Hasil pencarian
9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Soesalit Djojoadhiningrat, Anak Kartini Jenderal Kiri
R.A. KARTINI meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat –nama terakhir dari ayahnya, Raden Adipati Djojoadhiningrat, bupati Rembang. Soesalit diasuh oleh neneknya, M.A. Ngasirah, ibu Kartini. Soesalit sempat menjadi asisten wedana di Banyumas sebelum akhirnya meniti karier di kemiliteran. Pada masa pendudukan Jepang, Soesalit mengikuti pendidikan sekolah militer ( Renseitai ) di Magelang dan melanjutkan ke Pembela Tanah Air (Peta). Dia kemudian menjadi komandan batalion ( daidancho ) Peta di Banyumas II (Sumpiuh) pada 1943-1945. Setelah Indonesia merdeka, Kolonel Soesalit menjadi Komandan Divisi III/Yogyakarta. Pengangkatan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Namun, Soesalit dipilih oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin.
- Jalan Kartini Temukan Islam
SURAT bertarikh 6 Nopember 1899 dalam Habis Gelap Terbitlah Terang itu menandaskan betapa Kartini tak sreg benar dengan agamanya. Katanya, “Sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh mengenalnya? Quran terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana juapun. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Quran, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetap tidak diajarkan makna yang dibacanya itu.” Ia, dengan jujur, juga menyatakan malas membaca Al-Quran. Dilahirkan dalam keluarga priyai, sebenarnya Kartini tak mendapatkan pengetahuan agama yang memadai. Namun, dasar orang haus pengetahuan, ia senantiasa ngangsu kaweruh , belajar. Sekitar tiga tahun kemudian setelah suratnya kepada Stella Zeehandelaar, pegiat feminis Belanda, di atas pandangannya terhadap Islam berubah. Selama ini, akunya, ternyata ia bebal dan angkuh. Namun, ia bersyukur bahwa dalam perjalanan hidupnya ia bisa menemukan Tuhan. “Betapa aman sentosanya di dalam diri kami sekarang ini, betapa terima kasihnya dan bahagianya, karena sekarang ini telah mendapat Dia; karena kini ini kami tahu, kami rasa, bahwa senantiasa ada Tuhan dekat kami, dan menjagai kami,” tulisnya pada 15 Agustus 1902.
- Benarkah Kartini Dipengaruhi Freemason?
R.A. KARTINI sohor karena surat-suratnya. Goresan pena kepada para sahabat di Belanda memperlihatkan beragam pemikiran yang modern pada zamannya. Namun, tak sedikit pula yang mencemoohnya bahwa ia hanyalah alat politik kolonial. Bahkan, belakangan ia juga disebut dipengaruhi oleh Freemason. Misalnya pada 2011, terbit buku berjudul Kartini Mati Dibunuh: Membongkar Hubungan Kartini dan Freemason yang ditulis oleh Efatino Febriana. Buku ini berawal dari kecurigaan mengenai kematian mendadak Kartini dua hari setelah melahirkan anaknya. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah Kartini mati dibunuh? Bagaimana hubungan Kartini dengan Freemason dan Yahudi?” pun muncul. Peneliti sejarah Freemason, Sam Ardi, menyebut bahwa beragam tuduhan memang muncul dan berawal dari surat-surat Kartini yang diterbitkan. “Orang kan memandang bahwa ini ada semacam tanda kutip pemberontakan. Baik dari sisi pemikiran, maupun kadang Kartini dalam suratnya juga menyinggung masalah agama. Nah, poin ini yang dihubungkan dengan Freemason,” kata Sam Ardi dalam dialog sejarah live instagram @Historiadotid, pada Selasa, 21 April 2020.
- Kartini Menggugat Snouck Hurgronje
DALAM salah satu suratnya untuk Rosa Abendanon, R.A. Kartini menitip pertanyaan buat Snouck Hurgronje. Pertanyaan itu seputar ukuran kedewasaan perempuan dalam hukum Islam terutama usia yang pantas untuk menikah. Snouck saat itu bekerja sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Islam. “Apakah di kalangan Islam ada undang-undang tentang umur dewasa seseorang, sebagaimana di kalangan Anda? Saya ingin sekali mengetahui ala kadarnya tentang hak dan kewajiban, atau lebih tepat tentang undang-undang sekitar perempuan Islam dan anak perempuannya?” tulis Kartini dalam suratnya, 18 Februari 1902. Surat itu ditulis pada usia Kartini yang mulai matang dan ada semacam keharusan bagi seorang perempuan Jawa seperti dia untuk segera menikah. Tampaknya dia belum rela melepas masa lajangnya.
- Di Bawah Bayangan Kartini
NAMANYA nyaris berada di bawah bayang-bayang kebesaran nama kakaknya, Kartini. Padahal perjuangannya dalam meninggikan derajat perempuan dan menolong kaum lemah tak bisa dibilang sedikit. Salah satu penyebabnya, Kardinah tak seerat Kartini dalam bersahabat dengan Nyonya Abendanon atau Nyonya Ovink-Soer. Lahir di Jepara pada 1 Maret 1881, Kardinah merupakan anak ke-7 Bupati Jepara RM Sosroningrat. Dia anak pertama dari selir ( garwa ampil ) bupati bernama M.A. Ngasirah. Ayahnya selalu menularkan kepekaan sosial kepada anak-anaknya. “Setelah sudah agak besar, kami sering disuruh oleh rama (bapak) untuk ikut meninjau tempat-tempat penderitaan rakyat. Maksud rama supaya kami melihat sendiri dari dekat bencana-bencana yang menimpa rakyat itu dan mendapat kesan bagaimana susahnya hidup mereka yang melarat dan hina itu,” tulis Kardinah dalam suratnya tanggal 25 Maret 1964 kepada Sitisoemandari Soeroto, penulis Kartini Sebuah Biografi.
- Saling Tuding Hitler-Stalin dalam Pembantaian Katyń
CUACA membekukan musim dingin yang terasa hingga ke tulang dirasakan Oberstleutnant (setara letnan kolonel) Friedrich Ahrens pada suatu hari di awal Februari 1943. Namun Komandan Resimen Komunikasi 537 dari Grup Angkatan Darat (AD) Tengah Jerman itu membulatkan tekad untuk meneruskan perjalanan memburu serigala bersama para pekerja Polandia dan Rusia dari markasnya dekat Stasiun Gniezdowo masuk ke Hutan Katyń. Alih-alih menemukan buruannya, Ahrens justru menemukan banyak gundukan tanah yang tertutup salju. Beberapa dari gundukan itu terdapat salib kayu dan bekas cakaran pertanda serigala pernah menggali gundukan tanah itu. “Sepanjang musim panas 1942 sebenarnya para pekerja Polandia di Hutan Katyń sudah mendengar banyak rumor tentang (pasukan) Soviet membunuh serdadu Polandia di area hutan itu. Bahkan beberapa dari mereka pernah menggalinya dan menemukan banyak jasad dan mereka menandainya dengan salib-salib kayu, walau kemudian mereka tak melaporkannya ke otoritas Jerman,” ungkap Kenneth F. Ledford dalam Mass Murderers Discover Mass Murder: The Germans and Katyn, 1943.
- Karl Doenitz, Panglima Singa Suksesor Hitler
SEJAK awal persidangannya di Pengadilan Nuremberg, 20 November 1945, Großadmiral Karl Doenitz (Dönitz dalam ejaan Jerman) tak goyah pada pendiriannya. Dia yakin tak bersalah meski tiga dakwaan dialamatkan majelis hakim padanya selaku Der Führer (pemimpin tertinggi) Jerman Nazi terakhir. Saat penjatuhan vonis setahun kemudian (1 Oktober 1946) pun, Doenitz duduk dengan sikap bersahaja di barisan para terdakwa bekas antek Jerman Nazi di ruangan yang penuh sesak. Air mukanya tenang. Dengan seksama, ia mendengarkan pembacaan vonisnya oleh hakim asal Prancis Henri Donnedieu de Vabres via alat penerjemah bahasa di telinganya. “Pengadilan Kejahatan Perang Internasional Nuremberg memvonis Laksamana Besar Doenitz 10 tahun penjara. Doenitz terbukti bersalah atas dua dakwaan, yakni Kejahatan terhadap Perdamaian (merencanakan perang yang ilegal di mata Hukum Internasional) dan Kejahatan Perang (pelanggaran hukum perang). Tetapi Doenitz tidak terbukti bersalah atas dakwaan Konspirasi Perang,” kata Henri sebagaimana tersurat dalam arsip Office of Navy Intelligence (Dinas Intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat) yang dirilis Oktober 1946.
- Prabowo Kena Tempeleng di Magelang
DI HADAPAN mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kader Partai Demokrat dalam sebuah acara Partai Demokrat, calon presiden Prabowo Subianto bercerita masa lalunya semasa di Akademi Militer pada November 2023 lalu. Menurutnya, berdasarkan riset yang ada tentang akademi-akademi militer di seluruh dunia, ada dua tipe taruna yang biasanya sukses meniti karier militer. Pertama, taruna yang terbaik dan kedua, taruna yang nakal. Prabowo sendiri mengaku termasuk kategori yang kedua. “Jadi ada cerita yang saya dengar sesudah saya tinggalkan Magelang, kalau ada 100 taruna yang dihukum di lapangan, pasti satu di antara 100 (adalah) taruna Prabowo. Kalau ada 30 taruna yang dihukum di lapangan, salah satu dari 30 pasti ada taruna Prabowo. Kalau 10 yang sedang dihukum, satu dari 10 pasti ada Prabowo. Dan kalau kamu lihat satu taruna sedang dihukum, ya itu Prabowo. Itu cerita turun-temurun saya dengar itu,” ujar Prabowo yang memancing gelak tawa hadirin.
- Kiper Legendaris Manchester City Bekas Pemuda Hitler
MANCHESTER City boleh gagal mempertahankan gelar Premier League (liga teratas Inggris) di musim ini (2019-2020). Namun, rival sekota Manchester United itu boleh bangga terhadap kiper utama Ederson Santana de Moraes yang memetik Premier League Golden Glove Award sekaligus mengukir namanya di jajaran kiper-kiper terbaik The Citizens (julukan Man. City) dari era Bert Trautmann hingga Joe Hart. Anugerah sarung tangan emas Premier League sendiri baru diadakan pada musim 2004-2005. Sebelum Ederson yang merengkuhnya pada 26 Juli 2020, kiper Man. City Joe Hart pernah mendulangnya bahkan sampai empat kali (2010-2013, dan 2015). Capaian itu membuktikan Man. City merupakan tim Inggris yang senantiasa punya bintang di bawah mistar gawang. Salah satu kiper legendaris Man. City adalah Trautmann, dari era 1950-1960-an. Namanya terdengar asing di telinga publik sepakbola dunia lantaran ia tak pernah mentas di turnamen internasional semisal Piala Dunia. Kisahnya tenggelam dengan kemunculan banyak kiper legendaris dunia setelahnya, mulai dari Gordon Banks, Dino Zoff, Sepp Maier, hingga Peter Schmeichel.
- Berebut Takhta Hitler
D HARI yang cerah itu, 20 April 1945, segenap pejabat dan perwira terdekat Adolf Hitler berkumpul di aula Kekanseliran, Berlin. Kebetulan tak ada teror pemboman Uni Soviet saat itu, sehingga pesta ulangtahun ke-56 sang führer bisa digelar meriah. Dengan menyembunyikan tangan kirinya yang menderita tremor ke punggungnya, Hitler tiba di ruangan disambut semua hadirin dengan salam Nazi yang dikomando SS-Reichsführer Heinrich Himmler. Heil ! Semua calon suksesor Hitler turut hadir. Selain Himmler, ada Reichsmarschall Hermann Goering (ejaan Jerman: Göring), orang nomor dua paling berkuasa di Jerman Nazi setelah Hitler. Dikisahkan Ian Kershaw dalam Hitler: 1936-1945 Nemesis , sementara Goering langsung pergi setelah menyalami Hitler, Himmler mencoba membujuk Hitler untuk mau keluar dari Berlin, ibukota Jerman Nazi yang sedang dicecar ofensif Soviet. Dibantu diplomat Walther Hewel, Himmler menyarankan Hitler bernegosiasi politik dengan Sekutu. “Aku muak dengan politik. Tak apa, temanku Himmler yang setia. Pergilah (keluar dari Berlin),” tutur Hitler, dikutip Kershaw.
- Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian II–Habis)
ERWIN Rommel. Pamornya begitu tinggi di kalangan serdadu Jerman maupun di kubu Sekutu. Adolf Hitler paham jika sang generalfeldmarschall (marsekal medan) sampai diseret ke pengadilan, moril para prajurit yang tengah mati-matian menahan gempuran Sekutu bakal ambyar. Namun, Hitler tidak bisa mengabaikan masukan dan info dari para pembantu terdekatnya bahwa Rommel (dituduh) terlibat dalam konspirasi Plot 20 Juli 1944. Komplotan sejumlah perwira militer dan politisi oposisi itu bersepakat untuk melenyapkan Hitler. Maka meski nama Rommel begitu kondang, Hitler memutuskan untuk menyingkirkannya. Agar tak menimbulkan gejolak lebih besar di kalangan Wehrmacht (angkatan bersenjata Jerman), kasus keterlibatan Rommel dalam Plot 20 Juli terlebih dulu disidang di Pengadilan Kehormatan Militer, Berlin. Sedikitnya delapan perwira tinggi, termasuk Panglima Komando Tinggi Wehrmacht Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel, dilibatkan sebagai saksi yang keterangannya bakal dijadikan masukan final buat Hitler.
- Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian I)
BUNUH diri atau dibunuh. Dua opsi getir dari Adolf Hitler itu diterima Ernst Röhm di selnya di Penjara Stadelheim, Munich pada 1 Juli 1934 dari dua opsir Schutzstaffel (SS) Brigadeführer Theodor Eicke dan Obersturmbannführer Michael Lippert. Röhm, mantan stabschef (setara kolonel jenderal) pasukan Sturmabteilung (SA, sayap militer Partai Nazi), lantas diberi sepucuk pistol Browning dengan sebutir peluru. “Jika saya ingin dibunuh, biar Adolf sendiri yang melakukannya!” kata Röhm menantang kedua opsir itu sembari menepuk dada telanjangnya, dikutip William L. Shirer dalam The Rise and Fall of the Third Reich. Mendengar itu, Eicke dan Lippert terpaksa menembak sang menteri zonder portfolio di tempat. Melayanglah nyawa mantan tangan kanan Hitler di sore itu, sekira pukul 14.20. Röhm ditangkap dalam operasi Nacht der langen Messer atau “Malam Belati Panjang” (30 Juni-2 Juli 1934), operasi gerakan pembersihan SA yang dilancarkan Hitler yang baru setahun naik jadi kanselir. Röhm yang penyuka sesama jenis alias gay itu memang bukan jenderal lulusan akademi militer.





















