Hasil pencarian
Cari di situs ini
10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Awal Mula Cetak Biru Pembangunan DKI Jakarta
JAC P. Thijsse, lelaki Belanda bersetelan jas lengkap dan topi fedora, saban minggu pergi-pulang Jakarta-Bandung menggunakan pesawat Dakota. Dia bekerja di Biro Perantjang Pusat Departemen Pekerdjaan Umum, Jakarta. Tugasnya membuat blueprints (cetak biru) pengembangan kota-kota di Indonesia Timur. Kebanyakan kota di Indonesia timur rusak akibat Perang Kemerdekaan. Untuk memperbaikinya, pemerintah meminta cetak biru buatan ahli perencana kota yang jumlahnya masih hitungan jari. Cetak biru kota mengandung pembagian wilayah kota berdasarkan peruntukannya (zonasi). Entah itu untuk permukiman, perdagangan, industri, transportasi, pemerintahan, pendidikan, ataupun fasilitas umum. Termaktub pula di dalamnya perkiraan pertumbuhan jumlah penduduk dan rencana pembiayaan untuk mengembangkan wilayah kota.
- Berburu Kesenangan di Pagelaran Rakyat Jakarta
SORE itu Jakarta Internasional Expo (JIEXPO) di Kemayoran terlihat diserbu oleh ribuan orang. Mereka silih berganti berdatangan. Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2019, perayaan tahunan di ibu kota RI tersebut, adalah salah satu tujuan. Farizi Fatwa (24), adalah salah seorang dari pengunjung . Antrian yang mengular di pintu masuk tidak menajadi soal baginya untuk ikut larut menikmati JFK 2019 ini. “Seumur hidup saya belum pernah mengunjungi PRJ. Karena promosi besar-besaran di media massa dan pemerintah akhirnya saya tertarik untuk datang ke sini,” ucap Farizi kepada Historia. Terlahir dari ide Ali Sadikin (salah satu gubernur DKI Jaya yang terkemuka), Jakarta Fair menjadi pagelaran tahunan masyarakat ibu kota. Digelar pertama kali pada Juni 1968, festival rakyat ini diberi nama ‘Djakarta Fair’. Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin, ingin menghidupkan kembali pasar malam yang pernah digelar masa Belanda di Jakarta (sebutannya masih Batavia kala itu).
- Investasi Bir Pemprov DKI Jakarta
RAPAT Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Delta Djakarta, perusahaan minuman beralkohol, menetapkan pembagian dividen (laba untuk pemegang saham) sebesar Rp387,72 miliar pada 19 Juli 2019 mendatang. Tiap pemegang saham akan menerima dividen sesuai besaran persentase kepemilikan saham di PT. Delta Djakarta. Kepemilikan saham terbesar PT Delta Djakarta berada di perusahaan San Miguel Corporation Pte. sebanyak 58,33 persen. Selanjutnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memegang saham sebanyak 26,25 persen. Sisa saham 15,42 persen adalah milik publik. Rilis pembagian dividen tersebut mengingatkan kembali rencana penjualan seluruh saham milik Pemprov DKI Jakarta di PT Delta Djakarta tahun lalu. Ternyata hingga hari ini Pemprov tak kunjung menjual sahamnya.
- Jakarta Fair dalam Memori
JAKARTA Fair Kemayoran (JFK) 2019 memasuki pekan terakhirnya. Sejak dibuka tanggal 22 Mei 2019, pesta tahunan ini telah menarik jutaan pengunjung. Mereka datang untuk meramaikan setiap acara yang disajikan panitia penyelenggara. Antusiasme yang tinggi dari masyarakat, terutama pada akhir pekan, membuat area Jakarta Internasional Expo (JIEXPO) terasa begitu kecil. Padahal kawasan itu berdiri di tanah seluas 40 hektar. Salah satu daya tarik di JFK 2019 ini adalah diskon besar-besaran pada hampir seluruh produk yang dipamerkan perusahaan-perusahaan di sana. Selain tentu saja karena suasana yang nyaman untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. “Jakarta Fair memposisikan diri sebagai the biggest consumer show. Artinya, masyarakat bisa datang ke sini, bisa menikmati, dan bisa belanja. Sekaligus perusahaan pun bisa melakukan promosi di sini.” ucap Ralph Scheunemann selaku Marekting Director JFK 2019 kepada Historia.
- Gagasan Perluasan Wilayah Jakarta
WALI Kota Bogor Bima Arya melontarkan wacana memisahkan diri dari Jawa Barat dengan membentuk Provinsi Bogor Raya. Tim khusus yang dibentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor tengah melakukan kajian yang direncanakan rampung akhir tahun ini. Menurut Bima, sebagaimana dikutip detik.com, setelah kajian itu selesai akan disampaikan kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil –yang meminta hentikan wacana Provinsi Bogor Raya. Dalam kajian itu, Bima menyebut ada tiga opsi, yaitu perluasan wilayah, pembentukan Provinsi Bogor Raya, dan memaksimalkan koordinasi antarwilayah. Namun, Bima mengaku mendengar Bupati Bogor Ade Yasin lebih setuju dengan pembentukan Provinsi Bogor Raya. Menanggapi hal itu, Walikota Bekasi Rahmat Effendi memilih menjadi bagian dari Jakarta. Bekasi menjadi Jakarta Tenggara. Apalagi menurutnya, Jakarta pernah menawarkan agar Bekasi menjadi bagian dari wilayahnya. Begitu pula dengan Wali Kota Depok M. Idris Abdul Somad yang cenderung memilih bergabung ke Jakarta daripada Provinsi Bogor Raya. Keinginan Bekasi dan Depok menjadi bagian dari Jakarta seakan menghidupkan kembali gagasan perluasan wilayah Jakarta yang diupayakan Gubernur Mayjen TNI (KKO) Ali Sadikin (menjabat 1966-1977).
- Ketika None Jakarta Bercerita
SEJUMLAH mantan None (Nona) Jakarta lintas zaman berkumpul. Mereka menuturkan kisahnya masing-masing ihwal mula mengikuti ajang “Abang None” Jakarta. Berbagai memori digali kembali dalam suasana saling cengkrama. Ada haru, lucu, bangga, dan jenaka yang tersua pada tiap tuturan mereka. “Menjadi None Jakarta pasti akan mengubah hidup semua orang, tidak terkecuali saya. Pengalaman yang begitu luas membuka banyak pintu dalam kehidupan saya,” kenang Lula Kamal, None Jakarta 1990 dalam acara peluncuran buku Cerita, Cinta, dan Cita-cita: Kumpulan Kisah None Jakarta (1981-2016) di auditorium Perpustakaan Nasional, 30 Oktober 2019. None adalah bagian dari kontes “Abang None Jakarta” yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 1968 era kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin. Para Abang dan None dibina dan ditempa sebagai duta ibu kota. Setelah terpilih, mereka akan bertugas mendampingi gubernur dalam acara resmi, termasuk membantu sosialisasi program pemerintah daerah. Selain itu, Abang dan None juga menjadi ikon dalam mempromosikan Jakarta di dalam maupun luar negeri.
- Umbu Landu Paranggi dan Yori Antar Raih Penghargaan Akademi Jakarta 2019
PENYAIR Umbu Landu Paranggi dan arsitek Yori Antar meraih Penghargaan Akademi Jakarta 2019 atas "pencapaian sepanjang hayat" di bidang humaniora. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Ketua Akademi Jakarta Taufik Abdullah di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 16 Desember 2019. Penghargaan Akademi Jakarta awalnya bernama Hadiah Seni. Pertama kali diberikan kepada penyair dan dramawan WS Rendra pada 22 Agustus 1975. Kemudian pada 1978 Hadiah Seni diberikan kepada pelukis Zaini. Setelah itu, Hadiah Seni absen selama 25 tahun. Pada 11 Maret 2003 Akademi Jakarta kembali memberikan Hadiah Seni kepada perupa Gregorius Sidharta. Tahun berikutnya Hadiah Seni diberikan kepada koreografer Gusmiati Suid dan pemusik Nano S. Pada 10 November 2005, Hadiah Seni berubah menjadi Penghargaan Akademi Jakarta yang diberikan kepada koreografer Retno Maruti. Sejak itu, berturut-turut Penghargaan Akademi Jakarta diberikan kepada para insan seni yang dipilih oleh dewan juri.
- Saat Jakarta Dikepung Banjir
WARGA Jakarta memasuki tahun baru 2020. Tapi bertemu lagi dengan masalah klasik: banjir. Jakarta dan air ibarat musuh bebuyutan. Tak pernah sampai pada titik temu, tak pernah ada solusi. Gubernur silih berganti, tapi kota ini tetap takluk oleh air. Banjir Jakarta telah menggenangi catatan sejarah berabad lamanya. Jauh hari sebelum dihuni manusia, Jakarta merupakan dataran rendah. Sebagian daerahnya bahkan lebih rendah daripada permukaan laut. Dengan demikian, banjir di Jakarta sebelum berpenghuni merupakan peristiwa lumrah. Tak ada yang dirugikan. Tapi begitu manusia menghuni wilayah ini, lain ceritanya.
- Banjir Jakarta 1960-an
BANJIR besar melanda beberapa wilayah Jakarta pada Januari dan Februari 2020. Puluhan ribu orang terdampak dan harus mengungsi. Kerugian materi mencapai hampir Rp1 triliun. Bibit penyakit mengancam di wilayah terdampak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memberitahu bahwa potensi hujan lebat di Jakarta berlanjut sampai Maret 2020. Banjir Jakarta adalah sejarah berulang. Pada bulan-bulan pembuka tahun, banjir kerap menerjang. Tengoklah sejenak ke awal 1960-an. Ketika itu Soemarno Sosroatmodjo baru saja usai ucapkan sumpah jabatan. Dia menjadi gubernur baru Jakarta pada siang 9 Februari 1960. Kemudian hujan deras turun pada malam hari. Selama beberapa hari, hujan tak kunjung reda. Sungai Angke dan Grogol tak mampu lagi menampung hujan. Air memasuki dan meninggi di sejumlah permukiman jelata dan warga berada. Soemarno memperoleh ujian pertamanya sebagai gubernur, yaitu menghadapi banjir. “Rasanya seperti diplonco,” kata Soemarno dalam Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya.
- Jakarta Mencegah Corona
BERITA mengejutkan meluncur dari Presiden Joko Widodo hari Senin, 2 Maret 2020. Ditemani Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Jokowi mengumumkan bahwa dua warga negara Indonesia positif terkena Corona. Jokowi mengungkapkan bahwa dua orang tersebut tertular oleh warga Jepang. Sontak berita tersebut membuat kepanikan, tak terkecuali di Jakarta. Dua pasien Korona itu sehari-hari berdomisili di Depok, Jawa Barat. Jarak Depok ke Jakarta dekat. Bahkan selang beberapa hari pemerintah kembali mengumumkan bahwa bertambah dua orang lagi warga Indonesia yang positif virus tersebut. Banyak pekerja di Jakarta berasal dari Depok. Keadaan kian gaduh. Orang-orang memborong barang kebutuhan pokok. Panic buying. Padahal itu tidak perlu. Sejarah wabah flu mematikan sebenarnya cukup lekat dengan Indonesia. Jauh sebelum Corona, Flu Spanyol juga pernah masuk ke Indonesia. Flu Spanyol merupakan wabah flu yang memiliki dampak luas dari segi sebaran dan korbannya.
- Saat Jakarta Sunyi Karena Pendemi
DALAM catatan sejarah, negeri ini tak sekali ini menerima pandemi. Tahun 1918, Indonesia (dulu Hindia Belanda) dilanda oleh flu Spanyol yang menyebabkan kematian hingga 1,5 juta jiwa. Tahun sebelumnya, wabah penyakit pes sudah lebih dulu meluluhlantakkan mengganas di seantero Jawa.
- Kondisi Kesehatan Jakarta di Awal Kemerdekaan
BAGI Annie Senduk, kepala perawat di asrama kedokteran Jalan Kramat Raya 72 Jakarta, dan para tenaga kesehatan lain, mengatur jalannya layanan kesehatan di tengah krisis perang merupakan tantangan sulit. Selain harus berjibaku melawan penyakit tinggalan Jepang yang diderita rakyat, mereka juga harus siap membantu para pejuang di medan perang. Pada akhir kekuasaan Jepang, disentri merupakan satu dari beberapa penyakit paling banyak menyerang penduduk kota Jakarta. Ia menginfeksi 2.156 orang dengan rata-rata 150-600 orang di antaranya meninggal dunia. Menurut laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Jakarta, banyaknya warga yang terjangkit disebabkan oleh kurangnya bahan makan dan buruknya kebersihan lingkungan. Selama pendudukan Jepang, Bagian Penyakit Rakyat di DKK memiliki total 204.353 pasien. Sebanyak 42.506 di antaranya penderita malaria. Frambosia juga banyak diderita penduduk di kampung-kampung, dengan 26.508 pasien terdaftar. Sementara penyakit Honger Oedeem (busung lapar) dilarang dicatat oleh penguasa meski sebenarnya banyak ditemukan.





















