top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Pedagang Ikut Berjuang

    KETIKA matahari masih pulas dalam tidurnya, para perempuan-pedagang asal Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul setiap hari sudah berangkat ke Pasar Beringharjo di Kota Yogyakarta sambil menggendong bakul berisi dagangan di punggung. Aktivitas itu merupakan rutinitas mereka. Namun, di masa perang itu, mereka tak hanya berdagang. Mereka menjadi pembawa pesan rahasia dari para gerilyawan di luar kota, pemasok logistik, sekaligus kurir. Peran mereka amat krusial. “Itu poin penting. Perempuan menjadi bagian dari usaha kemerdekaan,” kata sejarawan Ita Fatia Nadia kepada Historia . Para perempuan-pedagang itu menjadi komunikator antara gerakan bawah tanah di kota dengan para gerilyawan di daerah Godean, Imogiri, dan berpusat di Wiyoro. Ketika berangkat, mereka membawa pesan untuk para pemikir strategi di Kota Baru, Yogyakarta. Sewaktu pulang, mereka menyampaikan pesan balasan untuk para gerilyawan di pinggiran kota. Pertukaran informasi perjuangan yang dibawa para pedagang berlangsung di Pasar Beringharjo untuk menghindari kecurigaan Jepang. Menurut dosen sejarah UGM Dr. Mutiah Amini, Pasar Beringharjo menjadi ajang revolusi untuk para perempuan. “Para pedagang mentransfer kebutuhan para pejuang lewat pasar. Orang tidak mengira, dikiranya dia mau ke pasar, berjualan. Padahal untuk kebutuhan revolusi,” kata Mutiah. Sambil membawa dagangan, mereka membawa barang-barang kebutuhan untuk revolusi seperti pakaian, gula, teh, uang, atau pakaian. Barang dagangan dan kebutuhan revolusi ditumpuk jadi satu untuk mengelabui tentara Jepang. Umi Sardjono, Ketua Umum Gerwani, ikut menyamar jadi pedagang sayur ketika gerilya melawan Jepang mulai marak. Sebagai mata-mata, tugas utamanya mengumpulkan informasi. “Perempuan lebih luwes karena bisa menyamar sebagai ibu rumahtangga sehingga tidak dicurigai tentara Jepang,” tulis Ruth Indiah Rahayu dalam “Menulis Sejarah Sebagaimana Perempuan”, dimuat di Sejarah dan Budaya , Th X, No. 1, Juni 2016. Peran itu terus berlanjut sampai masa Perang Kemerdekaan ketika Jepang sudah hengkang. Menurut Galuh Ambar Sasi dalam artikel “Menjadi (Manusia) Indonesia: Pergulatan, Jejaring, dan Relasi Perempuan di Yogyakarta Masa Revolusi”, dimuat di Pluralisme dan Identitas , banyak perempuan jadi mata-mata dengan menyamar sebagai pedagang buah atau sayur, salahsatunya Alfiah Muhadi. Menurut Suhatno dalam “Sumbangan Wanita Yogyakarta pada Masa Revolusi” yang dimuat Jantra Vol. 1 No. 2, Desember 2006, keahlian menyamar dan menyiapkan logistik para perempuan itu diperoleh ketika mengikuti pelatihan Fujinkai. “Di masa Jepang, semua wanita diharuskan mengikuti latihan-latihan untuk menghadapi segala kemungkinan dalam membantu Jepang di Perang Asia Timur Raya.” Banyak di antara mereka kemudian bahkan membuka warung. Banyaknya warung sempat mebuat Belanda khawatir. Belanda menganggap warung hanyalah kamuflase mata-mata orang republik. Ketakutan Belanda itu ditunjukan antara lain lewat selebaran peringatan untuk tidak makan di warung pribumi. Peran berisiko tinggi itu jelas tak semua berhasil. Ada beberapa perempuan-mata-mata yang ketahuan dan dihukum. Salah satunya menimpa seorang kurir yang menyamar jadi pedagang telur saat membawa pesan rahasia di Wirogunan, dekat Taman siswa. “Pedagang telur itu tertangkap dan ditembak mati oleh Jepang. Perannya penting. Gerakan bawah tanah tidak bisa bekerja melawan Jepang tanpa perempuan,” kata Ita.

  • Main Bola Bukan untuk Pamer Paha

    SIANG itu tribun Stadion Tamansari, Jakarta Barat, sesak penonton. Mayoritas kaum Adam. Mereka bersemangat memelototi jalannya pertandingan. Maklum, pertandingan yang dimainkan bukan melibatkan klub UMS 80, Warna Agung, atau Arseto, tapi pertandingan Parkit vs Buana Putri alias pertandingan sepakbola putri. Alhasil, saban para “Kartini” berkostum dengan paha terbuka itu menggiring atau menendang bola, sorakan penonton membahana. Rasa gemas meluap di benak mereka tatkala mendapati pemain terjatuh karena tekel lawan. Meski itu hanyalah scene dalam film Warkop DKI Maju Kena Mundur Kena (1983), bisa jadi susasana itu merupakan gambaran umum publik terhadap sepakbola putri di negeri ini. Pertandingan dianggap tak lebih dari tontonan menghibur belaka karena sarat aksi “pamer paha” dan goyang payudara. Padahal, bukan itu yang menjadi tujuan perempuan ketika main sepakbola. Melawan Budaya Ketimuran Sejak akhir 1960-an, ketika perempuan Indonesia mulai antusias bermain bola, para pesepakbola putri hanya punya dua tujuan: penyaluran hobi dan meraih prestasi. Namun, hal itu tak mampu menghindarkan mereka dari kritik. Akibatnya, perkembangan sepakbola putri dalam negeri terhalang tembok tinggi. Ketika sepakbola putri mulai makin marak digemari pada 1980-an, cibiran dan kritikan bahwa perempuan di Indonesia tak pantas bermain bola terus mengiringi. Bukan semata soal pakaian yang dianggap terlalu seksi jadi sorotan, tapi juga soal kesehatan bahkan budaya. Dalam budaya Timur, perempuan main sepakbola dianggap bertentangan dengan kodrat. Tak hanya dari masyarakat, komentar miring bahkan datang dari Menteri Muda Urusan Peranan Wanita Lasiyah Soetanto. “Masih banyak olahraga yang lebih pantas dilakukan wanita timur dan pantas dilihat mata,” katanya sebagaimana dimuat Majalah Femina, 11 Agustus 1981. Majalah yang sama juga memuat komentar miring pengurus DPP Wanita Katolik Martha Hadi Mulyanto. “Kasihan kalau wanita-wanita itu hanya jadi bahan tertawaan. Apalagi sepakbola itu permainan yang keras. Biarlah kaum pria saja yang melakukannya,” kata Martha. Akibatnya, beberapa pesepakbola putri mesti membela diri. Muthia Datau, kiper Buana Putri dan timnas putri era 1980-an mengatakan, dia main bola karena hobi dan untuk menyehatkan tubuh. Muthia Datau, eks kiper Buana Putri dan Timnas Putri PSSI (Foto: Majalah Femina, 11 Agustus 1981, Randy Wirayudha/Historia “Pasti ada pro dan kontranya. Kita kan di Timur. Padahal, seragam enggak ketat juga sebenarnya. Hanya celana pendek kok. Namanya juga main bola. Memang sepakbola itu konotasinya olahraga laki-laki. Tapi seiring perkembangan zaman, laki-laki dan perempuan disetarakan. Tinggal bagaimana orang mau mengartikannya. Saya sih tidak peduli orang mau bilang apa. Memang kenapa? Apa salahnya?” ujarnya kepada Historia. Hal senada diutarakan Papat Yunisal, eks pemain Putri Priangan dan timnas putri era 1980-an. “Jadi salah kaprahnya dulu, kesannya wanita tidak boleh aktivitas berat. Banyak yang bicara ini-itu. Tapi ya kita harus tunjukkan (kemampuan),” ujarnya kepada Historia . Ketua Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) itu justru mempertanyakan kenapa hanya sepakbola putri yang dipermasalahkan pakaiannya, sementara cabang olahraga lain tidak. “ Ginideh, ambil contoh cabang renang. Bagaimana itu? Pakaiannya apa enggak (umbar) aurat? Lalu untuk yang lain-lain, tinju, gulat, angkat besi, itu jelas merusak tubuh,” sambung Papat. Papat Yunisal, eks Putri Priangan & Timnas Putri PSSI yang kini menjabat Exco PSSI merangkap Ketua ASBWI (Foto: Sejati Nugraha/Historia) Toh , penjelasan-penjelasan itu tetap tak mampu menghapus pandangan miring masyarakat terhadap sepakbola putri. Akibatnya, sepakbola putri dalam negeri mundur jauh dari era ketika Muthia dan Papat masih merumput. “Jangankan tahun 1980-an, sekarang saja masih begitu kok . Wajar ada yang menentang. Jangankan main bola, keluar rumah saja lewat jam 6 sore, itu enggak boleh. Dulu juga banyak yang berpendapat keperawanan bisa hilang kalau main bola. Padahal tidak begitu. Keperawanan ya harus dijaga masing-masing sampai punya suami,” kata Papat menutup pembicaraan.

  • Perempuan Yogyakarta dalam Perjuangan

    TANPA menghiraukan para serdadu Jepang yang berjaga di luar pagar, Ngaisyah dan Oemiyah langsung naik ke atap Gedung Agung Yogyakarta setelah mendapat pinjaman tangga dari kawan pelukis Rusli dan Soemardi (pamong Taman Siswa). Kedua perempuan itu lalu menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan bendera merah putih sebagai penegasan bahwa Indonesia telah merdeka. Aksi pada September 1945 itu merupakan puncak dari demonstrasi massa-rakyat yang menuntut penurunan bendera Jepang. Aksi berjalan mulus lantaran Oemiyah dan Ngaisyah merupakan pegawai Jawatan Pos Telepon Telegram (PTT), institusi telekomunikasi resmi semasa pendudukan Jepang, sehingga gerak-gerik mereka tak mengundang kecurigaan Jepang. Sejak lama, Oemiyah –yang juga ketua serikat buruh PTT dan kelak menjadi sekretaris Kabinet Amir Syarifudin bagian stenografi– dan Ngaisyah serta Rusli dan Soemardi menjadi anggota perlawanan bawah tanah yang dijalankan kelompok Pemuda Pathuk (PP). Kelompok perjuangan beranggotakan kelas menengah terdidik dari beragam kalangan ini muak terhadap fasis, yang berkuasa dengan kejam. Para anggota PP memanfaatkan keadaan untuk perjuangan. Oemiyah dan Ngaisyah memanfaatkan betul status pegawai dan posisi sebagai ahli stenografi untuk menyadap pesan-pesan rahasia Jepang. “Kalau malam, mereka tidak pulang. Para perempuan tersebut menyadap berita-berita yang dikirim dari Jepang lewat kode-kode yang bisa mereka terjemahkan,” kata sejarawan Ita Fatia Nadia, yang merupakan anak Oemiyah. Hasil sadapan itu menjadi bahan PP merancang strategi. Dalam perjuangan, PP bertugas menyusun strategi melawan Jepang. Mereka bekerjasama dengan kelompok-kelompok perjuangan lain, termasuk para gerilyawan di luar kota. Komunikasi mereka lakukan lewat perantaraan para pedagang di Pasar Beringharjo. “Para pedagang perempuan menjadi penyampai pesan antara para gerilyawan di gunung ke Sukarno atau ke tokoh-tokoh pemikir yang berada di Kota Yogyakarta,” kata Ita. Hal serupa juga dilakukan oleh Umi Sardjono, Ketua Umum Gerwani, seperti ditulis Ruth Indiah Rahayu dalam “Menulis Sejarah Sebagaimana Perempuan” diterbitkan Sejarah dan Budaya , Th X, No. 1, Juni 2016. Selama gerilya melawan Jepang, Umi bertugas sebagai kurir dengan menyamar sebagai ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar. Peran ini menurutnya lebih luwes dikerjakan perempuan karena perempuan pandai menyamar dan tidak dicurigai tentara Jepang. Kucing-kucingan dengan serdadu Jepang itu jelas memiliki risiko besar. Seperti yang menimpa Wasimah, seorang suster yang ikut berjuang, kala ketahuan membawa kebutuhan gerilya berupa obat juga pesan rahasia dari para pejuang. “Wasimah tertangkap di Taman Siswa, lalu ditembak. Salah seorang perempuan di PTT juga ada yang tertangkap menyadap berita Jepang. Ia kemudian dihukum mati di Kantor Pos Besar,” kata Ita. Toh, risiko kehilangan nyawa tak menyurutkan tekad para perempuan ikut memperjuangkan kemerdekaan. Komunikasi-komunikasi rahasia yang mereka lakukan amat menentukan kelanjutan perjuangan hingga akhirnya Indonesia bisa lahir. “Para pedagang mentransfer kebutuhan para pejuang lewat pasar. Orang tidak mengira, dikiranya dia mau ke pasar, berjualan. Padahal untuk kebutuhan revolusi,” ujar Ita.*

  • Sepakbola Kaum Hawa Merentang Masa

    GENAP 88 tahun usia PSSI hari ini, Kamis (19/4/2018). Tak hanya lebih tua dari republik ini dan termasuk senior di Asia, usia segitu mestinya sudah membuat PSSI matang dan jadi panutan. Sayang, usia tak berbanding lurus dengan kedewasaan, tindakan, dan prestasi. Masih dan makin banyak PR yang mesti diselesaikan PSSI. Sepakbola putri salahsatunya. Dibandingkan sepakbola putra, sepakbola putri di negeri ini ibarat bumi dan langit. Terlebih, setelah 1990-an. Hal itu diakui Papat Yunisal, legenda sepakbola putri nasional dan anggota Komite Eksekutif PSSI. Menurutnya, tak usah jauh-jauh membandingkan sepakbola putra dan putri sampai ke soal prestasi atau animo masyarakat. Dari perhatian pun sepakbola putri kalah jauh. “Sepakbola wanita ini lebih banyak kendalanya, baik di dalam maupun luar lapangan. Bukan soal sulit cari pemain ya, karena Indonesia banyak penduduknya. Kesulitan sebelumnya, karena tidak ada kejelasan agenda baik dari AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) melalui PSSI, melalui Asprov. Tentang apa yang digerakkan. Kini saya punya visi-misi juga yang berat,” ujar Papat kepada Historia beberapa waktu lalu. Faktor lain yang menghambat perkembangan sepakbola putri, sambung Papat, adalah gonjang-ganjing di tubuh PSSI. Setiap kali ganti kepengurusan, kebijakan dan perhatian pada sepakbola putri pun ikut berganti. Alhasil, baru pada Desember 2017 PSSI bisa memberi perhatian dengan membentuk Asosiasi Sepakbola Wanita Indonesia (ASBWI) dan menghelat Pertiwi Cup untuk menjaring pemain. Padahal, kata Papat yang lantas duduk di kursi ketua ASBWI itu, mestinya sebelumnya setiap klub Liga 1 punya tim putri laiknya di Eropa. Kalau bisa begitu, tugas membentuk timnas putri untuk Asian Games 2018 dan Piala AFF Putri 2018 tak mungkin sesulit sekarang. Jejak Masa Lampau di Lapangan Hijau Keadaan itu berbeda dari masa lalu. Pada 1970-an hingga 1980-an, sepakbola juga sangat diminati kaum putri. Sudah sejak akhir 1960-an para “Kartini” punya animo tinggi terhadap bola kaki. Itu dibuktikan antara lain dari berdirinya sejumlah klub macam Putri Priangan atau Buana Putri. Kedua klub itu bahkan jadi maskot di kota masing-masing lantaran mewakili identitas sepakbola Jakarta dan Bandung. Rivalitasnya tak ubahnya rivalitas Persib dan Persija. Pada 1970-an, klub-klub putri yang ada saling adu kuat lewat berbagai kompetisi yang ada. Baru pada 1981 mereka bersaing di bawah payung PSSI lewat Piala Kartini dan Invitasi Galanita 1982. Putri Priangan dan Buana Putri tetap paling menonjol di antara Putri Jaya, Putri Pagilaran, Putri Mataram, Mojolaban, Putri Setia, Anging Mamiri dan Putri Cendrawasih. Buana Putri, sebagaimana disitat Kompas, 25 Mei 1981, sudah diikutkan ke Piala Asia Putri 1981 kendati tak membuahkan hasil manis. “Di Putri Priangan pada kompetisi-kompetisi Kartini Cup, Piala Pangdam biasa di Galanita, saingan beratnya Buana Putri. Kadang bergantian juara. Musuh bebuyutan, gitu lah . Kalau sudah bertemu di (stadion) Lebak Bulus itu, sampai tidak ada tempat duduk (penonton) tersisa. Selalu ramai penonton, kayak ada Viking dan Jakmania-nya (pendukung fanatik Persib dan Persija),” imbuh Papat yang memperkuat Putri Priangan sejak 1979. Sementara, di tingkat internasional timnas putri sudah mengukir prestasi jauh sebelum Galanita ada. Dalam debutnya, Piala AFC Putri 1977 di Taiwan, timnas putri berhasil sampai ke semifinal. “Wakti itu Jepang kalah sama kita. Kemudian beberapa tahun kemudian dia jadi juara dunia (Piala Dunia Wanita 2011). Terus kita sendiri selama ini ngapain ? Mereka tidak tidur, mereka jalan pelan-pelan sampai bisa juara dengan perhatian pemerintahnya,” timpal mantan kiper Buana Putri dan timnas putri Muthia Datau kepada Historia. Di Piala AFC Putri 1986, Indonesia juga kembali jadi semifinalis. Posisi runner-up dua kali digapai timnas putri dalam kejuaraan ASEAN Women’s Championship (1982 dan 1985). Di turnamen segitiga Indonesia-Malaysia-Singapura tahun 1979, timnas putri berhasil menjadi juara. Sayang, sejak 1989 Indonesia tak pernah lagi ikut serta Piala AFC Putri. Di SEA Games, sejak 2005 Indonesia juga tak pernah lagi kirim tim. Selain karena kurang perhatian dari PSSI dan pemerintah, sepakbola putri dalam negeri kebanyakan diminati hanya sebagai tempat penyaluran hobi. “Di Buana Putri, sebagian besar anggota yang aktif dilandas motif yang sama, hanya hobi saja,” ujar Muhardi, Pembina Buana Putri, dimuat Femina edisi Agustus 1981. Hingga kini, penyebab sepakbola putri minim peminat tak jauh beda dari masa lalu: sepakbola belum bisa dijadikan profesi dan sumber mata pencaharian oleh kaum putri. “Soal pendapatan, di Putri Priangan hanya sebatas uang saku. Uang sakunya ya nggak seberapa, sekitar 30 ribu sekali main. Kalau di timnas, uang saku agak lumayan, 900 ribu kita,” kata Papat.  Pendapatan kecil itu pun tak bisa rutin diterima lantaran kompetisi yang ada timbul-tenggelam. “Dulu kompetisi ada kalau semacam ada promotor yang ngundang, ” sambung Papat. Kompetisi di bawah PSSI terus menghilang seiring perjalanan waktu. Alhasil, animo generasi muda beralih ke futsal. “Sepakbolanya sudah hilang, jadi lari ke futsal rata-rata. Kalaupun ada, mereka mau latihan, tapi wadahnya mana? Kalau enggak ada kompetisi ngapain ?,” kata Muthia, yang kini menjadi pengurus ASWI dan berharap bisa menggerakkan lagi sepakbola putri. Papat Yunisal sependapat. “Karena ketidakjelasan itu mereka lari ke futsal. Futsal sekarang lapangannya banyak, tapi lapangan bola untuk putri kan lebih mahal sewanya,” timpal Papat.   Toh , setitik cahaya tetap ada dalam kegelapan sepakbola putri kita. Menurut Papat, tidak sedikit pemain futsal putri yang berharap bisa turut berkiprah di sepakbola lapangan. “Futsal kan seninya kurang, asal tendang keras bisa masuk. Tapi sepakbola kan tidak. Pernah juga ada satu-dua pemain (futsal) yang bilang ke saya bahwa kalau ada (kompetisi) sepakbola, mereka ingin ikut. Kalau kompetisinya jelas, mereka ingin di sepakbola saja,” tandas Papat.

  • Amoroso Katamsi Berperan Jadi Soeharto

    LAKSAMANA Pertama TNI (Purn.) dr. Amoroso Katamsi meninggal dunia di RSAL Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada 17 April 2018, pukul 01.40 WIB. Dokter dan psikiater TNI AL ini mulai terjun ke dunia film pada 1976. Namanya melambung setelah memerankan Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto dalam film Pengkhianatan G30S/PKI (1984). Film propaganda Orde Baru ini menjadi tontonan wajib setiap tahun, diputar setiap 30 September di TVRI dan dipancarluaskan oleh stasiun televisi swasta. Amoroso dipilih sebagai pemeran Soeharto karena bersahabat dengan sutradara Arifin C. Noer sejak masih di Yogyakarta dalam sebuah kelompok teater. Dia juga anggota Teater Kecil yang didirikan Arifin pada 1968. Dalam wawancara dengan majalah Pertiwi, 1989, Amoroso mengungkapkan bahwa pada tahap persiapan pembuatan film Pemberontakan G30S/PKI, Arifin mencari pemain yang mirip dengan tokoh-tokoh yang berperan dalam peristiwa sejarah itu.

  • Lima Aktor Pemeran Soeharto

    AKTOR legendaris Amoroso Katamsi menghembuskan nafas terakhir hari ini, Selasa (17/4/2018), di RSAL Dr. Mintohardjo, Jakarta dalam usia 79 tahun. Jenazah dimakamkan di TPU Pondok Labu, Jakarta Selatan.

  • Hizbullah Zaman Jepang

    Politisi gaek Amien Rais kembali membuat berita. Dalam pernyataannya usai mengikuti Gerakan Indonesia Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada Jumat (13/4/2018), Amien memetakan kekuatan partai politik Indonesia sekarang berdasarkan dikotomi: partai Allah ( hizbullah ) dan partai setan ( hizbusyaithon ). Mantan Ketua PP Muhammadiyah itu menjelaskan bahwa PKS, Gerindra dan PAN adalah partai politik yang masuk dalam hizbullah . Sedang partai politik mana saja yang masuk dalam hizbusyaithon , Amien emoh menyebutkannya. Insiatif penggunaan nama hizbullah sebagai entitas politik mulai muncul di era kekuasaan Jepang. Ceritanya, pada 13 September 1943 sepuluh ulama (K.H. Mas Mansyur, K.H. Adnan, Dr.Abdul Karim Amrullah, K.H. Mansur, K.H. Mochtar, K.H. Chalid, K.H. Abdul Madjid, K.H. Jacub, K.H. Djunaedi dan K.H. Sodri) mengajukan permohonan kepada Saiko Shikikan (Panglima Tentara Jepang di Indonesia) agar umat Islam diizinkan membentuk “Barisan Penjaga Pulau Jawa” guna menghadapi serangan Inggris, Amerika Serikat dan Belanda. “Barisan ini rencananya akan diatur menurut ketentuan Islam,” ujar Abdul Qadir Djaelani. Berbeda dengan pengajuan pendirian pasukan PETA (Pembela Tanah Air) oleh tokoh nasionalis Gatot Mangkupradja yang langsung disetujui, pembentukan sebuah milisi Islam tidak langsung diamini oleh pemerintah militer Jepang. Alih-alih diterima, menurut pengamat sejarah Zainul Milal Bizawie usul tersebut malah cenderung mendapat penolakan. Situasi itu menimbulkan kekecewaan di kalangan para tokoh Islam. “Karena sudah lama para kiyai, ulama dan para santri menginginkan terbentuknya suatu barisan sukarela dari kalangan Islam mengingat dalam kajian-kajian di pesantren membela tanah air merupakan sebagian dari pada iman,” ungkap Bizawie dalam Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakan Indonesia (1945-1949) . Namun perkembangan-perkembangan situasi menjadikan Jepang merubah kebijakan. Tidak adanya kemajuan signifikan dari pergerakan militer mereka di palagan Pasifik dan munculnya pemberontakan besar kalangan kiyai dan santri pimpinan K.H. Zaenal Moestofa di Singaparna pada Februari 1944, membuat Jepang memperlunak sikap terhadap kalangan Islam. Maka pada 8 Desember 1944 secara resmi pemerintahan militer Jepang mengumumkan terbentuknya pasukan khusus sukarela Islam, di bawah koordinasi Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia). “Kesatuan sukarela khusus Islam itu dinamakan Hizbullah atau Tentara Allah, dengan format sebagai korps cadangan untuk kesatuan PETA,” ujar Bizawie. Awal Januari 1945, Masyumi mengumumkan terbentuknya Dewan Pengurus Pusat Hizbullah yang dipimpin oleh K.H. Zaenal Arifin dan Muhammad Roem sebagai wakilnya. Sebagai komandan dan wakil komandan pelatihan, diangkatlah K.H. Mas Mansyur dan Prawoto Mangkusasmito. “Atas persetujuan militer Jepang, pusat pelatihan Hizbullah yang pertama dibentuk di kawasan Cibarusa, Bogor,” ungkap Abdul Qadir Djaelani. Kamp Cibarusa didirikan untuk melahirkan opsir-opsir Hizbullah yang pertama. Pada tahap awal sekira 500 pemuda Islam (berusia antara 18-21 tahun) dari 25 Keresidenan di Jawa dan Madura telah mendaftar sebagai peserta. Mereka lantas dididik dengan ilmu-ilmu kemiliteran dan doktrin-doktrin keislaman oleh para kiyai yang sebelumnya telah masuk PETA. Para instruktur ini menjalankan kerja-kerjanya di bawah supervisi seorang perwira Jepang berpengalaman. Namanya Kapten Yanagawa. Berbeda dengan pendidikan PETA yang menyertakan kegiatan seikerei (ritual penghormatan tehadap Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke matahari terbit), maka di Kamp Cibarusa kegiatan tersebut ditiadakan. Sebagai gantinya maka setiap apel, para siswa Kamp Cibarusa menghadap ke arah barat, kiblat umat Islam, sambil meneriakan takbir sebanyak tiga kali. Setelah 3,5 bulan menjalani pendidikan yang sangat ketat, maka 500 pemuda Islam tersebut dinyatakan lulus. Mereka kemudian disebar ke berbagai tempat di pulau Jawa dan Madura guna mendirikan kesatuan-kesatuan Hizbullah. Bahkan menurut C. van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan alumni-alumni Cibarusa ada juga yang sampai mendirikan kesatuan Hizbullah di Kalimantan dan Sumatera. Menurut sejarawan George Mc T. Kahin, selama hampir sepanjang tahun pertama berdirinya Republik Indonesia, Hizbullah berhasil mengumpulkan antara 20-25 ribu pemuda bersenjata yang kemudian diorganisasi dalam unit-unit batalyon. “Hizbullah dikelola di bawah pimpinan Maysumi, kendati dalam kenyataannya hubungan antara pimpinan Masyumi dan komandan Hisbullah seringkali sangat renggang,” tulis Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia.

  • Kegebet Cinta di Hotel Atlet

    TENIS meja nyaris merenggut masa muda srikandi tenis meja Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechabubakar. Tapi dia tak pernah menyesalinya. Ada kebanggaan besar yang dia dapatkan dari pengorbanan itu. Selain prestasi mengharumkan negeri, Rossy mendapatkan banyak hal. “Dari tenis meja, menjadikan saya seorang PNS, seorang ibu empat anak. Mungkin kalau bukan karena tenis meja, enggak ketemu sama bapaknya anak-anak,” kata Rossy tersipu, saat ditemui Historia . Rossy menjadi satu dari sekian banyak atlet yang membina rumahtangga dengan sesama atlet. Pertemuan pertamanya dengan Rany Kristiono, pebasket tim Panasia Bandung (Bandung Kukar) yang kemudian menjadi suami Rossy, terjadi di Hotel Atlet (kini Century Park Hotel) tahun 1993. “Waktu itu saya sedang ada persiapan Pelatnas untuk Asian Games 1994. Dia (Rany) juga ketika itu menginap di situ karena ada pertandingan basket (Kobatama),” kata perempuan kelahiran Bandung, 28 Juni 1972 itu. Keduanya saling berkenalan dan kemudian berteman. Lambat-laun, hati Rossy mulai kegaet pria berpostur 195cm asal Bogor itu. Rasa rindu yang terhalang ketatnya jadwal latihan dan pertandingan mereka atasi dengan saling berkirim surat. “Kalau pelatnas di Cina atau Korea Utara, tiap hari kirim surat. Isinya ya keseharian saya. Tapi yang namanya kirimannya bukan kilat, kadang dua minggu baru sampai. Malah pernah sayanya sudah pulang ke Indonesia, suratnya baru sampai ke dia (Rany),” kenang Rossy. Rossy bersyukur kedua orangtuanya, Ali Umar Syechabubakar dan Nurlaeni, bisa menerima hubungan itu. “Orangtua saya enggak masalah, sampai kita menikah tahun 2001 di Bandung. Ya karena sama-sama atlet, waktu ngelamar ya biasa saja, enggak aneh-aneh,” jelas Rossy. Meski bersuamikan pebasket, Rossy mengaku tak pernah menyukai bola basket, termasuk kala sering ikut menonton suaminya bertanding. “Memang saya enggak suka basket. Enggak paham aturannya. Kalau ada wasit meniup peluit karena ini, karena itu, saya enggak pernah tahu artinya,” sambung Rossy lagi. Setelah pensiun, Rossy berkutat dengan kesibukannya di Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bogor. Rany memilih jadi pelatih basket di sekolah swasta. “Enggak pernah mau dia jadi PNS, walau sudah ditawari. Sekarang dia kerja swasta, melatih SMP-SMA Pelita Harapan Sentul juga,” ujarnya. Kehidupan mereka kian semarak dengan kehadiran empat putri: Diva Marcella Maharani, Najwa Julianoer Qayrani, Jasmine Aprillia Khirani, dan Nayla Julia Aisyahrani. “Semoga salah satunya, atau ya haruslah, ada yang ngikutin jejak orangtua, jadi atlet,” tandas Rossy.

  • Azan Sebelum Ada Pengeras Suara

    SEORANG lelaki renta berusia 50 tahun bangun dari tidurnya di Masjid al-Muhajirin, Tanah Abang, Jakarta. Dia mulai kesehariannya pada menjelang subuh dengan menimba air sumur. Lalu dia pindahkan air timbaannya ke kolam masjid untuk wudhu jamaah. Ketika subuh tiba, dia mengumandangkan azan dari dalam masjid. Tanpa pengeras suara. “Saat terang tanah, zuhur dan ashar, Bang Husin azan lagi. Bang Husin bersuara keras. Bariton lah . Dan oktafnya cukup tinggi,” kata Ahmad Mathar Kamal, penulis buku Colek Cemplung: Cerita yang Tercecer Dari Tanah Betawi . Dia mengenal lelaki renta itu sebagai Bang Husin, tukang azan sohor di tempat kelahirannya, Tanah Abang, pada 1960-an. Suara murni dan merdu Bang Husin berkumandang selama belasan tahun, menggerakkan hati banyak orang ke masjid. Suaranya mengekal di telinga Ahmad Mathar. Selain Bang Husin, bagaimanakah tukang azan memanggil nama Tuhannya sebelum pengeras suara hadir? Kumandang azan kali pertama berasal dari seorang bekas budak berkulit gelap. Namanya Bilal bin Rabah. Bilal beroleh tugas dari Nabi Muhammad untuk mengumandangkan azan secara lantang, merdu, dan berirama dari dalam sebuah masjid kecil nan sederhana di kota Madinah pada tahun kedua kalender Hijriah (623 Masehi). Azan menjadi tanda bagi orang muslim agar lekas menuju masjid untuk menegakkan salat. Sebelumnya, orang-orang muslim mengerjakan salat di masjid tanpa diawali azan. Kemudian Islam menyebar ke luar dari negeri asalnya yang berpadang pasir. Islam masuk ke negeri jauh dengan topografi perbukitan dan berudara lembab. “Di mana diperlukan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke tempat yang jauh,” tulis Syafwandi dalam Menara Mesjid Kudus dalam Tinjauan Sejarah dan Arsitektur . Maka arsitek-arsitek muslim mendirikan sebuah bangunan tinggi agar suara azan sampai ke tempat jauh. Bangunan itu bernama menara. Di sinilah tukang azan (kemudian disebut bilal atau muazin) melaksanakan tugasnya: membesarkan nama Tuhan dan menyeru orang muslim menuju kemenangan. Tak sembarang orang bisa jadi muazin. Mereka harus mempunyai kriteria tertentu. Antara lain dari kelantangan suara dan kemampuan mengatur irama. Jika berhasil memenuhi kriteria tersebut, mereka bisa masuk dalam Lembaga Muazin. Lembaga ini berdiri pada masa dinasti Islam di Asia Barat dan Afrika, dari abad ke-8 sampai ke-14 M. Sidi Gazalba dalam Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam mengungkap perhatian khalifah terhadap para muazin. Khalifah menjamin kebutuhan sehari-hari muazin dengan bayaran cukup. Di Nusantara, negeri berhutan lebat, lembaga serupa juga pernah berdiri di beberapa Kesultanan Islam seperti Aceh dan Mataram Islam. Para muazin terpilih berhak tinggal di sekitar masjid istana atau keraton. Di kesultanan lain, Lembaga Muazin belum jelas benar ada atau tidaknya. Yang terang ialah para muazin di Kudus dan Banten melantangkan azannya dari menara pada abad ke-17 M. Menara masjid pertama terletak di Masjid Kudus, Jawa Tengah. Kemudian menara masjid kedua berdiri di masjid milik Kesultanan Banten. Tak banyak masjid bermenara di Nusantara. “Karena gaung azan terdengar efektif dari bangunan itu bila berada di daerah tandus dan tidak ditanami, bukan di daerah berhutan lebat,” tulis Kees van Dijk dalam “Perubahan Kontur Masjid”, termuat pada Masa Lalu dalam Masa Kini Arsitektur Indonesia . Kees melanjutkan bahwa biasanya para muazin hanya melantangkan azan dari menara saat tiba waktu salat Jumat atau pada waktu istimewa lainnya. Lama-kelamaan azan lazim berkumandang dari menara saban masuk waktu salat. Para muazin juga mulai menggali irama atau cengkok lokalnya masing-masing supaya lebih menyentuh para pendengar. Deliar Noer, ilmuan politik terkemuka Indonesia, mencatat keberagaman cengkok azan di alam Sumatra pada masa kecilnya, 1930-an. “Di Sumatra Timur, azan dikumandangkan dengan merdu mengikuti melodi yang kian lama kian kita kenal sekarang di seluruh Indonesia,” tulis Deliar dalam Aku Bagian Ummat, Aku Bagian Bangsa . Sementara di tanah Minang, Deliar menilai suara muazin lebih bernada datar. “Tetapi mendayu beriba-iba bagai mengimbau dari kejauhan, seperti yang banyak diperdengarkan orang bersalung (bersuling, red .) dan berkaba (mendongeng, red. ).” Begitulah para juru azan mengagungkan Tuhan dan menyeru umat sebelum ada pengeras suara. Kekal di telinga pendengarnya.

  • Rencana Menghabisi Westerling

    SETELAH melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan, Kapten Raymond Westerling dengan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) menyerang TNI di Bandung, Jawa Barat, pada 23 Januari 1950. TNI mengejar komandan pasukan khusus Belanda itu, namun marinir Belanda melarikannya ke Malaya (kini, Singapura). Setelah singgah di beberapa negara, dia kemudian kembali ke Belanda. Dalam persembunyiannya, dia hidup pas-pasan, terlilit utang, sampai menawarkan diri jadi tentara bayaran. Uniknya, dia sempat menjadi penyanyi opera.

  • Riwayat Ulama Wahabi Nasionalis di Cina

    DI Indonesia, kita kerap menjumpai pemuka agama yang disinyalir berhaluan Wahabi, mempersoalkan keabsahan nasionalisme dalam Islam. Sebaliknya, laiknya kiai-kiai NU (Nahdlatul Ulama), seorang imam Wahabi kondang di Cina ini malah berpandangan bahwa ḥubbu al-waṭan mina al-īmān: cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

  • Diusir di Pengujung Karier

    SETIAP perkataan adalah doa. Sayang, kiper Juventus Gianluigi Buffon tak meahami itu. Pada Maret 2016, dia mengatakan kepada Sky Sport Italia bahwa mungkin saja dia mengakhiri karier sepahit Zinedine Zidane –menutup pertandingan terakhir dengan kartu merah. “Mungkin saya bisa mengakhiri karier dengan tandukan kepala seperti yang dilakukan Zidane. Saya bisa menanduk seseorang – siapa tahu,” cetus Buffon setengah bercanda kala itu. Nahas, kata-kata itu seakan terkabul di Santiago Bernabeu, markas Real Madrid, Kamis (12/4/2018) dini hari WIB. Portiere  berusia 40 tahun yang menyatakan musim ini akan jadi Liga Champions terakhirnya itu, diusir wasit Michael Oliver asal Inggris di babak injury time. Buffon diganjar kartu merah setelah memprotes keras wasit. Dia merasa keputusan wasit menghadiahkan penalti buat Madrid, telah “merampok” kans timnya untuk lolos ke semifinal. Itu jadi kartu merah pertama Buffon sepanjang 117 penampilannya di Liga Champions. Alhasil, meski menang 3-1, Juve gagal lolos akibat kalah agregat 3-4. Buffon menambah panjang daftar pesepakbola profesional yang mendapat kartu merah di pengujung karier. Berikut empat pesepakbola lain yang mendahului Buffon: Jurgen Kohler Jurgen Kohler menjadi andalan lini pertahanan timnas Jerman pada medio 1980 hingga 1990-an. Dia ikut mengantar Der Panzer menjuarai Piala Dunia 1990 dan Euro 1996. Di level klub bersama Bayern Munich, Juventus, dan Borussia Dortmund, Kohler mengoleksi tak kurang dari delapan gelar. Jurgen Kohler Namun, Kohler mesti menutup kariernya dengan noda kartu merah. Momen itu terjadi di final Piala UEFA (kini Europa League), 8 Mei 2002, kala Dortmund menghadapi Feyenoord Rotterdam. Menurut situs resmi UEFA, 9 Mei 2002, Kohler dikartumerah langsung oleh wasit setelah menjatuhkan pemain Feyenoord di kotak penalti pada menit 31. Selepas laga yang berakhir 3-2 untuk Feyenoord itu, Kohler resmi pensiun setelah 19 tahun menjalani karier profesional.  Edgar Davids Setelah melanglang buana ke berbagai liga top Eropa, karier Edgar Davids sempat terkatung-katung di usia senja. Beruntung, klub semenjana Inggris Barnet FC mau menampung pemain berkacamata akibat glaucoma itu. Davids memperkuat Barnet sebagai pelatih sekaligus pemain. Edgar Davids Davids memainkan laga terakhirnya pada 28 Desember 2013 kala Barnet menghadapi Salisbury City di Divisi National League atau kompetisi kasta kelima di Inggris. Davids menerima kartu kuning kedua setelah adu mulut dengan wasit. Per Januari 2014, Davids angkat kaki dan pensiun. “Barnet FC malam ini mengumumkan Edgar Davids resign dari posisinya sebagai pelatih kepala,” tulis situs barnetfc.com , 18 Januari 2014. Mark van Bommel Di masa jayanya, legenda bernama lengkap Mark Peter Gertruda Andreas van Bommel ini merupakan gelandang jangkar andalan Barcelona, Bayern Munich, dan AC Milan. Mantan kapten timnas Belanda ini juga berhasil membawa negerinya menjadi runner up Piala Dunia 2010. Mark van Bommel Van Bommel kembali klub yang membesarkan namanya, PSV Eindhoven, di senja kariernya. Namun, nahas menghampirinya di pertandingan terakhir, 12 Mei 2013, kala PSV menghadapi Twente Enschede. Dia diusir wasit dengan kartu kuning kedua akibat tekel brutalnya. Sehari berselang, Van Bommel menyatakan gantung sepatu. “Kartu merah yang saya terima mungkin cerminan keseluruhan musim ini,” cetusnya kepada De Telegraaf , 13 Mei 2013. Zinedine Zidane Zidane Yazid Zidane menjalani laga terakhir profesionalnya bersama timnas Prancis di final Piala Dunia 2006 melawan Italia, yang gawangnya dijaga Buffon. Nahas di pengujung laga, provokasi bek Italia Marco Materazzi dengan komentar miring terhadap ibu dan adik Zidane membuat Zidane emosi. Dia langsung menanduk “Matrix”. Zinedine Zidane Wasit langsung mengkartu merah Zidane. FIFA juga memvonisnya larangan tiga kali bermain –yang ditebus Zidane dengan melakukan pelayanan sosial proyek kemanusiaan FIFA selama tiga hari. Zidane pilih pensiun usai laga itu. Dalam noda di ujung karier Zidane itu, ada tawa Buffon yang menang Piala Dunia. Kini, roda berputar. Zidane nyengir saat Buffon dikartumerah seiring Madrid yang dilatihnya lolos ke semifinal Liga Champions.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page