Hasil pencarian
9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sukarno, Pan Am, dan CIA (2)
TELEVISI ABC menayangkan film seri tentang maskapai penerbangan Amerika Serikat, Pan Am, tahun 1960-an . Fokus ceritanya pada para pramugari, yaitu Maggie Ryan (Christina Ricci), Kate Cameron (Kelli Garner), Laura Cameron (Margot Robbie), dan Collete Valois (Karine Vanasse). Masing-masing memiliki karakter dan peran berbeda. Bahkan, Kate Cameron bekerja pada CIA (Central Intelligence Agency atau Dinas Intelijen Amerika Serikat) untuk menyampaikan informasi atau barang rahasia kepada agen yang ditempatkan di berbagai negara termasuk Indonesia. Di salah satu episode, dia menyerahkan barang rahasia kepada agen CIA di Jakarta.
- Siapa Ayah dan Ibu Kamala Harris?
DENGAN mata berkaca-kaca terharu, Shyamala Gopalan tampak fokus memperhatikan kata per kata dari serangkaian kalimat sumpah yang diucapkan Hakim Agung California Ronald M. George. Di hadapan sang hakim, berdiri sosok putri sulungnya, Kamala Devi Harris, yang tangan kanannya diangkat dan tangan kirinya memegang sebuah Alkitab. Momen itu jadi kebanggaan besar terakhir yang disaksikan Shyamala atas pencapaian putrinya. Kala itu, awal Januari 2004, Kamala mengucapkan sumpah dalam pelantikannya sebagai jaksa Distrik San Francisco. “Kamala D. Harris adalah perempuan dan Afro-Amerika pertama yang terpilih menjadi jaksa distrik di San Francisco. Ibunya ikut mengamati saat upacara pelantikannya. Jaksa distrik yang baru ini adalah jaksa veteran dengan pengalaman 13 tahun. Sebelum momen bersejarah itu, sosok berusia 39 tahun tersebut memimpin Divisi Pelayanan Rumah Tangga dan Anak-anak di kantor kejaksaan kota,” tulis majalah Ebony edisi Maret 2004. Namun sang ibu tak lagi mendampingi ketika Kamala dilantik jadi Jaksa Agung California pada 2011, anggota Senat Amerika Serikat pada 2017. Pun nanti pada saat Kamala dilantik sebagai wakil presiden (wapres) Amerika. Shyamala wafat lima tahun setelah pelantikan Kamala jadi jaksa Distrik San Francisco. Kamala Harris (kanan) saat disumpah menjadi Kepala Jaksa Distrik San Fransisco. (Majalah Ebony edisi Maret 2004). Kamala tercatat jadi wapres Amerika perempuan keturunan Asia-Afrika pertama, setelah bersama Joe Biden memenangi Pilpres Amerika 2020. Pasangan Biden-Kamala dari Partai Demokrat unggul atas pasangan Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik dengan electoral votes 290 (batas pemenang 270) berbanding 214. “Saya berterimakasih kepada perempuan yang paling bertanggungjawab atas eksistensi saya di sini, ibu saya, Shyamala Gopalan Harris. Saat dia datang ke sini dari India di usia 19 tahun, mungkin dia takkan membayangkan momen ini. Namun dia sangat percaya pada Amerika di mana momen seperti ini adalah hal yang mungkin,” ujar Kamala, disitat NDTV , Minggu (8/11/2020). “Saya memikirkan dia dan generasi perempuan, perempuan kulit hitam, Asia, putih, Latin, perempuan pribumi Amerika sepanjang sejarah negeri ini yang telah membuka jalan untuk momen malam ini,” sambungnya dalam pidato pertamanya sebagai wapres terpilih. Sebagaimana Barack Obama, Kamala adalah representasi keragaman etnis dan ras yang bercampur-baur di negeri Paman Sam. Kamala yang lahir 57 tahun lampau adalah buah hati sejoli imigran yang punya asal-usul dari dua belahan bumi berbeda berjarak 15 ribu kilometer. Ibu dari Kasta Brahmana Shyamala merupakan satu dari empat bersaudara yang dilahirkan pasangan suami-istri (pasutri) Rajam Ayyar dan P.V. Gopalan pada 7 April 1938 di Madras (kini Chennai), ibukota Negara Bagian Tamil Nadu. Meski tumbuh di tengah keluarga Hindu berkasta Brahmana, ayah Shyamala tak pernah membelenggu pemikiran terbuka anak-anaknya. Mengingat ayahnya pegawai pemerintahan kolonial British India, Shyamala tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sekolah hingga jenjang tinggi di Jurusan Kesehatan masyarakat di Lady Irwin College, kampus ternama di India untuk kaum perempuan di New Delhi. Ketika di usia 19 tahun Shyamala lulus dan berhasrat melanjutkan pendidikan ke Amerika, ayahnya tak melarang. Sikap itu melangkahi adat bahwa perempuan dari kasta Brahmana lazimnya dilarang pergi ke luar negeri sebelum menikah. Bahkan sang ayah mendukung penuh dengan membiayai kuliah Shyamala di Universitas California Berkeley dan biaya hidup pada tahun pertama dari tabungan pensiunannya. “Di masa itu (1950-an), jumlah perempuan lajang India yang pergi ke Amerika untuk kuliah – mungkin tak sampai dua digit. Tetapi ayah saya orang yang terbuka. Dia bilang, ‘jika kamu diterima masuk, maka pergilah,’” ungkap Balachandran Gopalan, adik Shyamala, kepada LA Times , 25 Oktober 2019. Dalam otobiografi Kamala Harris, The Truths We Hold: An American Journey , Kamala juga menceritakan bagaimana ibunya bertemu ayahnya, Donald Jasper Harris, di kampus yang sama. Perbedaan keyakinan, di mana Donald Harris seorang Nasrani, tak menghalangi keduanya bersatu ke jenjang pernikahan pada 1963. Shyamala dan Donald pertamakali bertemu dalam sebuah rapat Afro American Association di Berkeley pada musim gugur 1962. Saat itu Donald menjadi salah satu pembicaranya. Shyamala Gopalan (kiri) saat di Universitas California Berkeley. (Facebook Page Kamala Harris). Awalnya hubungan Shyamala-Donald tak disetujui karena Shyamala sudah dijodohkan. “Ibu saya diharapkan pulang ke India setelah lulus karena orangtuanya sudah mengatur perjodohannya. Diasumsikan ibu saya akan menurut. Namun takdir berkata lain. Ibu dan ayah saya bertemu dan jatuh cinta di Berkeley saat ikut pergerakan HAM. Pernikahan dan keputusannya tinggal di Amerika adalah puncak dari tindakan menentukan nasibnya sendiri atas nama cinta,” tulis Kamala. Orangtua Shyamala akhirnya memberi restu setelah Donald datang ke India untuk meminta izin menikahi Shyamala. “Saya membayangkan betapa sulit bagi orangtuanya merelakan ibu saya pergi, namun ibu saya mendapat restu pindah ke California dan kakek saya tak melarang. Dia masih remaja saat masuk Berkeley pada 1958 untuk mengejar gelar S-2 dalam bidang nutrisi dan endokrin, mengejar cita-citanya menjadi peneliti kanker payudara,” sambungnya. Shyamala tetap giat dalam perkuliahan dan aktivitasnya menyerukan HAM dan anti-Perang Vietnam kala kemudian mengandung Kamala. Gelar PhD-nya juga sukses diraihnya pada Februari 1964 dengan tesis “The Isolation and Purification of a Trypsin Inhibitor from Whole Wheat Flour”. Shyamala kemudian bekerja di Departemen Zoologi dan Laboratorium Riset Kanker Berkeley hingga punya anak kedua, Maya Lakhsmi Harris, yang lahir pada 1967. Namun biduk rumah tangga Shyamala-Donald retak pada 1969. Dua tahun berselang keduanya bercerai. “Mereka berpisah tak lama setelah ayah mengambil pekerjaan di Universitas Wisconsin. Mereka tak memperebutkan uang, melainkan buku-buku. Saya sering berpikir seandainya mereka saat itu sudah lebih matang secara emosional dan usia, mungkin pernikahan mereka akan bertahan,” kata Kamala yang tak pernah tahu penyebab perceraian kedua orangtuanya. Setelah bercerai pada 1971, Shyamala Gopalan berjuang membesarkan Kamala dan Maya sebagai ibu tunggal. (Facebook Page Kamala Harris). Shyamala pun menjadi ibu tunggal ketika membesarkan kedua putrinya di sebuah duplex di Bancroft Way, Berkeley. Namun, itu bukan satu-satunya beban berat yang dipikulnya. “Saya pikir, buat ibu saya perceraian merepresentasikan kegagalan yang tak pernah ia perkirakan. Pernikahannya saja sudah laiknya pemberontakan. Menjelaskannya kepada orangtuanya sudah sulit. Menjelaskan tentang perceraian, saya bayangkan, lebih sulit lagi,” tambahnya. Meski Kamala memeluk Nasrani mengikuti kepercayaan ayahnya, Shyamala tetap memperkenalkan budaya dan tradisi India kepada anak-anaknya. “Kamala mengenal semua mitos dan tradisi Hindu dan Kamala sama-sama nyaman berada di kuil maupun di gereja. Saya memberi nama Kamala terinspirasi dari Dewi Lakshmi. Sebuah budaya yang menyembah dewa-dewi menghasilkan para perempuan tangguh. Oleh karenanya Kamala juga sering mengunjungi Kuil Shiva Vishnu di Livermore. Keluarga saya selalu menginginkan anak-anak bisa belajar tradisi, terlepas di mana mereka lahir,” kata Shyamala, dikutip Peter Schweizer dalam Profiles in Corruption: Abuse of Power by America’s Progressive Elite . Shyamala kemudian memboyong dua putrinya ke Montreal, Kanada, lantaran menerima dua pekerjaan sekaligus di Lady Davis Institute for Medical Research dan Fakultas Medis Universitas McGill. Sepanjang karier penelitiannya yang berfokus pada pertautan hormon progesteron dan kanker payudara, Shyamala setidaknya berhasil menghasilkan tujuh laporan jurnal kesehatan. “Estrogenic of Murine Uterine 90-kilodaton Heat Shock Protein Gene Expression” sebagai jurnal pertamanya terbit pada Agustus 1989 dan “Cellular Expression of Estrogen and Progesterone Receptors in Mammary Gland: Regulation by Hormones Development and Aging” sebagai jurnal terakhirnya terbit pada 2002. Penelitian terakhirnya dilakoni Shyamala ketika sudah kembali ke Lawrence Berkeley National Laboratory, California seraya aktif di organisasi amal Breast Cancer Action. Pada 11 Februari 2009, Shyamala mengembuskan nafas terakhir di usia 70 tahun setelah menderita kanker usus besar. Jenazahnya dikremasi dan abunya dibawa Kamala untuk dilarung di pantai selatan Chennai sesuai tradisi Hindu. “Breast Cancer Action menyatakan penghormatannya kepada Shyamala G. Harris. Seorang ilmuwan terkemuka dunia yang juga sahabat baik Breast Cancer Action. Karya penelitian Harris dalam mengisolasi dan menggolongkan gen reseptor progesteron mengubah pemahaman medis akan respons hormon dalam jaringan payudara. Penemuannya memicu banyak kemajuan mengenai peran progesteron dan sel reseptornya dalam biologi dan kanker payudara,” demikian pernyataan Breast Cancer Action , 21 Juni 2009. Ayah Ekonom Marxis Sebagaimana ibundanya, ayah Kamala Harris, Donald Joseph Harris, juga bukan berasal dari keluarga sembarangan. Lahir Brown’s Town, Provinsi Saint Ann, Jamaika pada 23 Agustus 1938, Donald merupakan buah hati pasutri keturunan tuan tanah dan pemilik budak Oscar Joseph Harris dan Beryl Christie Finnegan. Lewat artikel bertajuk “Reflections of a Jamaican Father” yng dimuat laman diaspora Jamaika, Jamaica Global , 14 Januari 2019, Donald menguraikan nenek moyang dari garis ayah dan ibunya lebih detail. “Akar keluarga, sepengetahuan saya, dari garis ayah ada sosok nenek, Miss Chrishy (Christiana Brown), keturunan Hamilton Brown yang dalam catatan sejarahnya adalah pemilik budak dan perkebunan serta pendiri kota Brown’s Town. Nenek dari ibu saya, Miss Iris (Finnegan), adalah petani dan pengajar dari Aenon Town dan Inverness,” terang Harris. “Nama Harris berasal dari kakek di garis ayah, Joseph Alexander Harris, seorang tuan tanah dan eksportir cengkeh dan rempah-rempah. Dia meninggal setahun setelah saya lahir (1939). Kedua nenek saya punya pengaruh besar dalam masa kecil saya. Miss Chrishy sosok yang disiplin, sementara Miss Iris adalah orang paling lembut yang pernah saya temui,” kenangnya. Donald Jasper Harris bersama Kamala yang masih bayi. ( The Truths We Hold: An American Journey ). Sang nenek Chrishy lebih senang berdagang dengan membuka toko. Sementara ayahnya mengurusi perkebunan keluarga. Dengan latar belakang keluarganya itu, Donald tumbuh dengan minat yang besar akan bidang ekonomi. Maka setelah lulus dari SMA di Titchfield High School, Donald melanjutkan studi ke University College of the West Indies untuk pendidikan strata-1 dan Universitas California Berkeley untuk strata-2 lewat program beasiswa. Donald bertemu Shyamala Gopalan di sebuah rapat asosiasi pelajar kulit hitam pada 1962 dan menikah setahun berikutnya. Biduk rumah tangganya tak bertahan lama, mereka bercerai pada 1971. Meski berpisah, Donald sebisa mungkin tetap mengunjungi Kamala dan Maya, dua buah hatinya hasil pernikahan dengan Shyamala. Ketidakmampuannya untuk sering menengok buah hatinya disebabkan karena kesibukannya sebagai profesor ekonomi di Universitas Wisconsin kemudian Universitas Stanford. Ia acap jadi dosen tamu di beragam kampus, bahkan hingga ke Meksiko, Brasil, dan Malaysia. Miss Iris, nenek Donald Harris saat menggendong Kamala. ( jamaicaglobalonline.com ). Disertasinya semasa di Berkeley, “Inflation, Capital Accumulation and Economic Growth: A Theoretical and Numerical Analysis”, merupakan pemikirannya tentang pembangunan ekonomi yang terinspirasi dari para pemikir ekonomi seperti Karl Marx hingga John Maynard Keynes. Lantaran banyak memakai metode Karl Marx saat mengajar, Donald dijuluki Suratkabar The Stanford Daily , 3 November 1976, sebagai akademisi “Marxis”. Penggunaan metode Marxis oleh Donald bahkan pernah bikin resah para koleganya di Stanford. “Sebuah argumentasi muncul dua tahun lalu di Departemen Ekonomi dalam oposisi terhadap penunjukan Prof. Donald Harris secara permanen, seorang akademisi Marxis, di mana keahliannya sebagai dosen menarik minat para mahasiswanya untuk mendalami pemikirannya,” tulis suratkabar itu. “Beberapa pengajar Fakultas Ekonomi memerhatikan efek pada sejumlah mahasiswa Harris: (1) adanya sebuah sinyal di mana mahasiswa tak mampu memilih mata kuliah-mata kuliah penting untuk pendidikannya dan (2) sebuah demonstrasi tentang bahayanya cara mengajar yang mengakibatkan melebarnya fokus mahasiswa,” lanjutnya. Donald Harris bersama putrinya, Kamala & cucunya, Meenakshi. ( jamaicaglobalonline.com ). Meski pemikirannya tak terlalu diterima di Amerika, pemikiran Donald bisa diterima baik di negeri asalnya, Jamaika. Pada 1990-an, Donald sempat pulang ke Jamaika untuk mengaplikasikan teorinya demi pembangunan. Sebelumnya, dia telah melakukan riset mendalam tentang ekonomi makro dan mikro di Jamaika. Hasilnya, pemerintah Jamaika menetapkan National Industrial Policy (NIP) pada 1996. Inti dari kebijakan itu adalah, dorongan inisiatif dan kerangka legalitas dari pemerintah kepada sektor-sektor swasta sebagai alat untuk bernegosiasi demi menarik investasi asing. Pada 2011, pemikiran Donald membuahkan Growth Inducement Strategy (GIS). Inti GIS adalah strategi proaktif pemerintah dan sektor swasta dalam kerjasama untuk membangun lingkungan investasi yang stabil dengan di -endorse IMF.
- Darah Aktivis Kamala Harris
PINTU menuju kursi penguasa negeri adidaya Amerika Serikat terbuka lebar buat Kamala Harris yang maju jadi calon wakil presiden Amerika bersama Capres Joe Biden dari Partai Demokrat. Pasangan Biden-Kamala unggul jauh dalam perolehan electoral votes dari duet petahana Partai Republik, Donald Trump-Mike Pence. Hingga kini, Sabtu (7/11/2020) pukul 23.00 WIB, Biden-Kamala memimpin jauh dengan perolehan 264 electoral votes (214) sejak digelarnya Pilpres Amerika empat hari lalu. Meski Trump ingin membawa hasilnya ke Mahkamah Agung Federal Amerika, Biden-Kamala sudah bersiap merayakan kemenangan yang tinggal menanti enam electoral votes (270) lagi untuk resmi jadi capres-cawapres terpilih. Jika begitu, sejarah akan kembali tercipta setelah Barack Obama jadi orang kulit hitam pertama yang menjabat presiden Amerika pada 2009. Kamala akan jadi wakil presiden perempuan dan berkulit hitam pertama Amerika. Catatan sejarah itu akan melanjutkan catatan yang dibuatnya pada 2017. Kala itu Kamala menjadi politikus perempuan keturunan Afro-Asia pertama yang menjadi senator (Negara Bagian California). Kamala Harris bersama Joe Biden di ambang sejarah baru Amerika Serikat ( joebiden.com ) Berdemonstrasi dengan Kereta Bayi Meski terpisah ribuan mil dari tempat Kamala mengikuti kontestasi pilpres, Masyarakat Tamil Nadu, terutama di Desa Thulasendhirapuram, berbondong-bondong mendatangi Kuil Dharmasastha. Mereka mendoakan Kamala menang di pilpres Amerika. Desa Thulasendhirapuram mempunyai kedekatan emosional dengan Kamala. Ia merupakan kampung kelahiran P.V. Gopalan, kakek Kamala dari garis ibu. “Pada 2014, ibunya, Shyamala, pernah memberikan sumbangan atas nama Kamala Harris, jadi para penduduk desa mengenalnya dengan sangat baik,” tutur Kepala Desa Thulasendhipuram Arulmozhi Sudhakar sebagaimana diberitakan Hindustan Times , Rabu, 4 November 2020. Orangtua Kamala Harris: Donald Jasper Harris & Shyamala Gopalan ( joebiden.com ) Kamala Harris lahir di Oakland, California pada 20 Oktober 1964 sebagai sulung dua bersaudari dari orangtua blasteran Tamil-Jamaika. Ibunya, Shyamala Gopalan, berasal dari Chennai di selatan India; sementara ayahnya, Donald Jasper Harris, merupakan imigran dari Jamaika. Dalam memoarnya, The Truths We Hold: An American Journey , Kamala mengisahkan ia dilahirkan oleh orangtua yang cemerlang secara akademik meski kehidupan masa kecil keduanya tak mudah. Donald Harris sejak muda tumbuh menjadi akademisi di bidang ekonomi sebagai lulusan Universitas London dan penyandang gelar PhD di Universitas Berkeley. Sementara, Shymala pada usia 19 tahun sudah lulus dari Lady Irwin College di New Delhi dan langsung mengejar gelar S-2, juga di Berkeley. Keduanya saling mengenal di kampus Berkeley lantas berpacaran. Pada 1963, keduanya menikah. “Hidup ibu saya dimulai ribuan mil dari asalnya di belahan timur, di selatan India. Ia merantau pada 1958 untuk mengejar gelar doktor dalam bidang nutrisi dan spesialis endokrin. Ayah dan ibu saya jatuh cinta saat ikut pergerakan HAM di Berkeley,” ungkap Harris. Kakek-nenek Kamala Harris dari garis ibu: P. V. Gopalan & Rajam Gopalan (Facebook Page Kamala Harris) Aktivis, itulah yang diturunkan ke dalam diri Kamala dari garis ibunya. Kakek dan neneknya dikenal sebagai dua dari segelintir tokoh masyarakat yang berpengaruh di wilayah Tamil. “Nenek saya, Rajam Gopalan, tak pernah sekolah sampai SMA, namun dia seorang yang terampil dalam sosial kemasyarakatan. Ia akan selalu menampung perempuan korban kekerasan suami dan selalu mengancam agar para suami mau mengurus istri dengan baik dan kalau tidak, dia yang akan mengurusnya di rumahnya. Dia juga sering mengedukasi perempuan di desanya tentang kontrasepsi,” tutur Kamala. Kamala melanjutkan, “Kakek saya P.V. Gopalan pernah menjadi bagian dari pergerakan untuk memenangkan kemerdekaan India. Pada akhirnya dia menjadi diplomat senior di pemerintahan. Dia dan nenek sempat menghabiskan waktu hidupnya di Zambia setelah India merdeka, untuk membantu para pengungsi.” Dari merekalah Shyamala belajar tentang kepedulian dan aktivisme yang lantas diturunkan ke Kamala. Menurut Kamala dari cerita ibunya, pernah suatu ketika Kamala yang baru berusia sekitar dua tahun (tahun 1966) sampai dibawa ikut berunjuk rasa dengan para aktivis Free Speech Movement (FSM) untuk menyuarakan HAM, anti-rasisme, dan anti-Perang Vietnam. “Ibu saya sangat paham dengan sejarah, kesadaran politik, dan kesadaran akan perjuangan dan persamaan. Maka orangtua saya sering membawa saya dengan kereta bayi bersama mereka ke aksi-aksi menyuarakan HAM. Sedikit yang saya ingat waktu itu hanya melihat lautan kaki bergerak ke sana-sini. Teringat akan energi di sekeliling dan teriakan-teriakan,” tambahnya. Sejak balita sudah diajak ikut unjuk rasa dan pada usia tujuh tahun sudah jadi korban broken home (Facebook Page Kamala Harris) Mereka saat itu bergerak di Sproul Plaza untuk memprotes dengan damai karena diserang polisi dengan selang air. “Mereka datang untuk bertemu Martin Luther King Jr. yang berbicara di Berkeley, di mana ibu saya berkesempatan bertatap muka. Dia menceritakan pada satu aksi protes anti-perang, massa dikonfrontir (geng motor) Hell’s Angels. Saat kerusuhan pecah, ibu saya dilindungi teman-temannya untuk membawa saya keluar dari situasi itu,” kata Kamala. Namun ketika Kamala baru berusia tujuh tahun dan Maya, adiknya yang masih balita, harus jadi korban broken home. Shyamala dan Donald bercerai. Sejak itu, Kamala dan Maya dibesarkan oleh ibunya. “Saya tahu mereka saling mencintai tapi kelamaan mereka menjadi seperti air dan minyak. Hubungan mereka sudah retak sejak saya berusia lima tahun. Setelah ayah saya mengambil pekerjaan mengajar di Universitas Wisconsin, mereka bercerai. Uniknya bukan uang yang mereka perebutkan, melainkan koleksi buku-buku. Ayah saya tetap jadi bagian hidup kami yang selalu datang pada akhir pekan,” ungkapnya. Pembela LGBT Meski dibesarkan di keluarga yang tak utuh, Kamala Harris tetap tumbuh jadi anak secemerlang kedua orangtuanya. Mereka sempat pindah untuk mengikuti aktivitas sang ibu yang sambil mengajar di Montreal, Kanada juga melakukan banyak penelitian tentang hormon progesterone dan tentang kanker payudara . Selepas SMA, Kamala hidup mandiri di Washington DC sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Politik dan Ekonomi Universitas Howard. Lulus pada 1986, ia melanjutkan studinya dengan mengambil jurusan Hukum di Hastings College of the Law, University of California berbekal beasiswa dari Legal Education Opportunity Program (LEOP). Pada 1988, Kamala ikut program magang di Pengadilan Tinggi Alameda County, Oakland, California. “Saya magang bersama sembilan mahasiswa lain di kantor jaksa distrik. Saya sudah lama memendam niat menjadi jaksa penuntut. Saya ingin berada di baris terdepan dalam reformasi pengadilan kriminal, di mana saya ingin melindungi yang lemah. Pekerjaan kami lebih kepada belajar dan mengamati segala kegiatan di sana, di mana kami masing-masing ditempatkan bersama para jaksa yang mengerjakan beragam kasus dari Driving under the Influence hingga pembunuhan,” terangnya. Di situ pula Kamala mengawali kariernya sebagai salah satu deputi jaksa Distrik Alameda County setelah lulus pada 1990. Kariernya melejit berkat otak encernya. Setelah berpacaran dengan Willie Brown, seorang duda yang juga ketua Majelis Negara Bagian California, Kamala melenggang jadi anggota Dewan Unemployment Insurance Appeals pada 1994, dan pada 1998 jadi kepala Divisi Karier Kriminal di Pengadilan Tinggi San Francisco. Saat itu Willie sudah menjabat walikota San Francisco (1996-2004). Sejak Agustus 2000, Kamala mengepalai Divisi Pelayanan Rumah Tangga dan Anak-Anak di Balai Kota San Francisco di bawah jaksa kota Louise Renne. Di sanalah Kamala menemukan passion -nya untuk membela orang lemah, terutama perempuan dan anak-anak. Kamala Harris semasa di Universitas Howard (kiri) & wisuda Hastings College of the Law (Facebook Page Kamala Harris) Namun ketika hendak mengajukan diri sebagai jaksa Distrik San Francisco pada November 2002, Kamala diserang saingannya, Terence Hallian dan Bill Fazio, dengan isu hubungannya dengan walikota yang memuluskan kariernya. Sebagaimana diungkapkan Peter Byrne dalam artikelnya yang dimuat San Francisco Weekly , 24 September 2003, “Kamala’s Karma”, Hallinan dan Fazio menyerang Kamala dengan isu nepotisme. Kamala pun membela diri bahwa apa yang dicapainya selama ini bukan berkat mantan pacarnya. “Saya menolak mendesain kampanye saya dengan mengelilingi kritik terhadap Willie Brown karena saya mengajukan diri secara independen. Tak diragukan lagi saya pribadi yang mandiri dan terlepas dari pengaruhnya dan faktanya dia tak bisa mengontrol saya. Kariernya sudah habis; saya masih akan hidup dan berjuang untuk 40 tahun ke depan. Saya tak berutang apapun kepadanya,” ujar Kamala, dikutip Byrne. Kamala akhirnya menang pada pemilihan jaksa distrik 2003. Setelah menjadi jaksa, ia tetap memegang janjinya semasa kampanye untuk tidak akan pernah mengajukan hukuman mati kepada terdakwa dengan kasus kejahatan apapun. Di jabatan itulah dia mulai menonjolkan diri sebagai jaksa pembela LGBT, dengan membentuk Unit Kejahatan (berdasarkan) Kebencian pada 2005. Unit ini memfokuskan diri pada kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) korban hate crime . Salah satu kasusnya yang terpenting adalah peninjauan kasus pembunuhan Gwen Araujo, remaja transgender 17 tahun yang dihabisi empat pelaku di Newark, California, 4 Oktober 2002. Kamala Harris kala menjadi Jaksa Agung (kiri) & Senator Negara Bagian California (Facebook Page Kamala Harris) Menurut The San Francisco Examiner , 5 Juli 2006, Kamala sampai menggelar konferensi selama dua hari untuk menghimpun 200 jaksa dan aparat penegak hukum guna membahas strategi hukumnya. Pasalnya, empat tersangka pelaku menggunakan hak “Gay Panic Defense”, aturan yang memungkinkan keempatnya membela diri dengan melukai atau membunuh sebagai reaksi atas provokasi yang timbul dari kepanikan terkait hubungan seks sesama jenis yang tak diinginkan. LGBT jadi salah satu isu yang disuarakan Kamala dalam kampanyenya sejak 2008 kala maju dalam pemilihan jaksa agung Negara Bagian California. Saat sudah menjadi jaksa agung California, Kamala mengajukan laporan amicus curiae (dasar hukum sahabat pengadilan, red. ) ke Ninth Circuit (Pengadilan Banding Federal). Dalam laporannya, Kamala menegaskan bahwa Proposition 8, yang mengatur hanya pernikahan beda jenis yang dilegalkan di California, tak punya dasar hukum kuat. Ninth Circuit akhirnya mencabut larangan pernikahan sesama jenis pada Juni 2013. Sejak saat itu kaum LGBT senantiasa berada di belakang Kamala. Termasuk saat Kamala maju menjadi Senat California pada 2017 dan mendampingi Joe Biden di Pilpres Amerika, 3 November 2020.
- Sejarah Laïcité, Dasar Falsafah Sekularisme Prancis
Sejak September lalu, setidaknya ada tiga insiden terkait terorisme di Prancis. Dua orang staf rumah produksi diserang di dekat kantor Majalah Charlie Hebdo pada akhir September. Pada 16 Oktober, seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal setelah memperlihatkan kartun Nabi Muhammad di sekolah. Lalu pada 29 Oktober, tiga orang tewas dalam serangan di Nice. Situasi semakin memanas. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait kebebasan berpendapat di negerinya dianggap sebagai sikap anti-Islam. Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim mengecam Macron dan aksi boikot produk-produk Prancis dilakukan di berbagai tempat. Mengutip bbc.com , pada awal Oktober lalu, Presiden Macron mengatakan bahwa “sekularisme adalah dasar negara” dan “separatisme Islam harus ditangani.” Sekularisme yang hendak dipertahankan Prancis itu memang telah menjadi dasar falsafah Prancis selama lebih dari 100 tahun. Sekularisme atau yang dalam istilah Prancis disebut Laïcité, memiliki akar yang panjang dalam sejarah Prancis. Revolusi Prancis Revolusi Prancis (1789–1799) berdampak besar pada sejarah modern Prancis. Monarki runtuh dan rezim kuno gereja yang berperan penting melegitimasi kekuasaan raja digugat. Demokrasi liberal dan sekularisme kemudian tumbuh di negeri yang selalu gaduh dari revolusi ke revolusi ini. Dalam sejarah Prancis, gereja memegang posisi strategis dalam kekuasaan. Para pendeta mendapat hak-hak istimewa, prioritas sosial, menanggung pajak lebih ringan serta keuntungan-keuntungan terkait kepemilikan tanah. Gereja Katolik Roma juga menguasai urusan keagamaan dan memegang kendali terhadap pendidikan. “Gereja berusaha untuk mempertahankan keseragaman agama –gereja Katolik Roma adalah satu-satunya yang diizinkan mengadakan kebaktian– dan menikmati kekuatan penyensoran,” tulis Anne Stevens dalam The Government and Politics of France . Namun, periode awal revolusi mulai merontoki hubungan monarki dan gereja. Pada 1790, “Civil Constitution of the Clergy” melucuti hak-hak istimewa atas kepemilikan tanah gereja. Dua tahun kemudian, 1792, Republik Prancis Pertama berdiri dan menandai berakhirnya kekuasaan monarki. Pada ekspansi 1796-1797, pasukan Prancis yang telah menembus Jerman kemudian memasuki Semenanjung Italia dan menduduki Roma. Namun, pada 1801 Napoleon Bonaparte menjalin sebuah Konkordat atau perjanjian antara pemerintah Prancis dengan Vatikan. Konkordat 1801 Konkordat 1801 mengakui Katolik sebagai agama mayoritas penduduk Prancis dan mengesahkan dimulainya kembali ibadat umum. Pemeritah juga kembali membayar para imam dan uskup. Meski demikian, gereja harus menerima bahwa tanah-tanah mereka tak bisa kembali. Paus Pius VII dan umat Katolik Prancis menerima itu sebagai harga yang harus dibayar agar ibadat umum dapat kembali dilaksanakan. “Banyak mantan revolusioner terkemuka yang keberatan dengan Konkordat; mereka menyalahkan Napoleon karena meninggalkan kemenangan Revolusi yang diraih dengan susah payah atas apa yang mereka lihat sebagai takhayul kuno,” tulis Jeremy D. Popkin dalam A History of Modern France . Monarki yang pulih pada 1815 memang tidak mencabut Konkordat, tapi Revolusi 1830 mengaitkan gereja dengan ide-ide politik reaksioner. Sementara pada Revolusi 1848, pemerintah Kekaisaran Kedua mendukung gereja. Pada akhir abad ke-19, gereja secara jelas diidentifikasikan dengan kekuatan-kekuatan kaum kanan reaksioner dan kaum konservatif yang mendambakan kembali masyarakat hierarkis yang teratur. Pemisahan Gereja dan Negara Sikap gereja kemudian dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip revolusioner kaum republikan. Pada 1902, Prancis dipimpin oleh Emile Combes, seorang republikan anti-klerikal militan. “Jengkel oleh kebencian gereja, Combes akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya mengubah aturan dasar hubungan gereja-negara,” tulis Popkin. Pemerintahan Combes memutuskan hubungan dengan Vatikan pada 1904. Setahun kemudian, Majelis membatalkan Konkordat 1801 yang telah mengatur hubungan gereja-negara sejak zaman Napoleon. Hukum pemisahan gereja dan negara ini disebut Loi concernant la Séparation des Eglises et de L'etat. Secara formal, negara tidak lagi mengakui agama apapun, tidak mensubsidi gereja, dan tidak membayar pendeta atau imam dari agama apapun. Dalam perjalannya, Prancis mengalami berbagai tantangan dalam penerapan hukum ini. Sepanjang abad ke-20, keberagaman Prancis bertambah dengan masuknya banyak pendatang. Termasuk di dalam pendatang itu mereka yang memiliki identitas agama yang sebelumnya tidak diatur maupun dipertimbangkan dalam hukum 1905. Menurut Stephen M. Davis dalam Rise of French Laicite , Prancis yang heterogen dan menerima beragam identitas itu dapat dilihat misalnya dari pengakuan penguburan menurut agama hingga makanan kosher dan halal yang disajikan di angkatan bersenjata. “Contoh-contoh ini sering ditawarkan untuk menunjukkan bahwa Laïcité bukanlah dogma yang tidak berwujud dan bahwa Republik telah mengetahui cara menyesuaikan praktiknya,” tulis Davis. Lebih dari 100 tahun berlalu dan hukum 1905 terus berada di tempat fundamental dalam hukum publik Prancis. Abad ke-21 juga memunculkan dinamika sendiri. Kini tantangan bergeser dari perlawanan terhadap pengaruh gereja ke separatisme agama seperti dikatakan Macron.
- Misteri Pembela Omar Dani
Sehari sebelum sidang perkaranya di Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) yang dijadwalkan pada 1 Desember 1966, mantan Men/Pangau Laksdya TNI Omar Dani akhirnya bertemu dengan R. Soenario, yang dipilih Teperpu untuk menjadi pembelanya. Dani berharap Soenario akan memberi banyak masukan hukum untuk persiapan sidang. Namun, Dani ternyata salah berharap. “Pembela tersebut dalam pertemuan pertamanya dengan Omar Dani hanya menyibukkan diri dengan segala macam cerita yang tidak ada hubungannya dengan tuduhan yang telah ditujukan kepada Omar Dani, kliennya,” tulis Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku . Selain membanggakan diri dengan menceritakan kesuksesannya ketika menangangi kasus Jungschlager, mantan tentara Belanda yang mendukung Gerakan APRA-Westerling, Soenario hanya bercerita tentang hal-hal remeh yang sama sekali tak berkait dengan permasalahan hukum yang dihadapi kliennya. Ketika diminta Dani membicarakan soal hukum, Soenario dengan enteng menjawab belum sempat membaca tuduhan, terlebih berita acaranya Dani. Soenario tak sedikitpun menunjukkan simpatinya. Sebelum berpisah, Soenario menyarankan agar Dani mengatakan di persidangan semua yang diketahuinya dan Soenario paling banter hanya bisa menolong Dani dengan menurunkan vonis dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup. Perkataan dan perbuatan Soenario jelas mengecewakan Dani. Lebih jauh, hal itu juga janggal dalam sebuah hubungan antara pengacara dengan kliennya. Bila pada umumnya pengacara akan selekasnya menemui klien untuk mendapatkan keterangan selengkap mungkin mengenai perkara yang membelit kliennya, Soenario sejak awal ditunjuk membela Dani tak menyediakan waktu untuk menemui Dani. “Dia bukan pembela pilihan Omar Dani, melainkan pembela yang diberikan, ditugaskan untuk bertindak sebagai pembela Omar Dani. ‘Penugasan’ itu tentu mengandung muatan-muatan yang hanya diketahui oleh pemberi tugas,” sambung Benedicta dan Soeparno. Tak jelas siapa orang yang menunjuk Soenario sebagai pembela Dani. Penunjukan Soenario dan perilaku yang diperlihatkannya sama-sama menunjukkan kejanggalan seperti yang terjadi pada sidang-sidang Mahmilub. “Pada Desember 1966, mantan Men/Pangau Laksdya Omar Dani diajukan ke muka Mahmilub. Mahmilub ini ternyata bukan untuk membuktikan kesalahan Omar Dani semata, lebih dari itu digunakan untuk membuktikan keterlibatan dan dukungan Presiden Sukarno kepada G30S. Akibatnya, sidang yang dipublikasi secara luas ini menimbulkan dorongan kuat bagi para penentang Presiden Sukarno untuk melakukan aksi-aksi penggulingan terhadap dirinya,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Puasaran Politik . Yang pasti, penunjukan Soenario terjadi setelah permohonan Dani untuk mengajukan pembelanya ditolak. Pada Oktober 1966, ditanyai Teperpu apakah ingin mengajukan pembela sendiri atau tidak dalam persidangannya kelak. Mendapat secercah harapan itu, Dani lalu mengajukan nama Oei Tjoe Tat, mantan Menteri Negara Diperbantukan pada Presiden, sebagai pembelanya. Karena nama Oei ditolak dengan alasan sedang ditahan juga, Dani lalu mengajukan nama Mr. Sartono, pengacara Bung Karno di masa penjajahan, dan Mr. Iskak Tjokroadisurjo. Kedua nama tersebut dikenal sebagai ahli hukum sejak zaman kolonail dan bersama Bung Karno mendirikan PNI. Sekira dua pekan sebelum sidang perdananya (1 Desember 1966), Dani mendapat pemberitahuan bahwa dua nama yang diajuakannya sebagai pembela ditolak. Pihak Teperpu beralasan penolakan Sartono dan Iskak diambil karena keduanya telah mengajukan persayarakat yang sudah patut diketahui bahwa persyaratan tersebut tidak akan mungkin dipenuhi Teperpu. Dani yang penasaran pun mengejar dengan pertanyaan, persyaratan apa yang membuat Sartono dan Iskak jadi ditolak. Dani tak mendapatkan jawabannya karena Teperpu bungkam. Alhasil, Dani pun terpaksa menerima Soenario. Sebelum memasuki ruang sidang pada 15 Desember 1966 dengan agenda pembacaan tuntutan, Soenario menemui Dani di ruang tunggu gedung Mahmilub (kini Gedung Bappenas). Dia mengutarakan sesuatu. “Dia tidak mau membicarakan mengenai tuduhan dengan alasan bahwa dia juga diminta bertemu oleh ayah Omar Dani, di samping dia menyatakan masih belum siap mempelajari berkas-berkas perkara,” ujarnya sebagaimana ditulis Benedicta-Soeparno. Pernyataan janggal Soenario itu tentu menimbulkan tanda tanya besar di benak Dani. Namun, Dani tak melanjutkan. Dia terus menjalani sidang demi sidang hingga akhirnya dijatuhi vonis hukuman mati oleh Mahmilub pada 23 Desember 1966. Dalam perjalanan, Dani akhirnya menjalani hukuman penjara seumur hidup meski pada suatu periode dia sempat tiap malam menunggu regu tembak yang akan mengakhiri hidupnya. Dalam masa penahanan panjang itu, Dani yang mulanya tak diizinkan mendapat besuk dari keluarga akhirnya bisa mendapat besukan istri dan anak-anaknya kendati jarang. Dalam pertemuan pertama dengan istri dan anaknya itulah Dani mendapatkan informasi yang sedikit menguak “permainan” di balik persidangannya. Ternyata, tak pernah sekali pun orangtua Dani meminta seperti apa yang dikatakan Soenario. Pun dengan Sri Wuryanti istri Dani. Sebaliknya, Wuryanti malah memberi informasi yang membuka tabir misteri adanya "permainan" di balik pemilihan Sonario sebagai pembela Dani. “Teperpu telah bohong. Aku datang kepada Pak Sartono dan beliau mengatakan, ‘Jeng, katakan pada suamimu, Mas Omar Dani, bahwa saya dan Iskak tidak hanya mau, tetapi ingin membela suamimu, tetapi Teperpu tidak mengijinkan kami berdua bertemu dengan Mas Omar Dani sebelum sidang. Lha, itu namanya hukum apa??” kata Wuryanti menirukan perkataan Sartono, dikutip Benedicta-Soeparno.
- Pernyataan Bersama AD-AURI yang Tak Disetujui
Setelah Peristiwa G30S pecah, para anggota Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terkena getahnya. Banyak personil AURI yang dilecehkan dan dihina. Perwira tinggi tak menjadi pengecualian. Laksamana Muda Udara Aburachmat mobilnya dengan sengaja ditabrak oleh jip pasukan RPKAD (kini Kopassus). “Pasukan karbol yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G-30-S, mukanya diludahi oleh pasukan Angkatan Darat yang berada di atas panser,” kata mantan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksmana Madya Omar Dani dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang ditulis Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno. Perlakuan diskriminatif akibat berita bahwa AURI terlibat di dalam Peristiwa G30S itu juga diterima para keluarga mereka. “Mobil-mobil WARA ditabraki, Ibu-ibu AU di pasar diludahi dan lain-lain,” kata Omar Dani dalam kesaksiannya kepada JMV Soeparno M. Cholil yang dimuat di buku Menyingkap Kabut Halim 1965 . Namun, perlakuan tersebut tak diterima para anggota AURI yang bertugas di Pangkalan AU (PAU) Atang Sanjaya, Bogor. Menurut Kolonel (Purn.) Pramono Adam, hal itu terjadi berkat kerjasama erat antara PAU Atang dengan Kodam Siliwangi yang dipimpin Mayjen Ibrahim Adjie. “Pak Ibrahim Adjie juga ngomong, AU tidak terlibat secara institusional. Kalau ada paling oknum. Dengan kita (Adjie) sudah sering ketemu, jadi tau situasi yang sebenarnya. Maka terus hubungan kita dengan Pak Ibrahim Adjie baik sekali,” kata Pramono kepada Historia tahun lalu. Keyakinan Adjie bahwa AU tidak terlibat secara institusional membuatnya bersikap untuk memberi keamanan lebih kepada para personil AURI di wilayah kekuasaannya agar terhindar dari perlakuan-perlakuan buruk seperti yang diterima personil-personil AURI di Jakarta dan tempat-tempat lain. Dalam briefing oleh Presiden Sukarno di Istana Bogor, 4 Oktober 1965, Adjie menyempatkan menemui Menpangau Omar Dani sebelum briefing dimulai. Dani saat itu tinggal di Paviliun 3 Istana Bogor. “Mayjen Ibrahim Adjie sempat datang di Paviliun 3 dan mengusulkan kepada Omar Dani untuk membuat pernyataan bersama antara Angkatan Darat dan Angkatan Udara,” tulis Bendicta-Soeparno. Dani yang menganggap ide Adjie amat bagus langsung mengiyakan ajakan sang tamu. Dia lalu mengajak Adjie mengkonsep pernyataan bersama itu yang berpijak pada amanat presiden agar merapatkan barisan dan menghentikan pertumpahan darah. Setelah selesai, pernyataan bersama itu dibawa Adjie yang menjanjikan akan menyerahkannya kepada Mayjen Pranoto Reksosamodra selaku caretaker Menpangad. Namun hingga keesokan harinya, 5 Oktober, pernyataan bersama itu belum juga diumumkan. Maka ketika bertemu dengan Mayjen Pranoto di rapat pleno kabinet yang diadakan presiden di Istana Bogor, 6 Oktober, Dani memerlukan mengajak Pranoto mampir ke paviliunnya. Di tempat tinggal sementaranya itu Dani menanyakan kabar surat pernyataan bersama yang telah dibuatnya bersama Mayjen Adjie. “Jen. Soeharto tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Saya tidak bisa apa-apa!” kata Pranoto, dikutip Bendicta-Soeparno. Jenderal Soeharto yang dimaksud merupakan panglima Kostrad yang setelah G30S mengambilalih pimpinan AD. Dani hanya bisa kecewa mendengar jawaban Pranoto. Sementara, semakin hari AURI semakin dipojokkan di masyarakat. Hal itu bahkan dialami sendiri oleh Dani ketika sudah pindah ke PAU Atang, Semplak pada 9 Oktober. Dani mengetahui bahwa beberapa personil RPKAD selalu berada di sekitar PAU untuk mengawasi. Lantaran merasa tak nyaman, Dani memerintahkan Dan PAU Atang Kolonel Udara Soewoto Soekendar agar meminta Danrem Bogor menghadap kepadanya. Di hadapan Dani, Danrem berjanji akan menjaga keamanan Dani beserta keluarga yang saat itu tinggal di Atang. Maka sejak itu, Dani merasa lebih aman. Tak jelas apakah sikap Danrem Bogor tersebut merupakan inisiatif pribadi atau perintah dari Pangdam Mayjen Adjie. Sebab, ketika Panglima Komando Regional Udara (Korud) Kolonel Udara Ashadi Tjahjadi menghadap Dani di PAU Atang pada 12 Oktober untuk menyampaikan permintaan bantuan air support dari Mayjen Adjie, Dani mendapatkan laporan kesepakatan yang dibuat Ashadi dengan Adjie. “Panglima Korud Jabar/Komandan Pangkalan Angkatan Udara Husein Sastranegara, Kol. Ud. Ashadji Tjahjadi datang di PAU Atang Sanjaya, Semplak untuk melaporkan bahwa dia telah menandatangani Pernyataan Bersama antara Kodam Siliwangi dan Korud Jabar yang ditandatangani oleh Mayjen Ibrahim Adjie dan Kol. Ud. Ashadi Tjahjadi, atas inisiatif Mayjen Ibrahim Adjie sebagai gantinya Pernyataan Bersama antar sesama angkatan, AD-AU,” tulis Benedicta-Soeparno.
- Triple Agent di Indonesia
WOLFGANG Reif tiba di Jakarta pada 1971 untuk bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Demokratik Jerman atau biasa disebut Jerman Timur. Tak lama kemudian, dia direkrut oleh HVA (Hauptverwaltung Aufklarung), badan intelijen luar negeri Jerman Timur, bagian dari Stasi (Ministry of State Security atau State Security Service).
- Joe Biden dan Pemimpin Gagap
JOSEPH Robinette Biden Jr. alias Joe Biden dari Partai Demokrat untuk sementara memimpin perolehan suara Pemilihan presiden Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2020 (Rabu, 4 November WIB). Data Associated Press per Rabu (4/10/2020) pukul 11 malam WIB menunjukkan, Biden unggul 238 electoral votes dari Donald Trump yang diusung Partai Republik (213 electoral votes ). Untuk menang, salah satu kandidat harus meraup 270 electoral votes . Meski punya keyakinan besar, Biden berusaha untuk sabar menunggu perhitungan perolehan suaranya 100 persen rampung. “Bukan kewenangan saya atau Donald Trump untuk mendeklarasikan kemenangan pemilu ini. Melainkan kewenangan para pemilik suara. Kami senang dengan keunggulan kami. Kami percaya sudah berada di trek yang benar untuk memenangkannya,” kicau Biden di akun Twitter -nya, @JoeBiden , Rabu (4/10/2020). Bersama Kamala Harris sebagai calon wakil presidennya, Biden menang di 23 negara bagian. Jika Biden resmi terpilih jadi presiden Amerika ke-46, dia akan jadi presiden pertama yang punya kekurangan dalam berbicara di depan publik, yakni gagap. Lahir di Scranton, Pennsylvania, 20 November 1942 sebagai anak sulung pasangan blasteran Irlandia-Prancis, Catherine Eugenia Finnegan dan Joseph Robinette Biden Sr., sejak kecil Biden sudah mengalami gagap bicara. Dituliskan Michael V. Uschan dalam biografi, Joe Biden , kegagapannya makin parah semenjak usia sekolah. “Sejak kecil ia sudah gagap dan tak pernah jadi masalah serius sampai dia mulai sekolah. Sebelumnya, teman-teman dan keluarganya menerima apa adanya dan dia tak merasa malu ketika tiba-tiba berhenti saat bicara. Namun kegagapan Biden semakin buruk di sekolah karena dia gugup bicara di depan orang banyak yang tak dikenal,” ungkap Uschan. Joe Biden (kiri) bersama Kamala Devi Harris sebagai Capres-Cawapres Amerika di Pilpres 2020. ( joebiden.com ). Tak ayal, Biden acap jadi korban olok-olok baik oleh teman-teman sekolahnya maupun gurunya. Pernah suatu ketika di masa sekolah dasar di St. Helena School, Pennsylvania, Biden diejek “Tuan Bu-bu-bu-Biden” oleh kepala biarawati Suster Agnes Constance yang mengajar di kelasnya. Ejekan itu membuat Biden mengadu pada ibunya. Tanpa pikir panjang sang ibu pun mendatangi sekolah dan mencari biarawati perundung putranya. Dalam memoarnya, Promises to Keep: On Life and Politics, Biden mengenang sang ibu mendatangi sekolahnya dengan membawa Biden dan Frank adiknya yang masih bayi. Sang ibu langsung melabrak suster di ruang kepala sekolah. Meski Biden menunggu di luar ruangan, ia masih ingat betul pembicaraan itu yang terdengar sampai ke luar. Sang ibu menyela penjelasan yang diberikan suster. “Saya tahu itu, Suster, tapi apa yang Anda katakan?” “ Well , Nyonya Biden, saya tidak sungguh-sungguh mengatakan…” “Apakah Anda mengatakan Bu-bu-bu-bu-Biden?” “ Well , itu tidak relevan, nyonya…” “Apakah Anda mengatakan Bu-bu-bu-bu-Biden?” “Ya, Nyonya Biden, saya saat itu sedang menjelaskan…” “Jika Anda bicara pada putra saya seperti itu lagi, saya akan kembali dan mencabik-cabik kerudung di kepala Anda. Apakah Anda mengerti?” kata sang ibu yang langsung membanting pintu kantor kepala sekolah dengan keras sembari membawa pulang Frankie dan memerintahkan Biden kembali ke kelas. Catherine Eugenia Finnegan bersama anak-anaknya. ( joebiden.com ). Setelah pengaduan akibat olok-olok terakhir itu, Biden tak pernah lagi mengadu walau perundungan tetap dialaminya bahkan hingga masa kuliah. Perundungan yang diterimanya terus berlangsung tak peduli Biden merupakan pemuda cakap dalam olahraga American footbal dan bisbol sejak SMA. Julukan-ejekan seperti “Joe Impedimenta” (Joe cacat) atau “Joe Dash” tetap diterimanya. “’ Dash ’ (tanda pisah, red. ) jadi julukan semenjak saya main American football. Saya memang cepat dan mencetak banyak touchdown . Tapi mereka memanggil saya ‘Dash’ lebih kepada saya bicara seperti kode Morse. Titik-titik-titik-titik- dash-dash-dash-dash, ” tambah Biden. Meski tak pernah mengatasinya dengan terapi, Biden berusaha mengurangi kegagapannya dengan banyak membaca puisi di depan cermin sejak masuk Archmere Academy di Claymont. Kegagapannya berulang-kali tetap muncul hingga ketika Biden menjadi wakil presiden Amerika ke-47 mendampingi Barack Obama (2009-2017). Toh, Biden bukan satu-satunya tokoh politik yang memiliki kegagapan bicara. Jauh sebelumnya, raja Inggris juga mengalami hal yang sama. George VI, Raja yang Gagap Raja Inggris George VI (1936-1952) diketahui juga punya kelainan syaraf yang sama dengan Biden. Raja yang lahir pada 14 Desember 1895 dengan nama Pangeran Albert Frederick Arthur George ini juga sudah mengalami kelainan gagap sejak kecil. Akibatnya ia tumbuh jadi bocah pendiam. Bicaranya hanya lancar di depan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Namun, menurut Mark Logue dan Peter Conradi dalam The King’s Speech: How One Man Saved the British Monarcy , publik baru mengetahui bahwa anak kedua Raja George V itu gagap ketika diminta berpidato pada upacara penutupan sebuah pameran di British Empire Exhibition Stadium (kini Stadion Wembley), 31 Oktober 1925. Pada 1926, sang pangeran mencoba mengatasinya dengan mengambil jasa terapis Lionel Logue. Sang pangeran dikenalkan kepada terapis asal Australia itu oleh kerabatnya, Lord Stamfordham. “Tuan Logue mendapati diagnosa bahwa George mengalami koordinasi (syaraf) yang buruk antara pangkal tenggorokan dan diafragma toraksnya. Ia menyarankan George untuk terapi vokal harian,” tulis Conradi dan Mark Logue, cucu Lionel Logue. Lionel George Logue, terapis pidato Raja George VI. ( npr.go.uk ). Sejak saat itu Logue rutin menerapi sang pangeran. Terapi makin intens setelah George diangkat menjadi raja pada Desember 1936 menggantikan kakaknya, Edward VIII, yang tak punya keturunan. Kendati demikian, tak pernah ada catatan detail metode apa yang digunakan dalam terapi rutin harian Logue terhadap pasien terpentingnya itu. Yang pasti terapi yang dilakukan di ruang tertutup itu membuat Raja George lebih rileks menghadapi publik. “Terapi (Logue) membuat George lebih bisa rileks dan menghindari kejang otot. Hasilnya, public speaking -nya meningkat pesat tanpa tergagap-gagap. Tuan Logue ikut menggerakkan lidah dan mulut untuk mendorong latihan pidato yang akan disiarkan di radio,” lanjutnya. Bimbingan terpenting Logue terjadi menjelang pidato radio deklarasi perang Inggris terhadap Jerman Nazi yang dikumandangkan Raja George VI pada 3 September 1939. Raja George VI tak boleh sekali pun terganggu gagap dalam pidato itu lantaran raja menjadi simbol terpenting yang jadi pegangan rakyatnya menyongsong Perang Dunia II. Raja George VI saat menyampaikan pidato 3 September 1939 menyatakan perang terhadap Jerman. ( thecrownchronicles.co.uk ). Maka sebelum pidato itu disiarkan, naskah dipelajari Logue terlebih dulu. Logue memberikan banyak coretan di naskah tersebut sebagaimana dilihat Mark Logue sang cucu yang memegang satu salinannya. Coretan itu dijadikan Logue sebagai penanda di mana sang raja harus berhenti bicara dan mengambil nafas, lalu melanjutkannya lagi. “Garis-garis vertikal ini dijadikan penanda berhenti sementara agar sang raja bisa mempersiapkan otot syarafnya untuk mengeluarkan suara di kata-kata berikutnya tanpa ragu dan gagap. Ada juga coretan untuk mengganti beberapa kata yang sulit dengan kata yang lebih mudah untuk diucapkan raja,” tandas Mark Logue. Upaya Logue berhasil. Pidato Raja George VI pada 3 September 1939 itu menjadi salah satu pidato ikonik pada Perang Dunia II. Pidato tersebut membakar semangat rakyatnya untuk bersiap menghadapi pasukannya Adolf Hitler.
- Oligarki Zaman Kuda Gigit Besi hingga Era Jokowi
ISU RUU Cipta Kerja yang belum lama ini diteken Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga perihal Pilkada 2020 menyebarkan lagi aroma oligarki. Sangitnya bau oligarki tak hanya jadi pembicaraan di ruang-ruang diskusi formal, tapi juga di beraneka media sosial. Hingga lebih dari 20 tahun pasca-Reformasi di negeri ini, oligarki belum musnah meski sudah eksis semenjak zaman kuda gigit besi. Meski sederhanya oligarki merupakan sistem kekuasaan yang terpusat pada segelintir orang saja, kenyataannya yang terjadi lebih rumit daripada itu. Menurut Vedi R. Hadiz dan Richard Robison dalam Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets , oligarki, terutama di Indonesia, adalah suatu sistem kekuasaan yang terstruktur di mana terjadi fusi antara kekuatan politik birokratis dan kekuatan ekonomi. Konseptualisasinya, oligarki jadi sistem di mana kekuatan birokrasi yang memegang kendali sumber daya ekonomi bisa bergandengan tangan dengan kelompok yang punya kepentingan bisnis untuk meraup keuntungan bersama. “Oligarki yang ada di Indonesia sangat berkaitan erat dengan perkembangan kapitalisme di Indonesia. Kapitalisme sudah bersentuhan dengan Indonesia memang dari zaman Belanda tapi karena sifat dari struktur ekonomi kolonial itu sangat mercantil, dampaknya terhadap perubahan struktur sosial di internal masyarakat itu cenderung masih terbatas,” ujar Vedi dalam diskusi daring Historia.id bertajuk “Riwayat dan Praktik Oligarki di Indonesia” , Kamis (5/10/2020). Lima tahun pasca-Indonesia merdeka, warisan kolonial itu sempat ingin diberangus lewat Program Benteng dan sisten ekonomi “Ali-Baba”. Tujuannya, tulis Irvan T. Harja dalam Metakuasa Perdagangan Global , adalah membangun kelas pengusaha nasional dari kaum pribumi. “Program-programnya di sektor perbankan komersil, pemerintah memberi bantuan dana kepada bank-bank swasta domestik. Di sektor manufaktur, dirancang Soemitro Djojohadikusumo dengan Program Darurat Ekonomi. Juga di sektor pertanian dengan memasukkan investasi asing,” ungkap Irvan. Namun program-program itu secara umum kandas pada 1957. Menurut Vedi, akar oligarki kolonial di struktur sosial-ekonomi masyarakat Indonesia belum habis sepenuhnya. Tak peduli di masa itu juga muncul beragam ideologi yang dibawakan partai-partai politik. “Tahun 1950-an ideologi banyak bermunculan karena konsolidasi negara pascakolonial belum terjadi secara penuh. Jadi antara merosotnya negara kolonial sampai dengan 1965 adalah masa di mana negara belum rekonsolidasi. Lalu Program Benteng itu juga gagal jauh sebelum 1965,” sambung Vedi. Profesor Vedi R. Hadiz dalam Dialog Sejarah "Riwayat dan Praktik Oligarki di Indonesia". ( Historia.id ). Kegagalan Prorgam Benteng antara lain disebabkan oleh penyalahgunaan si pemegang wewenang. “Karena orang-orang yang diberikan fasilitas oleh negara itu menjualnya lagi. Bisnis yang sudah lebih tertanam kuat karena dia mempunyai posisi yang sudah lebih stabil karena dia lahir di dalam struktur sosial kolonial, jadinya dijual lagi. Tadinya kan ingin menggantikan orang-orang Tionghoa di kelas tengah yang dominan dalam bisnis. Karena di zaman kolonial mereka enggak boleh jadi petani, makanya masuk dalam perdagangan dan jadi perantara antara ekonomi tradisional dan modern yang dikuasai kolonial,” lanjutnya. Oligarki, lanjut Vedi, melejit lebih pesat di masa Orde Baru (Orba). Pasca-Sukarno jatuh dan digantikan Soeharto, kapitalisme dengan perekonomian nasionalnya secara dahsyat menyerbu Indonesia dan mempengaruhi penataan kembali struktur sosial dan ekonomi domestik. “Kita lihat di masa Orba muncul kelas kapitalis besar modern. Kelas borjuasi besar. Ini tidak mungkin berkembang tanpa hubungan dengan kekuasaan negara. Sampai sekarang pun hubungan bisnis dan politik terstruktur dengan cara yang berkaitan dengan asal-usulnya, bahwa bisnis besar diinkubasi oleh kekuasaan negara lewat kebijaksanaan-kebijaksanaan preferensi, proteksionisme, kredit, subsidi dsb.. Yang disebut-sebut sebagai bisnis-bisnis cukong itulah yang dimaksud sebagai kapitalisme Orba,” imbuh profesor kajian Asia di University of Melbourne itu. Dengan fokus pada pembangunan ekonomi, pemerintahan Orde Baru mengesampingkan aspek-aspek lain seperti politik demi tujuan utamanya tersebut. “Di zaman Orba situasi politik sudah enggak seperti 1950-an. Setelah masuk (zaman) Orba adalah representasi dari rekonsolidasi negara dari zaman kolonial. Lalu munculnya borjuasi besar sangat dimungkinkan karena ada situasi historis yang sangat spesifik, yaitu terjadinya boom minyak tahun 1970-an yang menyebabkan negara punya revenue yang besar, hingga memungkinkan memainkan peranan yang dominan untuk bisa memilih lahan bisnis apa yang dikembangkan, siapa yang boleh dan tidak boleh dikasih subsidi, kredit, dan proteksi,” tambah Vedi. Oligarki dari pusat itu lantas menjamah sejumlah daerah yang lantas berkaitan erat dan aristokrasi. Walaupun begitu, di era Orba oligarki masih terpusat dan ujung-ujungnya tak pernah lari dari Cendana (kediaman Soeharto) dan kroni-kroninya. Reinkarnasi Oligarki di Masa Reformasi Kala terjadi geger 1998 yang bermula dari krisis ekonomi yang berujung Reformasi, oligarki sempat mati suri. Namun kemudian ia berreinkarnasi dan bertransformasi. Tak lagi tersentralisir, oligarki kemudian terdesentralisir hingga jamak memunculkan “raja-raja kecil”. Hal itu tak lepas dari otonomi daerah (otda). Otda membolehkan pemerintah daerah turut menyediakan fasilitas yang memudahkan kemesraan hubungan keluarga-keluarga birokrasi politik dan keluarga bisnis. “Perkawinan” politik-bisnis itu lantas berfusi dalam kepentingannya dan melahirkan perusahaan-perusahaan. “Apa yang mestinya terjadi di Krisis 1998 itu sebetulnya kan memberikan peluang untuk reorganisasi ekonomi politik secara fundamental karena oligarki pada waktu itu goyah. Ia sempat vakum antara Mei-Agustus 1998, di mana waktu itu kekuatan-kekuatan oligarki kalang kabut,” ujar Vedi lagi. “Tapi tidak ada kekuatan civil society teroganisir yang koheren dan punya grassroot mencukupi, punya visi ideologis, serta agenda masa depan yang bisa menyatukan dan yang bisa mengisi kevakuman itu. Akhirnya setelah Agustus 1998, walau ada tantangan dari luar, reformasi dikendalikan kekuatan oligarki juga. Lalu dibentuk sedemikian rupa agar oligarki itu bertahan,” lanjutnya. Cara yang digunakan untuk mengembalikan oligarki, sambung Vedi, adalah dengan menguasai demokrasi di Indonesia melalui partai-partai besar yang dikuasai kepentingan-kepentingan oligarkis. Lalu kekuatan-kekuatan oligarki berkendaraan partai politik yang di zaman Orde Baru selalu berujung pada Cendana, di era Reformasi sudah bisa bermanuver sendiri dengan lebih cair dan dinamis, hingga membangun kekuatan untuk saling berkompetisi antara satu kekuatan dengan kekuatan oligarki lain. “Mereka saling bersaing menguasai instrumen-instrumen yang mengatur alokasi sumber daya politik dan ekonomi dan itu terjadi terutama di masa Pemilu dan Pilkada. Kalau kita lihat, partai ini kan yang ideologis sekali hampir enggak ada. Praktis semuanya, walau pakai retorika berbeda, pada dasarnya mereka himpunan dari aliansi-aliansi ekonomi politik dan mengorganisirnya untuk berkompetisi di arena politik formal,” terang Vedi. Presiden Soeharto di Orde Baru membuka keran kapitalisme yang meroketkan oligarki. ( nationaalarchief.nl ). Hal itu ibarat “naluri” bertahan oligarki di tengah terbukanya keran demokrasi di masa Reformasi. Oligarki ternyata tak seketika itu lenyap atas nama hak dan kesetaraan dalam demokrasi. “Asumsi yang keliru bahwa oligarki tak bisa beradaptasi dengan demokrasi. Bahwa oligarki bertentangan dengan demokrasi. Tidak seperti itu. Karena di dalam semua masyarakat yang sistemnya demokratis, tidak ada social economy equality . Demokrasi memberi Anda hak politik yang sama, tapi kemampuan Anda menggunakan hak itu tidak sama dengan orang yang punya akses terhadap sumber daya ekonomi yang lebih dari Anda,” jelasnya. Di alam demokrasi, kekuatan-kekuatan oligarki itu juga menyusup ke sebagian besar civil society. Tujuannya agar civil society yang sejatinya bisa jadi pengimbang antara kekuatan bisnis dan politik tak jadi batu sandungan. Sejumlah civil society di Indonesia justru sudah disusupi dan menjadi proxy kekuatan oligarki di akar rumput. “Karena oligarki di Indonesia tidak bisa dibatasi oleh kekuatan terstruktur dan teroganisir yang jadi pembatas terhadap operasi, jangkauan, dan kepentingannya. Misal kalau ada aliansi antara bisnis dan birokrasi di Swedia, ada tantangannya dari kekuatan serikat buruhnya yang berpusat pada civil society -nya, hingga jadi semacam pengimbang. Di Indonesia enggak ada,” tuturnya. Sejak Reformasi hingga era Presiden Joko Widodo praktik oligarki masih lestari. ( setneg.go.id ). Ketiadaan penyeimbang itu membuat panas pertentangan politik, terutama di masa-masa menjelang pemilu. “Ketika terjadi pertentangan politik, terutama di masa Pemilu, muncul mobilisasi massa dan belum tentu itu refleksi suatu gerakan civil society yang dalam benak banyak orang, tapi berkaitan dengan intra-oligarki competition. Jadi sudah disusupi, sudah dibajak untuk memobilisasi massa dengan anggapan atas dasar ideologis. Tapi yang menggerakkan belum tentu dimotivasi oleh pemikiran ideologis,” papar Vedi. Pada akhirnya, oligarki menjadi sistem yang takkan pernah punah di Indonesia. Pasalnya semua partai penguasa pasca-Reformasi, meski dengan kepentingan berbeda yang tak lagi tersentralisir, justru jadi jembatan antara dunia politik dan bisnis. “Kondisi seperti 1998 jarang sekali terjadi dalam sejarah. Kalau bicara bagaimana supaya oligarki itu punah atau hilang, sebetulmya memerlukan krisis lagi walau itu enggak menjamin. Nanti bisa ada kekuatan yang menandingi lagi, berulang lagi. Sehingga kita sekarang berada dalam suasana demokrasi tapi yang oligarkis,” tandasnya.
- Kerikil Bernama Nobby Stiles
KECIL-kecil cabe rawit. Walau posturnya cilik, sosok Nobby Stiles acap jadi batu kerikil yang menyusahkan para pemain lawan. Bersama Sir Bobby Charlton, ia jadi legenda dengan catatan unik yang belum bisa disamai pemain Inggris manapun, hingga akhir hayatnya. Stiles menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya pada Jumat (30/10/2020) di usia 78 tahun. Selain mengalami demensia atau penyakit penurunan daya ingat, Stiles mengidap kanker prostat. “Keluarga Stiles dengan bersedih menyampaikan bahwa Nobby Stiles meninggal dalam damai dikelilingi keluarganya setelah lama menderita sakit. Kami meminta pengertian dan privasi di masa-masa duka ini,” demikian pernyataan keluarga, disitat ITV , Jumat (31/10/2020). Stiles dikenal sebagai gelandang bertahan tangguh tim nasional (timnas) Inggris dan Manchester United (MU) era 1960-an. Ia termasuk dalam skuad Inggris yang memenangi Piala Dunia 1966. Stiles jadi satu-satunya pilar yang tak pernah diganti sepanjang turnamen. Bersama Bobby Charlton, ia jadi pemain Inggris yang punya catatan prestasi memenangkan Piala Dunia (1966) dan Liga Champions (1967-1968). Yang menyedihkan, Bobby sang sahabat Stiles dikabarkan juga mengalami demensia. “Satu lagi pahlawan kami yang memenangkan Piala Dunia 1966 terdiagnosa mengalami demensia. Mungkin yang terbaik dari mereka semua, @SirBobby. Dua kabar ini sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan,” kicau Gary Lineker, bomber Inggris 1984-1992, di akun Twitter -nya, @GaryLineker , Minggu (1/11/2020). Nobby Stiles (kiri) & Bobby Charlton (tengah) saat merayakan gelar European Cup pertama untuk MU pada 1968. ( manutd.com ). Macan Ompong yang “Bergigi” Saat Pertempuran Britania pada Perang Dunia II bergolak di langit Inggris, 18 Mei 1942, Norbert Peter Stiles dilahirkan dari rahim Kitty, masinis kereta listrik di Manchester yang bersuamikan Charlie, seorang pengurus mayat. Situasi yang mencekam karena bombardir Jerman Nazi kala itu membuat persalinan Nobby harus keluar dilakukan di ruang bawah tanah rumahnya di Collyhurst, distrik di utara kota Manchester. Nobby yang punya darah Irlandia dari kedua orangtuanya dibesarkan sebagai seorang Katolik taat. Sejak kecil ia sudah getol dengan si kulit bundar yang dikenalkan ayahnya yang seorang fans MU. Dalam otobiografinya, After the Ball , Stiles mengisahkan mulanya ia sering bermain bola sendiri di tanah kuburan seraya ikut ayahnya bekerja mengurus pemakaman. Lama-kelamaan, ayahnya membuatkan lapangan mini di belakang rumahnya. Saat Stiles yang mengenyam pendidikan di St. Patrick’s Catholic School, pada usia 15 tahun ia sering terpilih masuk skuad England Schoolboys atau Timnas Pelajar Inggris di beberapa kejuaraan. Bakatnya kemudian dilirik pelatih MU Matt Busby, yang lantas menawarkannya status pemain magang di tim akademi pada November 1957. “Ayah saya ketika kami mendapat panggilan ke Old Trafford untuk menandatangani kontrak, dia bilang: ‘Naiklah, Nak dan aku akan membawamu ke sana.’ Jadi kami datang ke sana dengan naik mobil jenazahnya,” ungkap Stiles. Nobby Stiles menjalani debutnya di Manchester United pada usia 18 tahun. ( manutd.com ). Dalam kontrak magang itu, Stiles berlatih di tim akademi dan juga mengerjakan sejumlah pekerjaan bagian umum. Pun begitu, Stiles justru senang lantaran bisa sering bertemu pemain yang dikaguminya, Eddie Coleman. “Eddie Coleman adalah idola saya. Dulu saya membersihkan sepatu sepakbola semua pemain, namun saya memberikan perhatian ekstra dan istimewa saat membersihkan sepatu Eddie,” imbuhnya. Karier Stiles di MU sebagai pemain magang tak lebih dari setengah tahun. Pasca-“Munich Air Disaster” (6 Februari 1958) yang menewaskan banyak para pilar utama Manchester United, Busby terpaksa membangun fondasi tim dengan bertulangpunggungkan para pemain muda. Stiles, yang merasa terpukul oleh tewasnya Coleman dalam tragedi itu, termasuk di dalamnya. Secara fisik, Stiles punya banyak kekurangan. Posturnya hanya 5 kaki enam inci (168 cm), matanya pun rabun dekat sehingga harus selalu memakai kacamata atau memasang lensa kontak saat sedang bermain. Dua gigi depannya pun ompong akibat sering berkelahi sebelum masuk tim akademi MU. “(Stiles) pribadi yang menyenangkan di luar lapangan. Tetapi jika dia sudah melepas gigi (palsu) itu, dia menjadi sosok yang berbeda. Saya peringatkan, di lapangan Anda takkan mau berhadapan dengan Nobby sama sekali,” ujar Norman Hunter, anggota timnas Inggris 1965-1974, sebagaimana dikutip John Rowlinson dalam The Boys of ’66: The Unseen Story Behind England’s World Cup Glory. Nobby Stiles (tengah) bersama Geoff Hurst (kiri) dan Bobby Moore pada persiapan jelang Piala Dunia 1966. ( manutd.com ). Namun di balik semua kekurangannya, Busby melihat kelebihan dari sosok Stiles. Selain enerjik, Stiles ngotot saat berebut bola dengan pemain lawan, passing -nya baik, dan pandai membaca jalannya permainan. Kelebihan-kelebihan ini dimanfaatkan Busby untuk menjadikan Stiles sebagai “gelandang pengangkut air” alias pemain yang bertugas menjemput bola dari pertahanan dan mengirimnya ke depan, utamanya Bobby Charlton. “Tugas saya adalah memenangkan (perebutan) bola dan mengopernya ke Bobby Charlton,” sambung Stiles Stiles menjalani debutnya di tim utama MU pada 1 Oktober 1960 kala MU menghadapi Bolton Wanderers di Liga Inggris dan berkesudahan 1-1. Sejak saat itu perannya sebagai gelandang tengah tak tergantikan. Meski masih muda, Stiles memupuk karakter pemimpin di jantung permainan tim, hingga dijuluki “ Toothless Tiger ” alias “Macan Ompong” mengacu pada giginya yang ompong. “Sebagai pemain muda di Old Trafford, dia harus berjuang di setiap kesempatan yang diberikan. Saya ingat seseorang bilang dia sekadar pemain serba bisa, tapi saya katakan bahwa Stiles adalah gelandang terbaik di klub. Tak jarang ia membangun semangat rekan-rekannya. Ia tak hanya menjalankan tugasnya; dia juga memastikan semua rekannya melakoni tugasnya masing-masing,” puji Harry Gregg, kiper veteran Manchester United yang selamat dari tragedi Munich, dikutip Rowlinson. Gigi Palsu dan Trofi Piala Dunia Meski sudah jadi andalan di MU sejak 1960, baru pada 1965 Stiles dipanggil pelatih Alf Ramsey ke timnas Inggris untuk persiapan Piala Dunia 1966. Seperti halnya Busby, Ramsey memasang Stiles sebagai gelandang jangkar di depan bek sentral Bobby Moore dan Jack Charlton. Sejak babak penyisihan Grup 1 hingga partai final, tak sekalipun Ramsey mencadangkan Stiles. Padahal, tekanan FA (induk sepakbola Inggris) dan FIFA (induk sepakbola dunia) kepada Ramsey begitu besar akibat Stiles mencederai pemain Prancis Jacques Simon di babak penyisihan Grup 1, 20 Juli 1966. Nobby Stiles (kanan) jadi andalan Inggris untuk melumpuhkan Eusébio di semifinal Piala Dunia 1966 (Twitter @FIFAWorldCup) Dikisahkan Rowlinson, Ramsey pasang badan membela Stiles, di mana tekel Stiles kepada Simon lebih kepada tekel yang terlambat ketimbang tekel yang disengaja untuk mencederai. “Jika saya dipaksa menggantikan dia (Stiles), Anda harus mencari pelatih lain,” kata Ramsey mengancam FA. Keputusan Ramsey membela Stiles untuk tetap jadi pilar utama terbayar kala Inggris menghadapi Portugal dengan bintangnya Eusébio da Silva di semifinal, 26 Juli 1966. Stiles yang dititahkan Ramsey untuk melakukan man-to-man marking bikin Eusébio mati kutu. Eusébio sempat bikin satu gol untuk menyamakan kedudukan, namun itu dari tendangan penalti gegara handball Jack Charlton. “Saat skuad Inggris masuk ke ruang ganti di akhir semifinal melawan Portugal (skor akhir 2-1), Alf Ramsey meminta segenap skuad memberi aplaus untuk Nobby Stiles yang menjalani tugasnya dengan luar biasa me- marking Eusébio, pemain terbaik Eropa tahun itu. Ramsey mengatakan: ‘Saya jarang membicarakan seorang individu, tapi saya rasa kalian harus setuju bahwa hari ini Nobby tampil sangat profesional,’” tulis Jonathan Mayo dalam The 1966 World Cup Final: Minute by Minute. Si "Macan Ompong" Nobby Stiles (kanan) saat mengelu-elukan Trofi Jules Rimet. ( manutd.com ). Laga final kontra Jerman Barat harus dilalui dengan perpanjangan waktu. Inggris akhirnya menang 4-2. Untuk pertamakali, Inggris mengklaim trofi Piala Dunia. Saat mendapat giliran mengusung trofi, Stiles berlarian, berloncatan, menari dengan tangan kiri menggenggam trofi Jules Rimet dan tangan kanan memegang gigi palsu di Stadion Wembley. Sementara di klub, puncak karier Stiles diukirnya bersamaan dengan gelar European Cup (kini Liga Champions) pertama MU pada musim 1967-1968. Stiles kembali jadi batu kerikil yang “melumpuhkan” Eusébio kala di final MU menjungkalkan SL Benfica, 4-1, juga di Stadion Wembley (29 Mei 1968). Nobby Stiles (duduk, kedua dari kanan) di tim juara European Cup 1968. ( manutd.com ). Tetapi setelah itu karier Stiles antiklimaks. Utamanya setelah lututnya cedera. Perlahan kehidupannya berbalik 180 derajat. Selain mulai jarang dipanggil lagi ke timnas Inggris, pada 1971 Stiles dijual ke Middlesbrough. Dia pensiun di Preston North End pada 1975. Sesudah itu dia melatih Preston (1977-1981), kemudian Vancouver Whitecaps (1981-1984), dan West Bromwich Albion (1985-1986). Namun karier kepelatihannya tak secemerlang kariernya sebagai pemain. “Semua orang mengenang Anda di masa-masa jaya tapi yang jelas setiap orang juga punya masa-masa sulit, tak hanya saya. Anda tetap harus melaluinya. Dari situlah Anda mendapatkan pengalaman. Semasa saya melatih jadi bagian pembelajaran dalam hidup saya. Dalam kasus saya, pengalaman itu menyadarkan saya bahwa saya tak berbakat,” papar Stiles. Di masa senja kala Nobby Stiles bersua bebuyutannya Eusébio. ( manutd.com ). Pelatih Sir Alex Ferguson mencoba melibatkannya di akademi klub untuk mengasuh Nicky Butt, David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes hingga Gary dan Phil Neville pada 1989. Namun ia hanya bertahan hingga 1993. Setelah terdiagnosa alzheimer, demensia, serta kanker prostat, kondisi finansialnya ambruk. Pada 2010 ia terpaksa melelang medali kehormatan pemenang Piala Dunia 1966 dan Liga Champions 1968. Manajemen MU yang prihatin kemudian membeli keduanya seharga 209 ribu poundsterling untuk disimpan di museum klub. “Saya mengalami masa sulit dan saya ingin meninggalkan sesuatu untuk keluarga saya,” kata Stiles kala melelang dua penghargaan itu, dinukil Daily Mail dalam obituari mengenang Stiles, Sabtu (30/10/2020).
- Petualangan Pelaut Prancis di Nusantara
Pada 15 Juni 1526, dua kapal penuh muatan di pelabuhan Honfleur, Normandi, Prancis, tengah bersiap melakukan perjalanan jauh. Seorang penjelajah berkebangsaan Italia, Giovanni de Verrazano, dipercaya Raja Prancis memimpin rombongan tersebut. Dengan bekal catatan pelayaran Ferdinand Magellan pada 1520 yang tersebar di seluruh Eropa, Verrazane membawa puluhan awak kapal menuju kepulauan rempah-rempah di Timur jauh. Pada pelayaran pertama itu, sang kapten mencoba mengikuti jalur Samudera Pasifik, persis seperti yang dilakukan Magellan. Tetapi jalur yang berat membuatnya terpaksa membalikan kemudi kapal. Ia pun memutuskan mengambil jalur lain, yakni melalui bagian selatan Samudera Atlantik, menuju wilayah paling ujung Afrika, kemudian memasuki Samudera Hindia. Verrazane memanfaatkan gerak Angin Timur dalam pelayaran tersebut. “Tapi, para awak kapal yang sudah kelelahan dan tidak mendapatkan bayaran dalam perjalanan yang sia-sia itu memutuskan untuk memberontak. Mereka menuntut agar paling tidak satu di antara dua kapal itu tidak melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi,” tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX . Akhirnya diputuskan, kapal kedua yang dipimpin Pierre Caunay yang akan melanjutkan pelayaran menuju Timur. Sementara Verrazano kembali ke Prancis. Sekira musim panas 1527, Caunay berhasil melihat garis pantai Pulau Sumatra. Ia pun segera merapatkan kapalnya, di sekitar wilayah pantai barat Aceh. Namun baru saja menginjakkan kaki di sana, para pelaut Prancis itu langsung ditolak penduduk setempat. Kedua kubu lalu terlibat pertempuran, hingga Prancis akhirnya memilih mundur. Nahas, kapten kapal dan sejumlah besar awak terbunuh. Kehilangan kapten kapal membuat awak yang tersisa memutuskan tidak melanjutkan perjalanan. Mereka memilih kembali ke tanah airnya, melalui jalur mereka datang. Namun sayangnya para pelaut itu tidak pernah sampai ke Prancis. Sebagian memilih tinggal di Madagaskar, sementara lainnya terdampar di Mozambik. Banyak juga pelaut yang ditangkap oleh orang-orang Portugis. Pada 1529, saudagar kaya Jean Ango kembali mendukung perjalanan menuju Hindia Timur. Kali ini dua bersaudara Jean dan Raoul Parmentier de Dieppe dipercaya menjadi pemimpin pelayaran. Keduanya diberi kapal besar oleh Jean Ango, lengkap dengan perbekalan dan awak yang begitu banyak. Tugas keduanya masih sama: menjalin hubungan dagang langsung dengan kepulauan rempah-rempah Hindia Tmur. April 1529, kedua petualang memulai perjalanannya dari Dieppe. Dijelaskan Harry Charles Purvis Bell dalam The Voyage of Francois Pyrard of Laval to the East Indies , pada Oktober 1529, mereka berhasil mencapai pantai barat Sumatra. “Pelayaran itu dianggap perjalanan kilat pada masa itu (kurang dari dua puluh tujuh bulan) karena kapal hanya berhenti sebentar untuk alasan teknis di beberapa pelabuhan, padahal biasanya singgah lebih lama agar para awaknya dapat beristirahat,” kata Dorleans. Parmentier bersaudara sempat singgah di Pulau Pini, wilayah Nias sekarang, dan memberi nama pulau itu “Pulau Parmentier”. Pulau-pulau lain di Kepulauan Batu pun satu persatu diberi nama Prancis. Keduanya juga singgah di pulau Tiku, sebelah utara Padang sekarang, untuk memenuhi persediaan merica yang dianggap sangat berharga di negerinya. Tidak seperti pendahulunya, kontak pertama Parmentier bersaudara dengan para pribumi berjalan cukup lancar. Itu berkat salah seorang awak kapal yang bisa sedikit berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu. Para pelaut Prancis itu mendapat sambutan yang hangat. Mereka bahkan diundang makan malam bersama dalam sebuah acara penyambutan. Di sana, orang-orang Prancis mempelajari kebiasaan-kebiasaan penduduk yang terkadang dianggap tidak lazim, seperti kebiasaan makan sirih dan mabuk-mabukan dengan menghisap tanaman ganja. Para pria di tempat itu juga tidak bekerja, dan hanya menghabiskan waktu berjudi. Para penduduk Tiku digambarkan oleh pelaut Prancis sebagai seorang yang cukup terbelakang. Mereka berkulit hitam, dengan tubuh yang ramping dan tinggi. Cara berbicara mereka sangat keras tapi suara yang dikeluarkan tidak enak didengar. Mereka mengenakan pakaian dari kain berwarna merah, coklat, dan biru tua. Hampir seluruh penduduk bertelanjang kaki. Penduduk juga umumnya menggunakan ikat kepala atau topi jerami. Di tempat Parmentier bersaudara tinggal tidak dikenal adanya pelacuran. Meski pakaian para perempuan di sana tidak tertutup sempurna tapi ada hukum setempat yang melarang hubungan di luar pernikahan. “Kesucian benar-benar sangat dijaga di Sumatra, pelacuran adalah perilaku yang tak dikenal…,” kata Parmentier bersaudara seperti dikutip Ayang Utriza dalam Sejarah Hukum Islam Nusantara . Meski sempat disambut hangat, perundingan dengan pejabat pribumi di Tiku tidak cukup memuaskan. Pulau Tiku sendiri bukan tempat yang baik untuk berdagang. Tempat itu tidak lebih dari sebuah desa nelayan miskin. Hampir tidak ada saudagar yang menjual banyak rempah-rempah sebagaimana pencarian para pelaut Prancis tersebut. Perangai para penduduk juga berubah-ubah. Terkadang mereka baik dan bersahabat, namun sering dijumpai penduduk yang berperangai jahat dan licik. Gagal dengan upaya menguasai Tiku, pelancor Prancis itu memutuskan kembali berlayar menuju selatan. Mereka diketahui bergerak menuju Indrapura. Tapi di tengah-tengah pelayaran, Parmentier bersaudara terserang penyakit. Jean wafat pada 3 Desember 1529, sedangkan saudaranya Raoul menyusul lima hari kemudian. Sejumlah awak kapal juga banyak yang meregang nyawa akibat sakit tifus tidak lama setelah kedua kapten kapal mereka. “Para pelaut yang dapat bertahan mengangkut sedikit dagangan yang terdiri paling banter 30 barel merica dan berhasil kembali ke Prancis pada Juli 1530. Pelayaran yang sia-sia tersebut sekali lagi benar-benar membawa kerugian besar bagi pemilik armada Jean Ango,” tulis Dorleans.
- Warna-warni Kehidupan Sean Connery
SANG “James Bond” pergi dengan tenang. Aktor legendaris Sir Thomas Sean Connery mengembuskan nafas terakhirnya di usia 90 tahun dalam tidurnya di kediamannya di Nassau, Kepulauan Bahama, pada Sabtu (31/10/2020). Disebutkan putra semata wayangnya, Jason Connery, sang ayah memang sudah sakit-sakitan, meski tanpa menyebut penyakit apa yang dideritanya. “Ayah sudah tidak sehat beberapa waktu belakangan ini. Sebuah hari yang menyedihkan untuk semua orang yang mengenal dan mencintai ayah saya dan sebuah kehilangan yang pedih untuk semua orang di dunia yang menikmati bakat luar biasanya sebagai aktor,” ujar Jason sebagaimana disitat BBC , Sabtu (31/10/2020). Siapa tak mengenal Sean yang memerankan sosok agen Inggris 007 James Bond di tujuh seri filmnya selama 1962-1983. Walau kemudian peran James Bond dimainkan aktor-aktor lain, Sean tetap tak tergantikan dan fondasi yang diwarisinya tetap abadi. Sebagai pemeran pertama James Bond di seri perdana, Dr. No (1962), Connery meletakkan fondasi karakter James Bond sebagai karakter pahlawan cerdik, berani, dan elegan. American Film Institute menempatkan Bond sebagai tokoh terhebat ketiga dalam sejarah perfilman versi, di bawah karakter Atticus Finch yang diperankan Gregory Peck dalam film To Kill a Mockingbird (1962), dan karakter Indiana Jones yang dimainkan Harrison Ford dalam film Raiders of the Lost Ark (1981). Menolak Manchester United Thomas Sean Connery menyapa dunia kala depresi ekonomi melanda Eropa. Ia lahir di Fountainbridge, ujung barat kota Edinburgh, Skotlandia pada 25 Agustus 1930 sebagai anak pertama pasangan Joseph Connery, pengemudi lori sebuah pabrik karet, dan Euphemia McBain McLean, asisten rumah tangga. Kakek Sean dari Joseph Connery merupakan imigran Irlandia yang pindah ke Skotlandia pada pertengahan abad ke-19. Walau hidup dalam keadaan melarat, Sean masih bisa mencicipi bangku sekolah. Namun ketika adiknya, Neil, lahir pada 1938, Sean memutuskan harus ikut membantu menopang ekonomi keluarga. Di usia sembilan tahun, ia menyambi jadi tukang pengantar susu untuk koperasi St. Cuthbert’s Co-operative Society. “Latarbelakang masa lalu saya sangat keras. Keluarga kami miskin walau saya tak pernah tahu seberapa melaratnya hingga bertahun-tahun kemudian,” tutur Sean dalam biografi yang ditulis Michael Feeney Callan, Sean Connery . Di masa muda Sean Connery sempat bertugas jadi awak Kapal Induk HMS Formidable. ( Twitter @OnthisdayRN). Sean kecil bahkan kemudian punya satu pekerjaan sambilan lain, yakni jadi pembantu di sebuah toko daging. Dengan dua perkerjaan part-time itu Sean membawa pulang tiga poundsterling dalam sepekan untuk menambah uang sewa rumah orangtuanya. “Di luar sekolah dan waktu kerja, kegemaran utama Tommy (panggilan kecil Sean Connery) adalah sepakbola. Di sebuah distrik yang populasinya padat, lapangan luas untuk bisa bermain bola lengkap dengan wasitnya adalah hal yang mahal. Connery sudah getol bermain bola sejak dia bisa berjalan. John Brady, teman kecil Connery, mengatakan, keunggulan Connery dalam bermain bola adalah dia bisa berlari cepat,” lanjut Callan. Setahun setelah Perang Dunia II selesai, Sean masuk Angkatan Laut Inggris. Dia masuk Sekolah kru meriam antipesawat di Pangkalan AL Portsmouth. Setelah lulus sebagai kelasi, ia ditempatkan di kapal induk HMS Formidable. Tapi itu hanya dijalaninya sebentar lantaran pada 1948 ia dibebastugaskan akibat punya penyakit duodenal ulcer di usus 12 jari. Namun baginya, tiada kata patah arang. Di usia 18 tahun dengan postur 188 cm, Sean yang aktif melakoni beraneka pekerjaan serabutan. Mulai dari pengemudi lori, penjaga kolam renang, buruh pabrik peti mati, pekerja bagian umum di belakang panggung King’s Theatre, hingga jadi model lukisan di Edinburgh College of Art dijalaninya. Sean bahkan mulai ikut berbagai kontes binaraga setelah berkenalan dengan instruktur fitness Angkatan Darat (AD) Inggris Ray Ellington. Sean Connery (duduk, kedua dari kanan) di tim Bonnyrigg Rose. ( scottishjuniorfa.com ). Profesi itu dijalaninya sambil tetap bermain bola bersama Bonnyrigg Rose dan East Fife FC di level amatir. Kecintaannya pada sepakbola itulah yang membuatnya menarik perhatian pelatih Manchester United Matt Busby yang kagum pada talentanya di lapangan hijau. Di suatu hari pada musim semi 1953 itu, Sean menjalani tur untuk pementasan teater musikal South Pacific di kota Manchester . Dia mendapat peran figuran di situ. Di sela-sela produksi, tim teater South Pacific menggelar pertandingan sepakbola persahabatan dengan sebuah tim amatir lokal. Entah bagaimana ceritanya, ada Matt Busby di pertandingan itu sedang memantau bakat-bakat baru. Menurut Christopher Bray dalam Sean Connery: The Measure of a Man , Busby terkesan dengan postur dan stamina Sean. Sang aktor pun ditawarkan trial satu hari di Old Trafford. Busby yang puas dengan performanya pun menawarkan kontrak senilai 25 pounds (senilai 703 pounds dalam kurs 2019) sepekan. “Sejujurnya sepakbola saat itu memang tak menghasilkan banyak uang, seperti juga dunia teater. Lagipula usia produktif dalam sepakbola tidaklah panjang. Connery sudah akan beranjak 24 tahun dalam beberapa bulan. Sebagus apapun seorang pesepakbola, seberapa besar Busby membantunya membangun talenta, Connery takkan banyak bermain hingga usia 30 tahun. Setelahnya harus kembali banting tulang tanpa masa depan yang jelas,” tulis Bray. Sean akhirnya menolak tawaran Busby untuk berseragam Manchester United. “Saya sangat ingin menerimanya. Tapi saya sadar bahwa pesepakbola top sudah akan masuk puncak kariernya di usia 30 dan saya saat itu sudah 23 tahun. Saya memutuskan untuk jadi aktor saja dan ternyata itu pilihan yang paling cerdas,” kenang Connery di laman federasi sepakbola Skotlandia, scottishfa.co.uk , 2 Juni 2015. James Bond yang Dibenci Dari panggung teater Connery perlahan membangun kariernya di dunia seni peran. Sean kemudian mampu menyewa jasa agen, Richard Hatton, yang membawa kariernya ke layar perak pertamanya. Film Lilacs in the Spring (1954) jadi debut Sean di dunia film meski hanya sebagai ekstra. Tiga tahun kemudian, Sean mendapat peran karakter pendukung bernama Spike di film No Road Back (1957). Dalam film ini untuk pertamakalinya nama Sean Connery muncul di credit film. Setelah ikut membintangi film kolosal bertema Perang Dunia II, The Longest Day (1962), di tahun yang sama Sean mendapat peran sebagai agen Inggris “007” James Bond untuk seri pertama film James Bond , Dr. No. Sejatinya, dia bukan pilihan utama Eon Productions. Pun bukan favorit sang sutradara Terence Young maupun Ian Fleming, pencipta karakter James Bond. Ian merasa badan tegap dan berotot Sean bukan imej yang ingin ia perlihatkan ke publik. “Dia (Connery) bukan sosok yang saya bayangkan tentang penampilan James Bond. Saya mencari figur Komandan Bond dan bukan sosok stuntman berbadan besar,” cetus Fleming, dikutip Paul G. Roberts dalam Style Icons, Volume 2 . Namun, Sean punya kharisma dan postur yang memancarkan daya tarik seks pada para perempuan. Kelebihan inilah yang dilihat Dana Broccoli, istri produser Albert Broccoli, dan Blanche Blackwell, pacar Ian. Keduanya meyakinkan produser dan Ian bahwa Connerylah sosok yang tepat memerankan James Bond. Setelah filmnya rilis, Broccoli dan Fleming tak menyesali bujukan dua perempuan terdekat mereka. Begitu masuk Amerika Serikat, Dr. No langsung menembus jajaran film-film box office . Saking bangganya, Ian sampai menciptakan latarbelakang keluarga James Bond yang punya silsilah asal Skotlandia di novel berikutnya, You Only Live Twice (1964). Di film Dr. No , Sean Connery pertamakali memerankan karakter James Bond. ( 007.com ). Nama Sean meroket setelah itu . Dia memerankan James Bond hingga lima film berikutnya: From Russia with Love (1963), Goldfinger (1964), Thunderball (1965), You Only Live Twice (1967), dan Diamonds Are Forever (1971). Namun seiring menguatnya popularitas James Bond, Sean makin tak betah lantaran imej James Bond acapkali melekat padanya meskipun dia sedang tidak dalam rangka mempromosikan filmnya. Andrew Yule dalam Sean Connery: Neither Shaken Nor Stirred menceritakan, di manapun Sean berada, selalu ada saja yang menyapanya dengan sebutan James Bond. Peduli setan dia memainkan peran berbeda di film-film berbeda, publik sudah mengabadikan imej bahwa Sean Connery adalah James Bond dan James Bond adalah Sean Connery. Itu bikin muak Sean. “Jika Anda masih merasa temannya, Anda takkan mengungkit subyek Bond. Memang dia aktor terbaik untuk memerankannya, namun dia menjadi sosok yang sama dengan Bond. Jika dia berada di jalanan, orang-orang akan berkata: ‘Lihat, itu James Bond!’ Itu yang membuatnya muak dan membencinya (karakter Bond),” ujar Michael Caine, aktor veteran dan sahabat Sean, dikutip Yule. Dalam wawancaranya dengan Majalah Life , 25 Agustus 2015, Sean menyatakan kejengkelannya pada James Bond. “Saya selalu benci James Bond sialan itu. Saya ingin membunuhnya. Saya sudah muak dengan semua imej Bond,” katanya. Karakter James Bond di- franchise-kan oleh Eon Productions kemudian diberikan pada aktor-aktor lain, seperti George Lazenby dan Roger Moore. Sean comeback memerankan Bond di tahun 1983 lewat Never Say Never Again. Namun, saat itu sudah digarap Warner Bros, bukan lagi oleh Eon . Sean Connery terakhir kali memerankan James Bond di film Never Say Never Again. (Metro-Goldwyn-Mayer Studios Inc.). Bukan hal gampang membujuk Sean untuk mau memainkan James Bond setelah 11 tahun absen. Pasalnya setelah film Diamonds Are Forever (1971), Sean bersumpah takkan mau memerankan James Bond lagi. Tetapi bayaran USD3 juta (USD8 juta kurs 2019) yang ditawarkan produser Jack Schwartzman menggoyahkan sumpah Sean. Sebelum dijuduli Never Say Never Again , film itu diberi tajuk James Bond of the Secret Service . Namun Warner Bros kemudian tergelitik untuk menerima usul istri kedua Connery, Micheline Roquebrune, untuk mengganti judul menjadi Never Say Never Again . Judul ini merujuk pada sumpah yang dilanggar Sean. Maka di credit title akhir, Warner Bros membubuhi kontribusi Micheline: “ Never Say Never Again by: Micheline Connery. ” Tetapi itu bukan hanya film James Bond terakhir Sean. Film itu juga jadi babak akhir Sean terlibat dengan PH besar. Pasalnya banyak perkara sudah membelitnya sejak awal produksi. Selain gugatan Ian Fleming dan PH Eon, perkara lain ialah pertikaian antara produser dan sutradara, masalah finansial produksi, hingga pergelangan tangan Sean yang patah saat berlatih adegan perkelahian dengan koreografer Steven Seagal. Sejak itu Sean jarang mau jadi pemeran utama kalaupun membintangi film ber- budget besar. Sean juga mulai terlibat dalam produksi, baik sebagai produser maupun produser eksekutif sejak di film Rising Sun (1993), dilanjutkan Just Cause (1995), hingga Sir Billi (2012) yang menjadi film terakhirnya sebelum memutuskan pensiun. Namun, bukan karakter James Bond yang membawanya meraih anugerah tertingginya di dunia perfilman, melainkan karakter Jimmy Malone yang diperankannya di film The Untouchables (1987). Lewat Jimmy Malone, Sean menyabet Piala Oscar (Academy Awards). Piala Oscar disabet Sean Connery lewat perannya di film The Untouchables. (Paramount Pictures/ seanconnery.com ). Sean juga mendapat anugerah BAFTA Film Award dan Golden Globe Awards untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik. Dua anugerah terakhir didapatkannya lagi pada 1989 lewat film Indiana Jones and the Last Crusade. Sean sempat main di 20 serial televisi sebelum pensiun. Sebelum memutuskan pensiun pada 2012, Sean menjadi narator untuk film dokumenter Ever to Excel . Setelah pensiun, Sean memilih Nassau di Kepulauan Bahama –tempat syuting film Thunderball dan Never Say Never Again dilakukan– sebagai kediaman untuk menikmati hari-hari di usia senjanya. Hampir enam dekade (1954-2012) berkecimpung di dunia seni peran, Sean tercatat membintangi 76 film, termasuk dokumenter maupun film pendek. Dunia seni peran membuat Sean jadi salah satu figur paling dielu-elukan masyarakat Skotlandia selain Sir Alex Ferguson (legenda pelatih Manchester United). Polling suratkabar The Sunday Herald pada 2004 mengusung Sean sebagai “The Greatest Living Scot”. “Dia merevolusi dunia dengan potret pemberani dan jenaka dari agen rahasia (James Bond) yang seksi dan karismatik. Tak diragukan lagi dialah orang di belakang kesuksesan film-film seri (Bond) dan kami akan selamanya berterimakasih kepadanya,” tulis Produser Eon Productions Michael G. Wilson dan Barbara Broccoli, sebagaimana dinukil The Hollywood Reporter , Sabtu (31/10/2020).





















