top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pyonsa dan Perlawanan Rakyat Korea Terhadap Penjajahan Jepang

    NARATOR film bisu seperti benshi tak hanya muncul di Jepang pada awal abad ke-20. Selama periode tersebut, di Korea juga muncul pyonsa atau byoensa yang bertugas menjelaskan dan menarasikan film bisu kepada penonton Korea. Namun, yang menarik pyonsa juga berperan besar dalam mendorong semangat nasionalisme dan menjadi corong perlawanan terhadap penjajahan Jepang. Meski tanggal pasti asal muasal profesi ini belum dapat ditentukan, pyonsa diperkirakan mulai dikenal pada 1907, bersamaan dengan berdirinya bioskop di Korea. Meski begitu, pyonsa bukanlah ciptaan Korea. Peran ini diadopsi dari benshi di Jepang. Areum Jeong menulis dalam How the Pyonsa Stole the Show: The Performance of the Korean Silent Film Narrators bahwa narator film diperlukan untuk penonton karena film-film yang ditayangkan pada masa awal perkembangan film di Korea merupakan buatan luar negeri dan terdiri dari budaya asing. Karena penonton Korea pada umumnya hanya memiliki sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai budaya di luar budaya lokal mereka, peran pyonsa sangat penting dalam menjembatani hubungan antara film yang ditayangkan dengan penonton.

  • Yang Tercecer dari Pertempuran Biak

    UNTUK pertama kali sejak dua dekade, Prabowo Subianto bisa masuk kembali Amerika Serikat (AS). Sejak tahun 2000, Prabowo kena “cekal” masuk Amerika. Larangan itu sekonyong-konyong dicabut pemerintah AS selepas Prabowo dilantik jadi menhan pada Oktober 2019. Dalam kapasitasnya sebagai menteri pertahanan (menhan) inilah ia bersua koleganya, Menhan AS Mark Esper di Pentagon (markas Kemenhan Amerika), Arlington County, Virginia, 16 Oktober 2020 guna membahas tiga hal. Menukil laman resmi kemenhan AS pada 16 Oktober 2020, tiga hal yang dibicarakan Esper dengan Prabowo yakni: dukungan modernisasi alutsista Indonesia, niat kerjasama keamanan maritim, dan kesediaan Indonesia membuka akses untuk mencari para kombatan Amerika yang masih hilang dari masa Perang Dunia II.

  • Kerangka Serdadu Jepang dari Pertempuran Biak

    SEBANYAK sembilan kerangka manusia yang diduga kuat merupakan sisa-sisa serdadu Jepang di era Perang Pasifik yang sudah terkumpul di Kabupaten Biak Numfor, Papua, kini siap diserahkan kepada pemerintah Jepang lewat proses repatriasi. Proses ekskavasi, evaluasi, dan pengumpulannya itu merupakan kelanjutan dari kesepakatan antara pemerintah RI dan Jepang yang sempat tertunda gegara Pandemi Covid-19. Sebagaimana keterangan pers yang diterima Historia, Jumat (28/6/204), Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek RI, Hilmar Farid mengungkapkan, ekskavasi sisa-sisa jasad para serdadu Jepang di Papua itu merupakan agenda utama kerjasama antara pemerintah RI dan Jepang dalam “Agreement between the Government of Japan and the Government of the Republic Indonesia on Excavation, Collection and Repatriation of the Remains of Japanese Soldiers who died in the Second World War in the Province of Papua and the Province of West Papua” yang ditandatangani pihak Kemendikbudristek RI dan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada 25 Juni 2019. Untuk proses ekskavasinya dibentuklah Tim Teknis Gabungan Indonesia dan Jepang untuk melakukan tugasnya di sekitar Biak. “Terlepas dari sejarah masa lalu, tentunya upaya ini merupakan misi kita untuk memuliakan manusia sekaligus pengingat agar tidak terulang di masa mendatang,” ungkap Hilmar.

  • Operasi Mengebom Kapal Jepang

    SEIRING meningkatnya penetrasi pasukan Jepang di Asia Tenggara, pada Januari 1942 Belanda memindahkan kesatuan pembom Group 7 ke Pangkalan Udara Manggar (Samarinda II). Grup 7 bertugas melindungi konvoi kapal Belanda dari kapal selam Jepang dan menyerang konvoi kapal Jepang dan pangkalan laut Jepang di Borneo bagian barat. Pada 13 Januari 1942, tiga grup masing-masing tiga pesawat pembom B-10 Glenn Martin menggelar misi penyerangan terhadap armada Jepang di Tarakan. Seorang Indonesia terlibat dalam misi itu: Letnan Suryadi Suryadarma. Sebelum di Group 7, dia menjadi instruktur di Sekolah Penerbang dan Pengintai Kalijati, Jawa Barat. Meski bukan sebagai pilot, impiannya sejak lama, pria kelahiran Banyuwangi itu bertugas sebagai Waarnemer yang berfungsi sekaligus sebagai navigator, observer, perwira pengeboman, dan air liason. Suryadarma, kemudian menjadi KSAP dan KSAU Indonesia pertama, ikut dalam pesawat ketiga bernomor registrasi M-588 yang dipiloti Letnan Penerbang JH Lukkien. Dalam grup itu, dua pesawat lain dipiloti Serma Troost dan Serma WCG Tinkelenberg.

  • Dari Operasi Alpha ke Satria Mandala

    PESAWAT tempur bercorak biru langit terpampang gagah di pelataran depan Museum TNI Satria Mandala. Di sayap pesawat jenis A4 Skyhawk, tertera nomor seri: TT 0438. Pada dekade 1980-an, A4 Skyhawk ini merupakan kekuatan inti penempur TNI AU, terutama untuk misi serangan darat. “Monumen ini didedikasikan kepada senior AU yang pernah berjuang di tahun 80-an untuk menerbangkan A4 Skyhawk,” ujar Kepala Staf Angkatan Udara TNI AU, Marsekal Hadi Tjahjanto dalam sambutan peresmian Monumen Pesawat A4 Skyhawk di Museum TNI Satria Mandala, Jakarta Selatan, 14 Maret 2017. A4 Skyhawk merupakan pesawat pabrikan Douglas Mcdonnell yang diimpor dari Angkatan Udara Israel. Perancangnya adalah Edward Henry Heinemann, insinyur penerbangan kebangsaan Amerika Serikat. Banyak nama panggilan untuk pesawat ini, antara lain: Scooter, Batman, dan Bomber.

  • Operasi Onta Mencegah Masuknya Komunisme dari Timur Tengah

    REZIM Orde Baru didirikan setelah menyingkirkan Sukarno dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dengan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret), Jenderal Soeharto mengeluarkan kebijakan pertama yaitu membubarkan dan melarang PKI. Komunisme terlarang di negeri ini hingga saat ini. Rezim Orde Baru selalu mewaspadai komunisme baik di dalam maupun dari luar termasuk dari Timur Tengah. Di Irak, Suriah, Libya, Mesir, dan Yaman, komunisme pernah mendapat tempat dan memainkan peran politik penting pada 1960-an. Oleh karena itu, intelijen Indonesia menempatkan negara-negara tersebut bersama Uni Soviet, Korea Utara, dan Vietnam Utara, sebagai sumber potensial penyebaran komunisme.

  • Pasukan Penerjun Operasi Naga Kesasar di Hutan Papua

    PADA 22 Juni 1962, pukul 14.00, Letnan Satu dr. Ben Mboi tiba-tiba dibangunkan dari tidur siang di baraknya. Komandan Datasemen Kesehatan Pasukan Khusus (Dandenkes Pasus) itu, menerima panggilan tugas bertempur di Irian Barat (sekarang Papua). Di markas RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat) Cijantung, Ben Mboi menghadap komandan yang akan memimpin operasi militernya, Kapten Benny Moerdani. “Operasi ini, Operasi Naga namanya. Kita akan diterjunkan di Irian Barat bagian selatan. Persisnya dimana, nanti akan dijelaskan,” demikian instruksi Benny dalam Ben Mboi: Memoar Sorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja. “Pergi menuju perang riil seperti Operasi Naga, seolah kita tidak tahu hendak pergi kemana meski pertempurannya pasti,” kenang Ben Mboi melukiskan perasaannya saat itu. “Kita tidak tahu apakah akan terluka atau tidak, akan hidup atau tidak, akan pulang atau tidak. Siapa yang tidak takut?”

  • Operasi Birdcage

    SEKUTU (Inggris) telah merencanakan langkah-langkah untuk menyelamatkan para tawanan dan interniran. Sebelum mengirimkan timnya, yakni Recovery of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) yang dibentuk pada Februari 1945, Sekutu terlebih dahulu melancarkan operasi pendahuluan. Operasi Birdcage ini ditujukan kepada tawanan perang, interniran, dan tentara Jepang. Menurut Christopher Chant dalam The Encyclopedia of Codenames of World War II, Operasi Birdcage merupakan operasi Sekutu menyebarkan pamflet-pamflet ke kamp-kamp di Asia Tenggara (Agustus 1945) untuk memberitahu para tahanan bahwa perang telah berakhir. Pamflet itu juga memerintahkan mereka untuk tetap mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan tentara Jepang sampai pasukan Sekutu mendarat untuk membebaskan mereka dari kamp-kamp. Jim Coyle dalam “End of World War II leaflets,” thestar.com (10 November 2011), menyebut untuk menjaga keselamatan tawanan perang –dan untuk mengangkat semangat mereka– pesawat Liberator membawa kargo berisi pamflet-pamflet dimaksudkan untuk menyebarkan berita kepada tawanan perang bahwa perang telah berakhir dan berjanji akan mengirim pasokan dan menyelamatan mereka sesegera mungkin. Pamflet itu juga memerintahkan tentara Jepang menyerah kepada Sekutu dan memastikan tawanan perang diperlakukan dengan baik.

  • Operasi Culverin, Gagasan Churchill Menginvasi Sumatera

    KEPULAUAN Nusantara dengan letak yang strategis dan kekayaan luar biasa acap menjadi rebutan banyak kekuatan sejak lama, termasuk ketika Perang Pasifik dilancarkan Jepang. Pertempuran-pertempuran dahsyat macam Pertempuran Selat Makassar, Pertempuran Laut Jawa, atau rangkaian pertempuran dalam manuver “Lompat Katak”-nya Jenderal Douglas McArthur pasukan Amerika Serikat (AS) berlangsung di negeri yang kini bernama Indonesia. Arti penting itulah yang mendorong PM Inggris Winston Churchill merencanakan Operation Culverin, invasi ke sejumlah titik penting di Pulau Sumatera. Sebagaimana diuraikan John Ehrmann dalam Grand Strategy Vol. V: August 1943-September 1944, Operasi Culverin –nama meriam kecil yang digunakan banyak negara Eropa pada abad ke-17– tercetus dari mulut Churchill di Konferensi Quadrant di Quebec, Kanada, 20 Agustus 1943. Dia menginginkan adanya operasi pendaratan amfibi di utara Pulau Sumatera pada Mei atau Juni 1944. Desakan itu tak lepas dari keinginannya agar komando Sekutu mau lebih memperhatikan kawasan Asia Tenggara dengan membuka front baru. “Kita harus menyerang dan merebut satu pijakan (di pantai Sumatera) terhadap Jepang, di mana Jepang mesti merebutnya lagi dengan susah payah jika mereka tak ingin perkapalan mereka (di Selat Malaka) terganggu oleh serangan udara dari Sumatera,” cetus Churchill, dikutip Ehrmann.

  • Operasi Bersama Gempur Sumatera

    KOMANDO Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) akan diaktifkan kembali untuk menanggulangi aksi teror. Pengerahan pasukan super elite dari tiga matra ini telah mendapat persetujuan dari Komisi I DPR. Menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Thajanto, pihaknya masih menanti Peraturan Pemerintah (PP) sebagai payung hukum keberadaan Koopsusgab. Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui wakil duta besarnya, Erin Mckee menawarkan bantuan untuk mengungkap dalang aksi terorisme. Kondisi yang persis serupa juga pernah terjadi di masa lalu. Kala itu pemerintah Indonesia tengah dipusingkan dengan gerakan oposisi PRRI. PRRI melibatkan beberapa panglima daerah di Sumatera yang menentang kebijakan pemerintah pusat. Mereka antara lain Kolonel Maludin Simbolon, panglima di Sumatera Utara, Letkol Ahmad Husein, panglima di Sumatera Barat, dan Letkol Barlian di Sumatera Selatan. Untuk menindaknya, TNI menggelar operasi militer dengan sandi “Tegas” meliputi wilayah operasi di Riau pada Maret 1958. “Operasi Tegas untuk merebut daerah perminyakan Riau, yang merupakan sasaran yang diperhitungkan bagi ‘intevensi’ Amerika Serikat,” ujar Abdul Haris Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua. Dalam Operasi Tegas, Nasution yang berpangkat mayor jenderal berkedudukan sebagai ketua Gabungan Kepala Staf (GKS).

  • Operasi Jayawijaya, Kisah Invasi yang Tak Terjadi

    MAYOR Jenderal Soeharto menjadi rombongan terakhir pasukan ABRI yang bergerak dari Ambon menuju Teluk Peling, tempat pertemuan satuan amfibi. Dia menumpang kapal patroli Angkatan Kepolisian diiringi kapal penyapu ranjau dan kapal anti kapal selam milik ALRI. Di gugusan pulau lepas pantai Sulawesi Tengah itu, Soeharto tiba pada 5 Agustus 1962. Reputasi sang jenderal selaku Panglima Komando Mandala dalam pertaruhan. Rakyat Indonesia akan memperingati hari kemerdekaan, sementara Irian Barat masih dikuasai Belanda. “Sesuai dengan tugas yang telah ditentukan, selambat-lambatnya tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih harus sudah berkibar di Irian,” kata Soeharto kepada Ramadhan K.H dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Di Teluk Peling, semua unit armada laut yang tergabung dalam Angkatan Tugas Amfibi (ATA) 17 sudah siap siaga. Penyerbuan tinggal menunggu perintah Panglima Tertinggi. Soeharto harap-harap cemas. Jakarta masih belum memberikan keputusan. Perang terbuka di depan mata sementara jaminan menang belum pasti.

  • Kejanggalan Operasi Mapenduma

    KALA Kopassus yang dipimpin Brigjen Prabowo Subianto bersiap untuk misi pembebasan sandera Tim Ekspedisi Lorentz ‘95 di Papua, seorang anak buahnya malah bikin ulah. Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum operasi militer dilancarkan. Insiden berdarah telah menyeret nama Letnan Sanurip. Pada 15 April 1996, Sanurip, seorang penembak runduk Kopassus, menembaki orang-orang di lapangan terbang Timika. Atas aksinya, sepuluh tentara – termasuk Letkol Adel Gustinigo, Komandan Den-81 yang saat itu menjadi perwira kepercayaan Prabowo -, empat warga sipil, dan seorang pilot maskapai Twin Otter berpaspor Selandia Baru tewas. Sementara korban yang mengalami luka sebanyak sepuluh tentara dan tiga warga sipil. Sanurip sejatinya adalah seorang instruktur penembak runduk yang akan diterjunkan dalam operasi. Namun kemudian dia tidak dilibatkan. Pihak ABRI mengatakan, Sanurip stres dan berlaku laiknya koboy lantaran kecewa namanya tak masuk rencana operasi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page