Hasil pencarian
9845 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perang Tanding di Iwo Jima (2)
LETNAN Jenderal Tadamichi Kuribayashi memiliki sikap dan strategi yang sangat berbeda dengan Letnan Jenderal Yoshitsugu Saito, koleganya dari Divisi ke-43 Tentara Kekaisaran Jepang yang memimpin perang di Saipan. Jika Saito membolehkan sake (minuman keras khas Jepang) beredar di bunker-nya, maka Kuribayashi melarang sama sekali anak buahnya meminum setetes pun sake selama berhadapan dengan tentara AS di Iwo Jima. Sebelum membangun pertahanan di Iwo Jima, Kuribayashi memerintahkan agar penduduk sipil menyingkir ke daratan Jepang. Dia meyakini bahwa sebuah pangkalan militer harus terbebas dari penduduk sipil karena mereka dianggap hanya akan menghambat suatu operasi militer yang besar. Sang jenderal juga menabukan kehadiran perempuan penghibur di basis pertahanannya. “Dia berpendapat perempuan penghibur hanya akan menghancurkan moral para prajuritnya,” ungkap R.S. Boender dalam Terhempas Prahara ke Pasifik . Kuribayashi sangat mafhum jika para prajuritnya tidak hanya harus membangun benteng pertahanan yang tangguh, namun mereka pun harus memiliki mental sekuat baja. Terlebih mereka akan melakukan perlawanan dari bawah tanah dalam jangka waktu yang tak terhingga. Perasaan bosan dan putus asa tentu saja harus dienyahkan. Mengapa sang jenderal lebih memilih pasukannya untuk membangun benteng-benteng beton di bawah tanah? Lewat suatu riset yang panjang, Kuribayashi meyakini pulau yang ditutupi pasir hitam Gunung Suribachi dan dipenuhi karang itu akan kuat menahan bom-bom AS. Dan keyakinannya itu memang menemukan kebenaran di lapangan. Sebelum mendaratkan pasukannya ke pantai Iwo Jima, pesawat-pesawat B-29 AS telah membombardir pulau tersebut selama 72 hari berturut-turut. Tidak cukup itu, kapal-kapal perang Angkatan Laut AS tiga hari sebelum D-day juga ikut menghajar Iwo Jima dengan ribuan ton peluru. Namun ajaibnya benteng pertahanan yang dibangun oleh para prajurit Divisi ke-109 tetaplah utuh. Upaya identifikasi pertahanan Jepang yang dilakukan oleh Angkatan Udara AS dari atas juga seolah tak menemui hasil. Karena kemahirannya dalam ilmu penyamaran, sarang-sarang senapan mesin dan meriam tersamarkan oleh sekumpulan tanaman bunga yang beraneka ragam. “Foto yang diambil oleh pesawat pengintai tak ada gunanya,” ungkap P.K. Ojong dalam Perang Pasifik . Jumat, 16 Februari 1945 mulailah Armada ke-5 AS bergerak ke Iwo Jima. Tiga hari kemudian mereka mendaratkan pasukannya di pantai berpasir hitam tersebut. Menurut informasi resmi Museum Nasional Perang Dunia II, lebih dari 70.000 prajurit USMC (Korps Marinir Amerika Serikat) pimpinan Letnan Jenderal Holland M. Smith diturunkan guna menghadapi 23.000 anak buah Letnan Jenderal Kuribayashi. Pendaratan mereka pada awalnya berjalan mulus. Namun begitu jarum jam menunjukan angka 9, senapan mesin dan meriam-meriam Jepang mulai menyalak seolah dengan suara-suara itu mereka ingin menghantarkan neraka kepada para marinir tersebut. Para penyerbu yang bertiarap lalu bergerak dengan tubuhnya memang selamat dari hajaran senapan mesin. Namun begitu mortir raksasa Jepang yang memiliki diameter 320 mm menyalak, maka para perangkak pun tak bisa berbuat apa-apa selain harus menerima hantaman peluru mortir dan pecahannya. Dalam hantaman pertama ratusan prajurit marinir langsung berjatuhan. Sebagian besar dari mereka langsung tewas di tempat. Panik yang menggila meliputi pasukan marinir kala itu. Dalam situasi tersebut, keunggulan teknik militer AS sama sekali tak berguna. Mereka hanya bisa menembakan senjatanya secara membabibuta karena musuh yang mereka harus hadapi tidak terlihat seorang pun. Berbeda dengan kolega-koleganya di palagan Pasifik lainnya, Kuribayashi sama sekali “mengharamkan” pasukannya untuk melakukan serangan banzai . Mereka diperintahkan untuk tinggal di dalam benteng pertahanan sembari menghabisi musuh sebanyak-banyaknya. Praktis pasukan marinir harus merebut tanah Iwo Jima secara permeter, benteng perbenteng sambil merangkak dengan perut. Itu pun terjadi dengan korban yang sangat banyak. Akibat tembakan meriam kaliber 320 mm, sebagian besar korbannya tewas dengan kondisi luka yang mengerikan. “Belum pernah saya melihat tubuh-tubuh yang begitu rusak di Pasifik seperti di Iwo Jima,” ungkap jurnalis perang Robert Sherrod dalam laporannya di majalah Time, 5 Maret 1945. Awal Maret 1945, perlawanan pasukan Jepang mulai mereda. Pertempuran kemudian hanya dilanjutkan dengan operasi-operasi pembersihan semata. Selama hampir sebulan, Pertempuran Iwo Jima telah mengorbankan hampir 27 ribu prajuritnya dengan rincian: 6.821 orang tewas dan 20.000 lainnya terluka parah, cacat dan menjadi gila. Sementara itu di pihak Jepang, dari 23.000 prajurit hanya sekira 200 orang yang bisa ditangkap hidup-hidup dan menjadi tawanan. Menurut Boender, sebagian besar dari tawanan itu bukanlah orang Jepang melainkan orang Korea dan Taiwan. Kuribayashi sendiri “dicurigai” telah tewas di ujung utara dari Iwo Jima. Secara fisik, jasadnya tak pernah teridentifikasi oleh pasukan AS. Hal itu terjadi karena seluruh mayat tentara Jepang yang ditemukan di bunker-bunker tersebut sama sekali tak beridentitas dan tanda pangkatnya secara sengaja dimusnahkan. Dalam memoirnya, Coral and Brass , Jenderal Holland Smith mengenang Kuribayashi sebagai musuh yang sangat cerdik, kuat dan pantang menyerah. Dalam nada kagum, dia menyatakan bahwa jika pihak Jepang memiliki berbagai bintang jasa maka sudah sepatutnya Kuribayashi mendapatkan semua bintang-bintang itu. Bahkan kepada jurnalis perang Robert Sherrod, seorang perwira AS pernah mengatakan tak berharap Jepang akan melahirkan kembali manusia seperti Kuribayashi.*
- Putra Mahkota yang Terbuang
CURHAT Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle, kepada Oprah Winfrey di sebuah program stasiun televisi CBS belum lama ini mengguncang internal Kerajaan Inggris. Dalam acara yang dibuat pada 7 Maret 2021 itu, keduanya curhat banyak, mulai dari isu rasisme, media-media Inggris yang melacak latar belakang keluarga Meghan, hingga kekangan yang bikin depresi Meghan selama berada di lingkungan kerajaan. “Dalam bulan-bulan saya sedang hamil, semuanya dalam waktu bersamaan, kami mengadakan pembicaraan bersama saya dan Harry (dengan anggota kerajaan senior), bahwa dia (bayi di kandungan Meghan) takkan diberi gelar dan juga pembicaraan mengenai seberapa gelap warna kulitnya saat lahir,” kata Meghan kepada Oprah. Hal itu diverifikasi Oprah saat Harry bergabung dalam wawancara itu. Harry membenarkannya meskipun tak mau menyebutkan siapa saja yang ditengarai melontarkan pertanyaan berbau rasisme itu. Harry hanya ingin berbagi perasaan, betapa ia dan Meghan begitu terkekang di dalam istana. “Saya terjebak di dalam sistem, sebagaimana keluarga saya. Ayah dan kakak saya (Pangeran Charles dan Pangeran William) keduanya juga terjebak. Mereka tidak bisa pergi dan saya merasa sangat kasihan soal itu. Semua senyum di depan kamera tak lain adalah bagian dari tugas (sebagai anggota kerajaan),” aku Harry. Bagi pihak istana, apa yang dicurahkan Harry dan Meghan kepada Oprah tak lebih dari sekadar tudingan. Pihak Istana memberi pernyataan: “Segenap keluarga merasa sedih mendengar apa yang dialami Harry dan Meghan beberapa tahun terakhir ini. Isu-isu yang dikemukakan, terutama tentang ras, sangat mengkhawatirkan. Sementara beberapa ingatan akan klaim itu mungkin berbeda dan oleh karenanya menjadi perhatian serius kami dan akan ditangani oleh keluarga secara privat. Harry, Meghan, dan Archie (putra Harry-Meghan) akan selalu dicintai oleh anggota keluarga,” demikian bunyi pernyataan tertulis istana, dilansir CNBC , 9 Maret 2021. Pernyataan pihak istana itu langsung dibantah Pangeran William kala dicecar wartawan saat mengunjungi sebuah sekolah di London Timur. “Yang pasti kami bukanlah keluarga yang rasis. Saya belum bicara pada dia (Harry), namun akan segera saya lakukan,” ujarnya sebagaimana dikutip Variety , 11 Maret 2021. Tak ayal, klaim Harry dan Meghan menuai pro dan kontra, khususnya di Inggris. Kegegeran itu seolah jadi klimaks pasca-mundurnya putra mahkota setelah Charles dan William itu dari kehidupan istana pada Januari 2020. Kontroversi Harry ibarat mengulang kisah yang dilakukan kakek buyutnya, Raja Edward VIII. Edward Melawan Arus Bernama lengkap Edward Albert Christian George Andrew Patrick David, putra sulung Raja George V ini jadi putra mahkota garis pertama dan langsung menggantikan sang ayah yang meninggal pada 20 Januari 1936. Sebagai penerus, ia tetap mempertahankan namanya dan memilih gelar Raja Edward VIII. Sejarawan Philip Ziegler dalam King Edward VIII: The Official Biography mengungkapkan, sudah banyak tradisi lama yang ia langkahi sejak hari-hari pertamanya sebagai raja. Seperti menjadi anggota kerajaan pertama yang datang ke Dewan Penobatan di Istana St. James, London dengan pesawat yang terbang dari Sandringham. Ia juga menyaksikan proklamasi penobatannya dari balik jendela istana tersebut. “Pendekatan yang tidak lazim dengan perannya juga menyangkut gambar uang koin yang terpahat gambar dirinya. Dia melanggar tradisi dengan gambar di koin yang menghadap berlawanan dengan para pendahulunya. Edward bersikeras ingin wajahnya menghadap ke kiri hanya untuk memperlihatkan belahan rambutnya,” imbuh Ziegler. Puncak laku kontroversialnya adalah ketika Edward menyampaikan rencananya menikahi kekasihnya, Wallis Simpson, pada Perdana Menteri (PM) Inggris Stanley Baldwin. Hal itu menjadi problem karena Wallis masih berstatus sebagai istri orang meski sedang dalam proses cerai. Terlebih, tradisi dari Gereja Inggris melarang seorang raja Inggris menikahi janda dari proses cerai. “Sebagai raja, Edward juga memegang gelar kepala Gereja Inggris dan para agamawan berharap Edward menaati tradisi itu. Jika tidak, Uskup Agung Cosmo Gordon Lang meminta Edward turun takhta,” ungkap Robert Pearce dan Graham Goodlad dalam British Prime Minister From Balfour to Brown. Empat putra mahkota Inggris, ki-ka: Pangeran George, Pangeran Edward, Pangeran Albert yang lantas jadi Raja George VI & Pangeran Henry. ( npg.org.uk ). Agar tetap bisa bertakhta, Edward menawarkan kompromi berupa dia dan Wallis akan menjalani pernikahan morganatik. Dengan begitu, Edward tetap bisa jadi raja namun Wallis takkan digelari permaisuri. Pun anak-anak mereka kelak, juga takkan punya gelar setara anggota kerajaan senior. Kerabat kerajaan pun geger. Negeri-negeri persemakmuran seperti Australia, Kanada, Irlandia, Afrika Selatan, dan Selandia Baru pun sama. Alhasil, PM Baldwin memberi Edward tiga opsi: batal menikahi Wallis, menikah tanpa persetujuan para perdana menteri, atau turun takhta. Edward memilih opsi ketiga. Pada 10 Desember 1936, Edward menyerahkan takhtanya kepada adiknya, Pangeran Albert (George VI), kendati belum setahun berkuasa. Edward lantas menerima gelar lamanya lagi, Duke of Windsor, gelar yang dibuat sang adik untuk sang kakak. “Mustahil bagi saya untuk memanggul tanggung jawab yang besar dan melepaskan tugas saya sebagai raja sebagaimana keinginan saya tanpa bantuan dan dukungan perempuan yang saya cintai. Keputusan ini adalah keputusan saya pribadi,” ujar Edward dalam pidato radionya pada 11 Desember 1936 malam, dikutip arsip yang diunggah di laman resmi kerajaan . Kontroversi Politik Edward harus menerima pengasingannya selama dua tahun di Prancis. Pada 3 Juni 1937 di Château de Candé, Tours, Prancis, Edward meminang Wallis setelah kekasihnya itu resmi bercerai dari suaminya, Ernest Aldrich Simpson. Pernikahan itu tidak dihadiri anggota Kerajaan Inggris. Pelanggaran terhadap larangan kerajaan menimbulkan konsekuensi besar bagi finansial Edward. Properti Edward di Wisma Sandringham dan Puri Balmoral diambil alih Raja George VI. Untuk hidup sehari-hari, Edward hanya diberikan sokongan sebesar 300 ribu poundsterling per tahun. Lalu, masa pengasingannya akan diperpanjang sampai waktu yang tak ditentukan dan jika memaksapulang ke Inggris tanpa undangan raja, aliran dana tahunan itu akan disetop sepenuhnya. Kegetiran itu sedikit-banyak “memupuk” pikiran politik Edward mengenai situasi Eropa saat itu. Jika pihak kerajaan sedang mewaspadai kebangkitan Jerman di tangan Kanselir Adolf Hitler, Edward justru bersimpati dan berpikir bahwa fasisme yang diusung Hitler bisa jadi senjata pamungkas untuk membendung arus komunisme dari Uni Soviet. Pangeran Edward, Duke of Windsor bersama istrinya, Wallis Simpson. ( npg.org.uk ). Seperti menampar wajah sang adik, Edward dan Wallis bahkan berkenan menerima undangan Dr. Robert Ley, pemimpin Front Buruh Jerman yang jadi undebouw Partai Nazi, untuk melawat ke Jerman sepanjang 11-23 Oktober 1937. Kunjungan itu akan jadi momen yang ditunggu-tunggu Hitler. “Pemerintahan Jerman percaya bahwa (Duke of) Windsor dipaksa turun takhta sebagai imbas dari pandangan pro-Nazi dan itu makin mendorong keinginan mereka untuk menggelar karpet merah bagi sang pangeran,” tulis sejarawan Andrew Roberts dalam The House of Windsor. Hitler, Ley, dan Joachim von Ribbentrop (duta besar Jerman untuk Inggris) segera menyiapkan rencana penyambutan laiknya perjamuan kenegaraan. Sementara, Buckingham dan Downing Street (kantor PM Inggris) memberikan kecaman kendati tahu kunjungan itu bersifat pribadi. Edward tetap tutup kuping menanggapinya. “Edward dan Wallis datang dengan keretaapi ‘Nord Express’ dari Prancis dan tiba di Stasiun Friedrichstraße, Berlin pada Senin pagi, 11 Oktober. Sang Duchess (Wallis) berpenampilan dengan sejumlah perhiasan dan berdandan sebaik mungkin laiknya anggota kerajaan. Mereka disapa Ley sebagai delegasi penyambutan yang termasuk di dalamnya Von Ribbentrop dan Gauleiter (kepala cabang Partai Nazi) Berlin, Arthur Gorlitzer. Ley yang menyapa, mencium tangan sang Duchess, dan menyebutnya: ‘Yang Mulia’,” ungkap Susana de Vries dalam Royal Mistresses of the House of Hanover-Windsor: Secrets, Scandals and Betrayals. Salah satu agenda kunjungan Pangeran Edward di Jerman. (Bundesarchiv). Di luar stasiun, sekira dua ribu warga berkerumun ingin menyambut Edward dan Wallis. Tak ketinggalan barisan wartawan. Ley lantas mendampingi Edward dan Wallis beristirahat di hotel yang mereka sediakan di Kaiserhof sebelum menjalani agenda pertama, jamuan makan malam di Restoran Horcher’s. Di gala dinner pada malam 11 Oktober itu, Edward dan Wallis disambut Inspektur Tata Kota Albert Speer serta Menteri Propaganda Joseph Goebbels bersama istrinya, Magda. “Sang pangeran sosok yang rupawan –kawan yang baik dan simpatik serta punya pemikiran terbuka. Sangat disayangkan ia bukan lagi seorang raja. Bersamanya, kami (Jerman-Inggris) bisa membantu persekutuan,” kata Goebbels dalam buku hariannya yang dikutip J. Petropoulos dalam Royals and the Reich: The Princes von Hessen in Nazi Germany. Agenda Edward dan istrinya yang didampingi Ley kemudian berisi peninjauan perkembangan industri otomotif, transportasi, dan militer Jerman. Agenda puncaknya, 22 Oktober, bersua Hitler di Berghof –kediaman Hitler di Berchtesgaden, Bavaria. Saat bertemu, Edward dengan senang hati memberi salam khas Nazi. Itu dilakukannya sebagai balasan dari kebaikan yang diterima Edward dan istrinya. “Dia (Wallis) diperlakukan seperti putri kerajaan, tidak seperti keluarga Kerajaan Inggris memperlakukan dia sebagai orang luar dan buangan. Para aristokrat Jerman juga akan selalu menunduk sebagai tanda hormat kepadanya dan dia diperlakukan dengan segala martabat dan status yang pantas ia dapatkan, sebagaimana yang diinginkan sang pangeran (Edward),” singkap Andrew Morton dalam Wallis in Love: The Untold Life of the Duchess of Windsor, the Woman Who Changed the Monarchy. Adolf Hitler kala menjamu Pangeran Edward dan Wallis, Duchess of Windsor di Berghof. (Bibliothèque Nationale de France). Sementara Wallis menikmati jamuan teh ditemani menteri zonder portofolio Rudolf Hess, Edward berbicara privat dengan Hitler selama sejam di ruangan lain. Edward dan Hitler larut dalam pertukaran pandangan tentang situasi geopolitik terkini. Edward disebutkan mendukung niat Hitler untuk berekspansi ke Eropa Tengah dan Eropa Timur. Hitler, sebagaimana diungkapkan Ziegler, sangat terkesan dengan sosok Edward. Hanya satu hal pada Edward yang tak disenangi Hitler, yakni keinginan Edward untuk bicara didampingi penerjemah ketimbang bicara langsung dengan bahasa Jerman. Hitler tahu bahwa Edward bisa berbahasa Jerman dengan fasih. Di awal masa perang, Edward yang ditunjuk pihak kerajaan sebagai penghubung British Military Mission di Prancis, masih punya simpati pada Jerman. Namun, kemudian ia harus mengungsi dari Paris ke selatan, hingga ke Spanyol dan Portugal ketika Prancis sudah diduduki Jerman. Edward lalu ke Kepulauan Bahama dan diangkat jadi gubernur jenderal kepulauan itu pada Juli 1940. Baginya, itu adalah jabatan buangan. Pada akhir perang, Edward dan Wallis bisa kembali ke Prancis. Mereka hidup sederhana dan tak pernah lagi muncul di media selama beberapa waktu. Baru pada 1955 Edward dan Wallis jadi sorotan media Amerika kala mengunjungi Presiden Dwight Eisenhower di Gedung Putih. Pada 1970 Edward kembali jadi berita dalam kunjungan ke tempat yang sama atas undangan Presiden Richard Nixon. Sampai akhir hayatnya, Edward tetap jadi eksil.Hanya jasadnya saja yang lantas dipulangkan ke Inggris pascawafat pada 28 Mei 1972 di kediamannya di Paris pada usia 77 tahun. Jasadnya disemayamkan di Kapel St. George’s di Kastil Windsor sebelum dikebumikan di Royal Burial Ground pada 5 Juni 1972.
- Perang Tanding di Iwo Jima (1)
KETIKA kali pertama diluncurkan pada 2 Februari 2007, film Letters from Iwo Jima mendapat sambutan luar biasa dari publik Amerika Serikat (AS). Antusiasme itu semakin terlihat manakala setelah penayangan perdana tersebut banyak orang AS dan Jepang yang mengajukan izin untuk mengunjungi Pulau Iwo Jima. Demikian keterangan yang dilansir IMDb.com , situs mengenai konten film, televisi dan selebritas paling otoritatif dan populer di dunia. Letters from Iwo Jima berkisah tentang pertempuran antara para prajurit Jepang dengan tentara AS di Pulau Iwo Jima pada Februari-Maret 1945. Namun berbeda dengan film padanannya, Flags of Our Fathers , film kolosal yang dikeluarkan Hollywood itu lebih melihat peristiwa tersebut dari sisi Jepang. Dalam sejarah Perang Dunia II, pertempuran Iwo Jima memang merupakan bentrok paling alot di Pasifik. Menurut Mark Khan dalam The Battle of Iwo Jima: Raising the Flag, February—March 1945 , itu sejenis perang tanding yang jatuhnya korban di kedua belah pihak nyaris sama besarnya. R.S. Boender, orang Indonesia yang terlibat dalam Perang Pasifik (di pihak AS) mengakui bahwa dibandingkan palagan lainnya, pertempuran di Iwo Jima adalah yang tersulit. Mau tidak mau, militer AS harus mengakui kebrilyanan taktik perang Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi. “Dia menciptakan medan bertangga dari beton yang tak bisa ditembus oleh kendaraan lapis baja, kecuali oleh jumlah pasukan yang berganda dengan semangat perang habis-habisan,” ungkap Boender dalam otobiografinya, Terhempas Prahara ke Pasifik (disusun oleh Hanna Rambe). Iwo Jima merupakan pulau kecil. Luasnya hanya 8 mil persegi. Kendati demikian, dalam pertarungan AS vs Jepang di Pasifik, pulau tersebut memiliki arti yang sangat penting karena merupakan pintu gerbang menuju Tokyo. Saipan memang telah dikuasai oleh pasukan AS Desember 1944. Namun untuk melakukan operasi pemboman ke Tokyo, jarak Saipan-Tokyo masihlah terlalu jauh yakni sekira 1.200 mil. Dalam jarak sejauh itu, pesawat pemburu tidak akan berdaya melindungi pesawat pembom B-29, kecuali “para pemburu” itu dilepas dari sebuah kapal induk yang berlayar lebih dekat ke daratan Jepang. “Kekurangan ini akan hilang sama sekali, kalau Iwo Jima yang letaknya di tengah-tengah antara Tokyo dan Saipan juga berada dalam pengawasan Sekutu,” ungkap P.K. Ojong dalam Perang Pasifik. Karena perhitungan itu pula, militer AS pada akhirnya memutuskan untuk menguasai Iwo Jima. Mereka kemudian mengirimkan tim intelijen dari laut dan udara untuk mengamati medan pulau yang pantainya berpasir hitam tersebut. Hasil pengamatan itu menyimpulkan bahwa Iwo Jima bisa dikuasai dalam lima hari. Sementara itu pihak Jepang sendiri sangat paham jika Iwo Jima memang layak dipertahankan. Menurut salah satu eks staf Kuribayashi bernama Mayor Horie, ketika prajurit-prajurit AS mendarat di Saipan pada 15 Juni 1944, Jepang mulai memperkuat kedudukannya di Iwo Jima. Lima belas hari kemudian, Daihonei (markas besar Kekaisaran) mengangkat Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi sebagai komandan Divisi ke-109, langsung di bawah kendali Tokyo. Hingga 1 Februari 1945, ada sekira 23.000 pasukan Jepang di Iwo Jima. Namun demikian, persedian logistik untuk mereka sangatlah minim. “Ada persediaan beras untuk 70 hari dan makanan lain untuk 60 hari,” ungkap Horrie seperti dikutip oleh Walter Karig dan kawan-kawan dalam Battle Report (V). Kondisi itu semakin mengkhawatirkan karena di Iwo Jima, ketersediaan air layak minum sangatlah kurang. Bahkan untuk menghemat persediaan air bersih yang ada, untuk keseharian sebelum pertempuran terjadi, mereka terpaksa mengkonsumsi air hujan. Dengan kondisi seperti itu, wajar apabila kondisi fisik para prajurit Divisi ke-109 hampir 20% tidak memenuhi syarat untuk pergi bertempur. “Banyak yang sakit typhus ,” ungkap Horrie. Situasi itu menyebabkan sebagian perwira diam-diam menjadi pesimis akan memenangi peperangan. Mereka berpikir, jika Jepang tidak memiliki lagi armada laut dan udara, maka kemungkinan besar AS akan menguasai Iwo Jima hanya dalam waktu sebulan. Maka muncullah ide gila itu: Iwo Jima lebih baik ditenggelamkan saja. Ide itu ditentang habis oleh Kuribayashi. Dia berpendapat bahwa untuk menenggelamkan Iwo Jima diperlukan banyak bahan peledak yang sejatinya justru diperlukan guna melawan serbuan tentara AS. Maka keluarlah ketentuan dari sang jenderal yang menetapkan tiap serdadu Jepang harus menganggap posisi pertahanannya sebagai kuburannya sendiri. Mereka harus bertempur semaksimal mungkin dan merusak musuh sebanyak mungkin. “Kami bermaksud membuat lubang di bawah tanah sepanjang 18.000 meter,” ujar Horrie. Rencana itu pun dimulai sejak Desember 1944. Sayang, ketika para marinir AS mulai berdatangan ke Iwo Jima, terowongan bawah tanah itu baru selesai 5.000 meter saja!*
- Mengintip Praktik Santet
Santet atau ilmu teluh bertujuan untuk mencelakai orang yang tidak disukai dengan mengirimkan energi negatif dari jarak jauh.
- Bertahan Hidup di Tanah Bencana
Liangan, berjarak 8 km dari Puncak Sindoro. Menyimpan jejak peradaban yang tumbuh fase demi fase sejak abad ke-6. Namun, erupsi hebat Gunung Sindoro menguburnya pada abad ke-11. Liangan merupakan kompleks permukiman di lereng timur laut Gunung Sindoro, tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs arkeologi ini terdiri dari permukiman luas dan kompleks. Di dalamnya ditemukan hunian, peribadatan, dan pertanian. Sugeng Riyanto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta dalam “Situs Liangan: Ragam Data, Kronologi, dan Aspek Keruangan”, Berkala Arkeologi Vol. 35 Edisi No. 1 Mei 2015, menjelaskan erupsi Gunung Sindoro menyebabkan Situs Liangan terkubur oleh aliran piroklastik bercampur dengan awan panas dan aliran lava yang terus berlangsung itu kemudian disusul dengan aliran lahar dingin dan membentuk Kali Langit yang akhirnya memisahkan bangunan-bangunan di Situs Liangan yang awalnya satu kesatuan. Ketebalan material vulkanis hasil erupsi Sindoro akhirnya memendam Liangan hingga sedalam antara 7-10 m. Materialnya beragam, dari abu vulkanik, pasir, kerikil, kerakal, hingga bongkah-bongkah batu yang sangat besar. Namun, apa yang terjadi di Liangan sepuluh abad lalu itu bisa dikatakan merupakan bencana tanpa korban jiwa. Pasalnya, tak ditemukan data yang bisa menunjukkan hal itu. Berkaitan dengan Mataram Kuno Situs Liangan atau versi masyarakat disebut Liyangan, oleh Sugeng Riyanto dalam “Situs Liangan dalam Bingkai Sejarah Mataram Kuno”, Berkala Arkeologi Vol. 37 Edisi No. 2 November 2017, dikaitkan dengan Layang. Layang adalah daerah tingkat watak yang dikuasai oleh Raka i Layang Dyah Tlodhong. Menurut Sugeng, kendati masih diperlukan kajian lebih mendalam, kata layangan dan liyangan sangat dekat. Ini pun menjadi pertimbangan untuk mengatakan bahwa Liyangan adalah Layang, daerah yang menjadi tempat asal Dyah Tlodhong. “Jika itu benar, Situs Liangan merupakan daerah watak yang salah satu penguasanya, Dyah Tlodhong, menjadi raja Mataram menggantikan Pu Daksa,” catat Sugeng. Pada masa Jawa Kuno dikenal tiga satuan wilayah pemerintahan. Ada wanua, watak , dan pusat kerajaan. Wanua adalah satuan terkecil setingkat desa. Pemimpinnya disebut Rama. Wanua-wanua mengumpul menjadi sebuah satuan wilayah yang disebut watak. Watak dipimpin oleh seorang Rakai. Watak adalah sebuah wilayah otonom. Ia memiliki pemerintahan sendiri yang mengurus segala keperluan wanua-wanua di bawahnya. Di atas watak terdapat pusat kerajaan yang dipimpin oleh seorang Maharaja. Setelah menjadi penguasa di watak Layang, Rakai Layang Dyah Tlodhong diangkat menjadi putra mahkota. Dyah Tlodhong naik takhta menggantikan Mpu Daksa yang merebut singgasana dari kekuasaan Balitung sekira 908 M. Ia selanjutnya menjadi raja Mataram dari 918/919 hingga 928. Setelah ditinggalkan oleh Tlodhong yang menjadi raja Mataram, daerah Layang kemungkinan diperintah oleh kerabat Tlodhong. Daerah ini terus ada bahkan setelah Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Jawa Timur pada 929 M. Permukiman dan peradaban di Layang akhirnya berhenti setelah muntahan material letusan dahsyat Gunung Sindoro menguburnya. “Belum dapat dipastikan kejadiannya namun mestinya setelah pertengahan abad ke-11,” catat Sugeng. Jalanan kuno di Situs Liyangan. (Dok. Kemendikbud). Membaca Pertanda Letusan itu dahsyat. Tapi, seperti ditulis Sugeng Riyanto dalam Situs Liyangan dan Sejarahnya , masyarakat Liangan kuno mampu menyingkir sebelum kejadian. “Mereka rupanya dapat menebak dengan jitu melalui tanda-tanda yang diketahui secara turun-temurun, pengetahuan berdasarkan pengalaman selama ratusan tahun bermukim di lereng Sindoro,” catatnya. Selama masyarakat Liangan menetap di lereng gunung itu tentunya telah terjadi beberapa kali letusan. Kendati tak besar, kejadian itu lalu diingat pertandanya hingga menjadi pengetahuan yang dimiliki masyarakat Liangan kuno. Pengetahuan itu nantinya sangat bermanfaat terutama dalam membaca tanda-tanda menjelang letusan dahsyat, yang kemudian membuat mereka bisa menyelamatkan diri. Bukan hanya nyawa mereka, tetapi juga harta benda dan ternak. “Itulah sebabnya selama diteliti, tak dijumpai adanya korban jiwa maupun hewan ternak, tak juga benda berharga di situs itu,” catat Sugeng. Sementara itu, Baskoro Daru Tjahjono, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi daring yang diadakan Balai Arkeologi Yogyakarta berjudul “Ketahanan Pangan pada Masa Jawa Kuna”, Rabu (10/3/2021), mengatakan orang Liangan sadar mereka tinggal di daerah rawan bencana, letusan gunung api, rawan longsor, banjir bandang, dan gempa bumi. Menyadari hal itu mereka pun menyiapkan diri melalui sistem ketahanan pangan yang baik. Masyarakat Liangan diberkati alam yang subur karena berada di lereng gunung berapi yang aktif. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan mereka mengolah tanah untuk area pertanian. Hasilnya melimpah. Tak habis dalam sehari. Mereka pun menyimpan hasil panen itu di dalam lumbung. Selain untuk menyimpan persediaan makanan, lumbung padi juga untuk persembahan upacara dari masyarakat. Menurut Baskoro, temuan lumbung padi di Situs Liangan mengindikasikan masyarakat Liangan pada masa Mataram Kuno telah mampu menjaga ketersediaan pangan dalam waktu yang cukup lama “Ketahanan pangan ini penting untuk persediaan maupun untuk menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi,” kata Baskoro. Bagaimana pun Gunung Sindoro telah menyediakan kebutuhan dasar bagi masyarakat untuk membangun hunian dan mendorong terbentuknya permukiman Liangan kuno. Namun pada akhirnya Gunung Sindoro pula yang menghentikan peradaban itu dengan muntahan laharnya.
- Allied dan Kisah Mata-Mata Perempuan di Tengah Perang
SUATU hari di sebuah padang pasir di Maroko tahun 1942, Komandan Wing (setara letnan kolonel) Angkatan Udara Kanada Max Vatan (diperankan Brad Pitt) mendarat dengan parasutnya. Dengan sabar, sang mata-mata itu menanti agen penghubung yang menjemput dan mengantarnya ke sebuah hotel mewah di Kasablanka. “Dia mengenakan gaun ungu. Carilah (petunjuk gambar) burung kolibri,” pesan sang agen penghubung kepada Max, menjelaskan bahwa orang yang dimaksud adalah mata-mata asal La Résistance (gerakan perlawanan Prancis) yang akan bermitra dengan Max demi suatu misi genting. Saat masuk ke hotel tersebut, tampak sekumpulan orang Prancis elite yang tengah bercengkerama. Salah satu perempuan tengah duduk membelakangi Max dan mengenakan gaun ungu dan selendang bergambar kolibri. Orang itulah yang akan jadi partnernya. Sosok jelita itu, Marianne Beauséjour (Marion Cotillard), sempat bikin Max tertegun. Maka saat Max menyapanya, Marianne segera memeluknya. Kepada teman-teman sosialita yang tengah berkumpul itu, Marianne memperkenalkannya sebagai sang suami dengan nama samaran Maurice Berne, pemilik tambang fosfat asal Paris. Insyaf bahwa bahasa Prancis Max alias Maurice lebih kental logat Québec (Kanada) ketimbang Paris dan khawatir tepergok kawan-kawannya yang pro-Nazi, Marianne berinisiatif langsung mengajak Max pulang. Di rumah persembunyian mereka, Marianne perlahan mengajarkan Max logat Paris dan etiket umum pria asal Paris agar bisa lebih berbaur jelang pesta makan malam di kediaman Duta Besar Jerman untuk Prancis Vichy di Kasablanka. Seiring perencanaan misi untuk membunuh sang dubes, Max jatuh hati pada Marianne. Hal ini kelak memperumit situasi di tengah gejolak Perang Dunia II. Alur cerita lantas beringsut ke Hari-H pesta di kediaman dubes Jerman. Hari tersebut menentukan misi keduanya. Urusan hati di antara keduanya mesti mereka sisihkan dulu. Adegan Max Vatan yang menikahi Marianne setelah melakoni misi bersama. (Paramount Pictures). Sesuai rencana, dua pucuk senapan mesin ringan sten-gun sudah disiapkan di bawah meja sampanye. Lantas begitu sang dubes muncul, sontak Max dan Marianne membalikkan meja dan mengambil sten-gun itu untuk dibidikkan ke sang dubes. Setelah sang dubes tumbang hingga tewas, keduanya gerak cepat menembaki penjaga dan berhasil kabur dengan selamat. Aksi itu menjadi sebagian adegan pembuka yang diracik sutradara Robert Zemeckis dalam film thriller perang bertajuk Allied. Puncak ceritanya dipilih sang sineas lewat adegan kala Max meminta izin atasannya, Kolonel Frank Heslop (Jared Harris), untuk bisa membawa Marianne ke London. Kendati Heslop sudah mewanti-wanti bahwa hubungan asmara yang lahir dari gejolak perang takkan pernah berujung manis, Max tetap mengajak Marianne ke London setelah diizinkan atasannya. Keduanya lalu menikah dan punya seorang putri. Segalanya berjalan indah bagi Max hingga suatu hari di tahun 1944, ia dipanggil seorang petinggi intelijen Inggris, SOE (Special Operation Executive). Sang petinggi SOE menduga Marianne adalah agen ganda Jerman. Max syok dan tak percaya. Untuk menguak benar-tidaknya Marianne adalah agen ganda yang bekerja untuk Abwehr (intelijen militer Jerman), Heslop dan petinggi SOE menginstruksikan Max menjalankan operasi “Blue Dye”. Arahannya, Max akan menerima sebuah informasi palsu di rumahnya dan jika staf pencegat kode SOE menangkap transmisi tentang informasi palsu itu, berarti Marianne adalah benar seorang agen ganda dan Max wajib menghabisi istrinya dari tangannya sendiri demi mencegah dirinya sendiri dicap pengkhianat. Sanggupkah Max menyisihkan hati nuraninya untuk menghabisi Marianne jika benar terbukti ibu dari putrinya itu sebagai agen ganda? Saksikan kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV . Antara Fiksi dan Fakta Secara keseluruhan, Allied merupakan sajian yang menarik. Iringan music scoring garapan Alan Silvestri meski minimalis tetap bisa membawa penonton merasakan suasana di beragam latar belakang yang dihadirkan. Tembang-tembang Prancis lawas yang mengiringi adegan berlatarbelakang kota Kasablanka di era 1940-an merupakan salah satu contohnya. Kesiapan tim produksinya juga yahud. Selama dua bulan tim meriset sejumlah properti dan wardrobe di Imperial War Museum dan juga lewat film-film lawas bertema serupa, seperti Casablanca (1942) dan Now, Voyager (1942). Alhasil otentisitas Allied saat menghadirkan kehidupan kota termasyur di Maroko itu pada era Perang Dunia II tak perlu diragukan. Namun saat dirilis pada November 2016, Allied tak hanya menuai pujian namun juga kritik. Kritikus Peter Bradshaw dalam ulasannya yang dimuat The Guardian edisi 21 November 2016 menguraikan, jalan ceritanya terlalu berat dan chemistry antara Pitt dan Cotillard ibarat robot yang ditanamkan chip terjemahan Google di kepala mereka. Sementara, kritikus Gary Rotstein dalam The Pittsburg Post-Gazette , 23 November 2016, mengulas: “Terlalu banyak referensi plot cerita yang meniru Casablanca . sementara Casablanca merupakan salah satu film terbaik sepanjang sejarah, film ini ( Allied ) terasa sedatar peta Perang Dunia II yang di atasnya ditandai swastika pada semua area Eropa yang diduduki Jerman.” Terlepas dari kritik-kritik itu, harus diakui Allied menyuguhkan konflik yang menarik. Ide filmnya berangkat dari cerita yang tersimpan di ingatan sang penulis naskah asal Inggris, Steven Knight. Kepada Smithsonian Magazine , 23 November 2016, Knight berkisah bahwa pada 1980-an, ia berkunjung ke rumah temannya di Texas, Amerika Serikat. Di sana, ia bertemu bibi dari temannya dan sang bibi menceritakan kisah serupa tentang seorang intel Sekutu yang terpaksa menghabisi istrinya karena nyatanya dia adalah agen ganda Jerman. “Bibi dari teman saya mengatakan, saudaranya adalah agen SOE di garis belakang musuh dan jatuh cinta hingga menghamili seorang gadis Prancis. Kemudian diketahui sang gadis adalah mata-mata dan akhirnya harus membunuhnya,” terang Knight. Karakter Marianne Beauséjour (kiri) yang merupakan tokoh agen ganda. (Paramount Pictures). Knight lantas mencoba mencari arsip, dokumen, maupun buku-buku tentang SOE. Sayangnya tak sekali pun Knight menemukan cerita yang sama. Sejumlah sejarawan pun tak bisa memverifikasi cerita demikian. Tetapi hati kecil Knight berkata bahwa cerita semacam itu tak mungkin hoaks. Alhasil cerita itu seolah berada di garis antara fiksi dan fakta. “Bagi saya cerita seperti itu bukan cerita yang bisa dibuat-buat. Makanya saya selalu berniat bahwa suatu hari cerita itu akan bisa difilmkan. Saya juga mendapat kesan bahwa cerita itu dikisahkan (bibi temannya) dari sebuah tempat di mana sebuah emosi terdalam itu berdiam dan sebuah memori menyakitkan untuk diceritakan,” imbuhnya. Bisa jadi, lanjut Knight, cerita semacam itu memang tak pernah tercatat dalam arsip manapun, baik karena ditutup rapat oleh pemerintah ataupun pelakunya enggan buka suara hingga sekarang. Toh Knight berkaca pada ayahnya yang bertugas di Tentara Angkatan Darat (AD) Inggris ke-8 yang bertempur di Afrika Utara pada Perang Dunia II. Sang ayah yang prajurit reguler pun enggan bercerita detail tentang pengalamannya sepulang dari perang. “Sepuluh atau 20 tahun pascaperang, setiap orang menengok ke belakang dan memikirkan hal-hal yang tak masuk akal, terutama di masa perang. Masa yang kacau dan penuh ketakutan dan semua terjadi secara acak. Saya menemukan satu kasus, di mana seorang agen Inggris menikahi perempuan Spanyol dan tinggal di London. Sang istri menuntut pulang ke Spanyol dan jika tak dituruti, dia bilang: ‘Aku akan ceritakan kepada Jerman tentang D-Day (Pendaratan Normandia, red. ).’ Bayangkan konsekuensinya,” tambah Knight. “Mata Hari-nya” Perang Dunia II Sebagaimana kisah Mata Hari yang jadi agen ganda di Perang Dunia I, tak sedikit perempuan yang juga menjadi agen intelijen di Perang Dunia II. Vera Atkins, Krystyna Skarbek, atau Nancy Wake –yang jadi perempuan paling diburu Gestapo (polisi rahasia Nazi)– merupakan sedikit di antaranya. Dari sekian banyak perempuan yang jadi mata-mata Sekutu, tercatat ada satu yang kemudian membelot dan menjadi agen ganda. Dialah Mathilde Carré. Mulanya Mathilde merupakan agen Interallié (intel gabungan Prancis-Polandia), namun kemudian juga jadi agen untuk Abwehr. Ia acap dijuluki “Mata Hari-nya” Perang Dunia II. Kisah Mathilde selaras dengan tokoh Marianne di film Allied . Keduanya sama-sama jatuh cinta pada seorang agen yang bekerja untuk Sekutu dan kemudian terpaksa membelot karena diancam eksekusi mati kala ditangkap intelijen Jerman. Namun, kisah akhir antara karakter Marianne dan Mathilde punya jalan berbeda. Eks perwira RAF (AU Inggris) Letkol Peter Jacobs dalam Setting France Ablaze: The SOE in France During WWII mengungkapkan, Mathilde merupakan seorang janda Prancis yang punya pertautan cinta dengan pemimpin Interallié yang berbasis di Paris, Kapten Roman Czerniawski dari AU Polandia. Mengingat markasnya juga bertempat di rumahnya, Mathilde yang punya julukan “La Chatte” alias “Si Kucing” pun terseret aktivitas intelijen. Untuk memperluas jaringan mata-matanya, dia hingga menjalin kontak dengan para agen Seksi F SOE pimpinan Kolonel Maurice Buckmaster pada pertengahan 1940. “Ia (Mathilde) memakaikan pakaian mendiang suaminya dan yang terpenting, membuatkan dokumen identitas samaran Czerniawski sebagai Armand Borni. Bermarkas di Paris, Interallié mengembangkan jaringan besarnya secara pesat dengan lebih dari 100 agen di 14 lokasi yang diduduki musuh (Jerman). Jaringan Interallié juga makin dikenal di London dan Mathilde jadi salah satu agen paling dipercaya,” tulis Jacobs. Mathilde Lucie Bélard (kiri) saat masih bersama mendiang suaminya, Maurice Carré & Kapten Roman Czerniawski (kiri). ( lejsl.com /Centralne Archiwum Wojskowe). Namun aktivitas Interallié terguncang oleh aksi penangkapan yang dilakukan Abwehr pada 17 November 1941. Mathilde dan kekasihnya turut diciduk. Namun seorang pemburu mata-mata Sekutu, Feldwebel (setara sersan) Hugo Bleicher memutuskan untuk memberi penawaran kepada Mathilde. Opsinya: Mathilde mau jadi agen ganda atau disiksa sampai mati. Ketakutan, Mathilde pun memilih berkhianat. Tak hanya berkenan menyingkap semua jaringan para agen lapangan Interallié, ia juga jadi perempuan simpanan Bleicher. Mathilde pun dimanfaatkan Bleicher untuk menyusup ke markas SOE di London. Tetapi kemudian setelah beberapa kali bertemu Mathilde, agen Interallié Pierre de Vomécourt dan agen SOE Marcel Ruby menaruhcuriga padanya. Dalam sebuah kesempatan, De Vomécourt dan Ruby menjajal suatu tes semacam “Blue Dye Operation”. Keduanya lalu tiba pada suatu kesimpulan bahwa Mathilde memainkan peran agen ganda. “Setelah kecurigaan kami memuncak, maka pada akhir Januari (1942) terkuaklah affair sang La Chatte. Mathilde mengakui pada kami bahwa dia dan staf pemancar radionya bersama beberapa agen Interallié lain yang dilepaskan dari tahanan Abwehr setuju untuk bekerjasama. Ia mengakui bahwa pesan dari London juga sampai ke pihak Jerman. Jelas itu suatu pukulan yang besar bagi kami,” kenang Ruby dalam otobiografinya, F Section SOE: The Story of the Buckmaster Network . Melihat Mathilde yang mengaku terpaksa jadi agen ganda karena diancam eksekusi seraya menangis histeris, De Vomécourt urung menembaknya mati. De Vomécourt justru menawarkannya satu perjanjian untuk jadi triple agent. De Vomécourt memanfaatkan Mathilde untuk mendapatkan surat jalan dari Bleicher untuknya, yang menyamar menjadi Tuan Lucas, dan Mathilde agar bisa berperjalanan ke London. Setibanya di London pada Februari 1942, Mathilde pun diinterogasi SOE dan MI5 (dinas kontra-intelijen Inggris). Setelah diminta menguak metode-metode Abwehr, Mathilde lantas dijebloskan ke bui hingga akhir perang. Sepulangnya ke Prancis pasca-dideportasi, Mathilde pun dihadapkan ke pengadilan dan diancam eksekusi mati. Namun vonis yang keluar kemudian pada Januari 1949 adalah hukuman 20 tahun penjara. Data Film: Judul: Allied| Sutradara: Robert Zemeckis | Produser: Graham King, Steve Starkey, Robert Zemeckis | Pemain: Brad Pitt, Marion Cotillard, Jared Harris, Simon McBurney, Lizzy Caplan, Matthew Goode, August Diehl | Produksi: Huahua Media, GK Films, ImageMovers | Distributor: Paramount Pictures | Genre: thriller perang | Durasi: 124 menit | Rilis: 9 November 2016, Mola TV
- Menengok Sejarah Hakekok
APARAT Kepolisian mengamankan 16 orang penganut ajaran Balakasuta di Desa Karangbolong, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Terdiri dari delapan pria, lima wanita, dan tiga anak-anak. Mereka melakukan ritual mandi bersama dengan tujuan menyucikan diri. MUI menyerahkan mereka untuk dibina di pondok pesantren Abuya Muhtadi. Kompas.com melaporkan, Balakasuta dipimpin oleh Arya yang berasal dari Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ritualnya mengadopsi ajaran Hakekok yang dibawa almarhum E alias S. Arya mengaku bahwa ajarannya telah melakukan komitmen dengan Imam Mahdi dan dijanjikan kaya raya. Namun, setelah menunggu bertahun-tahun, janji itu tidak kunjung terkabul. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyucikan diri, bebersih, dan bubar. Hakekok yang diadopsi oleh Balakasuta merupakan aliran kepercayaan yang telah muncul lama. Budayawan Ridwan Saidi dalam bukunya, Diburu Mossad dan Lakon Politik “Che Guevara Melayu” , menyebutkan bahwa Hakekok, plesetan dari hakikat, adalah aliran sesat yang berkedok Islam. Pemeluknya menjalankan upacara tertutup pada malam hari, di mana laki-laki dan perempuan mencopot busana, lalu lampu dimatikan. “Mereka tidak mengerjakan syariat Islam dan memuja Semar. Mereka meyakini Semar masih hidup dan suka berkunjung ke kampung-kampung, lalu menghilang setelah memberikan pituah (petuah). Dalam pengembaraannya itu, Semar selalu seorang diri,” tulis Ridwan. Justus M. van der Kroef, profesor di Departmen Sosiologi Universitas Bridgeport, Connecticut, Amerika Serikat, menyinggung soal Hakekok dalam tulisannya, “New Religious Sects in Java” termuat dalam Far Eastern Survey , Vol. 30 No. 2 (1961). Justus mengungkapkan bahwa pada awal 1952, Kantor Departemen Agama Jawa Barat mengumumkan kemunculan 29 sekte agama baru di wilayahnya sejak Indonesia secara resmi merdeka (maksudnya pengakuan kedaulatan) tahun 1949. Pada pertengahan tahun 1960, ketika pemerintah Indonesia menyatakan secara resmi mewaspadai perkembangan sekte-sekte agama, Jaksa Agung R. Kadarusman (1962–1964) menyatakan ada ratusan aliran kepercayaan di seluruh Indonesia. Menurut Justus, jumlah keanggotaan sekte-sekte ini sulit ditentukan karena struktur organisasinya tidak stabil dan banyak penganutnya yang mengidentifikasi diri dengan salah satu agama utama, seperti Islam. Sementara juru bicara dari berbagai sekte cenderung membesar-besarkan jumlah pengikutnya. “Berapa pun jumlah pengikut mereka, pesatnya penyebaran aliran-aliran itu sendiri merupakan salah satu fenomena terpenting dalam masyarakat Jawa saat ini [1960-an],” tulis Justus. Namun, menurut Justus, beberapa sekte berumur sangat pendek sehingga muatan ideologisnya tidak pernah cukup diketahui, seperti kasus kultus Hakekok di Sukabumi, Jawa Barat. “Kultus Hakekok tampaknya melibatkan upacara aneh, pria dan wanita telanjang di sebuah masjid, namun pemimpinnya, Nawawi, terbunuh dalam bentrokan dengan militer dan sekte tersebut dibubarkan sebelum banyak yang mengetahuinya,” tulis Justus. Sementara itu, Almanak Indonesia Volume 1 (1969) memuat daftar aliran kebatinan, pemimpinnya, serta asas dan tujuannya tahun 1962. Salah satunya Hakekok yang dipimpin oleh Armi dan Irsad. Sembahyangnya cukup dengan niat dan tidak usah pergi haji ke Makkah. Aliran ini dibubarkan pada 1961.*
- Sembilan Atlet di Antara Dua Gender (Bagian II – Habis)
KASUS kelainan alat reproduksi yang dialami mantan pevoli timnas putri, Serda Aprilia Manganang, bukan kasus baru dalam sejarah olahraga di dunia. Pada era 1950-an, olahragawati atletik Karnah Sukarta juga sempat bikin kegegeran serupa. Karnah pernah berjaya di Asian Games 1951 di New Delhi dan Asian Games 1958 di Tokyo. Ia juga pernah dua kali menikah dengan laki-laki. Tetapi ia mengalami kejadian aneh pada 1979. Mengutip Poskota , 8 Juni 2007, Karnah mengklaim ia bermimpi bahwa dia akan menikah dengan perempuan setelah berziarah ke makam Bung Karno. Setelah itu, keanehan terjadi pada tubuhnya. Alat reproduksinya berubah, hingga ia mengganti namanya jadi Iwan Setiawan dan menikah dengan perempuan. Namun, tak ada penjelasan medis terkait fenomena Karnah itu. Karnah tak seberuntung Manganang yang mendapat penjelasan medis bahwa dia mengalami kelainan hipospadia. Kasus hipospadia tersebut bukan kasus pertama atau kedua yang dimiliki sejumlah atlet dunia. Setidaknya ada enam atlet di abad ke-21 yang mengalami berbagai kelainan alat reproduksi. Sebagian dari mereka gagal dalam tes verifikasi gender yang diterapkan IOC (Komite Olimpiade Internasional) sejak 1966. Lima di antaranya atlet India: Pratima Gaonkar (renang) Santhi Soundarajan (atletik), Pinki Pramanik (atletik), dan Dutee Chand (atletik); serta pelari Afrika Selatan Caster Semenya. Sebelum persyaratan tes gender IOC (Komite Olimpiade Internasional) ada, sejarah olahraga modern mencatat ada sembilan atlet sepanjang abad ke-20 yang diragukan gendernya. Di bagian pertama sudah diulas empat di antaranya, yakni: Mary Louise Weston (Inggris), Stanisława Walasiewicz (Polandia), Zdena Koubková (Cekoslovakia), dan Foekje Dillema (Belanda). Berikut lima lainnya: Tamara dan Irina Press Kolase "Press Bersaudari", Tamara Natanovna (kiri) & Irina Natanovna. ( Asahi Shinbun , 19 Oktober 1962). Kisah tentang kerancuan gender Press bersaudari masih jadi misteri hingga kini. Pasalnya keduanya tak pernah melakukan tes kromosom hingga kini. Semua rahasia Tamara, yang lahir pada 10 Mei 1937, dan Irina, lahir pada 10 Maret 1939, ditutup rapat oleh pemerintah Uni Soviet. Sejak 1950-an Tamara acap jadi langganan pendulang emas bagi Uni Soviet di beraneka ajang di cabang atletik pada nomor lempar cakram dan tolak peluru putri. Termasuk di Kejuaraan Eropa 1958 dan 1962, serta Olimpiade 1960 dan 1964. Sedangkan Irina merupakan andalan Uni Soviet di nomor lari gawang 80 meter dan pentatlon putri. Keduanya sudah dinyatakan pensiun tepat sebelum IOC mewajibkan tes verifikasi gender pada 1966. Sejak saat itu, nama keduanya hilang dari pentas olahraga internasional. Maka isu bahwa Tamara dan Irina adalah “alat” pemerintah komunis Uni Soviet untuk mengagungkan citra olahraganya dengan memalsukan identitas gender keduanya pun muncul. Pola itu dianggap sama dengan yang dilakukan Nazi Jerman di Olimpiade 1936 , ketika atlet putra Hermann dipropagandakan sebagai atlet putri bernama Dora Ratje. Padahal, disebutkan Thomas H. Murray dalam Good Sport: Why Our Games Matter – and How Doping Undermines Them , penampilan fisik Tamara dan Irina sangat meyakinkan bahwa mereka perempuan karena payudara keduanya tumbuh. Hanya saja, perilaku keduanya sangat maskulin. “Dirumorkan mereka adalah laki-laki yang menyamar jadi perempuan, atau perempuan yang disuntikkan hormon (laki-laki) demi berkompetisi. Kemungkinan besarnya adalah, mereka mengalami DSD, walau kemudian pensiun untuk menghindari pemeriksaan terkait anatomi tubuh yang tidak normal,” sebut Murray. Ewa Janina Kłobukowska Ewa Kłobukowska korban tes gender. ( olimpedia.org ). Saat lahir di Warsawa pada 1 Oktober 1946, Kłobukowska dinyatakan sebagai perempuan. Pun ketika terjun ke atletik dan meraih emas nomor estafet 4 x 100 meter di Olimpiade Tokyo 1964 serta Kejuaraan Eropa 1966 di Budapest, ia pun tampil sebagai pelari putri. Tetapi ia mengalami titik balik saat tidak lolos tes gender menjelang kejuaraan atletik di Kiev pada 1967. Hasil pemeriksaan genetiknya menyebutkan ia memiliki kromosom laki-laki dominan. Hasilnya, ia pun dilarang berkompetisi oleh IAAF. Semua catatan prestasi medalinya pun dicabut IAAF. “Seorang perempuan tak bisa menjadi perempuan dan tak mengetahuinya selama ini,” ungkap seorang anggota komisi IAAF, dikutip Robyn Ryle dalam Throw Like a Girl, Cheer Like a Boy: The Evolution of Gender, Identity, and Race in Sports . Namun uniknya, Kłobukowska tetap bisa hamil. Dia melahirkan pada 1968. Diketahui kemudian, Kłobukowska tak mengalami kelainan alat kelamin. Ia hanya kelainan genetik pada kromosomnya yang dominan laki-laki, sementara alat reproduksi perempuannya tetap bisa bekerja. Kasus Kłobukowska hingga kini dikenang sebagai korban pertama dari kesalahan tes gender dalam olahraga. Erika Schinegger Jawara ski putri, Erika Schinegger yang memilih jadi laki-laki. (Alchetron). Saat dilahirkan pada 19 Juni 1948 di Agsdorf, Austria, Schinegger dinyatakan sebagai perempuan dan tumbuh besar hingga jadi atlet ski perempuan yang memenangi Kejuaraan Dunia Ski 1966 di Portillo, Cile. Namun dua dekade kemudian, Schinegger memilih melanjutkan hidupnya sebagai laki-laki dan bersedia memulangkan medali emasnya. Pada 1967, jelang Olimpiade Musim Dingin 1968 di Grenoble, Schinegger tak lolos tes gender yang diwajibkan IOC. Sebagaimana dikutip suratkabar Los Angeles Times, 19 November 1988, tim medis IOC saat itu menemukan hormon laki-laki yang sangat dominan dari sampel air liur Schinegger. “Setelah memeriksa area perut bawah, tim dokter menemukan adanya organ testis yang justru tumbuh di dalamnya, bukan di luarnya sebagaimana normalnya laki-laki,” tulis suratkabar itu. Schinegger lantas dinyatakan mengalami kelainan interseks. Schinegger memutuskan untuk menjalani operasi alat kelaminnya dan mengumumkan dirinya sebagai laki-laki sekaligus mengubah namanya menjadi Erik Schinegger. Operasi itu berjalan sukses. Schinegger kemudian menikahi seorang perempuan dan kemudian bisa menjadi ayah dari keturunannya sendiri. Maria José Martínez-Patiño MJ Martínez-Patiño punya kelainan AIS. ( vidaatleticodegalicia.org ). Sejak lahir pada 10 Juli 1961, Martínez-Patiño sudah dinyatakan punya kelainan Androgen insensitivity syndrome (AIS), sebuah kondisi interseks yang hormon testosteronnya tidak bekerja. Surat pernyataan itu turut disertakan oleh atlet lari gawang Spanyol itu kala mengikuti tes-tes gender berkala di setiap kejuaraan di bawah naungan IAAF. Ketika mengikuti Kejuaraan Dunia IAAF 1983, Martínez-Patiño dinyatakan lolos tes gender dengan bukti “Certificate of Feminity”. Namun ketika hendak tampil di World University Games 1985 di Kobe, Jepang, Martínez-Patiño khilaf tak membawa sertifikat itu. Alhasil ia gagal lolos saat menjalani sex chromatin test dan tak bisa mengonfirmasi dirinya perempuan gegara lupa membawa sertifikasi yang ia peroleh dua tahun sebelumnya itu. Kay Schaeffer dalam “One Chromosome Too Many?” yang dimuat dalam buku The Olympics at the Millennium mengungkapkan, IOC menyarankan Martínez-Patiño untuk tidak mengumumkan hal itu ke publik. Alih-alih dengan alasan gagal melewati tes, IOC menyarankan Martínez-Patiño untuk mengumumkan bahwa ia batal ikut dengan alasan yang dibuat-buat: cedera. Martínez-Patiño pun menuruti saran itu. Dua bulan berselang, ia menjalani tes kromosom lagi. Meski kromosom laki-lakinya sedikit lebih dominan, dalam surat pernyataannya ia dinyatakan mengalami AIS tetapi tetap diputuskan bahwa Martínez-Patiño adalah perempuan. IOC lantas memberi pernyataan, “Dia didiskualifikasi karena sebuah keuntungan (dianggap laki-laki, red ). yang tak ia miliki.”
- Bung Karno dan Para Pelayannya
SUATU senja sepulang dari Bogor, Presiden Sukarno mengajak anak sulungnya Guntur Sukarnoputra (saat itu masih remaja) jalan-jalan keliling Istana Negara. Saat mereka berdua menuruni tangga di belakang Istana, tetiba wajah Si Bung Besar berubah. “Tok (paggilan akrab Guntur), coba panggilkan Pak Pelayan,” kata Bung Karno. Singkat cerita, datanglah pelayan itu. Enem namanya. Dengan wajah pucat, dia lantas menghampiri Bung Karno. Terlihat sekali dia tengah ketakutan. “Nem, pot antik Bapak yang di sini kemana?” tanya Bung Karno dalam bahasa Sunda. “Ehm… Pepeus (pecah), Pak…” jawan Enem dalam nada gemetar. “Hah peupeus ! Siapa yang memecahkan!? Siapa yang melakukan!?” teriak sang presiden. Wajahnya nampak merah padam dengan mata berkilat-kilat, pertanda dia sedang marah besar. “ Aa..Ab…Abdi teu terang, Pak …(Saya tidak tahu, Pak).” “ Maenya jurig nu meupeuskeun, hah! Hayo kabeh pelayan kadarieu! Saha nu nyaho! Mun teu aya nu ngaku, kabeh kudu dipariksa pulisi (Masa hantu yang memecahkannya, hah! Ayo semua pelayan kumpul! Siapa yang tahu! Kalau tidak ada yang mengaku, semua akan berurusan dengan polisi).” Tak perlu waktu cepat, semua pelayan pun berkumpul di belakang Istana Negara. Mulailah Bung Karno menginterogasi satu persatu para pelayannya. “ Sueb! Maneh nyaho henteu ?!” “ Abdi teu terang, Pak …” “Saleh!?” “ Teu…Ter…Terang, Pak …” “Sain!?” Saiin yang sudah memasuki umur 70 tahun dan mengidap penyakit asma terlihat sangat ketakutan. “ Aaaa..Abdi…Ngik…Ngik…Teu…Te...Terang, Pak…Ngik…Ngik ” Bukan main marahnya Bung Karno mendengar jawaban semua pelayannya tersebut. Dia kemudian memerintahkan pengawalnya untuk memanggil komandan jaga hari itu. Datanglah dia dengan tergopoh-gopoh. “Siap, Pak!” Bung Karno lantas memerintahkan sang komandan jaga untuk memeriksa semua pelayan ini dan para tukang kebun. Begitu marahnya sang presiden, hingga dia memerintahkan jika pelakunya ketemu untuk langsung “digantung”. Tentunya perintah itu hanya untuk menggertak saja. “Pada saat itu kulihat Pak Saiin yang tengah berdiri gemetaran tetiba celananya sudah basah kuyup karena mengompol,” kisah Guntur Sukarnoputra dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku. Beberapa saat kemudian, sang komandan sudah kembali. Menurut penyidikan yang sudah dilakukannya, ternyata pot itu pecah karena terkena cakram. Bung Karno nampak terkejut mendengar laporan tersebut. Dia pastinya tahu bahwa satu-satunya orang yang memiliki hobi main lempar cakram adalah putera sulungnya. Setelah memerintahkan semua orang untuk kembali ke pekerjaannya masing-masing, Sukarno lalu mengajak Guntur jalan-jalan. Setelah agak jauh, sambil terus berjalan, Bung Karno berbisik serak kepada Guntur: “Lain kali kalau bikin salah, kasih tahu Bapak ya! Jangan seperti ini, tenggorokan Bapak hampir-hampir putus, Saiin terkencing-kencing, pengawal repot…Jebulnya kau punya ulah!” “Ya, Pak,” jawab Guntur sambil tertunduk. Bung Karno pada dasarnya sangat menyayangi para pelayannya. Menurut salah satu pengawal dekatnya H. Mangil Martowidjojo, kalaupun dia marah pasti tak pernah berlangsung lama. Itu pun dilakukannya supaya para pelayan tersebut berlaku disiplin dan tak lalai kepada tugasnya masing-masing. Mangil sangat paham jika Si Bung Besar sangat tidak menyukai orang yang lalai kepada tugasnya. Karena itu segala sesuatu yang diminta Bung Karno harus cepat dilakukan. Salah satu pelayan yang kerap diminta tolong adalah Pak Enem. Orangnya memang sudah sepuh namun selalu sigap jika Bung Karno memerlukannya. “Neraka” datang kepada para pelayan, jika Bung Karno tengah uring-uringan . Pernah dalam situasi seperti itu, Pak Enem dipanggil Presiden. Dengan sigap namun penuh rasa takut Enem langsung datang menghadap. Begitu takutnya, hingga tak terasa sang pelayan terkentut-kentut. Murka-kah Bung Karno? Sama sekali tidak. “Bung Karno justru malahan ketawa,” ungkap Mangil dalam bukunya, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945—1967.*
- Orde Baru Mengobok-obok Parmusi
KONGRES Luar Biasa Partai Demokrat menunjuk Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko sebagai ketua umum. Keputusan ini menimbulkan kecaman keras dari kubu pendukung Agus Harimurti Yudhoyono. Teuku Riefky Harsya, sekjen Partai Demokrat, menyebut ada keterlibatan pemerintah dalam mengobok-obok Partai Demokrat. Sebab, Moeldoko menjabat Kepala Staf Kepresidenan.
- Dilema Pengangkatan Muatan Kapal Tenggelam
Perbincangan tentang benda cagar budaya bawah air mencuat setelah Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perpres No. 10 Tahun 2021 sebagai aturan pelaksana dari UU Cipta Kerja No. 11 Tahun 2020. Perpres ini memberikan kesempatan kepada investor termasuk asing untuk melakukan pengangkatan benda muatan kapal tenggelam (BMKT). Selain itu, bidang usaha lain di ranah kebudayaan dan sejarah yang masuk dalam daftar terbuka bagi investasi adalah penyelenggaraan museum pemerintah dan jasa pengoperasian wisata peninggalan sejarah dan purbakala, seperti candi, keraton, prasasti, petilasan, dan bangunan kuno. Semula ketiganya masuk dalam daftar 20 bidang usaha yang dilarang bagi investasi berdasarkan Perpres No. 44 Tahun 2016. Namun, Perpres No. 10 Tahun 2021 merevisinya sehingga hanya enam bidang usaha saja yang terlarang. Badan Riset Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkirakan ada sekira 463 titik lokasi kapal tenggelam di perairan Indonesia. Sedangkan laporan UNESCO mencatat 5.000 kapal tenggelam di Asia Tenggara, sepuluh persennya berada di perairan Indonesia. Nilai “harta karun” itu ditaksir mencapai $12,7 miliar dolar atau setara Rp170 triliun. “Pemerintah melalui Panitia Nasional (PANNAS) BMKT diperhitungkan akan dapat bagi hasil dari para investor yang akan melakukan pengangkatan terhadap kapal karam dan muatannya sebagai sumbangan devisa negara,” kata Surya Helmi, anggota senior Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dalam diskusi bertajuk “Nasib Warisan Budaya di Laut dalam Perpres No.10 Tahun 2021” yang diadakan para ahli arkeologi dari IAAI Pusat lewat daring,Rabu (10/03/2021). “Kenyataannyadalam catatan sejarah hasil pengangkatan kapal tenggelam yang pernah dilakukan di Indonesia sejak 1985 boleh dikatakan sampai saat ini negara tidak atau belum dapat apa-apa,” kata Surya yang pernah menjabat direktur Direktorat Peninggalan Arkeologi Bawah Air Kemendikbud. Bukan Untung Malah Buntung Dari puluhan pengangkatan muatan kapal tenggelam hanya beberapa yang dinilai berhasil. Termasuk pengangkatan muatan kapal Geldermarsen pada 1985 di perairan Karang Heluputan, Kepulauan Riau. Kapal milik VOC itu tenggelam pada 1751. Pengangkatan itu dilakukan oleh Michael Hatcher, pelaut Inggris yang terkenal sebagai pemburu harta karun kelas kakap. Muatan kapal itu terdiri dari keramik masa Dinasti Qing dan ratusan logam mulia. Hatcher melelang h asil jarahan nya di Amsterdam senilai $ 17 juta dolar. Negara t id ak dapat apa-apa. “Pengangkatan ini ilegal, dilakukan tanpa izin resmi pemerintah,” kata Surya. Pengangkatan kapal tenggelam di Situs Batuhitam, Belitung pada 1998, menghasilkan puluhan ribu artefak di antaranya berbagai jenis keramik masa Dinasti Tang, benda-benda logam, kaca kayu, dan gading. Seluruh artefak itu dilelang senilai $32juta dolar. Barang-barang itu menjadi milik perusahaan swasta di Singapura, Sentosa Development Corporation dan pemerintah Singapura. “Bagian untuk pemerintah Indonesia juga tak begitu signifikan,” kata Surya. Pada 1999, perusahaan nasional bekerja sama dengan dua perusahaan dari Singapura dan Australia,melakukan pengangkatan kapal Tek Sing di Selat Gelasa, Bangka Belitung. Kegiatan itu ilegal karena surat izin dari PANNAS BMKT dicurigai palsu. Hatcher diduga terlibat dalam pengangkatan ini. Benda-benda yang didapat sebagian besar keramik berbagai bentuk sertabenda logam dan mata uang logam. Hasil pengangkatan itu tidak dilaporkan ke PANNAS BMKT. Semua benda dimasukkan ke dalam 43 kontainer lalu dikirim ke Australia untuk dikonservasi.Setelah selesai dikonservasi, 36 kontainer dikirim ke Jerman yang kemudian dilelang di Balai Lelang Nagel di Stuttgart, Jerman pada November 2000. Sisanya tujuh kontainer masih berada di Australia. “Dari hasil lelang di Stuttgart, 1 . 400 jenis keramik yang dipilih berhasil diperoleh untuk jadi koleksi Indonesia dan sebanyak Rp4,2 miliar masuk ke kas negara,” kata Surya . Pengangkatan kapal tenggelam di perairan utara Cirebon pada 2004 berhasil mendapatkan 500.000 jenis keramik dan beberapa benda logam yang terbuat dari emas, perak, perunggu, besi, kayu, gading, dan timah. Jenis keramik itu berasal dari masa pemerintahan Five Dinasty yang berkuasa di Tiongkok pada abad ke-10. Benda-benda itu gagal dilelang karena bertepatan dengan disahkannya UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang melarang membawa benda cagar budaya ke luar negeri. “Kompensasinya negara dapat sebagian dari hasil pengangkatan untuk dijadikan koleksi negara,” kata Surya. Dilema Pengelolaan dan Pemanfaatan Selain yang dinilai berhasil, kata Surya, proses pengangkatan muatan kapal tenggelam selebihnya hanya menghasilkan puluhan ribu benda, sebagian besar berupa keramik yang tak memiliki nilai komersial dan tak laku dijual. Semuanya bertumpuk di gudang BMKT Cileungsi. Sebagian lainnya tersimpan di gudang penyimpanan para investor yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Sedangkan hingga kini belum ada kesepakatan pemanfaatannya oleh instansi terkait yang berwenang. “Puluhan ribu keramik bertumpuk di Cileungsi. Mau diapakan? Saya nggak tahu,kita pikirkan bersama,” kata Surya. Supratikno Rahardjo, arkeolog Universitas Indonesia, menilai bahwa negara belum siap mengelola hasil pengangkatan muatan kapal tenggelam termasuk mengantisipasi jika proses lelang gagal seperti lelang kapal tenggelam di Cirebon. “Ada ratusan ribu benda milik negara yang belum siap, titipan investor juga tak tahu bagaimana menanganinya,” kata Supratikno. Surya mengakui, jika potensi cagar budaya bawah air dibiarkan justru tak bisa dimanfaatkan baik untuk ilmu pengetahuan maupun kesejahteraan masyarakat. Dan terancam rusak oleh alam maupun perburuan ilegal. “Ini adalah kendala yang ada sekarang. Kita melarang tapi kalau pemerintah yang mengerjakan harus menyediakan dana besar dan SDM yang prima,” kata Surya. Andi Achdian, sejarawan dan pengajar di Universitas Nasional sekaligus anggota TACB Kabupaten Bogor, menambahkan perlunya suatu lembaga yang mengelola secara khusus benda-benda peninggalan arkeologi bawah air. Lembaga itu memiliki kewenangan yang seimbang dengan kementerian yang berkaitan dengan urusan BMKT. Selama ini, menurut Andi, ada ketidakseimbangan soal perizinan. Perizinan hanya menyinggung peran swasta dan pemegang kebijakan. Sementara pola pikir perumus kebijakan lebih sering melupakan aspek perlindungan dan pelestarian tapi langsung meloncat ke tahap pemanfaatan. “Tapi jangan lupa harus punya sikap terbuka, apakah kebijakan ini membuka peluang kerusakan atau apakah membuat bisa lebih berkoordinasi dengan berbagai pihak,” kata Andi .
- Clara Zetkin, Peletak Dasar Hari Perempuan Internasional
Clara Zetkin, peletak dasar gagasan peringatan Hari Perempuan Internasional. Ia menggalang solidaritas internasional dan mengadakan Kongres Wanita Internasional I.





















