Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dua Perempuan dalam BPUPKI
Dari 62 anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) hanya ada dua perempuan: Maria Ullfah dan Siti Sukaptinah Soenarjo Mangoenpoespito. Kedua perempuan ini telah aktif dalam pergerakan sejak tahun 1920-an. “Kalau dari segi pendidikan Maria Ullfah yang paling tinggi. Semua keluarganya mengenyam pendidikan barat. Tidak semua golongan bisa masuk ketika itu. Seleksinya ketat sekali untuk menjadi anggota BPUPKI,” kata Mutiah Amini, sejarawan Universitas Gadjah Mada. Maria Ullfah merupakan sarjana hukum perempuan Indonesia pertama lulusan Universitas Leiden, Belanda. Sambil mengajar di Perguruan Rakyat dan Perguruan Muhammadiyah, dia memperjuangkan kaum perempuan. Dia menjadi pendiri organisasi Isteri Indonesia. Melalui tulisan-tulisannya, dia menyoroti berbagai peroalan perempuan seperti pernikahan paksa dan buruh perempuan. Dia juga memperjuangkan gagasan perlunya perempuan Indonesia duduk di parlemen dan dewan-dewan kota. Dan yang paling penting adalah memperjuangkan undang-undang perkawinan yang baru terwujud tahun 1974. Sementara itu, Siti Sukaptinah pernah menjadi guru di Taman Siswa dan aktif dalam organisasi Jong Islamieten Bond Dames Afdeling (JIBDA). Dia terlibat dalang Kongres Perempuan I sampai IV, memimpin kantor bagian Wanita Putera, dan ketua Fujinkai Pusat (organisasi perempuan zaman Jepang). Widya Fitria Ningsih, kandidat doktor dari Universitas Amsterdam, mengatakan bahwa Sukaptinah yang mengusulkan peringatan Hari Ibu. Dia juga pernah menuntut “Indonesia Berparlemen” kepada pemerintah Hindia Belanda. “Dia merupakan salah satu elite dalam perjuangan gerakan perempuan. Itu mungkin menjadi salah satu pertimbangan dia terpilih menjadi anggota BPUPKI,” kata Widya. Widya menjelaskan bahwa dalam sidang BPUPKI terdapat pembagian panitia berdasarkan cakupan pembahasan. Terdapat tiga pembagian, Panitia Pertama membahas tentang UUD dan Perumusan Undang-Undang. Panitia Kedua membahas tentang urusan ekonomi dan keuangan, sedangkan Panitia Ketiga membahas mengenai pembinaan tanah air. “Maria Ullfah masuk dalam Panitia Pertama sedangkan Siti Sukaptinah menjadi anggota Panita Ketiga,” kata Widya. Dalam Kongres BPUPKI yang berlangsung antara 28 Mei hingga 1 Juni 1945 dibahas mengenai bentuk negara dan luas wilayah. Akan tetapi yang penting dicatat dalam sejarah perempuan Indonesia ialah usulan Maria Ulfah tentang persamaan hak. “Di sidang ke-2 BPUPKI mambahas tentang kebebasan beragama, dibahas juga tentang hak dasar. Maria Ullfah mengusulkan untuk dicantumkan hak-hak dasar dalam UUD, termasuk persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Dia sangat memperjuangkan itu,” kata Widya. Risalah Sidang BPUPKI-PPKI menyebut bahwa ketika rapat Pantia Perancangan Undang-Undang Dasar tanggal 13 Juli 1945 Maria Ulfah mengusulkan, “Saya memandang perlu hak-hak dasar dimasukkan dalam Undang-Undang Dasar.” Maria kemudian menjadi menteri perempuan pertama dalam Kabinet Sutan Sjahrir. Usulan Maria diterima dan menjadi Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 tentang kesetaraan warga negara di hadapan hukum. Atas jasanya itu, Komnas HAM memberikan penghargaan Anugerah HAM kepada Maria Ullfah dan Munir Said Thalib pada 2014.
- Menulis Mencipta Indonesia
DR. MAX LANE, Indonesianis dari Victoria University Australia, seringkali bingung tiap kali melihat pameran tentang kebudayaan Indonesia. Yang dipamerkan lazimnya batik hingga angklung. “Itu bukan kebudayaan Indonesia. Batik kebudayaan Jawa. Angkung kebudayaan Sunda. Itu sudah ada sebelum negara Indonesia ada. Itu semua warisan dari Indonesia yang sebelumnya belum ada di bumi manusia,” ujar Max Lane dalam peluncuran bukunya, Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Esai-esai tentang Pramoedya, Sejarah dan Politik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 12 Agustus 2017. Max Lane mengatakan bahwa salah satu elemen dasar kebudayaan Indonesia adalah menulis. Ini yang dilakukan sastawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer lewat sejumlah karyanya, seperti tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca . “Banyak pesan yang terdapat dalam karya-karya Pramoedya yang terinspirasi dari RA Kartini. Pramoedya melihat Kartini sebagai pemikir zaman pencerahan Indonesia. Dalam karya-karya Pramoedya, terkandung pesan-pesan seperti kebangkitan nasional Indonesia di era 1920-an,” kata Max Lane. Max Lane menerjemahkan karya-karya Pramoedya ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Akibatnya, sebagai diplomat muda di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dia ditarik ke negerinya pada 1981. Menurut Max Lane karya-karya Pramoedya penting untuk dibaca oleh generasi muda agar dapat menentukan ke mana arah bangsa ini akan di bawa. Arah bangsa yang sejak era 1950-an selalu memunculkan pertarungan ideologi yang keras. “Setelah Indonesia merdeka, lalu masa depannya mau di bawa ke mana. Makanya di era 1950-an, terjadi pertempuran ideologi. Peristiwa 30 September 1965 jadi titik balik. Orang-orang kiri dipenjara, dibunuh sebagai akibat pertarungan ideologi yang diselesaikan dengan cara kekerasan,” kata Max Lane. Di Indonesia, menurut Max Lane, belum ada sekolah-sekolah menengah yang punya mata pelajaran sastra Indonesia. Padahal, dari sastra dan tulisan pula generasi muda bisa belajar mengenai asal-usul dan budaya Indonesia. “Proses pertama terciptanya Indonesia itu adalah perlawanan terhadap ketidakadilan. Ketidakadilan yang dijalankan kediktatoran kolonialis Hindia Belanda. Yang kedua adalah menulis dan ketiga adalah menyebarluaskan tulisan dan ide-ide. Karena tanpa menulis dan menyebarluaskannya, perlawanan tidak ada gunanya, tidak diketahui dunia,” kata Max Lane. Menurut Max Lane Indonesia juga eksis dan terpelihara sampai sekarang karena revolusi yang memiliki dua sifat utama. Pertama, pembalikan kekuatan kekuasaan seperti yang dilakukan para pejuang terhadap kekuatan penjajah. “Yang kedua, menciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini, menciptakan Indonesia yang sebelumnya tidak ada di bumi manusia. Tapi setelah tercipta, Indonesia mau dibawa ke mana,” kata Max Lane. Oleh karena itu, Max Lane berpesan agar generasi muda Indonesia aktif mempelajari sastra dan mau berorganisasi. “Karena kalau sendiri, kita tidak bisa buat apa-apa. Kalau bersama-sama dalam berorganisasi, bisa lebih bergerak menentukan masa depan Indonesia,” pungkas Max Lane.*
- Pencapaian Awal Kebudayaan Nusantara
MESKI mengadopsi kebudayaan India, Nusantara memiliki beberapa pencapaian paling awal di banding negara itu. Misalnya, untuk pertama kali cerita Ramayana digambarkan dalam relief di Candi Prambanan meski teks kesusastraan Ramayana berasal dari India. “Lagipula cerita Ramayana versi Jawa dan India juga berbeda,” kata Dr. Andrea Acri, peneliti dari Ecole Pratique des Hautes Etudes, Paris, Prancis, dalam seminar "Reviving the Sriwijaya-Nalanda Civilization Trail", di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Senayan, Jakarta, Selasa (8/8). Pencapaian lain adalah candi-candi yang megah. “Prambanan, Borobudur sebagai candi Buddhis terbesar di dunia adanya di Indonesia, bukan di India,” kata Andrea. Selain itu, yang menarik soal penulisan angka nol (0) sebagai angka numerik. Menurut Andrea, penelitian terbaru menunjukkan bukti pertama penggunaan nol muncul di Prasasti Trapeang Prei, Kamboja dan di tiga prasasti era Sriwijaya. Semua berasal dari masa yang sama, yaitu tahun 604 saka (683 M), 200 tahun lebih awal daripada di India. “Nol berasal dari India. Tapi angkanya baru muncul abad 9. Di Kamboja dan Sriwijaya lebih dulu muncul. Ini salah satu achievment, ” ungkap Andrea.Tak hanya itu, Sumatra juga mendapat predikat sebagai tempat terbaik belajar bahasa Sanskerta. Informasi ini didapat dari pengembara asal Cina, Yijing yang pernah menetap di Sriwijaya. Dia menyebut Sriwijaya sebagai pusat studi bahasa Sanskerta sebelum para biksu dan pelajar Buddhis berangkat ke India. “Sebelum ke India para pendeta ini sebaiknya menetap dulu di Sriwijaya. Ini sangat luar biasa. Itu kan bahasa asing,” kata Andrea. Dengan demikian, Sriwijaya menjadi mata rantai penghubung antara India, Asia Tenggara, hingga Cina.
- Cerita di Balik Biografi Sukarno Karya Sejarawan Jerman
BERNHARD Dahm mengenal Indonesia dari ibunya, Margarete Beisenherz, putri seorang misionaris, Daniel Beisenherz, yang lahir pada 1906 di Pancur Napitu, Tarutung, Sumatra Utara. Margarete meninggal pada 1942 ketika Bernhard berusia sepuluh tahun. Bernhard kemudian tinggal dengan bibi ibunya, Auguste Beisenherz, seorang biarawati di tanah Batak dan terakhir memimpin rumah sakit di Pearaja, Tarutung. Darinya, dia mendapat cerita banyak tentang Batak dan Indonesia. Setelah Perang Dunia II berakhir, dia terus mendengar berita tentang Indonesia. Dia pun ingin mempelajari lebih jauh tentang Indonesia. “Berbeda dengan teman-teman sebaya di Jerman, saya sudah tahu dengan tepat, di bagian bumi mana negara baru itu terletak. Dan saya mengikuti dengan penuh perhatian peristiwa-peristiwa dalam revolusi Indonesia sampai akhir tahun 1949,” kata Bernhard dalam Amatan Para Ahli Jerman tentang Indonesia.
- Orang Indonesia yang Berperang untuk Negara Lain
PERANG yang berkecamuk di berbagai belahan dunia menyeret sejumlah pemuda Indonesia. Mereka ambil bagian sebagai tentara, pilot tempur dan tenaga medis, mulai dari Perang Sipil di Spanyol hingga Perang Pasifik. Alasan mereka terjebak di tengah-tengah berkecamuknya perang karena tak bisa pulang ke Indonesia atau kesukarelaan. Berikut kisah-kisah para pemuda itu: Henry Hoo Lahir di Surabaya pada 1912, putra Hoo Bo Liang yang memiliki nama lahir Hoo Chi Sui ini tercatat sebagai pilot pesawat tempur International Volunteer Brigade. Legiun sukarelawan asing itu memihak kaum republik melawan kaum fasis dalam Guerra Civil atau Perang Saudara Spanyol (1936-1938). Henry Hoo merantau ke Eropa pada 1935. Ketika pecah Perang Saudara di Spanyol, dia salah satu dari sekian orang Tionghoa asal Hindia Belanda yang mendaftar sebagai sukarelawan kontrak. Kisahnya pernah dimuat dalam surat kabar Sin Po pada 1938. Dia mengawaki pesawat Uni Soviet pernah menjatuhkan pesawat terbang Jerman, pendukung utama kaum fasis Spanyol pimpinan Francisco Franco. Setelah selesai kontraknya, Henry beralih ke Zhonghua Minguo Kongjun (Angkatan Udara Republik Cina) untuk melawan Jepang pada 1937. Selain Henry, ada beberapa pilot kelahiran Hindia Belanda, seperti Nio Thiam Seng (Bandung), Tan Tin Ho (Batavia) dan Tan Gie Gan (Surakarta). Tio Oen Bik Tionghoa asal Hindia Belanda yang terlibat dalam Perang Sipil Spanyol juga ada yang berperan sebagai tenaga medis, yaitu dr. Tio Oen Bik. Pemuda kelahiran 1906 itu sebelumnya menimba ilmu kedokteran di Nederlansdsch Indische Artsen School atau sekolah kedokteran pribumi di Surabaya medio 1920-an. Pada 1929, dia melanjutkan studinya di Amsterdam, Belanda, di mana dia mendirikan Sarekat Peranakan Tionghoa Indonesia. Dalam Chinese Migrants and Internationalism: Forgotten Histories 1917-1945 , Gregor Benton mencatat bahwa Tio enggan ikut kawan-kawannya pulang ke Hindia Belanda di masa pergerakan. Dia memilih pergi ke Spanyol untuk bergabung dengan pihak republik melawan fasis. Di sana, dia menangani para korban sipil maupun militer. Menurut Iwan Santosa dalam Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran , tidak hanya Tio yang pernah punya andil di negeri asing. Dalam perang Sino-Jepang, organisasi Hoo Hap asal Cianjur juga berangkat ke Cina untuk melawan Jepang. Beberapa dokter dan staf medis Rumah Sakit Jang Seng Ie (kini Rumah Sakit Husada Jakarta Pusat) juga dikirim ke Cina dengan biaya sumbangan para tokoh anti-Jepang. Abdul Halim Perdanakusuma Lahir di Sampang, Madura pada 18 November 1922, karier kemiliteran Halim dirintis di Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Belanda di Modderlust, Surabaya. Halim pun ikut serta dalam perang Pasifik melawan Jepang sebagai operator torpedo. Halim nyaris tewas ketika kapal perang Belanda yang turut diawakinya ditenggelamkan Jepang dekat pantai Cilacap. Selamat dari maut, Halim ikut rombongan serdadu Belanda yang mengungsi ke India. Pertemuannya dengan Panglima Komando Armada Asia Tenggara Lord Louis Mountbatten yang terkesan dengan karya lukisan Halim, membuatnya masuk pendidikan RCAF (Angkatan Udara Kanada) dan dilanjutkan RAF (Angkatan Udara Inggris) sampai lulus sebagai navigator bomber (pesawat pembom) dengan pangkat letnan. Di lingkungan RAF, Halim dijuluki The Black Mascot oleh rekan-rekannya. Pengalaman tempurnya termasuk lumayan: ia pernah melakukan 42 misi pemboman ke wilayah Prancis (yang sedang dikuasai Jerman) dan ke wilayah Jerman sendiri. Halim pun tercatat sebagai navigator pada pesawat pembom Avro Lancaster atau B-24 Liberator sampai akhir Perang Dunia II. Dari Sedjarah Pertumbuhan AURI diketahui, Halim lantas direkrut Komodor Suryadi Suryadharma sebagai salah satu pionir TNI AU sebagai perwira operasi. Saat itu, dia satu-satunya pilot TNI AU dengan wing penerbang RCAF dan memiliki pengalaman tempur di palagan Eropa. Tragisnya, Halim bersama Iswahyudi gugur dalam tugas kala pesawat Avro Anson yang mereka naiki, jatuh di Malaya (kini Malaysia) pada 14 Desember 1947 . Hingga kini penyebab kecelakaan itu masih menjadi misteri. Irawan Soejono Irawan Soejono, putra bangsawan yang sejak muda mengenyam pendidikan di Belanda pada 1934. Ketika Jerman menginvasi Belanda, ayahnya tercatat sebagai pejabat menteri tanpa portofolio dalam kabinet Belanda di London, Inggris. Namun Irawan tetap memilih berada di negeri Tulip bersama para pelajar Indonesia lainnya guna menjadi partisan melawan Jerman. Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah mencatat bahwa Irawan ikut terlibat dalam gerakan perlawanan bawah tanah dengan menjadi salah satu direksi surat kabar bawah tanah, De Bevrijding , bersama para pelajar Perhimpunan Indonesia seperti Pamuntjak, Alex Ticoalu, Suripno, IA Mochtar, Rozai Kusumasubrata dan FKN Harahap. Surat kabar itu mendapat simpati dan bantuan dari kelompok bawah tanah lainnya. Dalam suatu insiden, Irawan tewas ditembak serdadu Jerman pada 13 Januari 1945. Perannya melawan Jerman diakui Kerajaan Belanda lewat pemerintah Kota Amsterdam. Namanya diabadikan jadi nama jalan, Irawan Soejonostraat. Tidak hanya Irawan, para pemuda dalam Perhimpunan Indonesia juga ikut terpanggil melawan Jerman. Soebadio Sastrosatomo dalam Perjuangan Revolusi menyebut beberapa di antara mereka tidak hanya bergerak di bawah tanah lewat tulisan, tapi juga angkat senjata. Mereka antara lain Anak Agung Made Djelantik, LN Palar, Sumitro, Zairin Zain, Jusuf Muda Dalam, Suripno, hingga Kusna Puradiredja. Mereka membentuk Barisan Mahasiswa Indonesia dan aktif melakukan sabotase, sampai menyelamatkan orang-orang Yahudi yang hendak dimusnahkan anak buah Hitler. Andi Abdul Azis Putra Bugis kelahiran 19 September 1924 ini sudah pergi ke Belanda sejak pertengahan 1930-an. Tamat dari Leger School pada 1938, Andi Azis bergabung dengan gerakan bawah tanah melawan Jerman. Berbeda dengan para pemuda dari Perhimpunan Indonesia, statusnya sebagai anggota Koninklijke Leger atau Tentara Kerajaan. Perlawanan militer Belanda hanya lima hari. Mereka menyerah setelah diserang Jerman dari arah Belgia dan Luksemburg pada 10 Mei 1940. Andi dan serdadu Belanda yang tak menyerah kabur ke Inggris. Dari Inggris ia bergerak ke India untuk mengikuti pelatihan komando dan lulus dengan pangkat sersan. Pada 19 Januari 1946, Andi pulang ke Indonesia dan memilih masuk KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dengan pangkat letnan. Andi kemudian menjadi ajudan Presiden Negara Indonesia Timur, Sukowati. Setelah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949, ia meleburkan diri ke Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat. Dalam sejarah Indonesia, Andi tercatat sebagai pemberontak lewat insiden pada 5 April 1950 di Makassar. Pemberontakan itu dipadamkan TNI dan Andi dibui 14 tahun penjara. Atas kebijakan pemerintah, masa tahanannya dipotong menjadi delapan tahun. Selain Andi, masih ada pemuda-pemuda Indonesia yang tergabung dalam tentara Kerajaan Belanda saat melawan Jerman. Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah mencatat tiga nama: Eduard Latuperisa, Mas Sumitro dan Victor Makatita. Victor tewas diterjang timah panas Polisi Vichy (negeri Prancis yang pro-Jerman) kala berusaha kabur ke Swiss pada 9 April 1942. Nasib tragis juga dialami Eduard Latuperisa. Eks KNIL yang ikut Orde Dienst itu dijatuhi hukuman mati pada 29 Juli 1943 di Leusderheide. Sementara Serma Mas Sumitro meninggal pada 26 Januari 1944 karena jatuh dari trem. Adolf Gustaaf Lembong Karier militer Adolf Gustaaf Lembong sangat unik. Berbeda dengan pemuda-pemuda Indonesia lainnya, Lembong pernah angkat senjata bukan hanya untuk Belanda dan Indonesia tapi juga negara tetangga: Filipina. Lahir di Ongkaw, Minahasa, 19 Oktober 1910, Lembong masuk KNIL. Masuknya Jepang ke Indonesia membuat Lembong dan serdadu KNIL di Manado dibawa ke kamp interniran di Filipina. Menurut Robert Lapham dan Bernard Norling dalam Lapham’s Raiders, Lembong dan beberapa kompatriotnya seperti Alex Rawung, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi dan William Tantang, berhasil kabur dari kamp tahanan di Pulau Luzon, Filipina. Mereka bergabung dengan Luzon Guerilla Armed Forces (LGAF). Memimpin Skadron 202, Lembong sukses menjarah gudang logistik Jepang pada 6 Januari 1945. Sehari setelahnya, dia melakukan penyergapan yang menewaskan 27 tentara Jepang. Dia dan kawan-kawan kembali ke Sulawesi Utara pada 22 Januari 1945. Awalnya Lembong kembali bergabung dengan militer Belanda. Karena Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 27 Juli 1947, Lembong membelot ke pihak republik. Lembong tewas oleh gerombolan Angkatan Perang Ratu Adil yang menyerang Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi (kini Museum Mandala Wangsit) di Bandung pada 23 Januari 1950. R. Sudirmo Bunder Tidak hanya Lembong atau kawan-kawannya eks-KNIL yang “terjebak” di tengah-tengah berkecamuknya Perang Pasifik. R. Sudirmo Bunder, mahasiswa kedokteran di California, Amerika Serikat (AS), juga salah satu veteran US Army (Angkatan Darat AS) yang disegani dan dihormati. Sebagaimana dituturkannya kepada penulis Hana Rambe dalam Terhempas Prahara ke Pasifik , Sudirmo mengungkapkan, dirinya yang tengah belajar kedokteran di St. Anthony College, California terkena program wajib militer pasca AS menyatakan perang terhadap Jepang akibat serangan di Pearl Harbor. Setelah menjalani beberapa bulan pelatihan militer, lelaki Jawa kelahiran 12 Februari 1920 itu, ditempatkan di Rainbow Division untuk dikirim ke front Pasifik. Sudirmo terlibat dalam pertempuran melawan tentara Jepang. Mulai dari Rabaul di Papua Nugini, Biak, Hollandia (kini Jayapura), Morotai, Saipan, Iwo Jima, Okinawa, hingga menjejakkan kaki di Tokyo, setelah Jepang menyerah pada Sekutu. Setelah perang usai, Sudirmo dinyatakan AS sebagai warga Belanda lantaran lahir di sebuah negeri koloni Hindia Belanda. Makanya, ketika pecah Perang Korea, Sudirmo eksis sebagai tentara Belanda di bawah panji pasukan perdamaian PBB. Usai perang Korea, Sudirmo pulang ke Indonesia dan bergabung dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).*
- 48 Senandung Ibu Pertiwi
Menjelang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Kementerian Sekretariat Negara kembali menghelat pameran akbar lukisan-lukisan koleksi Istana Kepresidenan pada 2-30 Agustus 2017. Semua lukisan tersebut dibawa dari Istana Negara dan Istana Merdeka Jakarta, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta, hingga Istana Tampaksiring di Bali. Tema pameran lukisan yang digelar di Galeri Nasional Indonesia di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, tahun ini mengangkat tajuk “Senandung Ibu Pertiwi”. Dari sekian lukisan koleksi istana, dipilih 48 karya besar dari 41 pelukis yang sebelumnya diseleksi sesuai kebutuhan tema pameran. “Semua tentang kekayaan alam, kebudayaan serta manusianya yang beraneka ragam,” ujar kurator pameran Mikke Susanto kepada Historia . Yang dipamerkan juga bukan sembarang karya. Pasalnya ada banyak cerita menarik di balik karya-karya lukisannya. Seperti lukisan “Harimau Minum” karya Raden Saleh Syarif Bustaman, hingga lukisan “Nyai Roro Kidul” karya Basoeki Abdullah. “Juga yang menarik itu lukisan ‘Pantai Flores’ karya Basoeki Abdullah. Lukisan salinan dari goresan Bung Karno sebelumnya yang menggambarkan keindahan Flores saat diasingkan,” kata Mikke. Satu hal lagi, dari 48 lukisan yang dipamerkan, ada satu yang tidak bisa di- display langsung. Yakni lukisan karya Konstantin Egorovick Makovsky. Lukisan aslinya terlampau besar untuk bisa dibawa masuk yakni berukuran 295x450 cm. Disebutkan oleh Mike, lukisan itu sebelumnya merupakan hadiah dari pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev dan sudah berusia sekira 120 tahun. “Itu karya Konstantin Makovsky yang bertajuk perkawinan adat Rusia. Lukisan tersebut asalnya dari Istana Bogor,” ujar Mikke.
- Mencegah Keluarga Brayut
Ki dan Nyi Brayut sepasang suami istri dalam cerita pewayangan yang memiliki banyak anak. Nyi Brayut menggendong anak-anaknya di belakang, sedangkan Ki Brayut memikul anak-anaknya. Wayang Brayut yang dipamerkan di Museum Wayang di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat, digunakan untuk kampanye program Keluarga Berencana (KB) di Yogyakarta. “Ini (Ki dan Nyi Brayut, red.) menggambarkan adanya keluarga besar. Brayut dari kata brayat , berarti keturunan. Orang zaman dulu berpikir setiap anak sudah ada yang mengatur rezekinya masing-masing. Beda dengan sekarang, sudah takut duluan tidak bisa menghidupi,” terang Sumardi, kepala satuan pelayanan Museum Wayang, kepada Historia . R. Bima S. Rahardja, dosen Sastra Nusantara Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa penggunaan wayang brayut untuk kampanye program KB bertujuan memberikan gambaran pada masyarakat akan repotnya memiliki banyak anak. “Wayang Brayut digunakan untuk menggambarkan kerepotan memiliki banyak anak. Nah, kemungkinan ini yang ditangkap Pak Harto pada saat itu untuk sosialisasi program KB. Dulu Pak Harto senang sekali dengan wayang,” jelas Bima kepada Historia . Menurut Bima, pemilihan wayang sebagai media kampanye karena pada tahun 1970-an belum banyak hiburan yang dapat dinikmati rakyat. Wayang merupakan hiburan yang paling digemari banyak orang. “Akses hiburan belum begitu banyak kecuali seni tradisional, salah satunya wayang. Wayang menjadi tontonan nomor satu di Jawa pada saat itu sehingga menjadi alat yang efektif untuk mensugesti masyarakat,” terang Bima. Wayang Brayut sudah muncul jauh sebelum program KB dicanangkan. Mulanya, wayang ini muncul di Surakarta pada masa Pakubuwana IV yang memerintah sejak 1788 hingga 1820. “Wayang Brayut kemungkinan sampai ke Yogyakarta pada masa Hamengkubuwono V (memerintah sejak 1823-1826 dan 1828-1855, red.). Kalau dilihat dari busana wayangnya, mereka adalah rakyat biasa. Selain tokoh Ki dan Nyi Brayut, ada pula gambaran anak-anak mereka , ” kata Bima. Menurut Sumardi, Ki dan Nyi Brayut bukan tokoh baku dalam cerita pewayangan. Tokoh-tokoh ini muncul sebagai sisipan dalam pertunjukan wayang. Mendukung pernyataan Sumardi, Bima memberikan gambaran mengenai kemunculan tokoh Brayut dalam cerita pewayangan. Dalam salah satu adegan di cerita Mahabharata, ketika pasukan kerajaan sedang berjalan, mereka melihat anak-anak Ki dan Nyi Brayut. Salah seorang anggota pasukan yang melihat kemudian merasa keheranan dengan jumlah anak yang sangat banyak. Dengan digunakannya wayang Brayut sebagai media kampanye, kemudian muncul cerita-cerita yang khusus untuk tujuan sosialisasi KB. “Wayang Brayut merupakan wayang suluh, yakni wayang sebagai media penerangan kepada masyarakat. Wayang itu media dakwah yang sangat luwes. Sehingga digunakan sebagai sarana penyuluhan tentang KB di era Soeharto,” tutup Sumardi.
- Razia Celana Jengki Pakai Botol Bir
Pada suatu hari di Jakarta tahun 1960-an, terlihat keramaian di depan gedung bioskop. Rupanya, polisi sedang melakukan razia celana jengki. Polisi hanya bermodal gunting dan botol bir. Satu per satu anak muda bercelana jengki diperiksa. Kaki diangkat, leher botol dimasukkan pada ujung celana di pergelangan kaki. Bila leher botol bir gagal masuk, siap-siap saja berhadapan dengan gunting. “Celana jengki yang terbukti tidak bisa dimasuki botol langsung digunting melintang di lutut atau paha," kata Achmad Sunjayadi, sejarawan Universitas Indonesia. Korban razia tentu saja hanya bisa pasrah dan pulang menanggung malu. Celana jengki kesayangan sudah berubah serupa kolor. Menurut Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an, razia tidak hanya dilakukan di bioskop, tetapi juga di jalanan. Guru-guru di sekolah pun turut melakukan penertiban. Razia di Jakarta dinamai Operasi Hapus dan dilakukan oleh Angkatan Kepolisian VII/Jaya dan Corps Polisi Militer (CPM). Selain di Jakarta, razia juga dilakukan di kota-kota lain. Tidak hanya celana jengki, blue jeans pun dirazia. Bahkan tidak perlu mengukur dengan botol, langsung digunting. Celana jengki merupakan celana ketat yang populer di era 1960-an. Jengki berasal dari kata yankee yang berarti “orang Amerika.” Kepopuleran celana jengki dibawa oleh grup musik The Beatles. Grup musik asal Inggris ini digandrungi oleh anak-anak muda di berbagai kota di Indonesia. Maka, tak heran bila mereka meniru gaya berpakaian The Beatles. Achmad menjelaskan bahwa pelarangan celana jengki berbarengan dengan pelarangan musik rock and roll , gaya rambut ala The Beatles, dan dansa-dansi. “Ini berkaitan dengan kebijakan Sukarno. Pada pidatonya tentang Manipol-Usdek tanggal 17 Agustus 1959, Sukarno mengecam musik rock and roll , dansa-dansi, dan musik ngak ngik ngok,” kata Achmad. Manipol-Usdek merupakan singkatan dari Manifestasi Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. Dalam tulisannya, “Ngak Ngik Ngok” di Jurnalisme Sastrawi, Budi Setiyono mencatat bahwa pemerintah kemudian mengeluarkan Penetapan Presiden No. 11/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi. Peraturan ini digunakan untuk melarang musik ngak ngik ngok beserta gaya berpakaiannya. Populernya The Beatles ditentang pemerintah karena di saat yang bersamaan pemerintah sedang berupaya memajukan kebudayaan nasional. Upaya tersebut didukung oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada sidang pleno Lekra tanggal 23-26 Februari 1964 dibahas mengenai upaya menangkis “kebudayaan imperialisme Amerika Serikat” juga usaha untuk membangun kebudayaan nasional.
- Gerak Laju Sejarah Roda
Kebutuhan akan moda transportasi dan pengangkutan yang lebih efisien membawa manusia pada penciptaan roda.
- 350 Tahun Pertukaran Pulau Run dengan Manhattan
HARI ini, 31 Juli 2017, tepat 350 tahun Treaty of Breda, yaitu perjanjian antara Inggris dan Belanda di Kastil Breda pasca Perang Anglo Dutch II (Perang Inggris-Belanda II) pada 1665-1667. Dalam perjanjian damai ini, Inggris menukarkan Pulau Run di Kepulauan Banda yang kaya akan pala dan cengkeh dengan Pulau Nieuw Amsterdam, kelak dikenal dengan Pulau Manhattan, yang diduduki Belanda. Pusatnya sekarang menjadi New York City, pusat keuangan dan perdagangan dunia dan dijuluki The Big Apple. “Kekalahan Inggris dalam perang itu menghadirkan tekanan tersendiri dalam negosiasi di Breda. Mereka sebelumnya ingin lebih menukar perkebunan gula di Suriname. Namun pada akhirnya, Pulau Run yang ditukar dengan Manhattan (Nieuw Nederland) beserta Nieuw Amsterdam-nya (kini Kota New York),” ujar sejarawan Wim Manuhuttu dalam seminar “Banda : Heritage of Indonesia” di Erasmus Huis, Jakarta Selatan, Senin (31/7/2017). Peringatan 3,5 abad Treaty of Breda tidak hanya di Tanah Air, tapi juga di New York. Konsulat Jenderal Republik Indonesia New York menggelar acara pameran untuk promosi film, kopi, hingga pariwisata Banda dengan tajuk “Indonesia sebagai Kepulauan Penghasil Rempah-Rempah Dunia” yang rangkaian acaranya dimulai dari April hingga Agustus 2017. Sejarawan Bonnie Triyana mengatakan bahwa bicara Banda berarti juga bicara kolonialisme. “Kita tidak mengenang kolonialisme. Tapi lebih kepada adanya Treaty of Breda yang punya kaitan lebih global dalam hal kolonialisme,” ujar Bonnie. Dalam sejarah Indonesia, Kepulauan Banda punya arti tersendiri sebagai tempat pembuangan para tokoh bangsa oleh pemerintah kolonial Belanda. “Banda dalam sejarah Indonesia jadi tempat pembuangan para bapak negara. Seperti Hatta, Sjahrir, Iwa Kusuma dll. Sementara Run tak bisa dibandingkan dengan Manhattan kecuali kita punya imaginative connection. Setiap kali kita hubungkan, seperti kita membayangkan perjalanan dengan economy class dan first class ,” kata penulis Ayu Utami. Pendapat berbeda dikemukakan Tanya Alwi, aktivis konservasi bahari asal Banda. Menurutnya, meski sekarang Manhattan dengan New York-nya jadi pusat finansial dunia, bukan berarti Kepulauan Banda tak memiliki apapun selain komoditas pala. “Mungkin sekarang New York boleh jadi sentra finansial dunia. Tapi sekarang Banda adalah centre of marine biodiversity (sentra keanekaragaman hayati laut). Sebenarnya momen ini momen yang spesial. Banda punya heritage (warisan) yang indah, punya keanekaragaman hayati yang indah dan aset ini yang harus kita jaga agar tetap utuh,” kata Tanya Alwi. Sepakat dengan Tanya Alwi, Wim Manuhuttu berharap segenap elemen bangsa juga bisa mengambil manfaat dari momentum 350 tahun Treaty of Breda dan kaitannya dengan Banda. Momentum agar tidak hanya mempromosikan wisata bahari, tapi juga warisan-warisan sejarahnya. “Sekarang masih banyak tempat-tempat bersejarah yang jadi warisan penting di Run. Begitu juga di Banda. Di Banda saja, masih ada sekitar 15 benteng sisa-sisa masa kolonial yang menujukkan betapa pentingnya Banda. Penting untuk menopang ketertarikan dunia pada Banda karena keunikan sejarahnya ini, agar bisa dinikmati para wisatawan. Tidak hanya wisata bahari, tapi juga heritage -nya,” tandas Wim.
- Ang Tiauw Bie, Pengusaha Tionghoa Penyelundup Senjata
Pengusaha Tionghoa ini menyelundupkan senjata dari Singapura untuk Tentara Nasional Indonesia. Sukarno memberinya nama Anggakusuma.
- Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis
Setiap tanggal 29 Juli diperingati Hari Bhakti TNI AU. Selain memperingati serangan udara pertama TNI AU ke Ambarawa dan Salatiga pada 29 Juli 1947, juga untuk mengenang meninggalnya tiga perwira perintis TNI AU. Hari Bhakti TNI AU tahun ini diperingati dengan napak tilas hingga ziarah KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto di Monumen Ngoto, Bantul, Yogyakarta, serta upacara militer di Lapangan Dirgantara Akademi Angkatan Udara. Dalam catatan sejarah, TNI AU dibangun oleh KSAU pertama Komodor Udara Suryadi Suryadharma. Dia merekrut sejumlah perwira alumnus ML KNIL (Militaire Luchtvaart Koninklijke Nederlandsch Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda Angkatan Udara). Sayangnya, beberapa dari mereka tutup usia. Berikut ini enam printis TNI AU yang meninggal secara tragis. Husein Sastranegara Opsir Udara I Husein Sastranegara lahir di Cianjur, 20 Januari 1919. Dia mengikuti pendidikan ML KNIL dan lulus dengan ijazah Kleine Militair Brevet atau Brevet Penerbang Tingkat Pertama dalam pendidikan Aspirant Officier Kortverband Leerling Vlieger. Husein salah satu penerbang terbaik pada awal perkembangan TNI AU di masa revolusi. Nahas, dia meninggal saat berlatih bersama Sersan Mayor Rukidi. Pesawat Ki-55 Cukiu yang diterbangkannya jatuh di Gowongan Lor, Yogyakarta pada 26 September 1946, karena mesin pesawat macet. Buku Sedjarah Pertumbuhan AURI mencatat, sedianya setelah latihan, Husein dijadwalkan mengantar Perdana Menteri Sutan Sjahrir dari Pangkalan Udara Maguwo ke Malang, Jawa Timur. Sjahrir tetap terbang ke Malang dengan pilot pengganti, Kadet Wim Prayitno, menggunakan pesawat Yokosuka K5Y Cureng. Pada 1952, namanya diabadikan jadi Bandara Husein Sastranegara di Bandung menggantikan Pangkalan Udara Andir. Abdulrachman Saleh Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh satu dari tiga perintis TNI AU yang meninggal dalam kecelakaan pesawat Dakota VT-CLA di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta pada 29 Juli 1947. Pesawat milik Kalinga Airlines itu mengangkut obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya. Pesawatnya pun memakai tanda Palang Merah. Pesawat itu bertolak dari India dan transit di Singapura. Ketika hendak mendarat di Maguwo, dua pesawat pemburu P-40 Kitty Hawk Belanda menembak jatuh pesawat itu. Dari sembilan awak dan penumpang, hanya seorang yang selamat, yaitu Abdul Gani Handonotjokro dari GKBI Tegal yang duduk di ekor pesawat. Pesawat P-40 Kitty Hawk juga melancarkan serangan balasan ke Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, setelah dini hari sebelumnya tangsi-tangsi Belanda di Semarang, Ambarawa dan Salatiga dihantam serangan udara. Abdulrachman Saleh lahir pada 1 Juli 1909. Setelah mengenyam pendidikan Sekolah Tinggi Kedokteran Bumiputra (Stovia), dia mengalihkan ketertarikannya pada radio dengan memimpin perkumpulan pemuda radio (VORO). Pada 1946, setelah bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Oedara (TRI Oedara, cikal-bakal TNI AU), Abdulrachman Saleh yang dijuluki Karbol diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Maospati, Madiun. Ketika tewas dalam tragedi Dakota VT-CLA, dia merangkap jabatan Danlanud Bugis Malang dan Deputi II KSAU. Jenazah Abdulrachman Saleh dimakamkan di pemakaman Kuncen. Pada 14 Juli 2000, dipindahkan ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bantul. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta jadi marsekal muda dan diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1974. Pendiri Sekolah Teknik Udara dan Radio Udara di Malang itu juga diabadikan jadi nama bandara di Malang menggantikan Lanud Bugis. Agustinus Adisucipto Bersama Abdulrahman Saleh, Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto turut jadi korban jatuhnya Dakota VT-CLA. Lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada 3 Juli 1916, Adisucipto mengenyam pendidikan ML KNIL di Kalijati seperti Suryadi Suryadharma dan Husein Sastranegara. Biografi Suryadi Suryadharma, Bapak Angkatan Udara , menyebut bahwa Adisucipto lulus dengan ijazah Groet Militair Brevet atau Brevet Penerbang Tingkat Atas. Di masa revolusi, Adisucipto jadi salah satu figur kepercayaan Suryadi Suryadharma. Kala TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Djawatan Oedara diresmikan Presiden Sukarno pada 9 April 1946, Adisucipto diangkat jadi Wakil KSAU II dengan pangkat komodor muda udara. Dia mendirikan Sekolah Penerbang Darurat di Maguwo, Yogyakarta. Awalnya, jasad Adisucipto dimakamkan di Kuncen, kemudian dipindahkan ke Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta. Pangkatnya dinaikan menjadi marsekal muda udara serta diangkat jadi Pahlawan Nasional pada 1974. Namanya diabadikan jadi Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta menggantikan Bandara Maguwo. Adisumarmo Wiryokusumo Satu lagi tokoh perintis TNI AU yang meninggal dalam tragedi Dakota VT-CLA adalah Opsir Muda Udara II Adisumarmo Wiryokusumo. Disebutkan dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 , Adisumarmo diketahui sudah meninggal sebelum pesawat menghantam tanah. Hasil pemeriksaan jenazahnya mendapati sejumlah lubang bekas peluru senapan mesin di punggung dan perut. Adisumarmo merupakan perintis Sekolah Radio Telegrafis Udara. Dalam pesawat nahas Dakota VT-CLA, dia bertugas sebagai operator radio selama penerbangan dari Yogyakarta-India-Singapura-Yogyakarta. Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1921, Adisumarmo dikebumikan di Semaki. Selain diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1974, namanya diabadikan sebagai Bandara Internasional Adisumarmo, Boyolali, menggantikan Bandara Panasan. Abdul Halim Perdanakusuma Komodor Halim Perdanakusuma bisa dibilang merupakan perintis TNI AU yang paling berpengalaman dalam kancah pertempuran. Keluarga besar TNI AU berduka ketika mendengar kabar Halim dan Iswahyudi mengalami kecelakaan pesawat pada 14 Desember 1947. Halim yang sebelumnya menjabat Wakil KSAU II tewas setelah pesawat Avro Anson yang diawakinya bersama Iswahyudi jatuh di Perak, Malaya (kini Malaysia). Mereka tengah dalam perjalanan pulang dari Penang menuju Lanud Gadut, Bukittinggi via Singapura. Misteri penyebab kecelakaannya masih menimbulkan tanda tanya besar. Jasad Halim sempat dikuburkan di Perak, kemudian dibawa pulang ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Lahir di Sampang, Madura, Halim mengenyam sekolah pamong praja di Magelang, Jawa Tengah. Tidak lama kemudian, dia ikut wajib militer di Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Hindia Belanda sebagai operator torpedo di kapal perang Belanda. Perang Dunia II di front Pasifik nyaris merenggut nyawanya. Dalam pertempuran laut dekat Cilacap, Halim selamat setelah terombang-ambing di lautan. Kariernya melejit setelah mengikuti pendidikan militer RCAF (AU Kanada), kemudian RAF (AU Inggris). Lulus dari pendidikan militer tersebut, Halim yang berpangkat kapten ikut puluhan misi RAF di Perang Dunia II front Eropa. Dia menjadi navigator di pesawat-pesawat pembom Sekutu seperti Avro Lancaster dan B-24 Liberator. Menurut Sedjarah Pertumbuhan AURI , selepas pulang ke Indonesia pasca Republik lahir, Halim diangkat Suryadi Suryadharma sebagai Perwira Operasi. Halim diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1975. Namanya juga diabadikan menjadi Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan kapal perang kelas fregat yaitu KRI Abdul Halim Perdanakusuma. Iswahyudi Marsekal Muda (Anumerta) Iswahyudi lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 15 Juli 1918. Jebolan ML KNIL itu lulus dari pendidikan Aspirant Onder Officier Kortverband Vlieger. Bersama Adisucipto, Abdulrachman Saleh, dan Husein Sastranegara merupakan perintis TNI AU. Pada 1947, dia diangkat menjadi komandan Lanud Maospati, Madiun, kemudian komandan Lanud Gadut, Bukittinggi. Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma meninggal dalam kecelakaan pesawat Avro Anson di Perak, Malaya (kini Malaysia) pada 14 Desember 1947. Dalam misi membeli pesawat itu ke Thailand, dia bertindak sebagai pilot dan Halim sebagai navigator. Jenazah Iswahyudi tidak ditemukan. Iswahyudi diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1975. Namanya diabadikan untuk bandara di Madiun menggantikan Lanud Maospati.





















