda lewat Invitasi Nasional jelang persiapan Olimpiade Roma 1960. “Usia saya masih 19 tahun waktu itu. Kita TC (Training Camp) di Semarang dan saya paling yunior usianya dari empat yang lolos seleksi nasional. Ada saya, Rusli Hamsjin, Theo Polhaupessy, dan Sanusi. Kita dilatih orang Italia yang lama tinggal di Medan, Maurice Lungo,” ujarnya. Sayang, keempatnya gagal meraih medali. Hasil terbaik dicetak lewat nomor Time Trial 100 kilometer putra. Indonesia, dilansir sport-reference.com , duduk di urutan ke-26 dari 32 tim yang ambil bagian dengan catatan waktu 2 jam 34 menit 29,98 detik. Hasil itu lumayan baik bagi peserta dari Asia. Korea Selatan yang bersama Indonesia mewakili Asia di olimpiade itu hanya hanya menempati urutan ke-30 dengan waktu 2 jam 53 menit 09,51 detik. “Makanya waktu pulang dari Roma langsung ditunjuk oleh Bung Karno (Presiden Sukarno) bahwa balap sepeda akan jadi salah satu prioritas untuk Asian Games 1962, agar bisa memberikan emas. Tapi sebelum itu kita semua kembali ke daerah masing-masing untuk persiapan PON V dulu di Bandung (1961). Saya ikut mewakili Jabar (Jawa barat). Dari 11 nomor, saya dapat 10 emas,” sambung Hendrik. Pasang surut Seusai PON, Hendrik kembali ke Pelatnas di Jakarta jelang Asian Games 1962. Kali ini, tim balap sepeda dibesut pelatih asal Jerman Timur Rolf Nietzsche. “Waduh dia sih, untuk kedisiplinan tinggi sekali, keras orangnya. Apalagi dia ngomongnya bahasa Jerman terus. Kita enggak bisa ngomong Jerman tapi tetap bisa menangkap apa yang dia mau,” katanya. Pada Asian Games 1962 yang dibanggakan Bung Karno itu, tim Indonesia memetik tiga emas. Sebagaimana dimuat dalam biografi MF Siregar: Matahari Olahraga Indonesia, tim yang berisi Hendrik, Aming Priatna, Wahju Wahdini, dan Hasjim Roesli itu memenangkan nomor Team Time Trial 100 km dengan catatan waktu 2 jam 37 menit 23,1 detik. Ketiganya, ditambah Frans Tupang dan Henry Hargini, mencomot emas kedua di nomor Open Road Race 180 km. Emas ketiga dicetak Hendrik pribadi di nomor yang sama kategori individu. Tiga medali emas Asian Games 1962 milik Hendrik Brocks (Foto: Randy Wirayudha/Historia) “Di Asian Games dapat tiga emas, kita semua diundang ke Istana Negara. Tapi ya, juragan (Presiden) dulu mah hanya bilang terima kasih, disuruh semangat lagi latihannya. Habis itu balik kanan, sudah. Kita mah hanya lihat punggungnya saja,” kenang Hendrik sembari memperlihatkan tiga medali yang disimpannya dengan baik di tiga kotak kayu. Roda karier dan kehidupan Hendrik terus berputar. Medali demi medali dibawanya pulang, mulai dari Ganefo 1963 (satu emas dan satu perak), hingga Ganefo Asia 1966 (satu emas, satu perak, dua perunggu). Dua emas di Kejurnas 1967 menjadi penutup karier emasnya. Dua tahun berselang, Hendrik melatih tim balap sepeda Jaawa Barat di PON VII Surabaya dan mengantarkan anak didiknya, Irwan Iskak, menggamit satu emas. Namun di PON VIII Jakarta, Hendrik kembali turun gelanggang . “Mulanya saya sama Wahju hanya disuruh melatih tim DKI. Tapi Wahju bilang, saya disuruh ikut turun lagi. Saya bilang, ‘Ah gila lu, gua kan sudah tua.’ Tapi akhirnya dia meyakinkan saya sampai akhirnya ikut turun. Dapat perunggu, lumayan, sama dikasih piagam dari Ali Sadikin (Gubernur DKI),” lanjutnya. Setelah itu, Hendrik mulai merambah level nasional kepelatihan. Setelah ikut penataran pelatih pada 1975, Hendrik mendapat sertifikat pelatih nasional. Namun tak lama kemudian, Hendrik memilih mundur. “Saya tuh gimana ya. Kalau sudah sakit hati, saya tinggalin deh itu sepeda sampai 1983,” ujarnya tanpa mau menjelaskan penyebab persoalannya. Lama vakum dan sempat berbelok jadi pelatih atletik tim Jabar pada 1980, Hendrik kembali pada 1983 dengan menjadi juri Tour de Java. Di tahun yang sama, dia melatih timnas untuk Kejuaraan Asia di Manila dengan hasil satu perak dan dua perunggu. Setahun kemudian Hendrik membawa anak-anak asuhnya memenangi satu emas di ASEAN Cup dan perak di Kejuaraan Asia 1985. Sempat dimintai bantuan melatih tim PON Lampung hingga 1995, Hendrik lalu kembali ke tim PON Jabar. “Tapi saya melatihnya tim MTB (Mountain Bike). Saya disuruh melatih tim road race , enggak mau. Saya ingin suasana baru. Di PON 1995, kita dapat satu perunggu,” ungkapnya. Selain aktif melatih, Hendrik kemudian dipercaya menjadi manajer tim Kabupaten Sukabumi tingkat Porda hingga 2008. “Saya sudah mulai tidak bisa melihat tahun 2007, tapi masih tetap, jadi si buta ini jadi tim manajer. Tapi setahun kemudian sudah saya lepas,” imbuhnya. Tapi karena minimnya perhatian pemerintah selama dia masih aktif, Hendrik menjalani masa senjanya dengan terseok-seok. Untuk biaya sehari-hari saja, harus dibantu keluarga besar dan tetangga sekitarnya. Kondisi rumahnya sepeninggal orangtuanya terus memburuk tanpa mampu diperbaikinya. Hendrik Brocks menderita glaukoma sejak 2007. (Randy Wirayudha/ Historia ). “Enggak pernah ada bonus! Enggak kayak sekarang, bonus…bonus…bonus. Enggak saya pernah merasakan bonus. Di TC saja dulu enggak dapat uang saku. Kalaupun dapat, pas lagi kejuaraan ke luar negeri. Itu pun untuk beli oleh-oleh saja tidak cukup. Pensiun juga tidak ada. Kalau sekarang, jangankan PON, Porda aja pegawai negeri udah pasti di tangan kalau berprestasi,” ujar Hendrik dengan nada meninggi. Untuk mengobati glaukomanya saat awal-awal terserang, Hendrik harus dibantu KONI Kabupaten Sukabumi dan teman-temannya lantaran BPJS Kesehatan pun tak punya. Medio 2007, Menpora Adhyaksa Dault sempat menjanjikan dana pensiun kepadanya. Hendrik juga mendapat bantuan rumah dari menpora. Setelah satu dekade, rumah itu terpaksa dia jual guna membiayai renovasi rumah warisan ayahnya yang ia tinggali kini. Rumah itu sempat hampir roboh sebelum bisa direhab. Tetapi sampai lebih dari satu dekade berlalu, dana pensiun yang dijanjikan Adhyaksa tak jua ditepati. Uang itu setidaknya bisa untuk menyambung hidupnya dan istri. “Belum lama lalu, sempat saya berkirim surat juga ke Erick Thohir (Ketua Komite Olimpiade Indonesia/KOI), namun sampai sekarang belum ada jawaban soal dana pensiun itu,” kata Hendrik menutup pembicaraan.

  • Kisah Para Pertapa Perempuan

    Arjuna singgah di sebuah pertapaan di tengah hutan dalam perjalanannya menuju Gunung Indrakila. Pertapaannya indah. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan adegan dari kisah Ramayana. Melihat Arjuna datang, dua orang pertapa perempuan ( kili ) menghampiri. Dari sikapnya, kedua kili itu seperti pernah dibesarkan di keraton. Rupanya mereka menganggap ringan sikap ingin melepaskan diri dari hal-hal duniawi, sehingga mau menyepi ke pertapaan. Kedua kili itu dirundung rasa ingin tahu, siapakah gerangan pemuda rupawan bagai dewa asmara yang kini tengah beristirahat di atas bale-bale itu? Pura-pura mereka menundukkan pandangan, bersikap malu-malu. Namun, mereka tak sanggup menyembunyikan perasaan mereka sesungguhnya. Mereka pun menduga si tamu tak lain adalah Arjuna. Arjuna pun segera menerangkan maksud kedatangannya. Dari kedua kili itu, dia tahu kalau pertapaan itu bernama Wanawati. Pendirinya bernama Mahayani, seorang perempuan berdarah ningrat dari kalangan keraton. Kedua kili kemudian mengantar Arjuna ke bagian dalam pertapaan, di mana Mahayani tinggal. Dari Mahayani, Arjuna mendapatkan pelajaran mengenai rajas , tamas , dan satva , yaitu pelajaran tentang pengendalian nafsu, keikhlasan, dan sifat-sifat lain yang selalu membelenggu manusia. Malam harinya, ketika semua sudah terlelap, seorang kili mendatangi bilik Arjuna. Kepada sang Dananjaya, dia menyatakan cinta. Kili itu mengaku, ketika masih hidup di keraton, dia sudah jatuh cinta dengan Arjuna. Kini perasaan itu masih berkobar. Dia bahkan rela terpergok dan dilaporkan kepada Mahayani. Namun, Arjuna menolak cintanya dan menasihati untuk mengendalikan hawa nafsu.   Begitulah kehidupan pertapa perempuan dalam cerita Parthayajnya. Seseorang yang memutuskan menjadi pertapa harus rela meninggalkan segala kemewahan, nafsu duniawi dan hidup menyepi. Kehidupan yang demikian berat nyatanya juga menjadi pilihan bagi perempuan. Arjuna bersama Mahayani (tokoh bertudung kepala, depan) dan duakili (dua tokoh bertudung, belakang) dalam reliefParthayajna di dinding Candi Jago. (Risa Herdahita Putri/Historia Titi Surti Nastiti dalam Perempuan Jawa menerangkan, dalam pertapaan yang disebut tapowana atau pajaran umumnya dipimpin seorang mahaguru laki-laki. Dia biasanya membawahi seorang pertapa perempuan yang disebut ubwan. Tempatnya disebut Panubwanan. Di tingkat bawahnya ada pertapa laki-laki yang disebut manguyu. “Terakhir adalah pertapa laki-laki dan perempuan yang paling rendah tingkatannya yang punya sebutan macam-macam, mereka tinggal di lembah dalam bangunan yang disebut yasa atau rangkang,” jelas Titi.   Gambaran pertapa perempuan Penggambaran keberadaan pertapa perempuan muncul dalam berbagai media: kesusastraan, relief, bahkan arca. Dalam Kakawin Sutasoma yang digubah Mpu Tantular pada abad ke-14 M menyebut pertapa perempuan dengan istilah kili dan walkali. Sementara Kakawin Arjunawijaya menyebutnya  tapi. Teks Ramayana juga menyebut pendeta perempuan yang tinggal di hutan, berpakaian kulit kayu, dan hanya makan buah-buahan . Adapun dalam Kakawin Krsnayana disebutkan salah seorang dayang Rukmini yang telah berumur, pernah menjadi seorang kili . Sang dayang kemudian menuturkan pengalamannya ketika berkeliling mencari derma. Dalam perjalanannya, dia sempat melihat Keraton Dwarawati, tempat tinggal Kresna. Selama sepuluh hari dia dapat menikmati keindahan keraton itu dengan diantar seorang kawan. “Cara hidup seorang pertapa yang keras itu untuk beberapa hari ditinggalkannya," tulis Mpu Triguna pada masa Kadiri abad ke-12 M . Kemudian dalam  KakawinSumanasantaka kata kili muncul pada awal kisah. Ketika pertapa Brahmin Trenawindu, murid Agastya, mengira seorang bidadari yang ditugasi menggoda tapanya sebagai seseorang yang ingin menjadi  kili .  Penggambaran lain juga muncul dalam relief kisah Parthayajnya di dinding Candi Jago, Malang. Melihat reliefnya, para kili itu mengenakan tata rambut yang biasa dikenakan seorang rohaniawan. “Bentuk tatanan di kepala itu lebih cocok bagi seorang perempuan,” tulis P.J. Zoetmulder, pakar sastra Jawa Kuno, dalam  Kalangwan. Arjuna disambut dua kili  dalam relief Parthayajna  di dinding Candi Jago. (Risa Herdahita Putri/ Historia ). Sementara arca pertapa perempuan ditemukan di Kediri dari sekira abad ke-11 atau 12 M. Kini arca itu menjadi koleksi Museum Nasional, Jakarta. Arca perempuan itu digambarkan duduk bersila. Rambutnya terbungkus lilitan kain, sehingga tampak seperti gundukan besar di atas kepalanya. Bahu kanannya terbuka, kecuali itu dia memakai kain yang digunakan dengan melilitkannya di pundak dan tubuhnya. Sebelah tangannya tampak menyangga mangkuk di atas pahanya. Dewi Kili Suci Kata kili juga menjadi tak asing jika dihubungkan dengan kisah tradisi Dewi Kili Suci. Cerita rakyat ini menempatkannya sebagai putri mahkota Raja Airlangga, Sri Samgramawijaya Dharmaprasadottunggadewi yang menolak takhta dan lebih memilih menjadi pertapa.  Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti  menjelaskan, identifikasi Kili Suci dengan Sri Samgramawijaya Dharmaprasadottunggadewi hingga kini tidak didasarkan atas petunjuk yang tegas. Namun, memang benar kalau berdasarkan prasasti Samgramawijaya sekira tahun 959 Saka (1037 M) telah melepaskan haknya sebagai putri mahkota. Lalu pada 964 Saka (1042 M) Airlangga menempatkan anaknya di dalam tempat suci dharma gandhakuti di Kamban Sri. Itu meski tak jelas apakah anak yang dimaksud laki-laki atau perempuan. “Maka mungkin sekali tradisi Kili Suci itu berdasarkan fakta sejarah, atau kalau nanti ternyata anak Airlangga yang disebut dalam Prasasti Gandhakuti ternyata seorang lelaki, tradisi telah mencampur kedua fakta sejarah itu,” jelas Boechari. Boechari pun mengatakan bukan hal aneh jika seorang ayah pada masa lalu menempatkan putrinya ke dalam kabikuan. Dalam Prasasti Taji dari 823 Saka (901 M) diketahui kalau Rakryan I Watutihan pu Samgramadurandhara telah menempatkan anak perempuannya, Rake Sri Bharu dyah Dheta, istri Samgat Dmun pu Cintya ke dalam kabikuan i Dewasabha . Pada masa yang lebih modern, para pertapa perempuan itu masih bisa disaksikan oleh penjelajah asal Portugis, Tome Pires. Dalam Suma Oriental,  dia mencatat ketika tiba di Jawa pada awal abad ke-16 M ada kurang lebih 50.000 pertapa di Jawa. Di antara mereka banyak pula yang perempuan. "Mereka tidak menikah dan tetap perawan," catat Pires. Para pertapa itu membangun rumah di tempat terpencil, seperti pegunungan dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya. Seperti juga pertapa laki-laki, mereka meminta makanan (derma) dengan berkah Dewata sebagai balasan.  Beberapa orang lainnya memutuskan untuk menjadi pertapa setelah mereka kehilanga suami pertamanya. Mereka ini menolak membakar diri. Pires mencatat jumlah mereka konon lebih dari 100.000 perempuan. Mereka hidup dalam kesucian hingga mati.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page