Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pejuang yang Terlupakan
RM Djajeng Pratomo di usia tua (kiri) dan mengenakan kostum tari Jawa (kanan). (Aboeprijadi Santoso/Historia.ID). RADEN Mas Djajeng Pratomo genap seabad pada 22 Februari 2014. Hidup mandiri di apartemen di desa ‘t Zand di ujung utara Belanda, Djajeng lama tersisih dari perhatian media di Belanda maupun Indonesia. Dia lahir di Bagan Siapi-api, kota pasar ikan di pantai timur Sumatra, putra sulung Dr. Djajengpratomo dari Pakualaman Yogyakarta. Ayahnya, Djajengpratomo, mengenyam sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi kaum ningrat, STOVIA, di Batavia. Dia salah satu alumnus pertamanya. Asal-usulnya yang memberinya privilese pendidikan itulah yang justru membuat dirinya insyaf akan status diri dan patrianya sebagai bagian dari sistem negeri jajahan. Ini melahirkan aspirasi kebangsaan dan mendorongnya ikut gerakan nasionalis pimpinan Dr. Soetomo. Djajengpratomo mempelopori pelayanan kesehatan di klinik di Bagan Siapi-api. Berkat perannya –dia mahir berbahasa Tionghoa untuk melayani mayoritas penduduk yang asal Tionghoa– namanya diabadikan pada rumahsakit lokal: RSUD Dr. Pratomo. Djajeng Pratomo –semula namanya Amirool Koesno, kemudian digantinya dengan nama ayahnya– bernasib hampir serupa. Seperti ayahnya, privilese yang memungkinkannya masuk sekolah menengah Koning Willem II School di Batavia membuat dirinya sadar sebagai anak jajahan. Menyusul adiknya, Gondho Pratomo, Djajeng pada 1935 bertolak ke Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran di Leiden. Justru di Belanda Djajeng menemukan budaya aslinya. Dia menggemari, mempelajari, dan mementaskan tari Jawa melalui kelompok seni tari De Insulinde. Tahun 1930-an adalah tahun krisis. Naziisme-Hitler berkuasa di Jerman dan mengguncang Eropa. Djajeng menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah klub sosial mahasiswa Indonesia di Belanda yang didirikan pada 1922 dan kemudian berkembang jadi organ politik kebangsaan yang gigih melawan kekuatan fasis. Nama Djajeng tak terpisahkan dari Stijntje ‘Stennie’ Gret, gadis Schiedam yang dijumpainya di sebuah toko buku pada 1937. Stennie meminati perkembangan di Hindia dan tertarik pada seni tari Jawa. Bersama Djajeng, yang kemudian jadi suaminya, keduanya menjadi mitra di bidang budaya sekaligus sekutu politik. Dasawarsa 1930-an merupakan hari-hari bahagia mereka. Dua sejoli ini sering menikmati pergelaran jazz di teater prestisius Pschorr di Coolsingel, Rotterdam, dan De Insulinde mementaskan tarian Jawa oleh Djajeng di Koloniaal Instituut van de Tropen di Amsterdam. Di mana ada Djajeng, di situ ada Stennie. Juga ketika De Insulinde mementaskan tari di London untuk menghimpun dana guna membantu Tiongkok yang kala itu diduduki tentara Jepang. Tahun 1940-an menjadi masa bergolak yang penuh tragik. Di bawah pendudukan Nazi, PI jadi ilegal. Polisi Jerman memburu para aktivisnya. Pada 1943 Djajeng dan Stennie ditahan di kamp Vught. Tahun berikutnya mereka dikirim ke kamp maut Nazi di Ravenbruck dan Dachau di Jerman. “Di Dachau,” Djajeng berkisah, “saya melihat tumpukan mayat setiap hari.” Sebagai tenaga kerja paksa untuk pabrik pesawat terbang Messerschmitt, setiap hari dia menyaksikan orang digantung mati. Jika ada peluang, Djajeng mencoba menyelamatkan tawanan, tutur salah seorang yang diselamatkannya. Sementara di kamp Ravenbruck, Stennie mencat-hitam rambut para tawanan perempuan agar tampak muda ketika penguasa kamp memerintahkan untuk membinasakan para tawanan jompo. Selamat dari derita kamp, Djajeng dan Stennie dibebaskan tentara Sekutu namun baru bertemu kembali pada September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka lalu menikah sebagai warga negara Indonesia pada Februari 1946 dan melanjutkan pekerjaan politik untuk membela kemerdekaan Indonesia. Ketika Belanda melancarkan agresi militer I pada Juli 1947, PI menggelar protes massal di Concertgebouw, Amsterdam. Kampanye membela kemerdekaan Indonesia membawa mereka ke Eropa Timur. Di Praha, Djajeng dan kawan-kawannya turun ke jalan dan dengan bangga mengibarkan bendera Merah-Putih ketika dia memimpin delegasi Indonesia di World Federation of Democratic Youth. Kampanye itu bahkan berlanjut sampai Serajewo dan kota kota lain di Yugoslavia. Kembali ke Belanda, mereka bergerak di bawah tanah selagi pecah perang kemerdekaan di Indonesia. Djajeng dan Stennie dua kali berencana pulang ke Indonesia, namun membatalkannya. Kali pertama karena agresi militer I dan kali kedua karena terjadi pembantaian 1965-1966. Lalu, dengan alasan pragmatis, mereka beralih ke kewarganegaraan Belanda pada 1975. Akhirnya, setelah kurun enam dasawarsa, Djajeng dan Stennie sempat menginjakkan kaki di Indonesia. Kembali di Belanda, Djajeng tetap aktif politik di front internasional, dan baru berhenti ketika Stennie jatuh sakit dan meninggal pada 2010. Djajeng, Stennie, dan kamerad-kameradnya tergolong generasi yang meyakini bahwa sejarah selalu bergerak maju. Dengan begitu mereka merumuskan idealisme dan kekuatan politiknya berdasarkan solidaritas internasional. Kini mereka hidup di dunia yang telah berubah radikal. Namun perubahan itu tidaklah seperti yang mereka bayangkan dan proyeksikan. Meski begitu, Djajeng tak merasa kecewa. Dia masih mencintai Indonesia, dengan seni tari, musik gamelan, serta kulinernya. Djajeng kini tak mampu lagi berbahasa Indonesia. Namun, dengan semangat internasionalnya, idealisme kepatriotan dan aksi-aksi perjuangannya, Djajeng Pratomo adalah salah satu patriot istimewa Indonesia.* *) Dengan terima kasih atas perantaraan Ny. Marjati Pratomo.
- Memata-matai Istana dan PKI
Jusuf Wanandi bersama Presiden Soeharto dan Liem Sioe Liong pada acara pertemuan dengan tokoh-tokoh pengusaha nasional di Tapos, Bogor, 1986. (Sekretariat Negara). JUSUF Wanandi membuka rahasia. Menjelang keruntuhan Sukarno, dia mengumpulkan informasi dari dalam Istana untuk mencari tahu siapa orang yang punya pengaruh kuat terhadap Sukarno. Dia dan kawan-kawan aktivis Katolik juga punya mata-mata di dalam lingkaran kelompok komunis. Pengakuan Jusuf Wanandi tersebut tertuang dalam memoarnya, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998 , yang diluncurkan di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta, 20 Februari lalu. Edisi bahasa Inggrisnya, Shades of Grey , sudah terbit pada 2012 di Singapura. “Banyak kisah dalam buku ini yang orang lain belum tentu mau mengisahkannya,” ujar sejarawan Anhar Gonggong, pembedah buku itu. Sementara Salim Said, mantan wartawan suratkabar Angkatan Bersenjata , mengatakan, “Buku ini menjadi menarik karena penulisnya, Jusuf Wanandi, terlibat langsung dalam bagian-bagian penting perpolitikan masa itu. Jarang ada buku serupa ini.” Jusuf Wanandi kala itu aktivis Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Bersama Partai Katolik, PMKRI mengambil sikap antikomunis dan menganggap muslim sebagai sekutu alamiah melawan komunis. Jusuf masuk Istana sejak 1964 sebagai sekretaris Soejono, wakil ketua II Dewan Pertimbangan Agung (DPA). DPA dipimpin langsung oleh Presiden Sukarno. Dengan pekerjaan itu, dia mengetahui siapa yang punya pengaruh kuat terhadap Sukarno. Menurutnya, orang tersebut adalah Njoto, orang nomor tiga di jajaran pimpinan PKI. “Menyaksikan pertemuan-pertemuan sarapan pagi, Njoto memang mempunyai hubungan yang khusus dengan Presiden. Njoto adalah sosok paling intelektual di antara pemimpin PKI. Itulah alasan mengapa dia menjadi salah satu penulis pidato Bung Karno yang paling berpengaruh,” ungkap Jusuf. Jika Jusuf mengumpulkan informasi di Istana, informan penting lainnya berada di lingkaran pejabat teras PKI. Dia lulusan Universitas Gadjah Mada, menjadi Katolik setelah menikah dengan seorang gadis Katolik. Sebelumnya, dia anggota Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), perkumpulan mahasiswa komunis. Karena pandai, pada 1960 dia dipromosikan menjadi asisten Soedisman, sekretaris jenderal PKI. “Orang muda yang berani ini –namanya tidak bisa disebut karena sensitif– memberikan informasi kepada kami mengenai apa yang sedang terjadi di dalam tubuh PKI,” kata Jusuf. “Dari informasi-informasi dia, kami tahu bahwa kesimpulan kami tidak terlalu meleset: PKI akan mengambil-alih kekuasaan, bukan dalam waktu lima tahun lagi, melainkan segera. Segera.” Menurut informan itu, kata Jusuf, sebuah pertemuan sedang direncanakan untuk mengadili kapitalisme birokrat dan spion badan intelijen Amerika Serikat (CIA) di tubuh Angkatan Darat. Untuk itu, Pemuda Rakyat dan Gerwani dilatih kemiliteran di Lanud Halim Perdanakusuma. Mereka ingin mengesankan ada pergolakan di tubuh Angkatan Darat dan peristiwa itu bebas dari jejak PKI. PMKRI pun melatih dua kelompok kader dari pemimpin mahasiswa dan akademisi di Gunung Sahari untuk melakukan konsolidasi. HMI melakukan hal yang sama di Megamendung, Bogor, di kediaman Wakil Ketua NU Subchan Zaenuri Erfan. “Hanya kami-lah –di antara kelompok nonkomunis– yang melakukan pelatihan seperti ini,” kata Jusuf. Harry Tjan Silalahi dan IJ Kasimo dari Partai Katolik menghadap dan mengatakan kepada Jenderal AH Nasution bahwa kalangan Katolik sudah mengetahui rencana PKI dan meminta pendapatnya apa yang harus mereka lakukan. Jawaban Nasution mengecewakan. Peristiwa 30 September 1965 pecah. Di luar dugaan Jusuf dan kelompoknya, tak ada pengadilan rakyat terhadap kapitalisme birokrat dan agen-agen CIA. Yang terjadi adalah pembunuhan terhadap para jenderal. Dalam memoar ini, Jusuf menyajikan beberapa tafsiran di balik Peristiwa 30 September 1965. Tentu saja dia menempatkan PKI berada di balik peristiwa itu dan membela Soeharto. Jusuf mengatakan kontak pertama dengan Soeharto terjadi pada 4 Oktober 1965. Harry Tjan dan Subchan bertemu dengan Soeharto di Mabes Kostrad. “Dari sanalah kami menjalin hubungan erat, yang bertahan hingga dua dekade,” kata Jusuf. Setelah Soeharto berkuasa, Jusuf Wanandi menjadi salah satu pendiri CSIS, lembaga pemikir (think tank) Orde Baru.*
- Tafsiran dan Ejekan Lambang Partai
PEMILIHAN umum pertama tahun 1955 dianggap paling demokratis. Meski demikian persaingan untuk meraih pemilih sangat keras. Selain mengajak orang untuk memilih partainya dengan berbagai alasan, para juru kampanye, terutama dari partai-partai besar, tak segan menyerang partai lain dengan cara mengejek dan menjelek-jelekkan lambang partai. Partai-partai dikenal melalui simbol mereka yang terpampang di poster, papan iklan, dan baliho: Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan palu dan arit, Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan banteng di dalam segitiga, Masyumi dengan bulan sabit dan bintang, dan Nahdlatul Ulama (NU) dengan bola bumi yang dikelilingi tali dan sembilan bintang. Menurut sejarawan MC. Ricklefs, berbagai poster, papan, dan baliho suatu partai tidak jarang diturunkan lawan-lawannya. “Hal tersebut juga menginspirasi klaim, klaim-balik, serta lelucon-lelucon politik yang mudah dimengerti oleh mereka yang buta huruf sekalipun,” tulis Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa. Partai-partai, menurut Herbert Feith dalam Pemilihan Umum 1955 di Indonesia , membuat tafsiran-tafsiran atas lambang partai mengingat betapa pentingnya tanda gambar sebagai alat untuk menciptakan ikatan yang efektif dengan partai. Juru kampanye PNI berbicara tentang ciri-ciri banteng yang telah lama menjadi lambang kaum nasionalis. Rakyat Indonesia, kata mereka, seperti banteng, sabar dan tidak cepat marah, tetapi sekali marah akan mengamuk tanpa ampun. Juru kampanye NU punya banyak tafsiran tentang lambang gambar mereka. Menurut mereka, tali melambangkan Islam; sembilan bintang adalah walisongo, sembilan wali yang menjadi tokoh kunci penyebaran Islam; dan bumi atau dunia sebagai tempat manusia tinggal bentuknya bulat karenanya harus diikat agar tidak bergoncang, sehingga mereka seharusnya memilih gambar bumi dengan tali yang terikat di seputarnya. “Atau, bahwa simbol NU bukanlah ciptaan manusia, melainkan diterima sebagai semacam wahyu ilahi,” tulis Ricklefs. Semboyan PKI yang paling sederhana: “PNI partai priayi, Masyumi dan NU partai santri, tetapi PKI partai rakyat.” Juru kampanye PKI mendorong para pemilih miskin untuk mencoblos palu dan arit karena “mereka berharap untuk mencoblos (yaitu membajak) tanah pertanian,” tulis Ricklefs. PKI menekankan pegangan para petani seharusnya “palu dan arit” dan bukan “lintang rembulan” (bintang bulan, Masyumi) atau gambar “jagat lintang sanga” (bumi dengan sembilan bintang, NU), karena petani bekerja dengan arit. Sedangkan Masyumi mengajak mencoblos lambang bulan sabit dan bintang, sebab dua benda itulah yang memberi terang semua umat Islam. Di pihak lain, menurut Feith, adalah biasa bagi sebuah partai menyerang partai lain dengan memburuk-burukkan tanda gambar partai lawannya. Di daerah-daerah tertentu di Jawa, Masyumi diserang atas dasar takhayul bahwa bulan dan bintang lambang kejahatan. Sebaliknya, Masyumi menyerang PKI sebagai partai kafir, siapa yang ikut bisa menjadi kafir. Masyumi juga mengejek kiai yang bergandengan tangan dengan PKI. “ Kiai sing nganten iku yen dicukur sirahe, terus diwenehi jeruk pecel, mesti medal gambare palu arit (Kiai semacam itu apabila dicukur kepalanya, kemudian diberi jeruk pecel, pasti akan keluar gambar di kepalanya palu arit),” tulis Achmad Zainal Huda dalam Mutiara Pesantren: Perjalanan Khidmah KH Bisri Mustofa. Masyumi tidak hanya menyerang musuh bebuyutannya, PKI, tetapi juga menyerang partai Islam lain, NU dan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). “Masing-masing dengan lambang yang mengandung huruf Arab, menjadi bulan-bulanan serangan juru kampanye Masyumi yang mengatakan huruf Arab itu suci dan menusuknya berarti menodainya,” tulis Feith. NU mengutip sebuah mitos dari buku kuno bahwa nanti akan ada ratu kembar berebut untuk menjadi ratu. Tak ada yang mampu menjadi ratu kecuali ratu yang tidak ada bayang-bayangnya. Siapa? Kerbau, sapi (maksudnya PNI), ada bayangnya. Linggis, pisau, bendo, palu dan arit (PKI), semua memiliki bayangan. Bintang (Masyumi), matahari, rembulan semua ada bayangannya. “Yang tidak memiliki bayangan hanya satu, yaitu jagad (bumi, lambang NU, red ),” tulis Zainal Huda. PNI yang dengan tegas menyatakan diri sebagai Partai Sukarno, menyerang PKI sekaligus partai-partai Islam: “Saudara jangan mau dibawa ke Arab, dan jangan mau diajak ke Rusia. PNI adalah partai Bung Karno. Belum ada partai-partai lain yang berjuang, PNI telah memperjuangkan kemerdekaan.” Menghubungkan Islam dengan sesuatu dari Arab juga jadi bahan kampanye PKI. Ketika kampanye di Lapangan Banteng Jakarta, menurut Alwi Shihab dalam Betawi: Queen of The East, seorang pembicara PKI mengatakan, “Saudara-saudara jangan memilih partai Islam karena nantinya Lapangan Banteng diubah menjadi Lapangan Onta.” “Tentu saja ini merupakan joke politik guna menggembosi partai lain,” tulis Alwi Shahab.
- Tipuan Asmara Romeo Merah
Heinz Suetterlin (kiri) sang Romeo Merah. Leonore Heinz dan empat sekretaris di Kementerian Luar Negeri Jerman Barat menjadi korban agen KGB. SELAMA Perang Dingin, banyak agen rahasia Uni Soviet (KGB) dikirim ke beberapa negara Sekutu. Para agen tersebut, terutama laki-laki, disebar untuk mencuri dokumen dengan cara merayu perempuan-perempuan yang bekerja di beberapa departemen strategis milik Sekutu. Operasi ini dinamai Operasi Hati Sunyi ( Operation Lonely Hearts ). Menurut Harry August Rositzke dalam The KGB: The Eyes of Russia , salah satu korban yang terjerat rayuan adalah Leonore Heinz, seorang sekretaris di Kementerian Luar Negeri Jerman Barat. Dia berumur 35 tahun dan belum menikah ketika operasi itu dimulai pada musim panas 1960. Leonore kesepian. Suatu malam, bel pintu rumahnya berbunyi. Seorang pria berusia 40-an berdiri di muka pintu sambil menggenggam rangkaian bunga mawar. “Di manakah flat tempat tinggal Nyonya Schmitz?” tanya pria itu dengan logat asing. Leonore tak dapat menunjukkan lokasi yang ditanyakan pria itu. “Wah, saya mendapat alamat yang keliru. Sungguh sayang jika bunga ini terbuang. Nah, biarlah saya mempersembahkannya untuk Anda saja,” ujar pria tersebut, yang memperkenalkan diri bernama Heinz Suetterlin. Perkenalan itu berlanjut dengan makan malam, kencan, dan berakhir di pelaminan. Setelah menikah, Leonore tetap bekerja sebagai sekretaris di Kementerian Luar Negeri Jerman Barat. Sebagai sekretaris, tugasnya berat. Dia harus mengelola data pribadi dan catatan para diplomat Jerman Barat. Ketika tak selesai dikerjakan di kantor, Leonore membawa berkas-berkas, dengan tingkat kerahasiaan tinggi, ke rumah –satu hal yang seharusnya terlarang. Di rumah, Leonore rajin memasak untuk suaminya. Saat Leonore sibuk di dapur, Suetterlin sibuk memotret berkas-berkas rahasia yang dibawa Leonore. Hal tersebut berlangsung selama lima tahun. Dan hasilnya, seperti dikutip majalah Flambojan , 16 Oktober 1972, Suetterlin berhasil memotret empat ribu berkas berkode top secret dan mengirimkannya ke Moskow. Dinas Kontra Intelejen Jerman Barat mengendus ketidakberesan ini. Mereka pun menangkap Leonore dengan tuduhan membawa berkas rahasia ke rumah. Dia digelandang ke tahanan di kota Cologne, Jerman. Dari hasil penyelidikan, aksi Suetterlin terkuak. Begitu pula identitasnya sebagai agen KGB. Suettterlin dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Dari sini, kemudian terungkap sasaran Operasi Hati Sunyi yang dilancarkan agen KGB di beberapa lembaga strategis milik Sekutu. Di antaranya, kantor pemerintah di Bonn (ibukota Jerman Barat), Brussels (ibukota Belgia), lalu di markas NATO. Sasarannya jelas: sekretaris perempuan yang kesepian. Sejak itu, sekretaris-sekretaris perempuan, terutama di markas NATO, mendapat instruksi untuk menjauhi rayuan dari para “Romeo Merah”, sebutan bagi agen KGB seperti Suetterlin. Ketika Leonore dikonfirmasi mengenai identitas suaminya yang ternyata agen KGB, dia depresi dan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Sementara Suetterlin, yang mendekam di penjara, mengajukan banding. Dia mendapatkan seorang pengacara perempuan yang juga dipacarinya. Bandingnya diterima. Tak genap tujuh tahun mendekam di penjara, Suetterlin bebas, lalu menghilang dari Jerman Barat.*
- Meteor di Tengah Pertempuran
Patung Mithridates VI (kiri) dan Lucius Licinius Lucullus (kanan). KERAJAAN Roma berkembang pesat dan terus meluaskan kekuasaan politiknya ke wilayah Timur melalui Asia Kecil. Beberapa kerajaan merdeka di wilayah tersebut melawan. Salah satunya Kerajaan Pontus. Berpusat di Sinope, dekat Laut Hitam, Pontus adalah kerajaan hellenistik (bercorak budaya campuran Persia-Yunani) yang berdiri tahun 281 SM. Pontus mencapai puncak keemasaannya pada masa kekuasaan Raja Mithridates VI. Dia mempunyai agenda politik yang anti terhadap segala hal berbau Romawi. Peperangan pun terjadi. Sejarah mencatat, terjadi tiga kali perang Pontus-Roma: Perang Mithridatic I (88-84 SM), Mithridatic II (83-81 SM), dan Mithridatic III (75-63 SM). Perang Mithridatic III dipicu oleh kegagalan Mithridates VI menjatuhkan Raja Nicomedes IV dari Bithynia, kerajaan hellenistik di pesisir Laut Hitam yang dikendalikan Roma. Kegagalan ini membuat Roma ikut campur, bahkan berupaya menjatuhkan Mithridates VI sekaligus menjadikan Pontus yang kaya sebagai provinsinya. Lucius Licinius Lucullus, seorang politisi, memimpin pasukan Roma dalam Perang Mithridatic III. Pada suatu waktu antara tahun 74-70 SM, Lucullus bermaksud melakukan serangan mendadak ke Pontus ketika Mithridates VI sedang pergi dengan pasukannya. Namun dia justru dikejutkan oleh kemunculan pasukan Pontus yang dipimpin Mithridates VI. Kedua pasukan pun bersiap perang di Otroea, dekat Danau Iznik di Turki modern. “Ketika kedua pasukan sedang bersiap-siap untuk bertempur, tiba-tiba langit terbelah dan di antara kedua pasukan tampaknya telah jatuh sebuah meteor besar yang terbakar, bentuknya menyerupai sebuah tong berwarna perak yang panas,” ujar Plutarch, sejarawan Yunani, seperti dikutip James Ussher dkk. dalam The Annals of the World, Volume 1 . Kedua pasukan terkejut dan memilih lari meninggalkan medan perang. Mereka menafsirkan fenomena alam ini sebagai pertanda buruk dari dewa mereka masing-masing. “Adalah benar jika orang-orang Roma pada masa itu takut dengan komet, bintang jatuh, dan meteor,” tulis Adrienne Mayor dalam The Poison King: The Life and Legend of Mithradates, Rome’s Deadliest Enemy . Sejarawan modern kerap melupakan peristiwa itu. Namun Richard Stothers, seorang peneliti NASA yang ahli dalam mengobservasi peristiwa-peristiwa astronomi di masa kuno, memiliki sedikit penjelasan mengenai jenis meteor yang jatuh tersebut. “Karena ada ribuan saksi yang melihat dari jarak dekat, Stothers meyakini laporan dari Plutarch otentik. Munculnya cahaya yang amat menyilaukan di siang hari itu mengindikasikan besarnya dampak getaran yang dihasilkan meteor ini. Stothers mengestimasi ukuran lingkar objek tersebut lebih dari 4 kaki (121 cm),” tulis Adrienne. Perang antara Lucullus dan Mithridates VI batal karena peristiwa ini. Dan nasib buruk pun menimpa mereka setelahnya. Karena dianggap tak kompeten, Lucullus dicopot dari jabatannya sebagai pemimpin pasukan. Dia digantikan Pompey, jenderal Roma yang kemudian menaklukkan Pontus dan mengakhiri Perang Mithridiatic III. Mithridates VI memilih bunuh diri daripada tertangkap pasukan Roma.*
- Mengilik Sejarah Adu Jangkrik
ADU jangkrik sebagai permainan rakyat sudah dikenal lama di Indonesia. Adu jangkrik dimainkan seluruh lapisan masyarakat, terutama anak-anak. Dulu mereka mencari sendiri, kini membeli dari penjual yang biasa mangkal di sekolah-sekolah. Menurut buku Permainan Tradisional Indonesia , terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998), permainan ini biasanya muncul secara musiman, khususnya pada musim gadon yaitu saat sawah ditanami palawija untuk menyelingi tanaman padi. Jenis jangkrik yang diadu adalah jangkrik kalung jantan, berwarna hitam legam, dan ada hiasan kalung pada lehernya. Jangkrik ini digemari anak-anak karena suaranya nyaring dan gerak-geriknya lincah. Menurut Denys Lombard, adu jangkrik tampaknya merupakan kegemaran khas masyarakat Jawa namun juga didapati di kalangan orang Tionghoa; dan kaum peranakan memudahkan penyebarannya. “Itulah yang terjadi pada adu jangkrik yang dewasa ini sudah langka, namun pada zaman Hamengku Buwono VII (1877-1921) telah merasuki seluruh kraton Yogyakarta,” tulis Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 2, Jaringan Asia . Para bangsawan dan pedagang kaya di Kota Gede mengadakan pertandingan setiap Selasa dan Jumat. Adu jangkrik lebih dikenal di Jawa Tengah, sedangkan di Bali terkenal adu ayam, Jawa Barat adu domba, dan Toraja adu kerbau. Kendati demikian, di Bali juga ada adu jangkrik, disebut maluan ; dan di Aceh disebut daruet kleng. Adu jangkrik dianggap sebagai hiburan anak kecil. Ini tidak berarti orang dewasa menampik permainan itu. “Konon calon Sultan adalah seorang penggemar daruet kleng dan kadang-kadang memasang taruhan besar,” tulis Snouck Hurgronje dalam Aceh: Rakyat dan Adat Istiadatnya Volume 2. “Konon kegemaran bertaruh itu karena pertarungan diadakan di kalangan terbatas.” Permainan maluan memiliki sifat sekuler (keduniawian) sekaligus sakral karena “si pemain (seorang anak berumur tujuh tahun), sewaktu hendak menggalakkan jangkriknya, akan mengucapkan mantra dengan suara seperti yang dikeluarkan oleh seorang balian,” tulis James Danandjaja dalam Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Bacaan mantra agar jangkrik kuat dan menang, juga disinggung Tjan Tjoe Siem dalam artikelnya “Adoe Jangkrik” yang dimuat majalah Djawa tahun 1940. Sebelum masuk arena, jangkrik biasanya diberi mantra (dijantur) : Jantur, jantur, musuhmu gedhe dhuwur, cokoten ngasi anjur. Janti, janti, musuhmu kecil belaga, gigitlah sampai mati. Setelah dijantur , jangkrik lantas lebih berani menghadapi lawannya. Bahkan dengan menggunakan obat-obatan Tionghoa, jangkrik aduan menjadi perkasa dan senantiasa menang. Peristiwa itu terjadi pada pertandingan besar di Semarang pada 1901. Ampuhnya ramuan itu diungkapkan Siem dengan “sekali gigit akan lekas lari tiada mau berhadapan lagi.” Seperti halnya adu ayam, adu jangkrik pun menjadi ajang judi. Menurut Siem, adu jangkrik sebagai praktik perjudian ramai dilakukan di Jawa Tengah, dan tidak sedikit orang Tionghoa ikut pat-sik-soet (adu jangkrik) pada musim jangkrik. “Pusat-pusat aduan jangkrik yang taruhannya tiada kecil adalah kota Magelang, Yogyakarta, dan Solo,” tulis Siem. Menurut Permainan Tradisional Indonesia , cara taruhannya tak jauh berbeda dengan taruhan adu ayam. Ada satu lawan satu, satu lawan dua (apit), dua lawan tiga dan sebagainya. “Di samping mati, ada jangkrik yang putus giginya, perutnya yang keluar, sayapnya putus, kakinya putus akibat gigitan lawan.”
- Sabarudin Ditakuti Sekaligus Dihormati
MESKI kejam, Sabarudin memiliki ratusan pendukung fanatik. Dia ditakuti, tetapi sekaligus dihormati dan dipuja anak buahnya. “Rahasia kepemimpinannya adalah, dia mampu menghadapi dan memenuhi kebutuhan anak buahnya, meskipun untuk itu bila perlu ditempuh lewat cara yang ilegal,” tulis Moehkardi, pengajar sejarah Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), dalam biografi R. Mohamad dalam Revolusi 1945 Surabaya . Markas Besar Angkatan Perang tampaknya berang dengan ulah semena-mena Sabarudin. Dalam keterangan di bukunya, Moehammad Jasin mendapat perintah dari Jenderal Soedirman untuk menangkap Sabarudin. Perintah itu terlaksana. Sabarudin menyerah dalam pengepungan di Jawa Timur. Lewat pengadilan militer di Yogyakarta, Sabarudin dijatuhi hukuman penjara. PTKR dibubarkan. Dari penjara di Wirogunan, Yogyakarta, Sabarudin dipindah ke penjara Magelang. Semasa di penjara, pada 21 Juli 1947, Ambarawa diduduki Belanda. Sabarudin memanfaatkan situasi gawat ini dengan membujuk Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta supaya dibebaskan. Dia bahkan ditugaskan membentuk laskar dengan syarat mau ditempatkan di Jawa Barat. Dalam waktu tak lama dia berhasil mengumpulkan kembali sekompi anak buahnya. Bukannya pergi ke Jawa Barat, Sabarudin malah kembali ke Jawa Timur. Peristiwa PKI 1948 di Madiun membuat pemerintahan pusat memperkuat militer. Laskar Sabarudin termasuk yang ikut direhabilitasi. Kesatuannya diakui sebagai Batalion 38 di dalam sebuah brigade yang dipimpin Letkol Surachmad. Pada 1948, ketika Tan Malaka dibebaskan dan hendak melakukan gerilya di Jawa Timur, Sabarudin adalah yang mula-mula memberikan jaminan keselamatan kepadanya. Menurut Moehkardi, Sabarudin fanatik kepada ajaran-ajaran Tan Malaka. Pendapat itu disangkal Poeze. “Ikatannya dengan Sabarudin mustahil dan tidak bisa dipercaya. Tapi dalam revolusi berlaku kaidah-kaidah lain, dan persekutuan semacam itu bisa saja terjadi, seperti juga Revolusi bisa menawarkan kesempatan kepada orang-orang semacam Sabarudin naik ke jenjang kekuasaan,” tulis Poeze. Gerakan Tan Malaka yang antidiplomasi dianggap membahayakan Republik. Begitu pula dengan Sabarudin yang menyertainya. Sepeninggal Tan Malaka yang ditembak mati di Kediri, Sabarudin dan pasukannya terus berada dalam pelarian di Jawa Timur. Meski berkali-kali diimbau menyerahkan diri, Sabarudin kukuh menolak. Bahkan pasukannya melumpuhkan Batalion Banuredjo yang dikirim Surachmad untuk mengejar Sabarudin. Mayor Banuredjo tewas di tangan anak buah Sabarudin di Kalipare, Malang Selatan. Kematian Banuredjo menambah murka Surachmad dan para komandan brigade di Jawa Timur lainnya. Dan Sabarudin, meski berhasil meloloskan diri, makin terdesak oleh tentara yang terus mengejarnya. November 1949 pasukannya terjepit di Kawi Selatan, Malang. Kolonel Soengkono, panglima dan gubernur militer di Jawa Timur, membujuk Sabarudin lewat surat. Isi surat tersebut ialah perintah supaya Sabarudin menghadap Soengkono di Surabaya, hendak diajak membahas upaya perundingan gencatan senjata antara TNI-Belanda. Kali ini Sabarudin melunak. Menurut Poeze, dia telah berniat “kembali bertindak sebagai seorang tentara yang loyal”. Dengan menunggang kuda, Sabarudin turun gunung menuju Surabaya. Tapi sesampainya di Surabaya, Soengkono sudah bertolak ke Nganjuk, tempat dilangsungkannya perundingan gencatan senjata itu. Sabarudin menemui tentara Belanda yang juga akan berangkat ke Nganjuk untuk perundingan. Mengingat pangkatnya yang lumayan tinggi, dia diperlakukan dengan hormat oleh Belanda. Bahkan dia difasilitasi mobil dan berbarengan dengan delegasi Belanda berangkat ke Nganjuk. Di Nganjuk, usai perundingan, Soengkono mengajak Sabarudin menuju markasnya di Ngluyu, juga di kabupaten yang sama. Pada kesempatan itu beberapa pengikutnya yang masih bersimpati turut memohon kepada Soengkono supaya Sabarudin dimaafkan. Namun, Soengkono sudah mengambil keputusan. Sabarudin ditahan. Surachmad yang masih menyimpan dendam kepada Sabarudin turut mendengar bahwa Sabarudin hendak dihukum tahanan. Dia menganggap hukuman itu tak tak cukup setimpal. “Ketika Surachmad mendengar kejadian tersebut, ia memerintahkan CPM (Corps Polisi Militer, red. ) yang di bawah komandonya untuk mengambil Sabarudin dan membawanya ke Madiun untuk diadili,” tulis Poeze. Sekitar 24 November 1949, sesuai kehendak Surachmad, anggota CPM menyeret Sabarudin ke Madiun. “Dalam perjalanan menuju Madiun, di Wilangan, Sabarudin dieksekusi sesudah pengadilan militer di medan perang menjatuhkan hukuman mati,” tulis Poeze. Berakhirlah petualangan Sabarudin.*
- Saat Soeharto Bicara Sejarah
KECUALI menyampaikan nilai-nilai falsafah Jawa yang dianutnya dan menjabarkan persoalan teknis dalam beberapa urusan, Soeharto jarang terdengar melontarkan gagasan yang berpijak pada konsep-konsep ilmu pengetahuan. Namun, sebuah video yang dimuat di laman Youtube berjudul “Pekan Tabungan Nasional” menunjukkan Soeharto yang menafsir dan membagi babak sejarah Indonesia berdasarkan sudut pandangnya sendiri.
- Sabarudin Berebut Perempuan Berbuntut Kekejaman
PADA 1945, Komandan Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) Zainal Sabarudin menangkap Soerjo, seorang bekas shudancho , di Sidoarjo. Dia menuduh Soerjo, dengan bukti selembar foto yang menampilkan Soerjo bersanding dengan Ratu Wilhelmina, sebagai spion Belanda. Sabarudin lalu menggelandang Soerjo ke alun-alun Sidoarjo lantas mengikatnya ke tiang. Tanpa proses pemeriksaan lebih lanjut, Sabarudin menembaknya dalam jarak dekat. Tembakan itu tak mengakhiri hidup Soerjo. “Sabarudin mengambil samurai Jepang dan menebas leher pemuda itu hingga tewas,” tulis Moehammad Jasin dalam Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang . Kekejaman Sabarudin melegenda. Hampir semua orang di Surabaya dan Sidoarjo yang hidup pada zaman revolusi pernah mendengar kisah kebengisannya. Dia sewenang-wenang memperlakukan musuh-musuhnya, tawanan perang, bahkan rekan sendiri. Demi menghabisi lawan-lawannya, dia tak ragu melontar fitnah, termasuk kepada Soerjo, sahabatnya. Soerjo memang pernah berfoto bersama Ratu Wilhelmina. Namun foto itu diambil semasa dia sebagai anggota Kelompok Kepanduan Hindia Belanda (NIPV) turut dalam jambore ke Negeri Belanda. Menurut Suhario Patmodiwiryo yang akrab disebut Hario Kecik dalam Si PemburuVolume 2 , alasan pembunuhan itu ialah “rivalisme antara Sabarudin dan Soerjo pribadi dalam masalah memperebutkan seorang puteri Bupati Sidoarjo.” Bukti foto hanyalah alat untuk menggeret Soerjo ke lapangan penghabisan. Zainal Sabarudin Nasution lahir di Kotaraja, Aceh, pada 1922. Sesudah menamatkan sekolah menengah pertama (MULO), dia bekerja sebagai karyawan di kantor kabupaten merangkap penata buku di sebuah perkebunan gula di Sidoarjo. Semasa pendudukan Jepang dia didapuk sebagai komandan kompi Pembela Tanah Air (Peta) di kota yang sama. Usai proklamasi, Sabarudin ditunjuk menjadi kepala PTKR. Mula-mula berpangkat kapten, kemudian mayor. Dia bertugas mengawasi tawanan Jepang, orang-orang Belanda yang meninggalkan kamp dan datang ke Surabaya, serta orang Indonesia yang jadi tahanan. Kepada para tawanan yang tak disukainya, Sabarudin berlaku brutal. Para penentangnya disiksa dan dibunuh, bahkan dengan cara eksekusi yang keji. Menurut Jasin, Sabarudin tega “mengikat orang yang ditangkap pada dua ekor kuda yang kemudian dilarikan ke arah berlawanan. Akibatnya, badan orang itu terputus menjadi dua dan mati. Ada pula yang disirami dengan bensin dan dibakar habis.” Bahkan Sabarudin menjadikan tawanan-tawanan perempuan sebagai budak. “Perempuan-perempuan muda Indo-Eropa dijadikan harem-haremnya,” tulis sejarawan Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi IndonesiaJilid IV.*
- Kupu-Kupu Malam dalam Revolusi
Bupati Kendal, Widya Kandi Susanti, membuat pernyataan kontroversial. Dia menganggap "Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah pahlawan keluarga, karena mereka umumnya bekerja untuk menghidupi keluarga. Dalam kondisi itu, tidak manusiawi kalau tempat pelacuran ditutup," demikian dikutip tribunnews.com. Seberapa besar dan penting peran PSK –yang dulu kerap disebut wanita tuna susila atau "Kupu-Kupu Malam" kata penyanyi Titiek Puspa– dalam sejarah Indonesia? Dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, Sukarno membuktikan pentingnya peran wanita tuna susila. "Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia. Dalam keanggotaan PNI (Partai Nasional Indonesia) di Bandung terdapat 670 orang perempuan yang berprofesi demikian dan mereka adalah anggota yang paling setia dan patuh," kata Sukarno. Wanita tuna susila anggota PNI itu memberi Sukarno informasi berharga dari polisi-polisi kolonial yang memakai jasa mereka. "Tak satupun laki-laki anggota partai yang terhormat dan sopan itu dapat mengerjakan tugas ini untukku," ujar Sukarno. Bahkan, selain memberikan informasi, wanita tuna susila itu menyumbang uang untuk kegiatan partai. "Dan mereka bukan saja penyumbang yang menyenangkan," ucap Sukarno, "tapi juga penyumbang yang besar." Ali Sastroamidjojo, tokoh PNI, menentang tindakan Sukarno melibatkan wanita tuna susila dalam partai. "Sangat memalukan," tegas Ali. "Ini sangat tidak bermoral." Gatot Mangunpraja, sekretaris PNI, membantah keterangan Sukarno bahwa PNI menggunakan wanita tuna susila sebagai daya tarik bagi anggota untuk menghadiri kursus politik, dan tidak benar 670 anggota PNI Bandung adalah wanita tuna susila. Faktanya adalah bahwa ada satu atau dua wanita tuna susila yang telah memperbaiki diri dari prostitusi dan menikah, menjadi anggota PNI bersama suami mereka. "Kami sangat berhati-hati memasukkan para wanita tuna susila dan penjudi, yang mungkin membahayakan dengan memberi nama buruk bagi organisasi," kata Gatot, "The Peta and My Relations with the Japanese: A Correction of Sukarno’s Autobiography," dimuat jurnal Indonesia , Vol. 5 tahun 1968. Sukarno mungkin berlebihan dalam hal anggota PNI, namun kemudian dia pernah menggunakan 120 wanita tuna susila di Minangkabau untuk melayani tentara Jepang. Tujuannya, "semata-mata sebagai tindakan darurat dan demi menjaga para gadis kita," kata Sukarno. Seperti halnya para wanita tuna susila yang mendapatkan informasi dari polisi kolonial untuk Sukarno, pada masa revolusi (1945-1949), mereka juga mendapatkan senjata dari tentara Hindia. Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta, menyebutkan para wanita tuna susila Senen menyelundupkan senjata kepada Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) terdiri dari tujuh pasukan inti dengan tingkat kekuatan beragam dan tersebar di Kota Karawang. Tujuan jangka pendek LRJR adalah menyerang Jakarta dan mengirim Inggris dan Belanda ke laut. Senjata dan amunisi merupakan elemen penting dalam perdagangan antara Jakarta dan Karawang. Walaupun tidak bisa ditembus secara militer, garis demarkasi sangat mudah ditembus bagi perdagangan gelap. "Di sinilah koneksi LRJR dengan dunia bawah tanah sebelum perang menjadi sangat penting, karena senjata-senjata tersebut merupakan hasil pencurian yang diselundupkan lewat Singapura dan dengan bantuan pelacur-pelacur Senen yang mendapatkannya dari tentara Hindia," catat Cribb. Masih pada masa revolusi, Moestopo, seorang dokter gigi dan perwira eksentrik. Ketika ditunjuk sebagai perwira pendidikan politik di Subang pada 1946, dia tiba di sana dengan unit bersenjata yang tidak biasa, disebut Pasukan Terate. Selain merujuk bunga teratai, nama itu juga akronim dari Tentara Rahasia Tertinggi. "Unit ini sebagian terdiri dari mahasiswa Akademi Militer Yogyakarta yang telah menerima pelatihan lapangan," tulis Cribb, "selain juga pelacur dan pencopet dari Surabaya dan Yogyakarta yang dikirim ke sejumlah garis pertempuran Belanda di wilayah Bandung untuk mencuri senjata, pakaian, dan barang-barang lain." Jejak wanita susila juga terdapat pada poster propaganda karya pelukis Affandi. Idenya berasal dari Sukarno yang menginginkan sebuah poster sederhana namun kuat sebagai alat propaganda untuk membangkitkan semangat pemuda. Peluksi Dullah sebagai modelnya sedang memegang bendera merah putih dan memutuskan rantai yang mengikat kedua tangannya. Pada poster itu, penyair Chairil Anwar memberinya kata-kata: "Boeng, Ajo Boeng!" Poster propaganda itu tersebar kemana-mana. Siapa nyana, Chairil memperoleh kata-kata itu dari para wanita tuna susila di Senen ketika mereka menawarkan jasa: "Boeng, ajo boeng…"
- Prawoto Mangkusasmito, Ketua Masyumi Terakhir
Masyumi dinilai banyak kalangan sebagai salah satu partai yang para kader dan pemimpinnya punya kepribadian perjuangan, tidak pernah pecah kongsi antara asas partai dengan perilaku kader dan pemimpinnya. Meskipun berusia tidak sampai genap 15 tahun, kemudian membubarkan diri besama Partai Sosialis Indonesia pada 1960, akibat perseteruan politik yang tidak bisa dihindari dengan penguasa Orde Lama. Demikian paparan A.M. Fatwa, ketua pembina Yayasan Asrama Pelajar Islam (YAPI), dalam pembukaan peluncuran buku Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum (Terakhir) Partai Masyumi, di Jakarta, 26 Januari 2014. Buku karya SU Bajasut ini terbit kali pertama pada 1972, dan terbitan terbaru kali ini mendapat suntingan dari Lukman Hakiem, penulis biografi tokoh-tokoh Masyumi. Prawoto Mangkusasmito, tercatat sebagai ketua umum Masyumi terakhir. Pria kelahiran Tirto, Grabag, Magelang, Jawa Tengah, pada 4 Januari 1910 ini, terpilih menjadi ketua umum Masyumi pada Muktamar IX di Yogyakarta tahun 1959. Prawoto sangat teguh dalam pendirian dan sangat hangat dalam pergaulan pribadi dan keluarga. Harry Tjan Silalahi, ketua Partai Katolik Indonesia pada 1971, pernah bertanya kepada I.J. Kasimo , mengapa Partai Katolik Indonesia dekat dengan Masyumi? “Tokoh-tokoh Masyumi dan Prawoto memiliki integritas,” kata Kasimo. Fatwa menambahkan, kebesaran jiwa tokoh Masyumi bukan hanya pada Prawoto, melainkan juga Mohammad Natsir yang akrab dengan J. Leimena (Partai Kristen Indonesia) dan Arnold Mononutu (Partai Nasional Indonesia). Kasman Singodimedjo yang dipenjara pada masa Orde Lama, mengantar jenazah Sukarno ke Blitar, bahkan Buya Hamka yang bernasib sama dengan Kasman, mengimami salat jenazah Sukarno. Sedangkan, Sjafruddin Prawiranegara terkenal dengan ucapannya: “Jangan pernah kehilangan objektivitas meskipun terhadap mereka yang tidak kita sukai.” Sepuluh tahun setelah kepergian Sukarno, muncul tulisan yang mengecilkan perannya. “Tulisan yang intinya menyebut Sukarno sebagai tokoh yang mudah bertekuk lutut itu,” kata Fatwa, “dibantah keras oleh Mr. Roem dengan data dan argumen yang kokoh.” Muhajir Effendy, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, memandang bahwa alam pikiran dan jejak perjuangan Prawoto dilandasi dengan keyakinan dan pemahaman agama yang utuh. “Ajaran agama Islam bila dipahami secara benar, maka tidak ada agama lain yang merasa terancam,” kata Muhajir dengan mengambil contoh persahabatan Prawoto dengan tokoh-tokoh dari agama lain. Gambaran lain mengenai sosok Prawoto, dilukiskan dengan peristiwa pertemuan menjelang pembubaran Masyumi di Istana Merdeka pada 28 Juni 1960. Busana yang digunakan Prawoto tampak kontras dengan tamu lainnya: M. Yunan (Masyumi), Sjahrir dan Soebadio Sastrosatomo (PSI) yang mengenakan jas lengkap. Prawoto hanya mengenakan sarung, berpeci, bersandal kulit, dan baju koko. “Prawoto secara simbolis ingin menempatkan bahwa Sukarno adalah (juga) rakyat biasa” kata pengamat politik, Fachry Ali. Kesederhanaannya pun diungkapkan oleh pemimpin koran Indonesia Raya , Mochtar Lubis . “Jenggot dan kumisnya, peci, kacamata, dan kain sarung yang paling suka dipakainya setiap hari,” kata Lubis. Menurut Fachry, salah satu tulisan Prawoto yang menarik dalam buku ini adalah “Jiwa dan Semangat 1945 Masyumi Menolak Suatu Machsstaat ” yang disampaikan sebagai sikap partai dalam pandangan umum Konstituante pada 4 Mei 1959. Tulisan ini adalah tanggapan balik dari “Konsepsi Presiden” yang dicetuskan pada 21 Februari 1957 tentang pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan kembali ke UUD 1945. Konsepsi Presiden tersebut jawaban atas kemandekan dan kekacauan politik yang diakibatkan sistem demokrasi parlementer. Dalam tulisannya, Prawoto mengungkapkan bahwa Demokrasi Terpimpin akan memunculkan seorang “mahapemimpin” dan “pemimpin dari suatu kekuasaan yang menempatkan dirinya di atas hukum, permulaan dari pertumbuhan ke arah suatu negara kekuasaan ( machts-staat ) tidak dapat diterima.” Menurut Fachry, ketika Prawoto menyebut dan mengungkapkan penolakkannya terhadap sistem politik yang mengakomodasi terciptanya “mahapemimpin” telah sekaligus mengungkapkan sikap dan kesadaran genuine -nya tentang demokrasi. “Status seorang ‘mahapemimpin’ sangat berbahaya karena punya kecenderungan bertindak di luar sistem, dan di atas itu, berpotensi mengangkangi hukum itu sendiri,” kata Fachry. Harry Tjan, menjelaskan bahwa machtsstaat tidak menerjemahkan “roh keadilan” dengan baik, bahkan jauh membelakangi, sedangkan recthstaat (negara berdasarkan hukum) menjelma sebagai “roh keadilan.” Itulah konsepsi Prawoto tentang hukum dan keadilan.
- Senandung Lenso ala Bung Karno
BERSAMA Orkes Irama, kelompok musik yang dipimpin Jack Lesmana, Sukarno mengarang sebuah lagu. Kemudian Jack menggubah musiknya. Lahirlah lagu: Bersuka Ria . Iramanya lenso, sebagai pengiring tarian kegemaran Bung Karno yang juga bernama sama dengan irama lagunya: lenso. Konon, itulah satu-satunya lagu karya pemimpin besar revolusi Indonesia. Lagu tersebut kemudian dipopulerkan oleh Suara Bersama,kelompok musik yang digawangi Jack Lesmana dan bersama Bing Slamet. Jack Lesmana adalah ayah sineas Mira Lesmana dan musisi Indra Lesmana. Bersuka Ria dirilis bersama lagu Euis (Bing Slamet dan Rita Zahara), Bengawan Solo (Bing Slamet dan Titiek Puspa), Malam Bainai (Rita Zahara dan Nien Lesmana), Gendjer Gendjer (Bing Slamet), Soleram (Suara Bersama), Burung Kakatua (Suara Bersama), Gelang Sipaku Gelang (Suara Bersama) di album bertajuk “Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso”. Album ini diproduksi dan diedarkan pada 1965 oleh The Indonesian Music Company Irama LTD, perusahaan rekaman milik pengusaha Soejoso alias Mas Yos, kakak kandung Nien –istri Jack Lesmana. Di sampul belakang piringan hitam album itu terdapat tulisan berwarna merah: Dipersembahkan oleh para seniman Indonesia dan karyawan IRAMA bertalian dengan DASA-WARSA KONFERENSI AFRIKA-ASIA . Pada bagian atas tulisan tersebut tertera kalimat persetujuan dan tanda tangan Sukarno yang berbunyi: “Saja restui. Setudju diedarkan, Soekarno 14/4 ’65”. Seluruh lagu di album itu sangat populer pada masanya. Bahkan beberapa di antaranya masih melekat dalam ingatan banyak orang hingga hari ini. Saking populernya, berdasarkan data tertulis koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dua kali lagu Bersuka Ria bergumuruh dinyanyikan di Istora Senayan –kini Gelora Bung Karno, Jakarta. Pertama , pada Kongres Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) di Istora Senayan, 29 September 1965. Kedua , pada saat Musyawarah Nasional Teknik (Munastek), juga di Istora Senayan, 30 September 1965. Di kedua perhelatan tersebut, Sukarno memulai pidatonya dengan menyanyikan Bersuka Ria, yang digubah sesuai tema musyawarah tersebut. Seluruh hadirin turut serta menyanyi bersama. Siapa bilang saya tidak suka opor bebek/kan bebek sama saja dengan itik/Siapa bilang saya tidak senang kepada Munastek/karena saya seorang orang teknik. Siapa bilang sukarelawati ini tidak berani bertempur/meskipun dia memakai kain batik/Siapa bilang masyarakat kita tidak akan jadi adil dan makmur/Revolusi kita kan didukung oleh kaum teknik. Menurut Solichin Salam dalam Bung Karno Putra Fajar, lagu ciptaan Bung Karno itu kata-katanya sederhana, gampang dipahami dan mudah dimengerti. Dengan menyanyikan lagu itu, tidak saja rakyat dididik untuk memiliki kesadaran politik, akan tetapi juga rakyat dididik untuk menjadi bangsa yang periang, gembira dalam hidup, tidak kecut menghadapi hidup. Coba saja dengarkan lagunya berikut ini:




















