top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Masa Kecil Kwik Kian Gie yang Pelik

    BANYAK orang mengenal mendiang Kwik Kian Gie sebagai begawan ekonomi dengan pemikiran-pemikiran ekonomi kerakyatannya. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa masa kecilnya sarat pengalaman pelik di masa pendudukan Jepang (1942-1945). Kwik lahir di Juwana, wilayah penghasil bandeng di Pati, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1935. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan suami-istri Kwik Hway Gwan dan Bak Chun Suk. Menurut kakak Kwik bernama Januar Darmawan dalam bukunya, Profit and Beyond: Proses Mencetak Para Wirausahawan, ayah mereka seorang bos pabrik tekstil yang sangat berhasil, sementara sang ibu juga pedagang batik. Sang ayah tidak hanya jadi salah satu orang terkaya di Juwana namun juga sosok filantropis anggota Tjin Tjay Hwee, perkumpulan amal Tionghoa untuk membantu China ketika tengah dilanda Perang Sino-Jepang Kedua (1937-1945).

  • Kwik Kian Gie “Si Tukang Kritik” Telah Pergi

    KABAR duka datang dari ekonom kritis Kwik Kian Gie. Mantan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Ekuin) itu meninggal dunia kemarin, Senin (28 Juli 2025) malam di usia 90 tahun. Kepergian ekonom “kelotokan” itu menjadi kehilangan besar bagi bangsa ini. Tak ada lagi masukan ataupun kritik yang kerap disuarakannya baik lewat lisan maupun tulisan. Pandangannya yang berharga bagi pembangunan ekonomi bangsa itu tentu tidak begitu saja jatuh dari langit, melainkan didapatkannya lewat pergulatan bertahun-tahun dengan perekonomian baik lewat bangku sekolah maupun terjun langsung ke lapangan sejak muda. Setelah lulus sebagai doktorandus (sarjana) ekonomi dari Nederlandsch Economiesche Hogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi Belanda) di Rotterdam, seperti Bung Hatta, pada 1960-an, Kwik bekerja di Kedutaan Besar RI di Den Haag sedari 1965 hingga 1970. Dirinya sempat pula menjadi direktur di NV Handelsonderneming IPILO, Amsterdam. Perusahaan itu dulu mengimpor banyak hasil bumi dari Indonesia.

  • Perkawanan Kwik Kian Gie dan Bram Tambunan

    KWIK Kian Gie pulang ke Indonesia setelah bertugas sebagai asisten atase budaya dan pers di KBRI Belanda. Di Jakarta, Kwik mendapat tawaran pekerjaan untuk menjalankan maskapai dagang di negeri Belanda. Kwik tertarik. Meski banting setir dari pekerjaan lama, pekerjaan baru itu bukan soal baginya. Kwik punya modal ijazah lulusan dari Nederlandse Economische Hogeschool (NEH) Rotterdam –sekarang Erasmus University Rotterdam– yang punya reputasi mentereng sebagai sekolah tinggi ekonomi kelas dunia. Tapi, ajakan Bram Tambunan, sang pemilik perusaahan, membuat Kwik tak bisa menolak tawaran tersebut. “Saya tahu bahwa Bram itu salah satu sahabat Sukarno yang setiap pagi minum kopi bersama di belakang Istana. Setelah itu komunikasi menjadi intensif karena dia sering ke Belanda kan,” tutur Kwik Kian Gie dalam wawancara dengan Historia.ID tiga tahun silam. Menurut Kwik, Indonesia saat itu diboikot mengekspor hasil buminya ke Eropa melalui Belanda. Pasalnya, banyak eksportir nakal yang berbuat curang. Setelah mereka terima uang pembayaran, barang tak kunjung dikirim, malah ada yang mengirim sampah. Perdagangan Indonesia pun terpuruk karena tak dipercaya. Maka solusinya adalah mendirikan kantor dagang di Belanda yang berbadan hukum sesuai peraturan negara itu.

  • Henk Ngantung Perancang Lambang Kostrad

    KETIKA Kostrad berulang tahun ke-30, Presiden Soeharto mengajak segenap prajurit Kostrad untuk menghayati sejarah korps tersebut. Soeharto tentu khatam dengan sejarah Kostrad. Namanya sebagai perwira TNI mulai menanjak saat dia ditunjuk menjadi panglima pertama Kostrad periode 1961–1965. Itulah sebabnya, dalam setiap ulang tahun Kostrad, Soeharto selalu menyampaikan amanat beranjak dari sejarah dan tradisi Kostrad. “Dengan dukungan ABRI yang berintikan Kostrad, Indonesia siap merebut Irja (Irian Jaya, kini Papua, red.) dengan kekuatan senjata. Akhirnya Irja kembali ke pangkuan RI lewat jalan diplomasi. Pada masa pemberontakan G30S/PKI, kesatuan yang selalu tampil di depan dalam menjaga keutuhan negara kesatuan RI ini bersama jajaran ABRI lainnya dan seluruh rakyat telah menyelamatkan negara RI yang berdasarkan Pancasila,” kata Soeharto dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Panglima ABRI Jenderal TNI Try Sutrisno dikutip Kompas, 10 Maret 1991. Soeharto menekankan pentingnya merawat dan mempertahankan sejarah Kostrad. Menurut Soeharto, Kostrad adalah kesatuan ABRI yang memiliki sejarah dan tradisi gemilang. Perjalanan sejarah Kostrad memperlihatkan adanya tradisi keprajuritan dan perjuangan dalam korps yang berpangkal pada patriotisme, semangat kebangsaan, dan cinta tanah air.

  • Silang Sengkarut Perjalanan Pulang Odysseus

    AURA kekuasaannya masih utuh kala Raja Agamemnon (diperankan Benny Safdie) menyusuri pesisir pantai Troya menuju kapalnya. Odysseus (Matt Damon), panglimanya yang paling dihormatinya, menyertai di belakangnya. Begitu sang raja berbalik badan untuk berpisah, Odysseus berlutut sebagai penghormatan lalu sang raja memeluknya. Adegan tersebut “menghiasi” film The Odyssey terbaru garapan sineas Christopher Nolan. Filmnya diadaptasi dari syair karangan penyair Yunani Homerus dengan tajuk serupa. Syairnya dituliskan Homerus sekitar abad ke-8 Sebelum Masehi (SM) dalam 24 buku sekaligus jadi sekuel bagi syair epik sebelumnya, Iliad. Iliad berpusar pada kisah penculikan Helen, istri Raja Sparta Menelaus yang merupakan adik Agamemnon, oleh Pangeran Paris dari Troya. Maka Agamemnon sebagai raja yang membawahi semua kerajaan di Yunani, memerangi Troya sembari dibumbui perseteruan Agamemnon dengan Achilles selama Perang Troya. Adapun Odyssey berkisah tentang perjalanan panjang sekaligus mati-matian Odysseus untuk pulang pasca-Perang Troya.

  • Kisah Padi Pak Jagus

    DALAM amanatnya pada peringatan ulang tahun ke-19 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1965, Presiden Sukarno berkisah tentang Pak Jagus. Sukarno bertemu Pak Jagus ketika ibu kota berada di Yogyakarta. Dia menugasi petani dari Klaten itu untuk mengembangkan padi jenis baru. Kepada Pak Jagus, Sukarno memberi tiga syarat dalam mengembangkan padi jenis baru ini. Pertama, padi tidak boleh menghabiskan banyak air. Kedua, meski minim air, hasil panennya harus sama dengan padi sawah biasa. Ketiga, padi baru ini rasanya harus enak. Suatu hari, Pak Jagus datang menemui Sukarno. Dia membawa padi jenis baru hasil penelitiannya. Sukarno memerintahkan padi baru itu ditanam secara luas dan diberikan kepada rakyat untuk dicoba. Namun, ternyata hasilnya tidak memuaskan.

  • Antara Padi Bulu, Cere, dan Horai

    PADI yang ditanam di Jawa sebelum perang secara kasar dikelompokkan menjadi dua jenis: pade cere (padi tak berambut) dan padi bulu (padi berambut). Orang Jawa lebih menghargai padi bulu ketimbang padi cere karena lebih enak dan dianggap bermutu lebih tinggi, sehingga harganya pun lebih mahal. Ketika menduduki Indonesia, pemerintah militer Jepang mendorong petani agar menanam padi cere yang lebih produktif. Setiap hektarnya, padi cere bisa menghasilkan panen lebih tinggi karena tahan terhadap musim kering dan bisa tumbuh di tanah yang kurang subur. “Apa yang penting bagi pemerintah Jepang bukanlah rasa yang enak atau mutu yang tinggi, melainkan memaksimalkan produksi secara keseluruhan,” tulis Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol. Produksi bahan makannan, terutama padi, untuk memasok pasukan Jepang di medan perang mendapat prioritas.

  • Hikayat Pare Ageung

    SUDAH sepuluh tahun terakhir ini Dinda Saputra (45), seorang pengusaha material di Depok, dan keluarga rutin mengkonsumsi nasi dari beras Cianjur. Selain bersih dan wangi, rasa nasinya pulen. “Tapi ya harganya lumayan mahal dan langka juga. Saya sendiri dapat barang itu karena dikirimi langsung dari seorang petani organik di Cianjur,” ujar Dinda. Pamor Cianjur sebagai kota beras berkualitas nomor satu memang sudah dikenal sejak lama. Menurut Ibrahim Naswari (73), petani di Cianjur, sejak 1950-an beras Cianjur sudah masuk ke dapur-dapur menteri dan orang berpunya di kota-kota besar. “Bahkan pada waktu zaman Pak Karno, Istana Cipanas menggunakan nasi dari beras Cianjur jenis Peuteuy sebagai hidangan utama buat para tamunya,” ujar Ibrahim. Masyarakat Cianjur bangga dengan citra itu. Untuk menghormati padi-padi yang mengharumkan nama kotanya, mereka memiliki sebutan khusus: pare ageung, yang berarti padi agung. Tak jelas sejak kapan sebutan itu mulai populer. Namun, menurut Ibrahim, bisa jadi istilah itu muncul seiring merebaknya varietas padi unggul nasional seperti Ciherang, IR-64, Cisantana, Cigeulis, dan Cibogo pada 1970-an.

  • Terpikat Padi Ajaib

    MUSIM kering 1966, S.K. De Datta, seorang agronomis muda India yang bergabung dengan Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI), melakukan ujicoba penanaman IR8 dengan kondisi pupuk yang berbeda. Ketika panen, De Datta terkagum-kagum karena IR8 menghasilkan sekira 5 ton per hektar tanpa pupuk dan hampir 10 ton dengan 120 kg nitrogen per hektar. Padahal hasil rata-rata di Filipina kala itu hanya sekitar 1 ton per hektar. Dia kemudian menunjukkan data itu kepada Henry Beachell, kepala pemuliaan padi IRRI, yang langsung mengajaknya menemui Robert Candler, direktur IRRI. Candler sedang memimpin sebuah seminar. Begitu rampung, dia melihat kegembiraan di wajah Beachell dan De Datta. Chandler mengajak mereka ke kantornya. Ketika De Datta menunjukkan datanya, Chandler bersemangat. “Seluruh dunia akan mendengar tentang hal ini,” kata Chandler. “Kita akan membuat sejarah!” Dia menjabat tangan dan mengucapkan selamat kepada Beachell dan De Datta. Segera laporan serupa datang ke IRRI dari seluruh Asia, termasuk panen 11 ton di Pakistan. Kabar itu sampai ke telinga Presiden Filipina Ferdinand Marcos. Dengan helikopter dia pun terbang ke markas IRRI di Los Banos, Manila, Filipina. Mendengar penjelasan dari staf IRRI, Marcos langsung kepincut dan memerintahkan memperbanyak benih IR8 secepat mungkin. Dia ingin mewujudkan swasembada beras di Filipina selama masa pertama jabatannya.

  • The Woman at the Forefront

    The morning air brushed against the faces of the women lined up in front of the Wani (Indonesian Women’s Association) office in the SKP (Girls’ Vocational School) building (later the Metropole or Megaria cinema) on Jalan Pegangsaan in Menteng, Jakarta, on August 17, 1946. They were about to march to the site of the proclamation at Jalan Pegangsaan Timur 56. At that time, President Sukarno’s residence became the office of Sutan Sjahrir, the prime minister who also served as foreign minister. Meanwhile, Sukarno had moved to Yogyakarta because Jakarta was unsafe following the Dutch occupation, which was supported by the Allies, and the establishment of NICA (the Netherlands Indies Civil Administration). Dressed in red and white, the women marched toward Pegangsaan Timur 56. Despite being blocked by Gurkha troops, they continued on to celebrate the first anniversary of independence and witness the inauguration of the Proclamation Monument.

  • Akar Perusahaan Daerah Milik DKI Jakarta

    PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai melepas saham di perusahaan bir PT Delta Jakarta bertepatan malam pertama Ramadan 1439 H/2018 M. Jumlah sahamnya sebesar 26,25 persen dengan nilai jual mencapai satu triliun rupiah. Kepemilikan saham di perusahaan bir itu berakar dari upaya Pemprov DKI Jakarta mencari sumber dana pembangunan di luar dana dari pemerintah pusat. Salahsatu upaya mencari sumber alternatif adalah melalui pembentukan perusahaan daerah. Pada awal kemerdekaan, pemerintah Jakarta belum mampu merumuskan secara jelas bagaimana cara memperoleh dana untuk pembangunan kota. Jakarta masih bergolak oleh api revolusi.

  • Riwayat dan Kinerja Perusahaan Daerah DKI Jakarta

    PELEPASAN saham Pemprov DKI sebesar 26,25 persen di PT Delta Jakarta menjadi sorotan. Pemprov berpotensi meraup satu triliun rupiah dari penjualan saham, sekaligus juga bakal kehilangan dividen 38 miliar rupiah per tahun. Jumlah dividen ini cukup besar di antara perolehan dividen Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov DKI. Kontribusi BUMD —dulu disebut Perusahaan Daerah— untuk menggemukkan kas Pemprov DKI berbeda satu sama lain. Bergantung pada kinerja, bidang usaha, dan laba bersih mereka. Ada Perusahaan Daerah berkinerja baik dalam bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak sehingga menghasilkan laba bersih yang tinggi. Tapi ada juga Perusahaan Daerah berkinerja buruk dalam bidang usaha menyangkut kebutuhan keseharian rakyat sehingga laba bersihnya rendah.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page